Anda di halaman 1dari 7

INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian Inovasi
Inovasi diartikan sebagai sesuatu yang baru dalam situasi
sosial tertentu yang digunakan untuk menjawab atau memecahkan
suatu permasalahan. Dilihat dalam bentuk atau wujudnya sesuatu
yang baru itu dapat berupa ide, gagasan, benda atau mungkin
tindakan. Sedangkan dilihat dari maknanya, sesuatu itu bisa benarbenar baru yang belum tercipta sebelumnya yang kemudian disebut
inovation, atau belum tercipta sebelumnya sudah ada dalam
konteks sosial yang lain yang kemudian disebut istilah discovery.
Proses inovation, misalkan penerapan metode atau pendekatan
pembelajaran yang benar-benar baru dan belum
dilaksanakan
dimanapun
untuk
meningkatkan
efektifitas
dan
efisiensi
pembelajaran, contohnya berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan
dan tekhnologi
kita dapat mendesain pembelajaran melalui
handphone yang selama ini belum ada; sedangkan proses
discovery, misalkan penggunaan model pembelajaran inkuiri dalam
pembelajaran IPA di indonesia untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dalam mata pelajaran tersebut, yang sebenarnya
model pembelajaran tersebut sudah dilaksanakan si negara-negara
lain, atau pembelajaran melalui proses invention atau melalui
proses discovery.
Merujuk kepada penjelasan di atas maka inovasi kurikulum
dan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu ide, gagasan atau
tindakan-tindakan
tertentu
dalam
bidang
kurikulum
dan
pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah
pendidikan.
Dalam bidang pendidikan, inovasi biasanya muncul dari
adanya keresahan pihak-pihak tertentu tentang penyelenggaraan
pendidikan. Misalkan, keresahan guru terhadap pelaksanaan proses
belajar mengajar yang dianggapnya kurang berhasil, keresahan
pihak administrator pendidikan tentang kinerja guru, atau mungkin
keresahan masyarakat terhadap kinerja dan hasil bahkan sistem
pendidikan. Keresahan-keresahan itu pada akhirnya membentuk
permasalahan-permasalahan yang menurut penanganan dengan
segera. Upaya untuk memecahkan masalah itulah muncul gagasan
dan ide-ide baru sebagai suatu inovasi. Dengan demikian, maka
dapat kita katakan bahwa inovasi itu ada karena adanya masalah
yang dirasakan; hampir tidak mungkin inovasi muncul tanpa adanya
masalah yang dirasakan.
B. Masalah Pendidikan sebagai Sumber Inovasi
Ada beberapa masalah yang dihadapi dunia kita. Sekalipun
telah berlakunya otonomi daerah sebagai kosekuensi penerapan

