Anda di halaman 1dari 64

Oleh

Ramona Fitri
Pembimbing : dr. Severina Adella Tobing,
Sp.OG

Pendahuluan

Angka kematian merupakan


barometer status

kesehatan, terutama kematian ibu dan


kematian
bayi.
Kematian
ibu
masih
merupakan masalah besar yang dihadapi
berbagai negara di dunia terutama negara
ASEAN seperti Indonesia.
Salah satu yang dapat menjadi penyebab
kematian ibu masalah pada kamilan dan
persalinan salah satu penyebab kematian ibu
dalam kehamilan adalah preeclampsia berat
dan rupture uteri.


Ruptura uteri pada kehamilan, merupakan
salah satu dari komplikasi obstetri yang
sangat serius. Komplikasi ini berhubungan erat
dengan angka kematian dan angka kesakitan
dari bayi dan ibu bersalin. Jika pasien dapat
selamat, fungsi reproduksinya dapat berakhir
dan proses penyembuhannya sering kali
memakan waktu yang cukup lama.


Menurut World Health Organization (WHO), salah
satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu dan
janin adalah pre-eklamsia (PE), angka kejadiannya
berkisar
antara
0,51%-38,4.
Di
Indonesia
Preeklampsia berat (PEB) merupakan salah satu
penyebab utama kematian maternal dan perinatal
di Indonesia. PEB diklasifikasikan kedalam
penyakit hypertensi yang disebabkan karena
kehamilan. PEB ditandai oleh adanya hipertensi
sedang-berat, edema, dan proteinuria yang masif.

Definisi

Preeklampsia merupakan kumpulan gejala


atau sindroma yang mengenai wanita hamil
dengan usia kehamilan di atas 20 minggu
dengan tanda utama berupa adanya hipertensi
dan proteinuria dan edema.

Faktor Risiko

nullipara
kehamilan ganda
obesitas
riwayat keluarga dengan preeklampsia atau
eklampsia
riwayat
preeklampsia
pada
kehamilan
sebelumnya
diabetes melitus gestasional
hipertensi atau penyakit ginjal.

Etiologi

1. Iskemia plasenta
2. Maladaptasi imunologi
3. Genetik

Klasifikasi dan manifestasi klinis

1. Preeklampsia ringan
Tekanan darah sistolik antara 140-160 mmHg
dan tekanan darah diastolik 90-110 mmHg
Proteinuria minimal (< 2g/L/24 jam)
Tidak disertai gangguan fungsi organ


2. Preeklampsia berat
Bila tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau
tekanan darah diastolik > 110 mmHg
Proteinuria (> 5 g/L/24 jam) atau positif 3 atau 4
pada pemeriksaan kuantitatif

PEB dengan impending eclampsia.

Impending
eklampsia
adalah
gejala-gejala
oedema, protenuria, hipertensi disertai gejala
subyektif dan obyektif. Gejala subyektif antara
lain, nyeri kepala, gangguan visual dan nyeri
epigastrium. Sedangkan gejala obyektif antara
lain hiperrefleksiia, eksitasi motorik dan sianosis

Patofisiolgi

Perubahan pokok yang didapatkan pada


preeklampsia adalah adanya spasme pembuluh
darah disertai dengan retensi garam dan air. Bila
spasme arteriolar juga ditemukan di seluruh tubuh,
maka dapat dipahami bahwa tekanan darah yang
meningkat
merupakan
kompensasi
mengatasi
kenaikan tahanan perifer agar oksigenasi jaringan
tetap tercukupi.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa pada
preeklampsia dijumpai kadar aldosteron yang rendah
dan kadar prolaktin yang tinggi dibandingkan pada
kehamilan normal.

