Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN SKILL LAB I

DINAMIKA KELOMPOK

Moderator

: M. Ilham Satya

Sekretaris

: Mela Roza
Sandra Magdalena Devina P

Anggota

: Annisa Khaira Ningrum


Devia Amalia
Dian Amalia Azka
Mela Roza
Nadya Ayu Saraswati
Puji Lestari
Syinthia Audri
Tri Wulandari

PENDIDIKAN DOKTER UMUM


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat dan karuniaNya proses dan laporan Skill Lab I Dinamika
Kelompok dapat terselesaikan dengan baik.
Laporan ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas Skill Lab
sebagai bagian dari sistem pembelajaran KBK di Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.
Kami selaku tim penyusun mengucapkan terimakasih kepada dr. Dwi
Handayani selaku tutor kelompok yang telah membimbing kami dalam
proses Skill Lab serta seluruh pihak yang telah membantu dalan
penyusunan laporan Skill Lab ini.
Laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan
kritik dari pembaca akan sangat bermanfaat bagi kami tim penyusun
untuk perbaikan kedepannya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi proses pembelajaran
selanjutnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Palembang, September 2013

Tim Penyusun

SKENARIO
Nn. A, 15 tahun, adalah seorang siswi SMU swasta di Kertapati. Nn. A bangun
kesiangan sehingga tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Pada jam
istirahat Nn. A jajan di warung pinggir jalan. Keesokan harinya di sekolah Nn. A
mengeluh perutnya sakit dan mencret 4 kali, lalu temannya mengantar Nn. A ke
puskesmas terdekat. Dalam perjalanan, Nn.A tersandung dan lututnya luka lecet.
Hasil pemeriksaan dokter Nn.A menderita diare akut, dianjurkan minum oralit dan
luka lecetnya dibersihkan dengan antiseptik.
I.

Klarifikasi Istilah
1. Mencret = sering BAB dengan tinja yang cair.
2. Akut = timbul secara mendadak; memerlukan pemecahan segera;
gawat; mendesak.
3. Oralit = obat berupa bubuk garam untuk dicairkan sebagai pengganti
mineral dan cairan akibat penyakit mencret.
4. Luka lecet = luka basah, lapisan luar kulit terkelupas.
5. Antiseptik = zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme tanpa perlu mematikan mereka.
6. Puskesmas = poliklinik tingkat kecamatan tempat rakyat menerima
pelayanan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
7. Diare = pengeluaran tinja berair berkali-kali yang tidak normal.

II.

Identifikasi Masalah
1. Nn. A menderita diare akut, dianjurkan minum oralit dan luka lecetnya
dibersihkan dengan antiseptik.
2. Nn. A mengeluh perutnya sakit dan ia mencret sebanyak empat kali.
3. Nn. A tersandung dan lututnya luka lecet.
4. Nn. A bangun kesiangan sehingga tidak sempat sarapan dan jajan di
warung pinggir jalan.

III.

Analisis Masalah
1. Nn. A menderita diare akut, dianjurkan minum oralit dan luka lecetnya
dibersihkan dengan antiseptik.
a. Apa yang menyebabkan diare akut?
1. Virus
Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak-anak (70-80
%) . beberapa jenis virua penyebab diare akut adalah :
Rotavirus serotype 1,2,8, dan 9 : pada manusia
Rotavirus serotype 3 dan 4 didapati pada hewan dan
manusia
Rotavirus serotype 5,6, dan 7 didapati hanya pada hewan
Norwalk virus : terdapat pada semua usia umumnya akibat
foof borne atau water borne transmii dan dapat juga terjadi
pernularan person to person
Astrovirus didapati pada anak dan dewasa
Adenovirus (type 40,41)
3

Cytomegalovirus
2. Bakteri
Enterotoxigenic E.coli (ETEC). Mempunyyai dua faktor
virulensi yang penting yaitu faktor kolonisasi yang
menyebabkan bakteri ini melekat pada eritrosit pada usus
halus dan enterotoksin (heat labile (HL) dan heat stabile
(ST)) yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit yang
mengahsilkan watery diarrhea. ETEC tidak menyebabkan
kerusakan brush border atau menginvasi mukosa.
Enterophatogenic E.coli (EPEC). Mekanisme terjadi diare
belum jelas. Didapatinya proses perlekatan EPEC ke epitel
usus menyebabkan kerusakan dari membran mikrovili yang
akan mengganggi permukaan absorbsi dan aktifitas
disakaridase
Enteroaggregative E.coli (EAggEC). Bakteri ini melekat kuat
pada mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan
morfologi yang khas. Bagaimana mekanisme timbulnya diare
masih belum jelas, tetapi sitotoksin mungkin memegang
peranan.
Enteroinvasive E.coli (EIEC). Secara serologi dan biokimia
mirip dengan Shigella. Seperti Shigella, EIEC melakukan
penetrasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon,
menyebabkan kematian aliran darah. Faktor virulensi
termasuk : smooth lipopolysaccharide cel-wall antigen yang
mempunyai aktifitas endotoksin serta membantu proses
invasi dan toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin) yang
bersifat sitotoksik dan
neurotoksik dan mungkin
menimbulkan watery diarrhea.
Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni). Manusia terinfeksi
melalui kontak langsung dengan hewan (unggas, anjing,
kucing, domba dan babi) atau dengan feses hewan melalui
makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam dan air.
Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak
langsung person to person . C.jejuni mungkin menyebabkan
diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus besar. Ada
dua tipe toksin yang dihasilkan yaiu cytotoxin dan heat-labile
enterotoxin. Perubahan histopatologi yang terjadi mirip
dengan proses ulcerative colitis.
Vibrio cholerae 01 dan V.choleare 0139. Air atau makanan
yang terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera.
Penularan melalui person to person jarang terjadi. V.cholerae
melekat dan berkembang biak pada mukosa usus halus dan
menghasilkan enteroksin yang menyebabkan diare. Toksin
kolera ini mirip dengan heat-labile toxin (LT) dari ETEC.
4

Penemuan terakhir adanya enterotoksin yang lain yang


mempunyai karakteristik tersendiri, seperti accessory cholera
entrerotoxin (ACE) dan zonular occludens toxin (ZOT).
Kedua toksin ini menyebabkan sekresi cairan kedalam
lumen usus.
Salmonella (non thypoid). Salmonella dapat menginvasi sel
epitel usus. Enterotoksin yang dihasilkan menyebbkan diare.
Bila terjadi kerusakan mukosa yang menimbulkan ulkus,
akan terjadi bloody diarrhea.
3. Protozoa
Igiardia lambia. Parasit ini menginfeksi usus halus.
Mekanisme patogenesis masih belum jelas tapi dipercayai
mempengaruhi absorbsi dan metabolisme asam empedu.
Transmisi melalui fecal-oral route. Interaksi host-parasite
dipengaruhi oleh umur, status, nutrisi, endemisitas, dan
status imun. Didaerah dengan endemisitas yang tinggi,
giardiasis, dapat berupa asimtomatis, kronik, diare parsisten
dengan atau tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan
endemisitas rendah, dapat terjadi wabah dalam 5-8 hari
setalah terpapar dengan manifestasi diare akut yang disertai
mual, nyeri, epigastrik, dan anoreksia. Kadang-kadang
dijumpai malabsorbsi dengan faty stools, nyeri perut dan
gembung.
Entamoeba histolytica. Prevalensi disenti amoeba ini
bervariasi, namun penyebarannya diseluruh dunia.
Insidennya meningkat dengan bertambahnya umur dan
teranak pada laki-laki dewasa. Kira-kira 90% infeksi
asimtomatik yang disebabkan oleh E.histolytica non
patogenik (E.dispar). amebiasis yang simtomatik dapat
berupa diare yang ringan dan parsisten sampai disentri yang
fulminant.
Cryptosporidium
.
dinegara
yang
berkembang,
cryptosporidiosis 5-15% dari kasus diare anak. Infeksi
biasanya simtomatik pada bayi dan asimtomatik pada anak
yang lebih besar dan dewasa. Gejaa klinis berupa diare akut
dengan tipe watery diarrhea, ringan dan biasanya selflimited. Pada penderita dengan gangguan sistem kekebalan
tubuh seperti pada penderita AIDS, cryptosporidiosis
merupakan remerging diaseas dengan diare yang lebih berat
dan resisten terhadap beberapa jenis antibiotik.
Microsporidium spp
Isospora belli
Cyclospora cayatanensis
4. Helminths
5

Strongyloides stercoralis. Kelainan pada mukosa usus akibat


cacing dewasa dan larva, menimbulkan diare.
Schistosoma spp. Cacing darah ini menimbulkan kelainan
pada organ termasuk intestinal dengan berbagai manifestasi,
termasuk diare dan perdarahan usus.
Capilaria philippinensis. Cacing ini ditemukan di usus halus,
terutama jejunum, menyebabkan inflamsi dan atrofi gejala
klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen.
Trichuris trichuria . Cacing dewasa hidup di kolon, caecum
dan appendix. Infeksi berat dapat menimbulkan bloody
diarrhea dan nnyeri abdomen.

b. Mengapa Nn. A dianjurkan minum oralit?


