Anda di halaman 1dari 16

Makalah

AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK


ACTIVITY BASED COSTING IN PUBLIC SECTOR

OLEH :
KELOMPOK IV

SRI MARDHANI

A31112286

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
Telah dianalisa bahwa lebih dari 60% dari semua warga transaksi dilakukan melalui
Prefektur (Lokal Pemerintah), sehingga peran dasarnya tidak dapat lain daripada melayani warga
negara (Tsialta, 2009).
Meskipun banyak langkah positif telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir dalam
Administrasi Publik (Sektor Publik) di Yunani, terutama dengan menggunakan baru teknologi,
realitas saat ini di masyarakat administrasi terus menjadi ciri dari birokrasi, tidak adanya
tindakan strategis, pemborosan pengelolaan sumber daya publik corruptness, dan tidak adanya
rasional merancang tempat studi.
Sebagai akibat dari semua hal di atas, biaya adalah dari menyediakan layanan yang
mengatasi manfaat bahwa warga menerima, yang berarti bahwa layanan ini terlalu mahal dan
biasanya dari kualitas rendah. Standarisasi dan penyederhanaan administrasi proses (jasa) dapat
merupakan salah satu yang lebih kuat mekanisme dari transparansi dan konfrontasi
corruptness. Akuntansi biaya (di kita Kegiatan penelitian-Based Costing) dapat berpartisipasi
dalam perubahan dengan menganalisis setiap bagian dari Pemerintah Daerah dan dalam
kombinasi dengan tenaga kerja yang sesuai perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang
diperlukan, mekanisme ini bisa membuat perbedaan.

BAB II
PEMBAHASAN

ACTIVITY BASED COSTING IN PUBLIC SECTOR


Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi
aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat. Namun dari
perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang
akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan
sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk,
misalnya pelanggan dan saluran distribusi
Activity-Based Costing (ABC) telah dikembangkan pada organisasi sebagai suatu solusi untuk
masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh sistem biaya tradisional. Sistem
ABC merupakan suatu sistem yang baru sehingga konsepnya masih dan terus berkembang,
sehingga ada berbagai definisi yang menjelaskan tentang sistem biaya ABC itu sendiri. Beberapa
ahli manajemen biaya memberikan defenisi mengenai sistem biaya Activity-Based Costing
sebagai berikut :
1. Wayne J. Morse, James R. Davis dan A. L. Hartgraves
Dalam bukunya Management Accounting (1991) memberikan defenisi mengenai Activity-Based
Costing (ABC), sebagai sistem pengalokasian dan pengalokasian kembali biaya ke objek biaya
dengan dasar aktivitas yang menyebabkan biaya. Sistem ABC ini didasarkan pada pemikiran
bahwa aktivitas penyebab biaya dan biaya aktivitas harus dialokasikan ke objek biaya dengan
dasar aktivitas biaya tersebut dikonsumsikan. Sistem ABC ini menelusuri biaya ke produk
sebagai dasar aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut.
2. Douglas T. Hicks
Dalam bukunya Activity-Based Costing for Small and Mid-sized Busines An Implementation
Guide (1992) memberikan defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai merupakan
sebagai suatu konsep akuntansi biaya yang berdasarkan atas pemikiran bahwa produk

mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas yang menimbulkan biaya. Dalam sistem biaya ABC ini
dirancang sedemikian rupa sehingga setiap biaya yang tidak dapat dialokasikan secara langsung
kepada produk, dibebankan kepada produk berdasarkan aktivitas dan biaya dari setiap aktivitas
kemudian dibebankan kepada produk berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas tersebut.
3. L. Gayle Rayburn
Dalam bukunya Cost Accounting-Using Cost Management Approach (1993) memberikan
definisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang mengakui bahwa
pelaksanaan aktivitas menimbulkan konsumsi sumber daya yang dicatat sebagai biaya, atau
dengan kata lain bahwa ABC tersebut adalah merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang
berbasis pada transaksi. Sistem biaya ABC itu sendiri adalah mengalokasikan biaya ke transaksi
dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan kemudian mengalokasikan biaya
tersebut secara tepat ke produk sesuai dengan pemakaian aktivitas setiap produk.
4. Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton
Dalam bukunya Introduction to Management Accounting (1996) memberikan defenisi mengenai
Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang merupakan pendekatan kalkulasi biaya
yang memfokuskan pada aktivitas sebagai objek biaya yang fundamental istem ABC ini
menggunakan biaya dari aktivitas tersebut sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya keobjek
biaya yang lain seperti produk, jasa, atau pelanggan. Activity Based Costing System timbul
sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan
konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk. Kebutuhan akan
informasi biaya yang akurat tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Persaingan global (Global Competition) yang dihadapi perusahaan manufaktur memaksa
manajemen untuk mencari berbagai alternatif pembuatan produk yang cost effective.
2. Penggunaan teknologi maju dalam pembuatan produk menyebabkan proporsi biaya overhead
pabrik dalam product cost menjadi dominan.
3. Untuk dapat memenangkan persaingan dalam kompetisi global, perusahaan manufaktur harus
menerapkan marketdriven strategy.
4. Marketdriven strategy menuntut manajemen untuk inovatif.

5. Pemanfaatan teknologi komputer dalam pengolahan data akuntansi memungkinkan


dilakukannya pengolahan berbagai informasi biaya yang sangat bermanfaat dengan cukup
akurat.
5. Garrison, Ray H Eric Noreen, and Peter C.
Dalam bukunya Managerial Accounting (2006) Activity Based Costing Sistem adalah
suatu sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan
produk/jasa. Activity Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan
sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah
setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni, bertindak
sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas ini
menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusuri ke aktivitas dan kemudian
ke produk. Sistem ABC mengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah, yang mengkonsumsi
sumber daya dan bukannya produk. Dalam Activity Based Costing mencakup (Garrison, 2006) :
1. Biaya produksi dan non produksi dibebankan ke produk
2. Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan ke dalam biaya produk
3. Ada sejumlah pul biaya overhead, setiap pul dialokasikan ke produk dan obyek perhitungan
biaya (costing) lainnya dengan menggunakan ukuran aktivitas masing-masing yang khusus.
4. Basis alokasi biasanya berbeda dengan basis alokasi dalam sistem akuntansi biaya tradisional
5. Tarif overhead atau tarif aktivitas disesuikan dengan kapasitas aktivitas dan bukannya dengan
kapasitas yang dianggarkan.
Turney mengemukakan bahwa ABC sistem dapat didefinisikan sebagai metodologi yang
mengukur biaya dan kinerja aktivitas-aktivitas sumber daya dan obyek biaya. Sumber daya
dibebankan ke aktivitas kemudian aktivitas dibebankan ke obyek biaya sesuai dengan
penggunaannya.
Definisi tersebut mencakup suatu jarak informasi kinerja dan informasi biaya yang lebih luas,
tidak hanya terfokus pada produk yang menjadi beban biaya saja. ABC sistem dapat juga
dijadikan alat manajemen dalam mengeluarkan pembangunan berkelanjutan.
Model ABC yang berbasis pada definisi tersebut diatas mempunyai 2 sudut pandang yaitu:

1. Cost Assignment View (sudut pandang pembebanan biaya)


Dalam sudut pandang ini ABC sistem mencerminkan kebutuhan organisasi untuk
membebankan biaya ke objek biaya (baik jasa, produk maupun konsumen) dan aktivitas dan
untuk menganalisis keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen (misalnya dalam hal
bauran produk, perencanaan produk, penetapan harga, perancangan produk dan lainnya).
Cost assignment view ini dibentuk dari beberapa bagian pembangun, tiga yang utama
adalah:
a. Sumber daya, elemen-elemen ekonomi yang diarahkan ke kinerja aktivitas dan
merupakan sumber biaya. Sumber daya dalam industri manufaktur meliputi bahan baku
langsung, tenaga kerja langsung, pendukung produksi, biaya tidak langsung dalam
produksi dan biaya-biaya diluar produksi. Sumber daya mengalir ke aktivitas yang
merupakan proses atau prosedur yang menyebabkan kerja dalam sumber biaya.
b. Aktivitas, yang saling berhubungan berada di dalam activity center. Activity center
merupakan kumpulan aktivitas yang biasanya terkumpul menurut fungsi atau prosesnya.
Bermacam-macam faktor yang digunakan untuk membebankan biaya ke aktivitas salah
satunya resource driver. Faktor-faktor ini dipilih untuk memperkirakan konsumsi
sumberdaya oleh aktivitas dalam organisasi. Setiap sumber daya yang dilacak ke
aktivitas menjadi suatu elemen biaya dalam suatu activity cost pool dilacak ke obyek
biaya melalui activity drivers.
c. Obyek biaya, titik akhir pelacakan biaya. Suatu obyek biaya adalah mengapa suatu kerja
dilakukkan dalam perusahaan, dan dapat berbentuk produk ataupun customer.
2. Process view
Sudut pandang ini ABC menyediakn informasi mengenai kerja atau proses yang telah
dilakukan dalam suatu aktivitas dan hubungan antara kerja tersebut dengan aktivitas yang
lain.

