Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN

HEMATOLOGI

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 1


FAUZIAH HANIF 41333410
LUSI ANA WATI 4133341068
NURUL AZMI 4133341008
SYADIAH 4133341073
YESIKA SIPAYUNG 4133341037
DOSEN PEMBIMBING
Dra.Melva Silitonga, M.S
JURUSAN: PENDIDIKAN BIOLOGI EKSTENSI B
TAHUN AJARAN 2014/2015
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Atas Rahmat
dan Karunia-NYA maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
hematologi Penyusunan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas agar
mahasiswa terlatih guna meningkatkan motifasi belajar mahasiswa.
Dalam penyusunan makalah ini saya merasa masih banyak kekurangan
baik teknis penyusunan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami
miliki. Untuk itu kritik dan saran sangat saya harapkan demi penyempurnaan
penyusunan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini saya menyampaikan ucapan terima kasih
yang tak terhingga kepada ibu selaku dosen pembawa mata fisiologi hewan.
Secara khusus kami juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang
sedikit ikut membantu kami.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran
bagi yang membutuhkan, khususnya bagi kami sendiri sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai.
Amin Yaa Robbal Alamiin.

Wassalam.
MEDAN ,28 april 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Kata pengantar...............................................................................i
Daftar isi........................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1..........................................................................................Latar belakang
.........................................................................................1
1.2..........................................................................................Rumusan
masalah............................................................................1
1.3..........................................................................................Tujuan 2
1.4..........................................................................................Manfaat 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian darah ...........................................................3
2.2 komponen darah ............................................................3
2.3 pengertian hematologi....................................................4
BAB III METODE KERJA
3.1. waktu dan pelaksanaan..................................................5
3.2 alat dan bahan ................................................................5
3.3 prosedur kerja ................................................................6
3.4 gambar prosedur kerja ...................................................10
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Mengukur kadar haemoglobin pada tikus jantan...........11
4.2 Penentuan jumlah hematokrit pada tikus betina ............13
4.3 Penentuan berat organ dalam tikus ................................17
4.4 penentuan leukosit dan eritrosit......................................23
BAB V PENUTUP
5.1 kesimpulan........................................................................25
5.2 saran .................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Darah dalam istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan
kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti
darah. Dimana darah merupakan suatu cairan yang terdapat pada semua jenis
makhluk hidup (kecuali tumbuhan) tingkat tinggi dimana darah tersebut berfungsi
untuk mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh,
untuk mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi sebagai pengikat
oksigen. Pada sebagian hewan tak bertulang belakang atau invertebrata yang
berukuran kecil, oksigen langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein
pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin merupakan protein
pengangkut oksigen paling efektif dan terdapat pada hewan-hewan bertulang
belakang atau vertebrata. Hemosianin, yang berwarna biru, mengandung tembaga,
dan digunakan oleh hewan crustaceae. Darah merupakan komponen esensial
makhluk hidup yang merupakan bagian terpenting dalam system transport. Dalam
keadaan fisiologik, darah selalu ada dalam pembuluh darah sehingga dapat
menjalankan fungsinya sebagai: pembawa oksigen(oksigen carrier), mekanisme
pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme hemostatis. Darah terdiri atas
dua komponen utama yaitu plasma darah yang merupakan bagian cair darah yang
sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah, sedangkankan butir
darah (blood corpuscles) terdiri atas eritrosit, leukosit dan trombosit.
Perhitungan sel darah menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam
pemeriksaan status kesehatan hewan. Oleh karena itu Cara-cara menghitung sel
darah secara manual tetap menjadi upaya penting dalam laboratorium , terutama
pada tenpat yang masih belum mempunyai sarana laboratorium yang lengkap.
Oelh karena itulah di sini kami melakukan pengujian hematologi terhadap darah
tikus sehingga nantinya dapat di manfaatkan.
1.2 rumusan masalah
1. bagaimana nilai hematokrit tukus putih
2. bagaimana kadar Hb darah pada tikus putih
3. bagaimana kadar leukosit dan eritrosit pada tikus putih

4. bagaimana memahami dan menginterpretasikan nilai darah sesuai konsepkonsep fisiologis.