Oralit adalah larutan untuk merawat diare. Larutan ini sering
disebut rehidrasi oral. Larutan rehidrasi oral ini mempunyai nama
generik oralit dan larutan inisekarang dijual dengan berbagai merek
dagang seperti Alphatrolit, Aqualyte, Bioralitdan Corsalit.
Terdapat dua jenis oralit, yaitu oralit dengan basa sitrat (LGOS)
dan oralit basa bikarbonat (LGOB).
Oralit berikan karena memiliki kandungan yang bisa
menggantikan cairan dalam tubuh,
Larutan ini mempunyai komposisi campuran:
Natrium klorida
kalium klorida
glukosa anhidrat
natrium bikarbonat
sehingga Nn. A dianjurkan dokter minum oralit agar tidak
dehidrasi.
c. Apa kandungan antiseptik
Alkohol, beberapa jenis alkohol telah terbukti menjadi
antimikroba yang efektif , etil alkohol (etanol, alkohol), isopropil
alkohol (isopropanol, propan-2-ol ) (digunakan di Amerika
Serikat) dan n-propanol (khususnya di Eropa) adalah yang
paling banyak digunakan untuk desinfeksi dan antiseptik kulit.
Digolongkan sebagai Kategori I, mereka aman dan efektif untuk
perawatan kesehatan dan handwash, scrub tangan bedah dan
pasien pra operasi persiapan kulit. Alkohol memiliki baik in vitro
aktivitas bakterisida terhadap Bakteri yang paling gram positif
dan gram negatif . Mereka juga membunuh Mycobacterium
tuberculosis , berbagai jamur dan virus.
Yodium, selama lebih dari satu abad , yodium telah dianggap
sebagai salah satu yang paling manjur antiseptik untuk
6

mengurangi komplikasi infeksi dan bentuk yodium topikal telah


digunakan untuk pengobatan luka. Bentuk paling sederhananya
yakni yodium Lugol namun jenis ini bersifat kaustik. Jenis
lainnya Tingtur yodium, mengandung sekitar 2% yodium, telah
lama digunakan sebagai persiapan kulit sebelum operasi.
Chlorhexidine gluconate dan
Polyhexanide/Polyhexamethylenebiguanide, digunakan sebagai
biosida dalam antiseptik produk , khususnya dalam mencuci
tangan dan produk lisan tetapi juga sebagai desinfektan dan
pengawet ( 9,17 ) . Untuk pengobatan luka dengan melakukan
pengenceran 0,05 % dan 4 % untuk digunakan persiapan bedah
kulit dan hand scrub.
Hapophenol (chloroxylenol), digunakan dalam antiseptik atau
pembuatan desinfektan. Chloroxylenol adalah bakterisida.
Karena sifatnya fenoliknya, pada konsentrasi dari 0,5-4,0 %
bertindak dengan dinding sel mikroba gangguan dan inaktivasi
enzim. Memiliki aktivitas yang baik terhadap bakteri gram positif,
tetapi kurang aktif terhadap gram negatif bakteri, Mycobacterium
tuberculosis , jamur dan virus.
Triclosan dan hexachlorophane yang sebagian besar biosida
banyak digunakan dalam kelompok ini, terutama dalam sabun
antiseptik dan bilasan tangan. kedua senyawa telah terbukti
memiliki kumulatif dan efek gigih pada kulit. Hexachlorophene
terutama efektif terhadap bakteri gram positif.
Hydrogen peroxides, H2O2 adalah biosida banyak digunakan
untuk desinfeksi, sterilisasi dan antisepsis . Ini adalah jelas,
cairan tak berwarna yang tersedia secara komersial dalam
berbagai konsentrasi mulai dari 3% menjadi 90 % . Ini tersedia
oksidan dengan cepat diubah menjadi sangat reaktif radikal
hidroksil yang merusak komponen seluler . Meskipun secara
luas dianggap berbahaya dan ramah lingkungan, namun
penggunaannya justru memberikan infeksi bukan
mencegahnya.

d. Apa saja gejala diare akut?


Gejalanya ialah penderita sudah banyak kehilangan cairan dari
tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami
takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi
yang menyebar, tidak ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun
besar menjadi sangat cekung, tidak ada produksi air mata, tidak
mampu minum dan keadaannya mulai apatis, kesadarannya
menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang ( 3
detik) dengan kulit yang dingin dan pucat.

e. Bagaimana penatalaksanaan diare akut?


1. Rehidrasi
Bila pasien keadaan umumnya baik dan tidak dehidrasi, asupan
cairan yang adekuat dapat dicapai dengan minuman ringan, sari
buah dan sup. Tetapi bila pasien kehilangan cairan banyakdengan
dehidrasi, maka beri cairan intavena atau rehidrasi oral dengan
cairan isotonik yang mengandung elektrolit dan gula. Cairan
diberikan 50-200 ml/kg BB/24 jam tergantung kebutuhan dan statu
hidrasi.
2. Diet
Pasien tidak dianjurkan puasa, kecuali bila muntah berat. Pasien
dianjurkan minum sari buah, minuman tidak bergas dan makanan
yang mudah dicerna seperti pisang, nasi dan kuah sup.
3. Antibiotik
Pengobatan empirik diindikasikan pada pasien yang diduga
mengalami infeksi bakteri invasif. Obat pilihan yaitu Kuinolon
(misalnya Ciprofloksasin 500 mg selama 5-7 hari). Metronidazol
250 mg 3 kali sehari selama 7 hari diberikan bagi yang dicurigai
giardiasis (Depkes, 2006).
Suplemen zink merupakan strategi penatalaksanaan yang baru
untuk diare dan menjanjikan untuk penatalaksanaan diare.
Suplemen zink ini telah direkomendasikan oleh WHO, UNICEF, dan
beberapa negara di dunia untuk pengobatan diare pada anak. Zink
mikronutrien yang penting untuk kesehatan dan perkembangan
anak. Mengganti zink yang hilang penting untuk membantu anakanak memulihkan dan menjaga kesehatan anak di bulan-bulan
mendatang (WHO, 2005).
f. Bagaimana cara mencegah diare akut?
1. Pencegahan Tingkat Pertama
a. Menggunakan Air Bersih yang cukup
Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare
ditularkan melalui jalur fecal-oral mereka dapat ditularkan
dengan memasukkan kedalam mulut, cairan atau benda
yang tercemar dengan tinja misalnya air minum, jari-jari
tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci
dengan air tercemar.
Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang
benar-benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih
kecil dibandingkan dengan masyarakat yang tidak
mendapatkan air bersih.
Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan
diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan

melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari


sumbernya sampai penyimpanan di rumah.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga adalah:
- Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia.
- Sumber air harus dilindungi dengan: menjauhkannya dari
hewan: membuat lokasi kakus agar jaraknya lebih dari 10
meter dari sumber yang digunakan, serta lebih rendah,
dan menggali aliran parit di atas sumber untuk
menjauhkan air hujan dari sumber.
- Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah
bersih. Dan gunakan gayung bersih bergagang panjang
untuk mengambil air.
- Air untuk masak dan minum bagi anak anda harus
dididihkan.
b. Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan
perorangan yang penting dalam penularan kuman diare
adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun,
terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja
anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi
makanan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak
dalam kejadian diare.
c. Menggunakan Jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa
upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar
dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare. Keluarga
yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban, dan
keluarga harus buang air besar di jamban.
Yang harus diperhatikan oleh keluarga :
- Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik
dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga.
- Bersihkan jamban secara teratur.
- Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak-anak pergi ke
tempat buang air besar sendiri, buang air besar
hendaknya jauh dari rumah, jalan stepak, dan tempat
anak-anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari
sumber air, hindari buang air besar tanpa alas kaki.

d. Membuang Tinja Bayi yang Benar


Banyak orang beranggapan bahwa tinja anak bayi itu
tidak berbahaya. Hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat
pula menularkan penyakit pada anak-anak dan orangtuanya.
Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar, berikut
hal-hal yang harus diperhatikan:
- Kumpulkan tinja anak kecil atau bayi secepatnya,
bungkus dengan daun atau kertas koran dan kuburkan
atau buang di kakus.
- Bantu anak untuk membuang air besarnya ke dalam
wadah yang bersih dan mudah dibersihkan. Kemudian
buang ke dalam kakus dan bilas wadahnya atau anak
dapat buang air besar di atas suatu permukaan seperti
kertas koran atau daun besar dan buang ke dalam kakus.
- Bersihkan anak segera setelah anak buang air besar dan
cuci tangannya.

