Anda di halaman 1dari 16

TEORI BELAJAR DAN LANDASAN FILOSOFIS

BEHAVIORISME, KOGNITIVISME dan KONSTRUKTIVISME


TOPIK-TOPIK BAHASAN
Teori Behaviorisme
Terapi behavior tradisional diawali pada tahun 1950-an dan
awal

1960-an di

Amerika

Serikat,

Afrika

Selatan,

dan

Inggris sebagai awal radikal sebagai aliran behavioristik. Aliran


ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar.
Sejarah munculnya teori behaviorisme
Pavlov menyumbangkan pikiran dan gagasannya dalam
sebuah penelitiannya dalam bidang fsikologi yaitu tentang
Refleks berkondisi yang di lakukannya di tempat yang berbedabeda. Dan bagian yang paling terpenting dari penelitiannya
adalah dengan berpura-pura memberi makan kepada anjing.
Percobaan dilanjutkan dengan pura-pura memberi makan melalui
botol-botol kecil yang dimasukan dan diletakan di samping mulut
anjing tersebut. Setelah diperhatikan ternyata anjing sebagai
binatang percobaan selalu mengeluarkan air liurnya sebelum
makanan diletakan dekat moncongnya dan pura-pura mulai
makan. Anjing tersebut akan bertindak seperti itu jika ada
makanan dan atau sekalipun tidak diberi makanan (pura-pura
memberi

makanan).

Dari

percobaannya

tersebut

Pavlov

menyimpulkan bahwa hampir semua organisme perilakunya


terjadi secara refleks dan di batasi oleh rangsangan sederhana.

Teori Belajar Aliran Behaviorisme menurut Watson


John Watson 1878-1958; adalah seorang behavioris murni,
seorang

tokoh

aliran

behavioristik

yang

datang

sesudah

Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara


stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud
harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel)
dan dapat diukur. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan
pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum
yang mengaturnya.
Teori Belajar Aliran Behaviorisme menurut Watson
Skinner
menggunakan

mengembangkan
tikus

sebagi

teori

conditioning

percobaan.

Menurutnya,

dengan
suatu

respons sesungguhnya juga menghasilkan sejumlah konsekuensi


yang nantinya akan mempengaruhi tingkah laku manusia. Untuk
memahami tingkah laku siswa secara tuntas menurut Skinner
perlu

memahami

hubungan

antara

satu

stimulus

dengan

stimulus lainnya,memahami respons itu sendiri, dan berbagai


konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.
Skinner lebih percaya pada penguat negatif (negative
reinforcement), yang tidak sama dengan hukuman. Bedanya
dengan hukuman adalah, bila hukuman harus diberikan (sebgai

stimulus) agar respons yang timbul berbeda dari yang diberikan


sebelumnya, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus)
harus dikurangi agar respons yang sama menjadi kuat. Misalnya
seorang siswa perlu dihukum untuk suatu kesalahan yang
dibuatnya, jika ia masih bandel, maka hukuman harus ditambah.
Tetapi bila siswa membuat kesalahan dan dilakukan pengurangan
terhadap sesuatu yang mengenakkan baginya (bukan malah
ditambah), maka pengurangan ini mendorong siswa untuk
memperbaiki

kesalahannya..

inilah

yang

disebut

penguat

negatif.
Eksperimen Skinner

Teori Belajar Aliran Behavioristik menurut Thorndike


Teori belajar Thorndike di sebut Connectionism karena
belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi antara
stimulus dan respon. Teori ini sering juga disebut Trial and error
dalam rangka menilai respon yang terdapat bagi stimulus
tertentu.

Thorndike

mendasarkan

teorinya

atas

hasil-hasil

penelitiannya terhadap tingkah laku beberapa binatang antara


lain kucing, dan tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.

