Anda di halaman 1dari 178

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

BAB I
FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS
1.1 Dasar Teori
1.1.1 Definisi Fluida
Fluida adalah zat yang terdefomasi secara terus-menerus (continue) akibat
terkena tegangan geser (shear stress). Hal ini menunjukkan terdapat tegangan geser
ketika fluida mengalir.
=

dv
dx

Dimana:

= Tegangan geser fluida (N/m2)

= Viskositas fluida (kg/ms)

dv
dx

= Gradien kecepatan (m/s)

1.1.2 Macam-macam Fluida


A. Berdasarkan laju deformasi dan tegangan geser:
1. Newtonian Fluid
Fluida newtonian adalah fluida yang tegangan geser dan regangan
gesernya linier. Hal ini berarti bahwa fluida newtonian memiliki viskositas
dinamis yang tidakakan berubah karena pengaruh gaya-gaya yang bekerja
padanya. Viskositas fluida newtonian hanya bergantung pada temperatur dan
tekanan.

Gambar 1.1 Variasi linier dari tegangan geser terhadap laju regangan geser fluida
Sumber: Mekanika Fluida, Bruce R. Munson Hal :20

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2. Non-Newtonian Fluid
Fluida non-newtonian adalah fluida yang tegangan gesernya tidak
berhubungan secara linier terhadap laju regangan geser. Fluida jenis ini memiliki
viskositas dinamis yang dapat berubah-ubah ketika terdapat gaya yang bekerja
pada fluida tersebut dan waktu. Contoh fluida non-newtonian adalah plastik, oli,
getah karet.

Gambar 1.2 Variasi linier dari tegangan geser terhadap laju regangan geser beberapa
fluida termasuk fluida non-Newtonian
Sumber: Mekanika Fluida, Bruce R. Munson Hal :20
B. Berdasarkan mampu mampat:
1. Compressible Fluid
Compressible fluid ialah fluida yang memiliki massa jenis yang berubah
pada setiap alirannya. Dengan kata lain, massa jenis fluida ini tidak sama pada
setiap titik yang dialirinya. Hal ini disebabkan volume fluida ini yang berubahubah, dapat membesar atau mengecil pada setiap penampang yang dialirinya.
Compressible fluid memiliki bilangan Mach lebih besar dari 0,3. Bilangan Mach
yaitu perbandingan Antara kecepatan fluida per kecepatan suara. Seperti pada
persamaan dibawah ini.
Ma=

V
>0.3
a

Dimana:
V = Kecepatan fluida (m/s2)
A = Kecepatan suara (m/s2)
Ma = Bilangan mach

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2. Incompressible Fluid
Incompressible fluid ialah fluida yang memiliki volume dan massa jenis
tetap pada setiap alirannya. Dengan kata lain massa jenis fluida ini sama pada
setiap titikyang dialirinya. Incompressible fluid memiliki bilangan mach lebih
kecil dari 0,3.
Ma=

V
<0.3
a

Pembagian kecepatan berdasarkan bilangan mach :


Subsonik (Mach < 1,0)
Sonik (Mach = 1.0)
Transonik ( 0,8< Mach < 1.3)
Supersonik (Mach > 1.0)
Hypersonik (Mach > 5.0)
C. Berdasarkan sifat alirannya:
1. Fluida dengan Aliran Laminer
Fluida dengan aliran laminer adalah fluida yang alirannya memiliki
lintasan lapisan batas yang panjang, sehingga seperti berapis-lapis. Aliran ini
mempunyai bilangan Re kurang dari 2300.

Gambar 1.3 Aliran laminar


Sumber: Anonymous 1, 2015
2. Fluida dengan Aliran Turbulen
Fluida dengan aliran turbulen adalah fluida yang alirannya mengalami
pergolakan (berputar-putar) dan mempunyai bilangan Re lebih dari 4000. Ciri-ciri
aliran ini tidak memiliki keteraturan dalam lintasa fluida, kecepatan fluida tinggi.

Gambar 1.4 Aliran turbulen


Sumber: Anonymous 2, 2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


3. Aliran Transisi
Fluida dengan aliran transisi adalah fluida yang alirannya merupakan
aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran turbulen. Aliran ini memiliki bilangan
Re Antara 2300-4000.

Gambar 1.5 Aliran transisi


Sumber: Anonymous 3, 2015
Menurut hasil percobaan oleh Reynold, apabila bilangan Reynold kurang
daripada 2300, aliran biasanya merupakan aliran laminer. Apabila bilangan
Reynold lebih besar dari pada 4000, aliran biasanya adalah turbulen. Sedang
antara 2300 dan 4000 aliran dapat laminer ke turbulen tergantung pada faktorfaktor lain yang mempengaruhi.
D. Berdasarkan bentuk aliran
1. Fluida Statis
Fluida statis adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak (diam)
atau fluida dalam keadaan bergerak tetapi tidak terdapat perubahan kecepatan.
Fluida statis diasumsikan tidak memiliki gaya geser.
2. Fluida Dinamis
Fluida dinamis adalah fluida yang mengalir dengan kecepatan yang tidak
seragam. Biasanya fluida ini mengalir dari luas penampang tertentu ke luas
penampang yang berbeda.
1.1.3 Hukum Bernoulli
Hukum ini diterapkan pada zat cair yang mengalir dengan kecepatan berbeda
dalam suatu pipa. Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah di dalam mekanika fluida yang
menyatakan bahwa pada suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan
menimbulkan penurunan tekanan pada aliran tersebut. Prinsip ini sebenarnya
merupakan penyederhanaan dari Persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah
energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah
energi di titik lain pada jalur aliran yang sama. Syarat hukum Bernoulli adalah:
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


1. Steady state
2. Densitasnya relatif konstan
3. Gesekan diabaikan
4. Diacu pada titik yang terletak di 1 streamline
Secara umum terdapat dua bentuk persamaan Bernoulli, yang pertama berlaku
untuk aliran tak termampatkan (incompressible flow) dan yang lain untuk fluida
termampatkan (compressible flow).
a) Aliran tak termampatkan
Aliran tak termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan tidak
berubahnya besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran
tersebut. Contohnya: air, minyak, emulsi, dll.
Asal mula Bernoulli:
v2

P1

P2

v1
h2
h1

Gambar 1.6 Prinsip Bernoulli


Sumber: Anonymous 4, 2015
Besarnya tekanan akibat gerakan fluida dapat dihitung dengan menggunakan
konsep kekelan energi atau prinsip usaha-energi.
Energi Potensial + Energi Kinetik + Energi tekanan=Konstan

1
2
mgh+ mv + PV =Konstan
2

v
P
h+ + =Konstan
2 g g

v P
h+ + =Konstan
2g

Dimana:
v = Kecepatan fluida (m/s)
V = Volume fluida (m3)
g = Percepatan gravitasi bumi (m/s2)
h = Ketinggian relative terhadap suatu referensi (m)
P = Tekanan fluida (Pa)
= Massa jenis fluida (kg/m3)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


= Berat jenis fluida (N/m3)
b) Aliran Termampatkan
Aliran termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan berubahnya
besaran kerapatan masa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran tersebut. Contohnya
udara, gas alam, dll.
c) Aplikasi Hukum Bernoulli
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan aplikasi hukum
Bernoulli yang sudah banyak diterapkan pada sarana dan prasarana yang menunjang
kehidupan manusia masa kini. Berikut ini beberapa contoh aplikasi hukum Bernoulli
tersebut:
1. Hukum Bernoulli digunakan untuk menentukan gaya angkat pada sayap dan
badan pesawat terbang sehingga diperoleh ukuran presisi yang sesuai.
2. Hukum Bernoulli digunakan untuk mesin karburator yang berfungsi untuk
mengalirkan bahan bakar dan mencampurnya dengan aliran udara yang masuk.
Salah satu pemakaian karburator adalah dalam kendaraan bermotor, seperti
mobil.
3. Hukum Bernoulli berlaku pada aliran air melalui pipa dari tangki penampung
menujubak-bak penampung. Biasanya digunakan di rumah-rumah pemukiman.
4. Hukum Bernoulli juga digunakan pada mesin yang mempercepat laju kapal
layar.
1.1.4 Bilangan Reynold
Bilangan Reynold adalah rasio antara gaya inersia dan gaya viskos yang
mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran
tertentu. Bilangan Reynold digunakan untuk membedakan aliran apakah turbulen atau
laminer, terdapat suatu angka tidak bersatuan yang disebut Angka Reynold (Reynold
Number). Angka ini dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

V L Gaya Inersia
=
v
GayaViskos

Dimana :
Re = Angka Reynold (tanpa satuan)
V = Kecepatan rata-rata (ft/s atau m/s)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


L = Panjang aliran dlam pipa (ft atau m)
v = Viskositas kinematis, v = / (ft2/s atau m2/s)
1.1.5 Head
Head adalah energi per satuan berat, yang disediakan untuk mengalirkan
sejumlah zat cair untuk dikonversikan menjadi bentuk lain. Head mempunyai satuan
meter (m).Menurut Bernoulli ada 3 macam head fluida yaitu :
1. Head Tekanan
Head tekanan adalah perbedaan head tekanan yang bekerja pada permukaan
zat cair pada sisi tekan dengan head tekanan yang bekerja pada permukaan zat cair
pada sisi isap.
P Pd Ps
=

Dimana:
P
= Headtekanan(m)

Pd
= Head tekanan pada permukaan zat cair pada sisi tekan(m)

Ps
= Head tekanan pada permukaan zat cair pada sisi isap(m)

2. Head kinetik
Head kinetik adalah head yang diperlukan untuk menggerakkan suatu zat dari
keadaan diam sampai tempat dan kecepatan tertentu.
2

Vd Vs
hk=

2g
2g
Dimana:
hk

= Head kecepatan atau head kinetik (m)

V d 2 = Kecepatan zat cair pada saluran tekan (m)


2g
V s2
2g

= Kecepatan zat cair pada saluran isap (m)

3. Head potensial

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Didasarkan pada ketinggian fluida di atas bidang banding (datum plane). Jadi
suatu kolom air setinggi Z mengandung sejumlah energi yang disebabkan oleh
posisinya atau disebut fluida mempunyai head sebesar Z kolom air.
Z = Zd Zs
Dimana:
Z= Head statis total atau head potensial (m)
Zd = Head statis pada sisi tekan (m)
Zs = Head statis pada sisi isap (m)
1.1.6 Losses
Kerugian energi atau istilah umumnya dalam mekanika fluida kerugian head
(headlosses) tergantung pada :
1. Bentuk, ukuran dan kekasaran saluran.
2. Kecepatan fluida.
3. Kekentalan.
Losses umumnya digolongkan sebagai berikut:
a) Minor Losses
Minor losses disebabkan oleh alat-alat pelengkap lokal atau yang diberi
istilah tahanan hidrolis seperti misalnya, perubahan bentuk saluran atau perubahan
ukurannya. Contoh dari beberapa alat-alat pelengkap-lokal adalah sebagai berikut:

Gambar 1.7 Minor losses (a) gate, (b) orifice, (c) elbow dan (d) valve
Sumber: Anonymous 5, 2015
v2
h=k
2g

Dimana:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


h = Kerugian aliran akibat valve, elbow, orifice, dan perubahan penampang (m)
k = Koefisien hambatan valve, elbow, orifice, dan perubahan penampang
v = Kecepatan aliran (m/s)
g = Gravitasi (m/s2)
b) Major Losses
Major losses adalah suatu kerugian yang dialami oleh aliran fluida dalam
pipa yang disebabkan oleh koefisien gesekan pipa yang besarnya tergantung
kekasaran pipa,diameter pipa dan bilangan Reynold. Koefisien gesek dipengaruhi
juga oleh kecepatan,karena distribusi kecepatan pada aliran laminar dan aliran
turbulen berbeda. Secara matematik dapat ditunjukkan sebagai berikut:
L v2
h f =f . .
D 2g
Dimana:
hf = Major losses (m)
f = Koefisien gesekan
L = Panjang pipa (m)
D = Diameter pipa (m)
V = Kecepatan aliran (m/s)
g = Gravitasi (m/s2)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

10

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 1.8 Moody Diagram


Sumber: Anonymous 6, 2015
Untuk mendapatkan harga f dapat digunakan grafik Moody (Moody Diagram).
Misalnya akan mencari koefisien gesekan dari suatu pipa, harga bilangan Reynold dapat
dicari terlebih dahulu dengan menggunakan:
=

VL
v

Dimana:
Re = Angka Reynold
V = Kecepatan rata-rata (ft/s atau m/s)
L = Panjang aliran dalam pipa (ft atau m)
V = Viskositas kinematis, tersedia dalam tabel sifat-sifat cairan (ft2/s atau m2/s)
Kemudian angka kekasaran () dibagi dengan diameter pipa didapat suatu harga
/d. Dari bilangan Reynold ditarik garis keatas sampai pada garis /d. Kemudian ditarik
ke kiri sejajar garis bilangan Reynold, maka akan didapat harga f.
1.1.7 Viskositas
Viskositas merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya
gesekan di dalam fluida. Makin besar viskositas suatu fluida, maka makin sulit suatu

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

11

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


fluida mengalir dan makin sulit suatu benda bergerak di dalam fluida tersebut.
Viskositas zat cair dapat ditentukan secara kuantitatif dengan besaran yang disebut
koefisien viskositas. Satuan SI untuk koefisien viskositas adalah Ns/m2 atau pascal
sekon (Pa.s). Alat yang digunakanuntuk mengukur viskositas yaitu viskometer. Rumus
viskositas adalah sebagai berikut :
=

u
Zo

Dimana :
= Tegangan geser (N/m)
= Viskositas dinamik (Ns.m-2)

u
= Perubahan sudut atau kecepatan sudut dari garis (m/s)
Zo
v=

Dimana :
v = Viskositas kinematik (m2/s)
= Viskositas dinamik (Ns.m-2 atau kg m/s)
= Densitas atau massa jenis (kg/m)

Macam-macam viskositas
1. Viskositas dinamik, yaitu rasio antara shear, stress, dan shear rate. Viskositas
dinamik disebut juga koefisien viskositas.