2. Pencegahan Tingkat Kedua


Pencegahan tingkat kedua meliputi diagnosa dan
pengobatan yang tepat. Pada pencegahan tingkat kedua,
sasarannya adalah mereka yang baru terkena penyakit diare.
Upaya yang dilkukan adalah:
a. Segera setelah diare, berikan penderita lebih banyak
cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi.
Gunakan cairan yang dianjurkan, seperti larutan oralit,
makanan yang cair (sup, air tajin) dan kalau tidak ada
berikan air matang. Jika anak berusia kurang dari 6
bulan dan belum makan makanan padat lebih baik
diberi oralit dan air matang daripada makanan cair.
b. Beri makanan sedikitnya 6 kali sehari untuk
mencegah kurang gizi. Teruskan pemberian ASI bagi
anak yang masih menyusui dan bila anak tidak
mendapat ASI berikan susu yang biasa diberikan.
c. Segera bawa anak kepada petugas kesehatan bila
tidak membaik dalam 3 hari atau menderita hal berikut
yaitu buang air besar cair lebih sering, muntah
berulang-ulang, rasa haus yang nyata, makan atau
minum sedikit, dengan atau tinja berdarah.
d. Apabila ditemukan penderita diare disertai dengan
penyakit lain, maka berikan pengobatan sesuai
indikasi, dengan tetap mengutamakan rehidrasi.
3. Pencegahan Tingkat Ketiga
10

Sasaran pencegahan tingkat ketiga adalah penderita


penyakit diare dengan maksud jangan sampai betambah berat
penyakitnya atau terjadi komplikasi. Bahaya yang dapat
diakibatkan oleh diare adalah kurang gizi dan kematian.
Kematian akibat diare disebabkan oleh dehidrasi, yaitu
kehilangan banyak cairan dan garam dari tubuh.
Diare dapat mengakibatkan kurang gizi dan
memperburuk keadaan gizi yang telah ada sebelumnya. Hal ini
terjadi karena selama diare biasanya penderita susah makan
dan tidak merasa lapar sehingga masukan zat gizi berkurang
atau tidak ada sama sekali.
Upaya yang dilakukan dalam pencegahan tingkat ketiga
ini adalah:
a. Pengobatan dan perawatan diare dilakukan sesuai
dengan derajat dehidrasi. Penilaian derajat dehidrasi
dilakukan oleh petugas kesehatan dengan
menggunakan tabel penilaian derajat dehidrasi. Bagi
penderita diare dengan dehidrasi berat segera
diberikan cairan intarvena dengan Ringer Laktat
sebelum dilanjutkan dengan terapi oral.
b. Berikan makanan sebelum serangan diare untuk
memberikan gizi pada penderita terutama pada anak
agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan.
c. Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra
diteruskan selama dua minggu untuk membantu
pemulihan penderita.
g. Bagaimana patofisiologi dari diare akut?
Pembagian diare akut berdasarkan proses patofisiologi enteric
infection, yaitu membagi diare akut atas mekanisme inflamatory,
non inflammatory, dan penetrating.
Inflamatory
diarrhea

Non
inflamatory

akibat proses invasi dan cytotoxin di kolon dengan manifestasi


sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah.
Gejala klinis umumnya adalah keluhan abdominal seperti mulas
sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, serta
gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin, secara
makroskopis ditemukan lendir dan/ atau darah, secara mikroskopis
didapati leukosit polimorfonuklear.
kelainan yang ditemukan di usus halus bagian proksimal. Proses
diare adalah akibat adanya enterotoksin yang mengakibatkan diare
11

diarrhea

Penetratin
g diarrhea

cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah, yang
disebut dengan Watery diarrhea. Keluhan abdominal biasanya
minimal atau tidak ada sama sekali, namun gejala dan tanda
dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang tidak segera
mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin
tidak ditemukan leukosit. Mikroorganisme penyebab seperti,
V.cholerae, Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Salmonella.
lokasi pada bagian distal usus halus. Penyakit ini disebut juga
Enteric fever, Chronic Septicemia, dengan gejala klinis demam
disertai diare. Pada pemeriksaan tinja secara rutin didapati leukosit
mononuclear. Mikroorganisme penyebab biasanya S. thypi, S.
parathypi A, B, S. enteritidis, S. cholerasuis, Y. enterocolitidea, dan
C. fetus.

2. Nn. A mengeluh perutnya sakit dan ia mencret sebanyak empat kali.


a. Apa penyebab mencret?
Mencret disebabkan oleh terdapatnya makanan atau zat yang
tidak dapat diserap sehingga menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meninggi dan terjadi pergeseran air dan elektrolit ke
dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya serta hiperperistaltik
akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan.
b. Bagaimana mekanisme mencret?
Bakteri atau toksin (racun) masuk Intestinum Crassum
Intestinum Crassum yang semula mengabsorbsi air dan mineral
berubah menjadi mensekresi air untuk mengencerkan kadar toksin
yang ada dalam usus besar feces menjadi cair colon sigmoid
recktum menyentuh Musculus Sphingterani Internus dan
merangsang terjadinya defekasi. Namun Musculus Sphingterani
Eksternus masih dapat menahan sehingga kita dapat menentukan
kapan kita akan buang air besar. Dan ini terjadi terus menerus
sampai toksin dalam Intestinum Crassum habis.
Berdasarkan kasus, kemunkinan Nn. A menderita mencret/diare
dikarenakan Infeksi bakteri dari makanan dengan higienitas yang
minim dengan mekanisme sebagai berikut:
Bakteri masuk melalui makanan atau minuman > ke lambung >
sebagian ada yang mati karena asam lambung dan sebagian lolos
> bakteri yang lolos masuk ke duodenum > bakteri berkembang
biak (di duodenum) > memproduksi enzim mucinase sehingga
berhasil mencairkan lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel
epitel usus > bakteri masuk ke dalam membrane > dalam 15-30
menit bakteri mengeluarkan toksin (enterotoksin) > peningkatan
12

kerja nikotinamid adenin dinukleotid pada dinding usus >


mengeluarkan CAMP (meningkatkannya), yang berfungsi untuk
merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi & menghambat
cairan usus dibagian apikal villi > terjadi rangsangan cairan yang
berlebihan (sekresi aktif anion klorida, diikuti air, ion bikarbonat,
kation natrium dan kalium) , volume cairan didalam lumen usus
meningkat > dinding usus berkontraksi > terjadi hiperperistaltik >
cairan keluar (diare/mencret).
c. Bagaimana anatomi sistem pencernaan?
Sistem pencernaan manusia terdiri atas saluran dan kelenjar
pencernaan. Saluran pencernaan merupakan saluran yang dilalui
bahan makanan. Kelenjar pencernaan adalah bagian yang
mengeluarkan enzim untuk membantu mencerna makanan.
Saluran pencernaan antara lain sebagai berikut.
1. Mulut
Di dalam rongga mulut, terdapat gigi, lidah, dan kelenjar air liur
(saliva). Gigi terbentuk dari tulang gigi yang disebut dentin. Struktur
gigi terdiri atas mahkota gigi yang terletak diatas gusi, leher yang
dikelilingi oleh gusi, dan akar gigi yang tertanam dalam kekuatankekuatan rahang. Mahkota gigi dilapisi email yang berwarna putih.
Kalsium, fluoride, dan fosfat merupakan bagian penyusun email.
Untuk perkembangan dan pemeliharaan gigi yang bai, zat-zat
tersebut harus ada di dalam makanan dalam jumlah yang cukup.
Akar dilapisi semen yang melekatkan akar pada gusi.
Ada tiga macam gigi manusia, yaitu gigi seri (insisor) yang
berguna untuk memotong makanan, gigi taring (caninus) untuk
mengoyak makanan, dan gigi geraham (molar) untuk mengunyah
makanan. Dan terdapat pula tiga buahkelenjar saliva pada mulut,
yaitu kelenjar parotis, sublingualis, dan submandibularis. Kelenjar
saliva mengeluarkan air liur yang mengandung enzim ptialin atau
amilase, berguna untuk mengubah amilum menjadi maltosa.
Pencernaan yang dibantu oleh enzim disebut pencernaan kimiawi.
Di dalam rongga mulut, lidah menempatkan makanan di antara gigi
sehingga mudah dikunyah dan bercampur dengan air liur. Makanan
ini kemudian dibentuk menjadi lembek dan bulat yang disebut
bolus. Kemudian bolus dengan bantuan lidah, didorong menuju
faring.
2. Faring dan esofagus
Setelah melalui rongga mulut, makanan yang berbentuk bolus
akan masuk kedalam tekak )faring). Faring adalah saluran yang
memanjang dari bagian belakang rongga mulut sampai ke
permukaan kerongkongan (esophagus). Pada pangkal faring
13