1.3 tujuan
Adapun tujuan praktikum kali ini yaitu untuk mengetahui metode dan
teknik pengukuran nilai darah (blood value) standar yang meliputi :
1
2
3
4

untuk mengetahui nilai hematokrit pada tikus putih


untuk mengetahui kadar Hb darah pada tikus putih
Untuk mengetahui kadar leukosit dan eritrosit pada tikus putih
untuk dapat memahami dan menginterpretasikan nilai darah sesuai konsep-

konsep fisiologis.
1.4 manfaat
Dengan melakukan penelitian untuk menyusun makalah ini, dapat
memberikan pengalaman khususnya untuk kami sebagai peneliti, sekaligus
penyusun makalah ini serta pengetahuan tentang hematologi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian darah
Darah merupakan jaringan yang mengisi hampir separuh dari tubuh.
Darah mempunyai fungsi bekerja sebagai sistem transpor (sirkulasi) dari
tubuh, mengantarkan semua bahan kimia, oksigen dan zat makanan yang
diperlukan untuk tubuh supaya fungsi normalnya dapat dijalankan dan
menyingkirkan karbondioksida dan hasil buangan lain. Darah terdiri atas
plasma dan komponen-komponen seluler yaitu sel darah merah atau
eritrosit, sel darah putih atau leukosit dan trombosit (Yuwono, 2001)
Darah merupakan jaringan pengikat yang umumnya mempunyai
komposisi plasma darah dan sel-sel darah. Darah manusia dan darah
hewan terdiri atas suatu komponen cair yaitu plasma dan berbagai bentuk
undur yang dibawa dalam plasma, antara lain sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit), dan keping-keping darah. Plasma darah adalah
adalah cairan yang komplek yang berada dalam keadaan keseimbangan
dinamik dengan cairan tubuh lain. Plasma darah mengandung 90% air, 78% protein, 1% elektrolit dan 1-2% zat-zat terlarut lainnya (Sutrisno,
1987). Darah vertebrata memiliki inti yang bentuknya secara umum oval.
Eritrosit mamalia dalam perkembangannya akan berbentuk cawan
bikonkaf yang dapat mempercepat pertukaran gas antar sel-sel dan plasma
darah. Leukosit terbagi ke dalam dua macam yaitu granulosit dan
agranulosit. Basofil, eosinofil dan neutrofil termasuk kedalam leukosit
granulosit (leukosit yang sel-selnya bergranula), sedangkan monosit dan
limfosit termasuk kedalam sel-sel agranulosit (Kay, 1998). Dari penelitian
bobot hewan dapat sejalan dengan bertambahnya umur. Hasil pemeriksaan
nilai hematologi (Hb, hematokrit, eritrosit, dan leukosit) dan niali
bikokimia darah, hal tersebut dapat berada di batas normal sesuai dengan
masing-masing kelompok umur (Sihombing et al, 2011).
2.2 komponen darah
Komponen dasar darah yang utama yaitu plasma darah dan sel-sel
darah yang terdiri dari eritrosit, leukosit, dan trombosit.Plasma darah

merupakan komponen cairan yang mengandung ion-ion dan molekul


organik yang meliputi protein, elektrolit, materi sampah, zat pengatur dan
zat-zat terlarut.Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting
adalah serum. Serum merupakan plasma darah yang dikeluarkan atau
dipisahkan fibrinogennya dengan cara memutar darah dalam sentrifuge.
Serum tampak sangat jernih dan mengandung zat antibodi.Antibodi ini
berfungsi untuk membinasakan protein asing yang masuk ke dalam
tubuh.Protein

asing

yang

masuk

ke

dalam

tubuh

disebut

antigen.Sedangkan sel terdiri atas sel-sel diskret yang memiliki bentuk


khusus dan fungsi yang berbeda, sedangkan komponen dari plasma selain
fibrinogen juga terdapat ion-ion inorganic(Alamanda, 2006).
2.3 pengertian hematologi
Hematologi merupakan cabang ilmu kesehatan yang mempelajari
darah, organ pembentuk darah dan penyakitnya, hematologi digunakan
sebagai petunjuk keparahan suatu penyakit. perubahan hematologi dan
kimia darah baik secaran kualitatif maupun kuantitatif dapat menentukan
kondisi kesehatan hewan. Sel dan plasma darah mempunyai peran
fisiologis yang sangan penting dalam diagnosis, prognosis dan terapi suatu
penyakit (Soetrisno, 1987).
Pengukuran

hematologi

hewan

meliputi

pengukuran

kadar

hemoglobin, penghitungan total eritrosit, penghitungan total leukosit dan


dan pengukuran hematokrit. Kadar hemoglobin, jumlah dan bentuk sel
darah hewan berbeda-beda. Hemoglobin merupakan protein pengangkut
oksigen paling efektif. Eritrosit mamalia tidak berinti dan berbentuk bulat.
Eritrosit ikan berinti, berbentuk elips dan berwarna merah muda. Kadar
hemoglobin bervariasi dengan jumlah sel darah merah yang ada. Secara
fisiologis, hemoglobin sangat penting untuk kehidupan hewan dan sangat
menentukan kemampuan kapasitas pengikatan oksigen oleh darah
(Guyton, 1976).

BAB III
METODE KERJA
3.1. WAKTU DAN PELAKSANAAN
Dilaksanakan di laboratorium fisiologi hewan universitas negeri Medan
pada hari selasa tanggal 14 april 2015 dengan jumlah mahasiswa 40 0rang
3.2. ALAT DAN BAHAN
1. Pengukuran kadar haemoglobin
Alat
No
1
2
3
4
5
7
8
9
10
11

Nama Alat
Heamometer resistant
Jarum suntik 2.5 ml
Bak paraffin
Pipet tetes
Pengaduk
Pisau
Pinset
Rak tabung
Pipet kapiler
Botol penampung darah
Bahan

Jumlah Alat
1 buah
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah

No
1
2
3
4

Nama Bahan
0,1 N HCl
Darah kapiler/intra cardiac
akuades
EDTA
Prosedur Kerja

No
1
2

Prosedur Kerja
Menyediakan alat dan bahan di atas meja praktikum
Mengambil botol penampung dan memberikan sedikit EDTA kedalam

Jumlah Bahan
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya

botol tersebut. EDTA ini ini digunakan untuk garam natrium atau
kalium, caram-garam tersebut mengubah ion calcium dari darah menjadi
bentuk yang bukan ion. Tiap 1 mg EDTA menghindarkan membekunya 1
ml darah. Bila pemakaian EDTA melampaui batas maka akan
mengakibatkan eritrosit mengkerut sehingga nilai hematokrin lebih
rendah, nilai MCV (Mean Corpuscular Volume) mengecil dan MCHC
3

(Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) meningkat.


Mencari terlebih dahulu pembuluh darah arteria branchialis pada Rattus
sp dan keluarkan darahnya kurang lebih 1,0 atau mengeluarkan darah
melalui intra cardiac lalu meletakan darah dalam botol penampung (yang
sudah diberikan EDTA)

Mengisi tabung pengencer /pengukur hemometer dengan 0,1 N HCl


sampai menunjukan angka 2. Penggunaan HCl dalam praktikum ini,
untuk melisiskan eritrosit sehingga Hb yang terdapat dalam eritrosit

dapat keluar dan bereaksi dengan HCl membentuk asam hematin.


Menghisap darah dengan pipet Hb sampai angkanya menunjukan 20,

hapuslah darah yang melekat pada pipet.


Memasukan kedalam tabung pengencer hemometer yang telah berisi 0,1

N HCl sebelum darah mengalami penjedalan.


Menghisap HCl dalam tabung kepipet dan dikeluarkan lagi, ulangi
sampai 3 kali. Ini dilakukan untuk menghomogenkan larutan campuran

darah dan HCl serta untuk memasukan udara.


Mendiamkan selama 8-10 menit. Hal ini dilakukan agar Hb bereaksi
dengan HCl sehingga dapat terbentuk asam hematin dan kadar asam ini

dapat dihitung dan sekaligus kadar Hb juga dapat diketahui.


Mengencerkan dengan aquadest setetes demi setets sambil diaduk

10

dengan batang pengaduk, sampai warnanya sesuai dengan warna standar.


Membaca angka yang sesuai dengan tinggi permukaan isrutan darah ini

(menunjukan kadar Hb)


11 Mengulangi perlakuan diatas sampai 3 kali dan hasilnya rata- rata
2. Penentuan jumlah eritrosit dan leukosit
Alat
No
1
2
3

Nama Alat
Bilik hitung Improved Neubauer
Jarum suntik 2.5 ml
Pipet
pengencer
1-101
(pengenceran

100

kali

Jumlah Alat
1 buah
1 buah
1 buah

untuk

eritrosit)
Pipet pengencer 1-11(pengenceran

1 buah

5
7
8

10 kali untuk leukosit)


Pengaduk
Pipet tetes
Mikroskop

1 buah
1 buah
1 set

No
1
2

Bahan
Nama Bahan
Darah kapiler/intra cardiac
Larutan hevem (mengandung

Jumlah Bahan
secukupnya
secukupnya

HgCl2 = 0,25 g : NaCl + 0,5 g :


Na2SO4 = 2,5 g : akuades =100
3

ml)
Larutan turk (mengandung asam

secukupnya

asetat glaciak = 3 ml : gentian


violet 1% = 1 ml ; akuades =100
ml) larutan turk dapat diganti
4
5
6

No
A
1

dengan asam asetat 3%


Alkohol 70%
kapas
Hand counter

secukupnya
secukupnya
Secukupnya

Prosedur Kerja Penentuan Jumlah Leukosit


Prosedur Kerja
Penentuan Jumlah Leukosit
Mencari terlebih dahulu pembuluh darah arteria branchialis pada Rattus
sp dan keluarkan darahnya kurang lebih 1,0 atau mengeluarkan darah
melalui intra cardiac lalu meletakan darah dalam botol penampung (yang

sudah diberikan EDTA)


Menghisap darah sampai angka menunjukan 1,0 pada mikropipet dan

ujungnya di bersihkan dengan kertas hisap


Menghisap larutan turk (yang dituangkan terlebih dahulu kedalam

tabung ) sampai menunjukan angka 11


Melepaskan pipet karet dari mikropipet, tutuplah kedua ujung

mikropipet dengan jari dan cokoklah selama 2 menit


Membuang 2-3 tetes cairan pada ujung mikropipet, selanjutnya letakan
ujung mikropipet ke Improved Neubauer dan tuangkan cairan darah
yang

ada.

