Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Fasilitas umum merupakan suatu kebutuhan masyarakat, karena fasilitas umum
menjadi sarana pendukung suatu kegiatan tertentu agar kegiatan tersebut dapat berjalan
dengan optimal. Agar banyak orang bisa merasakan manfaat dari fasilitas tersebut, maka
suatu fasilitas akan lebih baik jika diperhatikan persebarannya. Tentunya banyak kegiatan
yang perlu memiliki sarana fasilitas. Salah satunya adalah kegiatan pendidikan. Ini
menjadi sangat perlu mengingat pendidikan merupakan hal yang esensial bagi upaya
mencerdaskan bangsa. Selain itu perlu adanya perhatian pada persebaran fasilitas
pendidikan ini agar pendidikan di bangsa ini menjadi merata. Hal ini terkait dengan
jangkauan pelayanan, bagaimana jangkauan pelayanan pendidikan pada suatu daerah
atau wilayah baik sekolah negeri maupun swasta. Jumlah fasilitas pendidikan ini juga
termasuk dalam indikator persebaran fasilitas tersebut. Dalam persebaran ini, kualitas
fasilitas tersebut sendiri juga tidak luput dari perhatian. Karena fasilitas yang memiliki
kualitas buruk akan menghasilkan sesuatu yang tidak produktif atau optimal.
Perencanaan secara umum merupakan suatu proses mempersiapkan secara
sistematis kegitan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu
(Tjokromidjojo, 1977). Pengertian lain tentang perencanaan yang sering diperggunakan
yaitu dalam konteks pembangunan perencanaan merupakan sebuah proses kontinu yang
menyangkut pengambilan keputusan atau pilihan mengenai cara memanfaatkan
sumberdaya yang ada semaksimal mungkin guna mencapai tujuan tertentu di masa
depan (Conyer dan Hill, 1984). Dari dua pengertian tersebut maka perencanaan
merupakan sebuah proses dalam menyusun, mempersiapkan secara sistematis kegiatankegiatan yang akan dilakukan dalam konteks pembangunan untuk mencapai suatu tujuan
dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada.
Didalam illmu perencanaan menyangkut berbagai aspek disipilin ilmu. Salah satu
aspek yang di pertimbangkan yaitu aspek keruangan. Aspek keruangan tersebut
menyangkut interaksi antar keruangan. Interaksi keruangan tersebut merupakan sebuah
studi tentang keanekaragaman dalam keruangan muka bumi yang membahas tentang
masing-masin aspek keruangannya. Didalam analisis keruangan itu didasarkan oleh
keberadaan tempat atau bisa juga terdapatnya suatu lokasi didalam suatu kota.
Interaksi keruangan didalam analisis keruangan juga membahas tentang pelayanan
dari suatu fasilitas pelayanan yang berupa jasa atau lainnya. Didalam pelayanan tersebut
di butuhkan jangkauan pelayanan untuk mengetahui seberapa besar jangkauan