Gambar 1.9 Viskositas Dinamik


Sumber: Frank M White Mekanika Fluida, (1991 : 310)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

12

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2. Viskositas kinematik, yaitu viskositas dinamik dibagi dengan densitasnya. Viskositas
ini dinyatakan dalam satuan stoke (St) pada cgs dan m/s pada SI.

Gambar 1.10 Viskositas kinematik


Sumber: Frank M White Mekanika Fluida, (1991 : 310)
Viskositas suatu bahan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a) Suhu
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas
akan turun, dan begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan
partikel-partikel cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun
kekentalannya.
Tabel 1.1 Kerapatan dan kekentalan udara pada 1 atm

Sumber: Frank M White, Mekanika Fluida, (1991 : 313)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

13

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 1.2 Kerapatan dan kekentalan air pada 1 atm

Sumber: Frank M White, Mekanika Fluida, (1991 : 312)


b) Konsentrasi larutan
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan
konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi
larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume.
Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel semakin tinggi dan
viskositasnya semakin tinggi pula.
c) Tekanan
Viskositas berbanding lurus dengan tekanan, karena semakin besar
tekanannya,cairan akan semakin sulit mengalir akibat dari beban yang dikenakannya.
1.1.8 Macam-macam Katup
Katup adalah sebuah alat untuk mengatur aliran suatu fluida dengan
menutup,membuka atau menghambat sebagian dari jalannya aliran. Beberapa macam
katup yang sering digunakan, yaitu
a) Gate Valve
Bentuk penyekat adalah piringan, atau sering disebut wedge, yang digerakkan
ke atas bawah untuk membuka dan menutup. Biasanya digunakan untuk posisi buka
atau tutup sempurna dan tidak disarankan untuk posisi sebagian terbuka.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

14

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 1.11 Gate Valve


Sumber : Anonymous 7, 2015

b) Globe Valve
Digunakan untuk mengatur banyaknya aliran fluida.

Gambar 1.12 Globe Valve


Sumber : Anonymous 8, 2015
c) Butterfly Valve
Bentuk penyekatnya adalah piringan yang mempunyai sumbu putar di
tengahnya.Menurut desainnya, dapat dibagi menjadi concentric dan eccentric.
Eccentrik memlikidesain yang lebih sulit tetapi memiliki fungsi yang lebih baik dari

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

15

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


concentric. Bentuknyayang sederhana membuat lebih ringan dibandingkan valve
lainnya.

Gambar 1.13 Butterfly Valve


Sumber : Anonymous 9, 2015

d) Ball Valve
Bentuk penyekatnya berbentuk bola yang mempunyai lubang menerobos
ditengahnya.

Gambar 1.14 Ball Valve


Sumber : Anonymous 10, 2015
e) Plug Valve

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

16

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Seperti ball valve, tetapi bagian dalamnya bukan berbentuk bola, melainkan
silinder. Karena tidak ada ruangan kosong di dalam badan valve, maka cocok untuk
fluida yang berat atau mengandung unsur padat seperti lumpur.

Gambar 1.15 Plug Valve


Sumber : Anonymous 11, 2015
1.1.9 Jenis-jenis Flowmeter
Flowmeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur debit fluida. Ada 4
jenis flowmeter yaitu :

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

17

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


a) Rotameter
Alat ini digunakan untuk mengukur tingkat aliran fluida dalam tabung
tertutup. Tersusun dari tabung dengan pelampung di dalamnya yang kemudian
didorong oleh aliran lalu ditarik ke bawah oleh gravitasi.

Gambar 1.16 Rotameter


Sumber : R.K. Rajput, A Textbook Of Fluid Mechanics, 2008:308
b) Venturi
Alat ini digunakan untuk mengetahui beda tekanan.Efek venturi terjadi ketika
fluida tersebut bergerak melalui pipa yang menyempit.

Gambar 1.17 Venturi


Sumber : Anonymous 12 ,2015
c) Nozzle
Alat ini digunakan untuk mengetahui laju aliran, kecepatan suatu fluida.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

18

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 1.18 Nozzle


Sumber : Faith A. Morrison, An Introduction of Fluid Mechanics, 2012:14
d) Orifice
Alat ini digunakan untuk mengukur besar arus aliran. Terdapat 3 jenis orifice,
yaitu :
1. Concentric Orifice
Digunakan untuk semua jenis fluida yang tidak mengandung partikel
padat.

Gambar 1.19 Concentric Orifice


Sumber : Anonymous 13 , 2015
2. Eccentric Orifice
Digunakan untuk fluida yang mengandung partikel padat

Gambar 1.20 Eccentric Orifice


Sumber : Anonymous 14, 2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

19

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


3. Segmental Orifice
Digunakan untuk fluida khusus.

Gambar 1.21 Segmental Orifice


Sumber : Anonymous 15, 2015
1.2 Tujuan Pengujian
1. Mengetahui pengaruh faktor gesekan aliran dalam berbagai bagian pipa pada
bilangan reynold tertentu.
2. Mengetahui pengaruh koefisien head dalam belokan 90 0, reducer used pipe, sudden
enlargement & contraction pipe, glove valve, gate valve, cock pada bilangan reynold
tertentu.
3. Mengetahui koefisien aliran untuk orifice, nozzle dan pipa venturi.
1.3 Spesifikasi Alat

Gambar 1.22 Fluid Circuit Friction Apparatus


Sumber :Laboratorium Fenomena Dasar Mesin

Model

Pompa air

: FLEA-2000AL

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

20

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Laju aliran x head : 73 liter/menit x 15 m

Motor penggerak
Daya

: 0,75 kW

Tangki penyimpanan air


Kapasitas : 50 100 liter

Pengaturan kerugian gesek


Jaringan pipa, nominal (in)

: B, B, 1 B, 1 B

Perubahan penampang

: Pembesaran

dan

pengecilan

langsung,

pembesaran dan pengecilan secara berangsurangsur.


Peralatan pipa

: Katup pintu air (gerbang), katup bola dan kran.

Belokan

: 90o radius kecil dengan penghubung ulir


(sekrup) dan radius besar yang disambung
dengan las.

Peralatan
Flow meter

: Orifice meter, nozzle, venturimeter, rotameter

Manometer pipa U (air raksa)

: 550 (air raksa tidak disuplai

Manometer pipa U terbalik (air)

: 550 mm

Penunjuk tekanan

: 32 point

Kebutuhan Pendukung
1. Listrik 3 fase 220 / 380 V, 50 / 60 Hz
2. Suplai air dingin pada tekanan utama ( mains ) dan kering

Dimensi dan Berat


Panjang

: 3200 mm

Lebar

: 700 mm

Tinggi

: 1700 mm

Volume

: 8 m3

Berat

: 800 kg

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

21

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Water pipe line detail

Gambar 1.23 Water Pipe Line Detail


Sumber : : Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

22

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Panel and Pressure Lead Tubes Connection Detail

Gambar 1.24 Panel and Pressure Lead Tubes Connection Detail


Sumber : Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

23

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Kinematic Viscosity of Water

Gambar 1.25 Kinematic Viscosity of Water


Sumber : Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015
1.4 Cara Pengambilan Data
1.4.1 Eksperimen Untuk Mengukur Kerugian Gesek Pada Pipa

Persiapan
1. Tutup semua katup ventilasi udara, katup pressure tapping selection dan katup
pembuangan (kontrol aliran).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

24

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2. Buka semua katup pengatur aliran, katup bola, katup gerbang (gate valve), drank
ram (cock) agar air dapat mengalir.
3. Tekan switch motor penggerak pada posisi ON agar pompa dapat bekerja
mensirkulasi air.
4. Buka katup ventilasi udara (katup VA-1 dan VA-2) untuk mengeluarkan udara dari
jaringan pipa.

Pengukuran
1. Putar katup kontrol aliran (VF-1) untuk mengubah debit aliran yang diinginkan,
debit aliran dapat dilihat pada rotameter.
2. Buka katup water inverse U-TUBE manometer (L dan R).
3. Buka katup ventilasi manometer air.
4. Buka katup pada pressure tapping selection untuk mengetahui perbedaan tekanan
antara dua titik (hanya dua katup yang terbuka); apabila ingin mengetahui
perbedaan tekanan dititik yang lain, tutup katup dan buka pada katup yang
diinginkan dan seterusnya.
5. Amati perbedaan tekanan yang terjadi pada manometer air.
6. Akhir dari pengujian, tutup semua katup dan matikan power switch (OFF).

1.4.2 Eksperimen Untuk Mengukur Kerugian Head Pada Peralatan Pipa

Persiapan
1. Tutup semua katup ventilasi udara, katup pressure tapping selection dan katup
pembuangan (kontrol aliran).
2. Buka semua katup pengatur aliran, katup bola, katup gerbang (gate valve), drank
ram (cock) agar air dapat mengalir.
3. Tekan switch motor penggerak pada posisi ON agar pompa dapat bekerja
mensirkulasi air.
4. Buka katup ventilasi udara (katup VA-1 dan VA-2) untuk mengeluarkan udara dari
jaringan pipa.

Pengukuran
1. Putar katup kontrol aliran (VF-1) untuk mengubah debit aliran yang diinginkan,
debit aliran dapat dilihat pada rotameter.
2. Buka katup (gate valve, globe valve, dan cock) dalam keadaan bukaan penuh
3. Buka katup water inverse U-TUBE manometer (L dan R).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

25

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4. Buka katup ventilasi manometer air.
5. Buka katup pada pressure tapping selection untuk mengetahui perbedaan tekanan
antara dua titik (hanya dua katup yang terbuka); apabila ingin mengetahui
perbedaan tekanan dititik yang lain, tutup katup dan buka pada katup yang
diinginkan dan seterusnya.
6. Amati perbedaan tekanan yang terjadi pada manometer air.
7. Akhir dari pengujian, tutup semua katup dan matikan power switch (OFF).
1.4.3 Eksperimen Untuk Pengukuran dengan Orifice, Nozzle, dan Tabung Venturi

Persiapan
1. Tutup semua katup ventilasi udara, katup pressure tapping selection dan katup
pembuangan (kontrol aliran).
2. Buka semua katup pengatur aliran, katup bola, katup gerbang (gate valve), drank
ram (cock) agar air dapat mengalir.
3. Tekan switch motor penggerak pada posisi ON agar pompa dapat bekerja
mensirkulasi air.
4. Buka katup ventilasi udara (katup VA-1 dan VA-2) untuk mengeluarkan udara dari
jaringan pipa.

