Anda di halaman 1dari 58

GERIATRI

Oleh
Nur Hidayu

Epidemiologi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik,
jumlah lanjut usia tahun 2008 mencapai
19,5 juta. Sementara pada 2005, kelompok
lanjut usia hanya 16,8 juta
Pada tahun 2010 perkiraan penduduk lansia
di Indonesia mencapai 23,9 juta atau 9,77 %
dan UHH sekitar 67,4 tahun

Klasifikasi lansia

Karakteristik lansia

Perubahan lansia

Fisik (jasmani)
Psikis (jiwa)
Sosial dan lingkungan
Iatrogenik (salah obat/rawat)

Instabilitas

Definisi

Definisi

FAKTOR RISIKO
Faktor Intrinsik

Obat-obatan yg
diminum

Kondisi fisik dan


neuropsikiatrik
Penurunan visus &
pendengaran

Perubahan neuromuskuler,
Gaya berjalan, dan refleks
postural krn proses menua

Faktor Ekstrinsik

FALLS
(jatuh)

Alat-alat bantu
berjalan

Lingkungan yg tdk
mendukung
(berbahaya)

PENYEBAB JATUH PADA LANSIA

Kecelakaan
Nyeri kepala mendadak dan atau vertigo
Hipotensi orthostatik : hipovolumia,disfungsi otonom,preload
menurun , obat , lama berbaring, post prandial
Obat-obatan : a.hipertensi, a.depresan, a. psikotik, OAD, allkohol
Proses penyakit yang spesifik : Kardiovask : aritmia, AMI, stenosis a
Neurologi : TIA, stroke, kejang dll
Idiopatik
Sinkope : Drop attack, penurunan darah ke otak mendadak, terbakar
matahari.

Penatalaksanaan:
Identifikasi faktor risiko
latihan fleksibilitas gerakan, latihan keseimbangan
fisik dan koordinasi keseimbangan
Memperbaiki kondisi lingkungan
Menggunakan alat bantu

Pem. Penunjang :
the timed up and go test (TUG),
uji menggapai fungsional (functional reach test),
uji keseimangan Berg

Komplikasi
Fraktur
Isolasi dan depresi
Imobilisasi

Inkontinensia urin

Definisi
Keluarnya urin yang tidak
terkendali sehingga menimbulkan
masalah higiene dan sosial

Klasifikasi

BASICS
MECHANISMS
Three basic mechanisms serves as
final common pathways in nearly
all causes of incontinence :
Urge incontinence
Hyperactive / irritable bladdder
Stress incontinence
Urethral incompetence
Overflow bladder

INKONTINENSIA URGENSI

17

INKONTINENSIA STRESS

18

OVERACTIVE BLADDER
Tidak terkendalinya pengeluaran urin
dikaitkan dengan distensi kandung kemih yang
berlebihan. Hal ini disebabkan oleh obstruksi
anatomis, seperti pembesaran prostat, faktor
neurogenik pada diabetes melitus atau sclerosis
multiple, yang menyebabkan berkurang atau tidak
berkontraksinya kandung kemih, dan faktor-faktor
obat-obatan. Pasien umumnya mengeluh keluarnya
sedikit urin tanpa adanya sensasi bahwa kandung
kemih sudah
penuh.
19

Causes of Reversible Urinary


Incontinence
D

Delirium

Infection

Restricted mobility, retention

Atrophic vaginitis

Infection, inflammation, impaction

Pharmaceutical

Polyuria, pharmacutical

Physiological disorders

Endocrine disorders

Restricted mobility

Stool impaction

D
I

Delirium

Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan umum, abdomen (palpasi buli-buli), dan
pemeriksaan neurologi
Melakukan pemeriksaan panggul dan dubur pada wanita dan
pemeriksaan dubur pada laki-laki
Mengobservasi keluarnya urine padastress (misalnya batuk, valsava, dll)
Melakukan pemeriksaan residu urine apabila diduga ada obstruksi
bagian bawah (kesulitan berkemih,BPH, operasi daerah panggul
sebelumnya)
21

Diagnosis
Pemeriksaan Laboratorium
Urinalysis
- untuk melihat adanya hematuria, pyuria,
bacteria, glucosuria, proteinuria
Pemeriksaan darah bila diperlukan

22

Penatalaksanaan
Nonfarmakologi
Melatih menahan kemih
Membiasakan berkemih pada waktu-waktu
yang telah ditentukan sesuai dengan kebiasaan
lansia.
Promted voiding
latihan otot dasar panggul

Farmakologi
inkontinensia stress
alfa adrenergik
agonis (pseudoefedrin)
sfingter relax diberikan kolinergik agonis
seperti Bethanechol atau alfakolinergik
antagonis

