Anda di halaman 1dari 7

1

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

1. Wabah
1.1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN
1984 TENTANG WABAH PENYAKIT MENULAR
Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 (a) :
Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian
berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang
lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka.
1.2 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN
1962 TENTANG KARANTINA LAUT
1) Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1 a
Penyakit karantina ialah:
(1) Pes (Plague);
(2) Kolera (Cholera);
(3) Demam kuning (Yellow fever);
(4) Cacar (Smallpox);
(5) Tifus bercak wabahi - Typhus exanthematicus infectiosa (Louse
borne Typhus);
(6) Demam balik-balik (Louse borne Relapsing fever);
2) Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1 g
Wabah : ialah penjalaran atau penambahan banyaknya peristiwa
penyakit karantina.
1.3 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN
1962 TANTANG KARANTINA UDARA
(Isinya sama dengan UU RI NOMOR 1 TAHUN 1962 TENTANG
KARANTINA LAUT)
1.4 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1501/MENKES/PER/X/2010 TENTANG JENIS PENYAKIT
MENULAR TERTENTU YANG DAPAT MENIMBULKAN WABAH
DAN UPAYA PENANGGULANGAN
1) Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1 Ayat 1

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut Wabah, adalah


kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat
yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari
pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta
dapat menimbulkan malapetaka.
2) Bab II Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan
Wabah Bagian Kedua Umum
Pasal 3
Penetapan jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat
menimbulkan wabah didasarkan pada pertimbangan epidemiologis,
sosial budaya, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan
teknologi, dan menyebabkan dampak malapetaka di masyarakat.
Pasal 4 ayat (1)
Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan
wabah adalah sebagai berikut:
a. Kolera
b. Pes
c. Demam Berdarah Dengue
d. Campak
e. Polio
f. Difteri
g. Pertusis
h. Rabies
i. Malaria
j. Avian Influenza H5N1
k. Antraks
l. Leptospirosis
m. Hepatitis
n. Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009
o. Meningitis
p. Yellow Fever
q. Chikungunya
2. KLB (Kejadian Luar Biasa)
2.1 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR

949/MENKES/SK/VIII/2004

TENTANG

PEDOMAN

PENYELENGGARAAN SISTEM KEWASPADAAN DINI KEJADIAN


LUAR BIASA (KLB)

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian


kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu
Penyakit berpotensi KLB adalah jenis penyakit yang dapat menimbulkan
KLB. Jenis-jenis penyakit penyebab terjadinya KLB ditetapkan dengan
Peraturan Menteri Kesehatan, yang secara operasional bergantung pada
kajian epidemiologi yang dilakukan secara nasional, propinsi atau
kabupaten/kota menurut waktu dan daerah.
2.2 PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1501/MENKES/PER/X/2010 TENTANG JENIS PENYAKIT
MENULAR TERTENTU YANG DAPAT MENIMBULKAN WABAH
DAN UPAYA PENANGGULANGAN
Bab 1 Pasal 1 Ayat 2
Kejadian Luar Biasa yang selanjutnya disingkat KLB, adalah timbulnya
atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna
secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan
merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah.
Pasal 4 Ayat (1)
Jenis-jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah
adalah sebagai berikut:
a. Kolera
b. Pes
c. Demam Berdarah Dengue
d. Campak
e. Polio
f. Difteri
g. Pertusis
h. Rabies
i. Malaria
j. Avian Influenza H5N1
k. Antraks
l. Leptospirosis
m. Hepatitis
n. Influenza A baru (H1N1)/Pandemi 2009
o. Meningitis
p. Yellow Fever
q. Chikungunya

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

3. Undang-Undang Yang Terkait Dengan Kejadian Keracunan Makanan


Yang Diberikan Oleh Pihak Tertentu
3.1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN
1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
Pasal 1 Ayat 1
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepala konsumen.
Pasal 1 Ayat 2
Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia
dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain,
maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Penanggulangan agar makanan yang aman tersedia secara memadai,
perlu diwujudkan suatu sistem makanan yang mampu memberikan
perlindungan kepada masyarakat yang mengonsumsi makanan tersebut
sehingga makanan yang diedarkan tidak menimbulkan kerugian serta aman
bagi kesehatan.
Keadaan yang menimbulkan kerugian tersebut sering kali menyudutkan
konsumen tersebut, mengakibatkan timbulnya sengketa atau permasalahan
antara konsumen dan pelaku usaha, untuk melakukan penyelesaian sengketa
tersebut dapat dilakukan salah satunya dengan Penyelesaian Sengketa di
Peradilan Umum.
Penyelesaian Sengketa di Peradilan Umum
Sengketa konsumen disini dibatasi pada sengketa perdata, masuknya
suatu perkara ke pengadilan harus melalui beberapa prosedur yang didahului
dengan pendaftaran surat gugatan di kepaniteraan perkara perdata di
pengadilan negeri.
3.2 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN
1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN Pasal 45, menyatakan :
(1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui
lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku
usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.
(2) Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau
diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat


(2) tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagaimana diatur dalam
Undang-undang.
(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya
tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak
yang bersengketa.
Konsumen yang dirugikan haknya tidak hanya diwakilkan oleh jaksa dalam
penuntutan peradilan umum untuk kasus pidana, tetapi konsumen dapat juga
menggugat pihak lain dilingkungan peradilan tata usaha Negara jika terdapat
sengketa administrasi didalamnya. Hal ini dapat terjadi jika dalam kaitannya
dengan kebijakan pemerintah yang ternyata dipandang merugikan konsumen
secara individual.
4. Terapi Menghilangkan Logam Berat Pada Autisme
Anak-anak yang mengalami autisme memiliki tingkat logam beracun
yang lebih tinggi dalam tubuh mereka dibandingkan dengan anak-anak pada
umumnya, sebuah penelitian baru mengungkapkan. Pengurangan paparan
logam beracun sedini mungkin dapat mengurangi gejala autisme.
Para peneliti dari Arizona State University yang melakukan penelitian ini
mengatakan jika temuan mereka mengindikasikan bahwa pengurangan
paparan logam beracun sedini mungkin akan memberikan peluang yang besar
untuk mengurangi gejala autisme. Namun mereka memperingatkan bahwa
hubungan potensial tersebut perlu dikaji lebih rinci. Penelitian ini
dipublikasikan dalam jurnal Biological Trace Element Research.
Kami berhipotesis bahwa mengurangi paparan logam beracun sedini
mungkin dapat membantu memperbaiki gejala autisme, ujar para peneliti,
dan pengobatan untuk menghilangkan logam beracun mungkin dapat
mengurangi gejala autisme. Hipotesis ini perlu eksplorasi lebih lanjut, karena
ada penelitian mengenai pertumbuhan tubuh untuk mendukungnya. Berikut
ini beberapa terapi pengeluaran logam berat pada autisme:
1) EDTA

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam
amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion
logam berat (termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya,
untuk kemudian dibuang melalui urine. Terapi khelasi EDTA meningkatkan
taraf kesehatan dengan mengurangi beban penumpukkan kalsium yang
abnormal dan logam logam lainnya serta meningkatkan manfaat mineralmineral lainnya seperti magnesium dan kalium (potasium). Hal ini terjadi
dengan masuknya zat- zat berguna kejaringan tubuh serta perbaikan suplai
oksigen.
2) DMSA
DMSA merupakan khelator yang efektif dan aman digunakan dalam
penanganan keracunan logam berat seperti timbal, arsen dan merkuri. DMSA
adalah yang paling sering digunakan untuk methylmercury keracunan parah,
seperti yang diberikan secara oral, memiliki efek samping yang lebih sedikit.
Dimercaptosuccinic acid (DMSA) oral/minum telah disetujui FDA untuk
pengobatan keracunan logam berat pada anak-anak. DMSA dalam bentuk
suppository (dimasukkan lewat anus) kelihatannya juga meningkatkan laju
pembuangan logam-logam beracun.
Terapi DMSA terbukti cukup efektif mengurangi paparan logam beracun
pada anak autis. Pemimpin penelitian, James Adams, direktur program
Penelitian Autisme/Asperger, sebelumnya telah menemukan bahwa penerapan
terapi DMSA (Dimercaptosuccinic Acid), sebuah jenis pengobatan/terapi
khusus untuk menghilangkan logam beracun yang telah disetujui oleh
pemerintah

Amerika

Serikat,

diketahui

cukup

ampuh

membantu

menghilangkan logam beracun dalam tubuh. Sejauh ini, pengobatan tersebut


dinilai aman dan efektif untuk menghilangkan beberapa logam beracun. Selain
itu, terapi DMSA dapat memperbaiki kondisi dari gejala-gejala autisme,
khususnya di kalangan anak-anak yang tingkat logam beracun dalam urinnya
paling tinggi.
Untuk keamanannya, DMSA hanya sedikit saja mempengaruhi
pembuangan sebagian besar mineral yang penting, sehingga supplement
mineral saja sudah cukup untuk mengatasi efek buruk ini. Satu-satunya

Tugas Surveilans | Teresina Ika Pertiwi | 101511123039 | AJ-1A 2015

pengecualian adalah bahwa dosis pertama DMSA membuat tubuh membuang


potassium dalam jumlah yang berarti (setara kandungan potassium di sebuah
pisang), padahal tidak potassium biasanya tidak terkandung dalam supplement
mineral di pasaran. Satu atau dua sajian buah atau sayuran segar saja sudah
cukup untuk mengembalikan kadar potassium dalam tubuh. DMSA juga
sedikit menaikkan pembuangan cysteine, sehingga cysteine tambahan harus
diberikan sebelum dan/atau sepanjang terapi. Ada sedikit kemungkinan
DMSA dapat meningkatkan enzym-enzym hati atau menurunkan jumlah selsel darah, sehingga keduanya harus dimonitor selama proses terapi.
Kelemahan DMSA menurut Toxicology and Applied Pharmacology, bahwa
DMSA dapat mengkelat (mengikat) logam berat, namun DMSA sulit masuk
hingga ke sel-sel otak.

Artikel Kesehatan 99. 2013. Artikel Logam Beracun Dalam Tubuh Berhubungan
Dengan Autisme. http://www.artikelkesehatan99.com/logam-beracun-dalamtubuh-berhubungan-dengan-autisme/. Diakses Tanggal 01 Desember 2015
Pukul 00.10 WIB.
Kusuma, B. 2009. Merkuri, Bahaya dan Penanganannya. www. sarikata.com.