Anda di halaman 1dari 41

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sudah merupakan hukum alam bahwa setiap makhluk di dunia ini mengalami proses
penuaan. Pada manusia proses penuaan itu sebenarnya terjadi sejak manusia dilahirkan dan
berlangsung terus sampai mati. Berbeda dengan kaum pria, proses penuaan pada wanita
berlangsung lebih dramatis, terutama karena adanya proses reproduksi dalam
kehidupannya.
Geriatri sangat dekat dengan kesan tua dan lanjut usia. Namun, geriatri mengacu pada
cabang ilmu kedokteran yang secara khusus berfokus pada penyediaan leyanan kesehatan
bagi para manula. Seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam merawat kemampuan
fungsional, kualitas hidup dan ketergantungan dari orang tua. Memperlakukan orang tua
benar-benar berbeda dari memperlakukan orang dewasa lain. Geriatri adalah cabang ilmu
tentang memperlakukan pasien tua serta memastikan pengasuh tahu cara merawat panuaan
kerabat mereka. Terkadang, itu menjadi perlu untuk memperlakukan geriatrician dan
keluarga serta pasien tua.
Salah satu masalah utama seorang lansia sering mudah jatuh disebabkan faktor intrinsik:
gangguan gaya berjalan, kelemahan otot-ototkaki, kekakuan sendi, sinkop/ hilang kesadaran
sejenak dan dizziness atau goyang, atau faktor ekstrinsik yang menjadi penyebabnya: lantai
yang licin dan tidak rata, tersandung benda-benda, cahaya kurang terang sehinggaterganggu
penglihatannya, dan sebagainya (Setianto,2000).

FK Al Azhar Mataram

Page 1

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


1.2 RUMUSAN MASALAH
A.
B.
C.
D.
E.

Menjelaskan tentang definisi jatuh


Menjelaskan tentang factor-faktor terjadinya jatuh
Menjelaskan tentang komplikasi yang terjadi akibat jatuh
Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien jatuh
Menjelaskan tentang upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar pasien tidak jatuh

berulang.
F. Menjelaskan tentang Diabetes Melitus pada lansia
1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini yaitu:
A. Untuk mengetahui definisi jatuh
B. Untuk mengetahui factor factor jatuh
C. Menjelaskan tentang komplikasi yang terjadi akibat jatuh
D. Menjelaskan tentang pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien jatuh
E. Menjelaskan tentang upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar pasien tidak jatuh
berulang.
F. Menjelaskan tentang Diabetes Melitus pada lansia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SKENARIO
FK Al Azhar Mataram

Page 2

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


JATUH DAN GANGGUAN BERJALAN
Seorang laki-laki68 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan menurut
keluarganya tiba-tiba terpeleset di depan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai
tak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih bisa dirasakan oleh penderita.
Sejak seminggu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas serta nafsu
makan sangat berkurang tetapi tidak disertai demam. Dan diketahui pasien adalah seorang
perokok sejak muda. Penderita selama ini juga mengidap dan minum obat penyakit kencing
manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu
menolak.

2.2Step II Terminologi
2.2.1

Jatuh :
Jatuh adalah suatu keadaan yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melihat kejadian sehingga penderita mendadak terbaring terbaring atau terduduk
di lantai atau tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran.

2.2.2

Kencing manis (Diabetes Melitus) :


Penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi
(hiperglikemia). Terjadi karena gangguan metabolik karbohidrat karena produksi
insulin berkurang atau karena resistensi insulin.

2.2.3

Tekanan darah tinggi (Hipertensi)

2.3 Step III Identifikasi Masalah


2.3.1

Kenapa tiba-tiba terpeleset atau jatuh ?

2.3.2

Adakah hubungannya pasien yang seorang perokok dengan keluhan batuk-batuk


dan agak sesak nafas ?

2.3.3

Mengapa tungkai tidak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih
dirasakan oleh penderita ?

FK Al Azhar Mataram

Page 3

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


2.3.4

Adakah hubungannya penderita mengidap kencing manis dan hipertensi dengan


kejadian tiba-tiba terpeleset di kamar mandi ?

2.3.5

Adakah hubungannya penderita mengkonsumsi obat kencing manis dan hipertensi


dengan kejadian tiba-tiba terpeleset di kamar mandi ?

2.4 Step IV Brainstorming


2.4.1

Kenapa tiba-tiba terpeleset atau jatuh ?


Faktor-faktor yang mempengaruhi jatuh pada lansia, yaitu : faktor intrinsik
dan faktor ekstrinsik.
a. Faktor intrinsik
Yang termasuk dalam faktor intrinsik, yaitu : kondisi fisik dan
neuropsikiatri (adanya penyakit SSP seperti stroke, parkinson) penurunan
visus dan pendengaran (fungsi keseimbangan), perubahan neuromuskular
(berkurangnya massa otot, kekauan jaringan penghubung, penurunan range of
motion sendi), gaya berjalan, dan refleks postural karena proses penuaan.
Penuaan dapat

berpengaruh pada kondisi fisik dan neuropsikiatrik

manusia karena terdapat perubahan-perubahan fungsi anatomi/fisiologik yang


semakin menurun, yang bisa menimbulkan berbagai penyakit atau keadaan
patologik hal ini juga pengaruh psiko-sosial pada fungsi organ. Gabungan dari
beberapa perubahan-perubahan secara tidak langsung dapat menyebabkan
jatuh pada lansia yang dikarenakan kemampuan struktur dan fungsi tubuh
yang makin menurun.
Stategi postural yang sering digunakan pada usia lanjut adalah strategi
panggul, oleh karena penggunaan strategi pergelangan kaki membutuhkan
informasi somatosensorik yang adekuat semetara pada usia lanjut mungkin
terdapat kelemahan sendi atau sulit melakukan rotasi pada pergelangan kaki,
hilangnya sensasi somatosensorik perifer, dan kelemahan otot distal.
Walaupun demikian, penggunaan strategi panggul membutuhkan informasi
FK Al Azhar Mataram

Page 4

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


verstibuler yang adekuat dan gerakan pada panggul akan meningkatkan gaya
horisontal antara pijakan dan telapak kaki sehingga risiko untuk terpeleset dan
jatuh menjadi lebih besar. Jika respon ayunan postural tidak dapat
mempertahankan keseimnbangan saat ada gangguan dan diperlukam strategi
melangkah, usia lanjut cenderung melakukan beberapa langkah untuk
mengembalikan keseimbangan
Sinkop, drop attacks, dan dizziness merupakan penyebab jatuh pada orang
usia lanjut yang sering disebut-sebut. Beberapa penyebab sinkop pada orang
usia lanjut yang perlu dikenali antara lain respons vasovagal, gangguan
kardiovaskular (bradi dan takiaritmia, stenosis aorta), gangguan neurologis
akut (TIA, strok, atau kejang), emboli paru, dan gangguan metabolik.
Drop attacks merupakan kelemahan tungkai bawah mendadak yang
menyebabkan jatuh tanpa kehilangan kasadaran. Kondisi tersebut seringkali
dikaitkan dengan insufisiensi vertebrobasiler yang dipicu oleh perubahan
posisi kepala.
Dizziness atau rasa tidak stabil merupakan keluhan yang sering diutarakan
oleh orang usia lanjut yang mengalami jatuh. Pasien yang mengeluh rasa
ringan di kepala harus dievaluasi secermat mungkin akan adanya hipotensi
postural atau deplesi volume intravaskular. Di sisi lain, vertigo merupakan
gejala yang lebih spesifik walaupun merupakan pemicu jatuh yang lebih
jarang. Kondisi ini dikaitkan dengan kelainan pada telinga bagian dalam
seperti labirinitis, penyakit Meniere, dan BPPV. Isemia dan infark
vertebrobasiler, serta infark serebelum juga dapat menyebabkan vertigo.
Kebanyakan pasien usia lanjut dengan gejala dizziness dan unsteadiness
meraa cemas, depresi, sangat takut jatuh, sehingga evaluasi gejala mereka
menjadi sulit. Beberapa pasien, terutama pada mereka dengan gejala ke arajh
vertigo, memerlukan pemeriksaan otologi, termasuk uji auditori, yang dapat
membedakan lebih jelas antara gejala akibat gangguan telinga dalam atau
adanya keterlibatan sistem saraf pusat.
FK Al Azhar Mataram

Page 5

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Sekitar 10-20% orang usia lanjut mengalami hipotensi ortostatik yang
sebagian besar tidak bergejala. Namun demikian, beberapa kondisi dapat
menyebabkan hipotensi ortostatik yang berat sehingga memicu timbulnya
jatuh. Kondisi-kondisi tersebut antara lain curah jantung rendah akibat gagal
jantung atau hipovolemia, disfungsi otonom (sebagai akibat diabetes mellitus),
gangguan aliran balik vena (insufisiensi vena), tirah baring lama dengan
deconditioning otot dan refleks, serta beberapa obat. Hubungan hipotensi
ortostatik dengan hipertensi perlu dipahami sehingga tatalaksana hipertensi
yang baik amat diperlukan untuk mencegah timbulnya hipotensi ortostatik
tersebut.
Berbagai penyakit, terutama penyakit kardiovaskkular dan neurologis,
dapat berkaitan dengan jatuh. Sinkop dapat merupakan gejala stenosis aorta
dan merupakan indikasi perlunya evaluasi pasien akan adanya stenosis aorta
yang memerlukan penggantian katup. Beberapa pasien memiliki baroreseptor
karotis yang sensitif dan rentan mengalami sinkop karena refleks tonus vagal
yang meningkat akibat batuk, mengedan, atau berkemih sehingga terjadi
bradikardia atau hipotensi.
Stroke akut dapat menyebabkan jatuh atau memberikan gejala jauth. TIA
sirkulasi anterior dapat menyebabkan kelemahan unilateral dan memicu jatuh.
TIA sirkulasi posterior (vertebrobasiler) mungkin juga dapt mengakibatkan
vertigo, namun perlu disertai dengan satu atau lebih lapangan pandang.
Insufisiensi vertebrobasiler seringkali disebut sebagsi penyebab drop attacks ;
kompresi mekanik arteri vertebralis olehosteofit spina vertebra servikal
manakala kepala diputar disebutkan pula sebagai penyebab ketidak stabilan
dan jatuh.
Penyakit lain pada otak dan sistem saraf pusat dapat pula menyebabkan
jatuh. Penyakit Parkinson dan Hidrosefalus tekanan normal menyebabkan
instabilitas dan jatuh. Gangguan serebelum, tumor intrakranial, dan hematoma
subdural

juga

menyebabkan

kecenderungan mudah jatuh.


FK Al Azhar Mataram

Page 6

ketidakstabilan

(unsteadiness)

dengan

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


b. Faktor Ekstrinsik
Yang termasuk dalam faktor ekstrinsik, yaitu : obat-obatan yang diminum
(diuretik, jantung, anti depresan, sedatif, hipoglikemia, anti psikotik), alat-alat
bantu berjalan, lingkungan yang tidak mendukung, dan konsumsi alkohol.
Berbagai faktor lingkungan tersebut antara lain lampu ruangan yang
kurang terang, lantai yang licin, basah, atau tidak rata, furnitur yang terlalu
rendah atau tinggi, tangga yang tak aman, kamar mandi dengan bak mandi /
closer terlalu rendah atau tinggi dan tak memiliki alat bantu untuk
berpegangan, tali atau kabel yang berserakan di lantai, karpet yang terlipat,
dan benda-benda di lantai yang membuat seseorang terantuk.
Obat-obatan juga dapat menjadi penyebab jatuh pada orang usia lanjut.
Misalnya obat diuretika yang dikonsumsi menyebabkan seseorang berulang
kali ke kamar kecil untuk buang air kecil atau efek mengantuk dari obat
sedatif sehingga seseorang menjadi waspada saat berjalan.
Alat bantu berjalan yang kurang tepat untuk para lansia, memungkinkan
terjadinya jatuh, oleh karena itu pemilihan alat bantu dapat disesuaikan
dengan keadaan fisik lansia, dan penyakit yang diderita.

2.4.2

Hubungan pasien yang seorang perokok dengan keluhan batuk-batuk dan agak
sesak nafas.
Didalam rokok terkandung nikotin dan zat spesies O2 reaktif atau radikal
bebas. Zat ini mengaktifkan transkripsi nuclear factor KB (NF-KB) yang
mengaktifkan gen untuk meningkatkan produksi TNF dan IL-8 yang kemudian
akan menarik dan mengaktifkan neutrofil ke dalam alveolus. Setelah itu neutrofil
mengalami degranulasi dan membebaskan protease sel (elastase neutrofil,
proteinase 3 dan katepsin) sehingga terjadi kerusakan jaringan paru.

FK Al Azhar Mataram

Page 7

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Asap rokok banyak mengandung radikal bebas sehingga dapat
menyebabkan hipertrofi kelenjar mukosa. Penambahan sel goblet di epitel disertai
hilangnya epitel bersilia. Sehingga sebagai respon tubuh adalah dengan cara
batuk. Dimana batuk merupakan suatu reflek protektif yang timbul akibat iritasi
percabangan trakeobronkial. Kemampuan batuk merupakan mekanisme yang
penting untuk membersihkan saluran nafas bagian bawah. Disamping itu karena
proses penuaan otot pernafasan menjadi kaku dan kehilangan kekuatan atau
serabut elastik dan serabut retikular paru yang disertai dengan menghilangnya
kemampuan paru untuk mengembang secara elastis sehingga volume udara
inspirasi berkurang sehingga dapat menyebabkan sesak (dyspnea) sehingga
pernafasan menjadi scepat dan dangkal.
2.4.3

Tungkai tidak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan
oleh penderita
Mekanisme seseorang yang terjatuh terpleset kemungkinan bisa ke depan
atau ke belakang. Secara anatomis tungkai (ekstremitas bawah) dipersarafi oleh
serabut saraf dari vertebrata segmen lumbal dan sakral. Jadi kemungkinan besar
ketika terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma vertebrata segmen lumbal
sakral yang mengakibatkan tertekannya ramus-ramus saraf di cornu anterior
bagian dari kornum anterior di segmen lumbo sakral yang tertekan yang berfungsi
sebagai saraf motorik pada ke dua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak
dapat digerakkan.

2.4.4

Hubungan penderita mengidap kencing manis dan hipertensi dengan kejadian


tiba-tiba terpeleset di kamar mandi
Menurut skenario penurunan visus kemungkinan besar terjadi karena
pasien menderita katarak diabetik. katarak diabetik ini merupakan manifestasi
tingkat lanjut dari penyakit Diabetes Mellitus yang diderita oleh pasien usia
lanjut. katarak diabetik ini memberikan keluhan penurunan visus berupa
penurunan tajam penglihatan secara progresif dan penglihatan

tampak seperti

berasap. gejala inilah yang sering dikeluhkan oleh penderita yang menderita
FK Al Azhar Mataram

Page 8

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


katarak diabetik. penurunan visus ini merupakan salah satu penyebab jatuhnya
penderita. penyebab penurunan visus yanng lain adalah retinopati baik yang
diakibatkan oleh penyakit Diabetes mellitus maupun yang disebabkan oleh
Hipertensi. akan tatapi diskenario disebutkan bahwa pasien sudah sejak lama
dianjurkan untuk operasi mata, tetapi pasien selalu menolak. hal ini menunjukkan
bahwa pasien mengalami gangguan penglihatan dalam hal ini penurunan visus
yang perlangsungannya kronik/progresif.

2.5 Step IV Learning Objective


2.5.1

Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian jatuh dan faktor-faktor yang


mempengaruhi jatuh pada lansia.

2.5.2

Mahasiswa dapat menjelaskan komplikasi yang terjadi akibat jatuh

2.5.3

Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien


jatuh.

2.5.4

Mahasiswa dapat menjelaskan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada


pasien jatuh.

2.5.5

Menjelaskan penatalaksanaan pada pasien jatuh

2.5.6

Menjelaskan upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar pasien tidak jatuh
berulang.

2.5.7

Menjelaskan Diabetes Melitus pada lansia

2.6 Step V Belajar Mandiri


Pada tahap ini para anggota SGD akan melakukan belajar mandiri untuk
mendapatkan jawaban dari LO yang telah ditetapkan dan akan disintesiskan pada
step 6.

2.7 Step VI Sintesis Masalah


2.7.1

Definisi jatuh dan faktor-faktor yang mempengaruhi jatuh pada lansia.

FK Al Azhar Mataram

Page 9

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


a. Definisi jatuh
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi
mata,

yang

melihat

kejadian

mengakibatkan

seseorang

mendadak

terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa


kehilangan kesadaran atau luka (Darmojo, 2004).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi jatuh pada lansia.
1. Faktor intrinsik
Yang termasuk dalam faktor intrinsik, yaitu : kondisi fisik dan
neuropsikiatri (adanya penyakit SSP seperti stroke, parkinson) penurunan
visus dan pendengaran (fungsi keseimbangan), perubahan neuromuskular
(berkurangnya massa otot, kekauan jaringan penghubung, penurunan range of
motion sendi), gaya berjalan, dan refleks postural karena proses penuaan.
Penuaan dapat

berpengaruh pada kondisi fisik dan neuropsikiatrik

manusia karena terdapat perubahan-perubahan fungsi anatomi/fisiologik yang


semakin menurun, yang bisa menimbulkan berbagai penyakit atau keadaan
patologik hal ini juga pengaruh psiko-sosial pada fungsi organ. Gabungan dari
beberapa perubahan-perubahan secara tidak langsung dapat menyebabkan
jatuh pada lansia yang dikarenakan kemampuan struktur dan fungsi tubuh
yang makin menurun.
Perubahan gaya berjalan terjadi seiring denan meningkatnya usia. Kendati
perubahan tersebut tidak telalu menonjol untuk dianggap patologis, kondisi
perubahan gaya berjalan tersebut dapat meningkatkan kejadian jatuh. Pada
umumnya orang usia lanjut tidak dapat mengangkat atau menarik kakinya
cukup tinggi sehingga cenderung mudah terantuk (trip). Orang usia lanjut
laki-laki cenderung memiliki gaya berjalan dengan kedua kaki melebar dan
langkah pendek-pendek ( wide-based, short stepped gaits), sedangkan
perempuan usia lanjut sering kali berjalan dengan kedua kaki yang menyempit
( narrow based ) dan gaya bergoyang-goyang ( waddling gait). Orang usia
lanjut cenderung untuk berjalan lebih lambat dan meningkatkan kecepatan
berjalan dengan cara meningkatkan jumlah langkah per unit waktu
FK Al Azhar Mataram

Page 10

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


dibandingkan jarak satu siklus berjalan ,sertaterdapat peningkatan ayunan
postural. Pada usia lanjut yang sehat, kecepatan berjalan menurun 1-2% tiap
tahunnya dan berkaitan dengan berkurangnya panjang langkah dan jarak satu
siklus berjalan. Gerak ekstensi sendi pergelangan kaki dan rotasi pelvis
menurun, serta periode double support meningkat untuk membuat gaya
berjalan lebih stabil. Bertambahnya waktu untuk menyelesaikan satu siklus
berjalan berkaitan dengan peningkatan sebesar 5 kali resiko untuk jatuh.
Stategi postural yang sering digunakan pada usia lanjut adalah strategi
panggul, oleh karena penggunaan strategi pergelangan kaki membutuhkan
informasi somatosensorik yang adekuat semetara pada usia lanjut mungkin
terdapat kelemahan sendi atau sulit melakukan rotasi pada pergelangan kaki,
hilangnya sensasi somatosensorik perifer, dan kelemahan otot distal.
Walaupun demikian, penggunaan strategi panggul membutuhkan informasi
verstibuler yang adekuat dan gerakan pada panggul akan meningkatkan gaya
horisontal antara pijakan dan telapak kaki sehingga risiko untuk terpeleset dan
jatuh menjadi lebih besar. Jika respon ayunan postural tidak dapat
mempertahankan keseimnbangan saat ada gangguan dan diperlukam strategi
melangkah, usia lanjut cenderung melakukan beberapa langkah untuk
mengembalikan keseimbangan
Sinkop, drop attacks, dan dizziness merupakan penyebab jatuh pada orang
usia lanjut yang sering disebut-sebut. Beberapa penyebab sinkop pada orang
usia lanjut yang perlu dikenali antara lain respons vasovagal, gangguan
kardiovaskular (bradi dan takiaritmia, stenosis aorta), gangguan neurologis
akut (TIA, strok, atau kejang), emboli paru, dan gangguan metabolik.
Drop attacks merupakan kelemahan tungkai bawah mendadak yang
menyebabkan jatuh tanpa kehilangan kasadaran. Kondisi tersebut seringkali
dikaitkan dengan insufisiensi vertebrobasiler yang dipicu oleh perubahan
posisi kepala.

FK Al Azhar Mataram

Page 11

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Dizziness atau rasa tidak stabil merupakan keluhan yang sering diutarakan
oleh orang usia lanjut yang mengalami jatuh. Pasien yang mengeluh rasa
ringan di kepala harus dievaluasi secermat mungkin akan adanya hipotensi
postural atau deplesi volume intravaskular. Di sisi lain, vertigo merupakan
gejala yang lebih spesifik walaupun merupakan pemicu jatuh yang lebih
jarang. Kondisi ini dikaitkan dengan kelainan pada telinga bagian dalam
seperti labirinitis, penyakit Meniere, dan BPPV. Isemia dan infark
vertebrobasiler, serta infark serebelum juga dapat menyebabkan vertigo.
Kebanyakan pasien usia lanjut dengan gejala dizziness dan unsteadiness
meraa cemas, depresi, sangat takut jatuh, sehingga evaluasi gejala mereka
menjadi sulit. Beberapa pasien, terutama pada mereka dengan gejala ke arajh
vertigo, memerlukan pemeriksaan otologi, termasuk uji auditori, yang dapat
membedakan lebih jelas antara gejala akibat gangguan telinga dalam atau
adanya keterlibatan sistem saraf pusat.
Sekitar 10-20% orang usia lanjut mengalami hipotensi ortostatik yang
sebagian besar tidak bergejala. Namun demikian, beberapa kondisi dapat
menyebabkan hipotensi ortostatik yang berat sehingga memicu timbulnya
jatuh. Kondisi-kondisi tersebut antara lain curah jantung rendah akibat gagal
jantung atau hipovolemia, disfungsi otonom (sebagai akibat diabetes mellitus),
gangguan aliran balik vena (insufisiensi vena), tirah baring lama dengan
deconditioning otot dan refleks, serta beberapa obat. Hubungan hipotensi
ortostatik dengan hipertensi perlu dipahami sehingga tatalaksana hipertensi
yang baik amat diperlukan untuk mencegah timbulnya hipotensi ortostatik
tersebut.
Berbagai penyakit, terutama penyakit kardiovaskkular dan neurologis,
dapat berkaitan dengan jatuh. Sinkop dapat merupakan gejala stenosis aorta
dan merupakan indikasi perlunya evaluasi pasien akan adanya stenosis aorta
yang memerlukan penggantian katup. Beberapa pasien memiliki baroreseptor
karotis yang sensitif dan rentan mengalami sinkop karena refleks tonus vagal

FK Al Azhar Mataram

Page 12

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


yang meningkat akibat batuk, mengedan, atau berkemih sehingga terjadi
bradikardia atau hipotensi.
Stroke akut dapat menyebabkan jatuh atau memberikan gejala jauth. TIA
sirkulasi anterior dapat menyebabkan kelemahan unilateral dan memicu jatuh.
TIA sirkulasi posterior (vertebrobasiler) mungkin juga dapt mengakibatkan
vertigo, namun perlu disertai dengan satu atau lebih lapangan pandang.
Insufisiensi vertebrobasiler seringkali disebut sebagsi penyebab drop attacks ;
kompresi mekanik arteri vertebralis olehosteofit spina vertebra servikal
manakala kepala diputar disebutkan pula sebagai penyebab ketidak stabilan
dan jatuh.
Penyakit lain pada otak dan sistem saraf pusat dapat pula menyebabkan
jatuh. Penyakit Parkinson dan Hidrosefalus tekanan normal menyebabkan
instabilitas dan jatuh. Gangguan serebelum, tumor intrakranial, dan hematoma
subdural

juga

menyebabkan

ketidakstabilan

(unsteadiness)

dengan

kecenderungan mudah jatuh.


2. Faktor Ekstrinsik
Yang termasuk dalam faktor ekstrinsik, yaitu : obat-obatan yang diminum
(diuretik, jantung, anti depresan, sedatif, hipoglikemia, anti psikotik), alat-alat
bantu berjalan, lingkungan yang tidak mendukung, dan konsumsi alkohol.
Berbagai faktor lingkungan tersebut antara lain lampu ruangan yang
kurang terang, lantai yang licin, basah, atau tidak rata, furnitur yang terlalu
rendah atau tinggi, tangga yang tak aman, kamar mandi dengan bak mandi /
closer terlalu rendah atau tinggi dan tak memiliki alat bantu untuk
berpegangan, tali atau kabel yang berserakan di lantai, karpet yang terlipat,
dan benda-benda di lantai yang membuat seseorang terantuk.
Obat-obatan juga dapat menjadi penyebab jatuh pada orang usia lanjut.
Misalnya obat diuretika yang dikonsumsi menyebabkan seseorang berulang

FK Al Azhar Mataram

Page 13

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


kali ke kamar kecil untuk buang air kecil atau efek mengantuk dari obat
sedatif sehingga seseorang menjadi waspada saat berjalan.
Alat bantu berjalan yang kurang tepat untuk para lansia, memungkinkan
terjadinya jatuh, oleh karena itu pemilihan alat bantu dapat disesuaikan
dengan keadaan fisik lansia, dan penyakit yang diderita.

2.7.2

Komplikasi yang terjadi akibat jatuh


Menurut Kane (1996), yang dikutip oleh Darmojo (2004),
komplikasi-komplikasi jatuh adalah :
1. Perlukaan (injury)
Perlukaan (injury) mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang
terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya jaringan otot,
robeknya arteri/vena, patah tulang atau fraktur misalnya fraktur pelvis,
femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas.
2. Disabilitas
Disabilitas mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan
dengan perlukaan fisik dan penurunan mobilitas akibat jatuh yaitu
kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak.
3. Meninggal

2.7.3

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien jatuh.


A. Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya), meliputi:
Seputar jatuhnya : Mencari penyebab jatuh, misalnya terpleset,
tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, saat BAK/BAB, saat

batuk, atau bersin dan aktivitas lainnya.


Gejala yang menyertai : Seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri
kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemah, inkontinensia, sesak
nafas.

FK Al Azhar Mataram

Page 14

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

Kondisi kormobid yang relevan : Pernah menderita hipertensi,


diabetes melitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering

kejang, penyakit jantung, rematik, depresi dll.


Review obat-obatan yang diminum : Antihipertensi,

antidepresan, dll.
Review keadaan lingkungan :

Tempat

jatuh

diuretik,

apakah

licin/

bertingkat-tingkat, pencahayaan, dll


B. Pemeriksaan Fisik
Mengukur tanda vital : Tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu badan.
Kepala dan leher : Apakah terdapat penurunan visus, penurunan
pendengaran, nistagmus, gerakan menginduk, ketidak seimbangan,

bising.
Pemeriksaan Jantung : Kelainan katup, aritmia, stenosis aorta dll
Neurologi : Perubahan status mental, defisit fokal, neuropati, perifer,

kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll


Muskuluskeletal : Perubahan sendi, pembatasan gerak sendi,
deformitas, dll

C. Assesmen Fungsional
a. Fungsi gait dan keseimbangan

: observasi pasien ketika bangkit dari

kursi, berjalan, ketika membelok/ berputar badan.


b. Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan menggunakan alat
bantu atau dibantu orang lain
c. Aktivitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian, dll
2.7.4

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien jatuh.


a.

Pemeriksaan radiologis
1) Foto X-ray pelvis dan genu
2) Foto bone density

b. Pemeriksaan laboratorium
1) Darah tepi
FK Al Azhar Mataram

Page 15

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


2) Elektrolit
3) Gula darah
4) Kadar Kalsium
c.

2.7.5

Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG)

Penatalaksanaan pada pasien jatuh


Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mencegah terjadinya jatuh berulang
dan menerapi komplikasi yang terjadi, mengembalikan fungsi AKS terbaik,
mengembalikan kepercayaan diri penderita.
Penatalaksanaan penderita jatuh dengan mengatasi atau meneliminasi
faktor risiko, penyebab jatuh dan menangani komplikasinya. Penatalaksanaan ini
harus terpadu dan membutuhkan kerja tim yang terdiri dari dokter (geriatrik,
neurologik,

bedah ortopedi, rehabilitasi medik, psikiatrik, dll), sosiomedik,

arsitek dan keluarga penderita.


Penatalaksanaan bersifat individual, artinya berbeda untuk setiap kasus
karena perbedaan factor factor yang bekerjasama mengakibatkan jatuh. Bila
penyebab merupakan penyakit akut penanganannya menjadi lebih mudah,
sederhana, dan langsung bisa menghilangkan penyebab jatuh serta efektif. Tetapi
lebih banyak pasien

jatuh karena kondisi kronik, multifaktorial sehingga

diperlukan terapi gabungan

antara obat rehabilitasi, perbaikan lingkungan, dan

perbaikan kebiasaan lansia itu.


Pada kasus lain intervensi diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh
ulangan, misalnya pembatasan bepergian / aktifitas fisik, penggunaan alat bantu
gerak.
Untuk penderita dengan kelemahan otot ekstremitas bawah dan penurunan
fungsional terapi difokuskan untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot
sehingga memperbaiki nfungsionalnya. Sayangnya sering terjadi kesalahan, terapi

FK Al Azhar Mataram

Page 16

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


rehabilitasi hanya diberikan sesaat sewaktu penderita mengalami jatuh, padahal
terapi ini diperlukan terus menerus sampai terjadi peningkatan kekuatan otot
dan status fungsional. Penelitian yang dilakukan dalam waktu satu tahun di
Amerika Serikat terhadap pasien jatuh umur lebih dari 75 tahun, didapatkan
peningkatan kekuatan otot

dan ketahanannya baru terlihat nyata setelah

menjalani terapi rehabilitasi 3 bulan, semakin lama lansia melakukan latihan


semakin baik kekuatannya.
Terapi untuk penderita dengan penurunan gait dan keseimbangan
difokuskan

untuk

mengatasi

mengeliminasi

penyebabnya/faktor

yang

mendasarinya. Penderita dimasukkan dalam program gait training, latihan


strengthening dan pemberian alat

bantu jalan. Biasanya program rehabilitasi

ini dipimpin oleh fisioterapis. Program ini

sangat membantu penderita dengan

stroke, fraktur kolum femoris, arthritis, Parkinsonisme.

Penderita dengan dissines sindrom, terapi ditujukan pada penyakit


kardiovaskuler yang mendasari, menghentikan obat obat yang menyebabkan
hipotensi postural seperti beta bloker, diuretik, anti depresan, dll. Terapi yang
tidak boleh dilupakan adalah memperbaiki lingkungan rumah / tempat kegiatan
lansia seperti di pencegahan jatuh
2.7.6

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar pasien tidak jatuh berulang.
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila
sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.
Ada 3 usaha pokok untuk pencegahan, antara lain : ( Tinetti, 1992; Van
der Cammen, 1991; Reuben, 1996 )
1. Identifikasi faktor resiko

FK Al Azhar Mataram

Page 17

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari
adanya faktor intrinsik risiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan
sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering
mendasari / menyebabkan jatuh.
Keadaan

leingkungan

menyebabkan jatuh

rumah

yang

berbahaya

dan

dapat

harus dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup

tetapi tidak menyilaukan. Lantai

rumah datar, tidak licin, bersih dari

benda benda kecil yang susah dilihat. Peralatan

rumah tangga yang

sudah tidak aman ( lapuk, dapat bergeser sendiri ) sebaiknya diganti,


peralatan rumah ini sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin,
sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka.
WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

Obat obatan yang menyebabkan hipotensi postural, hipoglikemik


atau

penurunan kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan

dengan penjelasan yang komprehensif pada lansia dan keluargannya


tentang risiko terjadinya jatuh akibat minum obat tertentu.
Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod,
kruk atau walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman
tidak mudah bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.
2. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan ( gait )
Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya
dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural
sway sangat

diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia.

Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat berisiko jatuh, maka
diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan
FK Al Azhar Mataram

Page 18

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


( gait ) juga harus dilakukan dengan cermat apakah penderita mengangkat
kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas
bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu
harus dikoreksi bila terdapat kelainan / penurunan.
3. Mengatur / mengatasi fraktur situasional
Faktor situasional yang bersifat serangan akut / eksaserbasi akut,
penyakit yang dideriata lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin
kesehatan lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan
dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti
tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas

fisik

dapat

dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan


pada penderita aktifitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita,
aktifitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan
baginya sesuai hasil

pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan

tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan
aktifitas fisik sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya
jatuh.

2.7.2

Diabetes Melitus pada lansia


Diabetes melitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi
defisiensi insulin atau retensi insulin, di tandai dengan tingginya keadaan glukosa
darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan
sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya
sekresi insulin secara absolut / relatif dan atau adanya gangguan fungsi insulin.
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia (Mansjoer, 2000).

FK Al Azhar Mataram

Page 19

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang
ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner
dan Suddarth, 2002).
Diabetes mellitus merupakan penyakit sistemis, kronis, dan multifaktorial
yang dicirikan dengan hiperglikemia dan hipoglikemia. ( Mary,2009).

Patofisiologi
Pada populasi

orang

tua

terjadi

perubahan-perubahan

terkait

bertambahnya usia, sepertiregulasi-regulasi terkait genetik, kebiasaan, dan


pengaruh lingkungan yang berkontribusi padamunculnya diabetes mellitus.
Pada pembahasan patofisologi ini, Kami akan fokuskan pada DMtipe 2,
dimana terutama terkait dengan perubahan-perubahan pada tubuh terkait usia.
Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin yang mana pada usia lanjut
disebabkan oleh 3 faktor yaitu, yaitu:
1. Terjadi perubahan komposisi tubuh yaitu penurunan jumlah massa otot
dan peningkatan jumlah jaringan lemak yang mengakibatkan
menurunnya jumlah serta sensitivitas reseptor insulin.
2. Penurunan aktivitas fisik yang mengakibatkan penurunan jumlah
reseptor insulin.
3. Perubahan neuro-hormonal khususnya insulin-like growth factor-1
(IGF-1) dan dehydroepandrosteron (DHEAS) turun sampai 50% pada
usia lanjut yang mengakibatkan penurunan ambilan glukosa karena
menurunnya sensitivitas reseptor insulin serta turunnyaaksi insulin.

(Rochmah, 2009)
Etiologi
Pada lansia cenderung terjadi peningkatan berat badan, bukan karena
mengkonsumsi kalori berlebih namun karena perubahan rasio lemak-otot dan
penurunan laju metabolisme basal. Hal ini dapat menjadi faktor predisposisi
terjadinya diabetes mellitus. Penyebab diabetes mellitus pada lansia secara
umum dapat digolongkan ke dalam dua besar:
Proses menua/kemunduran (Penurunan sensitifitas indra pengecap,
penurunan fungsi pankreas, dan penurunan kualitas insulin sehingga
insulin tidak berfungsi dengan baik).

FK Al Azhar Mataram

Page 20

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

Gaya hidup (life style) yang jelek (banyak makan, jarang olahraga,
minum alkohol, dll.) Keberadaan penyakit lain, sering menderita stress
juga dapat menjadi penyebab terjadinya diabetes mellitus. Selain itu
perubahan fungsi fisik yang menyebabkan keletihan dapat menutupi
tanda dan gejala diabetes dan menghalangi lansia untuk mencari
bantuan medis. Keletihan, perlu bangun pada malam hari untuk buang
air kecil, dan infeksi yang sering merupakan indikator diabetes yang
mungkin tidak diperhatikan oleh lansia dan anggota keluarganya
karena mereka percaya bahwa hal tersebut adalah bagian dari proses
penuaan itu sendiri.

Klasifikasi
Diabetes melitus tipe I:
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut
baik melalui proses imunologik maupun idiopatik.
Karakteristik Diabetes Melitus tipe I:

Mudah terjadi ketoasidosis


Pengobatan harus dengan insulin
Onset akut
Biasanya kurus
Biasanya terjadi pada umur yang masih muda
Berhubungan dengan HLA-DR3 dan DR4
Didapatkan antibodi sel islet
10%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
Diabetes melitus tipe II bervariasi mulai yang predominan

resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan


gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
Karakteristik DM tipe II:
FK Al Azhar Mataram

Page 21

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

Sukar terjadi ketoasidosis


Pengobatan tidak harus dengan insulin
Onset lambat
Gemuk atau tidak gemuk
Biasanya terjadi pada umur > 45 tahun
Tidak berhubungan dengan HLA
Tidak ada antibodi sel islet
30%nya ada riwayat diabetes pada keluarga
100% kembar identik terkena

Manifestasi Klinis
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada
lansia umumnya tidak ada. Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda
disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia
disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada
pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat
terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada
stadium lanjut. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan
akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.
Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua,
sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus
dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya
gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta
kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh
dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang
sering ditemukan adalah :

FK Al Azhar Mataram

Katarak
Glaukoma
Retinopati
Gatal seluruh badan
Pruritus Vulvae
Infeksi bakteri kulit
Page 22

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

Infeksi jamur di kulit


Dermatopati
Neuropati perifer
Neuropati viseral
Amiotropi
Ulkus Neurotropik
Penyakit ginjal
Penyakit pembuluh darah perifer
Penyakit koroner
Penyakit pembuluh darah otak
Hipertensi

Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi
komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe
diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
a. Diet
Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15%
Protein, 75% Karbohidrat kompleks direkomendasikan untuk mencegah
diabetes. Kandungan rendah lemak dalam diet ini tidak hanya mencegah
arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor insulin.
b. Latihan
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes.
Pemeriksaan sebelum latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa
klien lansia secara fisik mampu mengikuti program latihan kebugaran.
Pengkajian pada tingkat aktivitas klien yang terbaru dan pilihan gaya hidup
dapat membantu menentukan jenis latihan yang mungkin paling berhasil.
Berjalan atau berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan
permulaan yang sangat baik untuk para pemula. Untuk lansia dengan NIDDM,
olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi fisiologis dengan
mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan kesejahteraan

FK Al Azhar Mataram

Page 23

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan berat
badan.
c. Pemantauan
Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu
diperiksa secara rutin. Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus
dipantau untuk mengetahui terjadinya obesitas yang dapat meningkatkan
resiko DM pada lansia.
d. Terapi (jika diperlukan)
Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan
dan efektif hanya untuk penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga
dapat dilakukan untuk mepertahankan kadar glukosa darah dalam
parameter yang telah ditentukan untuk membatasi komplikasi penyakit
yang membahayakan.
e. Pendidikan

Diet yang harus dikomsumsi

Latihan

Penggunaan insulin

Pemeriksaan Diagnostik
a. Glukosa darah sewaktu
b. Kadar glukosa darah puasa
c. Tes toleransi glukosa
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali
pemeriksaan:
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

Komplikasi Diabetes Melitus

FK Al Azhar Mataram

Page 24

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis.
Yang termasuk dalam komplikasi akut adalah hipoglikemia, diabetes
ketoasidosis (DKA), dan hyperglycemic hyperosmolar nonketocic coma
(HHNC). Yang termasuk dalam komplikasi kronis adalah retinopati diabetic,
nefropati diabetic, neuropati, dislipidemia, dan hipertensi.
1. Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin
yang berat pada jaringan adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan
tersebut termasuk sangat sensitive terhadap kekurangan insulin. DKA
dapat dicetuskan oleh infeksi ( penyakit)
2. Retinopati diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada
pembuluh retina. Terdapat pula bagian iskemik, yaitu retina akibat
berkurangnya aliran darah retina. Respon terhadap iskemik retina ini
adalah pembentukan pembuluh darah baru, tetapi pembuluh darah
tersebut sangat rapuh sehingga mudah pecah dan dapat mengakibatkan
perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa mengakibatkan ablasio retina
atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen.
3. Nefropati diabetic
Lesi

renal

yang

khas

dari

nefropati

diabetic

adalah

glomerulosklerosis yang nodular yang tersebar dikedua ginjal yang


disebut sindrom Kommelstiel-Wilson. Glomeruloskleriosis nodular
dikaitkan dengan proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi sindrom
Kommelstiel-Wilson ditemukan hanya pada DM.

4. Neuropati
FK Al Azhar Mataram

Page 25

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan


Neuropati diabetic terjadi pada 60 70% individu DM. neuropati
diabetic yang paling sering ditemukan adalah neuropati perifer dan
autonomic.
5. Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia.

6. Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan
penyakit ginjal, mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien
dengan DM tipe 2, hipertensi bisa menjadi hipertensi esensial.
Hipertensi harus secepat mungkin diketahuin dan ditangani karena bisa
memperberat retinopati, nepropati, dan penyakit makrovaskular.
7. Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu
neuropati, iskemia, dan sepsis. Biasanya amputasi harus dilakukan.
Hilanggnya sensori pada kaki mengakibatkan trauma dan potensial
untuk ulkus. Perubahan mikrovaskuler dan makrovaskuler dapat
mengakibatkan iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati, iskemia, dan
sepsis bisa menyebabkan gangrene dan amputasi.
8. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di
bawah 60 mg/dl, yang merupakan komplikasi potensial terapi insulin
atau obat hipoglikemik oral. Penyebab hipoglikemia pada pasien
sedang menerima pengobatan insulin eksogen atau hipoglikemik oral.

BAB III
FK Al Azhar Mataram

Page 26

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

KESIMPULAN
Jatuh merupakan suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata, yang melihat
kejadian mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih
rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.
Salah satu masalah utama seorang lansia sering mudah jatuhdisebabkan faktor intrinsik:
gangguan gaya berjalan, kelemahan otot-ototkaki, kekakuan sendi, sinkop/ hilang kesadaran
sejenak dan dizziness ataugoyang, atau faktor ekstrinsik yang menjadi penyebabnya: lantai yang
licindan tidak rata, tersandung benda-benda, cahaya kurang terang sehingga terganggu
penglihatannya, dan sebagainya.

FK Al Azhar Mataram

Page 27

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

DAFTAR PUSTAKA
Darmojo-Boedhi.2004.Geriatri
Lansia

Sering

Tiba-tiba

(Ilmu

Kesehatan

Roboh

from

Usia
:

Lanjut).

FKUI

Jakarta

http://www.republika.co.id

Mekanisme Keseimbangan Postural Pada Lansia from : http://www.rumahweb.com


Guyton dan Hall, 2006, Medical Physiology 11th Edition, Elsevier, Philadelphia.
Kasper, Dennis L., dkk, 2005, Harrisons Principle of Interna Medicine 16th Edition,Mc-Graw
Hill New York.
Lllmann, Heinz dkk, 2000, Color Atlas of Pharmacology,. Thieme, New York.
Martono, Hadi, dkk, 2009, Buku Ajar GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Balai Penerbit ,
Jakarta
Price, A. Sylvia, dan Wilson, Lorraine M., 2006, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sherwood, Lauralee., 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Sudoyo, Aru, dkk, 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V, Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam, Jakarta.

FK Al Azhar Mataram

Page 28

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 29

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 30

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 31

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 32

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 33

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 34

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 35

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 36

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 37

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 38

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 39

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 40

LBM II : jatuh dan gangguan berjalan

FK Al Azhar Mataram

Page 41