terdapat katup pernapasan yang disebut epiglottis. Epiglotis


berfungsi untuk menutup ujung saluran pernapasan (laring) agar
makanan tidak masuk ke saluran pernapasan. Setelah melalui
faring, bolus menuju ke esophagus; suatu organ berbentuk tabung
lurus, berotot lurik, dan berdidnding tebal. Otot kerongkongan
berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan meremas yang
mendorong bolus ke dalam lambung. Gerakan otot kerongkongan
ini disebut gerakan peristaltik.
3. Lambung
Otot lambung berkontraksi mengaduk-aduk bolus, memecahnya
secara mekanis, dan mencampurnya dengan getah lambung.
Getah lambung mengandung HCl, enzim pepsin, dan renin. HCl
berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang masuk berasama
bolus akan mengaktifkan enzim pepsin. Pepsin berfungsi untuk
mengubah protein menjadi peptone. Renin berfungsi untuk
menggumpalkan protein susu. Setelah melalui pencernaan kimiawi
di dalam lambung, bolus menjadi bahan kekuningan yang disebut
kimus (bubur usus). Kimus akan masuk sedikit demi sedikit ke
dalam usus halus.
4. Usus halus
Usus halus memiliki tiga bagian yaitu, usus dua belas jari
(duodenum), usus tengah (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).
Suatu lubang pada dinding duodenum menghubungkan usus 12 jari
dengan saluran getah pancreas dan saluran empedu. Pankreas
menghasilkan enzim tripsin, amilase, dan lipase yang disalurkan
menuju duodenum. Tripsin berfungsi merombak protein menjadi
asam amino. Amilase mengubah amilum menjadi maltosa. Lipase
mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Getah empedu
dihasilkan oleh hati dan ditampung dalam kantung empedu. Getah
empedu disalurkan ke duodenum. Getah empedu berfungsi untuk
menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Selanjutnya pencernaan makanan dilanjutkan di jejunum. Pada
bagian ini terjadi pencernaan terakhir sebelum zat-zat makanan
diserap. Zat-zat makanan setelah melalui jejunum menjadi bentuk
yang siap diserap. Penyerapan zat-zat makanan terjadi di ileum.
Glukosa, vitamin yang larut dalam air, asam amino, dan mineral
setelah diserap oleh vili usus halus; akan dibawa oleh pembuluh
darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asam lemak, gliserol, dan
vitamin yang larut dalam lemak setelah diserap oleh vili usus halus;
akan dibawa oleh pembuluh getah bening dan akhirnya masuk ke
dalam pembuluh darah.
5. Usus besar
Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk
ke dalam usus besar. Usus besar terdiri atas usus buntu
14

(appendiks), bagian yang menaik (ascending colon), bagian yang


mendatar (transverse colon), bagian yang menurun (descending
colon), dan berakhir pada anus. Bahan makanan yang sampai pada
usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa. Sisa tersebut
terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak dpat
tercerna, misalnya selulosa.
Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan.
Bil kadar iar pada sisa makanan terlalu banyak, maka dinding usus
besar akan menyerap kelebihan air tersebut. Sebaliknya bila sisa
makanan kekurangan air, maka dinding usus besar akan
mengeluarkan air dan mengirimnya ke sisa makanan. Di dalam
usus besar terdapat banyak sekali mikroorganisme yang membantu
membusukkan sisa-sisa makanan tersebut. Sisa makanan yang
tidak terpakai oleh tubuh beserta gas-gas yang berbau disebut tinja
(feses) dan dikeluarkan melalui anus.
d. Bagaimana histologi system pencernaan?
1. Rongga mulut
a. Bibir / Labia
Terdiri dari susunan otot kerangka dibagian luar dibungkus oleh
kulit dan dibagian dalam selaput lendir kutan. Bagian luar / kulit
ditandai dengan adanya rambut, kelenjar palit, kelenjar peluh dan
epidermis yang bertanduk. Bagian tengah terdiri dari bagian otot
kerangka. Bagian dalam berbatasan dengan rongga mulut terdiri
dari selaput lendir kutan yang pada sub mukosa terdapat kelenjar.
Pada domba, kambing dan karnivora kelenjar tersebut bersifat
mukous. Integumentum labialis memiliki ujung-ujung saraf
disamping rambut peraba (tactile hairs).
b. Gigi / Dentes
Gigi mengambil peranan dalam proses pencernaan secara
mekanik, misalnya memotong, merobek, menggiling dan
sebagainya. Bentuk gigi erat hubungannya dengan macam
makanan yang dimakan, perhatikan gigi anjing, kucing dengan gigi
pemakan rumput misalnya kuda, sapi.
c. Pipi / Buccae
Pipi memiliki lapis pokok, yakni :
Lapis luar (Intergumentum buccales) terdiri dari otot kerangka
dan kelenjar (glandula buccales), terletak pada sub mukosa
bahkan diantara otot.
Lapis dalam, terdiri dari selaput lendir kutan. Pada anjing dan
ruminansia berpigmen. Pada ruminansia terdapat papil-papil
makroskopik berupa penonjolan selaput lendir yang berperan
membantu pencernaan makanan.

15

d. Langit-Langit / Palatum
Ada dua yaitu : palatum molle dan palatum durum. Palatum
molle terdiri dari otot kerangka di bagian tengahnya, bagian oral
dibalut oleh selaput lendir kutan dan bagian aboral oleh selaput
lendir berkelenjar dengan epitel silindris banyak baris bersilia.
Jaringan limpoid terdapat pada kedua bagian. Pada kuda
dan babi membentuk tonsil dan terdapat sepasang seperti pada
manusia. Sedangkan palatum durum menunjukkan rigi-rigi,
karena penebalan mukosa sub mukosa mengandung pleksus
venosus.
.e. Gusi / Ginggive
Gusi memiliki selaput lendir kutan dengan jaringan ikat yang
kuat, serta banyak mengandung serabut elastis yang langsung
melekat pada periost. Pada gusi tidak terdapat kelenjar dan
limfonodus. Epithel pipih banyak lapis memberikan papil-papil
dan memiliki stratum korneum, sednagkn ototnya terdiri dari otot
kerangka.
f, Lidah / Linguae
Lidah merupakan organ muskular yang ditutupi oleh
membrana mukosa. Berperan dalam prehensi, mastikasi, dan
perasa. Terdiri dari epitel squamosum kompleks dan otot
kerangka dengan jaringan ikat penunjang yang banyak
mengandung lemak dan pada bagian tertentu terdapat kelenjar
ebner.
g. Kelenjar air liur / glandula salivares
1. Kelenjar parotis / glandullae parotis
Kelenjar yang tergolong paling besar bersifat sereus murni.
Dalam tiap lobulus selain terdapat ujung kelenjar sereus
ditemukan pula 2 benuk alat penyalur yaitu duetus intercalatus
dan ductus spreatus (intralobularis). Diantara ujung kelenjar
terdapat jaringan ikat interstitial. Pada jaringan ikat interlobularis
dan pembuluh darah. Ductus ini dan ductus parotideus memiliki
epitel silindris banyak lapis dan sering terlihat adanya sel
mangkok. Kelenjar parotis dari karnifora dan domba muda
terdapat bagian yang bersifat mukous. Sekreta kelenjar parotis
bersifat encer, mengandung protein tanpa musin.
2. Kelenjar mandibularis
16

