Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

TA 4111 EKSPLORASI GEOFISIKA CEBAKAN MINERAL II


MODUL A
PENGUKURAN DAN PENGOLAHAN DATA LINTASA
MAGNETIK SEDERHANA
Oleh :
Gifari Nitya Mukhlis
12112075

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMNYAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

TUJUAN PERCOBAAN

Mengoreksi data hasil pengukuran lapangan dari suatu lintasan survei magnetik.
Menggambarkan profil lintasan hasil pengukuran magnetik.

DASAR TEORI
Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan metode
gravitasi. Kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga
keduanya sering disebut sebagai metoda potensial. Namun demikian, ditinjau dari
segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Metode magnet adalah metode yang digunakan untuk menyelidiki kondisi
permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan batuan yang
diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan.
Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di permukaan
bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda termagnetisasi di
bawah permukaan bumi. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur
kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik dibawah
permukaan, kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang
mungkin teramati. Pengukuran intensitas medan magnetik dapat dilakukan di
darat, laut maupun udara. Suseptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu
batuan terhadap pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan
kandungan mineral. Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan,
akan semakin besar harga suseptibilitasnya. Metode magnetik sering digunakan
dalam eksplorasi minyak bumi, panas bumi dan batuan mineral.
Pengukuran dengan menggunakan metode magnet yang paling banyak dilakukan
adalah dengan menggunakan alat PPM (Proton Precession Magnetometer).
Metode ini pada dasarnya dilakukan berdasarkan pengukuran anomali
geomagnetik yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas, atau
permeabilitas magnetik suatu jebakan dari daerah magnetik di sekelilingnya.
Disini perbedaan permeabilitas itu sendiri pada dasarnya diakibatkan oleh
perbedaan distribusi mineral yang bersifat ferromagnetik, paramagnetik, atau
diamagnetik.

Dalam metode geomagnetik ini, bumi diyakini sebagai batang magnet raksasa
dimana medan magnet utama bumi dihasilkan. Kerak bumi menghasilkan medan
magnet jauh lebih kecil daripada medan utama magnet yang dihasilkan bumi
secara keseluruhan. Teramatinya medan magnet pada bagian bumi tertentu,
biasanya disebut anomali magnetik yang dipengaruhi suseptibilitas batuan
tersebut dan remanen magnetiknya. Berdasarkan pada anomali magnetik batuan
ini, pendugaan sebaran batuan yang dipetakan baik secara lateral maupun vertikal.
Eksplorasi menggunakan metode magnetik, pada dasarnya terdiri atas tiga tahap
yaitu akuisisi data lapangan, processing, dan interpretasi. Setiap tahap terdiri dari
beberapa perlakuan atau kegiatan. Pada tahap akuisisi, dilakukan penentuan titik
pengamatan dari pengukuran dengan satu atau dua alat. Untuk koreksi data
pengukuran dilakukan pada tahap processing. Koreksi pada metode magnetik
terdiri atas koreksi harian (diurnal), koreksi topografi (terrain) dan koreksi
lainnya. Sedangkan untuk interpretasi dari hasil pengolahan data dengan
menggunakan software diperoleh peta anomali magnetik.
Metode ini didasarkan pada perbedaan tingkat magnetisasi suatu batuan yang
diinduksi oleh medan magnet bumi. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya
perbedaan sifat kemagnetan suatu material. Kemampuan untuk termagnetisasi
tergantung

dari

suseptibilitas

magnetik

masing-masing

batuan.

Harga

suseptibilitas ini sangat penting di dalam pencarian benda anomali karena sifat
yang khas untuk setiap jenis mineral atau mineral logam. Harganya akan semakin
besar bila jumlah kandungan mineral magnetik pada batuan semakin banyak.
Pengukuran magnetik dilakukan pada lintasan ukur yang tersedia dengan interval
antar titik ukur 10 m dan jarak lintasan 40m. Batuan dengan kandungan mineralmineral tertentu dapat dikenali dengan baik dalam eksplorasi geomagnet yang
dimunculkan sebagai anomali yang diperoleh merupakan hasil distorsi pada
medan magnetik yang diakibatkan oleh material magnetik kerak bumi atau
mungkin juga bagian atas mantel.
Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan gravitasi.
Kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehingga keduanya

sering disebut sebagai metode potensial. Namun demikian, ditinjau dari segi
besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar.
Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besaran vektor
magnetisasi, sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor
percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukkan sifat residual
kompleks. Dengan demikian metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu
lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat,
laut, dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan
minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa diterapkan pada
pencarian prospek benda-benda arkeologi.
Dalam survei magnetik, peralatan paling utama yang digunakan adalah
magnetometer. Magnetometer digunakan untuk mengukur kuat medan magnetik
di lokasi survei. Salah satu jenis magnetometer adalah Proton Precission
Magnetometer (PPM) yang digunakan untuk mengukur nilai kuat medan
magnetik total. Sebagai pendukung, peralatan lain yang digunakan dalam survei
magnetik adalah GPS. GPS digunakan untuk mengukur posisi titik pengukuran
meliputi bujur, lintang, ketinggian, dan waktu.
Hasil dari pengukuran geomagnetik adalah berupa profil atau peta kontur
magnetik. Pada umumnya peta anomali magnetik mempunyai pola yang
kompleks. Berdasarkan hal tersebut maka interpretasi dalam metode magnetik
relatif lebih sulit.

