Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KALKULUS 2

INFORMASI RUU KEINSINYURAN

NAMA

: TAUFIK SUKMANA

NIM

: 21113027

KELAS

: R1/A1

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS SERANG RAYA
SERANG
MARET 2014

RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
KEINSINYURAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a.

bahwa sumber daya manusia dalam mengembangkan dirinya memerlukan


pendidikan dan manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi, seni, dan budaya demi
meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b.

bahwa untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan umum, dapat dicapai
dengan tersedianya sumber daya manusia yang andal dan profesional yang
mampu melakukan rekayasa teknik guna meningkatkan nilai tambah, daya guna,
efisiensi dan efektivitas anggaran, memenuhi standar keselamatan, keamanan,
dan aspek lingkungan, perlindungan publik, penguasaan dan pemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta pencapaian kebudayaan dan peradaban bangsa
yang tinggi;

c.

bahwa sumber daya manusia yang mampu melakukan rekayasa teknik masih
tersebar dalam berbagai profesi dan kelembagaan masing-masing sehingga belum
mempunyai standarisasi keahlian, kemampuan, dan kompetensi profesional;

d.

bahwa saat ini belum ada pengaturan yang terintegrasi mengenai rekayasa teknik
yang dapat memberikan perlindungan dan kepastian hukum, baik kepada sumber
daya manusia yang melakukan rekayasa teknik maupun masyarakat pada
umumnya;

e.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b,


huruf c, dan huruf d perlu membentuk Undang-Undang tentang Keinsinyuran;

Mengingat : Pasal 20, Pasal 21, Pasal 28C, Pasal 28D ayat (1) dan ayat (2), dan Pasal 31 ayat (5)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG KEINSINYURAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1.

Keinsinyuran

adalah rekayasa teknik dengan menggunakan ilmu pengetahuan, teknologi,

keterampilan, dan profesionalitas untuk merancang dan membangun sistem, struktur, proses,
material, mesin, dan perangkat demi tujuan peningkatan nilai tambah dan daya guna barang atau
jasa.
2.

Insinyur adalah orang yang berprofesi di bidang Keinsinyuran.

3.

Insinyur Asing adalah Insinyur berkewarganegaraan asing yang berprofesi di bidang Keinsinyuran
di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4.

Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang riset ilmu
pengetahuan dan teknologi.
BAB II

ASAS DAN TUJUAN


Pasal 2
Penyelenggaraan Keinsinyuran berasaskan:
a.

profesionalitas;

b.

integritas;

c.

keadilan;

d.

keselarasan;

e.

kemanfaatan;

f.

keamanan dan keselamatan;

g.

kelestarian lingkungan hidup; dan

h.

keberlanjutan.

Pasal 3
Pengaturan Keinsinyuran bertujuan untuk:
a.

memberikan landasan dan kepastian hukum dalam penyelenggaraan Keinsinyuran;

b.

memberikan arah pertumbuhan dan perkembangan profesi Insinyur yang andal, berdaya saing
tinggi, dan hasil pekerjaan yang berkualitas;

c.

memberikan perlindungan kepada pengguna jasa dan masyarakat dalam penyelenggaraan


Keinsinyuran; dan

d.

mendorong penguasaan dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB III
SYARAT INSINYUR
Pasal 4
Untuk menjadi Insinyur, seseorang harus memenuhi persyaratan:

a. lulusan pendidikan tinggi teknik pada perguruan tinggi dalam negeri yang telah terakreditasi atau
perguruan tinggi luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia atau setara dengan
penjenjangan kualifikasi profesi

di bidang keinsinyuran sesuai dengan ketentuan peraturan

b.

perundang-undangan;
berpengalaman dalam kegiatan Keinsinyuran sesuai standar atau kualifikasi yang ditentukan oleh

c.

organisasi profesi; dan


lulus uji kompetensi.
BAB IV
SERTIFIKASI, REGISTRASI, DAN IZIN KERJA
Bagian Kesatu
Sertifikasi

Pasal 5
(1) Seseorang yang telah lulus uji kompetensi berhak memperoleh sertifikasi kompetensi kerja.
(2) Sertifikasi kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh lembaga
sertifikasi profesi yang memenuhi persyaratan dan telah mendapat lisensi dari

badan

yang

berwenang melakukan sertifikasi profesi.


