Anda di halaman 1dari 2

Mengenal Lebih Dekat Sejarah Kota Kendari (satu)

---Kendari Dahulu Hanyalah Kampung Kecil


Ada banyak hal menarik ketika berbicara tentang sejarah Kota Kendari. Sa
lah satunya, ternyata kota Metro ini dulunya hanyalah sebuah kampung kecil, baik
ketika berada di bawah pemerintahan Kerajaan Konawe maupun Kerajaan Laiwoi. Nam
un karena letaknya yang dianggap cukup strategis oleh pemerintah kolonial Beland
a kala itu, Kendari kemudian dijadikan daerah yang menjadi sentra dari aktivitas
pembangunan.
Mas Jaya
Untuk mengenal lebih dekat sejarah Kota Kendari, ada baiknya kita mulai
memahaminya dari mana asal muasal nama Kendari. Dosen Ilmu Sejarah Universitas H
alu Oleo, Basrin Melamba menuturkan, sejarah nama Kendari muncul pada permulaan
abad ke-16. Ketika itu bangsa Portugis melakukan pelayaran ke arah timur mencari
kepulauan Maluku yang terkenal dengan rempah-rempahnya. Dalam perjalanannya, m
ereka kemudian singgah di teluk Kendari. Kala itu mereka bertemu orang yang memb
awa rakit yang terbuat dari bambu dengan menggunakan dayung panjang. Salah seora
ng Portugis itu segera mendekati si pembawa rakit, kemudian menanyakan nama kamp
ung yang mereka singgahi. Namun karena ketidak pahaman, orang yang ditanya itu m
engira kalau si Portugis menanyakan apa yang sementara dikerjakannya. Sehingga l
angsunglah ia menjawab "Kandai", yang artinya dayung atau (mekandai) mendayung.
Jawaban si pribumi ini kemudian dicatat oleh orang Portugis sebagai pertanda bah
wa kampung yang mereka masuki itu bernama Kandari.
"Nama Kandai seiring berjalannya waktu berubah fonem menjadi Kandari ata
u yang saat ini disebut Kendari akibat penulisan. Sebagai contoh nama Mekongga d
alam naskah Lagaligo disebut Mengkoka. Sedangkan dalam naskah lontara Luwu diseb
utkan Mingkoka, dan dalam beberapa tulisan maupun laporan Belanda, Jerman menuli
skan dengan nama Mingkoka, Bangkoka, Bingkoka dan Mekongga. Proses perubahan fon
em yang seperti ini bisa dibandingkan dengan penulisan nama Magelang, Surabaya,
Pontianak, Pekalongan, Buton, dan beberapa nama kota lama di nusantara," jelasny
a.
Lanjut Basrin, dalam peta VOC daerah ini sudah dikenal sebagai salah sat
u daerah dari Laiwoi (Kerajaan Laiwoi). Kemudian, kata Kandari juga sudah ditemu
kan dalam tulisan Albertus Ligtvoet (1844-1879) Aantekeningen Omtrent Zuidwest Ce
lebes menyebutkan nama Laiwoei of Kandari. Begitu juga dalam tulisan Ligvoet yang
berjudul "Beschrijving geschiedenis van Boeton", tahun 1878 yang dimuat dalam m
ajalah Belanda berturut-turut menulis kata Laiwoei dan Kandari atau Kendari digu
nakan dan ditulis secara bergantian. "Jadi jika dilihat dari sini, nama Kendari
itu sudah muncul sejak beberapa abad yang lalu," tuturnya.
Ketua Dewan Pakar Lembaga Adat Tolaki itu menerangkan, daerah Kendari pa
da zaman kerajaan Konawe merupakan bagian dari wilayah Sapati Ranomeeto, yang di
kenal sebagai tempat terbenamnya Matahari. Seringin berjalannya waktu, sapati Ra
nomeeto dibawah pemerintahan Lamangu kemudian memisahkan diri dari Kerajaan Kona
we. Ia kemudian membentuk kerajaan yang dikenal dengan Kerajaan Laiwoi. Keberada
an kerajaan baru tersebut juga diakui oleh Belanda, sebagai unsur politis.
"Setelah Kerajaan Laiwoi terbentuk, daerah Kendari saat itu masih dikena
l dengan istila napo atau desa. Jadi Kendari ini dulu hanyalah kampung kecil ju
ga. Sementara pusat pemerintahan Raja Laiwoi saat itu berada di Ranomeeto. Ibu k
ota kerajaan saat itu oleh pihak Belanda disebut kota tradisional," terangnya.
Seringin berjalannya waktu, warga daerah luar daratan kemudian mulai ber
munculan dan membuat pemukiman di daratan Kendari. Misalnya orang Wawonii yang d
atang dan membuat kampung Nii, orang Muna membuat kampung jati, orang bajo membu
at kampug wado, orang Buton membuat kampung Butung. Dan pada tahun 1920-an, etni
s China dan etnis lainnya mulai berdatangan dan membuat komunitas dalam perkampu
ngan. Namun semuanya masih di bawah kontrol Kerajaan Laiwoi. Itu dibuktikan deng
an masyarakat pendatang yang diwajibkan membayar pajak pada pihak kerajaan.
Selanjutnya, pada tahun 1832, Belanda memindahkan istana Raja Laiwoi ke