Meletakan

dibawah

permukaan

mikroskop

(dengan

pembesaran lemah, carilah bilik hitung Improved Neubauer, kemudian


dengan pembesaran kuat) dan menghitung semua jumlah leukosit yang
6

terdapat di dalam bujur sangkar pojok.


Jumlah bujur sangkar yang dihitung sebanyak 4 x 16 = 64 dengan setiap

sisinya mm
Cara penghitungan (diamati pada pembesaran mikroskop 10 x 10) :

Jumlah bujur sangkar yang dihitung

= 64 kali

Volume setiap bujur sangkar


Darah yang diencerkan

Jumlah leukosit yang terhitung


B
1

= 1/ 160 mm kubik
= 10 kali
=L

Maka jumlah leukosit per mm kubik


= L/64 x 160 x 10
Penentuan Jumlah Eritrosit
Menghitung jumlah eritrosit, pada prinsipnya sama seperti perhitungan
jumlah leukosit. Hanya terdapat perbedaan sebagi berikut:

Pengenceran darah 100 kali


Cairan pengencernya larutan havem
Eritrosit yang dihitung adalah sell yang terdapat di dalam bujur
sangkar kecil (sebanyak 80 kotak) dengan sisi 1/20 mm atau

volume setiap bujur sangkar 1/4000 mm kubik.


Cara penghitungan (diamati pada pembesaran mikroskop 10 x 40)

Jumlah bujur sangkar yang dihitung


= 80 kali
Volume setiap bujur sangkar
= 1/4000 mm kubik
Darah yang diencerkan
= 100 kali
Jumlah eritrosit yang terhitung
=E
Maka jumlah eritrosit per mm kubik
= E/80 x 4000 x 100
Membandingkan jumlah leukosit dan eritrosit antara manusia dan hewan

yg diuji
Menghitung sel leukosit sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan
semula. Misalnya sel yang terletak pada garis batas sebelah kid dan atas
dad setiap bujur sangkar masih ikut dihitung, tetapi sel yang terletak

digaris batas sebelah kanan dan bawah tidak dihitung


Mengusahakan untuk menghitung sel darah dengan memakai alat

penghitung / hand counter agar data yang didapat tidak bersalahan.


Menghitung bilik Immproved Neubauer, membentuk bujur sangkar
dengan sisi 3 mm. Bilik ini terbagi menjadi 9 bujur sangkar kecil dengan
sisi masing-masing 1 mm. Bujur sangkar yang ditengah dibagi lagi
menjadi 25 kotak dengan sisi 115 mm. Sedangkan yang dipojok dibagi
lagi menjadi 16 kotak dengan setiap sisi mm.
3.3 Gambar prosedur kerja

Gambar : proses pemotongan tikus dan penampungan darah


Sumber : gambar pribadi pemaklah

Gambar : darah yang sudah di tampung


Sumber : gambar pribadi pemakalah

Gambar : proses pengisapan darah pada mikropet

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Mengukur kadar haemoglobin pada tikus jantan
a. hasil pengamatan
tabel 1 : kadar haemoglobin pada tikus jantan
No

Jenis pengamatan

Hasil pengamatan

1.

6,2 Hb gr /dl

2.

II

11 Hb gr /dl

3.

III

12 Hb gr /dl

Rata-rata

9,7Hb gr /dl
Berdasarkan data praktikum kali ini didapatkan bahwa kadar

hemoglobin mencit yang di dapatkan yaitu pada pengamatan I di peroleh


data hemoglobin 6,2 gr/dl, sedangkan pada pengamatn II di peroleh 11 Hb
gr/dl dan pada pengamatan III di peroleh Hb dengan jumlah 12 Hb gr/ dl.
Sengingga di peroleh rata-rata nya sebesaar 9,7 Hb gr/ dl.
Kadar hemoglobin normal pada tikus berkisar antara 10-14 g/ml.
Dari data yang kami peroleh bahwasanya pada percobaan ke II dan III
hasih yang di peroleh masih normal yaitu 11 Hb gr /dl dan 12 Hb gr /dl
namun pada percobaan ke I hasil yang diperoleh di bawah 10 Hb gr/ dl itu
artinya Hb nya tidak normal namun secara keseluruhan kadar HBb dari
tukus kami adalah mendekati normal yaitu 9,7 Hb gr /dl
Hemoglobin merupakan protein yang terdiri dari protoporfirin,
globin dan besi yang bervalensi 2 (ferro). Satu gram hemoglobin dapat
mengikat sekitar 1,34 ml oksigen. Kadar hemoglobin yang rendah
dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai rendahnya kandungan
protein pakan, defisiensi vitamin atau hewan terkena infeksi.
Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa hewan sedang berada
dalam kondisi stres.
b. Grafik perbandingan jumlah haemoglobin tikus jantan

