Anda di halaman 1dari 24

Difteri

Ayu Farah Ummamah


Holy Fitria Ariani
Hanny Novia Rini

Definisi
Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
Corynebacterium diphtheriae

Etiologi
Corynebacterium diphtheriae

Bakteri gram positif yang berbentuk


polimorf, tidak bergerak, tidak berkapsul
dan tidak membentuk spora.
Mati pada pemanasan 600C, tahan dalam
keadaan beku dan kering

Ciri khas C. Diphtheriae adalah kemampuannya


memproduksi eksotoksin baik in vivo maupun in
vitro.
Eksotoksin ini merupakan suatu protein yang
tidak tahan panas/cahaya, memiliki 2 fragmen
Fragmen A
Fragmen B

: amino-terminal
: karboksi-terminal

Kemampuan strain untuk memproduksi


toksin dipengaruhi oleh adanya bakteriofag,
toksin hanya bisa diproduksi oleh C.
Diphtheriae yang terinfeksi oleh bakteriofag
yang mengandung toxigene

Transmisi
Ditularkan secara kontak dengan pasien
atau karier melalui droplet.
Muntahan atau debu vehicles of
transmission

Patogenesis dan
Patofisiologi

Droplet

Binding pada
mukosa saluran
napas atas

Produksi toksin

Kerusakan
organ

Penyebaran ke
seluruh tubuh
melalui PD dan
limfe

C. diphtheriae,
fragmen B
Menempel dengan
mukosa

Fragmen A
masuk
Inaktivasi enzim
translokase
Gangguan proses
translokasi,
polipeptida tidak
terbentuk
Kematian sel

Kematian
sel

Inflamasi
lokal

Bercak eksudat
(pseudomembran)
Mudah dilepas
Produksi toksin meningkat, daerah infeksi
melebar
Eksudat fibrin, sel radang, eritrosit,
epitel
Mudah mengalami
perdarahan

Manifestasi
Periode inkubasi difteri 2-5 hari
Difteri dapat menyerang membran mukosa
Manifestasi bergantung, tempatnya:

Saluran pernapasan
Anterior nasal
Pharyngeal dan tonsillar
Laryngeal
Cutaneous diphtheria

Nasal diphteria
Gejala permulaan sulit dibedakan dengan
common cold
Adanya sekresi hidung, demam, membran
putih pada nasal septum

Pharyngeal dan
tonsillar
Penyakit timbul secara perlahan dengan
manifestasi malaise, anorexia, disfagia
disertai demam.
24 jam berikutnya muncul eksudat atau
pseudomembran pada tonsil
Ditandai dengan pembesaran kelenjar
getah bening bull neck

Gambaran Bull Neck

Laryngeal diphteri
Lebih sering merupakan lanjutan dari
pharyngeal diphteria
Ditandai dengan demam, suara serak dan
batuk
Penyumbatan jalan napas ditandai dengan
stridor inspirasi, retraksi suprasternal
supraclavicular dan subcostal

Gejala akibat
eksotoksin
Kerusakan jaringan tubuh yaitu pada
jantung dapat terjadi miokarditis sampai
dengan decompensatio kordis
Mengenai saraf kranial menyebabkan
kelumpuhan otot palatum dan otot-otot
pernapasan
Pada ginjal menyebabkan albuminuria

Diagnosis
Gambaran klinik dan pemeriksaan preparat
langsung kuman yang diambil dari
permukaan bawah membran semu dan di
dapatkan kuman Corynebacterium
diphteriae

Tatalaksana
1. Anti Difteri Serum
Diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur,
dengan dosis 20.000-100.000 unit tergantung
dari umur dan beratnya penyakit

2. Antibiotik
Penisilin atau Eritromisin 25-50 mg/kgBB dibagi
dalam 3 dosis selama 14 hari

3. Kortikosteroid
Dosis: 1,2 mg/kgBB/hari
4. Antipiretik : Paracetamol 10 mg/kgBB/x
5. Isolasi, karena merupakan penyakit menular.
Istirahat selama 2-3 minggu.

Rawatan penunjang
Serial EKG untuk mendeteksi secara dini
tanda-tanda miokarditis
Pemberian cairan dan kalori
Pada
laryngeal
diphteria
tindakan
tracheostomi
perlu
dilakukan
untuk
menghilangkan sumbatan jalan napas
Pemasangan
polyethylene
tube
untuk
mencegah aspirasi, pada paralisis palatum
mole

Komplikasi
Laringitis difteri dapat berlangsung cepat
dan menyebabkan gejala sumbatan
Miokarditis dapat menyebabkan payah
jantung atau decompensatio cordis
Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata
untuk akomodasi, otot faring serta otot
laring sehingga menimbulkan kesulitan
menelan, suara parau dan kelumpuhan otot
pernapasan