Anda di halaman 1dari 90

Ekonomi Migas

TUGAS#01

Dibuat oleh:
Nama

: Yeti Permata Sari

NIM

: 124.12.024

Tanggal

: 01 November 2015

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN SAINS BANDUNG
2015
1. Undang-undang Dasar 1945 pasal 33
UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup
orang banyak dikuasai oleh Negara
(3) Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian,
serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

2. UU Perminyakan No.44 tahun 1960 dan No. 8 Tahun 1971


UU Perminyakan No. 44 tahun 1960 :
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
NOMOR 44 TAHUN 1960
TENTANG
PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI
BAB I
ISTILAH-ISTILAH
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
a. Minyak gas bumi : bahan-bahan galian minyak bumi, aspal, lilin bumi, semua jenis
bitumen baik yang padat maupun yang cair dan semua gas bumi serta hasil-hasil
2 | Ekonomi Migas

pemurnian dan pengolahan bahan-bahan galian tersebut, tidak termasuk bahan-bahan


galian anthrasit dan segala macam batubara, baik yang tua maupun yang muda;
b. Hak tanah : hak atas sebidang tanah seperti yang dimaksudkan dalam undang-undang n0.
5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pook-pokok agraria;
c. Eksplorasi : segala cara penyelidikan geologi pertambanngan untuk menetapkan adanya
dan keadaan bahan-bahan galian minyak dan gas bumi;
d. Eksploitasi : pekerjaan pertambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan-bahan
galian minyak dan gas bumi dengan jalan yang lazim;
e. Pemurnian dan pengolahan : usaha untuk mempertinggi mutu dan untuk memperoleh
f.

bagian-bagian bahan-bahan gakian minyak dan gas bumi yang dapat dipergunakan;
Pengangkutan : segala usaha pemindahan bahan-bahan galian minyak dan gas bumi dari

darerah-daerah eksploitasi atau tempat-tempat pemurnian dan pengolahan;


g. Penjualan : segala usaha penjualan bahan-bahan galian minyak dan gas bumi dan hasilhasil pemurnian dan/atau pengolahan;
h. Kuasa pertambangan : wewenang yang diberikan kepada perusahaan negara untuk
i.

melaksanakan usaha pertambangan minyak dan gas bumi;


Menteri : menteri yang lapangan tugasnya meliputi urusan pertambangan minyak dan gas

j.

bumi;
Wilayah hukum pertambangan Indonesia : seluruh Kepulauan Indonesia, tanah di bawah
perairan Indonesia, menurut peraturan pemerintah pengganti undang-undqang n0. 4

tahun 1960, dan daerah-daerah continental dari Kepulauan Indonesia;


k. Perusahaan negara : perusahaan seperti yang dimaksudkan dalam peraturan pemerintag
pengganti undang-undang no. 19 tahun 1960 tentang perusahaan negara.
BAB II
KETENTUAN-KETENTUAN UMUM
Pasal 2
Segala bahan galian minyak dan gas bumi yang ada di dalam wilayah hukum pertambangan
Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh Negara.
Pasal 3
(1) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan seperti yang termaktub dalam pasal 4 Undangundang tentang Pertambangan, maka pertambangan minyak dan gas bumi hanya
diusahakan oleh Negara;
(2) Usaha pertambangan minyak dan gas bumi dilaksanakan oleh Perusahaan Negara
semata-mata
Pasal 4
Usaha pertambangan minyak dan gas bumi dapat meliputi :
a. Eksplorasi;
b. Eksploitasi;
c. Pemurnian dan pengolahan;
d. Pengangkutan;
e. Penjualan.
BAB III
KUASA PERTAMBANGAN
3 | Ekonomi Migas

Pasal 5
(1) Kuasa Pertambangan ditetapkan dan diatur dalam peraturan yang mendirikan perusahaan
itu.
(2) Penunjukan batas-batas wilayah kuasa pertambangan beserta syarat-syaratnya ditetapkan
oleh Pemerintah atas usul Menteri.
Pasal 6
(1) Menteri dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk Perusahaan Negara apabila
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang belum atau tidak dapat
dilaksanakan sendiri oleh Perusahaan Negara yang bersangkutan selaku pemegang kuasa
pertambangan.
(2) Dalam mengadakan perjanjian karya dengan kontraktor seperti yang dimaksud dalam
ayat (1) di atas Perusahaan Negara harus berpegang pada. Pedoman-pedoman, petunjukpetunjuk dan syarat-syarat yang diberikan oleh Menteri.
(3) Perjanjian karya yang tersebut dalam ayat (2) di atas mulai berlaku sesudah disahkan
dengan Undang-undang.
Pasal 7
(1) Kuasa pertambangan tidak meliput hak tanah permukaan bumi.
(2) Pekerjaan kuasa pertambangan tidak boleh dilakukan di wilayah yang ditutup untuk
kepentingan umum.
(3) Lapangan pekerjaan kuasa pertambangan tidak meliputi
a. Tempat-tempat kuburan, tempat-tempat yang dianggap suci, pekerjaan-pekerjaan
umum, umpamanya jalan-jalan umum, jalan kereta api, saluran air, gas dan
sebagainya.
b. Lapangan tanah sekitar lapangan-lapangan dan bangunan bangunan pertahanan.
c. Tempat-tempat pekerjaan usaha pertambangan lain;
d. Bangunan-bangunan, rumah tempat tinggal atau pabrik pabrik beserta tanahn-tanah
pekarangan sekitarnya, kecuali dengan izin yang berkepentingan.
BAB IV
PENGEMBALIAN WILAYAH KUASA PERTAMBANGAN
Pasal 8
(1) Pemegang kuasa pertambangan dapat menyerahkan kembali sebagian atau seluruh
wilayah pertambangannya dengan pernyataan tertulis kepada Menteri.
(2) Pernyataan tertulis yang dimaksud dalam ayat (1) di atas disertai dengan alasan-alasan
yang cukup sebabnya pernyataan itu disampaikan.
(3) Pengembalian wilayah pertambangan yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini baru sah
setelah disetujui oleh Menteri.
Pasal 9
Jikalau sebagian atau seluruh wilayah pertambangan dikembalikan, maka segala beban yang
diberatkan kepada wilayah yang bersangkutan batal menurut hukum.
Pasal 10
4 | Ekonomi Migas

Apabila sebagian atau seluruh wilayah pertambangan dikembalikan, maka Perusahaan Negara
yang bersangkutan menyerahkan kepada semua Menteri semua klise dan bahan-bahan peta,
gambar-gambar ukuran tanah dan sebagainya yang bersangkutan dengan pelaksanaan usaha
pertambangan.
BAB V
HUBUNGAN KUASA PERTAMBANGAN DENGAN HAK-HAK TANAH
Pasal 11
Mereka yang berhak atas tanah diwajibkan memperkenankan pekerjaan pemegang kuasa
pertambangan atas tanah yang bersangkutan, jika kepadanya :
(1) Sebelum pekerjaan dimulai, dengan diperlihatkannya surat kuasa pertambangan atau
salinannya yang sah, diberitahukan tentang maksud dan tempat-tempat pekerjaan itu
akan dilakukan;
(2) Diberi ganti kerugian atau jaminan akan penggantian kerugian itu terlebih dahulu.
Pasal 12
(1) Apabila ada hak yang bukan hak Negara atas sebidang tanah yang bersangkutan dengan
wilayah kuasa pertambangan, maka kepada yang berhak diberikan ganti kerugian
dan/atau sumbangan yang jumlahnya ditentukan oleh Menteri, untuk penggantian sekali
dan/atau untuk selama hak itu tidak dapat dipergunakannya.
(2) Apabila yang bersangkutan tidak dapat menerima penentuan Menteri yang dimaksud
dalam ayat (1) pasal ini, maka sumbangan dan/atau ganti kerugian itu ditentukan oleh
Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi wilayah pertambangan tempat
pelaksanaan usaha pertambangan minyak dan gas bumi yang bersangkutan.
(3) Sumbangan dan/atau ganti kerugian yang dimaksud dalam pasal ini beserta segala biaya
yang berhubungan dengan itu dibebankan pada pemegang kuasa pertambangan yang
bersangkutan.
Pasal 13
Kewajiban untuk memberi sumbangan ataupun ganti kerugian tidak berlaku terhadap mereka
yang mendirikan bangunan-bangunan, menanam tyumbuhan-tumbuhan dan lain-lain di atas
tanah yang termasuk wilayah pertambangan minyak dan gas bumi, dengan maksud
memperoleh uang sumbangan dan/atau ganti kerugian.
Pasal 14
Apabila telah diberikan kuasa pertambangan pada sebidang tanah yang di atasnya tidak
terdapat hak tanah, maka atas sebidang tanah tersebut atau bagian-bagiannya tidak dapat
diberikan hak tanah kecuali dengan persetujuan Menteri.
BAB VI
PUNGUTAN-PUNGUTAN NEGARA
Pasal 15

5 | Ekonomi Migas

(1) Pemegang kuasa pertambangan membayar kepada Negara iuran-pasti, iuran eksplorasi
dan/atau pembayaran-pembayaran lainnya yang berhubungan dengan pemberian kuasa
pertambangan.
(2) Perincian dan besarnya pungutan-pungutan Negara yang tersebut dalam ayat (1) di atas
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VII
PENGAWASAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI
Pasal 16
Tata usaha dan pengawasan pekerjaan-pekerjaan dan pelaksanaan usaha pertambangan
minyak dan gas bumi dipusatkan pada Departemen yang lapngan tugasnya meliputi
pertambangan minyak dan gas bumi.
Pasal 17
(1) Departemen yang dimaksud dalam pasal 16 tersebut di atas melakukan pengawasan dan
penelitian, begitu pula menentukan syarat-syarat dan izin penemoatan terhadp tenagatenaga ahli asing yang akan dipekerjakan dalam perusahaan-perusahaan minyak dan gas
bumi, dengan tidak mengurangi tugas lain jawatan/instansi.
(2) Syarta-syarat dan izin penempatan terhadap tenaga-tenaga tersebut dalam ayat (1) pasal
ini, diberikan dengan memperhatikan keadaan dan keahliannya serta semangat dan citacita nasional untuk menduduki jabatan-jabatan penting dalam perusahaan-perusahaan
minyak dan gas bumi sesuai dengan rencana pendidikan kejuruan dan keadaan yang
nyata dalam masyarakat.
(3) Dalam melakukan tugas tersebut dalam ayat (1) dan ayat (2) pasal ini, maka perusahaanperusahaan minyak dan gas bumi berkewajiban untuk memberikan laporan dan
bantuannya dan menaati perintah-perintah yang diberikan Departemen tersebut di atas.
BAB VIII
KETENTUAN-KETENTUAN PIDANA
Pasal 18
(1) Dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya lima ratus ribu rupiah barang siapa tidak mempunyai kuasa
pertambangan melaksanakan usaha pertambangan seperti dimaksud dalam pasal 4
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.
(2) Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamnya satu tahun dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya lima puluh ribu rupiah barang siapa yang melaksanakan usaha
pertambangan minyak dan gas bumi sebelum memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap
yang berhak atas tanah menurut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.
Pasal 19

6 | Ekonomi Migas

Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah barang siapa yang berhak atas tanah merintangi atau
menggangu pelaksanaan usaha pertambangan minyak dan gas bumi yang sah.
Pasal 20
Dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan dan/atau dengan denda
setinggi-tingginya sepuluh ribu rupiah;
a. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak memenuhi syarat-syarat yang berlaku
menurut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dan/atau Surat Keputusan
Menteri yang diberikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
ini;
b. Pemegang kuasa pertambangan yang tidak melakukan perintah-perintah dan/atau
petunjuk-petunjuk yang berwajib berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang ini.
Pasal 21
(1) Jikalau pemegang kuasa pertambangan atau wakilnya adalah suatu badan hukum, maka
hukuman termaksud dalam pasal 18, 19 dan 20 peraturan ini dijatuhkan kepada para
anggota pengurus.
(2) Tindak pidana yang dimaksud dalam pasal 18 ayat (1) peraturan ini adalah kejahatan dan
perbuatan-perbuatan lainnya adalah pelanggaran.
BAB IX
KETENTUAN-KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 22
(1) Semua hak-hak pertambangan perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi yang bukan
Perusahaan Negara, yang diperoleh berdasarkan peraturan-peraturan yang ada sebelum
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mempunyai kekuatan hukum, tetap
dapat dijalankan untuk suatu tenggang waktu yang sesingkat-singkatnya. Tenggang
waktu itu akan ditentukan dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Pemegang-pemegang hak-hak pertambangan berdasarkan peraturan-peraturan yang
tersebut dalam ayat (1) di atas didahulukan dalam pertimbangan penunjukan sebagai
kontraktor yang dimaksud dalam pasal 6 Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang ini untuk wilayah-wilayah pertambngan mereka sekarang.
(3) Peraturan-peraturan yang dimaksud dalam ayat (1) di atas dicabut pada saat berakhirnya
tentang waktu yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.
(4) Hak-hak pertambangan Perusahaan Negara yang masih ada pada saat berlakunya
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini menjadi kuasa-kuasa pertambangan
untuk wilayah-wilayah pertambangan minyak dan gas bumi yang bersagkutan pada saatsaat peraturan-peraturan dikeluarkan untuk itu masing-masing seperti yang dimaksudkan
dalam pasal 5 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

7 | Ekonomi Migas

BAB X
KETENTUAN-KETENTUAN PENUTUP
Pasal 23
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dapat disebut Peraturan Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 24
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini mulai berlaku pada hari diundangkan.
Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengumuman Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undnag ini dnegna penempatan dalam Lembaran-Negara
Republik Indonesia.
UU Perminyakan No. 8 tahun 1971
UNDANG-UNDANG NO.8 TAHUN 1971
TENTANG PERUSAHAAN PERTAMBANGAN MINYAK DAN
GAS BUMI NEGARA
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
(1) Dengan tidak mengurangi tugas dan wewenang Departemen-departemen dalam
bidangnya masing-masing, maka tat-usaha, pengawasan pekerjaan dan pelaksanaan
pengusahaan

pertambangan

minyak

dan

gas

bumi

serta

pengawasan

hasil

pertambngannya dipusatkan pada Departemen yang lapangan tugasnya meliputi


pertambngan minyak dan gas bumi.
(2) Pengawasan termaksud pada ayat (1) pasal ini meliputi pengawasan produksi,
pengawasan keselamatan kerja dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam pertambangan
minyak dan gas bumi yang menyangkut kepentingan umum.
(3) Cara pengawasan dan pengaturan keselamatan kerja yang ditujukan untuk keamanan,
keselamatan kerja dan effisiensi pekerjaan dari pada pelaksanaan usaha pertambangan
minyak dan gas bumi, diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB II
KETENTUAN PENDIRIAN
Pasal 2
(1) Dengan nama Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara, disingkat
PERTAMINA, selanjutnya dalam Undang-undang ini disebut Perusahaan, didirikan suat
perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi, yang dimilki Negara Republik
Indonesia.
(2) Perusahaan termaksud pada ayat (1) pasal ini adalah badan hukum yang berhak
melakukan usaha-usahanya berdasarkan Undang-undang ini.

8 | Ekonomi Migas

(3) Definisi Perusahaan Negara yang tercantum dalam undang-undang Nomor 44 Prp. Tahun
1960 Pasal 1 (Lembaran Negara tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2070) harus dibaca Perusahaan dalam pengertian Undang-undang ini.
Pasal 3
Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan dalam undang-undang ini terhadap Perusahaan
berlaku hukum Indonesia.
Pasal 4
Perusahaan berkedudukan dan berkantor pusat di Jakarta.
BAB III
TUJUAN DAN LAPANGAN USAHA
Pasal 5
Tujuan Perusahaan adalah membangun dan melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi
dalam arti seluas-luasnya untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat dan Negara serta
menciptakan ketahanan Nasional.
Pasal 6
(1) Perusahaan bergerak di bidang pengusahaan minyak dan gas bumi yang meliputi
eksplorasi, eksploitasi, pemurnian dan pengolahan, pengangkutan dan penjualan.
(2) Dengan persetujuan Presiden dapat dilakukan perluasan bidang-bidang usaha, sepanjang
masih ada hubungan dengan pengusahaan minyak dan gas bumi termaksud pada ayat (1)
pasal ini, serta didasarkan pada anggaran perusahaan, rencana kerja tahunan dan rencana
investasi perusahaan.
BAB IV
MODAL
Pasal 7
(1) Modal Perusahaan adalah kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara sebesar yang ditanam dalam P.N PERTAMINA sampai saat
pembubarannya, yang jumlahnya tercantum dalam Neraca Pembukaan yang akan
disahkan oleh Menteri Keuangan.
(2) Penambahan modal termaksud pada ayat (1) pasal ini, ditetapkan dengan Undangundang.
(3) Modal Perusahaan tidak terbagi atas saham-saham.
Pasal 8
(1) Perusahaan mempunyai cadangan umum yang dipergunakan untuk menutupi kerugian
yang mungkin timbul atas modal Perusahaan.
(2) Perusahaan membentuk cadangan tujuan.
(3) Cadangan-cadangan yang diadakan oleh Perusahaan dinyatakan dengan jelas dalam
pembukuan Perusahaan.
(4) Perusahaan tidak mengadakan cadangan diam dan cadangan rahasia.

9 | Ekonomi Migas

Pasal 9
(1) Cara mengurus dan menggunakan cadangan umum ditentukan dengan Peraturan
Pemerintah.
(2) Cara mengurus dana penyusutan dan cadangan tujuan ditentukan oleh Dewan Komisaris
Pemerintah.
Pasal 10
(1) Perusahaan dapat memperoleh dan menggunakan dana-dana yang diperlukan untuk
mengembangkan usahanya melalui pengeluaran obligasi.
(2) Keputusan untuk mengeluarkan obligasi diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB V
KUASA PERTAMBANGAN
Pasal 11
(1) Kepada Perusahaan disediakan seluruh wilaayh hukum pertambangan Indonesia,
sepanjang mengenai pertambangan minyak dan gas bumi.
(2) Kepada Perusahaan diberikan Kuasa Pertambngan yang batas-batas wilayahnya serta
syarat-syaratnya ditetapkan oleh Presiden atas usul Menteri.
Pasal 12
(1) Perusahaan dapat mengadakan kerjasama dengan pihak lain dalam bentuk Kontrak
Production Sharing.
(2) Syarat-syarat kerjasama termaksud dalam ayat (1) pasal ini akan diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
(3) Perjanjian termaksud pada ayat (1) pasal ini mulai berlaku setelah disetujui oleh
Presiden.
BAB VI
TUGAS DAN KEWAJIBAN PERUSAHAAN
Pasal 13
Tugas Perusahaan adalah :
a. Melaksanakan pengusahaan minyak dan gas bumi dengan memperoleh hasil yang
sebesar-besarnya bagi kemakmuran Rakyat dan Negara;
b. Menyediakan dan melayani kebutuhan bahan bakar minyak dan gas bumi untuk dalam
negeri yang pelaksanaanya diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 14
(1) Dalam melaksanakan pengusahaan pertambangan minyak dan gas bumi sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Undang-undang ini Perusahaan wajib
menyetor kepada Kas Negara, jumlah-jumlah sebagai berikut :
a. Enam puuh persen dari penerimaan bersih usaha (net operating income) atas hasil
operasi Perusahaan sendiri;
b. Enam puluh persen dari penerimaan bersih usaha (net opertaing income) atas hasil
Kontrak Production Sharing sebelum dibagi antara Perusahaan dan Kontraktor;
c. Seluruh hasil yang diperoleh dari Perjanjian Karya termaksud dalam Undang-undang
Nomor 14 tahun 1963;
10 | E k o n o m i M i g a s

d. Enam puluh persen dari penerimaan-penerimaan bonus Perusahaan yang diperoleh


dari ahsil Kontrak Production Sharing.
(2) Untuk memudahkan pelaksanaan ayat (1) sub a dan b pasal ini dengan Peraturan
pemerintah dapat ditetapkan suatu presentase tertentu dari nilai penjualan atau suatu
jumlah pungutan tertentu untuk setiap satuan volume dari seluruh produksi.
(3) Pada setiap akhir tahun diadakan penyesuaian agar jumlah yang disetorkan menurut ayat
(2) pasal ini sama denagn jumlah yang diperhitungkan menurut ayat (1) sub a dan b pasal
ini.
Pasal 15
Penyetoran kepada Kas Negara sebagaimana tercantum pada ayat (1) sub a dan b pasal 14
Undang-undang ini, membebaskan Perusahaan dan Kontraktor, serta merupakan pembayaran
dari :
a. Pajak Perseroan termaksud dalam Ordonantie Pajak Perseroan (Staatsblad 1925 Nomor
319) sebagaimana telah diuabh dan ditambah;
b. Iuran pasti, iuran eksplorasi, iuran eksploitasi dan pembayaran-pembayaran lainnya yang
berhubungan dengan pemberian Kuasa Pertambangan termaksud dalam Undang-undnag
Nomor 44 Prp. Tahun 1960;
c. Pungutan atas ekspor minyak dan gas bumi serta hasil-hasil pemurnian dan pengolahan;
d. Bea masuk termaksud dalam Indische Tariefwet 1873 (Staatsblad 1873 Nomor 35)
sebagaimana telah ditambah dan dirubah dan Pajak Penjualan atas impor termaksud
dalam Undang-undang Nomor 19 Drt. Tahun 1951 (Lembaga Negara Tahun 1951 Nomor
94, Tamabahan lembaran Negara Nomor 157) yo. Undnag-undang Nomor 2 Tahun 1968
(Lembaran Negara tahun 1968 Nomor 14, Tambahan Lembaran negara Nomor 2847)
sebagaimana telah dirubah dan ditambah dari pada semua barang-barang yang
dipergunakan dlama operasi Perusahaan, yang pelaksanaanya akan diatur dengan
Peraturan Pemerintah;
e. Iuran Pembangunan Daerah.
BAB VII
DEWAN KOMISARIS PEMERINTAH
Pasal 16
(1) Dewan Komisaris Pemerintah menetapkan kebijaksanaan umum Perusahaan, mengawasi
pengurusan Perusahaan danmengusulkan kepada Pemerintah langkah yang perlu diambil
dalam rangka menyempurnakan pengurusan Perusahaan, termasuk susunan Direksi
Perusahaan.
(2) Dewan Komisaris Pemerintah bertanggung-jawab kepada Presiden.
(3) Dewan Komisaris Pemerintah terdiri atas 3 (tiga) orang anggota, yaitu Menteri dalam
bidang pertambangan sebagai ketua merangkap anggota, Menteri Keuangan sebagai
wakil ketua merangkap anggota serta Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
sebagai anggota.