Pengukuran
1. Putar katup kontrol aliran (VF-1) untuk mengubah debit aliran yang diinginkan,
debit aliran dapat dilihat pada rotameter.
2. Buka katup water inverse U-TUBE manometer (L dan R).
3. Buka katup ventilasi manometer air.
4. Buka katup pada pressure tapping selection untuk mengetahui perbedaan tekanan
antara dua titik (hanya dua katup yang terbuka); apabila ingin mengetahui
perbedaan tekanan dititik yang lain, tutup katup dan buka pada katup yang
diinginkan dan seterusnya.
5. Amati perbedaan tekanan yang terjadi pada manometer air.
6. Akhir dari pengujian, tutup semua katup dan matikan power switch (OFF).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

26

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


1.5 Hasil Pengujian
1.5.1 Data Hasil Pengujian
Tabel 1.3 Data Hasil Pengujian Pada Katup 25 26
katup 25-26
H Kanan H Kiri
174
308
154
371

No

1
2

0.6
0.8

121

455

334

1.2

76

554

478

1.4

292

240

707.2

1.6

299

234

884

7
1.8
312
226
8
2
315
218
9
2.2
322
210

12.6
2065
2816
Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin FT UB

H
134
217

1169.6
1319.2
1523.2
10213.6

Tabel 1.4 Data Hasil Pengujian Pada Katup 11 12


katup 11-12 (cock)
H Kanan
H Kiri
251
248
304
296
347
336

No

1
2
3

0.6
0.8
1

1.2

396

380

16

1.4

439

422

17

6
1.6
475
542
7
1.8
509
476
8
2
542
504
9
2.2
562
517

12.6
3825
3721
Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin FT UB

23
33
38
45
156

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

H
3
8
11

27

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 1.5 Data Hasil Pengujian Pada Katup 15 16
katup 15-16 venturi
H Kanan H Kiri
H
335
219
116

No

0.6

0.8

430

186

244

534

155

379

1.2

245

288

584.8

1.4

235

296

829.6

6
1.6
225
316
7
1.8
216
317
8
2
205
326
9
2.2
192
341

12.6
2617
2444
Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin FT UB

1237.6
1373.6
1645.6
2026.4
8436.6

1.5.2

Contoh Perhitungan

1. Mengukur Kerugian Gesek Pada Pipa


a. Laju aliran perdetik Q1 ( m3/detik )
Q 1=
Q 1=

Q
3
x 10
3,6

0,6
x 103
3,6
Q1 = 0,0001667 m3/ detik
Dengan Q didapat dari Rotameter

b. Kecepatan air dalam pipa V ( m/s )


V=

Q1 / 2
d
4

V=

0,0001667/3,14
0,01612
4

V = 0 .819081922 m/s
Dengan d adalah diameter dalam pipa, yaitu : d 1/2 B = 0,0161
c. Faktor gesekan untuk air dalam pipa
=

2 g . h. d
2
V .l

2.9,8 .0,0134 .0,0161


(0 .819081922)2 .2

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

28

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


= 0.0031513893
Dengan h adalah tekanan diferensial yaitu h , h , h1, h1 (mH 2O), dan L
adalah panjang pipa = 2m
d. Bilangan Reynold untuk aliran air dalam pipa
d=

d .V

d=

0,0161.0 .819081922
0,00884.104
14917.6685

d=

Dimana v adalah viskositas kinematik air pada temperatur 25

C (m2/s)

25=0,00884. 104
2. Mengukur Kerugian Head Pada Peralatan Pipa
a. Laju aliran perdetik Q1 ( m3/detik )
Q 1=

Q
x 103
3,6

Q 1=

0,6
x 103
3,6

Q1 = 0,0001667 m3/ detik


Dengan Q didapat dari Rotameter
b. Kecepatan air dalam pipa V ( m/s )
V=

Q1 / 2
d
4

V=

0,0001667/3,14
0,03572
4

V = 0.150979 m/s
Dengan d adalah diameter dalam pipa, yaitu : d 1 B = 0,0357
c. Koefisien kerugian head pada Cock valve
k 1112=

h 1112
( V )2 /2 g

k 1112=

0,03
( 0.1665876 )2 /2.9,8

K 1112= 0.645545936
d. Bilangan Reynold untuk aliran air dalam pipa

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

29

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


d=

d .V

d=

0,0357. 0.166620913
0,00884.104
6728.921487

d=

Dimana v adalah viskositas kinematik air pada temperatur 25 0C (m2/s)


3. Mengukur Koefisien Aliran Pada Venturi
a. Laju aliran perdetik Q1 ( m3/detik )
Q 1=

Q
x 103
3,6

Q 1=

0,6
3
x 10
3,6

Q1 = 0,0001667 m3/ detik


Dengan Q didapat dari Rotameter
b. Kecepatan air dalam pipa V ( m/s )
V=

Q1 / 2
d
4

V=

0,0001667/3,14
0,03572
4

V = 0.1665876 m/s
Dengan Q didapat dari Rotameter
c. Laju aliran teoritis pada venturi Qv ( m3/detik )

Qv= dv2 2. g . hv
4
Qv=

3,14
0,0114 2 2.9,8 .37,65
4

Qv = 0.000159273 m3/detik
Dengan :
dv

= diameter Orifice

(0,0114m)

= 9,8 m/s2

hv

= 12,55 x ho

hv

= perbedaan tekanan antara tingkat yang atas dan bawah pada Nozzle
(mH2O)

hv

= pembacaan dari perbedaan merkuri kolom pada pipa manometer U air


raksa (mHg)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

30

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

31

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


d. Koefisien aliran pada Venturi Cv
Cv=

Q1
Qv

Cv=

0,0001667
0.000159273

Cv = 1.046420126
e. Bilangan Reynold untuk aliran air dalam pipa

( 14 ). V (1 14 )

d 1
d=
d=

0,0357.0,1665876
0,0884. 104

d= 6727.575987
Dimana

adalah viskositas kinematik air pada temperatur 25 0C (m2/s)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

32

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


1.5.3

Grafik dan Pembahasan

1.5.3.1 Grafik Hubungan Faktor Gesekan Terhadap Bilangan Reynold

0.06

0.05

0.04
hubungan antara bil.reynold dengan koefisien gesek
0.03
Faktor Gesek ( )
0.02

0.02
Polynomial (hubungan antara bil.reynold dengan koefisien gesek)
0.01

10000
0
15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000 55000 60000
Bilangan Reynold

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

33

30

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Analisa Grafik :
Pada Grafik dapat dilihat hubungan antara bilangan reynold dengan faktor
gesek. Bilangan Reynold adalah bilangan tak berdimensi yang menentukan jenis aliran
suatu fluida. Bila bilangan reynold menunjukkan angka kurang dari 2300 maka
alirannya laminar, bila menunjukkan angka lebih dari 4000 maka alirannya turbulen dan
apabila diantara 2300 4000 maka alirannya transisi

Gambar 1.26 Aliran Laminar, Turbulen, dan transisi


Sumber : Anonymous 16, 2015
Kerugian gesek adalah kerugian yang terjadi akibat gesekan antara fluida dengan
dinding pipa lurus. Berdasarkan teori yang ada dijelaskan bahwa semakin besar
bilangan reynold maka faktor geseknya semakin rendah. Hal ini ditunjukkan dengan
bilangan reynold yang semakin tinggi maka aliran fluida semakin turbulen. Karena
aliran fluida yang turbulen ini mengakibatkan gaya gesek antara fluida dengan dinding
semakin menurun. Inilah yang sebenarnya penyebab mengapa kerugian geseknya
semakin menurun. Hal ini sesuai dengan grafik dimana diketahui bahwa semakin tinggi
bilangan reynold maka kerugian geseknya cenderung menurun. Bila ditinjau dari rumus
bilangan reynold dengan kerugian gesek.
d=

d .V

2 g . h. d
2
V .l

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

34

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


1.5.3.2 Grafik Hubungan Koefisien kerugian Head Bilangan Reynold

6
Gate Valve (Katup 7-8)
5

Polynomial (Gate Valve (Katup 7-8))

4
Koefisien Kerugian Head ()
Glove Valve (Katup3 9-10)

Polynomial (Glove Valve (Katup 9-10))

1
Cock Valve (Katup 11-12)
0
5000

Polynomial (Cock Valve (Katup 11-12))

10000

15000

20000

25000

30000

Bilangan Reynold

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

35

32

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Analisa Grafik
Pada Grafik menjelaskan bahwa sumbu X menunjukkan bilangan reynold dan
sumbu Y menunjukkan koefisien kerugian head. Dimana koefisien kerugian head adalah
nilai kerugian energi pada fluida yang disebabkan oleh valve. Dari grafik diketahui
bahwa semakin besar bilangan reynold maka koefisien head cenderung menurun.
k 1112=

h 1112
2

( V ) /2 g

d=

d .V
;

Berdasarkan rumus diatas diketahui bahwa semakin besar kecepatan aliran fluida
maka bilangan reynold yang didapat juga akan semakin besar dan menyebabkan
koefisien kerugian geseknya semakin menurun.
Secara teoritis semakin tinggi bilangan reynold maka koefisien kerugian
headnya semakin rendah. Namun terjadi penyimpangan pada data yang didapat. Pada
grafik penyimpangan terjadi karena perubahan kecepatan dengan tekanan differential
yang tidak sebanding, hal tersebut berpengaruh pada delta H sehingga koefisien head
naik.
Urutan kerugian head dari yang paling tinggi ke rendah secara teoritis adalah
glove, cock, dan gate. Karena glove valve memungkinkan terjadinya aliran balik.
Namun terjadi penyimpangan pada grafik. Hal ini kemungkinan terjadi karena adanya
vortex. hal ini dikarenakan. pada gate valve terjadi vorteks. Vorteks adalah gerakan
cairan yang berputar cepat mengitari pusatnya. Ketika bilangan reynold lebih dari 4000
maka akan turbulen dan aliran membentuk putaran. Ketika melewati gate valve
dikarenakan luas penampang yang berbeda yaitu bertambah besar mengakibatkan
kecepatan semakin cepat. Adanya vorteks ini tidak diharapkan karena semakin cepat
aliran fluida dipusaran tersebut maka tekanan semakin kecil. Karenanya fluida akan
menguap sehingga terjadinya kerugian.

Gambar 1.27 Penampang pada cock Valve

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

36

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Sumber : Anonymous 16,2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

37

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


1.5.3.3 Grafik Hubungan Koefisien Aliran terhadap Bilangan Reynold

Koefisien Aliran

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

38

34

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Analisa Grafik
Grafik diatas menjelaskan disumbu X merupakan bilangan reynold dan disumbu
Y merupakan koefisien aliran. Koefisien aliran adalah perbandingan antara laju aliran
(Q1) dengan laju aliran teoritis (Q n). Berdasarkan teori, semakin besar kecepatan alir
maka bilangan reynold juga akan besar menjadikan koefisien aliran semakin kecil.
Ketika debit fluida ditambah maka kecepatan aliran pada fluida meningkat pada pipa
sehingga koefisien aliran semakin menurun. Pada grafik terlihat bahwa semakin besar
bilangan reynold semakin menurun koefisien aliran. Hal ini sesuai dengan teori.
d=

d .V

; Cv = Q1/ Qv

dimana :
Q1 = Q/3,6 x 10-3
Qv = /4 dv2

2. g . hv

Semakin besar Q1 maka kecepatan alir semakin besar, sehingga bilangan


reynold semakin besar. Dengan mengingkatnya Q1 maka koefisien aliran juga
meningkat. Koefisien aliran juga dipengaruhi oleh laju aliran pada flow meter, laju
aliran pada flow meter menunjukan losses yang terjadi pada flowmeter. Semakin kecil
losses yang terjadi pada flow meter maka koefisien pada aliran semakin tinggi, begitu
juga sebaliknya
Secara teoritis urutan koefisien aliran dari yang paling tinggi ke rendah koefisien
aliran pada pengujian venturi, pengujian nozzle, dan yang terakhir orifice. Pada grafik
tidak terjadi penyimpangan karena kecenderungan grafik sesuai dengan dasar teori.
Karena pada venturi alirannya lebih granular yang disebabkan oleh bentuk venturi yang
dari diameter besar kecil- besar. Namun orifice mempunyai perubahan luas
penampang sehingga pada aliran terjadi aliran balik. Dan nozzle berada di antara orifice
dan venturi ,dimana memiliki aliran yang transisi Karena memiliki struktur flow meter
dari luas penampang yang besar lalu menyempit
1.5.4 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
1

Apabila pada suatu aliran terdapat kerugian gesek yang tinggi, maka kecepatan
alirannya semakin kecil. Diketahui bahwa kecepatan aliran berbanding lurus
dengan bilangan Reynold, sehingga bilangan Reynold berbanding terbalik dengan

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

39

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


kerugian gesek. Semakin besar bilangan Reynold alirannya semakin turbulen,
karena pada aliran turbulen fluida yang mengalir tidak teratur sehingga fluida
yang bergesekan dengan dinding sedikit.
2

Kerugian head adalah kerugian energi pada suatu aliran fluida. Hal ini disebabkan
karena adanya vorteks pada cock valve yang menyebabkan luas penampang pada
bagian yang diukur manometer menjadi semakin kecil diameternya karena
terdapat vorteks. Kerugian head pada fluida disebabkan oleh kerugian head
kecapatan fluida yang disebabkan oleh bidang kontak antara fluida dan vorteks.

Koefisien aliran venturi dilihat dari jumlah aliran sebelum masuk venturi
dibanding jumlah aliran keluar pada venturi. Pada saat bilangan Reynold rendah,
aliran pada pipa cenderung laminar, tetapi apabila bilangan Reynold semakin
tinggi, aliran pada pipa akan semakin turbulen. Saat aliran tersebut turbulen maka
terdapat rongga-rongga udara sehingga tidak terisi penuh dengan aliran, maka
jumlah aliran pada aliran tubulen lebih kecil dibandingkan dengan aliran laminar.
Sehingga Semakin besar bilangan reynold, maka kecepatan aliran fluida
meningkat maka Q1 meningkat dan semakin meningkat Q1 maka Koefisien aliran
fluida juga meningkat. Sehingga nilai koefisien aliran cenderung konstan, ini
disebabkan karena koefisien aliran itu merupakan perbandingan antara laju
aliran(Q1) dan laju aliran teoritis(Q0) yang hasil perbandingannya cenderung
konstan.

