Anda di halaman 1dari 31

Manajemen Risiko Kesehatan Penerbangan

Manusia biasa hidup di permukaan bumi dengan tekanan udara 1 Atmosphir. Seperti kita ketahui bersama pada
transportasi penerbangan kondisi lingkungan dalam kabin jauh berbeda, yang dapat menyebabkan terjadi perubahanperubahan fisiologis pada manusia. Kadang keluhan yang timbul dianggap suatu penyakit, sesungguhnya hal
tersebut akibat dari perubahan tekanan udara dalam lingkungan penerbangan yang bersifat hiperbarik, hipotermi,
dan hipohumidity. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan gangguan fisiologi tubuh manusia, sehingga bagi yang
sudah menderita sakit tertentu akan memperberat penyakitnya bahkan dapat mengakibatkan kematian. Para
penumpang yang memerlukan perhatian khusu antara lain ibu hamil, bayi dan usia lanjut.
Tujuan
Tercegahnya masalah kesehatan penerbangan dan terlaksananya penatalaksanaan kesehatan penerbangan pada
jemaah haji.
Uraian Materi
Pengaruh lingkungan penerbangan terhadap faal tubuh
1.

Atmosfir: adalah lapisan udara yang mengelilingi bumi, disebut juga payung atau selimut bumi yang terdiri dari
campuran gas-gas, cairan, dan benda padat serta terbentang mulai dari permukaan bumi sampai ketinggian 700 km
(400 mil), sedangkan lapisan diatasnya adalah ruang angkasa yang terbentang diatas 700 km. Unsur-unsur gas yang
dominan meliputi gas nitrogen (N2) sebesar 78,08%, Oksigen (02) sebesar 20,95%, C02 sebesar 0,03%, sedangkan
sisanya yang 0,001% merupakan gas krypton, xenon, neon, helium, argon, hydrogen, dan radon. Secara fisik
atmosfir mempunyai lapisan, antara lain:

a. Troposfer: lapisan paling bawah dan paling tipis yang terbentang pada ketinggian 0 - 12 km yang mempunyai sifat
berubah-ubah, terdapat uap air dan hujan, kelembaban berbeda-beda, suhu turun secara teratur dengan bertambahnya
ketinggian, arah dan kecepatan angin berubah-ubah. Karena itu sifatnya itu pada lapisan ini kurang baik untuk
penerbangan.
b. Stratosfer: terbentang pada ketinggian 50 - 80 km, suhu tetap 56,5 C meskipun ketinggian berubah- rubah, tidak
terdapat uap air dan turbulensi. Lapisan ini lebih ideal untuk penerbangan hanya lapisan udaranya tipis maka
diperlukan perlindungan khusus seperti kabin bertekanan dan lain-lain.
c. Ionosfir: terbentang pada ketinggian 6000 - 1000 km. Lapisan ini mempunyai suhu yang tinggi sampai 2000 C.
d. Eksosfir: merupakan lapisan yang paling atas yang disebut juga outer atmophere sedang lapisan-Iapisan sebelumnya
disebut juga atmosphere. Secara fisiologis atmosfir mempunyai beberapa daerah antara lain daerah fisiologis yang
terbentang dari permukaan bumi sampai ketinggian 10.000 kaki. Didaerah ini manusia jelas mengalami perubahan
faal pada tubuhnya, tingkat 02 nya cukup untuk mempertahankan manusia tetap samapta tanpa bantuan alat khusus.
Daerah kurang fisiologis yang terbentang diatas 10.000 km dengan akibat menurunnya tekanan parsiil 02 dan dapat
mengalami gangguan faal tubuh. Daerah ekivalen dengan ruang angkasa, pada ketinggian FL 630 dikenal istilah
Amstrong Line yang tekanannya sebesar 47 mmhg sama dengan tekanan uap air sehingga molekul cairan terlepas
menimbulkan efek yang disebut balling efect. Berat 1 m3 udara pada ketinggian permukaan laut dengan tekanan 760
mmhg dan suhu 1 C adalah 1293 g. Akibat gaya tarik bumi maka udara makin ke atas makin renggang sehingga
tekanan udaranya makin rendah.
2. Penqaruh ketinqqian Pada faal tubuh: pada dasarnya lapisan udara makin keatas makin renggang dan makin rendah

tekanannya dan makin kecil pula tekanan parsiil 02 nya. Manusia dapat hidup pada tekanan 760 mmhg, pada suhu
tropis 20 - 30 C dan kebutuhan total udara kering sebesar 20,9 %, sedangkan tekanan udara parsiil 02 sebesar 159
mmhg, sedang udara dalam alveoli sebesar 40 mmhg dan saturasi sebesar 98 %.
3. Hipoksia: Prinsip hukum diffusi gas dari tekanan tinggi ke rendah. Dimana jaringan tubuh kekurangan 02.
4. Disbarisma: Semua kelainan yang terjadi akibat perubahan tekanan kecuali hipoksia. Problema trapped gas adalah
rongga-rongga yang terdapat dalam tubuh kita seperti saluran penecernaan, disitu udara akan mengembang dan
menimbulkan rasa mual sampai sesak begitu juga bila terjadi pada telinga tengah. Problema evolved gas, terjadi
pada ketinggian tertentu yang larut dalam cairan tubuh atau lemak. Mulai pada ketinggian 25.000 kaki gelembung
gas N2 yang lepas mulai menunjukan gejala klinis gatal atau kesemutan, rasa tercekik sampai terjadi kelumpuhan.
Untuk mencegahnya perlu dilakukan denitroenisasi dengan 100 % 02 dan lamanya tergantung pada ketinggian yang
hendak dicapai dan berapa lama di ketinggian tersebut.
5. Penqaruh kecepatan dan percepatan terhadap faal tubuh: Akibat kecepatan dan percepatan yang tinggi mempunyai
efek terhadap faal tubuh.
Beberapa Masalah Kedokteran Pada Penerbangan Jarak Jauh
1. Motion sicknes bukanlah merupakan suatu penyakit namun respon normal terhadap gerakan-gerakan dan situasi
yang tidak biasa dijumpai dengan gejala mual, keringat dingin, pusing, lethargi, dan muntah. Wanita lebih berisiko
dari pria. Untuk mencegahnya jangan melakukan perjalanan dalam keadaan perut kosong. Bila mual usahakan
kepala tetap tegak. Jangan membaca menunduk, usahakan pandangan lurus kedepan. Sedang obat-obat dapat
menggunakan dramamine, antihistamin lainnya.
2. Nyeri sinus- telinga dan gigi. Volume udara dalam telinga tengah dan sinus akan mengembang sekitar 25 % pada
tekanan 5000 - 8000 kaki. Bila saluran yang menghubungkan antara rongga-rongga tersebut dengan hidung baik
maka tidak akan menimbulkan keluhan. Nyeri pada gigi biasanya akibat gangren atau pulpitis. Bila telinga terasa
tersumbat maka lakukan manuver valsava yaitu meniupkan udara melalui hidung dengan dengan mulut dan hidung.
tertutup dengan harapan saluran tuba eustachii akan terbuka. Untuk pencegahan sebaiknya tidak terbang bila sedang
flu, pilek dan sinusitis.
3. Kedaruratan medik pada manusia usia lanjut
Penerbangan haji akan terasa nyaman dan tidak menjadi masalah bagi mereka yang sering bepergian dengan
pesawat terbang. Akan tetapi, bagi mereka yang belum pernah naik pesawat terbang atau bahkan kereta api
sekalipun, penerbangan haji yang berlangsung sekitar 8 - 10 jam dari tanah air hingga Arab Saudi dapat
menimbulkan beberapa kesulitan atau perasaan tidak nyaman terutama pada jemaah haji Indonesia yang sebagian
besar termasuk LANSIA.
Pesawat terbang pada perjalanan haji biasanya terbang pada ketinggian antara 30.000--40.000 kaki, dengan tekanan
udara di dalam kabin penumpang dan kokpit di atur secara otomatis sehingga kondisi udara (suhu dan tekanannya)
seperti pada ketinggian 5000--8000 kaki. Pada ketinggian itu, suhu udara kurang dari 20C dan tekanan udara adalah
sekitar 550 mmHg.
Sementara itu, pada ketinggian terbang 30.000 kaki, kondisi udara pesawat terbang memiliki suhu -40C dan
tekanan udara hanya 225 mmHg. Dalam kondisi seperti itu, tanpa kabin bertekanan, manusia akan segera pingsan
dan beberapa detik kemudian akan meninggal. Hal ini disebabkan otak kehabisan oksigen serta paru-paru dan
jantung tidak berfungsi.
Dengan memahami pengaruh lingkungan penerbangan, diharapkan calon jemaah haji, calon Tim Kesehatan Haji
Indonesia (TKHI), petugas/instansi penyelenggara haji Indonesia (pramugara/i, penceramah dalam manasik haji,
petugas bandar udara, dan lain-lain dapat melakukan berbagai persiapan untuk mencegah kemungkinan timbulnya

berbagai hal yang kurang baik dan membuat penerbangan menjadi nyaman.
a. Pengaruh Kelembaban, Udara Kering dan Dehidrasi
Kelembaban (hunmiditas):
Berbeda dengan udara lembab yang terdapat di kota-kota dekat pantai, misalnya Medan, Jakarta dan Makassar yang
derajat kelembabannya (humiditas) 80--95%, udara di dalam kabin penumpang ternyata lebih kering. Kondisi udara
di dalam kabin bertekanan pada tempat penumpang berada, yang setara dengan kondisi udara pada ketinggian
5000--8000 kaki, kelembaban (humiditas)-nya adalah 40--50%.
Udara kering:
Kelembaban yang rendah atau udara kering akan memudahkan penguapan dari keringat melalui pori-pori kulit tubuh
sehingga tanpa disadari ternyata tubuh telah kehilangan banyak cairan tubuh, hal ini akan lebih berbahaya bila
terjadi pada Lansia.
Penguapan keringat:
Kehilangan keringat di lingkungan udara yang kering tidak disadari sehingga dapat mengancam kesehatan tubuh.
Apalagi bila disertai jumlah urine yang bertambah banyak akibat udara yang dingin, akan sangat berbahaya pada
kondisi fisik dan fisiologi tubuh jemaah haji Lansia.
Dehidrasi:
Penguapan keringat disertai pengeluaran urine yang berlebihan, apalagi jika tidak diimbangi dengan minum
secukupnya maka akan terjadi dehidrasi. Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh calon jemaah haji (penumpang)
kehilangan dan kekurangan cairan (yang diikuti pula dengan kehilangan dan berkurangnya garam tubuh). Adapun
gejalanya adalah otot pegal, haus dan lain-lain. Menanggulanginya adalah dengan minum secukupnya,
menghabiskan makanan yang dihidangakan oleh pramugari dan memakai krim kulit atau salep vaseline.
b. Udara dingin:
Udara dingin atau sejuk selama penerbangan sekitar 8--10 jam akan merangsang otak mengeluarkan hormon yang
meningkatkan produksi air seni (urine). Hal ini akan menyebabkan kandung kemih cepat penuh yang merangsang
pengeluaran urine sehingga ingin berkali-kali ke kamar kecil (toilet).
Pembesaran prostat
Pada beberapa lanjut usia (lansia) yang menderita pembesaran (hipertrofi) kelenjar prostat akan mengalami
hambatan pada saluran urine sehingga tidak dapat berkemih. Untuk menolong penderita tersebut perlu dilakukan
pemasangan kateter.
Anemia hipoksia
Yaitu sel darah kekurangan zat hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Kita ketahui hemoglobin berfungsi
untuk mengangkut oksigen. Hipoksia ini dapat dialami oleh penderita anemia. Calon jemaah haji Lansia sebagian
besar menderita penyakit anemia. Penderita anemia sebagian besar dari kalangan petani dan nelayan yang status
gizinya kurang baik.
c. Kelelahan

