Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses fertilisasi yang terjadi di oviduk diikuti dengan penyelesaian proses
meiosis. Zigot kemudian mengalami pembelahan dan perkembangan menjadi
blastosis sebelum terjadi implantasi pada endometrium. Kondisi dimana uterus
menjadi tempat perlekatan satu atau lebih embrio disebut dengan kehamilan atau
gestasi. Semua organ-organ utama mulai berkembang pada minggu ke 8. Wanita
hamil akan mengalami supresi sistem imun karena adanya substansi asing berupa
fetus yang ada dalam uterus. Kehamilan manusia terjadi selama 266 hari. waktu
kehamilan pada mamalia lain yang berplasenta bervariasi tergantung pada ukuran
tubuh dan kematangan hewan pada saat kelahiran. Berbagai rodentia mempunyai
masa kehamilan sekitar 21 hari, anjing sekitar 60 hari, sapi 270 hari dan gajah
sekitar 600 hari (Reece et. al., 2011).
Tidak semua telur yang mengalami fertilisasi mampu menyelesaikan
perkembangannya. Banyak kehamilan yang berakhir karena abnormalitas
kromosom atau mengalami kehamilan ektopik yang bisa menyebabkan
pendarahan dalam. Kegagalan kehamilan bisa juga terjadi karena endometriosis,
infeksi bakteri atau penyakit seksual (Reece et. al., 2011). Keberhasilan
kehamilan dipengaruhi oleh berbagai faktor dan didukung oleh sistem hormon
yang ada pada ibu, plasenta dan fetus. Fetus akan melalui perkembangan selama
masa

kehamilan

hingga

siap

dilahirkan

apabila

telah

menyelesaikan

perkembangannya. Kelahiran atau parturasi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor


dan terjadi melalui mekanisme tertentu. Oleh karea itu kehamilan, parturasi dan
kondisi hormonal beserta faktor yang mempengaruhinya penting dipelajari dalam
Fisiologi Reproduksi.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah kehamilan dan apa faktor-faktor pendukungnya?
2. Apakah peranan hormonal terhadap terjadinya kehamilan?

3. Bagaimanakah perkembangan fetus selama masa kehamilan?


4. Bagaimanakah perkembangan fetus menjelang parturasi?
5. Apakah faktor-faktor yang berperan dalam parturasi?
6. Bagaimanakah mekanisme parturasi?

C. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Menjelaskan kehamilan dan faktor-faktor pendukungnya.
2. Menjelaskan peranan hormonal terhadap terjadinya kehamilan.
3. Menjelaskan perkembangan fetus selama masa kehamilan.
4. Bagaimanakah perkembangan fetus menjelang parturasi?
5. Apakah faktor-faktor yang berperan dalam parturasi?
6. Bagaimanakah mekanisme parturasi?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kehamilan dan Faktor-faktor Pendukungnya


Kehamilan atau gestasi merupakan kondisi ketika ada satu atau lebih
embrio yang tertanam dalam uterus. Kehamilan pada manusia terjadi sekitar 266
hari (28 minggu) dari terjadinya fertilisasi telur atau 40 minggu mulai dari siklus
menstruasi (Reece et. al., 2011). Konseptus yang tumbuh setelah fertilisasi harus
melalui oviduk menuju uterus pada waktu yang tepat dan juga mendapatkan
nutrisi yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangannya
(Johnson & Everitt, 2007).
Metabolisme fetus bergantung pada transport gas (O2 dan CO2) dan nutrien
esensial yang terjadi pada plasenta. Nutrien esensial tersebut diantaranya adalah
glukosa dan karbohidrat, asam amino dan urea, asam lemak, air dan elektrolit,
besi, kalsium dan vitamin. Fetus memperoleh glukosa dari peredaran darah ibu
dan bisa disimpan dalam bentuk glikogen di hati yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan neonatus. Lemak diperlukan dalam mengatur suhu. Asam amino dan
urea diperoleh secara langsung dari pencernaan protein endogen, asam amino
nonesensial diperoleh dari interkonversi dari asam amino yang lain. Pertukaran air
antara ibu dan fetus terjadi pada plasenta dan korion nonplasenta. Ion Na+ dan
elektrolit lain terjadi pada plasenta. Darah fetus berisi besi 2-3 kali lebih banyak
daripada konsentrasi di darah ibu. Fetus membutuhkan banyak kalsium dari ibu
melalui mekanisme transport aktif. Asam folat dan vitamin B12 dibutuhkan fetus
untuk perkembangan normal (Johnson & Everitt, 2007).
Salah satu faktor yang sangat berperan dalam terjadinya kehamilan adalah
faktor hormonal yang bisa menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis yang
mendukung proses kehamilan. Apabila implantasi berhasil, maka harus dilakukan
perpanjangan fungsi korpus luteum. Blastosis primata memperpanjang masa
hidup korpus luteum dengan memproduksi faktor luteotrofik. Pada darah akan
dijumpai peningkatan kadar glikoprotein human Chorionic Gonadotrophin (hCG).
hCG disintesis oleh sinsitiotrophoplast pada hari ke 6-7 setelah fertilisasi dan
kemudian dilepaskan ke peredaran darah ibu. hCG menuju ovarium dan berikatan

dengan reseptor LH pada sel luteal untuk melakukan aktivitas luteotrofik, salah
satunya yaitu menjaga pengeluaran progesteron melalui feedback positif. Produksi
relaxin luteal juga meningkat dan mendukung terjadinya transisi kehamilan.
Kombinasi kedua stimulus luteotrofik ini mencegah kecenderungan terjadinya
luteolisis (Johnson & Everitt, 2007).

