Anda di halaman 1dari 11

PANDUAN

PENANDAAN AREA OPERASI


RS. BAPTIS BATU TAHUN 2014

RS BAPTIS BATU
JL RAYA TLEKUNG NO 1
JUNREJO - BATU

DAFTAR ISI

Halaman Judul ....................................................................................................................

Daftar Isi .............................................................................................................................

ii

Lembar Pengesahan ............................................................................................................

iii

BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................................................

1.1. Latar Belakang .............................................................................................................

1.2. Pengertian ....................................................................................................................

1.3.Tujuan ...........................................................................................................................

BAB II. TATA LAKSANA ................................................................................................

BAB III. DOKUMENTASI ................................................................................................

BAB IV. PENUTUP ...........................................................................................................

Lampiran 1 ..........................................................................................................................

Lampiran 2 ..........................................................................................................................

ii

LEMBAR PENGESAHAN

PENGESAHAN DOKUMEN RS. BAPTIS BATU


NAMA

KETERANGAN

Dwi Wicaksana,A.Md.Kep.

Pembuat Dokumen

Dr. Imanuel Eka Tantaputra

Authorized Person

Dr. Arhwinda PA,Sp.KFR.,MARS.

Direktur RS. Baptis Batu

iii

TANDA TANGAN

TANGGAL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG
Kemajuan tehnologi saat ini, menuntut para pemberi pelayanan kesehatan agar
memberikan pelayanan yang bermutu. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat peningkatan mutu kualitas layanan merupakan salah
satu aspek yang sangat penting bagi rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan.
Begitu juga bagi pelayanan bedah dan anestesi merupakan proses yang umum dan
komplek di rumah sakit, tindakan ini membutuhkan asessmen pasien yang lengkap
dan komprehensif, perencanaan asuhan yang terintegrasi, monitoring pasien yang
berkesinambungan dan kriteria transfer untuk pelayanan yang berkelanjutan,
rehabilitasi, akhirnya transfer dan pemulangan pasien.
Standar prabedah untuk mencegah terjadinya kesalah dalam operasi, maka
dilakukan penandaan area operasi (site marking). Penandaan area operasi dilakukan
untuk mencegah terjadinya kesalahan insisi.

1.2.

PENGERTIAN.
Menurut surgery checklist WHO : penandaan area operasi merupakan kunci
utama dalam menciptakan keselamatan pasien sebelum operasi. Penandaan area
operasi merupakan hal yang paling penting untuk mencegah terjadinya komplikasi
dan kematian saat operasi, akibat salah insisi, salah pasien, salah letak .
Time out dalam WHO merupakan hal terpenting sebelum dilakukan insisi,
dimana team operasi yang dipimpin oleh dokter operator dan dipandu oleh sirkulair
melakukan melakukan konfirmasi terhadap penandaan area operasi.

1.3.

TUJUAN.
Tujuan dari penandaan area operasi untuk mengklarifikasi dan memberikan
informasi tetang daerah yang akan diinsisi, sehingga pasien akan mengerti tentang
tentang prosedur operasi, dengan dilakukan penandaan.
Selain itu tujuan dari penandaan area operasi antara lain :
-

meminimalkan resiko kesalahan insisi dan salah pasien.

meminimalkan resiko kelahan prosedur operasi.

dengan memberikan penandaan pada kulit dan daerah operasi dokter operator,
melakukan inform consent tindakan operasi dan pendidikan kesehatan.

memberikan pendaan pada daerah anatomi yang akan dilakukan operasi.

dengan memberikan penandaan merupakan inform consent.

BAB II
TATA LAKSANA

1.

Penandaan harus dilakukan operator bedah, saat pasien dalam kondisi sadar.
Penandaan dilakukan sebelum pasien dipindahkan ke kamar operasi dari ruang
rawat inap. Penandaan area operasi yang dilakukan dapat membuat pasien lebih
nyaman dan tenang, sebelum pasien dipindahkan ke ruang premedikasi.

2.

Penandaan dilakukaan dengan memberi tanda lingkaran (O) dan dokter operator
menuliskan inisial nama.

3.

Penandaan dilakukan dengan menggunakan spidol permanent yang berwarna hitam


, sehingga tetap terlihat setelah dilakukan desinfeksi dan drapping.

4.

Tata cara penandaan area operasi (site marking) :


Prosedur :
1.

Selamat pagi bapak/ibu/sdr/sdri saya dokter ..

2.

Tolong sebutkan nama dan tanggal lahir bapak/ibu/sdr/sdr ..

3.

