Anda di halaman 1dari 8

Makalah

Formulasi dan Teknologi Sediaan Kulit


Krim Anti Aging
Dengan Bahan Aktif Ekstrak Bunga Brokoli
(Brassica oleracea L. var. Italica Plenck)

Disusun Oleh :
Asti Aprilia Putri
FST 2013 / 138114071

UNIVERSITAS SANATA DHARMA


YOGYAKARTA
2015

I.

Latar Belakang
Menjadi tua atau aging adalah suatu proses menghilangnya kemampuan
jaringan secara perlahan-lahan untuk memperbaiki atau mengganti diri dan
mempertahankan struktur, serta fungsi normalnya. Akibatnya tubuh tidak dapat
bertahan terhadap kerusakan atau memperbaiki kerusakan tersebut (Cunnningham,
2003).
Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang secara langsung akan
memperlihatkan terjadinya proses penuaan pada seseorang. Perubahan-perubahan
yang terlihat pada penuaan kulit seperti kulit menjadi kering, kasar, kendor, dan
keriput disertai garis-garis ekspresi wajah yang nyata dan sebagainya, akan sangat
mempengaruhi penampilan seseorang dan secara langsung akan memperlihatkan
gambaran bahwa seseorang telah memasuki usia senja (Pillai, et al., 2005).
Penuaan kulit merupakan suatu fenomena yang berkelanjutan

dan

multifaktorial yaitu terjadinya pengurangan baik dalam ukuran maupun jumlah dari
sel-sel dan pengurangan kecepatan berbagai fungsi organik baik pada tingkat seluler
ataupun molekuler (Breinneisen, et al., 2002).
Kulit sendiri memiliki kemampuan untuk membatasi kerusakan yang
disebabkan oleh pajanan sinar UV misalnya melalui penghamburan cahaya oleh
stratum korneum, penyerapan cahaya oleh melanin dan perbaikan DNA (DNA repair),
dan melalui sistem antioksidan yang berfungsi mempertahankan keseimbangan antara
prooksidan dan antioksidan (Pillai, et al., 2005; Dong, et al., 2008). Sistem
antioksidan kulit meliputi komponen enzimatik dan nonenzimatik. Komponen
enzimatik berupa SOD, katalase, glutation peroksidase, dan glutation reduktase,
sedangkan komponen nonenzimatik berupa flavonoid, vitamin A, vitamin C, vitamin
E, selenium, seng, dan glutation. Antioksidan enzimatik yang terpenting dalam
melindungi sel dari sinar ultraviolet B (UVB) adalah SOD. Aktivitas SOD akan
meningkat guna melawan ROS yang terbentuk akibat pajanan sinar UV. Sistem yang
kompleks ini merupakan mekanisme pertahanan pertama kulit untuk melawan
serangan radikal bebas (Pillai, et al., 2005; Baumann & Allemann, 2009).
Komponen- komponen tersebut dapat ditemukan juga dalam tanaman di
lingkungan sekitar kita. Salah satu contoh tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk
mencegah proses penuaan karena kandungan antioksidannya adalah brokoli (Fahey
II.

dan Talalay, 1999).


Brokoli (Brassica oleracea L. var. Italica Plenck)
1. Taksonomi
Klasifikasi tanaman brokoli menurut USDA, 2008 adalah sebagai berikut :

Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Brassicales
Suku
: Cruciferae / Brassicaceae
Genus
: Brassica
Species
: Brassica oleracea L. var. italica Plenck
2. Varietas Tumbuhan
Brokoli merupakan tumbuhan yang cukup mudah untuk dibudidayakan dan
memiliki berbagai macam varietas/ jenis. Jenis tumbuhan ini luas dibudidayakan
di seluruh dunia sehingga mencakup berbagai bentuk budidaya. Pembagian secara
taksonomik biasanya berdasarkan kelompok budidaya bukan berdasarkan aspek
botani (USDA, 2008). Berikut adalah tujuh kelompok dalam Brassica oleracea :
- Brassica oleracea kelompok Acephala kale dan borekale
- Brassica oleracea kelompok Alboglabra kailan
- Brassica oleracea kelompok Botrytis kubis bunga
- Brassica oleracea kelompok Capitata kubis atau kol
- Brassica oleracea kelompok Gemmifera kubis tunas
- Brassica oleracea kelompok Gongylodes kolrabi
- Brassica oleracea kelompok Italica brokoli
3. Daerah Tumbuh / Habitat
Brokoli (Brassica oleracea L. var italica Plenck) merupakan tanaman sayuran
subtropik yang banyak dibudidayakan di Eropa dan Asia. Pada mulanya bunga
brokoli dikenal sebagai sayuran daerah beriklim dingin (subtropis) sehingga di
Indonesia cocok ditanam di dataran tinggi antara 1,000 2,000 meter dari atas
permukaan laut yang suhu udaranya dingin dan lembab. Kisaran temperatur
optimum untuk pertumbuhan produksi sayuran ini adalah antara 15,5 18 C dan
maksimum 24C. Tanaman brokoli termasuk cool season crop sehingga cocok
ditanam pada daerah pegunungan (dataran tinggi) yang beriklim sejuk. Di
Indonesia, tanaman brokoli sebagai sayuran dibudidayakan secara luas pada
daerah tinggi seperti daerah Cisarua dan Pangalengan di Jawa Barat dan daerah
dataran rendah seperti Sleman dan Kulonprogo di Yogyakarta (Muslim, 2009).
4. Morfologi Tumbuhan
Secara morfologi brokoli (kubis bunga hijau) memang mirip dengan kubis
bunga putih. Brokoli memiliki tangkai daun agak panjang dan helai daun
berlekuk-lekuk panjang. Tanaman ini berbentuk sejenis kepala bunga yang terdiri
atas kuntum-kuntum bunga berwarna hijau dengan tangkai bunga yang berdaging.
Massa kepala bunga yang utama tersusun secara kompak dan membentuk bulatan
berwarna hijau tua atau hijau kebiru-biruan, serta dapat mencapai diameter 15cm