daerah Kendari (wilayah kota lama). Alasan pemindahan tersebut lebih karena unsu
r politis. "Orang-orang Belanda ingin agar jalur perdagangan hasil bumi bisa ter
kontrol dengan baik," katanya.
Setelah itu pihak Belanda membangun lodji, karena ingin menjadikan Kenda
ri sebagai kota perdagangan yang mengumpulakan hasil bumi. "Di daratan ini dulu
banyak hasil bumi, seperti rotan kapuk, kayu, kopra dan termasuk juga besar. Ini
lah yang menjadi daya tarik Kendari oleh Belanda. Di sinilah cikal bakal dimana
Kendari menjadi pusat perdagangan dan pembangunan serta aktivitas sosial lainnya
," lanjutnya.
Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo itu kembali m
engungkapkan, Kendari dianggap menjadi daerah strategis setelah menjadi ibu kota
Kerajaan Laiwoi (1885-1959). Kemudian oleh Belanda dijadikan ibu Kota Onderafde
eling (1906-1942). Ibu Kota Bunken Kendari (1942-1945). Ibu Kota Kedewanan Kenda
ri (1948-1959). Ibu Kota Kabupaten Kendari (1944-1982). Ibu Kota Provinsi (sejak
tahun 1964-sekarang).
"Pembentukan provinsi ini tepatnya pada tanggal 27 April 1964, berdasark
an Perpu nomor 2 tahun 1964 dan undang-undang nomor 13 tahun 1964. Di dalamnya d
inyatakan bahwa ibu kota provinsi ditempatkan di Kendari," jelasnya lagi.
Dengan demikian lanjut Basrin, Kendari saat itu memiliki kedudukan rangk
ap. Di satu pihak masih tetap mennjadi ibu kota Kabupaten Kendari, dan di sisi l
ain menjadi ibukota provinsi Sultra. Ini juga berarti bahwa secara administratif
Kendari meningkat statusnya, dari pusat pemerintahan kabupaten menjadi pusat pe
merintahan provinsi.
Kota Kendari yang berstatus sebagai ibu kota provinsi juga sebagai ibu k
ota kabupaten, kemudian dimekarkan dalam wujud kota administratif. Dasar hukum p
emekaran tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1978. Selanjutnya, p
ada tahun 1982, ibu kota Kabupaten Kendari, dipindahkan ke Unaaha. Pemindahan di
lakukan oleh Bupati, Andrye Djufri (bupati kelima). "Alasan pemindahan dilatar b
elakangi oleh sejarah bahwa wilayah Kabupaten Kendari saat masih masih Kerajaan
Konawe, ibu kotanya berkedudukan di Unaaha," uangkpanya.
Kota Kendari kemudian menjadi kota Madya sejak tahun 1995. Dan menjadi K
ota Kendari pada tahun 2005. "Kalau dilihat dari runutan sejarahnya, nama Kendar
i ini sudah ada sejak berabad-abad lalu, yang diawali dari kampung kecil dan men
jadi kota metro seperti saat ini," tandasnya.