Saran
1

Laboraturium sebaiknya memberikan kesempatan kepada praktikan untuk


mengetahui alat-alat lain diluar bab yang diajarkan. Karena pada Laboraturium
Fenomena Dasar Mesin terdapat banyak alat-alat yang belum diketahui praktikan.

Laboratorium sebaiknya memperbaiki atau memperbarui alat-alat yang sudah


mulai rusak atau sudah mulai kurang baik kinerjanya.

Praktikum sebaiknya lebih diawasi oleh asisten agar praktikan tidak melakukan
kesalahan terutama saat melakukan pengukuran.

Laboraturium sebaiknya memiliki website yang diperbarui setiap hari mengenai


informasi-informasi laboraturium agar dapat diakses oleh praktikan dengan lebih
cepat dan lebih efisien.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

40

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

BAB II
WATER TO WATER HEAT EXCHANGER BENCH
2.1 Dasar Teori
2.1.1 Mekanisme Perpindahan Panas
Energi panas dapat ditransfer dari satu sistem ke sistem yang lain, sebagai hasil
dari perbedaan temperatur. Sedangkan analisis termodinamika hanya mengangkat hasil
dari perpindahan panas sebagai sistem yang mengalami proses dari satu keadaan
setimbang yang lain. Jadi ilmu yang berhubungan dengan penentuan tingkat
perpindahan energi adalah perindahan panas. Adapun transfer energi panas selalu terjadi
dari medium suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah, dan perpindahan panas
berhenti ketika dua medium mencapai suhu yang sama.
Proses perpindahan panas dapat berpindah dengan tiga cara, yaitu kondusi,
konveksi dan radiasi. Semua cara dari perpindahan panas memerlukan adanya
perbedaan suhu, dan semua cara berasal dari medium suhu yang lebih tinggi ke suhu
yang lebih rendah. Di bawah ini kita memberikan gambaran singkat dari setiap cara.
2.1.2 Konduksi
Konduksi adalah perpindahan energi dari partikel yang lebih energik dari suatu
zat dengan yang kurang energik yang berdekatan sebagai akibat dari interaksi antara
partikel. Konduksi dapat terjadi pada zat padat, cair dan gas. Pada gas dan cair,
konduksi ini disebabkan oleh tabrakan dan pembauran dari gerakan molekul selama
gerakan acak mereka. Pada benda padat, gerakan ini disebabkan akibat kombinasi
getaran dari molekul di dalam kisi dan berpindahnya energi yang disebabkan oleh
elektron bebas. Laju konduksi panas melalui media tergantung pada geometri dari
medium, ketebalan, dan bahan dari medium, serta beda suhu di medium terdebut.
Pada penjelasan berikut, dapat dilihat proses perpindahan panas melalui dinding
yang tebalnya x=L dan luasnya A, seperti pada gambar berikut :

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

41

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 2.1 Perpindahan Panas Konduksi Melalui Dinding


Sumber: Cengel. (2003:21)
Perbedaan temperatur pada dinding adalah T= T2-T1. Percobaan dapat
menghasilkan laju dari perpindahan panas Q melalui dinding dua kali lipat ketika
perbedaan suhu di seluruh dinding atau area A normal terhadap arah perpindahan panas
dua kali lipat, tapi dibelah duaketika ketebalan dinding L dua kali lipat. Dengan
demikian kita menyimpulkan bahwa lajukonduksi panas melalui lapisan dinding
sebanding dengan perbedaan suhu di seluruh lapisandan area perpindahan panas, namun
berbanding terbalik dengan ketebalan lapisan, sehingga dapat dirumuskan dengan:
Laju Konduksi=

( Luas ) ( gradient temperatur )


Ketebalan

Atau,
Qkonduksi =kA

T 2T 1
T
=kA
x
x

Dimana konstanta k adalah konduktivitas termal material, yang merupakan


ukuran kemampuan suatu material untuk menghantarkan panas. Jika x = 0, persamaan
di atas tereduksi menjadi bentuk diferensial
Qkonduksi = kA

dT
dx

Tanda negatif di dalam rumus memastikan bahwa perpindahan panas dalam arah
x positif adalah jumlah yang positif.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

42

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.1.3 Konveksi
Konveksi adalah proses transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi
panas, penyimpanan dan gerakan mencampur. Konveksi sangat penting sebagai
mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat dan cairan atau gas.
Perpindahan energi dengan cara konveksi dari suatu permukaan yang suhunya di
atas suhu fluida sekitarnya berlangsung dalam beberapa tahap. Pertama, panas akan
mengalir dengan cara konduksi dari permukaan ke partikel-partikel fluida yang
berbatasan. Energi yang berpindah dengan cara demikian akan menaikkan suhu dan
energi dalam partikel-partikel fluida ini. Kemudian partikel-partikel fluida tersebut akan
bergerak ke daerah yang bersuhurendah didalam fluida di mana mereka akan bercampur
dengan, dan memindahkan sebagian energinya kepada, partikel-partikel fluida lainnya.
Dalam hal ini alirannya adalah aliran fluida maupun energi. Energi sebenarnya disimpan
di dalam partikel-partikel fluida dan diangkut sebagai akibat gerakan massa partikelpartikel tersebut. Mekanisme ini untuk operasinya tidak tergantung hanya pada beda
suhu dan oleh karena itu tidak secara tepat memenuhi definisi perpindahan panas. Tetapi
hasil bersihnya adalah angkutan energi, dankarena terjadinya dalam arah gradien suhu,
maka juga digolongkan dalam suatu cara perpindahan panas dan ditunjuk dengan
sebutan aliran panas dengan cara konveksi.
Laju perpindahan panas dengan cara konveksi antara suatu permukaan dan suatu
fluida dapat dihitung dengan hubungan

Di mana :
q = laju perpindahan panas dengan cara konveksi, (Watt)
As = luas perpindahan panas, (m)
Ts = Temperarur permukaan benda padat, (K)
T = Temperatur fluida mengalir, (K)
h = koefisien perpindahan panas konveksi, (W/mK)
Perpindahan panas konveksi diklasifikasikan dalam konveksi bebas (free
convection) dan konveksi paksa (forced convection) menurut cara menggerakkan
alirannya. Konveksi M alami adalah perpindahan panas yang disebabkan oleh beda

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

43

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


suhu dan beda rapat saja dan tidak ada tenaga dari luar yang mendorongnya. Konveksi
alamiah dapat terjadi karena ada arus yang mengalir akibat gaya apung, sedangkan gaya
apung terjadi karena ada perbedaan densitas fluida tanpa dipengaruhi gaya dari luar
sistem. Perbedaan densitas fluida terjadi karena adanya gradien suhu pada fluida.
Konveksi paksa adalah perpindahan panas aliran gas atau cairan yang
disebabkan adanya tenaga dari luar. Konveksi paksa dapat pula terjadi karena arus
fluida yang terjadi digerakkan oleh suatu peralatan mekanik (contoh : pompa dan
pengaduk), jadi arus fluida tidak hanya tergantung pada perbedaan densitas. Contoh
perpindahan panas secara konveksi paksa adalah pelat panas dihembus udara dengan
kipas/blower.
Secara umum aliran fluida dapat diklasifikasikan sebagai aliran eksternal dan
aliran internal.Aliran eksternal terjadi saat fluida mengenai suatu permukaan benda.
Contohnya adalah aliran fluida melintasi plat atau melintang pipa. Aliran internal adalah
aliran fluida yang dibatasi oleh permukaan zat padat, misalnya aliran dalam
pipa/saluran. Perbedaan antara aliran eksternal dan aliran internal pada suatu
pipa/saluran ditunjukkan pada Gambar 3.2.
Secara umum aliran fluida dapat diklasifikasikan sebagai aliran eksternal dan
aliran internal. Aliran eksternal terjadi saat fluida mengenai suatu permukaan benda.
Contohnya adalah aliran fluida melintasi plat atau melintang pipa. Aliran internal adalah
aliran fluida yang dibatasi oleh permukaan zat padat, misalnya aliran dalam
pipa/saluran. Perbedaan antara aliran eksternal dan aliran internal pada suatu
pipa/saluran ditunjukkan pada Gambar 3.2.

Gambar 2.2 Aliran eksternal udara dan aliran internal air pada suatu pipa/saluran
Sumber: Cengel. (2003:21)
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

44

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.1.4 Radiasi
Radiasi adalah energi yang dipancarkan oleh materi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik sebagai akibat dari perubahan konfigurasi elektronik dari atom atau
molekul. Tingkat maksimum radiasi yang dapat dipancarkan permukaan pada suhu T s
mutlak diberikan oleh hukum Stefann-Boltzmann yaitu
Qradiasimax = A s T 4s
Dimana = 5,67 x

108 W/m2 K4 merupakan konstanta Stefann-Boltzmann.

Permukaan ideal yang memancarkan radiasi pada tingkat maksimum ini disebut benda
hitam, dan radiasi yang dipancarkan oleh benda hitam disebut Radiasi benda hitam.
Radiasi yang dipancarkan oleh semua permukaan nyata lebih kecil dari radiasi yang
dipancarkan oleh benda hitam pada suhu yang sama, dan dinyatakan sebagai
Qradiasi = A s T 4s
Dimana adalah emisivitas permukaan yang besarnya adalah diantara 0 1.A s
adalah luas permukaan dan Ts adalah temperatur absolut.
2.1.5 Konduktivitas termal
Konduktivitas termal adalah kemampuan suatu material untuk menghantarkan
panas. Persamaan untuk laju perpindahan panas konduksi dalam kondisi stabil juga
dapat dilihat sebagai persamaan penentu bagi konduktivitas termal. Sehingga
konduktivitas termal dari material dapat didefinisikan sebagai laju perpindahan panas
melalui ketebalan unit bahan per satuan luas per perbedaan suhu. Konduktivitas termal
material adalah ukuran kemampuan bahan untuk menghantarkan panas. Harga tertinggi
untuk konduktivitas termal menunjukkan bahwa material adalah konduktor panas yang
baik, dan harga terendah untuk konduktivitas termal menunjukan bahwa material adalah
bukan pengahantar panas yang baik atau disebut isolator.Konduktivitas termal beberapa
bahan umum pada suhu kamar diberikan dalam table di bawah ini.
Suhu adalah ukuran energi kinetik dari partikel seperti molekul atau atom dari
suatu zat.Pada cairan dan gas, energi kinetik dari partikel terjadi karena gerak translasi
acak mereka serta gerakan getaran dan rotasi mereka. Ketika dua molekul yang
memiliki energi kinetic yang berbeda berbenturan, bagian dari energi kinetik dari
molekul lebih bertenaga ditransfer ke molekul kurang bertenaga, sama seperti ketika
dua bola elastis dari massa yang sama dengan kecepatan yang berbeda berbenturan,

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

45

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


bagian dari energi kinetik dengan bola kecepatan tinggi ditransfer ke bola yang
kecepatanya lebih lambat. Makin tinggi suhu, semakin cepat molekul bergerak, semakin
tinggi jumlah molekul tabrakan, dan semakin baik perpindahan panasnya.
2.1.6 Difusivitas Termal
Cp sering dijumpai dalam analisis perpindahan panas, disebut kapasitas panas
material. Baik dari Cp panas spesifik dan kapasitas panas Cp mewakili kemampuan
penyimpanan panas dari suatu material. Tapi Cp mengungkapkan itu per satuan massa
sedangkan Cp mengungkapkan itu per satuan volume, dapat melihat dari satuan
mereka masing-masing. Sifat bahan lain yang muncul dalam analisis konduksi panas
transien adalah difusivitas termal, yang mewakili bagaimana cepat panas berdifusi
melalui materi dan dirumuskan dengan
=

Panas yang diberikan


k
=
(m /s)
panas yang disimpan p C p
Harap diingat bahwa Konduktivitas termal k merupakan seberapa baik suatu

bahan menghantarkan panas, dan kapasitas panas Cp mewakili berapa banyak


menyimpan sebuah energi bahan per satuan volume. Oleh karena itu, difusivitas termal
dari material dapat dipandang sebagai rasio panas yang dilakukan melalui bentuk
material panas yang tersimpan per satuan volume. Bahan yang memiliki konduktivitas
panas yang tinggi atau kapasitas panas yang rendah jelas akan memiliki difusivitas
termal besar. Semakin besar difusivitas termal, semakin cepat penyebaran panas ke
medium. Nilai diffusivitas termal yang kecil berarti panas yang sebagian besar diserap
oleh material..
2.1.7 Heat Exchanger
Heat exchanger adalah perangkat yang memfasilitasi pertukaran panas antara
dua cairan pada temperatur yang berbeda, sekaligus menjaga mereka dari pencampuran
satu sama lain. Dalam radiator mobil, misalnya , panas dipindahkan dari air panas yang
mengalir melalui tabung radiator ke udara mengalir melalui pelat tipis berjarak dekat
dinding luar yang melekat pada tabung . Perpindahan panas pada Heat exchanger
biasanya melibatkan konveksi di setiap cairan dan konduksi melalui dinding yang
memisahkan dua cairan . Dalam analisis penukar panas , akan lebih mudah untuk
bekerja dengan koefisien perpindahan panas keseluruhan U yang menyumbang

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

46

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


kontribusi dari semua efek transfer panas ini . Laju perpindahan panas antara dua cairan
pada lokasi di penukar panas tergantung pada besarnya perbedaan suhu dibahwa lokasi ,
yang bervariasi sepanjang penukar panas . Jenis paling sederhana dari penukarpanas
terdiri dari dua pipa konsentris yang berbeda diameter , seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.3 , yang disebut double pipa panas exchanger.

