Anda di halaman 1dari 70

Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang

mengarahkan orientasi seksualnya kepada


sesama perempuan. Istilah ini juga merujuk
kepada perempuan yang mencintai perempuan
baik secara fisik, seksual, emosional, atau secara
spiritual.[1] Istilah ini dapat digunakan sebagai
kata benda jika merujuk pada perempuan yang
menyukai sesama jenis, atau sebagai kata sifat
apabila bermakna ciri objek atau aktivitas yang
terkait dengan hubungan sesama jenis
antarperempuan.[2

Pengertian lesbian adalah perempuan yang secara


psikologis, emosi dan seksual tertarik kepada
perempuan lain. Seorang lesbian tidak memiliki hasrat
terhadap gender yang berbeda/ laki-laki, akan tetapi
seorang lesbian hanya tertarik kepada gender yang
sama/perempuan. Mereka berpendapat bahwa istilah
lesbian menyatakan komponen emosional dalam suatu
relationship, sedangkan istilah homoseksual lebih fokus
kepada seksualitas. Lesbian adalah istilah bagi
perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya
kepada sesama perempuan atau disebut juga
perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik,
seksual, emosional atau secara spiritual (Matlin, 2004).
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang
mengarahkan orientasi seksualnya kepada sesama
perempuan atau disebut juga perempuan yang
mencintai perempuan baik secara fisik, seksual,
emosional atau secara spiritual

(http://id.wikipedia.org/wiki/lesbian), diunduh pada


tanggal 23 Desember 2009.
Kata Lesbian berasal dari seorang penduduk
pulau Lesbos, di Yunani yaitu Sappho. Sappho adalah
seorang penyair yang menghasilkan puisi liris. Puisi liris
sudah berkembang dari abad VI SM yang sebagian
diantaranya masih ada hingga kini. Puisi Sappho
berisikan tentang cinta lesbian. Pada masa itu,
percintaan homoseksual dipahami sebagai hal yang
lebih tinggi dibandingkan percintaan heteroseksual
(Spencer, 2004).
Gay atau lesbian memiliki minat erotis pada
anggota gender mereka sendiri, tetapi identitas gender
mereka (perasaan menjadi pria atau wanita) konsisten
dengan anatomi seks mereka sendiri. Mereka tidak
memiliki hasrat untuk menjadi anggota gender yang
berlawanan atau merasa jijik pada alat genital mereka,
seperti yang dapat kita temukan pada orang-orang
dengan gangguan identitas gender. Jadi, lesbian itu
bukan merupakan ganggua
Pengertian Lesbian
Lesbianisme adalah ketertarikan seksual antara wanita dan
wanita, alias homoseksual pada wanita. Penyebabnya sampai
saat ini belum diketahui dengan pasti. Diduga karena factor
gen (5-10%), factor biologis, dan factor lingkungan (70%)
Seseorang dapat terangsang karena secara visual, melalui
mata, atau auditory, telinga, otak, mendapatkan rangsanganrangsangan. Missal tubuh yang seksi, suara-suara yang
mendesah, dan lain-lain. Untuk mengatasi hal itu, coba kamu
berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Di samping itu,
coba hindari sumber timbulnya rangsangan tersebut. Misalnya
nonton film porno.

Pengertian Lesbian
Lesbianisme adalah ketertarikan seksual antara wanita dan
wanita, alias homoseksual pada wanita. Penyebabnya sampai
saat ini belum diketahui dengan pasti. Diduga karena factor
gen (5-10%), factor biologis, dan factor lingkungan (70%)
Seseorang dapat terangsang karena secara visual, melalui
mata, atau auditory, telinga, otak, mendapatkan rangsanganrangsangan. Missal tubuh yang seksi, suara-suara yang
mendesah, dan lain-lain. Untuk mengatasi hal itu, coba kamu
berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Di samping itu,
coba hindari sumber timbulnya rangsangan tersebut. Misalnya
nonton film porno.
Sumber: http://id.shvoong.com/lifestyle/dating/2031321pengertian-lesbian/#ixzz34t0pcdPM

5
antara wanita dengan wanita. Seperti halnya dalam hukum
agama punhubungan antar wanita ini sangat ditentang dan ada
juga yangmengatakan najis sehingga banyak para lesbian
yang memiliki konsepdiri yang buruk seperti lebih mudah
putus asa dan tidak percaya diri.Tekanan dari berbagai pihak
bagi lesbian menimbulkan dinamikatertentu pada seorang
lesbian. Serangkaian pengalaman negatif inimenyebabkan
konsep diri yang negatif pula. Konsep diri yang
negatif menyebabkan seorang individu tidak percaya diri,
harga diri rendah,tidak dapat menerima dirinya sendiri dan
sulit menyesuaikan diriPadahal, setiap individu pada dasarnya
memerlukan konsep diri yangpositif. Konsep diri yang positif
membuat individu lebih percaya diri,terbuka terhadap

pengalaman dan hal-hal positif lainnya.Walaupun banyak


ditentang oleh masyarakat dan mungkinkeluarga tetapi
fenomena ini semakin merajalela. Para kaum lesbiansemakin
berani menampilkan perilakunya ini dan tidak hanya itu
saja,mereka juga banyak yang sudah hidup bersama dalam
satu atap. Semuapenolakan ini sebenarnya hanya salah satu
dari sekian aspek yang akanmemepengaruhi konsep diri pada
diri lesbian. Jika penolakan terjadisecara terus menerus maka
konsep diri yang ada pada lesbian akanmenjadi
buruk.Hurlock(1980, h.173) mengatakan bahwa faktor-faktor
yangmempengaruhi konsep diri pada akhir masa kanak-kanak
yaitu terdiridari kondisi fisik, bentuk tubuh, nama dan
julukan, status sosialekonomi, lingkungan sekolah, dukungan
sosial, keberhasilan dankegagalan, peran seks, dan inteligensi
sedangkan faktor-faktor yang
Perpustakaan Unika

6
mempengaruhi konsep diri pada remaja yaitu usia
kematangan,penampilan diri, kepatutan seks, nama dan
julukan, hubungan keluarga,teman-teman sebaya, kreativitas
dan cita-cita. Menurut teori yangdikemukakan oleh Hurlock,
jika ada faktor yang tidak dapat diterimaoleh individu ataupun
berpengaruh buruk pada diri subjek maka akanberpengaruh
buruk pada konsep dirinya.William Brooks (dalam Sobur,
2009, h.518) mengatakan bahwafaktor-faktor yang
mempengaruhi konsep diri seseorang ada empatyaitu, self
appraisal - viewing self as an object , reaction and
responseof others, roles you play - role taking, dan reference

groups. Empatfactor ini juga sangat berpengaruh pada konsep


diri seseorang. Apabilapengaruhnya positif maka konsep
dirinya akan positif juga, tetapi jikayang terjadi sebaliknya
maka konsep dirinya akan negatif.Manusia tidak berubah
hanya karena mendapat wawasan lebihbanyak mengenai
bagaimana ketertarikan pada sesama jenisberkembang, tetapi
pemahaman yang lebih dalam dapat menjadilangkah awal
yang penting. Pemahaman inilah yang merupakan dasardari
konsep diri seseorang, terlebih bagi seorang lesbian,
namunterkadang banyak dijumpai lesbian yang memiliki
konsep diri yangnegatif mungkin mereka menjadi seorang
yang tidak percaya diri, sulitpercaya dengan orang lain,
tertutup, dan mungkin yang lebih parahnyalagi mereka akan
mengalami stres atau depresi. Dampaknya yang akanterjadi
pada lesbian adalah mengalami kesulitan dalam penyesuaian
diridengan lingkungannya, dijauhi oleh teman-temannya
yangheteroseksual, merasa menjadi manusia yang berdosa
karena lesbian
Perpustakaan Unika

7
merupakan sesuatu hal yang dilarang oleh agama. Dari semua
dampak tersebut mungkin para lesbian akan mencari
pelampiasan agarmendapatkan penerimaan seperti memiliki
kelompok eksklusif,membatasi pergaulannya, mudah terjerat
dengan obat-obatan terlarang,merokok dan minum minuman
keras, seperti hasil observasi peneliti dikomunitas lesbian
tertentu. Apabila konsep diri ini masih terus ada padadiri
seorang lesbian maka akan membahayakan dirinya, karena

selainkesehatan fisik mereka terganggu, kesehatan psikis


mereka pun akanterguncang.Dalam menjalani kehidupan,
konsep diri sangat diperlukan danmemegang peran penting
misalnya jika individu dapat menerima dirinyasendiri maka
individu tersebut dapat mengenali apa yang
menjadikompetensinya dan dapat mengembangkan
kompetensi yang ada dalamdirinya sehingga individu tersebut
menjadi seorang yang percaya diri,dan optimis dalam melihat
suatu peluang dalam hidupnya namun jikasebaliknya maka
individu tersebut akan menjadi seorang yang tidak percaya
diri, tidak ingin berkembang dan menutup dirinya
darilingkungan sekitarnya. Konsep diri seorang lesbian akan
buruk atau baik tergantung pada bagaimana lesbian tersebut
menanggapi peristiwa

peristiwa yang mereka alami. Maka dari itu peneliti ingin


mengetahuifaktor-faktor apakah yang memengaruhi konsep
diri pada seoranglesbian?
Lesbian dan Dampak Negatifnya

Pengertian lesbian adalah perempuan yang seara psikologis , emosi dan seksual tertarik
pada sesama jenis / perempuan lain . Seorang lesbian tidak memiliki hasrat terhadap jenis

kelamin lain (laki-laki) , akan tetapi seorang lesbian hanya tertarik pada sesama jenis kelamin
(perempuan) . Mereka berpendapat bahwa istilah lesbian menyatakan komponen emosional
dalam suatu Relationship , sedangkan istilah homo seksual barpacu pada seksualitas .
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada
sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan secara fisik ,
emsional , dan seksual .

Penyebab lesbian dapat dibagi menjadi dua , yaitu :


1. Penyebab dari dalam yaitu genetik
2. Penyebab dari luar misalnya luka batian karena telah disakiti oleh
kaum laki-laki

Dari penyebab-penyebab tersebut ada beberapa pengaruh negatif yang


berdampak bagi para pelaku lesbian. Dampak yang akan terjadi hampir
sama dengan pelaku homo seksual , antara lain :

Penyimpangan seksual yang semakin banyak

Kelainan jiwa akibat mencintai sesama jenis akan membuat jiwanya


tidak stabil

Gangguan syaraf otak yang dapat melemahkan daya fikir kemauan


dan semangat

Terkena penyakit AIDS

Prasangka dan determinasi dari dampak sosial

dan banyak cara untuk menanggulangi dari perilaku penyimpangan


seksual ini . Beberapa cara untuk mencegah dari penyimpangan ini ,
antara lain :
1. Berikan Pendidikan seks kepada anak mulai umur 13 tahun
2. Beri tahu kan dampak negatif dari penyimpangan seksualitas
3. Jangan pernah berikan lebel "tomboy" pada anak perempuan anda
4. Berikan pendidikan Agama yang detail kepada anak anda
Ini hanya beberapa ringkasan dari materi yang saya ambil dari beberapa
referensi yang ada di google , semoga materi ini dapat membuka pikiran

kita dan dapat mencegah terjadinya kelainan seks pada orang yang
tersayang kepada kita .

APAKAH lantaran seorang wanita sangat menyukai bentuk tubuh temannya sejenis maka ia
bisa dikategorikan punya penyakit seksual, lesbian? Bagaimana pula bila ia memang sangat
menyukai sang teman namun ia juga punya seorang kekasih pria?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu bisa saja menjadi pertanyaan sejumlah kalangan remaja
atau wanita karier saat ini. Sebut saja Anna yang masih duduk di bangku SMU. Ia mengaku
merasakan suatu perasaan kenikmatan seksual dengan teman wanitanya. Kejadiannya pada
saat Anna melihat tubuh temannya tersebut saat berada di ruang ganti selama pelajaran
olahraga. Anna juga sering menganggap cewek atau wanita lain sangat cantik. Padahal ia
sendiri sudah punya kekasih. Apa yang terjadi padanya?
Atau sebut saja Belinda yang sangat dekat dengan teman barunya di kantor. Lantaran samasama single mereka kerap sekali menghabiskan waktu bersama-sama mulai dari menonton
film, ke pub, atau tempat lainnya. Bergandeng tangan, berangkulan sudah menjadi hal biasa.
Akan tetapi ketika temannya menginap dirumahnya, ia terlihat pasrah saat temannya tersebut
menggerayangi badannya. Meskipun tak melakukan hal yang berlebihan akan tetapi Belinda
mengaku sangat menikmati hal tersebut. Apa yang terjadi? Apakah ini juga termasuk kategori
lesbi?
Lesbian adalah wanita atau cewek yang secara seksual lebih tertarik kepada sejenisnya
daripada lelaki. Wanita heterosekual hanya tertarik pada lelaki saja. Yang disebut biseksual
bisa tertarik baik pada wanita maupun lelaki. Masalah seksual bisa sangat kompleks dan
jarang bagi seorang untuk hanya tertarik saja kepada satu gender seratus persen dalam
hidupnya. Tak tertutup kemungkinan suatu saat sangat tertarik pada lelaki tapi pada saat yang
lain amat tertarik pada wanita atau sebaliknya. Perasaan-perasaan seksual ini tidaklah bersifat
konstan, dapat berubah sewaktu-waktu. Bahkan amat mungkin seorang ABG adalah lesbian
atau biseksual tapi ketika dewasa menjadi heteroseksual, begitu pun sebaliknya.
Program Penis Sehat
Perlu diketahui, tak sedikit wanita yang tertarik pada wanita lain, tapi sulit membicarakannya.
Dan (seperti halnya masalah-masalah lain yang dirasakan tapi enggan untuk membahasnya)
itu bisa membuat wanita tersebut malu atau merasa seolah-olah ada yang salah dengan
dirinya. Tidak, tidak ada yang salah lantaran hal ini normal, semua orang akan mengalami
perasaaan-perasaan yang berbeda dan tipe-tipe asmara yang berbeda-beda pula, sekalipun
semuanya berkecamuk dalam pikirannya. Tipe daya tarik seksual ini tidak harus ditafsirkan
bahwa mereka adalah kaum lesbian.
Tapi ada perbedaan antara memiliki ketertarikan pada wanita dan minat seksual yang asli
kepada wanita. Ini bukan perbedaan yang bisa dengan mudah dijelaskan dengan kata-kata

karena ini berkaitan dengan perasaan-perasaan. Beberapa wanita memiliki ketertarikan secara
fisik dan seksual yang konstan kepada wanita, bukannya kepada lelaki. Inilah yang
dinamakan lesbian.
Bagi Anda yang punya pasangan yang dikhawatirkan lesbi, cara ampuh agar hubungan
tersebut tak berlanjut yakni dengan menghindarinya. Mulailah dengan mengurangi pertemuan
dengannya. Mulai dari bertemu hanya tiga kali seminggu hingga akhirnya tidak sama sekali.
Sejalan dengan itu, sebaiknya Anda menyerahkan diri pada Tuhan dengan melakukan ibadah.
Untuk mengubah perilaku penyimpangan seksual ini juga tidak mudah. Kamu harus bersedia
dan benar-benar ingin mengubah diri. Jadi masalah ini banyak tergantung pada Anda sendiri
dan intensitas lesbiannya. Bila intensitasnya terlalu tinggi, sering sulit diubah lagi. Tetapi
kalau dorongan lesbiannya cukup ringan dan dia benar-benar ingin berubah, kemungkinan
besar akan berhasil.
Banyak dari kita garuk-garuk kepala denger seseorang ngejudge kita dengan kata
belok. Bukan karena banyak kutunya tapi udah jadi sarang kecoa. wkwkkw). Belok ?
bentar, belok itu apaan sii?
Istilah belok banyak digunakan di dunia lesbian. Belok itu sendiri adalah istilah yang
dipake buat nunjukin kalo seseorang itu lesbi/lesbian. Ngga Cuma belok ajjah sii yang
dipake, ada juga yang make istilah KOLEB. KOLEB itu kebalikan dari kata BELOK (biar
yang baca ngga bingung, intinya mah belok, koleb, lines yah sama ajjah, sama-sama lesbi
artinya.
Ngomongin soal dunia belok (dunia lesbi), ada 4 label yang sering digunain untuk
ngelompokin para belok, apa ajjah itu ? cekidot.
1.Butchy

Sosok maskulin dengan cirri-ciri berpenampilan layaknya seorang

cowok. Di dunia lesbian, butchy alias buci berperan sebagai cowok dalam sebuah hubungan
(GF.an).
2. Femme

Sosok feminism dengan cirri-ciri berpenampilan layaknya seorang

cewek. Di dunia lesbian, femme berperan sebagai cewek dalam sebuah hubungan.
3. Andro

Sosok yang bisa 22nya (maksudnya?). Nah di label andro ini masih

dibagi menjadi 2kelompok lagi. Ada Andro Butchy (AB) dan Andro Femme (AF). Kalo
andro femme (AF) biasanya berpenampilan tomboy tapi tetep terlihat girly (hatinya masih
femme dan berperan sebagai femme). Beda sama andro butchy (AB) AB biasanya

berpenampilan seperti butchy tapi masih ada sifat ceweknya dan berperan sebagai butchy
(setengah butchy).
(Menurut gue sii Andro itu labil. Kenapa gue bilang labil dan plin plan?? Karna suatu waktu
bisa ganti label, dikit-dikit jadi AF, dikit-dikit AB, ada juga langsung drastic dari Andro jadi
Femme ato bahkan jadi Butchy. Wkwkwk kayak kepompong gitu pake acara metamorphosis
segala. Wkwkwk).
4. No Label

Sosok yang tidak mau dilabelin (ngga mau dipakein label Femme,

butchy, andro), tapi tetep ajjah belok, Sukanya suka sama cewek. Karna ngga mau dilabelin
itulah makanya label di dunia lesbi nambah lagi yang namanya label NO LABEL.

URABAYA - Meski sama-sama bagian dari komunitas penyuka sesama jenis


perempuan, namun kaum lesbi memiliki sebutan sendiri di dalam komunitasnya.
Setidaknya ada tiga sebutan bagi mereka yang lesbi.
"Untuk perempuan yang berperan sebagai laki-laki disebut Buci. Dan yang tetap
menjadi perempuan disebut Fem. Ada lagi yang disebut NL atau No Lebel artinya
bisa menjadi laki-laki dan perempuan. Sedangkan untuk lesbi sendiri biasa
disebut anak L," papar salah satu pelaku lesbi yang berhasil ditemui Okezone di
sebuah kafe di Surabaya, Jumat (31/8/2012) malam.
Seperti layaknya orang normal, beberapa anak-anak L juga ada yang setia
kepada pasangannya dan ada pula yang tidak. Buci ini juga banyak memiliki
empat hingga lima Fem. Namun ada pula yang setia terhadap pasangannya saja.
Ia juga mengatakan, keberadaan anak-anak L ini memang menutup diri dari
masyarakat pada umumnya. Pasalnya, selain perilakunya yang menyimpang ini
tidak diterima di tengah-tengah masyarakat. Mereka juga sadar jika perilaku
yang dilakukan ini adalah menyimpang.
"Kita sadar bahwa perilaku ini adalah menyimpang. Namun gimana lagi dengan
seperti ini kami mendapat kenyamanan daripada hidup normal," ujar perempuan
yang berperan sebagai Buci ini.
Ia juga mengungkapkan, meski memiliki kaum yang minoritas, namun tak jarang
anak-anak L ini terlibat dalam sejumlah kegiatan sosial seperti bakti sosial,
bermusik hingga menulis cerita pendek (cerpen) tentang kisah hidup yang
dialaminya dan beberapa kegiatan lainnya. Namun, meski terlibat dalam aksi

sosial, komunitas L tetap saja menyembunyikan diri dengan tidak secara terangterangan menyebut bahwa aksi sosial itu dilakukan oleh kalangan lesbian.
Bahkan dalam waktu dekat komunitas lesbi ini akan membuat film pendek.
"Semua kegiatan positif ini kami lakukan bahwa meski menjadi lesbi tetap
bermanfaat bagi masyarakat. Kita memang tidak berani secara terangterangan," ujar perempuan berambut pendek.
Mahasiswi semester akhir di salah satu PTS Surabaya ini mengaku, di Surabaya
ini memang ada beberapa komunitas anak-anak L. Selain yang banyak dikenal
dengan nama Koleb, ada lagi yang bernama As Comunity. Para anak-anak L ini
memang sering terlihat berkumpul di salah satu Mall di Surabaya tepatnya di
bagian Foodcourt-nya.
"Sekarang juga biasanya di Taman Bungkul," ujarnya seraya menyebut setiap
komunitas ini memiliki base camp sendiri-sendiri.
Ia juga mengungkapkan, komunitas anak-anak L ini sudah banyak di sejumlah
SMA di Surabaya. "Sedikitnya ada tiga SMA di Surabaya yang banyak anak-anak
L ini," ujar mahasiswi Fakultas Hukum Jurusan Hukum Perdata sembari
mengepulkan asap rokok di mulutnya.

