Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problem yang muncul
dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara yang sedang
berkembang. Masalah kemiskinan ini menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah
secara berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya
pemecahan masalah kemiskinan tersebut sebagai upaya untuk mempercepat proses
pembangunan yang selama ini sedang dilaksanakan.
Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing dalam
kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan ditinjau dari segi materi
(ekonomi). Dari kegagalan dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran,dan
ketimpangan pendapatan secara berarti, maka para ahli kemudian bergeser dari
penciptaan lapangan kerja yang memadai, penghapusan kemiskinan, dan akhirnya
penyediaan barang-barang dan jasa kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk.
B. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui bagaimana
pembangunan dan kemiskinan yang berada di lingkungan sekitar.
C. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan pembangunan?
b. Apa saja indikator indikator pembangunan?
c. Apa saja dampak dari pembangunan?
d. Apa yang dimaksud dengan kemiskinan?
e. Sebutkan indikator-indikator kemiskinan?
f. Apa hubungan antara pembangunan dan kemiskinan?

BAB II
PEMBAHASAN
PEMBANGUNAN DAN KEMISKINAN
A. Pembangunan
1. Pengertian pembangunan
Pembangunan adalah proses untuk melakukan perubahan atau suatu usaha atau
rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara
sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka
pembinaan bangsa (nation building). Pembangunan (development) adalah proses
perubahan yang mencakup seluruh sistem sosial seperti politik, ekonomi,
infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan tekhnologi, kelembagaan, dan budaya.
Dalam pengertian lain, pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan
untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Pada awal pemikiran tentang pembangunan sering ditemukan adanya pemikiran
yanbg mengidentikan pembangunan dengan perkembangan, pembangunan dengan
modernisasi dan industrialisasi, bahkan oembangunan dengan westernisasi. Seluruh
pemikiran tersebut didasarkan pada aspek perubahan dimana pembangunan.
Perkembangan, dan modernisasi serta industrialisasi, secara keseluruhan mengandung
unsur perubahan. Namun begitu, keempat hal tersebut mempunyai latar belakang,
azas dan hakikat yang berbeda serta prinsip kontinuitas yang berbeda pula, meskipun
semuanya merupakan bentuk yang merefleksikan perubahan.
Dengan demikian, proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan
masyarakat, ekonomi, sosial, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro
(nasional) dan mikro (community/group). Makna penting dari pembangunan adalah
adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan deversifikasi.
Dengan semakin meningkatnya kompleksitas kehidupan masyarakat yang
menyangkut berbagai aspek, pemikiran tentang modernisasi pun tidak lagi hanya
mencakup bidang ekonomi dan industri, melainkan telah merambah ken seluruh aspek
yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat y. Oleh karena itu, modernisasi
diartikan sebagai proses transformasi dan perubahan dalam masyarakat yang meliputi
segala aspeknya, baik ekonomi, industri, sosial, budaya, dan sebagainya.
Menurut Quraish shihab prinsip-prinsip yang menjadi landasan untuk
pembangunan yaitu:
a. Tauhid. Prinsip ini tidak hanya diartikan sebagai kepercayaan tentang keesaan
Tuhan, namun mencakup pengertian bahwa segala sesuatu harus dikaitkan
dengan keesaan-Nya sebagai sumber dari segala sumber.
b. Rububiyah. Tuhan memelihara manusia antara lain melalui petunjuk-petunjukNya, rahmat dan rezeki-Nya, sehingga harus disyukuri.
c. Khilafah. Prinsip ini menetapkan kedudukan dan peranan manusia sebagai
makhluk yang telah menerima amanat setelah ditolak oleh makhluk-makhluk
lainnya (QS. 33: 72)

