Anda di halaman 1dari 17

Trauma Buli-buli

Trauma pelvis (buli-buli) adalah trauma yang sering disebabkan oleh rudapaksa dari luar
dan sering didapatkan bersama fraktur pelvis. Fraktur macam ini dapat menyebabkan kontusio
atau ruptur kandung kemih. Pada kontusio buli-buli hanya terjadi memar pada buli-buli dengan
hematuria tanpa ekstravasasi urine.
Trauma kandung kemih terbanyak karena kecelakaan lalu lintas yang disebabkan fragmen
patah tulang pelvis (90%) yang mencederai buli-buli. Trauma tumpul menyebabkan rupture bulibuli terutama bila vesica urinaria penuh atau terdapat kelainan patologik seperti tuberculosis,
tumor, atau obstruksi sehingga trauma kecil sudah menyebabkan rupture.
Ruptur buli-buli dapat juga terjadi secara spontan,hal ini biasanya terjadi jika
sebelumnya terdapat kelainan pada dinding vesica urinaria. Fraktur tulang pelvis terjadi robekan
pars membranasea karena prostat dengan uretra prostatika tertarik ke kranial bersama fragmen
fraktur, sedangkan uretra membranasea terikat diafragma urogenital.
Bila buli-buli yang penuh dengan urine mengalami trauma, maka akan terjadi
peningkatan tekanan intravesikel yang dapat menyebabkan contosio buli-buli / buli-buli pecah.
Keadaan ini dapat menyebabkan ruptura intraperitoneal.
Ruptur kandung kemih intraperitoneal dapat menimbulkan gejala dan tanda rangsang
peritonium termasuk defans muskuler dan sindrom ileus paralitik.

Trauma Uretra
Trauma urethra biasanya terjadi pada pria dan jarang terjadi pada wanita. Sering ada
hubungan dengan fraktur pelvis dan straddle injury. Urethra pria terdapat dua bagian yaitu :
a) Anterior, terdiri dari : urethra pars granularis, pars pendularis, dan pars bulbosa
b) Posterior, terdiri dari : pars membranacea dan pars prostatika
Etiologi
a) Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar.
b) Cedera iatrogenic akibat instrumentasi pada uretra.
c) Trauma tumpul yang menimbulkan fraktur tulang pelvis yang menyebabkan ruptur uretra
pars membranasea.
d) Trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan rupture uretra
pars bulbosa.
e) Pemasangan kateter yang kurang hati-hati dapat menimbulkan robekan urethra karena
false route atau salah jalan.
Klasifikasi
1) Trauma uretra posterior, yang terletak proksimal diafragma urogenital.
2) Trauma uretra anterior, yang terletak distal diafragma urogenital.
Derajat cedera urtera dibagi dalam 3 jenis :
Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). Pada foto
uretrogram tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan urethra hanya tampak
memanjang.

Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, sedangkan diafragma


urogenital masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras yang masih
terbatas di atas diafragma urogenitalis.
Uretra posterior, diafragma genitalis, uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut rusak.
Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras meluas hingga dibawah diafragma
urogenital sampai ke perineum.

Patofisiologi
Cedera dapat menyebabkan memar dinding dengan atau tanpa robekan mukosa baik
parsial atau total. Rupture uretra hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis. Akibat
fraktur tulang pelvis terjadi robekan pars membranasea karena prostat dengan uretra
prostatica tertarik ke cranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra membranosa
terikat di diafragma urogenital. Rupture uretra posterior dapat terjadi total atau inkomplit.
Pada rupture total, uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum puboprostatikum robek
sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke cranial.
Uretra anterior terbungkus di dalam corpus spongiosum penis. Korpus spongiosum
bersama dengan corpora cavernosa penis dibungkus oleh fasia buck dan fasia colles. Jika
terjadi rupture uretra beserta corpus spongiosum, darah dan urine keluar dari uretra tetapi
masih terbatas pada fasia buck dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada
penis. Namun, jika fasia buck ikut robek, ekstravasasi urin dan darah hanya dibatasi oleh
fasia colles, sehingga dapat menjalar hingga skrotum atau ke dinding abdomen. Robekan
ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma.

1. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinik Trauma Pelvis (buli-buli) dan Trauma
Uretra
Trauma Buli-buli
Trauma buli-buli
Umumnya fraktur tulang pelvis disertai perdarahan hebat.
Nyeri suprapubik
Ketegangan otot dinding perut bawah
Hematuria
Ekstravasasi kontras pada sistogram.
Ruptur buli-buli
Ruptur kandung kemih intraperitoneal dapt menimbulkan gejala dan tanda rangsang
peritoneum termasuk defans muskuler dan sindrome ileus paralitik.
Ruptur ekstraperitoneal saluran kemih dapat menimbulkan gejala dan tanda infiltrasi urin
retroperitoneal yang mudah menimbulkan septisemia
Trauma Uretra

Pada rupture uretra posterior, terdapat tanda patah tulang pelvis. Pada daerah suprapubik
dan abdomen bagian bawah dijumpai jejas, hematoma dan nyeri tekan. Bila disertai
rupture kandung kemih bisa ditemukan tanda rangsangan peritoneum.
Pada rupture uretra anterior terdapat daerah memar atau hematom pada penis dan
skrotum. Beberapa tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda klasik cedera
uretra. Bila terjadi trauma dan nyeri perut bagian bawah dan daerah suprapubik. Pada
perabaan ditemukan kandung kemih yang penuh.