Mengenal Dunia Lesbian


Wednesday, 28 Nov 2012 | 11:12:29 WIB

Terkait

Dr. Yunike RH, MKM


Dokter dan Konsultan Masalah Kesehatan
Reproduksi Remaja
Untuk mengubah perilaku penyimpangan ini juga tidak mudah, pelaku harus bersedia dan
benar-benar ingin mengubah diri.
Jadi masalah ini banyak tergantung pada diri sendiri dan lingkungannya. Dalam beberapa
terbitan yang lalu, Kabar Priangan di halaman satu menyajikan liputan khusus mengenai
lesbian di Kota Tasikmalaya. Tulisan tersebut, menyajikan fakta, bahwa di kota ini, dan juga
di kota-kota lainnya, lesbianisme tampaknya tengah menjadi gejala di beberapa kalangan
anak muda. Lalu, bagaimanakah perilaku lesbian atau homoseksual bisa terbentuk pada diri

seseorang, dan apakah bisa "disembuhkan?"


Homoseksualitas adalah perasaan tertarik secara romantis dan atau seksual atau perilaku
antara individu berjenis kelamin atau gender yang sama. Kesepakatan dari para ahli
menyatakan dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / buku acuan
diagnostik secara statistikal untuk menentukan gangguan kejiwaan) bahwa homoseksual
adalah keadaan normal dalam orientasi seksual manusia, tidak lebih dari sebuah variasi
orientasi seksual saja.
Istilah homoseksualitas untuk perempuan yang secara seksual lebih tertarik kepada sejenisnya
daripada lelaki disebut lesbian, sedangkan gay sebutan untuk lelaki yang menyukai sesama
jenisnya. Perasaan-perasaan seksual ini tidaklah bersifat konstan, dapat berubah sewaktuwaktu. Bahkan amat mungkin seorang ABG adalah lesbian atau biseksual tapi ketika dewasa
menjadi heteroseksual, begitu pun sebaliknya.
Menurut berbagai penelitian didapatkan 2% sampai 13% dari populasi manusia adalah
homoseksual atau pernah melakukan hubungan sesama jenis dalam hidupnya.
Lesbian adalah istilah bagi perempuan yang mengarahkan orientasi seksualnya kepada
sesama perempuan atau disebut juga perempuan yang mencintai perempuan baik secara fisik,
seksual, emosional, atau secara spiritual. Mulanya Lesbian di kategorikan sebagai penyakit
fisik, lambat laun lesbian disebut-sebut sebagai penyakit sosial. Di zaman modern sekarang
ini, lesbian sudah menjadi alternatif style bagi kalangan tertentu.
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam lesbian adalah butch, femme, andro dan no
label lesbian. Butch merupakan istilah dalam komunitas LGBT untuk mendeskripsikan sifat,
gaya, perilaku, ekspresi, persepsi diri dan sebagainya yang bersifat maskulin dalam seorang
wanita. Dalam konteks sebuah hubungan, butch seringkali dipakai sebagai pasangan dari
femme, yang pada umumnya lebih bersifat feminin tanpa karakter tomboy, walaupun terdapat
beberapa kasus dimana butch berpasangan dengan butch, dan femme dengan femme. Sebutan
andro yaitu lesbian yang bisa dibilang abu-abu karena dari segi penampilan dan hubungan
mereka bisa dibilang tidak total butchy atau femme sedangkan No label sebutan untuk
seorang lesbian yang tidak masuk dalam kategori butch juga femme.
Faktor-faktor yang bisa menyebabkan wanita menjadi lesbian, seperti adanya pengaruh dan
kebiasaan dalam keluarga. Misalnya pada masa kanak-kanak ia melihat perlakuan yang tidak
baik ayahnya kepada ibu, sehingga timbul rasa tidak tenang berdekatan dengan seorang
lelaki.
Kemudian pertumbuhan psikisnya tidak diarahkan sebagai perempuan. Mungkin karena
orangtuanya menginginkan anak lelaki tetapi yang lahir perempuan. Akibatnya perlakuan
terhadap dia, perlakuan terhadap seorang lelaki.
Penyebab lainnya, bisa juga karena mendapat perlakuan seksual yang tidak wajar dari lawan
jenis dan mengakibatkan trauma. Sehingga lebih menyukai sesama jenis. Atau akibat
pengaruh pergaulan yang mengarahkan pada hal-hal yang lebih mencintai dan menyayangi
pada sesama jenis. Sehingga menjadi kebiasaan dan sudah tidak asing lagi terhadap pasangan
yang sesama jenis. Lalu kurangnya perhatian dari faktor internal maupun eksternal yang
dibutuhkan oleh pelaku, sehingga lebih memilih untuk mencari perhatian dengan berperilaku
yang berbeda tersebut.
Dampak negatif yang dapat terjadi karena perilaku lesbian
1. Kelainan jiwanya akibat mencintai sesama jenis, akan membuat jiwanya tidak stabil, dan

timbul tingkah laku yang aneh-aneh.


2. Gangguan yang dapat melemahkan daya pikir, kemauan dan semangat.
3. Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya perilaku mereka yang bertingkah di luar
batas kodratnya dan berpikir untuk lebih memilih dengan memberantas tingkah laku mereka.
4. Mencemarkan nama baik orang tua dan keluarganya. Sehingga keluarganya dikucilkan
oleh lingkungan sekitarnya dan menjadi bahan pembicaraan oleh orang-orang sekitar.
5. Teman atau sahabatnya menjadi merasa malu karena memiliki teman yang berperilaku
tidak sehat tersebut dan menjadi lebih memilih untuk tidak bergaul dengan mereka.
Cara mengatasi perilaku
lesbian
Wanita lesbian cenderung berpenampilan maskulin, tapi tidak semua lesbian berpenampilan
maskulin. Kebanyakan lesbian yang maskulin ini merasa, dirinya laki-laki tapi terjebak dalam
tubuh perempuan. Banyak juga dijumpai lesbian yang gayanya seperti perempuan normal,
cenderung feminim, bahkan lebih feminim dari perempuan yang normal. Tingkah lakunya
mungkin bisa saja lebih halus dari perempuan normal pada umumnya.
Biasanya penampilan feminine terkesan dingin. Selalu ketergantungan sama pasangan, tidak
mandiri, sering cemas, jaga jarak dengan wanita lain yang bukan pasangannya. Cenderung
sensitif dan dingin kepada laki-laki. Tapi ini bukan ciri yang akurat, hanya ciri inilah yang
kebanyakan muncul.
Lesbian yang disebabkan lingkungan, tidak kronis, dan tidak berat, masih bisa dibantu dalam
membelokkan orientasi seksualnya. Untuk melakukannya perlu terapi serta menciptakan
lingkungan yang benar-benar bisa mendukung. Bisa jadi seorang lesbian justru bisa menjadi
biseksual (mencintai baik pria maupun wanita). Binaan yang paling tepat adalah dari sisi
nurani, misalnya keagamaan, konseling psikologis, juga terus berkreasi secara positif.
Yang bisa dilakukan untuk mengatasi perilaku lesbian ini adalah, pertama, tanamkan motivasi
dalam diri agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang menyimpang. Kemudian harus
memiliki konsisten dalam beribadah.
Untuk mengubah perilaku penyimpangan ini juga tidak mudah, pelaku harus bersedia dan
benar-benar ingin mengubah diri. Jadi masalah ini banyak tergantung pada diri sendiri dan
lingkungannya.
Orangtua adalah yang paling wajib mengantisipasi hal itu. Banyak orangtua yang justru
kurang peduli bila melihat anak perempuan atau anak laki-lakinya menyimpang dalam hal
berpakaian atau bersikap.
Usahakan membawa dia ke tempat pengobatan khusus yang menangani masalah tersebut
seperti psikoterapi. Dengan cara pendekatan seperti itu, maka perlahan-lahan dia memiliki
pikiran positif untuk menjauhi dan tidak merasa takut akan hal-hal yang membuatnya merasa
tertekan.Butuh terapi rutin untuk menumbuhkan rasa empati dan mengalihkan rasa emosi
yang melatih diri meredam perasaan ingin melakukan perilaku penyimpangan tersebut.
Kemudian, berikan dorongan dan dukungan dari keluarga serta orang-orang terdekatnya, dan
jagalah pergaulan dengan sesama wanita yang menarik hatinya. Bergaul sewajarnya saja,
bahkan bila dianggap membahayakan, usahakan menghindari banyak pertemuan dengan
mereka. Mulailah dengan mengurangi pertemuan dengan orang yang bersangkutan atau yang
membuat dia merasa ke arah negatif jika bergaul dengan kelompok tersebut

Hal lain yang juga penting, adalah janganlah terpengaruh oleh budaya barat yang mencoba
mempengaruhi pikiran dan budaya pakaian yang cenderung mengikuti budaya mereka.
Tinggalkan media, internet dan buku-buku tentang penyimpangan seksual. Buang semua
buku-buku, foto atau gambar yang akan mengingatkan pada perbuatan lesbi. Berikan dia rasa
yang nyaman untuk bisa menceritakan apa yang membuatnya merasa terdorong mengikuti
perilaku penyimpangan tersebut. Dan berikan dorongan dan respon yang baik agar dia bisa
bertukar pikiran dengan kita sehingga keinginan untuk menjadi pelaku lesbi dapat berkurang
bahkan lebih cepat menghilang.***

PENGENDALIAN SOSIAL

Setiap hari kamu melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah terpola, seperti mandi,
makan, tidur, bermain, belajar, dan sekolah. Kegiatan-kegiatan itu kamu lakukan
secara otomatis dan terkendali dengan baik. Apakah pengendalian? Siapa yang
melakukan pengendalian? Mari kita bahas pada subpokok bahasan berikut ini.
1. Pengertian Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial dilakukan untuk menjamin bahwa nilainilai dan norma sosial
yang berlaku ditaati oleh anggota masyarakat. Hal ini menyangkut manusia sebagai
makhluk sosial yang hidup bersama dalam kelompok atau masyarakat. Dalam
pergaulan sehari-hari, perilaku manusia selalu diatur oleh nilai dan norma sosial
yang memberi batas pada kelakuannya. Tujuan pengaturan itu dimaksudkan agar
tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu kelompok tidak merugikan pihak lain.
Pelanggaran terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku akan menimbulkan
pertentangan-pertentangan antara berbagai kepentingan dari bermacam-macam
pihak, sehingga terjadi guncangan-guncangan di dalam masyarakat.
Dengan demikian, pengendalian sosial dapat diartikan sebagai suatu proses yang
direncanakan atau yang tidak direncanakan yang bertujuan untuk mengajak,
membimbing, bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi nilai-nilai dan
kaidah-kaidah yang berlaku . Apabila pengendalian sosial dijalankan secara efektif,
maka perilaku individu akan konsisten dengan tipe perilaku yang diharapkan. Untuk
mengetahui lebih jauh mengenai hakikat pengendalian sosial, kita dapat memahami
definisi pengendalian sosial yang dikemukakan para sosiolog berikut ini.
a. Peter L. Berger
Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk
menertibkan anggotanya yang menyimpang.
b. Bruce J. Cohen
Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk
mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau
masyarakat luas tertentu.
c. Joseph S. Roucek

Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses pengawasan yang


direncanakan atau tidak direncanakan yang bertujuan mengajak, mendidik, atau
bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi norma dan nilai yang berlaku.
Berdasarkan pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pengendalian
sosial meliputi sistem dan proses yang mendidik, mengajak, dan memaksa.
a. Mendidik, dimaksudkan agar dalam diri seseorang terdapat perubahan sikap dan
tingkah laku untuk bertindak sesuai dengan norma. Sikap dan tindakan ini didapat
melalui pendidikan formal maupun informal.
b. Mengajak, bertujuan untuk mengarahkan agar perbuatan seseorang didasarkan
pada norma-norma yang berlaku, dan tidak menuruti kemauannya sendiri-sendiri.
c. Memaksa, bertujuan untuk memengaruhi secara tegas agar seseorang bertindak
sesuai dengan norma-norma yang berlaku, apabila tidak akan dikenai sanksi.
2. Ciri dan Tujuan Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial sangat penting demi kelangsungan hidup suatu masyarakat.
Lalu, apakah yang menjadi ciri dan tujuan pengendalian sosial?
a. Ciri-Ciri Pengendalian Sosial
Merujuk pada definisi di atas kita dapat mengidentifikasi ciri-ciri yang terdapat dalam
pengendalian sosial, di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Suatu cara atau metode tertentu terhadap masyarakat.
2) Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan
yang terus terjadi di dalam suatu masyarakat.
3) Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu
kelompok terhadap individu.
4) Dilakukan secara timbal balik meskipun terkadang tidak disadari oleh kedua belah
pihak.
b. Tujuan Pengendalian Sosial
Secara sederhana, tujuan pengendalian sosial dapat dirumuskan sebagai berikut.
1) Tujuan eksploratif, karena dimotivasikan oleh kepentingan diri, baik secara
langsung maupun tidak.
2) Tujuan regulatif, dilandaskan pada kebiasaan atau adat istiadat.
3) Tujuan kreatif atau konstruktif, diarahkan pada perubahan sosial yang
dianggap bermanfaat.
3. Jenis Pengendalian Sosial
Dalam kehidupan bersama di masyarakat, pengendalian sosial berfungsi untuk
menciptakan suatu tatanan masyarakat yang teratur dan sesuai dengan normanorma yang telah disepakati bersama. Guna mewujudkan maksud tersebut kita
mengenal beberapa jenis pengendalian sosial yang didasarkan pada sifat dan
tujuannya, resmi dan tidaknya, serta siapa yang melakukan pengendalian.
a. Menurut Sifat dan Tujuan
Dilihat dari sifat dan tujuannya, kita mengenal pengendalian preventif, pengendalian
represif, serta pengendalian gabungan antara pengendalian preventif dan represif.
1) Pengendalian preventif, merupakan usaha yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan terhadap norma dan nilai sosial yang berlaku di
masyarakat. Dengan demikian pengendalian ini dilakukan sebelum terjadinya
penyimpangan dengan maksud untuk melakukan pencegahan sedini mungkin guna
menghindari kemungkinan terjadinya tindakan penyimpangan. Usahausaha
pengendalian preventif dapat dilakukan melalui pendidikan dalam keluarga dan
masyarakat (informal), serta pendidikan di sekolah (formal). Misalnya pemasangan

rambu-rambu lalu lintas guna mencegah ketidaktertiban dan kecelakaan di jalan


raya.
2) Pengendalian represif, merupakan usaha untuk mengembalikan keserasian,
keteraturan, dan keharmonisan yang terganggu akibat adanya pelanggaran norma
atau perilaku menyimpang. Jadi, pengendalian ini dilakukan setelah terjadi
pelanggaran. Tujuannya adalah untuk menyadarkan pihak yang berperilaku
menyimpang tentang akibat dari perbuatannya, sekaligus agar ia mematuhi normanorma sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Misalnya seorang guru yang
mencoret pekerjaan (ulangan) salah satu siswanya karena ketahuan menyontek.
3) Pengendalian gabungan, merupakan usaha yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus mengembalikan penyimpangan yang
tidak sesuai dengan norma sosial (represif). Usaha pengendalian yang memadukan
ciri preventif dan represif ini dimaksudkan agar suatu perilaku tidak sampai
menyimpang dari norma, dan kalaupun terjadi, penyimpangan itu tidak sampai
merugikan orang yang bersangkutan maupun orang lain.
b. Menurut Resmi dan Tidak
Dilihat dari resmi dan tidaknya, kita mengenal pengendalian resmi dan pengendalian
tidak resmi.
1) Pengendalian resmi adalah pengawasan yang didasarkan atas penugasan oleh
badan-badan resmi. Misalnya pengawasan yang dilakukan oleh sekolah terhadap
semua warga sekolah agar perilakunya sesuai dengan peraturan sekolah.
2) Pengendalian tidak resmi adalah pengendalian yang dilakukan sendiri oleh
warga masyarakat dan dilaksanakan demi terpeliharanya peraturan-peraturan yang
tidak resmi milik masyarakat. Dikatakan tidak resmi karena peraturan itu sendiri tidak
dirumuskan dengan jelas dan tidak ditemukan dalam hukum tertulis, tetapi hanya
diingatkan oleh warga masyarakat. Contohnya dalam masyarakatmu terdapat
kesepakatan pemberlakuan jam malam bagi tamu. Apabila kamu melanggar, maka
kamu akan ditegur warga masyarakat yang lain, seperti tetangga atau ketua RT.
c. Menurut Siapa yang Melakukan Pengendalian
Dilihat dari siapa yang melakukan pengendalian, kita mengenal pengendalian
institusional dan pengendalian berpribadi.
1) Pengendalian institusional adalah pengaruh yang datang dari suatu pola
kebudayaan yang dimiliki lembaga (institusi) tertentu. Pola-pola kelakuan dan
kaidah-kaidah lembaga itu tidak saja mengontrol anggota lembaga, tetapi juga
warga masyarakat yang berada di luar lembaga itu.
2) Pengendalian berpribadi adalah pengaruh baik atau buruk yang datang dari
orang tertentu. Artinya, tokoh yang berpengaruh itu dapat dikenal.
4. Cara Pengendalian Sosial
Proses pengendalian sosial dalam masyarakat agar dapat berjalan dengan lancar,
efektif, dan mencapai tujuan yang diinginkan diperlukan cara. Kita mengenal empat
cara pengendalian sosial, yaitu dengan menggunakan kekerasan, tanpa
menggunakan kekerasan, formal, dan informal.
a. Pengendalian Tanpa Kekerasan (Persuasi)
Pengendalian ini biasanya dilakukan terhadap suatu masyarakat yang relatif hidup
dalam keadaan tenteram. Sebagian besar nilai dan norma telah melembaga dan
mendarah daging dalam diri warga masyarakat. Pengendalian ini dilakukan dengan
pemberian ceramah umum atau keagamaan, pidato-pidato pada acara resmi, dan
lain-lain.
b. Pengendalian dengan Kekerasan (Koersi)

Pengendalian ini dilakukan bagi masyarakat yang kurang tenteram atau apabila cara
pengendalian tanpa kekerasan tidak berhasil. Misalnya menindak tegas para
pengedar, bandar, pemakai narkoba, dan pihak-pihak terkait dengan menjatuhi
hukuman penjara. Jenis pengendalian dengan kekerasan ini ada dua, yaitu kompulsi
dan pervasi.
1) Kompulsi ( compulsion ) adalah situasi yang diciptakan sedemikian rupa
sehingga seseorang terpaksa taat atau mengubah sifatnya dan menghasilkan
kepatuhan yang tidak langsung. Misalnya pemberlakuan hukuman penjara untuk
mengendalikan perbuatan mencuri.
2) Pervasi ( pervasion ) adalah penanaman norma-norma yang ada secara
berulang-ulang dan terus-menerus dengan harapan bahwa hal tersebut dapat
meresap ke dalam kesadaran seseorang. Misalnya bahaya narkoba yang dapat
disampaikan secara berulang-ulang dan terusmenerus melalui media massa.
c. Pengendalian Formal
Pengendalian secara formal dapat dilakukan melalui hukuman fisik, lembaga
pendidikan, dan lembaga keagamaan.
1) Hukuman Fisik
Model pengendalian ini dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang diakui oleh
semua lapisan masyarakat, seperti kepolisian, sekolah, dan yang lainnya. Misalnya
menghukum siswa agar berdiri di depan kelas karena tidak mengerjakan tugas atau
PR.
2) Lembaga Pendidikan
Pengendalian sosial melalui lembaga pendidikan formal, nonformal, maupun
informal mengarahkan perilaku seseorang agar sesuai dengan norma-norma sosial
yang berlaku dalam masyarakat.
3) Lembaga Keagamaan
Setiap agama mengajarkan hal-hal yang baik kepada para penganutnya. Ajaran
tersebut terdapat dalam kitab suci masing-masing agama. Pemeluk agama yang taat
pada ajaran agamanya akan senantiasa menjadikan ajaran itu sebagai pegangan
dan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku, serta berusaha mewujudkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Dia juga merasa apabila tingkah lakunya melanggar
dari ketentuan-ketentuan ajaran agamanya pasti berdosa.
d. Pengendalian Informal
Pengendalian sosial secara tidak resmi (informal) dapat dilakukan melalui desasdesus, pengucilan, celaan, dan ejekan.
1) Desas-desus (gosip) adalah berita yang menyebar secara cepat dan tidak
berdasarkan fakta (kenyataan) atau buktibukti yang kuat. Dengan beredarnya gosip
orang-orang yang telah melakukan pelanggaran akan merasa malu dan berusaha
untuk memperbaiki perilakunya.
2) Pengucilan adalah suatu tindakan pemutusan hubungan sosial dari sekelompok
orang terhadap seorang anggota masyarakat yang telah melakukan pelanggaran
terhadap nilai dan norma yang berlaku.
3) Celaan adalah tindakan kritik atau tuduhan terhadap suatu pandangan, sikap, dan
perilaku yang tidak sejalan (tidak sesuai) dengan pandangan, sikap, dan perilaku
anggota kelompok pada umumnya.
4) Ejekan adalah tindakan membicarakan seseorang dengan menggunakan katakata kiasan, perumpamaan, atau kata-kata yang berlebihan serta bermakna negatif.
Mungkin juga dengan menggunakan kata-kata yang artinya berlawanan dengan
yang dimaksud.
5. Pola Pengendalian Sosial