Umumnya mirip kelenjar parotis, hanya saja ujung kelenjar


bersifat seromukous.
3. Kelenjar lingualis
Kelenjar ini tergolong kelenjar campuran, tetapi sel-sel mukous
relatif lebih banyak daripada sel-sel sereus. Disamping kelenjar
utama terdapat pula kelenjar yang lebih kecil yang disebar pada
dinding rongga mulut.
2. Faring
Nasofaring
Selaput lendirnya adalah selaput lendir berkelenjar, dengan
epitel silindris banyak baris bersilia, dan diantaranya terdapat
sel mangkok. Pada propria mukosa terebar kelenjar
seromukous dan jaringan limfoid. Ujung kelenjar seromukous
lebih banyak memiliki sel yang bersifat sereus.
Orofaring
Selaput lendirnya adalah selaput lendir kutan dengan banyak
papil mikroskopik. Pada tunika propria terdapat kelenjar mukous
dan jaringan limfoid yang membentuk tonsil. Fascia bagian
dalam merupakan batas dengan selaput lendir yang terdiri dari
serabut elastis. Dibawahnya terdapat lapis otot kerangka yang
tersusun secara memanjang dan melintang. Fascia bagian luar
terdiri dari serabut kolagen dengan sedikit serabut elastis, dan
langsung berbatasan dengan adventisia yang banyak
mengandung pembuluh darah, limfe, saraf, dan folikel getah
bening.
3. Esophagus
Berupa saluran yang cukup panjang yang menghubungkan faring
dengan lambung. Terbagi atas tiga daerah antara lain : pars cervicis,
pars thoracis, dan pars abdominis. Esophagus memiliki lapis umum
saluran pencernaan secara lengkap yaitu:
a. Tunika Mukosa
- Selaput lendir kutan membentuk lipatan-lipatan memanjang. Epithel
pipih banyak lapis pada herbivora bertanduk tapi pada karnivora tidak.
- Tunika propria tidak tampak kelenjar dan terdiri dari jaringan ikat yang
banyak mengandung sel.
- Muskularis mukosa, terdiri dari otot polos tersusun memanjang. Pada
kuda, ruminansia dan kucing lapis ini terpisah-pisah pada kira-kira
setengah esophagus bagian depan, sedangkan sisanya merupakan
lapisan yang utuh sebagaimana pada manusia. Pada anjing dan babi
tidak tampak muskularis mukosa pada bagian depan, hanya bagian
dalam rongga perut memiliki lapis yang utuh.
b. Sub Mukosa
17

Terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengandung sel lemak,


pembuluh
darah, jaringan limfoid dan kelenjar (glandula
esophageae). Persebaran dari pada kelenjarnya tergantung pada
daerah dan jenis hewannya. Anjing memiliki kelenjar cukup jelas, babi
hanya jelas pada pertengahan esophagus, bagian belakang selebihnya
sedikit dan kecil-kecil. Kuda, ruminansia dna kucing tidak memiliki
kelenjar kecuali pada daerah peralihan faring dan esophagus.
c. Tunika Muskularis
Terdiri dari otot kernagka dan otot polos tergantung pada
daerahnya. Sebagian besar terdiri dari otot kerangka, kecuali daerah
sepertiga bagian belakang terdiri dari otot polos. Tunika muskularis
membentuk lapis melingkar (dalam), dan memanjang (luar) dan dipisah
oleh jaringan ikat. Pada ruminansia dan anjing seluruh esophagus
terdiri dari otot kernagka bahkan pada ruminansia meluas sampai
sulcus reticuli dan rumen.
d. Tunika Adventisis
Di daerah leher esophagus dibalut oleh adventisia tetapi di daerah
dada dan perut dibalut oleh serosa.
4. Lambung
a. Lambung depan (Proventriculus)
Ciri khas lambung depan :
- Berselaput lendir kutan. Pada epitel pipih banyak lapis yang
bertanduk terdapat gelembung-gelembung, selanjutnya disebut sel
gelembung (vesiculated cell).
- Tidak terdapat kelenjar pada mukosa maupun sub mukosa.
Memiliki 3 daerah :
1. Rumen
Mukosa membentuk penjuluran makroskopik berbentuk
batang yang hampir sama tingginya. Muskularis mukosa tidak
tampak sehingga tunika propria berbatasan langsung dengan
sub mukosa. Pada sub mukosa terdapat banyak pembuluh
darah dan saraf tanpa adanya folikel getah bening.
Sel gelembung terdapat pada stratum lucidum yang
sitoplasmanya sulit mengambil zat warna. Didalamnya
terdapat asam lemak dan pada sel-sel stratum corneum
terdapat lipida dalam bentuk trigliserida.
2. Retikulum
Mukosa membentuk penjuluran makroskopis yang
memberikan aspek sebagai anyaman jala. Bangun
mikroskopis mukosa mirip dengan rumen, hanya pada
penjuluran-penjuluran tinggi tedapat otot polos sebagai
kelanjutan dari muskularis mukosa esophagus.
Muskularis mukosa tidak ada.Tunika muskularis seperti
pada rumen terdapat 2 lapis dengan susunan yang berbeda,
dan merupakan kelanjutan dari tunika muskularis esophagus.
Suleus reticuli (ventriculer groove) jelast erdapat pada hewan
18

muda yang masih menyusui, yang secara tofografis terdapat di


daerah retikulum omasum dan abomasum.
3. Omasum
Mukosa membentuk penjuluran yang tinggi. Meskipun
penjuluran satu dengan lainnya tidak sama tingginya. Tidak
terdapat folikel getah bening, tetapi muskularis mukosa ada dan
ikut naik mengikuti penjuluran sampai puncaknya. Pada
penjuluran yang tinggi otot polos dari tunika muskularis ikut naik
dan pada puncak penjuluran bersatu dengan muskularis
mukosa. Pada penjuluran yang rendah hanya muskularis
mukosa yang baik dan menyebar membentuk balok otot polos.
Pada lantai omasum didapat lipatan mukosa yang pada
kambing sering ditemukan kelenjar bersifat mukous atau
seromukous. Bahkan pada sulcus reticuli domba dapat
ditemukan kelenjar meskipun tidak begitu nyata. Tunika
muskularis ada 2 lapis : lapis luar tipis dna lapis dalam lebih
tebal.
b. Lambung belakang / lambung sejati
Ciri khas :
- Memiliki lapis umum lengkap
- Berselaput lendir, berkelenjar dengan epithel silindris sebaris.
Berdasarkan macam kelenjarnya dibedakan atas 3 daerah yaitu :
1. Daerah kardia dengan kelenjar kardia
Epitel permukaan silindris sebaris, pada daerah
foveolae gastrikae epitel semakin rendah dan selanjutnya
berubah menjadi epitel kelenjar kardia. Pada tunia propria
terdapat kelenjar kardia yang bersifat majemuk dengan
ujung kelenjar membentuk gulungan. Lumen kelenjar
cukup jelas dengan epitel berbentuk kubis atau piramidal,
pada kutub bebasnya terdapat butir-butir musigen (babi).
Parenkhim terdiri dari sel pembentuk lendir dari sel. Fungsi
kelenjar kardia menghasilkan lendir (mukous).
2. Daerah fundus dengan kelenjar fundus
Kelenjar ini paling luas penyebarannya. Bangun
kelenjarnya sedikit berbeda dengan kelenjar kardia, karena
kurang bercabang dan ujung kelenjarnya agak lurus. Leher
kelenjar dapat jelas dibedakan dari badan kelenjarnya
karena bentuk epitelnya yang berbeda, terdiri dari sel leher,
sel utama dan sel parietal.
- Sel leher (mucous neck cells)

19

Bentuknya silindris rendah, inti terletak di basal,


mengandung butir-butir yang dapat diwarnai dengan
musikarmin. Sel leher tidak banyak jumlahnya dan terdapat
diantara sel parietal dan sel utama di daerah leher kelenjar.
Secara makroskopik elektron sel leher memiliki mikrivili
pendek pada permukaan sel, dipertautkan oleh
desmusoma dengan sel yang lainnya. Pada kutub
bebasnya terkumpul butir-butir berbentuk lonjong.
Apparatus golgi jelas dna mitokhondria banyak. Sel leher
menghasilkan lendir dan mungkin urease.
- Sel utama (chief cells / zymogenic cells)
Berbentuk kubis atau silindris rendah, tersebar pada
ujung kelenjar dan paling banyak jumlahnya. Sel utama
mengandung butir-butir yang jelas pada kutub bebasnya
dan diduga mengandung pepsinogen, suatu bahan yang
nantinya membentuk pepsin. Secara mikroskop elektron
terlihat butir-butir zymogen, apparatus golgi yang bersifat
supranutreal dan granuler endoplasmic reticulum. Pada
sediaan histologik sitoplasma memberi aspek basofil.
Fungsi menghasilkan pepsin dan renin (pada hewan muda)
- Sel parietal (oxyntic cells)
Selnya besar dan tersebar diantara sel utama dan
sedikit menonjol keluar. Bentuknya piramidal atau bulat,
intinya besar dna bulat. Sitoplasmanya mengambil warna
kuat dengan eosin, phloxin dan asam anilin B. Ciri khas
dari sel parietal adalah intra selular kanalikuli berupa
jalinan saluran halus sekitar inti, bermuara melalui ujung
sel ke dalam lumen kelenjar fundus. Secara mikroskop
elektron kutub bebas sel parietal menunjukkan invaginasi
dalam membentuk kanalikuli. Sedangkan kanalikuli
diperlengkapi dengan mikrovili yang cukup panjang. Kutub
bebas sel parietal menonjol bebas kedalam lumen kelenjar
dan berbatasan dengan sel zymogen disekitarnya melalui
terminal bars dan desmosoma. Sitoplasma memiliki banyak
mitokhondria granuler reticulum dan ribosoma sangat
sedikit dan tidak menunjukkan adanya butir sekreta.
Apparatus golgi mengambil posisi intranuklear. Fungsi
menghasilkan HCL.
- Sel Argentafin (Enterochromaffin cells)
Selain pada usus sel argentafin terdapat pula pada
fundus, tapi jarang pada pilorus. Sel ini tersebar soliter
diantara sel zymogen, berbentuk bulat atau memipih dan
dalam sitoplasmanya tersebar butir-butir halus yang dapat
diwarnai dengan garam perak atau khrom. Secara
20

