Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS INSTRUMEN
pH METER DAN TITRASI POTENSIOMETRI

O LE H
Nama

: JULIYAT FADLI

No BP

: 1320078

Kelompok : VI K.A 3B
Anggota

: Sisri Putri Yolanda


b. Nilam Maulani
c. Nur Ainun
d. Nurrahma yanti

LABORATORIUM INSTRUMENT
AKADEMI TEKNOLOGI INDUSTRI PADANG
2015

pH METER DAN TITRASI POTENSIOMETRI


I.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Untuk mengetahui tentang pH meter dan potensiometer.
2. Untuk memahami prinsip kerja pH meter dan potensiometer.
3. Untuk menentukan beda potensial suatu larutan dengan titrasi
permanganometri secara potensiometer serta menentukan pH suatu
larutan dengan pH meter.
4. Untuk menentukan beda potensial dan volume larutan standar saat
mencapai titik ekivalen.
5. Untuk menentukan beda potensial larutan tugas (Cx) dan menentukan
volume larutan tugas saat titik ekivalen tercapai.

II.

TEORI DASAR
pH meter adalah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH

(keasaman atau alkalinitas) dari cairan (meskipun probe khusus terkadang


digunakan untuk mengukur pH zat semi-padat). Sebuah pH meter khas terdiri dari
probe pengukuran khusus atau elektroda yang terhubung ke meteran elektronik
yang mengukur dan menampilkan pembacaan pH.
Probe atau Elektroda merupakan bagian penting dari pH meter, Elektroda
adalah batang seperti struktur biasanya terbuat dari kaca. Pada bagian bawah
elektroda ada bohlam, bohlam merupakan bagian sensitif dari probe yang berisi
sensor. Jangan pernah menyentuh bola dengan tangan dan bersihkan dengan
bantuan kertas tisu dengan tangan sangat lembut. Untuk mengukur pH larutan,
probe dicelupkan ke dalam larutan. Probe dipasang di lengan dikenal sebagai
probe lengan.
Untuk pekerjaan yang sangat tepat pH meter harus dikalibrasi sebelum
setiap pengukuran. Untuk penggunaan kalibrasi normal harus dilakukan pada awal
setiap hari. Alasan untuk ini adalah bahwa elektroda kaca tidak memberikan emf
direproduksi selama waktu yang cukup lama. Kalibrasi harus dilakukan dengan
setidaknya dua larutan buffer standar yang menjangkau rentang nilai pH yang
akan diukur. Untuk tujuan umum buffer pada pH 4 dan pH 10 yang diterima.
pH meter memiliki satu kontrol (kalibrasi) untuk mengatur pembacaan
meter sama dengan nilai dari buffer pertama standar dan kontrol kedua (slope)

yang digunakan untuk mengatur pembacaan meter dengan nilai buffer kedua.
Kontrol ketiga memungkinkan suhu harus ditetapkan. Sachet penyangga standar,
yang dapat diperoleh dari berbagai pemasok, biasanya negara bagaimana
perubahan nilai buffer dengan suhu. Untuk pengukuran yang lebih tepat, tiga
penyangga solusi kalibrasi lebih disukai.Sebagai pH 7 pada dasarnya, sebuah
"titik nol" kalibrasi (mirip dengan penekanan atau taring skala atau
keseimbangan), kalibrasi pada pH 7 pertama, kalibrasi pada pH terdekat dengan
tempat tujuan (misalnya 4 atau 10) kedua dan memeriksa titik ketiga akan
memberikan akurasi lebih linier dengan apa yang pada dasarnya adalah masalah
non-linear. Beberapa meter akan memungkinkan tiga kalibrasi titik dan itu adalah
skema yang lebih disukai untuk pekerjaan yang paling akurat.
Kualitas