Prinsip-prinsip Teori Belajar Behavioristik


Prinsip yang paling penting dari teori-teori belajar perilaku

ialah, bahwa perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi


langsung.
1) Kesegeraan (Immediacy) konsekuensi-konsekuensi
Salah satu prinsip dalam teori belajar perilaku ialah, bahwa
konsekuensi-konsekuensi yang segera mengikuti perilaku akan
lebih mempengaruhi perilaku dari pada konsekuensi-konsekuensi
yang lambat datangnya.
2) Pembentukan (Shaping)
Selain kesegeraan dari reinforsemen, apa yang akan diberi
reinforsemen juga perlu diperhatikan dalam mengajar. Bila guru
membimbing

siswa

menuju

pencapaian

tujuan

dengan

memberikan reinforsemen pada langkah-langkah yang menuju


pada keberhasilan, maka guru itu menggunakan teknik yang
disebut pembentukan.
Implikasi teori behavior dalam pendidikan
Dalam

teori

behavior,

implikasinya

dalam

pendidikan

meliputi:
o Guru menuliskan tujuan instruksional dalam persiapan
mengajar, yang kemudian akan diukur pada akhir
pembelajarn
o Guru tidak memperhatikan hal-hal apa yang telah
diketahui peserta didik atau apa yang peserta didik
pikirkan selama proses pengajaran berlangsung
o Guru mengatur strategi dengan memberikan ganjaran
(berupa nilai tinggi atau pujian) dan hukuman (nilai
rendah atau hukuman lain)

o Guru lebih menekankan pada tingkah laku apa yang


harus dikerjakan peserta didik bukan pada pemahaman
peserta didik terhadap sesuatu
Teori Kognitivisme

Kognitivisme adalah suatu filsafat yang mengganggap


belajar bukanlah sekedar hubungan antara stimulus dan
respon namun suatu perilaku yang didasarkan oleh kognitif
yaitu berupa tindakan mengenal atau memikirkan situasi
dimana perilaku itu terjadi (Suyono & Hariyanto, 2011).

Berbeda dengan pandangan aliran behavioristik yang


memandang

belajar

sebagai

kegiatan

yang

bersifat

mekanistik antara stimulus dan respon, aliran kognitif


memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus
dan respon yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu,
kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada
di dalam diri individu yang sedang belajar.

Menurut

aliran

kemampuan

ini,

kita

kita

dalam

belajar

disebabkan

menafsirkan

peristiwa

oleh
atau

kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori Kognitivisme


berusaha menjelaskan bagaimana orang-orang berpikir.
Oleh

karena

itu

dalam

aliran

kognitivisme

lebih

mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu


sendiri.karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan
proses berpikir yang kompleks.
Sejarah munculnya teori kognitivisme
Kognitivisme

lahir

sebagai

respon

terhadap

behavaviorisme, yang mengganggap bahwa belajar adalah


sekedar hubungan antara respon dan stimulus. Di awali dengan
publikasi pada tahun 1929 oleh Bode seorang ahli psikologi

Gestalt. Ia mengkritik behaviorisme karena kebergantungan pada


perilaku yang diamati untuk menjelaskan pembelajaran.
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget

Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu


proses genetik, artinya proses yang didasarkan atas
mekenisme biologis dari perkembangan sistem syaraf.
Semakin bertambah umur seseorang, makin komplek
susunan

sel

syarafnya

dan

makin

meningkat

pula

kemampuannya. Piaget membagi proses belajar kedalam


tiga tahapan yaitu :
a. Asimilasi
Proses dimana pengetahuan baru disamakan dengan apa
yang telah kita miliki sebelumya. Contoh : seorang bayi
yang sedang meminum susu ibunya, hal ini yang selama ini
bayi tersebut ketahui. Kemudian bayi tersebut diberikan
dot karet, ternyata bayi tersebut akan tetap berperilaku
seperti sedang meminum susu ibunya (mengulum) dot
karet tersebut. Itu artinya dot karet akan disamakan
dengan puting ibunya.
b. Akomodasi
Proses penyesuaian antara struktur kognitif yang telah
dimiliki ke dalam situasi yang baru. Contohnya : seorang
anak pernah memakan apel. Kemudian anak tersebut
sedang memainkan bola, dan bola itu digigitnya. Anak
tersebut mengira bahwa bola itu adalah apel. Anak
tersebut akan menggigit, memainkan, bahkan menjatuhkan
bola tersebut untuk meyakinkan dirinya bahwa bola itu
bukanlah apel. Sehingga anak itu akan mengetahui bahwa
bola itu tidak sama seperti apel.
c. Equilibrasi
Proses

penyesuaian

yang

berkesinambungan

antara

asimilasi dan akomodasi. Hal ini sebagai penyeimbang agar


siswa dapat terus berkembang dan menambah ilmunya.
Tetapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya,
maka diperlukan proses penyeimbang. Tanpa proses ini
perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat
dan berjalan tidak teratur, sedangkan dengan kemampuan
equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai
informasi yang diterima dengan urutan yang baik, jernih,
dan logis.