2. Mampu Memilih dan Menginterpretasikan Pemeriksaan Penunjang yang Diperlukan


Trauma Buli-Buli
a. Pemeriksaan pencintraan berupa sistografi, yaitu dengan memasukkan kontras ke dalam bulibuli sebanyak 300-400ml secara gravitasi (tanpa tekanan) melalui kateter per-uretrum.
Kemudian dibuat beberapa foto, yaitu (1) foto pada saat bulu-buli terisi kontras dalam posisi
anterior posterioi (AP), (2) pada posisi oblik, dan (3) wash out film yaitu foto setelah kontras
dikeluarkan dari bui-buli.

Jika didapatkan robekan pada buli-buli, terlihat ekstravasasi kontras didalam rongga
perivesikel yang merupakan tanda adanya robekan ekstraperitoneal. Jika terdapat kontras yang
terdapat pada sela-sela usus berarti ada robeka buli-buli intraperitoneal.
b. Di daerah yang jauh dari pusat rujukam dan tidak ada sarana untuk melakukan sistograf dapat
diuji coba pembilasan buli-buli, yaitu dengan memasukkan cairan garam fisiologis steril
kedalam buli-buli sebanyak 300ml kemudian cairan dikeluarkan lagi. Jika cairan tidak keluar
atau keluar tetapi kurang dari volume yang dimasukkan, kemungkinan besar ada robekan
pada buli-buli.
Trauma Uretra

Rupture uretra posterior harus dicurigai bila terdapat darah sedikit di meatus uretra
disertai patah tulang pelvis.
Pada pemeriksaan colok dubur ditemukan prostat seperti mengapung karena tidak
terfiksasi lagi pada diafragma urogenital. Kadang sama sekali tidak teraba lagi karena
pindah ke cranial.
Pemeriksaan radiologi dengan menggunakan uretrogam retrograde dapat memberi
keterangan letak dan tipe uretra.

3. Memahami dan Menjelaskan penatalaksanaan Trauma Pelvis (buli-buli) dan Trauma


Uretra
Trauma Buli-Buli

Pada kontusia buli-buli, cukup dilakukan pemasangan kateter dengan tujuan untuk
memberikan istirahat pada buli-buli. Diharapkan buli-buli sembuh seteah 7-10 hari
Pada cedera intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparotomi untuk mencari robekan
pada buli-buli serta kemungkinan cedera pada organ lain. Jika tidak dioperasi
ekstravasasi urin ke rongga intraperitoneum dapat menyebabkan peritonitis
Pada cedera ekstraperitoneal, robekan yang sederhana dianjurkan untuk memasang
kateter selama 7-10 hari dan dilalukan penjahitan luka dengan pemasangan kateter
sistostomi.

Komplikasi
Pada cedera buli-buli ekstraperitoneal, ekstravasasi urin ke rongaa pelvis yang
dibiarkan dalam waktu lama dapat menyebabkan infeksi dan abses pelvis. Yang lebih berat lagi
adalah robekan buli-buli intraperitoneal. Jika tidak segera dilakukan operas, dapat
menimbulkanperitonitis akibat dari akstravasisi urine pada rongga intra peritoneum. Kedua
keadaan ini dapat menyebabkan sepsis yang dapat mengancam jiwa.
Kadang-kadang dapat pula terjadi penyulit berupa gangguan miksi, yaitu frekuensi dan
urgensi yang biasanya akan sembuh selama 2 bulan.
Trauma Uretra

Jika dapat kencing dengan mudah, lakukan observasi saja.

Jika sulit kencing atau terlihat ekstravasasi pada uretrogram usahakan memasukkan
kateter foley sampai buli-buli. Jika gagal lakukan pembedahan sistosomi untuk
manajemen aliran urin.
Bila rupture uretra posterior tidak disertai cedera organ intraabdomen, cukup dilakukan
sistosomi. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian dengan melakukan anastomosis
ujung ke ujung dan pemasangan kateter silicon selama 3 minggu. Bila disertai cedera
organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan reparasi 2-3 hari kemudian, sebaiknya
dipasang kateter secara langsir.
Pada rupture uretra anterior total, langsung dilakukan pemulihan uretra dengan
anastomosis ujung ke ujung melalui sayatan perineal. Dipasang kateter silicon selama 3
minggu. Bila rupture parsial dilakukan sistostomi dan pemasangan kateter foley di uretra
selama 7-10 hari, sampai terjadi epitelisasi uretra yang cedera. Kateter sistosomi baru
dicabut bila saat kateter sistostomi diklem ternyata penderita bisa buang air kecil.

Komplikasi
a) Trauma Uretra Anterior : perdarahan, infeksi/sepsis dan striktura urethra
b) Trauma Uretra Posterior : striktura uretra, impotensi dan inkontinensia

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urin keluar dari buli-buli melalui proses miksi.
Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Pada
pria, organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra dilengkapi dengan sfingter
uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna
yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot
polos yang dipersarafi oleh sistem simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh, sfingter ini
terbuka. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot lurik dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat
diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. Pada saat miksi sfingter ini tetap terbuka dan tetap
tertutup pada saat menahan miksi. 3
Panjang uretra laki-laki dewasa sekitar 18 cm, dengan perbandingan uretra posterior 3 cm
dan uretra anterior 15 cm, titik baginya berada antara 2 lokasi pada membran perineal. Uretra
dapat dibedakan ke dalam 5 segmen yaitu :
Uretra posterior
Uretra pars prostatika
Uretra pars membranasea
Uretra anterior
Uretra pars bulbosa
Uretra pars pendulosa
Fossa naviculare 7
Uretra pars prostatika berjalan menembusi prostat, mulai dari basis prostat sampai pada
apeks prostat. Panjang kira-kira 3 cm. Mempunyai lumen yang lebih besar daripada di bagian
lainnya. Dalam keadaan kosong dinding anterior bertemu dengan dinding posterior. Dinding
anterior dan dinding lateral membentuk lipatan longitudinal. Pada dinding posterior di linea
mediana terdapat crista urethralis, yang kearah cranialis berhubungan dengan uvula vesicae, dan

ke arah caudal melanjutkan diri pada pars membranasea. Pada crista urethralis terdapat suatu
tonjolan yang dinamakan collicus seminalis (verumontanum), berada pada perbatasan segitiga
bagian medial dan sepertiga bagian caudal uretra pars prostatika. Pada puncak dari colliculus
terdapat sebuah lubang, disebut utriculus prostaticus, yang merupakan bagian dari suatu
diverticulum yang menonjol sedikit ke dalam prostat. Bangunan tersebut tadi adalah sisa dari
pertemuan kedua ujung caudalis ductus paramesonephridicus (pada wanita ductus ini
membentuk uterus dan vagina). Di sisi-sisi utriculus prostaticus terdapat muara dari ductus
ejaculatorius (dilalui oleh semen dan secret dari vesicula seminalis). Saluran yang berada di
sebelah lateral utriculus prostaticus, disebut sinus prostaticus, yang pada dinding posteriornya
bermuara saluran-saluran dari glandula prostat (kira-kira sebanyak 30 buah). 6
Uretra pars membranasea berjalan kearah caudo-ventral, mulai dari apeks prostat menuju
ke bulbus penis dengan menembusi diaphragma pelvis dan diaphragma urogenitale. Merupakan
bagian yang terpendek dan tersempit, serta kurang mampu berdilatasi. Ukuran panjang 1 2 cm,
terletak 2,5 cm di sebelah dorsal tepi caudal symphysis osseum pubis. Dikelilingi oleh
m.sphincter urethrae membranasea pada diaphragma urogenitale. Tepat di caudalis diaphragma
urogenitale, dinding dorsal urethra berjalan sedikit di caudalis diaphragma. Ketika memasuki
bulbus penis urethra membelok ke anterior membentuk sudut lancip. Glandula bulbourethralis
terletak di sebelah cranial membrana perinealis, berdekatan pada kedua sisi uretra. Saluran keluar
dari kelenjar tersebut berjalan menembusi membrana perinealis, bermuara pada pangkal uretra
pars spongiosa. 6
Uretra pars spongiosa berada di dalam corpus spongiosum penis, berjalan di dalam
bulbus penis, corpus penis sampai pada glans penis. Panjang kira-kira 15 cm, terdiri dari bagian
yang fiks dan bagian yang mobil. Bagian yang difiksasi dengan baik dimulai dari permukaan
inferior membrane perinealis, berjalan di dalam bulbus penis. Bulbus penis menonjol kira-kira
1,5 cm di sebelah dorsal uretra. Bagian yang mobil terletak di dalam bagian penis yang mobil.
Dalam keadaan kosong, dinding uretra menutup membentuk celah transversal dan pada glans
penis membentuk celah sagital. Lumen uretra pars spongiosa masing-masing di dalam bulbus
penis, disebut fosssa intrabulbaris, dan pada glans penis, dinamakan fossa navicularis urethrae.
Lacunae urethrales ( = lacuna morgagni) adalah cekungan-cekungan yang terdapat pada dinding
uretra di dalam glans penis yang membuka kearah ostium uretra eksternum, dan merupakan
muara dari saluran keluar dari glandula urethrales. Ostium uretra eksternum terdapat pada ujung
glans penis dan merupakan bagian yang paling sempit. 6
Uretra pars bulbosa bermula di proksimal setinggi aspek inferior dari diafragma
urogenitalia, yang menembus dan berjalan melalui korpus spongiosum. Korpus spongiosum
merupakan jaringan serabut otot polos dan elastin yang kaya akan vaskularisasi. Kapsul fibrosa
yang dikenal sebagai tunika albuginea mengelilingi korpus spongiousum. Korpus spongiosum
dan korpus kavernosum bersama-sama ditutupi oleh dua lapisan berurutan. Lapisan ini antara
lain fascia bucks dan fascia dartos, fascia bucks merupakan lapisan paling tebal terdiri dari dua
lapisan dan masing-masing terdiri atas lamina interna dan eksterna. Dua lamina dari fascia
bucks membagi diri untuk menutupi korpus spongiosum. Fascia dartos merupakan lapisan
jaringan ikat longgar subdermal yang berhubungan dengan fascia colles di perineum. 4

Lumen uretra terletak di tengah bagian posterior korpus spongiosum melalui uretra pars
bulbosa, tetapi terpusat pada uretra pars pendulosa. Berdasarkan defenisinya, uretra pars bulbosa
tidak hanya ditutupi oleh korpus spongiosum, tetapi juga oleh penggabungan garis tengah dari
otot ischiokavernosus. Otot bulbospongiosum berakhir hanya pada proksimal sampai penoskrotal
junction, dimana uretra berlanjut ke distal sebagai uretra pars pedunlosa. Uretra pars pendulosa
dekat dengan korpus korporal di bagian dorsal. Di distal sebagian besar bagian dari uretra
anterior adalah fossa naviculare, yang dikelilingi oleh jaringan spongiosa dari glans penis. 4
Uretra wanita dewasa berukuran panjang sekitar 4 cm dan berjalan uretrovesikal junction
pada kollumna vesika urinaria ke vestibulum vagina. Dua lapisan otot polos berjalan ke distal
dari kollumna vesika urinaria mengelilingi bagian proksimal uretra lapisan dalam merupakan
bagian sirkuler, sedangkan lapisan luar berjalan secara longitudinal. Otot polos dikelilingi oleh
lapisan otot lurik yang paling tebal setinggi pertengahan uretra dan berkurang pada aspek
posteriornya. 4