PROSEDUR PERCOBAAN

Melakukan koreksi data lapangan untuk mendapatkan intensitas magnetik

terkoreksi.
Menghitung intensitas magnetik anomali berdasarkan intensitas magnetik

terkoreksi.
Memplot intesitas magnetik anomali terhadap jarak mendatar.

PENGOLAHAN DATA
Dilakukan koreksi data intensitas magnetic hasil pengukuran lapangan.

Nilai T koreksi di dapat dari hasil nilai magnetic lapangan ( D x selisih


waktu pada satu titik pengukuran terhadap base awal). (Terlampir di
Kesimpulan )

Menghitung intensitas magnetik anomaly,


T anomali merupakan hasil selisih T koreksi dengan T base awal.
Ploting intesitas magnetik anomali terhadap jarak mendatar dalam bentuk
kurva .( Terlampir di Kesimpulan)

ANALISIS
Dominasi anomali positif terhadap anomali negatif didaerah ini mengindikasikan
batuan dibawah permukaan didaerah penyelidikan sebagian besar dibentuk oleh
batuan vulkanik (andesit) dan intrusi andesit yang segar belum terubahkan,
kondisi/indikasii tsb didukung oleh geologi permukaan yang memperlihatkan
dominasi batuan vulkanik dan intrusi daripada batuan sedimen.
Anomali magnit negatif (rendah-sangat rendah), dengan rentang nilai 0 sampai < 300 nT, seperti tampak pada hasil plotting di atas ditafsirkan berkaitan dengan
batuan yang bersifat non magnetik seperti sedimen (gamping, serpih, batupasir,
piroklastik,) batuan lapuk atau batuan yang terubahkan oleh proses demagnetisasi
akibat larutan panas hidrotermal.
Anomali magnit sedang (0 s/d 200 nT), yang mendominasi daerah penyelidikan
diperkirakan berkaitan dengan batuan yang relatif bersifat sedikit magnetis seperti
breksi vuklkanik, batuan andesit, dan intrusi andesit yang merupakan batuan
transisi dari asam ke basa yang disusun oleh mineral amphibole.
Anomali magnetic bernilai tinggi ( > 200nT ), diperkirakan berkaitan dengan
batuan yang telah mengalami mineralisasi dan mengandung mineral-mineral pirit,
kalkopirit, atau oksida besi.

Secara umum terdapat nilai anomali sisa magnet yang memperlihatkan pola
perubahan yang kontras berupa perbedaan nilai anomali negatif dan positif yang
cukup besar (> 300 nT). Kondisi demikian mengindikasikan adanya struktur
sesar/kontak litologi dari batuan yang berbeda disekitar pola-pola anomali seperti
telah disebutkan diatas, sehingga dapat diintrepertasikan lebih rinci adanya
struktur geologi pada daerah tersebut berupa sesar ataupun patahan. Namun,
diliihat dari bentuknya struktur geologi yang diintrepertrtasikan berupa struktur
graben yaitu patahan yang bergerak turun atau bagian patahan yang lebih rendah
dari bagian patahan lainnya.

KESIMPULAN

Hasil pengukuran lapangan dari survei lintasan magnetik sederhana pada


praktikum kali ini adalah :

Stasiun

Waktu

TA

Kordinat

Intensitas Magnet Pengukuran (nT)

6:53

7:31

25

7:39

50

7:48

Lapangan

Base

T Koreksi

Anomali

24460

24460

24584

24578.63277

118.6328

24717

24710.50282

250.5028

75

24655

24647.23164

187.2316

7:56

100

24601

24592.10169

132.1017

8:04

125

24525

24514.97175

54.97175

8:10

150

24601

24590.12429

130.1243

8:16

175

24438

24426.27684

-33.7232

8:23

200

24170

24157.28814

-302.712

8:26

225

24408

24394.86441

-65.1356

10

8:35

250

24437

24422.59322

-37.4068

11

8:42

275

24423

24407.60452

-52.3955

12

8:48

300

24493

24476.75706

16.75706

13

8:53

325

24238

24221.05085

-238.949

14

9:02

350

24550

24531.77966

71.77966

15

9:06

375

24675

24656.21469

196.2147

16

9:13

400

24841

24821.22599

361.226

17

9:19

425

24836

24815.37853

355.3785

18

9:26

450

24625

24603.38983

143.3898

TA

9:50

24460

24485

Pengukuran Anomali Lintasan Magnetik


400
300
200
100
Intensitas Magnetik

0
0
-100

200 400 600

-200
-300
-400
Jarak X

Hasil profil lintasan pengukuran magnetik.

Pengukuran Anomali
Lintasan Magnetik

DAFTAR PUSTAKA
Verdyansyah, Adam S.T., Napitupulu, M. Friska S.T,. Modul A Praktikum GCM
II. 2015.
http://psdg.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&id=421&Itemid=427
http://leovina.tumblr.com/post/1336990083/suseptibilitas-batuan
https://www.academia.edu/9487481/Laporan_Magnet_Praktikum_GF_1