Anda di halaman 1dari 21

Peran Tes Inteligensi dalam Dunia Pendidikan

diposting oleh tommy_firmanda-fpsi09 pada 16 April 2012


di Tugas - 0 komentar
A. PENDAHULUAN
Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang pendidikan. Selain perkembangan, juga tidak
bisa dikesampingkan bahwa masih ada permasalahan-permasalahan pendidikan yang belum dapat diselesaikan
atau dioptimalkan. Perlu adanya pemetaan permasalahan pendidikan di Indonesia sehingga bisa dilakukan evaluasi
dan perbaikan ke arah yang lebih baik.
Di balik perkembangan pendidikan yang cukup pesat ini, ternyata masih ada beberapa hal yang masih belum
berubah seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu hal yang dalam aplikasi pendidikan masih belum
berubah adalah pendidikan di Indonesia masih mengedepankan faktor inteligensi. Inteligensi memang menjadi isu
yang tidak pernah selesai untuk dibahas. Contohnya inteligensi yang masih menjadi bahan pertimbangan dalam
bidang pendidikan masih mengutamakan inteligensi analitik atau dalam teori multiple intelligence Gardner disebut
sebagai Logical Mathematical Intelligence, sedangkan inteligensi lain dikesampingkan. Kenyataannya, intelegensi
analitik tidak melahirkan banyak selain dari konsep-konsep pengetahun, sementara karakter individu berbeda antar
satu dan yang lainnya dalam hal kemampuan. Banyak individu yang berkompetensi dari intelegensi kreatif dan
praktis, namun jika disekolah tidak diseimbangkan penerapan intelegensi-intelegensi tersebut pada peserta didik,
maka perubahan progressif pendidikan akan mengalami perubahan yang sangat lambat.
Intellgensi harus diterapkan dalam proses pembelajaran dalam setiap tingkatan di sekolah bahkan sampai
perguruan tinggi, baik itu intelegensi umum (analitis, kreatif, praktis), maupun 8 intelegensi khusus dan intelegensi
emosional. Intelegensi dan keberhasilan dalam pendidikan adalah dua hal yang saling keterkaitan. Di mana
biasanya anak yang memiliki intelegensi yang tinggi akan memiliki prestasi yang baik di kelasnya, dan dengan
prestasi yang dimilikinya ia akan lebih mudah meraih keberhasilan.
Sejalan dengan penjelasan di atas, inteligensi menjadi sebuah indikator yang valid terkait dengan kecerdasan
akademik / verbal, namun bukan kecerdasan dalam arti yang umum (Weiten, 1992) karena itu inteligensi masih
menjadi aspek utama atau trend dalam bidang pendidikan di samping aspek-aspek lainnya. Inteligensi yang
dideskripsikan dalam bentuk IQ dalam dunia pendidikan digunakan untuk :
1.

Untuk mempredikasi kemampuan belajar peserta didik

2.

Untuk menentukan apakah seorang anak termasuk gifted atau retardasi mental

3.

Untuk prediksi kesulitan belajar peserta didik

4.

Skor individu dalam tes masuk Perguruan Tinggi seperti skor MCAT, GRE, dan LSAT berkorelasi positif
dengan skor inteligensi

5.

Skor tes inteligensi dapat memprediksi waktu dalam menyelesaikan pendidikan seseoranng

6.

Dalam lingkkup yang lebih kecil, dapat memprediksi status pendidikan dan pendapatan

Terkaitt dengan penjelasan di atas, alasan sekolah menggunakan inteligensi sebagai prediktor melalui tes
inteligensi adalah karena anak-anak dengan skor yang tinggi pada tes inteligensi akan dapat belajar lebih baik
dibanding anak-anak yang memiliki skor yang lebih rendah. Tingkat kecerdasan seorang anak yang ditentukan
secara metodik oleh IQ (Intellegentia Quotient) memegang peranan penting untuk suksesnya anak dalam belajar .
Meskipun begitu, pembelajaran yang sukses tergantung pada banyak karakteristik dari individu selain inteligensi,
meliputi memori, ketekunan, minat sekolah, dan kemauan untuk belajar atau motivasi dan faktor-faktor lainnya
seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Namun perlu diperhatikan bahwa intelegensi itu tidak sama dengan apa yang disebut IQ (Intelligence Quotient) di
mana masyarakat masih sering salah interpretasi. Menurut Claparde dan Stern (dalam Sutrisna, 2011), inteligensi
merupakan kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental terhadap situasi dan kondisi baru. Sedangkan

menurut Weschler (1980) mendefinisikan intelegensi sebagai kapasitas untuk mengerti ungkapan dan kemauan
akal budi untuk mengatasi tantangan-tantangannya pada awalnya. Namun pada perkembangannya ia mengatakan
bahwa intelegensi merupakan kemampuan untuk bertindak secara terarah, berfikir secara rasional dan
menghadapi lingkungannya secara efektif. Lalu apakah perbedaan antara inteligensi dan IQ?
Tes inteligensi sebenarnya sudah sejak lama ditemukan, tepatnya Cattel pada tahun 1890, menemukan cikal bakal
tes inteligensi yang disebutnya tes mental. Pada dasarnya tes mental temuan Cattel ini hampir sama dengan
temuan Galton, namun menurut Cattel tidak mungkin dibedakan antara energi mental dan energi jasmani. Oleh
karena itu Cattel membuat tes sendiri yang kemudian hal ini mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan tes
psikologi di masa-masa berikutnya.
Alfred Binet merupakan tokoh yang pertama kali menciptakan tes intelegensi. Ia dan rekannya Henry menerbitkan
sebuah ulasan riset mengenai perbedaan individu di Amerika dan Jerman, yang kemudian menghasilkan
kesimpulan bahwa cara terbaik untuk melihat kepandaian adalah dengan melihat proses mental yang lebih tinggi
yaitu memori, penalaran dan penilaian praktis. Tahun 1905, Binet dan Simon mengembangkan penggunaan tes
intelegensi di Paris, dengan 30 aitem yang berfungsi mengidentifikasi kemampuan sekolah anak. Tahun 1908, Binet
dan Simon mengadakan revisi, selanjutnya tahun 1911. Tahun 1912, Stren membagi mental age
dengan cronological age sehingga muncul konsep IQ hingga direvisi pada tahun 1916 oleh L.M. Terman (Stanford
University USA) dengan tes inteligensi yang kita kenal saat ini dengan nama Tes Stanford-Binet.
Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ inilah yang merupakan istilah dari pengelompokan
kecerdasan manusia yang dimaksud Binet sebagai konsep IQ. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ)
merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif
dari setiap masing-masing individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan
anak-anak sampai usia 13 tahun.
Jika dalam pembahasan sebelumnya telah dipaparkan mengnai fungsi IQ yang sangat berguna dalam dunia
pendidikan, namun di Indonesia pandangan tersebut tidak dapat begitu saja diterima karena menurut pendapat
Haditono (2004) yang mengatakan jika inteligensi yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan pendidikan di
sekolah. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1.

Kurangnya fasilitas belajar

2.

Kurangnya stimulasi mental dari orangtua, terutama orangtua yang berpendidikan rendah

3.

Kurangnya gizi selama masa prenatal maupun postnatal

Meskipun banyak faktor lain yang menunjukkan adanya pengaruh terhadap IQ seseorang, namun saat ini sekolahsekolah umum terutama formal, masih menggunakan IQ sebagai standar agar seorang siswa dapat bersekolah atau
masuk ke dalam sekolah tersebut. Bagaimana dengan pendidikan khusus?
B.

