Anda di halaman 1dari 21

Skenario C blok 21

Ny. SST, umur 32 tahun seorang ibu rumah tangga, masuk ke UGD RSJ Ernadi bahar
palembang karena sering keluyuran dan tidak mau tidur. Dua tahun yang lalu, terdapat
perubahan prilaku yaitu sedih, mengisolasi diri, tdak bisa mengurus diri, dan bicara terbatas.
1,5 tahun yang lalu, pasien cenderung norma,. Satu tahun yang lalu, keluarga mengeluh
pasien mulai banyak bicara, selalu gembra, frekuensi tidur berkurang, banyak bergerak dan
mudah tersinggung. Pasien mengatakan ada suara-suara yang memuji dirinya, serta
berkeyakinan bahwa dirinya orang yang penting di negri ini. Kemudian kemunduran makin
hebat, pasien tidak bisa mengurus diri, tidak mau makan minum, serta tidak tidur dan sering
keluyuran.,enjadi
Menurut keluarga ada masalah yang menjadi pemicu perubahan perilaku ini yaitu pasien
bertengkar dengan adik kandung.
Pada autoanamnesis pasien tidak bisa duduk diam, banyak bergerak, banyak bicara, dan susah
dihentikan. Jika ditanya, jawaban pasien sangat panjang bahkan tidak berhubungan dengan
pertayaan.
Riwayat perkawinan
Klarifikasi istilah
1. Gangguan afektif : gangguan pada ekspresi eksternal, emosi, yang terikat pada ide
2.
3.
4.
5.

atau ganmbaran mental pada objek


Kepribadian premorbid : kepribadian sebelum berkembangnya pernyakit
Keluyuran : pergi kemana-mana tanpa tujuan tertentu
Mengisolasi diri : mengucilkan manusia atau dirinya sendiri dari manusia lain
GAF Scale : global assesment of function scale adalah skala numerik (1-100) yang
digunakan oleh dokter jiwa maupun dokter umum untuk menilai secara subjektif

fungsi psikologis okupasional dan sosial


6. Emosional tidak stabil : keadaan erasaan yang tidak stabil muncul secara subjektif dan
diarahkan langsung ke objek yang spesifik
7. Flight of idea : pikiran melompat, adalah kelainan arus pikiran dimana ide susul
menyusul dengan sangat cepat, tidak terdapat arah umum atau ide tujuan
8. Insight : merujuk kepada kewaaspadaan dan pemahaman penderita mengenai sikap,
perasan perilaku, dan gejala yang mengganggu pemehaman diri sendiri
9. Discriminative insight : kemampuan individu untuk mampu memahami perbedaan
mengenai dirinya sendiri baik mengenai kemampuannya, keterbatasannya dan lainlain.
10. Halusinasi auditori : persepsi sensorik berupa pendengaran tanpa adanya stimulus
eksternal

11. Waham grandiosa : waham kebesaran, waham megalomanik, yang merupakan


perluasan dari individu akan pentingnya dirinya, dapat pula merupakan kompensasi
dari inadekuat atau rendah diri
12. Logore : berbicara dengan tekanan berbicara berlebihan dan cepat, dijumpai pada
gangguan jiwa tertentu
13. RTA terganggu : (reality testing ability)rta adalah kemampuan seseoang untuk menilai
realitas, kemampuan ini akan menentukan persepsi, respon emosi, dan perilaku yang
berhubungan dengan realitas kehidupan
Identifikasi masalah
1. Ny. SST, umur 32 tahun seorang ibu rumah tangga, masuk ke UGD RSJ Ernadi bahar
palembang karena sering keluyuran dan tidak mau tidur. pasien tidak bisa mengurus
2.

diri, tidak mau makan minum,


Dua tahun yang lalu, terdapat perubahan prilaku yaitu sedih, mengisolasi diri, tdak
bisa mengurus diri, dan bicara terbatas. 1,5 tahun yang lalu, pasien cenderung norma,.
Satu tahun yang lalu, keluarga mengeluh pasien mulai banyak bicara, selalu gembra,
frekuensi tidur berkurang, banyak bergerak dan mudah tersinggung. Pasien
mengatakan ada suara-suara yang memuji dirinya, serta berkeyakinan bahwa dirinya

orang yang penting di negri ini.


3. Menurut keluarga ada masalah yang menjadi pemicu perubahan perilaku ini yaitu
pasien bertengkar dengan adik kandung.
4. Pada autoanamnesis pasien tidak bisa duduk diam, banyak bergerak, banyak bicara,
dan susah dihentikan. Jika ditanya, jawaban pasien sangat panjang bahkan tidak
berhubungan dengan pertayaan.
5. Riwayat perkawinan baik. Ada riwayat gangguan afektif dalam keluarga, dan
kepribadian premorbid terdpat gangguan kepribadian emosional tidak stabil
6. Pemeriksaan psikiatrik

Analisis masalah
1. Ny. SST, umur 32 tahun seorang ibu rumah tangga, masuk ke UGD RSJ Ernadi bahar
palembang karena sering keluyuran dan tidak mau tidur. pasien tidak bisa mengurus
diri, tidak mau makan minum.
a. Apa hubungan usia, jenis kelamin, dan pekerjaan dengan keluhan yang dialami
pada kasus?

