Anda di halaman 1dari 4

Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140

mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang
waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Depkes, 2007).
Hipertensi adalah suatu keadaan diamana dijumpai tekanan darah lebih dari 140/90
mmHg atau lebih untuk usia 13-50 tahun dan tekanan darah mencapai 160/95 mmHg untuk
usia di atas 50 tahun, dan harus dilakukan pengukuran tekanan darah minimal sebanyak dua
kali untuk pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/ tenang.
Batas normal tekanan darah adalah 120-140 mmHg tekanan sistolik dan 80-90 mmHg
tekanan diastolik.
Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke dan gagal ginjal.
Disebut

sebagai

pembunuh

diam-diam karena

orang

hipertensi

sering

tidak

menampakan gejala. Sekitar 20% populasi dewasa mengalami hipertensi, lebih dari 90%
diantaranya mereka menderita hipertensi esensial (primer), dimana tidak dapat ditentukan
penyebab medisnya. Sisanya mengalami kenaikan tekanan darah dengan penyebab tertentu
(hipertensi sekunder), seperti penyempitan arteri renalis atau penyakit parenkhim ginjal,
berbagai obat, tumor, dan kehamilan (Smeltzer & Bare, 2006).
Penyakit hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga didunia setiap tahunnya. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah penderita hipertensi akan terus meningkat
seiring dengan jumlah penduduk yang yang semakin bertambah banyak. Pada tahun 2025
mendatang diperkirakan sekitar 29 % warga dunia menderita hipertensi. Presentase penderita
hipertensi saat ini paling banyak terdapat di negara berkembang. Data Global Status Report
on Noncomunicable Diseases 2010 dari WHO menyebutkan 40 % negara ekonomi
berkembang memiiki penderita hipertensi, sedangkan megara maju hanya 35 % . kawasan
Afrika memegang posisi puncak penderita hipertensi sebanyak 46 %, sementara kawasan
Amerika menempati posisi buncit dengan 35 %.Di kawasan Asia Tenggara 36 % orang
dewasa menderita hipertensi(Http://health.kompas.com, diperoleh 23 februari 2014).
Prevalensi diseluruh dunia, diperkirakan 15-20%. Diprediksikan oleh WHO pada tahun 2025
nanti sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi (Depkes RI, 2006). Di
Asia diperkirakan prevalensi hipertensi sudah mendekati prevalensi di dunia yaitu mencapai
8-18%.
Pengobatan awal pada hipertensi sangatlah penting karena dapat mencegah timbulnya
komplikasi pada beberapa organ tubuh seperti jantung, ginjal, dan otak. Untuk mengobatan
hipertensi tidak hanya menggunakan obat-obatan, karena menimbulkan efek samping yang
sangat berat, selain itu menimbulkan ketergantungan apabila penggunaan obat dihentikan

dapat menyebutkan peningkatan resiko terkena serangan jantung atau stroke (Surendra F,
2007). Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi kenaikan kasus hipertensi sekitar 80% dari 639
juta kasus di tahun 2000, terutama di negara berkembang, menjadi 1,5 miliar kasus (Fikriana
R, dkk., 2012). Hipertensi berhubungan secara linear dengan morbiditas dan mortalitas
penyakit kardiovaskular.
Prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 %. Prevalensi didapat melalui
pengukuran pada umur 18 tahun sebesar 25,8 %, tertinggi di Bangka Belitung 30,9 %, di
ikuti Kalimantan Selatan 30,8 %, Kalimantan Timur 29,6 %, dan Jawa Barat 29,4 %. Jadi
prevalensi

hipertensi

di

indonesia

sebesar

26,5

%.

(RISKESDAS,

2013,

http://www.depkes.go.id, diperoleh 12 februari 2014).


Di Indonesia prevalensi nasional hipertensi pada penduduk umur >18 tahun lebih tinggi
dibanding dengan rata-rata di Asia yaitu sebesar 29,8%. Hipertensi merupakan penyebab
kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, yakni mencapai 6,7% dari populasi
kematian pada semua umur di Indonesia. Hipertensi merupakan gangguan sistem peredaran
darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah di atas normal, yaitu 140/90 mmHg. Hasil
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Balitbangkes tahun 2007 menunjukan prevalensi
hipertensi secara nasional mencapai 31,7% (Depkes, 2010). Prevalensi nasional Hipertensi
Pada Penduduk Umur > 18 Tahun adalah sebesar 29,8% (berdasarkan pengukuran). Sebanyak
10 provinsi mempunyai prevalensi Hipertensi pada penduduk umur > 18 tahun diatas
prevalensi nasional, yaitu Riau, Bangka Belitung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur,
Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Barat.
Hasil

Riset

Kesehatan

Dasar

(2007) menunjukkan,

sebagian

besar

kasus

hipertensi di masyarakat belum terdiagnosis. Hal ini terlihat dari hasil pengukuran
tekanan darah pada usia 18 tahun ke atas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia
sebesar 31,7% (Kemenkes RI, Riskesdas 2007). Penyebab penyakit hipertensi secara
umum diantaranya penyempitan arteri yang mensuplai darah ke ginjal, aterosklerosis
(penebalan dinding arteri yang menyebabkan hilangnya elastisitas pembuluh darah)
keturunan, umur, jenis kelamin, tekanan psikologis, stres, kegemukan (obesitas), kurang
olahraga dan kolesterol tinggi. Akibat tingginya tekanan darah yang lama tentu saja
akan merusak pembuluh darah diseluruh tubuh, yang paling jelas pada mata, jantung,
ginjal dan otak. Konsekuensi pada hipertensi yang lama tidak terkontrol adalah
gangguan penglihatan, oklusi koroner, gagal ginjal dan stroke. Selain itu jantung juga
membesar karena dipaksa meningkatkan beban kerja saat memompa melawan tingginya