Adalah suatu keadaan dimana efisiensi kerja menurun secara progresif disertai perasaan tidak enak badan,
penurunan daya tahan tubuh, dan efisiensi jasmani dan daya berpikir.
Penyebab kelelahan:
Persiapan dan perjalanan dari kampung halaman menuju ke asrama haji, menunggu keberangkatan lalu tiba di
bandar udara, selanjutnya menunggu lagi, lalu duduk di kursi penumpang pesawat terbang haji selama lebih dari 8
jam penerbangan, semua itu menyebabkan kelelahan. Vibrasi atau getaran serta bising (noise) yang ditimbulkan oleh
empat buah mesin jet pesawat terbang, walaupun kadarnya ringan, ikut menambah beban yang menghasilkan
kelelahan serta mengganggu nafsu makan serta nyenyaknya tidur penumpang. Seharusnya, waktu selama dalam
penerbangan tersebut dimanfaatkan untuk tidur supaya menghilangkan kelelahan.
Lokasi dan gejala:
Kelelahan dapat terjadi lokal (lelah sebagian tubuh seperti lengan, tungkai dan lain-lain) dan umum (lelah seluruh
tubuh). Gejala atau tanda-tanda lelah yang biasa ditemukan ialah pegal-pegal (sendi dan otot) dan tanda-tanda
mental yaitu gugup, mudah tersinggung (pemarah), sukar berpikir, sukar tidur, sakit kepala, waktu untuk bereaksi
lebih lambat, pelupa, kurang teliti, kondisi menurun, daya memutuskan pendapat (judgement) mulai terganggu, mata
lelah, gangguan saluran penecernaan, nafsu makan menurun, dan lain-lain.
Pencegahan
Upaya pencegahan dilakukan dengan menghilangkan atau mengurangi faktor-faktor penyebab kelelahan (meliputi
faktor kejiwaan, fisik dan faal tubuh), antara lain dengan tidur yang cukup, yaitu sekitar 8 jam sehari/semalam,
menggunakan masa istirahat sebaik-baiknya, makan sesuai ketentuan gizi kesehatan (cukup jumlah dan gizi, bersih,
tidak terlalu merangsang/pedas, dan lain-lain), dan menghindari pekerjaaan yang melelahkan.
d. Aerotitis atau barotitis.
Rasa sakit atau gangguan pada organ telinga bagian tengah yang timbul sebagai akibat adanya perubahan tekanan
udara sekitar tubuh disebut aerotitis/barotitis. Barotitis dapat terjadi baik pada waktu naik (ascend) maupun turun
(descend). Hanya saja pada waktu menurun, presentase kemungkinan terjadinya lebih besar daripada waktu naik.
Hal ini disebabkan sifat atau bentuk tuba Eustachius yang lebih mudah mengeluarkan udara dari bagian telinga ke
tenggorokan daripada sebaliknya. Hal akan sangat berbahaya pada penumpang Lansia yang yang pengetahuannya
kurang dan fungsi faal tubuh sudah berkurang, bahkan dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga.
e. Pengembangan gas dalam saluran pencernaan
Rasa sakit atau rasa kurang enak dapat terjadi pada saluran pencernaan makanan sebagai akibat perubahan tekanan
di luar tubuh. Gangguan pada saluran pencernaan ini lebih jarang terjadi, tetapi dampaknya akan lebih berbahaya
karena rasa sakitnya lebih hebat sehingga dapat menyebabkan orang tersebut jatuh pingsan. Bila gas cukup banyak
jumlahnya, apalagi tidak mendapat jalan kerluar (kentut), maka akan menekan dinding lambung dan menimbulkan
rasa sakit yang hebat. Oleh karena itu, sebelum melakukan penerbangan hendaknya menghindari minuman yang
mengandung gas, antara lain: minuman bersoda, sebagainya. Selain itu tidak dibenarkan memakan makanan yang
dapat menghasilkan gas dalam lambung, misalnya kacang-kacangan, ubi jalar, kubis, petai, bawang, jengkol dan
sebagainya.

f. Kamar kecil, toilet atau jamban

Jamban atau toilet atau WC yang berada di kamar kecil berbeda pada setiap tipe pesawat terbang haji (Boeing-747,
Airbus-300, DC-100, dan lain-lain). Biasanya toilet berlokasi di bagian depan, tengah dan belakang di dalam kabin
penumpang.
Bagi calon jemaah haji yang di rumahnya terbiasa jongkok ketika buang air besar (BAB) maka perlu membiasakan
diri untuk BAB dengan cara duduk.
Bila di rumah terbiasa menyiram tinja/feces dalam kloset dengan menuangkan atau mengguyur air, maka dalam
toilet di pesawat terbang, tinja akan tersiram dan tersedot oleh tekanan udara, segera setelah tombol dengan tanda
flush atau press ditekan.
Calon jemaah haji yang di rumahnya terbiasa menggunakan gayung air untuk membersihkan dubur (cebok atau
cawik), maka dalam penerbangan sebaiknya menggunakan kertas (tissue) yang dibasahi air. Untuk mengeluarkan air
dari kran, cukup tekan tombol yang letaknya di bagian atas dari kran air tersebut. Fakta menunjukkan bahwa karena
kurangnya pengetahuan dan kurang memperhatikan penjelasan ketika manasik haji dan malu bertanya, akan
mendapat kesulitan sendiri bagi calon jemaah haji. Bahkan banyak kejadian jemaah yang menahan tidak BAK
selama penerbangan haji, hal akan menyebabkan komplikasi penyakit lain. Bila beser (sering BAK) dan tidak ingin
bolak balik ke wc di pesawat terbang (misalnya akibat stroke atau lansia sudah uzur), maka perlu membawa
pampers.
Persiapan Menjelang Keberangkatan
Dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter rumah sakit atau puskesmas, calon haji dapat
mengetahui apakah ia menderita penyakit tertentu yang dapat menjadi masalah dalam penerbangan. Penyakitpenyakit tersebut antara lain tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes melitus), penyakit jantung,
batuk dan sesak nafas (asma paru, bronkhitis, TBC atau sakit jantung, penyakit liver, pembesaran kelenjar prostat,
gigi berluang atau gangren, penyakit remautik, lumpuk akibat stroke, sakit maag (ulu hati, gastritis) ambeien (wasir,
hemorrhoid), penyakit tekanan bola mata tinggi (glaukoma), hamil dan lain-lain. Pada derajat ringan yang ringan,
penderita salah satu penyakit tersebut, terkadang masih diluluskan.
g. Waspadai ancaman Deep Vein Thrombosis (DVT) dan Emboli (Sindroma Kelas Ekonomi).
lihat penjelasan dibawah
h. Mewaspadai darurat jantung pada penerbangan haji terutama Lansia
Penyakit jantung adalah salah satu penyakit yang rawan terhadap berbagai tekanan situasi selama kegiatan ibadah
haji, termasuk dampak penerbangan haji yang cukup panjang. Terdapat jenis penyakit jantung yang digolongkan
sebagai kelompok penyakit berisiko tinggi (risti) atau high risk disease adalah penyakit jantung koroner (PJK). Oleh
karena lebih dari 60% yang menunaikan ibadah haji berusia 45 tahun keatas, maka akan sangat mungkin
mewaspadai penyakit jantung koroner. Melihat pada masalah deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru, akibat
kurangnya perhatian terhadap pencegahan, telah jatuh banyak korban dalam penerbangan-penerbangan jarak jauh di
berbagai belahan bumi ini. Di Amerika serikat data kematian penumpang rata-rata 43--47 orang setiap tahun, dan
dua pertiganya adalah pengidap penyakit jantung. Mengingat menunaikan ibadah haji adalah hak setiap muslim,
dilaksanakan melalui persiapan yang cukup panjang, atas niat yang sangat luhur, tidak ada seorangpun yang berhak
melarangnya. Oleh karena itu setiap dokter yang terkait dengan pelayanan jemaah haji harus memposisikan diri
secara bijak dan dilandasi oleh niat untuk membantu setiap jemaah haji agar dapat melaksanakan ritual ibadahnya
dengan khusuk dan dengan risiko yang sekecil-kecilnya.
i. Mewaspadai Penyakit Paru Obstruksio Kronis (PPOK)
Bagi jemaah haji yang sehat, penerbangan haji dari sudut pulmonologi tidak ada masalah, akan tetapi bagi jemaah