10

kadar Hb
14
12
10
8
6
4
2
0

kadar Hb

Dari grafik di atas dapat dilihat dari pengamatan sau sampai dengan
dengan tiga kadar haemoglobin mengalami peningkatan yaitu 6,2 Hb gr /dl, 11 Hb
gr /dl dan 12 Hb gr /dl.
c. Faktor-faktoryang mempengaruhi kadar haemoglobin
Berdasarkan pendapat Coles (1974) bahwa kadar hemoglobin dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah

umur, spesies, jenis kelamin, serta

kualitas dan kuantitas pakan. Semakin berkualitas pakan yang diberikan, nutrisi
yang dapat digunakan pun tercukupi sehingga darah mengandung kadar
hemoglobin standard. Demikian pula dengan pemenuhan pakan secara kuantitas
dan dapat diartikan pula kontinuitas pemberian pakan, akan nutrisi sehingga kadar
hemoglobin juga akan stabil.
d. Gambar hasil pengamatan

Gambar : pengujian Hb
Sumber : gambar pribadi pemakalah

11

4.2 Penentuan jumlah hematokrit pada tikus betina


a. Tabel hasil pengamatan hematokrit tikus betina
No

Jenis

Hasil pengamatan

pengamatan

Plasma darah (cm)

Eritrosit (cm)

1.

Ke 1

1,8

2.

Ke 2

3,1

3.

Ke 3

2,6

2,7

4.

Ke 4

2,6

2,7

Pembahasan tabel :
Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa pada pengamatan ke satu
plasma darah nya sebesar 1,8 cm sedangkan eritrositnya sebesar 3 cm. Berikutnya
pada pengamatan ke disapatkan jumlah plasma darah lebih tinggi dari pengamatan
sebelumnya yaitu 2 cm sedangkan eritrositnya 3,1 dan pada pengamatan ke 3 dan
ke 4 di peroleh hasil yang sama yaitu plasma darahnya 2,6 cm dan eritrositnya
2,7.
Dari data dan penjelasan di atas dapat di hasilkan grafik berikut ini
1. Grafik perbandingan plasma darah dan eritrosit dalam cm

grafik perbandingan plasma darah dan eritrosit

jumlaj dalam cm

3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0

plasma darah
eritrosit

percobaan

Dari grafik di atas dapat kita lihat bahwa jumlah erittrosit selalu lebuh
banyak dari plasmadarah.
b. Perhitungan % hematokrit

12

Gambar : rumus mencari % hematokrit


Sumber : yayanakhyar.wordpress.com
1. Pengamatan 1
h1/h2 x100 % = 1,8/4,8x100 % = 37,5 %
2. Pengamatan 2
h1/h2 x100 % =2/5,1 x100 % =39,2 %
3. Pengamatan 3
h1/h2 x100 %=2,6/5,3x100%=49,02 %
4. Pengamatan 4
h1/h2 x100 %=2,6/5,3x100%=49,02 %
Nilai hematokrit standar adalah laki-laki adalah 42% dan pada wanita 38
%., namun nilai ini dapat berbeda-beda tergantung species. Nilai hematokrit
biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total
(Frandson, 1992).
Pembahasan
Pengamatan 1
Dari perhitungan di atas di dapatkan nilai hematokritnya adalah 37,5 % itu
artinya nilai hematokritnya belum normal karena nilai hematokrit standart
adalah 38% sesuai dengan penyataan frandson
Pengamatan 2
Dari perhitungan di atas di dapatkan nilai hematokritnya adalah 39,2% itu
artinya nilai hematokritnya sudah normal karena nilai hematokrit standart
adalah 38% sesuai dengan penyataan frandson.
Pengamatan 3
Dari perhitungan di atas di dapatkan nilai hematokritnya adalah 49,02%
itu artinya nilai hematokritnya sudah

normal karena nilai hematokrit

standart adalah 38% sesuai dengan penyataan frandson.


Pengamatan 4

13

Dari perhitungan di atas di dapatkan nilai hematokritnya adalah 49,02%


itu artinya nilai hematokritnya sudah

normal karena nilai hematokrit

standart adalah 38% sesuai dengan penyataan frandson.