Di masyarakat, proses pengendalian sosial umumnya dilakukan dengan pola-pola


seperti berikut ini.
a. Pengendalian Kelompok terhadap Kelompok
Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok mengawasi perilaku kelompok yang
lain. Misalnya DPR RI dalam acara dengar pendapat dengan Menteri Kehutanan
dan staf Departemen Kehutanan, meminta agar pengawasan hutan benar-benar
ditingkatkan, sehingga penebangan hutan secara liar tidak terulang kembali. Contoh
itu memperlihatkan bahwa pengendalian sosial dari kelompok terhadap kelompok
terjadi antara kelompok sebagai suatu kesatuan dan bukan menyangkut
pribadipribadi dari anggota kelompok yang bersangkutan.
b. Pengendalian Kelompok terhadap Anggotanya (Individu)
Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok menentukan perilaku para
anggotanya. Misalnya sekolah memberi teguran kepada salah seorang siswa karena
telah melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Contoh lainnya adalah Dewan
Perwakilan Rakyat yang mengawasi jalannya pemerintahan yang diselenggarakan
oleh presiden.
c. Pengendalian Pribadi terhadap Pribadi Lainnya
Pengendalian ini terjadi apabila individu mengadakan pengawasan terhadap individu
lainnya. Contoh pengen-dalian sosial ini dapat kamu pahami dalam peristiwa berikut
ini. A sebagai individu, menegur B yang merupakan sahabatnya, supaya tidak
melakukan pelanggaran terhadap tata tertib sekolah. Dalam peristiwa kecil di atas, A
telah melakukan pengendalian sosial. Hal semacam itu juga pasti pernah kamu
lakukan ketika teman-temanmu melakukan hal yang tidak semestinya, misalnya
mencontek waktu ujian, menggosip, mencuri uang teman, ingin mengonsumsi
narkotika, dan berkelahi. Atau sebaliknya kamu sendiri pernah ditegur oleh orangorang di sekitarmu, seperti teman, Bapak, Ibu, dan guru, ketika kamu melakukan
hal-hal
yang tidak semestinya dilakukan.
d. Pengendalian Individu terhadap Kelompok
Pengendalian sosial jenis ini terjadi misalnya, ketika seorang guru sedang
mengawasi para siswa yang sedang mengerjakan ujian. Dalam peristiwa itu guru
melakukan pengendalian sosial terhadap kelompok (para siswa).
6. Agen (Media) Pengendalian Sosial
Beberapa pranata sosial yang berperan sebagai agen pengendalian sosial di
antaranya adalah kepolisian, pengadilan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh
masyarakat, sekolah, keluarga, dan mahasiswa.
a. Kepolisian
Polisi merupakan aparat resmi pemerintah yang bertugas menertibkan keamanan.
Secara umum tugas polisi adalah memelihara ketertiban masyarakat serta
menangkap dan menahan setiap anggota masyarakat yang dituduh atau dicurigai
melakukan kejahatan yang meresahkan masyarakat.
b. Pengadilan
Pengadilan merupakan suatu badan yang dibentuk oleh negara untuk menangani,
menyelesaikan, dan mengadili setiap perbuatan yang melanggar hukum. Dalam
mengadili
sekaligus memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Unsur-unsur
aparat yang berhubungan dengan pengadilan, antara lain hakim, jaksa, polisi, dan
pengacara. Dapatkah kamu menyebutkan tugas masing-masing?
c. Tokoh Adat

Kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dan berkembang dalam masyarakat, memiliki


nilai dan dijunjung tinggi oleh anggotanya, serta bersifat magis religius mengenai
nilai-nilai budaya, norma-norma hukum, dan aturan-aturan yang mengikat disebut
adat. Adat biasanya disebut juga sebagai aturan tradisional. Pihak yang berperan
menegakkan adat adalah tokoh adat. Peranan tokoh adat sangat penting untuk
membina serta mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar
sesuai dengan ketentuan adat. Bentuk pengendalian sosial ini, antara lain
penetapan sanksi berupa denda, pengucilan dari lingkungan adat, atau teguran.
d. Tokoh Agama
Orang yang memiliki pemahaman luas tentang suatu agama dan menjalankan
pengaruhnya sesuai dengan pemahaman tersebut dinamakan tokoh agama. Orang
yang termasuk tokoh agama adalah pendeta, ulama, biksu, ustadz, pastor, kyai, dan
brahmana bagi umat Hindu. Tokoh agama ini sangat berpengaruh di lingkungannya
karena nilai-nilai dan norma-norma yang ditanamkannya berkaitan dengan
perdamaian, sikap saling mengasihi, saling menghargai, saling mencintai, saling
menghormati antarsesama manusia, kebaikan, dan lain sebagainya.
e. Tokoh Masyarakat
Setiap orang yang dianggap berpengaruh dalam kehidupan sosial suatu masyarakat
disebut sebagai tokoh masyarakat. Tokoh ini dapat mencakup golongan terpandang
atau terkemuka dalam masyarakat, seperti penguasa, cendekiawan, dan ketua adat.
Seseorang dianggap 'tokoh' karena mempunyai kelebihan tertentu dan dapat
menjadi panutan atau contoh di lingkungan masyarakatnya.
f. Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan dalam pengendalian
sosial. Guru-guru senantiasa mendidik dan menegur murid-muridnya agar mau
menaati tata tertib yang berlaku di sekolah. Sebaliknya, apabila ada murid yang
melanggar, guru memiliki kewajiban untuk memberikan sanksi kepada murid
tersebut.
g. Keluarga
Setiap orang tua pasti mengendalikan perilaku anak-anaknya agar sesuai dengan
nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Caranya dengan mendidik,
menasihati, dan turut menyosialisasikan nilai dan norma yang ada.
h. Mahasiswa
Mahasiswa dapat selalu memonitor semua kebijakan pemerintah dan berusaha
untuk melakukan counter terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan aspirasi dan
kondisi masyarakat. Misalnya dengan melakukan demonstrasi.
7. Fungsi Pengendalian Sosial
Koentjaraningrat mengidentifikasikan fungsi pengendalian sosial sebagai berikut.
a. Mempertebal Keyakinan Masyarakat tentang Kebaikan Norma
Norma diciptakan oleh masyarakat sebagai petunjuk hidup bagi anggotanya dalam
bersikap dan bertingkah laku, agar tercipta ketertiban dan keteraturan dalam hidup
bermasyarakat. Untuk mempertebal keyakinan ini dapat ditempuh melalui
pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Pendidikan di
lingkungan keluarga merupakan cara yang paling pokok untuk meletakkan dasar
keyakinan akan norma pada diri anak sejak dini. Selanjutnya, seiring dengan
pertambahan usia anak, maka lingkungan sosialisasinya juga semakin luas,
sehingga masyarakat dan sekolah juga turut berperan dalam mempertebal
keyakinan terhadap norma-norma.
Selain itu juga dapat dilakukan dengan sugesti sosial. Cara ini dilakukan dengan
memengaruhi alam pikiran seseorang melalui cerita-cerita, dongeng-dongeng,

karya-karya orang besar, atau perjuangan pahlawan. Misalnya cerita mengenai


seorang anak yang taat beribadah. Tujuannya memberikan gambaran pada
seseorang untuk dapat mengambil hikmah dari hal-hal tersebut.
Cara lainnya adalah dengan menonjolkan kelebihan normanorma pada saat
mengenalkan dan menanamkannya pada diri anak. Maksudnya agar anak tertarik
untuk mempelajari, menghayati, dan mengamalkan norma-norma itu dalam
kehidupan sehari-hari di masyarakat.
b. Memberikan Imbalan kepada Warga yang Menaati Norma
Pemberian imbalan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat dalam diri orangorang yang berbuat baik agar mereka tetap melakukan perbuatan yang baik dan
menjadi contoh bagi warga lain. Imbalan ini dapat berupa pujian dan penghormatan.
Apabila perbuatan tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan sosial, maka
imbalan yang diberikan dapat berupa penghargaan yang lebih tinggi.
c. Mengembangkan Rasa Malu
Dapat dipastikan bahwa setiap orang mempunyai 'rasa malu'. Terutama apabila
telah melakukan kesalahan dengan melanggar norma sosial. Masyarakat yang
secara agresif mencela setiap perbuatan yang menyimpang dari norma-norma
dengan melemparkan gosip dan gunjingan akan memengaruhi jiwa seseorang yang
melakukan penyimpangan tersebut. Sifat demikian menimbulkan kesadaran dalam
diri seseorang bahwa perbuatannya mendatangkan malu. Oleh karena itu ia akan
menjauhkan diri dari perbuatan menyimpang itu.
d. Mengembangkan Rasa Takut
Rasa takut mengakibatkan seseorang menghindarkan diri dari suatu perbuatan yang
dinilai mengandung risiko. Oleh karena itu orang akan berkelakuan baik, taat kepada
tata kelakuan atau adat istiadat karena sadar bahwa perbuatan yang menyimpang
dari norma-norma akan berakibat tidak baik bagi dirinya maupun orang lain. Rasa
takut biasanya muncul dalam diri seseorang karena adanya 'ancaman'. Misalnya,
seseorang yang mencuri atau membunuh diancam dengan hukuman penjara. Selain
itu, hampir semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berbuat baik
karena perbuatan yang tidak sesuai dengan norma-norma
akan mendapatkan hukuman di akhirat.
e. Menciptakan Sistem Hukum
Setiap negara memiliki sistem hukum yang berisi perintah dan larangan yang
dilengkapi dengan sanksi yang tegas. Hukum mengatur semua tindakan setiap
warga masyarakatnya, agar tercipta ketertiban dan keamanan.
Di sini, perwujudan pengendalian sosialnya dengan hukuman pidana, kompensasi,
terapi, dan konsolidasi.
1) Hukuman pidana, diberlakukan bagi orang-orang yang melanggar peraturanperaturan negara, seperti membunuh, mencuri, dan merampok.
2) Kompensasi adalah kewajiban pihak yang melakukan kesalahan untuk
membayar sejumlah uang kepada pihak yang dirugikan akibat kesalahan tersebut.
Misalnya, orang yang mencemarkan nama baik orang lain dapat dituntut di
pengadilan dengan ganti rugi berupa sejumlah uang.
3) Terapi adalah inisiatif untuk memperbaiki diri sendiri dengan bantuan pihak-pihak
tertentu. Misalnya pengguna narkotika yang masuk ke panti rehabilitasi
ketergantungan narkoba.
4) Konsolidasi adalah upaya untuk menyelesaikan dua pihak yang bersengketa,
baik secara kompromi maupun dengan mengundang pihak ketiga sebagai penengah
(mediator).

PERILAKU MENYIMPANG
Tindakan manusia tidak selamanya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakatnya. Adakalanya terjadi penyimpangan terhadap nilai dan norma
yang ada. Tindakan manusia yang menyimpang dari nilai dan norma atau peraturan
disebut dengan perilaku menyimpang. Apakah perilaku menyimpang itu? Pernahkah
kamu melakukan tindakantindakan yang termasuk dalam kategori perilaku
menyimpang?
Ada banyak perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat. Dari yang sederhana
atau kecil sampai yang kompleks yang akibatnya sangat meresahkan masyarakat.
Apa yang kamu ketahui mengenai perilaku menyimpang?
1. Pengertian Perilaku Menyimpang
Pagi itu di sebuah perempatan, lampu lalu lintas sedang menyala merah. Karena
kesiangan dan takut terlambat sampai di sekolah, Damar justru menambah laju
kecepatan sepeda motornya dan menerobos lampu merah. Tindakan Damar itu
diketahui polisi dan akhirnya dia ditilang. Berdasarkan cerita di atas, bagaimana
pendapatmu terhadap tindakan yang dilakukan Damar? Tindakan Damar merupakan
salah satu contoh sederhana adanya penyimpangan terhadap aturan-aturan yang
ada di masyarakat. Masih banyak lagi jenisjenis penyimpangan yang terjadi di
masyarakat.
Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua orang bertindak berdasarkan normanorma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Tindakan yang tidak sesuai
dengan norma dan nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat dinamakan perilaku
menyimpang. Penyimpangan terjadi apabila seseorang atau sekelompok orang tidak
mematuhi norma atau patokan dan nilai yang sudah baku di masyarakat.
Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi
( deviation ), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan ini
disebut dengan devian ( deviant ).
Berikut ini pengertian perilaku menyimpang menurut pandangan beberapa ahli.
a. James Vander Zenden
Menyebutkan bahwa penyimpangan adalah perilaku yang oleh sejumlah besar
orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
b. Robert M.Z. Lawang
Mengungkapkan penyimpangan adalah semua tindakan yang menyimpang dari
norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang
berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu.
c. Bruce J. Cohen
Mengatakan bahwa perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil
menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu
dalam masyarakat.
d. Paul B. Horton
Mengutarakan bahwa penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan
sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
e. Lewis Coser
Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk
menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial.
2. Proses Pembentukan Perilaku Menyimpang

Bagaimanakah sebenarnya pembentukan perilaku menyimpang dalam masyarakat?


Dan faktor-faktor apa sajakah yang turut memengaruhinya? Mari kita bahas dalam
subpokok bahasan ini.
a. Faktor Biologis
Cesare Lombrosso, seorang kriminolog dari Italia, dalam bukunya Crime, Its
Causes and Remedies (1918) memberikan gambaran tentang perilaku menyimpang
yang dikaitkan dengan bentuk tubuh seseorang. Dengan tegas, Lombrosso
mengatakan bahwa ditinjau dari segi biologis penjahat itu keadaan fisiknya kurang
maju apabila dibandingkan dengan keadaan fisik orang-orang biasa. Lombrosso
berpendapat bahwa orang yang jahat dicirikan dengan ukuran rahang dan tulangtulang pipi panjang, kelainan pada mata yang khas, tangan beserta jari-jarinya dan
jari-jari kaki relatif besar, serta susunan gigi yang abnormal.
Sementara itu William Sheldon, seorang kriminolog Inggris dalam
bukunya Varieties of Delinquent Youth (1949) membedakan bentuk tubuh manusia
yang mempunyai kecenderungan melakukan penyimpangan ke dalam tiga bentuk,
yaitu endomorph, mesomorph, dan ectomorph yang masing-masing memiliki ciri-ciri
tertentu.
1) Endomorph (Bulat dan Serba Lembek)
Orang dengan bentuk tubuh ini menurut kesimpulannya dapat terpengaruh untuk
melakukan perilaku menyimpang, karena sangat mudah tersinggung dan cenderung
suka menyendiri.
2) Mesomorph (Atletis, Berotot Kuat, dan Kekar)
Orang dengan bentuk tubuh seperti ini sering menunjukkan sifat kasar dan bertekad
untuk menuruti hawa nafsu atau keinginannya. Bentuk demikian ini biasanya identik
dengan orang jahat yang paling sering melakukan perilaku menyimpang.
3) Ectomorph (Kurus Sekali dan Memperlihatkan Kelemahan Daya)
Orang yang seperti ini selalu menunjukkan kepasrahan, akan tetapi apabila
mendapat penghinaan-penghinaan yang luar biasa tekanan jiwanya dapat meledak,
dan barulah akan terjadi perilaku menyimpang darinya.
b. Faktor Psikologis
Banyak ahli sosiologi yang cenderung untuk menerima sebab-sebab psikologis
sebagai penyebab pembentukan perilaku menyimpang. Misalnya hubungan antara
orang tua dan anak yang tidak harmonis. Banyak orang meyakini bahwa hubungan
antara orang tua dan anak merupakan salah satu ciri yang membedakan orang 'baik'
dan orang 'tidak baik'. Sikap orang tua yang terlalu keras maupun terlalu lemah
seringkali menjadi penyebab deviasi pada anak-anak.
c. Faktor Sosiologis
Dari sudut pandang sosiologi, telah banyak teori yang dikembangkan untuk
menerangkan faktor penyebab perilaku menyimpang. Misalnya, ada yang
menyebutkan kawasan kumuh ( slum ) di kota besar sebagai tempat persemaian
deviasi dan ada juga yang mengatakan bahwa sosialisasi yang buruk membuat
orang berperilaku menyimpang. Selanjutnya ditemukan hubungan antara 'ekologi'
kota dengan kejahatan, mabuk-mabukan, kenakalan remaja, dan bunuh diri. Untuk
lebih jelasnya, berikut ini akan diuraikan beberapa sebab atau proses terjadinya
perilaku menyimpang ditinjau dari faktor sosiologis.
1) Penyimpangan sebagai Hasil Sosialisasi yang Tidak Sempurna
Menurut teori sosialisasi, perilaku manusia, baik yang menyimpang maupun yang
tidak dikendalikan oleh norma dan nilai yang dihayati. Apabila sosialisasi tidak
sempurna akan menghasilkan perilaku yang menyimpang. Sosialisasi yang tidak
sempurna timbul karena nilai-nilai atau norma-norma yang dipelajari kurang dapat

dipahami dalam proses sosialisasi, sehingga seseorang bertindak tanpa


memperhitungkan risiko yang akan terjadi.
Contohnya anak sulung perempuan, dapat berperilaku seperti laki-laki sebagai
akibat sosialisasi yang tidak sempurna di lingkungan keluarganya. Hal ini terjadi
karena ia harus bertindak sebagai ayah, yang telah meninggal. Di pihak lain, media
massa, terutama sering menyajikan gaya hidup yang tidak sesuai dengan anjurananjuran yang disampaikan dalam keluarga atau sekolah. Di dalam keluarga telah
ditanamkan perilaku pemaaf, tidak balas dendam, mengasihi, dan lain-lain, tetapi di
televisi selalu ditayangkan adegan kekerasan, balas dendam, fitnah, dan sejenisnya.
Nilai-nilai kebaikan yang ditawarkan oleh keluarga dan sekolah harus berhadapan
dengan nilai-nilai lain yang ditawarkan oleh media massa, khususnya televisi.
Proses sosialisasi seakan-akan tidak sempurna karena adanya saling pertentangan
antara agen sosialisasi yang satu dengan agen yang lain, seperti antara sekolah dan
keluarga berhadapan dengan media massa. Lama kelamaan seseorang akan
terpengaruh dengan cara-cara yang kurang baik, sehingga terjadilah
penyimpanganpenyimpangan dalam masyarakat.
2) Penyimpangan sebagai Hasil Sosialisasi dari Nilai- Nilai Subkebudayaan
Menyimpang
Shaw dan Mc. Kay mengatakan bahwa daerah-daerah yang tidak teratur dan tidak
ada organisasi yang baik akan cenderung melahirkan daerah kejahatan. Di
daerahdaerah yang demikian, perilaku menyimpang (kejahatan) dianggap sebagai
sesuatu yang wajar yang sudah tertanam dalam kepribadian masyarakat itu. Dengan
demikian, proses sosialisasi tersebut merupakan proses pembentukan nilai-nilai dari
subkebudayaan yang menyimpang.
Contohnya di daerah lingkungan perampok terdapat nilai dan norma yang
menyimpang dari kebudayaan setempat. Nilai dan norma sosial itu sudah dihayati
oleh anggota kelompok sebagai proses sosialisasi yang wajar. Perilaku menyimpang
seperti di atas merupakan penyakit mental yang banyak berpengaruh terhadap
kehidupan masyarakat. Sehubungan dengan itu kita mengenal konsep anomie yang
dikemukakan oleh Emile Durkheim . Anomie adalah keadaan yang kontras antara
pengaruh subkebudayaan-subkebudayaan dengan kenyataan sehari-hari dalam
masyarakat. Indikasinya adalah masyarakat seakan-akan tidak mempunyai aturanaturan yang dijadikan pegangan atau pedoman dan untuk ditaati bersama.
Akibat tidak adanya keserasian dan keselarasan, normanorma dalam masyarakat
menjadi lumpuh dan arahnya menjadi samar-samar. Apabila hal itu berlangsung
lama dalam masyarakat, maka besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi.
Anggota masyarakat akan bingung dan sulit memperoleh pedoman. Akhirnya,
mereka memilih cara atau jalan sendiri-sendiri. Jalan yang ditempuh tidak jarang
berupa perilaku-perilaku yang menyimpang.
3) Proses Belajar yang Menyimpang
Mekanisme proses belajar perilaku menyimpang sama halnya dengan proses belajar
terhadap hal-hal lain yang ada di masyarakat. Proses belajar itu dilakukan terhadap
orang-orang yang melakukan perbuatan menyimpang. Misalnya, seorang anak yang
sering mencuri uang dari tas temannya mula-mula mempelajari cara mengambil
uang tersebut mulai dari cara yang paling sederhana hingga yang lebih rumit. Cara
ini dipelajarinya melalui media maupun secara langsung dari orang yang
berhubungan dengannya. Penjelasan ini menerangkan bahwa untuk menjadi
penjahat kelas 'kakap', seseorang harus mempelajari terlebih dahulu bagaimana
cara yang paling efisien untuk beroperasi.
4) Ikatan Sosial yang Berlainan

Dalam masyarakat, setiap orang biasanya berhubungan dengan beberapa kelompok


yang berbeda. Hubungan dengan kelompok-kelompok tersebut akan cenderung
membuatnya mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang paling dihargainya.
Dalam hubungan ini, individu tersebut akan memperoleh pola-pola sikap dan
perilaku kelompoknya. Apabila pergaulan itu memiliki pola-pola sikap dan perilaku
yang menyimpang, maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan pola-pola
perilaku menyimpang. Misalnya seorang anak yang bergaul dengan kelompok orang
yang sering melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya. Kemungkinan besar dia
juga akan melakukan tindakan serupa.
5) Ketegangan antara Kebudayaan dan Struktur Sosial
Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan-tujuan yang dianjurkan oleh
kebudayaannya, tetapi juga caracara yang diperkenankan oleh kebudayaannya itu
untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Apabila seseorang tidak diberi
peluang untuk menggunakan caracara ini dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
maka kemungkinan besar akan terjadi perilaku menyimpang. Misalnya dalam
sebuah perusahaan, pengusaha memberikan upah kepada buruhnya di bawah
standar UMK. Hal itu apabila dibiarkan berlarut-larut, maka ada kemungkinan si
buruh akan melakukan penyimpangan, seperti melakukan demonstrasi atau mogok
kerja.
3. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang
Di masyarakat kita mengenal bentuk-bentuk penyimpangan yang terdiri atas
penyimpangan individual ( individual deviation ), penyimpangan kelompok ( group
deviation ), dan penyimpangan gabungan dari keduanya ( mixture of both
deviation ). Terkadang ada pula yang menambahkan dengan penyimpangan primer
( primary deviation ) dan penyimpangan sekunder ( secondary deviation ).
a. Penyimpangan Individual ( Individual Deviation )
Penyimpangan ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah mengabaikan dan
menolak norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Orang seperti itu
biasanya mempunyai kelainan atau mempunyai penyakit mental sehingga tidak
dapat mengendalikan dirinya. Contohnya seorang anak yang ingin menguasai
warisan atau harta peninggalan orang tuanya. Ia mengabaikan saudarasaudaranya
yang lain. Ia menolak norma-norma pembagian warisan menurut adat masyarakat
maupun menurut norma agama. Ia menjual semua peninggalan harta orang tuanya
untuk kepentingan diri sendiri.
Penyimpangan yang bersifat individual sesuai dengan kadar penyimpangannya
dibedakan atas pembandel, pembangkang, perusuh atau penjahat, dan munafik.
1) Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua agar
mengubah pendiriannya yang kurang baik.
2) Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan orangorang.
3) Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum yang
berlaku. Misalnya orang yang melanggar rambu-rambu lalu lintas pada saat di jalan
raya.
4) Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-norma
umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya.
Misalnya pencuri, penjambret, penodong, dan lain-lain.
5) Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong,
berkhianat, dan berlagak membela.
b. Penyimpangan Kelompok ( Group Deviation )

Penyimpangan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma
kelompoknya, namun bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku.
Penyimpangan ini terjadi dalam subkebudayaan menyimpang yang umumnya telah
memiliki norma, nilai, sikap, dan tradisi sendiri, sehingga cenderung untuk menolak
norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang lebih luas. Contohnya kelompok
orang yang menyelundupkan serta menyalahgunakan narkotika dan obat-obatan
terlarang lainnya, teroris, kelompok preman, dan separatis. Mereka memiliki aturanaturan sendiri yang harus dipatuhi oleh anggotanya.
Dalam melakukan aksinya, mereka memiliki aturan permainan yang cermat,
termasuk dalam membentuk jaringan yang kuat untuk melakukan kejahatannya,
sehingga sulit dilacak dan dibongkar pihak yang berwenang, dalam hal ini
kepolisian.
c. Penyimpangan Campuran ( Mixture of Both Deviation )
Sebagian remaja yang putus sekolah (penyimpangan individual) dan pengangguran
yang frustasi (penyimpangan individual), biasanya merasa tersisih dari pergaulan
dan kehidupan masyarakat. Mereka sering berpikir seperti anak orang
berkecukupan, yang akhirnya menempuh jalan pinta untuk hidup enak. Di bawah
pimpinan seorang tokoh yang terpilih karena kenekatan dan kebrutalannya, mereka
berkelompok dalam 'organisasi rahasia' (penyimpangan kelompok) dengan memiliki
norma yang mereka buat sendiri. Pada dasarnya norma yang mereka buat
bertentangan dengan norma yang berlaku umum di masyarakat.
Penyimpangan seperti itu ada yang dilakukan oleh suatu golongan sosial yang
memiliki organisasi yang rapi, sehingga individu ataupun kelompok di dalamnya taat
dan tunduk kepada norma golongan yang secara keseluruhan mengabaikan norma
yang berlaku. Misalnya gank-gankanak nakal. Kelompok semacam itu dapat
berkembang menjadi semacam kelompok mafia dunia kejahatan yang terdiri atas
preman-preman yang sangat meresahkan masyarakat.
d. Penyimpangan Primer ( Primary Deviation )
Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang, di mana hanya bersifat temporer atau
sementara dan tidak berulang-ulang. Individu yang melakukan penyimpangan ini
masih dapat diterima oleh masyarakat karena hidupnya tidak didominasi oleh pola
perilaku menyimpang tersebut dan di lain kesempatan tidak akan melakukannya
lagi. Misalnya seorang siswa yang terlambat masuk sekolah karena ban sepeda
motornya bocor, seseorang yang menunda pembayaran pajak karena alasan
keuangan yang tidak mencukupi, atau pengemudi kendaraan bermotor yang
sesekali melanggar rambu-rambu lalu lintas.
e. Penyimpangan Sekunder ( Secondary Deviation )
Penyimpangan ini dilakukan oleh seseorang secara terusmenerus, sehingga
akibatnya pun cukup parah serta mengganggu orang lain. Dalam penyimpangan ini,
seseorang secara khas memperlihatkan perilaku menyimpang yang secara umum
dikenal sebagai seorang yang menyimpang. Masyarakat tidak dapat menerima dan
tidak menghendaki individu semacam itu hidup bersama dalam masyarakat mereka.
Misalnya seorang siswa yang sering tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Contoh
lainnya adalah seseorang yang sering mabuk-mabukan baik di rumah, di pesta,
maupun di tempat umum serta seseorang yang sering melakukan pencurian,
perampokan, dan tindak kriminal lainnya.
Bentuk-bentuk penyimpangan tersebut harus diatasi karena penyimpangan
menyangkut masalah mental perilaku. Misalnya, melalui berbagai penataran,
pendidikan keagamaan, pemulihan disiplin, serta pelatihan-pelatihan lainnya.
4. Ciri-Ciri Perilaku Menyimpang

Kita tahu bahwa perilaku menyimpang merupakan tindakan yang tidak dikehendaki
oleh masyarakat karena telah melanggar norma atau aturan-aturan yang berlaku.
Namun tetap saja perilaku menyimpang itu ada dalam masyarakat. Ada beberapa
kriteria yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu tindakan dikatakan
sebagai perilaku menyimpang. Tahukah kamu, ciri-ciri apa sajakah yang dimaksud?
MenurutPaul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Penyimpangan Harus Dapat Didefinisikan
Suatu perbuatan anggota masyarakat dapat dikatakan menyimpang apabila
memang didefinisikan sebagai menyimpang. Perilaku menyimpang bukanlah
semata-mata ciri tindakan yang dilakukan orang, melainkan akibat dari adanya
peraturan dan penerapan sanksi yang dilakukan oleh orang lain terhadap perilaku
tersebut. Singkatnya, penilaian menyimpang tidaknya suatu perilaku harus berdasar
kriteria tertentu dan diketahui penyebabnya.
b. Penyimpangan Bisa Diterima Bisa juga Ditolak
Perilaku menyimpang ada yang positif dan negatif. Positif, apabila penyimpangan
yang diterima bahkan dipuji dan dihormati, seperti penemuan baru oleh para ahli itu
kadangkadang bertentangan budaya masyarakat. Sedangkan penyimpangan negatif
adalah penyimpangan yang ditolak oleh masyarakat, seperti perampokan,
pembunuhan terhadap etnis tertentu, dan menyebarkan teror dengan bom atau gas
beracun.
c. Penyimpangan Relatif dan Mutlak
Dalam masyarakat, tidak ada seorang pun yang masuk dalam kategori sepenuhnya
penurut (konformis) ataupun sepenuhnya penyimpang (orang yang benar-benar
menyimpang). Orang yang termasuk kedua kategori itu justru akan mengalami
kesulitan dalam kehidupannya.
Pada dasarnya semua orang normal sesekali pernah melakukan tindakan
menyimpang, tetapi pada batas-batas tertentu yang bersifat relatif untuk setiap
orang. Perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar penyimpangannya saja.
Secara umum, penyimpangan yang dilakukan tiap orang cenderung relatif. Bahkan
orang yang tadinya penyimpang mutlak lambat laun harus berkompromi dengan
lingkungannya.
d. Penyimpangan terhadap Budaya Nyata ataukah Budaya Ideal
Budaya ideal adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu kelompok
masyarakat. Dalam kenyataan di masyarakat, banyak anggota masyarakat yang
tidak patuh terhadap segenap peraturan resmi tersebut. Jadi antara budaya nyata
dengan budaya ideal selalu terjadi kesenjangan. Artinya, peraturan yang telah
menjadi pengetahuan umum dalam kenyataan sehari-hari cenderung banyak
dilanggar. Contohnya peraturan mengenai penggunaan helm pada saat
mengendarai sepeda motor. Banyak masyarakat yang melanggar peraturan
tersebut, di mana kita dapat melihat di jalan-jalan banyak orang mengendarai
sepeda motor tanpa memakai helm.
e. Terdapat Norma-Norma Penghindaran dalam Penyimpangan
Norma penghindaran ini muncul apabila pada suatu masyarakat terdapat nilai atau
norma yang melarang suatu perbuatan yang ingin sekali diperbuat oleh banyak
orang. Apakah norma penghindaran itu? Pola perbuatan yang dilakukan orang untuk
memenuhi keinginan mereka, tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan
secara terbuka. Jadi, norma-norma penghindaran merupakan suatu bentuk
penyimpangan perilaku yang bersifat setengah melembaga ( semi-institusionalized ).
f. Penyimpangan Sosial Bersifat Adaptif (Menyesuaikan)

Tidak selamanya penyimpangan sosial menjadi ancaman bagi kehidupan


masyarakat, karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemelihara
stabilitas sosial. Perilaku apa yang kita harapkan dari orang lain, apa yang orang lain
inginkan dari kita, serta wujud masyarakat seperti apa yang pantas bagi sosialisasi
anggotanya. Di lain pihak, perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk
menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Tidak ada masyarakat yang
mampu bertahan dalam kondisi statis untuk jangka waktu yang lama. Masyarakat
yang terisolasi sekalipun akan mengalami perubahan. Ledakan penduduk,
perubahan teknologi, serta hilangnya kebudayaan lokal dan tradisional
mengharuskan banyak orang menerapkan norma-norma baru.
5. Sifat-Sifat Perilaku Menyimpang
Dalam masyarakat kita mengenal dua sifat perilaku menyimpang yaitu perilaku
menyimpang yang bersifat positif dan perilaku menyimpang yang bersifat negatif.
a. Penyimpangan yang Bersifat Positif
Penyimpangan yang bersifat positif adalah penyimpangan yang tidak sesuai dengan
aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku, tetapi mempunyai dampak positif
terhadap sistem sosial. Atau dengan kata lain, penyimpangan yang terarah pada
nilai-nilai sosial yang ideal (didambakan) walaupun cara atau tindakan yang
dilakukan itu seolah-olah atau tampaknya menyimpang dari norma yang berlaku,
padahal sebenarnya tidak. Seseorang dikatakan menyimpang secara positif apabila
dia berusaha merealisasikan suatu citacita, namun masyarakat pada umumnya
menolak atau tidak dapat menerima caranya. Akibatnya orang tersebut akan
menerima celaan dari masyarakat. Dapatkah kamu menyebutkan contohcontohnya?
b. Penyimpangan yang Bersifat Negatif
Penyimpangan negatif adalah kecenderungan bertindak ke arah nilai-nilai sosial
yang dipandang rendah dan akibatnya selalu buruk. Jenis tindakan seperti ini
dianggap tercela dalam masyarakat. Si pelaku bahkan bisa dikucilkan dari
masyarakat. Bobot penyimpangan negatif itu diukur menurut kaidah susila dan adat
istiadat, sehingga sanksi yang diberikan kepada pelanggarnya dinilai lebih berat
daripada pelanggaran terhadap tata cara dan sopan santun. Contohnya pencurian,
perampokan, pelacuran, dan pemerkosaan.
6. Tipe-Tipe Perilaku Menyimpang
Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang dapat digolongkan menjadi
empat tipe, yaitu tindakan kriminal atau kejahatan, penyimpangan seksual,
penyimpangan dalam bentuk pemakaian atau konsumsi secara berlebihan, serta
penyimpangan dalam gaya hidup (lifestyle ).
a. Tindakan Kriminal atau Kejahatan
Tindakan kriminal merupakan suatu bentuk penyimpangan yang dilakukan oleh
seseorang atau kelompok terhadap nilai dan norma atau peraturan perundangundangan yang berlaku di masyarakat. Kita mengenal dua jenis kejahatan seperti
yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu violent
offenses dan property offenses .
1) Violent offenses atau kejahatan yang disertai dengan kekerasan pada orang lain,
seperti pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, dan lain sebagainya.
2) Property offenses atau kejahatan yang menyangkut hak milik orang lain, seperti
perampasan, pencurian tanpa kekerasan, dan lain sebagainya. Sementara itu Light,
Keller, dan Callhoun dalam bukunya yang berjudul Sociology (1989) membedakan
kejahatan menjadi empat tipe, yaitu crime without victim, organized crime, white
collar crime, dan corporate crime.

1) White Collar Crime (Kejahatan Kerah Putih)


Kejahatan ini mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh orang yang terpandang
atau berstatus tinggi dalam hal pekerjaannya. Contohnya penghindaran pajak,
penggelapan uang perusahaan, manipulasi data keuangan sebuah perusahaan
(korupsi), dan lain sebagainya.
2) Crime Without Victim (Kejahatan Tanpa Korban)
Kejahatan tidak menimbulkan penderitaan pada korban secara langsung akibat
tindak pidana yang dilakukan. Contohnya berjudi, mabuk, dan hubungan seks yang
tidak sah tetapi dilakukan secara sukarela.
3) Organized Crime (Kejahatan Terorganisir)
Kejahatan ini dilakukan secara terorganisir dan berkesinambungan dengan
menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan (biasaya
lebih ke materiil) dengan jalan menghindari hukum. Contohnya penyedia jasa
pelacuran, penadah barang curian, perdagangan perempuan ke luar negeri untuk
komoditas seksual, dan lain sebagainya.
4) Corporate Crime (Kejahatan Korporasi)
Kejahatan ini dilakukan atas nama organisasi formal dengan tujuan menaikkan
keuntungan dan menekan kerugian. Lebih lanjut Light, Keller, dan Callhoun
membagi tipe kejahatan korporasi ini menjadi empat, yaitu kejahatan terhadap
konsumen, kejahatan terhadap publik, kejahatan terhadap pemilik perusahaan, dan
kejahatan terhadap karyawan.
b. Penyimpangan Seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan oleh
masyarakat. Adapun beberapa jenis perilaku ini di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Perzinaan, yaitu hubungan seksual di luar nikah.
2) Homoseksual, yaitu hubungan seksual yang dilakukan dengan sesama jenis.
Homoseksual dibedakan atas lesbian dan homoseks. Lesbian adalah sebutan bagi
wanita yang melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita, sedangkan
homoseks adalah sebutan bagi pria yang melakukan hubungan seksual dengan
sesama pria.
3) Kumpul kebo, yaitu hidup bersama seperti suami istri, namun tanpa ada ikatan
pernikahan.
4) Sadomasochist , yaitu pemuasan nafsu seksual dengan melakukan penyiksaan
terhadap pasangannya.
5) Paedophilia , yaitu memuaskan keinginan seksual yang dilampiaskan kepada
anak kecil.
6) Sodomi, yaitu hubungan seksual yang dilakukan melalui anus atau dubur.
7) Gerontophilia , yaitu hubungan seksual yang dilakukan dengan orang-orang
lanjut usia.
c. Penyimpangan dalam Bentuk Pemakaian atau Konsumsi Berlebihan
Penyimpangan ini biasanya diidentikkan dengan pemakaian dan pengedaran
narkoba atau obat-obatan terlarang serta alkoholisme. Hal ini lebih banyak terjadi
pada kaum remaja karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil dan
cenderung ingin mencoba serta adanya rasa keingintahuan yang besar terhadap
suatu hal.
Menurut Dr. Graham Baliane (Kartini Kartono, 1992) kaum muda atau remaja lebih
mudah terjerumus pada penggunaan narkotika karena faktor-faktor sebagai berikut.
1) Ingin membuktikan keberaniannya dalam melakukan tindakan berbahaya.
2) Ingin menunjukkan tindakan menentang terhadap orang tua yang otoriter.
3) Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional.

4) Ingin mencari dan menemukan arti hidup.


5) Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan.
6) Ingin menghilangkan kegelisahan.
7) Solidaritas di antara kawan.
Ingin tahu.
Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol secara berlebih dilarang oleh hukum
karena dapat mendorong terjadinya tindak kriminal yang lain. Selain dapat
membahayakan diri sendiri dan orang lain. Bahaya terhadap diri sendiri, antara lain
dapat merusak organ-organ tubuh, sehingga tidak berfungsi sempurna, bahkan
susunan syaraf yang berfungsi sebagai pengendali daya pikir turut pula dirusak.
Akibatnya tidak dapat berpikir secara rasional dan cenderung untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat.
d. Penyimpangan dalam Bentuk Gaya Hidup
Di masyarakat, kita bisa menemukan berbagai gaya hidup yang antara orang yang
satu dengan orang yang lain mungkin terdapat perbedaan-perbedaan. Gaya hidup
setiap orang bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pendapatan, kemampuan pribadi,
dan lain-lain. Namun demikian gaya hidup seseorang juga dapat menimbulkan suatu
penyimpangan dalam masyarakat. Gaya hidup yang bagaimanakah itu? Ada dua
bentuk penyimpangan dalam gaya hidup yang lain dari biasanya, yaitu sikap
organisasi dan sikap eksentrik.
1) Sikap arogansi adalah kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti
kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian. Atau bisa saja sikap itu dilakukan untuk
menutupi kekurangannya.
2) Sikap eksentrik adalah perbuatan yang menyimpang dari biasanya, sehingga
dianggap aneh. Misalnya anak lakilaki memakai anting-anting, berambut panjang.
7. Teori-Teori Perilaku Menyimpang
Dalam sosiologi dikenal berbagai teori yang membahas perilaku menyimpang, yaitu
Teori Pergaulan Berbeda, Teori Fungsi, dan Teori Tipologi Adaptasi.
a. Teori Pergaulan Berbeda ( Differential Association )
Teori ini dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland . Menurut teori ini, penyimpangan
bersumber dari pergaulan dengan sekelompok orang yang telah menyimpang.
Penyimpangan diperoleh melalui proses alih budaya (cultural transmission) . Melalui
proses ini seseorang mempelajari suatu subkebudayaan menyimpang (deviant
subculture).
Contohnya perilaku siswa yang suka bolos sekolah. Perilaku tersebut dipelajarinya
dengan melakukan pergaulan dengan orang-orang yang sering bolos sekolah.
Melalui pergaulan itu ia mencoba untuk melakukan penyimpangan tersebut,
sehingga menjadi pelaku perilaku menyimpang.
b. Teori Labelling
Teori ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemert . Menurut teori ini, seseorang menjadi
penyimpang karena proses labelling yang diberikan masyarakat kepadanya.
Maksudnya adalah pemberian julukan atau cap yang biasanya negatif kepada
seseorang yang telah melakukan penyimpangan primer (primary deviation )
misalnya pencuri, penipu, pemerkosa, pemabuk, dan sebagainya. Sebagai
tanggapan terhadap cap itu, si pelaku penyimpangan kemudian mengidentifikasikan
dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangannya sehingga terjadi

dengan penyimpangan sekunder ( secondary deviation) . Alasannya adalah sudah


terlanjur basah atau kepalang tanggung.
c. Teori Fungsi
Teori ini dikemukakan oleh Emile Durkheim . Menurut teori ini, keseragaman dalam
kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak dimungkinkan karena setiap
individu berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dipengaruhi
oleh faktor lingkungan, fisik, dan keturunan. Oleh karena itu dalam suatu masyarakat
orang yang berwatak jahat akan selalu ada, dan kejahatanpun juga akan selalu ada.
Durkheim bahkan berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi masyarakat, karena
dengan adanya kejahatan, maka moralitas dan hukum dapat berkembang secara
normal.
d. Teori Konflik
Teori ini dikembangkan oleh penganut Teori Konflik Karl Marx . Para penganut teori
ini berpandangan bahwa kejahatan terkait erat dengan perkembangan kapitalisme.
Sehingga perilaku menyimpang diciptakan oleh kelompokkelompok berkuasa dalam
masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri. Pandangan ini juga
mengatakan bahwa hukum merupakan cerminan kepentingan kelas yang berkuasa
dan sistem peradilan pidana mencerminkan nilai dan kepentingan mereka.
e. Teori Tipologi Adaptasi
Dengan menggunakan teori ini, Robert K. Merton mencoba menjelaskan
penyimpangan melalui struktur sosial. Menurut teori ini, struktur sosial bukan hanya
menghasilkan perilaku yang konformis saja, tetapi juga menghasilkan perilaku
menyimpang. Dalam struktur sosial dijumpai tujuan atau kepentingan, di mana
tujuan tersebut adalah halhal yang pantas dan baik. Selain itu, diatur juga cara untuk
meraih tujuan tersebut. Apabila tidak ada kaitan antara tujuan (cita-cita) yang
ditetapkan dengan cara untuk mencapainya, maka akan terjadi penyimpangan.
Dalam hal ini Merton mengemukakan tipologi cara-cara adaptasi terhadap situasi,
yaitu konformitas, inovasi, ritualisme, pengasingan diri, dan pemberontakan
(keempat yang terakhir merupakan perilaku menyimpang). Perhatikan tabel di
bawah ini.
Tanda '+' berarti ada penyelarasan, di mana warga masyarakat menerima nilai-nilai
sosiobudaya atau norma-norma yang ada, sedangkan tanda '-' berarti menolaknya.
Adapaun tanda '+/-' menunjuk pada pola-pola perilaku yang menolak serta
menghendaki nilai-nilai dan norma-norma yang baru.
Keterangan:
1. Konformitas ( conformity ) , merupakan cara adaptasi dimana pelaku mengikuti
tujuan dan cara yang ditentukan oleh masyarakat. Misalnya Gaelan belajar dengan
sungguh-sungguh agar nilai ulangannya bagus.
2. Inovasi ( inovation ), terjadi apabila seseorang menerima tujuan yang sesuai
dengan nilai-nilai budaya yang diidamkan masyarakat, tetapi menolak norma dan
kaidah yang berlaku. Misalnya untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM), Arif
tidak mengikuti ujian, melainkan melalui calo.
3. Ritualisme ( ritualism ), terjadi apabila seseorang menerima cara-cara yang
diperkenankan secara kultural, namun menolak tujuan-tujuan kebudayaan. Misalnya,
walaupun tidak mempunyai keahlian atau keterampilan di bidang komputer, Mita
berusaha untuk mendapatkan
ijazah itu agar diterima kerja di perusahaan asing.
4. Pengasingan diri ( retreatism ), timbul apabila seseorang menolak tujuan-tujuan
yang disetujui maupun cara-cara pencapaian tujuan tersebut. Dengan kata lain,

pengasingan diri terjadi apabila nilai-nilai sosial budaya yang berlaku tidak dapat
dicapai melalui cara-cara yang telah ditetapkan. Misalnya tindakan siswa yang
membakar gedung sekolahnya karena tidak lulus Ujian Akhir Nasional.
5. Pemberontakan ( rebellion ), terjadi apabila seseorang menolak sarana maupun
tujuan yang disahkan oleh kebudayaan dan menggantikannya dengan yang lain.
Misalnya pemberontakan G 30S/PKI yang ingin mengganti ideologi Pancasila
dengan ideologi komunis.

Gangguan Mental dan Pengendalian Emosi


Tanggapan Terhadap Keraguan Seorang Psikiater
Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Boston Massachusetts, A.S. 28 Oktober 1989 (Asal
dalam bahasa Inggris)
T: Saya adalah seorang psikiater dan sedang meneliti tentang sakit mental. Ada berbagai
masalah yang masih belum terjawab. Pertanyaan saya adalah: Ini sebenarnya yang
dipertanyakan oleh para ilmuwan, bahwa setelah pencerahan, apakah ada jawaban yang lebih
cepat dari suatu tempat di atas sana terhadap masalah ini, atau apakah para ilmuwan masih
harus berpatokan pada metode ilmiah mereka dalam mencoba memecahkan masalah mereka?
G: Ada jawaban yang lebih cepat selain dari penelitian ilmiah.
T: Dan apakah itu langsung terjawab atau bisakah Anda jelaskan bagaimana itu dapat
terjawab?
G: Ya, itu langsung terjawab, secara alami. Anda sendiri tahu, kita memiliki otak yang hanya
kita gunakan lima persennya saja. Semua orang mengetahuinya termasuk para ilmuwan, jadi
ada sembilan puluh lima persen lainnya yang tetap tertidur dengan berbagai potensi,
informasi, dan kemampuan. Ketika otak Anda yang penuh kekuatan ini terbangunkan, maka
Anda akan mendapat semua jawaban, dimana jawaban ini baru bisa Anda dapati dengan
meneliti selama bertahun-tahun, dan bahkan hasil penelitian Anda selama bertahun-tahun itu
kadang tidak tepat.
Para ilmuwan kadang membuktikan bahwa jawaban itu benar, namun di tahun berikutnya
mereka membuktikan yang lain, dan di tahun berikutnya lain lagi, karena kita hanya

menggunakan kekuatan terbatas, bukannya menggunakan seluruh kekuatan. Jadi metode


pencerahan bukanlah sesuatu yang baru dan misterius. Itu hanya sebuah cara untuk
membangunkan seluruh kemampuan Anda, seluruh kekuatan kecerdasan Anda. Sembilan
puluh lima persen itu masih di sana, jadi Anda akan mendapat jawaban dengan lebih cepat
melalui meditasi.

Berbagai Penyebab Gangguan Jiwa


Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Vienna Austria, 27 April 1993 (Asal dalam bahasa
Jerman)
T: Sebenarnya apa yang ada di dalam batin orang-orang yang sakit jiwa? Dapatkah jiwa itu
menjadi sakit?
G: Sang jiwa sebenarnya tidak dapat sakit tapi jika diri kita terkena suatu penyakit, atau tubuh
fisik kita terganggu pikirannya, maka kita akan menderita. Tapi Jiwa tidak akan pernah
menjadi sakit. Dan mengenai orang-orang yang pikirannya terganggu, ada banyak
penyebabnya. Mungkin orang itu tidak dapat lagi menahan beban dari masyarakat kita dan
mungkin ia terlalu lemah. Atau mungkin mereka berkeinginan besar terhadap hal-hal tertentu
yang tidak dapat mereka miliki. Ada berbagai penyebab. Jika seseorang jatuh cinta dan orang
yang dicintainya itu tidak menanggapi, maka orang tersebut juga akan menjadi sakit. Ada
banyak penyebab juga. Ada pula orang yang bermeditasi dengan tanpa seorang guru dimana
kadang ketika mereka bermeditasi dan mendapat kelebihan energi di dalam batinnya, dimana
ini terlalu kuat bagi daya tahan mereka. Jadi kadang berbahaya juga jika seseorang
bermeditasi dengan tanpa pemandu dari seorang guru atau maha guru yang berpengalaman.

Bolehkah Orang-orang yang Tertekan Mentalnya Berlatih Meditasi?


Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Singapura, 10 Januari 1995 (Asal dalam bahasa
Inggris)
T: Guru, bolehkah mereka yang memiliki tekanan mental berlatih meditasi?
G: Jika mereka memahami apa yang saya maksudkan dalam ceramah hari ini, jika mereka
mampu memahami ajarannya, maka mereka boleh berlatih, karena kadang kala gangguan
mental itu datang dari depresi, terlalu banyak tekanan dari masyarakat. Itu hanyalah akibat
dari upaya untuk menghindari masalah, mencoba menghindari beban dari masyarakat dan
sama sekali bukan suatu penyakit. Jadi itu hanya sementara saja dan mereka dapat bangun
lagi, tentu saja disembuhkan dengan lebih cepat melalui meditasi.

Pengendalian Emosi yang EfektifPentingnya Menyalurkan Amarah


Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Tel Aviv Israel, 21 November 1999 (Asal dalam
bahasa Inggris)
T: Apa yang dapat saya lakukan ketika marah atau terluka? Bagaimana saya dapat
menghentikan perasaan ini?
G: Jangan hentikan itu; jangan hentikan perasaan terluka dan kemarahan Anda. Segera
lampiaskan perasaan itu dengan tanpa kebencian dan setelah itu segera obati. Marah, sakit
dan terluka adalah perasaan alami dari elemen-elemen tubuh. Hanya saja Anda tidak tahu
bagaimana mengendalikan kemarahan; itulah masalahnya.
Itu tidak apa-apa: Bila seseorang menyakiti Anda, tapi tentu saja Anda akan merasa terluka.
Anda bukanlah meja yang terbuat dari kayu! Dan ketika orang-orang membuat Anda marah
dengan tanpa alasan atau Anda berpikir bahwa mereka membuat Anda marah, Anda boleh
marah. Itu normal saja, tapi kita harus paham bahwa secara alami kemarahan bukanlah cara
penyelesaian yang membangun. Jadi jika Anda harus marah, maka keluarkanlah itu. Jangan
terlalu banyak menekan kemarahan, jika tidak Anda akan jatuh sakit atau menjadi gila.
Marah adalah perasaan alami; hanya saja Anda seharusnya jangan berlarut-larut terlalu lama
karena Anda sendiri dapat jatuh ke dalamnya. Itu tidak baik bagi Anda dan bagi orang lain
yang terlibat. Jadi marahlah dan bicaralah. Anda tidak harus berbicara dengan ketus dan
menyakitkan; hanya jelaskan saja pendapat Anda dan katakan kepada mereka bahwa mereka
membuat Anda marah karena suatu alasan dan Anda berharap bahwa di kemudian hari, hal ini
tidak akan terjadi lagi karena Anda tidak akan bertoleransi lagi. Jelaskan pendapat Anda,
selesaikan masalahnya dan saling menyayangi lagi satu sama lain.
Ketika kita muda, kebanyakan kita berpikir bahwa kita seharusnya tidak menunjukkan
perasaan marah dan terluka. Dan kemudian kita terus menekan perasaan itu dan berpikir
bahwa itu tidak baik. Tapi ini adalah perasaan batin kita yang alami; kita tidak dapat
menekannya. Jadi kita hanya dapat membiarkannya, dan sekarang kita tahu bahwa perasaan
marah itu hanyalah sifat dari diri kita; kita dapat mengendalikannya dan tidak membiarkan
perasaan marah itu yang mengendalikan kita. Itu saja.
Kita hanya berkata, Oke, saya marah karena Anda menyakiti saya. Jika seseorang memukul
Anda, Anda akan merasa sakit. Itu lumrah saja. Jadi bicarakanlah karena kadang kala itu
hanya salah paham saja; Anda bicara saja pada orang itu dan ia akan punya kesempatan untuk
menjelaskan, mungkin dengan berkata, Tidak, saya tidak bermaksud begitu. Maksud saya
begini... Kemudian, kedua pihak pun akan berbaikan. Jika orang itu bermaksud baik, maka
Anda tidak akan merasa marah lagi. Dan jika orang itu benar-benar bermaksud jahat, setelah
ia mengetahui bahwa Anda terluka, sakit hati atau marah, ia akan berubah karena ia
memahaminya. Dan hal itu baik juga bagi Anda berdua. Jika tidak, Anda berdua akan selalu

berakhir dengan berkata, Anda membuat saya sakit kepala, dan Anda membuat urat leher
saya sakit, atau juga Anda membuat seluruh tubuh saya sakit. (Tertawa) Memang begitu.
Perasaan marah yang terus dipendam dapat membuat fisik Anda sakit. Jadi jangan sakiti diri
Anda lagi dengan menelan racun perasaan amarah Anda sendiri. Keluarkan saja dengan cara
yang semestinya.

Manjakanlah Diri Anda dan Tegarlah


Disampaikan oleh Maha Guru Ching Hai, Paris Prancis, 26 Januari 1997 (Asal dalam bahasa
Inggris)
Ketika Tuhan memberikan kita beberapa keadaan merugikan, Ia juga memberikan kita
beberapa keuntungan. Misalnya, banyak lelaki homo dan wanita lesbian sebenarnya seorang
seniman yang sangat berbakat. Jadi jika Anda berpikir bahwa Anda memiliki keadaan
merugikan, cobalah temukan tantangan apa yang Tuhan berikan kepada Anda untuk
menyeimbangkan hidup Anda. Tuhan memang memberikannya. Jangan terus memikirkan
kesialan Anda dan mengurangi semangat Anda. Carilah keuntungan Anda, gunakanlah bakat
Anda, masuklah ke sisi positif hidup Anda yang Tuhan berikan kepada Anda untuk
mengangkat diri Anda sendiri.
Kapan pun Anda merasa tertekan dan benar-benar tidak dapat menahannya lagi, maka Anda
harus perlakukan diri Anda dengan lebih baik lagi. Pergilah ke kedai kopi terbaik yang sangat
Anda sukai tapi yang selalu Anda takuti untuk didatangi; dengan begitu Anda selalu
menginginkannya tapi Anda juga berpikir itu terlalu mahal. Perlakukanlah diri Anda dengan
baik karena pada saat itu Anda membutuhkannya. Sama seperti ketika Anda membantu orang
lain yang membutuhkan Anda harus menghiburnya, berikan dia yang terbaik, berikan dia
dukungan terbaik serta kasih sayang, dan manjakanlah dia. Anda harus manjakan diri Anda,
berikan diri Anda dukungan terbaik ketika Anda sangat membutuhkannya ketika Anda
merasa tertekan, ketika Anda merasa Anda benar-benar tidak dapat hidup lagi, dan tidak dapat
bertahan lagi. Pada saat itu Anda harus perlakukan diri Anda dengan lebih baik. Jika Anda
dapat membeli segalanya, maka beli saja. Anda dapat mencari uang lagi kemudian, karena
Anda akan punya waktu lagi, tapi pertama-tama Anda harus kuatkan diri Anda dulu. Anda
harus tegar dulu.
Saya tidak berkata bahwa Anda harus pergi berbelanja setiap hari dan menghabiskan uang
Anda di sebuah kedai kopi yang mahal, dan pada pakaian yang mahal. Tapi, ketika Anda
sangat tertekan dan Anda merasa tidak ingin hidup lagi, maka Anda jangan menekan diri
untuk berhemat lagi. Anda harus manjakan diri Anda, perlakukan diri Anda dengan baik,
supaya Anda dapat ceria lagi dengan sangat cepat. Pergilah berjalan-jalan dan menemui
teman-teman, perlakukanlah diri Anda seperti seorang ratu, pergilah berbelanja atau lakukan
apa pun yang membuat Anda senang. Tapi lakukan ini hanya pada waktu itu saja, tidak setiap

hari. Dan jika Anda mampu dan memiliki banyak uang, maka pergilah ke suatu tempat yang
jarang Anda datangi dimana dapat Anda tenemukan hal-hal baru yang amat Anda sukai
mungkin beberapa pakaian baru, model rambut yang baru, keritingan yang baru, apa pun
yang akan membuat Anda merasa langsung berbeda, seperti riasan yang baru. Ini tidak mahal.
Ini sama juga dengan para lelaki. Tapi kadang karena sudah menjadi kebiasaan, misalnya
selalu memakai pakaian yang berwarna gelap, selalu memakai dasi, kemudian kita menjadi
tertekan. Cobalah sesuatu yang baru untuk membuat pikiran Anda tidak tertekan; itu sangat
bagus. Jika biasanya Anda selalu memakai pakaian warna hitam, cokelat, dan biru, maka
cobalah pakaian berwarna putih, krem, yang berwarna cerah, atau warna merah muda.
Dandanilah diri Anda.

PERILAKU MENYIMPANG DAN PENGENDALIAN SOSIAL


Standar Kompetensi :
Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan kepribadian
Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial
Indikator :
1. Menjelaskan definisi perilaku menyimpang
2. Mendeskripsikan jenis-jenis perilaku menyimpang
3. Menjelaskan sebab-sebab terjadinya perilaku menyimpang
4. Mengidentifikasi terjadinya perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi yang tidak
sempurna
5. Mendeskripsikan cara-cara untuk menaggulangi terjadinya perilaku menyimpang
6. Menjelaskan lembaga dan sifat pengendalian sosial

A. PERILAKU MENYIMPANG
1. PENGERTIAN PERILAKU MENYIMPANG
a. Robert M Z Lawang

Penyimpangan adalah tindakan yang menyimpang dari normanorma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan
suatu usaha dari pihak berwenang untuk memperbaiki perilaku
orang yang menyimpang atau abnormal tersebut.
b. James Vander Zanden
Penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang
dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi.
c. Kartini Kartono
Penyimpangan (deviasi) merupakan tingkah laku yang menyimpang
dari tendensi sentral atau ciri-ciri karakteristik rata-rata dari rakyat
kebanyakan.
d. Bruce J. Cohen
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil
menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau
kelompok tertentu dalam masyarakat.
e. Paul B. Horton
Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai
pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat.
Dari beberapa definisi di atas dapat disederhanakan bahwa perilaku
menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma
yang berlaku di dalam masyarakat.
2. CIRI-CIRI PERILAKU MENYIMPANG
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak
c. Penyimpangan relative dan penyimpangan mutlak
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif atau menyesuaikan
3. BENTUK-BENTUK PERILAKU MENYIMPANG
a. Berdasarkan kekerapan atau berat-ringannya penyimpangan
1) Penyimpangan Primer (Primary Deviation)

Ciri-cirinya :
a. Bersifat sementara / temporer
b. Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang
c. Masyarakat masih mentolerir / menerima
Contoh: pegawai negeri yang membolos kerja, banyak minum
alkohol pada waktu pesta, siswa yang membolos atau
menyontek saat ujian dan pelanggaran lalu lintas.
2) Penyimpangan Sekunder (Secondary Deviation)
Ciri-cirinya :
a. Bersifat permanen / tetap
b. Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang
c. Masyarakat tidak bisa mentolerir perilaku menyimpang
tersebut.
Contoh: pembunuhan, perjudian, perampokan dan pemerkosaan.
b. Berdasarkan jumlah pelakunya
1) Penyimpangan Individu
Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan
oleh seseorang individu dengan melakukan tindakan-tindakan
yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Contohnya
pencurian yang dilakukan sendiri.
2) Penyimpangan Kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan
secara berkelompok dengan melakukan tindakan-tindakan
menyimpang dari norma-norma masyarakat yang berlaku. Pada
umumnya penyimpangan kelompok terjadi dalam sub
kebudayaan yang menyimpang yang ada dalam masyarakat.
Contohnya gank kejahatan atau mafia.
c. Berdasarkan sifatnya
1) Penyimpangan Positif
Penyimpangan positif adalah penyimpangan yang mempunyai
dampak positif karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan
memperkaya alternatif. Jadi penyimpangan positif merupakan
penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial yang
didambakan, meskipun cara yang dilakukan tampaknya
menyimpang dari norma yang berlaku. Contoh seseorang ibu
rumah tangga dengan terpaksa harus menjadi sopir taksi karena
desakan ekonomi.

2) Penyimpangan Negatif
Penyimpangan negatif adalah penyimpangan yang cenderung
bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan
berakibat buruk. Dalam Penyimpangan negatif, tidakan yang
dilakukan akan dicela oleh masyarakat dan pelakunya tidak
dapat ditolerir oleh masyarakat.
4. MEDIA PEMBENTUKAN PERILAKU MENYIMPANG
a. Keluarga
Kepribadian anak akan terbentuk dengan baik bila terlahir dalam
lingkungan keluarga yang baik dan sebaliknya. Keluarga merupakan
faktor penentu bagi perkembangan atau pembentukan kepribadian
seorang anak selanjutnya. Keluarga berfungsi mensosialisasikan
nilai-nilai yang baik dalam diri anak-anak. Kepribadian anak akan
cenderung negatif apabila terlahir dari keluarga yang kacau yang
dibebani berbagai macam permasalahan keluarga seperti orang tua
yang sering cekcok, kehilangan orang tua untuk membimbing dan
mendidik karena perang, orang tua yang kecanduan minuman keras
atau obat bius, pengangguran, bahkan terlibat dalam tindakan
kriminalitas serta kemiskinan yang mencekik dan sebagainya.
Keluarga semacam ini gagal mensosialisasikan nilai-nilai baik dalam
diri anak-anaknya.
b. Lingkungan Tempat Tinggal
Seorang individu yang tinggal dalam lingkungan yang baik, para
anggotanya taat beribadah, melakukan perbuatan-perbuatan yang
baik dan positif akan mempengaruhi kepribadian individu tersebut
untuk menjadi baik. Sebaliknya bila seorang individu hidup dan
tinggal dalam lingkungan yang buruk, warga masyarakatnya suka
melakukan
tindakan
kriminalitas
seperti
perampokan,
pencurian,suka menggunakan obat bius dan mengedarkan narkoba,
cenderung akan membentuk kepribadian yang buruk atau
menyimpang pada diri individu tersebut.
c. Kelompok Bermain
Adakalanya seorang individu memiliki kelompok bermain atau
pergaulan di luar lingkungan tempat tinggalnya misalnya di
lingkungan sekolah atau luar lingkungan sekolah. Jika individu
memiliki kelompok bermain yang positif, suka belajar dan
melakukan perbuatan yang baik maka perilakunya cenderung
positif. Sebaliknya apabila seorang individu mempunyai kelompok
bermain yang negatif maka pola perilakunya cenderung negatif /
menyimpang.

d. Media Massa
Media massa baik cetak maupun elektronik dapat memicu
maraknya perilaku menyimpang. Misalnya tayangan-tayangan yang
berbau pornografi, porno aksi, dan kekerasan membuat seseorang
yang menontonnya meniru perilaku menyimpang tersebut.

