Anda di halaman 1dari 22

BAB I

KONSEP MEDIS

A. Defenisi
Trauma okuli merupakan trauma atau cedera yang terjadi pada mata
yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata
dan rongga orbita, kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga
mengganggu fungsi mata sebagai indra penglihat. Trauma okuli merupakan
salah satu penyebab yang sering menyebabkan kebutaan unilateral pada anak
dan dewasa muda, karena kelompok usia inilah yang sering mengalami trauma
okuli yang parah. Dewasa muda (terutama laki-laki) merupakan kelompok
yang paling sering mengalami trauma okuli. Penyebabnya dapat bermacammacam, diantaranya kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan, cedera olahraga,
dan kecelakaan lalu lintas (Ilyas, 2000).
Trauma

okuli

adalah

tindakan

sengaja maupun tidak yang

menimbulkan perlukaan mata. Trauma tersebut merupakan kasus gawat darurat


mata. Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau
menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata (Syarfudin, 2006).
Menurut Tamsuri (2004), ada 2 jenis trauma okuli, yaitu :
1. Trauma okuli non perforans, yaitu trauma okuli dengan ciri-ciri :
a. Tidak menembus dinding orbital (kornea dan sklera masih utuh)
b. Mungkin terjadi robekan konjungtiva
c. Adanya perlukaan kornea dan sklera
d. Kontaminasi intra okuli dengan udara luar tidak ada

2. Trauma okuli perforans, yaitu trauma okuli dengan ciri-ciri :


a. Adanya dinding orbita yang tertembus
b. Adanya kontaminasi intra okuli dengan udara luar
c. Prolaps bisa muncul, bisa tidak.
B. Etiologi
Menurut Ilyas (2006), trauma mata dapat terjadi secara mekanik dan
non mekanik
1. Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh benda tumpul, misalnya :
1) Terkena tonjokan tangan
2) Terkena lemparan batu
3) Terkena lemparan bola
4) Terkena jepretan ketapel, dan lain-lain
b. Trauma oleh benda tajam, misalnya:
1) Terkena pecahan kaca
2) Terkena pensil, lidi, pisau, besi, kayu
3) Terkena kail, lempengan alumunium, seng, alat mesin tenun.
c. Trauma oleh benda asing, misalnya:
Kelilipan pasir, tanah, abu gosok dan lain-lain
2. Non Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh bahan kimia:
1) Air accu, asam cuka, cairan HCL, air keras
2) Coustic soda, kaporit, jodium tincture, baygon
3) Bahan pengeras bakso, semprotan bisa ular, getah papaya, miyak
putih

b. Trauma termik (hipermetik)


1) Terkena percikan api
2) Terkena air panas
c. Trauma Radiasi
1) Sinar ultra violet
2) Sinar infra merah
3) Sinar ionisasi dan sinar X
C. Patofisiologi
Trauma yang mengenai mata dapat menyebabkan robekan pada
pembuluh darah iris, akar iris dan badan silier sehingga mengakibatkan
perdarahan dalam bilik mata depan iris bagian perifer merupakan bagian paling
lemah suatu yang mengenai mata akan menimbulkan kekuatan hidraulis yang
dapat menyebabkam hifema dan iridodialisis serta merobek lapisan otot
spingter sehingga pupil mnadi evoid dan non teaktri. Tenaga yang timbul dari
suatu trauma di perkirakan akan terus kedalam isi bola mata melalui sumbu
anterior, posterior sehingga menyebabkan kompresi ke posterior sehingga
menegakakkan bola mata ke lateral sesuai dengan garis-garis ekoator lifema
yang terjad dalam beberapa hari oleh karena adanya proses hemostasisi darah
dalam bilik mata depan akan di serap sehingga akan jernih kembali (Pearce,
2009).