Dari data dan penjelasan di atas dapat di peroleh grafik berikut ini
2. Grafik perbandingan % hematokrit

perbandingan % hematokrit
5
4.5
4
3.5
3
2.5
nilai % hematokrit
2
1.5
1
0.5
0

4.5

ke 1

ke 2

ke 3

ke 4

Rendahnya nilai hematokrit yang didapatkan bisa juga disebabkan oleh


lokasi pengambilan sampel darah. Pada praktikum kali ini darah langsung diambil
dari daerah leher , bisa jadi karena tusukan yang kurang tajam sehingga yang
banyak terbawa adalah bagian plasma darah yang komponennya sebagain besar
terdiri atas air.
c. Gambar hasil pengamatan

Gambar : hasil dari plasma darah dan eritrosit

14

Sumber : gambar pribadi pemakalah

Gambar : pembagian Mikrokapiler dengan darah yang telah dipusing


Sumber : https://yayanakhyar.wordpress.com
d. Faktor faktor yang mempengaruhi jumlah hematokrit
Faktor faktor yang mempenga ruhi nilai hematokrit adalah jenis
kelamin, spesies, jumlah sel drah merah dimana jumlah sel darah merah pada pria
lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita, apabila jumlah sel darah merah
meningkat atau banyak maka jumlah nilai hematokrit juga akan mengalami
peningkatan, aktivitas dan keadaan pagositosia. Hal ini sesuai dengan pendapat
Frandson (1999), bahwa ketinggian tempat juga mempengaruhi nilai hematokrit,
karena pada tempat yang tinggi seperti pegunungan kadar oksigen dalam udara
berkurang sehingga oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang, oleh
karena itu supaya terjadi keseimbangan maka sumsum tulang belakang
memproduksi sel-sel darah merah dalam jumlah yang banyak.
4.3 Penentuan berat organ dalam tikus
a. Tabel hasil pengamatan berat organ tikus betina
No

Jenis organ
Berat organ (gram )
1.
Jantung
0,5
2.
Paru-paru
0,9
3.
ginjal
1,1
4.
Hati
6,7
5.
Berat badan
160
Penjelasan tebel:
Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa berat jantung dari tikus betina
adalah 0.5 gr sedangkan berat paru-paru nya seberat 0,9 gr sedangkan berat ginjal
1,1 gr untuk kedua ginjalnya. Berat hati nya adalah 6,7 gr dan berat badannya 160

15

gr. Sehingg dapat di simpulka dari ke 4 organ dalm tikus putih yang paling berat
adalah hatinya.
Jantung
Jantung terletak dalam rongga dada agak sebelah kiri, di antara paru-paru
kanan dan paru-paru kiri. Besarnya sebesar kepalan tangan.Jantung hampir
sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, namun tertutup oleh selaput ganda yang
bernama perikardium, yang tertempel pada diafragma. Jantung tikus beratnya 0,5
gram sehingga 0,5/160X100%=0,3 % dari berat tikus tersebut
Fungsi jantung
Fungsi utama jantung adalah menyediakan oksigen ke seluruh tubuh dan
membersihkan

tubuh

dari

hasil

metabolisme

(karbondioksida).

Jantung

melaksanakan fungsi tersebut dengan mengumpulkan darah yang kekurangan


oksigen dari seluruh tubuh dan memompanya ke dalam paru-paru, dimana darah
akan mengambil oksigen dan membuang karbondioksida; jantung kemudian
mengumpulkan darah yang kaya oksigen dari paru-paru dan memompanya ke
jaringan di seluruh tubuh.
Gambar hasil pengamatan

Gambar : jantung tikus betina


Sumber : gambar pribadi pemakalah
Paru paru
Paru paru pada tikus tang kami amati memiliki berat 0,9 gr, sehingga
0,9/160x 100 % = 0,5 % dari berat tubuhnya. paru-paru kanan sedikit lebih besar
dari paru-paru kiri dan terdiri atas tiga gelambir (lobus) yaitu gelambir atas (lobus
superior), gelambir tengah (lobus medius), dan gelambir bawah (lobus inferior).
Sedangkan paru-paru kiri terdiri atas dua gelambir yaitu gelambir atas (lobus
superior) dan gelambir bawah (lobus inferior).
16

Fungsi paru-paru
a. Respirasi. Manusia menghirup udara karena memerlukan oksigen. Oksigen
sangat dibutuhkan untuk membantu perombakan bahan makanan dalam
tubuh. Jadi, paru-paru tentu saja merupakan bagian dari sistem pernapasan
pada manusia.
b. Ekskresi. Saat manusia menghembuskan napas, manusia mengeluarkan gas
karbondioksida dan uap air. Jadi, paru-paru merupakan bagian dari sistem
ekskresi pada manusia.
c. Mengendalikan pH darah dengan cara mengubah tekanan karbon dioksida.
d. Menyaring gumpalan darah yang terbentuk dalam vena.
e. Mempengaruhi konsentrasi beberapa zat biologis dan obat-obatan yang
digunakan dalam pengobatan dalam darah.
f. mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II oleh enzim angiotensinconverting.
g. Dapat berfungsi sebagai lapisan pelindung hati dari guncangan.
h. Menyediakan aliran udara untuk menciptakan suara vokal.
i. Paru-paru berfungsi sebagai reservoir darah dalam tubuh. Volume darah paruparu adalah rata-rata sekitar 450 mililiter, sekitar 9 persen darah total volume
seluruh sistem peredaran darah. Kuantitas ini dapat dengan mudah
berfluktuasi antara setengah dan dua kali volume normal. Kehilangan darah
dari sirkulasi sistemik oleh perdarahan dapat sebagian dikompensasi oleh
darah dari paru-paru ke dalam pembuluh sistemik
j. Aksi siliaris eskalator adalah sistem pertahanan yang penting terhadap infeksi
ditanggung udara. Partikel debu dan bakteri di udara yang dihirup
terperangkap dalam lapisan lendir hadir pada permukaan mukosa saluran
pernapasan dan naik menuju faring oleh berirama ke atas pemukulan Silia.
Gambar hasil pengamatan paru-paru