5. FAKTOR PENYEBAB PERILAKU MENYIMPANG


a. Sosialisasi Nilai-nilai Sub kebudayaan Menyimpang
Di dalam masyarakat terdapat bagian-bagian (sub-sub) atau
kelompok-kelompok
orang.
Setiap
kelompok
memiliki
ciri
kebudayaan sendiri, namun merupakan bagian dari keseluruhan
masyarakat itu. Inilah yang dimaksud sub kebudayaan. Sub
kebudayaan tadi bisa saja merupaka sub kebudayaan yang
menyimpang. Misalnya di sebuah lokalisasi pelacuran. Ditempat ini,
berzina dianggap sesuatu yang biasa (tidak menyimpang). Tetapi
menurut ukuran masyarakat luas hal itu dianggap menyimpang.
Seorang anak yang dibesarkan di tempat tersebut tentu juga akan
menganut nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang tadi, karena
kebudayaan itulah yang diajarkan kepadanya.

b. Pengaruh lingkungan dan Media Massa


Lingkungan kerja dan teman sepermainan dapat mempengaruhi
perilaku seseorang.
Demikian juga dengan penggambaran peristiwa, berita, dan
tayangan-tayangan yang menampilkan perilaku menyimpang
sangat berpotensi untuk ditiru oleh masyarakat. Hal ini karena
mayoritas masyarakat kita belum terbiasa menyeleksi atau
menganalisis secara kritis terhadap berbagai informasi yang datang.
c. Sikap mental yang tidak sehat
Sikap itu ditunjukkan dengan merasa tidak bersalah atau menyesal
atas perbuatannya, bahkan merasa senang.
d. Ketidaksanggupan menyerap norma
Ketidaksanggupan ini disebabkan karena individu menjalani proses
sosialisasi yang tidak sempurna, sehingga ia tidak sanggup
menjalankan peranannya sesuai dengan perilaku yang diharapakan
masyarakat.

e. Kegagalan dalam proses sosialisai


Proses sosialisasi bisa dianggap tidak berhasil jika individu tersebut
tidak berhasil dalam mendalami norma-norma masyarakat dalam
diri anggota keluarga.
f. Ketidakharmonisan dalam keluarga
Orang tua yang sering bertengkar/mempunyai masalah, ayah / ibu
mempunyai masalah dengan anaknya, atau sesama anak memiliki
masalah menyebabkan ketidaknyamanan di dalam keluarga. Kondisi
broken home mendorong mereka untuk mencari pelarian di luar
rumah dan kemudian membuat mereka berperilaku menyimpang
g. Pelampiasan rasa kecewa
Seseorang yang mengalami kekecewaan apabila tidak dapat
mengalihkan ke hal yang positif , maka ia akan berusaha mencari
pelarian untuk memuaskan rasa kecewanya.

h. Dorongan kebutuhan ekonomi


Perilaku menyimpang juga terjadi karena dorongan kebutuhan
ekonomi. Sulitnya mencari pekerjaan yang halal sedangkan
kebutuhan pokok seperti makan tidak dapat ditunda lebih lama
maka mendorong seseorang untuk berperilaku menyimpang.
i. Keinginan untuk dipuji
Seseorang dapat bertindak menyimpang karena keinginan untuk
mendapat pujian, seperti memiliki banyak uang, selalu berpakaian
mahal dan perhiasan yang mewah, atau gaya hidup yang mewah.
Agar keinginan ini terwujud, ia rela melakukan perbuatan
menyimpang seperti korupsi, menjual diri, merampok dll.
j. Proses Belajar yang Menyimpang
Hal ini terajadi melalui interaksi sosial dengan orang-orang yang
berperilaku menyimpang. Misalnya seorang anak yang bergaul
dengan
teman-temannya
yang
menggunakan
obat-obatan
terlarang.
k. Adanya Ikatan Sosial yang berlainan
Seorang individu cenderung mengidentifikasikan dirinya dengan
kelompok yang dihargai, dan akan lebih senang bergaul dengan
kelompok itu dari pada dengan kelompok lain. Seseorang akan

memperoleh pola-pola sikap dan perilaku kelompok tersebut. Dan


apabila kelompok ini adalah kelompok yang berperilaku
menyimpang, maka dia juga akan ikut berperilaku menyimpang..

6. PERILAKU MENYIMPANG SEBAGAI HASIL PROSES SOSIALISASI


YANG TIDAK SEMPURNA
Proses sosialisasi dianggap tidak berhasil jika individu tidak mampu
mendalami norma-norma masyarakat agar menjadi bagian dari
dirinya. Orang-orang yang demikian tidak memilki perasaan bersalah
atau menyesal setelah melakukan pelanggaran norma. Sosialisasi
yang dialami seorang individu berjalan tidak sempurna karena materi
informasi dan media sosialisasi yang satu dengan yang lain saling
bertentangan. Ada kalanya pesan-pesan yang disampaikan agen-agen
sosialisasi seperti keluarga, teman bermain, sekolah dan media massa
tidak sepadan atau saling bertentangan satu sama lain. Apa yang
diajarkan dalam keluarga mungkin berbeda atau bahkan bertentangan
dengan yang diajarkan di sekolah.
Proses sosialisasi yang tidak sempurna dapat juga timbul karena cacat
bawaan, kurang gizi, gangguan mental ataupun goncangan jiwa. Cacat
jasmaniah dapat menyebabkan persepsi-persepsi tetentu atau responrespon tingkah lakunya menjadi terhambat atau tidak berfungsi lagi,
sehingga tingkah lakunya menjadi sangat berbeda dengan tingkah
laku orang kebanyakan, dan pribadi orang yang bersangkutan
terhambat dalam melaksanakan peranan sosialnya.
7. TEORI-TEORI PENYIMPANGAN SOSIAL
a. Teori Differential Assosiation
Teori ini dikemukakan oleh Edwin H Sutherland. Ia berpendapat bahwa
penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan
dipelajari melalui proses alih budaya (cultural transmission). Contoh
proses menghisap ganja dan homoseksual.
b. Teori Labelling
Teri ini dikemukakan oleh Edwin M. Lemerd. Ia berpendapat bahwa
seseorang yang telah melakukan penyimpangan pada tahap primer
(pertama) lalu oleh masyarakat telah diberikan cap sebagai penyimpang
maka orang tersebut terdorong untuk melakukan penyimpangan sekunder
(tahap lanjut) dengan alasan kepalang tanggung. Contohnya seorang
yang pernah sekali mencuri dengan alasan kebutuhan, tetapi kemudian
oleh masyarakat dijuluki pencuri, maka ia akan terdorong menjadi pencuri
bahkan dapat menjadi perampok.

c. Teori Merton
Robert King Merton menjelaskan penyimpangan melalui struktur sosial.
Menurut Merton, struktur sosial tidak hanya menghasilkan perilaku yang
konformis, tetapi juga perilaku yang menyimpang. Struktur sosial
menghasilkan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang
tertentu ke arah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang
berlaku dalam masyarakat. Merton juga menyatakan bahwa perilaku
menyimpang terjadi karena tidak adanya kaitan antara tujuan dengan
cara yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial. Merton
mengidentifikasi lima macam adaptasi terhadap situasi, yaitu:
1) Konformitas
Yaitu perilaku mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan
masyarakat. Contoh, seorang siswa ingin memperoleh nilai
bagus pada waktu ujian, dia melakukannya dengan belajar yang
giat. Nilai bagus merupakan tujuan yang ditentukan masyarakat
sedangkan belajar yang giat merupakan cara yang dibenarkan
oleh masyarakat.
2) Inovasi
Yaitu perilaku mengikuti tujuan yang ditentukan oleh
masyarakat, tetapi memakai cara yang dilarang oleh
masyarakat. Contoh, seorang siswa ingin memperoleh nilai
bagus, tetapi dengan cara mencontek. Nilai bagus merupakan
tujuan yang ditentukan masyarakat tetapi mencontek
merupakan cara yang dilarang oleh masyarakat.
3) Ritualisme
Yaitu perilaku yang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi
masih tetap berpegang pada cara-cara yang telah digariskan
oleh
masyarakat.
Misalnya
ritual
(upacara)
masih
diselenggarakan, tetapi maknanya sudah hilang, para siswa
yang mengikuti upacara bendera bukan untuk menumbuhkan
sikap nasionalisme, tetapi karena takut pada kepala sekolah.
4) Retreatisme
Yaitu perilaku yang meninggalkan, baik tujuan konvensional
maupun cara pencapaiannya. Contoh: seseorang yang sedang
mengalami masalah tetapi tidak dihadapai malah mabukmabukan, memakai narkoba dan lain sebagainya.
5) Rebellion
Yaitu penarikan diri dari tujuan dan cara-cara konvensional yang
disertai dengan upaya untuk melembagakan tujuan dan cara
baru. Contoh reformator agama.
d. Teori Fungsi
Menurut Emile Durkheim,
anggota masyarakat
berbeda satu dengan
faktor seperti faktor

keseragaman dan kesadaran moral semua


tidak dimungkinkan karena setiap individu
yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa
keturunan, lingkungan fisik dan lingkungan

sosial. Oleh karena itu, orang yang berwatak jahat akan selalu ada,
sehingga kejahatanpun akan selau ada. Durkheim bahkan
berpandangan bahwa kejahatan perlu bagi masyarakat, karena
dengan adanya kejahatan, moralitas dan hukum dapat berkembang
secara normal. Dengan kata lain, penyimpanagn tetap mempunyai
fungsi positif.
e. Teori konflik
1) Teori Konflik Kelas Sosial
Teori ini dikembangkan oleh penganut Karl Marx. Penganut Marx
mengemukakan bahwa kejahatan berkaitan erat dengan
perkembangan kapitalisme. Perilaku menyimpang diciptakan oleh
kelompok-kelompok
yang
berkuasa
untuk
melindungi
kepentingan mereka. Hukum merupakan cerminan kelompok
yang berkuasa, begitu pula dengan sistem peradilan pidananya.
Oleh karena itu, orang-orang yang dianggap melakukan
penyimpangan dan yang terkena hukuman biasanya lebih
banyak terdapat di kalangan orang miskin (kaum proletar).
Banyak pengusaha (kaum borjuis) yang melakukan pelanggaran
hukum, tetapi tidak diajukan ke pengadilan. Sehingga
penyimpangan akan tetap berlangsung selama tidak ada
kesamarataan, serta eksploitasi kelas juga masih ada.
2) Teori Konflik Budaya
Apabila dalam masyarakat terdapat beberapa kebudayaan
khusus (etnik, agama, suku bangsa, kedaerahan dan kelas
sosial), maka akan sulit untuk menemukan adanya kesepakatan
nilai dan norma. Hal ini disebabkan karena masing-masing
kelompok menjadikan norma budayanya sebagai peraturan
resmi. Akibatnya, berbagai norma akan saling bertentangan dan
menciptakan kondisi anomie. Anomie yaitu suatu keadaan
masyarakat di mana tidak ada seperangkat nilai dan norma yang
dipatuhi secara konsisten dan diterima secara luas. Sehingga
masyarakat tidak mempunyai pegangan yang mantap sebagai
pedoman nilai dan menentukan arah perilaku masyarakat yang
teratur.
Pada teori konflik budaya, kelompok masyarakat kelas menengah
mempunyai norma budaya yang dominan dan dijadikannya
sebagai hukum tertulis, dan orang lain yang termasuk dalam
kebudayaan khusus lain dianggap menyimpang. Karena budaya
kelas sosial bawah bertentangan dengan budaya dominan, maka
mereka dianggap menyimpang. Kaum imigran, kaum minoritas
yang hidup dalam dominasi kelompok mayoritas juga akan
dianggap menyimpang karena memiliki kebudayaan yang
berbeda dengan kelompok dominan.
f. Teori Biologis

Teori ini berpandangan bahwa seseorang melakukan perilaku


menyimpang karena faktor-faktor biologis. Para ahli biologi berpandangan
bahwa perilaku menyimpang seperti homoseksual, alkoholisme kronis,
dan ganggua mental tertentu disebabkan oleh peristiwa-peristiwa sebagai
berikut:
1. Melalui gen-gen atau plasma pembawa sifat di dalam keturunan,
atau melalui kombinasi dari gen-gen, ataupun disebabkan oleh
tidak adanya gen-gen tertentu, yang semuanya menimbulkan
penyimpangan tingkah laku
2. Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang abnormal,
sehingga menyebabkan perilaku menyimpang
3. Melalui pewaris kelemahan konstitusional tertentu, yang
mengakibatkan perilaku menyimpang.
Para ahli pendukung teori biologis antara lain Lombroso, Kretscmer,
Horton, Von Hetig, dan Sheldon. Mereka melakukan berbagai studi
yang menyatakan bahwa orang yang mempunyai tubuh tertentu
lebih cenderung untuk melakukan perbuatan menyimpang. Cesare
Lombroso, seorang kriminolog dari Italia, berpendapat bahwa orang
jahat mempunyai ciri-ciri ukuran rahang dan tulang-tulang pipi yang
panjang, kelianan pada mata yang khas, jari-jari kaki dan tangan
relatif besar, serta mempunyai susunan gigi yang abnormal.
Sedangkan Sheldon, seorang kriminolog dari Inggris membedakan
bentuk tubuh manusia menjadi tiga yaitu:
1. Endomorph (bulat, halus, gemuk)
Orang dengan ciri-ciri tubuh seperti ini terpengaruh untuk
melakukan perilaku menyimpang karena sangat mudah
tersinggung dan cenderung suka menyendiri.
2. Mesomorph (berotot, atletis)
Orang dengan ciri-ciri tubuh seperti ini paling sering melakukan
perilaku menyimpang, karena,sering menunjukkan sifat kasar
dan bertekad untuk menuruti hawa nafsu atau keinginannya.
3. Ectomorph (tipis, kurus)
Orang dengan ciri-ciri tubuh seperti ini selalu menunjukkan
kepasrahan, tetapi apabila terdapat penghinaan-penghinaan
yang luar biasa tekanan jiwanya dapat meledak, dan barulah
akan terjadi perilaku menyimpang.
8. CONTOH-CONTOH PERILAKU MENYIMPANG
a. Tindakan Kriminal atau Kejahatan
Crime atau kejahatan adalah tingkah laku yang melanggar hukum
dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat
menentangnya. Kejahatan adalah bentuk tindakan yang
bertentangan dengan moral kemanusiaan, merugikan masyarakat,
anti-sosial sifatnya dan melanggar hukum dan undang-undang

pidana. Misalnya pembunuhan, pencurian, penganiayaan, korupsi,


penculikan dan sebagainya.
Tipe-tipe kejahatan :
a. Kejahatan kerah putih (white collar crime)
Yaitu kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha atau pejabat di
dalam
menjalankan
peranan
fungsinya.
Golongan
ini
menganggap
dirinya
kebal
hukum
dan
sarana-sarana
pengendaian sosial lainnya, karena kekuasaan dan keuangan
yang dimilikinya. Contoh, korupsi.
b. Kejahatan kerah biru (blue collar crime)
Yaitu kejahatan yang dilakukan golongan strata
(masyarakat kelas bawah). Contoh, mencuri ayam.

rendah

c. Kejahatan terorganisasi (organized crime)


Yaitu kejahatan yang dilakukan sekelompok penjahat yang
secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk
mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari
hukum. Kejahatan ini terkadang melibatkan hubungan antar
negara yang disebut kejahatan terorganisasi internasional.
Misalnya womens traficking ( penjualan perempuan ke luar
negeri), jaringan narkoba internasional dan lain-lain.
d. Kejahatan tanpa korban (crime without victim)
Yaitu kejahatan yang tidak mengakibatkan penderitaan pada
korban akibat tindak pidana orang lain. Misalnya berjudi,
penyalahgunaan narkoba, mabuk-mabukan dan sebagainya.
e. Kejahatan korporat (corporate crime)
Yaitu kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan
tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian. Misalnya,
sebuah perusahaan yang membuang limbah beracun ke sungai
yang mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai
jenis penyakit.

Untuk mengatasi masalah kejahatan tersebut, selain dengan


tindakan yang bersifat preventif, juga dapat dilakukan dengan
tindakan yang bersifat represif seperti teknik rehabilitasi. Menurut
Cressey, ada dua konsepsi tentang teknik rehabilitasi, yaitu:

a. Menciptakan sistem dan program-program yang bertujuan untuk


menghukum orang-orang jahat tersebut, seperti hukuman
bersyarat, hukuman kurungan serta hukuman penjara.
b. Suatu usaha agar penjahat dapat berubah menjadi orang biasa
(yang tidak jahat) yaitu dengan cara memberikan pendidikan
serta latihan-latihan untuk menguasai bidang-bidang tertentu,
supaya kelak setelah masa hukuman selesai punya modal untuk
mencari pekerjaan di masyarakat.
b. Perjudian
Perjudian
adalah
pertaruhan
dengan
sengaja,
yaitu
mempertaruhkan sesuatu yang dianggap bernilai dengan
menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada
peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan
kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya. Bentuk
perjudian antara lain permainan dadu, permainan kartu Belanda
(bridge card), permainan kartu Cina dan domino.
Beberapa cara untuk menanggulangi perjudian antara lain:
a. Mengadakan perbaikan ekonomi nasional secara menyeluruh
b. Adanya keseimbangan antara budget di pusat dan di daerah
pinggiran
c. Menyediakan tempat-tempat hiburan dan rekreasi yang sehat,
disertai intensifikasi pendidikan mental dan ajaran-ajaran
agama
d. Menurunkan nilai hadiah tertinggi, lalu menambah jumlah
hadiah-hadiah hiburan lainnya dalam jumlah yang banyak
e. Larangan praktek judi disertai tindakan-tindakan preventif dan
represif secara konsekuen dan tidak setengah-setengah.
c. Penyimpangan Seksual.
a. Hubungan seksual di luar nikah.
Dalam lingkungan masyarakat yang bernorma, hubungan
seksual di luar nikah tidak dapat dibenarkan, khususnya norma
agama, sosial maupun moral. Contohnya pelacuran dan kumpul
kebo.
b. Penyimpangan seksual lain, merupakan akstivitas seksual yang
ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual
tidak sewajarnya.
Bentuk-bentuk penyimpangan seksual antara lain :
1) Homoseksual, yaitu perilaku seksual yang cenderung tertarik
pada jenis kelamin yang sama atau sejenis (laki-laki dengan
laki-laki). Sedangkan lesbian adalah perilaku seksual wanita
yang cenderung tertarik sesama wanita.
2) Transeksual, yaitu perilaku seseorang yang cenderung
mengubah karakteristik seksualnya. Hal tersebut menyangkut
konflik batiniah mengenai identitas yang bertentangan dengan

identitas sosial. Contoh laki-laki yang ingin menyerupai


perempuan, dan sebaliknya. Biasanya perilaku seksual ini lebih
disebabkan oleh pengaruh lingkungan sosial.
3) Sadomasokisme, yaitu perilaku sadisme untuk kepuasan seksual
yang diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual
dengan terlebih dahulu menyakiti atau menyiksa pasangannya.
Sedangkan
masokisme
merupakan
kebalikannya
yaitu
seseorang dengan sengaja membiarkan dirinya disakiti atau
disiksa untuk memperoleh kepuasan seksual.
4) Ekshibisionisme, yaitu perilaku seksual yang memperoleh
kepuasan
seksual
dengan
cara
memperlihatkan
alat
kelaminnya kepada orang lain sesuai dengan kehendaknya. Bila
korban terkejut, jijik atau menjerit ketakutan, maka ia akan
semakin terangsang. Kondisi tersebut sering terjadi pada pria.
5) Voyeurisme, yaitu perilaku seksual yang memperoleh kepuasan
seksual dengan cara mengintip atau melihat orang lain yang
sedang telanjang, mandi bahkan melakukan hubungan seksual.
Setelah mengintip, ia melakukan tindakan lebih lanjut dari yang
diintipnya.
6) Fetishisme, yaitu perilaku seksual yang disalurkan melalui
masturbasi dengan BH, celana dalam, kaos kaki atau benda lain
yang dapat meningkatkan hasrat atau dorongan seksualnya.
Namun, ada juga yang meminta pasangannya untuk
mengenakan benda-benda favoritnya, kemudian melakukan
hubungan seksual yang sebenarnya dengan pasangan tersebut.
d. Kenakalan Anak (Juvenille Deklinquency)
Kenakalan anak dapat menimbulkan gap generation sebab anak
yang diharapkan sebagai kader penerus bangsa tergelincir ke arah
perilaku yang negatif. Kenakalan atau delinquency menurut
Prof.DR. Fuad Hasan adalah perbuatan anti sosial yang dilakukan
oleh anak/remaja, yang bila dilakukan oleh orang dewasa
dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Pendapat lain mengatakan
perbuatan deliquency adalah semua perbuatan penyelewengan
norma-norma kelompok tertentu yang menimbulkan keonaran
dalam masyarakat yang dilakukan oleh anak muda.
Untuk menentukan kenakalan anak ternyata belum ada batas
yang tegas di berbaghai negara. Contoh:
1) Di Inggris batas usia yang digunakan adalah 8 tahun ke bawah.
2) Di Amerika 16 tahun sampai dengan 18 tahun.
3) Di Indonesia menurut KUHP pasal 45-47 menyebutkan bahwa
anak yang belum dewasa adalah anak yang umurnya belum 16
tahun.
4) Secara psikologis batas usia kenakalan anak lebih condong pada
usia perbatasan (14-18tahun). Perbuatan-perbuatan kenakalan
remaja dapat berupa perusakan tempat atau fasilitas umum,

penggunaan obat-obat terlarang, pencurian, perkelahian, atau


tawuran dan sebagainya.
Secara fenomenologis, gejala kenakalan remaja tampak dalam
masa pubertas. Pada masa tersebut jiwanya masih dalam keadaan
labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang
negatif.
Penyebab kenakalan anak tersebut antara lain :
1) Lingkungan keluarga yang tidak harmonis (broken home)
2) Situasi yang menjemukan dan membosankan.
3) Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek
kehidupan masa mendatang, seperti lingkungan kumuh dan
penuh kejahatan.
e. Penyalahgunaan NAZA / Narkoba
NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adictif) dan Narkoba (Narkotika
dan Obat-obat terlarang) adalah dua istilah yang sama. Zat adictif
meliputi semua obat-obatan yang dapat menimbulkan efek
ketergantungan. Narkotika adalah zat-zat kimia yang digunakan
dalam kedokteran untuk membius pasien. Narkotika yang tidak
digunakan sebagaimana mestinya atau secara berlebih-lebihan
dapat merusak organ-organ tubuh sehingga tidak berfungsi
sempurna. Bahkan susunan saraf yang berfungsi sebagai
pengendali daya pikir ikut rusak. Akibatnya, fikiran menjadi tidak
rasional dan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk sehingga perilaku yang ditampilkan cenderung bertentangan
dengan nilai dan norma kesusilaan.
Penggunaan NAZA untuk tujuan semestinya bukan masalah tetapi
penggunaan di luar tujuan itu merupakan bentuk penyimpangan.
Menurut Dr. Graham Baliane kaum remaja mudah terjerumus pada
penggunaan narkotika karena faktor-faktor sebagai berikut:
1) Ingin membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan
berbahaya seperti kebut-kebutan, berkelahi dan mengancam.
2) Ingin menunjukkan tindakan menentang orang tua yang otoriter
atau siapa saja yang dianggap tidak sepaham dengan dirinya.
3) Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh
pengalaman emosional.
4) Ingin mencari dan menemukan arti hidup (yang semu).
5) Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan (tidak memiliki
aktivitas di luar sekolah).
6) Ingin menghilangkan kegelisahan.
7) Solidaritas di antara kawan.
8) Ingin tahu dan iseng.