Undang-Undang no 22 Tahun 1999, permasalahan itu tampaknya


akan tetap ada, bahkan akan semakin kompleks. Masalah tersebut
adalah masalah relevansi, masalah kualitas, masalah efektifitas dan
efisiensi, dan masalah daya tampung sekolah yang terbatas.
1. Masalah Relevansi Pendidikan
Maka yang dimaksud dengan relevansi adalah kesesuaian
antara kenyataan atau pelaksanaan dengan tuntutan dan
harapan. Dalam konteks pendidikan, relevansi adalah kesesuaian
antara pelaksanaan dan hasil pendidikan dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat. Masalah relevansi pendidikan ini dapat
dilihat dari tiga sisi: Pertama, relevansi pendidikan dengan hidup
siswa, artinya apa yang diberikan oleh sekolah harus sesuai
dengan kondisi, kebutuhan dan tuntutan masyarakat tempat
siswa tinggal. Selama ini kurikulum muatan lokal merupakan
suatu inovasi dalam bidang pendidikan untuk memecahkan
masalah tersebut. Melalui kurikulum muatan lokal, diharapkan
apa yang diberikan di sekolah akan menjadi relevan dengan
kebutuhan dan tuntutan lingkungan hidup siswa.
Kedua, relevansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa
baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Relevansi ini mengandung pengertian bahwa isi kurikulum harus
mampu menjawab kebutuhan siswa pada masa yang akan
datang. Pendidikan bukan hanya berfungsi untuk mengawetkan
kebudayaan masa lalu, akan tetapi juga untuk mempersiapkan
siswa agar kelak dapat hidup menyesuaikan dengan tuntutan
zaman. Oleh karena itu, apa yang diberikan di sekolah harus
teruji, bahwa semua itu memiliki nilai guna untuk kehidupan
siswa di masa yang akan yang datang.
Ketiga, relevansi pendidikan dengan tuntutan dunia kerja.
Relevansi ini mengandung pengertian bahwa sekolah memiliki
tanggung jawab dalam mempersiapkan anak didik yang memiliki
keterampilan dan kemampuan sesuai dengan tuntutan kerja.
Pendidikan berfungsi untuk mendidik manusia yang produktif,
yang mampu bekerja dalam bidangnya masing-masing. Pada
saat ini seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi begitu banyak bidang-bidang keterampilan yng harus
dimiliki anak didik. Dan pada kenyataanya salah satu kritikan
yang muncul kepermukaan dewasa ini adalah bahwa pendidikan
kita dianggap masih sangat lemah dalam mempersiapkan
tenaga kerja yang terampil sesuai dengan tuntutan dunia kerja.
Untuk menjawab masalah ini, inovasi pendidikan telah banyak
dilakukan. Misalnya, penerapan sistem ganda untuk sekolasekolah kejuruan. Melalui sistem ini siswa tidak hanya dibekali
dengan teori-teori akan tetapi dalam kurun waktu tertentu,

mereka diharuskan melakukan magang di berbagai tempat


seperti pusat-pusat industri yang akan menyerap mereka
sebagai tenaga kerja. Dengan sistem ini diharapkan manakala
mereka lulus kelak, mereka sudah paham apa yang harus
dikerjakan.
2. Masalah Kualitas Pendidikan
Selain masalah relevansi, maka rendahnya kualitas pendidikan
juga dianggap sebagai suatu masalah yang dihadapi dunia
pendidikan kita dewasa ini. Rendahnya kualitas pendidikan ini
dapat dilihat dari dua sisi. Pertama dari segi proses dan kedua
dari segi hasil.
Rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari sisi proses, adalah
adanya anggapan bahwa selama ini proses pendidikan yang di
bangun oleh guru dianggap cenderung terbatas pada
penguasaan materi pengajaran atau bertumpu
pada
perkembangan aspek kognitif tingkat rendah, yang tidak mampu
mengembangkan kreatifitas berfikir proses pendidikan atau
proses belajar mengajar dianggap cenderung menempatkan
siswa sebagai objek yang harus diisi dengan berbagai informasi
dan bahan-bahan hafalan. Komunikasi terjadi satu arah, yaitu
dari guru ke siswa melalui pendekatan ekspositori yang dijadikan
sebagai alat utama dalam proses pembelajaran.
Dari sisi hasil, rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari
tidak meratanya setiap sekolah dalam mencapai rata-rata Ujian
Nasional (UN). Ada sekolah yang dapat mencapai nilai rata-rata
UN yang tinggi, namun dilain pihak banyak sekolah yang
mencapai UN yang jauh dibawah standar.
Beberapa usaha yang dilakukan untuk memecahkan masalah
tersebut diantaranya dengan meningkatkannya kualitas guru dan
perbaikan kurikulum dan, serta menyediakan berbagai sarana
dan prasarana yang lebih lengkap dan dianggap memadai.
Peningkatan kualitas atau mutu guru, diantaranya dengan
meningkatkan latar belakang akademis mereka melalui
pemberian kesempatan untuk mengikuti program-program
pendidikan, serta memberikan penataran-penataran dan
pelatihan-pelatihan. Untuk guru SD, SMP dan SMA misalkan,
mereka diharuskan berlatar belakang akademis S1.
Perbaikan kurikulum dilakukan bukan hanya membuka
kemungkanan penambahan isi kurikulum sesuai dengan
kebutuhan lingkungan masyarakat lokal, akan tetapi juga inovasi
pelaksanaan proses pembelajaran dengan memperkenalkan
penggunaan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA),
pendekatan keterampilan proses, Constektual Teaching and
Learning dan lain sebagainya.