17

Gambar : paru-paru tikus


Sumber : gambar pribadi pemakalah
Ginjal
Ginjal pada tikus berjumlah sepasang tang memiliki berat 1,1 gram untuk
keduanya. dengan berat sekitar 120-170 gram pada manusia atau kurang lebih
0,4% dari berat badan. Ginjal memiliki bentuk seperti kacang dengan lekukan
yang menghadap ke dalam. Sehingga dapat di hitung 1,1/160x100% = 0,6 % dari
berat badan tikus.
Fungsi ginjal
1. Menyaring Darah
2. Mempertahankan keseimbangan Kadar Asam dan Basa
3. Mengekskresikan zat-zat yang merugikan bagi tubuh
4. Memproses Ulang Zat
5. Mengatur Volume Cairan dalam Darah
6. Mengatur Keseimbangan Kandungan Kimia dalam Darah
7. Mengendalikan Kadar Gula dalam Darah
8. Penghasil Zat dan Hormon
9. Menjaga Tekanan Osmosis
10. menjaga Darah
gambar hasil pengamatan

18

Gambar : sepasang ginjal


Sumeber : gambar pribadi pemakalah

Hati
Hati merupakan organ terbesar dan terberat dalam tubuh. Beratnya
mencapai 3 pound atau sekitar 1,3 kg pada manusia. kira-kira 10% dari berat
badan. Jadi berdasarkan data di atas memang benar bahwa hati pada tikus putih
betina memang yang paling berat yaitu 6,7 gr.

Sehingga dapat di hitung

6,7/160x100%=4,1 % dari berat badan tikus


Fungsi hati
a) Menghilangkan Racun darah untuk membersihkannya dari zat berbahaya
seperti alkohol dan obat-obatan
b) Penyimpanan beberapa vitamin dan zat besi
c) Menyimpan glukosa gula sederhana
d) Mengubah gula yang tersimpan untuk digunakan saat gula gula tubuh
e)
f)
g)
h)

(glukosa) tingkat jatuh di bawah normal.


Memecah hemoglobin serta insulin dan hormon lainnya
Mengkonversi amonia menjadi urea, yang penting dalam metabolisme
Menghancurkan sel-sel darah merah tua
Menghasilkan cairan empedu

Gambar hasil pengamatan

19

Gambar : hati tikus putih betina


Sumber : gambar pribadi pemakalah

Jumlah leukosit pada mencit yang didapatkan yaitu 4.125 sel/mm3 , hal
tersebut sesuai dengan pernyataan Villee (1988) yang menyatakan jumlah leukosit pada
mencit adalah 4-11 ribu sel/mm3. Jumlah eritrosit yang didapatkan yaitu 6.410.000
sel/mm3

hal tersebut sesuai dengan pernyataan Hoffbrand (1987) yang

menyatakan bahwa standar kadar eritrosit pada mamalia 3,9-6,5 juta sel/mm 3
Barat badan tikus
Dari data yang di hasilkan bahwa berat badan tikus disini adaah 160 gram.
Tikus peliharaan berbeda dari tikus-tikus liar dalam banyak cara. Mereka lebih
tenang dan cenderung tidak menggigit, mereka dapat mentolerir untuk berkumpul
dalam jumlah yang lebih besar, mereka berkembang biak lebih awal dan
memproduksi lebih banyak keturunan, dan otak mereka, hati, ginjal, kelenjar
adrenal, dan hati yang lebih kecil.

20

Gambar : tikus
Sumber : www.kaskus.co.id
Sehingga dari data dan penjelasan di atas dabat di buat grafik seperti
berikut ini:

perbandingan berat organ


5
4
3
2
1
bearat 0

berat

Dari grafik ini kita dapat melihat berat yang paling berat adalah hati
kemudian, ginjal, paru-paru dan yang paling ringan adalah jantung.
4.4 penentuan leukosit dan eritrosit

Gambar : bilik hitung improved neubauer


Sumber : kebaklab.blogspot.com
a. Eritrosit
Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi
membawa oksigen ke

jaringan-

aringan tubuh lewat darah. Bagian dalam

eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen.