RUPTUR URETRA POSTERIOR


ETIOLOGI
Trauma tumpul merupakan penyebab dari sebagian besar cedera pada uretra pars
posterior. Menurut sejarahnya, banyak cedera semacam ini yang berhubungan dengan kecelakaan
di pabrik atau pertambangan. Akan tetapi, karena perbaikan dalam hal keselamatan pekerja
pabrik telah menggeser penyebab cedera ini dan menyebabkan peningkatan pada cedera yang
berhubungan kecelakaan lalu lintas. Gangguan pada uretra terjadi sekitar 10% dari fraktur pelvis
tetapi hampir semua gangguan pada uretra membranasea yang berhubungan dengan trauma
tumpul terjadi bersamaan fraktur pelvis. Fraktur yang mengenai ramus atau simfisis pubis dan
menimbulkan kerusakan pada cincin pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostatomembranasea. Fraktur pelvis dan robekan pembuluh darah yang berada di dalam kavum pelvis
menyebabkan hematoma yang luas di kavum retzius sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum
ikut terobek, prostat berada buli-buli akan terangkat ke kranial. 2,4
Fraktur pelvis yang menyebabkan gangguan uretra biasanya penyebab sekunder karena
kecelakaan kendaraan bermotor (68%-84%) atau jauh dari ketinggian dan tulang pelvis hancur
(6%-25%). Pejalan kaki lebih beresiko, mengalami cedera uretra karena fraktur pelvis pada
kecelakaan bermotor dari pada pengendara. 4
EPIDEMIOLOGI
Fraktur pelvis merupakan penyebab utama terjadinya ruptur uretra posterior dengan
angka kejadian 20 per 100.000 populasi dan penyebab utama terjadinya fraktur pelvis adalah
kecelakaan bermotor (15,5%), diikuti oleh cedera pejalan kaki (13,8%), jatuh dari ketinggian
lebih dari 15 kaki (13%), kecelakaan pada penumpang mobil (10,2%) dan kecelakaan kerja (6%).
Fraktur pelvis merupakan salah satu tanda bahwa telah terjadi cedera intraabdominal ataupun

cedera urogenitalia yang kira-kira terjadi pada 15-20% pasien. Cedera organ terbanyak pada
fraktur pelvis adalah pada uretra posterior (5,8%-14,6%), diikuti oleh cedera hati (6,1%-10,2%)
dan cedera limpa (5,2%-5,8%). 7
Di Amerika Serikat angka kejadian fraktur pelvis pada laki-laki yang menyebabkan
cedera uretra bervariasi antara 1-25% dengan nilai rata-rata 10%. Cedera uretra pada wanita
dengan fraktur pelvis sebenarnya jarang terjadi, tetapi beberapa kepustakaan melaporkan insiden
kejadiannya sekitar 4-6%. 8
Angka kejadian cedera uretra yang dihubungkan dengan fraktur pelvis kebanyakan
ditemukan pada awal dekade keempat, dengan umur rata-rata 33 tahun. Pada anak (<12 tahun)
angka kejadiannya sekitar 8%. Terdapat perbedaan persentasi angka kejadian fraktur pelvis yang
menyebabkan cedera uretra pada anak dan dewasa. Fraktur pelvis pada anak sekitar 56% kasus
yang merupakan resiko tinggi untuk terjadinya cedera uretra. 7,8
Trauma uretra lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding wanita, perbedaan ini
disebabkan karena uretra wanita pendek, lebih mobilitas dan mempunyai ligamentum pubis yang
tidak kaku. 7
MEKANISME TRAUMA
Cedera uretra terjadi sebagai akibat dari adanya gaya geser pada prostatomembranosa
junction sehingga prostat terlepas dari fiksasi pada diafragma urogenitalia. Dengan adanya
pergeseran prostat, maka uretra pars membranasea teregang dengan cepat dan kuat. Uretra
posterior difiksasi pada dua tempat yaitu fiksasi uretra pars membranasea pada ramus ischiopubis
oleh diafragma urogenitalia dan uretra pars prostatika ke simphisis oleh ligamentum
puboprostatikum. 9
KLASIFIKASI
Melalui gambaran uretrogram, Colapinto dan McCollum (1976) membagi derajat cedera uretra
dalam 3 jenis :
1.
Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (perengangan). Foto
uretrogram tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan uretra hanya tampak memanjang
2.
Uretra posterior terputus pada perbatasan prostate-membranasea, sedangkan diafragma
urogenitalia masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasai kontras yang masih
terbatas di atas diafragma
3.
Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah proksimal ikut
rusak. Foto uretrogram menunjukkan ekstvasasi kontras meluas hingga di bawah diafragma
sampai ke perineum 2
GAMBARAN KLINIS
Pada ruptur uretra posterior terdapat tanda patah tulang pelvis. Pada daerah suprapubik
dan abdomen bagian bawah, dijumpai jejas hematom, dan nyeri tekan. Bila disertai ruptur
kandung kemih, bisa dijumpai tanda rangsangan peritoneum. Pasien biasanya mengeluh tidak
bisa kencing dan sakit pada daerah perut bagian bawah.10,11