Menurut Piaget, Proses belajar harus disesuaikan dengan


tahap perkembangan kognitif yang dilalui oleh siswa yang
terbagi kedalam empat tahap, yaitu :
1) Tahap sensorimotor (anak usia lahir 2 tahun), tahap ini
diidentikkan dengan kegiatan motorik dan persepsi
yang masih sederhana.
2) Tahap preoperational (anak usia 2 8 tahun), tahap ini
diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau
bahasa

tanda,

pengetahuan

dan

telah

berdasarkan

pada

dapat

memperoleh

kesan

yang

agak

abstrak.
3) Tahap operational konkret (anak usia 7/8 12/14 tahun),
tahap

ini

dicirikan

dengan

anak

sudah

mulai

menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak


sudah

tidak

memusatkan

diri

pada

karakteristik

perseptual pasif.
4) Tahap operational formal (anak usia 14 tahun lebih),
tahap yang terahir ini adalah anak sudah mampu
berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola
pikir "kemungkinan".
Teori Teori Perkembangan Kognitif menurut Jarome Bruner.

Berbeda dengan Piaget, Burner melihat perkembangan


kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi
Bruner,

perkembangan

kognitif

seseorang

sangat

dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa


yang

biasanya

digunakan.

Sehingga,

perkembangan

bahasa memberi pengaruh besar dalam perkembangan


kognitif (Hilgard dan Bower, 1981).

Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan


dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan
kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk
konsep, teori, definisi, dsb) melalui contoh-contoh yang
menggambarkan aturan yang menjadi sumber.

Menurut bruner ada 3 tahap dalam perkembangan kognitif,


yaitu:
1. Enaktif : usaha atau kegiatan untuk mengenali dan
memahami lingkungan dengan observasi, pengalaman
terhadap suatu realita.
2. Ikonik : siswa melihat dunia dengan melalui gambargambar dan visualaisasi verbal.
3. Simbolik : siswa mempunyai gagasan-gagasan abstrak
yang banyak dipengaruhi oleh bahasa dan logika dan
penggunaan simbol.

Teori Perkembangan Kognitif menurut Ausebel.

Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan


pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru
(belajar menjadi bermakna/ meaning full learning). Proses
belajar terjadi melalui tahap-tahap:
1) Memperhatikan stimulus yang diberikan.
2) Memahami
makna
stimulus
menyimpan

dan

menggunakan informasi yang sudah dipahami.

Menurut Ausebel siswa akan belajar dengan baik jika isi


pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan

dengan baik dan tepat kepada siswa (Advanced Organizer),


dengan

demikian

akan

mempengaruhi

pengaturan

kemampuan belajar siswa.


Teori belajar kognitif didasarkan pada empat prinsip dasar:
1. Pembelajar

aktif

dalam

upaya

untuk

memahami

pengalaman.
2. Pemahaman bahwa pelajar mengembangkan tergantung
pada apa yang telah mereka ketahui.
3. Belajar membangun pemahaman dari pada catatan.
4. Belajar adalah perubahan dalam struktur mental
seseorang.

Implikasi teori belajar kognitif dalam pendidikan


1. Perlakuan individu didasarkan pada tingkat perkembangan
kognitif peserta didik.
2. Bentuk pengelolaan kelas berpusat pada peserta didik
dengan guru sebagai fasillitator.
3. Partisipasi

peserta

didik

sangat

dominan

guna

meningkatkan sisi kognitif peserta didik.


Teori Konstruktivisme

Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran


yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu
makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran
behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai
kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon,
kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan
manusia

membangun

atau

menciptakan

pengetahuan

dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai

dengan pengalamanya.
Piaget dan Vygotsky

merupakan

dua

tokoh

utama

konstruktivisme. Kedua tokoh ini juga berpendapat bahwa


belajar bukan semata pengaruh dari luar, tetapi ada juga
kekuatan atau potensi dari dalam individu yang belajar.

Meskipun memiliki kesamaan pandangan kedua tokoh ini


juga memiliki perbedaan, yaitu :
1) Piaget
memandang
pentahapan

kognitif

anak

berdasarkan umur yang kaku, semestara Vygotsky


menyatakan bahwa dalam setiap tahapan itu terdapat
perbedaan kemampuan anak,
2) Piaget lebih menekankan pada perkembangan kognitif
anak sebagai manusia individu yang mandiri, sementara
Vygotsky mementingkan perkembangan kognitif anak
sebagai makhluk sosial, dan merupakan bagian integral
dari masyarakat, dan
3) Piaget menamai potensi diri anak sebagai skemata,
sementara Vygotsky menyebutnya sebagai Zone of

Proximal Development.
Prinsip-prinsip teori belajar konstruktivisme
Prinsip-prinsip konstruktivisme yang diterapkan

dalam

belajar mengajar adalah:


1) Pengetahuan dibangun oleh peserta didik
2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke
peserta didik, kecuali hanya dengan keatifan peserta
didik sendiri untuk menalar
3) peserta didik aktiv mengkonstruksi

secara

terus

menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep


ilmiah
4) guru sekedar

membantu

menyediakan

sarana

dan

situasi agar proses konstruksi berjalan lancar


5) menghadapi masalah yang relevan dengan peserta didik
6) struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya
sebuah pertanyaan
7) mencari dan menilai pendapat siswa
8) menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan

siswa
Implikasi dalam Pendidikan
Adapun implikasi dari teori belajar konstruktivisme dalam
pendidikan anak :

1) Tujuan pendidikan adalah menghasilkan individu yang


memiliki

kemampuan

berfikir

untuk

menyelesaikan

setiap persoalan yang dihadapi.


2) Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi
situasi

yang

memungkinkan

pengetahuan

dan

keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.


3) Guru hanyalah berfungsi sebagai fasilitator, mediator
dan teman yang membuat situasi kondusif untuk
terjadinya konstruksi pengetahuan pada diri peserta
didik.
PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING HASIL RESUME
Setelah saya meresume poin-poin penting yang berkaitan
dengan topik bahasan TEORI BELAJAR DAN LANDASAN FILOSOFIS
BEHAVIORISME, KOGNITIVISME dan KONSTRUKTIVISME adalah :
1) Teori manakah yang lebih tepat diterapkan untuk sekolah
yang memiliki visi meluluskan siswa berakhlaqul karimah dan
berprestasi akademik optimal?
2) Sepertinya ada kemiripan antara ketiga teori tersebut tentang
peserta

didik

perbedaannya?

sebagai

pusat

pembelajaran.

Lalu,

apa

pan, termasuk di dalamnya kehidupan

kemasyarakatan,

dunia usaha dan dunia kerja.


1.

Menyeluruh dan berkesinambungan


Substansi

kurikulum

kompetensi,

mencakup

keseluruhan

dimensi

bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran

yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan


antar semua jenjang pendidikan.
2.

Belajar sepanjang hayat


Kurikulum

diarahkan

pembudayaan,

dan

kepada

proses

pemberdayaan

pengembangan,

peserta

didik

yang

berlangsung sepanjang hayat.


3.

Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan


daerah.

Prinsip-prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 (K. 13)

Dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 103


tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan
pendidikan menengah, untuk mencapai kualitas yang telah
dirancang dalam dokumen kurikulum, kegiatan pembelajaran
perlu menggunakan prinsip sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

peserta didik difasilitasi untuk mencari tahu;


peserta didik belajar dari berbagai sumber belajar;
proses pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah;
pembelajaran berbasis kompetensi;
pembelajaran terpadu;
pembelajaran yang menekankan pada jawaban divergen

7.
8.

yang memiliki kebenaran multi dimensi;


pembelajaran berbasis keterampilan aplikatif;
peningkatan keseimbangan, kesinambungan, dan keterkaitan

9.

antara hard-skills dan soft-skills;


pembelajaran yang mengutamakan

pembudayaan

dan

pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang


hayat;
10. pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi
keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan
(ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas
peserta

didik

dalam

proses

pembelajaran

(tut

wuri

handayani);
11. pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di
masyarakat;
12. pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran;
13. pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang
budaya peserta didik; dan
14. suasana belajar menyenangkan dan menantang.
Keterkaitan Prinsip Pengembangan KBK dengan KTSP
dan Kurikulum 2013
1. Prinsip-prinsip pengembangan pada KBK saling terkait dan
mendukung dengan KTSP dan Kurikulum 2013.
2. Prinsip-prinsip KBK yang saling terkait diantaranya:

Keimanan, nilai, dan budi pekerti luhur, terkait dengan prinsip


KTSP adalah nomor (1) dan (2), sedangkan dengan prinsip

kurikulum 2013 adalah nomor (1) dan (10)


Penguatan integritas nasional terkait dengan prinsip KTSP
adalah

nomor

(5)

dan

(7)

sedangkan

dengan

prinsip

kurikulum 2013 adalah nomor (6)


Ada keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestika
terkait dengan prinsip KTSP adalah nomor (3) sedangkan

dengan prinsip kurikulum 2013 adalah nomor (13)


Adaptasi terhadap abad pengetahuan dan teknologi terkait
dengan prinsip KTSP adalah nomor (3) dan (4) sedangkan

dengan prinsip kurikulum 2013 adalah nomor (2) dan (12)


Mengembangkan keterampilan hidup terkait dengan prinsip
KTSP adalah nomor (3),( 4), dan (5) sedangkan dengan

prinsip kurikulum 2013 adalah nomor (7) dan (4)


Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan
dan komprehensif terkait dengan prinsip KTSP adalah nomor
(1) dan (4) sedangkan dengan prinsip kurikulum 2013 adalah

nomor (2), (3), (5), (8), (14), dan (4)


Kesamaan memperoleh kesempatan terkait dengan prinsip
KTSP adalah nomor (1) dan (6) sedangkan dengan prinsip

kurikulum 2013 adalah nomor (13)


Belajar sepanjang hayat terkait dengan prinsip KTSP adalah
nomor (4), (5), dan (6) sedangkan dengan prinsip kurikulum

2013 adalah nomor (9)


Pendekatan menyeluruh dan kemitraan terkait dengan prinsip
KTSP adalah nomor (1) dan (7) sedangkan dengan prinsip
kurikulum 2013 adalah nomor (11).

Keterkaitan KTSP dan Kurikulum 2013 dengan SNP


1. Pelaksanaan KTSP adalah dilandasi oleh Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan.

2. Pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah dilandasi oleh Peraturan


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 32 tahun 2013
tentang perubahan Permendiknas nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Pelaksanaan KTSP dan Kurikulum 2013 akan berjalan dengan
baik sesuai dengan tujuan pendidikan nasional jika ada
pedoman Standar Nasional Pendidikan.
PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING HASIL RESUME
Setelah saya meresume poin-poin penting yang berkaitan
dengan topik bahasan TEORI BELAJAR DAN LANDASAN FILOSOFIS
BEHAVIORISME, KOGNITIVISME, dan KONSTRUKTIVISME adalah :
1) Mengapa KBK tidak dilanjutkan dan berganti menjadi KTSP?
2) Bagaimana kesesuaian kurikulum 2013 dengan KBK dan KTSP
jika memang benar kurikulum 2013 adalah pengembangan
kurikulum dari KBK dan KTSP?
Daftar Rujukan
BSNP. 2006. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:
Kementrian Pendidikan Nasional.
BSNP.

2015.

Standar

Nasional

Pendidikan,

(Online),

(https://bsnp.org.id/), diakses 15 Mei 2015.


Hafazah, Nurlaila. 2006. Persepsi Guru Tentang Penerapan
Kurikulum

Berbasis

Kompetensi

Hubungannya

dengan

Kinerja Guru, Skripsi tidak diterbitkan. Jakarta: Universitas


Islam Negeri.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006
tentang

Standar

Kompetensi

Lulusan

Untuk

Satuan

Pendidikan Dasar dan Menengah. (Online), diakses 16 Mei


2015.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006
tentang

Pelaksanaan

Peraturan

Menteri

Pendidikan

Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk


Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (Online), diakses
16 Mei 2015.
Peraturan

Menteri

Pendidikan

dan

Kebudayaan

Republik

Indonesia Nomor 103 tahun 2014 tentang pembelajaran


pendidikan dasar dan pendidikan menengah. (Online),
diakses 16 Mei 2015.