3. Masalah Efektivitas dan Efisiensi


Efektivitas
berhubungan dengan
tingkat
keberhasilan
pelaksanaan pembelajaran yang didesain oleh guru untuk
mencapai tujuan pembelajaran, baik tujuan dalam skala yang
sempit seperti tujuan pembelajaran khusus maupun tujuan
dengan skala yang lebih luas, seperti tujuan kurikuler, tujuan
institusional dan bahkan tujuan nasional. Dengan demikian,
dalam konteks kurikulum dan pembelajaran suatu program
pembelajaan dikatakan memiliki tingkat efektivitas tinggi
manakala program tersebut dalam mencapai tujuan seperti
yang diharapkan. Misalkan, untuk mencapai tujuan tertentu,
guru memprogramkan 3 bentuk kegiatan brlajar mengajar.
Manakala berdasarkan hasil evaluasi setelah dilaksanakan
program kegiatatan belajar mengajar itu, tujuan pembelajaran
telah dicapai oleh seluruh siswa, maka dapat dikatakan bahwa
program itu memiliki efektivitas yang tinggi. Sebaliknya apabila
diketahui setelah pelaksanaan proses belajar mengajar, siswa
belum mampu mencapai tujuan yang diharapkan, maka dapat
dikatakan bahwa program tersebut tidak efektif.
Dengan cara yang sama, dapat dilakukan untuk melihat
efektivitas program pendidikan dalam upaya pencapaian tujuan
yang lebih luas, misalkan tujuan instusional. Unutk mencapai
tujuan lembaga pendidikan (institusi) tertentu diberikan
sejumlah program pendidikan
baik program intrakurikuler
maupun ekstrakurikuler. Apabila berdasarkan hasil evaluasi
terhadap lulusan lembaga pendidikan yang bersangkutan
diketahui bahwa setiap kelulusan mempunyai kemampuan
sesuai dengan tujuan lambaga itu, maka program pendidikan
yang dilaksanakan dianggap efektif; dan sebaliknya manakala
lulusan tidak mencerminkan kemampuan yang diharapkan, maka
program pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga yang
bersangkutan dianggap kurang efektif.
Efisiensi berhubungan dengna jumlah biaya, waktu dan
tenaga yang digunakan unutk mencapai tujuan tertentu. Artinya,
suatu program pembelajaran dikatan memiliki tingkat efisiensi
yang tinggi, manakal dengan jumlah biaya yang minimal dapat
menghasilkan atau dapat mencapai tujuan yang maksimal.
Sebaliknya, program dikatakan tidak efisien apabila tenaga yang
dikeluarkan sangat besar akan tetapi hasil yang peroleh kecil.
Sehubungan dengan masalah efisiensi ini, sebaiknya setiap guru
membuat program yang benar-benar dapat menunjang
ketercapaian tujuan pembelajaran. Sekolah dan guru harus
menghindari
program-program
kegiatan
yang
banyak