isoteknik dibedakan atas : true argentafin dan argylopholic


cells, karena yang pertama spesifik granula dan mampu
mereduksi garam perak tanpa mendapat pengerjaan
pendahuluan, sedangkan yang ke dua justru memerlukan
bahan untuk mereduksi sebelum butir-butir bereaksi
dengan perak.
Secara elektron mikroskop inti menunjukkan adanya
invaginasi dari dinding inti. Dalam sitoplasmanya banyak
tersebar butir-butir berbentuk bulat, masing-masing
terbungkus oleh membran yang longgar. Fungsi diduga
sebagai tempat sintesa dan penyimpanan dari 5hidroksitriptamin (serotonin), suatu bahan perangsang
kontraksi otot polos. Disamping itu juga menghasilkan
gastrin dan bradikinin yang berfungsi untuk mengatur
aktifitas motor
3. Daerah pilorus dengan kelenjar pylorus
Ciri khas pilorus memiliki tebal foveolae gastriae yang
paling dalam, menjorok sampai kira-kira separuh dari tebal
selaput lendirnya. Tipe kelenjarnya adalah tubulus
sederhana berdabang dengan ujung kelenjar berkelokkelok. Lumen ujung kelenjar agak luas. Epitelnya silindris,
intinya terletak di basal, sitoplasma beraspek cerah. Butirbutir sekretanya tidak jelas. Diantara sel-sel ujung kelenjar
sering terlihat adanya sel Stohr dengan sitoplasma dengan
berwarna merah dan posisi inti lebih ke tengah. Sel ini
terlihat pada babi namun peranannya belum diketahui
dengan pasti. Fungsi : menghasilkan mukous sedikit
protease dan gastrin.
4. Usus
a. Usus halus (intestinum tenue)
Terdiri dari : duodenum , jejunum, dan ileum. Ciri umum :
berselaput lendir berkelenjar yang membentuk vili untuk
kelancaran penyerapan. Memiliki 3 macam sel pada epitel
permukaan yakni : sel penyerap, sel mangkok dan sel
argentafin. Memiliki lapis umum lengkap.
Macam-macam sel pada epitel permukaan usus halus :
1. Sel penyerap (absortive cells)
Lamina epiteliasis mukosa dikenal sebagai epitel penyerap
apada usus halus. Bentuknya silindris tinggi dan permukaan
21

kutub bebasnya diperlengkapi dengan streated (mikrovili)


border. Pada sitoplasma dibawah streated border bebas
organoida dan para plasma lapisan ini disebut terminal web.
Secara mikroskop elektron mikrovili tampak sebagai penjuluran
sitoplasma yang panangnya 1,0 1,4 mikron dan diameternya
80 milimikron. Organoida sel terdapat dibawah terminal web
misalnya kitokhondria, agranular, endoplasmik retikulum.
Apparatus golgi terletak supra nuklear. Dalam sitoplasma
daerah kutub basal tersebar mitokhondria, granular RES dan
ribosoma bebas.
2. Sel mangkok (Goblet cells)
Tersebar secara tidak teratur diantara sel penyerap dan
melekat dengan juxtaluminal junctional complex. Sel ini
dianggap kelenjar uniselular, daerah kutub bebas membesar
karena menimbun butir musigen. Daerah kutub basal
menyempit, mengandung inti dan sitoplasma yang bersifat
basofil. Secara mikroskop elektron granular endoplasma
retikulum dan aparatus golgi cukup jelas, terdapat antara
musigen dan inti. Butir musigen muncul dari apparatus golgi dan
memiliki selaput halus yang mudah pecah pada sediaan rutin,
mempunyai tendensi untuk menggembung sehingga sulit untuk
mempelajari mekanisme sekresinya. Selaput butir musigen
dapat bergabung satu dengan yang lainnya bahkan dengan
plasmalemma sehingga mukous dapat keluar dengan bebas.
Pada usu halus sel mangkok semakin kebelakang semakin
banyak dan menghasilkan mukous (lendir sebagai pelicin).
3. Sel Argentafin
Terdapat pada semua hewan piara pada sepanjang saluran
gastrointestinal, khususnya pada epitel kelenjar lieberkuhn dan
kelenjar duodenum. Juga tersebar pada epitel penyerap di
daerah Crypto of Lieberkhum, sel argentafin dibedakan dari sel
tetangganya karena memiliki spesifik granula dalam
sitoplasmanya dan tersebar secara soliter. Fungsi : belum jelas
tetapi terdapat anggapan bahwa serotonin yang dikandungnya
memiliki daya rangsang neuromuskular apparatus untuk
meningkatkan peristaltik.
4. Sel Paneth

22

Pada usus halus paneth tersebar pada dasar ujung kelenjar


lieberkhum selnya berbentuk silindris atau piramidal inti bulat
terletak di basal. Sitoplasmanya bersifat basofil dan pada kutub
bebasnya berkumpul butir-butir sekreta yang dapat diwarnai
dengan eosin dan orange G.
Secara histokimia dibuktikan adanya protein, hidrat arang dan
arginin dalam butir sekreta. Peranannya belum jelas, pada tikus
sekreta mengandung sulfatid mucosakharida dan protein dasar
yang diduga mengandung lisosim suatu ensym yang
menghancurkan kuman. Bila pendapat ini benar jelas adanya
efek bakterisid dari sel paneth. Selain pada usu halus sel paneth
terdapat pada usus halus dan caecum. Carnivora dan babi tidak
memiliki sel paneth.
e. Bagaimana fisiologi sistem pencernaan?

Mulut, tenggorokan dan kerongkongan


Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan dan
sistem pernafasan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput
lendir. Saluran dari kelenjar liur di pipi, dibawah lidah dan dibawah
rahang mengalirkan isinya ke dalam mulut. Di dasar mulut terdapat
lidah, yang berfungsi untuk merasakan dan mencampur makanan.
Di belakang dan dibawah mulut terdapat tenggorokan (faring).
Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di
permukaan lidah. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di
hidung. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam,
asin dan pahit. Penciuman lebih rumit, terdiri dari berbagai macam
bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan
dikunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagianbagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah
akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan
enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Pada saat
makan, aliran dari ludah membersihkan bakteri yang bisa
menyebabkan pembusukan gigi dan kelainan lainnya. Ludah juga
mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang
memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.
Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara
otomatis. Epiglotis akan tertutup agar makanan tidak masuk ke
dalam pipa udara (trakea) dan ke paru-paru, sedangkan bagian
atap mulut sebelah belakang (palatum mole, langit-langit lunak)
terangkat agar makanan tidak masuk ke dalam hidung.

23

Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran berotot yang


berdinding tipis dan dilapisi oleh selaput lendir. Kerongkongan
menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Makanan didorong
melalui kerongkongan bukan oleh gaya tarik bumi, tetapi oleh
gelombang kontraksi dan relaksasi otot ritmik yang disebut dengan
peristaltik.

Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan
berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia,
fundus dan antrum.
Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui
otot berbentuk cincin (sfingter), yang bisa membuka dan menutup.
Dalam keadaan normal, sfingter menghalangi masuknya kembali isi
lambung ke dalam kerongkongan.
Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi
secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.

Usus Halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari
(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.