meter

lebih

tinggi

akan

memiliki

ketentuan

untuk

memperhitungkan koreksi koefisien temperatur, dan pH probe high-end memiliki


probe suhu built in Proses kalibrasi berkorelasi tegangan yang dihasilkan oleh
probe (sekitar 0,06 volt per pH unit) dengan skala pH. Setelah setiap pengukuran
tunggal, probe dibilas dengan air suling atau air deionisasi untuk menghilangkan
jejak dari solusi yang diukur, dihapus dengan menghapus ilmiah untuk menyerap
air yang tersisa yang bisa mencairkan sampel dan dengan demikian mengubah
membaca, dan kemudian dengan cepat tenggelam dalam solusi lain.
Pada pH meter, yang diukur adalah potensial sel bukan langsung harga pH
larutan. Elektroda kaca sebagai elektroda penunjuk mempunyai notasi sel.
Ag | AgCl, Cl- , H+ | membran kaca
Kaca yang digunakan sebagai elektroda terdiri atas jaringan silikat yang
bermuatan negatif dan mengandung sejumlah kation terutama ion natrium yang
dapat ditukar oleh ion hidrogen.
Elektroda gelas (kaca) sebelum digunakan harus direndam dalam air agar
molekul-molekul air masuk ke kisi-kisi kaca dan akan mengembang sehingga
proses pertukaran ion akan mencapai maksimum. Dengan kata lain gugus Na+
dapat dengan mudah ditukar dengan ion H+. Oleh sebab itu, pada saat pengukuran
perlu waktu respon bagi elektroda.
Pengukuran ion hidrogen harus dibandingkan terhadap ion hidrogen yang
sudah diketahui konsentrasinya dan tetap. Oleh karena itu, bentuk elektroda kaca

spesifik yang berupa wadah kecil yang didalamnya berisi larutan dapar asetat atau
HCl 0,1 N. Dengan demikian lapisan dalam kaca mempunyai konsentrasi H+
yang tetap dan diketahui, sedangkan lapisan luar kaca konsentrasi H+ bergantung
pada larutan yang akan diukur.
Potensiometer adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mengukur
beda potensial (tegangan) antara dua elektroda yang dicelupkan ke dalam larutan,
dimana salah satu elektroda merupakan elektroda penunjuk (indicator electrode)
dan elektroda yang satu lagi merupakan elektroda pembanding (reference
elektroda). Jenis-jenis Elektroda Pembanding adalah sebagai berikut :
1. Elektroda Hidrogen Normal (EHN) atau NHE
E = 0,00 volt
2. Elektroda Kalomel
Elektroda kalomel terbagi dua yaitu :

Elektroda Kalomel Normal (EKN) atau NCE


E = + 0,281 volt

Elektroda Kalomel Jenuh (EKJ) atau SCE


E = + 0,245

3. Elektroda Perak Normal (EPN) atau NSC


E = + 0,225 volt
4. Elektroda Thalamide
E = - 0,581 volt
T = 0o 135 oC
Digunakan pada industri yang menggunakan system boiler atau sistem
uap panas dengan suhu di atas 100 oC. Jenis-jenis Elektro Indikator Elektroda ion
Hidrogen adalah :
1. Elektroda Hidrogen
E = 0,00 - 0,059 log [H+]
E = 0,00 0,059 pH
2. Elektroda Antimon
E = Eo + 0,059 pH
Dioperasikan pada rentang pH 2-7 maka alat akan berfungsi dengan baik.
3. Elektroda Quine Hidron

E = Eo 0,059 pH
Dapat berfungsi dengan baik pada pH 0-8,0
4. Elektroda Gelas
Perbedaan H+ out dan H+in akan mempengaruhi harga E.
E = Eo + 0,059 pH
Dapat berfungsi dengan pada baik pada pH 0-12
Elektroda gelas bentuknya bisa dikombinasikan dengan elektroda
pembanding.
Potensiometer dapat digunakan secara :

Langsung yaitu untuk penentuan konsentrasi ion tertentu seperti pH, Ag+,
NO2

Tidak langsung (titrasi potensiometer)


Potensiometer berfungsi sebagai penunjuk pada titrasi
Peralatan yang mempunyai prinsip kerja sama seperti potensiometer

dikenal dengan peralatan pH meter dan ion selektif meter.