D. Tanda dan Gejala


Menurut Ilyas (2006), gejala klinis yang dapat terjadi pada trauma
mata antara lain:
1. Perdarahan atau keluar cairan dari mata atau sekitarnya
Pada trauma mata perdarahan dapat terjadi akibat luka atau robeknya
kelopak mata atau perdarahan yang berasal dari bola mata. Pada trauma
tembus caian humor akueus dapat keluar dari mata.
2. Memar pada sekitar mata
Memar pada sekitar mata dapat terjadi akibat hematoma pada palpebra.
Hematoma pada palpebra juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami
fraktur basis kranii.
3. Penurunan visus dalam waktu yang mendadak
Penurunan visus pada trauma mata dapat disebabkan oleh dua hal, yang
pertama terhalangnya jalur refraksi akibat komplikasi trauma baik di
segmen anterior maupun segmen posterior bola mata, yang kedua akibat
terlepasnya lensa atau retina dan avulsi nervus optikus.
4. Penglihatan ganda
Penglihatan ganda atau diplopia pada trauma mata dapat terjadi karena
robeknya pangkal iris. Karena iris robek maka bentuk pupil menjadi tidak
bulat. Hal ini dapat menyebabkan penglihatan ganda pada pasien
5. Mata bewarna merah
Pada trauma mata yang disertai dengan erosi kornea dapat ditemukan
pericorneal injection (PCI) sehingga mata terlihat merah pada daerah
sentral. Hal ini dapat pula ditemui pada trauma mata dengan perdarahan
subkonjungtiva.

6. Nyeri dan rasa menyengat pada mata


Pada trauma mata dapat terjadi nyeri yang disebabkan edema
pada

palpebra. Peningkatan tekanan bola mata juga dapat menyebabkan

nyeri pada mata.


7. Sakit kepala
Pada trauma mata sering

disertai dengan

trauma kepala.

Sehingga

menimbulkan nyeri kepala. Pandangan yang kabur dan ganda pun


dapat menyebabkan sakit kepala.
8. Mata terasa Gatal, terasa ada yang mengganjal pada mata
Pada trauma
ataupun

mata

dengan

benda

asing

baik

pada konjungtiva

segmen anterior mata dapat menyebabkan mata terasa gatal dan

mengganjal. Jika terdapat benda asing


peningkatan

produksi

air

mata

hal

ini dapat

menyebabkan

sebaga salah satu mekanisme

perlindungan pada mata.


9. Fotopobia
Fotopobia pada trauma mata dapat terjadi karena dua penyebab. Pertama
adanya benda asing pada jalur refraksi, contohnya hifema, erosi kornea,
benda asing pada segmen anterior bola mata menyebabkan jalur sinar yang
masuk ke dalam mata menjadi tidak teratur, hal ini menimbulkan silau
pada pasien. Penyebab lain fotopobia pada pasien trauma mata adalah
lumpuhnya iris. Lumpuhnya iris menyebabkan pupil tidak dapat mengecil
dan cenderung melebar sehingga banyak sinar yang masuk ke dalam mata.

E. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang


Menurut James B. (2005), pemeriksaan yyang dapat dilakukan pada
trauma mata meliputi:
1. Pemeriksaan Umum
Pemeriksaan pada kasus trauma mata dilakukan baik subyektf maupun
obyektif.
a. Pemeriksaan Subyektif
Pemeriksaan ketajaman penglihatan. Hal ini berkaitan dengan
pembutatan visum et repertum. Pada penderita yang ketajamannya
menurun, dilakukan pemeriksaan retraksi untuk mengetahui bahwa
penurunan penglihatan mungkin bukan disebabkan oleh trauma tetapi
oleh kelainan retraksi yang sudah ada sebelum trauma.
b. Pemeriksaan Obyektif
Saat penderita kita inspeksi sudah dapat diketahui adanya kelainan di
sekitar mata seperti adanya perdarahan sekitar mata. Pembengkakan di
dahi, pipi, hidung dan lain-lain yang diperiksa pada kasus trauma mata
ialah: keadaan kelopak mata kornea, bilik mata depan, pupil, lensa dan
tundus, gerakan bola mata dan tekanan bola mata.
Pemeriksaan segmen anterior dilakukan dengan sentotop, loupe slit lamp
dan atlalmoskop.
2. Pemeriksaan Khusus
a. Pembiakan kuman dari benda yang merupakan penyebab trauma untuk
menjadi petunjuk pemberian obat antobiotik pencegah infeksi.

b. Pemeriksaan Radiology Foto Orbita


Untuk melihat adanya benda asing yang radioopak, bila ada dilakukan
pemeriksaan dengan lensa kontak combrang dan dapat ditentukan
apakah benda asing intra okuler atau ektra okuler.
c. Pemeriksaan ERG : untuk mengetahui fungsi retina yang rusak atau
yang masih ada.
d. Pemeriksaan VER : untuk melihat fungsi jalur penglihatan pusat
penglihatan
F. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat trauma okuli adalah
erosi kornea, iridoplegia, hifema, iridosiklitis, subluksasi lensa, luksasi lensa
anterior, luksasi lensa posterior, edema retina dan koroid, ablasi retina, ruptur
koroid, serta avulsi papil saraf optic. Jika komplikasi tersebut keluar maka
terapi yang diberikan juga meliputi penanganan terhadap komplikasi yang
timbul (Ilyas, 2000).
G. Penatalaksanaan
Menurut Ilyas (2006), penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada
trauma mata meliputi:
1. Trauma Mata Benda Tumpul
Penanganan ditekankan pada utama yang menyertainya dan penilaian
terhadap ketajaman penglihatan. Setiap penurunan ketajaman penglihatan
tanda mutlak untuk melakukan rujukan kepada dokter ahli mata. Pemberian
pertolongan pertama berupa:
a. Obat-obatan analgetik : untuk mengurangi rasa sakit. Untuk
pemeriksaan mata dapat diberikan anesteshi local: Pantokain 0,5% atau
tetracain 0,5% - 1,0 %.

b. Pemberian obat-obat anti perdarahan dan pembengkakan


c. Memberikan moral support agar pasien tenang
d. Evaluasi ketajaman penglihatan mata yang sehat dan mata yang terkena
trauma
e. Dalam hal hitema ringan (adanya darah segar dala bilik mata depan)
tanpa penyulit segera ditangani dengan tindakan perawatan:
1) Tutup kedua bola mata
2) Tidur dengan posisi kepala agar lebih tinggi
3) Evaluasi ketajaman penglihatan
4) Evaluasi tekanan bola mata
f. Setiap penurunan ketajaman penglihatan atau keragu-raguan mengenai
mata penderita sebaiknya segera di rujuk ke dokter ahli mata.
2. Trauma mata benda tajam
Keadaan trauma mata ini harus segera mendapat perawatan khusus karena
dapat menimbulkan bahaya; infeksi, siderosis, kalkosis dan atlalmia dan
simpatika.
Pertimbangan tindakan bertujuan :
a. Mempertahankan bola mata
b. Mempertahankan penglihatan
Bila terdapat benda asing dalam bola mata, maka sebaiknya dilakukan usaha
untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada penderita diberikan:
a. Antibiotik spectrum luas
b. Analgetik dan sedotiva
c. Dilakukan tindakan pembedahan pada luka yang terbuka

3. Trauma mata benda asing


a. Ekstra Okular
1) Tetes mata
2) Bila benda asing dalam forniks bawah, angkat dengan swab.
3) Bila dalam farniks atas, lipat kelopak mata dan angkat
4) Bila tertanam dalam konjungtiva, gunakan anestesi local dan angkat
dengan jarum
5) Bila dalam kornea, geraka anestesi local, kemudian dengan hat-hati
dan dengan keadaan yang sangat baik termasuk cahaya yang baik,
angkat dengan jarum.
6) Pada kasus ulerasi gunakan midriatikum bersama dengan antibiotic
local selama beberapa hari.
7) Untuk benda asing logam yang terlalu dalam, diangkat dengan
jarum, bisa juga dengan menggunakan magnet.
b. Intra okuler
1) Pemberian antitetanus
2) Antibiotic
3) Benda yang intert dapat dibiarkan bila tidak menybabkan iritasi
4. Trauma mata bahan kimia
a. Trauma akali
1) Segera lakukan irigasi selama 30 menit sebanyak 2000 ml; bila
dilakukan irigasi lebih lama akan lebih baik.
2) Untuk mengetahui telah terjadi netralisasi bisa dapat dilakukan
pemeriksaan dengan kertas lokmus; pH normal air mata 7,3
3) Diberi antibiotic dan lakukan debridement untuk mencegah infeksi
oleh kuman oportunie.