Bipolar disorder sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda. Setidaknya
setengah dari kasus bipolar dimulai dari usia 25 tahun. Keluhan ini sama pada
kelompok pria dan wanita dengan angka kejadian sekitar 5 per 1000 orang.
b. Apa makna klinis dari keluhan yang dialami ny.SST ?
Makna klinis dari keluhan diatas adalah, Ny. SST mengalami ketidakmampuan
untuk mengerjakan aktivitas hariannya (seperti makan, minum dan mengurus diri)
yang merupakan sebab utama Ny. SST dibawa keluarganya ke RSJ Ernaldi Bahar.
Dibawa oleh keluarganya (discriminative insight terganggu). Sering keluyuran dan
tidak mau tidur, berbicara terbatas, tidak bisa mengurus diri (perubahan perilaku
pada episode depresif).
c. Apa penyebab dan mekanisme keluhan yang dialami pada kasus ?
Pada gangguan tidur terdapat 2 gangguan yaitu pada sistem neuroendokrin dan
sistem motivasional. Area limbik di otak mempengaruhi hipotalamus dan
berhubungan dengan emosi. Hipotalamus mengontrol kelenjar endokrin dan tingkat
hormon yang dihasilkan. Hormon yang dihasilkan hipotalamus mempengaruhi
kelenjar pituitary. Beberapa penilitian membuktikan bahwa orang yang depresi,
memiliki kadar cortisol yang tinggi, dikarenakan produksi yang berlebih dari
pelapsan hormon rotropin oleh hipotalamus. Kadar cortisol yang berlebihan inilah
yang menyebabkan pasien susah tidur, tidak mau makan dan minum.
BAS (Behavioral Activation System) memfasilitasi kemampuan manusia untuk
mendekati atau memperoleh reward dari lingkungannya dan hal ini telah dikaitkan
dengan positive emotional states. Pada keluhan ini, kemungkinan terdapat
gangguan pada BAS tersebut, sehingga menyebabkan berkurangnya kebutuhan
untuk tidur.

2.

Dua tahun yang lalu, terdapat perubahan prilaku yaitu sedih, mengisolasi diri, tdak bisa
mengurus diri, dan bicara terbatas. 1,5 tahun yang lalu, pasien cenderung normal. Satu
tahun yang lalu, keluarga mengeluh pasien mulai banyak bicara, selalu gembra,
frekuensi tidur berkurang, banyak bergerak dan mudah tersinggung. Pasien mengatakan
ada suara-suara yang memuji dirinya, serta berkeyakinan bahwa dirinya orang yang
penting di negri ini.
a. Apa makna klinis dari riwayat perjalanan penyakit ?

Pasien mengalami gangguan afektif (mood), bisa terlihat dari riwayat perjalanan
penyakit dari 2 tahun lalu, perilaku pasien sedih, mengisolasi diri, tidak bisa
mengurus diri, bicara terbatas menunjukkan pasien sedang dalam keaadaan depresi.
1,5 tahun yang lalu pasien cenderung normal, menunjukkan pasien dalam keadaan
normal. Satu tahun yang lalu pasien mulai banyak bicara, selalu gembira, banyak
bergerak menunjukkan pasien dalam keadaan manik. Pasien mengatakan ada suara
yang memuji dirinya, artinya pasien mengalami halusinasi auditorik. Pasien
berkeyakinan bahwa dirinya orang yang penting, artinya pasien menglami waham
grandiose. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa Ny. SST mengalami gangguan
afektif bipolar dengan gejala psikotik. Sedih, mengisolasi diri (perubahan mood
pada episode depresif). Selalu gembira, mudah tersinggung (perubahan mood pada
episode manik). Ada suara-suara yang memuji dirinya (halusinasi auditorik).
Berkeyakinan bahwa dirinya orang paling penting di negeri ini (waham grandiosa).
b. Bagaimana penyebab dan mekanisme dari perjalanan penyakit ?
Komunikasi dan koordiansi dalam informasi antara area di otak bergantung pada
neurotransmitter. Dua neurotransmitter yang berperan dalam gangguan mood
adalah norepinephrine dan serotonin. Norepinephrine terkait dengan gangguan
bipolar dimana tingkat norephinephrine yang rendah menyebabkan depresi dan
tingkat yang tinggi menyebabkan mania. Sedangkan untuk serotonin, tingkatnya
yang rendah juga menyebabkan depresi. Terdapat dua kelompok obat untuk
depresi, yaitu tricyclics dan monoamine oxidase (MAO) inhibitors. Tricyclics
seperti imipramine (tofranil) adalah obat antidepresan yang berfungsi untuk
mencegah pengambilan kembali norephinephrine dan serotonin oleh presynaptic
neuron

setelah

sebelumnya

dilepaskan,

meninggalkan

lebih

banyak

neurotransmitter pada synapse sehingga transmisi pada impuls syaraf berikutnya


menjadi lebih mudah. Monoamine oxidase (MAO) inhibitors merupakan obat
antidepresan yang dapat meningkatkan serotonin dan norephineprhine. Terdapat
pula obat yang dapat secara efektif mengatasi gangguan unipolar, yaitu Selective
Serotonin Reuptake Inhibitors, seperti Prozac. Namun diperlukan penelitian lebih
lanjut untuk melihat efek samping dari berbagai obat antidepresan tersebut
sehingga peningkatan dari norephineprhine dan serotonin tidak menimbulkan
komplikasi lainnya.