B. Peranan Hormonal terhadap Terjadinya Kehamilan


Selama masa kehamilan, konseptus bergantung seluruhnya pada ibu dalam
hal perlindungan dan nutrisi. Konseptus meminimalisir berbagai aktivitas
metabolisme dan fisiologi

sehingga terjadi mobilisasi oksigen, garam dan

prekusor organik yang memadai untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu


caranya adalah dengan berperan serta dalam pembentukan pembuluh plasenta
sebagai jalur pertukaran substansi dan membuang sisa metabolisme. Selama
kehamilan, ibu juga mempersiapkan kebutuhan fetus di masa yang akan datang,
misalnya terjadi stimulasi hipertropi otot uterus yang berperan dalam pengeluaran
fetus saat kelahiran dan perkembangan kelenjar mammae untuk nutrisi susu pasca
kelahiran. Pengambilalihan metabolisme ibu dikontrol oleh hormon kehamilan
(Johnson & Everitt, 2007).
1. Peran Sentral Progesteron
Perpanjangan sekresi progesteron sangat penting untuk awal kehamilan.
Progesteron akan selalu dibutuhkan selama masa kehamilan. Pada beberapa
spesies, kadar progesteron pada darah ibu meningkat secara terus menerus.

Gambar 1 Hormon pada plasma darah selama masa kehamilan (hari). Kotak biru menunjukkan
kadar progesteron maksimal. PL = placental lactogen, hCG = human Chorionic Gonadotrophin
(Johnson & Everitt, 2007).

Selain itu semakin lama masa kehamilan kadar estrogen pada darah ibu
juga meningkat. Hormon steroid dalam plasma ini mecapai kadar beberapa kali
lipat lebih tinggi daripada normal. Pada beberapa spesies, corpora lutea terus
menyekresikan hormon steroid selama masa kehamilan atas kendali pituitari ibu
(Johnson & Everitt, 2007).
Konseptus Menyintesis Hormon Steroid
Selama 2 minggu pertama kehamilan, konseptus menyintesis dan
melepaskan hormon hCG. Hormon ini mempertahankan aktivitas progestagenik
dari korpus luteum. Selama 2-3 minggu berikutnya konseptus juga menyintesis
semua hormon steroid yang dibutuhkan untuk kehamilan. Meskipun korpus
luteum ibu tetap aktif sepanjang masa kehamilan, korpus luteum hanya berperan
selama 4-5 minggu dan perannya lebih sedikit pada masa kehamilan selanjutnya
(Johnson & Everitt, 2007).
Progesteron Disekresikan oleh Trofoblast Plasenta
Studi

in

vitro

biosinesis

progesteron

dilakukan

melalui

kultur

sinsitiotrofoblast. Trofoblast hanya bisa menggunakan kolesterol (bukan asetat)


sebagai substrat. Kolesterol biasanya diperoleh dari ibu. Peningkatan kadar
progesteron selama masa kehamilan diduga terjadi secara otonom dan belum ada
mekanisme kontrol eksternal yang ditemukan. Plasenta mampu menyintesis
progesteron dalam kadar yang cukup selama 5-6 minggu. Pada wanita hamil
normal akan terjadi masa stabil atau bahkan sedikit penurunan konsentrasi
progesteron dalam darah antara minggu ke 6-9. Masa stabil bertepatan dengan
penurunan

kadar

17-hydroxyprogesterone

(progestagen

ovarium)

yang

mengindikasikan bahwa pada saat itu plasenta mengambil alih aktivitas


progestagenik. Pregnenolone dan progesteron melewati plasenta menuju sirkulasi
fetus dan ibu. Metabolit progesteron

yang diekskresikan 15% dari total

keseluruhan adalah pregnanediol (Johnson & Everitt, 2007).


Fetus dan Plasenta Bekerjasama dalam Menghasilkan Estrogen
Konseptus juga merupakan sumber estrogen tinggi pada saat kehamilan.
Estrogen utama yang dihasilkan bukan oestradiol 17, melainkan oestriol. Fetus
dan plasenta saling bekerjasama untuk menghasilkan estrogen. Plasenta dapat
menyintesis oestrogen dari C19 androgen, tapi tidak dapat menyintesis

androgennya sendiri dari progestagen. Sementara itu adrenal fetus bisa


menyintesis C19 androgen (DHA dan beberapa androstenedion) dari progestagen,
tapi tidak dapat melakukan aromatisasi menjadi oestrogen. Steroid C19 tersebut
dibuat di zona khusus adrenal pada fetus, kemudian harus dilewatkan melalui
plasenta yang kemudian dikonversi menjadi oestrogen (Johnson & Everitt, 2007).