Kemungkinan terjadinya cedera uretra posterior harus segera dicurigai pada pasien yang
telah didiagnosis fraktur pelvis. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, beberapa jenis
fraktur pelvis lebih sering berhubungan dengan cedera uretra posterior dan terlihat pada 87%
sampai 93% kasus. Akan tetapi, banyaknya darah pada meatus uretra tidak berhubungan dengan
beratnya cedera. Teraba buli-buli yang cembung (distended), urin tidak bisa keluar dari kandung
kemih atau memar pada perineum atau ekimosis perineal merupakan tanda tambahan yang
merujuk pada gangguan uretra. Trias diagnostik dari gangguan uretra prostatomembranosa
adalah fraktur pelvis, darah pada meatus dan urin tidak bisa keluar dari kandung kemih. 4
Keluarnya darah dari ostium uretra eksterna merupakan tanda yang paling penting dari
kerusakan uretra. Pada kerusakan uretra tidak diperbolehkan melakukan pemasangan kateter,
karena dapat menyebabkan infeksi pada periprostatik dan perivesical dan konversi dari
incomplete laserasi menjadi complete laserasi. Cedera uretra karena pemasangan kateter dapat
menyebabkan obstuksi karena edema dan bekuan darah. Abses periuretral atau sepsis dapat
mengakibatkan demam. Ekstravasasi urin dengan atau tanpa darah dapat meluas jauh tergantung
fascia yang rusak. Pada ekstravasasi ini mudah timbul infiltrat urin yang mengakibatkan selulitis
dan septisemia, bila terjadi infeksi. Adanya darah pada ostium uretra eksterna mengindikasikan
pentingnya uretrografi untuk menegakkan diagnosis. 3,10
Pada pemeriksaan rektum bisa didapatkan hematoma pada pelvis dengan pengeseran
prostat ke superior. Bagaimanapun pemeriksaan rektum dapat diinprestasikan salah, karena
hematoma pelvis bisa mirip denagan prostat pada palpasi. Pergeseran prostat ke superior tidak
ditemukan jika ligament puboprostikum tetap utuh. Disrupsi parsial dari uretra membranasea
tidak disertai oleh pergeseran prostat. 3
Prostat dan buli-buli terpisah dengan uretra pars membranasea dan terdorong ke atas oleh
penyebaran dari hematoma pada pelvis. High riding prostat merupakan tanda klasik yang biasa
ditemukan pada ruptur uretra posterior. Hematoma pada pelvis, ditambah dengan fraktur pelvis
kadang-kadang menghalangi palpasi yang adekuat pada prostat yang ukurannya kecil.
Sebaliknya terkadang apa yang dipikirkan sebagai prostat yang normal mungkin adalah
hematoma pada pelvis. Pemeriksaan rektal lebih penting untuk mengetahui ada tidaknya jejas
pada rektal yang dapat dihubungkan dengan fraktur pelvis. Darah yang ditemukan pada jari
pemeriksa menunjukkan adanya suatu jejas pada lokasi yang diperiksa. 12
GAMBARAN RADIOLOGI
Uretrografi retrograde telah menjadi pilihan pemeriksaan untuk mendiagnosis cedera
uretra karena akurat, sederhana dan cepat dilakukan pada keadaan trauma. Sementara CT Scan
merupakan pemeriksaan yang ideal untuk saluran kemih bagian atas dan cedera vesika urinaria
dan terbatas dalam mendiagnosis cedera uretra. Sementara MRI berguna untuk pemeriksaan
pelvis setelah trauma sebelum dilakukan rekonstuksi, pemeriksaan ini tidak berperan dalam
pemeriksaan cadera uretra. Sama halnya dengan USG uretra yang memiliki keterbatasan dalam
pelvis dan vesika urinaria untuk menempatkan kateter suprapubik. 4

Gambar 5. Uretra posterior masih utuh tetapi meregang pada trauma tumpul. Retrograd uretrogram memperlihatkan
peregangan dari uretra posterior dan diastasis dari simphisis pubis. Dikutip dari kepustakaan 13

PENATALAKSANAAN
Emergency
Syok dan pendarahan harus diatasi, serta pemberian antibiotik dan obat-obat analgesik.
Pasien dengan kontusio atau laserasi dan masih dapat kencing, tidak perlu menggunakan alat-alat
atau manipulasi tapi jika tidak bisa kencing dan tidak ada ekstravasasi pada uretrosistogram,
pemasangan kateter harus dilakukan dengan lubrikan yang adekuat. 14
Bila ruptur uretra posterior tidak disertai cedera intraabdomen dan organ lain, cukup
dilakukan sistotomi. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian dengan melakukan
anastomosis ujung ke ujung, dan pemasangan kateter silicon selama 3 minggu. 10
Pembedahan
Ekstravasasi pada uretrosistogram mengindikasikan pembedahan. Kateter uretra harus dihindari.
1.
Immediate management
Penanganan awal terdiri dari sistostomi suprapubik untuk drainase urin. Insisi
midline pada abdomen bagian bawah dibuat untuk menghindari pendarahan yang banyak
pada pelvis. Buli-buli dan prostat biasanya elevasi kearah superior oleh pendarahan yang
luas pada periprostatik dan perivesikal. Buli-buli sering distensi oleh akumulasi volume urin
yang banyak selama periode resusitasi dan persiapan operasi. Urin sering bersih dan bebas
dari darah, tetapi mungkin terdapat gross hematuria. Buli-buli harus dibuka pada garis
midline dan diinspeksi untuk laserasi dan jika ada, laserasi harus ditutup dengan benang
yang dapat diabsorpsi dan pemasangan tube sistotomi untuk drainase urin. Sistotomi
suprapubik dipertahankan selama 3 bulan. Pemasangan ini membolehkan resolusi dari
hematoma pada pelvis, dan prostat & buli-buli akan kembali secara perlahan ke posisi
anatominya. 3
Bila disertai cedera organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan reparasi 2- 3 hari
kemudian, sebaiknya dipasang kateter secara langsir (railroading) 10