d. Tazkiyah. Prinsip ini menetapkan bahwa hubungan antara manusia dengan


Tuhan, sesamanya dan alam lingkungannya, harus selalu diliputi oleh kesucian
serta pemeliharaan nilai-nilai agama, akal, jiwa, harta dan kehormatan manusia.
2. Indikator Pembangunan
Sejumlah indikator ekonomi yang dapat digunakan oleh lembaga-lembaga
internasional antara lain pendapatan perkapita, struktur perekonomian, urbanisasi, dan
jumlah tabungan. Berikut merupakan lima indikator pembangunan:
a. Pendapatan perkapita
Dalam perspektif makroekonmi, indikator ini merupakan bagian kesejahteraan
manusia yang dapat diukur sehingga dapat menggambarkan kesejahteraan dan
kemamuran masyarakat. Tampaknya pendapatan perkapita telah menjadi
indikator makroekonomi yang tidak bisa di abaikan, walaupun memeiliki
beberapa kelemahan.
b. Struktur ekonomi
Dengan adanya perkembangan ekonomi dan peningkatan perkapita, konstribusi
sektor manufaktur/industri dan jasa terhjadap pendapatan nasional akan
meningkat terus. Perkembangan sektor industri dan perbaikan tingkat upah akan
meningkatkan permintaan atas barang-barang industri, yang akan diikuti oleh
perkembangan investasi dan perluasan tenaga kerja.
c. Urbanisasi
Urbanisasi dapat siartikan sebagai meningkatnya proposi penduduk yang
bermukim di wilayah perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan. Di negara
industri, sebagian besar penduduk tinggal di wilayah perkotaan, sedangkan di
negara-negara yang sedang berkambang proporsi terbesar tinggal di wilayah
pedesaan. Berdasarkan fenomena ini, urbanisasi digunakan sebagai salah satu
indikator pembangunan.
d. Indeks Kualitas Hidup (IKH)
IKH atau Physical Quality of Life Index (PQLI) digunakan untuk mengukur
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Misalnya, pendapatan nasional
sebuah bangsa dapat tumbuh terus, tetapi tanpa diikuti oleh peningkatan
kesejahteraan sosial. Indeks ini dihitung berdasarkan kepada (1) angka rata-rata
harapan hidup pada umur satu tahun, (2) angka kematian bayi, dan (3) angka
melek huruf. Dalam indeks ini, angka rata-rata harapan hidup dan kematian bayi
akan menggambarkan status gizi anak dan ibu, derajat kesehatan, dan
lingkungan keluarga yang langsung berasosiasi dengan kesejahteraan keluarga.
Pendidikan yang diukur dengan angka melek huruf, dapat menggambarkan
jumlah orang yang memperoleh akses pendidikan sebagai hasil pembangunan.
Variabel ini menunjukan kesejahteraan masyarakat, karena tingginya status
ekonomi keluarga aka mempengaruhi status pendidikan para anggotanya.
e. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
Dalam pemahaman ini pwmbangunan dapat diartikan sebagai sebuah proses
yang bertujuan mengembangkan pilihan-pilihan uang dapat dilakukan oleh
manusia. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas sumberdaya

manusia akan diikut oleh terbukanya berbagai pilihan dan peluang menentukan
jalan hidup manusia secara bebas.
Adapun tolok ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat
digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun di daerah untuki menilai keberhasilan
seorang kepala pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan yang
berkelanjutan yang meliputi:
a. Pro Ekonomi Kesejahteraan
b. Pro Lingkungan Berkelanjutan
c. Pro Keadilan Sosial
3. Dampak-Dampak Adanya Pembangunan
Pembangunan melibatkan usaha sadar manusia merancang perubahan dalam
hidup mereka. Tindakan ini sering diungkapkan sebagai sosial engineering (mesin
sosial), yang melibatkan banyak pihak untuk menjalankan perencanaan, pelaksanaan,
penerima dan terpenting sekali pembiayaannya. Dalam konteks sebuah masyarakat,
tindakan merancang pembangunan menjadi tanggung jawab semua lapisan rakyat,
masing-masing dengan bentuk sumbangan yang tertentu sesuai dengan kapasitas dan
kemampuan. Ahli politik, anggota professional, para akademik, pengusaha, pakar
teknologi, kaum tani, kelas pekerja dan berbagai-bagai golongan lain termasuk rakyat
terbanyak, semuanya sama-sama terlibat dalam proses pembangunan ini.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan
lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika
masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada.
Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam
hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya. Walaupun kata pembangunan
mempunyai makna yang berbeda-beda, namun satu makna yang diterima oleh
masyarakat umum ialah perubahan.
Pembangunan kadang kala digunakan dalam pengertian yang sempit hanya
sebagai industralisasi atau pemodernan. Bagaimanapun dalam makna yang luas ia
bermaksud meningkatkan derajat manusia dalam sebuah masyarakat tertentu.
Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan nilai kehidupan semua masyarakat
dalam segala bidang.
Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses
pembangunan suatu bangsa. Terlebih lagi jika bangsa itu sedang membentuk watak
dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan
makmur yang merata, materil, dan spiritual berdasarkan pancasila. Bahwa hakikat
pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah

tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia


sebagai pusat interaksi kegiatan pembangunan spiuritual maupun material.
Pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya, dan sebagai
sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya
mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri
sebagai bangsa. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh.
Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang takwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu
nampak terjadinya pergeseran sistem nilai budaya, penyikapan yang berubah anggota
masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas
sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompokkelompok masyarakat. Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar
anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa
akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa.
B. Kemiskinan
1. Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang pokok, seperti pangan, pakaian, tempat tinggal sebagai tempat
berteduh. Kemiskinan bukanlah suatu yang terwujud sendirin terlepas dari aspekaspek lainnya, tetapi kemiskinan itu terwujud sebagai hasil interaksi antara berbagai
aspek yang ada dalam kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut, terutama adalah
aspek sosial dan aspek ekonomi. Aspek sosial adalah adanya ketidaksamaan sosial
diantara warga masyarakat yang bersangkutan seperti perbedaan suku bangsa, ras,
gender dan usia yang bersumber dari corak sistem pelapisan sosial yang ada dalam
masyarakat. Sedangkan yang dimaksud aspek ekonomi adalah, adanya ketidaksamaan
diantara semua warga masyarakat dalam hak dan kewajiban yang berkenaan dengan
pengalokasian sumber-sumber daya ekonomi.
Beberapa faktor kemiskinan diantaranya pendidikan yang rendah dipandang
sebagai penyebab kemiskinan. Dari segi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan
mayarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan. Dan dari segi Ekonomi, kepemilikan
alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan tekhnologi dan kurangnya keterampilan,
dilihat sebagai alasan mendasarmengapa terjadi kemiskinan. Faktor kultur dan
struktural juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat
kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro (2000: 107) sebagai berikut:

a. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan antara pola


kepemilikan sunmber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang,
penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan
kualitasnya rendah.
b. Krmiskinan muncul akibat adanya oerbedaan kualitas sumber daya manusia yang
rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnya pun rendah.
c. Kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak
rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskminan nasiaonal, yang setara dengan
PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak
miskin tetapi rentan terhadap lemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada
pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya.
Keitga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar
daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
a. Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan
nasional sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas gari
kemiskinan nasional. Hampir 42 persen dari seluruh rakyat.
b. Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalah masalah yang lebih serius
dibandingkan dengan kemiskinan dari segi pendapatan. Bidang-bidang khusus
yang patut diwaspadai adalah:
1). Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi bahkan meningkat pada tahuntahun terakhir
2). Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara
di kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307
(untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari pada Vietnam
dan enam kali lebih besar dari China dan Malaysia hanya sekitar 72
persen persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
3). Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke
sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin:
di antara kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55
persen yang lulus SMP, sedangkan angka untul kuintil terkaya adalah 89
persen untuk kohor yang sama.
4). Rendahnya akses terhadap air bersih, khususnya diantara penduduk
miskin. Untuk kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses
air bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78 persen.

5). Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan


puluh persen penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk
miskin di perkotaan tidak memiliki akses pada tangki septik, sementara itu
hanya kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia yang
terlayani oleh saluran pembuangan kotoran berpipa.
c. Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Di pedesaan, terdapat
sekitar 57 persen dari orang miskin di Indonesia yang juga seringkali tidak
memiliki akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar hanya sekitar 50 persen
pada masyarakat miskin di pedesaan mempunyai akses terhadap air bersih,
dibandingkan dengan 80 persen bagi masyarakat miskin diperkotaan. Dengan
melintasi kepulauan Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam
kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu sendiri.
2. Indikator Kemiskinan
Adapun indikator keluarga miskin menurut Badan Pusat Statistik (BPS) ada
sekitar empat belas ciri, yaitu:
a. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
b. Jenis lantai bangunan tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
c. Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu/rumbia/kayu berkualitas
rendah/ tembok tanpa diplester.
d. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga
lain.
e. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
f. Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air
hujan.
g. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak
tanah.
h. Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali dalam seminggu.
i. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
j. Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.
k. Tidak sanggup membayar biaya pengobatab di puskesmas/poliklinik.

l. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan
0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, atau
pekerjaan lainnya dengan pandapatan di bawah Rp. 600.000 perbulan.
m. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat
SD/hanya SD.
n. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan nilai Rp.
500.000, seperti: sepeda motor (kredit/non kredit), emas, ternak, kapal motor,
atau barang modal lainnya.
Faktor kemiskinan menurut pendapat umum dapat dikategorikan dalam tiga
unsur, yaitu:
a. Kemiskinan yang disebabkan aspek badaniah atau mental seseorang.
b. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam.
c. Kemiskinan buatan atau kemiskinan struktural.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan itu pada
hakikatnya langsung berkait dengan sistem masyarakat secara menyeluruh dan
bukan hanya ekonomi dan politik, sosial dan budaya.
Pendapat lain menyatakan bahwa usaha memerangi kemiskinan hanya dapat
berhasil kalau dilakukan dengan cara memberikan pekerjaan yang memberikan
pendapatan yang layak kepada orang-orang miskin. Karena dengan cara ini bukan
hanya tingkat prndapatan yang dinaikkan, tetapi harga ndiri sebagai manusia dan
sebagai warga masyarakat dinaikkan, seperti warga masyarakat lainnya. Dengan
lapangan pekerjaan dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja
dan merangsang berbagai kegiatan di sektor-sektor ekonomi lainnya.
Karena kemiskinan diantaranya disebabkan oleh struktur ekonomi, maka
terlebih dahulu perlu memahami inti pokok dari suatu struktur. Inti pokok dari satu
struktur adalah relasi hubungan antara suatu subyek dengan obyek, dan antara
subyek-subyek komponen-komponen yang merupakan bagian dari suatu sistem.
Maka permasalahan struktur yang penting dalam hal ini pola relasi. Ini mencakuo
masalah kondisi dan posisi komponen (subyek-subyek) dari struktur yang
bersangkutan dalam keseluruhan tata susunan atau sistem dan fungsi dari subyek
atau komponen tersebut dalam keseluruhan fungsi dan sistem. (Abu Ahmadi,
1991:342)
Kemiskinan bisa juga terjadi karena tidak adanya semangat tanggung sosail
dari kelompok yang kaya terhadap kelompok yang miskin. Apabila semangat
tanggung jawab sosial ditegakkan dengan memberikan hak-hak yang pantas kepada

fakir miskin maka tentunya angka kemiskinan akan semakin berkurang. Selain itu
ada pula langkah-langkah sinergis dan sistematis dalam penanggulangan
kemiskinan. Beberapa teori yang dapat diterapkan dalam penanggulangan
kemiskinan diantaranya yaitu:
a. Kewajiban setiap individu.
Kewajiban terhadap setiap individu tercermin dalam kewajiban bekerja dan
berusaha. Kerja dan usaha langkah pertama yang harus ditanamkan kepada
setiap orang dalam menanggulangi kemiskinan. Manusia secara alami
terdorong untuk memiliki kekayaan melalui bekerja dan berusaha.
b. Kewajiban Masyarakat.
Kewajiban masyarakat tercermin pada jaminan sosial yang dapat dimulai
dalam lingkaran yang terkecil sampai lingkaran sosial yang lebih luas.
Lingkaran sosial terkecil adalah dengan membantu sanak saudara yang dalam
kondisi tidak mampu. Kewajiban masyarakat dalam jaminan sosial dapat
berbentuk derma sosial seperti shodaqoh, zakat, maupun infaq.
c. Kewajiban pemerintah.
Di Indonesia melalui pasal 34 (UUD 1945) disebutkan bahwa: fakir miskin
dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Dan Negara mengembangkan
sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat
yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
Untuk mempercepat penanganan kemiskinan, pemerintah Indonesia telah
mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 13 Tahun 2009 tentang
Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan untuk memoerjelas mekanisme
koorsinasi Penanggulangan Kemiskinan.selanjutnya, pada tanggal 25
Februari 2010 ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan sebagai upaya dalam melakukan
percepatan penanggulangan kemiskinan. Penanggulangan
kemiskinan,
dimana hak dasar masyarakat miskin secara bertahap dapat terpenuhi yang
meliputi:
a. Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau.
b. Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu.
c. Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata.
d. Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha.

e. Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat.