Gambar 2 Rute utama unit materno-feto-placental sintesis estrogen (Johnson & Everitt, 2007).

Pada proses kerjasama antara plasenta dengan fetus dalam menghasilkan


oestrogen ada dua hal yang harus diperhatikan:
a. Langkah awal fetus menghandel semua steroid yang datang dari plasenta atau
ibu adalah dikonjugasikan dengan sulfat. Konjugasi ini terjadi pada hati fetus
dan adrenal. Steroid konjugasi kemudian dikonversi secara biosintetis oleh
adrenal fetus menjadi derivat steroid yang lain melalui intermediet sulfat.
Sebaliknya, steroid konjugasi dari fetus yang tiba di plasenta akan mengalami
dekojugasi, melepaskan steroid bebas pada sistem sirkulasi fetus dan ibu. Oleh
karena itu fetus melakukan konjugasi steroid sengan sulfat dan plasenta
melakukan dekojugasi. Hal ini sangat penting karena steroid konjugasi larut
dalam air dan inaktif secara biologis. Konjugasi tersebut akan melindungi
fetus dari penetrasi dan aktivitas steroid yang tidak menguntungkan pada

jaringan fetus (misalnya maskulinisasi betina oleh androgen lemah). Hal ini
merupakan strategi dalam menyediakan kadar steroid tinggi yang dibutuhkan
oleh ibu untuk mempertahankan kehamilan, tetapi mempertahankan steroid
aktif dalam kadar rendah untuk melindungi fetus dari efek samping yang tidak
diinginkan (Johnson & Everitt, 2007).
b. Sintesis oestron dan oestradiol 17 pada plasenta dapat terjadi dari DHA sulfat
yang bisa diperoleh dari adrenal fetus atau dari adrenal ibu. Sintesis oestriol
juga terjadi pada plasenta, tapi substrat 16-hydroxylated yang dibutuhkan
berasal dari hati fetus. Oleh karena itu, steroid 16-hydroxylated seperti
oestriol bisa menjadi alat diagnostik atau indikator untuk fungsi plasenta dan
kesehatan fetus. Pada kehamilan beresiko, penurunan kadar steroid 16hydroxylated secara konsisten selama beberapa hari berhubungan dengan
keadaan bahaya pada fetus sehingga perlu dilakukan kelahiran prematur
(Johnson & Everitt, 2007).
Peningkatan Kortikosteroid selama Kehamilan Dipengaruhi oleh Oestrogen
Kadar kortisol dalam darah akan meningkat selama masa kehamilan.
Peningkatan kadar kortisol terjadi karena penurunan metabolisme kortisol bebas
dan sebagian besar karena sintesis transcortin yang distimulasi oleg oestrogen dari
3,5 mg/100 ml menjadi 10 mg/100 ml. Transcortin berikatan dengan kortisol
danprogesteron (Johnson & Everitt, 2007).

2. Hormon Protein Plasenta Utama


Chorioic Gonadotrophin tidak Dibutuhkan Ketika Sudah Terjadi Sintesis
Steroid Plasenta
hCG merupakan hormon protein heterodimer yang mempunyai subunit
yang mirip dengan luteinizing hormon (LH), follicle-stimulating hormon (FSH)
dan thyroid-stimulating hormon (TSH), tapi mempunyai subunit yang unik.
hCG diproduksi oleh sinsitiotrofoblast dan bisa dideteksi pada serum ibu pada
hari 8-9 setelah konsepsi. Kadar hCG akan naik setiap 48 jam pada mingguminggu pertama kehamilan hingga mencapai puncak 80.000-100.000 mIU/mL
sekitar minggu ke 8-10 kehamilan. Kadar hCG akan turun hingga 10.000-20.000

mIU/mL dan tetap pada kadar tersebut selama sisa masa kehamilan (Norwitz &
Schorge, 2001).
hCG berperan penting pada awal kehamilan untuk memperpanjang korpus
luteum dari 2 menjadi 6-7 minggu sampai steroid plasenta mengambil alih.
Peningkatan kadar hCG pada darah dan urin bisa digunakan sebagai indikator
kehamilan, tes positif untuk indikasi biokimiawi kehamilan. hCG terbatas hingga
kadarnya dalam darah menurun setelah 8 minggu, berhubungan dengan turunnya
kadar 17-hydroxyprogesteron. hCG dalam kadar rendah masih bisa dideteksi
selama masa kehamilan (Johnson & Everitt, 2007).
Somatotrofin Disintesis oleh Plasenta pada Akhir Trimester Pertama
Seiring dengan penurunan kadar hCG, ekspansi sinsitiotrofoblast pada
minggu ke 6-8 berhubungan dengan peningkatan sekresi human placental
lactogen (hPL) dan varian plasenta dari hormon pertumbuhan (hGH-V dan
chorionic-sommmatotrophin-like (CS) A, B dan L). Kadarnya dalam darah
kemudian meningkat pada trimester terakhir. Ketika kadar hGH-V pada plasma
meningkat, hGH pituitari akan menurun yang menandakan kontrol feedback
negatif. Kehamilan terus bertahan dalam keadahan defisiensi GH ibu. GH plasenta
mengatur metabolisme ibu melalui stimulasi pertumbuhan plasenta dan induksi
IGF-1 plasenta menginduksi distribusi nutrisi pada fetus. Defisiensi GH plasenta
akan menyebabkan pertumbuhan fetus terhambat (Johnson & Everitt, 2007).
Pelepasan prolaktin dari pituitary distimulasi oleh oestrogen dan kadarnya
dalam plasma ibu mencapai 200 ng/ml pada trimester terakhir. Prolaktin juga
disintesis oleh jaringan desidual dan progesteron terlibat dalam pengontrolan
sekresinya. Prolaktin desidual tampak pada sirkulasi ibu dan fetus, mayoritas
sepertinya melewati cairan amnion dan berperan dalam menjaga keseimbangan air
dan elektrolit pada fetus (Johnson & Everitt, 2007).