Cara langsir (rail roading) pemasangan kateter Foley menetap pada ruptur uretra10
A. Selang karet atau plastik diikat ketat pada ujung sonde dari meatus uretra
B. Sonde uretra pertama dari meatus eksternus dan sonde kedua melalui sistotomi yang
dibuat lebih dahulu saling bertemu, ditandai bunyi denting yang dirasa di tempat ruptur
C. Selanjutnya sonde dari uretra masuk ke kandung dengan bimbingan sonde dari buli-buli
D. Sonde dicabut dari uretra
E. Sonde dicabut dari kateter Nelaton dan diganti dengan ujung kateter Foley yang dijahit
pada kateter Nelaton
F. Ujung kateter ditarik kearah buli-buli
G. Selanjutnya dipasang kantong penampung urin dan traksi ringan sehingga balon kateter
Foley tertarik dan menyebabkan luka ruptur merapat. Insisi di buli-buli ditutup
2.

Delayed urethral reconstruction


Rekonstruksi uretra setelah disposisi prostat dapat dikerjakan dalam 3 bulan, diduga
pada saat ini tidak ada abses pelvis atau bukti lain dari infeksi pelvis. Sebelum rekonstuksi,
dilakukan kombinasi sistogram dan uretrogram untuk menentukan panjang sebenarnya dari
striktur uretra. Panjang striktur biasanya 1-2 cm dan lokasinya dibelakang dari tulang pubis.
Metode yang dipilih adalah single-stage reconstruction pada ruptur uretra dengan eksisi
langsung pada daerah striktur dan anastomosis uretra pars bulbosa ke apeks prostat lalu
dipasang kateter uretra ukuran 16 F melalui sistotomi suprapubik. Kira-kira 1 bulan setelah
rekonstuksi, kateter uretra dapat dilepas. Sebelumnya dilakukan sistogram, jika sistogram
memperlihatkan uretra utuh dan tidak ada ekstravasasi, kateter suprapubik dapat dilepas.
Jika masih ada ekstravasasi atau striktur, kateter suprapubik harus dipertahankan.
Uretrogram dilakukan kembali dalam 2 bulan untuk melihat perkembangan striktur. 3
3.
Immediate urethral realignment
Beberapa ahli bedah lebih suka untuk langsung memperbaiki uretra. Perdarahan dan
hematoma sekitar ruptur merupakan masalah teknis. Timbulnya striktur, impotensi, dan
inkotinensia lebih tinggi dari immediate cystotomydan delayed reconstruction. Walaupun
demikian beberapa penulis melaporkan keberhasilan dengan immediate urethral
realignment. 3
KOMPLIKASI
Striktur, impotensi, dan inkotinensia urin merupakan komplikasi rupture
prostatomembranosa paling berat yang disebabkan trauma pada sistem urinaria. Striktur yang
mengikuti perbaikan primer dan anastomosis terjadi sekitar 50% dari kasus. Jika dilakukan
sistotomi suprapubik, dengan pendekatan delayed repair maka insidens striktur dapat
dikurangi sampai sekitar 5%. Insidens impotensi setelah primary repair, sekitar 30-80% (ratarata sekitar 50%). Hal ini dapat dikurangi hingga 30-35% dengan drainase suprapubik pada
rekontruksi uretra tertunda. Jumlah pasien yang mengalami inkotinensia urin <2 % biasanya
bersamaan dengan fraktur tulang sakrum yang berat dan cedera nervus S2-4. 3

PROGNOSIS
Jika komplikasinya dapat dihindari, prognosisnya sangat baik. Infeksi saluran kemih akan
teratasi dengan penatalaksaan yang sesuai. 14

RUPTUR URETRA ANTERIOR


ETIOLOGI
Uretra anterior adalah bagian distal dari diafragma urogenitalia. Straddle injury dapat
menyebabkan laserasi atau contusion dari uretra. Instrumentasi atau iatrogenik dapat
menyebabkan disrupsi parsial 10
Cedera uretra anterior secara khas disebabkan oleh cedera langsung pada pelvis dan
uretra. Secara klasik, cedera uretra anterior disebabkan oleh straddle injury atau tendangan atau
pukulan pada daerah perineum, dimana uretra pars bulbosa terjepit diantara tulang pubis dan
benda tumpul. Cedera tembus uretra (luka tembak atau luka tusuk) dapat juga menyebabkan
cedera uretra anterior. Penyebab lain dari cedera uretra anterior adalah trauma penis yang berat,
trauma iatrogenic dari kateterisasi, atau masuk benda asing. 9
MEKANISME TRAUMA
Trauma tumpul atau tembus dapat menyebabkan cedera uretra anterior. Trauma tumpul
adalah diagnosis yang sering dan cedera pada segmen uretra pars bulbosa paling sering (85%),
karena fiksasi uretra pars bulbosa dibawah dari tulang pubis, tidak seperti uretra pars pendulosa
yang mobile. Trauma tumpul pada uretra pars bulbosa biasanya disebabkan oleh straddle
injury atau trauma pada daerah perineum. Uretra pars bulbosa terjepit diantara ramus inferior
pubis dan benda tumpul, menyebabkan memar atau laserasi pada uretra. 4
Tidak seperti cedera pada uretra pars prostatomembranous, Trauma tumpul uretra anterior
jarang berhubungan dengan trauma organ lainnya. Kenyataannya, straddle injury menimbulkan

cedera cukup ringan, membuat pasien tidak mencari penanganan pada saat kejadian. Pasien
biasanya datang dengan striktur uretra setelah kejadian yang intervalnya bulan atau tahun. 4
Cedera uretra anterior dapat juga berhubungan dengan trauma penis (10% sampai 20%
dari kasus). Mekanisme cedera adalah trauma langsung atau cedera pada saat berhubungan intim,
dimana penis yang sementara ereksi menghantam ramus pubis wanita, menyebabkan robeknya
tunika albuginea. 4
KLASIFIKASI
Klasifikasi rupture uretra anterior dideskripsikan oleh McAninch dan Armenakas
berdasarkan atas gambaran radiologi

Kontusio : Gambaran klinis memberi kesan cedera uretra, tetapi uretrografi retrograde
normal

Incomplete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi, tetapi masih ada


kontinuitas uretra sebagian. Kontras terlihat mengisi uretra proksimal atau vesika urinaria.