Penatalaksanaan PEB

Tirah baring
Oksigenasi
kateter menetap
cairan intravena. Cairan intravena yang dapat
diberikan dapat berupa kristaloid maupun koloid
dengan jumlah input cairan 1500 ml/24 jam
Magnesium sulfat (MgSO4). Obat ini diberikan
dengan dosis 20 cc MgSO4 20%
Antihipertensi

Ruptur Uteri

Uterus yang ruptur dapat langsung terhubung


dengan rongga peritoneum (complete) atau
mungkin terpisah dari peritoneum viseralis
yang menutupi uterus atau oleh ligamentum
latum (incomplete).

Klasifikasi

Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat


dibedakan:
Ruptur Uteri Gravidarum
Ruptur Uteri Durante Partum
Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
Korpus Uteri
Segmen Bawah Rahim
Serviks Uteri.
Kolpoporeksis-Kolporeksis


Menurut robeknya peritoneum, ruptur uteri
dapat dibedakan:
Ruptur Uteri Kompleta
Ruptur Uteri Inkompleta
Menurut etiologinya, ruptur uteri dapat
dibedakan:
Ruptur uteri spontan
Ruptur Uteri Traumatika
Ruptur uteri pada bekas luka seksio sesarea

Mekanisme Ruptur
uteri

Pada waktu in-partu, korpus uteri mengadakan


kontraksi sedang SBR tetap pasif dan cervix
menjadi lunak (effacement dan pembukaan).
Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat
maju
(obstruksi),
sedang
korpus
uteri
berkontraksi terus dengan hebatnya (his
kuat), maka SBR yang pasif ini akan tertarik ke
atas menjadi bertambah regang dan tipis.
Lingkaran Bandl ikut meninggi, sehingga suatu
waktu terjadilah robekan pada SBR tadi.

Penyebab Ruptur

Panggul sempit atau CPD


Malposisi Kepala
Malposisi Kepala
Hidrosefalus
Rigid cervix
Tetania uteri
Tumor jalan lahir
Grandemultipara + abdomen pendulum
Pada bekas seksio sesarea

Komplikasi

Infeksi post operasi


Kerusakan ureter
Emboli cairan amnion
DIC
Kematian maternal
Kematian perinatal

Penatalaksanaan

Histerektomi
Histerorafi

Laporan Kasus

No. Rekam Medik


Tanggal Masuk :
Nama Pasien
:
Umur
:
Agama
:
Pendidikan
:
Pekerjaan
:
Alamat
:
Nama Suami
:
Umur
:
Agama
:
Pendidikan
Pekerjaan
:

: 263795
12 Agustus 2014 Pukul 16.00 WIB
Ny. S
23 tahun
Islam
SD
IRT
Sungai Pasir
Tn. A
24 tahun
Islam
: SD
Petani

Laporan Kasus

Anamnesis
Keluhan Utama
Pasien G2P1A0 datang dengan keluhan sakit perut
mau melahirkan.

Riwayat perjalanan penyakit

Pasien datang ke PONEK Instalasi Gawat Darurat (IGD)


Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dengan keluhan
sakit perut mau melahirkan, os rujukan dari bidan tulung
selapan dengan ketuban pecah dini, riwayat keluar air-air
sejak pukul 21.00 WIB tanggal 11/08/2014 ketuban pecah
sudah lebih kurang 18 jam saat, riwayat keluar darah lendir
(+).
OS mengaku hamil kedua, riwayat abortus disangkal, Os
mengaku hamil kurang lebih dari 9 bulan, gerakan anak
masih dirasakan ibu, Denyut jantung janin 136x/menit,
ireguler. Riwayat darah tinggi pada kehamilan sebelumnya (-).
HPHT: 5/11/2013 Taksiran persalinan: 12/08/2014 pembukaan
8 cm terhenti, portio lunak, ketuban (-) presentasi kepala.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi : Riwayat Diabetes : Riwayat Penyakit Jantung: Riwayat Penyakit Ginjal : Riwayat Asma : Riwayat hipertensi dalam kehamilan :Riwayat sakit saat hamil : Riwayat Trauma saat hamil : -