3. Menurut keluarga ada masalah yang menjadi pemicu perubahan perilaku ini yaitu
pasien bertengkar dengan adik kandung.
a. Apa hubungan pertengkaran pasien dengan keluhan pasien ?
Penyebab gangguan afektif bipolar adalah multifaktorial, salah satunya yaitu stres.
Pada kasus ini, pertengkaran pasien dengan adik kandung nya merupakan stressor
yang membuat pasien menjadi stress akibatnya stres yang dialami pasien maka
timbul gejala gangguan afektif bipolar.
4. Pada autoanamnesis pasien tidak bisa duduk diam, banyak bergerak, banyak bicara, dan
susah dihentikan. Jika ditanya, jawaban pasien sangat panjang bahkan tidak
berhubungan dengan pertayaan.
a. Apa makna klinis dari kalimat diatas ?
Kalimat diatas menunjukan bahwa banyak bicara dan susah dihentikan (logore),
frekuensi tidur berkurang, banyak bergerak (perubahan perilaku pada episode
manik) dan jika ditanya jawaban pasien panjang dan tidak berhubungan dengan
pertanyaan (inkoheren).
5. Riwayat perkawinan baik. Ada riwayat gangguan afektif dalam keluarga, dan
kepribadian premorbid terdapat gangguan kepribadian emosional tidak stabil
a. Apa makna klinis dari kalimat diatas ?
Faktor stressor bukan berasal dari perkawinan. Penelitian mengenai faktor genetis
pada gangguan unipolar dan bipolar melibatkan keluarga dan anak kembar. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang
mengalami gangguan bipolar pernah mengalami satu episode gangguan mood.
Pada gangguan unipolar, meskipun faktor genetis mempengaruhi, namun kurang
menentukan dibandingkan gangguan bipolar. Resiko akan meningkat pada keluarga
pasien yang memiliki onset muda saat mengalami gangguan. Berdasarkan beberapa
data diperoleh bahwa onset awal untuk depresi, munculnya delusi, dan
komorbiditas dengan gangguan kecemasan dan alkoholisme meningkatkan resiko
pada keluarga.
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya
episode manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,
berdasar etiologi biologik. 50% pasien bipolar memiliki satu orangtua dengan
gangguan alam perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja).
Jika seorang orang tua mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki
resiko mengidap gangguan alam perasaan. Bila kedua orangtua mengidap

gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko mengidap gangguan alam
perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang menderita gangguan bipolar
berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan risiko pada anak
kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%), sedangkan
kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.
b. Apa macam-macam gangguan afektif beserta gambarannya?
a. Episode manik (F30)
-

Hipomania (F30.0) lebih ringan dari mania (F30.1), afek meninggi,


peningkatan aktivitas yang menetap setidaknya beberapa hari, tidak disertai
halusinasi atau waham.

Mania tanpa gejala psikotik (F30.1) episode berlangsung setidaknya 1


minggu, cukup berat hingga mengganggu aktivitas, aktivitas berlebihan,
bicara banyak dan cepat, kebutuhan tidur berkurang, ide grandiosa.

Mania dengan gejala psikotik (F30.2) gambaran klinis mania (F30.1)


namun lebih berat, disertai iritabilitas, waham kejar, waham grandiosa.

Episode manik lainnya (F30.8)

Episode manik yang tidak tergolongkan (F30.9)

b. Gangguan afektif bipolar (F31)


-

Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik (F31.0)

Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik (F31.1)

Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik


(F31.2)

Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang (F31.3)

Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
(F31.4)

Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
(F31.5)

Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran (F31.6) episode


sekarang menunjukkan gejala manik, hipomanik, dan depresif yang
tercampur atau bergantian. Gejala ini berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu dan harus ada setidaknya 1 gangguan afektif lainnya di masa
lampau.

Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi (F31.7) sekarang tidak


menderita gangguan afektif selama beberapa bulan terakhir ini, tetapi
pernah mengalami setidaknya 1 episode hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau dan disertai setidaknya 1 episode afektif lain.

Gangguan afektif bipolar lainnya (F31.8)

Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan (F31.9)


Gangguan afektif bipolar tipe (F31.0 hingga F31.5) memiliki gejala episode
sekarang sesuai dengan tipe bipolar tersebut dan terdapat setidaknya 1
gangguan afektif lainnya di masa lampau.

c. Episode depresif (F32)


Gejala utama dari depresi yaitu afek depresif, kehilangan minat dan
kegembiraan, mudah lelah dan penurunan aktivitas. Gejala tambahan dari
depresi yaitu konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan kepercayaan
diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan
masa depan suram dan pesimistis, gagasan bunuh diri, tidur terganggu, nafsu
makan berkurang.
-

Episode depresif ringan (F32.0) 2 dari 3 gejala utama dan disertai


setidaknya 2 dari gejala tambahan, episode berlangsung minimum sekitar 2
minggu.

Episode depresif sedang (F32.1) 2 dari 3 gejala utama dan disertai


setidaknya 3 atau 4 dari gejala tambahan, episode berlangsung minimum
sekitar 2 minggu.

Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2) ada 3 gejala utama
depresi dan disertai setidaknya 4 dari gejala lainnya, episode berlangsung
minimum sekitar 2 minggu, pasien tidak mampu meneruskan pekerjaan
atau kegiatan sosial.

Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3) terdapat gejala


depresif tipe F32.2 dan disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.