haji yang mempunyai penyakit paru-paru seperti obstruksi kronik (PPOK), kemampuan paru untuk mengatasi
dampak buruk akibat rendahnya tekanan udara dalam kabin pesawat. Jemaah haji yang menderita PPOK sebaiknya
ditangani secara khusus agar risiko terhadap dampak buruk penerbangan haji dapat ditekan serendah mungkin.
Harus diwaspadai kemungkinan terjadi hipoksemia dalam penerbangan.
j. Obstructive Sleep Apnea
Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah fenonema berkurangnya atau terhentinya aliran udara pernafasan yang
terjadi saat tidur akibat radius saluran pernafasan yang menyempit atau obstruksi dari saluran pernafasan. ASA
mempunyai peran sebagai penyebab kematian hipertensi, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke, serta
penyebab kematian mendadak (sudden death). OSA sangat penting diperhatikan mengingat penerbangan haji adalah
penerbangan jarak jauh, mengingat risiko mati mendadak dan kecelakan yang disebabkannya.
k. Sakit Kepala Pada Penerbangan Haji
Setiap tahun jemaah haji Indonesia berjumlah lebih dari 200 ribu orang, dimana lebih dari 40% termasuk usia lanjut
(Lansia). Walaupun para jemaah haji sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan cermat dan lengkap, namun
tidak jarang dalam perjalanan penerbangan timbul gangguan, keluhan yang dirasakan tidak nyaman, salah satu
keluhan itu adalah pusing bahkan sampai sakit kepala, dari ringan sampai berat. Penurunan tekanan udara
menjadikan penurunan tekanan oksigen di dalamnya sehingga jumlah oksigen yang dihirup untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme tubuh relatif semakin berkurang (hipoksia). Gangguan ini akan memicu pelebaran pembuluh
darah dan terlepasnya zat-zat mediator inflamasi yang pada akhirnya akan mempengaruhi kepekaan saraf-saraf nyeri
di kepala. Bagi sebagian jemaah haji keadaan ini sudah dapat memberikan gangguan rasa kenyamanan, terutama
sakit kepala, apalagi pada penderita gangguan jantung dan pernafasan kronis. Sakit kepala atau nyeri kepala adalah
istilah umum dari sefalgia, merupakan rasa nyeri atau rasa tidak mengenakan pada pada daerah atas kepala
memanjang dari rongga mata sampai daerah kepala belakang. Derajat rasa sakit kepala adalah subyektif, namun
secara umum dapat dibedakan menjadi rasa sakit kepala ringan, sedang, dan berat.
l. Jemaah Haji Wanita Hamil
Pada kehamilan memasuki usia 28 minggu atau lebih trimester terakhir, uterus atau rahim sangat sensitif terhadap
rangsangan baik dari luar maupun dari dalam rahim sendiri. Rangsangan dari luar rahim dapat berupa guncangan,
getaran (vibrasi) saat terjadi turbulensi, perubahan tekanan atmosfer dan tekanan oksigen. Rangsangan diatas dapat
menimbulkan kontraksi yang berlebihan pada dinding/otot rahim. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya persalinan
prematur. Perlu diperhatikan oleh TKHI (khususnya Flight Nurse) pemasangan sabuk pengaman. Sabuk pengaman
dipasang pada panggul agar tidak terjadi Seat Belt syndrom.
m. Jemaah haji berlensa kontak
Yang perlu diperhatikan pada pemakai lensa kontak:

Penurunan tekanan dalam ruang kabin, bila pemasangan lensa kontak terlalu ketat dan terdapat udara diantara lensa
kontak dan selaput bening mata, udara tersebut akan mengembang, akibatnya lensa kontak akan terlepas, apabila
lensa kontak tersebut keras dan tidak dapat dilewati udara.
Kelembaban yang rendah. Pemakai lensa kontak dengan air mata yang normal tidak banyak mengalami persoalan,
tetapi bagi mereka yang mengalami gangguan air mata akan merasakan gangguan penglihatan.
Dengan kelembaban rendah dan kondisi oksigen tipis selaput bening pemakai lensa kontak akan terjadi edema
(pembengkakan), akibatnya terjadi gangguan ketajaman penglihatan dan kurang nyaman.

Aerofisiologi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Aerofisiologi adalah ilmu tentang kesehatan tubuh ketika berada dalam penerbangan atau dalam
misi penjelajahan ruang angkasa.[1]

Daftar isi

1 Penjelasan Awal

2 Sejarah Aerofisiologi

3 Pengaruh Ketinggian Pada Faal Tubuh


o

3.1 Hipoksia

3.1.1 Hypoxic-Hypoxia

3.1.2 Anaemic-Hypoxia

3.1.3 Stagnant-Hypoxia

3.1.4 Histotoxic-Hypoxia

3.2 Gejala-gejala hipoksia

3.3 Pengobatan hipoksia

3.4 Dysbarism

3.5 Post Flight Ear Block

3.5.1 Sinus Paranasalia

4 Refrensi

5 Daftar Pustaka

3.5.1.1 Gigi

Penjelasan Awal
Manusia berevolusi untuk hidup di darat dan semua organ tubuh dapat bekerja dan berfungsi
dengan baik dalam kondisi lingkungan darat yang mengelilinginya. Akan tetapi manusia sejak

zaman dahulu ingin terbang seperti burung dan akhirnya berhasil terbang dengan balon pada
abad ke-18.
Sejak abad tersebut dunia penerbangan berkembang sangat pesat baik jarak tempuh, kecepatan,
ketinggian dan daya angkat maupun kegiatannya. Keberhasilan ini telah dapat meningkatkan
kesejahteraan umat manusia, namun bukannya tanpa risiko karena manusia memang tidak
terbiasa tinggal di ketinggian.
Untuk menghadapi hal tersebut maka Ilmu Kesehatan harus mengembangkan diri untuk
mempelajari bahaya-bahaya penerbangan bagi tubuh manusia dan cara-cara penanggulangannya. Maka lahirlah Ilmu Kesehatan Penerbangan sebagai salah satu cabang Ilmu
Kesehatan, yang dilandasi oleh Fisiologi Penerbangan atau Aerofisiologi.
Faktor-faktor ketinggian yang mempengaruhi faal tubuh manusia adalah menurun- nya tekanan
udara, tekanan parsiil oksigen, suhu udara dan gaya berat dan lain-lain. Di samping itu manouvre
penerbangan dapat mengganggu faal tubuh seperti faal sistem kardio-vaskuler, sistem
pernapasan, penglihatan, keseimbangan, pendengaran dan lain- lain.
Karena itu mempelajari aspek aerofisiologi dalam penerbangan adalah penting agar kita dapat
mencegah dan mengatasi pengaruh buruk penerbangan. Dengan demikian kita dapat
memanfaatkan udara bagi penerbangan dengan selamat, nyaman, aman dan cepat.
Manusia diciptakan Tuhan untuk hidup di darat. Sebagai makhluk daratan manusia telah terbiasa
dan menyesuaikan diri untuk hidup di lingkungan daratan atau pada , atmosfer yang paling
rendah. Namun sejak zaman dahulu manusia ingin terbang seperti burung, suatu hal di luar
kebiasaannya. Setelah melalui Makalah ini telah dibacakan pada: Seminar Kesehatan
Penerbangan, Surakarta 30 Oktober 1993.
perjuangan tanpa kenal lelah dan gigih akhirnyapada abad ke-18 manusia dapat terbang dengan
balon, diikuti dengan keberha- silan terbang dengan pesawat terbang. Bahkan sekarang manusia
telah berhasil mengarungi ruang angkasa luar. Dewasa ini banyak orang-orang yang memilih
profesinya dalam penerbangan, yang berbeda dengan kebiasaan hidupnya di darat. Hal ini tentu
saja akan membawa konsekuensi atau risiko- background image risiko yang harus dihadapinya.
Namun merekapun menginginkan keamanan dalam menjalankan tugasnya ini, se- hingga Ilmu
Kesehatan harus membuka cabangnya untuk mem- pelajari bahaya-bahaya penerbangan. Hal ini
menyebabkan lahirnya Ilmu Kesehatan Penerbangan, yang dilandasi oleh Fisiologi Penerbangan
atau Aerofisiologi. Ilmu Kesehatan Penerbangan atau Aviation Medicine akhir- akhir ini
berkembang menjadi Ilnpu Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa atau Aerospace
Medicine, karena perkembang- an teknologi penerbangan yang memungkinkan menerbangkan
orang ke ruang angkasa.

Sejarah Aerofisiologi
Pada abad ke 13 dua saudara Montgolfier berhasil membuat balon yang dapat terbang dengan
membawa muatan. Balon yang pertama ini diterbangkan di Versaille, Perancis, tanggal 19 September 1963 dengan muatan ayam, bebek dan kambing dan dapat mencapai ketinggian 1.500
kaki. Sebulan kemudian diadakan penerbangan balon lagi yang membawa penumpang manusia,
yaitu Pilatre de Rozier, seorang apoteker, dan Marquis di Arlan- des. Percobaan ini berhasil
dengan selamat. Pada tanggal 23 November 1784, seorang dokter Amerika John Jeffries tertarik
akan penerbangan dan ingin mengetahui susunan dan sifat atmosfer bagian atas. Ia melakukan
penerbang- an dengan balon, dengan membawa termometer, hydrometer, barometer dan
elektrometer, sampai ketinggian 9.250 kaki. Da- lam penerbangan ini ia mencatat adanya
perubahan suhu di ke- tinggian dari + 51 F menjadi 28,5 F,, sedangkan tekanan udara menurun
dari 30 inci Hg menjadi 21,25 inci Hg. Pada tahun 1862, Claisher dan Coxwell terbang dengan
balon sampai setinggi 29.000 kaki dengan tujuan yang sama. Di samping itu mereka melakukan
observasi pada dirinya sendiri. untuk mengetahui perubahan-perubahan apa yang akan terjadi
pada ketinggian. Selama terbang, Clasher mengalami gejala- gejala aneh pada tubuhnya, yaitu
tajam penglihatan dan pen- dengaran menurun, kedua belah anggota badan menjadi lumpuh dan
akhirnya jatuh pingsan. Coxwell juga mengalami kejadian yang serupa, hanya sebelum pingsan
berusaha menarik tali peng- ikat katup balon guna menurunkan balonnya. Usaha ini hampir
gaga!, karena kedua tangannya tidak dapat digerakkan lagi, se- hingga dia menarik tali tadi
dengan menggigitnya. Dari peng- alaman kedua orang ini dapat diambil kesimpulan bahwa
terbang tinggi dapat membahayakan jiwa manusia. Paul Bert, seorang ahli ilmu faal Perancis,
sangat tertarik dengan kejadian tadi dan pada tahun 1874 mengadakan per- cobaan dengan
menggunakan kabin bertekanan rendah untuk melihat perubahan apa yang dapat terjadi pada
ketinggian atau tempat yang tekanan udaranya kecil. Dari salah satu basil per- cobaanpercobaannya didapatkan adanya hipoksia atau keku- rangan oksigen pada ketinggian yang dapat
diatasi dengan pem- berian oksigen pada penerbangan. Hasil penelitian Paul Bert ini
dipraktekkan oleh Sivel dan Groce Spinelli, yang terbang sampai 18.000 kaki dengan
menggunakan kantong oksigen tanpa meng- alami gangguan. Pada tahun 1875, Sivel dan GroceSpinelli melakukan pe- nerbangan lagi bersama Tissander, yang juga menggunakan kan- tong
oksigen dengan kadar 72%. Penerbangan mereka ini men- capai ketinggian 28.000 kaki dan
berakhir dengan kematian Sivel dan Groce-Spinelli karena hipoksia sedang Tissander hanya
pingsan saja. Tissander membuat catatan yang sangat lengkap tentang perubahan-perubahan
yang terjadi dalam penerbangan ini. Dari catatan ini dapat disimpulkan bahwa ada gejala
euphoria sebelum hipoksia dan oksigen tidak mencukupi untuk pener- bangan tinggi. Dengan
munculnya pesawat terbang, bertambahlah kesu- karan dan bahaya penerbangan yang dapat
mengancam jiwa penerbang. Pada waktu pesawat udara masih sederhana, yang tinggi terbangnya
belum besar dan kecepatannya masih rendah, telah banyak kecelakaan-kecelakaan yang terjadi;
sebagian besar ternyata disebabkan oleh kurang mampunya tubuh penerbang menghadapi
perubahan-perubahan atau bahaya-bahaya yang timbul pada penerbangan. Hal ini terbukti pada
penelitian-pene- litian yang dilakukan pada perang dunia pertama; kira-kira 90% kecelakaan

udara disebabkan karena penerbang tidak atau ku- rang tahan uji terhadap bahaya penerbangan.
Sejak Perang Dunia ke I selesai Ilmu Kesehatan Penerbang- an mendapat tempat yang layak
dalam dunia kesehatan, sehingga perkembangannya makin pesat. Sedang pada akhir-akhir ini
dengan kemajuan teknologi penerbangan, Ilmu, Kesehatan Pe- nerbangan berkembang dan
bahkan sekarang telah menjadi Ilmu Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa.