f. Penyimpangan dalam bentuk Gaya Hidup


Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup antara lain adalah sikap
arogansi dan eksentrik. Sikap arogansi antara lain kesombongan
terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kekayaan, kekuasaan
dan kepandaian. Sedangkan sikap eksentrik adalah perbuatan
yang menyimpang dari biasanya sehingga dianggap aneh, seperti
anak laki-laki memakai anting-anting dan berambut gondrong.
g. Sadisme terhadap Anak
Berdasarkan teori psikologi sosial seseorang mampu melakukan
tidakan kekerasan kekerasan dan sadisme karena merasa frustasi
dan kecewa yang dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya faktor
ekonomi. Sadisme terhadap anak merupakan bentuk perilaku
menyimpang, karena tidak sesuai dengan norma-norma, baik
norma agama, sosial, maupun hukum. Sebuah keluarga
seharusnya menjadi tempat berlindung dan mencari kasih sayang
tetapi justru malah menjadi neraka yang menakutkan.
Menurut Aan Prayogo di negara-negara berkembang lebih banyak
penganiayaan fisik dan penelantaran anak, sedangkan di negaranegara maju lebih banyak penganiayaan seksual dan emosional.
Bentuk-bentuk penganiayaan emosional yaitu :
a. Rejecting, yaitu orang tua menunjukkan perilaku menolak anakanak yang tidak diharapkan, meninggalkan anak, memanggil
nama anak dengan sebutan yang tidak berharg, tidak berbicara
pada anak, dan bahkan mengambinghitamkan anak sebagai
penyebab masalah keluarga.
b. Ignoring, yaitu orang tua yang tidak menunjukkan
kedekatannya pada anak, dan tidak menyukai anak-anak atau
orang tua hanya secara fisik saja bersama anak-anaknya.
c. Terorizing, yaitu orang tua oyang mengkritik secara tidak
proporsional, menghukum, mengolok-olok, dan mengharapkan
anak memiliki kemampuan seperti orang yang diinginkan orang
tua.
d. Isolating, yaitu orang tua yang tidak menginginkan anaknya
beraktivitas
secara
proporsional
bersama
rekan-rekan
sebayanya.
e. Corrupting, yaitu orang tua mengajarkan yang salah
(melanggar norma) pada anaknya.
Sebagian besar pelaku penganiayaaan terhadap anak adalah orang
yang sangat dipercaya dan berpengaruh terhadap anak.

9. SIKAP ANTISOSIAL
Menurut Kathleen Stassen Berger, sikap antisosial sering dipandang
sebagai sikap dan perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian
dan keberadaan orang lain ataupun masyarakat secara umum di
sekitarnya. Suatu tindakan antisosial termasuk dalam tindakan sosial
yang berorientasi pada keberadaan orang lain atau ditujukan kepada
orang lain, meskipun tindakan-tindakan tersebut memiliki makna
subyektif bagi orang-orang yang melakukannya. Tindakan-tindakan
antisosial ini sering mendatangkan kerugian bagi masyarakat luas,
sebab pada dasarnya si pelaku tidak menyukai keteraturan sosial
(social order) yang diinginkan oleh sebagian besar anggota
masyarakat lainnya.
Berdasarkan sifatnya, tindakan antisosial dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu:
a. Tindakan antisosial yang dilakukan secara sengaja
Tindakan ini dilakukan secara sadar oleh pelaku, tetapi tetap tidak
mempertimbangkan penilaian orang lain terhadap tindakannya
tersebut. Misalnya vandalisme, grafiti pada tembok rumah orang
lain dan sebagainya.
b. Tindakan antisosial karena tidak peduli
Tindakan ini dilakukan karena ketidakpedulian si pelaku terhadap
keberadaan masyarakat di sekitarnya. Misalnya, membuang sampah
di sembarang tempat, ngebut ketika berkendara dan sebagainya.
Tindakan antisosial tidak selalu digolongkan sebagai tindak kriminal
dan berakibat pada pemenjaraan si pelaku. Ada beberapa tindakan
antisosial yang tidak langsung merugikan orang lain, misalnya menarik
diri atau mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat. Namun,
sebagian besar tindakan antisosial merupakan tindakan yang
melanggar norma dan merugikan orang lain.
Faktor yang sangat memengaruhi sikap antisosial adalah usia dan
pendidikan. Umumnya, sikap antisosial akan berkurang seiring dengan
makin dewasanya usia seseorang. Seiring dengan perkembangan
mental dan kecerdasannya, saat makin dewasa, seseorang dapat
membedakan tindakan yang baik (sesuai norma-norma sosial) dan
tindakan yang buruk (tidak sesuai dengan norma). Namun, jika hingga
usia dewasa seseorang masih melakukan tindakan-tindakan yang
buruk, ia memiliki kelainan yang disebut kepribadian antisosial.
Soerjono Soekanto mencatat ada tiga istilah yang berkaitan dengan
sikap antisosial, yaitu:

a. Antikonformitas (rebellion)
Yaitu suatu pelanggaran terhadap norma-norma dan nilai-nilai sosial
yang disengaja oleh individu atau sekelompok orang. Misalnya
mencuri, membuat keributan, membunuh, dan mengisolasi diri dari
pergaulan masyarakat.
b. Aksi antisosial
Yaitu suatu aksi yang menempatkan kepentingan pribadi atau
kepentingan kelompok di atas kepentingan umum. Misalnya,
membunyikan radio dengan volume yang sangat keras sehingga
mengganggu ketenangan orang lain, memanipulasi keuangan
organisasi untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga, tidak mau
ikut gotong royong bersama warga sekitar, dan lain-lain.
c. Antisosial grudge
Yaitu rasa sakit hati atau dendam terhadap masyarakat atau
terhadap aturan sosial tertentu sehingga menimbulkan perilaku
menyelewengan. Sikap ini disebut pula dendam anti sosial.
Misalnya, minum-minuman keras atau penyalahgunaan narkoba
karena merasa kurang dihargai oleh masyarakat sekitarnya,
melakukan kekerasan rumah tangga karena frustasi dan kecewa
terhadap norma-norma sosial yang mengatur upaya pemenuhan
kebutuhan.
Tindakan antisosial dapat ditemukan dalam banyak wujud. Tetapi pada
umumnya tindakan antisosial digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu:
a. Dilakukan di jalan
Tindakan antisosial ini dilakukan di jalan, sehingga pada akhirnya
menimbulkan gangguan bagi masyarakat di sekitar atau yang
melintasi
jalan
tersebut.
Misalnya,
membuang
sampah
sembarangan, melanggar rambu lalu lintas, intimidasi, mabuk,
meminta-minta, pelacuran dan sebagainya.
b. Dilakukan oleh tetangga
Tetangga yang mengganggu dapat mempengaruhi kehidupan
masyarakat sekitarnya. Mereka dapat merusak kualitas kehidupan
masyarakat di sekitarnya. Misalnya, membunyikan radio dengan
sangat keras sehingga mengganggu tetangga sekitar.
c. Dilakukan terhadap lingkungan sekitar
Tindakan ini berdampak rusaknya lingkungan alam, fasilitas umum
dan benda-benda lain di sekitarnya. Selain mengganggu keamanan,

kenyamanan dan kelancaran kegiatan masyarakat, upaya


perbaikannyapun memakan biaya tang tidak sedikit. Misalnya,
orang yang mencoret-coret dan merusak telepon umum, bus kota
atau bahkan tembok dan meja kelas. Hal ini mengganggu
kepentingan orang-orang yang mempunyai keperluan untuk
menggunakannya.

UJI KOMPETENSI
A. Pilihlah salah satu jawaban yang paling benar!
1. Seseorang mencari ijazah, salah satu tujuannya untuk mencari
pekerjaan.
Namun
ternyata
Ijazahnya
palsu.
Perilaku
menyimpang ini oleh Robert King Merton dinamakan.
a. Komformitas
b. Inovasi
c. Ritualisme
d. Retreatisme
e. Rebellion
2. Seseorang yang menderita ketakutan atau kekecewaan maka
setiap
perilakunya
selalu
mengalami
kebimbangan.
Kebimbangan atau keraguan itu menjurus pada perbuatanperbuatan yang keliru sehingga menimbulkan ejekan dari orang
lain. Oleh karena itu timbul kecenderungan pengasingan diri
sehingga tidak mampu menyerap nilai dan norma masyarakat.
Dan terjadilah perilaku menyimpang yang merupakan hasil
dari
a. Sosialisasi yang tidak sempurna
b. Kegagalan sosialisasi
c. Sikap mental yang tidak sehat
d. Proses belajar menyimpang
e. Pengaruh lingkungan
3. Seorang suami yang terpaksa mencuri karena melihat anak
istrinya kelaparan. Bentuk penyimpangan tersebut adalah
a. Kelompok
b. Primer
c. Sekunder
d. Situasional
e. Sistematik
4. Seorang PSK yang tidak merasa bersalah dan bahkan merasa
senang / menikmati pekerjaanya walaupun telah melanggar nilai
dan norma. Perilaku menyimpang tersebut disebabkan
karena.
a. keinginan untuk dipuji
b. sikap mental yang tidak sehat
c. pelampiasan rasa kecewa
d. ketidakharmonisan dalam keluarga

e. proses belajar menyimpang


5. Gejala kenakalan remaja disebabkan oleh berikut ini, kecuali .
a. masyarakat yang penuh dengan korupsi
b. lingkungan keluarga yang harmonis
c. situasi sosial yang tidak menentu.
d. keadaan lingkungan yang membosankan
e. kesenjangan yang mencolok antara kaya dengan miskin
6. Perbuatan anti sosial yang yang dilakukan oleh anak atau remaja
dinamakan
a. Kejahatan
b. Kriminalitas
c. Penyimpangan
d. Delinquency
e. Rebellion
7. Seorang wanita menjadi sopir truk trailer belum lazim pada
masyarakat kita/dianggap melakukan perbuatan menyimpang.
Penyimpangan tersebut bersifat..
a. Individu
b. Primer
c. Sekunder
d. Positif
e. Negatif
8. Perilaku seksual yang cenderung tertarik dengan sesama laki-laki
dinamakan .
a. lesbian
b. homoseksual
c. ekshibisionisme
d. voyeurisme
e. fetishisme
9. Orang tua yang tidak menunjukkan kedekatan dengan anaknya
dan tidak menyukai anak-anak merupakan bentuk penganiayaan
emosional yang dinamakan .
a. rejecting
b. ignoring
c. terrorizing
d. isolating
e. corrupting
10. Seorang anak berperilaku menyimpang yang disebabkan karena
kurang mendapat kasih sayang orang tuanya merupakan
tinjauan dari sudut .
a. biologis
b. sosiologis
c. histories
d. psikologis
e. ekonomis
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan benar!
1. Sebutkan pengertian perilaku menyimpang!

2. Jelaskan pandangan teori labelling tentang perilaku menyimpang!


3. Jelaskan bentuk-bentuk perilaku menyimpang!
4. Berikan satu contoh penyimpangan yang bersifat positif!
5. Sebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang!
B. PENGENDALIAN SOSIAL
1. PENGERTIAN PENGENDALIAN SOSIAL
a. Peter L. Berger
Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan
masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang menyimpang.
b. Joseph S. Roucek
Pengendalian sosial adalah segala proses baik direncanakan
maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak bahkan memaksa
warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai
sosial yang berlaku.
c. Bruce C. Cohen
Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan
untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan
kehendak-kehendak kelompok atau masyarakat luas tertentu.
Tujuan pengendalian sosial adalah :
a. agar masyarakat mau mematuhi norma-norma sosial yang berlaku,
baik dengan kesadaran sendiri mapun dengan paksaan.
b. agar dapat
masyarakat.

mewujudkan

keserasian

dan

ketentraman

c. bagi orang yang melakukan penyimpangan


kembali mematuhi norma-norma yang berlaku.

diusahakan

dalam
agar

2. JENIS-JENIS LEMBAGA PENGENDALIAN SOSIAL


Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial antara lain :
a. Lembaga Kepolisian
Lembaga Kepolisian merupakan lembaga formal yang sejak awal
dibentuk dalam rangka mengawasi semua bentuk penyimpangan
terhadap hukum yang berlaku.
Polisi adalah lembaga yang menjaga keamanan dan ketertiban
masyarakat.

Tugas polisi sesuai dengan UU No. 28 tahun 1997 adalah:


b. Sebagai alat negara penegak hukum, memelihara serta
meningkatkan tertib hukum
c. Sebagai pengayom, memberikan perlindungan dan dan pelayanan
kepada masyarakat bagi tegaknya ketentuan peraturan
perundang-undangan
d. Bersama-sama dengan segenap komponen pertahanan keamanan
negara lainnya, membina ketentraman masyarakat dalam
wilayah negara guna mewujudkan keamanan dan ketertiban
masyarakat
e. Membimbing masyarakat demi terciptanya kondisi yang
menunjang terselenggaranya usaha dan kegiatan mewujudkan
keamanan dan ketertiban masyarakat.
b. Lembaga Kejaksaan
Merupakan lembaga formal yang bertugas sebagai penuntut umum,
yaitu pihak yang mengajukan tuntutan terhadap mereka yang
melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tertib hukum yang
berlaku.
Pekerjaan lembaga kejaksaan merupakan tindak lanjut dari lembaga
kepolisian
yang
menangkap
dan
menyidik
pelaku-pelaku
pelanggaran untuk menuntut bentuk pelanggarannya dalam rangka
menciptakan keadilan masyarakat.
c. Lembaga Pengadilan
Merupakan lembaga formal yang menjadi pengayom sekaligus
memberikan rasa keadilan pada masyarakat.
Tugas lembaga pengadilan antara lain:
1. memeriksa kembali hasil penyidikan dari kepolisian
2. menindaklanjuti tuntutan dari jaksa terhadap suatu kasus
pelanggaran.
3. mempersidangkan setiap kasus pelanggaran terhadap normanorma hukum, baik perdata maupun pidana sesuai dengan hukum
masing-masing.
Bentuk sanksi yang dijatuhkan lembaga pengadilan antara lain:
1. denda
2. hukuman kurungan sementara
3. hukuman kurungan seumur hidup
4. hukuman mati

Sanksi dijatuhkan berdasarkan penelitian dalam persidangan secara


komprehensif menurut kadar kesalahan yang dilakukan oleh si
Pelanggar.
d. Lembaga Adat
Merupakan lembaga nonformal yang menangani pelanggaran
terhadap norma-norma adat, mempengaruhi dan mengatur tata
kelakuan warga masyarakat.
Misalnya pelanggaran terhadap :
adat perkawinan
adat kekerabatan
adat pembagian warisan
adat-adat ritual
tradisi-tradisi khusus yang dipertahankan oleh masing-masing
anggota masyarakat.
Lembaga-lembaga adat terdiri dari:
tokoh-tokoh adat
orang-orang tua
pemuka masyarakat
Pemimpin-pemimpin adat disebut pemimpin nonformal karena
keberadaan mereka bukan berdasaarkan otoritas yang diberikan
oleh penguasa negara, melainkan otoritasnya diberikan langsung
oleh masyarakat yang dipimpinnya melalui kriteria-kriteria tertentu
yang telah ditetapkan.
e. Tokoh-tokoh Masyarakat
Merupakan pengendalian sosial nonformal yang dilakukan oleh para
pemuka masyarakat yang mempunyai pengaruh ataupun kharisma
untuk mengatur berbagai kegiatan masyarakat. Tokoh-tokoh
masyarakat ini merupakan panutan sekaligus pengendali yang
dipatuhi oleh warga masyarakat. Dengan demikian sistem
ketertiban yang ada di dalam masyarakat tersebut sangat
ditentukan oleh peranan tokoh-tokoh masyarakat.
f. Tokoh Agama
Tokoh agama adalah orang yang mempunyai pandangan luas dalam
suatu agama dan menjalankan pengaruhnya sesuai dengan
pemahaman tersebut. Yang termasuk tokoh agama adalah pendeta,

biksu, ustadz, pastor, kyai, dan brahmana. Tokoh agama ini sangat
berpengaruh di lingkungannya karena nilai-nilai dan norma-norma
yang ditanamkannya berkaitan dengan perdamaian, sikap saling
mengasihi, saling menghargai, saling mencintai, dan saling
menghormati sesama manusia, serta berbagai kebaikan lainnya.
g. Sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peranan
dalam pengendalian sosial. Guru-guru senantiasa mendidik dan
menegur murid agar mau menaati peraturan dan tata tertib yang
berlaku di sekolah. Apabila ada murid yang melanggar, guru
memiliki kewajiban untuk memberikan sanksi kepada murid
tersebut.
h. Keluarga
Setiap orang tua pasti mengendalikan perilaku anak-anaknya agar
sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat,
dengan cara mendidik, menasehati dan turut mensosialisasikan nilai
dan norma yang ada.
Berbagai pengendalian sosial telah dilakukan namun penyimpangan
perilaku tetap ada. Menurut Bruce C. Cohen hal itu bisa terjadi karena
faktor berikut :
a. Adanya perubahan norma dari suatu periode ke periode waktu yang
lain.
b. Tidak ada norma yang bersifat mutlak yang bisa digunakan untuk
menentukan benar tidaknya kelakuan seseorang.
c. Individu yang tidak mematuhi norma sosial disebabkan karena
mereka mengamati orang-orang lain yang tidak mematuhi, atau
karena mereka tidak pernah dididik untuk mematuhinya.
d. Adanya individu yang belum mendalami norma sosial.
e. Adanya individu-individu yang kurang yakin akan kebenaran atau
kebaikan suatu norma sosial.
f. Terjadi konflik peran dalam diri individu karena ia menjalankan
beberapa peran yang menghendaki corak yang berbeda.
Namun demikian pengendalian sosial harus tetap berlanjut untuk
meminimalisir penyimpangan-penyimpangan di dalam masyarakat.
3. SIFAT-SIFAT PENGENDALIAN SOSIAL

a. Pengendalian Sosial Preventif


Yaitu usaha yang dilakukan sebelum terjadi pelanggaran.
Tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku menyimpang.
Contoh, memberikan nasihat kepada anak.
b. Pengendalian Sosial Represif
Pengendalian sosial yang dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran dan
supaya keadaan pulih seperti sedia kala. Contohnya orang yang
melanggar peraturan lalu lintas ditilang dan dipersidangan kemudian
dikenai denda.
c. Pengendalian Sosial Gabungan
Merupakan gabungan dari pengendalian represif dan preventif. Tujuannya
untuk mencegah terjadinya penyimpangan (preventif) sekaligus
memulihkan kembali keadaan semula jika telah terjadi penyimpanga
(represif) sehingga perilaku menyimpang tidak sempat merugikan pelaku
yang bersangkutan maupun orang lain.
Misalnya, diberlakukan piket-piket di sekolah yang dimaksudkan
untuk mengawasi dan mencegah siswa agar tidak bolos pada jam
sekolah (preventif). Meskipun pengawasan tersebut dilakukan tetap
saja terdapat siswa yang membolos. Maka tindakan represif dapat
dilakukan untuk mengembalikan penyimpangan itu ke keadaan
normal dengan cara mengenakan sanksi atau hukuman kepada
siswa tersebut sesuai dengan perat uran yang berlaku.
.
4. CARA PENGENDALIAN SOSIAL
a. Pengendalian Sosial Persuasif
Dilakukan melalui pendekatan dengan mengajak atau membimbing agar
masyarakat mematuhi norma-norma yang ada, tanpa ada kekerasan
(dengan cara sosialisasi). Pengendalian ini dapat dilakukan dengan cara :
Lisan, yaitu dilakukan dengan mengajak orang mentaati aturan
dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal). Contoh
penyuluhan dari pihak kepolisian tentang bahaya narkoba.
Simbolik, yaitu dapat dilakukan melalui spanduk, tulisan, dan iklan
layanan masyarakat. Contoh spanduk-spanduk yang mengajak
masyarakt untuk menjauhi kekerasan serta menjaga persatuan
dan kesatuan.
b. Pengendalian Sosial Koersif