Episode depresif lainnya (F32.8)

Episode depresif yang tidak tergolongkan (F32.9)

d. Gangguan depresif berulang (F33)


-

Gangguan depresif berulang, episode kini ringan (F33.0)

Gangguan depresif berulang, episode kini sedang (F33.1)

Gangguan depresif berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik


(F33.2)

Gangguan depresif berulang, episode kini berat dengan gejala psikotik


(F33.3)

Gangguan depresif berulang, kini dalam remisi (F33.4)

Gangguan depresif berulang lainnya (F33.8)

Gangguan depresif berulang yang tidak tergolongkan (F33.9)

e. Gangguan suasana perasaan menetap (F34)


-

Siklotimia (F34.0)

Distimia (F34.1)

Gangguan suasana perasaan menetap lainnya (F34.8)

Gangguan suasana perasaan menetap yang tidak tergolongkan (F34.9)

f. Gangguan suasana perasaan lainnya (F38)


g. Gangguan suasana perasaan yang tidak tergolongkan (F39)
6. GAF Scale 40-31 saat pemeriksaan
Kesimpulan Pemeriksaan psikiatrik :
Psikopatologi discriminative insight terganggu, terdapat gangguan asosiasi flight of
ideas, halusinasi auditorik (+), waham grandiosa (+), logore.
RTA terganggu.
a. Apa interpretasi pemeriksaan psikiatrik ?
- Discriminative insight terganggu = pasien tidak menyadari dan memahami apa
-

yang terjadi pada dirinya saat ini.


Asosiasi Flight of Ideas = Ide susul menyusul dengan cepat dan tidak ada arah
umum atau ide tujuan, normalnya pikiran akan berjalan dari suatu ide initial ke

ide tujuan, dimana terjadi arus terus menerus dan berkesinambungan.


Waham = Keyakinan yang salah karena bertentangan dengan realitas serta

dibangun atas unsur logika yang tidak sehat.


Waham grandiose = Waham kebesaran dimana individu merasa dirinya sangat

penting.
Logore = Banyak Bicara tanpa ada celah pemeriksa untuk masuk.
Halusinasi = persepsi sensorik tanpa rangsang dari luar.
RTA = Reality Testing Ability, yaitu kemampuan seseorang untuk menilai
realitas. Kemampuan ini akan menentukan persepsi, respons emosi dan perilaku
dalam berelasi dengan realitas kehidupan. Kekacauan perilaku, waham, dan
halusinasi seperti kasus ini adalah salah satu contoh penggambaran gangguan
berat dalam kemampuan menilai realitas (Reality Testing of Ability).

b. Bagaimana cara pemeriksaan psikiatrik ?


Global Assessment of Functioning Scale (GAF Scale) adalah skala penilaian secara
global tentang fungsi psikologis sosial dan pekerjaan pasien, merupakan diagnosis
multiaksial

V.

Fungsional

diartikan

sebagai

kesatuan

dari

bidang

utama yaitu fungsi sosial, fungsi pekerjaan, fungsi psikologis. Fungsi berupa

skala

dengan 100 poin. 100 mencerminkan tingkat fungsi tertinggi dalam semua bidang.
Pasien yang memiliki tingkat fungsional tertinggi sebelum suatu episodepenyakit
biasanya mempunyai prognosis yang lebih baik dibandingkan mereka yang
mempunyai tingkat fungsioal rendah. Digunakan juga untuk mengindikasikan taraf
keberfungsian tertinggi yang mungkin dicapai selama beberapa bulan pada tahun
sebelumnya.
91-100

Gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada masalah yang tidak

81-90

tertanggulangi
Gejala minimal, fungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalh

71-80
61-70

harian biasa
Gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial
Beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi,

51-60
41-50
31-40

secara umum baik


Gejala dan disabilitas sedang
Gejala dan disabilitas berat
Beberapa disabilitas dalam

21-30

komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi


Disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu

11-20

berfungsi dalam hampir semua bidang


Bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam

01-10
0

komunikasi dan mengurus diri


Persisten dan lebih serius
Informasi tidak adekuat

hubungan

dengan

realita

dan

7. Aspek klinis
a. Cara penegakan diagnosis
Menurut PPDGJ-III, gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurangkurangnya dua) yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat
aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari
peninggian suasana perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania
atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood)
serta pengurangan enersi dan aktivitas depresi). Yang khas adalah bahwa biasanya
ada penyembuhan sempurna antar episode, dan insidensi pada kedua jenis kelamin

kurang lebih sama dibanding dengan gangguan suasana perasaan (mood) lainnya.
Dalam perbandingan, jarang ditemukan pasien yang menderita hanya episode
mania yang berulang-ulang, dan karena pasien-pasien tersebut menyerupai (dalam
riwayat keluarga, kepribadian pramorbid, usia onset, dan prognosis jangka
panjang) pasien yang mempunyai juga episode depresi sekali-sekali, maka pasien
itu digolongkan sebagai bipolar.
b. Diagnosis banding dan Diagnosis kerja
Kasus

Gangguan

Schizoafektif

Schizophrenia

Siklotimia

bipolar

Penyalahgunaan
zat

dengan
gejala
Gejala

psikotik
Manik +

(banyak

bicara,

frekuensi

tidur

menurun,

gembira

tidak
sampai
taraf

berlebihan, tidak bisa


diam)
Gejala

- (gembira +

manik)

depresif +

(Waham +

keluarga +

gangguan afektif
Riwayat kepribadian +

(sedih, isolasi diri,


bicara terbatas)
Terdapat
beberapa +
bulan normal diantara
2 episodik
Waham
Grandiose)
Halusinasi
(Halusinasi
Auditorik)
Riwayat

emosional tak stabil


Tabel 1 Diagnosis Banding
c. Definisi wd (jelasin tipe tipe nya)