(3) Sertifikat kompetensi kerja untuk Insinyur diterbitkan oleh lembaga sertifikasi profesi atas usul
organisasi profesi.
(4) Pelaksanaan sertifikasi

kompetensi kerja

dilaksanakan

sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.
Bagian Kedua
Registrasi
Pasal 6
(1) Seseorang yang telah memenuhi sertifikasi kompetensi kerja sebagai Insinyur wajib melakukan
registrasi.
(2) Registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh organisasi Insinyur.
Bagian Ketiga
Izin Kerja
Pasal 7
(1) Insinyur yang akan melakukan praktik keinsinyuran harus mendapatkan izin kerja dari pemerintah.
(2) Untuk mendapatkan izin kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Insinyur harus lulus uji
kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikasi kompetensi kerja dan teregistrasi oleh organisasi
Insinyur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6.
(3) Insinyur yang telah mendapatkan izin kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat melakukan
kegiatan Keinsinyuran di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 8
(1) Insinyur yang melakukan kegiatan Keinsinyuran tanpa memiliki izin kerja sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis; dan/atau
b. penghentian sementara kegiatan Keinsinyuran.
(3) Dalam hal kegiatan Keinsinyuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan kerugian
materiil dikenai sanksi administratif berupa denda.
Pasal 9
(1) Dalam hal Insinyur yang telah mendapatkan izin kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
melakukan kegiatan keinsinyuran yang menimbulkan kerugian materiil dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan Keinsinyuran;
c. pembekuan izin kerja;
d. pencabutan izin kerja; dan/atau
e. denda.

Bagian Keempat
Insinyur Asing
Pasal 10
Setiap warga negara asing yang bekerja pada bidang Keinsinyuran di Indonesia harus:
a. dinyatakan sebagai Insinyur menurut hukum negaranya;
b. mengikuti sertifikasi Keinsinyuran;
c. melakukan registrasi; dan
d. memiliki izin kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 11
Insinyur asing yang bekerja di Indonesia wajib melakukan alih ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal 12
(1) Insinyur Asing yang melakukan kegiatan Keinsinyuran di Indonesia tanpa memenuhi persyaratan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 11 dikenai sanksi administratif.
(2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. peringatan tertulis;
b. penghentian sementara kegiatan Keinsinyuran;
c. pembekuan izin kerja; dan/atau
d. pencabutan izin kerja.
(3) Dalam hal kegiatan Keinsinyuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan kerugian
materiil dikenai sanksi administratif berupa denda.
Pasal 13
Ketentuan lebih lanjut mengenai registrasi Insinyur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, izin
kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Insinyur asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
dan Pasal 11, serta penetapan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 12
diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB V
PENGEMBANGAN PROFESI
Pasal 14
(1) Untuk menjamin kompetensi dan meningkatkan mutu profesi, Insinyur mengikuti pengembangan
profesi dan pemeliharaan kompetensi oleh organisasi profesi keinsinyuran.
(2) Pengembangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan untuk:
a. membentuk dasar-dasar kompetensi profesional Keinsinyuran;
b. meningkatkan mutu Insinyur agar profesional dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawab; dan
c. menjamin kompetensi profesional Insinyur.
(3) Pengembangan profesi sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) diselenggarakan untuk
menentukan jenjang kualifikasi profesi.

(4) Pengembangan profesi diselenggarakan berdasarkan suatu standar sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
BAB VI
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Insinyur
Pasal 15
Insinyur dan Insinyur asing berhak:
a.

melakukan kegiatan Keinsinyuran sesuai standar kompetensi profesi;

b.

memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi;

c.

memperoleh informasi, data, dan dokumen

yang lengkap dan jujur dari pengguna jasa

Keinsinyuran;
d.

menerima imbalan sesuai dengan jasa yang diberikan;

e.

mendapat jaminan sosial sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan

f.

mendapatkan pembinaan dan pemeliharaan kompetensi profesi keinsinyuran.

Pasal 16
Insinyur dan Insinyur asing berkewajiban:
a.

melaksanakan kegiatan Keinsinyuran sesuai keahlian dan berdasarkan Kode Etik Insinyur;

b.

melaksanakan tugas profesi sesuai dengan keahlian dan jenjang kualifikasi yang dimiliki Insinyur;

c.

melaksanakan tugas profesi sesuai dengan standar keselamatan, keamanan, dan aspek lingkungan;

d.

merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya atas kerahasiaan hubungannya dengan pengguna
jasa tentang pekerjaan yang sedang dilaksanakan, bahkan setelah selesai pekerjaan dilaksanakan;

e.

melaksanakan profesinya tanpa membedakan suku, agama, ras, gender, golongan, latar belakang
sosial, politik dan budaya; dan

f.

memelihara kompetensi, memperkaya dan menambah ilmu pengetahuan dan teknologi serta
mengikuti perkembangan Keinsinyuran.
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Pengguna Jasa
Pasal 17

Pengguna jasa Keinsinyuran berhak:


a.

memperoleh perlindungan hukum sebagai konsumen atas jasa Keinsinyuran yang tidak kompeten
dan tidak profesional;

b.

mendapatkan informasi secara lengkap dan benar atas jasa Insinyur yang akan dipakai atau
digunakan;

c.

mendapatkan pelayanan dan jasa sesuai dengan perjanjian kerja; dan

d.

melakukan tindakan hukum atas pelanggaran kontrak dan kerugian lain diluar kontrak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 18

Pengguna jasa Keinsinyuran berkewajiban:


a.

memberikan informasi, data, dan dokumen yang lengkap dan jujur tentang pekerjaan dan jasa yang
akan dilaksanakan Insinyur;

b.

mempertimbangkan nasihat dan petunjuk Insinyur atas sebuah pekerjaan dan jasa yang akan
diterima; dan

c.

memberikan imbalan sesuai dengan jasa yang diterima.