4) Diberi sikoplegik karena terdapatnya iritis dan sineksis posterior


5) Beta bloker dan diamox untuk mengatasi glukoma yang terjadi
6) Steroid diberikan untuk menekan radang akibat denoturasi kimia dan
kerusakan jaringan kornea dan konjungtiva namun diberikan secara
hati-hati karena steroid menghambat penyembuhan.
7) Kolagenase intibitor seperti sistein diberikan untuk menghalangi
efek kolagenase.
8) Vitamin C diberikan karena perlu untuk pembentukan jaringan
kolagen.
9) Diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek.
10) Karataplasti dilakukan bila kekerutan kornea sangat menganggu
penglihatan.
b. Trauma Asam
1) Irigasi segera dengan gara fisiologis atau air.
2) Kontrol pH air mata untuk melihat apakah sudah normal
3) Selanjutnya pertimbangan pengobatan sama dengan pengobatan
yang diberikan pada trauma alkali.
Tindakan pada trauma kimia dapat juga tergantung dari 4 fase peristiwa, yaitu:
1. Fase kejadian (immediate)
Tujuan dari tindakan adalah untuk menghilangkan materi penyebab
sebersih mungkin, yaitu meliputi:
a. Pembilasan dengan segera, denan anestesi tapical terlebih dahulu.
b. Pembilasan dengan larutan non toxic (NaCl 0,9% ringer lastat dan
sebagainya) sampai pH air mata kembali normal.

2. Fase Akut (sampai hari ke-7)


Tujuan tindakan adalah mencegah terjadinya penyulit dengan prinsip
sebagai berikut:
a. Mempercepat proses re-epitelisasi kornea
b. Mengontrol tingkat peradangan
c. Mencegah infeksi sekunder
d. Mencegah peningkatan tekanan bola mata
e. Suplemen / anti oksidan
f. Tindakan pembedahan
3. Fase Pemulihan Dini (early repair : hari ke 7 21)
Tujuannya membatasi penyakit setelah fase 2
4. Fase pemulihan akhir (late repair : setelah hari ke 21)
Tujuannya adalah rehabilitasi fungsi penglihatan
5. Trauma Mata Termik (hipertemik)
Daerah yang terkena dicuci dengan larutan steril dan diolesi dengan salep
atau kasa yang menggunakan jel. Petroleum setelah itu ditutup dengan
verban steril.
6. Trauma Mata Radiasi
Bila panas merusak kornea dan konjungtiva maka diberi pada mata
a. Lokal anastesik
b. Kompres dingin
c. Antibiotika lokal
H. Prognosis
Prognosis trauma mata dapat sembuh dengan baik setelah trauma minor
dan jarang terjadi sekuele jangka panjang karena munculnya sindrom erosi
berulang. Namun trauma tembus mata seringkali dikaitkan dengan kerusakan

penglihatan berat dan mungkin membutuhkan pembedahan ekstensif. Retensi


jangka panjang dari benda asing berupa besi dapat merusak fungsi retina
dengan menghasilkan radikal bebas. Serupa dengan hal itu, trauma kimia pada
mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat jangka panjang dan rasa
tidak enak pada mata. Trauma tumpul dapat menyebabkan kehilangan
penglihatan yang tidak dapat diterapi jika terjadi lubang retina pada fovea.
Penglihatan juga terganggu jika koroid pada makula rusak. Dalam jangka
panjang, dapat timbul glaukoma sekunder pada mata beberapa tahun setelah
cedera awal jika jalinan trabekula mengalami kerusakan. Trauma orbita juga
dapat menyebabkan masalah kosmetik dan okulomotor

BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Aspek yang perlu dikaji jenis pekerjaan, berkaitan dengan tingkat aktivitas
pasien dan status sosial ekonomi pasien. Pendidikan terakhir dikaji
berkaitan dengan tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit dan
penatalaksanaannya
2. Keluhan Utama
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Digunakan untuk menentukan prioritas utama riwayat cedera, bagaimana
terjadinya, dan gangguan penglihatan yang diakibatkan
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Adakah gangguan mata yang diderita sebelumnya
5. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah kelainan mata yang diderita oleh anggota keluarga yang lain, atau
penyakit yang dapat mengakibatkan gangguan penglihatan
6. Psikososial
Klien dapat mengalami gangguan konsep diri yang dapat mempengaruhi
harga diri dan mengganggu aspek kehidupan pasien
7. Pola Aktivitas Sehari-hari
8. Pengkajian Fisik
Meliputi pemeriksaan ketajaman penglihatan, mobilitas mata, dan inspeksi
visual struktur luar mata

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama yang dapat muncul pada pasien dengan
trauma okuli adalah :
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi kornea / peningkatan tekanan
intraokuler
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan
sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3. Gangguan sensori dan persepsi visual berhubungan dengan cedera,
inflamasi, dan infeksi
4. Kurang pengetahuan mengenai perawatan praoperasi dan pasca operasi

C. Intervensi Keperawatn
No
.
1.

DIAGNOSA
Nyeri
berhubungan

TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

akut Nyeri berkurang atau


a. Lakukan

hilang.

penghilangan

dengan imflamasi Kriteria hasil :


pada kornea atau a.

Melaporkan

peningkatan

penurunan

tekanan

progresif

intraokular.

penghilangan nyeri

nyeri
dan

nyeri

penghilangan

yang non invasif dan

yang non i

non

dan

Klien

farmakologi,

seperti berikut

nonfarmakolo

memungkinka
1)

setelah intervensi.
b.

tindakan a. Tindakan

tidak

Posisi : Tinggikan
bagian

kepala

tempat

tidur,

berubah-ubah antara

gelisah.

berbaring

klien
memperoleh
kontrol

ter

nyeri.

pada

punggung dan pada


sisi yang tidak sakit.
2)

Distraksi

3)

Latihan relaksasi
b. Klien

b. Bantu

klien

dalam

keban

mempunyai

mengidentifikasi

pengetahuan

tindakan penghilangan

mendalam te

nyeri yang efektif.

nyerinya
tindakan
penghilangan

yang efektif.
c. Untuk

beb

klien
c. Berikan

dukungan

tindakan penghilangan
nyeri dengan analgesik
yang diresepkan.

farmakologi
diperlukan
memberikan
penghilangan
yang efektif.

d. Beritahu

nyeri

jika d. Tanda

dokter
tidak

setelah

hilang

1/2

jam

menunjukkan
peningkatan

pemberian obat, jika

tekanan intra

nyeri bertambah.

atau

komp

lain.
2.

Risiko

tinggi Tidak terjadi infeksi.

infeksi

Kriteria hasil : Klien

berhubungan

akan :
a.

Menunjukkan
penyembuhan tanpa
gejala infeksi.

sekunder terhadap

permukaan tubuh.

yang

meningkatkan

kerentanan

interupsi

a. Nutrisi dan h

penyembuhan luka :

dengan
peningkatan

a. Tingkatkan

1. Berikan dorongan
untuk

mengikuti

diet

yang

seimbang
b.

Nilai
Labotratorium:

asupan

dan
cairan

yang adekuat.

SDP normal, kultur


2. Instruksikan klien

kesehatan
keseluruhan,

meningkatkan

penyembuhan
pembedahan.

Memakai peli

mata meningk

negatif.

untuk

tetap

penyembuhan

menutup

mata

dengan

sampai

menurunkan

diberitahukan

kekuatan irita

untuk dilepas
.
b. Tehnik
b. Gunakan
aseptik
meneteskan

tehnik

meminimalka

untuk

masuknya

tetes

mikroorganism

mata : Cuci tangan

dan

sebelum memulai.

risiko infeksi.