Gangguan bipolar menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental DisordersText Revision edisi ke-4 (DSM-IV-TR) adalah gangguan mood yang terdiri dari
paling sedikit satu episode manik, hipomanik atau campuran yang biasanya disertai
dengan adanya riwayat episode depresi mayor. Tipe-tipe gangguan ini adalah:
1. Gangguan bipolar I. Ditandai oleh satu atau lebih episode manik atau
campuran yang biasanya disertai oleh episode-episode depresi mayor.
2. Gangguan bipolar II. Gambaran utama ditandai oleh terjadinya satu atau
lebih episode depresi mayor yang disertai oleh paling sedikit satu episode
hipomanik.
3. Gangguan siklotimik Ditandai paling sedikit dua tahun dari sejumlah
periode waktu gejala hipomanik yang tidak memenuhi kriteria episode
manik dan sejumlah periode gejala depresif yang tidak memenuhi kriteria
depresif mayor.
4. Gangguan bipolar yang tidak terinci Gangguan ini mencakup gambaran
bipolar yang tidak memenuhi kriteria di atas.
d. Pemeriksaan penujang
1. Pemeriksaan Laboratorium.
Dilakukan pemeriksaan darah rutin, atau pemeriksaan fungsi kelenjar gondok
bila ada indikasi kearah gangguan fungsi kelenjar gondok. Untuk
menyingkirkan adanya hipertiroidisme yang dapat menyebabkan episode
manik.
2. Pemeriksaan Psikologis.
Untuk mengecek ada tidaknya depresi dan mania, dokter atau tenaga
kesehatan akan menanyakan tentang perasaan dan pikiran, dan pola perilaku
pasien. Dokter atau petugas akan mengajukan pertanyaan tentang gejala,
kapan mulainya, apakah pernah mengalami hal yang sama dulu. Dokter juga
akan menanyakan apakah ada pemikiran kearah menganiaya diri sendiri atau
bunuh diri. Pasien mungkin akan diminta untuk mengisi kuestionnaire (daftar
pertanyaan) untuk membantu menentukan ada tidaknya depresi dan mania.
3. Mood Charting.
Untuk mengetahui secara pasti apa yang terjadi, dokter akan meminta pasien
untuk mencatat suasana hati (mood), pola tidur dan hal hal lain yang akan
mendukung diagnose dan pengobatan gangguan bipolar.
e. Etiologi dan Faktor Resiko
Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial, secara
biologis

dikaitkan

dengan

faktor

genetik

dan

gangguan

struktur

dan

neurotransmitter di otak, sedangkan secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh


masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan
berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.

Genetik
Jika satu orang tua mengalami gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki
resiko terkena gangguan afektif bipolar. Bila kedua orangtua mengalami
gangguan bipolar maka 75% anaknya memiliki resiko terkena gangguan
afektif bipolar. Keturunan pertama dari seseorang yang menderita gangguan
bipolar beresiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali, bahkan risiko pada
anak kembar sangat tinggi terutama pada kembar monozigot (40-80%),

sedangkan kembar dizigot lebih rendah, yakni 10-20%.


Gangguan Neurotransmitter
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,
peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmiter dengan gangguan
bipolar.

Neurotransmiter

tersebut

adalah

dopamine,

serotonin,

dan

noradrenalin. Gen-gen yang berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun


mulai diteliti seperti gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA),
tirosin hidroksilase, catechol-O-metiltransferase (COMT), dan serotonin
transporter (5HTT).
Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini
yaitu gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps,
neurogenesis dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam

mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13.


Gangguan Struktur Otak
Kelainan pada otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini.
Terdapat perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita
bipolar. Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positronemission tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran
darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu,
Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang
kecil pada

amygdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amygdala dan

hipokampus merupakan bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi
(mood dan afek). Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin
berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit
menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga mampu

mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit


berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.
f. Epidemiologi
Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara 0,3-1,5%,
namun angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian terus
membayangi penderita bipolar. Biasanya kematian itu dikarenakan mereka
mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Risiko bunuh diri meningkat pada
penderita bipolar yang tidak diterapi yaitu 5,5 per 1000 pasien. Sementara yang
diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien. Gangguan pada lelaki dan perempuan sama,
umumnya timbul di usia remaja atau dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu
seseorang baru menginjak dewasa, tetapi kasus-kasus gangguan bipolar telah
didiagnosis pada remaja dan bahkan anak-anak. Usia onset gangguan bipolar
bervariasi. Untuk kedua BPI dan BPII, rentang usia sejak kecil hingga 50 tahun,
dengan usia rata-rata sekitar 21 tahun. Sebagian besar kasus gangguan bipolar
dimulai ketika individu berusia 15-19 tahun. Kedua yang paling sering rentang usia
onset adalah 20-24 tahun.
g. Manifestasi klinis
Terdapat dua pola dasar pada gangguan mood, satu untuk depresi dan satu untuk
mania.
1. Episode Depresif
Suatu mood depesi dan hilangnya minat atau kesenangan merupakan gejala
utama dari deprsi. Pasien mengatakan bahwa mereka merasa murung, putus asa,
dalam kesedihan, atau tidak berguna. Bagi pasien mood depresi seringkali
memiliki kualitas yang terpisah yang membedakannya dari emosi normal dan
kesedihan atau dukacita. Pasien sering kali menggambarkan gejala depresi
sebagai suatu rasa nyeri emosional yang menderita sekali. Pasien terdepresi
kadang-kadang mengeluh tidak dapat menangis, suatu gejala yang hilang saat
mereka membaik.
Hampir semua pasien terdepresi (97%) mengeluh adanya penurunan energi yang
menyebabkan kesulitan dalam menyelesaikan tugas, sekolah dan pekerjaan, dan
penurunan motivasi untuk mengambil proyek baru. Pasien juga mengeluh susah
tidur, terbangun pada malam hari, selama mereka merenungkan masalahnya.
Fase depresi:
- Perasaan murung atau sedih
- Mudah menangis
- Minat dan kegembiraan hilang