pelayanan dari suatu fasilitas tersebut. Dalam laporan ini fasilitas pelayanan yang
digunakan yaitu fasilitas pelayanan kesehatan yang berupa fasilitas puskemas yang
berada di kecamatan Banyumanik.
Kecamatan Banyumanik merupakan sebuah kecamatan yang berada di bagian
selatan Kota Semarang dan berbatasan dengan kabupaten Semarang. Di Kecamatan
tersebut terdapat beberapa puskemas yang berguna untuk melayani kebutuhan akan
kesehatan di kawasan Kecamatan Banyumanik. Oleh karena itu dalam laporan ini akan
membahas mengenai jangkauan pelayanan dari masing-masing puskesmas yang berada
di Kecamatan Banyumanik tersebut.
1.2. Tujuan dan Sasaran
1.2.1.Tujuan
Tujuan dalam peyusunan laporan ini yaitu menganalisis lokasi suatu fasilitas
pelayanan yang berupa pelayanan puskemas. Selain itu menganalisis jangkauan
pelayanan untuk puskemas di kecamatan Banyumanik yang mempertimbangkan
jumlah penduduk dan luas wilayah di kecamatan tersebut.
1.2.2.Sasaran
Sasaran yang akan dicapai untuk mencapai tujuan yaitu sebagai berikut:
1. Mengetahui standar minimum pelayanan puskemas pada tingkat kecamatan
2. Mengetahui jumlah penduduk dan luas wilayah di kecamatan Banyumanik
3. Menganalisis lokasi dan jangkauan pelayanan dari masing-masing puskesmas
di kecamatan Banyumanik
1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup didalam laporan ini terdiri dari ruang lingkup wilayah dan ruang
lingkup materi.
1.3.1. Ruang Lingkup Wilayah
Kecamatan Banyumanik merupakan sebuah Kecamatan yang berlokasi di
bagian selatan dari Kota Semarang dan berbatasan dengan Kabupaten Semarang.
Di Kecamatan Banyumanik ini mempunyai luas wilayah 2.509,084 ha. Batas-batas
wilayah dari kecamatan Banyumanik yaitu sebagai berikut.
Sebelah Utara
: Kecamatan Candisari dan Gajah Mungkur
Sebelah Timur
: Kecamatan Tembalang
Sebalah Selatan
: Kabupaten Semarang
Sebelah Barat
: Kecamatan Gunungpati
1.3.2.Ruang Lingkup Materi
Materi yang digunakan dalam laporan ini yaitu mengenai alokasi lokasi dan
jarak atau jangkauan pelayanan.
1.4. Sistematika Penulisan
Laporan ini berisikan dari 5 BAB yaitu dapat dirinci sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN

Berisikan Latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup yang meliputi
ruangl lingkup wilayah dan ruang lingkup materi dan sistematika penulisan.
BAB II KAJIAN TEORI
Pada bab ini berisikan tentang penjelasan-penjelasan yang bersangkutan
dengan literatur-literatur yang menyangkut mengenai alokasi lokasi fasilitas dan
jangkauan pelayanan fasilitas.
BAB III GAMBARAN UMUM KECAMATAN BANYUMANIK
Pendeskripsian secara umum Kecamatan Banyumanik yang meliputi kondisi
geografis, demografi, dan jumlah puskesmas yang ada di kecamatan Banyumanik.
BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini berisikan tentang analisis alokasi lokasi fasilitas kesehatan
beserta jangkauan pelayanannya.
BAB V KESIMPULAN
Berisikan Kesimpulan yang berasal dari hasil analisis alokasi lokasi dan
jangkauan pelayanan puskesmas di Kecamatan Banyumanik.

BAB II
KAJIAN TEORI
Fasilitas dibedakan atas dua jenis, yaitu fasilitas umum dan fasilitas sosial. Fasilitas
umum berupa prasarana dasar seperti jalan, listrik, telepon, dan air, sedangkan fasilitas
sosial misalnya rumah sakit, pendidikan, perumahan, dan peribadatan. Semua jenis
fasilitas ini harus disediakan oleh pemerintah kota untuk menunjang kegiatan
masyaraktnya. Namun, tentu saja semua fasilitas, baik itu pelayanan maupun aksesibiltas
harus dapat dijangkau segala lapisan masyarakat. Aksesibiltas fasilitas dapat dijelaskan
dengan 5 pendekatan yaitu:
a. Jarak rata-rata: jarak total seluruh penduduk terhadap fasilitas terdekatnya
adalah minimum.
b. Jarak Minimal: jarak terjauh penduduk untuk menjangkau fasilitas dalam skala
pelayanan adalah minimum.

c. Pembebaan sama: tiap fasilitas memiliki beban pelayanan jumlah penduduk


yang sama dan seimbang.
d. Ambang batas: jumlah penduduk yang terdekat dengan fasilitas selalu lebih
besar.
e. Batas kapasitas: suatu fasilitas memiliki batas jumlah pelayanan penduduk yang
berbeda-beda.
Menurut Morlok, akibat adanya perbedaan tingkat kepemilikan sumberdaya dan
keterbatasan kemampuan wilayah dalam mendukung kebutuhan penduduk suatu wilayah,
menyebabkan terjadinya pertukaran barang, orang, dan jasa antar wilayah. Perpindahan
dari satu tempat ke tempat lain ini melalui jalur tertentu, yaitu suatu jaringan (network)
dalam ruang, yang dapat berupa jaringan jalan. Sedangkan menurut Hurst, interaksi antar
wilayah terlihat pada keadaan fasilitas transportasi serta aliran orang, barang, maupun
jasa. Transportasi merupakan hal terpenting karena sistem transportasi dikembangkan
untuk menghubungkan dua lokasi dan untuk memindahkan orang atau barang dari satu
tempat ke tempat lain, sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Sedangkan pergerakan pada dasarnya terjadi karena manusia senantiasa
bergerak karena proses pemenuhan kebutuhan. Pergerakan ini terjadi karena tidak
semua kebutuhan manusia tersedia di satu tempat, tetapi menyebar secara tidak merata
dalam

suatu

ruang.