atau lebih. Pada ketiak daun timbul juga kepala bunga yang lebih kecil. Kepala
bunga samping akan cepat keluar bila kepala bunga utama telah dipanen (USDA,
2008).
Panen bunga brokoli dilakukan setelah umurnya mencapai 60-90 hari sejak
ditanam, yaitu sebelum bunganya mekar dan sewaktu kropnya masih berwarna
hijau. Jika bunganya mekar, tangkai bunga akan memanjang dan keluarlah
kuntum-kuntum bunga berwarna kuning (USDA, 2008). Berikut adalah gambar
tumbuhan brokoli.

5. Kandungan Kimia
Tanaman brokoli memiliki berbagai kandungan kimia seperti protein, lemak,
karbohidrat, serat, kalsium, zat besi, vitamin A, C, E, tiamin, riboflavin,
nikotinamid, kalsium, betakaroten, selenium dan glutation. Selain itu, juga
mengandung sianohidroksibutena, sulforafan, kaempferol, kuersetin, dan iberin,
yang dapat merangsang pembentukan glutation (Ipteknet, 2005; Maestri, et al.,
2006).
6. Khasiat dan Kegunaan
Khasiat brokoli pada kulit telah diteliti bahwa kandungan sulforafan dari
brokoli secara penggunaan topikal mampu memperbaiki kerusakan akibat sinar
UV dengan cara mencegah efek eritema yang diinduksi oleh sinar UV, baik secara
in vitro maupun in vivo (Talalay, 2007). Pada studi in vitro menggunakan kultur
keratinosit manusia (HaCaT) membuktikan bahwa sulforafan mampu mereduksi
ekspresi gen inflamatorik IL-6, IL-1 dan siklooksigenase (COX-2) yang
diinduksi oleh pajanan sinar UVB. Selain itu, pemberian sulforafan oral pada tikus
percobaan menunjukkan adanya kemampuan menekan ekspresi protein COX-2.
Kesemua hal ini menunjukkan efek sulforafan sebagai antiinflamasi.
Khasiat lain yang telah diteliti adalah sulforafan topikal yang memiliki efek
antimutagenik pada pengobatan epidermolisis bullosa simpleks (Kerns, et al.,
1997)

III.

Formulasi Sediaan
1. Formulasi Krim Anti Aging
Bahan
Ekstrak Bunga Brokoli
Asam Stearat
Cetil Alkohol
Lanolin Anhidrat
L - tocopherol
Span 80 : Tween 80 (1 : 1)

Jumlah (b/b%)
0,5
2
3
2
0,05
5

Propilenglikol
Nipagin
Parfum (Minyak Mawar)
Aquadest
-

10
0,5
0,05
76,9
(Baumann, L., 2009)
Esktrak bunga brokoli dimanfaatkan sebagai bahan aktif untuk mencegah

aging dalam formulasi sediaan krim ini.


Asam stearat, cetil alkohol, lanolin anhidrat digunakan sebagai fase minyak.
L-tocopherol atau vitamin E digunakan sebagai antioksidan yang mendukung
kerja antioksidan yang diperoleh dari ekstrak bunga brokoli. Selain itu
antioksidan disini dapat juga mencegah fase minyak dalam krim teroksidasi

(fase minyak tidak akan menjadi tengik)


Span 80 : Tween 80 (1:1) digunakan sebagai emulgator dalam sediaan krim
anti aging ini.

Propilenglikol digunakan sebagai humektan yang berperan mengambil air dari

lingkungan untuk tetap menjaga kelembaban kulit.