Kelelahan
Nafsu makan terganggu
Gangguan tidur (insomnia/hipersomnia)
Putus asa
Pesimis
Sulit konsentrasi
Berat badan naik/turun secara bermakna
Merasa bersalah
Sering berpikir untuk bunuh diri

2. Episode Manik
Suatu mood yang meningkat, meluap-luap, atau lekas marah merupakan tanda
dari episode manik. Selain itu mood pasien mudah tersinggung , khususnya jika
rencana pasien yang sangat ambisisus terancam. Sering kali seorang pasien
menunjukkan perubahan mood yang utama dari euphoria awal pada sebuah
perjalanan penyakit menjadi lekas marah dikemudian waktu.
Fase manik:
- Rasa harga diri yang tinggi secara berlebihan. Ia merasa dirinya paling hebat
dan dapat melakukan apa saja.
- Selalu gembira secara berlebihan
- Gangguan tidur. Pasien biasanya hanya butuh waktu 3-4 jam untuk tidur tapi
-

tidak merasa kelelahan.


Bicara cepat, kata-kata dan idenya banyak secara berlebihan.
Perhatian gampang teralih
Aktivitasnya berlebihan
Nafsu seksual yang meninggi.

h. Komplikasi
Gangguan bipolar sering menimbulkan komplikasi berupa:

Masalah terkait kepada kecanduan alcohol atau narkoba.

Masalah hukum

Masalah keuangan.

Permasalahan hubungan sosial

Isolasi dan hidup menyendiri

Kinerja buruk di sekolah atau ditempat kerja.

Sering bolos kerja atau sekolah.

Bunuh diri
i. Prognosis
Pasien dengan gangguan bipolar I mempunyai prognosis lebih buruk. Di dalam 2
tahun pertama setelah peristiwa awal, 40-50% tentang pasien mengalami serangan
manik lain.
Hanya 50-60% pasien dengan gangguan bipolar I yang dapat diatasi
gejalanya dengan lithium. 7% pasien ini, gejala tidak terulang. 45% Persen

pasien mengalami lebih dari sekali kekambuhan dan lebih dari 40%

mempunyai suatu gejala yang menetap.


Faktor yang memperburuk prognosis :
- Riwayat pekerjaan yang buruk/kemiskinan
- Disertai dengan penyalahgunaan alkohol
- Disertai dengan gejala psikotik
- Gejala depresi lebih menonjol
- Jenis kelamin laki-laki
Prognosis lebih baik bila :
- Masih dalam episode manik 18
- Usia lanjut
- Sedikit pemikiran bunuh diri
- Tanpa atau minimal gejala psikotik
- Sedikit masalah kesehatan medis

j. SKDI
3A Mampu mengenali, mendiagnosis dan menatalaksana awal, kemudian
dirujuk dan dapat tata laksana lanjutan setelah dikembalikan dari rujukan.

Hipotesis :
Ny.SST mengalami gangguan afektif bipolar
Learning Issue
1. Pemeriksaan psikiatrik (Ameng, Haekal, Indah)
1) Keadaan Umum
a) Isi: jenis kelamin, usia, rawat diri
b) Penting untuk menentukan/memperkirakan prognosis pasien
c) Contoh: tampak seorang laki-laki sesuai usia, dengan rawat diri cukup.
2) Kesadaran
a) Compos mentis (kesadaran penuh): kemampuan untuk menyadari informasi dan
menggunakannya secara efektif dalam mempengaruhi hubungan dirinya dengan
lingkungan sekitarnya.
b) Somnolen: terkantuk-kantuk
c) Stupor: acuh tak acuh terhadap sekelilingnya dan tak ada reaksi terhadap
stimuli.
d) Koma: ketidaksadaran berat, pasien sama sekali tidak memberikan respon
terhadap stimuli.
e) Koma vigil: keadaan koma tetapi mata tetap terbuka.
f) Kesadaran berkabut: kesadaran menurun yang disertai dengan gangguan
persepsi dan sikap
g) Delirium: kesadaran menurun disertai bingung, gelisah, takut, dan halusinasi.
Penderita menjadi tidak dapat diam.
h) Twilight state (dreamy state): kesadaran menurun disertai dengan halusinasi,
biasanya terjadi pada epilepsi.
3) Orientasi
a. Isi: orientasi orang, waktu, tempat, dan situasi
b. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan untuk menilai orientasi pasien,
misalnya:
i. Mbak, kemarin datang ke sini hari apa/sudah berapa hari?(O-w) Datang sama
siapa?(O-o) Kenapa dibawa ke sini?(insight) Waktu dibawa ke sini, mbak baru
apa, dimana?(o-t,s)
ii. Mbak tadi malam bisa tidur? Bangun jam berapa?(O-w) Yang nunggu mbak tadi
malam siapa?(O-o) Tadi mbak sudah jalan-jalan ke mana saja?(O-t)
c. Contoh: Orientasi o/w/t/s = b/j/b/b (b: baik, j: jelek)
4) Sikap, Tingkah Laku
a. Isi: aktivitas (hiperaktif, normoaktif, hipoaktif), kerjasama (kooperatif,
nonkooperatif), psikomotor (jika ada)
b. Bentuk kelainan psikomotor yang dapat diamati:
1. Echopraxia: menirukan gerakan orang lain