pH meter adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mengukur beda
potensial diantara dua elektroda yang dicelupkan ke dalam larutan, dimana salah
satu elektroda merupakan elektroda penunjuk ion hIdrogen. Dan elektroda yang
satu lagi merupakan elektroda pembanding serta beda potensial yang dihasilkan
dikonfersikan oleh alat menjadi besaran pH.
Ion selektif meter adalah suatu peralatan yang digunakan untuk
menentukan konsentrasi ion-ion tertentu yang dipilih selain dari ion Hidrogen.
Komponen-komponen utama dari peralatan potensiometer adalah :
1. Sumber arus
Sebagai sumber arus yang digunakan arus searah (DC)
2. Elektroda
Pada umumnya digunakan elektroda yang disebut dengan elektroda
kombinasi. Di samping menggunakan satu elektroda kadangkala peralatan
dilengkapi dengan thermometer loging untuk membaca suhu larutan.
3. Tahanan geser

Digunakan untuk menstandarisasi peralatan dengan menggunakan larutan


buffer (penyangga) yang pH nya telah diketahui.
4. Recorder
Digunakan untuk membaca atau mencatat besaran pH larutan maupun beda
potensial larutan dinyatakan dalam satuan mV (mili Volt).
Proses titrasi potensiometri dapat dilakukan dengan bantuan elektroda
indikator dan elektroda pembanding yang sesuai. Dengan demikian, kurva titrasi
yang diperoleh dengan menggambarkan grafik potensial terhadap volume pentiter
yang ditambahkan, mempunyai kenaikan yang tajam di sekitar titik kesetaraan.
Dari grafik itu dapat diperkirakan titik akhir titrasi. Cara potensiometri ini
bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk menentukan titik akhir
titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah kesetaran sangat pendek
dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi dengan indikator.
Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu
reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi
redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang
terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan
elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.
Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda
indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8. Sedangkan
reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi
redoks. Oksidator kuat (KMnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logamoksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer
(Khopkar, 1990).
Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan
sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan
perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda
indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung
pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa,
elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain
yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak
nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi

redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum sematamata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990).
Salah satu metode potensiometri adalah potensiometri tidak langsung atau
lebih dikenal sebagai titrasi potensiometri. Dimana komponen yang akan
ditentukan konsentrasinya dtitrasi cengan titran yang sesuai dan elektroda
indicator digunakan untuk mengikuti perubahan potensial akibat titrasi. Plot
antara potensial elektroda dengan volume titrasi akan berupa kurva sigmold,
dimana titik ekivale dapat ditentukan dari kurva tersebut.
Titik akhir titrasi dalam titrasi potensiometri dideteksi dengan menetapkan
volume pada saat terjadi perubahan potensial yang relatif besar ketika ditambah
titran. Untuk titrasi yang menggunakan suatu elektroda kaca dapat digunakan
untuk semua reaksi titrimetri, misalnya asam basa, redoks, pengendapan dan
pembentukan kompleks. Titrasi ini dapat dilakukan dengan tangan, ataupun
prosedur itu diotomatiskan. Dalam titrasi tidak otomatis, potensial diukur setelah
penambahan tiap tetes berurutan dari titran dan pembacaan yang diperoleh dari
volume titran dibuat kurva titrasi. Jika digunnkan elektoda kaca, diperlukan
piranti ukur dengan impedansi masukan yang tinggi karena resistan kaca yang
tinggi. Namun sebagian besar telah menggunakan pH meter. Karena pH meter ini
digunakan secara meluas untuk semua jenis titrasi, bahkan dalam hal-hal tertentu
penggunaannya tidak diwajibkan.
Titrasi potensiometri biasanya tidak diperlukan potensialpotensial
mutlak ataupun potensial relatif terhadap suatu separuh sel standar, dan
pengukuran dilakukan sementara titrasi berlangsung. Titik ekuivalensi reaksi
akan ditunjukkan oleh perubahan potensial e.m.f. suatu elektroda haruslah
konstan potensialnya meskipun tidak perlu diketahui, elektroda lain harus
berperan sebagai indikator perubahan konsentrasi ion dan haruslah merespons
dengan cepat (Basset, 1994).
III. PROSEDUR KERJA
III.1 ALAT
1. pH Meter
2. Potensiometer
larutan
3. Pipet gondok 10 mL