f. Terpenuhinya kebutuhan air bersih dan aman bagi masyarakat miskin.
g. Terbukanya akses masyarakat miskin dalam pemanfaatan SDA dan
terjaganya kualitas lingkungan hidup.
h. Terjaminnya rasa aman dari tindak kekeras

3. Hubungan Pembangunan dan Kemiskinan


Di Indonesia pola perkembangan pembangunan juga mengikuti pendapatan yang
dikemukakan Kuznets, artinya golongan miskin kurang terjamah oleh hasil-hasil
pertumbuhan ekonomi. Mengapa mereka tidak terangkat, padahal pemerintah telah
mengambil kebijaksanaan penyebaran proyek-proyek ke daerah-daerah ke desa-desa.
Bila diteliti golongan-golongan miskin yang tidak terjamah oleh hasil-hasil
pembangunan karena:
a)

Ketimpangan dalam peningkatan pendidikan. Selama belum ada kewajiban


belajar golongan miskin tidak akan mampu berpartisipasi mengenyam
peningkatan anggaran pendidikan.

b)

Ketidakmerataan kemampuan untuk berpartisipasi. Untuk berpartisipasi


diperlukan tingkat pendidikan, keterampilan, relasi, dan sebagainya. Golongan
miskin tidak memilikinya .

c)

Ketidakmerataan pemilikan alat-alat produksi.Golongan miskin tidak memiliki


alat-alat produksi, penghasilannya untuk makan saja sudah susah, sehingga
tidak mungkin untuk membentuk modal.

d)

Ketidakmerataan kesempatan terhadap modal dan kredit ada. Modal dan kredit
pemberiannya menghendaki syarat-syarat tertentu dan golongan miskin tidak
mungkin memenuhi persyaratannya.

e)

Ketidakmerataan menduduki jabatan-jabatan. Untuk mendapat pekerjaan yang


memberi makan pada keluarga saja susah, apalagi menduduki jabatan-jabatan
yang sering memerlukan relasi tertentu dan persyaratan tertentu.

f)

Ketidakmerataan mempengaruhi pasaran. Karena miskin dan pendidikannya


rendah, maka tidak mungkin golongan miskin dapat mempengaruhi pasaran .

g)

Ketidakmerataan kemampuan menghindari musibah misalnya penyakit,


kecelakaan dan ketidak beruntungan lainnya. Bagi golongan miskin dibutuhkan
bantuan untuk dapat mengatasi musibah tersebut. Mengharapkan diri mereka
sendiri dapat mengangakat dirinya tanpa pertolongan, sukar dipastikan.

h)

Laju pertumbuhan penduduk lebih memberatkan golongan miskin. Dengan


jumlah keluarga besar, mereka sulit dapat menyekolahkan, memberi makan, dan
pakaian secukupnya. Hanya keluarga yang kaya atau berpenghasilan besar
sajalah yang mampu.

Dapatlah dipastikan bahwa golongan berpenghasilan rendah, karena kurang


terjamah pendidikan, tidak memiliki sarana-sarana, misalnya kredit, modal, alat-alat
produksi, relasi dan sebagainya, tidak akan mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan
ekonomi dan menikmati pembagian hasil-hasilnya tanpa adanya kebijaksanaan khusus
yang ditujuakan untuk mengangkat mereka.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan sering diidentifikasikan dengan kekurangan terutama kekurangna bahan
pokok seperti pangan,kesehatan ,sandang,papan,dan sebagianya. Dengan kata lain,
kemiskinan merupakan ketidak mampuan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga ia
mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya
(Siswanto, 1998).Kemiskinan bagaikan penyakit yang diberantas. Namun upaya
memberantas tidak selalu membawa hasil karena masalah memang kompleks.
Untuk mengatasi kemiskinan, paling tidak harus dilihat dari konteks masalahnya.
Kemiskinan timbul dari berbagai faktor yang setiap faktornya memerlukan penanganan
khusus.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan
hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi
perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem
nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia dalam
masyarakatnya. Walaupun kata pembangunan memiliki makna yang berbeda-beda, namun
satu makna yang diterima oleh masyarakat umum adalah perubahan.

DAFTAR PUSTAKA
Suhada, Idad., Ilmu Sosial Dasar, Bandung: Insan Mandiri, 2011
http://naonwehlahbebas.wordpress.com