Biaya jasa berdasarkan ABC dapat memberikan dasar yang layak dalam pengambilan
keputusan, diantaranya keputusan untuk membeli atau membuat keputusan penetapan harga
jasanya.

Cost Driver
Cost driver atau dapat disebut pemicu biaya adalah faktor-faktor yang menentukan besar kerja
dan usaha yang diperlukan untuk melakukan suatu aktivitas. Pemicu biaya menjelaskan mengapa
suatu aktivitas dikerjakan secara spesifik, aktivitas dilaksanaan sebagai reaksi atas kejadian yang
sudah terjadi. Cost driver juga menjelaskan seberapa besar usaha yang mesti dikeluarkan untuk
melaksanakan kerja tersebut. Pemicu biaya sangat bermanfaat karena pemicu biaya mengungkap
akan kesempatan untuk perbaikan jika terjadi kesalahan dalam suatu aktivitas. Sistem akuntansi
yang berbasis aktivitas merupakan sistem informasi yang menyimpan dan memproses data
berdasarkan aktivitas yang dilakukan persahaan. ABC mengidentifikasi aktivitas yang dilakukan,
menelusuri biaya aktivitas dan kemudian mengunakan berbagai cost driver untuk menelusuri
biaya dari aktivitas ke produk yang di produksi. Cost driver merefleksikan konsumsi aktivitas
oleh suatu produk.
ABC menggunakan jenis cost driver yang lebih banyak dibandingkan dengan sistem akuntansi
biaya tradisional. ABC menggunakan cost driver non unit sebagai tambahan cost driver unit,
termasuk activity level batch dan tahapan yang paling sulit bagi perusahaan yang akan
mengimplementasikan ABC. Biaya-biaya yang berperan dalam produksi begitu banyak dan
seringkali tidak sejelas hubungannya dengan produk. Selain itu dalam pemilihan jenis dan
jumlah cost driver, harus dipertimbangkan manfaat yang diperoleh (berupa keakuratan data dan
informasi biaya) dengan biaya penggunaan ABC. Untuk menentukan jumlah cost drive perlu
diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Biaya pengukuran, dengan kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan oleh cost driver.
2. Tingkat korelasi, aktualisasi konsumsi aktivitas yang berhubungan dngan konsumsi yang
ditimbulkan oleh cost driver.

Konsep Dasar ABC Sistem


Anggapan yang mendasari konsep ABC adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan menimbulkan biaya
ABC berangkat dengan anggapan bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak
langsung menyediakan kemampuan untuk melaksanakan kegiatan, bukan sekedar
menyebabkan timbulnya biaya yang harus dialokasikan.
2. Produk menyebabkan timbulnya permintaan dan kegiatan.
Untuk membuat produk diperlukakn berbagai kegiatan, dan setiap kegiatan memerlukan
sumber daya untuk pelaksanaan kegiatan tersebut.
Dengan konsep dasar ABC tersebut, biaya merupakan konsumsi sumber daya (seperti bahan
baku, sumber daya manusia, tekhnologi, modal) dihubungkan dengan kegiatan yang
mengkonsumsi sumber daya tersebut. Dengan demikian hanya dengan mengelola dengan baik
kegiatan untuk menghasilkan produk dan jasa, manjemen akan mampu membawa perusahan
unggul dalam persingan jangka panjang. Untuk mampu mengelola kegiatan perusahaan,
manajemen memerlukan informasi biaya yang mencerminkan konsumsi sumber daya dalam
berbagai kegiatan perusahaan.
Pada awal penggembangannya ABC digunakan dalam perusahaan-perusahaan manufaktur yang
memproduksi berbagai macam produk dengan biaya overhead tinggi. Dalam merancang ABC,
kegiatan untuk memproduksi dan menjual produk dalam perusahaan yang menghasilkan
berbagai macam produk dapat digolongkan ke dalam 4 macam kelompok besar yaitu:
1. Facility Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan kapasitas yang dimiliki
perusahaan. Biaya depresiasi dan amortisasi, biaya asuransi, biaya gaji karyawan kunci