: untuk mengukur pH suatu larutan


: untuk mengukur beda potensial suatu
: untuk memipet larutan secara teliti

4. Gelas piala 100 mL


5. Buret 50 mL
6. Gelas piala 250 mL
7. Standar
8. Klem
9. Magnetic stirrer
10. Pipet takar 10 mL
11. Pipet tetes
12. Bola hisap
13. Botol semprot
14. Elektroda gelas
15. Elektroda kalomel jenuh

: untuk melarutkan zat secara teliti


: untuk mengeluarkan zat secara teliti
: untuk melarutkan zat secara tidak teliti
: tempat tegaknya alat gelas
: untuk menjepit alat gelas pada standar
: untuk mengaduk larutan
: untuk memipet larutan secara tidak teliti
: untuk mengambil larutan per tetes
: untuk membantu memipet larutan
: untuk menyimpan aquades
: sebagai elektroda indikator
: sebagai elektroda pembanding

III.2 BAHAN
1. Aquades
2. Tisu
3. KMnO4 0,1 N
4. Fero Ammonium Sulfat
5. NH4Cl 0,1 Nsebagai sampel
6. CH3COONH4 0,1 N
7. H2SO4 4 N
8. Larutan buffer 7,00

: sebagai pelarut dan pembilas


: untuk mengeringkan pH Meter
: sebagai larutan penitar (oksidator)
: sebagai larutan yang dititar
: pengukuran pH
: sebagai sampel pengukuran pH
: sebagai sampel pengukuran pH
: sebagai larutan standar pH Meter

III.3 CARA KERJA


1. Pengukuran pH Larutan dengan pH Meter
a. Diisi larutan buffer 7,00 dalam gelas piala 250 mL sebanyak 100 mL.
Dicelupkan kedua elektroda alat pH meter. Dibiarkan 1 menit.
b. Diukur suhu larutan buffer, tekan tombol koreksi suhu pada nilai
suhu larutan.
c. Ditempatkan selektor pada fungsi pH, diamati nilai penunjukannya.
d. Diatur tombol buffer atau standarisasi sedemikian rupa sehingga
menunjukkan indikator tepat pada nilai 7,00 (nilai pH buffer standar
yang digunakan).
e. Dikeluarkan elektroda dari larutan, dibilas dengan aquades dan
dikeringkan dengan menggunakan tisu. Alat pH meter siap
digunakan untuk pengukuran.
f. Diambil larutan tugas NH4Cl 0,1 N ; CH3COONH4 0,1 N ;
CH3COONa 0,1 N. Kemudian dimasukkan ke dalam gelas piala 100
mL sebanyak 50 mL.
g. Dicelupkan kedua elektrodanya. Diukur suhu larutan dengan
mengatur tombol koreksi suhu pada nilai suhu larutan.
h. Dibaca dan dicatat nilai pH dari larutan tugas tersebut.

2. Pengukuran Beda Potensial dengan Potensiometer


a. Dipipet 10 mL larutan Fe+2 (fero ammonium sulfat). Dimasukkan ke
dalam gelas piala 250 mL. Ditambahkan 10 mL H 2SO44 N. Lalu
diencerkan

dengan

aquades

hingga

100

mL.