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi : Riwayat Diabetes : Riwayat Penyakit Jantung: Riwayat Penyakit Ginjal : Riwayat Asma : Riwayat hipertensi dalam kehamilan : -

Riwayat Menstruasi
Usia menarche : 12 tahun
Siklus haid
: 28 hari
Lama haid
: 5-7 hari
Nyeri haid : (+) hr 1, 2
HPHT
: 05/11/2013
TP : 12/08/2014

Riwayat Pernikahan
Lama pernikahan
Usia waktu menikah:

:
8 tahun
17 tahun


Riwayat ANC
OS mengaku melakukan pemeriksaan lebih kurang 8
kali selama hamil saat bidan desa datang ke desanya
dan
dilakukan
pemeriksaan
tekanan
darah,
pemeriksaan kandungan, serta diberi obatobatan.

Riwayat menggunakan KB
KB Suntik 3 bulan sekali
Kehamilan direcanakan


Riwayat Persalinan
6 tahun, jenis kelamin perempuan, berat bayi
2500 gram, secara pervaginam, ditolong bidan.
Hamil ini

Pemeriksaan fisik

1. Status Generalis

a. Keadaan Umum : tampak sakit berat


b. Kesadaran

: Kompos mentis

c. Tanda Vital
1. Tekanan darah :180/100 mmHg
2. Nadi

:88 x/menit

3. Pernapasan

: 22 x/menit

4. Suhu

: 36,6 0C

a. Tinggi Badan

: 160 cm

b. Berat Badan

: 97 kg

a. Kepala

: normochepali

b. Mata

: konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pandangan


kabur, visus menurun (+/+)

c. Leher

:pembesaran tiroid (-), pembesaran KGB (-)

d. Thoraks
-

Mamae

: simetris, kolostrum sudah keluar, puting susu menonjol,

konsistensi lembut.
-

Pulmo

Cor : bunyi jantung I dan II reguler. Gallop (-),

: vesikuler, ronki (-/-) , wheezing (-/-)

Murmur (-)
a. Abdomen

:status gynekologi

b. Genitalia

:status gynekologi

c. Ekstremitas :edema (+/+), akral dingin (+/+)

Status Gynekologi

Abdomen

Inspeksi :
tampak mengalami
pembesaran, tidak terlihat gerakan janin,
tidak terlihat darm contour dan darm steifung,
Terlihat striae gravidarum, tidak ada bekas
operasi. Pada Vulva: Labia mayora terdapat
oedema (-) tampak keluar darah dan lendir


Palpasi
Tinggi fundus uteri 45 cm, pada fundus teraba
lunak. Teraba janin tunggal, letak memanjang,
Punggung janin di kanan, bagian kecil disebelah
kiri, His (+)
Bagian terbawah janin teraba keras,
Auskultasi : bising usus (+), DJJ (+) 138x/m,
ireguler
Pemeriksaan Dalam : pembukaan 8 cm, portio
lunak, ketuban (-), presentasi kepala

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Hb
: 11,4
11,7-15,5 g/dl
Leukosit
: 23.800
400011.000 g/dl
Laju Endap Darah : 110
<15 mm/jam
Diffcount : 1/0/0/90/4/5 1-2/0-1/3-5/54-62/25-33/3-7
Golongan Darah : A
A/B/O/AB
Rhesus Factor
: (+)
Negatif/Positif
Hematokrit
: 37
37-43%
Clotting time
: 8 menit
<15 menit
Bleeding time
: 2 menit
1-6 menit

Pemeriksaan urine

Bakteri
:Negatif
Berat jenis
: 1,030
1,001-1,035
Eritrosit urin
: Penuh
<2 / LPB
Epitel urin : +
positif
Kejernihan
: Agak keruh jernih
Keton Urin: ++ negatif
Kristal Amorf
: negatif
negatif
Kristal Ca Oxalat : negatif
negatif
Kristal Uric Acid : negatif
negatif
Kristal Urine
: negatif
negatif
Leukosit urin
: 15 20
<5/LPB

Nitrit Urin
:negatif
PH urin : 6,5 4,6-8,0
Protein urin
: (++)
negatif
Reduksi Urin : negatif
Silinder urin
: negatif
negative
Urobilinogen urin
:+
negatif
Glukosa : negative

DIAGNOSIS

G2P1A0 hamil aterm minggu inpartu kala I


fase aktif terhenti dengan preeklampsia berat
dan ketuban pecah sebelum waktunya, janin
tunggal hidup presentasi kepala

TATALAKSANA

IVFD RL gtt 20x/menit


Ceftriaxone injeksi , skin test
Phenobarbital injeksi
Nifedipine tablet
Oksigen terpasang 4 L
Kateter
Rencana seksio sesaria segera

Laporan Pembedahan

Pukul 18.10 WIB operasi dimulai. Pasien


terlentang, anestesi spinal. Insisi pfanensteil
dari kulit hingga mukosa, fascia dirobek
secara tumpul sampai menembus peritoneum.
Insisi uterus untuk membuka plika, kemudian
diperluas secara tumpul.
Pukul 18.20 WIB lahir neonatus perempuan
dengan meluksir kepala, didapatkan kepala
hidrosephalus. Berat bayi 4100 gram, panjang
badan 57 cm.


Pukul 18.25 WIB plasenta dilahirkan lengkap
dengan mendapatkan 1 plasenta dengan 1 tali
pusat. Dilakukan penjahitan uterus secara jelujur
dengan benang asucryl. Dilakukan penjahitan
ruptur uteri pada corpus belakang uterus secara
terputus dengan benang asucryl lebih kurang 10
cm. Dilakukan penjahitan plika secara jelujur
dengan plain. Perdarahan dirawat, luka operasi
ditutup lapis demi lapis. Pukul 19.10 WIB operasi
selesai.


Diagnosis pra tindakan : G2P1A0 hamil aterm
inpartu kala I fase aktif terhenti, janin tunggal
hidup presentasi kepala dengan KPSW dan
preeklampsia berat.
Diagnosis pasca tindakan: P2A0 Post Seksio
Sesaria atas indikasi KPSW dan PEB dengan
Ruptur Uteri e causa hidrochepalus.

Prognosis

Quo ad Vitam : Dubia


Quo adFunctionam : Dubia

Pembahasan kasus

Kasus pasien berusia 23 tahun datang ke PONEK


RSMP, pada tanggal 12 Agustus 2014 pukul
16.00 WIB G2P1A0, hamil kurang lebih 9 bulan
datang dengan keluhan sakit perut mau
melahirkan. Os rujukan dari bidan tulung
selapan dengan ketuban pecah dini, riwayat
keluar air-air sejak pukul 21.00 WIB tanggal
11/08/2014 lebih kurang 19 jam, riwayat keluar
darah lendir (+).


OS mengaku hamil kedua, riwayat abortus
disangkal, Os mengaku hamil lebih kurang 9
bulan, gerakan anak masih dirasakan ibu,
Denyut jantung janin 136x/menit. HPHT:
5/11/2013 Taksiran persalinan: 12/08/2014
pembukaan 8 cm terhenti sejak os masih
diklinik bidan, portio lunak, ketuban (-)
presentasi kepala.


Hari pertama haid terakhir pada Ny. S adalah
tanggal 05 bulan 11 tahun 2013, dengan
menggunakan rumus neagele didapatkan taksiran
persalinan yaitu tanggal 12 bulan 08 tahun
2014.Usia kehamilan Ny. S sekitar 40 minggu.
Pemeriksaan His (+), pada pemeriksaan dalam
teraba portio lunak, pembukaan 8 cm, blood slym
(+) merupakan tanda Ibu sedang Inpartu kala 1
fase aktif, namun sejak os berada di bidan
pembukaan 8 cm terhenti.


Riwayat keluar air-air sejak pukul 21.00 WIB
tanggal 11/08/2014 sedangkan os masuk rumah
sakit tanggal 12/08/2014 pukul 16.00 ketuban
pecah lebih kurang 19 jam dan saat diperiksa di
rumah sakit ketuban sudah negative. Ketuban
pecah sebelum waktunya yaitu terjadi robekan
selaput ketuban sebelum ibu dinyatakan dalam
proses persalinan, sedangkan os tidak mengetahui
berapa pembukaan saat ketuban pecah, serta
sudah keluar darah dan lender atau belum tetapi
os mengaku sudah merasakan sakit perut.


Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan keadaan
umum tampak sakit berat, kesadaran kompos
mentis, tekanan darah 180/100 mmHg yang
merupakan hipertensi derajat 2. Sedangkan untuk
nadi 88 x/menit, pernapasan 22 x/menit, suhu 36,6
0C
masih dalam batas normal. Dilihat dari
pemeriksaan urin didapatkan hasil proteinuria (+
+). Hipertensi dan proteinuria menjadi acuan
dalam menegakkan diagnosis preeclampsia.


Kelainan dasar pada preeklampsia adalah
vasospasme
arteriol
sehingga
tanda
peringatan awal muncul adalah peningkatan
tekanan darah. Sedangkan tanda edema
tungkai tidak ditemukan hal ini dapat terjadi
karena faktor berat badan yang berlebihan
sehingga edema tungkai tidak terlihat jelas.


Berdasarkan teori Usia Ny. S 23 tahun, usia Ny.
S bukan merupakan usia dengan resiko tinggi,
dan tidak terdapat riwayat hipertensi dalam
kehamilan pada keluarga. Namun berdasarkan
perhitungan indeks masa tubuh didapatkan
hasil IMT 35, dengan demikian os termasuk
dalam kategori obesitas II pada teorinya,
obesitas merupakan faktor risiko terjadinya
preeclampsia berat.


Pada palpasi tinggi fundus uteri 45 cm, maka
taksiran berat janin menurut rumus Jhonson-Thausac
didapatkan taksiran berat janin sekitar 5270, ini
merupakan tanda bayi besar tetapi hasil ini berbeda
dengan berat bayi lahir yaitu hanya 4100 gram.
Sedangkan letak memanjang, punggung janin di
kanan, bagian kecil disebelah kiri, bagian bawah
janin teraba keras merupakan tanda janin tunggal
dengan presentasi kepala. Pemeriksaan DJJ (+)
138x/menit, ireguler merupakan tanda bahwa janin
dalam keadaan fetal distress.


Penatalaksanaan pada pasien ini saat masuk
rumah sakit, observasi keadaan umum dan
untuk perbaikan keadaan umum dipasang
IVFD RL, diberikan antibiotik ceftriaxone,
phenobarbital, nifedipine, oksigen 4 L,
kateterisasi, dan rencana seksio sesaria
segera.


Seksio sesaria dimulai pada pukul 18.10 selesai
pukul 18.20 lahir neonatus perempuan dengan
meluksir kepala didapatkan kepala hidrosephalus,
berat bayi 4600 gram dan panjang badan 52 cm
dan APGAR Skor 5 dengan hidrosephalus dan RDS.
tanda dari bayi hidrocephalus adalah terjadi
pembesaran lingkar kepala atau makrosefalu,
fontanella tegang, menonjol dan terlihat jelas
dilatasi vena pada tengkorak.


Hidrocephalus merupakan sindrom, tanda
yang muncul karena gangguan pergerakan
cairan
serebro
spinal.
Secara
umum,
penyebabnya dapat terjadi karena infeksi
pada masa didalam kandungan, gangguan
perkembangan janin dan cedera kepala.


Saat dilakukan pembedahan didapatkan ruptur
uteri corpus posterior sekitar 10 cm, kemudian
dilakukan histerorafi yaitu tindakan operatid
dengan mengeksidir luka dengan dijahit. Ruptur
uteri pada kasus ini kemungkinan terjadi karena
peregangan yang luar biasa dari rahim karena
hidrosefalus. Menurut waktu terjadinya, ruptur
uteri pada kasus ini merupakan rupture uteri
durante partum karena terjadi pada saat
melahirkan anak. Menurut lokasinya rupture uteri
kasus ini merupakan korpus uteri.


ini merupakan

Menurut etiologinya
ruptur uteri
spontan pada rahim yang utuh karena peregangan
yang luar biasa dari rahim karena kelainan
kongenital dari janin hidrosefalus, ini terjadi lebih
sering pada multipara daripada primipara.
Mungkin disebabkan dinding rahim pada multipara
sudah lemah.


Tanda rutura uteri pada kasus ini yaitu patrtus
berlangsung lama, pada setiap his pasien
memegang
perutnya
dan
mengerang
kesakitan, pada auskultasi terdengar denyut
jantung janin tidak teratur, pada pemeriksaan
dalam teraba kaput kepala janin yang besar,
ibu juga merasakan perasaan sering mau
kencing karena kandung kemih tertarik dan
teregang.


Pukul 20.00 os dibawa keruang VK untuk
dilakukan pementauan keadaan umum dan
tanda vital, didapatkan keadaan unum tampak
sakit sedang, sensorium kompos mentis,
TD:120/90 mmHg, Nadi : 80 x/menit, RR : 21
x/menit, Suhu : 36,6 C kemudian diberikan
cairan IVFD RL+Pitogin 2 ampul


Setelah hari pertama post operasi pukul 08.00
dilakukan follow up keluhan pasien nyeri disekitar
luka operasi, perut kembung, TD:130/90 mmHg,
Nadi : 88 x/menit, RR : 21 x/menit, Suhu : 36,7 C,
TFU 2 jari bawah pusat, Kontraksi uterus baik,
lochea rubra, Nyeri tekan (+). Diberikan terapi
injeksi Ceftriaxone injeksi 2x1, Metronidazole
infus
3x1,
Tramadol
injeksi
3x1,
Asam
Traneksamat injeksi 3x1, Gentamisin injeksi3x1,
Nifedipine tablet 3x1. Hemoglobin post operasi
10,5 g/dl.


Setelah hari kedua post operasi pukul 08.00
dilakukan follow up keluhan pasien
nyeri
disekitar luka operasi, TD:120/70 mmHg, Nadi :
83 x/menit, RR : 21 x/menit, Suhu : 36,3 C, TFU
2 jari bawah pusat, Kontraksi uterus baik, lochea
rubra, Nyeri tekan (+). Diberikan terapi injeksi
Ceftriaxone injeksi 2x1, Metronidazole infus 3x1,
Tramadol injeksi 3x1, Asam Traneksamat injeksi
3x1, Gentamisin injeksi3x1, Nifedipine tablet
3x1.


Setelah hari ketiga post operasi pukul 08.00
dilakukan follow up os tidak ada keluhan,
TD:120/80 mmHg, Nadi : 84 x/menit, RR : 20
x/menit, Suhu : 36,5 C, TFU 2 jari bawah
pusat, Kontraksi uterus baik, lochea rubra,
Nyeri tekan (+). Diberikan terapi oral
Cefadroxil tablet 3x1, As. Mefenamat 3x1,
Metronidazole tablet 3x1.

Setelah hari keempat post operasi pukul 08.00 dilakukan


follow up os tidak ada keluhan, TD: 130/90 mmHg, Nadi :
84 x/menit, RR : 20 x/menit, Suhu : 36,5 C, TFU 2 jari
bawah pusat, Kontraksi uterus baik, lochea rubra, Nyeri
tekan (+). Pemeriksaan laboratorium hemoglobin 11,0.
Diberikan terapi oral Cefadroxil tablet 3x1, As.
Mefenamat 3x1, Metronidazole tablet 3x1.
Kemudian os mendapat istruksi pulang dari dokter
spesialis, pasien disarankan untuk kontrol ulang setalah
dirawat untuk mengkontrol keadaan umum ibu. Apabila
terdapat keluhan-keluhan yang mengganggu disarankan
untuk segera menghubungi dokter.