perusahaan adalah contoh jenis biaya yang termasuk dalam facility sustainining activity cost.
Biaya dibebankan kepada produk atas dasar taksiran unit produk yang dihasilkan kapasitas
activity cost.
2. Product Sustaining Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentu dan biayabiaya untuk mempertahankan produk untuk tetap dapat dipasarkan. Biaya ini tidak
terpengaruh oleh jumlah unit yang diproduksi dan jumlah batch produksi yang dilaksanakan
oleh divisi penjual. Contoh biaya ini adalah biaya desain produk, desain proses pengolahan
produk, pengujian produk, biaya ini dibebankan kepada produk atas dasar taksiran jumlah
unit produk tertentu yang akan dihasilkan selama umur produk tertentu (product life cycle).
3. Batch Activity Cost
Biaya ini berhubungan dengan jumlah batch produk yang diproduksikan. Setiap cost yang
merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menyiapkan mesin dan peralatan sebelum suatu
order prosuksi diproses adalah contoh biaya yang termasuk dalam golongan biaya ini, besar
kecilnya biaya ini tergantung dari frekuensi order produksi yang diolah oleh fungsi produksi.
Biaya ini tidak dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi dalam setiap order
produksi. Pembeli dibebani batch activity cost berdasarkan jumlah batch actiity cost yang
dikeluarkan oleh perusahaan dalam setiap menerima order dari pembeli.
4. Unit Level Activity Cost
Biaya ini dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah unit produk yang dihasilkan. Biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja, biaya energi, biaya angkutan adalah contoh biaya yang termasuk
dalam golongan ini, biaya ini dibebankan kepada produk berdasarkan jumlah unit produk
dikalikan dengan jumlah produk yang sesunguhnya diperoleh.

Syarat Penerapan Activity Based Costing (ABC)

Tahap awal implementasi Activity Based Costing (ABC) harus dilakukan beberapa aktivitas
sebagai berikut:
1. Aktivitas tingkat unit dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas tingkat unit bersifat
proposional dengan jumlah unit yang diproduksi.
2. Aktivitas tingkat batch dilakukan setap batch diperoses tanpa memperhatikan tingkat unit yang
ada dalam batch tersebut.
3. Aktivitas tingkat produk, yaitu berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan
tanpa memperhatikan berapa batch atau berapa unit yang diproduksi atau jual.
4. Aktivitas yang berkaitan dengan fasilitas tanpa membedakan pelayanan terhadap para
pelanggan, barang apa yang diproduksi, berapa batch yang dijalankan atau berapa unit yang
dibuat.

Manfaat dan Keterbatasan Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Activity Based Costing
(ABC)
Menurut Hilton (2009), manfaat utama sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas
(ABC System), adalah:
1. Pengukuran profitabilitas yang lebih baik. ABC menyajikan biaya produk yang lebih
akurat dan informatif, mengarahkan pada pengukuran profitabilitas produk yang lebih
akurat dan keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik tentang penetapan
harga jual, lini produk, dan segmen pasar.
2. Keputusan dan kendali yang lebih baik. ABC menyajikan pengukuran yang lebih akurat
tentang biaya yang timbul karena dipicu oleh aktivitas, membantu manajemen untuk
meningkatkan nilai produk dan nilai proses dengan membuat keputusan yang lebih baik
tentang desain produk, mengendalikan biaya secara lebih baik, dan membantu
perkembangan proyek-proyek yang meningkatkan nilai.
3. Informasi yang lebih baik untuk mengendalikan biaya kapasitas. ABC membantu
mengiodentifikasi dan mengendalikan biaya kapasitas yang tidak terpakai.
Selanjutnya Hilton (2009) menjelaskan keterbatasan dari sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas (ABC System), antara lain:

1. Alokasi. Tidak semua biaya memiliki penggerak biaya konsumsi sumberdaya atau
aktivitas yang tepat. Beberapa biaya mungkin membutuhkan alokasi ke departemen atau
produk berdasarkan ukuran volume, sebab tsecara praktis tidak dapat ditemukan aktivitas
yang dapat menyebabkan biaya tersebut. Contoh, biaya pendukung fasilitas seperti biaya
sistem informasi, gaji manajer pabrik, asuransi pabrik, dan pajak bumi dan bangunan
untuk pabrik.
2. Mengabaikan biaya. Biaya produk atau jasa yang diidentifikasi sistem ABC cenderung
tidak mencakup seluruh biaya yang berhubungan dengan produk atau jasa tertsebut.
Biaya produk atau jasa biasanya termasuk biaya untuk aktivitas pemasaran, pengiklanan,
penelitian dan pengembangan, dan rekayasa produk, meski sebagian dari biaya-biaya ini
dapat ditelusuri ke suatu produk atau jasa. Biaya produk tidak termasuk biaya-biaya ini
karena prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk pelaporan keuangan mengharuskan
biaya-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periodik.
3. Mahal dan menghabiskan waktu. Sistem ABC tidak murah dan membutuhkan banyak
waktu untuk dikembangkan dan dilaksanakan. Untuk perusahaan dan organisasi yang
telah menggunakan sistem perhitungan biaya tradisional berdasarkan volume,
pelaksanaan suatu sistem baru ABC cenderung sangat mahal. Biasanya, diperlukan waktu
setahun atau lebih untuk mengembangkan dan melaksanakan ABC dengan sukses.

Proses Pembebanan Biaya Pada ABC Sistem


Ada dua tahap prosedur pembebanan biaya pada ABC sistem, yaitu:
1. Prosedur tahap pertama
Pada tahap pertama ABC, aktivitas diidentifikasi, biaya dihubungkan dengan masingmasing aktivitas. Aktivitas dan biayanya dibagi menjadi kelompok-kelompok yang
homogen. Suatu perusahaab dapat memiliki banyak aktivitas yang berbeda-beda. Setelah
aktifitas diidentifikasim, baiya untuk menjalankan aktifitas juga ditentukan, dengan
demikian perusahaan haru menentukan activity driver yangsesuai unutk tipe-tipe aktivtas
dan menghitung tiap activity overhead rules. Untuk mengurangi jumlah rate overhead dan

unutk menyederhankan prosesnya, maka aktivitas dikelompokkan ersama-sama dalam


satu set yang homogen berdasar karakteristik yang sejenis, yaitu aktivitas tersebut saling
berhubungan secara logis dan mempunyai rasio konsumsi untuk semua produk.
Kemudian langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah menjumlahkan biaya dengan
semua set yang homogen itu, hal ini disebut dengan homogeneus cost pool mempunyai
rasio konsumsi yang sama, variasi biaya untuk pool ini dapat dijelaskan dengan activit
driver dihitung dengan menghasilkan tarif kelompok/pool rate. Pada akhir pembebanan
biaya pada tahap pertama ABC menghasilkan:
a. Identifikasi aktifitas
b. Pembebanan biaya pada aktifitas
c. Pengelompokkan aktivitas terkait ke dalam suatu homogeneous cost pool
d. penjumlahan biaya pada suatu ativitas untuk mengidentifikasi homogeneous cost
pool
e. penghitungan pool/overhead rates.
2. Prosedur Tahap kedua
Pada tahap kedua, biaya setiap kelompok dilacak ke produk. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan tarif kelompok yang sudah dihitng pada tahap pertama dan mengukur
jumlah sumber daya yang dikonsumsi oleh setiap produk. Jumlah sumber daya
dikonsumsi setiap produk dinyatakan oleh jumlah activity center yang digunakan setiap
produk, oleh karena itu, biaya overhead yang dibebankan dari setiap kelompok biaya ke
pada setiap produk dihitung dengan cara mengalikan tarif kelompok dengan penggunaan
aktivitas.
Secara lebih rinci, langkah-langkah yang harus diambil dalam merancang sistem penentuan arga
pokok berdasar aktivitas adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan semua biaya yang dibebankan pada setiap departemen.