tekanan darah (Smeltzer & Bare, 2006). Menurut WHO (World Health Organization) tahun
2013 penyakit kardiovaskular telah menyebabkan 17 juta kematian tiap tahun akibat
komplikasi hipertensi yaitu sekitar 9,4 juta tiap tahun di seluruh dunia (A Global Brief on
Hypertension, 2013).
Prevalensi Penyakit Hipertensi pada tahun 2008 hingga tahun 2010 menunjukkan
adanya penurunan kasus yang cukup tinggi, pada tahun 2008 sebesar 865204 jiwa, pada
tahun 2009 sebesar 698816 jiwa, pada tahun 2010 sebesar 562117 jiwa. Namun, pada tahun
2011 terjadi peningkatan jumlah kasus yaitu sebesar 634860 jiwa (Dinkesprov, 2011).
Di Kabupaten Ciamis, penyakit hipertensi merupakan penyakit yang menjadi masalah
kesehatan dengan menempati urutan pertama dari jenis penyakit non infeksi. Setiap tahunnya
selalu terjadi peningkatan jumlah kasus. Pada tahun 2006, jumlah penderita hipertensi
sebanyak 27.462 penderita, sedangkan pada tahun 2007 terjadi peningkatan jumlah kasus
menjadi 31.676 penderita (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis).
Kecamatan Lakbok merupakan salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Ciamis
Propinsi Jawa Barat. Pada tahun 2012 jumlah penderita hipertensi di Puskesmas Lakbok
sebanyak 553 orang, dan menempati urutan kedua dari lima besar penyakit. Tahun 2013
terjadi peningkatan jumlah kasus menjadi 980 orang, dan paling banyak terdapat di Desa
Cintaratu (Profil Puskesmas Lakbok, 2014).
Oleh sebab itu, penyakit hipertensi harus dicegah dan diobati serta dikendalikan
dengan baik. Untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas hipertensi, para ahli
kesehatan berupaya dengan cara terapi medis secara farmakologi seperti menggunakan obatobatan yang dianjurkan oleh dokter dan non-farmakologi seperti terapi rendam kaki air
hangat. Karena berasal dari bahan alami yang mudah di dapatkan dan juga relatif murah.
Terapi ini sangat mudah dilakukan dan juga sangat murah karena air hangat merupakan
kebutuhan sehari-hari pada kehidupan masyarakat (Susilo Y, 2011).
Hidroterapi ( bahasa Indonesia) merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu hydrotherapy.
Hydrotherapy terdiri dari dua suku kata, yaitu : Hydro yang berari air dan Therapy yang
berarti terapi.
Hidroterapi adalah salah satu jenis terapi pengobatan alternatif yang menggunakan air
sebagai sarana pengobatannya. (Novita, 2008).
Hidroterapi dibagi menjadi dua yaitu :

Hidroterapi secara langsung, yakni air dalam bentuk cair

Hidroterapi tidak langsung yaitu perawatan air dalam bentuk padat seperti es, atau
dalam bentuk udara seperti uap

Pembagian dalam hidroterapi secara langsung dibagi menjadi dua hal yaitu :

Hydrothermal

Hydrokinetic
Hidroterapi adalah prosedur yang sederhana namun efektif terhadap seluruh sirkulasi

darah dalam tubuh. Dengan membesarkan pembuluh- pembuluh darah pada kaki dan tungkai,
maka merendam kaki dalam air hangat itu dapat meredakan sumbatan- sumbatan di bagianbagian tubuh yang lain, seperti otak, paru- paru, atau organ-organ di dalam perut dan darah
akan dialirkan dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lainnya. (Clemency Mitchell,
2007)
Hidroterapi adalah salah satu jenis terapi pengobatan alternatif yang menggunakan air
sebagai sarana pengobatannya. (Novita, 2008)
Secara ilmiah air hangat mempunyai dampak fisiologis bagi tubuh. Pertama
berdampak pada pembuluh darah dimana hangatnya air membuat sirkulasi darah menjadi
lancar, yang kedua adalah faktor pembebanan di dalam air yang menguntungkan otot- otot
dan ligament yang mempengaruhi sendi tubuh (Hambing A, 2000). Menurut Peni (2008),
penderita hipertensi dalam pengobatannya tidak hanya menggunakan obat- obatan tetapi bisa
menggunakan alternatif non farmakologis dengan menggunakan metode yang lebih murah
dan mudah yaitu dengan menggunakan terapi rendam kaki air hangat dapat digunakan
sebagai salah satu terapi yang dapat memulihkan otot sendi yang kaku serta dapat
menurunkan tekanan darah apabila dilakukan secara kesadaran dan kedisiplinan (Madyastuti
L, 2011).
Prinsip kerja dari hidroterapi rendam air hangat ini yaitu dengan menggunakan air
hangat yang bersuhu sekitar 40,5 43 oC secara konduksi dimana terjadi perpindahan panas
dari air hangat ke kaki sehingga akan membantu meningkatkan sirkulasi darah dengan
memperlebar pembuluh darah akibatnya lebih banyak oksigen dipasok ke jaringan yang
mengalami pembengkakan,

ketegangan otot dan memperbaiki sistem saraf serta

memperbaiki metabolisme tubuh.