11 | E k o n o m i M i g a s

(4) Apabila dipandang perlu, Presiden dapat menambah sebanyak-banyaknya 2 (dua) orang
Menteri dalam bidang lainnya sebagai anggota.
(5) Dewan Komisaris Pemerintah berhak meminta segala keterangan yang diperlukan
kepada Direksi.
(6) Dewan Komisaris Pemerintah diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
(7) Tata-tertib dan cara menjalankan tugas Dewan Komisaris pemerintah diatur dalam suatu
peraturan yang ditetapkan olehnya.
Pasal 17
(1) Dewan Komisaris pemerintah mengadakan sidang setiap waktu diperlukan dengan
sekurang-kurangnya 1 (satu) kali daalm sebulan.
(2) Keputusan-keputusan Dewan Komisaris Pemerintah diambil atas dasar musyawarah
untuk mufakat.
(3) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan pendapat terhadap masalah-masalah yang
dibicarakan dalam Dewn Komisaris Pemerintah maka masanya diajukan kepada Presiden
untuk mendapat keputusan lebih lanjut.
Pasal 18
(1) Untuk memperlancar tugas administrasi dari Dewan Komisaris Pemerintah dibentuk
suatu Sekretariat Dewan Komisaris Pemerintah yang dipimpin oleh seorang Sekretaris
Dewan Komisaris Pemerintah.
(2) Sekretaris Dewan Komisaris Pemerintah diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas
usul Dewan Komisaris Pemerintah.
(3) Untuk memperlancar pelaksanaan tugasnya Dewan Komisaris Pemerintah dapat
menunjuk tenaga-tenaga ahli dan atau badan yang diperlukan.
(4) Uang jasa Anggota Dewan Komisaris Pemerintas dan Sekretaris Dewan Komisaris
Pemerintah diatur dengan Peraturan Pemerintah.
(5) Segala biaya yang diperlukan Dewan Komisaris Pemerintah dalam pelaksanaan tugasnya
dibebankan kepada Perusahaan.

BAB VIII
DIREKSI
Pasal 19
(1) Perusahaan dipimpin dan diurus oleh sutu Direksi yang terdiri dari seorang Direktur
Utama dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang Direktur.
(2) Direksi bertanggung-jawab kepada Dewan Komisaris Pemerintah dan Direktur Utama
Perusahaan mewakili Direksi dalam pertanggung-jawaban tersebut.
(3) Berdasarkan pasal 1 Bab I Undang-undang ini Direksi bertanggung-jawab kepada
Menteri Pertambangan sejauh menyangkut segi-segi pengusahaan.

12 | E k o n o m i M i g a s

(4) Tata-tertib dan cara menjalankan pekerjaan Direksi diatur dalam suatu peraturan yang
ditetapkan olehDewan Komisaris Pemerintah.
(5) Gaji dan penghasilan lain daripada Anggota Direksi ditetapkan oleh Dewan Komisaris
Pemerintah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
(6) Kepuusan-keputusan Direksi diambil atas dasar musyawarah untuk mufakat.
(7) Dalam hal tidak tercapai kesepakatan pendapat terhadap masalah-masalah yang
dibicarakan dlaam Direksi, maka keputusan diambil dengan pemungutan suara.
(8) Dalam hal pemungutan suara tidak menghasilkan keputusan, maka Direksi Utama
Perusahaan mengambil keputusan.
Pasal 20
(1) Tugas Direksi adalah :
a. Memimpin dan mengurus serta mengendalikan Perusahaan sesuai dengan tujuan
Perusahaan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini;
b. Melaksanakan kebijaksanaan umum dalam mengurus Perusahaan yang telah
c.
d.
e.
f.

ditentukanoleh Dewan Komisaris Pemerintah;


Menyiapkan rencana kerja tahunan Perusahaan;
Menyiapkan anggaran Perusahaan berdasarkan rencana kerja tahunan Perusahaan;
Mengurus dan memelihara kekayaan Perusahaan;
Menyiapkan susunan organisasi Perusahaan serta anak-anak dan atau cabang-cabang

Perusahaan, dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku;


g. Memberikan segala keterangan yang diperlukan Dewan
Komisaris
Pemerintah dan Departemen Pertambangan;
h. Mengangkat dan memberhentikan Pegawai Perusahaan menurut peraturan
kepegawaian Perusahaan dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan
i.

yang berlaku;
Menetapkan gaji, pensiun dan atau penghasilan lain dari pada pegawai Perusahaan

sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.


(2) Dalam menetapkan peraturan gaji dan penghasilan lain dari pada pegawai Perusahaan
termaksud pada ayat (1) huruf i pasal ini Direksi harus mendapat persetujuan Dewan
Komisaris Pemerintah.
Pasal 21
(1) Anggota Direksi diangkat dan diberhentikan oleh Presiden untuk jangka waktu selamalamanya 5 (lima) tahun. Setelah masa jabatan tersebut berakhir yang bersangkutan dapat
diangkat kembali.
(2) Syarat-syarat untuk pengangkatan Anggota Direksi termaksud pada ayat (1) pasal ini
ditetapkan denngan Peraturan Pemerintah.
(3) Presiden dapat memberhentikan Anggota Direksi setelah mendengar Dewan Komisaris
Pemerintah, meskipun masa jabatan yang bersangkutan belum berakhir dalam hal-hal
tersebut di bawah ini
a. Atas permintaan sendiri;
13 | E k o n o m i M i g a s

b. Karena melakukan tindakan atau menunjukkan sikap yang merugikan Perusahaan


atau bertentangan dengan kepentingan Negara;
c. Karena menjadi anggota sesuatu organisasi terlarang;
d. Karena sesuatu hal yang menyebabkan tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik;
e. Karena meninggal dunia.
(4) Dalam hal terdapat tuduhan termaksud pada ayat (3) huruf-huruf b dan c pasal ini, maka
Anggota Direksi yang bersangkutan dapat diberhentikan untuk sementara dari tugasnya
oleh Dewan Komisaris Pemerintah. Pemberhentian sementara tersebut diberitahukan
secara tertulis kepada yang bersangkutan disertai alasan-alasan yang menyebabkan
tindakan tersebut.
(5) Kepada Anggota Direksi yang dikenakan pemberhentian sementara diberikan
kesempatan untuk membela diri secara tertulis kepada Presiden dalam jangka waktu 2
(dua) mingu setelah yang bersangkutan diberitahukan tentang keputusan tersebut.
(6) Apabila dalam jangka waktu 2 (dua) bulan sejak tanggal pemberhentian sementara tidak
ada pengesahan atau keputusan Presiden tentang hal tersebut, maka pemberhentian
sementara tersebut menjadi batal.
(7) Apabila pelanggaran sebagaimana tersebut pada ayat (3) huruf-huruf b dan c pasal ini
merupakan suatu pelanggaran hukum pidana, maka pemberhentian tersebut merupakan
pemberhentian tidak dengan hormat.
Pasal 22
(1) Anggota Direksi adalah warga negara Indonesia.
(2) Antara para Anggota Direksi tidak boleh ada hubungan keluarga sampai derajat ketiga,
baik menurut garis lurus maupun menurut garis kesamping termaksud menantu dan ipar.
Jadi sesudah pengangkatannya mereka masuk hubungan keluarga yang terlarang itu,
maka salah seorang diantara mereka tidak boleh melanjutkn jabatannya, kecuali diijinkan
oleh Presiden.
(3) Anggota Direksi tidak boleh merangkap jabatan lain kecuali dengan iji

Dewan

Komisaris atau untuk jabatan yang dipikulkan oleh Pemerintah kepadanya.


(4) Anggota Direksi tidak boleh mempunyai kepentingan pribadi langsung atau tidak
langsung dalam perkumpulan/perusahaan lain yang bertujuan mencari laba, kecuali
dengan ijin Presiden.
Pasal 23
(1) Direktur Utama mewakili Perusahaan di dalam dan di luar pengadilan.
(2) Direktur Utama dapat menyerahkan kekuasaan termaksud pada ayat (1) pasal ini kepada
seorang atau beberapa oarang Direktur yang khusus ditunjuk untuk hal tersebut atau
seorang atau beberapa orang pegawai Perusahaan, baik sendiri maupun bersama-sama
atau kepada orang/badan lain.
Pasal 24
14 | E k o n o m i M i g a s

Peraturan-peraturan tentang tuntutan ganti rugi terhadap pegawai negeri bukan Bendaharawan
berlaku juga terhadap Angota Direksi dan Pegawai Perusahaan.
BAB IX
TAHUN BUKU
Pasal 25
Tahun buku Perusahaan adalah tahun takwin, kecuali jika ditetapkan lain oleh Pemerintah.
BAB X
ANGGARAN PERUSAHAAN
Pasal 26
(1) Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku baru mulai
berlaku, Direksi diwajibkan menyampaikan kepada Dewan Komisaris Pemerintah
anggaran Perusahaan yang disusun sedemikian rupa, sehingga :
a. Menggambarkan dnegan jelas kegiatan Perusahaan serta kegiatan anak-anak
Perusahaan dan penyertaan-penyertaannya;
b. Mencakup rencana kerja kegiatan operasi dan rencana investasi Perusahaan;
c. Dalam rangka kerjasama dnegna kontraktir-kontraktor Kontrak Production Sharing,
maka Perusahaan diwajibkan untuk mengajukan anggaran tersendiri mengenai hal
tersebut.
(2) Anggaran Perusahaan termaksud pada ayat (1) pasal ini baru mulai berlaku setelah
mendapat persetujuan Dewan Komsiaris Pemerintah.
(3) Apabila sampai permulaan tahun buku Dewan Komisaris Pemerintah tidak
mengemukakan-keberatannya, amak anggaran Perusahaan dan rencana kerja Perusahaan
berlaku sepenuhnya.
(4) Tiap perobahan atas anggaran Perusahaan dan rencana kerja Perusahaan yang terjadi
dalam tahun buku yang bersangkutan harus mendapat persetujuan dari Dewan Komisaris
Pemerintah.
(5) Setiap 3 (tiga) bulan sekali Direksi menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan dari
pada anggaran Perusahaan dan laporan kegiatan lainnya kepada Dewan Komisaris
Pemerintah dan Departemen Pertambangan.
Pasal 27
Untuk hal-hal tersebut di bawah ini Direksi diwajibkan meminta persetujuan lebih dahulu dari
Dewan Komisaris Pemerintah:
a. Tindakan-tindakan yang memngikat kekayaan Perusahaan sebagai jaminan;
b. Melakukan pinjaman yang melebihi sesuatu jumlah yang akan ditetapkan oleh Dewan
Komisaris Pemerintahan;
c. Mendirikan anak-anak Perusahaan atau mengadakan penyertaan,
d. Mengadakan perjanjian/kontrak pembelian dan penjualan yang sifat dan besarnya akan
ditetapkan oleh Dewan Komisaris Pemerintah.
Pasal 28

15 | E k o n o m i M i g a s

Semua alat liquide pada dasrnya disimoan dalam Bank milik Negara, tetapi untuk kelancaran
jalnnya Perusahaan dapat pula disiman pada Bank-bank lain dengna persetujuan Dewan
Komisaris pemerintah.
BAB XI
LAPORAN PERHITUNGAN TAHUNAN
Pasal 29
(1) Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah tahun buku berakhir
Direksi diwajibkan menyampaikan laporan perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca
dan perhitungan laba dan rugi Perusahaan kepada Dewan Komisaris Pemerintah untuk
disahkan. Perhitungan tahunan yang telah disahkan tersbeut disampaikan oleh Direksi
kepada Badan pemeriksa keuangan, Menteri dalam bidang Pertambangan dan Menteri
Keuangan.
(2) Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah menerima perhitungan tahunan
Dewan Komisaris Pemerintah tidak mengemukakan keberatannya, maka perhitungan
tahunan tersebut dianggap telah disahkan.
(3) Pengesahan tersebut pada ayat (2) pasal ini memberikan oembebasan tanggung-jawab
kepada Direksi terhadap segala sesuatu yang termuat dalam perhitungan tahunan
tersebut.
(4) Direktorat Akuntan Negara bertugas mengadakan pemerikasaan (audit) terhdap
perhitungan tahunan.
(5) Neraca dan perhitungan laba-rugi Perusahaan yang telah disahkan oleh Dewan Komisaris
Pemerintah diumumkan secara luas. Cara pengumuman tersebut ditentukan olehDewan
Komisaris Pemerintah.
(6) Penggunaan dan penetapan laba perusahaan diatur lebih lanjut dnegna Peraturan
Pemerintah.
BAB XII
PEMBUBARAN
Pasal 30
(1) Pembubaran Perusahaan dan penunjukkan likwidaturnya ditetapkan dengan Undangundang.
(2) Semua kekayaan Perusahaan setelah diadakan likwidasi menjadi milik negara.
(3) Likwidaturnya bertanggung-jawab kepada Pemerintah atas pelaksanaan likwidasi
Perusahaan.
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN

16 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 31
(1) Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini Perusahaan Negara Pertambangan
minyak dan gas Bumi Nasional (P.N. PERTAMINA) yang didirikan dengan Peraturan
Pemerintah No. 27 tahun 1968 (Lembaran Negara Tahun1968 No.44) dinyatakan bubar
dan semua hak, kewajiban, kekayaan termasuk cadangan-cadangan, perlengkapan
termasuk para [egawai dan usaha-usaha P.N. PERTAMINA beralih kepada Perusahaan.
(2) Segala hak dan kewajiban serta akibat-akibat yang timbul dari suatu perjanjian/kontrak
antara P.N. PERTAMINA dengan fihak lain yang beralih menjadi hak dan kewajiban
Perusahaan.
Pasal 32
(1) Sebelum diangkat Direksi sebagaimana termaksud dalam pasal 21 Undang-undang ini,
maka Direksi P.N. PERTAMINA yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang
ini bertindak sebagai Direksi Perusahaan.
(2) Dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah berlakunya Undang-undang ini, Pemerintah
menetapkan Direksi dan Dewan Komisaris Pemerintah, sesuai dengan Ketentuanketentuan dalam Undang-undang ini.
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 33
(1) Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-undang ini ditetapkan lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Dengan berlaku Undang-undang ini, maka Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1968
(Lembaran-Negara tahun 1968 No. 44) dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 34
(1) Undang-undang ini disebut Undang-undang PERTAMINA.
(2) Undang-undang ini mulai berlaku pada hari tanggal diundangkan.
3. Undang-undang Migas No. 22 Tahun 2002

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 22 TAHUN 2001
TENTANG
MINYAK DAN GAS BUMI

17 | E k o n o m i M i g a s

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan
dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat, termasuk aspal, lilin mineral atau
ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari proses penambangan, tetapi tidak termasuk
batubara atau endapan hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari
kegiatan yang tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
2. Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi tekanan dan
temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari proses penambangan Minyak
dan Gas Bumi;
3. Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak Bumi dan Gas Bumi;
4. Bahan Bakar Minyak adalah bahan bakar yang berasal dan/atau diolah dari Minyak
Bumi;
5. Kuasa Pertambangan adalah wewenang yang diberikan Negara kepada Pemerintah untuk
menyelenggarakan kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi;
6. Survei Umum adalah kegiatan lapangan yang meliputi pengumpulan, analisis, dan
penyajian

data

yang

berhubungan

dengan

informasi

kondisi

geologi

untuk

memperkirakan letak dan potensi sumber daya Minyak dan Gas Bumi di luar Wilayah
Kerja;
7. Kegiatan Usaha Hulu adalah kegiatan usaha yang berintikan atau bertumpu pada
kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi;
8. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi
geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan Minyak dan Gas Bumi
di Wilayah Kerja yang ditentukan;
9. Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan
Gas Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan
penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan
untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain
yang mendukungnya;
10. Kegiatan Usaha Hilir adalah kegiatan usaha yang berintikan atau bertumpu pada kegiatan
usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan/atau Niaga;
11. Pengolahan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagian-bagian, mempertinggi
mutu, dan mempertinggi nilai tambah Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi, tetapi tidak
termasuk pengolahan lapangan;

18 | E k o n o m i M i g a s

12. Pengangkutan adalah kegiatan pemindahan Minyak Bumi, Gas Bumi, dan/atau hasil
olahannya dari Wilayah Kerja atau dari tempat penampungan dan Pengolahan, termasuk
pengangkutan Gas Bumi melalui pipa transmisi dan distribusi;
13. Penyimpanan adalah kegiatan penerimaan, pengumpulan,

penampungan,

dan

pengeluaran Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi;


14. Niaga adalah kegiatan pembelian, penjualan, ekspor, impor Minyak Bumi dan/atau hasil
olahannya, termasuk Niaga Gas Bumi melalui pipa;
15. Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia adalah seluruh wilayah daratan, perairan, dan
landas kontinen Indonesia;
16. Wilayah Kerja adalah daerah tertentu di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia
untuk pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi;
17. Badan Usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis usaha
bersifat tetap, terus-menerus dan didirikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
18. Bentuk Usaha Tetap adalah badan usaha yang didirikan dan berbadan hukum di luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang melakukan kegiatan di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib mematuhi peraturan perundangundangan yang berlaku di Republik Indonesia;
19. Kontrak Kerja Sama adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama lain
dalam kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara dan
hasilnya dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
20. Izin Usaha adalah izin yang diberikan kepada Badan Usaha untuk melaksanakan
Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan dan/atau Niaga dengan tujuan memperoleh
keuntungan dan/atau laba;
21. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para Menteri;
22. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonom yang lain
sebagai Badan Eksekutif Daerah;
23. Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian
Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi;
24. Badan Pengatur adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengaturan dan
pengawasan terhadap penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Gas
Bumi pada Kegiatan Usaha Hilir;
25. Menteri adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan
usaha Minyak dan Gas Bumi.

BAB II
AZAS DAN TUJUAN
Pasal 2
19 | E k o n o m i M i g a s

Penyelenggaraan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi yang diatur dalam Undang-undang ini
berasaskan ekonomi kerakyatan, keterpaduan, manfaat, keadilan, keseimbangan, pemerataan,
kemakmuran bersama dan kesejahteraan rakyat banyak, keamanan, keselamatan, dan
kepastian hukum serta berwawasan lingkungan.
Pasal 3
Penyelenggaraan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi bertujuan :
a. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha Eksplorasi dan
Eksploitasi secara berdaya guna, berhasil guna, serta berdaya saing tinggi dan
berkelanjutan atas Minyak dan Gas Bumi milik negara yang strategis dan tidak
terbarukan melalui mekanisme yang terbuka dan transparan;
b. menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian usaha Pengolahan, Pengangkutan,
Penyimpanan, dan Niaga secara akuntabel yang diselenggarakan melalui mekanisme
persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan;
c. menjamin efisiensi dan efektivitas tersedianya Minyak Bumi dan Gas Bumi, baik sebagai
sumber energi maupun sebagai bahan baku, untuk kebutuhan dalam negeri;
d. mendukung dan menumbuhkembangkan kemampuan nasional untuk lebih mampu
bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional;
e. meningkatkan pendapatan negara untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya
bagi perekonomian nasional dan mengembangkan serta memperkuat posisi industri dan
f.

perdagangan Indonesia;
menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat yang
adil dan merata, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup.

BAB III
PENGUASAAN DAN PENGUSAHAAN
Pasal 4
(1) Minyak dan Gas Bumi sebagai sumber daya alam strategis takterbarukan yang
terkandungdi dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan kekayaan
nasional yang dikuasai oleh negara.
(2) Penguasaan oleh negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan oleh
Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan.
(3) Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 23.
Pasal 5
20 | E k o n o m i M i g a s

Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi terdiri atas :


1.
2.

Kegiatan Usaha Hulu yang mencakup :


a. Eksplorasi;
b. Eksploitasi.
Kegiatan Usaha Hilir yang mencakup :
a. Pengolahan;
b. Pengangkutan;
c. Penyimpanan;
d. Niaga.
Pasal 6

(1) Kegiatan Usaha Hulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 1 dilaksanakan dan
dikendalikan melalui Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka
19.
(2) Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling sedikit memuat
persyaratan :
a. kepemilikan sumber daya alam tetap di tangan Pemerintah sampai pada titik
penyerahan;
b. pengendalian manajemen operasi berada pada Badan Pelaksana;
c. modal dan risiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap.
Pasal 7
(1) Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 2 dilaksanakan dengan
Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 20.
(2) Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 2 diselenggarakan
melalui mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat, dan transparan.
Pasal 8
(1) Pemerintah memberikan prioritas terhadap pemanfaatan Gas Bumi untuk kebutuhan
dalam negeri dan bertugas menyediakan cadangan strategis Minyak Bumi guna
mendukung penyediaan Bahan Bakar Minyak dalam negeri yang diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
(2) Pemerintah wajib menjamin ketersediaan dan kelancaran pendistribusian Bahan Bakar
Minyak yang merupakan komoditas vital dan menguasai hajat hidup orang banyak di
seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(3) Kegiatan usaha Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa yang menyangkut kepentingan
umum, pengusahaannya diatur agar pemanfaatannya terbuka bagi semua pemakai.