24

Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam


jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum
akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti
mengalirkan makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari
pankreas dan empedu dari hati.
Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui
lubang yang disebut sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting
dari proses pencernaan dan penyerapan.
Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan
dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang
dihasilkan oleh usus.
Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin,
tetapi sisanya memiliki lipatan-lipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili)
dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili).
Vili dan mikrovili menyebabkan bertambahnya permukaan dari
lapisan duodenum, sehingga menambah jumlah zat gizi yang
diserap.
Sisa dari usus halus, yang terletak dibawah duodenum, terdiri
dari jejunum dan ileum. Bagian ini terutama bertanggungjawab atas
penyerapan lemak dan zat gizi lainnya. Penyerapan ini diperbesar
oleh permukaannya yang luas karena terdiri dari lipatan-lipatan, vili
dan mikrovili.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zatzat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus
melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang
membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).
Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang
mencerna protein, gula dan lemak. Kepadatan dari isi usus berubah
secara bertahap, seiring dengan perjalanannya melalui usus halus.
Di dalam duodenum, air dengan cepat dipompa ke dalam isi usus
untuk melarutkan keasaman lambung. Ketika melewati usus halus
bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair karena mengandung air,
lendir dan enzim-enzim pankreatik.

25

Pankreas
Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan
dasar:
- Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
- Pulau pankreas, menghasilkan hormon.
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum
dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim-enzim pencernaan
dihasilkan oleh sel-sel asini dan mengalir melalui berbagai saluran
ke dalam duktus pankreatikus.
Duktus pankreatikus akan bergabung dengan saluran empedu
pada sfingter Oddi, dimana keduanya akan masuk ke dalam
duodenum.
Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein,
karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke
dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan
dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai
saluran pencernaan.
Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat,
yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan
asam lambung.
3 hormon yang dihasilkan oleh pankreas adalah:
- Insulin, yang berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah
- Glukagon, yang berfungsi menaikkan kadar gula dalam darah
- Somatostatin, yang berfungsi menghalangi pelepasan kedua
hormon lainnya (insulin dan glukagon).
Hati
Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai
fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan.

26

Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya
akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler).
Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung
dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam
hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluhpembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.
Darah diolah dalam 2 cara:
- Bakteri dan partikel asing lainnya yang diserap dari usus
dibuang
- Berbagai zat gizi yang diserap dari usus selanjutnya dipecah
sehingga dapat digunakan oleh tubuh.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah
darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam
sirkulasi umum.
Hati menghasilkan sekitar separuh dari seluruh kolesterol dalam
tubuh, sisanya berasal dari makanan. Sekitar 80% kolesterol yang
dihasilkan di hati digunakan untuk membuat empedu. Hati juga
menghasilkan empedu, yang disimpan di dalam kandung empedu.
Kandung empedu dan saluran empedu
Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan,
yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum.
Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang
berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) untuk membentuk
saluran empedu umum. Duktus pankreatikus bergabung dengan
saluran empedu umum dan masuk ke dalam duodenum.
Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam
kandung empedu dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari
hati.
Makanan di dalam duodenum memicu serangkaian sinyal hormonal
dan sinyal saraf sehingga kandung empedu berkontraksi. Sebagai
akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan bercampur
dengan makanan.
Empedu memiliki 2 fungsi penting:
- Membantu pencernaan dan penyerapan lemak
- Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh,
terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah
merah dan kelebihan kolesterol.
Secara spesifik empedu berperan dalam berbagai proses berikut:
- Garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan
vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses
penyerapan
- Garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar
untuk membantu menggerakkan isinya
27

- Bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam


empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan
- Obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan
selanjutnya dibuang dari tubuh
- Berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang
di dalam empedu.
Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh
hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal
sebagai sirkulasi enterohepatik.
Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi
sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil
garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam
kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur
pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya
dibuang bersama tinja.
Usus besar
Usus besar terdiri dari:
- Kolon asendens (kanan)
- Kolon transversum
- Kolon desendens (kiri)
- Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
Apendiks (usus buntu) merupakan suatu tonjolan kecil berbentuk
seperti tabung, yang terletak di kolon asendens, pada perbatasan
kolon asendens dengan usus halus.
Usus besar menghasilkan lendir dan berfungsi menyerap air dan
elektrolit dari tinja. Ketika mencapai usus besar, isi usus berbentuk
cairan, tetapi ketika mencapai rektum bentuknya menjadi padat.
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi
mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat
penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal
dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan
gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya
terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air,
dan terjadilah diare.

28

Rektum dan Anus


Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus
besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus.
Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang
lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens
penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan
untuk buang air besar.Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa
menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda
mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting
untuk menunda buang air besar.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana
bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari
permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu
cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

3. Nn. A tersandung dan lututnya luka lecet.


a. Bagaimana mekanisme timbulnya luka lecet?
Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan
benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
b. Apa akibat dari luka lecet jika tidak segera ditangani?
Akan terjadi infeksi dan peradangan lebih lanjut.
29

c. Bagaimana anatomi kulit?


Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum
lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan stratum
basale. Stratum korneum adalah lapisan kulit yang paling luar
dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati,
tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin
(zat tanduk). Stratum lusidum terdapat langsung di bawah
lapisan korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti
dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut
eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan
dan kaki (Djuanda, 2003).
Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel
gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di
antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Stratum
spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk
poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses
mitosis. Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung
glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin
dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel
stratum spinosun terdapat jembatan-jembatan antar sel yang
terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Pelekatan
antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil
yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spinosum
terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum
mengandungbanyak glikogen (Djuanda, 2003).
Stratum germinativum terdiri atas sel-sel berbentuk kubus
yang tersusun vertical pada perbatasan dermo-epidermal
berbasis seperti pagar (palisade). Lapisan ini merupakan
lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini
mrngalami mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri
atas dua jenis sel yaitu sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan
protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan satu
dengan lain oleh jembatang antar sel, dan sel pembentuk
melanin atau clear cell yang merupakan sel-sel berwarna muda,
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung
butir pigmen (melanosomes) (Djuanda, 2003).
Lapisan Dermis
Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah lapisan
dermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini
terdiri atas lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemenelemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi
menjadi 2 bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang
menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh
30

darah, dan pars retikulare yaitu bagian bawahnya yang


menonjol kea rah subkutan, bagian ini terdiri atas serabutserabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan
retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam
hialuronat dan kondroitin sulfat, di bagian ini terdapat pula
fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung hidrksiprolin
dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dengan
bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil.
Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya
bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang serta
lebih elastis (Djuanda, 2003).

. Lapisan Subkutis
Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas
jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel
lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke
pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel ini
membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain
oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut
panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di
lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan
getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama
bergantung pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai
ketebalan 3 cm, di daerah kelopak mata dan penis sangat
sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan (Djuanda,
2003).
Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus
yang terletak di bagian atas dermis (pleksus superficial) dan
yang terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di
dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil
dermis, pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare juga
mengadakan anastomosis, di bagian ini pembuluh darah
berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah
teedapat saluran getah bening (Djuanda, 2003).

Adneksa Kulit
Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan
kuku. Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas
kelenjar keringat dan kelenjar palit. Ada 2 macam kelenjar
keringat, yaitu kelenjar ekrin yang kecil-kecil, terletak dangkal di
dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin yang
lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental
(Djuanda, 2003).
31

Kelenjar enkrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu


kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kehamilan. Saluran
kelenjar ini berbentuk spiral dan bermuara langsung di
permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan
terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksila. Sekresi
bergantung pada
beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor
panas, dan emosional
(Djuanda, 2003).
Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat
di aksila, areola mame, pubis, labia minora, dan saluran telinga
luar. Fungsi apokrin pada manusia belum jelas, pada waktu
lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai besar dan mengeluarkan
sekret. Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan
glukosa, biasanya pH sekitar 4-6,8 (Djuanda, 2003).
Kelenjar palit terletak di selruh permukaan kulit manusia
kecuali di telapak tangan dan kaki. Kelenjar palit disebut juga
kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini
berasala dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit
biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya
terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum
mengandungi trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax
ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi hormone androgen,
pada anak-anak jumlah kelenjar palit sedikit, pada pubertas
menjadi lebih besar dan banyak serta mulai berfungsi secara
aktif (Djuanda, 2003).
Kuku, adalah bagian terminal stratum korneum yang
menebal. Bagian kuku yang terbenam dalam kulit jari disebut
akar kuku, bagian yang terbuka di atas dasar
jaringan lunak kulit pada ujung jari dikenali sebagai badan kuku,
dan yang paling ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku
tumbuh dari akar kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kirakira 1 mm per minggu. Sisi kuku agak mencekung membentuk
alur kuku. Kulit tipis yang yang menutupi kuku di bagian
proksimal disebut eponikium sedang kulit yang ditutupki bagian
kuku bebas disebut hiponikium (Djuanda, 2003).
Rambut, terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit dan
bagian yang berada di luar kulit. Ada 2 macam tipe rambut,
yaitu lanugo yang merupakan rambut halus, tidak mengandung
pigmen dan terdapat pada sbayi, dan rambut terminal yaitu
rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai
medula, dan terdapat pada orang dewasa. Pada orang dewasa
selain rambut di kepala, juga terdapat bulu mata, rambut ketiak,
rambut kemaluan, kumis, dan janggut yang pertumbuhannya
32