Untuk

melakukan

pergerakan

tersebut,

penduduk

dapat

melakukannya dengan transportasi atau tanpa transpotasi (berjalan kaki). Pergerakan


yang dilakukan tanpa transportasi biasanya berjarak pendek, sedangkan pergerakan
dengan menggunakan transportasi biasanya berjarak sedang atau jauh.
Hal terpenting dari transportasi adalah aksesibilitas, artinya kemampuan atau
keadaan suatu wilayah untuk dapat diakses oleh pihak luar, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Dengan adanya aksesibilitas yang baik juga akan mendorong
pihak swasta untuk menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan wilayah.
Pergerakan ini mempunyai dua variabel utama, yaitu asal dan tujuan. Asal
merupakan tempat awal dari pergerakan tersebut dimulai. Sedangkan tujuan adalah
tempat akhir yang ingin dituju dari pergerakan tersebut. Misalnya, asalnya dari rumah dan
tujuannya adalah bekerja. Perbedaan pergerakan dapat disebabkan karena adanya
perbedaan supply dan demand.
Menurut Ullman, terdapat tiga kondisi yang mendukung terjadinya interaksi
keruangan, yaitu :
o Complementarity atau ketergantungan karena adanya perbedaan supply dan demand
antar daerah. Semakin besar komplementaritas, maka semakin besar interaksi yang
terjadi.

o Intervening opportunity atau tingkat peluang yang merupakan daya tarik untuk dipilih
menjadi daerah tujuan perjalanan. Semakin besar intervening opportunity, maka semakin
kecil interaksi yang terjadi.
o Transferability atau tingkat peluang untuk diangkut atau dipindahkan dari suatu tempat
ke tempat lain, yang dipengaruhi oleh jarak dan berkaitan dengan biaya dan waktu.
Alokasi lokasi fasilitas adalah analisis penentuan lokasi suatu fasilitas agar mampu
melayani penduduk suatu kota atau wilayah. Analisis alokasi kegiatan ini bertujuan untuk
mengalokasi fasilitas pelayanan sedemikian rupa sehingga total biaya atau usaha
penduduk untuk memperoleh pelayanan tersebut adalah minimal. Jika di daerah tempat
tinggal mereka sudah terdapat fasilitas yang memadai maka tidak perlu ke tempat yang
lebih jauh lagi, di pusat kota mungkin. Namun tak semudah itu mengalokasi dan
menentukan lokasi fasilitas, terdapat banyak permasalahan umum seperti kapasitas atau
ukuran dari fasilitas tersebut, jumlah fasilitas yang diperlukan, dan lokasi-lokasi yang tepat
untuk fasilitas. Sebuah daerah tentunya luas dan cakupannya banyak, maka diperlukan
fasilitas yang ukuran dan cakupannya juga seimbang. Begitu pula jumlah yang diperlukan,
kadang satu fasilitas belum memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat di satu daerah
karena kurang jumlahnya.
Penempatan lokasi fasilitas juga harus strategis karena digunakan oleh umum.
Tidak hanya ukuran, jumlah dan lokasi yang menjadi permasalahan, namun juga
persebaran penduduk dalam wilayah tersebut. Penduduk harus mendapatkan beberapa
fasilitas yang berlokasi pada tempat-tempat terpisah, sedangkan jarak juga berpengaruh
pada biaya. Dalam analisis ini diberikan solusi yaitu dengan memaksimalkan aksesibilitas
masyarakat terhadap fasilitasnya baik dalam pelayanan maupun informasi dan
memaksimalkan kondisi keterbatasan sumberdaya. Untuk mengetahui alokasi yang tepat
kita dapat menggunakan analisis buffer peta atau menggunakan analisis p-median. Buffer
peta digunakan untuk melihat jangkauan layanan tiap fasilitas di suatu kota. Apabila buffer
fasilitas tersebut tidak memenuhi kota maka perlu untuk mengalokasikan fasilitas. Analisis
p-median menggunakan perhitungan koordinat yaitu mencari letak fasilitas p terhadap
permintaan yang ada.