Pengaruh Ketinggian Pada Faal Tubuh


Ada empat perubahan sifat atmosfer pada ketinggian yang dapat merugikan faal tubuh khususnya
dan kesehatan pada umumnya, yaitu :

Perubahan atau mengecilnya tekanan parsiil oksigen di

udara. Hal ini dapat mengganggu faal tubuh dan menyebabkan hipoksia.

Perubahan atau mengecilnya tekanan atmosfer. Hal ini

dapat menyebabkan sindrom dysbarism.

Berubahnya suhu atmosfer.

Meningkatnya radiasi, baik dari matahari (solar radiation)

maupun dari kosmos lain (cosmic radiation). Dari keempat perubahan ini yang akan dibahas
adalah masalah hipoksia dan dysbarism. Masalah pengaruh perubahan suhu hanya dibahas secara
umum karena akan lebih banyak dibahas pada masalah survival dan masalah bail out. Sedang
masalah radiasi tidak dibahas di sini, karena pengaruhnya pada penerbangan biasa kurang berarti
dan hanya penting dibicarakan bila kita membahas masalah penerbangan ruang angkasa.
Jenis Penyakit Yang Ditimbulkan
Hipoksia

Hipoksia adalah keadaan tubuh kekurangan oksigen untuk menjamin keperluan hidupnya.
Dengan menipisnya udara pada ketinggian, maka tekanan parsiil oksigen dalam udara menurun
atau mengecil. Mengecilnya tekanan parsiil oksigen dalam udara pernapasan akan berakibat
terjadinya hipoksia. Sifat-sifat hipoksia :
Tidak terasa datangnya, sehingga orang awam tidak tahu bahwa bahaya hipoksia ini telah
menyerangnya.
Tidak memberikan rasa sakit pada seseorang, bahkan sering memberikan rasa gembira
(euphoria) pada permulaan serangan- nya, kemudian timbul gejala-gejala lain yang lebih berat

sampai pingsan dan bila dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Macam hipoksia Menurut
sebabnya hipoksia ini dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
Hypoxic-Hypoxia

yaitu hipoksia yang terjadi karena me- nurunnya tekanan parsiil oksigen dalam paru-paru atau
karena terlalu tebalnya dinding paru-paru. Hypoxic-Hypoxia inilah yang sering dijumpai pada
penerbangan, karena seperti makin tinggi terbang makin rendah tekanan barometernya sehingga
tekanan parsiil oksigennyapun akan makin kecil.
Anaemic-Hypoxia

yaitu hipoksia yang disebabkan karena berkurangnya hemoglobin dalam darah baik kanena
jumlah da- rahnya sendiri yang kurang (perdarahan) maupun karena kadar Hb dalam darah
menurun (anemia).
Stagnant-Hypoxia

yaitu hipoksia yang terjadi karena adanya bendungan sistem peredaran darah sehingga aliran
darah tidak lancar, maka jumlah oksigen yang diangkut dari paru-paru me- nuju sel persatuan
waktu menjadi kurang. Stagnant hipoksia ini sering terjadi pada penderita penyakit jantung.
Histotoxic-Hypoxia

yaitu hipoksia yang terjadi karena ada- nya bahan racun dalam tubuh sehingga mengganggu
kelancaran pemapasan dalam. background image

Gejala-gejala hipoksia

Gejala yang timbul pada hipoksia sangat individual, sedang berat ringannya gejala tergantung
pada lamanya berada di daerah itu, cepatnya mencapai ketinggian tersebut, kondisi badan orang
yang menderitanya dan lain sebagainya. Gejala-gejala ini dapat dikelompokkan dalam dua
golongan, yaitu :

Gejala-gejala Obyektif, meliputi :

Air hunger, yaitu rasa ingin menarik napas panjang terus- menerus
Frekuensi nadi dan pernapasan naik
Gangguan pada cara berpikir dan berkonsentrasi
Gangguan dalam melakukan gerakan koordinatif misalnya memasukkan paku ke dalam lubang
yang sempit

Cyanosis, yaitu warna kulit, kuku dan bibir menjadi biru


Lemas
Kejang-kejang h) Pingsan dan sebagainya.

Gejala-gejala Subyektif, meliputi :

Malas
Ngantuk
Euphoria yaitu rasa gembira tanpa sebab dan kadang-ka- dang timbul rasa sok jagoan. Rasa ini
yang harus mendapat per- hatian yang besar pada awak pesawat, karena euphoria ini banyak
membawa korban akibat tidak adanya keseimbangan lagi antara kemampuan yang mulai mundur
dan kemauan yang meningkat. Pembagian hipoksia berdasarkan ketinggian Gejala-gejala
hipoksia yang timbul ditentukan oleh ke- tinggian tempat orang tersebut berada. Ketinggian ini
dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :

The Indifferent Stage, yaitu ketinggian dari sea level sampai

ketinggian 10.000 kaki. Biasanya yang terganggu oleh hipoksia di daerah ini hanya penglihatan
malam dengan daya adaptasi gelap terganggu. Pada umumnya gangguan ini sudah mulai nyata
pada ketinggian di atas 5.000 kaki; oleh karena itu pada latihan terbang malam para awak
pesawat diharuskan memakai oksigen sejak di darat.

Compensatory Stage, yaitu ketinggian dari 10.000 sampai

15.000 kaki. Pada daerah ini sistem peredaran darah dan pernapasan telah mengadakan
perubahan dengan menaikkan frekuensi nadi dan pernapasan, menaikkan tekanan darah sistolik
dan cardiac out- put untuk mengatasi hipoksia yang terjadi. Pada daerah ini sistem saraf telah
terganggu, oleh karena itu tiap awak pesawat yang terbang di daerah ini harus menggunakan
oksigen.

Disturbance Stage, yaitu ketinggian dari 15.000 kaki sampai

20.000 kaki. Pada daerah ini usaha tubuh untuk mengatasi hipoksia sangat terbatas waktunya,
jadi pada daerah ini orang tidak akan dapat lama tanpa bantuan oksigen. Biasanya tanda-tanda
serang- an hipoksia ini tidak terasa hanya kadang-kadang saja timbul rasa malas, ngantuk,
euphoria dan sebagainya, sehingga tahu-tahu orang tersebut menjadi pingsan. Gejala-gejala
obyektif antara lain pandangan menjadi me- nyempit (tunnel vision), kepandaian menurun,
judgement ter- ganggu. Oleh karena itu pada daerah ini merupakan keharusan mutlak seluruh
awak pesawat maupun penumpang untuk meng- gunakan oksigen.

Critical Stage, yaitu daerah dari ketinggian 20.000 kaki

sampai 23.000 kaki. Pada daerah ini dalam waktu 3 5 menit saja orang sudah tidak dapat
menggunakan lagi pikiran dan judgement lain tanpa bantuan oksigen. Time of Useful
Consciousness (TUC) Adalah waktu yang masih dapat digunakan bila kita men- derita serangan
hipoksia pada tiap ketinggian; di luar waktu itu kita akan kehilangan kesadaran. Waktu itu
berbeda-beda pada tiap ketinggian, makin tinggi waktu itu makin pendek. TUC ini juga
dipengaruhi oleh kondisi badan dan kerentanan seseorang terhadap hipoksia. TUC ini perlu
diperhatikan oleh para awak pesawat agar mereka dapat mengetahui berapa waktu yang ter- sedia
baginya bila mendapat serangan hipoksia pada ketinggian tersebut. Sebagai contoh : TUC pada
ketinggian 22.000 kaki =10 menit, 25.000 kaki = 5 menit, 28.000 kaki = 2,53 menit, 30.000 kaki
= 1,5 menit, 35.000 kaki = 0,5 1 menit, 40.000 kaki = 15 detik dan 65.000 kaki = 9 detik.
Pengobatan hipoksia

Pengobatan hipoksia yang paling baik adalah pemberian oksigen secepat mungkin sebelum
terlambat, karena bila terlam- bat dapat mengakibatkan kelainan (cacat) sampai ke kematian.
Pada penerbangan bila terjadi hipoksia harus segera menggunakan masker oksigen atau segera
turun pada ketinggian yang aman yaitu di bawah 10,000 kaki. Pencegahan hipoksia Pencegahan
hipoksia dapat dilakukan dengan beberapa cara mulai dari penggunaan oksigen yang sesuai
dengan ketinggian tempat kita berada, pernapasan dengan tekanan dan penggunaan pressure suit,
pengawasan yang baik terhadap persediaan oksi- gen pada penerbangan, pengukuran pressurized
cabin, meng- ikuti ketentuan-ketentuan dalam penerbangan dan sebagainya. Cara lain untuk
pencegahan yaitu latihan mengenal datangnya bahaya hipoksia agar dapat selalu siap
menghadapi bahaya tersebut.
Dysbarism

Menurut Adler yang dimaksud dengan dysbarism adalah semua kelainan yang terjadi akibat
berubahnya tekanan sekitar tubuh, kecuali hipoksia. Banyak istilah yang telah digunakan orang
untuk memberi nama sindrom ini seperti penyakit dekom- presi, aeroembolisme,
aeroemphysema dan sebagainya. Tetapi istilah dysbarism lebih tepat karena istilah-istilah tidak
men- cakup keseluruhan pengertian atau seluruh kejadian. Di samping hipoksia masalah
dysbarism juga termasuk masalah yang penting dalam ilmu faal penerbangan. Dysbarism ini
telah sejak abad ke XVII dibicarakan orang dan sampai se- karangpun masih ramai didiskusikan
karena etiologinya atau patofisiologinya belum dapat dijelaskan secara sempuma. Ba- nyak teori
yang timbul tetapi selalu saja ada kelemahannya. Pembagian dysbarism background image
Dysbarism dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
Sebagai akibat pengembangan gas-gas dalam rongga tubuh. Golongan ini sering juga disebut :
pengaruh mekanis pengem- bangan gas-gas dalam rongga tubuh atau pengaruh mekanis akibat
perubahan tekanan sekitar tubuh.