Terapi pembedahan
Modalitas lain

Pampers
Kateter
Alat bantu toilet
Bedpan
dll

Inkontinensia Alvi

Klinis
ketidakmampuan seseorang dalam menahan
dan mengeluarkan tinja pada waktu dan
tempat yang tepat

Penyebab

IA akibat konstipasi
IA simtomatik, berkaitan dg penyakit usus besar
IA neurogenik
IA karena hilangnya refleks anal

Pemeriksaan fisik
Umum : tinggi badan, berat badan, gangguan
neuromuscular dan trauma medulla spinalis,adanya
demansia atau gangguan saraf lainya (stroke, penyakit
Parkinson)
Lokal : meliputi pemeriksaan inspeksi dan
pemeriksaan rectum, pada inspeksi di lihat bagaimana
kontraksi anus saat dikerutkan, reflek kulit anus, dan
sensasi dermatomlumbosaktral, pemeriksaan rectum
dapat mengetahui adanya kelemahan pada sfingter,
tonus anus

Pemeriksaan penunjang

Anal Manometry,
Anorectal Ultrasonography,
Proctography,.
Progtosigmoidoscopy,

Infeksi saluran kemih

Penyebab

Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius


Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan
adanya infasi mikroorganisme pada saluran
kemih.
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi
akibat berkembang biaknya mikroorganisme di
dalam saluran kemih, yang dalam keadaan
normal air kemih tidak mengandung bakteri,
virus atau mikroorganisme lain.

Jenis

Kandung kemih (sistitis)


uretra (uretritis)
prostat (prostatitis)
ginjal (pielonefritis)

Bakteri infeksi saluran kemih dapat disebabkan


oleh bakteri-bakteri di bawah ini :
1. Escherichia coli
2. Klebsiella
3. Enterobacter aerogenes
4. Proteus
5. Providencia
6. Citrobacter
7. Pseudomonas aeruginosa
8. Acinetobacter
9. Enterokokus faecalis

Gejala klinis ISK sesuai dengan bagian saluran kemih


yang terinfeksisebagaiberikut:

Pemeriksaan Penunjang
1. Urinalisis
2. Bakteriologis
Mikroskopis
Biakan bakteri
3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya
organisme spesifik
4. Hitung koloni
5. Pemeriksaan darah
6. Pencitraan: USG, CT-SCAN

Penatalaksanaan

Impotensi

Definisi
Impotensi atau Disfungsi ereksi (DE)
adalah ketidakmampuan secara konsisten
untuk mencapai dan/ atau mempertahankan
ereksi sedemikian rupa sehingga mencapai
aktivitas seksual yang memuaskan

Etiologi

Terapi

Phosphodiesterase-5 (PDE5) inhibitors


sildenafil sitrat.
Agonis dopamin
Hormon replacement therapy

Laporan kasus

Identitas

Nama pasien : Tn. S


Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur
: 85 tahun
Alamat
: Jl. Anggrek XII Indrapuri
Tapung

Keluhan Utama

Nyeri perut bagian bawah sejak


7 hari SMRS

RPS
2 tahun yang lalu pasien sering kehilangan kontrol untuk
menyeimbangkan posisi tubuh sehingga membuat pasien mudah
terjatuh. Pasien sering terjatuh kira-kira 10 kali dalam sebulan. 2
minggu yang lalu pasien tiba-tiba tidak bisa menyeimbangkan
badan ketika berjalan sehingga terjatuh saat berjalan disamping
rumah. Pasien terjatuh dengan posisi terduduk sehingga membuat
panggul pasien terhentak dan sakit. Namun pasien masih bisa
berjalan dan beraktivitas seperti biasa setelah itu.

2 minggu SMRS pasien mengeluhkan BAB cair >5 kali dalam sehari.
Pasien mengatakan BAB cair bewarna coklat kehitaman, pasien
mengeluhkan sulit untuk menahan BAB. keluar lendir dan darah
disangkal. Selain itu pasien mengeluhkan mual namun tidak muntah
dan nyeri ulu hati. Nafsu makan pasien menurun, pasien hanya mau
makan sekitar satu sampai dua sendok makan saja. Pasien dibawa
kebidan dekat rumah oleh keluarga, pasien dipasang infus dan
dirawat selama 2 hari, namun karena tidak ada keluhan berkurang
akhirnya pasien dibawa ke RS Awal Bros Pekanbaru. Disana pasien
dirawat selama 6 hari dan keluhan pasien berkurang. Saat pulang
pasien diberi obat makan berupa pil kecil warna putih.