2. Memisahkan biaya-biaya ke dalam product driver cost dan customer driver cost.
3. Memisahkan departemen pendukung ke dalam fungsi utama, fungsi utama tersebut harus
mempunyai biaya yang signifikan dan dipengaruhi aktivitas yang berbeda.
4. memindahkan biaya-biaya ke departemn ke dalam kelompok biaya fungsional (funsional
cost pool).
5. mengidentifikasi pusat aktivitas
6. mengidentifikasi driver tahap pertama (proses yang homogen).
7. mengidentifikasi driver tahap kedua berdasarkan data yang tersedia, korelasi sumber daya
dan pengaruh prilaku.
8. mengidentifikasi tingkat aktifitas.
9. memilih jumlah cost driver.

Activity-Based Costing Untuk Pemerintah Daerah


Activity-Based costing banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa.
Dalam penelitian ini akan dikembagkan penerapan ABC untuk organisasi sektor publik yang
dalam hal ini diambil organisasi pemerintahan.
Pemerintah sebagai organisasi yang tidak berorientasi mengejar laba sebenarnya dapat
menerpakna ABC. Penerpan ABC pada sektor publik berbeda dibandingkan penerapan ABC
sektor privat, hal ini disebabkan karakteristik kegiatan pemerintah sedikit berbeda dibandingkan

organisasi swasta pada umumnya. Karakteristik aktivitas pemerintah daerah sebenarnya hampir
mirip dengan perusahaan yang begerak di bidang jasa yang kadangkala menimbulkan kesulitan,
misalnya karakteristik output yang sulit didefinisi an tidak terwujud. Selain itu, biaya kapasitas
gabungan mewakili sebagain besar proporsi dari total biaya dan sukar untuk dikaitkan dengan
aktivitas yang menghasilkan output.
Menurut Mark D. Abrahams dalam tulisannya yang berjudul Activity Based Costing:
Illustrations from the State of Iowa menyatakan bahwa Activity Based Costing dalam lingkungan
pemerintahan telah dilakukan di negara bagian Iowa.
Konsep ABC serta langkah-langkahnya dianggap dapat diterapkan dalam lingkungan
pemerintahan. Activity based costing telah membuktikan bahwa sistem ini merupakan alat
manajemen yang handal pada kinerja sistem manajemen negara bagian Iowa dengan
menyediakan informasi biaya yang penting. Manajer negara bagian Iowa menganjurkan
mengunakan pendekatan ini untuk penentuan peleayanan pemerintah dengan menjalankan
metode keep it simple untuk mencapai pembiayaan yang spesifik denagn pencapaian yang
minimum dan kerumitan yang tidak terlalu banyak dalam metode penentuan biaya. Metode ini
memungkinkan program secara tersendiri untuk dikerjakan dengan biaya tersendiri untuk
menghubungkana antara biaya dan data program untuk tercapainya efisiensi dan efektifitas
dalam penyampaian pelayanan masyarakat.
Ada 4 langkah dasar untuk mengimplementsikan sistem ABC. Pertama, sumber daya dan biaya
harus terorganisasi dalam bentuk biaya unit kerja. Kedua, biaya perlud dikategorikan kedalam
kategori berpengaruh secara langsung atau tidak langsung kah biaya tersebut terhadap aktivitas.
Untuk biaya yang tidak dapat secara langsung dihubungkan dengan aktivitas, sebuah metode
indirect cost perlu untuk dipilih, apakah dengan mengunakan KIS (Keep it simple) ataukah
dengan metode full cost. Ketiga, direct cost dan indirect cost perlu untuk ditujukan atau
dialokasikan kepada aktivitas yang spesifik. Dan terakhir, unit cost dihitung dengan memisahkan
biaya aktivitas dengan activity output.

