Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan populasi hewan dalam jumlah besar menjadi masalah tersendiri bagi
kesehatan manusia, terutama hewan kecil seperti anjing dan kucing karena hewan-hewan
tersebut dapat menularkan dan membawa berbagai agen penyakit. Salah satu solusi untuk
memecahkan permasalahan di atas adalah melakukan tindakan sterilisasi pada anjing
maupun kucing baik pada jantan maupun betina. Sterilisasi pada hewan betina dapat
dilakukan dengan hanya mengangkat ovariumnya saja (ovariectomy) atau mengangkat
ovarium beserta dengan uterusnya (ovariohisterectomy) (Fossum,2002).
Ovariohisterectomy merupakan prosedur pembedahan membuang uterus, adnexa dan
ovarium. Ovariohisterectomy (OH) istilah kedokteran yang terdiri dari ovariectomy dan
histerectomy. Ovariectomy adalah tindakan pengamputasian, mengeluarkan dan
menghilangkan ovarium dari rongga abdomen. Sedangkan Hysterectomy adalah tindakan
pengamputasian, mengeluarkan dan menghilangkan organ uterus dari dalam tubuh. Jadi
ovariohisterectomy merupakan tindakan bedah / operasi pengangkatan organ reproduksi
betina dari ovarium sampai dengan uterus (Hosgoog,2008).
Ovariohisterctomy dapat juga dilakukan untuk terapi pengobatan pada kasus-kasus
reproduksi seperti pyometra, endometritis, tumor uterus, cyste, hiperplasia dan neoplasia
kelenjar mamae. Keputusan untuk melakukan ovariohisterektomi dipilih ketika berbagai
jenis terapi lain sudah tidak memungkinkan. Selain itu, tindakan operasi ini juga
dianjurkan dilakukan pada anjing betina yang sudah tua yang tidak ingin dikawinkan lagi
dengan tujuan untuk mencegah terjadinya tumor kelenjar mamae. Tindakan bedah ini akan
memberikan efek pada hewan seperti perubahan tingkah laku seperti hewan tidak berahi,
tidak bunting, dan tidak dapat menyusui. Perubahan tingkah laku ini dapat terjadi akibat
ketidakseimbangan hormonal (Meyer K. 1957)
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kastrasi ini adalah sebagai berikut :
Mengetahui apa yang dimaksud dengan ovariohisterectomy.
Mengetahui teknik operasi ovariohisterectomy pada kucing.
Mengetahui keuntungan dan kerugian ovariohisterectomy.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan ovariohisterectomy.
Mahasiswa dapat mengetahui teknik operasi ovariohisterectomy pada kucing.
Mahasiswa dapat mengetahui keuntungan dan kerugian ovariohisterectomy.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian dan Fungsi Ovariohisterectomy (OH)


Ovariohisterectomy merupakan prosedur pembedahan membuang uterus, adnexa dan
ovarium. Ovariohisterectomy (OH) istilah kedokteran yang terdiri dari ovariectomy dan
histerectomy. Ovariectomy adalah tindakan pengamputasian, mengeluarkan dan
menghilangkan ovarium dari rongga abdomen. Sedangkan Hysterectomy adalah tindakan
pengamputasian, mengeluarkan dan menghilangkan organ uterus dari dalam tubuh. Jadi
ovariohisterectomy merupakan tindakan bedah / operasi pengangkatan organ reproduksi
betina dari ovarium sampai dengan uterus (Hosgoog,2008).
Nama lain Ovariohystectomy yaitu spay, femal neutering, sterilization, fixing,
desexing, ovary and uterine ablation dan pengangkatan uterus. Ovariohysterectomy
merupakan tindakan bedah yang sering dilakukan pada hewan kecil. Adapun Anatomi
topografi organ reproduksi kucing bagian dalam menurut Rice (1996) adalah sebagai berikut :

Ovariohysterectomy merupakan salah satu tindakan bedah untuk mengatasi kelainan


pada ovarium dan saluran reproduksi hewan betina. Keputusan untuk melakukan
ovariohisterektomi dipilih ketika berbagai jenis terapi lain sudah tidak memungkinkan.
Ovariohisterektomi adalah tindakan bedah yang dilakukan untuk mengangkat dan membuang
uterus dan ovariumnya sekaligus dari tubuh hewan betina. Berbagai kasus yang
memungkinkan diambilnya tindakan bedah ini diantaranya adanya tumor atau kista pada
ovarium dan pada kasus pyometra yaitu penimbunan nanah pada uterus. Selain itu, tindakan
operasi ini juga dianjurkan dilakukan pada anjing betina yang sudah tua yang tidak ingin
dikawinkan lagi dengan tujuan untuk mencegah terjadinya tumor kelenjar mamae. Indikasi
dilakukannya ovariohisterectomy adalah a) Sterilisasi, penyembuhan penyakit saluran
reproduksi (pyometra, tumor ovary, cyste ovary) tumor uterus (leiomyoma, fibroma,
fibroleiomyoma). b)Tumor mammae, veneric sarcoma, prolapsus uterus dan vagina. c) Hernia
inguinalis, modifikasi tingkah laku agar mudah dikendalikan.d)Penggemukan. e)Modifikasi

tingkah laku yaitu, lebih mudah dikendalikan, lebih jinak, membatasi jumlah populasi
(Pearson.1973).
Ovariohysterectomi dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hormonal untuk
sementara waktu. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan ovarium merupakan kelenjar yang
juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin. Namun, keuntungan dari dilakukannya
ovariohisterktomi adalah dapat mencegah terjadinya tumor mamae dan akan menghilangkan
kemungkinan terjadinya kasus pyometra (Nash,2008).
2.2 Keuntungan dan Kerugian Ovariohisterectomy (OH)
Keuntungan Ovariohisterectomy (OH)
Secara umum keuntungan melakukan ovariohisterectomy adalah :
1. Menghilangkan keributan hewan pada periode estrus
2. Mencegah lahirnya anak anjing/kucing yang tidak diinginkan.
3. Menghilangkan stress akibat kebuntingan.
4. Mengurangi resiko terkena kanker mammae, ovarium dan uterus.
5. Menghilangkan resiko pyometra dan infeksi uterus lain.
6. Terapi terhadap penyakit-penyakit uterus dan ovarium.
Menurut Nash (2008) Terdapat beberapa kerugian apabila tidak dilakukan OH pada
kucing betina, yaitu antara lain :
1. spontaneous ovulators
kucing betina adalah spontaneous ovulators, artinya kucing betina akan ovulasi
hanya pada saat kawin, jika betina mengalami estrus (selama 3-16 hari) dan tidak
dikawinkan maka betina akan estrus kembali setiap 14-21 hari sampai akhirnya
dikawinkan. Pola fisiologi dan tingkah laku akan tertekan selama kawin. Apabila
betina terkunci atau terjebak di dalam rumah maka kemungkinan akan
menyebabkan kegelisahan dan frustasi.
2. Masalah tingkah laku dan higienis
Selama siklus estrus akan muncul beberapa permasalahan tingkah laku. Betina
yang sedang estrus akan aktif mencari pejantan dan mungkin berusaha untuk pergi
jauh dari rumah, kecelakaan mobil, berkelahi dengan hewan yang lain dan lain
lain. Kadang kucing jantan datang secara tiba-tiba di sekitar rumah dan halaman.
Pada beberapa keadaan, betina yang belum di OH akan spray urinnya ketika
estrus. Hal ini akan sulit untuk dihentikan dan sangat dianjurkan untuk dilakukan
OH sebagai salah satu pengobatan.
3. Kanker mamae
Kanker mamae adalah no 3 kanker yang umum terjadi pada kucing betina.
Hormon reproduksi adalah salah satu penyebab utama kanker mamae pada kucing
betina. Kucing yang telah di OH memiliki risiko 40-60% lebih rendah pada
perkembangan kanker mamae daripada yang tidak di OH.
4. Tumor pada traktus reproduksi
Tumor akan muncul pada uterus dan ovarium. OH tentu saja akan mengeliminasi
berbagai kemungkinan munculnya tumor.
5. Infeksi traktus reproduksi
Kucing yang tidak di OH kemungkinan akan berkembang penyakit pada uterus
yang disebut pyometra. Dengan demikian, bakteri akan masuk dan uterus akan
dipenuhi oleh nanah Apabila tidak terdeteksi, umumnya akan fatal. Pada kasus
yang jarang adalah ketika kondisi ini diketahui lebih dini maka terapi hormonal

dan antibiotik mungkin akan berhasil. Secara umum, pengobatan pyometra


membutuhkan OH yang cukup sulit dan mahal.
Kerugian Ovariohisterectomy (OH)
Adapun kerugian dari dilakukannya ovariohisterectomy yaitu :
1. Terjadinya obesitas atau kegemukan
Kelemahan dari kucing yang di OH ialah terjadinya kegemukan atau obesitas.
Rata-rata seekor kucing betina yang di OH membutuhkan asupan kalori sebanyak
25% untuk menjaga berat badannya. Kucing yang di OH akan mengalami penurunan
metabolisme basal sehingga meningkatkan deposit lemak dalam tubuh. Obesitas
banyak terjadi pada kucing yang di OH setelah dewasa kelamin.
2. Hilangnya potensi breed dan nilai genetic (Nash,2008).
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada saat melakukan ovariohysterectomy
diantaranya yaitu:
Ovariant remanant syndrome. Sindrom ini menyebabkan hewan tetap estrus
pasca ovariohysterectomy, hal ini disebabkan karena pengambilan ovarium
yang tidak sempurna.
Fistula pada traktus reproduksi, fistula berkembang dari adanya respon
inflamasi terhadap material operasi seperti benang.
Urinary uncontinence. Merupakan kejadian tidak dapat mengatur spincter
vesica urinary. Hal ini dapat tejadi karena adanya perlekatan (adhesi) atau
granuloma pangkal uterus yang mengganggu spincter vesica urinary.
Pendarahan (hemorragi). Dilaporakan sebagai causa mortalitas umum setelah
dilakukannya ovariohysterectomy, disebabkan karena rupture pada pembuluh
ovarium ketika ligamentume suspensorium diregangkan (Nash,2008).
2.3 Macam-Macam Teknik Operasi
Pada hewan kecil, ada 2 macam teknik operasi bedah laparatomy yang bisa dilakukan
yaitu :
1. Teknik Bedah Laparotomy Anterior (Dorsal/Cranial) : Daerah insisinya antara
umbilicus dan cartilago xiphoideus.
b). Teknik Bedah Laparotomy Posterior (Ventral/Caudal). Daerah insisinya antara
umbilicus dan tepi pelvis (Ibrahim,2000).
2.4 Penangatan/Manajemen Hewan Pre Operasi
Penanganan atau manajemen hewan yang dilakukan pada pre operasi adalah sebagai
berikut : Fossum (2002)
Pemeriksaan Diagnostik
Diperlukan pemeriksaan darah meliputi Packed Cell Volume (PCV) dan Total protein
Plasma (TPP). Untuk toy breed dan hewan yang merupakan prediposisi hypoglicemia
perlu dilakukan pemeriksaan gula darah. Pada anjing yang bermasalah dengan
pembekuan darah, seperti von Willebrand disease, memerlukan transfusi plasma beku
atau cryoprecipitate dan menghindari penyuntikan pada intramuskularis.
Hewan dipuasakan 8-12 jam sebelum pembedahan
Preparasi situs pembedahan
Dilakukan pencukuran pada daerah abdomen dari daerah xiphoid ke arah pubis.
Pemberian sedativa

Untuk memudahkan pencukuran bisa dilakukan pengekangan sebelum dilakukan


pencukuran menggunakan acepromazine (0,005-0,025 ml/kg BB Im), yang berefek
setelah 20-30 menit sejak penyuntikan.
Pemberian premedikasi
Menggunakan Atropin Sulfat (0,08-0,16 ml/kg BB SC atau IM), 15 menit kemudian
baru diberikan induksi anasthesi
Induksi Anasthesi
Menggunakan Ketamin HCl (anjing 0,06-0,22 ml/kg BB IV atau IM, kucing 0,02-0,25
ml/kg BB IV atau IM) dikombinasikan dengan xylazine dengan perbandingan 1:1
Memposisikan hewan pada rebah dorsal atau lateral dan keempat kakinya difiksasi
menggunakan tali
Pemberian surgical drape.
Difiksasi menggunakan towel clamp sisi lateral.
Pada lokasi pembedahan diolesi antiseptik alkohol (dibiarkan 10 menit) dan providone
iodine (dibiarkan 15 menit).

2.5 Penanganan/Manajemen Hewan Pasca Operasi


Penanganan Pasca Operasi yaitu: Fossum (2002)
1. Pasien ditempatkan dalam kandang yang bersih dan kering (diistirahatkan)
2. Perlindungan luka operasi dengan memberikan gurita pada kucing untuk menghindari
kucing menggigit atau menjilat luka.
3. Luka bekas operasi diperiksa secara kontiyu dan dilakukan pengobatan pada bekas
luka selama lebih kurang 7 hari, Kontrol luka dan bersihkan dengan NaCl fisiologis
atau dengan desinfektan setiap hari bila daerah sayatan kotor atau terkena tanah.
4. Beri nutrisi yang baik dan antibiotika seperti nebacetin untuk mencegah timbulnya
sekunder infeksi, tiap 2 hari sekali diinjeksi asam tolfenamic secara subkutan.
5. Pemberian obat Amoxicilin dan Wound Guard.
6. Jahitan di buka setelah bekas operasi kering yaitu lebih kurang 7 hari pasca operasi.

BAB 3
METODOLOGI
1.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Duk Clamp
Duk

Allis forceps
Arteri clamp
Needle holder
Spuit 1 cc
Scalpel dan Blade
Pinset Anatomis dan Chirurgis
Gunting lurus tajam-tumpul, gunting tumpul-tumpul
Catgut chromic 3.0, catgut plain,dan silk
Needle
Wadah stainless steel
Timer, stetoskop, dan termometer
Kertas koran
Perlak
Tali kekang
Lampu penghangat

3.2.2 Bahan

Seekor kucing jantan dengan berat badan 2,2 kg


Atropin sediaan dosis 0,04 mg/kg dan konsentrasi 0,25 mg/ml, maka (0,04

mg/kg x 2,2 kg) / 0,25 mg/ml = 0,35 ml


Xylazin dosis (2 mg/kg x 2,2 kg) / 20 mg/ml = 0,22 ml
Ketamin dosis (10 mg/kg x 2,2 kg) / 100 mg/ml = 0,22 ml
Tolfenamic acid dosis 4 mg/kg, sediaan 40 mg/ml, BB 2,2 kg. (4 mg/kg x 2,2

kg) / 40 mg/ml = 0,22 ml


Vicilin dosis 15 mg/kg, sediaan 100 mg/ml, BB 2,2 kg. (15 mg/kg x 2,2 kg) /

100 mg/ml = 0,33 ml + 1 ml (vicilin topical )


Amoxycillin dosis (20 mg/kg x 2,2 kg)/ 25 mg/ml = 1,76 ml
Betamox dosis (15 mg/kg x 2,2 kg) / 150 mg/ml = 0,22 ml
Castran dosis (0,02 mg/kg x 2,2 kg) / 40 mg/ml = 0,044 ml
Alkohol 70%
Povidone iodine
Nebacetin
Nacl Fisiologis
Kapas dan tampon

3.2 Prosedur
3.2.1

Preparasi Alat Bedah


Alat Bedah
-

towel clamp, pinset (anatomis dan sirurgis), scalpel dan blade, gunting
(tumpul-tumpul dan tajam-tumpul), arteri clam, dan allis tissue forceps
dimasukan dalam wadah peral

wadah peral dibungkus koran

dimasukan dalam oven steril beserta drape dan tampon

disterilisasi pada suhu 100oC selama 60 menit

untuk gunting dan needle holder dicuci dengan alkohol 70%

alat yang telah steril ditata di meja operasi

Hasil
3.2.2

Persiapan Hewan
Hewan
-

dipuasakan 8-12 jam sebelum pembedahan

dilakukan pemeriksaan signalement dan data fisiologis hewan

diberikan sedativa acepromazin, ditunggu 20-30 menit

diberikan premedikasi atropin sulfat lalu ditunggu 15 menit

diberikan anestesi campuran ketamine-xylaxine lalu ditunggu sampai


muncul stadium 3

direstrain pada meja operasi dengan bantuan tali kompor

disumpalkan kapas/kassa/tampon steril ke mulut hewan

dicukur rambut pada daerah abdomen dari daerah xiphoid ke arah pubis

dipasangkan drape yang dijepit dengan menggunakan towel clamp

diolesi antiseptik alkolhol (dibiarkan 10 menit) dan providone iodine


(dibiarkan 15 menit) pada lokasi pembedahan.

Hasil

3.2.3

Persiapan Operator dan Asisten


Praktikan
-

tangan dicuci dengan sabun hingga ke sela jari dan kuku

dibilas dengan air mengalir hingga bersih

pencucian dilakukan hingga lengan dan dilakukan beberapa kali hingga


benar benar bersih

dilakukan sterilisasi menggunakan antiseptik

tangan dikeringkan

dikenakan pakaian operasi, glove, masker, dan penutup rambut

dihindarkan menyentuh benda lain yang berpotensi mencemarkan


kuman

Hasil

3.2.4

Operasi
Hewan
-

daerah site operasi diolesi dengan antiseptik secara sirkuler dari bagian
sentral (tempat yang akan dioperasi) bergerak ke arah perifer

dilakukan insisi di linea alba pada caudal pusar, meliputi kulit,


subcutan, rongga peritoneal.

Dicari lokasi uterus dengan titik orientasi vesica urinaria menggunakan


spay hook dan jari telunjuk.

Ditarik perlahan uterus ke permukaan, hati-hati dengan tekanan negatif


rongga abdomen sehingga memudahkan usus halus keluar menghalangi
lapangan pandang.

Dipisahkan ovarium dan uterus dari penggantungnya.

Dilakukan ligasi menggunakan catgut chromic 3-0 pada pembuluh


darah dan ligasi bagian proksimal ovarium dengan metode three forceps
tie menggunakan square knot.

Dipotong ovarium

Dilakukan prosedur yang sama pada ovarium yang lain

Setelah ovarium dipotong, dilakukan preparasi untuk corpus uteri.

Dibuat ligasi di bagian corpus 0,5-1 cm dibawah bifurcasio uteri dengan


metode three forceps tie.

Dipotong uterus diantara ligasi proksimal dan ligasi medial, disisakan 1


forceps untuk membuat alur jahitan paker kerr.

dipotong corpus uteri.

Dikembalikan bagian uteri ke dalam rongga abdomen, dipastikan tidak


ada perdarahan dari ligasi.

Diberi antibiotik penicillin propain G (PPG) powder atau Amphicillin


pada rongga abdomen

Dilakukan penjahitan pada muskulus menggunakan catgut chromic 3-0


dan triangle-tip needle dengan jahitan simple continious. Jahitan
dimulai 5 mm dari tepi insisi, kemudian ditaburi dengan PPG.

Dilanjutkan penjahitan subcutan menggunakan catgut plain 3-0 dan


roundtip needle dengan jahitan simple continious atau horizontal
continous, ditaburi dengan PPG.

Dijahit kulit menggunakan silk 2-0 dan triangle-tip needle dengan


jahitan simple interrupted atau ford interlocking atau matras silang

Diberi providone iodine pada luka dan ditaburi dengan PPG atau
nebacetin powder

Diberikan bandage pada luka

diinjeksikan betamox dengan dosis 15 mg/kg BB setelah hewan sadar

dipakaikan colar untuk mencegah hewan menjilati lukanya, kemudian


hewan dimasukan ke kandang hingga kondisi fisiologis (pulsus, suhu,
respirasi kembali normal)

Hasil
3.2.5

Pasca Operasi
Hewan
-

dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti temperatur, dan frekuensi


nafas, nafsu makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka setiap hari

diberikan antibiotik Amoxycillin 2 kali sehari selama 5 hari secara


peroral

diberikan asam Tolfenamic setiap 2 hari secara subkutan

ditaburkan antibiotik nebacetin pada luka setiap hari

pada hari ketujuh jahitan diperiksa dan dilepas apabila luka sudah
kering

kucing dilepaskan ketika luka sudah benar benar sembuh dan kucing
sudah sehat

Hasil

BAB 4
HASIL
4.1 Anamnesa
Signalement

Nama
Jenis Hewan
Kelamin
Ras/Breed
Warna bulu/kulit
Umur
Berat Badan
Tanda khusus

: Yolanda
: Kucing
: Betina
: Domestik
: hitam putih
: 1 tahun
: 2,2 kg
: bibir setengah hitam setengah pink

Pemeriksaan Hewan
Hospital Name

: VETERINARY CLINIC OF UNIVERSITY OF BRAWIJAYA

Address

: Jl. MT Haryono

City

: Malang

Tanggal

: 17 Oktober 2015

Temp

: 38,3oC

Respirasi

: 28 kali/menit

Pulse

: 96 kali/menit

CRT

: normal ( < 2 detik)

Membrane color :Normal (merah muda)

Body weight : 2,2 kg

Hydration

Body condition: normal

: < 2 detik (baik)

Color and consistency of feses: coklat padat


Body condition : Underweight Overweight Normal
System Review
a. Integumentary

b. Otic

c. Optalmic

d. Musculoskeletal

Normal

Normal

Normal

Normal

Abnormal
e. Nervus

Abnormal
f. Cardiovaskuler

Abnormal
g. Respiration

Abnormal
h. Digesty

Normal

Normal

Normal

Normal

Abnormal
Lympatic

Abnormal
j. Reproduction

Abnormal
k. Urinaria

Normal

Normal

Normal

Abnormal

Abnormal

Abnormal

Deskripsi Abnormal
Vaksinasi

Abnormal

Ya
Tidak
Catatan: kucing dalam keadaan sehat dan stabil
Disease Record
4.2 Data yang diperoleh
Form Operasi OH
A Signalement
Nama Pemilik : Kelompok A7
Alamat
: Malang
Nama
: Yolanda
Jenis Kelamin : Betina
Jenis Hewan : Kucing
Ras/Breed
: Domestik

Temp
Membran mukosa
CRT
Pulsus
Respirasi
Hydration

: 38,1oC
: merah muda
: < 2 detik
: 92 kali/menit
: 52 kali/menit
: Normal

A Kontrol Anastesi
Obat
Amoxilin
Atropin
Ketamin
Xylazine

Dosis

Golongan

(mg/kg

Obat
Antibiotik
Premedikasi
Anestesi
umum
Anestesi

Normal

umum
Cairan

saline
Tolfen
Betamox

fisiologis
Analgesik
Antibiotik

Konsentras

Volume
Obat

Rute

Waktu

125/5
0,25

(ml)
1,76
0,35

PO
SC

S2 dd
13:05

10

100

0,22

IM

13:20

20

0,22

IM

13:20

1 ml

topical

14.10

0,22
0,22

SC
IM

15.20
16.25

BB)
20
0.04

i (mg/ml)

4
15

40
150

B Kontrol Pemeriksaan
Menit
Pulsus(/menit

15

30

45

60

75

90

105

120

)
Temp (oC)
Respirasi

92

188

180

160

168

128

128

120

128

38,1
52

37,7
56

37,8
48

37,3
52

37,8
60

37,6
80

36,7
40

36,2
44

35,8
44

Menit

135

150

165

180

195

210

Pulsus(/menit
)
Temp (oC)
Respirasi

120

124

116

120

116

116

35,9
40

36,2
32

36,3
32

36,6
40

36,8
36

37,1
32

Mulai anastesi: 13.20 WIB


Mulai Operasi: 13.40 WIB
Selesai operasi: 15.00 WIB
4.5 Form Monitoring Pasca Operasi
Nama hewan

: Yolanda

Nama pemilik

: Kelompok A7

Jenis hewan

: Kucing

Alamat

: Malang

Ras/Breed

: Domestic

Nomor telepon

:-

Umur

: 1 tahun

Jenis kelamin

: Betina

Tanggal

21 Okt 2015

Pemeriksaan
Suhu : 37,8oC
Pulsus : 104 kali/menit
CRT

22 Okt 2015

Suhu : 38 oC
Pulsus : 100 kali/menit
CRT

23 Okt 2015

Pulsus : 96 kali/ menit


: < 2 detik

Suhu : 38,5oC
Pulsus : 104 kali/ menit
CRT

25 Okt 2015

: < 2 detik

Suhu : 38,4oC
CRT

24 Okt 2015

: < 2 detik

: < 2 detik

Suhu : 38,6oC
Pulsus : 104 kali/ menit
CRT

: < 2 detik

Terapi

Appetice : + + +
Defekasi : + +
Urinasi

:++

SL

:++

Appetice : + +
Defekasi : + + +
Urinasi

:+++

T/
Amoxilin syrup 1,76 ml secara
P.O, 2 X sehari
Tolfenamic 0,22 ml SC
Nebacetin
T/
Amoxilin syrup 1,76 ml P.O
2 X sehari
Nebacetin

SL
:+++
Appetice : + + +

T/

Defekasi : + + +

Amoxilin syrup 1,76 ml secara

Urinasi

:+++

P.O, 2 X sehari

SL

:+++

Nebacetin
T/

Appetice : + + +
Defekasi : + + +
Urinasi

:+++

SL

:+++

Amoxilin syrup 1,76 ml secara


P.O, 2 X sehari
Tolfenamic 0,22 ml SC

Appetice : + + +

Nebacetin
T/

Defekasi : + + +

Amoxilin syrup 1,76 ml secara

Urinasi

:+++

P.O 2 X sehari

SL

:+++

Nebacetin

26 Okt 2015

Suhu : 38,6 oC
Pulsus : 100 kali/ menit
CRT

27 Okt 2015

Pulsus : 116 kali/ menit


: < 2 detik

Defekasi : + + +

Tolfenamic 0,22 ml SC

Urinasi

Nebacetin

:+++

Defekasi : + + +

T/

Urinasi

Nebacetin

:+++

SL
:+++
Appetice : + + +

Suhu : 38,2 oC
Pulsus : 114 kali/ menit
CRT

T/

SL
:+++
Appetice : + + +

Suhu : 38,3 oC
CRT

28 Okt 2015

: < 2 detik

Appetice : + + +

: < 2 detik

Defekasi : + + +

T/

Urinasi

:+++

Nebacetin

SL

:+++

4.3 Perhitungan Dosis


Premedikasi

Atropin sulfat (0,25 mg)


Atropin sediaan dosis 0,04 mg/kg dan konsentrasi 0,25 mg/ml,
Maka, Atropin sulfat =

D x BB
K

mg
BBx 2,2 kg
kg
0,25 mg/ml

0,04

Anastetikum

Xylazine HCl (2%)


Jumlah pemberian=

berat badan dosis aplikasi


kandungan sediaan

Xylazin dosis (2 mg/kg x 2,2 kg) / 20 mg/ml = 0,22 ml

Ketamin (10%)

= 0,35 ml

Jumlah pemberian=

berat badan dosis aplikasi


kandungan sediaan

Ketamin dosis (10 mg/kg x 2,2 kg) / 100 mg/ml = 0,22 ml

Analgesik
Tolfenamic acid
dosis 4 mg/kg, sediaan 40 mg/ml, BB 2,1 kg.
mg
4
BB x 2,2kg
D x BB
kg
Tolfen =
=
= 0,22 ml
K
40 mg/ml
Antibiotik
Amoxylin
Dosis 20 mg/kg BB, sediaan 125/5 mg/ml
mg
20
BB x 2,2 kg
D x BB
kg
Amoxylin =
=
K
25 mg/ml
Betamox
Dosis 15 mg/kg BB, sediaan 150 mg/ml
mg
15
BB x 2,2 kg
D x BB
kg
Betamox =
=
K
150 mg/ml

= 1,76 ml

= 0,22 ml

BAB 5
PEMBAHASAN
1.1 Analisa Prosedur
5.1.1 Pre Operasi
Kegiatan pra operasi laparotomi meliputi sterilisasi alat bedah, persiapan hewan,
persiapan obat obatan, persiapan operator serta persiapan ruang operasi. Sterilisasi pada
alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan seluruh mikroba yang terdapat pada alatalat bedah, agar tidak mengkontaminasi pasien dan yang dapat membuat proses
kesembuhan terhambat. Benang operasi yang dapat digunakan adalah dari bahan benang
surgical gut yang diserap oleh tubuh ketika waktu penyembuhan maupun setelahnya. Tipe
benang surgical gut ini berasal dari lapisan submucosa domba atau serosa dari usus halus
sapi, yang diambil, dibersihkan dan disterilisisasi (Kartohatmodjo, 2004).
Sterilisasi pada alat alat bedah bertujuan untuk menghilangkan bakteri ataupun
agen penyebab kontaminasi yang terdapat pada alat alat bedah, agar jaringan jaringan,
organ ataupun pembuluh darah yang steril saat dibedah tidak terkontaminasi mikroba
patogen tersebut. Peralatan bedah minor yang disterilisasi meliputi: allis tissue forcep,
towel clam, scapel handel, pinset anatomis dan cirrurgis, arteri clam, drape, dan tampon
dimana alat alat ini disterilisasi panas sedangkan alat lain seperti needle holder, gunting

tumpul-tumpul dan gunting tajam-tumpul disetril dengan menggunakan alkohol 70%.