Nipagin digunakan sebagai pengawet dalam sediaan krim. Karena sediaan ini
mengandung fase air yang dapat berpotensi menjadi tempat tumbuhnya

mikroba.
Parfum (Minyak Mawar) digunakan sebagai pewangi untuk menambah
estetika dan meningkatkan penampilan dari krim ini. Dapat digunakan minyak
atsiri lain yang sesuai untuk digunakan sebagai parfum dalam formulasi krim

ini.
- Aquadest digunakan sebagai fase air.
2. Pembuatan Ekstrak Bunga Brokoli
- 100 gram bunga brokoli segar yang telah dicuci dimaserasi dengan kloroform
-

sebanyak 750 ml, didiamkan selama 5 hari, kemudian disaring.


Ampas dari filtrat tersebut dikeringkan dengan cara diangin- anginkan,
kemudian dimaserasi dengan 750 ml etanol, didiamkan selama 5 hari,

disaring.
Filtrat etanol bunga brokoli tersebut dipekatkan dengan rotary evaporator

hingga menjadi ekstrak kental bunga brokoli.


3. Pembuatan Krim dengan Emulgator Span 80 : Tween 80
- Fase minyak dibuat dengan melebur berturut-turut lanolin anhidrat, setil
alkohol asam stearat, span 80, dan -tokoferol di atas tangas air. Suhu
-

dipertahankan pada 70o C.


Fase air dibuat dengan melarutkan tween 60 dalam air yang telah di-panaskan
hingga 70oC, kemudian di-tambah propilen glikol. Suhu dipertahankan pada

70o C.
Krim dibuat dengan menambahkan fase minyak ke dalam fase air kemudian
ditambah nipagin sambil diaduk dengan pengaduk selama 2 menit, kemudian

didiamkan selama 20 detik lalu diaduk kembali sampai homogen.


Ekstrak digerus dalam mortir lalu ditambah basis krim sedikit demi sedikit dan
diaduk sampai homogen lalu diaduk dengan sisa basis kembali hingga

homogen.
4. Evaluasi Sediaan Krim Anti- Aging
- Pengamatan organoleptis (penampilan fisik) Krim
- Tipe Krim
- Viskositas Krim

IV.

Daftar Pustaka
Baumann, L & Allemann, IB 2009, Antioxidants. in: Baumann L, Saghari, S,
Weisberg (eds). Cosmetic dermatology principles and practice, 2nd edn.
New York: McGraw-Hill, pp. 292-311.
Brenneisen, P, Sies, H, & Scharffetter-Kochanek, K 2002, Ultraviolet-B irradiation
and matrix metalloproteinase: from induction via signaling to initial events.
Ann N Y Acad Sci, vol. 973, pp. 31-43.
Cunningham, W. 2003, Aging and photo-aging. in: Baran R, Maibach HI, (eds).
Textbook of Cosmetic Dermatology, 2nd edn. London: Martin dunitz, pp.
455-67.
Dong, KK, Damaghi, N, Picart, SD, Markova, NG, Obayashi, K & Okuno, Y et al
2008, UV-induced DNA damage initiates release of MMP-1 in human skin:
Exp Dermatol, vol. 17, no. 12, pp. 1037-44.
Fahey, JW & Talalay, P 1999, Antioxidant functions of sulforaphane: a potent inducer
of phase II detoxication enzymes: Food Chem.Toxicol, vol. 37, pp. 973-9.
Ipteknet Sentra Informasi IPTEK 2005, Tanaman obat Indonesia: Brokoli, viewed 11
Maret 2010.
Kerns, ML, de Pianto D, Dinkova-kostava AT, Talalay P & Coulombe PA. 2007,
Reprogramming of keratin biosynthesis by sulforaphane restores skin
integrity in epidermolysis bullosa simplex Proc. Natl Acad Sci USA, vol.
104, no. 36, pp. 14460-65.
Maestri, DM, Nepote, V, Lamarque, AL & Zygadio, JA. 2006, Natural products as
antioxidants. Phytochemistry, Advances in Research pp 105-35.
Muslim, A. 2009, Budidaya kubis bunga dan perbanyakan brokoli secara kultur
jaringan, viewed 10 April 2010 (http://bloginvitro.blogspot.com/2009/12/
perbanyakan-brokoli-secarakultur.html).
Pillai, S, Oresajo, C, & Hayward, J 2005, Ultraviolet radiation and skin aging roles of
reactive oxygen species, inflammation and protease activation and
strategies of prevention of inflammation induced matrix degradation: Int. J.
Cosmet.Sci, vol.27, no.1, pp.17-34.

United States Department of Agriculture (USDA) 2008, Plants profile : Natural


Resource Conservation Service, viewed 30 Januari 2010.

Anda mungkin juga menyukai