BAB III
GAMBARAN UMUM KECAMATAN BANYUMANIK
3.1 Kecamatan Banyumanik
Kecamatan Banyumanik adalah salah satu kecamatan yang berada di Kota
Semarang. Letaknya berada di pinggiran kota, tepatnya di selatan Kota Semarang.
Kecamatan Banyumanik merupakan daerah pemekaran yang saat ini menjadi CBD untuk
daerah di sekitarnya. Secara geografis, Kecamatan Banyumanik atau Kelurahan
Pedalangan adalah pintu masuk Kota Semarang dari arah selatan, sehingga
keberadaannya merupakan pintu gerbang bagi Kota Semarang. Selain itu terdapat
kecenderungan perkembangan Kota Semarang kearah selatan yang menjangkau
kawasan Banyumanik dan sekitarnya. Berikut adalah batas wilayah Kecamatan
Banyumanik:
Utara

: Semarang Selatan

Timur : kecamatan candi sari


Selatan : kecamatan banyumanik
Barat

: kecamatan semarang barat

Jumlah penduduk Kecamatan Banyumanik pada tahun 2012 adalah 128.225 jiwa
dibawah ini adalah tabel penduduk berdasarkan kelurahan yang ada di Kecamatan
Banyumanik.
Tabel III.1 Jumlah Penduduk per keluarahan di Kecamatan Banyumanik
No.

Kelurahan

Jumlah Penduduk

Jumlah Penduduk

Total

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Pudakpayung
Gedawang
Jabungan
Padangsari
Banyumanik
Srondol wetan
Pedalangan
Sumurboto
Srondol Kulon
Tinjomoyo
Ngesrep

Laki-laki
10.626
2.814
1.625
6.071
5.018
9.172
5.208
4.805
5.769
4.716
7.307

Perempuan
10.240
2.858
1.549
6.531
5.159
10.093
4.986
5.354
6.030
4.528
7.266

20.866
5.672
3.174
12.602
10.177
19.805
10.194
10.159
11.799
9.244
14.533

Sumber : BPS Kota Semarang, 2012

Kecamatan Banyumanik yang terus berkembang seiring perkembangan jaman


ditandai dengan mulai banyaknya perumahan-perumahan elit yang berlokasi di wilayah
tersebut. Hal ini juga dapat mendorong tumbuhnya perdagangan dan jasa di Kecamatan
Banyumanik. Dengan tumbuhnya perdagangan dan jasa makan pemenuhan fasilitas

fasilitas di dearah tersebit pun menjadi pertimbangan yang cukup penting terutama dalam
penentuan lokasi sarana prasarana penenunjang kehidupan masyarakatnya.
Dengan pertumbuhan perdangan dan jasa yang cukup pesat hal ini menjadika
daerah tersebut terdapat banyak permukiman-permukiman penduduk. Dengan jumlah
penduduk yang terhitung cukup padat maka sarana prasarana seperti sarana kesehatan
pada kecamatan tersebut harus diperhatikan. Misalnya pada penentuan lokasi dan
jangkauan pelayanan sarana kesehatan seperti rumah sakit Banyumanik dan puskesmas
yang berada diwilayah tersebut harus direncanakan memlalui perhitungan dan analisis
dengan baik agar setiap warganya mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus ke
daerah lain dan menempuh jarak yang cukup jauh jika ingin menggunakan fasilitas
kesehatan.
3.2

Puskesmas di Kecamatan Banyumanik

Terdapat 4 puskesmas yang ada di Kecamatan Banyumanik yakni sebagai berikut:


-

Puskesmas Srondol di Jl. Setiabudi No. 209, Ds. Srondol, Kec. Banyumanik. Jenis

puskesmas adalah puskesmas perawatan


Puskesmas Ngesrep di Jl. Teuku Umar 271, Ds. Ngesrep, Kec. Banyumanik. Jenis

puskesmas adalah puskesmas perawatan


Puskesmas Padang Sari di Jl. Meranti Raya 389, Ds. Padang Sari, Kec.