21 | E k o n o m i M i g a s

(4) Pemerintah bertanggung jawab atas pengaturan dan pengawasan kegiatan usaha
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) yang pelaksanaannya dilakukan oleh
Badan Pengatur.
Pasal 9
(1) Kegiatan Usaha Hulu dan Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
angka 1 dan angka 2 dapat dilaksanakan oleh :
a. badan usaha milik negara;
b. badan usaha milik daerah;
c. koperasi; usaha kecil;
d. badan usaha swasta.
(2) Bentuk Usaha Tetap hanya dapat melaksanakan Kegiatan Usaha Hulu.
Pasal 10
(1) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melakukan Kegiatan Usaha Hulu dilarang
melakukan Kegiatan Usaha Hilir.
(2) Badan Usaha yang melakukan Kegiatan Usaha Hilir tidak dapat melakukan Kegiatan
Usaha Hulu.
BAB IV
KEGIATAN USAHA HULU
Pasal 11
(1) Kegiatan Usaha Hulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 1 dilaksanakan oleh
Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap berdasarkan Kontrak Kerja Sama dengan Badan
Pelaksana.
(2) Setiap Kontrak Kerja Sama yang sudah ditandatangani harus diberitahukan secara tertulis
kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(3) Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memuat paling sedikit
ketentuan-ketentuan pokok yaitu :
a. penerimaan negara;
b. Wilayah Kerja dan pengembaliannya;
c. kewajiban pengeluaran dana;
d. perpindahan kepemilikan hasil produksi atas Minyak dan Gas Bumi;
e. jangka waktu dan kondisi perpanjangan kontrak;
f. penyelesaian perselisihan;
g. kewajiban pemasokan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk kebutuhan dalam
h.
i.
j.
k.

negeri;
berakhirnya kontrak;
kewajiban pascaoperasi pertambangan;
keselamatan dan kesehatan kerja;
pengelolaan lingkungan hidup;
22 | E k o n o m i M i g a s

l.
m.
n.
o.
p.
q.

pengalihan hak dan kewajiban;


pelaporan yang diperlukan;
rencana pengembangan lapangan;
pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri;
pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat;
pengutamaan penggunaan tenaga kerja Indonesia.
Pasal 12

(1) Wilayah Kerja yang akan ditawarkan kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap
ditetapkan oleh Menteri setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah.
(2) Penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh Menteri.
(3) Menteri menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberi wewenang
melakukan kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi pada Wilayah Kerja sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2).
Pasal 13
(1) Kepada setiap Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap hanya diberikan 1 (satu) Wilayah
Kerja.
(2) Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap mengusahakan beberapa Wilayah
Kerja, harus dibentuk badan hukum yang terpisah untuk setiap Wilayah Kerja.
Pasal 14
(1) Jangka waktu Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1)
dilaksanakan paling lama 30 (tiga puluh) tahun.
(2) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dapat mengajukan perpanjangan jangka waktu
Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lama 20 (dua puluh)
tahun.
Pasal 15
(1) Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) terdiri atas jangka
waktu Eksplorasi dan jangka waktu Eksploitasi.
(2) Jangka waktu Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan 6 (enam)
tahun dan dapat diperpanjang hanya 1 (satu) kali periode yang dilaksanakan paling lama 4
(empat) tahun.
Pasal 16
Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib mengembalikan sebagian Wilayah Kerjanya
secara bertahap atau seluruhnya kepada Menteri.
23 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 17
Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang telah mendapatkan persetujuan
pengembangan lapangan yang pertama dalam suatu Wilayah Kerja tidak melaksanakan
kegiatannya dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak berakhirnya jangka waktu
Eksplorasi wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerjanya kepada Menteri.
Pasal 18
Pedoman, tata cara, dan syarat-syarat mengenai Kontrak Kerja Sama, penetapan dan
penawaran Wilayah Kerja, perubahan dan perpanjangan Kontrak Kerja Sama, serta
pengembalian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13,
Pasal 14, Pasal 15, Pasal 16, dan Pasal 17 diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 19
(1) Untuk menunjang penyiapan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1), dilakukan Survei Umum yang dilaksanakan oleh atau dengan izin Pemerintah.
(2) Tata cara dan persyaratan pelaksanaan Survei Umum sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 20
(1) Data yang diperoleh dari Survei Umum dan/atau Eksplorasi dan Eksploitasi adalah milik
negara yang dikuasai oleh Pemerintah.
(2) Data yang diperoleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap di Wilayah Kerjanya dapat
digunakan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dimaksud selama jangka waktu
Kontrak Kerja Sama.
(3) Apabila Kontrak Kerja Sama berakhir, Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib
menyerahkan seluruh data yang diperoleh selama masa Kontrak Kerja Sama kepada
Menteri melalui Badan Pelaksana.
(4) Kerahasiaan data yang diperoleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap di Wilayah Kerja
berlaku selama jangka waktu yang ditentukan.
(5) Pemerintah mengatur, mengelola, dan memanfaatkan data sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) untuk merencanakan penyiapan pembukaan Wilayah Kerja.
(6) Pelaksanaan ketentuan mengenai kepemilikan, jangka waktu penggunaan, kerahasiaan,
pengelolaan, dan pemanfaatan data sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat
(3), ayat (4), dan ayat (5) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 21

24 | E k o n o m i M i g a s

(1) Rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dalam suatu
Wilayah Kerja wajib mendapatkan persetujuan Menteri berdasarkan pertimbangan dari
Badan Pelaksana dan setelah berkonsultasi dengan Pemerintah Daerah Provinsi yang
bersangkutan.
(2) Dalam mengembangkan dan memproduksi lapangan Minyak dan Gas Bumi, Badan
Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib melakukan optimasi dan melaksanakannya sesuai
dengan kaidah keteknikan yang baik.
(3) Ketentuan mengenai pengembangan lapangan, pemroduksian cadangan Minyak dan Gas
Bumi, dan ketentuan mengenai kaidah keteknikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
Pasal 22
(1) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap wajib menyerahkan paling banyak 25% (dua
puluh lima persen) bagiannya dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.
BAB V
KEGIATAN USAHA HILIR
Pasal 23
(1) Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 2, dapat dilaksanakan
oleh Badan Usaha setelah mendapat Izin Usaha dari Pemerintah.
(2) Izin Usaha yang diperlukan untuk kegiatan usaha Minyak Bumi dan/atau kegiatan usaha
Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibedakan atas :
a. Izin Usaha Pengolahan;
b. Izin Usaha Pengangkutan;
c. Izin Usaha Penyimpanan;
d. Izin Usaha Niaga.
(3) Setiap Badan Usaha dapat diberi lebih dari 1 (satu) Izin Usaha sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 24
(1) Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 paling sedikit memuat :
a. nama penyelenggara;
b. jenis usaha yang diberikan;
c. kewajiban dalam penyelenggaraan pengusahaan;
d. syarat-syarat teknis.
25 | E k o n o m i M i g a s

(2) Setiap Izin Usaha yang telah diberikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Pasal 25
(1) Pemerintah dapat menyampaikan teguran tertulis, menangguhkan kegiatan, membekukan
kegiatan, atau mencabut Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 berdasarkan :
a. pelanggaran terhadap salah satu persyaratan yang tercantum dalam Izin Usaha;
b. pengulangan pelanggaran atas persyaratan Izin Usaha;
c. tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini.
(2) Sebelum melaksanakan pencabutan Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
Pemerintah terlebih dahulu memberikan kesempatan selama jangka waktu tertentu kepada
Badan Usaha untuk meniadakan pelanggaran yang telah dilakukan atau pemenuhan
persyaratan yang ditetapkan.
Pasal 26
Terhadap kegiatan pengolahan lapangan, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan hasil
produksi sendiri sebagai kelanjutan dari Eksplorasi dan Eksploitasi yang dilakukan Badan
Usaha atau Bentuk Usaha Tetap tidak diperlukan Izin Usaha tersendiri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 23.
Pasal 27
(1) Menteri menetapkan rencana induk jaringan transmisi dan distribusi gas bumi nasional.
(2) Terhadap Badan Usaha pemegang Izin Usaha Pengangkutan Gas Bumi melalui jaringan
pipa hanya dapat diberikan ruas Pengangkutan tertentu.
(3) Terhadap Badan Usaha pemegang Izin Usaha Niaga Gas Bumi melalui jaringan pipa
hanya dapat diberikan wilayah Niaga tertentu.
Pasal 28
(1) Bahan Bakar Minyak serta hasil olahan tertentu yang dipasarkan di dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat wajib memenuhi standar dan mutu yang ditetapkan oleh
Pemerintah.
(2) Harga Bahan Bakar Minyak dan harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan
usaha yang sehat dan wajar.
(3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak
mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan masyarakat tertentu.
Pasal 29

26 | E k o n o m i M i g a s

(1) Pada wilayah yang mengalami kelangkaan Bahan Bakar Minyak dan pada daerah-daerah
terpencil, fasilitas Pengangkutan dan Penyimpanan termasuk fasilitas penunjangnya,
dapat dimanfaatkan bersama pihak lain.
(2) Pelaksanaan pemanfaatan fasilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur oleh
Badan Pengatur dengan tetap mempertimbangkan aspek teknis dan ekonomis.
Pasal 30
Ketentuan mengenai usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan Niaga sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VI
PENERIMAAN NEGARA
Pasal 31
(1) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan Kegiatan Usaha Hulu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) wajib membayar penerimaan negara yang
berupa pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak.
(2) Penerimaan negara yang berupa pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas :
a. pajak-pajak;
b. bea masuk, dan pungutan lain atas impor dan cukai;
c. pajak daerah dan retribusi daerah.
(3) Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas :
a. bagian negara;
b. pungutan negara yang berupa iuran tetap dan iuran Eksplorasi dan Eksploitasi;
c. bonus-bonus.
(4) Dalam Kontrak Kerja Sama ditentukan bahwa kewajiban membayar pajak sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) huruf a dilakukan sesuai dengan :
a. ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku pada
saat Kontrak Kerja Sama ditandatangani; atau
b. ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.
(5) Ketentuan mengenai penetapan besarnya bagian negara, pungutan negara, dan bonus
sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), serta tata cara penyetorannya diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.
(6) Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) merupakan
penerimaan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, yang pembagiannya ditetapkan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

27 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 32
Badan Usaha yang melaksanakan Kegiatan Usaha Hilir sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23 wajib membayar pajak, bea masuk dan pungutan lain atas impor, cukai, pajak daerah dan
retribusi daerah, serta kewajiban lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
BAB VII
HUBUNGAN KEGIATAN USAHA MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN HAK ATAS
TANAH
Pasal 33
(1) Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5
dilaksanakan di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia.
(2) Hak atas Wilayah Kerja tidak meliputi hak atas tanah permukaan bumi.
(3) Kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi tidak dapat dilaksanakan pada :
a. tempat pemakaman, tempat yang dianggap suci, tempat umum, sarana dan prasarana
umum, cagar alam, cagar budaya, serta tanah milik masyarakat adat;
b. lapangan dan bangunan pertahanan negara serta tanah di sekitarnya;
c. bangunan bersejarah dan simbol-simbol negara;
d. bangunan, rumah tinggal, atau pabrik beserta tanah pekarangan sekitarnya, kecuali
dengan izin dari instansi Pemerintah, persetujuan masyarakat, dan perseorangan yang
berkaitan dengan hal tersebut.
(4) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang bermaksud melaksanakan kegiatannya dapat
memindahkan bangunan, tempat umum, sarana dan prasarana umum sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3) huruf a dan huruf b setelah terlebih dahulu memperoleh izin dari
instansi Pemerintah yang berwenang.
Pasal 34
(1) Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap akan menggunakan bidang-bidang
tanah hak atau tanah negara di dalam Wilayah Kerjanya, Badan Usaha atau Bentuk Usaha
Tetap yang bersangkutan wajib terlebih dahulu mengadakan penyelesaian dengan
pemegang hak atau pemakai tanah di atas tanah negara, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Penyelesaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara musyawarah dan
mufakat dengan cara jual beli, tukar-menukar, ganti rugi yang layak, pengakuan atau
bentuk penggantian lain kepada pemegang hak atau pemakai tanah di atas tanah negara.

28 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 35
Pemegang hak atas tanah diwajibkan mengizinkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap
untuk melaksanakan Eksplorasi dan Eksploitasi di atas tanah yang bersangkutan, apabila :
a. sebelum kegiatan dimulai, terlebih dahulu memperlihatkan Kontrak Kerja Sama atau
salinannya yang sah, serta memberitahukan maksud dan tempat kegiatan yang akan
dilakukan;
b. dilakukan terlebih dahulu penyelesaian atau jaminan penyelesaian yang disetujui oleh
pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah di atas tanah negara sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 34.
Pasal 36
(1) Dalam hal Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap telah diberikan Wilayah Kerja, maka
terhadap bidang-bidang tanah yang dipergunakan langsung untuk kegiatan usaha Minyak
dan Gas Bumi dan areal pengamanannya, diberikan hak pakai sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib memelihara serta menjaga bidang
tanah tersebut.
(2) Dalam hal pemberian Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi areal
yang luas di atas tanah negara, maka bagian-bagian tanah yang tidak digunakan untuk
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi, dapat diberikan kepada pihak lain oleh menteri
yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang agraria atau pertanahan dengan
mengutamakan masyarakat setempat setelah mendapat rekomendasi dari Menteri.
Pasal 37
Ketentuan mengenai tata cara penyelesaian penggunaan tanah hak atau tanah negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
BAB VIII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
Pasal 38

29 | E k o n o m i M i g a s

Pembinaan terhadap kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi dilakukan oleh Pemerintah.
Pasal 39
(1) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 meliputi :
a. penyelenggaraan urusan Pemerintah di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
b. penetapan kebijakan mengenai kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi berdasarkan
cadangan dan potensi sumber daya Minyak dan Gas Bumi yang dimiliki, kemampuan
produksi, kebutuhan Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi dalam negeri, penguasaan
teknologi, aspek lingkungan dan pelestarian lingkungan hidup, kemampuan nasional,
dan kebijakan pembangunan.
(2) Pelaksanaan pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara cermat,
transparan, dan adil terhadap pelaksanaan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 40
(1) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap menjamin standar dan mutu yang berlaku sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta menerapkan kaidah
keteknikan yang baik.
(2) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap menjamin keselamatan dan kesehatan kerja serta
pengelolaan lingkungan hidup dan menaati ketentuan peraturan perundangan-undangan
yang berlaku dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
(3) Pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berupa kewajiban
untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan atas
terjadinya kerusakan lingkungan hidup, termasuk kewajiban pascaoperasi pertambangan.
(4) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha Minyak dan
Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus mengutamakan pemanfaatan
tenaga kerja setempat, barang, jasa, serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun
dalam negeri secara transparan dan bersaing.
(5) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha Minyak dan
Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ikut bertanggung jawab dalam
mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat .
(6) Ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 41
30 | E k o n o m i M i g a s

(1) Tanggung jawab kegiatan pengawasan atas pekerjaan dan pelaksanaan kegiatan usaha
Minyak dan Gas Bumi terhadap ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku berada pada departemen yang bidang tugas dan kewenangannya meliputi kegiatan
usaha Minyak dan Gas Bumi dan departemen lain yang terkait.
(2) Pengawasan atas pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu berdasarkan Kontrak Kerja Sama
dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.
(3) Pengawasan atas pelaksanaan Kegiatan Usaha Hilir berdasarkan Izin Usaha dilaksanakan
oleh Badan Pengatur.
Pasal 42
Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1) meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

konservasi sumber daya dan cadangan Minyak dan Gas Bumi;


pengelolaan data Minyak dan Gas Bumi;
penerapan kaidah keteknikan yang baik;
jenis dan mutu hasil olahan Minyak dan Gas Bumi;
alokasi dan distribusi Bahan Bakar Minyak dan bahan baku;
keselamatan dan kesehatan kerja;
pengelolaan lingkungan hidup;
pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun

i.
j.
k.
l.
m.

dalam negeri;
penggunaan tenaga kerja asing;
pengembangan tenaga kerja Indonesia;
pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat;
penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi Minyak dan Gas Bumi;
kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi sepanjang
menyangkut kepentingan umum.
Pasal 43

Ketentuan mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38,
Pasal 39, Pasal 41, dan Pasal 42 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB IX
BADAN PELAKSANA DAN BADAN PENGATUR
Pasal 44

31 | E k o n o m i M i g a s

(1) Pengawasan terhadap pelaksanaan Kontrak Kerja Sama Kegiatan Usaha Hulu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 1 dilaksanakan oleh Badan Pelaksana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3).
(2) Fungsi Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melakukan pengawasan
terhadap Kegiatan Usaha Hulu agar pengambilan sumber daya alam Minyak dan Gas
Bumi milik negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi
negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(3) Tugas Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah :
a. memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijaksanaannya dalam hal
penyiapan dan penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja Sama;
b. melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama;
c. mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang pertama kali
akan diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri untuk mendapatkan
persetujuan;
d. memberikan persetujuan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana
dimaksud dalam huruf c;
e. memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran;
f. melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan
Kontrak Kerja Sama;
g. menunjuk penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian negara yang dapat
memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.
Pasal 45
(1) Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) merupakan badan hukum
milik negara.
(2) Badan Pelaksana terdiri atas unsur pimpinan, tenaga ahli, tenaga teknis, dan tenaga
administratif.
(3) Kepala Badan Pelaksana diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah berkonsultasi
dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan dalam melaksanakan tugasnya
bertanggung jawab kepada Presiden.
Pasal 46
(1) Pengawasan terhadap pelaksanaan penyediaan dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak
dan Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa dilakukan oleh Badan Pengatur sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4).
(2) Fungsi Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melakukan pengaturan
agar ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi yang ditetapkan
Pemerintah dapat terjamin di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta
meningkatkan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri.

32 | E k o n o m i M i g a s

(3) Tugas Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pengaturan dan
penetapan mengenai :
a. ketersediaan dan distribusi Bahan Bakar Minyak;
b. cadangan Bahan Bakar Minyak nasional;
c. pemanfaatan fasilitas Pengangkutan dan Penyimpanan Bahan Bakar Minyak;
d. tarif pengangkutan Gas Bumi melalui pipa;
e. harga Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil;
f. pengusahaan transmisi dan distribusi Gas Bumi.
(4) Tugas Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mencakup juga tugas
pengawasan dalam bidang-bidang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).
Pasal 47
(1) Struktur Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) terdiri atas komite
dan bidang.
(2) Komite sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas 1 (satu) orang ketua merangkap
anggota dan 8 (delapan) orang anggota, yang berasal dari tenaga profesional.
(3) Ketua dan anggota Komite Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(4) Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) bertanggung jawab kepada
Presiden.
(5) Pembentukan Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) ditetapkan
dengan Keputusan Presiden.
Pasal 48
(1) Anggaran biaya operasional Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45
didasarkan pada imbalan (fee) dari Pemerintah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
(2) Anggaran biaya operasional Badan Pengatur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46
didasarkan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan iuran dari Badan Usaha
yang diaturnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 49
Ketentuan mengenai struktur organisasi, status, fungsi, tugas, personalia, wewenang dan
tanggung jawab serta mekanisme kerja Badan Pelaksana dan Badan Pengatur sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, Pasal 47, dan Pasal
48 diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
BAB X

33 | E k o n o m i M i g a s

PENYIDIKAN
Pasal 50
(1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi diberi wewenang khusus sebagai Penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak
dan Gas Bumi.
(2) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang :
a. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan yang diterima
berkenaan dengan tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
b. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan yang diduga melakukan tindak
pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
c. Minyak dan Gas Bumi;
d. menggeledah tempat dan/atau sarana yang diduga digunakan untuk melakukan tindak
pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
e. melakukan pemeriksaan sarana dan prasarana kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi
dan menghentikan penggunaan peralatan yang diduga digunakan untuk melakukan
f.

tindak pidana;
menyegel dan/atau menyita alat kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi yang

digunakan untuk melakukan tindak pidana sebagai alat bukti;


g. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan
perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi;
h. menghentikan penyidikan perkara tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan
Gas Bumi.
(3) Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan
dimulainya penyidikan perkara pidana kepada Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib menghentikan penyidikannya
dalam hal peristiwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a tidak terdapat cukup
bukti dan/atau peristiwanya bukan merupakan tindak pidana.
(5) Pelaksanaan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XI
KETENTUAN PIDANA
Pasal 51

34 | E k o n o m i M i g a s

(1) Setiap orang yang melakukan Survei Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(1) tanpa hak dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda
paling tinggi Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).
(2) Setiap orang yang mengirim atau menyerahkan atau memindahtangankan data
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 tanpa hak dalam bentuk apa pun dipidana dengan
pidana

kurungan

paling

lama

(satu)

tahun

atau

denda

paling

tinggi

Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).