Sebagai akibat penguapan gas-gas yang terlarut dalam tu- buh. Kelompok ini kadang-kadang
jul;a disebut penyakit dekom- presi, sehingga kadang-kadang mengaburkan pengertian penya- kit
dekompresi yang digunakan orang untuk istilah pengganti dysbarism. Pengaruh Mekanis Gasgas dalam Rongga Tubuh Berubahnya tekanan udara di luar tubuh akan mengganggu
keseimbangan tekanan antara rongga tubuh yang mengandung gas dengan udara di luar. Hal ini
akan berakibat timbulnya rasa sakit sampai terjadinya kerusakan organ-organ tertentu. Rongga
tubuh yang mengandung gas adalah : 1. Traktus Castro Intestinalis Gas-gas terutama berkumpul
dalam lambung dan usus besar. Sumber gas-gas tersebut sebagian besar adalah dani udara yang
ikdt tertelan pada waktu makan dan sebagian kecil timbul dari proses pencernaan, peragian atau
pembusukan (dekomposisi oleh bakteri). Gas-gas tersebut terdiri dani O 2 , CO 2 , metan, H 2 S
dan N 2 (bagian terbesar). Apabila ketinggian dicapai dengan perlahan, maka perbe- daan antara
tekanan udara di luar dan di dalam tidak begitu besar sehingga pressure equalisation yaitu
mekanisme penyamanan tekanan berjalan dengan lancar dengan jalan kentut atau melalui mulut.
Gejala-gejala yang dirasakan adalah ringan yaitu rasa tidak enak (discomfort) pada perut.
Sebaliknya apabila ketinggi- an dicapai dengan cepat atau terdapat halangan dalam saluran
pencernaan maka pressure equalisation tidak berjalan dengan lancan, sehingga gas-gas sukar
keluar dan timbul rasa discomfort yang lebih berat. Pada ketinggian di atas 25.000 kaki timbul
rasa sakit perut yang hebat; sakit perut ini secara reflektoris dapat menyebabkan turunnya
tekanan darah secara drastis, sehingga jatuh pingsan. Tindakan preventif agar tidak banyak
terkumpul gas dalam saluran pencernaan, meliputi :
Dilarang minum bir, air soda dan minuman lain yang me- ngandung gas CO 2 sebelum terbang.
Makanan yang dilarang sebelum terbang adalah bawang merah, bawang putih, kubis, kacangkacangan, ketimun, se- mangka dan chewing gum.
Tidak dibenarkan makan dengan tidak teratur, tergesa-gesa dan sambil bekerja. Tindakan regresif
bila gejala sudah timbul, adalah :
Ketinggian segera dikurangi sampai gejala-gejala ini hilang.
Diusahakan untuk mengeluarkan udara dani mulut atau kentut
Banyak mengadakan gerakan.

Telinga

Bertambahnya ketinggian akan menyebabkan tekanan dalam telinga tengah menjadi lebih besar
dari tekanan di luar tubuh, sehingga akan terjadi aliran udara dani telinga tengah ke luar tubuh
melalui tuba Eustachii. Bila bertambahnya ketinggian ter- jadi dengan cepat, maka usaha
mengadakan keseimbangan tidak cukup waktu; hal ini akan menyebabkan rasa sakit pada telinga
tengah karena teregangnya selaput gendang, bahkan dapat me- robekkan selaput gendang.

Kelainan ini disebut aerotitis atau barotitis. Kejadian serupa dapat terjadi juga pada waktu
keting- gian berkurang, bahkan lebih sering terjadi karena pada waktu turun tekanan di telinga
tengah menjadi lebih kecil dari tekanan di luar sehingga udara akan mengalir masuk telinga
tengah, sedang muara tuba eustachii di tenggorokan biasanya sering tertutup sehingga
menyukarkan aliran udara. Bila ada radang di tenggorokan lubang tuba Eustachii makin sempit
sehingga lebih menyulitkan aliran udana melalui tempat itu; hal ini berarti kemungkinan
terjadinya banotitis menjadi lebih besar. Di samping itu pada waktu turun udara yang masuk ke
telinga tengah akan melalui daerah radang di tenggorokan, se- hingga kemungkinan infeksi di
telinga tengah sukar dihindarkan. Tindakan preventif terhadap kelainan ini adalah :
Mengurangi kecepatan naik maupun kecepatan turun, agar tidak terlalu besar selisih tekanan
antana udana luan dengan telinga tengah.
Menelan ludah pada waktu pesawat udana naik agar tuba Eustachii terbuka dan mengadakan
gerakan Valsava pada waktu pesawat turun. Gerakan Valsava adalah menutup mulut dan hidung
kemudian meniup dengan kuat.
Melarang terbang para awak pesawat yang sedang sakit saluran pernapasan bagian atas.
Penggunaan pesawat udana dengan pressurized cabin. Tindakan represif pada kelainan ini
adalah :

Bila terjadinya pada waktu naik, dilakukan :

Berhenti naik dan datar pada ketinggian tersebut sambil menelan ludah berulang-ulang sampai
hilang gejalanya.
Bila dengan usaha tadi tidak berhasil, maka pesawat ditu- runkan kembali dengan cepat sampai
hilangnya rasa sakit tadi.

Bila terjadi pada waktu turun, dilakukan :

Berhenti turun dan datar sambil melakukan Valsava ber- ulang sampai gejalanya hilang.
Bila usaha di atas tidak berhasil, pesawat dinaikkan kembali sampai rasa sakit hilang, kemudian
datar lagi untuk sementara. Bila rasa sakit sudah hilang sama sekali, maka pesawat diturun- kan
perlahan-lahan sekali sambil melakukan gerakan Valsava . terus menerus.
Post Flight Ear Block

Ada kejadian seperti barotitis tadi pada waktu selesai ter- bang tinggi saat penerbangnya sedang
tidur pada malam harinya. Banotitis demikian disebut post flight ear block dan terjadi kanena
penerbang tersebut menggunakan oksigen terus selamapenerbangan sampai ke bumi, sehingga

udana yang masuk ke telinga tengah kaya akan oksigen. Oksigen ini akan diserap oleh selaput
pelapis telinga tengah dan tuba Eustachii tertutup sehingga tekanan udara luan menimbulkan rasa
sakit.
Sinus Paranasalia

Muara sinus paranasalis ke rongga hidung pada umumnya sempit. Sehingga bila kecepatan naik
atau turun sangat besar, maka untuk penyesuaian tekanan antara rongga sinus dan udara
background image luar tidak cukup waktu, sehingga akan timbul rasa sakit di sinus yang disebut
aerosinusitis. Karena sifat sinus paranasalis yang selalu terbuka, maka aerosinusitis ini dapat
terjadi pada waktu naik maupun turun dengan prosentase yang sama. Pada keadaan radang
saluran pernapasan bagian atas, kemungkinan terjadinya aerosinusitis makin besar. Aerosinusitis
ini lebih jarang bila dibandingkandengan aerotitis, karena bentuk saluran penghubung dengan
udara luar.
Gigi

Pada gigi yang sehat dan normal tidak ada rongga dalam gigi, tetapi pada gigi yang rusak
kemungkinan terjadi kantong udara dalam gigi besar sekali. Dengan mekanisme seperti pada
proses aerotitis dan aerosinusitis di atas, pada kantong udara di gigi yang rusak ini dapat pula
timbul rasa sakit. Rasa sakit ini disebut aerodontalgia. Patofisiologi aerodontalgia ini masih
belum jelas. Pengaruh Penguapan Gas yang Larut dalam Tubuh Dengan berkurangnya tekanan
atmosfer bila ketinggian bertambah, gas-gas yang tadinya larut dalam sel dan jaringan tubuh
akan keluar sebagian dari larutannya dan timbul sebagai gelembung-gelembung gas sampai
tercapainya keseimbangan baru. Mekanismenya adalah sesuai dengan Hukum Henry. Pada
kehidupan sehari-hari peristiwa ini dapat dilihat pada waktu kita membuka tutup botol yang
bersisi limun, air soda atau bir yaitu timbul gelembung-gelembung gas. Gelembung-gelembung
gas yang timbul dalam tubuh manusia bila tekanan atmosfer berkurang sebagian besar terdiri dari
gas N 2

Gejala-gejala pada penerbang baru timbul pada ketinggian 25.000 kaki. Semakin cepat ketinggian
bertambah,

semakin cepat pula timbul gejala. Pada ketinggian di bawah 25.000 kaki gas N 2 masih sempat
dikeluarkan oleh tubuh melalui paru-paru. Gas tersebut diangkut ke paru-paru oleh darah dari
scl-sel maupun jaringan tubuh. Timbulnya gelembung-gelem- bung ini berhenti bila sudah
terdapat keseimbangan antara te- kanan udara di dalam dan tekanan udara di luar. Hal ini dapat
di- mengerti dengan mengingat Hukum Henry dan Hukum Graham. Gelembung-gelembung ini
memberikan gejala karena urat-urat saraf di dekatnya tertekan olehnya, di samping itu tertekan
pula pembuluh-pembuluh darah kecil di sekitarnya. Menurut sifat dan lokasinya, gejala-gejala ini
terdiri atas :
Bends Bends adalah rasa nyeri yang dalam dan terdapat di sendi serta dirasakan terus-menerus,
dan umumnya makin lama makin bertambah berat. Akibatnya penerbang atau awak pesawat tak