1. Pegang

alat

penetes agak jauh


dari mata.
2. Ketika
meneteskan,
hindari

kontak

antara

mata,

tetesan dan alat


penetes.
3. Ajarkan tehnik ini
kepada klien dan
anggota

meng

keluarganya.

c. Drainase abn
memerlukan
c. Beritahu

dokter

tentang

semua

drainase yang terlihat


mencurigakan.

evaluasi med

kemungkinan
memulai
penanganan
farmakologi.

d. Mengurangi
d. Kolaborasi

dengan

dokter

dengan

pemberian antibiotika

radang,

steroid dan
menghalangi
hidupnya

dan steroid..

dengan antibio
3.

Gangguan sensori
dan persepsi visual

inflamasi,

Hasil

yang

diharapkan / kriteria

berhubungan
dengan

a. Kaji

cedera,

hasil pasien akan :

dan a. Meningkatkan

infeksi

ketajaman

penglihatan dalam
batas
individu.

ketajaman a. Untuk meng

penglihatan,

catat

keadaan

apakah

satu

antara kedua

mata

salah
masih

melihat.

dapat

tajam

pengl

dan

pandang.

situasi

b. Anjurkan pasien untuk b. Untuk


bedrest.

mengistirahat
mata.

Mengenal
gangguan

sensori

c. Bantu pasien dalam c. Meringaankan

dan berkompensasi

melakukan

terhadap perubahan

sehari-hari.

kegiatan

pemenuhan
kebutuhan
sehari-hari.

d. Kurangi

penggunaan d. Mencegah

lampu yang terang.

terjadinya
pandangan

dan iritasi ma

4.

Kurangnya
pengetahuan
(perawatan)
berhubungan

Tujuan:

Pasien

keluarga

dengan keterbatasan perawatan.


informasi.

memiliki

pengetahuan
memadai

dan

a. Agar
a.

yang
tentang

kembali

tentang

keadaan

pasien,

rencana

perawatan

Dengan

prosedur

kriteria hasil :

b.

perawatan.

yang
dilakukan.

b. Untuk memu

pada

mata agar n

agar

tidak

kembali.

menggunakan

obat

melakukan

tets

tindakan yang

senbarangan.

mata

secara

c. Upaya pence

diberikan perawat.
c. Klien mengerti

tin

tindakan

Jelaskan
pasien

b. Klien aktif dalam

mengerti

dan

yang akan di lakukan.

a. Klien memahami
prosedur

Jelaskan

agar trauma
c.

Anjurkan

tujuan perawatan

pasien

yang diberikan.

membaca

gara

pada
tidak
terlebih

muncul kemb

d. Klien mampu
dahulu, mengedan,

melakukan

buang ingus, bersin

perawatan mandiri

atau merokok.

sesuai yang
diajarkan.

d.

dalam

intervensi

selanjutnya
pasien

melakukan

tindakan

sesuai

dengan

anjuran

petugas.

ped

dilaksanakan

Observasi
kemampuan

d. Sebagai

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas SH, 2006, Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga, Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Ilyas, Sidarta. 2000. Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : FKUI
Jakarta.
James. B,

2005, Trauma dalam : Oftalmologi Edisi Kesembilan. Jakarta :


Erlangga

Pearce,Evelyn C. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta :


Gramedia.
Syarfudin. 2006. Anatomy Fisiologi Mahasiswa Keperawatan Edisi
3. Jakarta : EGC.
Tamsuri, Anas. 2004. Klien Gangguan Mata dan Penglihatan Keperawatan
Medikal Bedah. Jakatra : EGC.

Penyimpangan KDM

Trauma Non Perforans

Trauma Perforans

TRAUMA OKULI

Ruptur

Perlukaan
kornea
Penurunan
tingkat
ketajaman

Iris

Gangguan
pengaturan
cahaya yang
masuk

Penglihatan
kabur

Gangguan sensori
perseptual

Perdarahan
intra okuli
Pupi

Penurunan
daya
akomodasi

Koagulasi
darah dalam
COA / Hifema

Frekuensi
bayangan
oleh lensa
terganggu

Kurang
Pengetahuan

Kontaminasi
intra okuli
dengan udara

Resiko
Infeksi

Diskontinuitas
jaringan

Perdarahan
COP

Inflamasi
Jaringan

Ablasi
o

Nyeri