Pasal 52
Setiap orang yang melakukan Eksplorasi dan/atau Eksploitasi tanpa mempunyai Kontrak
Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara
paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp60.000.000.000,00 (enam puluh miliar
rupiah).
Pasal 53
Setiap orang yang melakukan :
a. Pengolahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Pengolahan dipidana
dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling tinggi
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah);
b. Pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Pengangkutan
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling tinggi
Rp40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah);
c. Penyimpanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Penyimpanan
dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi
Rp30.000.000.000,00 (tiga puluh miliar rupiah);
d. Niaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 tanpa Izin Usaha Niaga dipidana dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi Rp30.000.000.000,00
(tiga puluh miliar rupiah).
Pasal 54
Setiap orang yang meniru atau memalsukan Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi dan hasil
olahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp60.000.000.000,00 (enam puluh miliar
rupiah).
Pasal 55
35 | E k o n o m i M i g a s

Setiap orang yang menyalahgunakan Pengangkutan dan/atau Niaga Bahan Bakar Minyak
yang disubsidi Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan
denda paling tinggi Rp60.000.000.000,00 (enam puluh miliar rupiah).
Pasal 56
(1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas
nama Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap, tuntutan dan pidana dikenakan terhadap
Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dan/atau pengurusnya.
(2) Dalam hal tindak pidana dilakukan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap, pidana
yang dijatuhkan kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap tersebut adalah pidana
denda, dengan ketentuan paling tinggi pidana denda ditambah sepertiganya.
Pasal 57
(1) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 adalah pelanggaran.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54, dan Pasal 55
adalah kejahatan.
Pasal 58
Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini, sebagai pidana tambahan
adalah pencabutan hak atau perampasan barang yang digunakan untuk atau yang diperoleh
dari tindak pidana dalam kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 59
Pada saat Undang-undang ini berlaku :
a. dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun dibentuk Badan Pelaksana;
b. dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun dibentuk Badan Pengatur.
Pasal 60
Pada saat Undang-undang ini berlaku :

36 | E k o n o m i M i g a s

a. dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, Pertamina dialihkan bentuknya menjadi
Perusahaan Perseroan (Persero) dengan Peraturan Pemerintah;
b. selama Persero sebagaimana dimaksud dalam huruf a belum terbentuk, Pertamina yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 (Lembaran Negara Tahun
1971 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2971) wajib melaksanakan kegiatan
usaha Minyak dan Gas Bumi serta mengatur dan mengelola kekayaan, pegawai dan hal
penting lainnya yang diperlukan;
c. saat terbentuknya Persero yang baru, kewajiban Pertamina sebagaimana dimaksud dalam
huruf b, dialihkan kepada Persero yang bersangkutan.
Pasal 61
Pada saat Undang-undang ini berlaku :
a. Pertamina tetap melaksanakan tugas dan fungsi pembinaan dan pengawasan pengusahaan
kontraktor Eksplorasi dan Eksploitasi termasuk Kontraktor Kontrak Bagi Hasil sampai
terbentuknya Badan Pelaksana;
b. pada saat terbentuknya Persero sebagai pengganti Pertamina, badan usaha milik negara
tersebut wajib mengadakan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana untuk
melanjutkan Eksplorasi dan Eksploitasi pada bekas Wilayah Kuasa Pertambangan
Pertamina dan dianggap telah mendapatkan Izin Usaha yang diperlukan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 24 untuk usaha Pengolahan, Pengangkutan, Penyimpanan, dan
Niaga.
Pasal 62
Pada saat Undang-undang ini berlaku Pertamina tetap melaksanakan tugas penyediaan dan
pelayanan Bahan Bakar Minyak untuk keperluan dalam negeri sampai jangka waktu paling
lama 4 (empat) tahun.
Pasal 63
Pada saat Undang-undang ini berlaku :
a. dengan terbentuknya Badan Pelaksana, semua hak, kewajiban, dan akibat yang timbul
dari Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) antara Pertamina dan pihak lain
beralih kepada Badan Pelaksana;
b. dengan terbentuknya Badan Pelaksana, kontrak lain yang berkaitan dengan kontrak
sebagaimana tersebut pada huruf a antara Pertamina dan pihak lain beralih kepada Badan
Pelaksana;
37 | E k o n o m i M i g a s

c. semua kontrak sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b dinyatakan tetap berlaku
sampai dengan berakhirnya kontrak yang bersangkutan;
d. hak, kewajiban, dan akibat yang timbul dari kontrak, perjanjian atau perikatan selain
sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b tetap dilaksanakan oleh Pertamina
sampai dengan terbentuknya Persero yang didirikan untuk itu dan beralih kepada Persero
tersebut;
e. pelaksanaan perundingan atau negosiasi antara Pertamina dan pihak lain dalam rangka
kerja sama Eksplorasi dan Eksploitasi beralih pelaksanaannya kepada Menteri.
Pasal 64
Pada saat Undang-undang ini berlaku :
a. badan usaha milik negara, selain Pertamina, yang mempunyai kegiatan usaha Minyak dan
Gas Bumi dianggap telah mendapatkan Izin Usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23;
b. pelaksanaan pembangunan yang pada saat Undang-undang ini berlaku sedang dilakukan
badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada huruf a tetap dilaksanakan oleh
badan usaha milik negara yang bersangkutan;
c. dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun, badan usaha milik negara sebagaimana
dimaksud pada huruf a wajib membentuk Badan Usaha yang didirikan untuk kegiatan
usahanya sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini;
d. kontrak atau perjanjian antara badan usaha milik negara sebagaimana dimaksud pada
huruf a dan pihak lain tetap berlaku sampai berakhirnya jangka waktu kontrak atau
perjanjian yang bersangkutan.
BAB XIII
KETENTUAN LAIN
Pasal 65
Kegiatan usaha atas minyak atau gas selain yang dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dan angka
2 sepanjang belum atau tidak diatur dalam Undang-undang lain, diberlakukan ketentuan
Undang-undang ini.
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 66
38 | E k o n o m i M i g a s

(1) Dengan berlakunya Undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku :


a. Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2070);
b. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1962 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Kewajiban Perusahaan
Minyak Memenuhi Kebutuhan Dalam Negeri (Lembaran Negara Tahun 1962 Nomor
80, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2505);
c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan
Gas Bumi Negara (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 76, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2971) berikut segala perubahannya, terakhir diubah dengan UndangUndang Nomor 10 Tahun 1974 (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 3045).
(2) Segala peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 44 Prp. Tahun 1960 tentang
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 133,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2070) dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971
tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Lembaran Negara
Tahun 1971 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2971) dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan peraturan baru
berdasarkan Undang-undang ini.
Pasal 67
Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan

4.

Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 42 TAHUN 2002
TENTANG
BADAN PELAKSANA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI
39 | E k o n o m i M i g a s

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,


BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Minyak Bumi, Gas Bumi, Minyak dan Gas Bumi, Kegiatan Usaha Hulu, Eksplorasi,
Eksploitasi, Wilayah Kerja, Badan Usaha, Bentuk Usaha Tetap, Kontrak Kerja Sama, Badan
Pelaksana, Menteri adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun
2001 tentang Minyak dan Gas Bumi.
2. Departemen adalah departemen yang mempunyai tugas membantu Presiden dalam
menyelenggarakan sebagian tugas Pemerintah di bidang energi dan sumber daya mineral.
3. Pertamina adalah Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara yang dibentuk
berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak
dan Gas Bumi Negara juncto Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi.
BAB II
PEMBENTUKAN DAN STATUS
Pasal 2
(1) Dengan Peraturan Pemerintah ini, dibentuk Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi, yang selanjutnya disebut Badan Pelaksana.
(2) Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berstatus badan hokum milik negara.
Pasal 3
Badan Pelaksana berkedudukan dan berkantor-pusat di Jakarta.
Pasal 4
Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bersifat tidak mencari keuntungan.
BAB III
KEKAYAAN, PEMBIAYAAN, DAN PENGELOLAAN
Pasal 5
(1) Kekayaan Badan Pelaksana merupakan kekayaan negara yang dipisahkan.

40 | E k o n o m i M i g a s

(2) Nilai kekayaan awal Badan Pelaksana ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan
perhitungan bersama oleh Departemen, Departemen Keuangan, dan Pertamina.
(3) Pengalihan kepemilikan dan penghapusan kekayaan Badan Pelaksana dapat dilakukan setelah
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan.
(4) Badan Pelaksana wajib melakukan penatausahaan semua kekayaan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1).
Pasal 6
(1) Badan Pelaksana memperoleh penerimaan berupa imbalan atas pelaksanaan fungsi dan
tugasnya.
(2) Besarnya penerimaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri
Keuangan sebagai suatu persentase dari penerimaan negara dari setiap Kegiatan Usaha Hulu.
(3) Badan Pelaksana wajib menyusun dan menyampaikan rencana anggaran pendapatan dan
belanja serta rencana kerja tahunan Badan Pelaksana kepada Menteri Keuangan setiap tahun
anggaran Badan Pelaksana.
(4) Anggaran pendapatan dan belanja serta rencana kerja tahunan sebagaimana dimaksud dalam
ayat (3) ditetapkan dan disahkan oleh Menteri Keuangan setelah mendapatkan pertimbangan
dari Menteri.
Pasal 7
(1) Badan Pelaksana mengelola dana pembiayaan kegiatan dan dana cadangan pembiayaan
operasional.
(2) Besar dana cadangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan bersamaan dengan
penetapan dan pengesahan anggaran pendapatan dan belanja serta rencana kerja tahunan
Badan Pelaksana oleh Menteri Keuangan.
(3) Surplus dana sebagai selisih penerimaan Badan Pelaksana sebagai-mana dimaksud dalam
Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) dengan dana pembiayaan kegiatan dan dana cadangan
pembiayaan operasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dan penerimaan dari
pengalihan kekayaan Badan Pelaksana merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Pasal 8
Pedoman mengenai pengelolaan kekayaan, tata cara penyusunan anggaran pendapatan dan
belanja serta rencana kerja tahunan Badan Pelaksana ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Pasal 9
(1) Badan Pelaksana mengelola keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
(2) Pengelolaan keuangan Badan Pelaksana dilaksanakan dengan prinsip efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.
BAB IV
ORGANISASI
41 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 10
Badan Pelaksana mempunyai fungsi melakukan pengawasan terhadap Kegiatan Usaha Hulu agar
pengambilan sumber daya alam Minyak dan Gas Bumi milik negara dapat memberikan manfaat
dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 11
Untuk melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, Badan Pelaksana
mempunyai tugas:
a. memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijaksanaannya dalam hal penyiapan dan
penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja Sama;
b. melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama;
c. mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan
diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri untuk mendapatkan persetujuan;
d. memberikan persetujuan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana dimaksud
dalam huruf c;
e. memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran;
f. melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan Kontrak
Kerja Sama;
g. menunjuk penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian negara yang dapat memberikan
keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.
Pasal 12
Dalam menjalankan tugas, Badan Pelaksana memiliki wewenang:
a. membina kerja sama dalam rangka terwujudnya integrasi dan sinkronisasi kegiatan
b.
c.
d.
e.

operasional kontraktor Kontrak Kerja Sama;


merumuskan kebijakan atas anggaran dan program kerja kontraktor Kontrak Kerja Sama;
mengawasi kegiatan utama operasional kontraktor Kontrak Kerja Sama;
membina seluruh aset kontraktor Kontrak Kerja Sama yang menjadi milik negara;
melakukan koordinasi dengan pihak dan/atau instansi terkait yang diperlukan dalam
pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu.
Pasal 13

(1) Badan Pelaksana terdiri atas unsur pimpinan, tenaga ahli, tenaga teknis, dan tenaga
administrasi.
(2) Unsur pimpinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas Kepala Badan Pelaksana,
Wakil Kepala Badan Pelaksana, dan Deputi-deputi.
(3) Deputi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berjumlah paling banyak 5 (lima) orang.
(4) Tenaga Ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berjumlah paling banyak 5 (lima) orang.
Pasal 14
(1) Dalam melaksanakan pengawasan internal pada Badan Pelaksana dibentuk Unit Pengawasan.

42 | E k o n o m i M i g a s

(2) Unit Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipimpin oleh seorang Kepala Unit
Pengawasan yang bertanggung jawab kepada Kepala Badan Pelaksana.
Pasal 15
Tugas dan wewenang Kepala Badan Pelaksana adalah:
a.
b.
c.
d.
e.

memimpin dan mengelola Badan Pelaksana sesuai dengan fungsi dan tugas Badan Pelaksana;
menandatangani Kontrak Kerja Sama;
menyiapkan rencana kerja, dan anggaran pendapatan dan belanja tahunan Badan Pelaksana;
melaksanakan kebijaksanaan Pemerintah di bidang Kegiatan Usaha Hulu;
membuat laporan pelaksanaan tugas dan laporan keuangan Badan Pelaksana secara berkala

kepada Presiden;
f. mewakili Badan Pelaksana di dalam dan di luar Pengadilan;
g. mengangkat dan memberhentikan personalia Badan Pelaksana.
Pasal 16
(1) Wakil Kepala bertugas membantu kelancaran pelaksanaan tugas Kepala Badan Pelaksana.
(2) Dalam hal Kepala Badan Pelaksana berhalangan tetap, Wakil Kepala menjalankan fungsi,
tugas, dan wewenang Kepala Badan Pelaksana sampai dengan diangkat pejabat yang definitif.
Pasal 17

Deputi bertugas membantu Kepala Badan Pelaksana dalam melaksana-kan tugas Kepala
Badan Pelaksana sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
BAB V
PERSONALIA
Pasal 18
(1) Kepala Badan Pelaksana diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah berkonsultasi
dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
(2) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah untuk melakukan uji kemampuan
dan kelayakan bagi calon Kepala Badan Pelaksana oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik
Indonesia dalam hal ini Komisi yang membidangi Minyak dan Gas Bumi.
(3) Kepala Badan Pelaksana dalam melaksanakan tugasnya bertang-gung jawab kepada Presiden.
Pasal 19
Syarat untuk dapat diangkat menjadi Kepala Badan Pelaksana adalah paling kurang :
a.
b.
c.
d.
e.

warga negara Indonesia;


mempunyai integritas dan dedikasi yang tinggi;
memiliki pengetahuan dan kemampuan manajerial dalam bidang minyak dan gas bumi;
tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana kejahatan;
tidak sedang dinyatakan pailit.
Pasal 20
43 | E k o n o m i M i g a s

Wakil Kepala Badan Pelaksana dan Deputi diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atas usul
Kepala Badan Pelaksana.
Pasal 21
(1) Pimpinan Badan Pelaksana tidak boleh mempunyai kepentingan pribadi baik langsung
maupun tidak langsung dalam suatu per-kumpulan atau perusahaan yang bertujuan mencari
keuntungan.
(2) Pimpinan Badan Pelaksana tidak dibenarkan memangku jabatan rangkap sebagaimana
tersebut di bawah ini :
a. Direksi atau Pimpinan pada Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara
lainnya, atau Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap yang ada hubungannya dengan fungsi dan
tugas Badan Pelaksana;
b. Komisaris pada Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap yang ada hubungannya dengan fungsi
dan tugas Badan Pelaksana;
c. Jabatan struktural dalam instansi atau lembaga pemerintah pusat atau daerah;
d. Jabatan-jabatan lainnya, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 22
(1) Batas usia pensiun unsur Pimpinan Badan Pelaksana dan Tenaga Ahli adalah 60 (enam puluh)
tahun.
(2) Batas usia pensiun personalia selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah 56 (lima
puluh enam) tahun.
(3) Dalam hal tertentu dan sangat diperlukan, Presiden dapat memperpanjang masa jabatan
Kepala Badan Pelaksana tiap tahun dan paling banyak 3 (tiga) kali.
Pasal 23
(1) Presiden dapat memberhentikan Kepala Badan Pelaksana, dalam hal :
a. mengundurkan diri;
b. dianggap tidak cakap dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya;
c. melakukan perbuatan atau sikap yang merugikan Badan Pelaksana;
d. melakukan tindakan atau sikap yang bertentangan dengan kepentingan negara;
e. cacat fisik atau mental yang mengakibatkan tidak dapat melaksanakan tugas melebihi 3
(tiga) bulan;
f. dipidana penjara karena melakukan kejahatan.
(2) Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dalam upaya peningkatan
pelaksanaan fungsi dan tugas Badan Pelaksana, Presiden dapat memberhentikan Kepala
Badan Pelaksana.
BAB VI
ANGGARAN DAN RENCANA KERJA TAHUNAN
Pasal 24

44 | E k o n o m i M i g a s

(1) Kepala Badan Pelaksana dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sebelum tahun
buku mulai berlaku, menyampaikan rencana anggaran pendapatan dan belanja serta rencana
kerja tahunan Badan Pelaksana kepada Menteri Keuangan untuk memperoleh pengesahan
setelah mendapatkan pertimbangan dari Menteri.
(2) Pengesahan oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat
pada awal tahun buku baru.
(3) Apabila Menteri Keuangan secara tertulis mengemukakan keberatannya atau menolak
kegiatan yang dimuat dalam rencana anggaran pendapatan dan belanja serta rencana kerja
tahunan Badan Pelaksana sebelum menginjak tahun buku baru, maka Badan Pelaksana
menjalankan anggaran pendapatan dan belanja tahun yang lalu.
(4) Rencana kerja dan/atau anggaran tambahan atau perubahannya yang tertera dalam buku harus
diajukan terlebih dahulu kepada Menteri Keuangan, menurut tatacara dan waktu yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan, untuk memperoleh pengesahannya.
(5) Apabila dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sesudah diajukan permintaan persetujuan, Menteri
Keuangan tidak memberikan keberatan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (3),
maka perubahan rencana kerja dan anggaran dianggap telah disahkan.
Pasal 25
Tahun buku Badan Pelaksana adalah tahun fiskal.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 26
Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku:
a. Pertamina dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan menyerahkan kepada Badan
Pelaksana semua dokumen yang berkaitan dengan pembinaan dan pengawasan kontraktor
Kontrak Bagi Hasil dan kontrak lain yang berkaitan;
b. Kepala Badan Pelaksana dan Direktur Utama Pertamina dalam jangka waktu paling lama 1
(satu) tahun menyelesaikan masalah administratif yang berkaitan dengan kontrak
sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
c. Semua pekerja Pertamina yang sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini menangani
pembinaan dan pengawasan kontraktor Kontrak Bagi Hasil, dipekerjakan pada Badan
Pelaksana dengan ketentuan dalam jangka waktu paling lambat 1 (satu) tahun dapat memilih
status tetap sebagai pekerja Pertamina atau personil Badan Pelaksana;
d. Kepala Badan Pelaksana dan Direktur Utama Pertamina mengatur penyelesaian administrasi
pengalihan pekerja Pertamina sebagai-mana dimaksud dalam huruf c;
e. Gaji dan penghasilan lain personil Badan Pelaksana yang berasal dari Pertamina sebagaimana
dimaksud dalam huruf c pada saat menjadi personil Badan Pelaksana, paling kurang sama
dengan gaji dan penghasilannya pada saat terakhir bekerja di Pertamina;

45 | E k o n o m i M i g a s

f.

Sistem penggolongan gaji dan penghasilan lain dari personalia Badan Pelaksana sama dengan

sistem yang diberlakukan di Pertamina sampai ditetapkan lain oleh Kepala Badan Pelaksana;
g. Seluruh aset negara yang dikelola oleh Pertamina, yang selama ini digunakan untuk
melaksanakan fungsi dan tugas pembinaan dan pengawasan kontraktor Kontrak Bagi Hasil,
beralih pengelolaan dan penggunaannya kepada Badan Pelaksana setelah mendapat
persetujuan dari Menteri Keuangan;
h. Seluruh aset negara yang dikelola oleh Pertamina dan sebelum Peraturan Pemerintah ini
ditetapkan digunakan oleh kontraktor Kontrak Bagi Hasil beralih pengelolaannya kepada
i.

Badan Pelaksana setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan;


Seluruh hak dan kewajiban Pertamina yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi dan tugas
pembinaan dan pengawasan kontraktor Kontrak Bagi Hasil beralih kepada Badan Pelaksana.
Pasal 27

Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku :


a. sampai dengan akhir tahun anggaran 2002, biaya operasional Badan Pelaksana dibebankan
kepada anggaran Pertamina;
b. atas pembebanan biaya operasional Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
Pertamina masih diberikan kompensasi berupa imbalan atas pembinaan dan pengawasan
kontraktor Kontrak Bagi Hasil untuk jangka waktu yang sama.
BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 28
Rincian fungsi, tugas, susunan organisasi, tata kerja, dan aturan personalia, ditetapkan oleh
Kepala Badan Pelaksana, setelah mendapat persetujuan tertulis dari Menteri.