dapat sama sekali bergerak karena nyerinya. Sendi yang terkena umumnya adalah sendi yang
besar seperti sendi bahu, sendi lutut, di samping itu juga sendi yang lebih kecil seperti sendi
tangan, pergelangan tangan dan pergelangan kaki, tetapi lebih jarang.
Chokes Chokes adalah rasa sakit di bawah tulang dada yang disertai dengan batuk kering yang
terjadi pada penerbangan tinggi, akibat penguapan gas nitrogen yang membentuk gelembung di
daerah paru-paru. Chokes lebih jarang terjadi bila dibandingkan dengan bends, tetapi bahayanya
jauh lebih besar, karena dapat menganqam jiwa penerbang.
Gejala-gejala pada kulit Gejala-gejala pada kulit adalah perasaan seperti ditusuk- tusuk dengan
jarum, gatal-gatal, rasa panas dan dingin, timbul bercak kemerah-merahan dan gelembunggelembung pada kulit. Gejala-gejala ini tidak memberikan gangguan yang berat, tetapi
merupakan tanda bahaya atau tanda permulaan akan datangnya bahaya dysbarism yang lebih
berat.
Kelainan pada sistem syaraf Jarang sekali terjadi dan bila timbul mempunyai gambaran dengan
variasi yang besar yang kadang-kadang saja memberikan komplikasi yang berat. Yang sering
diketemukan adalah ke- lainan penglihatan dan sakit kepala yang tidak jelas lokasinya. Dapat
pula timbul kelumpuhan sebagian (parsiil), kelainan peng- inderaan, dan sebagainya.
PENGARUH PERCEPATAN DAN KECEPATAN PADA PENERBANGAN TERHADAP
TUBUH Umum Benda di udara apabila dilepaskan akan jatuh bebas karena pengaruh gaya tank
bumi. Demikian pula dengan tiap benda yang berada dalam keadaan diam di permukaan bumi
ini, akan jatuh bebas ke arah pusat bumi apabila tidak ada tanah tempat benda tersebut bersandar.
Kekuatan yang bekerja pada massa benda kita kenal sebagai berat benda. Berat flap benda dalam
keadaan diam dipengaruhi oleh gaya tarik bumi sebesar 1 g. Percepatan atau akselerasi karena
gaya tarik ini adalah sebesar 10 m/detik. Apabila sebuah benda dari keadaan diam lalu bergerak,
maka karena adanya percepatan yang bekerja pada benda ter- sebut, akan terjadi gaya lain pada
benda tadi yang arahnya ber- lawanan dengan arah percepatan penggeraknya. Hal ini disebabkan karena kelembaman benda tersebut seperti hukum inertia dari Newton. Misalnya kita
di dalam mobil yang tidak bergerak kemudian sekonyong-konyong mobil tersebut dilari- kan
dengan cepat, maka akan terasa badan kita terlempar ke sandaran belakang. Sebaliknya bila kita
berada pada mobil yang bergerak cepat mendadak berhenti, maka badan kita akan ter- lempar ke
depan. Macam Akselerasi Dalam penerbangan dijumpai macam-macam akselerasi yang terbagi
atas :
Akselerasi Liniair Akselerasi liniair terjadi apabila ada perubahan kecepatan sedang arah tetap,
misalnya terdapat pada take off, catapult take off, rocket take off, mengubah kecepatan dalam
straight and level flying, crash landing, ditching, shock waktu parasut membuka atau pada saat
landing.

Akselerasi Radiair (Sentripetal) Akselerasi radiair terjadi apabila ada perubahan arah pada gerak
pesawat sedang kecepatan tetap, misalnya pada waktu turun, loop dan dive.
Akselerasi Angulair Akselerasi angulair apabila ada perubahan kecepatan dan background image
arah pesawat sekaligus, misalnya pada roll dan spin. Gaya Akibat akselerasi timbul gaya yang
sama besar akan tetapi berlawanan arahnya (reactive force) yang dikenal sebagai gaya G. Gaya
G ini dinyatakan dengan satuan G. Besar tiap-tiap gaya G yang bekerja pada awak pesawat
diukur dengan gaya tarik bumi. Pengaruh gaya G pada tubuh dibagi berdasarkan arahnya
terhadap tubuh, karena toleransi tubuh terhadap gaya G ini.

Refrensi
1. ^ Ngatijo, Kamus Pengetahuan Umum dan Teknologi, hal.1, ISBN: 979-9409-59-4

Daftar Pustaka

Dr. H. Sukotjo Danusastro, DSKP, MBA, Makalah Aspek Aerofisiologi dalam Penerbangan.
Perkespra Pusat, Jakarta. Di http://pendidikansains.blogspot.com/2008/06/aspek-aerofisiologidalam-penerbangan.html
Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu
Wikipedia dengan mengembangkannya.

Orang dengan Kondisi Kesehatan Ini Dilarang Naik


Pesawat
1. Penyakit kardiovaskular
Penurunan oksigen jenuh selama perjalanan udara dapat mempengaruhi orang-orang dengan
penyakit jantung. Beberapa pasien dengan gangguan kardiovaskular biasanya tidak
diperbolehkan terbang, seperti komplikasi myocardial infarction, angina tidak stabil,
dekompensasi gagal jantung kongestif, hipertensi tak terkontrol, aritmia jantung tak terkontrol,
gejala penyakit katup jantung parah.
2. Ibu hamil dan bayi baru lahir
Karena peningkatan risiko persalinan saat penerbangan, sebagian besar maskapai melarang
wanita hamil dalam akhir minggu ke-36 pada kehamilan tunggal dan 32 minggu pada kehamilan
kembar untuk melakukan perjalanan udara.
Bayi pun harus menunggu hingga berusia 1 minggu baru boleh diizinkan terbang. Sedangkan
bayi prematur yang memiliki komplikasi lebih besar baru diperbolehkan terbang setelah berusia
6 bulan.
3. Penyakit pernapasan
Orang dengan gangguan pernapasan dan paru biasanya juga tidak diizinkan untuk terbang,
seperti yang terengah-engah saat istirahat, infeksi pernafasan aktif, termasuk pneumonia dan
infeksi virus. Hal ini terutama berkaitan dengan kebutuhan oksigen selama penerbangan.
4. Pasien anemia
Orang dengan hemoglobin <7,5 g/dL memiliki risiko hipoksia lebih tinggi, sehingga penilaian
kebugaran dibutuhkan sebelum penerbangan dilakukan. Pasien dengan penyakit sel sabit harus
memiliki akses oksigen selama penerbangan. Pasien ini juga tidak diizinkan terbang selama 10
hari setelah krisis.
5. Pasien dengan masalah THT
Pasien dengan masalah pada telinga, hidung dan tenggorokan seperti memiliki sinusitis akut,
polip hidung besar, pasca mengalami operasi hidung, menderita infeksi telinga tengah, juga tidak
diperbolehkan untuk naik pesawat terbang. Hal ini berkaitan dengan penurunan tekanan udara
dan berkurang kadar oksigen

6. Pasien dengan masalah neurologis atau psikiatrik


Pasien psikotik akut dan pasien epilepsi tak terkontrol biasanya tidak diperbolehkan terbang.
Pasien dengan epilepsi terkontrol umumnya bisa terbang dengan aman. Namun harus diberitahu
tentang potensi ambang kejang karena efek kelelahan, makan tertunda, hipoksia dan irama
sirkadian terganggu.
7. Penyakit menular
Pasien-pasien dengan penyakit yang mudah menular di udara seperti pasien tuberkulosis, cacar
air umumnya juga tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan udara. Penyakit menular yang
dilarang terbang biasanya tergantung pada sifat dari kondisi dan transmisibilitas fase penyakit.

20 Macam Penyakit Menular

TUBERCULOSIS ( TBC )
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit TBC :
Gejala penyakit TBC digolongkan menjadi dua bagian, yaitu gejala umum dan gejala khusus.
1. Gejala umum (Sistemik)
- Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai
keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
- Penurunan nafsu makan dan berat badan.
- Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
- Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2. Gejala khusus (Khas)
- Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,
akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
- Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit
dada.
- Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat
membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
- Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai
meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran
dan kejang-kejang.
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit TBC :
Penularan penyakit TBC adalah melalui udara yang tercemar oleh Mikobakterium
tuberkulosa yang dilepaskan/dikeluarkan oleh si penderita TBC saat batuk, dimana pada anakanak umumnya sumber infeksi adalah berasal dari orang dewasa yang menderita TBC. Bakteri
ini masuk kedalam paru-paru dan berkumpul hingga berkembang menjadi banyak (terutama pada
orang yang memiliki daya tahan tubuh rendah), Bahkan bakteri ini pula dapat mengalami
penyebaran melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening sehingga menyebabkan
terinfeksinya organ tubuh yang lain seperti otak, ginjal, saluran cerna, tulang, kelenjar getah
bening dan lainnya meski yang paling banyak adalah organ paru.
Masuknya Mikobakterium tuberkulosa kedalam organ paru menyebabkan infeksi pada
paru-paru, dimana segeralah terjadi pertumbuhan koloni bakteri yang berbentuk bulat (globular).
Dengan reaksi imunologis, sel-sel pada dinding paru berusaha menghambat bakteri TBC ini
melalui mekanisme alamianya membentuk jaringan parut. Akibatnya bakteri TBC tersebut akan
berdiam/istirahat (dormant) seperti yang tampak sebagai tuberkel pada pemeriksaan X-ray atau
photo rontgen.
Seseorang dengan kondisi daya tahan tubuh (Imun) yang baik, bentuk tuberkel ini akan

tetap dormant sepanjang hidupnya. Lain hal pada orang yang memilki sistem kekebelan tubuh
rendah atau kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah
banyak. Sehingga tuberkel yang banyak ini berkumpul membentuk sebuah ruang didalam rongga
paru, Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (riak/dahak). Maka orang
yang rongga parunya memproduksi sputum dan didapati mikroba tuberkulosa disebut sedang
mengalami pertumbuhan tuberkel dan positif terinfeksi TBC.
Berkembangnya penyakit TBC di Indonesia ini tidak lain berkaitan dengan
memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan
masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya
epidemi dari infeksi HIV. Hal ini juga tentunya mendapat pengaruh besar dari daya tahan tubuh
yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman yang memegang peranan penting dalam
terjadinya infeksi TBC.
Lihat Gambar Berikut tentang penyebaran bakteri pada penyakit TBC :
C. Cara Pengobatan Penyakit TBC :
Pengobatan bagi penderita penyakit TBC akan menjalani proses yang cukup lama, yaitu
berkisar dari 6 bulan sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Penyakit TBC dapat disembuhkan
secara total apabila penderita secara rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter dan
memperbaiki
daya
tahan
tubuhnya
dengan
gizi
yang
cukup
baik.
Selama proses pengobatan, untuk mengetahui perkembangannya yang lebih baik maka
disarankan pada penderita untuk menjalani pemeriksaan baik darah, sputum, urine dan X-ray
atau rontgen setiap 3 bulannya. Adapun obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid
dan rifampin sebagai pengobatan dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan
resistensi dengan kedua obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat
seperti pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang
dikenal 'Triple Drug'.
AIDS
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit AIDS :
1. Saluran pernafasan. Penderita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri
dada dan demam seprti terserang infeksi virus lainnya (Pneumonia). Tidak jarang diagnosa pada
stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai TBC.
2. Saluran Pencernaan. Penderita penyakit AIDS menampakkan tanda dan gejala seperti
hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada rongga mulut
dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.
3. Berat badan tubuh. Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu
kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena gangguan pada sistem protein
dan energy didalam tubuh seperti yang dikenal sebagai Malnutrisi termasuk juga karena
gangguan absorbsi/penyerapan makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea
kronik, kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
4. System Persyarafan. Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan
kurang ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan dan respon
anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung (Peripheral) akan menimbulkan nyeri
dan kesemutan pada telapak tangan dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi

darah rendah dan Impoten.


5. System Integument (Jaringan kulit). Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes
simplex) atau carar api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan
rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan rambut pada kulit
(Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
6. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita. Penderita seringkali mengalami penyakit jamur
pada vagina, hal ini sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih, menderita
penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih banyak jumlahnya yang menderita
penyakit cacar. Lainnya adalah penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan
rongga (tulang) pelvic dikenal sebagai istilah 'pelvic inflammatory disease (PID)' dan mengalami
masa haid yang tidak teratur (abnormal).
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit AIDS :
1. Melalui darah. misalnya ; Transfusi darah, terkena darah HIV+ pada kulit yang terluka,
jarum
suntik,
dsb.
2. Melalui cairan semen, air mani (sperma atau peju Pria). misalnya ; seorang Pria
berhubungan badan dengan pasangannya tanpa menggunakan kondom atau pengaman lainnya,
oral
sex,
dsb
3. Melalui cairan vagina pada Wanita. misalnya ; Wanita yang berhubungan badan tanpa
pengaman, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks, dsb.
C. Cara Pengobatan Penyakit AIDS :
Kendatipun dari berbagai negara terus melakukan researchnya dalam mengatasi HIV
AIDS, namun hingga saat ini penyakit AIDS tidak ada obatnya termasuk serum maupun vaksin
yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. Adapun tujuan
pemberian obat-obatan pada penderita AIDS adalah untuk membantu memperbaiki daya tahan
tubuh, meningkatkan kualitas hidup bagi meraka yang diketahui terserang virus HIV dalam
upaya mengurangi angka kelahiran dan kematian.

MALARIA
A.

Gejala-Gejala Dari Penyakit MALARIA :


Masa tunas / inkubasi penyakit ini dapat beberapa hari sampai beberapa bulan yang
kemudian barulah muncul tanda dan gejala yang dikeluhkan oleh penderita seperti demam,
menggigil, linu atau nyeri persendian, kadang sampai muntah, tampak pucat / anemis, hati serta
limpa membesar, air kencing tampak keruh / pekat karena mengandung Hemoglobin
(Hemoglobinuria),
terasa
geli
pada
kulit
dan
mengalami
kekejangan.
Namun demikian, tanda yang klasik ditampakkan adalah adanya perasaan tiba-tiba
kedinginan yang diikuti dengan kekakuan dan kemudian munculnya demam dan banyak
berkeringat setelah 4 sampai 6 jam kemudian, hal ini berlangsung tiap dua hari. Diantara masa
tersebut, mungkin penderita merasa sehat seperti sediakala. Pada usia anak-anak serangan
malaria dapat menimbulkan gejala aneh, misalnya menunjukkan gerakan / postur tubuh yang
abnormal sebagai akibat tekanan rongga otak. Bahkan lebih serius lagi dapat menyebabkan
kerusakan otak.

B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit MALARIA :


Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk malaria ( anopheles ). Bila
nyamuk anopheles mengigit orng yang sakit malaria, maka parasit akan ikut terhisap bersama
darah penderita. Dalam tubuh nyamuk, parasit tersebut berkembang biak. Sesudah 7-14 hari
apabila nyamuk tersebut mengigit orang sehat, maka parasit tersebut akan di tularkan ke orang
tersebut. Di dalam tubuh manusia parasit akan berkembang biak, menyerang sel-sel darah merah.
Dalam wktu kurang lebih 12 hari, orang tersebut akan sakit malaria.
C. Cara Pengobatan Penyakit MALARIA :
Berdasarkan pemeriksaan, baik secara langsung dari keluhan yang timbul maupun
lebih berfokus pada hasil laboratium maka dokter akan memberikan beberapa obat-obatan
kepada penderita. Diantaranya adalah pemberian obat untuk menurunkan demam seperti
paracetamol, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh sebagai upaya membantu
kesembuhan.
Sedangkan obat antimalaria biasanya yang dipakai adalah Chloroquine, karena harganya
yang murah dan sampai saat ini terbukti efektif sebagai penyembuhan penyakit malaria di dunia.
Namun ada beberapa penderita yang resisten dengan pemberian Chloroquine, maka beberapa
dokter akan memberikan antimalaria lainnya seperti Artesunate-Sulfadoxine/pyrimethamine,
Artesunate-amodiaquine,
Artesunat-piperquine,
Artemether-lumefantrine,
dan
Dihidroartemisinin-piperquine.
KOLERA
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit KOLERA :
Pada orang yang feacesnya ditemukan bakteri kolera mungkin selama 1-2 minggu
belum merasakan keluhan berarti, Tetapi saat terjadinya serangan infeksi maka tiba-tiba terjadi
diare dan muntah dengan kondisi cukup serius sebagai serangan akut yang menyebabkan
samarnya jenis diare yg dialami.
Akan tetapi pada penderita penyakit kolera ada beberapa hal tanda dan gejala yang ditampakkan,
antara lain ialah :
- Diare yang encer dan berlimpah tanpa didahului oleh rasa mulas atau tenesmus.
- Feaces atau kotoran (tinja) yang semula berwarna dan berbau berubah menjadi cairan putih
keruh (seperti air cucian beras) tanpa bau busuk ataupun amis, tetapi seperti manis yang
menusuk.
- Feaces (cairan) yang menyerupai air cucian beras ini bila diendapkan akan mengeluarkan
gumpalan-gumpalan putih.
- Diare terjadi berkali-kali dan dalam jumlah yang cukup banyak.
- Terjadinya muntah setelah didahului dengan diare yang terjadi, penderita tidaklah merasakan
mual sebelumnya.
- Kejang otot perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang hebat.
- Banyaknya cairan yang keluar akan menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan tanda-tandanya
seperti ; detak jantung cepat, mulut kering, lemah fisik, mata cekung, hypotensi dan lain-lain
yang bila tidak segera mendapatkan penangan pengganti cairan tubuh yang hilang dapat
mengakibatkan kematian.

B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit KOLERA :


Kolera dapat menyebar sebagai penyakit yang endemik, epidemik, atau pandemik.
Meskipun sudah banyak penelitian bersekala besar dilakukan, namun kondisi penyakit ini tetap
menjadi suatu tantangan bagi dunia kedokteran modern. Bakteri Vibrio cholerae berkembang
biak dan menyebar melalui feaces (kotoran) manusia, bila kotoran yang mengandung bakteri ini
mengkontaminasi air sungai dan sebagainya maka orang lain yang terjadi kontak dengan air
tersebut
beresiko
terkena
penyakit
kolera
itu
juga.
Misalnya cuci tangan yang tidak bersih lalu makan, mencuci sayuran atau makanan
dengan air yang mengandung bakteri kolera, makan ikan yang hidup di air terkontaminasi bakteri
kolera, Bahkan air tersebut (seperti disungai) dijadikan air minum oleh orang lain yang
bermukim disekitarnya.
C. Cara Pengobatan/Pencegahan Penyakit KOLERA :
Cara pencegahan dan memutuskan tali penularan penyakit kolera adalah dengan
prinsip sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran (feaces) pada
tempatnya yang memenuhi standar lingkungan. Lainnya ialah meminum air yang sudah dimasak
terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci
sayuran dangan air bersih terutama sayuran yang dimakan mentah (lalapan), hindari memakan
ikan
dan
kerang
yang
dimasak
setengah
matang.
Bila dalam anggota keluarga ada yang terkena kolera, sebaiknya diisolasi dan secepatnya
mendapatkan pengobatan. Benda yang tercemar muntahan atau tinja penderita harus di
sterilisasi, searangga lalat (vektor) penular lainnya segera diberantas. Pemberian vaksinasi kolera
dapat melindungi orang yang kontak langsung dengan penderita.

CACAR ( HERPES )
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit CACAR :
Tanda dan gejala yang timbul akibat serangan virus herpes secara umum adalah
demam, menggigil, sesak napas, nyeri dipersendian atau pegal di satu bagian rubuh, munculnya
bintik kemerahan pada kulit yang akhirnya membentuk sebuah gelembung cair. Keluhan lain
yang kadang dirasakan penderita adalah sakit perut.
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit CACAR :
Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun
pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa
melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan ke atas gelembung/lepuh yang pecah.
Pada penyakit Herpes Genitalis (genetalia), penularan terjadi melalui prilaku sex. Sehingga
penyakit Herpes genetalis ini kadang diderita dibagian mulut akibat oral sex. Gejalanya akan
timbul dalam masa 7-21 hari setelah seseorang mengalami kontak (terserang) virus varicellazoster.
Seseorang yang pernah mengalami cacar air dan kemudian sembuh, sebenarnya
virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi di dalam sel ganglion
dorsalis sistem saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (Immun) melemah, virus akan

kembali menyerang dalam bentuk Herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan
penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila
terserang virus varicella-zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes zoster akan
tetapi mengalami cacar air terlebih dahulu.
C. Cara Pengobatan/Pencegahan Penyakit CACAR:
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung
cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain
(infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit.
Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena
bisa menimbulkan shock.
Obat-obatan yang diberikan pada penderita penyakit cacar ditujukan untuk
mengurangi keluhan gejala yang ada seperti nyeri dan demam, misalnya diberikan paracetamol.
Pemberian Acyclovir tablet (Desciclovir, famciclovir, valacyclovir, dan penciclovir) sebagai
antiviral bertujuan untuk mengurangi demam, nyeri, komplikasi serta melindungi seseorang dari
ketidakmampuan daya tahan tubuh melawan virus herpes. Sebaiknya pemberian obat Acyclovir
saat timbulnya rasa nyeri atau rasa panas membakar pada kulit, tidak perlu menunggu munculnya
gelembung cairan (blisters).
Pada kondisi serius dimana daya tahan tubuh sesorang sangat lemah, penderita
penyakit cacar (herpes) sebaiknya mendapatkan pengobatan terapy infus (IV) Acyclovir. Sebagai
upaya pencegahan sebaiknya seseorang mendapatkan imunisasi vaksin varisela zoster. Pada anak
sehat usia 1 - 12 tahun diberikan satu kali. Imunasasi dapat diberikan satu kali lagi pada masa
pubertas untuk memantapkan kekebalan menjadi 60% - 80%. Setelah itu, untuk
menyempurnakannya, berikan imunisasi sekali lagi saat dewasa. Kekebalan yang didapat ini bisa
bertahan sampai 10 tahun

PANEUMONIA
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit PANEUMONIA :
Gejala yang berhubungan dengan pneumonia termasuk batuk, sakit dada, demam,
dan kesulitan bernafas. Sedangkan tanda-tanda menderita Pneumonia dapat diketahui setelah
menjalani pemeriksaan X-ray (Rongent) dan pemeriksaan sputum.
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit PANEUMONIA :
Cara penularan virus atau bakteri Pneumonia sampai saat ini belum diketahui pasti, namun ada
beberapa hal yang memungkinkan seseorang beresiko tinggi terserang penyakit Pneumonia. Hal
ini diantaranya adalah :
1. Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS dan para
penderita penyakit kronik seperti sakit jantung, diabetes mellitus. Begitupula bagi mereka yang
pernah/rutin menjalani kemoterapy (chemotherapy) dan meminum obat golongan
Immunosupressant dalam waktu lama, dimana mereka pada umumnya memiliki daya tahan

tubuh (Immun) yang lemah.