Gambar 2.3 Aliran sistem heat exchanger pipa ganda


Sumber: Cengel. (2003:21)
Salah satu cairan dalam penukar panas double- pipa mengalir melalui pipa yang
lebih kecil, sementara cairan lainnya mengalir melalui ruang annular antara dua pipa .
Dua jenis pengaturan aliran yang mungkin dalam double- pipa penukar panas yaitu
dalam aliran parallel, baik cairan panas dan dingin memasuki panas penukar pada akhir
yang sama dan bergerak ke arah yang sama. Dalam aliran counter, di sisi lain , cairan
panas dan dingin memasuki penukar panas di seberang berakhir dan aliran dalam arah
yang berlawanan . Tipe lain dari penukar panas , yang dirancang khusus untuk
mewujudkan besar luas permukaan perpindahan panas per satuan volume , adalah
penukar panas kompak. Panas Compact exchanger memungkinkan kita untuk mencapai
kecepatan transfer panas tinggi antara dua cairan dalam volume kecil , dan mereka
biasanya digunakan dalam aplikasi dengan keterbatasan yang ketat pada berat dan
volume penukar panas.
Sebuah penukar panas biasanya melibatkan dua cairan mengalir dipisahkan oleh
dinding yang padat.Panas pertama ditransfer dari fluida panas ke dinding oleh konveksi,
melalui dinding dengan konduksi, dan dari dinding ke fluida dingin lagi dengan
konveksi. Jaringan tahan panas yang terkait dengan proses perpindahan panas ini
melibatkan dua konveksi dan konduksi satu resistensi.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

47

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 2.4 Perpindahan panas pada pipa ganda


Sumber: Cengel. (2003:21)
Variabel i dan o mewakili permukaan dalam dan luar dari tabung bagian dalam.
Untuk heat exchanger double pipa kita memiliki Ai = DiL dan A0 = D0L dan
tahanan panas tabung dalam situasi ini adalah

Dimana k adalah konduktivitas termal dari material dinding dan L adalah


panjang tabung. Kemudian tahan panas keseluruhan menjadi
R=R tot + R wall + R 0=

(D 0 l D i )
1
1
+
+
hi Ai
2 kL
h0 A0

Ai adalah luas permukaan dalam dari dinding yang memisahkan dua cairan, dan
Ao adalah luas permukaan luar dinding. Dengan kata lain, Ai dan A0 adalah luas
permukaan dinding yang memisahkan dan dibasahi oleh cairan dalam dan cairan luar,
masing-masing.
2.1.8 Counter-flow Heat Exchanger
Variasi suhu cairan panas dan dingin dalam heat exchanger counter-flow
diberikan pada Gambar 3.5. Perhatikan bahwa cairan panas dan dingin masukkan pada
ujung-ujung pipa, dan suhu keluar dingin cairan pada keadaan ini dapat melebihi suhu
keluar panas cairan.dalam kasus ini , cairan dingin akan dipanaskan sampai suhu inlet
dari fluida panas . Namun, suhu outlet fluida dingin tidak pernah bisa melebihi inlet
suhu dari fluida panas karena ini akan menjadi pelanggaran hukum kedua dari
termodinamika . Tetapi kita dapat menunjukkan dengan mengulangi analisis atas yang
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

48

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


juga berlaku untuk penukar counter-flow panas. Untuk inlet dan outlet suhu yang
ditentukan, log rata-rata suhu perbedaan bagi penukar panas counter-flow selalu lebih
besar dari itu untuk paralel -flow. Artinya, T counter-flow lebih besar dari pada T
paralel flow dan dengan demikian untuk mencapai laju perpindahan panas tertentu
dalam counter-flow dibutuhkan luas penampang yang kecil .

Gambar 2.5 aliran (a) counter flow, (b) parallel flow, dan grafik temperatur in, out.
Sumber: Cengel. (2003:21)

2.1.9 Metode NTU


Untuk mendefinisikan effectivenes alat penukar panas, pertama kita harus
Menentukan kemungkinan laju perpindahan panas maksimum (maximum possible heat
transfer rate), qmax pada alat penukar panas. Laju perpindahan panas ini secara prinsip
dapat dicapai pada alat penukar panas counterflow, gambar 2.1, dengan panjang tak
terhingga.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

49

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 2.6 Distribusi Temperatur pada Counter Flow Heat Exchanger


Sumber : Dasar teori Lab. FDM
Alat penukar panas pada kondisi ini, kemungkinan perbedaan temperatur
maksimum pada fluida adalah Th,i Tc,i. Untuk menggambarkan hal ini, perhatikan
kondisi dimana Cc < Cn dari persamaan 2.1 dan 2.2, maka [dTc] > [dTh].

= =
= =

(2.1)
(2.2)

Kemudian fluida dingin akan mengalami perubahan temperatur yang besar dan
jika L , maka fluida dingin tersebut akan dipanaskan mencapai panas (Tc,o = Th,i).
Berdasarkan persamaan maka akan didapat persamaan 2.3:
Cc < Ch : qmax = Cc (Th,i-Tc,i)

(2.3)

Demikian pula jika Ch < Cc fluida panas akan mengalami perubahan temperatur
terbesar dan akan menjadi dingin pada temperature masukan dari fluida yang dingin
( Th,o = Tc,i). Kemudian dari persamaan 2.4 maka didapatkan persamaan 2.5. [2]
q = h Cp h (Th i Th o)

(2.4)

Ch < Cc : qmax = Ch (Th,I Tc,i)

(2.5)

Dari hasil tersebut kita dapatkan kondisi umum :


qmax = Cmin (Th i Tc i)

(2.6)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

50

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Dimana Cmin sama dengan Cc atau Ch,mana yang lebih kecil. Untuk temperatur
masuk fluida panas dan dingin yang telah diketahui, dari persamaan 2.6 diatas dapat
digunakan untuk menghitung kemungkinan besarnya laju perpindahan panas maksimum
yang dialami oleh alat penukar panas.
Sekarang sangat logis untuk mendefinisikan effectivenes () sebagai
perbandingan antara laju perpindahan panas aktual untuk sebuah alat penukar panas
pada kemungkinan laju perpindahan panas maksimum, dan dinyatakan sebagai, [2]
=

q
qmaks

(2.7)

Dari persamaan 2.3, 2.5 dan 2.7 di atas didapat bahwa :

(2.8)
Dari definisi effectiveness, yang tidak berdimensi harus pada range 0 1.
Jika , , dan , diketahui, laju perpindahan panas aktual untuk alat penukar panas
dapat ditentukan dengan persamaan :
= ( , , )

(2.9)

Untuk setiap alat penukar panas itu dapat ditunjukkan bahwa :


=f ( NTU ,

C min
)
C maks

(2.10)

dimana Cmin/Cmax adalah sama dengan Cc/Ch atau Ch/Cc, tergantung pada besaran relatif
antara laju kapasitas fluida panas dan dingin. Satuan jumlah perpindahan NTU (Number
of Thermal Unit) adalah parameter yang tidak berdimensi yang kegunaannya sangat luas
pada analisis alat penukar pans dan didefinisikan sebagai,
NTU =

UA
C min

Kemudian itu menyatakan laju perpindahan panas per derajat perbedaan


temperatur rata-rata antara fluida, persamaan q = U . T terhadap laju perpindahan
panas per derajat perubahan temperatur untuk fluida yang mempunyai laju kapasitas
panas minimum.
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

51

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

52

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.2 Tujuan Pengujian

Menghitung Formulasi dasar dari heat exchanger sederhana


Perhitungan keseimbangan panas pada heat exchanger
Pengukuran koefisien perpindahan panas berdasarkan kuantita aliran fluida
Mengetahui efesiensi heat exchanger

2.3 Spesifikasi Alat

Hot water source


Head tank with square weir

Flow rate meter (rotameter)

: 200 liter/jam

Termometer pada inlet & outlet

: 0 100C

Electrically immersion heater

: 5 kW & 3 kW

Cold water source


Head tank with square weir

Flow rate meter (rotameter)

: 500 liter/jam

Termometer pada inlet & outlet

: 0 100C

Heat exchanger
Double tubes water to water heat exchanger

: Diameter 1x Panjang 1000 mm

Katup pengatur aliran

: katup 3 arah

Controller unit
Hot water temperature control unit

2.4 Cara Pengambilan Data


1) Set Temperatur
Atur temperatur air panas pada head tank dengan TEMP.SET pada control unit.
Tunggu hingga pembacaan termometer air panas mencapai stabil.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

53

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 2.1 Kombinasi eksperimen

Hot
Water
Laminer

Cold Water
Laminer

Hot
Water
Laminer

Cold
Water
Laminer

PARALLEL
FLOW

COUNTER F Turbulent Laminer


B Turbulent
Laminer
FLOW
C Laminer
Turbulent
G Laminer Turbulent
D Turbulent Turbulent
H Turbulent Turbulent
Sumber : Modul Praktikum Laboraturium Fenomena Dasar Mesin
2) Set Aliran Laminer dan Turbulen
Dengan mengatur katup no (3) dan (19) atur debit air panas dan air dingn sesuai
dengan tabel berikut :
Tabel 2.2 Turbulen dan laminer
Flow Rate Meter

TURBULEN
30 I / h

LAMINER
100 I / h

(Hot Water)
Flow Rate Meter

150 I / h

500 I / h

(Cold Water)
Sumber: Modul Praktikum Laboraturium Fenomena Dasar Mesin
3) Pengukuran
Ukurlah nilai

T1

T2

t1

t2

W dan w dan tulis data dalam lembar

pengambilan data yang telah disediakan.


4) Perhitungan
a) Hitung nilai t m dengan persamaan (4) dan (5)
b) Hitung nilai ( T 1 + T 2 )/2 kemudian tentukan nilai viskositas kinematik
V h pada tabel properti air.
c) Hitung nilai q w dan Qw dengan persamaan (1)
d) Hitung nilai ( t 1 + t 2 )/2 kemudian tentukan nilai viskositas kinematic

V1

pada tabel properti air.


e) Hitung nilai Re dengan persamaan (8) dan Re dengan persamaan (9)
f) Hitung nilai efesiensi dengan persamaan (7)
g) Hitung nilai U dengan persamaan (6)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

54

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.5 Hasil Pengujian
2.5.1 Data Hasil Pengujian
Tabel 2.3 Data Hasil Pengujian
Measurements
Instru. (Equation)

High Temp. Fluid (Hot


Water)
Thermometer

Counter

Parallel

Symbol (unit)
A
B
C
D
E
F
G
H

Inlet
T1
(C)
60
68
68
70
68
72
68
75

Outlet
T2
(C)
49
62
46
58
47
65
41
64

Flow R.
Meter
W (kg/h)
20
150
20
150
20
150
20
150

Table

Low Temp. Fluid (Cold


Water)
Thermometer
Inlet
t1
(C)
29
30
30
30
29
30
30
31

Outlet

High Temp. Fluid (Hot


Water)

Flow R.
Meter

t2 (C)

w (kg/h)

30
39
32
34
36
41
32
35

100
100
500
500
100
100
500
500

Low Temp. Fluid(Cold


Water)

Kinematic Viscosity of Water


(T1+T2)/2
(C)
54,5
65
57
64
57,5
68,5
54,5
69,5

Vh
0,516 x 10-6
0,446 x 10-6
0,496 x 10-6
0,445 x 10-6
0,497 x 10-6
0,43 x 10-6
0,516 x 10-6
0,41 x 10-6

(t1+t2)/2
(C)
29,5
34,5
31
32
32,5
35,5
31
33

vl
0,807 x 10-6
0,732 x 10-6
0,79 x 10-6
0,768 x 10-6
0,77 x 10-6
0,73 x 10-6
0,79 x 10-6
0,76 x 10-6

Tabel 2.4 Data Hasil Pengujian

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

55

50

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Instru.
(Equation
)

Symbols
(Unit)

Counter

Parallel

Logaritmic Mean
Temp. Difference
T1-t1

High Temp. Fluid


(Hot Water)

Calculation ( Cp, cp 1 Kcal/Kg deg )


Low Temp. Fluid
Efficiency Of Heat
(Cold Water)
Exchanger

Coefficient Of Overall Heat Transver

T2-t2

Parallel
Flow
T1- T2t2
t1
Counter
Flow
t1 t2
(C) (C)
31
19

38

23

38

14

40

24

32

18

31

35

36

11

40

33

tm
(C)
24.5124
29.8750
1
24.0353
6
31.3218
4
24.3324
2
32.9595
6
21.0859
5
36.3878
5

Qw
(Kcal/h
)

Reyn's
NO.

qw
(Kcal/h)

REW

Reyn's
NO.