PERAN TES INTELIGENSI DALAM PENDIDIKAN KHUSUS

Inteligensi tidak hanya berperan dalam pendidikan formal maupun informal yang diperuntukkan anak-anak normal
saja, namun juga bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Melalui pendidikan khusus baik Sekolah Khusus maupun
inklusi, pemerintah berusaha memberi fasilitas atau layanan lhusus agar para penyandang disabilitas ini bisa
memperoleh hak yang sama dalam pendidikan. Lalu bagaimana inteligensi dapat berperan dalam pendidikan
khusus ini?
Jika kita bayangkan, tanpa adanya tes inteligensi lalu kita menerima semua anak tanpa tersaring dalam sebuah
sekolah. Apa yang terjadi? Mereka yang berkebutuhan khusus akan mengalami kesulitan dalam proses belajar
karena guru maupun sekolah tidak mengetahui jika mereka berkebutuhan khusus. Karena itu tes inteligensi menjadi
satu aspek yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan anak-anak yang berkebutuhan khusus tersebut.
Beberapa jenis kebutuhan khusus memasukkan tingkat inteligensi atau IQ sebagai dasar untuk menentukan
diagnosa. Misalnya saja pada anak berkesulitan belajar (learning disabilities), tuna grahita/retardasi mental, atau
anak-anak berbakat/cerdas istimewa (gifted/talented). Beberapa kasus di sekolah menunjukkan jika anak-anak yang

memiliki kebutuhan khusus (misalnya tunagrahita/RM ringin atau anak slow learner) sepintas tampak tidak berbeda
dengan anak-anak normal lainnya terutama dalam hal fisik. Akibatnya anak-anak dengan jenis kebutuhan khusus
ini tidak terlayani pendidikannya padahal mereka juga membutuhkan pelayanan pendidikan khusus untuk
mengoptimalkan potensi mereka. Kesimpulannya, tes inteligensi dalam pendidikan khusus bermanfaat untuk
mengidentifikasi anak-anak berkebutuhan khusus sehingga dapat diketahui jenis kebutuhan khususnya dan pihak
sekolah dapat memberikan layanan yang sesuai untuk anak tersebut.
C.

PERAN INTELIGENSI DALAM PENDIDIKAN USIA DINI

Masa usia emas (golden age) perkembangan anak terjadi pada masa usia prasekolah dimana 80% perkembangan
kognitif telah dicapai pada masa ini. Sesuai dengan hasil penelitian Depdiknas yang menyebutkan bahwa pada
usia 4 tahun, kecerdasan anak mencapai 50 persen. Sedangkan pada usia 8 tahun kapasitas kecerdasan anak yang
sudah terbangun mencapai 80 persen. Kecerdasan baru mencapai 100 persen setelah anak berusia 18. Karena itu,
pendidikan pada usia dini sangat penting untuk membantu anak mengembangkan kecerdasannya dan
erkembangan kognitif anak harus mendapat stimulasi agar dapat berkembang secara optimal.
Berbagai penelitian juga menyimpulkan, perkembangan yang diperoleh pada masa usia dini sangat memengaruhi
perkembangan anak pada tahap-tahap perkembangan berikutnya dan meningkatkan produktivitas kerja di masa
dewasanya. Pendidikan usia dini bukan hanya memiliki fungsi strategis, tetapi juga mendasar dan memiliki andil
memberi dasar kepribadian anak dalam sikap, perilaku, daya cipta dan kreativitas, serta kecerdasan kepada caloncalon SDM masa depan. Sejak lahir seorang anak telah memiliki lebih kurang 100 miliar sel otak, sel-sel syaraf ini
harus rutin distimulasi dan didayagunakan agar terus berkembang jumlahnya. Pertumbuhan otak anak ditentukan
bagaimana cara orangtua mengasuh dan memberikan gizi serta memberikan stimulasi pendidikan.
IQ dapat diukur dengan mengggunakan alat tes intelegensia standar yang mencakup kemampuan verbal dan
noverbal, termasuk memori, bahasa, problem solving, pemahaman konsep, persepsi, pengolahan infomasi,
kemampuan berhitung dan kemampuan abstraksi. Namun, semua hasil tes ini bersifat sementara/temporer karena
hasil tes IQ yang baik juga bergantung pada beberapa faktor lain, misalnya latihan stimulasi dan kondisi fisik yang
dialami anak.
Pada perkembangannya, IQ tinggi bukan menjadi jaminan keberhasilan seorang anak di masa depan. Karena tes IQ
hanya mengukur kapasitas kecerdasan logika dan bahasa atau verbal anak. Bahkan, para ahli memperkirakan IQ
hanya menyumbang 20 persen dari keberhasilan seseorang menjalani profesinya setelah lulus sekolah, sedangkan
faktor lainnya lebih banyak dipengaruhi leh faktor kecerdasan emosi, kepribadian dan hal lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, dalam pendidikan anak usia dini atau prasekolah, inteligensi yang terkait dengan
perkembangan kognitif anak merupakan salah satu aspek perkembangan yang harus distimulasi agar dapat
mencapai perkembangan yang optimal. Tes IQ bermanfaat untuk mengukur sejauh mana perkembangan inteligensi
atau kognitif anak telah berkembang sehingga bisa dilakukan tindakan atau layanan pendidikan yang sesuai jika
ditemukan adanya hambatan maupun kelebihan seperti yang dimiliki oleh anak gifted.

1.

Jenis-Jenis Tes Inteligensi

Ada berbagai jenis tes inteligensi. Ada tes inteligensi untuk anak, ada tes
inteligensi untuk orang dewasa. Ada yang diberikan secara individual, ada
yang secara kelompok. Ada yang diberikan secara lisan dan ada yang secara
tertulis.
Dalam kenyataannya, apa yang diukur oleh suatu tes inteligensi belum tentu
sama dengan apa yang diukur tes inteligensi yang lain, sekalipun keduanya
bermaksud mengukur inteligensi. Hal ini disebabkan karena ada
kemungkinan landasan teori tentang inteligensi dari tes inteligensi yang satu
berbeda dengan landasan teori dari tes inteligensi yang lain. Ada
kemungkinan juga dasar pengukuran yang digunakan berbeda.
Sehubungan dengan apa yang diukur oleh tes inteligensi ada beberapa jenis
tes inteligensi:
1.
Tes inteligensi umum yang bertujuan untuk memberikan gambaran
umum yang mengenai taraf inteligensi umum dari seseorang.
2.
Tes inteligensi khusus yang hanya memberikan keterangan yang satu
segi atau faktor yang spesifik dari inteligensi (tes bakat khusus)
3.
Tes inteligensi differensial yang memberikan gambaran mengenai
kemampuan seseorang di dalam berbagai-bagai segi atau faktor inteligensi
yang memungkinkan didapatnya profil atau gambaran segi-segi kekuatan dan
kelemahan dari berfungsinya inteligensi seseorang.
Dengan demikian jelas bahwa tes inteligensi yang biasanya dianggap hanya
mengukur inteligensi umum, tidak demikian adanya.
Tes inteligensi umum yang bertujuan memberikan gambaran tentang taraf
inteligensi umum seseorang pada umumnya berdasarkan pada teori
Spearman. Menurut Spearman pengukuran kemampuan umum yang terbaik
adalah melalui persoalan-persoalan yang membutuhkan kemampuan menalar
yang abstrak. Tes inteligensi defferensial memberikan keterangan tentang
kemampuan di dalam satu atau berbagai segi atau faktor intilegensi yang pada
umumnya di dasarkan pada teori.
Berbeda dengan tes inteligensi umum yang hanya memberikan keterangan
tentang taraf inteligensi umum, maka tes inteligensi differensial
memungkinkan untuk mengukur segi atau faktor inteligensi yang bermacammacam sehingga dapat memperhatikan segi-segi kekuatan dan kelemahan