BAB VII
ORGANISASI INSINYUR
Bagian Kesatu
Umum

Pasal 19
(1) Organisasi Insinyur merupakan satu-satunya wadah berhimpun organisasi profesi Insinyur yang
bebas dan mandiri yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang ini.
(2) Organisasi Insinyur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk oleh organisasi profesi di bidang
Keinsinyuran.
(3) Ketentuan mengenai susunan dan keanggotaan organisasi Insinyur ditetapkan oleh para Insinyur
dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Bagian Kedua
Fungsi, Tugas, dan Wewenang

Pasal 20
Organisasi Insinyur mempunyai fungsi pengembangan dan pengawasan terhadap Insinyur dan
penyelenggaraan Keinsinyuran.

Pasal 21
Organisasi Insinyur bertugas:
a.

mengembangkan

standar kompetensi

Keinsinyuran

sesuai

dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan;
b.

melakukan pemeliharaan kompetensi insinyur;

c.

melakukan registrasi terhadap Insinyur;

d.

melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan jasa Keinsinyuran yangdilaksanakan bersama


instansi terkait sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing; dan

e.

melakukan pembinaan bersama Pemerintah terhadap Insinyur mengenai pelaksanaan etika profesi.

Pasal 22
Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 organisasi Insinyur berwenang:

a.

menetapkan bakuan kompetensi Insinyur;

b.

menetapkan kode etik Insinyur; dan

c.

menegakkan disiplin dan kehormatan Insinyur.


Bagian Kelima
Kode Etik Insinyur

Pasal 23
(1) Untuk menjamin mutu jasa Keinsinyuran dibuat Kode Etik sebagai landasan tata laku Insinyur.
(2) Kode Etik Insinyur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun oleh organisasi Insinyur.

Pasal 24
Kode etik insinyur harus dijadikan pedoman dan landasan tingkah laku setiap insinyur dalam
menjalankan penyelenggaraan kegiatan Keinsinyuran.

Bagian Keenam
Pembiayaan

Pasal 25
(1) Pembiayaan organisasi Insinyur bersumber dari:
a. iuran anggota; dan
b. sumber pendanaan lain yang sah menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Pembiayaan organisasi Insinyur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikelola secara transparan
dan akuntabel sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(3) Pengelolaan pembiayaan organisasi Insinyur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diaudit secara
berkala oleh akuntan publik.

BAB VIII
PEMBINAAN JASA KEINSINYURAN

Pasal 26
(1) Pemerintah bertanggungjawab atas pembinaan jasa Keinsinyuran.
(2) Tanggung jawab pembinaan oleh Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
Menteri.
(3) Pembinaan jasa Keinsinyuran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan:
a. menetapkan standar kompetensi Insinyur;
b. menetapkan standar layanan jasa Keinsinyuran;
c. melakukan pemberdayaan Keinsinyuran; dan
d. melakukan pengawasan atas penyelenggaraan jasa Insinyur.

Pasal 27
Pembinaan jasa Keinsinyuran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
diarahkan untuk :
a.

meningkatkan mutu dan kualitas jasa Keinsinyuran;

b.

menjamin perlindungan bagi masyarakat atas pemberian jasa yang dilakukan oleh insinyur; dan

c.

memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.

Pasal 28
(1) Dalam rangka pembinaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dapat dilakukan audit kinerja
Keinsinyuran.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara audit kinerja Keinsinyuran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
BAB IX
KETENTUAN PIDANA

Pasal 29
Setiap Insinyur atau Insinyur asing yang melaksanakan tugas profesi tidak memenuhi standar
keselamatan, keamanan, dan aspek lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c yang
mengakibatkan kecelakaan dan/atau kematian dipidana sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

BAB X
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 30
Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku:
a.

peraturan pelaksanaan yang mengatur mengenai Keinsinyuran, tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan hingga ditetapkan pengaturan lain yang diamanatkan oleh Undang-Undang ini;

b.

Insinyur yang telah memiliki sertifikat dari organisasi profesi dan nomor registrasi dari lembaga
berwenang yang telah ada, dinyatakan sebagai Insinyur yang telah teregistrasi; dan

c.

sertifikasi dan registrasi Insinyur harus disesuaikan paling lambat 3 (tiga) tahun terhitung sejak
Undang-Undang ini diundangkan.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 31

Semua peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk melaksanakan undang-undang ini


harus

sudah dibentuk

paling lambat

2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini

diundangkan.

Pasal 32
Organisasi Insinyur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 harus dibentuk paling lambat 12 (dua
belas) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 33
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan

Undang-Undang ini dengan

penempatannya dalam Lembaga Negara Republik Indonesia.

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR