Anda di halaman 1dari 13

RINGKASAN MATERI KULIAH

PENGELOLAAN KEUANGAN DESA


Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengelolaan
Keuangan Negara

Kelompok 2:
1.

Budi Raharjo

F131402
6

2.

Dedi Fafanto

F131403
0

3.

Erry Dwi Prabowo

F131409
9

4.

Yulia Trisaptya

F131410
7

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2015

PENGELOLAAN KEUANGAN DESA

PKN 2

A. PENGELOLAAN KEUANGAN DESA


Pembangunan desa mempunyai peranan yang sangat penting dan
strategis dalam rangka Pembangunan Nasional dan Pembangunan Daerah,
karena didalamnya terkandung unsur pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya serta menyentuh secara langsung kepentingan sebagian besar
masyarakat yang bermukim di perdesaan dalam rangka upaya meningkatkan
kesejahteraan mereka.
berkedudukan

Dalam pembangunan desa pemerintahan desa

sebagai

subsistem

dari

sistem

penyelenggaraan

pemerintahan di Indonesia, sehingga desa memiliki kewenangan, tugas dan


kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya
sendiri.
Dalam menyelengarakan kewenangan, tugas, dan kewajiban desa
dalam

penyelenggaraan

pemerintahan

maupun

pembangunan

maka

dibutuhkan sumber pendapatan desa. Sesuai amanat Undang Undang Nomor


6 Tahun 2014 tentang Desa, sumber-sumber pendapatan desa antara lain :
1. Pendapatan Asli Desa;
2. Alokasi APBN;
3. Bagian dari hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kabupaten/Kota;
4. Alokasi Dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan
yang diterima Kabupaten/Kota;
5. Bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota;
6. Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan
7. Lain-lain pendapatan Desa yang sah.
Beberapa alasan yang menyebabkan desa membutuhkan sumbersumber pendapatan yaitu:
1. Desa memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) yang
kecil dan sumber pendapatannya sangat bergantung pada bantuan
yang sangat kecil pula.
2. Kesejahteraan masyarakat desa yang rendah sehingga sulit bagi desa
mempunyai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang tinggi.
3. Masalah itu diikuti dengan rendahnya dana operasional desa untuk
menjalankan pelayanan publik.
4. Banyak program pembangunan masuk ke desa akan tetapi hanya
dikelola oleh Dinas/SKPD dimana program semacam itu mendulang
1 | Page

PKN 2
kritikan

karena

program

tersebut

tidak

memberikan

akses

pembelajaran bagi Desa, dan program itu bersifat top down sehingga
tidak sejalan dengan kebutuhan Desa dan masyarakatnya.
Dengan terbitnya Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, saat ini
desa dituntut mampu melaksanakan pengelolaan desa dengan baik dan
benar.Pemerintahan

desa

kini

diwajibkan

melaksanakan

administrasi

pengelolaan keuangan desa secara transparan, akuntabel, partisipatif dan


dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
Untuk

mewujudkan

pengelolaan

keuangan

desa

tersebut,

pemerintah

kabupaten/kota diwajibkan membuat Peraturan Kepala Daerah tentang


pedoman pengelolaan keuangan desa yang selanjutnya akan dijadikan dasar
bagi desa untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan keuangan desa.
Pedoman pengelolaan keuangan desa yang harus disusun oleh pemerintah
kabupaten/kota ini harus disesuaikan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.

B. ASAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA


Asas Pengelolaan Keuangan Desa adalah sebagai berikut :
1. Keuangan desa dikelola berdasarkan asas-asas transparan, akuntabel,
partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.
2. Pengelolaan keuangan desa dikelola dalam masa 1 (satu) tahun
anggaran yakni mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31
Desember

C. KEKUASAAN PENGELOLAAN KEUANGAN DESA


1. Kepala Desa
1) Kepala desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan
desa dan mewakili Pemerintah Desa dalam kepemilikan kekayaan
milik

desa

yang

dipisahkan.

Kepala

Desa

sebagai

pemegang

kekuasaan pengelolaan keuangan desa mempunyai kewenangan:


a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDesa;
b. menetapkan PTPKD;
c. menetapkan

petugas

yang

melakukan

pemungutan

penerimaan desa;
2 | Page

PKN 2
d. menyetujui pengeluaran atas kegiatan yang ditetapkan dalam
APBDesa; dan
e. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas
beban APBDesa.
2) Kepala Desa dalam melaksanakan pengelolaan keuangan desa,
dibantu oleh Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD).
2. Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD)
1) PTPKDberasal dari unsur Perangkat Desa, terdiri dari:
a. Sekretaris Desa;
b. Kepala Seksi; dan Bendahara
2) PTPKD ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa
3. Sekretaris Desa
Sekretaris

Desa

pengelolaan

bertindak

keuangan

selaku

desa.

koordinator

Sekretaris

Desa

pelaksana
selaku

teknis

koordinator

pelaksana teknis pengelolaan keuangan desa mempunyai tugas:


a. menyusun dan melaksanakan Kebijakan Pengelolaan APBDesa;
b. menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang

APBDesa,

perubahan APBDesa dan pertanggung jawaban pelaksanaan


APBDesa;
c. melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan yang
telah ditetapkan dalam APBDesa;
d. menyusun pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBDesa; dan
e. melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti penerimaan dan
pengeluaran APBDesa
4. Kepala Seksi
Kepala Seksi bertindak sebagai pelaksana kegiatan sesuai dengan
bidangnya. Kepala Seksi mempunyai tugas:
a. menyusun

rencana

pelaksanaan

kegiatan

yang

menjadi

tanggung jawabnya;
b. melaksanakan
Kemasyarakatan

kegiatan
Desa

dan/atau

yang

telah

bersama
ditetapkan

Lembaga
di

dalam

APBDesa;
c. melakukan tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas
beban anggaran belanja kegiatan;
3 | Page

PKN 2
d. mengendalikan pelaksanaan kegiatan;
e. melaporkan

perkembangan

pelaksanaan

kegiatan

kepada

Kepala Desa; dan


f.

menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran


pelaksanaan kegiatan

5. Bendahara
Bendahara di jabat oleh staf pada Urusan Keuangan di desa. Bendahara
mempunyai

tugas

menerima,

menatausahakan,

dan

menyimpan,

menyetorkan/membayar,

mempertanggungjawabkan

penerimaan

pendapatan desa dan pengeluaran pendapatan desa dalam rangka


pelaksanaan APBDesa
D. APBDesa
APBDesa

(Anggaran

Pendapatan

dan

Belanja

Desa)

adalah

rencana

keuangan tahunan Pemerintahan Desa. APBdesa terdiri atas:

1. Pendapatan
Meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan
hak desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar
kembali oleh desa. Pendapatan desa terdiri atas kelompok:
a. Pendapatan Asli Desa (PADesa);
1) Hasil usaha antara lain hasil Bumdes, tanah kas desa.
2) Hasil asset antara lain tambatan perahu, pasar desa, tempat
pemandian umum, jaringan irigasi
3) Swadaya, partisipasi dan Gotong royong adalah membangun
dengan

kekuatan

sendiri

yang

melibatkan

peran

serta

masyarakat berupa tenaga, barang yang dinilai dengan uang.;


dan
4) Lain-lain pendapatan asli desa antara lain hasil pungutan desa.
b. Transfer terdiri atas jenis:
1) Dana Desa;
2) Bagian dari Hasil Pajak Daerah Kabupaten/Kota dan Retribusi
Daerah;
3) Alokasi Dana Desa (ADD);
4) Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi; dan
5) Bantuan Keuangan APBD Kabupaten/Kota.
c. Pendapatan Lain-Lain terdiri atas jenis:
1) Hibah dan Sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat
adalah pemberian berupa uang dari pihak ke tiga.; dan

4 | Page

PKN 2
2) Lain-lain pendapatan Desa yang sah antara lain pendapatan
sebagai hasil kerjasama dengan pihak ketiga dan bantuan
perusahaan yang berlokasi di desa.

2. Belanja Desa

Meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan


kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa dipergunakan dalam
rangka penyelenggaraan kewenangan desa. Belanja desa terdiri atas
kelompok:
a. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
b. Pelaksanaan Pembangunan Desa;
c. Pembinaan Kemasyarakatan Desa;
d. Pemberdayaan Masyarakat Desa; dan
e. Belanja Tak Terduga.
Kelompok belanja desa dibagi dalam kegiatan sesuai dengan kebutuhan
Desa yang telah dituangkan dalam RKPDesa. Kegiatan tersebut terdiri
atas jenis:
a. Belanja Pegawai
Jenis belanja pegawai dianggarkan untuk pengeluaran penghasilan
tetap dan tunjangan bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa serta
tunjangan BPD,

dianggarkan dalam kelompok Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa, kegiatan pembayaran penghasilan tetap dan


tunjangan dan pelaksanaannya dibayarkan setiap bulan.