dipengaruhi hormone androgen. Rambut halus di dahi dan


badan lain disebut rambut velus. Rambut tumbuh secara siklik,
fase anagen berlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh
kira-kira 0.35 mm per hari. Fase telogen berlangsung beberapa
bulan. Di antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen.
Komposisi rambut terdiri atas karbon 50,60%, hydrogen 6,36%,,
nitrogen 17,14%, sulfur 5% dan oksigen
20,80% (Djuanda, 2003).
d. Bagaimana histologi kulit?
Kulit merupakan organ tubuh paling luar dan membatasi bagian
dalam tubuh darilingkungan luar. Luas kulit pada orang dewasa sekitar
1.5 m2 dan beratnya sekitar 15% dari berat badan. Secara
keseluruhan.Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis,
dermis, dan hipodermis. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang
kaya akan keratin, stratum lucidum, stratumgranulosum yang kaya
akan keratohialin, stratum spinosum dan stratum basal yang
mitotik.Dermis terdiri dari serabut-serabut penunjang antara lain
kolagen dan elastin. Sedangkanhipodermis terdiri dari sel-sel lemak,
ujung saraf tepi, pembuluh darah dan pembuluh getahbening.
e. Bagaimana fisiologi kulit?
Sel-sel kulit pada epidermis
Keratinosit: sel epitel yg membelah, tumbuh, & bergerak ke atas
membentuk lapisan Pelindung tubuh.
Melanosit: di bagian basal epidermis menbentuk pigmen melanin yg
memberi warna gelap pd kulit. Pemaparan kulit terhadap sinar
matahari merangsang pembentukan melanin
Sel Langerhans: pada respon imun
Sel Merckel: mekanoreseptor
Fungsi Kulit
Perlindungan: epitel berlapis gepeng berlapis tanduk (keratin)
pd epidermis kulit
melindungi permukaan tubuh terhadap berbagai gesekan,
mikroorganisme, mencegah hilangnya cairan tubuh scr
berlebihan.
Pengaturan suhu antara lain melalui
mekanisme berkeringat.
Indera peraba (persepsi sensoris): terhadap suhu, sentuhan,
nyeri, & tekanan.
Pembentukan vitamin D
f. Bagaimana patofisiologi kulit lecet?
Pada luka lecet(abrasi), sering dapat terlihat jaringan granulasi yang
menutupi dasar luka seperti sebuah karpet yang lembut, yang mudah
berdarah jika disentuh. Pada keadaan lain, jaringan granulasi

33

sebenarnya tumbuh di bawah keropeng dan regenerasi epitel


tampaknya terjadi di bawah keropeng.
g. Bagaimana mekanisme penutupan luka?
Segera setelah terjadi luka, tepi luka disatukan oleh bekuan darah
yang fibrinnya bekerja seperti lem. Segera setelah itu terjadilah reaksi
peradangan akut pada tepi luka itu dan sel-sel radang, khususnya
makrofag, memasuki bekuan darah dan mulai menghancurkanya.
Setelah reaksi peradangan eksudatif ini, dimulai pertumbuhan jaringan
granulasi ke arah dalam pada daerah yang sebelumnya ditempati oleh
bekuan-bekuan darah. Dengan demikian, setelah beberapa hari luka
tersebut dijembatani oleh jaringan granulasi yang disiapkan untuk
matang menjadi sebuah parut. Sementara proses ini terjadi, epitel
permukaan di bagian tepi mulai melakukan regenerasi, dan dalam
waktu beberapa hari lapisan epitel yang tipis bermigrasi di atas
permukaan luka. Seiring dengan jaringan parut di bawahnya menjadi
matang, epitel ini juga menebal dan matang, sehingga menyerupai kulit
di dekatnya. Hasilnya adalah terbentuknya kembali permukaan kulit
dan dasar jaringan parut yang tidak nyata atau hanya terlihat sebagai
satu garis yang menebal.
4. Nn. A bangun kesiangan sehingga tidak sempat sarapan dan jajan di
warung pinggir jalan.
a. Apa pentingnya sarapan?
Sebelum aktivitas sehari-hari (sekolah, kerja dll), pastilah lita memerlukan
perlu energi yang cukup besar, agar dapat memulai aktivitas dan dapat
memiliki konsentrasi yang baik untuk seharian penuh.
Energi ini didapatkan dari sarapan pagi, yang merupakan sumber bahan
bakar untuk beraktivitas. Sebaiknya untuk memulai aktivitas harian kita
sangat penting untuk sarapan terlebih dahulu, karena sarapan pagi penting
untuk mendukung energi kita seharian. Namun kritera apa yang baik untuk
sarapan sehat kita? jangan salah sarapan, maksudnya setelah sarapan justru
kita menjadi ngantuk dan tidak berenergi.
Berikut ini beberapa manfaat yang dirasakan jika kita rutin sarapan setiap
pagi dengan menu yang sehat
- Memenuhi kebutuhan nutrisi sehari-hari sehingga kita siap
beraktifitas sehari penuh.
- Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuh
- Membantu agar konsentrasi lebih baik, baik hubungannya untuk
bekerja di kantor maupun saat di sekolah.
b. Apa dampak jajan di pinggir jalan?
Jajan dipinggir jalan dapat menyebabkan terganggunya sistem
pencernaan karena makanan yang ada di pinggir jalan telah terkontaminasi

34

bakteri dan parasite. Parasit seperti Giardia lamblia dan cryptosporidium


dapat menyebabkan diare.

35

Daftar Pustaka

Chandrasoma dan Taylor. 2006. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Jakarta: EGC.
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.
Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC.
Hemma, Yulfi. 2006. Protozoa Intestinalis. Diakses pada 1 Juni 2009, 14.55.
http://library.usu.ac.id/download/fk/06001187.pdf.
Hiswani.2003.Diare Merupakan Salah Satu Masalah Kesehatan Masyarakat Yang
Kejadiannya Sangat Erat Dengan Keadaan Sanitasi Lingkungan.
http://209.85.175.104/search?
q=cache:zsj5KrN_psgJ:library.usu.ac.id/download/fkm/fkmhiswani7.pdf+patogenesis+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&lr=lang_id
http:// id.srcibd.com/doc/85055603/Anotomi-Dan-Fisiologi-Kulit
http://ajarhistovet.blogspot.com/2009/03/ii-histologi-sistem-pencernaan.html
http://bhebeth89.files.wordpress.com/2008/06/3.pdf
http://cellular-automata.um.ac.id
http://cfc-a1.blogspot.com/2012/02/
http://dythaphysicaltherapy.blogspot.com/p/normal-0-false-false-false-en-us-xnone.html
http://eprints.undip.ac.id/29133/3/Bab_2.pdf
http://id.srcibd.com/doc/60432956/DIARE-ORALIT
http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar4.pdf
http://medicastore.com/diare/penyebab_diare.htm
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21475/4/ChapterII.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23310/4/Chapter%20II.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ANATOMI%20FISIOLOGI.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Bb1-Digesti.pdf

36

http://unimus.ac.id
http://www.faqs.org/health/
Mansur, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga JIlid 1. Jakarta:
Media Aesculapius FKUI.
Margono, Sri S. 1998. Nematoda dalam Gandahusada, S. Ilahude, H. Pribadi, Wita.
Parasitologi Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta: FK UI.
Pack, Phillip E. 2007. Anatomi dan Fisiologi. Bandung: Pakar Raya
Price dan Wilson. Patofisiologi. Jakarta: EGC, 2005.
Setiawan, Budi. 2007. Diare Akut Karena Infeksi dalam Sudoyo, Aru W. Setiyohadi,
Bambang. Alwi, Idrus. Simadibrata K, Marcellus. Setiati, Siti. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam
FKUI.
Soebagyo, B. 2008. Diare Akut pada Anak. Surakarta: Sebelas Maret University
Press.
Sutadi, Sri Maryani. 2003. Diare Kronik. Diakses di: http://72.14.235.104/search?
q=cache:mWVOpJ8NsEoJ:library.usu.ac.id/download/fk/penydalamsrimaryani2.pdf+diare+filetype:pdf&hl=id&ct=clnk&cd=4&gl=id&lr=lang_id
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20051094
Zein, Umar. 2004. Diare Akut Infeksius Pada Dewasa.
http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar4.pdf

37