Parallel
Flow

Rew

Counter
Flow

q
(Kcal/h
)

h (%)

Parallel
Flow

Counter
Flow

U (Kcal / m.h.deg)

220

932.7354

100

939.777

35,5

160

20721.61

900

6046.512

900

1036.066

15,8

900

95636.55

440

934.8315

1000

4800

57,89

720

95097.98

1800

6290.323

2000

4937.5

30

1900

192573.2

420

837.0221

700

984.9351

53,84

560

73062.1

1050

7255.814

1100

1038.904

16,67

1075

103542

540

806.2016

1000

4800

71,05

770

115927.6

1650

7609.756

2000

4989.474

25

1825

159219.4

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

56
51

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.5.2 Contoh Perhitungan
Dalam contoh perhitungan kali ini, contoh data yang diambil adalah dari Instru.
Equation A, yang di ambil dari hasil perhitungan, yaitu:
A. Untuk menghitung Qw dan qw
Qw = qw
W . Cp . (T1 T2) = w . cp . (t2 t1)
Dimana
: Qw = Kalor yang dilepas ( kcal / jam)
qw = Kalor yang diterima (kcal / jam)
T1,T2= Temperatur fluida yang bertemperatur tinggi (oC)
t1,t2 = Temperatur fluida yang bertemperatur rendah (oC)
W
= Laju aliran fluida bertemperatur tinggi (kg/jam)
w
= Laju aliran fluida bertemperatur rendah (kg/jam)
Cp = Panas spesifik (kcal/ kgoC)
Dengan perhitungan Instru. Equation A
Qw = W . Cp . (T1 - T2)
= 20 kg/jam . 1 kcal/kgoC . (60 oC 49 oC)
= 220 kcal/jam
qw = w . Cp . (t2 - t1)
= 100 kg/jam . 1 kcal/kgoC . (30 oC 29 oC)
= 100 kcal/jam
Jika ditentukan rata rata perbedaan temperatur antara kedua fluida sebagai
Tm, maka jumlah panas (q) :
q = A . U . Tm
q = (Qw + qw) / 2
Dimana : q
= Jumlah panas yang ditukar (kcal/jam)
A
= Area permukaan perpindahan panas (m2) dalam kasus
A
= dL
u
= Koefisien transmisi kalor (kcal/m2jamoC)
Tm
= Rata rata perbedaan temperatur (oC)
Dengan perhitungan
q = (Qw + qw) / 2
q = (220 + 100) / 2
q =160
Dengan perhitungan q
U = q / (ATm)
= 160 / (3,15 x 10-4 . 24,5124)
= 20721,61 kcal/m2jamoC
Dimana :
A = 3,14/4 {(2,76 x 10-2) - (1,9 x 10-2)}
= 3,15 x 10-4 m
B. Untuk menghitung Parallel Flow
Tm = [(T1 t1) (T2-t2)] / [ln ((T1-t1) / (T2-t2))]
Dimana :
Tm
= Rata rata perbedaan temperatur (oC)
T
= Temperatur fluida bertemperatur tinggi (oC)
t
= Temperatur fluida bertemperatur rendah (oC)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

52

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Dengan perhitungan Tm untuk Parallel Flow
Tm
= [(31) (19)]/ [ln (31 / 19)]
= 24,5124 C
C. Untuk menghitung Tm Counter Flow
Tm = [(T1 t2) (T2-t1)] / [ln ((T1-t2) / (T2-t1))]
Dimana :
Tm
= Rata rata perbedaan temperatur (oC)
T
= Temperatur fluida bertemperatur tinggi (oC)
t
= Temperatur fluida bertemperatur rendah (oC)
Dengan perhitungan
Tm
= [(32) (18)] / [ln (32/18)]
= 24,33242 C1

D. Mencari nilai efisiensi heat exchanger (h)


h = [(W . Cp . (T1 T2)) / (W . Cp . (T1 t1))]
Dimana :
h = Nilai efisiensi heat exchanger
W = Laju alir fluida betemperatur tinggi (kg/jam)
Cp = Panas Spesifik (kcal/kgoC)
Dengan perhitungan efisiensi heat exchanger
h = [(W . Cp . (T1 T2)) / (W . Cp . (T1 t1))]
= [(20 x 1 x 11) / (20 x 1 x 31) x 100% = 35,5 %
E. Mencari Bilangan Reynold
Untuk air panas
REw = 2,080 x 10-5 . (W / Vh)
Dimana :
REw
W
Vh

= Bilangan Reynold
= Laju alir fluida bertemperatur tinggi (kg/jam)
= Viskositas kinematik (m2/s) pada temperatur rata rata air
Panas

Dengan perhitungan bilangan Reynold (Rew)


REw
= 2,080 x 10-5 . (20 / 0,516 x 10-6)
= 932,7354
Untuk air dingin :
Re w = 7,584 x 10-6 . ( W/Vi)
Dimana :
Vi = Viskositas kinematik (m2/s) pada temperatur rata rata air dingin di dalam
tabung

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

53

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Dengan perhitungan bilangan Reynold (Rew)
Rew = 7,584 x 10-6 (100 / 0,807 x 10-6) = 939,777

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

54

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.5.3 Grafik dan Pembahasan
2.5.3.1 Hubungan Koefisien Perpindahan Panas Terhadap Regime Aliran Pada Variasi Arah Aliran
250000

192573.2

200000

159219.4
150000

Parallel Flow A
Parallel Flow B
Parallel Flow C

Koefisien Perpindahan Panas

115927.6
100000

95636.55
95097.98

Parallel Flow D

103542

Counter Flow E
Counter Flow F
Counter Flow G

73062.1

Counter Flow H

50000
20721.61

Regime Aliran

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

55

55

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Analisa Grafik :
Diagram diatas menunjukan hubungan antara koefisiensi heat exchanger
terhadap regime aliran pada variasi arah aliran. Dari diagram di atas dapat kita lihat
bahwa semakin tinggi jumlah panas yang ditukar (q) dan luas permukaan (A) serta nilai
rata rata (logaritmik) perbedaan temperatur ( t m ) nya maka semakin tinggi nilai
efisiensinya. Hal ini berdasarkan rumusan pada dasar teori yang mengatakan bahwa :
q
U=
A t m
Dimana :
A = Penampang air dingin ( 3,15 x 10-4 m)
Diagram di atas merupakan diagram hubungan koefisien perpindahan
panas terhadap regime aliran pada variasi arah aliran. Masing masing warna
diagram tersebut menggambarkan tipe tipe aliran dan variasinya. Pada bahasan

yang pertama ini, secara teoritis didapatkan data sebagai berikut :


Grafik koefisien A Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Laminer : dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 20721,61


Grafik koefisien E Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Laminer : Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 73062,1


Grafik koefisien B Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Laminer : Dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 95636,55


Grafik koefisien F Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Laminer : Dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 103542


Grafik koefisien C Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Turbulent : Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 95097,98


Grafik koefisien G Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Turbulent : Dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 115927,6


Grafik koefisien D Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Turbulent : Dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa
efisiensi yang terjadi sebesar 192573,2

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

56

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Grafik koefisien H Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Turbulent : Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi
yang terjadi sebesar 159219,4
Nilai koefisien tersebut dipengaruhi oleh arah aliran dan Regime aliran
dari Hot Water serta Cold Water , dari data dan grafik yang diambil dapat
disimpulkan bahwa pada Jenis Parallel Flow D memiliki efisiensi yang lebih
besar saat aliran Hot Water bersifat Turbulent dan Cold Water bersifat Turbulent
(didapatkan hasil 192573,2). Jika dibandingkan dengan Counter Flow H saat
aliran Hot Water bersifat Turbulent dengan Cold Water Aliran tubulent
(159219,4).
Hal ini diakibatkan karena pada kondisi D didapatkan nilai Qw dan qw
yang besar yang nantinya mempengaruhi perhitungan nilai q. Semakin tinggi
nilai kalor (q) maka semakin tinggi nilai keofisiennya, koefisien juga dapat
menjadi tinggi jika luas penampang (A) dan

tm

nya semakin kecil. Seperti

yang ditunjukan pada diagram turbulen- turbulen yang memiliki nilai paling
tinggi, pada aliran tersebut memiliki nilai kalor (q) yang paling besar. Hal
tersebut juga dipengaruhi karena aliran turbulen memiliki massa alir yang tinggi
(W) dimana semakin tinggi massa alir maka akan semakin tinggi pula nilai Q
nya yang membuat nilai koefisien (U) menjadi tinggi.
Kondisi D nilai Qw dan qw besar diakibatkan oleh adanya variasi jenis
aliran pada kondisi D yaitu Hot Water Turbulent dan Cold Water Turbulent,
dimana karena jenis aliran ini akan didapatkan perpindahan kalor yang besar
nilainya.
Pada grafik Counter Flow nilai koefisien perpindahan panas yang
dihasilkan paling tinggi nilainya adalah pada saat kondisi H, dimana pada
kondisi tersebut kondisi alirannya adalah Hot Water Turbulent dan Cold Water
Turbulent, sama seperti pada kondisi D dimana pada saat kedua jenis aliran air
ini berbeda suhu ini sama sama memiliki kondisi turbulent maka perpindahan
panas yang terjadi juga semakin besar nilainya, yang nantinya akan
mempengaruhi nilai q.
Yang membedakan

Counter

Flow

dan

Parallel

Flow

dalam

mempengaruhi koefisien panas ini adalah pada perbedaan suhu yang terjadi,
karena pada Counter Flow dan Parallel Flow perbedaan suhu yang terjadi
cenderung berbeda.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

57

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Selain itu, koefisien perpindahan panas juga dipengaruhi oleh arah aliran,
dimana arah aliran turbulen ( baik Hot Water maupun Cold Water) akan
menghasilkan nilai Qw dan qw yang tinggi yang nantinya akan membuat nilai q
juga semakin meningkat, dan membuat nilai koefisien perpindahan panas juga
meningkat.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

58

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.5.3.2 Hubungan Efisiensi Perpindahan Panas Terhadap Regime Aliran Pada Variasi Arah Aliran

80
71.05
70

57.89

60

53.84
Parallel Flow A

50

Efisiensi Heat Exchanger [%]

Parallel Flow B
Parallel Flow C

40

Parallel Flow D

35.5

Counter Flow E

30

30

Counter Flow F
25

Counter Flow G
Counter Flow H

20

15.8

16.67

10

1
0

Regime Aliran

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

59

59

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Analisa Grafik :
Diagram diatas menunjukan hubungan antara efisiensi heat exchanger terhadap
regime aliran pada variasi arah aliran. Dari diagram dapat kita lihat bahwa semakin
kecil nilai kuantitas ideal panas yang ditukar dan semakin tinggi nilai kuantitas aktual
panas yang ditukar maka semakin tinggi nilai efisiensinya. Hal ini berdasarkan rumusan
dasar teori yang mengatakan bahwa
=

kuantitas aktual panas yang ditukar


kuantitasideal panas yang ditukar

atau
=
Semakin tinggi suhu ( T 1T 2 )

W C p (T 1T 2 )
W C p (T 1t 1)

maka semakin tinggi nilai kuantitas aktual panas yang

ditukar dan semakin kecil suhu (T 1 t 1 ) dan semakin kecil nilai kuantitas ideal panas
yang ditukar akan membuat efisiensinya semakin tinggi. Selain itu tedapat juga faktor
kalor alir, pada aliran air panas laminer-air dingin turbulen maka akan membuat kalor
alirnya semakin tinggi, dimana semakin tinggi kalor yang diserap oleh air dingin maka
semakin tinggi pula efisiensinya.
Pada diagram ini terdapat beberapa warna diagram yang menggambarkan tipe
tipe aliran dan variasinya. Pada bahasan yang pertama ini, berdasarkan hasil praktikum
didapatkan data sebagai berikut :

Grafik Efisiensi A Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water Laminer
serta Cold Water Laminer: dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi yang terjadi

sebesar 35,5 persen


Grafik Efisiensi E Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Laminer : Dari grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 53,84 persen


Grafik Efisiensi B Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Turbulen serta Cold Water Laminer : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 15,8 persen


Grafik Efisiensi F Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Turbulen serta Cold Water Laminer : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi
yang terjadi sebesar 16,67 persen

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

60

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Grafik Efisiensi C Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water Laminer
serta Cold Water Turbulent : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi yang

terjadi sebesar 57,89 persen


Grafik Efisiensi G Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Laminer serta Cold Water Turbulent : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 71,05 persen