Banyumanik. Jenis puskesmas adalah puskesmas non perawatan.


Puskesmas Pudakpayung di Jl. Perintis Kemerdekaan, Kec. Banyumanik. Jenis
puskesmas adalah puskesmas non perawatan

BAB IV
ANALISIS JANGKAUAN DAN TINGKAT PELAYANAN PUSKESMAS
4.1 Distribusi Puskesmas
Distribusi puskesmas yang ada di Kecamatan Banyumanik terdiri dari 4 puskesmas
yang tersebar di Ngesrep, Padangsari, Pudakpayung dan Srondol. Gambaran sebaran
dari puskesmas yang ada di Banyumanik dapat di lihat dari peta di bawah ini.

Gambar 4.1 Peta Sebaran Puskesmas di Kecamatan Banyumanik


Sumber : Hasil Analisis Kelompok 14A, 2014

4.2 Rasio Fasilitas Puskesmas Banyumanik


Berdasarkan hasil perhitungan yang mengacu pada Syarat Pengadaan Fasilitas
Kesehatan (dalam SNI 03-1733-1989, mengenai Tata Cara Perencanaan Kawasan
Perumahan Kota), diperoleh jumlah puskesmas di tiap kelurahan sebagai berikut:

Tabel IV. 1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Kecamatan Banyumanik


No

Kecamatan

Banyumanik

Luas

Wilayah

Jumlah

Jumlah

(Ha)

Penduduk

Puskesmas

2.509,068

128.225

Sumber: BPS Kota Semarang 2010

Perhitungan awal dilakukan untuk mengetahui jumlah fasilitas puskesmas yang ada di
Kecamatan Banyumanik, melalui rumus berikut:
Jumlah Fasilitas = Jumlah Penduduk di Lapanganan / Jumlah Penduduk Standar
Jumlah Fasilitas = 128.225/120.000
= 1,014
= 1 puskesmas (induk)
Jadi di Kecamatan Banyumanik, untuk melayani 128.225 jiwa penduduknya maka
jumlah minimum fasilitas kesehatan (puskesmas) yang dibutuhkan adalah 1 buah. Namun
satu puskesmas tersebut merupakan puskesmas induk dimana dari segi fasilitas, luas
bangunan dan tenaga kesehatannya memadai dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan
semua penduduk di kecamatan tersebut. Dalam operasionalnya dalam satu kecamatan
tidak cukup jika pemenuhan kesehatan seluruh masyarakatnya harus dilayani oleh 1
puskesmas induk sehingga berdiri beberapa puskesmas pembantu. Di Kecamatan
Banyumanik tidak hanya tersedia 1 puskesmas saja, tetapi juga terdapat 3 puskesmas
pembantu lain.
4.3 Pelayanan Pasien Puskesmas
Untuk menghitung pelayanan pasien puskesmas diperlukan rumus rasio jumlah
penduduk dengan jumlah puskesmas yang ada. Jumlah penduduk Kecamatan
Banyumanik berdasarkan data Banyumanik dalam angka tahun 2012 adalah 128.225
jiwa. Rasio hitung pelayanan adalah perbandingan jumlah fasilitas dengan jumlah
penduduk. Dengan konsep tersebut maka rasio pelayanan puskesmas di Kecamatan
adalah 1 : 32.056 orang. Hitungan tersebut berdasarkan analisis dengan rumus yang ada
di bawah ini :

Hasil diatas menjelaskan bahwa satu puskesmas yang ada di Kecamatan


Banyumanik melayani sebanyak 32.056 jiwa. Berdasarkan SPM kesehatan, jumlah
kunjungan puskesmas yaitu 100 jiwa/hari.

Tabel IV.2 Rata-rata Kunjungan Per Hari


No.
1.
4.
6.
11.