Complete disruption : Uretrografi menunjukkan ekstravasasi dengan tidak ada kontras


mengisi uretra proksimal atau vesika urinaria. Kontinuitas uretra seluruhnya terganggu. 4

GAMBARAN KLINIS
Pada rupture uretra anterior terdapat memar atau hematom pada penis dan skrotum.
Beberapa tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda klasik cedera uretra. Bila terjadi
rupture uretra total, penderita mengeluh tidak bisa buang air kecil sejak terjadi trauma dan nyeri
perut bagian bawah dan daerah suprapubik. Pada perabaan mungkin ditemukan kandung kemih
yang penuh. 10
Cedera uretra karena kateterisasi dapat menyebabkan obstuksi karena udem atau bekuan
darah. Abses periuretral atau sepsis mengakibatkan demam. Ekstravasasi urin dengan atau tanpa
darah dapat meluas jauh, tergantung fascia yang turut rusak. Pada ekstravasasi ini mudah timbul
infiltrate yang disebut infiltrate urin yang mengakibatkan selulitis dan septisemia, bila terjadi
infeksi. 10
Kecurigaan ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau
instrumentasi dan darah yang menetes dari uretra. 10
Jika terjadi rupture uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urin keluar dari uretra
tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang terbatas pada
penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasai urin dan darah hanya dibatasi oleh fasia
Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau dinding abdomen. Oleh karena itu
robekan ini memberikan gambaran seperti kupu-kupu sehingga disebut butterfly hematoma atau
hematoma kupu-kupu. 2
GAMBARAN RADIOLOGIS
Pemeriksaan radiologik dengan uretrogram retrograde dapat memberi keterangan letak
dan tipe ruptur uretra. Uretrogram retrograde akan menunjukkan gambaran ekstravasasi, bila

terdapat laserasi uretra, sedangkan kontusio uretra tidak tampak adanya ekstravasasi. Bila tidak
tampak adanya ekstravasasi maka kateter uretra boleh dipasang.10,11
Gambar 10. Ruptur uretra pars bulbosa akibat straddle injury. Ekstravasasi (tanda panah) pada uretrogram. Dikutip
dari kepustakaan 3

PENATALAKSANAAN
Penanganan Awal
Kehilangan darah yang banyak biasanya tidak ditemukan pada straddle injury. Jika
terdapat pendarahan yang berat dilakukan bebat tekan dan resusitasi. Armenakas dan McAninch
(1996) merencanakan skema klasifikasi praktis yang sederhana yang membagi cedera uretra
anterior berdasarkan penemuan radiografi menjadi kontusio, ruptur inkomplit, dan ruptur
komplit. Kontusio dan cedera inkomplit dapat ditatalaksana hanya dengan diversi kateter uretra.
Tindakan awal sistotomi suprapubik adalah pilihan penanganan pada cedera staddle mayor yang
melibatkan uretra.
Pilihan utama berupa surgical repair direkomendasikan pada luka tembak dengan
kecepatan rendah, Ukuran kateter disesuaikan dengan berat dari striktur uretra. Debridement dari
korpus spongiosum setelah trauma seharusnya dibatasi karena aliran darah korpus dapat
terganggu sehingga menghambat penyembuhan spontan dari area yang mengalami kontusi.
Diversi urin dengan suprapubik direkomendasikan setelah luka tembak uretra dengan kecepatan
tinggi, diikuti dengan rekonstruksi lambat. 3,15
Penanganan Spesifik

Kontusio Uretra
Pasien dengan kontusio uretra tidak ditemukan bukti adanya ekstravasasi dan uretra tetap
utuh. Setelah uretrografi, pasien dibolehkan untuk buang air kecil; dan jika buang air kecil
normal, tanpa nyeri dan pendarahan, tidak dibutuhkan penanganan tambahan. Jika
pendarahan menetap, drainase uretra dapat dilakukan. 3

Laserasi Uretra
Instrumentasi uretra setelah uretrografi harus dihindari. Insisi midline pada suprapubik dapat
membuka kubah dari buli-buli supaya pipa sistotomi suprapubik dapat disisipkan dan
dibolehkan pengalihan urin sampai laserasi uretra sembuh. Jika pada uretrogram terlihat
sedikit ekstravasasi, berkemih dapat dilakukan 7 hari setelah drainase kateter suprapubik
untuk menyelidiki ekstravasasi. Pada kerusakan yang lebih parah, drainase kateter
suprapubik harus menunggu 2 sampai 3 minggu sebelum mencoba berkemih. Penyembuhan
pada tempat yang rusak dapat menyebabkan striktur. Kebanyakan striktur tidak berat dan
tidak memerlukan rekonstuksi bedah. Kateter suprapubik dapat dilepas jika tidak ada
ekstravasasi. Tindakan lanjut dengan melihat laju aliran urin akan memperlihatkan apakah
terdapat obstuksi uretra oleh striktur. 3