Diaduk

dan

dihomogenkan.
b. Diisikan larutan KMnO4 0,1 N ke dalam mikroburet, diusahakan
jangan sampai ada gelembung udara dalam mikroburet. Kemudian
dilanjutkan dengan pengukuran beda potensial larutan.
c. Dibilas kedua elektroda potensiometer dengan mencelupkannya ke
dalam aquades.
d. Diambil larutan Fe+2 (fero ammonium sulfat) tadi. Dimasukkan
magnetic stirrer. Dan ditempatkan di atas alat potensiometer.
e. Dihidupkan stirrer selama 30 detik. Lalu dimatikan dan ditunggu 20
detik, dibaca nilai potensial sel yang dihasilkan.
f. Dilakukan penambahan KMnO4 0,1 N 1 mL, ditunggu 20 detik,
dibaca potensialnya.
g. Dihitung nilai E pada setiap penambahan penitar ini. Bila nilai
perubahan potensial yang dihasilkan mencapai nilai besar dari 20
mV, maka penambahan penitar KMnO4 0,1 N diperkecil menjadi
interval 0,1 mL.
h. Jika kembali didapatkan nilai E besar dari 20 mV, dilakukan
penambahan KMnO4 0,1 N dengan interval 0,05 mL, tetes demi
tetes.
i. Dilanjutkan titrasi ini minimal 5 kali penambahan secara tetes demi
tetes ini. Kemudian titrasi ini dapat dihentikan.
j. Titik ekivalen titrasi ini merupakan titik maksimum dari kurva.
Ditentukan volume KMnO4 0,1 N yang dibutuhkan.
k. Dilakukan hal yang sama untuk larutan tugas (Cx) dan ditentukan
volume larutan Cx.
IV. PENGAMATAN
a. Pengukuran pH dengan pH Meter
Larutan buffer 7,00

Larutan kuning, bening

Larutan NH4Cl 0,1 N

Larutan bening, tak berwarna

Larutan CH3COONH4 0,1 N

Larutan bening, tak berwarna

Larutan CH3COOH 0,1 N

Larutan bening, tak berwarna

b. Pengukuran Beda Potensial dengan Potensiometer


Larutan Fero Ammonium Sulfat
Larutan bening, tak berwarna
Larutan H2SO4 4 N
Larutan bening, tak berwarna
Larutan KMnO4 0,1 N
Larutan berwarna ungu
Larutan tugas (Cx)
Larutan bening, tak berwarna
Larutan Fero Ammonium Sulfat + H2SO4 4 N
Larutan bening, tak
berwarna + KMnO4 0,1 N

Larutan berwarna pink seulas saat titik ekivalen

tercapai.
Pada saat titrasi, nilai beda potensial naik dan mengalami kenaikan perubahan
beda potensial yang signifikan pada satu titik. Dan inilah titik ekivalennya.
Setelah itu, nilai beda potensia naik kembali tapi naik secara konstan (tidak
signifikan).
V. HASIL DAN PERHITUNGAN
V.1 HASIL
a) Tabel hasil pengukuran pH Larutan Tugas
No
Larutan
1 NH4Cl 0,1 N
2 CH3COONH4 0,1 N
3 CH3COOH 0,1 N

b)

Suhu (oC)
31,0
27,5
27,3

pH
6,31
8,60
2,82

Tabel hasil pengukuran beda potensial (E) larutan standar (FAS vs


KMnO4)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Volume KMnO4
(mL)
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
4,5
5
5,5
6

270
270
266
265
265
264
264
264
264
264
264
264
264

0
0
4
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
c)

6,5
7
7,5
8
8,5
9
9,5
10
10,5
11
11,5
12
12,5
13
13,5
14
14,5
14,6
14,7
14,8
14,9
15

1
0
1
0
1
11
0
1
1
0
1
1
2
1
0
2
133
122
0
7
2
15

265
265
266
266
267
278
278
279
280
280
281
282
284
285
285
287
420
298
298
305
303
318

Tabel hasil pengukuran beda potensial (E) larutan sampel (Cx) dengan
KMnO4
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Volume KMnO4
(mL)
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
4,5
5
5,5
6
6,5
7

269
269
269
268
269
269
269
267
267
271
272
272
273
273
274

0
0
0
1
1
0
0
2
0
4
1
0
1
0
1

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46

7,5
8
8,5
9
9,5
10
10,5
11
11,5
12
12,5
13
13,5
14
14,5
15
15,5
16
16,5
17
17,5
18
18,5
19
19,5
19,6
19,7
19,8
19,9
20
20,1

275
272
272
272
273
278
279
280
277
277
280
282
280
280
281
285
285
286
285
287
288
290
291
295
402
439
440
436
440
441
443