C. Perkembangan Fetus selama Masa Kehamilan


Pada dua minggu pertama adalah pembuahan yang dimulai dari
pembentukan zigot, zigot yang berjalan dari tuba valopi ke uterus, terjadi
pembelahan dan zigot terbagi menjadi lapisan luar dan lapisan dalam. Lapisan
luar berkembang menjadi placenta atau ari-ari, tali pusar dan selaput pembungkus

janin. Sedangkan lapisan dalam berkembang menjadi manusia baru. Berikut ini
lebih jelas tentang perkembangan janin selama kehamilan:

Minggu ke-1 sampai ke-2


Sel telur yang sudah dibuah akan membelah menjadi 2 sel, kemudian 4 sel
dan kemudian terus membelah sambil bergerak meninggalkan tuba falopi
menuju rahim. Saat ini, dengan perkiraan kasar terdapat 30 sel hasil
pembelahan. Kumpulan sel tersebut dinamakan morula.

Gambar 3 Sel telur yang telah dibuahi

Minggu ke-3
Selama minggu-minggu awal kehamilan, bayi akan berkembang pesat.
Setiap hari pasti akan ada perubahan besar. Hanya dalam waktu 7 hari, sebuah
sel akan menjadi suatu kelompok berisi ratusam sel. Sebagian membentk
embrio, sedangkan yang lain menjadi struktur penyokong yang memberi
nutrisi kepada embrio.

Minggu ke-4
Pada minggu ini, blastokista yang tadinya berbentuk bola mulai berubah
menjadi sebuah embrio. Embrio ini dibedakan menjadi 3 jenis lapisan yang
nantnya membentuk3 jenis jaringan, yaitu:
1. Endoderm: lapisan terdalam yang akan membentuk paru-paru, hati, sistem
pencernaan, dan pankreas.
2. Mesoderm: lapisan tengah yang akan menjadi tulang, otot, ginjal,
pembuluh darah dan jantung
3. Ektoderm: lapisan terluar yang akan membentuk kulit, rambut, lesa mata,
email gigi,dan sistem saraf.

Gambar 4 Bentuk fetus pada minggu ke-4

Minggu ke-5
Pada saat ini janin dalam rahim sang ibu telah memiliki bentuk yang lebih
jelas. Janin telah memiliki bagian atas, bawah, kanan kiri, serta depan
belakang. Didaerah punggung terdapat suatu celah melengkung yang akan
membentuk struktur seperti tabung silinder yang disebut neural tube. Dalam
perkembangannya, pada tabung tersebut akan terbentuk sumsum tulang
belakang dan otak. Bagian atasa dari tabung tersebut akan meluas dan
mendatar untuk membentuk otak depan. Selain itu, di bagian pusat janin akan
terbentuk suatu tonjolan yang merupakan bakal jantung. Tonjolan tersebut
akan dialiri oleh pembuluh darah yang belum sempurna.

Minggu ke-6
Tabung saraf disepanjang tulang belakang telah menutup. Di salah satu
ujungnya telah terbentuk bakal otak yang akan mengisi tulang tengkorak.
Sementara itu, terdapat 2 buah piringan pigmen kecil yang membentuk
struktur seperti mangkuk dikedua sisi kepalanya. Bagian ini disebut vesikel
optikus yang merupakan bakal mata. Walaupun jantung bayi pada awalnya
hanya merupakan tabung kecil, namun pada tahap ini bakal jantung telah
berdenyut dan tidak akan pernah berhenti hingga akhir hidup. Bakal kaki dan
tangan juga mulai terlihat, demikian pula tulang ekor akan terlihat jelas di
tahap ini.

Minggu ke-7
Di minggu ini terjadi prubahan pada tubuh, wajah, dan kaki bayi. Saluran
pencernaan janin mulai terbentuk dan usu depan telah terlihat. Bentuk tulang

10

ekor juga jelas terlihat namun akan menghilang pada minggu ke-10 atau 11.
Paru-paru juga mulai berkembang sementara itu tali pusat akan berkembang
setelah placenta dewasa. Selain itu telah terbentuk pula bakal wajah, sedikit
pigmentasi pada iris mata dan lubang pada mulutnya. Seminggusetelah
pembentukan bakal kaki, maka bakal lengan justru telah dapat dibedakn
menjadi segmen tangan dan bahu.