1.
2.
3.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.

dari berfungsinya inteligensi seseorang. Sehingga dapat dilihat bahwa si A


kemampuan inteligensinya tingga, tetapi kemampuan mengenai angka
rendah. Si B kemampuan mengenai angka tinggi, kemampuan ingatannya
juga tinggi, tetapi kemampuan verbalnya rendah.
Di atas telah dikemukakan bahwa dasar pengukuran yang digunakan dapat
berbeda-beda dari tes inteligensi yang satu dengan tes inteligensi yang lain.
Misalnya tes inteligensi umum ada yang mendasarkan pengukurannya pada:
Usia mental (MA) = Mental Age.
Skor atau nilai standar, berkisar 0 60 dan 0 100, dan sebagainya.
IQ (Inteligensi Quotient)
Mengenai IQ ini, harus berhati-hati dalam menafsirkannya, karena ada dua
macam IQ yang berbeda, yaitu developmental IQ atau ratio IQ dan Deviation
IQ, yang dasar pengukurannya berbeda. Mengenai hal IQ ini akan dibicarakan
tersendiri dari dalam uraian selajutnya.
Uraian-uraian mengenai tes inteligensi di atas menunjukkan bahwa jenis tes
inteligensi, landasan teori, serta dasar pengukuran tes inteligensi dapat
berbeda dari tes inteligensi yang satu dengan tes inteligensi yang lain,
sehingga dalam penafsiran hasil tes inteligensi kita harus hati-hati.
Untuk mencegah kekeliruan penafsiran harus diketahui norma dari tes
inteligensi yang digunakan dalam pengukuran tersebut untuk dapat
mengetahui landasan teori beserta dasar pengukurannya.
Beberapa jenis tes inteligensi antara lain:
Tes Binet Simon
Tes WAIS (Wechsher Adult Intelligence Scale) dan WISC (Wechsher
Inteligence Scale For Children)
Tes Progressive Matrices (Coloured Progressve Matrices, Standard
Progressive Matrices, dan Advance Progressve Matrices)
CFIT (Culture Fair Inteligence Tes) dari Cattel.
TIKI (Tes Inteligensi Kolektif Indonesia)
Tes mengambar orang dari Florence L Gooddenough, ( DAM), dan
sebagainya.
IQ (Intelligence Quotient)

Pada umumnya laporan dari hasil tes inteligensi akan dinyatakan dalam
bentuk skala IQ. IQ adalah suatu skala atau nilai yang diperoleh melalui
pengukuran tes inteligensi. Penafsirannya akan tergantung dari cara
pengukuran yang dilakukan. Mengukur inteligensi tidaklah sama dengan
mengukur panjang atau berat suatu benda, karena skala yang dipakai pada
pengukuran panjang dan berat adalah skala ratio, sedangkan skala yang
dipakai untuk mengukur ter IQ adalah skala interval.
Skala interval mempunyai ciri-ciri:
1.
Mempunyai satuan ukuran yang berjarak sama;
2.
Memupunyai titik nol perjanjian (titik nol yang relatif).
Pada skala interval memeng dapat dilakukan penjumlahan dan pengurangan
skor akan tetapi karena titik nol-nya relatif, maka tidak dapat dilakukan
perkalian dan pembagian. Nilai IQ tidak mempunyai arti mutlak, artinya tidak
dapat dikatakan bahwa seorang yang mempunyai IQ = 150, berarti
mempunyai inteligensi dua kali lipat dari seseorang yang IQnya = 75. Tidak
juga dapat dikatakan bahwa seseorang yang mengalami kenaikan IQ dari 100
menjadi 120, inteligensinya bertambah 20 %. IQ sebagai norma relatif
sifatnya, ia menyatakan perbandingan hasil tes seseorang dengan persetasi
rata-rata atau kelompok standar (IQ penyimpangan) atau ia menyatakan
perbandingan hasil tes seseorang dengan presetasi kelompok yang sebaya (IQ
perbandingan). Karena IQ merupakan suatu hasil pengukuran, ia juga
dipengaruhi kesalahan-kesalahan dalam pengukuran antara lain, tester yang
melakukan pengukuran, alat tes yang dipakai, testi (anak yang mengerjakan
tes) dan situasi pada saat pelaksanaan tes. Karena itu dalam mengartikan
kemampuan umum (IQ) seseorang harus dilakukan dengan hati-hati, maka
banyak faktor yang mempengaruhi pengukuran suatu IQ makin kurang dapat
dipercaya.
Dalam tes-tes psikologis (termasuk tes inteligensi), yang dijadikan skala untuk
mengukur perbedaan-perbedaan individu disebut dengan norma. Norma
dibuat berdasarkan prestasi dari suatu kelompok standar pada suatu tes
psikologis tertentu sehingga norma antara tes yang satu dengan tes yang lain
dapat berbeda-beda. Menghubungkan hasil tes seseorang dengan kelompok
standar dimana ia dapat digolongkan ke dalam kelompok tersebut,

merupakan suatu cara untuk dapat menafsirkan hasil tes (skor tes) anak.
Namun suatu hal yang harus diingat bahwa kelompok yang prestasi hasil
tesnya yang dijadikan norma haruslah betul-betul standar yang artinya
kelompok tersebut harus mempunyai ciri-ciri yang sama/mewakili dari
populasi yang menjadi tujuan penyusunan norma tersebut.
1.
Macam-Macam Norma Tes Inteligensi
Pada umumnya dikenal dua macam norma pada tes inteligensi yaitu:
1.
Norma perkembangan (developmental norms)
Norma perkembangan dipakai pada tes-tes yang bertujuan untuk mengukur
tingkat perkembangan seorang anak sebagai contoh norma yang dipakai
dalam tes Binet Afired mengemukakan istilah umum mental untuk
mengutahui tingkat perkembangan mental anak. Istilah tersebut menjadi
populer dan kemudian oleh L.M.Terman (1911) di perkenalkan IQ
perbandingan atau ratio IQ dengan cara membandingkan umum mental
dengan umum kalender dengan rumus sebagai berikut:
IQ sama dengan MA per CA kali 100, berdasarkan rumus anak yang umum
mentalnya sama dengan umum kalendernya akan mendapatkan IQ= 100,
Sehingga dapat dikatakan anak tersebut berkembang mentalnya normal.
Konsep IQ perbandingan ternyata mempunyai beberapa kelemahan, sehingga
perkembangan selanjutnya diganti IQ penyimpangan
2.
Norma dalam kelompok (within group norms)
Norma ini antara lain menghasilkan penyimpangan (deviation IQ). Disebut
deviasi IQ karena perhitungannya berdasarkan besarnya penyimpanan
seorang dari nilai rata-rata kelompok akan mendapatkan IQ =100, sedangkan
anak yang hasil tesnya satu deviasi standar di atas nilai rata-rata akan
mendapat IQ = 130 dan seterusnya. Seorang yang hasil tesnya satu deviasi
standar di bawah rata-rata akan mendapat IQ = 85 dan seterusnya. Untuk
jelasnya skala IQ penyimpangan dari Wechsler misalnya dapat digambarkan
hubungan diantara berbagai jenis skor tes dalam distribusi norma sebagai
berikut.
Persentase terbesar di dalam kelompok terdapat pada IQ antara 85 dan 115,
yaitu sebesar 68,26 %. Mereka itu dapat digolongkan orang-orang yang
norma. Persentase terkecil terdapat pada kedua daerah diujung grafik, yaitu