Laserasi Uretra dengan Ekstravasasi Urin yang Luas

Setelah laserasi yang luas, ekstravasasi urin dapat menyebar ke perineum, skrotum, dan
abdomen bagian bawah. Drainase pada area tersebut diindikasikan. Sistotomi suprapubik
untuk pengalihan urin diperlukan. Infeksi dan abses biasa terjadi dan memerlukan terapi
antibiotik. 3
- Rekonstruksi segera
Perbaikan segera laserasi uretra dapat dilakukan, tetapi prosedurnya sulit dan tingginya
resiko timbulnya striktur. 3
- Rekonstruksi lambat
Sebelum semua rencana dilakukan, retrograde uretrogram dan sistouretrogram harus
dilakukan untuk mengetahui tempat dan panjang dari uretra yang mengalami cedera.
Pemeriksaan ultrasound uretra dapat membantu menggambarkan panjang dan derajat
keparahan dari striktur. Injeksi retrograde saline kombinasi dengan antegradebladder
filling akan mengisi uretra bagian proksimal dan distal, dan sonogram 10-MHz akan
mengambarkan dengan jelas bagian yang tidak bisa terdistensi untuk di eksisi. Jaringan
fibrosa padat yang terbentuk karena trauma sering menjadi significant shadow.
Uretroplasty anastomosis adalah prosedur pilihan pada ruptur total uretra pars
bulbosa setelah straddle injury. Skar tipikal berukuran 1,5 sampai 2 cm dan harus
dieksisi komplit. Uretra proksimal dan distal dapat dimobilisasi untuk anastomosis endto-end. Tingkat keberhasilan dari prosedur ini lebih dari 95% dari kasus
Insisi endoskopik melalui jaringan skar dari uretra yang ruptur tidak disarankan
dan sering kali gagal. Penyempitan parsial uretra dapat diterapi awal dengan insisi
endoskopi dengan tingkat keberhasilan tinggi. Saat ini uretrotomi dan dilatasi berulang
telah terbukti tidak efektif baik secara klinis maupun biaya. Lebih lanjut, pasien dengan
prosedur endoskopik berulang juga sering diharuskan untuk dilakukan tindakan
rekonstruksi kompleks seperti graft. Open repairseharusnya ditunda paling tidak
beberapa minggu setelah instrumentasi untuk membiarkan uretra stabil. 3,15
KOMPLIKASI
Komplikasi dini setelah rekontruksi uretra adalah infeksi, hematoma, abses periuretral,
fistel uretrokutan, dan epididimitis. Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi adalah striktur
uretra. 10
PROGNOSIS
Striktur uretra adalah komplikasi utama tetapi pada banyak kasus tidak memerlukan
rekonstruksi bedah. Jika, striktur ditetapkan, laju aliran urin kurang baik dan infeksi urinaria dan
terdapat fistel uretra, rekonstruksi dibutuhkan. 3
.

1.

2.
3.
4.

5.

Daftar Pustaka
Daller M, Carpinto G. Genitourinary trauma and emergencies. In : Siroky MB, Oates RD,
Babayan RK, editors. Handbook of urology diagnosis and therapy. 3 rd Edition. Philadelpia :
Lippincott William & Wilkins; 2004. p. 165-82
Purnomo B. Dasar-dasar urologi. Edisi 3. Jakarta : Sagung Seto; 2003. p.97-9
Tanagho EA, et al. Injuries to the genitourinary tract. In : McAninch, editor. Smiths general
urology. 17thEdition. United States of America : Mc Graw Hill; 2008. p.278-93
Rosentein DI, Alsikafi NF . Diagnosis and classification of urethral injuries. In : McAninch JW,
Resinck MI, editors. Urologic clinics of north america. Philadelpia : Elseivers Sanders; 2006 . p.
74-83
Schauberger JS. Male reproductive system anatomy & histology. 2010. [cited 2011 October 20].
Available from: URL:http://legacy.owensboro.kctcs.edu/gcaplan/anat2/notes/APIINotes2%20male
%20reproductive%20anatomy.htm

6.
7.

Datu AR. Diktat Urogenitalia. Makassar : FKUH; 2003


Schreiter F, et al. Reconstruction of the bulbar and membranous urethra. In : Schreiter F, et al,
editors. Urethral reconstructive surgery. Germany : Springer Medizin Verlag Heidelberg; 2006 .
p.107-20
8. Smith JK, Kenney P. Urethra trauma. 2009. [cited 2011 October 11]. Available from
:URL :www.emedicine.com
9. Brandes S. Initial management of anterior and posterior urethral injuries . In : McAninch JW,
Resinck MI, editors. Urologic clinics of north america. Philadelpia : Elseivers Sanders; 2006. p.
87-95
10. Sjamsuhidajat R, Jong WM. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC; 2005. p. 770-2

11. Reksoprodjo S, et al. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta : FK UI; 2004. p. 149-52
12. Reynard J, Brewster S, Biers S. Oxford handbook of urology. England: Oxford University; 2006.
p. 442-7
13. Kawashima A, Sandler CM, Wasserman NF, et al. Imaging of urethral disease: a pictorial review.
2004.
[cited
2011
October
20].
Available
from:
URL : http://radiographics.rsna.org/content/24/suppl_1/S195.full.pdf+html
14. Palinrungi AM. Lecture notes on urological emergencies & trauma. Makassar: Division of
Urology, Departement of Surgery, Faculty of Medicine, Hasanuddin University; 2009. p. 131-6
15. Wein AJ, Kavoussi LR, Novick AC, Partin AW, Peters CA. Campbell-walsh urology. 9 th Edition.
Philadelphia : Saunders elsevier; 2007