Dimana pembungkusan alat alat bedah dilakukan dengan cara alat alat yang akan
disterilkan dimasukkan kedalam wadah peral, selanjutnya wadah peral dibungkus dengan
menggunakan koran secara rapat sehingga semua bagian wadah tertutup rapat, selanjutnya
dimasukkan kedalam autoclave 1210C selama 15 menit beserta drape dan tampon. Setelah
alat selesai disterilisasi alat dikeluarkan dan ditata diatas meja operasi.
Persiapan persiapan yang dilakukan pada hewan meliputi pemeriksaan
signalemen, anamnese, status present, serta pemeriksaan lain yang dianggap perlu. Data
fisiologis hewan yang harus diambil sebelum operasi yaitu suhu tubuh, frekuensi jantung,
frekuensi nafas, limfonodulus, dan selaput lendir. Tahapan selanjutnya adalah restrain
hewan, kemudian pembiusan yang dimulai dari tahap pembiusan, pre medikasi, induksi,
dan maintenance. Preparasi hewan dimulai dengan daerah operasi dicukur minimal 10 cm
di sekitar sayatan, pencukuran dilakukan pada daerah abdomen dari daerah xiphoid ke arah
pubis. Setelah itu, sayatan dan daerah di sekitar sayatan dibersihkan dengan alkohol 70%.
Selanjutnya dikeringkan dengan tampon kemudian diolesi dengan iodine tincture 3%.
Setelah itu hewan siap dibawa ke meja operasi. Ketika berada di atas meja operasi, posisi
hewan disesuaikan dengan keadaan. Keempat kaki dapat diikat ke ujung ujung meja
menggunakan sumbu kompor dengan simpul Tomfool. Kemudian hewan ditutup dengan
duk, disesuaikan, dan difiksasi dengan towel clamp.
Syarat ruang operasi yang digunakan antara lain adalah ruang operasi harus bersih,
semua peralatan yang ada dalam ruang operasi dibersihkan, lantai dan meja operasi
dibersihkan dan didesinfektan, di dalam ruang operasi disiapkan alas kaki yang khusus
digunakan hanya di ruang operasi, ruang operasi harus mendapat penerangan yang cukup
dan lampu operasi harus disediakan. Seseorang dapat melakukan operasi, harus memiliki
kompetensi berikut (Darmojono, 2012):
1) Memahami prosedur operasi, operator harus betul-betul memahami teknik operasi yang
akan dijalankan.
2) Dapat memprediksi hal-hal yang akan terjadi dan harus siap apabila terjadi sock atau
perdarahan.
3) Dapat memperkirakan hasil operasi.
Seorang operator harus mempunyai personal hygiene: operator harus sehat, mencuci
tangan dengan sabun dan antiseptik, memakai baju operasi, sarung tangan, topi, dan
masker. Petugas operasi harus mencuci tangan, kuku sampai siku dengan sabun dan sikat
kemudian melakukan scrubbing. Posisi tangan diangkat ke atas sehingga saat dibilas air
mengalir dari jari sampai ke siku. Kemudian tangan dikeringkan dengan handuk.
Pembagian petugas operasi:
1 Operator Utama Steril
2 Asisten Operator Steril
3 Asisten Alat Steril Steril
4 Petugas Peralatan Non Steril
5 Anaestesiolog
Steril / Non Steril
Persiapan operator dan asisten dimulai dengan langkah langkah yang harus
dilakukan oleh operator dan asisten adalah menggunakan tutup kepala dan masker,
mencuci kedua tangan dengan sabun dan menyikatnya dengan sikat pada air yang
mengalir. Pencucian dimulai dari ujung jari yang paling steril kemudian dibilas dengan
arah dari ujung jari ke lengan yang dilakukan sebanyak 10 15x. Setelah selesai mencuci

tangan dan membilasnya, keran ditutup dengan siku untuk mencegah kontaminasi.
Kemudian tangan dikeringkan dengan handuk dan glove dipakai. Setelah semua langkah
dilalui, operasi siap dilakukan.
5.1.2

Operasi
Apabila semua persiapan pada pre operasi telah siap, maka selanjutnya masuk pada
tahap operasi. Prosedur pertama pada teknik operasi ini setelah teranestesi, hewan
diletakkan di meja operasi dengan posisi rebah dorsal dan untuk mempertahankan posisi
tersebut, keempat kaki difiksasi pada meja operasi. Daerah site operasi diolesi dengan
antiseptik secara sirkuler dari bagian sentral (tempat yang akan dioperasi) bergerak ke arah
perifer. Kemudian dilakukan pemasangan duk sebanyak 4 lembar kain duk atau
menggunakan satu lembar duk dengan lubang/celah ditengah selanjutnya duk dijepit
dengan duk klem. Pada praktikum ovariohysterectomy ini teknik bedah yang dilakukan
yaitu teknik bedah laparatomy caudal. Dimana teknik operasi menggunakan teknik bedah
laparatomy caudal ini adalah sebagai berikut : pertama dilakukan insisi di linea alba pada
caudal pusar, meliputi kulit, subcutan, dan rongga peritoneal. Setelah dilakukan insisi
dicari lokasi uterus dengan titik orientasi vesica urinaria menggunakan spay hook dan jari
telunjuk hal ini dilakukan karena uterus terletak disamping vesica urinaria. Setelah
ditemukan ditarik perlahan uterus ke permukaan, hati- hati dengan tekanan negatif rongga
abdomen sehingga memudahkan usus halus keluar menghalangi lapangan pandang
(Colville,2002)
Selanjutnya, untuk mengangkat ovarium dan uterus pertama ovarium dan uterus
harus dipisahkan terlebih dahulu dengan penggantungnya. Setelah terpisah dilakukan ligasi
menggunakan catgut chromic 30 pada pembuluh darah dan
ligasi bagian proksimal ovarium
dengan metode three forceps tie
menggunakan square knot agar
tidak
terjadi
perdarahan.
Selanjutnya
jika
sudah
dipastikan ligasi kuat maka
dilakukan pemotongan ovarium.
Selanjutnya untuk ovarium yang
lainnya dilakukan prosedur yang
sama dengan sebelumnya. Setelah ovarium terpotong, lakukan preparasi untuk corpus
uteri. Pertama dibuat ligasi dibagian corpus 0,5-1 cm di bawah bifurcasio uteri dengan
metode three forceps tie. Setelah dipastikan ligasi kuat dan tidak akan terjadi kebocoran
pembuluh darah maka selanjutnya dilakukan pemotongan uterus diantara ligasi proksimal
dan ligasi medial, sisakan 1 forceps untuk membuat alur jahitan parker kerr. Lalu potong
corpus uteri.
Setelah corpus uteri dipotong, kembalikan bagian uteri ke dalam rongga abdomen,
pastikan tidak ada perdarahan dari ligasi agar tidak terjadi komplikasi pasca operasi.
Selanjutnya rongga abdomen dibersihkan dengan normal saline secara topical. pada
praktikum ini hewan yang di OH mengalami kebuntingan dengan usia lebih kuraang 1
minggu, karena usia kebuntingan masih muda dan fetus belum berkembang maka
keputusannya tetap dilakukan OH pada kucing tersebut. Setelah bagian uteri dikembalikan

ke dalam rongga abdomen, dan rongga abdomen telah dibersihkan dengan normal saline
maka bagian luka diberi antibiotik Penicillin Propain G (PPG) powder atau Ampicillin
pada rongga abdomen.
Selanjutnya dilakukan penjahitan pada
muskulus menggunakan catgut chromic 3-0 dan
triangle-tip needle dengan jahitan simple
continous. Jahitan dimulai 5 mm dari tepi insisi,
kemudian ditaburi dengan PPG. Kemudian
dilanjutkan
dengan
penjahitan
subcutan
menggunakan catgut plain 3-0 dan round-tip
needle dengan jahitan simple continous atau
horizontal continous, lalu taburi dengan PPG.
Pada praktikum ini pada subcutan juga dilakukan
penjahitan kosmetik agar luka cepat menyatu dan
mempermudahkan dalam melakukan penjahitan
pada kulit. Selanjutnya dilakukan penjahitan pada
kulit menggunakan silk 2-0 dan triangle-tip
needle dengan jahitan simple interrupted atau
ford interlocking atau matras silang. Lalu luka diberi providone iodine dan ditaburi dengan
PPG atau nebacetin powder sebagai antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka
dan agar luka cepat kering. Lalu diberikan bandage pada luka untuk mencegah hewan
menjilati atau menggigit lukanya. Jika perlu diberikan colar untuk mengekang hewan agar
luka benar-benar aman. Selanjutnya diinjeksikan betamox yang merupakan antibiotik
dengan dosis 15 mg/kg BB setelah hewan sadar. kemudian hewan dimasukan ke kandang
yang hangat hingga kondisi fisiologis (pulsus, suhu, respirasi kembali normal)
(Kartohatmodjo, 2004).

5.1.3 Post Operasi


Kegiatan yang dilakukan pada post operasi Ovariohysterectomy (OH) antara lain
adalah dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti temperatur, dan frekuensi nafas, nafsu
makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka. Selain itu dilakukan pemasangan infuse pada
kucing bila perlu, dikarenakan selama operasi kucing berpotensi mengalami dehidrasi dan
perdarahan. Infuse tetap diberikan hingga +3 jam post operasi karena kondisi kucing masih
belum stabil (Suriadi, 2007). Antibiotik Amoxicillin diberikan selama sehari 2 kali selama
5 hari secara peroral. Selain itu diberikan Tolfenamic acid secara subkutan 1 kali 2 hari
untuk meredakan rasa nyeri post operatif. Luka operasi secara rutin dikontrol
kebersihannya dan kesembuhannya. Kucing juga diberikan pakan dan air yang cukup,
perlindungan luka operasi dengan memberikan bandage pada luka dan colar pada kucing
untuk menghindari kucing menggigit atau menjilat luka, pemberian infus jika perlu,
pemberian vitamin jika perlu, dan pada hari ke tujuh jahitan dibuka. Kucing dilepaskan
ketika luka sudah benar benar sembuh dan kucing sudah sehat.
Pada praktikum ini, keadaan kucing saat pelaksanaan operasi yaitu suhu kucing
normal sampai pada menit ke 75 yaitu masih diatas 37 0C. Namun pada menit ke 90 suhu
tubuh kucing menjadi 36,70C dan terus menurun hingga ke menit 120 yaitu 35,8 0C.
Selanjutnya pada menit ke 135 suhu tubuh kucing perlahan naik hingga normal lagi pada

menit ke 210 yaitu 37,10C. Hal ini terjadi mungkin disebabkan oleh pengaruh anasthesi.
Untuk pulsus dan respirasi masih rata-rata normal. Cuman pada menit ke 15 pulsus kucing
naik yaitu 188 kali per menit. Hal ini mungkin disebabkan karena kucing stress sebelum
operasi atau ungkin juga disebabkan karena kesalahan praktikan saat perhitungan. Untuk
perawatan di rumah kucing ditempatkan pada kandang yang bersih dan kering dengan
lampu penghangat di dalamnya. Keesokan harinya kucing sudah kembali normal baik
temperatur tubuh, pulsus, CRT, defekasi, urinasi dll. Bahkan kucing sudah bisa berjalan
secara normal. Pada hari ke 7, luka sudah mulai mengering dan semua jahitannya sudah di
lepas. Setelah kucing dipastikan sudah benar-benar sehat yaitu hari ke delapan kucing
kemudian kembali dilepas.
5.2 Analisa Hasil
5.2.1 Obat yang digunakan
Atropin Sulfat
Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai antikolinergik atau
parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai kerja menghambat
efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat
reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau
pemberian antikolinesterase. (Achmad, 2006)
Farmakokinetik
Mekanisme kerja Atropine memblok aksi kolinomimetik pada reseptor muskarinik
secara reversible (tergantung jumlahnya) yaitu, hambatan oleh atropine dalam dosis kecil
dapat diatasi oleh asetilkolin atau agonis muskarinik yang setara dalam dosis besar. Hal ini
menunjukan adanya kompetisi untuk memperebutkan tempat ikatan. Hasil ikatan pada
reseptor muskarinik adalah mencegah aksi seperti pelepasan IP3 dan hambatan adenilil
siklase yang di akibatkan oleh asetilkolin atau antagonis muskarinik lainnya. (Jay dan
Kirana, 2002)
Farmakodinamik
Alkaloid belladonna mudah diserap dari semua tempat, kecuali kulit. Pemberian
atropin sebagai obat tetes mata menyebabkan absorbsi dalam jumlah yang cukup besar lewat
mukosa nasal, sehingga menimbulkan efek sistemik dan bahkan keracunan. Untuk
mencegah hal ini perlu dilakukan penekanan kantus internus mata setelah penetesan obat
agar larutan atropin tidak masuk ke rongga hidung, terserap dan menyebabkan efek sistemik.
Dari sirkulasi darah, atropin cepat memasuki jaringan dan kebanyakan mengalami hidrolisis
enzimatik oleh hepar. Sebagian diekskresi melalui ginjal dalam bentuk asal.Atropin mudah
diserap, sebagian dimetabolisme di dalam hepar dan dibuang dari tubuh terutama melalui air
seni. Masa paruhnya sekitar 4 jam.
Atropin dapat menimbulkan beberapa efek, misalnya pada susunan syaraf pusat,
merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak, menghilangkan tremor, perangsang
respirasi akibat dilatasi bronkus, pada dosis yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi,
halusinasi dan lebih lanjut dapat menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek
atropin pada mata menyebabkan midriasis dan siklopegia. Pada saluran nafas, atropin dapat
mengurangi sekresi hidung, mulut dan bronkus. Efek atropin pada sistem kardiovaskuler
(jantung) bersifat bifasik yaitu atropin tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun
tekanan darah secara langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran
pencernaan, atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik usus dan lambung,

sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada saluran perkencingan sehingga
menyebabkan retensi urin (Hidayat, 2005)
Farmakoterapi
Atropin sulfat bersifat reversibel dan pada pemberiannya dapat dimetabolisir oleh
semua spesies. Dosis yang dianjurkan untuk anjing dan kucing adalah 0,022-0,044 mg/kg
BB Atropin sulfat dapat diberikan secara subcutan, intramuskuler atau intravena. Pemberian.
secara intravena digunakan apabila ingin berefek cepat (Plumb, 2008).
Digunakan untuk mengurangi sekresi salive dan bronchial, melindungi jantung dari
efek vagal inhibition dan mencegah efek muskarinik anticholinesterase seperti neotigmine.
Atropine dapat menurunkan peristaltic intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil. Dapat
diberikan secara rutin bersamaan dengan penggunaan ketamine, phencycline dan azaperone,
tetapi pemberian tidak dianjurkan pada kondisi takikardi. Atropine dapat diberikan subkutan
atau intramuscular 30-40 menit sebelum anestesi atau segera sebelum anestesi dilakukan bila
diberikan intravena (Sardjana, 2010).
Xylazine
Xylazine merupakan obat sedatif, analgesia dan perelaksasi otot.
Farmakokinetik
Xylazin diabsorpsi dengan cepat tetapi bioavailabilitas tidak lengkap dan bervariasi.
Bioavailabilitas pada anjing5290% setelah pemberian secara intramuscular. Pada anjing dan
kucing onset terjadi sekitar 1015 menit setelah pemberian secara IM atau SC dan sekitar
35menit setelah pemberian secara intravena.
Farmakodinamik
Xylazine menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek
analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narcosis yang dalam dapat tercapai,
tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies hewan. Bila dipakai bersama barbiturate
dan ketamine potensiasi yang terjadi dapat mencapai 50%. Obat ini berfungsi sebagai
sedative terutama pada sapid an domba, tetapi dapat juga dipakai untuk kuda, kucing, anjing,
primate dan kelinci. Efek sedasi tercapai meksimal 20 menit setelah pemberian
intramuscular dan berakhir setelah satu jam (Sardjana, 2010).
Farmakokinetik
Xylazine diinjeksikan secara intramuskular menyebabkan iritasi kecil pada daerah
suntikan, tetapi tidak menyakitkan dan akan hilang dalam waktu 24 48 jam. Xylazine
dapat diberikan secara intravena, intramuskular, ataupun subkutan. Xylazine mengandung
23,32 mg/ml hidroklorida xylazine dalam larutan air injeksi berbasis. Xylazine dapat
diperoleh juga sebagai bubuk kristal murni. Dosis intramuskular hingga 0,3 mg/kg untuk
ternak telah. Untuk menginduksi muntah pada kucing, xylazine adalah dosis pada 0,2
sampai 0,5 mg/pon (0,44-1 mg/kg) intramuskular. Untuk anjing dosis bahkan bisa lebih
tinggi. Xylazine tersedia dalam 20 mg/ml dalam konsentrasi 20 botol ml dan 100 mg/ml
pada konsentrasi 50 ml botol (Gorda et al., 2010).
Ketamin
Ketamin HCl merupakan agen anastesi dissosiatif yang digunakan pada manusia dan
dunia veteriner. Ketamin merupakan produk anastesi paling aman untuk anjing kecil dan
kucing. Ketamin mempunyai sifat analgesik, anastetik dan kataleptik dengan kerja singkat.

Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk sistem viseral.
Kurang dapat merelaksasi otot, bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi dan
pasien masih dapat merespon adanya perintah (Brander et al., 2006; Ganiswara, 2005).
Farmakokinetik
Ketamin akan diabsorbsi melalui intravena yang dapat merangsang kardiovaskular
karena efek perangsangnya pada pada pusat simpatis. Ketamin mempunyai sifat analgesik,
anestetik, dan kataleptik dengan kerja singkat. Efek anestesinya ditimbulkan oleh
penghambatan efek membran dan neurotransmitter eksitasi asam glutamat pada reseptor NMetil-D-Spartat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistem somatik, tetapi lemah untuk
sistem viseral (Kul et al., 2011).
Obat anestetik yang sering digunakan pada kucing adalah ketamin. Dalam
penggunaannya ketamin mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya yaitu mempunyai
mula kerja (onset of action ) yang cepat dan efek analgesik yang kuat serta aplikasinya
cukup mudah, yaitu dapat diinjeksikan secara intramuskular. Namun, ketamin juga
mempunyai kerugian yaitu tidak terjadi relaksasi otot sehingga dapat menimbulkan
kekejangan dan depresi ringan pada saluran respirasi (Gorda et al., 2010).
Farmakodinamik
Ketamin bekerja nyata untuk meningkatkan darah ke otak, konsumsi oksigen
dan tekanan intrakaranial. Ketamin menurunkan frekuensi pernafasan, tonus otot saluran
nafas akan terkontrol dengan baik dan reflek-reflek saluran nafas biasanya tidak
terganggu. Penggunaan ketamin telah dikaitkan dengan kondisi disorientasi paska
operasi, ilusi penginderaan, persepsi dan gambaran mimpi yang seolah hidup (yang
disebut fenomena awal sadar / emergence phenomena).
Farmakoterapi
Dosis yang dianjurkan untuk anjing dan kucing adalah 10-20 mg/kg BB secara
intramuskuler. Ketika digunakan sebagai obat tunggal, ketamin tidak menghasilkan relaksasi
muskulus skeletal yang baik, dan dapat mencapai recovery dengan segara dan biasanya
dapat menyebabkan konvulsi pada anjing dan terkadang kucing. Untuk menghindari efek
tersebut, banyak dokter hewan yang menggunakan ketamin bersama-sama dengan diazepam,
acepromazin, xylazine thiobarbiturat atau anastesi inhalasi (Lumb, 2007). Ketamine dosis
rendah menghasilkan analgesik yang baik, tetapi ketamine menyebabkan kekejangan otot
dan peningkatan denyut jantung, tetapi ketamine menyebabkan kekejangan otot dan
peningkatan denyut jantung (Lumb, 2007).
Tolfenamic
Farmakokinetik : Asam Tolfenamic (N - (2 - metil - 3 - klorofenil) Asam antranilat adalah
steroid agen anti - inflamasi non (NSAID), yang termasuk dalam kelompok fenamate.
Aktivitas anti - inflamasi asam Tolfenamic dievaluasi dalam berbagai model binatang
peradangan. Ditemukan bahwa itu adalah 4 kali lebih kuat dari fenilbutazon dalam model
pembelajaran tikus. TOLFEDINE menunjukkan ditandai sifat analgesik dan anti - piretik.
Setelah pemberian oral , kadar darah yang efisien dengan cepat tercapai (Cmax tercapai
dalam 1 sampai 2 jam pada hewan berpuasa , atau 2 sampai 4 jam bila diberikan dengan
makanan) dan berada cukup tinggi untuk mengerahkan aksi anti - inflamasi yang
memuaskan selama minimal 24 sampai 36 jam.
Farmakodinamik : Asam Tolfenamic merupakan inhibitor poten enzim siklooksigenase,
sehingga menghambat sintesis mediator inflamasi penting seperti tromboksan (Tx) B2 dan

prostaglandin ( PG ) E2 . Kerjanya tidak hanya oleh sintesis prostaglandin, tetapi juga


memiliki tindakan antagonis langsung pada reseptor. Tolfenamic acid dikenal sangat efektif
setiap kali untuk mengurangi peradangan, demam dan nyeri.
Farmakokinetik
Dosis dan sediaan :
dosis : 4 mg/kg BB (1ml/10 kg BB) dosis tunggal secara intravena
Sediaan : Injeksi dalam botol 50 ml, 100 ml, 250 ml.
Amoxicillin
Amoksisilin (amoxicillin) adalah antibiotik dari golongan penisilin yang umum
digunakan untuk mengatasi berbagai infeksi bakteri. Amoksisilin mencegah pembentukan
dinding luar bakteri sekaligus menghalangi bakteri untuk membelah diri. Amoxicillin
hampir lengkap diabsorbsi sehingga konsekuensinya Amoxicillin tidak cocok untuk
pengobatan shigella atau enteritis karena salmonella, karena kadar efektif secara terapetik
tidak mencapai organisme dalam celah intestinal. Amoxicillin stabil pada asam lambung dan
terabsorpsi 74-92% di saluran pencernaan pada penggunaan dosis tunggal secara oral. Nilai
puncak konsentrasi serum dan AUC meningkat sebanding dengan meningkatnya dosis. Efek
terapi Amoxicillin akan tercapai setelah 1-2 jam setelah pemberian per oral. Meskipun
adanya makanan di saluran pencernaan dilaporkan dapat menurunkan dan menunda
tercapainya nilai puncak konsentrasi serum Amoxicillin, namun hal tersebut tidak
berpengaruh pada jumlah total obat yang diabsorpsi.
Distribusi obat bebas ke seluruh tubuh baik. Amoxicillin dapat melewati plasenta,
tetapi tidak satupun menimbulkan efek teratogenik. Namun demikian, penetrasinya ke
tempat tertentu seperti tulang atau cairan serebrospinalis tidak cukup untuk terapi kecuali di
daerah tersebut terjadi inflamasi. Selama fase akut (hari pertama), meningen terinflamasi
lebih permeable terhadap Amoxicillin, yang menyebabkan peningkatan rasio sejumlah obat
dalam susunan saraf pusat dibandingkan rasionya dalam serum. Bila infefksi mereda,
inflamasi menurun maka permeabilitas sawar terbentuk kembali. Jalan utama ekskresi
melalui system sekresi asam organik (tubulus) di ginjal, sama seperti melalui filtrate
glomerulus. Penderita dengan gangguan fungsi ginjal, dosis obat yang diberikan harus
disesuaikan.Amoxicillin (alpha-amino-p-hydoxy-benzyl-penicillin) adalah derivat dari 6
aminopenicillonic acid, merupakan antibiotika berspektrum luas yang mempunyai daya
kerja bakterisida. Amoxicillin, aktif terhadap bakteri gram positif maupun bakteri gram
negatif. Bakteri gram positif: Streptococcus pyogenes, Streptococcus viridan, Streptococcus
faecalis, Diplococcus pnemoniae, Corynebacterium sp, Staphylococcus aureus, Clostridium
sp, Bacillus anthracis. Bakteri gram negatif: Neisseira gonorrhoeae, Neisseriameningitidis,
Haemophillus influenzae, Bordetella pertussis, Escherichia coli, Salmonella sp, Proteus
mirabillis, Brucella sp.Amoxicillin digunakan sebagai antibiotik spektrum luas
5.2.2 Stadium Anasthesi yang dipakai
Pada praktikum kali ini digunakan atropine sulfate yang berfungsi untuk mengurangi
sekresi saliva dan bronkial, melindungi jantung dari efek vagal inhibition dan mencegah
efek muskarinik anticholinesterase seperti neostigmine. Atropine dapat menurunkan
peristaltik intestinal dan menyebabkan dilatasi pupil. Tranqulizer yang disediakan adalah
acepromazine maleate yang dapat digunakan oleh hampir semua hewan sebagai neuroleptic.
Obat ini bekerja menekan sistem saraf pusat, termasuk pusat termoregulator dan pada

umumnya menguatkan kerja obat obat anestetik, hipnotik dan sedative-analgesik.


Pemberian secara subkutan yaitu 15 30 menit sebelum anestesi atau 5 10 menit
intramuskuler sebelum anestesi, sedangkan pemberian intravena sebaiknya diawali dengan
dosis paling rendah. Kegunaan di klinik pada umumnya untuk tranquilizer dan sedasi,
antiemetik, spasmolotik, antihistamin (efeknya sangat sedikit), hipotensi, dan adrenergic
block (Katzung, 2011).
Obat hipnotik dan sedative yang digunakan adalah xylazine yang menimbulkan efek
relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek analgesi. Kondisi tidur yang
ringan sampai kondisi narcosis yang dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk
masing masing spesies hewan. Bila dipakai bersama barbiturate dan ketamine potensiasi
yang terjadi dapat mencapai 50%. Efek sedasi tercapai maksimal 20 menit setelah
pemberian intramuskular dan berakhir setelah satu jam. Xylazine yang dipakai untuk tujuan
relaksasi muskulus pada umumnya dikombinasikan dengan ketamine untuk beberapa spesies
hewan terutama babi, kucing, kelinci dan primate (Sulistia, 2013). Pada hewan kecil efek
sampingnya meliputi bradikardia dan penurunan cardiac output, vomit, tremor, motilitas
intestinal menurun tetapi kontraksi uterus meningkat, selain itu juga mempengaruhi
keseimbangan hormonal, antara lain menghambat produksi insulin dan antidiuretic hormone
(ADH). Ketamine bersama xylazine dapat dipakai untuk anestesi pada kucing. Hampir pada
semua hewan, ketamine dengan pemberian tunggal bukan obat anestetik yang bagus, karena
obat ini tidak merelaksasi muskulus bahkan kadang kadang tonus sedikit meningkat. Efek
puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu 6 8 menit dan anestesi berlangsung
selama 30 40 menit, sedang untuk recovery dibutuhkan waktu 5 8 jam (Pathak et al.,
2012).
Pada praktikum ini, operasi dilakukan setelah hewan memberikan tanda tanda
memasuki stadium ketiga yang terbagi menjadi 4 tahap, yaitu (Sardjana et al., 2011):
1. Tahap 1: Respirasi mulai teratur dan bersifat thoracoabdominal, terjadi hystagmus, refleks
cahaya positif, tonus muskulus mulai menurun, refleks palpebral, konjunctiva dan kornea
menghilang.
2. Tahap 2: respirasi teratur dan bersifat abdominothoracal, frekuensi respirasi meningkat, pupil
midriasis, refleks cahaya menurun dan refleks kornea negative.
3. Tahap 3: respirasi teratur dan tipenya abdominal karena terjadi kelumpuhan saraf intercostals,
dilatasi pupil, tonus muskulus makin menurun.
4. Tahap 4: respirasi tidak teratur, pupil midrasis, tonus muskulus menurun, refleks sphincter ani
dan kelenjar air mata negatif.
Sebelumnya dilakukan persiapan hewan meliputi fiksasi kucing pada meja operasi dan
pencukuran rambut pada saat muncul stadium II, dengan tanda kesadaran mulai hilang,
respirasi lebih dalam, refleks laring hilang dan dapat terjadi gerakan-gerakan ekstremitas
yang tidak terkendali.
Pada saat operasi tetap dilakukan pemantauan terhadap kondisi hewan seperti pulsus
dan temperatur dihitung setiap 15 menit, selain itu anasthesi hewan juga dikontrol. Pada
praktikum ini diberikan premedikasi atropin sulfat pada jam 13.05. Pemberian premedikasi
ini memiliki banyak tujuan, salah satu tujuannya yaitu untuk mengurangi obat-obatan
anasthesi, maka pada praktikum ini setelah 15 menit pasca pemberian premedikasi,
selanjutnya dilakukan pemberian anasthesi pada hewan, Menggunakan Ketamin HCl (anjing
0,06-0,22 ml/kg BB IV atau IM, kucing 0,02-0,25 ml/kg BB IV atau IM) dikombinasikan
dengan xylazine dengan perbandingan 1:1. Anasthesi ini diberikan pada pukul 13.20. pada

praktikum ini hewan ulai sadar pada pukul 15.20, yang berarti bahwa masa recovery hewan
termasuk cepat.
5.2.3 Physical Examination
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap pasien bedah adalah pemeriksaan
fisik, dianataranya hewan dimonitor dengan diukur suhu, frekuensi nafas, frekuensi denyut
jantung, serta tingkat hidrasi. Diperhatikan membran mukosa, limphonodus, dan selaput
lendir, serta pasien diberikan obat untuk mengatasi rasa nyeri selama 1 sampai 3 hari setelah
operasi (Hedlund 2002). Diberikan infus bila terjadi muntah dan diare hebat, disfungsi ginjal
dan penyakit hati dengan memperhatikan laju infus dan jenis infus yang diberikan. Apabila
pasien hypothermia, diberi penghangat menggunakan air hangat, diberikan suplemen
oksigen, kateter apabila diperlukan (Sulistia,2013).
Setelah dilakukan sinyalemen atau registrasi dan anamnesa maka selanjutnya
dilakukan pemeriksaan umum yang meliputi; Inspeksi diantaranya melihat, membau, dan
mendengarkan tanpa alat bantu. Diusahakan agar hewan tenang dan tidak curiga kepada
pemeriksa. Inspeksi dari jauh dan dekat terhadap pasien secara menyeluruh dari segala arah
dan keadaan sekitarnya. Diperhatikan pula ekspresi muka, kondisi tubuh, pernafasan,
keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara hewan. (Fowler.
2008).
Pulsus diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur (normal:
92-150/menit). Nafas diperiksa dengan cara menghitung frekuensi dan memperhatikan
kualitasnya dengan cara melihat kembang-kempisnya daerah thoraco-abdominal dan
menempelkan telapak tangan di depan cuping bagian hidung (normal: 26-48/menit).
Temperatur diperiksa pada rectum dengan menggunakan termometer (normal: 37,6-39,4).
(Fowler. 2008).
Conjunctiva diperiksa dengan cara menekan dan menggeser sedikit saja kelopak
mata bawah. Penampakan conjunctiva pada kucing tampak pucat. Membran mukosa yang
tampak anemia (warna pucat) dan lembek merupakan indikasi anemia. Intensitas warna
conjunctiva dapat menunjukkan kondisi peradangan akut seperti enteritis, encephalonitis dan
kongesti pulmo akut. Cyanosis (warna abu- abu kebiruan) dikarenakan kekurangan oksigen
dalam darah, kasusnya berhubungan dengan pulmo atau sistem respirasi. Jaundice (warna
kuning) karena terdapatnya pigmen bilirubin yang menandakan terdapatnya gangguan pada
hepar. Hiperemi (warna pink terang) adanya hemoragi petechial menyebabkan hemoragi
purpura (Fowler. 2008).
Pakan atau minum diberikan untuk melihat nafsu makan dan minum. Kemudian
dilihat juga keadaan abdomen antara sebelah kanan dan kiri. Mulut, dubur, kulit sekitar
dubur dan kaki belakang juga diamati, serta cara defekasi dan fesesnya. (Fowler. 2008).
Mulut kucing dibuka dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke dalam mulut, dan
dilakukan inspeksi. Bila perlu, tekan lidah dengan spatel agar dapat dilakukan inspeksi
dengan leluasa seperti bau, mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih
serta kemungkinan adanaya lesi, benda asing, perubahan warna, dan anomali lainnya.
Oesophagus dipalpasi dari luar sebelah kiri dan pharynx. (Fowler. 2008).
Inspeksi dilakukan pada abdomen bagian kiri dan kanandengan memperhatikan isi
abdomen yang teraba serta dilakukan auskultasi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui
peristaltik usus. Lakukan pula eksplorasi dengan jari kelingking, perhatikan kemungkinan

adanya rasa nyeri pada anus atau rektum, adanya benda asing atau feses yang keras. (Fowler.
2008).
Adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up, frekuensi dantipe
nafasnya perlu diperhatikan. (Fowler. 2008).
Hidung
Perhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, rabalah suhu lokal dengan
menempelkan jari tangan pada dinding luar hidung. Serta lakukanlah perkusi pada daerah
sinusfrontalis. (Fowler. 2008).
Pharynx,Larinx, Trakea
Dilakukan palpasi dari luar dengan memperhatikan reaksi dan suhunya, perhatikan pula
limfoglandula regional, suhu, konsistensi, dan besarnya, lalu bandingkan antara
limfoglandula kanan dan kiri. (Fowler. 2008).
Rongga dada
Perkusi digital dilakukan dengan membaringkan kucing pada alas yang kompak, dan
diperhatikan suara perkusi yang dihasilkan. Palpasi pada intercostae lalu perhatikan adanya
rasa nyeri pada pleura dan edeme subcutis. (Boddie. 1962). (Fowler. 2008).
Sistem Sirkulasi
Diperhatikan adanya kelainan alat peredaran darah seperti anemia, sianosis, edema
atau ascites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan sikap atau langkah
hewan.Periksa frekuensi, irama dan kualitas pulsus atau nadi, kerjakan pemeriksaan secara
inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi pada daerah jantung (sebelah kiri). Perhatikan pula
adanya pulsasi di daerah vena jugularis dengan memeriksa pada 1/3 bawah leher. (Boddie.
2002).
Sistem Limphatica
Dilakukan inspeksi, untuk mengetahui kemungkinan adanya kebengkakan
padalimfoglandula. Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada kucing yaitu; lgl.
submaxillaris, lgl. parotidea, lgl. retropharyngealis, lgl. cervicalis anterior, lgl. cervicalis
medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl. prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika kaki
diabduksikan), lgl. inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl. supramammaria),
lgl. poplitea, lgl. mesenterialis. Palpasi dilakukan di daerah limfoglandula, dengan cara
memperhatikan reaksi, panas, besar dan konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri
(Boddie. 2002).
Sistem Lokomotor
Perhatikanlah posisi, cara berdiri dan berjalan hewan. Periksalah musculi dengan
membandingkan ekstremitas kanan dan kiri. Serta melakukan palpasi. Perhatikan pula suhu,
kontur, adanya rasa nyeri dan pengerasan. Pemeriksaan tulang seperti musculi diperhatikan
bentuk, panjang dan keadaan. Persendian diperiksa dengan cara inspeksi cara berjalan dan
keadaan persendian, lakukanlah palpasi apakah ada penebalan, cairan (pada kantong
synovial ataukah pada vagina tendinea).
Organ Uropoetica
Perhatikanlah sikap pada waktu kencing. Amati air seni (kemih) yang keluar,
warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan lain sebagainya).

Temperatur tubuh internal diukur dengan mengukur rektal menggunakan termometer.


Suhu tubuh menunjukkan adanya variasi sepanjang hari dan dapat dipengaruhi oleh berbagai
hal seperti penyakit, status hormonal dan aktivitas hewan. Produksi panas dapat meningkat
bilamana terjadi peningkatan aktivitas otot dan metabolisme dibawah pengaruh hormon
seperti hormon tiroid dan katekolamin. Temperatur tubuh terendah ditemukan pada waktu
pagi, sedikit meningkat pada tengah hari dan suhu tertinggi ditemukan pada sore hari.
Peningkatan temperatur tubuh secara fisiologis dapat terjadi setelah makan, setelah kerja
keras, pada hari melahirkan (kecuali anjing, biasanya temperatur tubuhnya subnormal), pada
temperatur atmosfer yang tinggi dan bilamana hewan mengalami aksitasi. (Widiyono, 2006).
Arteri yang dapat digunakan untuk memeriksa pulsus kucing adalah arteri yang
terletak dibawah kulit. Pulsus dapat diraba pada arteria femoralis pada paha bagian dalam.
Pada umumnya hewan muda, kecil, bunting dan betina memiliki frekuensi yang lebih besar
dibanding hewan tua, besar, jantan dan tidak bunting. Pulsus meningkat dapat terjadi secara
fisiologis pada saat bekerja, gerak dan terkejut akibat adanya simpatikotoni. Pada keadaan
patologis, pulsus meningkat dapat ditemukan pada kasus demam, keracunan, anemia serta
penyakit jantung. Sedangkan frekuensi pulsus yang menurun dapat terjadi pada kasus
penurunan aktivitas jantung (Widiyono, 2006).
Secara fisiologis frekuensi nafas dapat dipengaruhi oleh umur, stimuli, kerja. Bila
terjadi hecheln yakni bernafas pendek, dangkal dengan lidah terjulur maka frekuensi nafas
tidak dapat dihitung dan dievaluasi. Frekuensi nafas yang meningkat terjadi pada keadaan
stress, kerja, demam dan adanya rasa sakit. Sebaliknya juga dapat terjadi penurunan
frekuensi nafas pada depresi kepekaan pusat nafas pada kasus seperti peningkatan tekanan
dalam otak, hilang kesadaran, uremia dan tekanan oksigen yang meningkat (Widiyono,
2006).
Pemeriksaan Capillary Refill Time (CRT) bertujuan untuk menentukan waktu
pengisian kembali kapiler. Teknik ini seringkali digunakan untuk mengetahui kondisi atau
tingkat dehidrasi seekor hewan dengan mengamati kualitas sistem sirkulasi dengan melihat
waktu pengisian kembali kapiler (capillary refill time). Hasil dari pemeriksaan CRT ini
adalah pada kondisi hewan normal sangat cepat (1-2 detik). Pada kondisi hewan mengalami
dehidrasi, maka CRT akan semakin lambat (bisa lebih dari 3 detik).
Berdasarkan hasil pengamatan pada persiapan hewan pre operasi, didapatkan data
sebagai berikut:
Temp
: 38,1oC
Respirasi
: 52/menit
Pulse
: 92/menit
CRT
: normal (< 2 detik)
Membrane color
:Normal
Body weight
: 2,2 kg
Hydration
: < 2 detik
Body condition
: normal
Color and consistency of feses: normal
Menurut Darmojono (2012), data kondisi fisiologisnya normal kucing adalah sebagai
berikut:
Temp
: 37,5 39,5oC
Respirasi
: 35 50/menit
Pulse
: 80 120/menit
CRT
: < 2 detik
Berdasarkan data diatas, dapat kita ketahui bahwa pada umumnya, kondisi kucing
normal, namun dari data tersebut dapat kita ketahui bahwa pernafasan kucing sangat cepat
(diatas normal) Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena kondisi kucing yang stress atau
pun karena adanya kesalahan praktikan saat menghitung frekuensi nafas kucing. Selain itu