sebesar 0,13% atau hanya 13 orang dari 10.000 orang di mana mereka dapat
digolongkan orang-orang luar biasa, yaitu orang-orang yang mendapat IQ =
145 ke atas orang-orang jenius, sedangkan orang-orang yang mendapat IQ =
65 ke bawah adalah orang-orang yang sangat terbelakang.
Skala penyimpangan tersebut diatas dipergunakan pada tes WAIS maupun
WISC berdasarkan pada skala ini, inteligensi dapat digolongkan seperti tabel
berikut:
Pengolongan IQ menurut Wechsier dan Depdikbud
Batas IQ pada setiap
golongan

Pengolongan menurut
wechsier

Pegolongan menurut
depdikbud

128-ke atas

Very supiori

Sangat supior

120-127

Supiori

supior

111-119

Bring normal

Di atas rata-rata

91-100

Average

Rata-rata

80-90

Duil,normal

Dibawah rata-rata

66-79
65 ke bawah

Bordeline
Mental defective

Lambat belajar
Keterbelakangan mental

Apabila dilihat pengolongan inteligensi dari Wechsler tidak mengikuti batasbatas daerah seperti tertera pada grafik, tetapi penyimpangannya tidaklah
banyak. Tiga golongan, yaitu Dull norma, Average dan Bright norma (dari IQ
80-IQ 119) mencakup daerah tengah 68,26% lebih sedikit. Jadi dalam
populasi orang-orang yang termasuk ke dalam tiga golongan inteligensi
tersebut adalah yang terbanyak.
Disamping skala IQ dari Wechsler masih banyak tes inteligensi lain yang
mempunyai skala IQ yang berbeda-beda misalnya skala IQ dari Terman,
sehingga penafsiran IQ pada suatu tes tidak sama dengan penafsiran IQ pada
tes yang lain.
Berdasarkan pembahasan norma dan skala IQ dapat disimpulkan bahwa IQ
sifatnya relatif, karena:

1.

Skala IQ dibuat berdasarkan prestasi kelompok standar tertentu pada


suatu tes inteligensi. Hal ini berarti bahwa skala IQ hanya berlaku pada
populasi yang diwakili oleh kelompok standar tertentu.
2.
Skala IQ tergantung dari tes yang digunakan.
3.
Norma tes termasuk skala IQ pada suatu saat dapat menjadi usang.
Misalnya karena adanya perubahan-perubahan sosial lainnya. Sehingga perlu
sekali norma tes diteliti kembali setelah dipakai dalam jangka waktu tertentu.
1.
Kegunaan Tes Inteligensi
Pada tahun 1905 di Paris, tes inteligensi anak yang pertama dari Alfred Binet
dan Theodore Simon di susun berdasarkan kebutuhan guna membedakan
anak-anak sekolah ke dalam golongan anak-anak norma dan anak-anak
terbelakang materi. Sampai saat ini tes inteligensi umum masih digunakan
untuk tujuan tersebut, yaitu utnuk mengadakan seleksi pendahuluan. Dengan
seleksi ini dapat ditemukan secara disini anak-anak ini.
Akhir-akhir ini, di samping anak-anak yang terbelakang mental, tes inteligensi
juga mulai banyak digunakan untuk menemukan anak-anak yang memiliki
kecerdasan yang sangat tinggi, jauh di atas anak rata-rata. Karena anak yang
tinggi taraf inteligensinya cepat menangkap dan mengerti pelajaran-pelajaran,
maka banyak waktu luang yang sering kali digunakan untuk mengganggu
anak-anak lain. Untuk anak-anak golongan ini membutuhkan kelas khusus
atau sekolah khusus.
Tes inteligensi dapat pula digunakan untuk mendaignosis apa yang menjadi
penyebab dari kegagalan anak di sekolah. Guru dan para orang tua anak di
sekolah dasar yang pelajaranya kurang lancar dan prestasinya rendah sering
menghadapi problema yang cukup membingungkan dan sulit, yaitu apakah
prestasi rendah tersebut disebabkan oleh inteligensi anak yang rendah
ataukah oleh faktor-faktor lain. Seperti kurangnya motivasi belajar, keadaan
lingkungan yang buruk, baik keluarga maupun sekolah, atau kelainankelainan fisik seperti kelainan ketajaman penlihatan, pendengaran dan
sebagainya.
Untuk memecahkan persoalan-persoalan dan keluhan-keluhan semacam ini
tes inteligensi dapat membantu menemukan penyebab rendahnya prestasi,
khususnya kelainan terdapat pada bidang mental. Selain itu, tes inteligensi

juga banyak di gunakan dalam seleksi misalnya dalam seleksi masuk suatu
sekolah, baik pada tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Seleksi penerimaan murid
baru ini dibutuhkan karena dalam kenyataannya:
1.
Masih kekurangan sekolah, sehingga jumlah lulusan tidak sebanding
dengan jumlah sekolah atau kelas yang tersedia.
2.
Mutu dan kriteria nilai rapor dari sekolah yang satu berbeda dengan
sekolah yang lain.
Untuk keperluan seleksi, tujuan utama adalah memilih anak yang terbaik
sesuai kebutuhan sekolah di antara pelamar dengan mengunakan alat yang
telah distandardisir, valid, dan variabel, dalam hal ini tes inteligensi umum,
dengan mencari suatu patokan nilai yang akan menentukan anak yang dapat
diterima dan anak yang tidak dapat diterima.
Untuk keperluan penjurusan atau penyaluran dalam pendidikan, seperti
dalam jurusan IPA,IPS, dan Bahasa di SMU dan sekolah kejurusan (SMK)
serta penentuan apakah seseorang sesuai atau kurang sesuai untuk suatu
pekerjaan tertentu sebaiknya tidak hanya menggunakan tes inteligensi umum
saja, tetapi menggunakan tes psikologis lain seperti tes inteligensi differensial
yang memberikan gambaran tentang kemampuan didalam faktor-faktor
interligensi yang bermacam-macam, tes bakat, tes minat, tes kepribadian, dan
sebagainya.
Keberhasilan seseorang di dalam pendidikan atau pekerjaan tidak hanya
ditentukan oleh taraf inteligensi saja, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor
lain, seperti faktor lingkungan, kepribadian, motivasi, dan minat. Memang
secara umum dikatakan bahwa kemungkinan berhasil pada suatu pendidikan
bagi seseorang yang mempunyai taraf inteligensi yang tinggi adalah lebih
besar dari pada kemungkinan keberhasilan bagi anak yang mempunyai taraf
inteligensi yang lebih rendah, tetapi tidak selalu taraf inteligensi searah
dengan prestasi belajar. Karena itu taraf inteligensi yang tinggi belum tentu
menjamin keberhasilan seseorang, bila tidak didukung oleh kecerdasan
emosional dan faktor-faktor lainya. Dari hasil-hasil penelitian terbukti hanya
sekitar 20% sumbangan faktor inteligensi terhadap keberhasilan seseorang
dalam studinya, maupun dalam pekerjaanya.

.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Pengertian inteligensi merupakan salah satu konsep yang mempelajari
psikologi mencakup istilah yang meliputi: pandai, cakap, pintar dan cerdas.
2.
Faktor-faktor yang terdapat dalam inteligensi menurut para ahli yaitu
adalah sebagai berikut:
3.
Charles Spearman
4.
Burt
5.
Thurstone
6.
Thomson
7.
Sejarah perkembangan tes inteligensi ini ada seorang ilmuwan dari
negara prancis yang bernama Alfred Binet ia meneliti pengukuran inteligensi
seorang anak yang cerdas dengan anak yang keterbelakangan mental.
8.
Jenis-jenis tes inteligensi ada berbagai jenis tes inteligensi untuk anak,
ada tes inteligensi untuk orang dewasa. Ada yang diberikan secara individual,
ada yang secara kelompok
9.
IQ adalah suatu skala atau nilai yang diperoleh melalui pengukuran tes
inteligensi. Penafsirannya akan tergantung dari cara pengukuran yang
dilakukan
10.
Ada dua macam norma pada tes inteligensi yaitu:
11.
Norma perkembangan (developmental norms).
12.
Norma dalam kelompok (within group norms).
13.
tes inteligensi juga mulai banyak digunakan untuk menemukan anakanak yang memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, jauh di atas anak rata-rata.
14.
Saran
Sebagai saran dari makalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Apabila seorang guru atau konselor sudah menemukan inteligensi
peserta didik maka harus memberikan bimbingan belajar yang baik di dalam
situasi belajar, sehingga setiap peserta didik dapat belajar dengan efisien dan
mencapai pertimbangan yang optimal.

2.

Seorang guru konselor harus meningkatkan pendidikan untuk anak


didik demi masa depan yang lebih baik.
3.
Seorang guru harus bisa mengetahui latar belakang peserta didik karena
salah satu faktor membuat siswa bermasalah.
4.
Seorang guru harus mampu membangun komunikasi dengan baik
sehingga inteligensinya peserta didik dapat bertumbuh dan berkembang
positif.
DAFTAR PUSTAKA

Penggolongan Legkap Tingkat Intelegent Quotient (IQ) Manusia


Posted on Maret 16, 2014by The Children Indonesia

Intelegent quotient atau IQ ialah angka yang mana menjelaskan tingkat


kecerdasan seseorang yang dibandingkan dengan sesamanya dalam satu populasi.
Kecerdasan atau yang biasa dikenal dengan IQ (bahasa Inggris:intelligence
quotient) adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran
yang
mencakup
sejumlah
kemampuan,
seperti
kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak,
memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan erat
kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki oleh individu. Kecerdasan
dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes
IQ. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa IQ merupakan usia mental yang
dimiliki manusia berdasarkan perbandingan usia kronologis.
Bagaimana caranya mengetahui tingkat IQ (Intellegent Quotient) seseorang ? Umumnya
dilakukan melalui psikotest yang memiliki banyak metode atau cara. Namun, para ahli berbeda
pendapat dalam menentukan ukuran soal tingkatan IQ manusia. Berikut ini klasifikasi
tingkatan IQ manusia menurut pendapat beberapa ahli:
Klasifikasi IQ berbeda untuk setiap metode test yang digunakan.

Stanford-Binet mengklasifikasikan nilai IQ normal yang berkisar diantara 85 115.


Lewis Terman mengklasifikasikan nilai IQ normal pada kisaran 90 109.

Wechsler mengklasifikasikan IQ normal pada angka 100 dengan nilai toleransi 15


(berarti 85 115).

Dikarenakan perbedaan ini, maka selain nilai IQ yang didapat, harus diperhatikan pula metode
test apa yang digunakan.
Klasifikasi umum Tingkat kecedasan modifikasi dari ketiga di atas

0 29 Idiot IQ (0-29) Idiot merupakan kelompok individu terbelakang paling rendah.

Tidak dapat berbicara atau hanya mengucapkan beberapa kata saja. Biasanya tidak dapat
mengurus dirinya sendiri seperti mandi, berpakaian, makan dan sebagainya, dia harus
diurus oleh orang lain. Anak idiot tinggal ditempat tidur seumur hidupnya. Rata-rata
perkembangan intelegensinya sama dengan anak normal 2 tahun. Sering kali umurnya tidak
panjang, sebab selain intelegensinya rendah, juga badannya kurang tahan terhadap
penyakit
30 40 Imbecile IQ (30-40) Kelompok Anak imbecile setingkat lebih tinggi dari pada

anak idiot. Ia dapat belajar berbahasa, dapat mengurus dirinya sendiri dengan pengawasan
yang teliti. Pada imbecile dapat diberikan latihan-latihan ringan, tetapi dalam kehidupannya
selalu bergantung kepada orang lain, tidak dapat mandiri. Kecerdasannya sama dengan
anak normal berumur 3 sampai 7 tahun.Anak-anak imbecile tidak dapat dididik di sekolah
biasa.
50 69 Moron atau Debil IQ / Mentally retarted (50-69) Kelompok ini sampai tingkat

tertentu masih dapat belajar membaca, menulis, dan membuat perhitungan sederhana,
dapat diberikan pekerjaan rutin tertentu yang tidak memerlukan perencanaan dan dan
pemecahan. Banyak anak-anak debil ini mendapat pendidikan di sekolah-sekolah luar
biasa.
70 79 = Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental. Kelompok bodoh IQ dull/

bordeline (70-79)Kelompok ini berada diatas kelompok terbelakang dan dibawah kelompok
normal (sebagai batas). Secara bersusah paya dengan beberapa hambatan, individu
tersebut dapat melaksanakan sekolah lanjutan pertama tetapi sukar sekali untuk dapat
menyelesaikan kelas-kelas terakhir di SLTP
80 90 = Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal). Normal

rendah (below avarage), IQ 80-89. Kelompok ini termasuk kelompok normal,rata-rata


atau sedang tapi pada tingakat terbawah, mereka agak lambat dalam belajarnya, mereka
dapat menyelesaikan sekolah menengah tingkat pertama tapi agak kesulitan untuk dapat
menyelesaikan tugas-tugas pada jenjang SLTA
91 110 = Tingkat IQ normal atau rata-rata. Normal sedang, IQ 90-109. Kelompok ini
merupkan kelompok normal atau rata-rata, mereka merupkan kelompok terbesar
presentasenya dalam populasi penduduk.

111 120 = Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal). Normal tinggi

(above average) IQ 110-119 Kelompok ini merupakan kelompok individu yang normal
tetapi berada pada tingkat yang tinggi.
120 130 = Tingkat IQ superior. Cerdas (superior) ,IQ 120-129. Kelompok ini sangat

berhasil dalam pekerjaan sekolah/akademik. Mereka seringkali terdapat pada kelas biasa.
Pimpinan kelas biasanya berasal dari kelompok ini
131 atau lebihTingkat IQ sangat superior atau jenius. Sangat cerdas (very superior/

gifted) IQ 130-139 Anak-anak very superior lebih cakap dalam membaca, mempunyai
pengetahuan yang sangat baik tentang bilangan, perbendaharaan kata yang luas, dan
cepat memahami pengertian yang abstrak. Pada umumnya, faktor kesehatan, ketangkasan,
dan kekuatan lebih menonjol dibandingkan anak normal.
140 atau lebih Genius IQ > 140 Kelompok ini kemampuannya sangat luar biasa.
Mereka pada umumnya mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah dan
menemukan sesuatu yang baru meskipun dia tidak bersekolah. Kelompok ini berada pada
seluruh ras dan bangsa, dalam semua tingkat ekonomi baik laki-laki maupun perempuan.
Contoh orang-orang genius ini adalah Edison dan Einstein.