Minggu ke-8
Pada ujung-ujung tubuh yang sedang berkembang, mulai terbentuk bakal
jari tangan dan kaki, sedangkan bakal lengan akan sedikit fleksi
(membengkok) pada bagian pergelangan dan siku. Pada bagian sisi leher
nampak bakal telinga luar yang mulai tumbuh, begitu pula halnya bibir atas
dan ujung hidung pada wajahnya. Bakal mata janin masih saling berjauhan
namun bakal kelopak mata mulai terbentuk mengitarinya. Dalam tubuh janin,
usu halus tampak panjang sekali sehingga rongga perut tidak mampu
menampung. Beberapa akan menonjol ke tali pusat janin yang disebut hernia
(penonjolan) fisiologik.

Gambar 5 Bentuk Fetus pada Minggu ke-8

Minggu ke-9
Punggung bayi saat ini akan sedikit menegak dan tulang ekornya akan
sedikit memendek. Proporsi kepala masih lebih besar dari anggota tubuh
lainnya san bagian kepala masih menekuk ke arah dada.kedua mata bayi teah
berkembang dengan baik namun masih ditutupi oleh membran kelopak. Selain
itu, bayi sudah dapat melakukan gerakan-gerakan kecil setelah otot-ototnya
mulai berkembang dan perubahan ini dapat dilihat melaui USG. Anggota

11

badan lainnya juga mulai berkembang seperti perkembangan lengan dan jari
tangan lebih cepat daripada tungkai dan jari kaki. Pada tahap ini, telapak
tangan janin teleh memiliki batas jari tangan yang jelas. Kelima jari tangan
tampak terpisah satu sama lain.

Minggu ke-16 (trimester 2)


Panjang janin berkisar anatara 10-17 cm. Berat janin rata-rata 100
gram. Tinggi rahim setengah atas simpisis-pubis. Sistem muskuloskeletal
sudang matang, sistem saraf mulai melakukan kontrol.pembuluh darah
berkembang cepat. Tangan janin dapat mengenggam. Kaki menendang aktif.
Pankreas memproduksi insulin. Kelamin luar sudah dapat ditentukan jenisnya.

Gambar 6 Bentuk Fetus pada Minggu ke-16

Minggu ke-20 - 28
Pada minggu ini terbentuk alis, bulu mata, dan rambut. Kerangka
berkembang pesat. Berkembangnya sistem pernafasan. Mata mulai membuka
dan menutup. Bentuk janin dua pertiga bentuk saat lahir.

Gambar 7 Bentuk Fetus pada Minggu ke-20-28

12

Minggu ke-32- 36
Janin mulai menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor, kulit penuh
dengan lemak dan gerak aktif, organ sudah sempurna.

Gambar 8 Bentuk Fetus pada Minggu ke-32-36

D. Perkembangan Fetus Menjelang Parturasi


Perkembangan fetus menjelang parturasi atau kelahiran yakni pada usia ke
37 minggu. Pada minggu tersebut kepala kepala turun ke ruang pelvik. Bentuk
fetus semakin membulat dan kulitnya menjadi merah jambu. Rambutnya tumbuh
dengan lebat. Kuku terbentuk dengan sempurna. Fetus sudah dapat melihat cahaya
diluar rahim. Futus pada saat ini sedang belajar mengenal aktifitas harian, selain
itu

fetus

juga

sedang

belajar

untuk

melakukan

pernafasn

walaupun

perbnafasannya masih dilakukan di dalam air. Berat fetus di minggu ini berkisar
antara 2700- 2800 gram dengan tinggi 48-49 cm. Pada minggu ke 38- 40 proses
pembentukan telah berakhir dan fetus siap dilahirkan.

Gambar 9 Posisi fetus saat berusia 36 minggu

13

E. Faktor-faktor yang Berperan dalam Parturasi


1. Miometrium dan serviks adalah jaringan paling kritis terlibat pada
kelahiran
Sebelum terjadinya kelahiran, janin terletak didalam selaput janin dalam
rahim dan dipertahankan pada serviks. Pemeliharaan kehamilan mengharuskan
kontraksi spontan miometrium dan saluran leher rahim a. Dua tahap perubahan
fisiologis yang diperlukan untuk meluruhkan janin. Pertama, leher rahim harus
mengalami perubahan struktural yang disebut pelunakan atau pematangan,
sehingga memungkinkan peluruhan dari neonatus: perubahan peran dari dukungan
kanal kelahiran. Kedua, tidak kalah penting, tekanan miometrium harus berubah
untuk memungkinkan kontraksi terkoordinasi dari tubuh miometrium (dibantu
otot lurik pada dinding perut dan tempat lain) untuk meningkatkan tekanan
intrauterin. kontraksi ini harus periodik tidak berkelanjutan dalam rangka untuk
mencegah oklusi tekanan suplai darah ke konsepsi. Selain itu, mereka harus
terarah sehingga kontraksi pada rahim yang lebih rendah yang berdekatan dengan
serviks tidak mencegahnya masuk ke dalam jalan lahir. Sebelum memeriksa
bagaimana masing-masing dari perubahan ini adalah fisiologis, kita pertama-tama
mempertimbangkan sifat perubahan yang terjadi di setiap jaringan dan apa
pengaruhnya.