Kesimpulan dan
Saran

Pada kasus ini telah terjadi berbagai komplikasi pada ibu


dan janin. Komplikasi ibu terbagi menjadi dua yaitu
komplikasi kehamilan, persalinan. Adapun komplikasi
kehamilan yaitu preeclampsia berat, komplikasi persalinan
yaitu ketuban pecah sebelum waktunya dan ruptur uteri,
komplikasi janin yaitu hidrosefalus dan fetal distress. Hal ini
tentunya dapat mengancam ibu maupun janin.
Penyebab ruptur uteri pada kasus ini adalah bayi
hidrosephalus. Banyak ruptur uteri yang seharusnya tidak
perlu terjadi kalau sekiranya ada pengertian dari para ibu,
masyarakat dan klinisi, karena sebelumnya dapat kita
ambil langkah-langkah preventif. Maka, sangatlah penting
arti perawatan antenatal (prenatal).


Faktor lingkungan tempat tinggal yang jauh
dari fasilitas kesehatan merupakan alasan
bagi para ibu untuk jarang memeriksakan
kandungannya. Oleh karena itu pentingnya
pemberian penyuluhan pada ibu dan keluarga
dalam memeriksakan kandungan atau ante
natal care secara rutin agar dapat memantau
perkembangan janin dan kesehatan ibu
selama hamil.


TERIMAKASIH

Daftar Pustaka

Cunningham FG, Macdonald PC, Gant NF. Obstetri William (Williams


Obstetri). Edisi 21. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Mochtar.R. 2008. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi & Patologi. Jilid 1.
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Indonesia.
Prawirohardjo. S. 2006. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, Indonesia.
Prawirohardjo. S. dan Wiknjosastro. 2002. Ilmu kandungan. FK UI, Jakarta.
Sastrawirata. S. Martaadisoebrata. D. 2005. Obstetri Patologi Ilmu
Kesehatan Reproduksi. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Indonesia.
Manuaba. I. Chandranita.M. 2008. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, Indonesia.
Morgan. G. Hamilton. C. 2009. Practice Guidelines For Obstetrics &
Gynecology (edisi ke-2). Terjemahan Oleh: Syamsy. R. M. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta, Indonesia.
Rambulangi J. 2003. Penanganan Pendahuluan Prarujukan Penderita
Preeklampsia Berat dan Eklampsia. Cermin Dunia Kedokteran No. 139.
Jakarta.

Supono. 1982. Ilmu Kebidanan Patologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Palembang, Indonesia.
Robbins SL, Kumar V. Dalam : Buku Ajar Patologi II. Edisi 4. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC.
Rachimhadhi T. 2005. Kehamilan Ektopik. Dalam : Ilmu Bedah Kebidanan. Edisi I. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo,
Saifiddin AB, Wiknjosastro H. Buku Panduan praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Editor: Affandi B, Waspodo B. Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Cunningham, F.G, et al. 2004. Williams Obsetrics 22nd edition. New York. McGraw-Hill : 824-838.
Mochtar R. Ruptur Uteri dalam Sinopsis Obstetri, ed 2. Jilid 1.1998. Jakarta : EGC.
Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah F. Robekan Rahim dalam Obstetri Patologi
ed 2. 2005. Jakarta: EGC.
Cunningham G, Gant NF, Lenevo KJ, dkk. Ruptur Uteri dalam Obstetri William ed 21,vol 7. 2006.
Jakarta : EGC
Okudaira, S, et al. 2003. UterinePerforation Following Manual Removal of he Placenta.
http://www.nms.ac.jp/jnms/ (diakses 14 Juli 2014).
Departemen Kesehatan RI. 2004. Asuhan Persalinan Normal. Jakarta.