memerlukan biaya, waktu dan tenaga, padahal kegiatan tersebut


tidak atau kurang mendukung terhadap pencapaian tujuan
pendidikan.
4. Masalah daya tampung yang terbatas.
Masalah lain yang dihadapi di dunia pendidikan kita adalah
masalah terbatasnya daya tampung sekolah khususnya pada
tingkat SLTP. Maslah ini muncul setelah keberhasilan
penyelenggaraan SD inpres, yang mengakibatkan meledaknya
lulusan sekolah dasar, sehingga menuntut pemerintah untuk
menyediakan fasilitas agar dapat menampung para lulusan SD
yang hendak melanjutkan ke SLTP.
Keberhasilan program inpres ini juga membawa dampak
permasalahan akan banyaknya minat lulusan SD yang hendak
melanjutkan ke SLTP, padahal kondisi geografis, sosial dan
ekonomi mereka yang kurang mendukung, misalkan karena
tempat tinggal mereka yang jauh berada di pedalaman alat di
pulau-pulau terpencil, atau kemampuan sosial ekonomi mereka
yang rendah. Untuk memecahkan masalah yang demikian, maka
pemerintah memerlukan langkah-langkah yang inovatif, yaitu
langkah yang dapat menyediakan kesempatan belajar seluasluasnya untuk mereka dengan biaya yang rendah tanpa
mengarungi mutu pendidikan.
C. Difusi dan Keputusan Inovasi
Difusi adalah proses atau saling tukar informasi tentang suatu
bentuk inovasi anatara warga masyarakat sasaran sebagai
penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dalam
waktu tertentu pula.
Ada dua bentuk sistem difusi, yaitu difusi sentralisasi dan difusi
desentralisasi. Difusi sentralisasi adalah difusi yang sifatnya
memusat. Artinya segala bentuk keputusan tentang komunikasi
inovasi ditentukan oleh orang-orang yang merumuskan bentuk
inovasi. Misalnya, kapan inovasi itu disebarluaskan, bagaimana
caranya, dan siapa yang terlibat unutk menyebarkan informasi
inovasi, bagaimana mengontrol penyebaran itu, seluruhnya
ditentukan oleh pembawa dan perumus perubahan secara spontan.
Sedangkan yang dimaksud dengan difusi desentralisasi adalah
proses penyebaran informasi inovasi dilakukan oleh masyarakat itu
sendiri. Dalam proses difusi desentralisasi keberhasilan difusi tidak
ditentukan oleh orang-orang yang merumuskan inovasi akan tetapi
sangat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri sebagai penggagas
dan pelaksana difusi.
Proses difusi diarahkan agar muncul pemahaman yang sama
tentang inovasi. Oleh karena itu, agar terjadi proses difusi yang
efektif perlu direncanakan. Proses perencanaan difusi dinamakan

diseminasi. Dengan kata lain diseminasi dapat diartikan sebagai


proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan dan
dikelola dengan baik. Dengan demikian, keberhasilan suatu
penyebaran inovasi sangat bergantung pada proses diseminasi.
Bagaimana agar terjadi proses difusi sehingga inovasi itu mudah
diterima oleh aggaota masyarakan atau sasaran inovasi? Hal ini
bergantung pada beberapa faktor diantaranya:
1. Faktor pembiayaan (cost). Biasanya semakin murah biaya yang
dikeluarkan untuk suatu inovasi, maka akan semakin mudah
diterima oleh kelompok masyarakat sasaran, walaupun kualitas
inovasi itu sendiri sangan ditentukan oleh mahalnya biaya yang
dikeluarkan. Misalnya, mengapa PPSP (Proyek Perintis Sekolah
dan Pembangunan) sebagi bentuk inovasi penyelenggaraan
sistem pendidikan tidak dilanjutkan? Hal ini mungkin karena
ketidakberhasilan sistem pendidikan itu, akan tetapi telalu
mahalnya pembiayaan yang harus dikeluarkan dibandingkan
dengan persekolahan biasa.
2. Resiko yang muncul sebagai akibat pelaksanaan inovasi. Inovasi
akan mudah diterima apabila memiliki efek samping yang sangat
kecil, baik yang berkaitan dengan politik maupun dengan
keamanan dan keselamatan penerimanya. Suatu inovasi tidak
akan mudah dan dapat diterima apabila memiliki resiko yang
tinggi.
3. Kompleksitas. Inovasi akan mudah diterima oleh masyarakat
sasaran
manakala
bersifat
sederhana
dan
mudah
dikomunikasikan. Semakin rumit bentuk inovasi itu, maka akan
semakin sulit pula untuk diterima.
4. Kompabilitas. Artinya mudah atau sulitnya suatu inovasi diterima
olah masyarakat sasaran ditentukan juga oleh kesesuaiannya
dengan kebutuhan, tingkat pengetahuan, dan keyakinan
masyarakat pemakai. Suatu bentuk inovasi akan sulit diterima
manakala tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau sulit
dipahami oleh karena tidak sesuai dengan tingkat pengetahuan
mereka.
5. Tingkat keandalan. Suatu bentuk inovasi akan mudah diterima
manakala diketahui tingkat keandalannya. Untuk mengetahui
tingkat keandalannya itu, bentuk inovasi terlebih dahuku harus
diujicobakan secara ilmiah agar dapat dipertanggungjawabkan.
Tanpa keandalan yang pasti, orang akan ragu untuk
mengadopsinya.
6. Keterlibatan. Bentuk inovasi yang dalam proses penyusunannya
melibatkan kelompok masyarakat sasaran, akan mudah diterima.
Misalkan untuk pembaruan dalam sistem pembelajaran, peoses
penyusunan inovasi melibatkan PGRI sebagai organisasi guru