14

2. Pelunakan serviks uterus dengan perubahan jaringan struktural


Leher rahim adalah bagian yang sangat penting dalam mempertahankan
janin dalam rahim selama kehamilan. Fungsi reflek ini kaya akan jaringan ikat,
yang membantu melawan peregangan. Jaringan ikat berasal dari kolagen benang
fibrin pada matriks proteoglikan. Pelunakan serviks diperlukan agar janin dapat
bergerak dari rahim menuju luar, dengan dua perubahan para matriks: penurunan
kolagen serat-serat dan ditandai peningkatan glycosaminoglycans (GAG), yang
menurunkan agregasi dari serat-serat kolagen yang tersisa. dalam serviks manusia,
keratan sulfat, yang tidak mengikat kolagen, meningkatkan peripartum, dengan
dermatan sulfat yang mengikat erat kolagen. Karena itu, serabut kolagen
'melonggarkan'. Aktivitas metaloproteinase di leher rahim meningkat sebagai
tanda pendekatan fase nifas dan menuju pelunakan serviks.
Prostaglandin berpengaruh terhadap pelunakan serviks
Prostaglandin merupakan efek pematangan serviks. Uji klinis telah
menunjukkan bahwa kedua prostaglandin E2 (PGE2) dan prostaglandin F2
(PGF2) meningkatkan pelunakan serviks jika diberikan dalam vagina atau
intracervically. Selain itu, mereka telah terbukti mempengaruhi serabut kolagen
dan asosiasi di biopsi serviks. PGE2 juga menginduksi migrasi leucocytic ke
dalam leher rahim oleh menginduksi pelepasan interleukin 8 (IL8). Penggunaan
prostaglandin klinis memfasilitasi pengiriman selama induksi kelahiran atau
evakuasi dari abortus terlambat. Namun, peran mereka dalam pelunakan serviks
selama persalinan normal kurang berpengaruh, karena tidak ada peningkatan
kadar endogen mereka dalam serviks terlihat selama pematangan spontan. Selain
itu, jelas apakah inhibitor prostaglandin menghambat proses tersebut. Baru-baru
ini, NO telah diusulkan sebagai fisiologis mungkin ripener serviks. Memang, pada
hewan percobaan, yang penghambatan farmakologi dari iNOS mencegah
pematangan dan, Selain itu, NO telah ditunjukkan untuk merangsang pelepasan
lokal PG. Hal ini dimungkinkan karena itu baik NO dan PG terlibat.
3. Kontraktilitas miometrium tergantung pada rangsangan dan kalsium rilis
Miometrium terdiri dari kumpulan serat otot non-lurik, bercampur dengan
jaringan areolar, saraf, darah dan pembuluh getah bening. Selama kehamilan,
estrogen merangsang peningkatan miometrium, terutama dengan meningkatkan

15

ukuran sel otot dari sekitar 50 sampai 500 pm (hipertrofi) dan dengan
meningkatkan deposisi glikogen. Secara fungsional, sistem sel otot bertindak
sebagai syncytium, sel yang digabungkan dengan elektrik melalui gap junction
khusus

atau

nexuses.

Ini

memungkinkan

terjadinya

kontraksi

melalui

miometrium. Namun, sejauh mana fungsi ini untuk mencapai kontraksi berada di
bawah kendali endokri. Dalam rangka untuk memahami proses ini, kita pertamatama mempertimbangkan fisiologi kontraktilitas miometrium. Kontraksi sel
miometrium tergantung pada kenaikan konsentrasi kalsium intraseluler, baik oleh
pembebasan dari intraseluler dan dengan masuk ke sel-sel otot dari cairan
ekstraselular. Kalsium kemudian mengikat situs regulasi pada protein kontraktil,
aktin dan myosin, untuk memungkinkan ekspresi aktivitas ATPase, dan kontraksi
terjadi. Rilis kalsium dirangsang oleh Kehadiran potensial aksi dalam sel otot.
dalam miometrium, depolarizing spontan potensi alat pacu jantung terjadi. Jika
besarnya potensi tersebut melebihi ambang batas kritis, ledakan potensial aksi
ditumpangkan pada alat pacu jantung, peningkatan tajam dalam intraseluler
kalsium terjadi dan kontraksi berikut. Kalsium kemudian dipompa kembali ke
intraseluler dan keluar dari sel, dan otot rileks.
Kontraktilitas

miometrium

adalah

dipengaruhi

oleh

progesteron,

prostaglandin dan oksitosin


Tiga jenis hormon telah terlibat dalam kontraktilitas Peraturan:
progesteron menstabilkan potensial membran, prostaglandin E2 dan F2 (PGE2
dan PGF2) meningkatkan masuknya kalsium ke dalam sel, dan oksitosin
bertindak terutama oleh pembebasan kalsium dari intraseluler. Sebaliknya,
prostaglandin lain, PGI2, operasi melalui subtipe reseptor yang berbeda,
melemaskan otot halus termasuk miometrium. Ada kemungkinan bahwa PGI2
memastikan bahwa gelombang relaksasi miometrium yang diselingi dengan
kontraktilitas untuk mempertahankan suplai darah ke janin. Selain itu, PGI2 juga
mungkin memainkan peran dalam peregangan rahim.
4. Oksitosin dilepaskan dari hipofisis posterior oleh stimulasi serviks uterus
dan dengan miometrium kontraksi saat kelahiran dan juga dipengaruhi oleh
yang perubahan estradiol: rasio progesteron