Kelurahan
Pudakpayung
Padangsari
Srondol
Ngesrep

Jumlah Penduduk
20.866
12.602
31.604
14.533

Rata-rata Kunjungan
Per hari

128,02
81,5
99,04
43,75

Sumber : Wulansari, RR Retno, 2010

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata kunjungan puskesmas di


kecamatan banyumanik adalah sebanyak 88 jiwa / hari. Hal ini menandakan pelayanan
pasien di puskesmas sudah terlayani dengan baik.
4.4 Lokasi Permukiman dan Puskesmas
Lokasi Puskesmas umumnya menggunakan pendekatan lokasi pemerintahan
administratif. Letak tersebut umumnya berdekatan dengan lokasi pusat pemerintahan
atau kantor kelurahan.

Gambar 4.2 Peta Sebaran Permukiman dan Puskesmas Kecamatan


Banyumanik
Sumber : Hasil Analisis Kelompok 14A, 2014

Dari gambar diatas dapat dicermati bahwa sebaran permukiman hampir merata di
Kecamatn Banyumanik, dengan kepadatan penduduk yang berpusat di tengah
Kecamatan Banyumanik. Lokasi puskesmas dapat diatamati berada di jalan utama dan
berada dengan kepadatan penduduk tinggi, yakni dengan alamat puskesmas sebagai
berikut
-

Puskesmas Ngesrep : Jl. Teuku Umar

Puskesmas Padangsari : Jl. Miranti 389


Puskesmas Srondol : Jl. Setiabudi 209
Puskesmas Pudakpayung : Jl. Perintis Kemerdekaan

Dengan data alamat diatas dapat dianalisa bahwa lokasi puskesmas dapat mudah di
akses dengan angkutan umum yang beroperasi dari pagi hingga menjelang malam hari.
4.5 Jangkauan Pelayanan Puskesmas Banyumanik
Berdasarkan SPM SNI 03-1733-1989, jangkauan pelayanan dari puskesmas adalah
5 km. Dengan metode buffer yang ada pada aplikasi SIG dapat dihasilkan daerah-daerah
yang terjangkau ataupun daerah yang belum terjangkau dengan adanya puskesmas di
Banyumanik.

Gambar 4.3 Peta Jangkauan Pelayanan Puskesmas Kecamatan Banyumanik


Sumber : Hasil Analisis Kelompok 14A, 2014

Dalam peta di atas dapat disimpulkan bahwa jangkauan pelayanan puskesmas


yang ada di Banyumanik dapat menjangkau sampai ke luar daerah Banyumanik. Daerah
yang berwarna kuning merupakan daerah yang terjangkau berdasarkan jangkauan SPM
yaitu berjarak 5 km dari lokasi puskesmas. Jangkauan yang masih dapat terlayani tidak
hanya dalam Kota Semarang tetapi juga sampai ke luar kota yaitu Kabupaten Semarang.
Daerah Kabupaten Semarang yang dapat terjangkau berdasarkan metode tersebut yakni
Kecamatan Ungaran Timur. Namun, dengan metode yang sama juga didapat hasil daerah
Kecamatan Banyumanik yang belum terjangkau.

Apabila dikaji dengan peta persebaran penduduk dengan peta jangkauan pelayanan
maka dapat diketahui bahwa deaerah yang tidak terlayani merupakan daerah yang
termasuk dalam permukiman jarang penduduk. Tidak hanya itu saja tetapi juga jalan
utama yang ada hanya satu dan tidak memotong permukiman tersebut. Sehingga tidak
perlu menambah fasilitas puskesmas untuk memenuhi jangkauan pelayanan agar semua
daerah Kecamatan Banyumanik terlayani.

Daerah belum
terlayani oleh
puskesmas
yang ada.
Merupakan
permukiman

Gambar 4.4 Analisis daerah yang tidak terjangkau oleh Puseksmas Banyumanik
Sumber : Hasil Analisis Kelompok 14A, 2014

4.6 Aksesibilitas
Akses yang dapat digunakan untuk menuju puskesmas-puskesmas di Kecamatan
Banyumanik dapat menggunakan kendaraan pribadi sebab jalan yang dilalui telah
memadai dan juga terdapat puskesmas yang berada di jalan arteri Semarang-Solo.
Kemudian dapat juga menggunakan angkutan umum dengan trayek Johar-Banyumanik
yang melewati puskesmas tersebut. Alternatif lain dengan menggunakan BRT sampai di
halte BRT kemudian menggunakan angkutan umum lain untuk menuju puskesmaspuskesmas tersebut.