21

Hemoglobin akan mengabil oksigen dari paru-paru, dan oksigen akan dilepaskan
saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Warna merah sel darah merah sendiri
berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi. Jumlah
erittrosit dapat di hitung dengan rumus E/ 80x 4000 x 100 sehingga 632 /
80x4000x100 = 3.160.000
b. Leukosit
Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah
putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel
per tetes.Dalam setiap milimeter kubik darah terdapat 6000 sampai 10000(ratarata 8000) sel darah putih. Dalam kasus leukemia, jumlahnya dapat meningkat
hingga 50000 sel per tetes. Sehingga dapat di hitung dengan rumus L/64x160x10
sedhingga 272/64x160x10=6800

BAB V
PENUTUP
5.1 kesimpulan
Dari praktikum yang kami lakukan dapat di simpulkan bahwa:
Kadar hemoglobin normal pada tikus berkisar antara 10-14 g/ml. Dari data
yang kami peroleh bahwasanya pada percobaan ke II dan III hasih yang di
peroleh masih normal yaitu 11 Hb gr /dl dan 12 Hb gr /dl namun pada
percobaan ke I hasil yang diperoleh di bawah 10 Hb gr/ dl itu artinya Hb nya

22

tidak normal namun secara keseluruhan kadar HBb dari tukus kami adalah

mendekati normal yaitu 9,7 Hb gr /dl


Kadar hemoglobin yang rendah dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai
rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau hewan terkena
infeksi. Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa hewan sedang berada

dalam kondisi stres.


Dari perhitungan di atas di dapatkan nilai hematokritnya adalah 37,5 % itu
artinya nilai hematokritnya belum normal karena nilai hematokrit standart
adalah 38% sesuai dengan penyataan frandson namaun pada pengaatan 2,3,

dan 4 di hasilkan hasil yang normal.


Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa berat jantung dari tikus betina adalah
0.5 gr sedangkan berat paru-paru nya seberat 0,9 gr sedangkan berat ginjal 1,1
gr untuk kedua ginjalnya. Berat hati nya adalah 6,7 gr dan berat badannya 160
gr. Sehingg dapat di simpulka dari ke 4 organ dalm tikus putih yang paling

berat adalah hatinya.


Jumlah erittrosit dapat di hitung dengan rumus E/ 80x 4000 x 100 sehingga
632 /80x4000x100 = 3.160.000 rumus leukosit Sehingga dapat di hitung
dengan rumus L/64x160x10 sedhingga 272/64x160x10=6800
5.2 Saran
Dari praktikum yang kami lakukan saran yang ingin kami berikan
adalah seharusnya waktu praktikum di tambah lagi sehingga hasil yang di
dapatkan, belum lagi alat yang terbatas dan ada juga yang rusak. Sehingga
hanya sebagian kelompok yang bekerja.
DAFTAR PUSTAKA

Alamanda, et., al. 2006. Metode Hematologi dan Endoparasit Darah untuk
Penetapan Kesehatan Ikan Lele Dumbo Clarias gariepinus di Kolam
Budidaya

Desa

Mangkubumen

Boyolali.Biodiversitas

(1)

34-

38.Bevelander, G dan Judith A. Ramaley. 1988. Dasar-dasar Histologi.


Erlangga. Jakarta.
Dukes, H. H. 1995.The Phisiology of Domestic Animals.Constock Publishing
Associates, New York.
Guyton, A. C. 1976. Text Book of Medical Physiology. W. B. Saunders Company
Philadelphia, London.

23

Hugo et al,. 2005. Analysis of blood coagulation in mice: pre-analytical


conditions and evaluation of a home-made assay for thrombinantithrombin complexes. Thrombosis Journal 2005, 3:12.
Hariyadi, B. 2000. Beberapa gambaran darah dan Tekanan Osmotik Internal Ikan
Nila (Oreochromis sp. ) yang Didedahkan dalam Medium dengan Salinitas
Berbeda. Fakultas Biologi, Unsoed, Purwokerto.
Hoffbrand, A. V dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit EGC, Jakarta.
Kay, I. 1998. Animal Physiology. Bios Scientific Publisher, USA.
Kimball, J. W. 1992. Biologi Jilid II.Erlangga , Jakarta.
Lagler K. F., J. E. Bardach, R. R. Miller and D. R. Passino.1977 Ichtiology
Second Edition. Jhon Willey and Sons, New York.
Moyle, P. B and J. J. Cech. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th.
Prentice, Inc. London.
Sihombing, Marice, Sulistyowati Tuminah. 2011. Perubahan Nilai Hematologi,
Biokimia Darah, Bobot Organ, dan Bobot Badan Tikus Putih pada Umur
Berbeda. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
Soetrisno, G. P. 1987. Diktat Fisiologi Hewan. Purwokerto: Fakultas Peternakan
Universitas Jenderal Soedirman.
Ville, C A, Walker, W. F., Jr, and Barnes, R. D. 1988. Zoologi Umum. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Yuwono, E. 2001. Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi Unsoed, Purwokerto.

24