Grafik Efisiensi D Dengan Arah aliran Pararel dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Turbulent : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi

yang terjadi sebesar 30 persen


Grafik Efisiensi H Dengan Arah aliran Counter dan Regime Aliran Hot Water
Turbulent serta Cold Water Turbulent : dari Grafik ini dapat kita lihat bahwa efisiensi
yang terjadi sebesar 25 persen
Pada dasar teori yang memiliki efisiensi paling tinggi adalah panas laminar dan

dingin turbulent aliran counter. Hal ini dikarenakan pada aliran counter akan terjadi
pertukaran panas di setiap titik pertemuan aliran sehingga perpindahan panas bisa lebih
cepat.
Dengan aliran dingin turbulent dan panas laminar, perpindahan panas juga lebih
cepat. Karena aliran air dingin turbulent yang mempunyai kecepatan tinggi akan terus
menerus bertemu dengan titik-titik air panas laminar. Dengan kecepatan yang tinggi
perpindahan panas yang terjadi akan jauh lebih cepat.
Pada diagram diagram di atas data Counter Flow G (71,05 %) memiliki nilai
efisiensinya yang paling tinggi kemudian diikuti dengan Counter Flow C (57,89 %).
Hal ini telah sesuai dengan dasar teori di mana aliran counter panas laminar dan dingin
turbulent akan menghasilkan efisiensi yang paling tinggi. Berdasarkan rumusan, nilai
efisiensi sendiri sebanding dengan perbedaan suhu. Semakin tinggi kenaikkan atau
perbedaan suhu pada fluida, maka efisiensi juga semakin tinggi.
Disisi Lain , Hot Water Turbulent dan Cold Water Turbulent sangat tidak efektif
dalam pertukaran kalor, hal ini diakibatkan karena Cold Water yang memiliki peranan
penting dalam penyerapan kalor tidak dapat menyerap dengan baik ( karena alirannya
Turbulen) diperparah lagi dengan kondisi Hot Water yang turbulent sehingga kalor dari
Hot Water tidak dapat diserap dengan baik oleh Cold Water Turbulent.
Cold Water yang memiliki peran penting dalam perpindahan kalor dan dalam
penyerapan kalor memiliki aliran yang turbulent sehingga kalor dari Hot Water dapat
teradsorbsi dengan baik. Tetapi pada data tersebut terjadi penyimpangan dari dasar teori.
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

61

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

2.5.4 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
1. Dalam efisiensi heat exchanger, nilai efisiensi semakin besar jika regime aliran
yang digunakan adalah air dingin aliran turbulen dan air panas aliran laminer dan
arah aliran yang digunakan adalah Counter Flow
2. Nilai perpindahan panas akan semkain besar jika kedua jenis regime aliran dari air
panas maupun air dingin adalah turbulen karena hal ini akan mengakibatkan
kenaikan nilai q.

Saran
1. Sebaiknya asisten sering sering stanby di lab., untuk memudahkan janjian
asistensi.
2. Sebaiknya saat praktikum dimulai lebih awal sebelum jam 08.00
3. Sebaiknya lab. dilengkapi alat penunjuk waktu atau jam, jangan hanya diruang
asisten
4. Sebaiknya asisten lebih akrab dengan praktikan dengan tidak membedakan
angkatan
5. Sebaiknya asisten tidak memberi tugas pada praktikan sehingga tidak membebani
praktikan
6. Sebaiknya praktikan lebih tepat waktu saat asistensi
7. Sebaiknya praktikan bisa memanagemen waktu asistensi dengan baik sehingga
tidak akan telat deadline

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

62

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

BAB III
ELECTRICAL CIRCUIT APPARATUS
3.1 Dasar Teori
3.1.1 Konsep Logika
3.1.1.1 Konsep Binari
Konsep binari bukanlah sesuatu yang baru. Konsep ini merupakan suatu konsep
sederhana mengenai keberadaan dari dua kondisi yang di definsiakan sebagai contoh,
lampu dapat hidup ( ON ) atau mati ( OFF ) , switch terbuka ( OPEN ) atau tertutup,
motor running atau stopped , yang mana dalam system digital, kedua kondisi di atas
dapat dianggap sebagai suatu sinyal yang ada atau tidak ada , aktif atau non-aktif ,
tinggi atau rendah , dll . kedua kondisi ini merupakan dasar dalam membuat keputusan.
Untuk selanjutnya , 1 menyajikan keberadaan suatu sinyal atau suatu
kejadian , sementara 0 adalah kebalikanya.
3.1.1.2 Fungsi Logika
Pada konsep binary , variable binary dapat dilihat sebagai 1 atau 0 .
kombinasi dua atau lebih variable ini dapat menghasilkan kondisi BENAR atau
SALAH yang juga di sajikan dalam 1 atau 0, PLC/SR akan membuat keputusan
dari pernyataan ini.
Operasi-operasi yang dilakukan peralatan digital , seperti hanya PLC/SR, adalah
berdasarkan ketiga fungsi dasar operasi dasar logika AND, OR, NOT. Operasi ini
digunakan untuk mengkombinasikan variable binary untuk membentuk suatu
pernyataan . masing-masing fungsi memiliki aturan dalam menghasilkan keluaran (
BENAR atau SALAH ) dan jaga juga symbol yang digunakan.
3.1.1.3 Fungsi AND
Simbol dibawah ini memperlihatkan diagram logika yang disebut AND.
Output fungsi AND adalah adalah benar (1) hanya jika semua input adalah benar
(1) . jumlah input dalam diagram logika AND adalah tidak terbatas ,tetapi hanya
memiliki suatu output.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

63

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.1 Input dan Output Logika Fungsi AND


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Contoh : Sebuah alarm akan berbunyi jika tombol tekan PB1 dan PB2 adalah 1 pada
waktu yang bersamaan.

Gambar 3.2 Logika Fungsi AND


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Tabel 3.1 Tabel Kebenaran Logika Fungsi AND

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitar Brawijaya

Gambar 3.3 Electronic Representation


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

64

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.4 Electrical Ladder Circuit


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
3.1.1.4 Fungsi OR
Symbol di bawah ini diagram logika OR. Pada fungsi OR, output akan benar
(1) apabila salah satu atau lebih input adalah benar (1). Sebagaimana fungsi AND,
jumlah input pada OR adalah tidak terbatas dan outputnya hanya satu.

Gambar 3.5 Input dan Output Logika Fungsi OR


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Contoh : Sebuah alarm akan berbunyi apabila salah satu tombol tekan PB1
atau PB2 adalah 1 adalah bernilai 1(ON).

Gambar 3.6 Logika Fungsi OR


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

65

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 3.2 Tabel Kebenaran Logika Fungsi OR

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Gambar 3.7 Electrical Representation


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Gambar 3.8 Electrical Ladder Circuit


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
3.1.1.5 Fungsi NOT
Symbol di bawah ini menyajikan secara grafis fungsi NOT. Output fungsi
NOT selalu terbalik dengan input oleh sebab itu fungsi NOT sering disebut juga
dengan INVERTER.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

66

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 1.9 Input dan Output Logika Fungsi NOT


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitar Brawijaya
Tidak seperti halnya fungsi AND dan OR, fungsi NOT hanya memiliki satu
Input dan satu Output, dan juga jarang sekali berdiri sendiri tetapi sering digabungkan
dengan AND dan OR. Contoh : Sebuah alarm akan berbunyi jika tombol tekan PB1
bernilai 1 (ON) dan tombol PB2 bernilai 0.

Gambar 3.10 Logika Fungsi AND


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Tabel 3.3 Tabel Kebenaran Logika Fungsi NOT
PB1

PB2

Not-Pushed (0)

Not-Pushed (0)

Not-Pushed (0)

Pushed

Pushed

(1)

Pushed

Pushed

(1)

(1)

Silent (0)

(1) Not(0)

ALARM HORN
Silent (0) Sound (1)

Pushed

Silent (0)

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

67

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.11 Electronic Representation


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Gambar 3.12 Electrical Ladder Circuit


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Contoh di atas memperlihatkan fungsi NOT diletakkan pada input. Sedangkan
NOT yang diletakkan pada output akan membalikkan hasil outputnya. Apabila
diletakkan pada output fungsi AND, maka output kombinasi ini akan membalikkan
fungsi AND. Operasi ini merupakan operasi fungsi ANAD (NOT-AND).

Gambar 3.13 Logika Fungsi ANAD


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

68

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 3.4 Tabel Kebenaran Logika Fungsi AND
Input
A
0
0
1
1

B
0
1
0
1

output
Y
1
1
1
0

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya


Apabila NOT diletakkan pada output OR, maka outpunya merupakan
kebalikan output fungsi OR. Operasi ini adalah operasi fungsi NOR (NOT-OR).

Gambar 3.14 Input dan Output Logika Fungsi NOR


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Tabel 3.5 Tabel Kebenaran Logika Fungsi NOR
Input
A
0
0
1
1

B
0
1
0
1

output
Y
1
0
0
0

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya


3.1.2 Prinsip Dasar Aljabar Boolean dan Logic
Pemahaman teknik mengekspresikan pernyataan logika yang kompleks akan
merupakan suatu alat yang sangat membantu apabila menciptakan program
pengontrolan dari pernyataan Boolean dan Ladder Diagram. Manfaat aljabar ini
adalah untuk membantu dalam pengertian Logic dalam implementasi digital.
Dengan kata lain, aljabar Boolean adalah untuk mempermudah penulisan maupun
pemahaman kombinasi pernyataan logika (BENAR atau SALAH).
Tabel di bawah ini menyimpulkan dasar pengoperasian aljabar Boolean
sehubungan dengan dasar digital fungsi AND, OR dan NOT dimana tanda ( . ) adalah
operasi AND, (+) operasi OR, dan (-) adalah operasi NOT.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

69

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Tabel 3.6 Tabel Dasar Pengoperasian Aljabar Boolean

Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya


Aturan Dasar Aljabar Boolean :

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

70

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Urutan pengoperasian pernyataan Boolean adalah sangat penting karena
urutan akan mempengaruhi hasil ekspresi logic. Prioritas pertama urutan operasi dalam
Boolean diberikan pada operasi NOT, kedua AND dan ketiga adalah OR.
3.1.3 Tegangan Listrik
Tegangan listrik (Voltage) adalah perbedaan potensi listrik antara dua titik
dalam rangkaian listrik. Tegangan dinyatakan dalam satuan volt (V). Besaran ini
mengukur energi potensial sebuah medan listrik untuk menyebabkan aliran listrik
dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan potensi listrik satu
tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi atau ekstra
tinggi. Tegangan adalah gaya yang mengakibatkan terjadinya arus listrik. Terjadinya
tegangan akibat beda / selisih potensial dan dikatakan ada tegangan ( voltage ).
Sesuai dengan definisi di atas, bahwa tegangan merupakan perbedaan potensial
antara dua titik, yang bisa didefinisikan sebagai jumlah kerja yang diperlukan untuk
memindahkan arus dari satu titik ke titik lainnya, maka rumus dasar tegangan antara 2
titik adalah:
V =I . R
Tenaga (the force) yang mendorong electron agar bisa mengalir dalam sebauh
rangkaian dinamakan tegangan. Tegangan adalah sebenarnya nilai dari potensial energi
antara dua titik. Ketika kita berbicara mengenai jumlah tegangan pada sebuah
rangkaian, maka kita akan ditujukan pada berapa besar energi potensial yang ada untuk
menggerakkan electron pada titik satu dengan titik yang lainnya. Tanpa kedua titik
tersebut istilah dari tegangan tersebut tidak ada artinya.
Elektron bebas cenderung bergerak melewati konduktor dengan beberapa
derajat pergesekan, atau bergerak berlawanan. Gerak berlawanan ini yang biasanya
disebut dengan hambatan. Besarnya arus didalam rangkaian adalah jumlah dari
energi yang ada untuk mendorong electron, dan juga jumlah dari hambatan dalam
sebuah rangkaian untuk menghambat lajunya arus. Sama halnya dengan tegangan
hambatan ada jumlah relative antara dua titik. Dalam hal ini, banyaknya tegangan dan
hambatan sering digunakan untuk menyatakan antara atau melewati titik pada suatu
titik.
3.1.4 Arus Listrik
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

71

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Arus listrik merupakan aliran muatan listrik. Aliran ini berupa aliran elektron
atau aliran ion. Aliran ini harus melalui media penghantar listrik yang biasa disebut
sebagai konduktor. Konduktor yang paling banyak digunakan dalam kehidupan seharihari adalah kabel logam.
Ketika dua ujung kabel disambungkan pada sumber tegangan, misalnya baterai,
maka elektron akan mengalir melalui kabel penghantar dari kutub negatif menuju kutub
positif baterai. Aliran elektron inilah yang disebut sebagai aliran listrik.
Arus listrik didefinisikan sebagai jumlah muatan listrik (elektron) yang mengalir
melalui konduktor dalam tiap satuan waktu. Untuk aliran yang kontinu (steady), arus
listrik dirumuskan dalam persamaan berikut:

Keterangan :
I = arus listrik (A)
Q = muatan listrik (Coulomb)
t = waktu (sekon)
3.1.5 Tahanan Listrik/Hambatan Listrik
Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu
komponen elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya.
Hambatan listrik yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:

Keterangan :
R = hambatan listrik (Ohm)
V = tegangan listrik (Volt)
I = arus listrik (Ampere)
3.1.5.1 Jembatan Wheatstone
Jembatan Wheatstone merupakan suatu susunan rangkaian listrik untuk
mengukur suatu tahanan yang tidak diketahui harganya (besarannya). Kegunaan dari
Jembatan Wheatstone adalah untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara arus
yang mengalir pada galvanometer sama dengan nol (karena potensial ujung-ujungnya
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