7 hari SMRS pasien mengeluhkan nyeri saat BAK, pasien


juga mengeluhkan nyeri pada perut bagian bawah, rasa
tidak puas saat BAK. Pasien juga mengeluhkan BAK sulit
ditahan dan sering BAK. Riwayat air seni berdarah dan
keluar seperti pasir disangkal. Warna air seni bening
kekuningan. Keluarga pasien mencoba membawa pasien
ketempat refleksi, disana pasien dipijat telapak kaki dan
pinggangnya, namun keluhan pasien tetap tidak
berkurang.

4 hari SMRS pasien mengeluhkan kembali


BAB cair sebanyak 3 kali perhari berwarna
kuning kecoklatan. Riwayat keluar seperti
air cucian beras, darah dan lendir disangkal.
Pasien juga mengeluhkan mual namun tidak
muntah dan keluhan nyeri pada perut bagian
bawah semakin kuat disertai dengan
gangguan BAK.

Pasien mengaku sudah tidak pernah lagi berhubungan


dengan istrinya sejak sekitar 7 tahun yang lalu karena
tidak bisa mempertahankan ereksi sehingga tidak
mencapai aktivitas seksual yang memuaskan. Selain itu
sejak 5 tahun yang lalu istri pasien sedang sakit akibat
penyakit DM, gagal ginjal dan ada pembengkakan
jantung. Selain itu pasien juga mengaku mengkonsumsi
Pil Tupai Jantan berupa kemasan obat berwarna pink
dengan tiga butir pil sekali konsumsi ini dipasarkan
dengan harga Rp. 1.500. Jika pasien mengkonsumsi obat
ini, pasien merasa bersemangat dan tidak cepat lelah.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :


Riwayat DM disangkal
Riwayat HT (+)
Riwayat Maag (+)
Riwayat penyakit jantung (-)
RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA :
Riwayat DM (+) pada istri pasien
Riwayat HT (+) pada ibu pasien
Riwayat Maag (-)
Riwayat penyakit jantung (+) pada istri pasien

RIWAYAT PEKERJAAN, SOSIAL EKONOMI, KEJIWAAN &


KEBIASAAN:
Pekerjaan : pasien tidak bekerja
Kebiasaan : pasien mempunyai kebiasaan makan-makanan yang bercabe/
pedas,
bersantan dan berlemak. Pasien juga jarang berolah raga. sering
mengonsumsi garam berlebih. Sering mengkonsumsi pil tupai jantan yang
dibeli di warung.
Ekonomi : menengah
Kejiwaan : tidak ada gangguan
Riwayat konsumsi obat : pasien sering mengkonsumsi obat atau pil tupai
jantan yang dibeli diwarung untuk menambah stamina tubuh.

Abdomen :
Inspeksi
: Perut datar, tidak ada venektasi
Auskultasi
: Bising usus normal 6 kali permenit
Palpasi : Supel, nyeri tekan epigastrium (+), nyeri lepas (-), hepar dan lien
tidak teraba, nyeri tekan suprapubik (+)
Perkusi : Timpani, nyeri tekan epigastrium (-), nyeri tekan suprapubik (+),
defans muskular (-)
Ekstremitas
:
Atas : Akral hangat, oedema (-/-), ruam kulit (+), turgor normal
Bawah : Akral hangat, CRT < 2 detik, palmar eritem (-), nyeri pada sendi
lutut (-), bengkak pada sendi (-), edema tungkai (-/-)

Pem. penunjang
Darah rutin :
Hb
: 12,2 gr/dl
Leukosit
: 12,900mm3
Ht
: 34,7 %
Trombosit
: 449.000 mm3
Kimia darah
Gula darah sewaktu
: 86 mg/dL
SGOT : 13
SGPT :10
Ureum : 35
Kreatinin
: 0,9

Urinalisa
Warna : kuning
BJ
: 1,015
pH
:5
leukosit: nitrit : protein: glukosa: keton: urobilinogen: bilirubin: eritrosit: sedimen: eritrosit: 0-1 leukosit: 0-1
epitel: 0-1

Daftar masalah

Nyeri saat BAK


Nyeri suprapubik
Peningkatan frekuensi BAK
Rasa tidak puas saat BAK
BAK sulit ditahan
BAB cair
Mual
Nyeri ulu hati
Penurunan nafsu makan
Sering terjatuh
Impotensi
Leukositosis

Instabilitas

Hipotermia

Jatuh

Inkontinensia urin

Fraktur

Kesadaran

Infeksi

Imobilisasi
Depresi
Ulkus
Trombosis vena
Pneumonia
ISK
Atrofi otot
Asupan makanan

Gangguan
tidur

Dehidrasi

Malnutrisi

konstipasi