2. Perokok dan peminum alkohol. Perokok berat dapat mengalami irritasi pada saluran
pernafasan (bronchial) yang akhirnya menimbulkan secresi muccus (riak/dahak), Apabila
riak/dahak mengandung bakteri maka dapat menyebabkan Pneumonia. Alkohol dapat berdampak
buruk terhadap sel-sel darah putih, hal ini menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh dalam
melawan suatu infeksi.
3. Pasien yang berada di ruang perawatan intensive (ICU/ICCU). Pasien yang dilakukan
tindakan ventilator (alat bantu nafas) 'endotracheal tube' sangat beresiko terkena Pneumonia.
Disaat mereka batuk akan mengeluarkan tekanan balik isi lambung (perut) ke arah
kerongkongan, bila hal itu mengandung bakteri dan berpindah ke rongga nafas (ventilator) maka
potensial tinggi terkena Pneumonia.
4. Menghirup udara tercemar polusi zat kemikal. Resiko tinggi dihadapi oleh para petani
apabila mereka menyemprotkan tanaman dengan zat kemikal (chemical) tanpa memakai masker
adalah terjadi irritasi dan menimbulkan peradangan pada paru yang akibatnya mudah menderita
penyakit Pneumonia dengan masuknya bakteri atau virus.
5. Pasien yang lama berbaring. Pasien yang mengalami operasi besar sehingga
menyebabkannya bermasalah dalah hal mobilisasi merupakan salah satu resiko tinggi terkena
penyakit Pneumonia, dimana dengan tidur berbaring statis memungkinkan riak/muccus
berkumpul dirongga paru dan menjadi media berkembangnya bakteri.
C. Cara Pengobatan/Pencegahan Penyakit PANEUMONIA:
Penanganan dan pengobatan pada penderita Pneumonia tergantung dari tingkat
keparahan gejala yang timbul dan type dari penyebab Pneumonia itu sendiri.
1. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri akan diberikan pengobatan antibiotik. Pengobatan
haruslah benar-benar komplite sampai benar-benar tidak lagi adanya gejala atau hasil
pemeriksaan X-ray dan sputum tidak lagi menampakkan adanya bakteri Pneumonia, jika tidak
maka suatu saat Pneumonia akan kembali diderita.
2. Pneumonia yang disebabkan oleh virus akan diberikan pengobatan yang hampir sama
dengan penderita flu, namun lebih ditekankan dengan istirahat yang cukup dan pemberian intake
cairan yang cukup banyak serta gizi yang baik untuk membantu pemulihan daya tahan tubuh.
3. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur akan mendapatkan pengobatan dengan pemberian
antijamur.
Disamping itu pemberian obat lain untuk membantu mengurangi nyeri, demam dan sakit
kepala. Pemberian obat anti (penekan) batuk di anjurkan dengan dosis rendah hanya cukup
membuat penderita bisa beristirahat tidur, Karena batuk juga akan membantu proses
pembersihan secresi mucossa (riak/dahak) diparu-paru.

DEMAM BERDARAH ( DBD )

A. Gejala-Gejala Dari Penyakit DBD :


Masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari sejak seseorang terserang virus dengue,
Selanjutnya penderita akan menampakkan berbagai tanda dan gejala demam berdarah sebagai
berikut :
1. Demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38 - 40 derajat Celsius).
2. Pada pemeriksaan uji torniquet, tampak adanya jentik (puspura) perdarahan.
3. Adanya bentuk perdarahan dikelopak mata bagian dalam (konjungtiva), Mimisan
(Epitaksis), Buang air besar dengan kotoran (Peaces) berupa lendir bercampur darah (Melena),
dan lain-lainnya.
4. Terjadi pembesaran hati (Hepatomegali).
5. Tekanan darah menurun sehingga menyebabkan syok.
6. Pada pemeriksaan laboratorium (darah) hari ke 3 - 7 terjadi penurunan trombosit dibawah
100.000 /mm3 (Trombositopeni), terjadi peningkatan nilai Hematokrit diatas 20% dari nilai
normal (Hemokonsentrasi).
7. Timbulnya beberapa gejala klinik yang menyertai seperti mual, muntah, penurunan nafsu
makan (anoreksia), sakit perut, diare, menggigil, kejang dan sakit kepala.
8. Mengalami perdarahan pada hidung (mimisan) dan gusi.
9. Demam yang dirasakan penderita menyebabkan keluhan pegal/sakit pada persendian.
10. Munculnya bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah.
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit DBD :
Penyebaran penyakit DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus, sehingga pada wilayah yang sudah diketahui adanya serangan penyakit DBD
akan mungkin ada penderita lainnya bahkan akan dapat menyebabkan wabah yang luar biasa
bagi penduduk disekitarnya.
C. Cara Pengobatan Penyakit DBD:
Fokus pengobatan pada penderita penyakit DBD adalah mengatasi perdarahan,
mencegah atau mengatasi keadaan syok/presyok, yaitu dengan mengusahakan agar penderita
banyak minum sekitar 1,5 sampai 2 liter air dalam 24 jam (air teh dan gula sirup atau susu).
Penambahan cairan tubuh melalui infus (intravena) mungkin diperlukan untuk
mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika
jumlah platelet menurun drastis. Selanjutnya adalah pemberian obat-obatan terhadap keluhan
yang
timbul,
misalnya
:
Paracetamol
membantu
menurunkan
demam
Garam
elektrolit
(oralit)
jika
disertai
diare
Antibiotik
berguna
untuk
mencegah
infeksi
sekunder
Lakukan kompress dingin, tidak perlu dengan es karena bisa berdampak syok.
Bahkan beberapa tim medis menyarankan kompres dapat dilakukan dengan alkohol. Pengobatan
alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum jus jambu biji bangkok, namun

khasiatnya belum pernah dibuktikan secara medik, akan tetapi jambu biji kenyataannya dapat
mengembalikan cairan intravena dan peningkatan nilai trombosit darah.

DEMAM TIFOID
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit DEMAM TIFOID :
Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk melalui makanan atau minuman,
sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Kemudian mengikuti peredaran
darah, bakteri ini mencapai hati dan limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan
rasa nyeri saat diraba.
Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan
dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara
lain ;
1. Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang
malamnya demam tinggi.
2. Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan
merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3. Mual Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa,
Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa
mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara
sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan
penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi
konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing.
Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
6. Pingsan, Tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan
berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi
gangguan kesadaran.
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit DEMAM TIFOID :
Penyakit demam Tifoid ini bisa menyerang saat kuman tersebut masuk melalui
makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu usus halus. Dan
melalui peredaran darah, kuman sampai di organ tubuh terutama hati dan limpa. Ia kemudian
berkembang biak dalam hati dan limpa yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.

C. Cara Pengobatan Penyakit DEMAM TIFOID:


Perawatan dan pengobatan terhadap penderita penyakit demam Tifoid atau types
bertujuan menghentikan invasi kuman, memperpendek perjalanan penyakit, mencegah terjadinya
komplikasi, serta mencegah agar tak kambuh kembali. Pengobatan penyakit tifus dilakukan
dengan jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk
mencegah penularan. Pasien harus berbaring di tempat tidur selama tiga hari hingga panas turun,
kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Selain obat-obatan yang diberikan untuk mengurangi gejala yang timbul seperti
demam dan rasa pusing (Paracetamol), Untuk anak dengan demam tifoid maka pilihan
antibiotika yang utama adalah kloramfenikol selama 10 hari dan diharapkan terjadi
pemberantasan/eradikasi kuman serta waktu perawatan dipersingkat. Namun beberapa dokter ada
yang memilih obat antibiotika lain seperti ampicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole,
kotrimoksazol, sefalosporin, dan ciprofloxacin sesuai kondisi pasien. Demam berlebihan
menyebabkan penderita harus dirawat dan diberikan cairan Infus.

BATUK
A. Gejala-Gejala Dari Penyakit BATUK :
Gejala dari penyakit ini adalah saat kita merasa gatal-gatal pada
B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit BATUK :
Cara penilarannya melalui udara saat si penderita batuk maka firus yang menyebapkan penyakit
ini akan menyebar mengikuti arah angin. Dan apabila kita menghirup udara yang berfirus
tersebut maka otomatis kita akan terkena atau tertular penyakit itu
C. Cara Pengobatan Penyakit BATUK:
Banyak orang mengobati penyakit ini dengan menggunakan obat yang di anjurkan para dokter.
Tapi ada pula yang mengobati penyakit batuk ini dengan cara memakan atau minum ramuan
yang terbuat lansung dari tumbuh-tumbuhan secara tradisional.

PENYAKIT MATA MERAH (KONJUNGTIVITIS)


A. Gejala-Gejala Dari Penyakit MATA MERAH :
Mata merah tampak karena adanya pelebaran serta bertambah banyaknya
pembuluh darah pada dinding bola mata, termasuk selaput bola mata ( konyungtiva) atau
sebagian besar dinding bola mata ( sklera.). Bahkan kornea ( selaput bening mata ) pun dapat
terjadi karena invasi pembuluh darah dari konyungtiva.
Bakteri yang paling umum menyebabkan mata merah yang infeksius adalah staphylococci,
pneumococci, dan streptococci. Gejala-gejala mata merah yang disebabkan bakteri termasuk:

sakit/nyeri mata,

bengkak,

kemerahan, dan

suatu jumlah kotoran yang sedang sampai besar, biasanya berwarna kuning atau
kehijauan.

B. Cara-Cara Penularan Dari Penyakit MATA MERAH :


1. Penularan konjungtivitis ini sangat mudah. Yaitu hanya dengan kontak langsung atau
menggunakan barang orang yang terkena konjungtivitis. Misalnya penderita atau seseorang yang
memiliki mata merah telah mengusap mata dan menggunakan kran. Kemudian, Anda membuka
kran tersebut lalu mengucek atau membasuh mata. Dengan cara tersebut virus dan bakteri
tertular dari seseorang ke orang lain.
2. Penularannya melalui kontak langsung. Virus dan bakterinya sangat mudah menular sehingga
para penderita konjungtivitis disarankan untuk beristirahat di rumah atau tidak melakukan
kegiatan di tempat umum, agar tidak menulari orang lain.
C. Cara Pengobatan Penyakit MATA MERAH:
1. Untuk menghindari gangguan mata ini sebenarnya cukup mudah. Yaitu selalu cuci tangan
dengan sabun sebelum mengusap wajah atau mata. Jangan berbagi handuk wajah, riasan mata,
kacamata surya atau lap kacamata dengan orang lain. Bagi pengguna lensa kontak, selalu
bersihkan secara teratur. Jika pernah terinfeksi mata merah saat menggunakan lensa kontak,
langsung ganti dengan yang baru.
2. Apabila mata merah lebih dari dua hari, disertai rasa perih dan penglihatan menjadi sensitif
terhadap cahaya, segera periksa ke dokter mata. Jangan menundanya, agar iritasi tidak semakin
parah.