Bersifat memaksa atau menekankan pada tindakan yang menggunakan


kekuatan fisik agar anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan
norma-norma yang ada dalam masyarakat. Upaya ini dilakukan setelah
cara persuasif tidak berhasil.
Contoh: Gerobak pedagang kaki lima yang terpaksa diangkut oleh
trantib karena telah melanggar Perda dan telah diperingatkan
berkali-kali.
Diantara cara paksaan antara lain:
1. Kompulsi / Compulsion
Compulsion merupakan pengendalian sosial dengan situasi yang
diciptakan sedemikian rupa, sehingga seseorang terpaksa taat
atau mengubah sikapnya, yang menghasilkan kepatuhan scara
tidak langsung.
2. Pervasi
Yaitu pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara
menyampaikan nilai atau norma secara berulang-ulang dan
terus-menerus dengan harapan nilai dan norma tersebut
melekat dalam jiwa seseorang sehingga akan terbentuk sikap
yang diharapkan. Misalnya, bahaya narkoba yang disampaikan
kepada remaja melalui media massa baik cetak maupun
elektronik secara berulang-ulang dan terus-menerus.
5. PENGENDALIAN SOSIAL BERDASARKAN RESMI ATAU TIDAKNYA
a. Pengendalian Formal
Menurut Horton dan Hunt, yaitu cara pengendalian sosial yang
dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki
peraturan-peraturan resmi. Peraturan-peraturan yang dihasilkan
lembaga-lembaga ini umumnya tertulis dan sudah distandardisasi.
Pengendalain ini dilakukan melalui:
1. Hukuman Fisik
Model pengendalian ini dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi
yang diakui oleh semua lapisan masyarakat, seperti kepolisian,
Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan yang lainnya.
2. Lembaga Pendidikan
Dalam lembaga pendidikan formal seperti sekolah, seseorang
diarahkan perilakunya agar sesuai dengan norma yang berlaku
dalam masyarakat. Melalui pendidikan, seseorang belajar hal-hal

yang berkenaan dengan pengetahuan (kognitif), mengenai sikap


yang meliputi nilai, norma, etika dan seni (afektif), serta
ketrampilan-ketrampilan yang menunjang agar dia mampu
berperilaku wajar (psikomotorik). Pendidikan merupakan
pengendalian
sosial
secara
sadar
(terencana)
dan
berkesinambungan untuk mengarahkan agar terjadi perubahanperubahan positif dalam perilaku seseorang melalui proses
sosialisasi agar perilaku seseorang tidak menyimpang dari nilai
dan norma yang berlaku.
3. Lembaga Keagamaan :
Dalam setiap agama terdapat ajaran tentang kebenaran yang
suci menurut penganutnya masing-masing. Perbuatan-perbuatan
yang arif, bijaksana, dan pengabdian terhadap Tuhan adalah
ajaran pokok pada setiap ajaran agama. Oleh sebab itu, setiap
pemeluk agama yang taat akan mengakui kebenaran ajaran
agamanya dan mejadikan ajaran agamanya sebagai pedoman
dalam bertingkah laku. Jika melanggar ajaran agamanya ia akan
merasa berdosa, dan akan berusaha bertobat.
b. Pengendalian Informal
1. Gosip atau desas desus
Yaitu berita yang menyebar secara cepat dan tidak berdasarkan
kernyataan. Biasanya terjadi apabila terjadi kritik sosial secara
terbuka tidak dapat dilontarkan. Dengan gosip tersebut individu
yang berperilaku menyimpang akan merasa malu dan bersalah
sehingga akan berhati-hati dalam bertindak.
2. Ejekan
Adalah
tindakan
membicarakan
seseorang
dengan
menggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, atau kata-kata
yang berlebihan dan bermakna negatif, kadang-kadang
digunakan kata-kata yang artinya berlawanan dengan yang
dimaksud.
3. Celaan
Merupakan tindakan kritik atau tuduhan terhadap suatu
pandangan, sikap, dan perilaku yang tidak sejalan (tidak sesuai)
dengan pandangan, sikap, dan perilaku anggota kelompok pada
umumnya. Celaan lebih mudah dimengerti oleh seseorang
karena diekspresikan dengan ucapan, protes, atau kritik yang
terbuka dan langsung menuju ke sasaran.
4. Ostrasisme (pengucilan)
Yaitu keadaaan di mana seseorang anggota masyarakat
walaupun diperbolehkan bekerjasama atau dibiarkan hidup dan
bekerja dalam kelompok masyarakat tetapi dia tidak diajak
berkomunikasi. Tujuannya agar anggota masyarakat yang
bersangkutan atau anggota masyarakat yang lainnya tidak
melakukan pelanggaran terhadap nilai dan norma yang berlaku.

5. Fraudulens : pengendalian sosial dengan jalan minta bantuan


kepada pihak lain yang dianggap dapat mengatasi masalah, atau
istilah lainnya adalah meminta beking kepada pihak lain.
6. Intimidasi
Dilkukan dengan cara menekan, memaksa, mengancam, atau
manakut-nakuti sehingga seseorang tidak berani berperilaku
menyimpang atau pelaku perilaku menyimpang mau mengakui
perbuatannya dan tidak mengulanginya lagi.

6. PERWUJUDAN PENGENDALIAN SOSIAL


Menurut Soerjono Soekanto perwujudan pengendalian sosial adalah:
a. Pemidanaan
Standar atau patokannya adalah suatu larangan yang apabila
dilanggar, akan mengakibatkan penderitaan (sanksi negatif) bagi
pelanggarnya. Dalam hal ini kepentingan-kepentingan seluruh
kelompok masyarakat dilanggar, sehingga inisiatif datang dari
seluruh anggota kelompok (yang mungkin dikuasakan kepada
pihak-pihak tertentu).
b. Kompensasi
Standard an patokannya adalah kewajiban, di mana inisiatif untuk
memprosesnya ada pada pihak yang dirugikan. Pihak yang
dirugikan akan meminta ganti rugi, oleh karena pihak lawan
melakukan cidera janji. Sehingga ada pihak yang kalah dan ada
pihak yang menang.
c. Terapi
Pada terapi, korban mengambil inisiatif sendiri untuk memperbaiki
dirinya dengan bantuan pihak-pihak tertentu, misalnya pada kasus
penyalahgunaan obat bius (narkoba), di mana korban kemudian
sadar dengan sendirinya.
d. Konsiliasi
Pada konsiliasi, masing-masing pihak yang bersengketa mencari
upaya untuk menyelesaikannya, baik secara kompromis ataupun
dengan mengundang pihak ketiga.
7. POLA UMUM PENGENDALIAN SOSIAL
a. Pengendalian kelompok terhadap kelompok
b. Pengendalian kelompok terhadap individu
c. Pengendalian individu terhadap individu
d. Pengendalian individu terhadap kelompok
8. FUNGSI PENGENDALIAN SOSIAL
Ada beberapa fungsi pengendalian sosial menurut Koentjaraningrat,
yaitu:
a. Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial
Penanaman keyakinan terhadap norma sosial yang baik sangat
diperlukan dalam rangka keberlangsungan tatanan masyarakat. Hal
ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Melalui lembaga pendidikan sekolah dan lembaga pendidikan


keluarga.
Melalui lembaga-lembaga ini seorang anak diarahkan untuk
meyakini norma-norma sosial yang baik.
2. Sugesti sosial
Dilakukan dengan mempengaruhi alam pikiran seseorang
melalui cerita-cerita dongeng maupun kisah-kisah nyata dari
tokoh-tokoh terkenal.
3. Menonjolkan kelebihan norma-norma tertentu dibandingkan
dengan norma-norma pada masyarakat lainnya.
b. Memberikan imbalan kepada warga yang menaati norma
Imbalan di sini mulai berupa pujian dan penghormatan hingga
pemberian hadiah (reward) yang berupa materi. Pemberian imbalan
ini bertujuan agar anggota masyarakat tetap melakukan perbuatan
yang baik dan senantiasa memberikan contoh yang baik kepada
orang lain di sekitarnya.
c. Mengembangkan rasa malu
Setiap anggota masyarakat memiliki rasa malu yang ukurannya
berbeda-beda. Budaya malu berkenaan dengan harga diri. Harga
diri akan turun jika seseorang melakukan kesalahan yang
melanggar norma- norma sosial di dalam suatu masyarakat.
Masyarakat akan sangat antusias mencela setiap anggotanya yang
melakukan pelanggaran terhadap norma. Bila setiap perbuatan
melanggar norma dicela, maka dengan sendirinya akan timbul
budaya malu dalam diri seseorang.
d. Mengembangkan rasa takut
Perasaan takut akan mengarahkan seseorang untuk tidak
melakukan perbuatan yang dinilai mengandung resiko. Dengan
demikian, orang akan berkelakuan baik dan taat pada tata kelakuan
atau adat-istiadat sebab sadar bahwa perbuatan yang menyimpang
dari norma-norma itu akan berakibat tidak baik bagi dirinya maupun
orang lain di sekitarnya.
e. Menciptakan sistem hukum
Sistem hukum merupakan aturan yang disusun secara resmi dan
disertai aturan tentang ganjaran atau sanksi tegas yang harus
diterima
oleh
sesorang
yang
melakukan
penyimpangan
(pelanggaran).
9. AKIBAT TIDAK BERFUNGSINYA LEMBAGA PENGENDALIAN
SOSIAL
Pengendalian sosial dapat dilakukan secara :
a. Internal
Pengendalian sosial yang dilakukan oleh komponen masyarakat itu
sendiri di bawah koordinasi pemuka adat dan tokoh masyarakat
dan dimulai dari pengendalian diri dari tiap-tiap individu anggota
masyarakat, serta pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan

pembudayaaan nilai dan norma dari generasi tua kepada generasi


muda.
Apabila pengendalian sosial secara internal ini berhasil maka
sesungguhnya pengendalian sosial tidak memerlukan aparat
formal seperti polisi, kejaksan , dan pengadilan. Hal ini dapat
terjadi pada masyarakat primitif.
b. Eksternal
pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga formal
seperti kepolisian kejaksaan dan pengadilan dengan berdasarkan
norma-norma hukum yang berlaku, baik perdata maupun pidana.
Pada masyarakat modern terutama yang majemuk pengendalian
sosial secara internal sulit untuk menjamin ketertiban.
Pengendalian sosial eksternal lebih dipatuhi karena sifatnya tegas
dan jelas dengan sanksi-sanksi yang memberatkan.
Komponen penting bagi terwujudnya ketertiban dalam masyarakat:
a. Adanya norma-norma yang memadai, dalam arti norma-norma yang
sesuai dengan tingkat perkembangan masyarakat.
b. Adanya aparat penegak hukum yang konsisten secara ideologi dan
mempunyai tekad untuk mengabdikan diri dalam setiap upaya
penegakan hukum.
c. Adanya kesadaran dari seluruh warga masyarakat untuk berlaku
tertib dan menjunjung tinggi hukum.
Lembaga pengendalaian sosial belum tentu melaksanakan fungsinya
dengan baik. Bentuk-bentuk nyata kejadian dalam masyarakat yang
merupakan akibat langsung dari tidak berfungsinya lembaga-lembaga
pengendalian sosial antara lain :
a. Tidak adanya kepastian hukum
b. Kepentingan masyarakat sulit untuk dipenuhi
c. Sering terjadi konflik
d. Munculnya komersialisasi hukum, jabatan dan kekuasaan.
e. Munculnya
sindikat-sindikat
kepentingan khusus.

kejahatan

yang

mempunyai

Di dalam masyarakat terdapoat rantai sistem penciptaan ketertiban


dalam masyarakat itu sendiri. Apabila sistem itu tidak berfungsi maka
akibatnya di dalam masyarakat terdapat kekacauan-kekacauan karena

banyaknya perilaku menyimpang yang terjadi. Untuk mengatasi hal


tersebut maka dapat dilakukan terapi sosial sebagai berikut :
a. Memperbaiki perangkat hukum, seperti undang-undang, peraturan
pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri, dan peraturan
pelaksana lainnya.
b. Melakukan revitalisasi aparat penegak hukum mulai dari kepolisian,
kejaksaan dan pengadilan. Yang dimaksud dengan revitalisasi
adalah penggantian, pembinaan serta pengawasan-pengawasan
yang lebih intensif terhadap semua bentuk kegiatan hukum.
c. Melakukan usaha-usaha pembudayaan tertib sosial yang di
dalamnya terdapat kepatuhan terhadap norma kesusilaan,
kesopanan, adat, norma agama, dan norma hukum.

UJI KOMPETENSI
A. Pilihlah jawaban yang paling benar!
1. Contoh pengendalian sosial melalui sosialisasi antara lain.
a. penanaman pengertian dan kesadaran hukum
b. mempermalukan di depan orang banyak
c. mengemukakan sindiran terhadap penyimpangan
d. diajukannya penyimpangan ke pengadilan
e. membuat standardisasi
2. Kekuatan bahasa seperti eufemisme (penghalusan bahasa) di
kalangan atas dan plesetan di kalangan bawah efektif sebagai alat
pengendalian sosial karena berfungsi sebagai alat.
a. tekanan sosial
b. komunikasi
c. mengintegrasikan masyarakat
d. mempermalukan orang
e. menanamkan pengertian
3. Badan badan yang berkaitan erat dengan pengendalian sosial
dalam masyarakat adalah.
a. kepolisian, kejaksaan, dan penjara
b. kepolisian, bank, dan penjara
c. bank, penjara, dan badan usaha milik negara
d. bank, kejaksaan, dan penjara
e. badan lusaha milik negara, bank, dan penjara
4. Surat kabar di ibu kota memberitakan keputusan pengadilan tentang
kasus korupsi yang terjadi di lingkungan pemerintah. Pemberitaan
tersebut tergolong pengendalian sosial yang dinamakan.
a. gosip
b. persuasif
c. regresif
d. edukatif

e. koersif
5. Untuk menunjang fungsi dan tugasnya, polisi diberi hak ....
a. Melakukan tindak kekerasan
b. Mengadili
c. Melakukan penyidikan
d. Mengajukan tuntutan
e. Mengajukan banding
6. Lembaga adat dan tokoh-tokoh masyarakat merupakan lembaga
pengendalian sosial secara nonformal karena otoritasnya diberikan
oleh....
a. masyarakat setempat
b. penguasa negara
c. kepolisian
d. pengadilan
e. masyarakat luas
7. Lembaga yang merupakan tempat untuk memperoleh rasa keadilan
dalam masyarakat adalah....
a. kepolisian
b. kejaksaan
c. pengadilan
d. tokoh-tokoh masyarakat
e. lembaga adat
8. Menjatuhkan denda pada para pelanggar peraturan lalu lintas
merupakan pengendalian sosial yang bersifat....
a. represif
b. persuasif
c. koersif

d. kompulsi
e. preventif
9. Di sekolah siswa yang bisa mendapatkan beasiswa, syaratnya
mendapatkan nilai bagus, tidak bolos sekolah, tidak mencontek
merupakan pengendalian sosial yang bersifat....
a. persuasif
b. koersif
c. kompulsi
d. preventif
e. represif
10. Ajakan pemuka agama dalam ceramah-ceramahnya untuk
menjauhi tindakan kriminal merupakan pengendalian sosial yang
bersifat....
a. preventif
b. persuasif lisan
c. persuasif simbolik
d. koersif
e. represif
11. Seorang warga masyarakat walaupun diperbolehkan bekerjasama
dalam kelompok masyarakat, tetapi dia tidak diajak berkomunikasi.
Pengendalian sosial dengan cara ini disebut....
a. fraudulens
b. hukuman
c. ostrasisme
d. pendidikan
e. cemoohan
12. Proses pengendalian sosial yang paling utama dalam kehidupan
bermasyarakat yang dimulai sejak individu lahir dan berlangsung
sepanjang hidup adalah....
a. fraudulens
b. hukuman

c. pendidikan
d. ostrasisme
e. cemoohan
13. Pengendalian sosial dengan cara meminta bantuan pada pihak lain
yang dianggap dapat mengatasi masalah dinamakan....
a. fraudulens
b. hukuman
c. pendidikan
d. ostrasisme
e. cemoohan
14. Perhatikan pernyataan berikut ini !
1) adanya norma yang memadai
2) tidak adanya kepastian hukum
3) kepentingan masyarakat tidak terpenuhi
4) adanya aparat penegak hukum
5) kesadaran warga masyarakat untuk berperilaku tertib
Suatu ketertiban terwujud ditentukan oleh tiga hal yaitu....
a. 1, 2, dan 3
b. 1, 3, dan 5
c. 1, 4, dan 5
d. 3, 4, dan 5
e. 2, 3, dan 4
15. Bentuk nyata kejadian dalam masyarakat yang merupakan akibat
langsung dari tidak berfungsinya lembaga-lembaga pengendalian
sosial adalah....
a. adanya kepastian hukum

b. kepntingan masyarakat terpenuhi


c. tidak pernah terjadi konflik
d. adanya kelompok-kelompok khusus
e. komersialisasi hukum, jabatan dan kekuasaan
16. Revitalisasi aparat penegak hukum dapat dilakukan dengan cara....
a. memperbaiki Undang-undang dasar
b. mengganti peratuan pemerintah
c. mengubah keputusan presiden
d. menolak keputusan menteri
e. mengganti, membina serta mengawasi lebih intensif
17. Pengendalian sosial akan dapat terwujud bila....
a. tekanan dari pemerintah kuat berdasarkan hukum
b. kekuasaan negara otoriter dan menekan.
c. masyarakat berusaha mematuhi norma secara sadar.
d. pelanggaran dapat ditindak dengan tegas
e. para pejabat dapat memberikan keteladanan.
18. Yang termasuk tujuan pengendalian sosial adalah....
a. agar masyarakat mematuhi norma atau aturan
b. dapat terwujud keserasian dan ketentraman
c. dapat mengekang masyarakat untuk berinteraksi
d. agar menyadari perilakunya yang menyimpang
e. memaksa untuk mematuhi peraturan.
19. Warga masyarakat mengadakan gotong royong dengan melibatkan
seluruh warga baik laki-laki, perempuan, anak-anak, remaja dan
para orang tua merupakan salah satu upaya pengendalian sosial
secara....
a. formal
b. persuasif
c. represif
d. internal
e. eksternal
20. Pada masyarakat modern pengendalian sosial eksternal lebih
dipatuhi dari pada internal karena....

a. pengendalian eksternal dibuat oleh yang berwenang.


b. pengendalian internal dianggap kuno
c. pengendalian
internal dibuat
oleh masyarakat yang
bersangkutan
d. pengendalian eksternal sifatnya tegas dan jelas dengan sanksisanksi yang memberatkan.
e. pengendalian intenal sudah tidak diperlukan lagi.
B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan benar!
1. Sebutkan pengertian pengendalian sosial!
2. Jelaskan yang dimaksud pengendalian sosial preventif dan represif
dan berikan contohnya!
3. Sebutkan cara-cara pengendalian sosial!
4. Sebutkan jenis-jenis lembaga pengendalian sosial!
5. Jelaskan akibat dari tidak berfungsinya lembaga pengendalian
sosial!
Posted in:
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
1 komentar:
astari.nitagegz says:
20 Juli 2013 01.12 Reply
Terimakasih karena telah berbagi...senang bisa berkunjung di blog ini :-D
Poskan Komentar
Search

Share

Videos

Tags

Blog Archives

Materi Sosiologi Kelas X

Apa Itu Sosiologi?? (1)

Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial (1)

Nilai dan Norma Dalam Masyarakat (1)

Penerapan Sosiologi Dalam Kehidupan (1)

Penyimpangan Sosial (1)

Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian (1)

QUOTE OF THE WEEK


Tak mungkin hidup tanpa gagal dalam suatu hal, kecuali Anda hidup dengan sangat hatihati sehingga mungkin Anda tak pernah hidup sama sekali dalam hal ini, Anda gagal
sejak awal.
J.K Rowling -

Recent Posts
Blogger Tricks
Blogger Themes