16

Oksitosin adalah nonapeptide disintesis oleh magnoselular neuron dalam


nukleus supraoptik dan paraventrikular dari hipotalamus dan diangkut axonally ke
posterior lobus hipofisis (lihat Gambar. 3.7). Rilis terjadi di respon terhadap
rangsangan taktil pada saluran reproduksi, khususnya serviks uterus dan
miometrium. neuroendokrin ini refl ex, sebagai aferen nya: (1) sensorik saraf dari
vagina dan leher rahim; (2) somatosensori naik jalur di sumsum tulang belakang
(yang anterolateral kolom); dan (3) proyeksi tidak lengkap dijelaskan melalui
batang otak dan otak depan medial bundel yang akhirnya mencapai inti
magnoselular hipotalamus. Reflek eferen ekstremitas adalah jalan melalui darah
oksitosin ke rahim, dimana hormon diberikannya tindakan pada kontraktilitas
miometrium dan pelunakan serviks dalam interaksi dengan kedua steroid hormon,
PG dan mungkin NO. Setelah refleks ini, yang disebut ferguson refleks itu sendiri
sangat difasilitasi oleh estrogen plasma yang tinggi: rasio progesteron. Ini reflex
rilis estrogen-dimediasi oksitosin menyerupai rilis coitus-diinduksi prolaktin
terlihat pada tikus. Gambar faktor-faktor yang mempengaruhi kelahiran.

Gambar 10 Faktor-faktor yang mempengaruhi kelahiran

17

F. Mekanisme Parturasi
Prematur atau prematur persalinan pada wanita terjadi setelah 24 minggu
sampai sebelum 37 minggu kehamilan. Proses persalinan dibagi menjadi tiga
tahap. Tahap pertama dimulai dengan onset (kontraksi, dan pelebaran dan
pemendekan leher rahim) dan berakhir ketika serviks uterus sepenuhnya dilatasi).
Mungkin lebih lanjut dibagi menjadi fase laten, ketika serviks perlahan
melebarkan sekitar 3 cm, dan fase aktif setelahnya ketika dilatasi serviks terjadi
lebih cepat. Tahap kedua persalinan dimulai pada dilatasi penuh serviks dan
berakhir dengan pengiriman lengkap janin. Tahap ketiga dimulai dengan
selesainya pengeluaran janin dan berakhir dengan pengeluaran plasenta. Gambar
tahap melahirkan dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 11 Tahap-tahap melahirkan

Persalinan Kala 1: Fase Pematangan/Pembukaan Serviks


Persalinan kala 1 dimulai pada waktu serviks membuka karena his :
kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa

18

nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah
haid. Persalinan kala 1 berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap
(pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban
biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar
6 jam.
Fase aktif terbagi atas :
1.

Fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.

2.

Fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.

3.

Fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).


Peristiwa penting pada persalinan kala 1 (Bobak, 2004):

1. Keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous
plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat
terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput
ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. Ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan
mendatar.
3. Selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban
pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan

dan

pembukaan

serviks

(cervical

effacement)

pada

primigravida berbeda dengan pada multipara :


1. Pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi
pembukaan - pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya,
sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan.
2. Pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium
eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di
tengah) - pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka
bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar).
3. Periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan
multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten
pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

19

Persalinan Kala 2: Fase Pengeluaran Bayi


Persalinan kala 2 dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan
berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. His menjadi lebih kuat, lebih sering,
lebih lama, sangat kuat. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada
awal kala 2.
Peristiwa penting pada persalinan kala 2 adalah :
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar
panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik).
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis
pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan
anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar
jalan lahir (episiotomi).
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang
kepala :
1.

Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus
dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring/membentuk sudut
dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior/posterior).

2.

Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his
dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3)
kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin
terjadi ekstensi dan menegang.

3.

Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah
dari

diameter

oksipito-frontalis

(puncak

kepala)

menjadi

diameter

suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).


4.

Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran
ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala
melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.

20

5.

Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput


melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput,
bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.

6.

Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan
sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi
anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan
dan bahu belakang.

7.

Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan
mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul /
trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

Persalinan Kala 3: Fase Pengeluaran Plasenta


Persalinan kala 3 dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir
dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta ditandai dengan lepasnya plasenta
dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan
perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai
perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Pelepasan plasenta
terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi,
sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Pada keadaan normal,
kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat. Plasenta
lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir (jika lepasnya plasenta terjadi sebelum
bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae - keadaan gawat darurat obstetrik).