Tingkat intelegensi dalam ukuran secara kognitif, pandangan lama menunjukkan bahwa

kualitas intelegensi atau kecerdasan yang tinggi dipandang sebagai faktor yang
mempengaruhi keberhasilan individu dalam belajar dan meraih kesuksesan.
Telah berkembang pandangan lain yang menyatakan bahwa faktor yang paling dominan

yang mempengaruhi keberhasilan individu dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan


oleh tingginya kecerdasan intelektual, tapi oleh faktor kemantapan emosional yang ahlinya
yaitu Daniel Goleman disebut Emotional Intelegence (kecerdasan emosional).
Banyak orang yang gagal dalam hidupnya bukan karena kecerdasan intelektualnya

rendah, namun mereka kurang memiliki kecerdasan emosional mekipun intelegensinya


berada pada tingkatan rata-rata. Tidak sedikit orang yang sukses dalamnya hidupnya
karena memilki kecerdasan emosional.
Kecerdasan emosional ini semakin perlu di pahami, dimilki dan diperhatikan dalam
pengembangannya karena mengingat kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Kehidupan
yang sangat kompleks ini memberikan dampak yang sangat buruk terhadap konstelasi
kehidupan emosional individu. Dalam hal ini Daniel Goleman mengemukakan hasil survei
terhadap para orang tua dan guru yang hasilnya bahwa ada kecenderungan yang sama di
seluruh dunia, yaitu generasi sekarang banyak mengalami kesulitan emosional daripada
generasi sebelumnya, mereka lebih kesepian dan pemurung, lebih bringasan dan kurang
menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsif dan agresif.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Intelegensi
Intelegensi berasal dari kata latin intelligece yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau
menyatukan satu dengan yang lain. (to organize, to relate, to bind together). (Prof. Dr. Bimo Wagito, 2004).
Jadi intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seorang berbuat sesuatu
dengan cara tertentu. (Abdul Rahman Shaleh, 2009). Istilah intelegensi kadang-kadang atau justru sering
memberikan pengertian yang salah, yang memandang intelegensi sebagai kemampuan yang mengandung
kemampuan tunggal. Padahal menurut para ahli intelegensi mengandung bermacam-macam kemampuan.
Namun demikian intelegensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.
Pengertian intelegensi menurut para ahli :
1)

Menurut William Stern, intelegensi adalah kesanggupa untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan baru,
dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai dengan tujuannya

2)

Andrew Crider mengatakan bahwa intelegensi itu bagaikan listrik, gampang diukur tapi hampir mustahil untuk
didefinisikan

3)

Alfred Binet dan Theodore Simon mendefinisikan intelegensi terdiri atas 3 komponen yaitu :

a.

Kemampuan untuk mengarahkan pikiran / mengarahkan tindakan

b.

Kemampuan untuk mengubah tindakan

c.

Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri / melakukan autocriticism

4)

Lewis Madison Terman, intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak

5)

H.H. Goddard, intelegensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalahmasalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang

6)

V.A.C Henmon, menyatakan bahwa intelegensi terdiri atas dua faktor yaitu :

a.

Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan

b.

Pengetahuan yang telah diperoleh

7)

Edward Lee Thorndibe, intelegensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan
kebenaran atau fakta

8)

George de Stoddard, intelegensi adalah kemampuan untuk memahami masalah-masalah

9)

David Wechsles, intelegensi adalah kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir
secara rasional serta menghadapi lingkungannya dengan efektif

10) Ebbinghaus, intelegensi adalah kemampuan untuk membuat kombinasi


11) Terman, intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak
12) Thorndike, intelegensi adalah hal yang dapat dinilai dengan taraf ketidaklengkapan daripada kemungkinankemungkinan dalam perjuangan hidup individu. (Drs. Saifuddin Azwar, MA : 1996)
B. Macam-macam Intelegensi
1.

Intelegensi praktis (practical intellegence)


Adalah nama lain untuk intelegensi motor indera yang tumbuh dan berkembang seiring dengan
perkembangan motor indera (usia 0 2 tahun) dan merupakan dasar dari semua intelegensi yang
berkembang kemudian. Dengan intelegensi praktis, seorang anak dapat belajar untuk berbuat sesuatu
sekalipun ia belum mampu memikirkan perbuatan itu. Ia tahu bagaimana cara mengerjakan sesuatu akan

tetapi ia tidak dapat memahami apa sebenarnya yang dikerjakan itu apalagi untuk mengerti akibat perbuatan
tersebut.
2.

Intelegensi pra operasional (preoperational intellegence)


Anak memasuki periode perkembangan praoperasi (usia 2 7 tahun). Ciri dari anak pada masa
periode ini adalah :

a.

Cara berpikir anak bersifat egosentris (egocentric) yaitu berupa pandangan sempit dan mengacu pada diri
sendiri serta tidak mampu melihat masalah dari sudut pandang orang lain.

b.

Cara berpikir kompleksif (compexive thinking)


Yaitu berpikir tidak dengan jalan menyatukan beberapa pemikiran ke dalam satu konsep yang berarti akan
tetapi justru meloncat dari satu gagasan ke gagasan yang lain.

c.
d.

Kecenderungan yang kuat dalam diri anak untuk menempatkan sifat-sifat manusia pada benda mati
Ketidakmampuan anak untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut pengarahan dan koordinasi pikiran, yang
mana anak memerlukan petunjuk luar (external cues) yang langsung dapat membimbing dan memantapkan
perilakunya untuk dapat melaksanakan tugas tertentu.

3.

Intelegensi operasional (operational intellegence)


Di sekitar usia 5 7 tahun anak mulai memahami apa yang disebut sebagai operasi nyata ( concrete
operation). Pada tahap ini apa yang dihadapi anak terbatas pada karakteristik-karakteristik nyata yang terjadi
dalam situasi-situasi nyata.

4.

Intelegensi operasional formal (formal operational intellegence)


Perkembangan intelegensi ini diawal pada masa awal remaja. Dalam penyelesaian masalah anak
mampu menyisihkan berbagai penyebab kejadian. Di tahap ini anak mulai mampu menyelesaikan masalah.
Hal itu merupakan suatu kemampuan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai informasi yang harus
diterimanya dari lingkungan.

C. Teori-Teori Intelegensi
1.

Teori uni-faktor
Pada tahun 1911, Welhelm Stern memperkenalkan suatu teori tentang intelegensi yang disebut unifactors theory. Menurut teori ini intelegensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Oleh karena itu,
cara keja intelegensi juga bersifat umum. Kapasitas umum yang ditimbulkan lazim dikemukakan dengan kode
G (General Capacity).

2.

Teori two-factors
Pada tahun 1904 sebelum Stern, seorang ahli matematika bernama Charles Spearman mengajukan
teori ini, yang dikenal dengan sebutan two kinds of factors theory. Spearman mengembangkan teori
intelegensi berdasarkan suatu faktor mental umum yang diberi kode G serta faktor-faktor spesifik yang diberi
tanda S untuk menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan. Faktor G lebih
tergantung kepada dasar, sedangkan faktor S itu dipengaruhi oleh pengalaman (lingkungan, pendidikan).

3.

Teori multi-factors
Teori ini dikembangkan oleh E.L Thorndike. Menurutnya teori ini tidak berhubungan dengan konsep
faktor G yang mana bahwa intelegensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan
respon hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu. Intelegensi menurut teori ini
jumlah koneksi aktual dan potensial di dalam sistem syaraf. Misal ketika seorang individu menghapus sajak itu
berarti bahwa ia dapat melakukan itu karena terbentuknya koneksi-koneksi di dalam sistem syaraf akibat
belajar atau latihan.

4.

Teori primary-mental-ability

Di dalam teori ini L. I. Thrustone telah berusaha menjelaskan tentang organisasi intelegensi yang
abstrak. Dengan menggunakan tes-tes mental serta teknik-teknik statistik khusus membagi intelegensi menjadi
beberapa kemampuan primer, yaitu :
a.

Kemampuan numerical / matematis

b.

Kemampuan verbal / bahasa

c.

Kemampuan abstraksi berupa visualisasi / berpikir

d.

Kemampuan untuk menghubungkan kata-kata

e.

Kemampuan membuat keputusan

5.

Teori sampling
Godfrey H. Thomson pada tahun 1916 menyempurnakan teori ini dari berbagai kemampuan sampel.
Dunia berisikan berbagai bidang pengalaman itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak semuanya.
Masing-masing bidang hanya dikuasai sebagian-sebagian saja. Ini mencerminkan kemampuan mental
manusia. (Abdul Rahman Saleh, 2009)
Teori intelegensi menurut para ahli :

1.

Alfred Binet (1857 1911)


Salah satu ahli psikologi yang mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang
dari satu faktor satuan atau faktor umum (G). Menurut Binet, intelegensi merupakan sisi tunggal dari
karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Jadi untuk melihat
apakah seseorang cukup intelegen / tidak, dapat diamati dengan cara dan kemampuannya untuk mengubah
arah tindakannya itu apabila perlu. Inilah yang dimaksudkan dengan komponen arah, adaptasi dan kritik dalam
definisi intelegensi.

2.

Jean Piaget
Teori ini ditekankan pada aspek perkembangan kognitif, tidak merupakan teori yang mengenai struktur
intelegensi semata-mata. Piaget mendefinisikan intelegensi secara kuantitatif sebagaimana umumnya
dicerminkan oleh banyaknya jawaban yang benar pada suatu tes akan tetapi ia menyimpulkan dalam prinsip
teorinya bahwa daya pikir / kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
(Ginsburg dan Opper, 1969; Lazerson, 1975). Oleh karena itu, masalah utama dan membahas intelegensi
adalah masalah cara mengungkapkan berbagai metode berpikir yang digunakan oleh anak-anak dari berbagai
tingkatan usia. (Balqiz Ekatri Azalea, 1996)

D. Ciri-ciri Perbuatan Intelegensi


Suatu perbuatan dapat dianggap intelegen bila memenuhi beberapa syarat antara lain :
1.

Masalah yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan
Misal : mengapa api jika ditutup dengan sehelai karung bisa padam? Ditanyakan kepada anak yang baru
bersekolah menjawab dengan betul maka jawaban itu intelegen, tetapi jika pertanyaan itu dijawab oleh anak
yang baru saja mendapat pelajaran ilmu alam tentang api, hak itu tidak dapat dikatakan intelegen.

2.

Perbuatan intelegen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis


Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicarinya jalan yang dapat menghemat waktu maupun
tenaga.
Misal : saudara kehilangan pulpen di suatu lapangan, bagaimana mencarinya?

3.

Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan
Misal : ada suatu masalah, bagi orang dewasa mudah untuk memecahkannya, hampir tiada berpikir, sedang
bagi anak-anak harus dijawab dengan otak, tetapi telat, jawaban anak itu intelegen.

4.

Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat

Misal : apa yang harus anda perbuat jika anda lapar? Kalau jawabnya : saya harus mencuri makanan. Tentu
saja jawaban itu tidak intelegen.
5.

Dalam berbuat intelegen seringkali menggunakan daya mengabstraksi


Misal : apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabstraksi.

6.

Perbuatan intelegen bercirikan kecepatan


Proses pemecahannya relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi.

7.

Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan
masalah yang sedang dihadapi
Apa yang akan saudara perbuat jika sekonyong-konyong saudara melihat orang yang tertabrak mobil dan
pertolongan saudara sangat diperlukan?
(Drs. Ngalim Purwanto, MP. 1999)

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intelegensi


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi intelegensi, sehingga terdapat perbedaan intelegensi
seseorang dengan yang lain, yaitu :
1.

Pembawaan : pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.

2.

Kematangan : tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah menacpai
kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan umur.

3.

Pembentukan : pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi
perkembangan intelegensi.

4.

Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan
dorongan bagi perbuatan itu. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan
lebih baik.

5.

Kebebasan : kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam
memecahkan masalah-masalah. Dengan adanya kebebasan ini berarti bahwa minat itu tidak selamanya
menjadi syarat dalam perbuatan intelegensi. (Drs. Ngalim Purwanto, MP., 1999)

F. Konsep-konsep Mengenai Intelegensi


Konsep-konsep mengenai intelegensi pada dasarnya digolongkan menjadi lima kelompok yaitu :
1.

Konsepsi-konsepsi mengenai intelegensi yang bersifat spekulatif filsafati


Spearman dalam bukunya yang terkenal, yaitu The Abilities of Man (1927) mengelompokkan konsepsikonsepsi spekulatif filsafati itu menjadi 3 kelompok yaitu :

a.

Intelegensi umum

1)

Ebbingheus (1897) memberi definisi intelegensi sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi

2)

Termen (1921) memberi definisi intelegensi sebagai kemampuan untuk berpikir abstrak

3)

Thorndike memberi definisi intelegensi sebagai hal yang dapat dinilai dengan taraf ketidaklengkapan daripada
kemungkinan-kemungkinan dalam perjuangan hidup individu.

b.

Intelegensi sebagai kesatuan dari pada daya-daya jiwa formal


Menurut konsepsi ini intelegensi adalah persatuan (kumpulan yang dipersatukan) daripada daya-daya
jiwa yang khusus. Karena itu pengukuran mengenal intelegensi juga dapat ditempuh dengan cara mengukur
daya-daya jiwa khusus itu, misalnya daya mengamati, daya memproduksi, daya berpikir dan sebagainya.

c.

Intelegensi sebagai taraf umum daripada daya-daya jiwa khusus


Konsep-konsepsi ini timbul dari keyakinan, bahwa apa yang diselidiki (dites) dengan tes intelegensi itu
adalah intelegensi umum. Jadi, intelegensi diberi definisi sebagai taraf umum yang mewakili daya-daya
khusus.

2.

Konsep-konsepsi yang bersifat pragmatis

Dasar dari konsep ini kiranya adalah yang dinyatakan oleh boring bahwa intelegensi adalah apa yang
dites oleh tes intelegensi.
3.

Konsep-konsepsi faktor
Konsep-konsepsi ini dinamakan demikian sebenarnya beralas pada kenyataan bahwa di dalam
menyelidiki dan mencari sifat hakikat intelegensi itu orang mempergunakan teknik analisis faktor, suatu teknis
yang mula-mula dirintis oleh Spearman dan kemudian cepat berkembang.

4.

Konsepsi yang bersifat operasional


Jalan inilah yang ditempuh oleh mereka yang memakai cara pendekatan filsafati. Kaum pragmatis
membeli jalan yang ditempuh oleh para ahli yang memakai cara pendekatan apakah intelegensi itu dan
berusaha mengukurnya, melainkan mereka menyusun tes dan menyatakan intelegensi adalah apa yang
diukur oleh tes ini, tetapi cara pendekatan secara pragmatis ini juga tidak memuaskan dan sebenarnya juga
sekehendaknya (semau-maunya).

5.

Konsep-konsepsi fungsional
Konsepsi ini disusun atas pemikiran / analisis mengenai bagaimana berfungsinya intelegensi itu, lalu
dirumuskan sifat-sifat hakikatnya atau definisinya.
Salah sato teori yang disusun atas dasar cara seperti yang dikemukakan itu ialah teori Binet. Binet
menyatakan sifat hakikat intelegensi itu ada 3 macam yaitu :

a.

Kecenderungan untuk menetapkan dan mempertahankan tujuan tertentu

b.

Kemampuan untuk mengadakan, menyesuaikan dengan maksud untuk mencapai tujuan itu

c.

Kemampuan untuk oto-kritik, yaitu kemampuan untuk mengkritik diri sendiri, kemampuan untuk belajar dari
kesalahan yang telah dibuatnya. (Drs. Sumardi Suryabrata, 1998)

G. Pendekatan-Pendekatan Intelegensi
Dalam memahami intelegensi, Maloney dan Ward (1976, dalam Groth Marnat, 1984)
mengemukakan empat pendekatan umum. Di antaranya :
1.

Pendekatan teori belajar


Inti pendekatan teori belajar terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum
yang dipergunakan oleh individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Dalam pendekatan ini para
ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku yang tampak dan bukan pada pengertian mengenai konsep
mental dari intelegensi itu sendiri.
Dalam pendekatan ini perlu ditekankan bahwa hampir semua ahli teori belajar, intelegensi bukanlah
sifat kepribadian (trais) akan tetapi merupakan kualitas hasil belajar yang telah terjadi. Lingkungan belajar
sendiri menentukan kualitas dan keluasan cadangan perilaku seseorang dan karenanya dianggap menentukan
relativitas intelegensi individu.

2.

Pendekatan Neuro biologis


Beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis perilaku intelegen. Menurut
pendekatan ini, dapat ditelusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan proses neuro-fisiologisnya. Oleh karena itu,
dalam berbagai riset, selalu dipentingkan untuk melihat korelasi-korelasi intelegensi pada aspek-aspek
anatomi, elektrokimia atau fisiologi.

3.

Pendekatan psikometris
Ciri utama dalam pendekatan ini adalah adanya anggapan bahwa intelegensi merupakan suatu
konstrak (construct) atau sifat (trait) psikologis yang berbeda-beda keduanya bagi setiap orang.
Dalam pendekatan psikometris sendiri terdapat studi yaitu :

a.

Bersifat praktis dan lebih menekankan pada pemecahan masalah (problem solving)

b.

Lebih menekankan pada konsep dan penyusunan materi

Pendekatan psikometri inilah yang melahirkan berbagai skala-skala pengukuran intelegensi yang
menjadi awal skala intelegensi yang banyak dikenal sekarang.
4.

Pendekatan teori perkembangan


Dalam pendekatan ini intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara
kualitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. Sebagai contoh, Jean Piaget
(Girsburg & Opper, 1989 dan Hergenhahn, 1982) mengawali konsepsi mengenai tes intelegensi. Tampak oleh
Piaget bahwa terdapat pola respon tertentu yang ada kaitannya dengan tingkatan usia tertentu pula. Studi
selanjutnya meyakinkannya bahwa memang terdapat perbedaan kualitatif dalam cara berpikir anak pada
masing-masing kelompok usia. (Drs. Saifuddin Azwar, MA., 1996)

H. Hubungan Intelegensi dengan Kehidupan Seseorang


Memang kecerdasan / intelegensi seseorang memainkan peranan yang penting dalam kehdiupannya.
Akan tetapi kehidupan adalah sangat komplek intelegensi bukan satu-satunya faktor yang menentukan sukses
tidaknya kehidupan seseorang. Banyak lagi faktor yang lain.
Faktor kesehatan dan ada tidaknya kesempatan, tidak dapat kita abaikan, karena meskipun cerdas
jika tidak ada kesempatan mengembangkan dirinya dapat gagal pula juga watak (pribadi) seseorang sangat
berpengaruh dan turut menentukan. Akan tetapi intelegensi yang rendah menghambat pula usaha seseorang
untuk maju dan berkembang, meskipun orang itu ulet dan bertekun dalam usahanya. Kecerdasan atau
intelegensi seseorang memberi kemungkinanb ergerak dan berkembang dalam bidang tertentu dalam
kehidupannya. Sampai di mana kemungkinan tadi dapat direalisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan
pribadi serta kesempatan yang ada. Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap antara
tingkatan intelegensi dengan tingkat kehidupan seseorang. (Drs. Ngalim Purwanto, MP., 1999)
Pandangan soal perbedaan intelegensi ada dua yaitu pandangan yang menekankan perbedaan
kualitatif dan pandangan yang menekankan perbedaan kualitatif.
1.

Adapun macam-macam dari tes intelegensi :


Tes Binet Simon orang yang menemukan yaitu Alfred Binet dan Theodore simon tahun 1908 1911 yang
diberi nama chelle matrique del intelegence atau skala pengukuran kecerdasan yang terdiri dari sekumpulan

2.

pernyataan-pernyataan yang dikelompokkan menurut umur.


Tes Weschsler dibuat oleh Wechsler Bellevue pada tahun 1939. Tes tersebut meliputi dua sub verbal dan

3.

performance, sistem scoring tes weschler menggunakan skala angka dan tes dilaksanakan secara individual.
Tes Army Alfa dan Betha digunakan untuk mengetes calon-calon tentara di Amerika Serikat, tes ini

4.

dilaksanakan secara kelompok.


Tes Progressive Matrices diciptakan oleh L.S. Penrose dan J.C. Laven di Inggris tahun 1938. Tes ini tidak
menggunakan IQ tetapi menggunakan percentile. (Abdul Rahman Shaleh, 2009)
Kelemahan-kelemahan tes intelegensi itu adalah sebagai berikut :

1.

Tes intelegensi itu tergantung kepada kebudayaan. Tes yang disusun dalam lingkungan kebudayaan tertentu
tidak dapat dipergunakan untuk mentes orang-orang yang berasal dari lingkungan kebudayaan yang berlainan.

2.

Tes intelegensi itu hanya cocok untuk tingkah laku tertentu

3.

Tes intelegensi hanya cocok untuk tipe kepribadian tertentu

4.

Perbandingan kecerdasan atau IQ yang merupakan hasil yang ditunjukkan oleh tes intelegensi tidaklah
semata-mata tergantung kepada keturunan / dasar

5.
6.

Perbandingan kecerdasan / IQ seseorang itu tidak konstan


Dalam penggolongan-penggolongan manusia menurut IQnya biasanya diikuti suatu pedoman yang
sebenarnya harus diterima dengan hati-hati.

7.

Tes intelegensi itu sendiri masih mengandung kekeliruan-kekeliruan (qalaf) (Drs. Sumadi Suryabrata, M.A.,
1998)