Untuk aksesibilitas daerah yang belum terjangkau dalam Kecamatan Banyumanik


ternyata hanya memiliki satu jalan utama yang sering dilewati masyarakat. Tidak ada
angkutan umum yang melewati daerah tersebut, jika ada itupun hanya roda dua saja yang
dapat melalui. Jalan yang ada adalah jalan atau gang kecil yang dapat dialalui roda dua.
Sehingga membuat daerah tersebut belum terlayani dengan baik.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Apabila ditinjau dari tingkat rasio pelayanan puskesmas melebihi rasio standard
Depkes. Untuk melayani 128.225 jiwa penduduknya,kecamatan Banymanik minimum
jumlah fasilitas kesehatan (puskesmas) yang berdiri di kecamatan ini yaitu 4 buah.
Namun satu puskesmas tersebut merupakan puskesmas induk dimana dari segi fasilitas,
luas bangunan dan tenaga kesehatannya memadai dalam pemenuhan kebutuhan
kesehatan semua penduduk di kecamatan tersebut.
Begitu juga halnya dengan perhitungan jangkauan pelayanan. Untuk menjangkau
seluruh wilayah Kecamatan Banyumanik yang sebesar 25.090.840 m2 hanya dibutuhkan
satu puskesmas yang memiliki standar jangkauan pelayanan seperti pada SPM yaitu
sebesar

28.285.714,29

m2.

Jangkauan

pelayanan

puskesmas

di

kecamatan

Banyumanik(secara real pada saat ini) menurut peta jangkauan berdasarkan standar
SPM diambil dari SNI 03-1733-1989 tentang tata cara perencanaan kawasan perumahan
kota sudah menunjukkan pelayanan sangat baik. Semua puskesmas pada kecamatan
Banyumanik telah menjangkau seluruh wilayah administrasi di kecamatan Banyumanik.
Lokasi puskesmas dan permukiman di wilayah Kabupaten Banyumanik ini
terdistribusi secara menyebar dengan ditambah fasilitas jalan yang mampu mengakses
semua tempat, dengan waktu tempuh kurang dari 15 menit. Sebaran lokasi puskesmas di
Kabupaten Banyumanik termasuk dalam kategori menyebar di seluruh wilayah sehingga
kebutuhan pelayanan masyarakat relatif terjamin, namun ada satu lokasi yakni di
tenggara banyumanik yang tidak terlayani oleh jangkauan puskesmas, tetapi lokasi
tersebut memiliki kepadatan penduduk rendah atau jumlah penduduk yang sedikit,
sehingga tidak perlu dibangun puskesmas yang baru di daerah tersbut tetapi dengan
akses jalan utama yang mudah sehingga penduduk yang berada di daerah tersebut tetap
mudah jika ingin mengakses puskesmas terdekat dari jarak mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes.

2014.

Rekapitulasi

Puskesmas

Kabupaten

Kota

Semarang,

http://www.bankdata.depkes.go.id/. Diunduh Kamis, 27 November 2014.

dalam

BPS Kota Semarang. 2012. Kecamatan Banyumanik dalam Angka 2012, dalam
http://semarangkota.bps.go.id/. Diunduh Kamis, 27 November 2014.
Widagdo, Adi. 2009. Analisis Aksesibilatas Pelayanan Puskesmas di Kabupaten Sleman.
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Lincolin, Arsyad. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah,
edisi pertama, Yogyakarta : BPFE.
RDTRK Kecamatan Banyumanik 1995-2005
SNI 03-1733-1989, Tata cara perencanaan kawasan perumahan kota
Waluya, Bagja. 2009. Memahami Geografi 3 SMA/MA. Jakerta : Pusat perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Pontoh, Nia K, dan Iwan Kustiawan. 2009. Pengantar Perencanaan Perkotaan.
Bandung: ITB.
http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/yankes/alamat_pusk09.pdf.

Daftar

Puskesmas Provinsi jawa Tengah dalam Website. Diunduh Senin, 25 November


2013.
http://jdihukum.semarang.go.id/isi/2013/Perda%20no.%203%20Th%202013.pdf. RDTRK
Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang Bagian Wilayah Kota VII (Kecamatan
Banyumanik) Tahun 1995-2005 dalam Website. Diunduh Senin, 25 November 2013