1
3
0
0
1
5
1
1
3
0
3
2
2
0
1
4
0
1
1
2
1
2
1
4
107
37
1
4
4
1
2

V.2 PERHITUNGAN
a. Konsentrasi KMnO4 (Lihat tabel titrasi larutan standar)
(V1.N1) KMnO4
= (V2.N2) Fero Ammonium Sulfat
14,50 mL . N1 KMnO4

= 10,00 mL . 0,1000 N

N KMnO4

=
= 0,0689 N

b. Volume Larutan Tugas (Cx)

Lihat tabel titrasi larutan sampel

(V1.N1) KMnO4

= (V2.N2) Fero Ammonium Sulfat

19,50 mL . 0,0689 N

= V2 . 0,1000 N

V2 Fero Ammonium Sulfat

=
= 13,4 mL

VI. PEMBAHASAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, pada titrasi potensiometri
dapat dilihat bahwa penambahan larutan KMnO4 pada larutan fero ammonium
sulfat (FAS) menghasilkan nilai beda potensial yang semakin naik dengan
perubahan nilai beda potensial yang berbeda-beda. Selama proses titrasi, terjadi
perubahan beda potensial yang signifikan pada satu titik. Perubahan nilai beda
potensial (E) yang terjadi secara signifikan ini, disebabkan oleh banyaknya
jumlah penambahan larutan penitar. Sehingga perlu dikurangi penambahannya,
yaitu setetes demi setetes. Titik maksimum dalam kurva titrasi potensiometri ini
adalah titik ekivalen titrasi. Sehingga dengan menentukan nilai perubahan beda
potensial tertinggi, didapatkan konsentrasi larutan standar dan volume dari larutan
tugas yang diberikan. Sedangkan pada pengukuran pH larutan dengan pH meter,
terlihat bahwa pH larutan tugas bermaca-macam. Ada yang bersifat basa, asam,
maupun netral. Hal ini disebabkan oleh senyawa penyusun garam tersebut. Di
mana NH4Cl 0,1 N merupakan garam dari asam kuat HCl, CH3COONH4 0,1 N
merupakan garam dari asam dan basa lemah, dan CH3COOH 0,1 N merupakan
aam lemah. Sehingga nilai pH larutan garam tersebut berbeda-beda.

VII. KURVA KALIBRASI STANDAR


a.
Kurva Larutan Standar

TE

b.

Kurva Larutan Tugas / Sampel (Cx)

TE

VIII. KESIMPULAN DAN SARAN


VIII.1 KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan


sebagai berikut :
1.

Titrasi potensiometri dapat menentukan konsentrasi suatu larutan

berdasarkan nilai beda potensialnya.


2. pH larutan garam berbeda-beda karena dipengaruhi oleh senyawa
penyusunnya.
3. Konsentrasi larutan standar KMnO4 yang didapatkan adalah sebesar
0,0689 N dan volume larutan tugas sebesar 13,4mL.
VIII.2 SARAN
Pada praktikum ini, penulis menyarankan agar penambahan larutan penitar
dilakukan secara hati-hati dan teliti. Sehingga data yang didapatkan valid. Untuk
praktikum

selanjutnya,

dilakukan

juga

titrasi

potensiometri

ini

secara

argentometri. Supaya pengetahuan praktikan bertambah.

DAFTAR PUSTAKA
Bassett , J, dkk. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analitik. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC.
Brink O.C. et. all. 1993. Dasar-Dasar Ilmu Instrument. Bandung : Bina Cipta.

Khopkar,1990 Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia.


http://agmiel.blogspot.com/laporan-praktikum-instrumen-analisis-ii.html/diakses
tanggal 21 November 2014, pukul 07.00 WIB.
http://agung92.blogspot.com/praktikum-1-titrasi-potensiometri.html/diakses
tanggal 21 November 2014, pukul 07.05 WIB.
http://himka1polban.wordpress.com/ laporan-ph-metri/.html/diakses tanggal 21
November 2014, pukul 07.10 WIB.

Volume Cx (Larutan Tugas) = 13,4 mL