Literatur review: Dari tahun 1970-an Aktivitas Berbasis (ABC) terutama dikembangkan untuk
melayani perusahaan industri, tetapi dari tahun-tahun awal yang pembangunan, peneliti telah
menyelidiki kemungkinan penggunaan dalam sektor jasa juga.
Kaplan (1994) melaporkan bahwa pada awal tahun 1980 ABC sudah digunakan di sektor
jasa dengan logistic perusahaan, oleh bank dan rumah sakit dan sudah memiliki dikembangkan
costing model mirip dengan ABC.
King (1995) telah membuat empat upaya penelitian dalam rumah sakit di Inggris, di
mana disimpulkan juga bahwa British Sistem Kesehatan Nasional (NHS) bisa mendapatkan
keuntungan dari pelaksanaan ABC, karena merupakan metode yang dapat dengan mudah
beradaptasi pada kebutuhan spesifik dan kekhasan lembaga masing-masing.
Selain itu, Brimson dan Antos (1994) menyebutkan contoh Sektor Publik Amerika di
mana Kegiatan- Based Costing berhasil ketika digunakan. Para penulis kutipan bahwa ActivityBased Costing telah dilaksanakan di perusahaan-perusahaan telekomunikasi, perusahaan paket
pos, rumah sakit, listrik dan gas, membantu mereka pengendalian biaya dan manajemen
membiarkan berkonsentrasi pada pelanggan mereka.
Evans dan Bellamy (1995) berpendapat perlunya mengembangkan metode baru untuk
biaya layanan Sektor Publik untuk manajemen yang lebih baik, bahkan meskipun metode
tradisional masih digunakan. Di Yunani, Kostopoulos et al. (2003), menerapkan metode baru
dalam Buka Pusat psikiatrik Yunani Athena. Tujuan mereka adalah untuk memperoleh informasi
relatif terhadap biaya pelayanan terapeutik organisasi dan biaya pelayanan psikoterapi bagi
pasien. Hasil menyediakan informasi dari yang minimum biaya dari masing-masing sesi
psikoterapi dan jumlah minimum pasien untuk diri kecukupan ekonomi Jiwa-unit ini yang tidak
menguntungkan.
Selain itu, Kota Argyroupolis (Kota Argyroupolis, 2005) di Yunani Athena, melalui situs
internet, mengklaim bahwa mereka menerapkan metode Activity-Based Costing sejak tahun
2005, dalam rangka untuk lebih memantau dan mengendalikan berbagai unsur biaya yang
menyerap perusahaan pada kegiatan yang setiap.
Di Universitas Makedonia Thessaloniki Yunani, Vazakidis dan Karagiannis (2006)
sekarang menyelesaikan studi dan artikel yang dipublikasikan dalam jurnal dan kongres. Pada
tahun 2006, mereka telah disajikan untuk pertama kalinya model akuntansi biaya untuk Jurusan
Teknik Informatika Terapan Universitas Makedonia di Tesalonika, lebih untuk internal informasi

dan kemudian untuk promosi baru ini metode di lingkungan Yunani (Vazakidis dan Karagiannis,
2006). Akhirnya pada tahun 2008, mereka menerapkan yang baru model Activity-Based Costing
dan Activity-Based Manajemen dalam sebuah organisasi wisata (Vazakidis dan Karagiannis,
2009), sehingga dapat menunjukkan kegunaan metode sebagai alat dan sumber informasi bagi
administrasi.

REFERENSI
1. https://www.scribd.com/doc/53931267/ABC-in-Sektor-Publik-Bab-4
2. Garrison, Ray H Eric Noreen, and Peter C. Brewer. 2007. Managerial Accounting. McGrawHill Companies.
3. Hilton, Ronald W. 2009 Managerial Accounting: Creating Value in a Dynamic Business
Environment , Eighth Edition, New York : McGraw-Hill International Edition.
4. Ermayanti, Dwie. 2011. Penerapan Akuntansi Biaya pada Anggaran Belanja Daerah.
5. https://dwiermayanti.wordpress.com/2011/09/27/penerapan-akuntansi-biaya-pada-anggaranbelanja-daerah/. [9 Maret 2015]
6. Blocher, Edward J., Chen, Kung H., and Lin, Thomas W. 2001. Manajemen Biaya: Dengan

Tekanan Strategik. Terjemahan A. Susty Ambarriani. Jakarta: Penerbit Salemba Empat.