atau melibatkan perwakilan guru-guru tertentu yang dianggap


berpengalaman.
7. Kualitas penyuluh. Inovasi perlu disosialisasikan untuk diketahui
dan dipahami oleh masyarakat sasaran. Dalam proses sosialisasi
itu perlu dirancang sedemikian rupa agar mudah dipahami. Salah
satu faktor yang menentukan dalam proses sosialisasi adalah
faktor kualitas penyuluh. Kualiatas penyuluh bukan hanya
ditentukan oleh kemampuan penyuluh saja, akan tetapi tingkat
keahlian yang bersangkutan. Proses penyuluhan yang dilakukakn
oleh seseorang yang kurang berpengalaman, akan sulit
meyakinkan masyarakat sasaran.
Faktor-faktor diatas, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
penyebaran dan penerimaan inovasi pendidikan. Oleh karena itu,
faktor-faktor
tersebut
dapat
dijadikan
sebagai
bahan
pertimbangan dalam perumusan berbagai bentuk inovasi
pendidikan.
Selanjutnya, bagaimana keputusan masyarakat sasaran dalam
menerima suatu inovasi. Ibrahim dalam Wina (2008) menyatakan
ada tiga tipe keputusan penerimaan inovasi, yaitu keputusan
inovasi opsional, kolektif, dan keputusan otoritas. Keputusan
opsional adalah kepusan yang ditentukan oleh individu secara
mandiri tanpa adanya pengaruh orang lain. Jadi dengan
demikian, dalam keputusan opsional yang berperan untuk
menolak atau menerima inovasi adalah invidu itu sendiri.
Kaputusan inovasi kolektif keputusan yang didasarkan oleh
kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat. Setiap
anggota kelompok harus menati untuk menerima atau menolak
inovasi sesuai dengan keputusan kelompok walaupun keputusan
itu kurang sesuai dengan pendapatnya.
Keputusan inovasi otoritas, adalah keputusan untuk menerima
atau menolak suatu inovasi ditentukan oleh orang-orang tertentu
yang memiliki kewenangan atau pengaruh terhadap anggota
kelompok masyarakatnya. Anggota kelompok masyarakat sama
sekali tidak memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak.
Mereka hanya memiliki kewenangan untuk melaksanakan
keputusan secara otoritas. Misalkan, jika kepala dinas pendidikan
mengharuskan semua guru untuk menerapkan metode SAS
dalam pembelajaran bahasa, maka setiap guru harus
melaksanakannya, walaupun ada guru yang menganggap
metode tersebut kurang pas.