Dokter operator melakukan edukasi tindakkan operasi dan melakukan


penandaan area operasi (O) dan inisial dokter operator.Penandaan
lokasi operasi harus melibatkan pasien dan dibuat saat pasien masih
sadar.

4.

Lokasi operasi ditandai pada kasus operasi sisi (laterality), struktur


multiple (jari tangan, jari kaki) atau level multiple (tulang belakang).

5.

Proses verifikasi praoperatif (sebelum insisi/ time out) harus


dilakukan dan didokumentasikan.

5.

Tindakan operasi yang memerlukan penandaan antara lain :


a. Operasi Spinal.
b. Operasi mata.
Penandaan area operasi pada mata dengan
ditutupkan pada mata yang akan dioperasi.
c. Operasi yang memiliki dua sisi.
d. Burr Hole.
e. Jari.
f. Operasi pada ovarium.
g. Operasi tiroid.

menggunakan kasa/gause yang

6.

Beberapa prosedur yang tidak memerlukan penandaan:


a. Kasus organ tunggal (misalnya operasi jantung, operasi caesar).
b. Kasus intervensi seperti kateter jantung.
c. Kasus yang melibatkan gigi.
d. Prosedur

yang melibatkan bayi

prematur di mana

penandaan akan

menyebabkan tato permanen.

7.

Tiga komponen penting protokol, yaitu:


a. Proses verifikasi.
b. Menandai lokasi yang akan dilakukan operasi.
c. Time out.

Dalam kasus-kasus di mana tidak dilakukan penandaan, alasan harus dapat dijelaskan
dan dipertanggungjawabkan. Sedapat mungkin penandaan harus melibatkan pasien untuk
menghindarkan kekeliruan. Meskipun jarang, pasien boleh menolak penandaan setelah
dijelaskan maksud dan tujuannya.
Penandaan harus dibuat menggunakan surgical marking pen yang tidak hilang bila
dicuci saat preparasi lapangan operasi. Untuk pasien dengan warna kulit gelap, boleh
digunakan warna selain hitam atau biru gelap (biru tua) agar penandaan jelas terlihat,
misalnya warna merah. Pada kasus- kasus seperti operasi spinal, dapat dilakukan proses
dua tahap yang meliputi penandaan preoperatif per level spinal (yang akan dioperasi) dan
interspace spesifik intraoperatif menggunakan radiographic marking.
Jika terdapat beberapa prosedur dalam satu operasi, maka time-out harus dilakukan
sebelum setiap prosedur. Prosedur tidak boleh dimulai sebelum tercapai kata sepakat oleh
semua anggota tim (dalam time-out) atau sebelum semua pertanyaan atau masalah terjawab.
Time-out ini harus terdokumentasikan, minimal berbentuk suatu pernyataan bahwa time-out
telah dilakukan dan tercapai kata sepakat.

BAB III
DOKUMENTASI

Dalam pelaksanaannya pembuatan laporan penandaan didokumentasikan dalam :


1. Lembar formulir penandaan area operasi RM.OR.09A dan RM.OR.09B.
2. Lembar formulir penandaan area operasi terbagi menjadi 2 (untuk laki-laki dan
perempuan).
3. Saat melakukan proses time out, perawat sirkulair melakukan pendokumentasian di
lembar keselamatan pasien operasi.

BAB IV
PENUTUP

Pelayanan bedah dan anestesi di rumah sakit merupakan salah satu bagian dari
pelayanan kesehatan yang berkembang dengan cepat seiring dengan peningkatan ilmu
pengetahuan dan tehnologi dibidang kesehatan.
Instalasi kamar operasi merupakan bagian integral dari pelayanan rumah sakit
khususnya dalam bidang pembedahan, oleh karena itu penulisan laporan operasi wajib
dilakukan oleh dokter spesialis bedah dalam melakukan perawatan dan pengobatan lanjutan
untuk pasien.
Dalam perkembangan pelayanan kesehatan yang dari hari ke hari semakin maju, maka
pelayanan pembedahan harus juga mengikuti perkembangan tersebut, pendokumentasian
setiap pelayanan yang dilakukan pada pasien harus tersusun dengan baik untuk
mempermudah perawatan dan pengobatan lanjutan dari pasien tersebut.
Panduan ini dibuat bertujuan untuk memberikan acuan dalam pengelolaan dan
pelayanan di Instalasi Kamar Operasi.

Lampiran 1. Formulir Penandaan Area Operasi (Perempuan)

Batu,.

()
Dokter Operator

()
Pasien / Keluarga Pasien

Lampiran 2. Formulir Penandaan Area Operasi (Laki-Laki)

Batu,.

()
Pasien / Keluarga Pasien

()
Dokter Operator