2. Katatonia
3. Katalepsi: pasien tidak bergerak dan cenderung mempertahankan posisi
tertentu.
4. Fleksibilitas serea: gerakan yang diberikan oleh pemeriksa secara perlahan,
dan kemudian dipertahankan oleh pasien.
5. Negativisme: gerakan menentang/tidak mematuhi perintah.
6. Katapleksi: tonus otot menghilang sementara dikarenakan emosi
7. Stereotipi: aktivitas fisik atau bicara yang diulang-ulang
8. Manerisme: gerakan involunter yang stereotipik
9. Otomatis perintah: mengikuti perintah secara otomatis
10. Mutisme: tak bersuara
11. Agresi: perbuatan menyerang, baik verbal maupun fisik, disertai afek
marah/benci.
5) Afek
a. Afek: emosi yang diekspresikan oleh pasien, sehingga penilaiannya obyektif
(dapat diamati oleh pemeriksa)
b. Afek dapat dinyatakan dalam beberapa cara:
c. Jenis emosi : kemarahan, kesedihan, euphoria (peningkatan ekspresi
kegembiraan), elasi (euphoria dengan peningkatan aktivitas psikomotor),
eksaltasi (elasi yang disertai waham kebesaran), ekstase (agresi).
d. Intensitas dan derajat emosi: datar, tumpul, sempit, luas.
i. Datar: tidak terdapat ekspresi
ii. Tumpul: ekspresi yang tampak sangat sedikit (hamper tidak terdapat
ekspresi)
iii. Sempit/menyempit: pasien terkadang masih dapat mengekspresikan
perasaannya.
iv. Luas: perasaan dapat diekspresikan secara penuh (normal)
e. Keserasian: dilihat dari kesesuaian antara stimulus yang diberikan dengan
ekspresi pasien: appropriate, inappropriate.
f. Konsistensi perasaan: labil, stabil. Labil bila terjadi perubahan afek yang
cepat.
6) Mood
1. Isi: sedih, takut, bahagia, marah, cemas, irritable, disforik.
2. Mood: emosi yang berkepanjangan yang dialami secara subyektif dan
dilaporkan oleh pasien.
3. Mood disforik: apabila dirasakan oleh penderita tidak menyenangkan, misalnya
irritable, marah, atau depresi.
7) Proses Pikir
Dibedakan menjadi bentuk pikir, isi pikir, dan progress pikir.
Gangguan bentuk pikir:

i) Nonrealistik/derealistik: tidak sesuai dengan kenyataan tetapi masih


mungkin, misal: saya adalah seorang presiden atau seorang dokter berkata,
saya dapat menyembuhkan semua orang yang sakit
ii) Dereistik: tidak sesuai dengan kenyataan dal lebih didasarkan pada khayalan,
misal: saya adalah seorang malaikat atau saya dapat menyembuhkan
segala macam penyakit
iii) Autistik: pikiran yang timbul dari fantasi, berokupasi pad aide yang
idesentris. Orang autistic selalu hidup dalam alam/dunianya sendiri, dan
secara emosional terlepas dari orang lain.
iv) Tidak logis (illogical thought), sering juga disebut magical thought:
berorientasi pada hal-hal yang bersifat magis.
v) Pikiran konkrit (formal thought disorder): pikiran terbatas pada satu dimensi
arti, pasien mengartikan kata/kalimat apa adanya, tidak mampu berpikir
secara metaforik atau hipotetik. Symptom ini biasa ditemukan pada pasien
dengan gangguan mental organic dan skizofrenia. Contoh: meja hijau = meja
yang berwarna hijau, daun muda = daun yang masih muda.
Gangguan isi pikir:
A. Ideas of reference: pasien selalu berprasangka bahwa orang lain sedang
membicarakan dirinya dan kejadian-kejadian yang alamiah pun memberi arti
khusus/berhubungan dengan dirinya. Contoh: pasien merasa bahwa berita
yang dibawakan oleh pembawa berita di televise berkaitan dengannya dan
terselip pesan untuknya.
B. Waham: keyakinan palsu yang timbul tanpa stimulus dari luar yang cukup
Ciri:
Tidak realistic
Tidak logis
Menetap
Egosentris
Diyakini kebenarannya oleh penderita
Tidak dapat dikoreksi
Dihayati oleh penderita sebagai hal yang nyata
Penderita hidup dalam wahamnya itu
Keadaan/hal yang diyakini itu bukan merupakan bagian sosio-kultural
setempat.
Macamnya:
Waham kebesaran
Waham diancam
Waham cemburu
Waham curiga

Waham bersalah
Waham berdosa (biasanya pasien tampak selalu murung)
Waham tak berguna (sering kali memicu keinginan pasien untuk

bunuh diri)
Waham miskin
Waham hipokondria (pasien merasa di dalam tubuhnya ada sesuatu

benda yang harus dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya)


Waham kejar
Waham bizarre, meliputi:
Waham sedot pikir (thought of withdrawal): pasien percaya bahwa

seeseorang telah mengambil keluar pikirannya


Waham sisip piker (thought of insertion): pasien percaya bahwa

seseorang telah menyesipkan pikiran ke kepalanya


Waham siar piker (thought of broadcasting): pasien percaya bahwa

orang lain dapat mengetahui/membaca pikirannya


Waham kendali piker (thought of being controlled): pasien percaya
bahwa apa yang dirasakan/dilakukannya dipengaruhi/dikendalikan

oleh orang lain.


C. Obsesi: gagasan (ide), bayangan, atau impuls yang berulang dan persisten.
D. Kompulsi: perilaku/perbuatan berulang yang bersifat stereotipik, biasanya
menyertai obsesi.
E. Fobia: ketakutan yang menetap dan tidak rasional terhadap suatu objek,
aktifitas, atau situasi spesifik yang menimbulkan keinginan yang mendesak
untuk menghindarinya.
F. Anosognosis: pasien menolak kenyataan bahwa ia mengalami gangguan
fisik, hal ini terjadi pada pasien yang mengalami luka/trauma dan kerusakan
otak yang luas. Contoh: penderita buta mengatakan bahwa ia dapat melihat.

Gangguan progress/arus pikir


a. Neologisme: pembentukan kata-kata baru yang memiliki arti khusus bagi
penderita, sering terdapat pada pasien skizofrenia. Neologisme dapat pula
akibat halusinasi akustik sehingga sering merupakan kata yang diulang.
b. Word salad: bentuk ekstrim neologisme yang ditandai dengan kalimat yang
dibentuk dari kata-kata yang hamper semuanya tidak dapat dimengerti.
c. Magical thinking: pasien percaya bahwa segala tingkah laku, ucapan, sikap,
serta gerak-geriknya dikendalikan oleh kekuatan magis. Symptom ini
menonjol pada pasien dengan obsesif kompulsif dan secara ekstrim terdapat
pada skizofrenia.

d. Intelektualisasi: pembicaraan yang meloncat-loncat kea rah konsep


intelektual, tentang teori yang abstrak dan filosofis. Sering dijumpai pada
pasien obsesif kompulsif dan skizofrenia.
e. Circumstantiality: gangguan asosiasi karena terlalu banyak ide yang
disampaikan. Pada umumnya pasien dapat mencapai tujuannya, tetapi harus
secara bertahap. Sering dijumpai pada pasien skizofrenia, epilepsy, dan
demensia senilis.
f. Tangential thinking: pembicaraan pasien terlepas sama sekali dari pokok
pembicaraan dan tidak kembali ke pokok pembicaraan tersebut, sehingga
tujuan tidak pernah tercapai. Sering dijumpai pada pasien bipolar fase manic.
g. Asosiasi longgar: pasien berbicara dengan kalimat-kalimat yang tidak
berhubungan, namun masih dapat dimengerti.
h. Inkoherensi: merupakan asosiasi longgar yang berat, terdapat distorsi
tatabahasa/susunan kalimat dengan arti istilah yang aneh. Secara khas
terdapat pada skizofrenia.
i. Flight of ideas: pembicaraan yang melompat-lompat dari satu topic ke topic
lain tanpa terputus, dimana masih terdapat benang merah (masih terkait,
walau sangat kecil kaitannya).
j. Stereotypi kata/kalimat: pengulangan

kata/kalimat

karena

adanya

pengulangan buah pikiran. Bila terjadi pengulangan kata = verbigerasi,


pengulangan kalimat = perseverasi. Terdapat pada skizofrenia dan GMO.
k. Logore: pasien berbicara terus-menerus tanpa henti.
l. Echolalia: menirukan kata-kata/kalimat orang lain, cenderung berulang-ulang
dan persisten.
m. Remming: pasien berbicara dengan sangat lambat dan biasanya dengan nada
yang rendah, karena pikirannya timbul perlahan sehingga progresi piker
menjadi lambat. Biasanya terdapat pada pasien dengan depresi.
n. Blocking: putusnya pikiran yang ditandai dengan putusnya secara sementara
atau terhentinya pembicaraan. Sering ditemukan pada skizofrenia.
o. Mutisme: pasien tidak member respon terhadap lingkungan, tidak mau
berbicara sama sekali. Sering ditemukan pada skizofrenia kataton, depresi
berat, histerical aphonia, dan GMO.
p. Aphasia: gangguan berbicara/berbahasa karena kerusakakn otak.

Daftar Pustaka
Arifputera, Andy, dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta:Media Aesculapius.
Kring, Ann.,Johnson,Sheri.,Davison,Gerald.,&Neale, John (2011), Abnormal Psychology
Twelfth Edition, Singapore: John Wiley & Sons
Price, Sylvia A., dkk. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, edisi 6.
Jakarta: EGC.
Maslim, Rusdi. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.