Pasal 29
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

46 | E k o n o m i M i g a s

5. Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 2004


www.hukumonline.com

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 35 TAHUN 2004
TENTANG
KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Minyak Bumi, Gas Bumi, Minyak dan Gas Bumi, Kuasa Pertambangan, Survey Umum,
Kegiatan Usaha Hulu, Eksplorasi, Eksploitasi, Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia,
Wilayah Kerja, Badan Usaha, Bentuk Usaha Tetap, Kontrak Kerja Sama, Pemerintah Pusat
selanjutnya disebut Pemerintah, Pemerintah Daerah, Badan Pelaksana, Menteri adalah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi.
2. Gas Metana Batubara (Coalbed Methane) adalah gas bumi (hidrokarbon) dimana gas metana
merupakan komponen utamanya yang terjadi secara alamiah dalam proses pembentukan
batubara (coalification) dalam kondisi terperangkap dan terserap (terabsorbsi) di dalam
batubara dan/atau lapisan batubara.
3. Wilayah Terbuka adalah bagian dari Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia yang belum
ditetapkansebagai Wilayah Kerja.
4. Kontrak Bagi Hasil adalah suatu bentuk Kontrak Kerja Sama dalam Kegiatan Usaha Hulu
berdasarkan prinsip pembagian hasil produksi.
5. Kontrak Jasa adalah suatu bentuk Kontrak Kerja Sama untuk pelaksanaan Eksploitasi Minyak
dan Gas Bumi berdasarkan prinsip pemberian imbalan jasa atas produksi yang dihasilkan.
6. Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang diberikan wewenang untuk
melaksanakan Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan Kontrak
Kerja Sama dengan Badan Pelaksana.
7. Data adalah semua fakta, petunjuk, indikasi, dan informasi baik dalam bentuk tulisan
(karakter), angka (digital), gambar (analog), media magnetik, dokumen, percontoh batuan,

47 | E k o n o m i M i g a s

fluida, dan bentuk lain yang didapat dari hasil Survey Umum, Eksplorasi dan Eksploitasi
Minyak dan Gas Bumi.
8. Departemen adalah departemen yang bidang tugas dan kewenangannya meliputi kegiatan
usaha Minyak dan Gas Bumi.
9. Pertamina adalah Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara yang dibentuk
berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak
dan Gas Bumi Negara juncto Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas
Bumi.
10. PT. Pertamina (Persero) adalah perusahaan perseroan (Persero) yang dibentuk berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2003, tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero).
BAB II
WILAYAH KERJA
Pasal 2
(1) Kegiatan Usaha Hulu dilaksanakan pada suatu Wilayah Kerja.
(2) Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) direncanakan dan disiapkan oleh
Menteri dengan memperhatikan pertimbangan dari Badan Pelaksana.
Pasal 3
(1) Menteri menetapkan dan mengumumkan Wilayah Kerja yang akan ditawarkan kepada
Badan Usaha dan Bentuk Usaha Tetap.
(2) Dalam penetapan Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri
berkonsultasi dengan Gubernur yang wilayah administrasinya meliputi Wilayah Kerja yang
akan ditawarkan.
(3) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dimaksudkan untuk memberikan
penjelasan dan memperoleh informasi mengenai rencana penawaran wilayah-wilayah
tertentu yang dianggap potensial mengandung sumber daya Minyak dan Gas Bumi menjadi
Wilayah Kerja.
www.hukumonline.com
Pasal 4
(1) Menteri menetapkan kebijakan penawaran Wilayah Kerja berdasarkan pertimbangan teknis,
ekonomis, tingkat risiko, efisiensi, dan berasaskan keterbukaan, keadilan, akuntabilitas dan
persaingan.
(2) Kebijakan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa
penawaran melalui lelang atau penawaran langsung.
Pasal 5
48 | E k o n o m i M i g a s

(1) Penawaran Wilayah Kerja kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dilakukan oleh
Menteri.
(2) Dalam pelaksanaan penawaran Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
Menteri melakukan koordinasi dengan Badan Pelaksana.
(3) Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap dapat mengajukan permohonan kepada Menteri untuk
mendapatkan Wilayah Kerja.
(4) Dalam hal PT. Pertamina (Persero) mengajukan permohonan kepada Menteri untuk
mendapatkan Wilayah Kerja terbuka tertentu, Menteri dapat menyetujui permohonan tersebut
dengan mempertimbangkan program kerja, kemampuan teknis dan keuangan PT. Pertamina
(Persero) dan sepanjang saham PT. Pertamina (Persero) 100% (seratus per seratus) dimiliki
oleh Negara.
(5) PT Pertamina (Persero) sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), tidak dapat mengajukan
permohonan untuk Wilayah Kerja yang telah ditawarkan.
Pasal 6
(1) Menteri menetapkan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagai Kontraktor yang diberi
wewenang melakukan Kegiatan Usaha Hulu pada Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (1).
(2) Dalam pelaksanaan penetapan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), Menteri melakukan koordinasi dengan Badan Pelaksana.
(3) Untuk setiap Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
hanya diberikan satu Wilayah Kerja.
Pasal 7
(1) Kontraktor wajib mengembalikan sebagian Wilayah Kerjanya secara bertahap atau
seluruhnya kepada Menteri melalui Badan Pelaksana, sesuai dengan Kontrak Kerja Sama.
(2) Selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Kontraktor dapat mengembalikan sebagian
atau seluruh Wilayah Kerjanya kepada Menteri melalui Badan Pelaksana sebelum jangka
waktu Kontrak Kerja Sama berakhir.
(3) Kontraktor wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerja kepada Menteri melalui Badan
Pelaksana, setelah jangka waktu Kontrak Kerja Sama berakhir.
Pasal 8
Dalam hal Kontraktor mengembalikan Seluruh Wilayah Kerjanya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (2), terlebih dahulu wajib memenuhi seluruh komitmen pasti eksplorasi dan
kewajiban lain berdasarkan Kontrak Kerja Sama.
www.hukumonline.com
Pasal 9
Wilayah Kerja yang dikembalikan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 menjadi Wilayah Terbuka.
49 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 10
Terhadap bagian Wilayah Kerja yang tidak dimanfaatkan oleh Kontraktor, Menteri dapat
meminta bagian Wilayah Kerja tersebut dan menetapkan kebijakan pengusahaannya berdasarkan
pertimbangan optimasi pemanfaatan sumber daya Minyak dan Gas Bumi setelah mendapat
pertimbangan dari Badan Pelaksana.
BAB III
SURVEY UMUM DAN DATA MINYAK DAN GAS BUMI
Pasal 11
(1) Untuk menunjang penyiapan Wilayah Kerja, Menteri melakukan kegiatan Survey Umum.
(2) Kegiatan Survey Umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pada Wilayah
Terbuka di dalam Wilayah Hukum Pertambangan.
(3) Kegiatan Survey Umum antara lain meliputi survey geologi, survey geofisika, dan survey
geokimia.
Pasal 12
Selain sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 11 ayat (2), Survey Umum dapat dilaksanakan
melintasi Wilayah Kerja setelah terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan Badan Pelaksana
untuk pemberitahuan kepada Kontraktor yang bersangkutan.
Pasal 13
(1) Dalam rangka pelaksanaan Survey Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Menteri
dapat memberikan izin kepada Badan Usaha sebagai pelaksana Survey Umum.
(2) Pelaksanaan Survey Umum oleh Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
dilaksanakan atas biaya dan risiko sendiri.
(3) Sebelum melaksanakan Survey Umum Badan Usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
wajib menyampaikan terlebih dahulu kepada Menteri jadwal dan prosedur pelaksanaan
Survey Umum.
Pasal 14
Badan Usaha yang melakukan Survey Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat. (1)
dapat menyimpan dan memanfaatkan Data hasil Survey Umum sampai dengan berakhirnya izin
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1).
Pasal 15
(1) Data yang diperoleh dari Survey Umum dan Eksplorasi dan Eksploitasi adalah milik negara
yang dikuasai oleh Pemerintah.
50 | E k o n o m i M i g a s

(2) Menteri menetapkan pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan Data yang diperoleh dari
Survey Umum dan Eksplorasi dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Pasal 16
Pengelolaan

Data

sebagaimana

dimaksud

dalam

Pasal

15

meliputi

perolehan,

pengadministrasian, pengolahan, penataan, penyimpanan, pemeliharaan, dan pemusnahan Data.


Pasal 17
(1) Pengiriman, penyerahan dan atau pemindahtanganan Data sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 15 wajib mendapatkan izin dari Menteri.
(2) Menteri menetapkan jenis-jenis Data yang wajib mendapatkan izin sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1).
Pasal 18
(1) Kontraktor dapat mengelola Data basil kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi di Wilayah
Kerjanya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 selama jangka waktu Kontrak Kerja Sama,
kecuali pemusnahan Data.
(2) Apabila Kontraktor dalam pengelolaan Data sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
menunjuk pihak lain, wajib mendapatkan persetujuan Menteri.
(3) Pihak lain yang ditunjuk untuk mengelola Data sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) harus
memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Kontraktor wajib menyimpan Data yang dipergunakan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) di Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia.
(5) Kontraktor dapat menyimpan salinan Data di luar Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia,
setelah mendapatkan izin Menteri.
Pasal 19
(1) Badan Usaha yang melakukan Survey Umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib
menyerahkan seluruh Data yang diperoleh kepada Menteri setelah berakhirnya izin yang
diberikan.
(2) Apabila Kontrak Kerja Sama berakhir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3),
Kontraktor wajib menyerahkan seluruh Data yang diperoleh dari hasil Eksplorasi dan
Eksploitasi kepada Menteri melalui Badan Pelaksana.
(3) Kontraktor melalui Badan Pelaksana wajib menyerahkan kepada Menteri seluruh Data yang
diperoleh dari hasil Eksplorasi dan Eksploitasi di Wilayah Kerjanya apabila Wilayah Kerja
tersebut dikembalikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7.
(4) Kontraktor yang Kontrak Kerja Samanya telah berakhir atau yang mengalihkan semua
interesnya kepada Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap lain, dapat mengajukan
permohonan izin kepada Menteri untuk menyimpan dan menggunakan salinan data dari
Wilayah Kerjanya.

51 | E k o n o m i M i g a s

(5) Data sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) tidak boleh dialihkan pada pihak lain tanpa izin
Menteri.
ww.hukumonline.com
Pasal 20
Kontraktor melalui Badan Pelaksana wajib menyerahkan Data hasil Eksplorasi dan Eksploitasi
kepada Menteri paling lambat 3 (tiga) bulan sejak berakhirnya perolehan, pengolahan dan
interpretasi Data.
Pasal 21
Pertukaran Data antar Kontraktor di dalam negeri atau antar Kontraktor dalam negeri dengan
pihak lain di luar negeri dapat dilakukan setelah mendapatkan izin Menteri.
Pasal 22
Dalam hal kerahasiaannya, Data diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Data Umum; merupakan data mengenai identifikasi dan letak geografis potensi, cadangan
dan sumur Minyak dan Gas Bumi serta produksi Minyak dan Gas Bumi.
b. Data Dasar; merupakan deskripsi atau besaran dari hasil rekaman atau pencatatan dari
penyelidikan geologi, geofisika, geokimia, kegiatan pemboran dan produksi.
c. Data Olahan; merupakan Data yang diperoleh dari hasil analisis dan evaluasi Data Dasar.
d. Data Interpretasi; merupakan Data yang diperoleh dari hasil interpretasi Data Dasar dan/atau
Data Olahan.
Pasal 23
(1) Data Dasar, Data Olahan dan Data Interpretasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22
bersifat rahasia untuk jangka waktu tertentu.
(2) Masa kerahasiaan Data sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:
a. Data Dasar, ditetapkan 4 (empat) tahun.
b. Data Olahan, ditetapkan 6 (enam) tahun.
c. Data Interpretasi, ditetapkan 8 (delapan) tahun.
(3) Apabila suatu Wilayah Kerja dikembalikan kepada Pemerintah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7, maka seluruh Data dari Wilayah Kerja yang bersangkutan tidak lagi
diklasifikasikan sebagai Data yang bersifat rahasia.
BAB IV
PELAKSANAAN KEGIATAN USAHA HULU
Pasal 24
(1) Kegiatan Usaha Hulu dilaksanakan oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap berdasarkan
Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana.
(2) Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling sedikit memuat
persyaratan:
52 | E k o n o m i M i g a s

a. kepemilikan sumber daya Minyak dan Gas Bumi tetap ditangan Pemerintah sampai pada
titik penyerahan;
b. pengendalian manajemen atas operasi yang dilaksanakan oleh Kontraktor berada pada
Badan Pelaksana;
c. modal dan risiko seluruhnya ditanggung oleh Kontraktor.
Pasal 25
(1) Menteri menetapkan bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok Kontrak Kerja Sama yang akan
diberlakukan untuk Wilayah Kerja tertentu dengan mempertimbangkan tingkat risiko dan
manfaat yang sebesarbesarnya bagi Negara serta ketentuan peraturan perundangan-undangan
yang berlaku.
(2) Menteri menetapkan bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok Kontrak Kerja Sama
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Badan
Pelaksana.
Pasal 26
Kontrak Kerja Sama wajib memuat paling sedikit ketentuan-ketentuan pokok yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

penerimaan Negara;
Wilayah Kerja dan pengembaliannya;
kewajiban pengeluaran dana;
perpindahan kepemilikan hasil produksi atas Minyak dan Gas Bumi;
jangka waktu dan kondisi perpanjangan kontrak;
penyelesaian perselisihan;
kewajiban pemasokan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk kebutuhan dalam negeri;
berakhirnya kontrak;
kewajiban pasta operasi pertambangan;
keselamatan dan kesehatan kerja;
pengelolaan lingkungan hidup;
pengalihan hak dan kewajiban;
pelaporan yang diperlukan;
rencana pengembangan lapangan;
pengutamaan pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri;
pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat adat;
pengutamaan penggunaan tenaga kerja Indonesia.
Pasal 27

(1) Jangka waktu Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 paling lama 30
(tiga puluh) tahun.
(2) Jangka Waktu Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terdiri atas jangka
waktu Eksplorasi dan jangka waktu Eksploitasi.
(3) Jangka waktu Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah 6 (enam) tahun, dan
dapat diperpanjang hanya 1 (satu) kali paling lama 4 (empat) tahun berdasarkan permintaan
dari Kontraktor selama Kontraktor telah memenuhi kewajiban minimum menurut Kontrak
Kerja Sama yang persetujuannya dilakukan oleh Badan Pelaksana.

53 | E k o n o m i M i g a s

(4) Apabila dalam jangka waktu Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) Kontraktor
tidak menemukan cadangan Minyak dan/atau Gas Bumi yang dapat diproduksikan secara
komersial maka Kontraktor wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerjanya.
Pasal 28
(1) Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), dapat diperpanjang
dengan jangka waktu perpanjangan paling lama 20 (dua puluh) tahun untuk setiap kali
perpanjangan.
(2) Ketentuan-ketentuan atau bentuk Kontrak Kerja Sama dalam perpanjangan Kontrak Kerja
Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus tetap menguntungkan bagi Negara.
(3) kontraktor melalui Badan Pelaksana mengajukan permohonan perpanjangan Kontrak Kerja
Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada Menteri.
(4) Badan Pelaksana melakukan evaluasi terhadap permohonan perpanjangan Kontrak Kerja
Sama sebagai bahan pertimbangan Menteri dalam memberikan persetujuan atau penolakan
permohonan Kontraktor.
(5) Permohonan perpanjangan Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (3), dapat
disampaikan paling cepat 10 (sepuluh) tahun dan paling lambat 2 (dua) tahun sebelum
Kontrak Kerja Sama berakhir.
(6) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam ayat (5), dalam hal Kontraktor
telah terikat dengan kesepakatan jual beli Gas Bumi, Kontraktor dapat mengajukan
perpanjangan Kontrak Kerja Sama lebih cepat dari batas waktu sebagaimana dimaksud
dalam ayat (5).
(7) Dalam memberikan persetujuan perpanjangan Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), Menteri mempertimbangkan faktor-faktor antara lain potensi cadangan
Minyak dan/atau Gas Bumi dari Wilayah Kerja yang bersangkutan, potensi atau kepastian
pasar/kebutuhan, dan kelayakan teknis/ekonomis.
(8) Berdasarkan hasil kajian dan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) dan ayat
(7) Menteri dapat menolak atau menyetujui permohonan perpanjangan Kontrak Kerja Sama
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk jangka waktu, bentuk dan ketentuan Kontrak
Kerja Sama tertentu.
(9) PT. Pertamina (Persero) dapat mengajukan permohonan kepada Menteri untuk Wilayah Kerja
yang habis jangka waktu Kontraknya.
(10)
Menteri dapat menyetujui permohonan sebagaimana dimaksud dalam ayat (9),
dengan mempertimbangkan program kerja, kemampuan teknis dan keuangan PT Pertamina
(Persero) sepanjang Saham PT Pertamina (Persero) 100% (seratus per seratus) dimiliki oleh
Negara dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Kontrak Kerja Sama yang bersangkutan.
Pasal 29
(1) Kontraktor melalui Badan Pelaksana dapat mengusulkan kepada Menteri perubahan
(amandemen) ketentuan dan persyaratan Kontrak Kerja Sama.
54 | E k o n o m i M i g a s

(2) Menteri dapat menyetujui atau menolak usulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
berdasarkan pertimbangan Badan Pelaksana dan manfaat yang optimal bagi negara.
Pasal 30
(1) Dalam jangka waktu paling lama 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal efektif
berlakunya Kontrak Kerja Sama, Kontraktor wajib memulai kegiatannya.
(2) Dalam hal Kontraktor tidak dapat melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1),. Badan Pelaksana dapat mengusulkan kepada Menteri untuk mendapatkan
persetujuan mengenai pengakhiran Kontrak Kerja Sama.
Pasal 31
(1) Selama 3 (tiga) tahun pertama pada jangka waktu Eksplorasi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 ayat (3), kontraktor wajib melakukan program kerja pasti dengan perkiraan jumlah
pengeluaran yang ditetapkan dalam Kontrak Kerja Sama.
(2) Apabila dalam pelaksanaan program kerja pasti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) secara
teknis dan ekonomis tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, Kontraktor melalui Badan
Pelaksana dapat mengusulkan perubahan kepada Menteri untuk mendapatkan persetujuan.
(3) Menteri dapat menyetujui atau menolak usul program kerja pasti sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) berdasarkan pertimbangan Badan Pelaksana.
(4) Dalam hal Kontraktor mengakhiri Kontrak Kerja Sama dan tidak dapat melaksanakan
sebagian atau seluruh program kerja pasti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Kontraktor
wajib membayar kepada Pemerintah melalui Badan Pelaksana senilai jumlah pengeluaran
yang terkait dengan program kerja pasti yang belum dapat dilaksanakan.
Pasal 32
Dalam hal Kontraktor tidak dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan Kontra
Kerja Samanya dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Badan Pelaksana dapat
mengusulkan kepada Menteri untuk mengakhiri Kontrak Kerja Sama.
Pasal 33
(1) Kontraktor dapat mengalihkan, menyerahkan, dan memindahtangankan sebagian atau
seluruh hak dan kewajibannya (participating interest) kepada pihak lain setelah mendapat
persetujuan Menteri berdasarkan pertimbangan Badan Pelaksana.
(2) Dalam hal pengalihan, penyerahan, dan pemindahtanganan sebagian atau seluruh hak dan
kewajiban Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) kepada perusahaan non afiliasi
atau kepada perusahaan selain mitra kerja dalam wilayah kerja yang sama, Menteri dapat
meminta kontraktor untuk menawarkan terlebih dahulu kepada perusahaan nasional.
(3) Pembukaan (disclose) Data dalam rangka pengalihan, penyerahan, dan pemindahtanganan
sebagian atau seluruh hak dan kewajiban Kontraktor kepada pihak lain sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) wajib mendapat izin dari Menteri melalui Badan Pelaksana.
55 | E k o n o m i M i g a s

(4) Kontraktor tidak dapat mengalihkan sebagian hak dan kewajibannya secara mayoritas
kepada pihak lain yang bukan afiliasinya dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun pertama masa
Eksplorasi.
Pasal 34
Sejak disetujuinya rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dari
suatu Wilayah Kerja, Kontraktor wajib menawarkan participating interest 10% (sepuluh per
seratus) kepada Badan Usaha Milik Daerah.
www.hukumonline.com
Pasal 35
(1) Pernyataan minat dan kesanggupan untuk mengambil participating interest sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 34 disampaikan oleh Badan Usaha Milik Daerah dalam jangka waktu
paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penawaran dari Kontraktor.
(2) Dalam hal Badan Usaha Milik Daerah tidak memberikan pernyataan kesanggupan dalam
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Kontraktor wajib menawarkan kepada
perusahaan nasional.
(3) Dalam hal perusahaan nasional tidak memberikan pernyataan minat dan kesanggupan dalam
jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penawaran dari Kontraktor
kepada perusahaan nasional, maka penawaran dinyatakan tertutup.
Pasal 36
(1) Kontraktor wajib mengalokasikan dana untuk kegiatan pasca operasi Kegiatan Usaha Hulu.
(2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dilakukan sejak dimulainya masa
eksplorasi dan dilaksanakan melalui rencana kerja dan anggaran.
(3) Penempatan alokasi dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2), disepakati
Kontraktor dan Badan Pelaksana dan berfungsi sebagai dana cadangan khusus kegiatan pasca
operasi Kegiatan Usaha Hulu di Wilayah Kerja yang bersangkutan.
(4) Tata cara penggunaan dana cadangan khusus untuk pasta operasi sebagaimana dimaksud
dalam ayat (3) ditetapkan dalam Kontrak Kerja Sama.
Pasal 37
(1) Kontrak Kerja Sama dibuat dalam bahasa Indonesia dan/atau bahasa Inggris.
(2) Apabila Kontrak Kerja Sama dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dalam hal
terjadi perbedaan penafsiran maka yang dipergunakan adalah penafsiran dalam bahasa
Indonesia atau bahasa Inggris sesuai kesepakatan para pihak.
Pasal 38
Terhadap Kontrak Kerja Sama tunduk dan berlaku hukum Indonesia.
Pasal 39

56 | E k o n o m i M i g a s

(1) Kontraktor wajib melaporkan penemuan dan hasil sertifikasi cadangan Minyak dan/atau Gas
Bumi kepada Menteri melalui Badan Pelaksana.
(2) Dalam mengembangkan dan memproduksi lapangan Minyak dan Gas Bumi Kontraktor
wajib melakukan konservasi dan melaksanakannya sesuai dengan Kaidah Keteknikan yang
baik.
(3) Konservasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan melalui upaya optimasi
eksploitasi dan efisiensi pemanfaatan Minyak dan Gas Bumi.
(4) Kaidah Keteknikan yang baik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi:
a. memenuhi ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan
hidup;
b. memproduksikan Minyak dan Gas Bumi sesuai dengan kaidah pengelolaan reservoar
(Reservoir Management) yang baik;
c. memproduksikan sumur Minyak dan Gas Bumi dengan cara yang tepat;
d. menggunakan teknologi perolehan minyak tingkat lanjut (EOR) yang tepat;
e. meningkatkan usaha peningkatan kemampuan reservoar untuk mengalirkan fluida
f.

dengan teknik yang tepat;


memenuhi ketentuan standar peralatan yang dipersyaratkan.
Pasal 40

Kontraktor melalui Badan Pelaksana wajib melaporkan kepada Menteri apabila diketemukan dan
memperoleh bukti adanya pelamparan reservoar Minyak dan/atau Gas Bumi yang memasuki
Wilayah Kerja Kontraktor lainnya, Wilayah Terbuka atau wilayah/landas kontinen negara lain.
Pasal 41
(1) Kontraktor wajib melakukan unitisasi apabila terbukti adanya pelamparan reservoar yang
memasuki Wilayah Kerja Kontraktor lainnya.
(2) Untuk pelamparan reservoar yang memasuki Wilayah Terbuka, Kontraktor wajib melakukan
unitisasi apabila Wilayah Terbuka tersebut kemudian menjadi Wilayah Kerja.
(3) Dalam hal sampai dengan jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun Wilayah Terbuka
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum menjadi Wilayah Kerja, maka Kontraktor yang
bersangkutan melalui Badan Pelaksana dapat meminta perluasan Wilayah Kerjanya secara
proporsional.
(4) Unitisasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) wajib mendapatkan persetujuan
Menteri.
Pasal 42
Menteri menentukan operator pelaksana unitisasi berdasarkan kesepakatan diantara para
Kontraktor yang melakukan unitisasi dan pertimbangan Badan Pelaksana.
Pasal 43

57 | E k o n o m i M i g a s

Untuk

pelamparan

reservoar

yang

memasuki

wilayah/landas

kontinen

negara

lain

penyelesaiannya akan ditetapkan oleh Menteri berdasarkan perjanjian landas kontinen antara
Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah negara lainnya yang terkait serta
pertimbangan manfaat yang optimal bagi negara.
Pasal 44
(1) Kegiatan pengolahan lapangan, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan hasil produksi
sendiri yang dilakukan Kontraktor yang bersangkutan merupakan Kegiatan Usaha Hulu.
(2) Dalam hal terdapat kapasitas berlebih pada fasilitas pengolahan lapangan, pengangkutan,
penyimpanan dan penjualan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dengan persetujuan
Badan Pelaksana, Kontraktor dapat memanfaatkan kelebihan kapasitas tersebut untuk
digunakan pihak lain berdasarkan prinsip pembebanan biaya operasi (cost sharing) secara
proporsional.
Pasal 45
(1) Fasilitas yang dibangun Kontraktor untuk melaksanakan kegiatan pengolahan lapangan,
pengangkutan, penyimpanan dan penjualan hasil produksi sendiri sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 44 tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan dan/atau laba.
(2) Dalam hal fasilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan bersama dengan pihak
lain dengan memungut biaya atau sewa sehingga memperoleh keuntungan dan/atau laba,
Kontraktor wajib membentuk Badan Usaha Kegiatan Usaha Hilir yang terpisah dan wajib
mendapatkan Izin Usaha.
BAB V
PEMANFAATAN MINYAK DAN GAS BUMI UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DALAM
NEGERI
Pasal 46
(1) Kontraktor bertanggung jawab untuk ikut serta memenuhi kebutuhan Minyak Bumi dan/atau
Gas Bumi untuk keperluan dalam negeri.
(2) Bagian Kontraktor dalam memenuhi keperluan dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), ditetapkan berdasarkan sistem prorata hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas
Bumi.
(3) Besaran kewajiban Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) adalah paling banyak
25% (dua puluh lima per seratus) bagiannya dari hasil produksi Minyak Bumi dan/atau Gas
Bumi.
(4) Menteri menetapkan besaran kewajiban setiap Kontraktor dalam memenuhi kebutuhan
Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3).

58 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 47
Menteri menetapkan kebijakan mengenai pemasokan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi untuk
keperluan dalam negeri setiap tahun sekali.
Pasal 48
(1) Terhadap cadangan Gas Bumi yang baru ditemukan Kontraktor wajib menyampaikan
laporan terlebih dahulu kepada Menteri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46.
(2) Dalam hal cadangan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akan diproduksikan,
Menteri terlebih dahulu memberikan kesempatan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu)
tahun kepada konsumen di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhannya.
(3) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak berakhirnya batas waktu 1 (satu) tahun
pemberian kesempatan kepada konsumen di dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat
(2), Menteri menyampaikan pemberitahuan kepada Kontraktor mengenai kondisi kebutuhan
di dalam negeri.
Pasal 49
Mekanisme pelaksanaan penyerahan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi oleh Kontraktor
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 diatur dalam Kontrak Kerja Sama.
Pasal 50
(1) Menteri menetapkan kebijakan pemanfaatan Gas Bumi dari cadangan Gas Bumi dengan
mengupayakan agar kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi secara optimal dengan
mempertimbangkan kepentingan umum, kepentingan negara, dan kebijakan energi nasional.
(2) Dalam menetapkan kebijakan pemanfaatan Gas Bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
Menteri mempertimbangkan aspek teknis yang meliputi cadangan dan peluang pasar Gas
Bumi, infrastruktur baik yang tersedia maupun yang direncanakan dan usulan dari Badan
Pelaksana.
Pasal 51
(1) Terhadap Minyak Bumi dan Gas Bumi yang ditemukan, diproduksikan dan dijual wajib
dilakukan evaluasi mutu.
(2) Biaya yang timbul dalam melakukan evaluasi mutu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dibebankan sebagai biaya operasi.
(3) Pengaturan lebih lanjut tentang tata cara evaluasi mutu Minyak Bumi dan Gas Bumi
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri.
BAB VI
PENERIMAAN NEGARA
59 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 52
(1) Kontraktor yang melaksanakan Kegiatan Usaha Hulu wajib membayar penerimaan Negara
yang berupa pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak.
(2) Penerimaan Negara yang berupa pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas:
a. pajak-pajak;
b. bea masuk dan pungutan lain atas impor dan cukai;
c. pajak daerah dan retribusi daerah.
(3) Penerimaan Negara Bukan Pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas:
a. bagian Negara;
b. pungutan Negara yang berupa iuran tetap dan iuran Eksplorasi dan Eksploitasi;
c. bonus-bonus.
Pasal 53
Sebelum Kontrak Kerja Sama ditandatangani, Kontraktor dapat memilih ketentuan kewajiban
membayar pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (2) huruf a dengan pilihan sebagai
berikut:
a. mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku pada
saat Kontrak Kerja Sama ditandatangani; atau
b. mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan yang berlaku.
Pasal 54
Ketentuan mengenai penetapan besarnya bagian negara, pungutan negara, dan bonus-bonus
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) serta tata cara penyetorannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah tersendiri.
www.hukumonline.com
Pasal 55
(1) Pembagian hasil Minyak dan Gas Bumi pada Kontrak Bagi Hasil antara Pemerintah dan
Kontraktor dilakukan pada titik penyerahan.
(2) Dalam penyerahan Minyak dan Gas Bumi pada titik penyerahan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), wajib digunakan sistem alat ukur yang ditetapkan oleh Menteri sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 56
(1) Pengeluaran biaya investasi dan operasi dari Kontrak Bagi Hasil wajib mendapatkan
persetujuan Badan Pelaksana.
(2) Kontraktor mendapatkan kembali biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk melakukan
Eksplorasi dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sesuai dengan rencana
kerja dan anggaran serta otorisasi pembelanjaan finansial (Authorization Financial
Expenditure) yang telah disetujui oleh Badan Pelaksana setelah menghasilkan produksi
komersial.

60 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 57
Seluruh produksi Minyak dan Gas Bumi yang dihasilkan Kontraktor pada Kontrak Jasa
merupakan milik Negara dan wajib diserahkan Kontraktor kepada Pemerintah.
Pasal 58
(1) Kepada Kontraktor yang melakukan Eksploitasi Minyak dan/atau Gas Bumi berdasarkan
Kontrak jasa diberikan imbalan jasa (fee).
(2) Besarnya imbalan jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung berdasarkan jumlah
produksi Minyak dan/atau Gas Bumi yang dihasilkan dan ditetapkan berdasarkan penawaran
dari Badan Usaha/Badan Usaha Tetap.
(3) Kontraktor yang melakukan Eksploitasi Minyak dan/atau gas Bumi sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) menanggung seluruh biaya dan risiko dalam memproduksi Minyak dan/atau
Gas Bumi.
(4) Imbalan jasa (fee) sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan setelah produksi
komersial.
Pasal 59
Ketentuan mengenai Kontrak Jasa diatur lebih lanjut dalam Keputusan Menteri.
Pasal 60
Penerimaan Negara bukan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (3) merupakan
penerimaan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, yang pembagiannya ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 61
Penerimaan Negara bukan pajak setelah dikurangi penerimaan Pemerintah Daerah merupakan
penerimaan Negara bukan pajak dari sektor Minyak dan Gas Bumi yang dapat dimanfaatkan
sebagian oleh Departemen sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

www.hukumonline.com
BAB VII
TATA CARA PENYELESAIAN PENGGUNAAN TANAH HAK ATAU TANAH NEGARA
Pasal 62
(1) Kontraktor yang akan menggunakan bidang-bidang tanah hak atau tanah negara di dalam,
wilayah kerjanya wajib terlebih dahulu mengadakan penyelesaian penggunaan tanah dengan
pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah di atas tanah negara, sesuai ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.
(2) Masyarakat pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah di atas tanah negara wajib
mengizinkan Kontraktor yang telah memperlihatkan Kontrak Kerja Sama atau salinannya
61 | E k o n o m i M i g a s

yang sah, untuk melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi di atas tanah yang bersangkutan,
apabila Kontraktor dimaksud telah melakukan penyelesaian penggunaan tanah atau
memberikan jaminan penyelesaian yang disetujui oleh pemegang hak atas tanah atau
pemakai tanah di atas tanah negara.
Pasal 63
(1) Penyelesaian penggunaan tanah oleh Kontraktor, dilakukan secara musyawarah dan mufakat
dengan pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah di atas tanah negara, sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Musyawarah dan mufakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat dilakukan secara
langsung dengan pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah di atas tanah negara yang
bersangkutan dengan cara jual beli, tukar menukar, ganti rugi yang layak, pengakuan atau
bentuk penggantian lain.
(3) Dalam hal tanah yang bersangkutan adalah tanah ulayat masyarakat hukum adat, tata cara
musyawarah dan mufakat harus memperhatikan tata cara pengambilan keputusan
masyarakat hukum adat setempat.
Pasal 64
(1) Dalam hal jumlah masyarakat pemegang hak atas tanah atau pemakai tanah negara cukup
banyak, sehingga tidak memungkinkan terselenggaranya musyawarah secara efektif, maka
musyawarah tersebut dapat dilaksanakan secara parsial atau dengan wakil yang ditunjuk
oleh dan yang bertindak selaku kuasa pemegang hak, dengan surat kuasa yang dibuat sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
(2) Dalam hal tidak tercapai musyawarah dan mufakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63
ayat (1) para pihak dapat menunjuk pihak lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Pasal 65
(1) Penetapan ganti kerugian terhadap tanah berpedoman pada hasil musyawarah, dengan
memperhatikan Nilai Jual Objek Pajak terakhir.
(2) Penetapan ganti kerugian terhadap bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang berada di
atas tanah, berpedoman pada standar teknis terkait.
Pasal 66
(1) Bersamaan dengan pemberian ganti kerugian dibuat surat pernyataan pelepasan atau
penyerahan hak atas tanah yang ditandatangani oleh para pihak dan disaksikan sekurangkurangnya 2 (dua) orang saksi. Pada saat pembuatan surat pernyataan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), pemegang hak atas.tanah menyerahkan sertifikat dan atau asli
surat-surat tanah yang bersangkutan kepada Kontraktor.
62 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 67
(1) Tanah yang telah diselesaikan oleh Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62
menjadi milik Negara dan dikelola Badan Pelaksana, kecuali tanah sewa.
(2) Tanah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dimohon sertifikat hak atas tanahnya
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 68
(1) Wilayah Kerja Kontraktor yang belum digunakan untuk Eksplorasi dan Eksploitasi, dapat
digunakan untuk kegiatan selain Eksplorasi dan Eksploitasi oleh pihak lain setelah
mendapatkan rekomendasi dari Menteri dan izin penggunaan dari Pemerintah Daerah
setempat.
(2) Pihak lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan rekomendasi Menteri dapat
memohon hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 69
(1) Kontraktor dapat melakukan kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi selain kegiatan
sebagaimana dalam Pasal 44 di dalam Wilayah Kerja Kontraktor yang bersangkutan sesuai
dengan Kontrak Kerja Sama.
(2) Kontraktor dapat membangun fasilitas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 di atas bidang
tanah di dalam dan/atau di luar Wilayah Kerja Kontraktor setelah dilakukan pengadaannya
sesuai ketentuan dalam Bab ini.
(3) Kepemilikan, pendaftaran hak atas tanah dan pembukuan atas bidang tanah yang digunakan
oleh Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berlaku ketentuan Pasal 68.
Pasal 70
(1) Kontraktor yang memiliki Right of Way (ROW) pipa transmisi Minyak dan Gas Bumi
diwajibkan mengizinkan Kontraktor lainnya menggunakan ROW tersebut untuk
pembangunan dan penggunaan pipa transmisi Minyak dan Gas Bumi.
(2) Pemberian izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada pertimbangan teknis
dan ekonomis serta keselamatan dan keamanan.
(3) Kontraktor yang akan menggunakan ROW sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat
melakukan perundingan secara langsung dengan Kontraktor/pihak lain pemilik ROW.
(4) Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak dicapai kesepakatan,
Kontraktor mengajukan kepada Menteri melalui Badan Pelaksana untuk menetapkan
penyelesaian lebih lanjut.
Pasal 71
Tanah yang digunakan untuk Right of Way (ROW) pipa transmisi Minyak dan Gas Bumi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 dapat dimohonkan hak atas tanahnya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
63 | E k o n o m i M i g a s

www.hukumonline.com
BAB VIII
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA SERTA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
HIDUP SERTA
PENGEMBANGAN MASYARAKAT SETEMPAT
Pasal 72
Kontraktor yang melaksanakan kegiatan usaha hulu wajib menjamin dan menaati ketentuan
keselamatan dan kesehatan kerja dan pengelolaan lingkungan hidup serta pengembangan
masyarakat setempat.
Pasal 73
Ketentuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja dan pengelolaan lingkungan hidup serta
pengembangan masyarakat setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72 sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 74
(1) Kontraktor

dalam

melaksanakan

kegiatannya

ikut

bertanggung

jawab

dalam

mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat.


(2) Tanggung jawab Kontraktor dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), adalah keikutsertaan dalam mengembangkan dan
memanfaatkan potensi kemampuan masyarakat setempat antara lain dengan cara
mempekerjakan tenaga kerja dalam jumlah dan kualitas tertentu sesuai dengan kompetensi
yang dibutuhkan, serta meningkatkan lingkungan hunian masyarakat agar tercipta
keharmonisan antara Kontraktor dengan masyarakat di sekitarnya.
Pasal 75
Dalam keikutsertaan untuk pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1), Kontraktor mengalokasikan dana dalam setiap penyusunan
rencana kerja dan anggaran tahunan.
Pasal 76
(1) Kegiatan pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat oleh Kontraktor dilakukan
dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah.
(2) Kegiatan pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) diutamakan untuk masyarakat di sekitar daerah dimana Eksploitasi
dilaksanakan.
Pasal 77

64 | E k o n o m i M i g a s

Pelaksanaan keikutsertaan Kontraktor dalam pengembangan lingkungan dan masyarakat


setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74 ayat (1) diberikan dalam bentuk natura berupa
sarana dan prasarana fisik, atau pemberdayaan usaha dan tenaga kerja setempat.

www.hukumonline.com
BAB IX
PEMANFAATAN BARANG, JASA, TEKNOLOGI DAN KEMAMPUAN REKAYASA DAN
RANCANG BANGUN
DALAM NEGERI
Pasal 78
(1) Seluruh barang dan peralatan yang secara langsung digunakan dalam Kegiatan Usaha Hulu
yang dibeli Kontraktor menjadi milik/kekayaan negara yang pembinaannya dilakukan oleh
pemerintah dan dikelola oleh Badan Pelaksana.
(2) Dalam hal barang dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berasal dari luar
negeri, tata cara impor barang dan peralatan tersebut ditetapkan bersama oleh Menteri,
Menteri Keuangan dan menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi urusan
perdagangan.
(3) Barang dan peralatan oleh Kontraktor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib
memenuhi standar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(4) Kontraktor dapat menggunakan barang dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
selama berlakunya Kontrak Kerja Sama.
Pasal 79
(1) Kontraktor wajib mengutamakan pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan
rekayasa dan rancang bangun dalam negeri secara transparan dan bersaing.
(2) Pengutamaan pemanfaatan barang, jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun dalam negeri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan apabila barang,
jasa, teknologi serta kemampuan rekayasa rancang bangun tersebut telah dihasilkan atau
tersedia dalam negeri serta memenuhi kualitas/mutu, waktu penyerahan, dan harga sesuai
ketentuan dalam pengadaan barang dan jasa.
Pasal 80
Barang dan peralatan, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan rancang bangun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 dapat diimpor selama belum diproduksi di dalam negeri
dan selama barang dan peralatan, jasa, teknologi, serta kemampuan rekayasa dan rancang
bangun yang akan diimpor memenuhi persyaratan standar/mutu, efisiensi biaya operasi,
jaminan waktu penyerahan dan dapat memberikan jaminan pelayanan purna jual.
Pasal 81

65 | E k o n o m i M i g a s

(1) Pengelolaan barang dan peralatan yang dipergunakan dalam Kegiatan Usaha Hulu dilakukan
oleh Badan Pelaksana.
(2) Kelebihan persediaan barang dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat
dialihkan penggunaannya kepada Kontraktor lain di Wilayah Hukum Pertambangan
Indonesia atas persetujuan Badan Pelaksana dan dilaporkan secara berkala kepada Menteri
dan Menteri Keuangan.
(3) Dalam hal kelebihan persediaan barang dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
tidak digunakan oleh Kontraktor lain, Badan Pelaksana wajib melaporkan kepada Menteri
Keuangan melalui Menteri untuk ditetapkan kebijakan pemanfaatannya.
(4) Dalam hal barang dan peralatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) akan dihibahkan,
dijual, dipertukarkan, dijadikan penyertaan modal negara, dimusnahkan atau dimanfaatkan
oleh pihak lain dengan cara dipinjamkan, disewakan dan kerjasama pemanfaatan, wajib
terlebih dahulu mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan atas usul Badan Pelaksana
melalui Menteri.
(5) Dalam hal Kontrak Kerja Sama telah berakhir, barang dan peralatan Kontraktor wajib
diserahkan kepada pemerintah untuk ditetapkan kebijakan pemanfaatannya sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.
BAB X
KETENAGAKERJAAN
Pasal 82
a. Dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya, Kontraktor wajib mengutamakan penggunaan
tenaga kerja warga negara Indonesia dengan memperhatikan pemanfaatan tenaga kerja
setempat sesuai dengan standar kompetensi yang dipersyaratkan.
b. Kontraktor dapat menggunakan tenaga kerja asing untuk jabatan dan keahlian tertentu yang
belum dapat dipenuhi tenaga kerja warga negara Indonesia sesuai dengan kompetensi
jabatan yang dipersyaratkan.
c. Tata cara penggunaan tenaga kerja asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 83
Ketentuan mengenai hubungan kerja, perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja serta
penyerahan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lain diatur sesuai dengan
peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan.

Pasal 84
Untuk mengembangkan kemampuan tenaga kerja Indonesia agar dapat memenuhi standar
kompetensi kerja dan kualifikasi jabatan Kontraktor wajib melaksanakan pembinaan dan
program pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kerja Indonesia.
66 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 85
Pembinaan dan pengembangan tenaga kerja Indonesia dilaksanakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BAB XI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN KEGIATAN USAHA HULU
Pasal 86
(1) Pembinaan terhadap kegiatan usaha hulu dilakukan oleh Pemerintah yang dilaksanakan
oleh Menteri.
(2) Pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), meliputi:
a. penyelenggaraan urusan Pemerintah di bidang kegiatan usaha hulu, dan;
b. penetapan kebijakan mengenai kegiatan usaha hulu berdasarkan cadangan dan potensi
sumber daya minyak dan gas bumi yang dimiliki, kemampuan produksi, kebutuhan
Bahan bakar Minyak dan Gas Bumi dalam negeri, penguasaan teknologi, aspek
lingkungan dan pelestarian lingkungan hidup, kemampuan nasional dan kebijakan
pembangunan.
(3) Tanggung jawab kegiatan pengawasan atas pekerjaan dan pelaksanaan kegiatan usaha hulu
terhadap ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku berada pada
Menteri.
(4) Kegiatan Usaha Hulu dilaksanakan dan dikendalikan melalui Kontrak Kerja Sama antara
Badan Pelaksana dan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap.
(5) Badan Pelaksana melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan Kontrak
Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (4).
(6) Dalam melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan Kontrak Kerja
Sama

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(5),

Badan

Pelaksana

berwenang

menandatangani kontrak lain yang terkait dengan Kontrak Kerja Sama.


(7) Pelaksanaan pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam ayat (5),
dilakukan oleh Badan Pelaksana melalui pengendalian manajemen atas pelaksanaan
Kontrak Kerja Sama.
Pasal 87
(1) Penyelenggaraan urusan Pemerintah di bidang Kegiatan Usaha Hulu sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 86 ayat (2) huruf a, meliputi:
a. perencanaan;
b. perizinan, persetujuan, dan rekomendasi;
c. pengelolaan dan pemanfaatan Data Minyak dan Gas Bumi;
d. pendidikan dan pelatihan;
e. penelitian dan pengembangan teknologi;
f. penerapan standardisasi;
g. pemberian akreditasi;
h. pemberian sertifikasi;
i. pembinaan industri/badan usaha penunjang;
67 | E k o n o m i M i g a s

j. pembinaan usaha kecil/menengah;


k. pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri;
l. pemeliharaan keselamatan dan kesehatan kerja;
m. pelestarian lingkungan hidup;
n. penciptaan iklim investasi yang kondusif;
o. pemeliharaan keamanan dan ketertiban.
(2) Penetapan kebijakan mengenai kegiatan usaha hulu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86
ayat (2) huruf b, meliputi pengaturan mengenai:
a. pelaksanaan Survey Umum;
b. pengelolaan dan pemanfaatan data Minyak dan Gas Bumi;
c. penyiapan, penetapan dan penawaran serta pengembalian Wilayah Kerja;
d. bentuk dan syarat-syarat Kontrak Kerja Sama;
e. perpanjangan Kontrak Kerja Sama;
f. rencana pengembangan lapangan yang pertama kali;
g. pengembangan lapangan dan pemroduksian cadangan Minyak dan Gas Bumi;
h. pemanfaatan Gas Bumi;
i. penerapan kaidah keteknikan yang baik;
j. kewajiban penyerahan bagian Minyak dan Gas Bumi Kontraktor untuk memenuhi
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.
r.
s.

kebutuhan dalam negeri (DMO);


penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi Minyak dan Gas Bumi;
kewajiban membayar penerimaan negara;
pengelolaan lingkungan hidup;
keselamatan dan kesehatan kerja;
penggunaan Tenaga Kerja Asing;
pengembangan tenaga Kerja Indonesia;
pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat;
standardisasi;
pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun

dalam
t. negeri;
u. konservasi sumber daya dan cadangan Minyak dan Gas Bumi;
v. pengusahaan coalbed methane;
w. kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi sepanjang
menyangkut kepentingan umum.
Pasal 88
Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (3) meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

konservasi sumber daya dan cadangan Minyak dan Gas Bumi;


pengelolaan data Minyak dan Gas Bumi;
kaidah keteknikan yang baik;
keselamatan dan kesehatan kerja;
pengelolaan lingkungan hidup;
pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun

g.
h.
i.
j.
k.

dalam negeri;
penggunaan tenaga kerja asing;
pengembangan tenaga kerja Indonesia;
pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat;
penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi Minyak dan Gas Bumi;
kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi sepanjang
menyangkut kepentingan umum.
68 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 89
(1) Tanggung jawab pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 87 berada pada
Departemen dan departemen terkait sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan masingmasing.
(2) Tanggung jawab pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88 berada pada
Departemen dan departemen terkait sesuai dengan bidang tugas dan kewenangan masingmasing.
Pasal 90
Dalam rangka pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (5),
Badan Pelaksana mempunyai tugas:
a. memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijakannya dalam hal penyiapan
dan penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja Sama;
b. melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama;
c. mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang pertama kali
akan diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri untuk mendapatkan
persetujuan;
d. memberikan persetujuan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana
dimaksud dalam huruf c;
e. memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran;
f. melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan
Kontrak Kerja Sama;
g. menunjuk penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian Negara yang dapat
memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.
Pasal 91
Badan Pelaksana melaksanakan pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan ketentuanketentuan Kontrak Kerja Sama.
Pasal 92
Dalam melakukan pengawasan atas ditaatinya pelaksanaan ketentuan-ketentuan Kontrak Kerja
Sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91, Badan Pelaksana mengkoordinasikan Kontraktor
untuk melakukan hubungan dengan Departemen dan departemen terkait.
Pasal 93
(1) Kontraktor wajib menyampaikan laporan tertulis secara periodik kepada Menteri mengenai
hal-hal yang terkait dengan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 88.
(2) Kontraktor wajib menyampaikan laporan tertulis secara periodik kepada Badan Pelaksana
mengenai halhal yang terkait dengan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 91.
69 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 94
(1) Dalam melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 90 huruf b, Badan Pelaksana bertindak sebagai pihak yang berkontrak dengan Badan
Usaha atau Bentuk Usaha Tetap.
(2) Penandatanganan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Menteri
atas nama Pemerintah.
(3) Badan Pelaksana memberitahukan secara tertulis Kontrak Kerja Sama yang sudah
ditandatangani

kepada

Dewan

Perwakilan

Rakyat

Republik

Indonesia

dengan

melampirkan salinannya.
Pasal 95
(1) Rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dalam suatu
Wilayah Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf c termasuk perubahannya
wajib mendapatkan persetujuan Menteri berdasarkan pertimbangan dari Badan Pelaksana.
(2) Dalam memberikan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Menteri
melakukan konsultasi dengan Gubernur yang wilayah administrasinya meliputi lapangan
yang akan dikembangkan.
(3) Konsultasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dimaksudkan untuk memberikan
penjelasan dan memperoleh informasi terutama yang terkait dengan rencana tata ruang dan
rencana penerimaan daerah dari Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 96
(1) Dalam hal Kontraktor telah mendapatkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
95 ayat (1) tidak melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pengembangan lapangan,
dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak persetujuan rencana pengembangan
lapangan pertama, Kontraktor wajib mengembalikan seluruh Wilayah Kerjanya kepada
Menteri.
(2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), terhadap
pengembangan lapangan Gas Bumi, apabila sampai dengan jangka waktu sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) belum terdapat perikatan jual beli Gas Bumi, Menteri dapat
menerapkan kebijakan perpanjangan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
bagi Kontraktor yang bersangkutan.
Pasal 97
Dalam melakukan kajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf c dan memberikan
persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf d, Badan Pelaksana harus
mempertimbangkan hal-hal antara lain sebagai berikut:
70 | E k o n o m i M i g a s

a. perkiraan cadangan dan produksi Minyak dan Gas Bumi;


b. perkiraan biaya yang diperlukan untuk pengembangan lapangan dan biaya produksi
c.
d.
e.
f.
g.

Minyak dan Gas Bumi;


rencana pemanfaatan Minyak dan Gas Bumi;
proses eksploitasi Minyak dan Gas Bumi;
perkiraan penerimaan Negara dari Minyak dan Gas Bumi;
penggunaan tenaga kerja, penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri;
keselamatan dan kesehatan kerja, pengelolaan lingkungan hidup dan pengembangan
lingkungan dan masyarakat setempat.
Pasal 98

Dalam memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 90 huruf e, Badan Pelaksana harus mempertimbangkan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

rencana jangka panjang;


keberhasilan pencapaian sasaran kegiatan;
upaya peningkatan cadangan dan produksi minyak dan gas bumi;
teknis kegiatan dan kewajaran unit biaya dari setiap kegiatan yang akan dilakukan;
upaya efisiensi;
rencana pengembangan lapangan yang sudah disetujui;
tata waktu kegiatan dan berakhirnya Kontrak Kerja Sama;
keselamatan dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup;
penggunaan dan pengembangan tenaga kerja serta pembinaan hubungan industrial;
pengembangan lingkungan masyarakat setempat.
Pasal 99

Berdasarkan hasil monitoring sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf f, Badan Pelaksana
wajib menyampaikan laporan kepada Menteri secara periodik hal-hal yang meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

rencana kerja dan anggaran setiap Kontraktor serta realisasinya;


perkiraan dan realisasi produksi Minyak dan Gas Bumi;
perkiraan dan realisasi penerimaan Negara;
perkiraan dan realisasi biaya investasi pada Eksplorasi dan Eksploitasi;
realisasi biaya operasi setiap Kontraktor;
pengelolaan atas penggunaan aset dan barang operasi oleh Kontraktor.
Pasal 100

(1) Dalam pelaksanaan penunjukan penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian Negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 huruf g, Badan Pelaksana dapat menunjuk Badan
Usaha atau Kontraktor yang bersangkutan.
(2) Badan Usaha atau Kontraktor yang ditunjuk sebagai penjual Minyak dan/atau Gas Bumi
bagian Negara diberi wewenang untuk memindahkan hak kepemilikan atas Minyak
dan/atau Gas Bumi bagian Negara kepada pembeli pada titik penyerahan berdasarkan
perjanjian jual dan beli Minyak dan/atau Gas Bumi yang terkait.
(3) Badan Pelaksana dapat menunjuk Kontraktor untuk menjualkan Minyak Bumi dan/atau
Gas Bumi bagian Negara yang berasal dari Wilayah Kerjanya berdasarkan Kontrak Kerja
Sama.
71 | E k o n o m i M i g a s

(4) Badan Pelaksana dapat menunjuk Kontraktor untuk menjualkan Gas Bumi bagian Negara
yang berasal dari Wilayah Kerjanya berdasarkan Kontrak Kerja Sama dan dari Wilayah
Kerja lainnya.
(5) Sebelum menunjuk Badan Usaha sebagai penjual Minyak dan/atau Gas Bumi bagian
Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Badan Pelaksana berkonsultasi dengan
Kontraktor dan wajib memperhatikan:
a. kelancaran dan keberlanjutan serta efisiensi penjualan Minyak dan/atau Gas Bumi;
b. kemampuan penjual;
c. harga jual Minyak dan/atau Gas Bumi;
d. hak dan kewajiban penjual;
e. Tidak terdapat benturan kepentingan antara Badan Usaha yang ditunjuk sebagai
penjual dengan Kontraktor.
(6) Penunjukan Badan Usaha atau Kontraktor sebagai penjual Minyak Bumi dan/atau Gas
Bumi bagian Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) beserta persyaratannya
dituangkan dalam bentuk perjanjian.
(7) Dalam hal yang ditunjuk sebagai penjual adalah Kontraktor yang bersangkutan maka biaya
yang timbul dari penjualan Minyak dan/atau Gas Bumi akan diberlakukan sebagai biaya
operasi sebagaimana diatur dalam Kontrak kerja Sama dengan Kontraktor yang
bersangkutan, kecuali apabila biaya atau akibat tersebut disebabkan kesalahan yang
disengaja oleh Kontraktor yang bersangkutan.
(8) Dalam hal yang ditunjuk sebagai penjual bukan Kontraktor yang bersangkutan, imbalan
yang diberikan kepada penjual dibebankan pada bagian negara dari penerimaan hasil
penjualan Minyak dan/atau Gas Bumi.
(9) Badan Pelaksana wajib menyampaikan laporan kepada Menteri mengenai realisasi
penunjukan penjual Minyak dan/atau Gas Bumi bagian Negara sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), dan perjanjianperjanjian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).
Pasal 101
(1) Penjual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 ayat (1) bertanggung jawab sepenuhnya
kepada pembeli untuk kelancaran dan keberlanjutan penjualan Minyak dan/atau Gas Bumi.
(2) Penjual sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melakukan pemasaran, negosiasi dengan
calon pembeli dan menandatangani perjanjian jual beli dan perjanjian lainnya yang terkait.
(3) Penandatanganan perjanjian-perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Badan Pelaksana.
(4) Penandatanganan perjanjian-perjanjian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) oleh penjual
selain Kontraktor dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Kontraktor yang
bersangkutan.
(5) Badan Pelaksana melakukan pengawasan atas pelaksanaan perjanjian sebagaimana
dimaksud dalam ayat (3).
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai penunjukan penjual Minyak dan/atau Gas Bumi bagian
negara diatur dengan Keputusan Kepala Badan Pelaksana.

72 | E k o n o m i M i g a s

Pasal 102
(1) Menteri dapat mengatur lebih lanjut ketentuan mengenai ruang lingkup pelaksanaan
pengawasan Kegiatan Usaha Hulu oleh Departemen sebagaimana dimaksud dalam Pasal
88.
(2) Kepala Badan Pelaksana dapat mengatur lebih lanjut ketentuan mengenai ruang lingkup
pelaksanaan pengawasan Kegiatan Usaha Hulu oleh Badan Pelaksana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 91.
(3) Dalam hal diperlukan Menteri dan Kepala Badan Pelaksana dapat mengatur secara
bersama mengenai ruang lingkup pengawasan Kegiatan Usaha Hulu.
BAB XII
KETENTUAN LAIN
Pasal 103
Ketentuan mengenai pengusahaan Gas Metana Batubara termasuk bentuk dan ketentuanketentuan Kontrak Kerja Samanya diatur lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 104
Pada saat Peraturan Pemerintah ini berlaku:
a. Kontrak Bagi Hasil dan kontrak lain yang berkaitan dengan Kontrak Bagi Hasil
antara Pertamina dan pihak lain tetap berlaku sampai dengan berakhirnya kontrak
yang bersangkutan.
b. Kontrak Bagi Hasil dan kontrak lain yang berkaitan dengan Kontrak Bagi Hasil
sebagaimana dimaksud dalam huruf a, beralih kepada Badan Pelaksana.
c. Kontrak-kontrak antara Pertamina dengan pihak lain yang berbentuk Joint Operating
Agreement (JOA)/Joint Operating Body (JOB) beralih kepada Badan Pelaksana dan
berlaku sampai dengan berakhirnya kontrak yang bersangkutan.
d. Hak dan kewajiban (participating interest) dalam JOA dan JOB sebagaimana
dimaksud dalam huruf c beralih dari Pertamina kepada PT Pertamina (Persero).
e. Kontrak-kontrak antara Pertamina dengan pihak lain yang berbentuk Technical
Assistance Contract (TAC) dan Kontrak Enhanced Oil Recovery (EOR) beralih
kepada PT Pertamina (Persero) dan berlaku sampai berakhirnya kontrak yang
f.

bersangkutan.
Setelah JOA/JOB sebagaimana dimaksud dalam huruf c berakhir, Menteri
menetapkan kebijakan mengenai bentuk dan ketentuan kerja sama dari wilayah bekas

kontrak-kontrak tersebut.
g. Setelah Technical Assistance Contract (TAO) dan Kontrak Enhanced Oil Recovery
(EOR) sebagaimana dimaksud dalam huruf e yang berada pada bekas Wilayah Kuasa
Pertambangan Pertamina berakhir, wilayah bekas kontrak tersebut tetap merupakan
bagian wilayah kerja PT Pertamina (Persero).
73 | E k o n o m i M i g a s

h. Dalam hal sebelum berakhirnya jangka waktu Kontrak sebagaimana dimaksud dalam
huruf e diperoleh kesepakatan para pihak, Menteri dapat menentukan kebijakan
i.

bentuk lain dari kontrak yang bersangkutan.


PT Pertamina (Persero) wajib mengadakan Kontrak Kerja Sama dengan Badan
Pelaksana untuk melanjutkan Eksplorasi dan Eksploitasi pada bekas Wilayah Kuasa
Pertambangan Pertamina. j. Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun, PT
Pertamina (Persero) sebagaimana dimaksud dalam huruf i, wajib membentuk anak
perusahaan dan mengadakan Kontrak Kerja Sama dengan Badan Pelaksana untuk
masing-masing Wilayah Kerja dengan angka waktu Kontrak Kerja Sama selama 30
(tiga puluh) tahun dan dapat diperpanjang sesuai dengan peraturan perundang-

j.

undangan yang berlaku.


Besaran kewajiban pembayaran PT Pertamina (Persero) dan anak perusahaan
sebagaimana dimaksud dalam huruf d, huruf i, dan huruf j kepada negara sesuai

dengan ketentuan yang berlaku pada bekas Wilayah Kuasa Pertambangan Pertamina.
k. Menteri menetapkan bentuk dan ketentuan-ketentuan Kontrak Kerja Sama bagi PT
Pertamina (Persero) dan anak perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf h,
l.

huruf i, dan huruf j.


Pengalihan kontrak-kontrak sebagaimana dimaksud dalam huruf b, tidak mengubah

ketentuan-ketentuan kontrak.
m. Badan Pelaksana dan PT Pertamina (Persero) menyelesaikan amandemen kontrak
sebagaimana dimaksud dalam huruf b untuk mendapat persetujuan Menteri.
n. Kontrak-kontrak penjualan dan transportasi LNG antara Pertamina dengan pihak lain
beralih kepada PT Pertamina (Persero).
BAB XIV
PENUTUP
Pasal 105
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang
mengetahuinya,

memerintahkan

pengundangan

Peraturan

Pemerintah

ini

dengan

penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

74 | E k o n o m i M i g a s

6. Intruksi Presiden Republik Indonesia No. 2 Tahun 2012


INTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 2 TAHUN 2012
TENTANG
PENINGKATAN PRODUKSI MINYAK BUMI NASIONAL
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Dalam rangka pencapaian produksi minyak bumi nasional paling sedikit rata-rata 1,01 juta
barrel per hari pada Tahun 2014 untuk mendukung peningkatan ketahanan energi, dengan ini
mengintruksikan :
Kapada : 1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;
2. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral;
3. Menteri Pekerjaan Umum;
4. Menteri Keuangan;
5. Menteri Dalam Negeri;
6. Menteri Perhubungan;
7. Menteri Pertanian;
8. Menteri Kehutanan;
9. Menteri Lingkungan Hidup;
10. Mentri Hukum dan Hak Asasi Manusia;
11. Menteri Badan Usaha Milik Negara;
12. Kepala Badan Pertahanan Nasional;
13. Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi;
14. para Gubernur;
15. Para Bupati/Walikota;
Untuk :
PERTAMA
: Mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara terkoordinasi sesuai
tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing untuk mencapai produksi
minyak bumi nasional paling sedikit rata-rata 1,01 juta barrel per hari pada
KEDUA

tahun 2014.
: Melakukan koordinasi dan percepatan penyelesaian permasalahan yang
menghambat upaya peningkatan, optimalisasi, dan percepatan produksi

KETIGA

minyak bumi nasional.


: 1. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral:
a. Melakukan inventarisasi dan pengkajian peraturan perundangundangan yang menghambat upaya peningkatan produksi minyak
75 | E k o n o m i M i g a s

bumi nasional serta mengusulkan perubahan peraturan perundangundangan tersebut.


b. Mendorong optimalis asi produksi pada lapangan eksisting maupun
percepatan penemuan cadangan baru melalui penyempurnaan
kebijakan kontrak kerja sama dan kebijakan terkait lainnya;
c. Menyelesaikan permohonan Rencana pengembangan (Plant of
Development) I paling lama 90 hari (sembilan puluh) hari kalender
sejak diterimanya usulan lengkap dari Badan Pelaksana kegiatan
Uasah Hulu Minyak dan Gas Bumi.
d. Meningkatkan pemantauan terhadap Badan Pelaksana kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi dalam pelaksanaan peningkatan produksi
minyak bumi Kontraktor kontrak Kerja Sama (KKKS); dan
e. Meningkatkan upaya penyelesaian hambatan produksi minyak bumi
dengan kementrian/lembaga dan pemerintah daerah.
2. Menteri Pekerjaan Umum
a. Meningkatkan dan mengembangkan fungsi infrastruktur pekerjaan
umum dalam menunjang transportasi hasil produksi minyak bumi
nasional; dan
b. Memberikan dukungan kebijakan dan peraturan perundang-undangan
di bidang penataan ruang dan pekerjaan umum yang mendukung
penigkatan produksi minyak bumi nasional.
3. Menteri keuangan:
a. Memberikan fasilitas perpajakan dan kepabeanan dalam rangka
mendukung peningkatan produksi minyak bumi nasional sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undnagan; dan
b. Memberikan dukungan kebijakan dan peraturan

perundang-

undangan di bidang keungan negara yang mendukung peningkatan


produksi minyak bumi nasional.
4. Menteri Dalam Negeri:
a. Melakukan inventarisasi dan pengkajian peraturan daerah yang
menghambat upaya peningkatan produksi minyak bumi nasional;
dan
b. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah
dalam mendukung peningkatan produksi minyak bumi nasional.
5. Menteri Perhubungan
a. Meningkatkan fungsi infrastruktur transportasi untuk mendukung
peningkatan produksi minyak bumi nasional;

76 | E k o n o m i M i g a s

b. Melakukan penyelarasan jangka waktu perizinan penggunaan


infrastruktur transportasi dengan jangka waktu kegiatan operasi
minyak bumi; dan
c. Memberikan dukungan

kebijakan

dan

peraturan

perundang-

undangan di bidang transportasi yang mendukung peningkatan


produksi minyak bumi nsaional.
6. Menteri Pertanian menyusun kebijakan terkait pemanfaatan kawasan
pertanian untuk mendukung peningkatan produksi minyak bumi nasional
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
7. Menteri Kehutanan:
a. Memberikan dukungan kebijakan terkait optimalisasi penggunaan
kawasan hutan untuk mendukung peningkatan produksi minyak
bumi nasional sesuai dengan peraturan perundang-undnagan; dan
b. Mempercepat penyelasaian izin pinjam pakai kawasan hutan untuk
kegiatan usaha hulu minyak bumi sesuai persyaratan yang telah
ditetapkan.
8. Menteri Lingkungan Hidup:
a. Mempercepat penyelasaian

persetujuan

Analisa

Mengenai

DampakLingkungan (AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan


Hidup (UKL), dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL)
dalam rangka peningkatan produksi minyak bumi nasional; dan
b. memberikam dukungan kebijakan dan peraturan perundangundnagan di bidang lingkungan hidup yang mendukung peningkatan
produksi minyak bumi nasional.
9. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan dukungan
pengharmonisasian peraturan perundang-undangan yanng terkait dengan
peningkatan produksi minyak bumi nasional.
10. Menteri Badan Usaha Milik Negara:
a. Memberikan dukungan dalam penyediaan lahan Badan Usaha Milik
Negara untuk kegiatan usaha hulu minyak bumi nasional; dan
b. Memberikan dukungan kebijakan dan peraturan di bidang
pembinaan

Badan

Usaha

Milik

Negara

yang

mendukung

peningkatan produksi minyak bumi nasional.


11. Kepala Badan Pertahanan Nasional:
a. Mempercepat proses pemberian hak atas tanah yang dipergunakan
untuk mendukung peningkatan produksi minyak bumi nasional; dan

77 | E k o n o m i M i g a s

b. Memberikan

dukungan

kebijakan

dan

peraturan

perundang-

undangan di bidang pertanahan yang mendukung peningkatan


produksi minyak bumi nsional.
12. Kepala Badan pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas bumi:
a. Menyelesaikan proses persetujuan:
2) Plan of Development (POD), paling lama 31 (tiga puluh satu)
hari kerja sejak diserahkannya usulan lengkap dari KKKS;
3) Work Program and Budget (WP&B), paling lama 25 (dua puluh
lima) hari kerja sejak diserahkannya usulan lengkap dari KKKS;
4) Authorization For Expenditure (AFE), paling lama 38 (tiga puluh
delapan) hari kerja sejak diserahkannya usulan lengkap dari
KKKS; dan
5) Pengadaan barang dan jasa 10 (sepuluh) hari kerja untuk rencan
pengadaan dan 20 (dua puluh) hari kerja untuk penetapan
pemenang lelang;
b. Meningkatkan efisiensi operasi dan optimasi fasilitas produksi;
c. Meningkatkan upaya optimasi lapangan produksi dan pengembangan
lapangan dengan menggunakan teknologi Enhamced Oil Recovery
(EOR);
d. Meningkatkan upaya pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan
kontrak kerja sama termasuk penggunaan fasilitas bersama;
e. Melakukan percepatan pengembangan lapangan baru, lapangan
f.

marginal, lapangan idle; dan


Melakukan optimalisasi sumur-sumur tua (suspended wells).

13. Para Gubernur:


a. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Pemerintah Daerah
kabupaten/Kota dalam rangka mendukung peningkatan produksi
minyak bumi nasional;
b. Melakukan percepatan dan kemudahan prizinan yang terkait dengan
upaay peningkatan produksi minyak bumi nasional; dan
c. Memberikan dukungan dan melakukan kebijakan dalam rangka
peningkatan produksi minyak bumi nasional.
14. Para Bupati/Walikota:
a. Melakukan percepatan dan kemudahan prizinan yang terkait dengan
upaya peningkatan produksi minyak bumi nasional; dan
b. Memberikan dukungan dan melakukan kebijakan dalam rangka
mendukung peningkatan produksi minyak bumi nasional.

KEEMPAT

: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengoordinasikan pelaksanaan


Intruksi Presiden ini.

78 | E k o n o m i M i g a s

KELIMA

: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan laporan


pelaksanaan Intruksi Presiden ini kepada Presiden setiap 6 (enam) bulan
sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan.

KEENAM

: Melaksanakan Intruksi Presiden ini dengan penuh tanggung jawab.

7. Peraturan Menteri ESDM Nomor 06 Tahun 2010


PERATURAN MENTERI ENERGl DAN SUMBER DAYA MINERAL
NOMOR : 06 TAHUN 2010
BAB l
KETENTUAN UMUM
Pasal I
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak Bumi dan Gas Bumi.
2. Kontrak Kerja Sama adalah Kontrak Bagi Hasil atau bentuk kontrak kerja sama lain dalam
kegiatan Eksplorasi dan Eksploitasi yang lebih menguntungkan Negara dan hasilnya
dipergunakan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.
3. Kontraktor adalah Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang ditetapkan untuk melakukan
Eksplorasi dan Eksploitasi pada suatu Wilayah Kerja berdasarkan Kontrak Kerja Sama
dengan Badan Pelaksana.
4. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh informasi mengenai kondisi geologi
untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan Minyak dan Gas Bumi di Wilayah
Kerja yang ditentukan.
79 | E k o n o m i M i g a s

5. Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan Minyak dan Gas
Bumi dari Wilayah Kerja yang ditentukan, yang terdiri atas pengeboran dan penyelesaian
sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan
dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
6. Menteri adalah menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha
Minyak dan Gas Bumi.
7. Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian
Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi.
8. Direktorat Jenderal adalah direktorat jenderal yang bidang tugas dan kewenangannya
meliputi kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
9. Direktur Jenderal adalah direktur jenderal yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang
Minyak dan Gas Bumi. Setiap usaha Eksplorasi dan Eksploitasi wajib bertujuan mendukung
pencapaian sasaran program Pemerintah yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan kebijakan Pemerintah lainnya yang mendukung peningkatan produksi
Minyak dan Gas Bumi.
BAB II
PELAKSANAAN KEBIJAKAN UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI
MINYAK DAN GAS BUM1
Bagian Kesatu Kewajiban Kontraktor Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2, Kontraktor wajib melakukan :
a. penyelesaian kegiatan Eksplorasi di struktur penemuan dan mempercepat pengajuan
usulan rencana pengembangan lapangan baru dari cadangan yang sudah ditemukan;
b. percepatan pelaksanaan kegiatan pengembangan lapangan pertama;
c. percepatan pelaksanaan kegiatan pengembangan lapangan berikutnya;
d. pengupayaan pengembangan atau pemroduksian kembali lapangan yang masih berpotensi
baik yang pernah diproduksikan maupun yang belum pernah diprodu ksikan;
e. pengupayaan pemroduksian kembali sumur-sumur yang masih berpotensi baik yang
pernah diproduksikan maupun yang belum pernah diproduksikan.
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, huruf b
dan huruf c, Kontraktor wajib:
a. melaporkan cadangan Minyak dan Gas Bumi baru kepada Menteri melalui Badan
Pelaksana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah
ditetapkan oleh Badan Pelaksana;
b. mengajukan usulan rencana pengembangan lapangan dalam jangka waktu paling lambat
90 (sembilan puluh) hari kalender setelah ditetapkan cadangan Minyak dan Gas Bumi baru
sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. memulai kegiatan pengembangan lapangan dalam jangka waktu paling lambat 180 (seratus
delapan puluh) hari kalender setelah mendapatkan persetujuan rencana pengembangan
lapangan;

80 | E k o n o m i M i g a s

d. memulai produksi Minyak danlatau Gas Bumi dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua)
tahun setelah mendapatkan persetujuan pengembangan lapangan.
(2) Pelaksanaan pengembangan lapangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, wajib
dilakukan oleh Kontraktor sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran, dan ketentuan
peraturan perundangundangan.
(3) Dalam ha1 dikarenakan pertimbangan teknis danlatau ekonomis ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dilakukan oleh Kontraktor, Menteri c.q. Direktur
Jenderal dapat menetapkan kebijakan lain dalam rangka percepatan produksi.
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf d,
Kontraktor wajib :
a. melakukan inventarisasi lapangan yang tidak berproduksi namun masih berpotensi dan
melaporkan hasil inventarisasi tersebut kepada Badan Pelaksana dalam jangka waktu
paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. melaporkan kepada Menteri melalui Badan Pelaksana disertai pengajuan rencana
pemroduksian kembali dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender
setelah diselesaikannya inventarisasi sebagaimana dimaksud pada huruf a.
(2) Dalam ha1 rencana pemroduksian kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (I) akan
dilakukan dengan bekerjasama pihak lain, wajib terlebih dahulu meminta persetujuan Menteri
melalui Badan Pelaksana.Dalam ha1 Kontraktor tidak mengajukan rencana pengusahaan
terhadap lapangan yang tidak berproduksi namun masih berpotensi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (I), Kontraktor wajib mengembalikannya kepada Menteri untuk ditetapkan
kebijakan peng usahaannya.
(1) Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf e,
Kontraktor wajib :
a. melakukan inventarisasi sumur-sumur yang tidak berproduksi namun masih berpotensi
dalam suatu lapangan yang berproduksi dan melaporkan hasil inventarisasi tersebut kepada
Badan Pelaksana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah
ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. melaporkan kepada Menteri melalui Badan Pelaksana disertai pengajuan rencana
pemroduksian kembali dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari
kalender setelah diselesaikannya inventarisasi sebagaimana dimaksud pada huruf a.
(2) Dalam ha1 rencana pemroduksian kembali sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan
dilakukan dengan bekerjasama pihak lain, wajib terlebih dahulu meminta persetujuan Menteri
melalui Badan Pelaksana. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
sampai dengan Pasal 7 dengan mempertimbangkan Kontrak Kerja Sama dan mengacu pada
peraturan perundang-undangan. Bagian Kedua Kewajiban Badan Pelaksana Dalam rangka
pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Badan Pelaksana wajib :
a. mendukung proses percepatan penyusunan dan penerbitan peraturan perundang-undangan
yang diperlukan;
b. mempercepat proses pemberian perizinan dan persetujuan terkait dengan peningkatan
produksi;
81 | E k o n o m i M i g a s

c. meningkatkan upaya pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan Kontrak Kerja Sama;
d. meningkatkan upaya ditaatinya Kontrak Kerja Sama oleh Kontraktor dalam pelaksanaan
hak dan kewajibannya;
e. melakukan peningkatan koordinasi internal dalam rangka penyelesaian masalah-masalah
terkait kegiatan operasi perminyakan.
Pasal 10
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, Badan
Pelaksana wajib :
a. melakukan inventarisasi dan evaluasi atas pelaksanaan peraturan perundang-undangan
yang terkait dengan peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi dan melaporkan hasilnya
kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktur Jenderal dalam jangka waktu paling
lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. menyampaikan masukan substansi materi dalam rangka penyusunan peraturan perundangundangan yang diperlukan untuk peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi kepada
Direktur Jenderal dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah
diselesaikannya inventarisasi sebagaimana dimaksud pada huruf a;
c. melakukan evaluasi atas pelaksanaan Kontrak Kerja Sama dan memberikan masukan
untuk penyusunan alternatif bentuk Kontrak Kerja Sama danlatau ketantuan-ketentuan
pokok Kontrak Kerja Sama kepada Direktur Jenderal dalam jangka waktu paling lambat
90 (sembilan puluh) hari kalender sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
d. melakukan penyesuaian dan penataan kembali terhadap ketentuan dan pedoman tata kerja
dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak ditetapkannya
Peraturan Menteri ini.
Pasal 11
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b, Badan
Pelaksana wajib:
a. menyampaikan rekomendasi disertai pertimbangan rencana pengembangan lapangan yang
pertama (POD I) kepada Menteri dalam jangka waktu paling lambat 40 (empat puluh) hari
kalender sejak diterimanya usulan dari Kontraktor secara lengkap;
b. memberikan persetujuan pengembangan lapangan (POD) berikutnya, dalam jangka waktu
paling lambat 40 (empat puluh) hari kalender sejak diterimanya usulan Kontraktor secara
lengkap;
c. memberikan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran (Work Program and Budget)
danlatau Otorisasi Pembelanjaan Finansial (Authorization Financial Expenditure) dalam
jangka waktu paling lambat 40 (empat puluh) hari kalender sejak diterimanya usulan
Kontraktor secara lengkap;

82 | E k o n o m i M i g a s

d. memberikan rekomendasi persetujuan pengalihan hak dan kewajiban (farm in and farm
out) dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah diterimanya
usulan Kontraktor secara leng kap;
e. memberikan persetujuan penggunaan fasilitas secara bersama (sharing facilities) dalam
jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah diterimanya usulan dari
f.

Kontraktor secara lengkap;


memberikan rekomendasi persetujuan kepada Menteri dalam ha1 terdapat unitisasi dalam
jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah diterimanya usulan dari

Kontraktor secara lengkap;


g. memberikan rekomendasi atas impor barang, peralatan operasi perminyakan dalam jangka
waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kalender setelah diterimanya usulan dari
Kontraktor secara lengkap.
Pasal 12
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, Badan Pelaksana
wajib:
a. melaksanakan pengawasan dan evaluasi atas pelaksanaan POD pertama dan berikutnya
sesuai dengan persetujuan POD yang telah disetujui;
b. melaksanakan pengawasan dan evaluasi atas pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran
(Work Program and Budget) danlatau Otorisasi Pembelanjaan Finansial (Authorization
Financial Expenditure) yang telah disetujui oleh Badan Pelaksana;
c. melakukan peningkatan pengawasan pelaksanaan atas perawatan sumur-sumur dan
fasilitas-fasilitas produksi Minyak dan Gas Bumi.
Pasal 13
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d Badan Pelaksana
wajlb:
a. meningkatkan intensitas monitoring dan pengawasan atas kegiatan Kontraktor;
b. memberikan teguranlperingatan kepada Kontraktor yang tidak melaksanakan kewajiban
sesuai Kontrak Kerja Sama;
c. memberikan rekomendasi kepada Menteri untuk pemberian sanksi pemutusan Kontrak
Kerja Sama apabila terdapat pelanggaran Kontrak Kerja Sama danlatau peraturan
perundang-undangan.
Pasal 14
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf d Badan
Pelaksana wajib:
a. memfasilitasi dan melakukan koordinasi internal untuk percepatan penyelesaian
permasalahan;

83 | E k o n o m i M i g a s

b. melaporkan kepada Menteri atas permasalahan-permasalahan yang belum dapat


diselesaikan untuk dapat diambil kebijakannya.
Pasal 15
Selain kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 14, Badan Pelaksana
wajib:
a. menetapkan besaran cadangan Minyak dan Gas Bumi yang baru ditemukan dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender setelah penemuan baru tersebut;
b. menetapkan alokasi sasaran produksi untuk setiap Kontraktor yang disesuaikan dengan
sasaran produksi Minyak dan Gas Bumi nasional yang ditetapkan Pemerintah;
c. melakukan pengawasan atas ditaatinya tata waktu pengajuan rencana pengembangan
lapangan terhadap cadangan Minyak dan Gas Bumiyang ditemukan sebagaimana
dirnaksud dalam Pasal4 ayat (1) huruf b dan melaporkan perkembangannya secara
periodik setiap bulan sekali kepada Direktur Jenderal.
Bagian Ketiga Kewajiban Direktorat Jenderal Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal2, Direktorat Jenderal wajib:
a. mempercepat proses penyusunan dan penerbitan peraturan perundangundangan yang
diperlukan;
b. mempercepat proses pemberian perizinan dan persetujuan terkait dengan peningkatan
produksi Minyak dan Gas Bumi;
c. meningkatkan upaya pembinaan, pengendalian dan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan
Kontraktor;
d. meningkatkan upaya ditaatinya peraturan perundang-undangan oleh Kontraktor dalam
pelaksanaan hak dan kewajibannya;
e. meningkatkan koordinasi internal dan lintas sektoral dalam rangka penyelesaian masalahmasalah dalam kegiatan operasi perminyakan.
Pasal 17
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a, Direktur
Jenderal wajib:
a. menyampaikan inventarisasi dan evaluasi peraturan perundangundangan yang terkait
dengan peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi kepada Menteri dalarn jangka waktu
paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini;
b. menyiapkan dan menyusun rancangan peraturan perundangundangan yang diperlukan
untuk peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi dalam jangka waktu paling lambat 30
(tiga puluh) hari kalender setelah diselesaikannya inventarisasi sebagaimana dimaksud
pada huruf a;
c. melakukan evaluasi terhadap bentuk dan ketentuan-ketentuan pokok Kontrak Kerja Sama
dan rnengusulkan altenatif bentuk Kontrak Kerja Sama dantatau ketentuan-ketentuan

84 | E k o n o m i M i g a s

pokok Kontrak Kerja Sama kepada Menteri dalam jangka waktu paling lambat 90
(sembilan puluh) hari kalender sejak ditetapkannya Peraturan Menteri ini.
Pasal 18
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf b, Direktur
Jenderal wajib:
a. menyampaikan pertimbangan kepada Menteri dalam rangka pernberian persetujuan
rencana pengembangan lapangan yang pertama (POD I) dalam jangka waktu paling lambat
30 (tiga puluh) hari kalender setelah diterimanya usulan rencana pengembangan lapangan
yang pertama (POD I);
b. memberikan izinlrekomendasi dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh) hari
kalender sejak diterimanya permohonan secara lengkap.
Pasal 19
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c, Direktur
Jenderal wajib :
a. mengevaluasi dan menganalisa pelaksanaan kegiatan Kontraktor terkait dengan
peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi;
b. memberikan informasi dini mengenai hal-ha1 khusus dan usulan antisipasi kepada Menteri
mengenai hal-ha1 yang terkait dengan peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi;
c. mengambil langkah-langkah yang diperlukan sebagai tindak lanjut hasil evaluasi atas
laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b.
Pasal 20
Dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf dl Direktur
Jenderal wajib :
a. memberikan teguranlperingatan kepada Kontraktor yang tidak melaksanakan kewajiban
sesuai ketentuan Peraturan Menteri ini;
b. memberikan sanksi kepada Kontraktor yang melakukan pengulangan pelanggaran setelah
diberikannya teguranlperingatan sebagaimana dimaksud pada huruf a.
Pasal 21
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf e, Direktur
Jenderal wajib:
a. memfasilitasi dan melakukan koordinasi dengan instansi internal sektor energi dan sumber
daya mineral untuk percepatan penyelesaian permasalahan dalam kegiatan operasi
perminyakan;
b. memfasilitasi dan melakukan koordinasi lintas sektoral untuk percepatan penyelesaian
permasalahan dalam kegiatan operasi perminyakan;
85 | E k o n o m i M i g a s

c. melaporkan kepada Menteri atas permasalahan-permasalahan yang belum dapat


diselesaikan ilntuk dapat diambil kebijakannya.
BAB III
KETENTUAN LAIN
Pasal 22
Dalam pelaksanaan Eksplorasi dan Eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Kontraktor
wajib memprioritaskan pemanfaatan barang, jasa, teknologi dan kemampuan rekayasa serta
rancang bangun dalam negeri.
Pasal 23
Wasil produksi dari Eksplorasi dan Eksploitasi wajib diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan
dalam negeri. Kebijakan, pengaturan, pembinaan dan pengawasan wajib dilakukan dalam rangka
pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 dan Pasal 23.
Pasal 24
Dalam rangka mernbantu pelaksanaan program peningkatan produksi Minyak dan Gas Bumi,
Menteri dapat membentuk Tim Pengawas Peningkatan Produksi Minyak dan Gas Bumi.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 26
Dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ini, segala ketentuan dalam Peraturan Menteri dan
peraturan pelaksanaannya yang bertentangan dengan Peraturan Menteri ini dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 27
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

86 | E k o n o m i M i g a s

8. PP Nomor 9 Tahun 2013


PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 9 TAHUN 2013
TENTANG
PENYELENGGARAAN PENGELOLAAN KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN
GAS BUMI
Pasal 1
Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral,
yang untuk selanjutnya disebut Menteri, membina, mengoordinasikan dan mengawasi
penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha huiu minyak dan gas bumi.
Pasal 2
(1) Penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1, sampai dengan diterbitkannya undang-undang bam di bidang
minyak dan gas bumi, dilaksanakan oleh satuan kerja khusus pelaksana kegiatan usaha huiu
minyak dan gas bumi dan untuk selanjutnya dalam Peraturan Presiden ini disebut SKK
Migas.
(2) Dalam rangka pengendalian, pengawasan, dan evaluasi terhadap pengelolaan kegiatan usaha
hulu minyak dan gas bumi oleh SKK Migas, dibentuk Komisi Pengawas.
Pasal 3
Keanggotaan Komisi Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), terdiri dari:
a. Ketua

: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral

b. Wakil Ketua

: Wakil Menteri Keuangan yang membidangi urusan anggaran negara

c. Anggota

: 1. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal;


2. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Pasa1 4

Komisi Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2), mempunyai tugas:

87 | E k o n o m i M i g a s

a. memberikan persetujuan terhadap usulan kebijakan strategis dan rencana kerja SKK Migas
dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi;
b. melakukan pengendalian, pengawasan, dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan
operasional SKK Migas dalam penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan
gas bumi;
c. memberikan pendapat, saran, dan tanggapan atas laporan berkala mengenai kinerja SKK
Migas;
d. memberikan pertimbangan terhadap usulan pengangkatan dan pemberhentian Kepala SKK
Migas; dan
e. memberikan persetujuan dalam pengangkatan dan pemberhentian pimpinan SKK Migas
selain Kepala SKK Migas.
Pasal 5
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 4, Komisi Pengawas
menyampaikan laporan kepada Presiden secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam)
bulan.
Pasal 6
Dalam rangka membina, mengoordinasikan, dan mengawasi penyelenggaraan pengelolaan
kegiatan usaha huiu minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Menteri
melakukan penataan:
a. Organisasi SKK Migas;
b. Pegawai SKK Migas; dan
c. Aset SKK Migas;
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
Struktur Organisasi SKK Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), terdiri dari:
a. Kepala;
b. Wakil Kepala;
c. Sekretaris;
d. Pengawas Internal; dan
e. Deputi, paling banyak 5 (lima) orang.
Pasa1 8
(2) Kepala SKK Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a, diangkat dan
diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri, setelah mendapatkan pertimbangan terlebih
dahulu dari Komisi Pengawas.
(3) Untuk pertama kali, Kepala SKK Migas ditetapkan langsung oleh Presiden.
88 | E k o n o m i M i g a s

(4) Sebelum ditetapkannya Kepala SKK Migas sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
pelaksanaan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi
dilakukan oleh Menteri.
Pasa1 9
(1) Kepala SKK Migas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf a, bertanggung jawab
la.ngsung kepada Presiden.
(2) Kepala SKK Migas wajib menandatangani Pakta Integritas dan Kontrak Kinerja kepada
Presiden.
Pasa1 10
(1) Wakil Kepala, Sekretaris, Pengawas Internal, dan para Deputi SKK Migas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 7 huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e diangkat dan diberhentikan
oleh Menteri atas usul Kepala SKK Migas.
(2) Menteri dalam mengangkat dan memberhentikan Wakil Kepala, Sekretaris, Pengawas
Internal, dan para Deputi SKK Migas, terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Komisi
Pengawas.
Pasal 11
Pegawai SKK Migas selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, diangkat dan diberhentikan oleh
Kepala SKK Migas.
Pasal 12
(1) Batas usia pensiun bagi Kepala, Wakil Kepala, Sekretaris, Pengawas Internal, dan para
Deputi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, adalah 60 (enam puluh) tahun.
(2) Batas usia pensiun bagi pegawai SKK Migas selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,
adalah 56 (lima puluh enam) tahun.
Pasa1 13
(1) Pegawai SKK Migas dapat berasal dari pegawai negeri sipil dan non pegawai negeri sipil.
(2) Pegawai SKK Migas untuk pertama kali berasal dari pengalihan pegawai eks Badan
Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Burni.
(3) Pegawai SKK Migas wajib menandatangani Pakta Integritas.
Pasal 14
Dalam pelaksanaan tugasnya, Kepala SKK Migas dapat mengangkat tenaga ahli paling banyak 5
(lima) orang.
Pasal 15
(1) Pegawai SKK Migas diberikan hak keuangan dan fasilitas.
89 | E k o n o m i M i g a s

(2) Ketentuan mengenai jenis dan besaran hak keuangandan fasilitas sebagaimana dimaksud ada
ayat (1),diatur oleh Menteri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Keuangan.
Pasal 16
Ketentuan mengenai tugas, susunan organisasi, kepegawaian, dan tata kerja SKK Migas, diatur
lebih lanjut oleh Menteri.
Pasa1 17
Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, SKK
Migas memanfaatkan asset eks Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
dengan prinsip optimalisasi dan efisiensi.
Pasal 18
(1) Biaya operasional dalam rangka pengelolaan kegiatan usaha huiu minyak dan gas bumi,
berasal dari jumlah tertentu dari bagian negara dari setiap kegiatan usaha huiu minyak dan gas
burnie
(2) Besaran biaya operasional sebagairnana dimaksud pada ayat (1), diusulkan oleh Menteri,
untuk ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
(3) Biaya operasional yang diperlukan dalam pengelolaan kegiatan usaha huiu minyak dan gas
bumi untuk tahun 2012, menggunakan sisa anggaran eks Badan Pelaksana Kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas Bumi Tahun 2012.
Pasal 19
Dalam rangka pemanfaatan aset eks Badan Pelaksana Kegiatan Usaha. Hulu Minyak dan Gas
Bumi dan pelaksanaan penyelenggaraan pengelolaan kegiatan usaha huiu minyak dan gas bumi
oleh SKK Migas, dilakukan audit sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasa1 20
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, dan mempunyai daya laku surut
sejak tanggal 13 November 2012 sepanjang berkaitan dengan biaya operasional dalam rangka
pengelolaan kegiatan usaha minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18. Agar
setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

90 | E k o n o m i M i g a s