juga didapatkan pulsuskucing dibawah normal yaitu 92 kali per menit. Hal ini mungkinjuga
disebabkan kucing ketakutan atau mungkin juga karena kesalahan praktikan saat
menghitungnya.
Pada kontrol pemerisaan saat operasi yang meliputi pulsus, temperatur dan respirasi
didapatkan keadaan kucing saat pelaksanaan operasi yaitu suhu kucing normal sampai pada
menit ke 75 yaitu masih diatas 370C. Namun pada menit ke 90 suhu tubuh kucing menjadi
36,70C dan terus menurun hingga ke menit 120 yaitu 35,8 0C. Selanjutnya pada menit ke 135
suhu tubuh kucing perlahan naik hingga normal lagi pada menit ke 210 yaitu 37,1 0C. Hal ini
terjadi mungkin disebabkan oleh pengaruh anasthesi. Untuk pulsus dan respirasi masih ratarata normal. Cuman pada menit ke 15 pulsus kucing naik yaitu 188 kali per menit. Hal ini
mungkin disebabkan karena kucing stress sebelum operasi atau ungkin juga disebabkan
karena kesalahan praktikan saat perhitungan
5.2.4 Faktor yang Mempengaruhi proses Kesembuhan Luka
Penyembuhan luka adalah suatu bentuk proses usaha untuk memperbaiki kerusakan
yang terjadi. Komponen utama dalam proses penyembuhan luka adalah kolagen disamping sel
epitel. Fibroblas adalah sel yang bertanggung jawab untuk sintesis kolagen. Fisiologi
penyembuhan luka secara alami akan mengalami fase-fase seperti dibawah ini :

a. Fase inflamasi
Fase ini dimulai sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Segera setelah terjadinya
luka, pembuluh darah yang putus mengalami konstriksi dan retraksi disertai reaksi hemostasis
karena agregasi trombosit yang bersama jala fibrin membekukan darah. Komponen
hemostasis ini akan melepaskan dan mengaktifkan sitokin yang meliputi Epidermal Growth
Factor (EGF), Insulin-like Growth Factor (IGF), Plateled-derived Growth Factor (PDGF)
dan Transforming Growth Factor beta (TGF-) yang berperan untuk terjadinya kemotaksis
netrofil, makrofag, mast sel, sel endotelial dan fibroblas. Keadaan ini disebut fase inflamasi.
Pada fase ini kemudian terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit Polymorphonuclear (PMN).
Agregat trombosit akan mengeluarkan mediator inflamasi Transforming Growth Factor beta
1 (TGF 1) yang juga dikeluarkan oleh makrofag. Adanya TGF 1 akan mengaktivasi
fibroblas untuk mensintesis kolagen.
b. Fase proliferasi atau fibroplasi
Fase ini disebut fibroplasi karena pada masa ini fibroblas sangat menonjol perannya.
Fibroblas mengalami proliferasi dan mensintesis kolagen. Serat kolagen yang terbentuk
menyebabkan adanya kekuatan untuk bertautnya tepi luka. Pada fase ini mulai terjadi
granulasi, kontraksi luka dan epitelialisasi
c. Fase remodeling atau maturasi
Fase ini merupakan fase yang terakhir dan terpanjang pada proses penyembuhan luka.
Terjadi proses yang dinamis berupa remodelling kolagen, kontraksi luka dan pematangan
parut. Aktivitas sintesis dan degradasi kolagen berada dalam keseimbangan. Fase ini
berlangsung mulai 3 minggu sampai 2 tahun . Akhir dari penyembuhan ini didapatkan parut
luka yang matang yang mempunyai kekuatan 80% dari kulit normal.
Tiga fase tersebut diatas berjalan normal selama tidak ada gangguan baik faktor luar
maupun dalam.

Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka : (Colville,2002)


A. Faktor lokal
1. Suplai pembuluh darah yang kurang
2. Denervasi
3. Hematoma
4. Infeksi
5. Iradiasi
6. Mechanical stress
7. Dressing material
8. Tehnik bedah
9. Irigasi
10. Elektrokoagulasi
11. Suture materials
12. Antibiotik
13. Tipe jaringan
14. Facilitious wounds
B. Faktor umum
1. Usia
2. Anemia
3. Anti inflammatory drugs
4. Cytotoxic and metabolic drugs
5. Diabetes mellitus
6. Hormon
7. Infeksi sistemik
8. Jaundice
9. Penyakit menular
10. Malnutrisi
11. Obesitas
12. Temperatur
13. Trauma, hipovolemia dan hipoksia
14. Uremia
15. Vitamin C dan A
16. Trace metals

BAB 6
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa
Ovariohisterectomy merupakan prosedur pembedahan membuang uterus, adnexa dan
ovarium. Ovariectomy adalah tindakan pengamputasian, mengeluarkan dan menghilangkan
ovarium dari rongga abdomen. Sedangkan Hysterectomy adalah tindakan pengamputasian,
mengeluarkan dan menghilangkan organ uterus dari dalam tubuh. Jadi ovariohisterectomy
merupakan tindakan bedah / operasi pengangkatan organ reproduksi betina dari ovarium
sampai dengan uterus. Ovariohisterctomy dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol populasi
hewan dan juga dilakukan untuk terapi pengobatan pada kasus-kasus reproduksi seperti
pyometra, endometritis, tumor uterus, cyste, hiperplasia dan neoplasia kelenjar mamae. pada
praktikum ini dilakukan Ovariohysterectomy dengan teknik bedah laparatomy caudal dimana
daerah insisinya antara umbilicus dan tepi pelvis. Obat yang digunakan untuk OH terdiri dari
obat premedikasi, obat bius, sedative, dan antibiotik. Premedikasi yang diberikan berupa
sulfat atropine dengan dosis 0.04 g/kg BB, rute pemberian SC (subcutan). Anastesi terdiri
dari campuran ketamin 0,22 ml dan xylazine 0,22 ml secara intramuscular. Kombinasi
ketamin-xylazin merupakan kombinasi obat anestesi yang ideal karena menghasilkan efek
yang sinergis yaitu efek analgesik yang kuat dan relaksasi otot yang bagus. Perawatan pasca
operasi sangat menetukan proses kesembuhan luka. dilakukan pemantauan kondisi hewan
seperti temperatur, dan frekuensi nafas, nafsu makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka.
Treatment yang dilakukan memberikan amoxilin syrup setiap hari secara per oral selama 5
hari, serta pemberian nebacetin secara topikal setiap hari hingga jahitan mengering. Selain itu
juga diberikan injeksi Tolfenamic acid dengan dosis 4 mg/kg BB secara subcutan 1 kali 2 hari.
Pembukaan jahitan dilakukan pada hari ketujuh atau pada saat luka sudah benar-benar kering
dan kondisi hewan sudah sehat kembali.
6.2 Saran

Pada praktikum ini sudah berjalan lancar, namun pada proses pelaksanaan operasi
sterilitas masih kurang, sebaiknya pada praktikum sterilitas selama operasi benar-benar
dijaga. semoga pelaksanaan praktikum selanjutnya berjalan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad.S. A. 2006. Analisis Metabolit Sekunder. UGM press. yogyakarta.
Colville T, Bassert J. 2002. Clinical Anatomy and Physiology for Veterinary Technicians. St.
Louis : Mosby, Inc
Darmojono, H. 2012. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner (Hewan Kecil) 2. Jakarta : Pustaka
Populer Obor.
Fossum, T.W. 2002. Small Animal Surgery Ed 2 : Mosby
Hosgoog,G., et al. 2008. Small Animal Paediatric Medicine And Surgery. Oxford :
Butterworth Heinemann
Ibrahim, R. 2000. Pengantar Ilmu Bedah Veteriner Edisi Pertama. Syiah Kuala University
Press : Darussalam Banda Aceh
Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta.
Katzung, BG. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik. Salemba Medika : Jakarta
Kartohatmodjo, Sunarso. 2004. Teknik Penjahitan Luka. EGC: Jakarta.
Kul M, Koc Y, Alkan F, Ogurtan Z. 2011. The Effects of Xylazine-Ketamine and DiazepamKetamin on Arterial Blood Pressure and Blood Gases in Dog. OJVR 4(2):124-132.
Meyer K. 1957. Canine Surgery. American Veterinary Publication, Inc. Santa Barbara
California.
Nash H DVM. 2008. Spaying - Why it's a Good Idea. www.peteducation.com.[25Juli 2008].

Pathak SC, Migan JM, Peshin PK, Singh AP. 2012. Anasthetic and Hemodynamic Effecs of
Ketamin in Buffalo Calves. Am.J.Vet 5(43):875-877.
Pearson.1973. The Complication of Ovariohysterectomy in the Bitch. Jurnal Small aminal
Prctices 14:257
Plumb, D. C., 2008. Plumbs Veterinary Drug Handbook 6th edition. The IOWA State
University Press. Ames.
Rice, Dan. 1996. He Complete Book Of Dog Breeding. China: Barrons Education Series.
Sardjana, I Komang Wiarsa. 2011. Bedah Veteriner. Unair Press : Surabaya
Sulistia G. 2013. Farmakologi dan Terapi. Edisi.3. Bagian Farmakologi. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta.
Suriadi. 2007. Manajemen luka. STIKEP Muhammadiyah. Pontianak.

LAMPIRAN