Pemantauan janin dapat mengungkapkan gawat janin selama persalinan dan


menunjukkan perlunya pembedahan perut untuk menolong kelahiran anak
Nifas adalah masa kerentanan bagi janin karena mengalami transisi ke
neonatality.

yang diperlukan penyesuaian yang harus dilakukan untuk

kardiovaskular sendiri dan sistem pernapasan didahului oleh periode berkurang


dukungan ibu sebagai buruh berlangsung. Jika periode ini terlalu berlarut-larut,
efektivitas metabolik tukar dapat menurun seperti penyebabnya gawat janin dan
asfiksia. Kebidanan tradisional memantau denyut jantung janin dengan intermiten
auskultasi dengan stetoskop obstetrik Pinard, dan resor untuk operasi caesar jika

21

diperlukan. Pemantaua elektronik denyut jantung janin dan / atau pengambilan


sampel kulit kepala janin pH darah sekarang lebih banyak digunakan dalam
pembuatan keputusan apakah janin hipoksia. Namun, meskipun pengenalan teknik
ini memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik dalam kasus ini sulit,
efektivitasnya dalam kasus-kasus rutin masih bisa diperdebatkan. Beberapa studi
melaporkan kecenderungan resor untuk operasi caesar lebih mudah, sehingga
meningkatkan penggunaan prosedur pengiriman ini tidak proporsional. Namun,
peningkatan kemungkinan dalam penggunaan pemantauan prosedur di masa
depan, bersama-sama dengan kemajuan memahami peristiwa janin yang
mendasari resultan jejak, harus terus meningkatkan praktik kebidanan.

22

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kehamilan atau gestasi merupakan kondisi ketika ada satu atau lebih embrio
yang tertanam dalam uterus. Metabolisme fetus bergantung pada transport gas
(O2 dan CO2) dan nutrien esensial yang terjadi pada plasenta. Nutrien esensial
tersebut diantaranya adalah glukosa dan karbohidrat, asam amino dan urea,
asam lemak, air dan elektrolit, besi, kalsium dan vitamin. Salah satu faktor
yang sangat berperan dalam terjadinya kehamilan adalah faktor hormonal yang
bisa menyebabkan terjadinya perubahan fisiologis yang mendukung proses
kehamilan.
2. Beberapa hormon yang berperan dalam kehamilan diantaranya adalah hormon
steroid dan hormon protein. Hormon steroid yang berperan diantaranya adalah
hormon progesteron yang disekresikan oleh trofoblast, hormon estrogen yang
dihasilkan dari kerjasama fetus dan plasenta serta hormon kortikosteroid.
Hormon protein yang berperan diantaranya adalah hormon hCG yang disintesis
oleh konseptus, hormon somatotrofin yang disintesis oleh plasenta dan hormon
prolaktin yang dilepaskan oleh pituitary.
3. Perkembangan janin dimulai dari pembentukan zigot yang berjalan dari tuba
falopii ke uterus, terjadi pembelahan dan terbagi menjadi lapisan luar yang
akan menjadi plasenta dan lapisan dalam yang akan terbentuk embrio.
Perkembangan fetus dalam rahim berlangsung kurang lebih 37 minggu hingga
pembentukan organ-organ berakhir dan fetus siap dilahirkan.
4. Perkembangan fetus menjelang parturasi atau kelahiran yakni pada usia ke 37
minggu. Pada minggu ke 38- 40 proses pembentukan telah berakhir dan fetus
siap dilahirkan.
5. Faktor-faktor yang berperan dalam parturasi diantaranya adalah miometrium,
pelunakan serviks uterus dengan perubahan jaringan struktural yang
dipengaruhi oleh prostalglandin, kontraktilitas miometrium yang dipengaruhi
oleh progesteron, prostaglandin dan oksitosin.

23

6. Mekanisme parturasi dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan
onset (kontraksi, dan pelebaran dan pemendekan leher rahim) dan berakhir
ketika serviks uterus sepenuhnya dilatasi). Tahap kedua persalinan dimulai
pada dilatasi penuh serviks dan berakhir dengan pengiriman lengkap janin.
Tahap ketiga dimulai dengan selesainya pengeluaran janin dan berakhir dengan
pengeluaran plasenta.

B. Saran
Topik kehamilan dan parturasi merupakan topik yang menarik untuk
dibahas dalam Fisiologi Reproduksi. Pembuatan makalah perlu menggunakan
berbagai sumber utama dan sumber-sumber pendukung lain yang relevan untuk
memperluas informasi.

24

DAFTAR RUJUKAN

Bobak, Irene M. dkk. 2004. Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC


Johnson, M. H. & Everitt, B. J. 2007. Essential Reproduction 6th Edition.
Massachusetts: Blackwell Publishing.
Norwitz, E. R. & Schorge, J. O. 2001. Obstetrics and Gynecology at a Glance.
Oxford: Blackwell Science, Ltd.
Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A., Minorsky, P. V. &
Jackson, R. B. 2011. Campbell Biology 9th Edition. San Francisco:
Benjamin Cummings Publishing.

25