b. Belanja Barang dan Jasa


Belanja

Barang

dan

jasa

digunakan

untuk

pengeluaran

pembelian/pengadaan barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12


(dua belas) bulan. Belanja barang/jasa meliputi:
1) alat tulis kantor;
2) benda pos;
3) bahan/material;
4) pemeliharaan;
5) cetak/penggandaan;
6) sewa kantor desa;
7) sewa perlengkapan dan peralatan kantor;
8) makanan dan minuman rapat;
9) pakaian dinas dan atributnya;
10) perjalanan dinas;
11) upah kerja;
12) honorarium narasumber/ahli;
13) operasional Pemerintah Desa;
14) operasional BPD;
15) insentif Rukun Tetangga /Rukun Warga adalah bantuan uang
untuk operasional lembaga RT/RW dalam rangka membantu
pelaksanaan tugas pelayanan pemerintahan, perencanaan

5 | Page

PKN 2
pembangunan,

ketentraman

dan

ketertiban,

serta

pemberdayaan masyarakat desa.; dan


16) pemberian barang pada masyarakat/kelompok masyarakat.
dilakukan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan.

c. Belanja Modal
Belanja

Modal

digunakan

untuk

pengeluaran

dalam

rangka

pembelian/pengadaan barang atau bangunan yang nilai manfaatnya


lebih dari 12 (dua belas) bulan.
d. Belanja tidak terduga
Dalam keadaan darurat dan/atau Keadaan Luar Biasa (KLB),
pemerintah Desa dapat melakukan belanja yang belum tersedia
anggarannya. Yang dimaksud dengan

Keadaan darurat dan/atau

KLB adalah keadaan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan
berulang dan/atau mendesak. Keadaan darurat misalnya keadaan
yang dikarenakan bencana alam, sosial, kerusakan sarana dan
prasarana.Keadaan luar biasa misalnya karena KLB/wabah.Keadaan
darurat

dan

luar

biasa

ditetapkan

dengan

Keputusan

Bupati/walikota.

3. Pembiayaan Desa
Meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran
yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.
Pembiayaan desa terdiri atas kelompok:
a. Penerimaan Pembiayaan, mencakup:.
1) Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya
SiLPA merupakan
pelampauan
penerimaan
pendapatan
terhadap belanja, penghematan belanja, dan sisa dana kegiatan
lanjutan. SiLPA digunakan untuk:
a) menutupi defisit anggaran apabila realisasi pendapatan
lebih kecil dari pada realisasi belanja;
b) mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan; dan
c) mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir
tahun anggaran belum diselesaikan.
2) Pencairan Dana Cadangan
Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan
pencairan dana cadangan dari rekening dana cadangan ke
rekening kas Desa dalam tahun anggaran berkenaan;
3) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan.
Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan digunakan
untuk menganggarkan hasil penjualannkekayaan desa yang
dipisahkan.
6 | Page

PKN 2
b. Pengeluaran Pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan terdiri dari:
1) Pembentukan Dana Cadangan
Pemerintah Desa dapat membentuk dana cadangan untuk
mendanai kegiatan yang penyediaan dananya tidak dapat
sekaligus/sepenuhnya dibebankan dalam satu tahun anggaran.
Pembentukan dana cadangan ini harus ditetapkan dengan
peraturan desa yang minimal memuat:
- penetapan tujuan pembentukan dana cadangan;
- program dan kegiatan yang akan dibiayai dari dana
-

cadangan;
besaran dan rincian tahunan dana cadangan yang harus

dianggarkan;
- sumber dana cadangan; dan
- tahun anggaran pelaksanaan dana cadangan.
Pembentukan dana dapat bersumber dari penyisihan atas
penerimaan

Desa,

kecuali

dari

penerimaan

yang

penggunaannya telah ditentukan secara khusus berdasarkan


peraturan perundang-undangan. Pembentukan dana cadangan
ditempatkan pada rekening tersendiri. Dan Penganggaran dana
cadangan tidak melebihi tahun akhir masa jabatan Kepala Desa.
2) Penyertaan Modal Desa.
Penyertaan Modal Pemerintah Desa yang selanjutnya disebut
penyertaaan modal adalah pengalihan kepemilikan aset milik
desa yang semula merupakan kekayaan yang tidak terpisahkan
menjadi

kekayaan

yang

dipisahkan

untuk

diperhitungkan

sebagai modal /saham desa pada Badan Usaha Milik Desa.

E. PENGELOLAAN
1. Perencanaan
Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang
APBDesa berdasarkan RKPDesa tahun berkenaan. Sekretaris Desa
menyampaikan rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa kepada
Kepala

Desa.Rancangan

peraturan

Desa

tentang

APBDesa

ini

disampaikan oleh Kepala Desa kepada Badan Permusyawaratan Desa


untuk dibahas dan disepakati bersama. Rancangan Peraturan Desa
tentang APBDesa disepakati bersama paling lambat bulan Oktober tahun
berjalan.
7 | Page

PKN 2
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati
bersama disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui
camat atau sebutan lain paling lambat

3 (tiga) hari sejak disepakati

untuk dievaluasi. Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan


APBDesa

tersebut

paling

lama

20

(dua

puluh)

hari

kerja

sejak

diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa.Dalam hal


Bupati/Walikota tidak memberikan hasil evaluasi dalam batas waktu
sebagaimana dimaksud, maka Peraturan Desa tersebut berlaku dengan
sendirinya.

Dalam

hal

Bupati/Walikota

menyatakan

hasil

evaluasi

Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan


kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi, Kepala Desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari
kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan
Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang
APBDesa

menjadi

Peraturan

Desa,Bupati/Walikota

membatalkan

Peraturan Desa dengan Keputusan Bupati/Walikota.Pembatalan Peraturan


Desa

ini

sekaligus

menyatakan

berlakunya

pagu

APBDesa

tahun

anggaran sebelumnya.Dalam hal Pembatalan, Kepala Desa hanya dapat


melakukan

pengeluaran

terhadap

operasional

penyelenggaraan

Pemerintah Desa.Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan


Desa Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan dan selanjutnya
Kepala Desa bersama BPD mencabut peraturan desa dimaksud.
Bupati/walikota dapat mendelegasikan evaluasi Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa kepada camat atau sebutan lain.
Camat menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling lama 20
(dua puluh) hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa
tentang APBDesa.Dalam hal Camat tidak memberikan hasil evaluasi
dalam batas waktu maka Peraturan Desa tersebut berlaku dengan
sendirinya. Dalam hal Camat menyatakan hasil evaluasi Rancangan
Peraturan Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan
umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Kepala
Desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja
terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Apabila hasil evaluasi tidak
ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala Desa tetap menetapkan
Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan Desa,

8 | Page

PKN 2
Camat menyampaikan usulan pembatalan Peraturan Desa kepada
Bupati/Walikota.
2. Pelaksanaan
Semua

penerimaan

dan

pengeluaran

desa

dalam

rangka

pelaksanaan kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas


desa.Khusus bagi desa yang belum memiliki pelayanan perbankan di
wilayahnya

maka

pengaturannya

Kabupaten/Kota.Semua

ditetapkan

penerimaan

dan

oleh

pengeluaran

Pemerintah
desa

harus

didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.


Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai penerimaan
desa selain yang ditetapkan dalam peraturan desa.Bendahara dapat
menyimpan uang dalam Kas Desa pada jumlah tertentu dalam rangka
memenuhi kebutuhan operasional pemerintah desa.Pengaturan jumlah
uang dalam kas desa ini ditetapkan dalam Peraturan Bupati/Walikota.
Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa tidak dapat
dilakukan

sebelum

rancangan

peraturan

desa

tentang

APBDesa

ditetapkan menjadi peraturan desa.Pengeluaran desa ini tidak termasuk


untuk

belanja

pegawai

yang

bersifat

mengikat

dan

operasional

perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala desa.Penggunaan


biaya tak terduga terlebih dulu harus dibuat Rincian Anggaran Biaya
yang telah disahkan oleh Kepala Desa.
Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan
pengelolaan keuangan desa :
a. Rencana Anggaran Biaya
Pelaksana Kegiatan mengajukan pendanaan untuk melaksanakan
kegiatan harus disertai dengan dokumen antara lain Rencana
Anggaran Biaya. Rencana Anggaran Biaya ini di verifikasi oleh
Sekretaris Desa dan di sahkan oleh Kepala Desa.Pelaksana Kegiatan
bertanggungjawab

terhadap

menyebabkan

beban

atas

mempergunakan

buku

tindakan

anggaran
pembantu

pengeluaran

belanja
kas

kegiatan
kegiatan

yang
dengan
sebagai

pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan didesa.


b. Surat Permintaan Pembayaran (SPP)
Berdasarkan

rencana

anggaran

biaya,

pelaksana

kegiatan

mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada Kepala


9 | Page

PKN 2
Desa.Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini tidak boleh dilakukan
sebelum barang dan atau jasa diterima. Pengajuan SPP terdiri atas:
1) Surat Permintaan Pembayaran (SPP);
2) Pernyataan tanggungjawab belanja; dan
3) Lampiran bukti transaksi.
Dalam

pengajuan

pelaksanaan

pembayaran,

Sekretaris

Desa

berkewajiban untuk:
1) meneliti kelengkapan permintaan pembayaran di ajukan oleh
pelaksana kegiatan;
2) menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBdes
yang tercantum dalam permintaan pembayaran;
3) menguji ketersedian dana untuk kegiatan dimaksud; dan
4) menolak pengajuan permintaan pembayaran oleh pelaksana
kegiatan apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Berdasarkan SPP yang telah di verifikasi Sekretaris Desa, Kepala Desa
menyetujui

permintaan

pembayaran.Pembayaran

pembayaran
yang

dan

telah

bendahara melakukan
dilakukan,

selanjutnya

bendahara melakukan pencatatan pengeluaran.


c. Perpajakan
Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan
pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan
pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
d. Pengadaan barang dan/atau jasa
Pengadaan barang dan/atau jasa di Desa diatur dengan peraturan
bupati/walikota

dengan

berpedoman

pada

ketentuan

peraturan

perundang-undangan.
e. Perubahan Peraturan Desa
Perubahan APBDesa hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1
(satu) tahun anggaran. Perubahan Peraturan Desa ini dapat dilakukan
apabila terjadi:
1) keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran antar
jenis belanja;
2) keadaan yang menyebabkan sisa lebih perhitungan anggaran
(SilPA) tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan;
3) terjadi penambahan dan/atau pengurangan dalam pendapatan
10 | P a g e

PKN 2
desa pada tahun berjalan; dan/atau
4) terjadi peristiwa khusus,

seperti

bencana alam, krisis politik,

krisis ekonomi, dan/atau kerusuhan sosial yang berkepanjangan;


5) perubahan mendasar atas kebijakan Pemerintah dan Pemerintah
Daerah.
f.

Bantuan Keuangan
Dalam

hal

Bantuan

keuangan

dari

APBD

Provinsi

dan

APBDKabupaten/Kota serta hibah dan bantuan pihak ketiga yang tidak


mengikat ke desa disalurkan setelah ditetapkannya Peraturan Desa
tentang Perubahan APB Desa, perubahan diatur dengan Peraturan
Kepala Desa tentang perubahan APBDesa.Perubahan APBDesa ini
harus diinformasikan kepada BPD.
3. Penatausahaan
Penatausahaan dilakukan oleh Bendahara Desa. Bendahara Desa wajib
melakukan pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran

serta

melakukan tutup buku setiap akhir bulan secara tertib. Bendahara Desa
wajib

mempertanggungjawabkan

pertanggungjawaban.Laporan

uang

melalui

pertanggungjawaban

laporan

ini

disampaikan

setiap bulan kepada Kepala Desa dan paling lambat tanggal 10 bulan
berikutnya.
Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran menggunakan:
a. buku kas umum;
b. buku Kas Pembantu Pajak; dan
c. buku Bank.
4. Pelaporan
Kepala Desa menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa
kepada Bupati/Walikota berupa:
a. laporan

semester pertama, disampaikan paling lambat pada akhir

bulan Juli tahun berjalan.


b. laporan semester akhir tahun, disampaikan paling lambat pada akhir
bulan Januari tahun berikutnya.
5. Pertanggungjawaban
Kepala Desa
pelaksanaan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi


APBDesa

kepada

anggaran yang terdiri dari

Bupati/Walikota

setiap

akhir

tahun

pendapatan, belanja, dan pembiayaan dan


11 | P a g e

PKN 2
ditetapkan dengan Peraturan Desa. Peraturan

Desa tentang laporan

pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa dilampiri:


a. format Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa
Tahun Anggaran berkenaan;
b. format Laporan Kekayaan

Milik Desa per 31 Desember Tahun

Anggaran berkenaan;
c. format Laporan Program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang
masuk ke desa.
Laporan

Pertanggungjawaban

Realisasi

Pelaksanaan

APBDesadiinformasikan kepada masyarakat secara tertulis dan dengan


media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat. Laporan ini
disampaikan

kepada Bupati/Walikota melalui camat atau sebutan lain

paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun anggaran berkenaan.


F. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
1. Pemerintah Provinsi wajib membina dan mengawasi pemberian dan
penyaluran Dana Desa, Alokasi Dana Desa, dan Bagi hasil Pajak dan
Retribusi Daerah dari Kabupaten/Kota kepada Desa.
2. Pemerintah Kabupaten/Kota wajib membina dan mengawasi pelaksanaan
pengelolaan keuangan desa.
LAIN-LAIN
Aturan terkait Dana Desa :
1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa;
2. Peraturan

Pemerintah

Nomor

43

Tahun

2014

tentang

Peraturan

Pelaksanaan Undang Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa;


3. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang
Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang
Pengelolaan Keuangan Desa.

12 | P a g e