72

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


sama besar). Sehingga dapat dirumuskan dengan perkalian silang. . Rangkaian ini
dibentuk oleh empat buah tahanan (R) yag merupakan segiempat A-B-C-D dalam hal
mana rangkaian ini dihubungkan dengan sumber tegangan dan sebuah galvanometer nol
(0),dimana tahanan tersebut merupakan tahanan yang diketahui nilainya dengan
teliti dan dapat diatur. Salah satunya adalah dalam percobaan mengukur regangan
pada benda uji berupa beton atau baja. Dalam percobaan kita gunakan strain gauge,
yaitu semacam pita yang terdiri dari rangkaian listrik untuk mengukur dilatasi benda uji
berdasarkan perubahan hambatan penghantar di dalam strain gauge. Strain gauge ini
direkatkan kuat pada benda uji sehingga deformasi pada benda uji akan sama dengan
deformasi pada strain gauge. Seperti kita ketahui, jika suatu material ditarik atau
ditekan, maka terjadi perubahan dimensi dari material tersebut sesuai dengan sifat2
elastisitas benda. Perubahan dimensi pada penghantar akan menyebabkan perubahan
hambatan listrik, R = .L/A. Perubahan hambatan ini sedemikian kecilnya, sehingga
untuk mendapatkan hasil eksaknya harus dimasukkan kedalam rangkaian jembatan
Wheatstone

Gambar 3.15 Gambar Rangkaian Jembatan Wheatstone A


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

73

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.16 Gambar Rangkaian Jembatan Wheatstone B


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
3.1.5.2 Galvanometer
Alat ukur listrik yang digunakan untuk mengukur kuat arus dan beda potensial
listrik yang relatif kecil. Galvanometer tidak dapat digunakan untuk mengukur kuat
arus maupun beda potensial listrik yang relatif besar, karena komponen-komponen
internalnya yang tidak mendukung. Galvanometer bisa digunakan untuk mengukur kuat
arus maupun beda potensial listrik yang besar, jika pada galvanometer tersebut dipasang
hambatan eksternal (pada voltmeter disebut hambatan depan, sedangkan pada
ampermeter disebut hambatan shunt). Galvanometer terdiri atas sebuah komponen kecil
berlilitan banyak yang ditempatkan dalam sebuah medan magnet begitu rupa sehingga
garis-garis medan akan menimbulkan kopel pada kumparan apabila melalui kumparan
ini ada arus.

Gambar 3.17 Galvanometer


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
3.1.6 Daya Listrik

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

74

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Daya listrik adalah besar energi listrik yang ditransfer oleh suatu rangkaian
listrik tertutup. Daya listrik sebagai bentuk energi listrik yang mampu diubah oleh alatalat pengubah energi menjadi berbagai bentuk energi lain, misalnya energi gerak, energi
panas, energi suara, dan energi cahaya. Selain itu, daya listrik ini juga mampu disimpan
dalam bentuk energi kimia. Baik itu dalam bentuk kering (baterai) maupun dalam
bentuk basah (aki). Daya merupakan jumlah energi listrik yang mengalir dalam setiap
satuan waktu (detik). Sehingga formula daya listrik bisa dituliskan sebagai berikut:
3.1.7 Hubungan Tegangan, Arus, Tahanan, dan Daya Listrik
Daya dalam fisika adalah laju energi yang dihantarkan atau kerja yang
dilakukan per satuan waktu. Daya dilambangkan dengan P. Mengikuti definisi ini daya
dapat dirumuskan sebagai:

Dimana :
P = daya (watt)
W = Usaha (Joule)
t = waktu
V = Tegangan/beda potensial (Volt) I = Arus (Ampere)
R = Tahanan/Hambatan/Beban (Ohm)
Tegangan

listrik

(kadang disebut

sebagai

Voltase) adalah perbedaan

potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan dalam satuan
volt. Besaran ini mengukur energi potensial dari sebuah medan listrik yang
mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada
perbedaan potensial listriknya, suatu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra
rendah, rendah, tinggi atau ekstra tinggi.

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik
dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu.

Arus listrik dapat diukur dalam satuan

Coulomb/detik atau Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar
dari yang sangat lemah dalam satuan mikro Ampere (A) seperti di dalam jaringan

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

75

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


tubuh hingga arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada
petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap arus
listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit bergantung pada
voltase dan resistansi sesuai dengan hukum Ohm.

Tahanan/beban/resistansi adalah komponen elektronik dua saluran yang


didesain untuk menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan diantara
kedua salurannya sesuai dengan arus yang mengalirinya, berdasarkan hukum Ohm:

Arus hanya dapat mengalir jika ada tegangan/beda potensial. Sumber arus
sampai saat ini umumnya berasal dari PLN, sedangkan arus listrik di daerah Jawa
Tengah ini disupply dari pembangkit listrik Karangkates yang ada di daerah Malang.
Untuk bisa mengalirkan arus sampai daerah Jawa Tengah, maka harus diberi tegangan
yang sangat besar (sekitar 500.000 V) melalui sebuah jalur kabel yang dinamakan Sutet
(Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), walaupun begitu tetap setelah jarak tertentu
saluran sutet ini tegangannya harus dinaikkan kembali melalui sebuah gardu listrik
(menggunakan trafo Step-up) dikarenakan karena pengaruh hambatan, panjang, dan
luas penampang penghantar (kabel) akan mempengaruhi penurunan tegangan. Arus
listrik adalah suatu energi yang ditimbulkan akibat perpindahan elektron dari suatu
unsur.Untuk memudahkan analisa arah arus arus akan mengalir dari kutub positif (+)
menuju ke kutub negatif (-), sedangkan elektron bergerak berbalikan arah dengan arah
arus yang mengalir dari kutub negatif (-) menuju kutub positif (+) .

Gambar 3.18 Arah Arus dan Elektron pada Sumber Tegangan DC

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

76

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Berikut merupakan berbagai jenis tegangan :
1. Tegangan AC (Alternating Current) adalah tegangan yang besarnya selalu berubahubah secara periodik. Tegangan AC dapat dilihat dengan menggunakan CRO
(Cathode Ray Oscilloscope). Contoh : tegangan PLN memiliki besar 220 VAC
dengan periode ayunan 50-60 kali per detik atau biasa dalam bahasa teknik
dituliskan dengan istilah frekuensi = 50-60Hz. Oleh karena itu orang yang kesetrum
tegangan AC rasanya seperti bergetar dan bergoyang inul.

Gambar 3.19 Tegangan AC Ideal/Sempurna Tanpa Cacat


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Gambar 3.20 Tegangan AC dilihat dari CRO


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
2. Tegangan DC (Direct Current) adalah tegangan yang memiliki besar tetap (tidak
berubah) secara periodik. Contoh tegangan keluaran dari adaptor, tegangan keluaran
dari Power Supply komputer dll. Oleh karena itu orang yang kesetrum tegangan DC
rasanya seperti dicubit tanpa merasakan getaran..

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

77

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.21 Tegangan DC Ideal/Sempurna


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Gambar 1.22 Tegangan DC dilihat Dari CRO


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitar Brawijaya
3.1.8 AVO meter
Avometer berasal dari kata AVO dan meter. A artinya ampere, untuk
mengukur arus listrik. V artinya voltase, untuk mengukur voltase atau tegangan. O
artinya ohm, untuk mengukur ohm atau hambatan. Terakhir, yaitu meter atau satuan dari
ukuran. AVO Meter sering disebut dengan Multimeter atau Multitester. Secara umum,
pengertian dari AVO meter adalah suatu alat untuk mengukur arus, tegangan, baik
tegangan bolak-balik (AC) maupun tegangan searah (DC) dan hambatan listrik.
AVO meter sangat penting fungsinya dalam setiap pekerjaan elektronika karena
dapat membantu menyelesaikan pekerjaan dengan mudah dan cepat, Tetapi sebelum
mempergunakannya, para pemakai harus mengenal terlebih dahulu jenis-jenis AVO
meter dan bagaimana cara menggunakannya agar tidak terjadi kesalahan dalam
pemakaiannya dan akan menyebabkan rusaknya AVO meter tersebut.
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

78

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


AVO meter adalah singkatan dari Ampere Volt Ohm Meter, jadi hanya terdapat 3
komponen yang bisa diukur dengan AVOmeter sedangkan Multimeter , dikatakan multi
sebab memiliki banyak besaran yang bisa di ukur, misalnya Ampere, Volt, Ohm,
Frekuensi, Konektivitas Rangkaian (putus ato tidak), Nilai Kapasitif, dan lain
sebagainya. Terdapat 2 (dua) jenis Multimeter yaitu Analog dan Digital, yang Digital
sangat mudah pembacaannya disebabkan karena Multimeter digital telah menggunakan
angka digital sehingga begitu melakukan pengukuran Listrik,Nilai yang diinginkan
dapat langsung terbaca
alat

asalkan

sesuai

atau

Benar

cara

pemasangan

ukurnya.

Gambar 3.23 Bagian-Bagian Multimeter


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Bagian-Bagian Multimeter :
1

Sekrup Pengatur Jarum, Sekrup ini dapat di putar dengan Obeng atau plat kecil,
Sekrup ini berfungsi mengatur Jarum agar kembali atau tepat pada posisi 0 (NOL),
terkadang jarum tidak pada posisi NOL yang dapat membuat kesalahan pada
pengukuran, Posisikan menjadi NOL sebelum digunakan.

Tombol Pengatur Nol OHM. Tombol ini hampir sama dengan Sekrup pengatur
jarum, hanya saja bedanya yaitu Tombol ini digunakan untuk membuat jarum
menunjukkan angka NOL pada saat Saklar pemilih di posisikan menunjuk SKALA

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

79

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


OHM.
3

Saklar pemilih ,Saklar ini harus di posisikan sesuai dengan apa yang ingin diukur,
misalnya bila ingin mengukur tegangan AC maka saklar diatur/putar hingga
menyentuh skala AC yang pada alat ukur tertulis ACV, begitu pula saat mengukur
tegangan DC, maka saklar diatur hingga menyentuh DCV.
Skala sangat penting dalam pengukuran menggunakan AVOmeter. Skala
tersebut adalah skala yang akan digunakan untuk membaca hasil pengukuran, semua
skala dapat digunakan untuk membaca, hanya saja tidak semua skala dapat
memberikan atau memperlihatkan nilai yang diinginkan, misalnya kita mempunyai
Baterai 9 Volt DC, kemudian saklar pemilih diatur untuk memilih skala tegangan DC
pada posisi 2,5 dan menghubungkan terminal merah dengan positif (+) baterai dan
hitam dengan negatif (-) baterai. Jarum akan bergerak ke ujung kanan dan tidak
menunjukkan angka 9Volt, sebab nilai maksimal yang dapat diukur bila saklar
pemilih diposisikan pada skala 2.5 adalah hanya 2.5 Volt saja, sehingga untuk
mengukur Nilai 9 Volt maka saklar harus di putar menuju Skala yang lebih besar dari
tegangan yang di ukur, jadi Putar pada Posisi 10 dan Alat ukur akan menunjukkan
nilai yang diinginkan.
Berdasarkan prinsip kerjanya, ada dua jenis AVO meter, yaitu AVO meter
analog (menggunakan jarum putar / moving coil) dan AVO meter digital
(menggunakan display digital). Kedua jenis ini tentu saja berbeda satu dengan
lainnya, tetapi ada beberapa kesamaan dalam hal operasionalnya. Misal sumber
tenaga yang dibutuhkan berupa baterai DC dan probe / kabel penyidik warna merah
dan hitam.

3.1.8.1 AVO Meter Analog


AVO Meter analog menggunakan jarum sebagai penunjuk skala. Untuk
memperoleh hasil pengukuran, maka harus dibaca berdasarkan range atau divisi.
Keakuratan hasil pengukuran dari AVO Meter analog ini dibatasi oleh lebar dari skala
pointer, getaran dari pointer, keakuratan pencetakan gandar, kalibrasi nol, jumlah
rentang skala. Dalam pengukuran menggunakan AVO Meter Analog, kesalahan
pengukuran dapat terjadi akibat kesalahan dalam pengamatan (paralax).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

80

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.24 Multimeter Analog


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
3.1.8.2 AVO Meter Digital
Pada AVO meter digital, hasil pengukuran dapat terbaca langsung berupa angkaangka (digit), sedangkan AVO meter analog tampilannya menggunakan pergerakan
jarum untuk menunjukkan skala. Sehingga untuk memperoleh hasil ukur, harus dibaca
berdasarkan range atau divisi. AVO meter analog lebih umum digunakan karena
harganya lebih murah dari pada jenis AVO meter digital.

Gambar 3.25 Multimeter Digital


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

81

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


3.1.8.3 Cara Membaca AVO Meter
a. Mengukur Tegangan Listrik (Volt / Voltage)

Gambar 3.26 Hasil Pengukuran Tegangan Listrik Menggunakan AVOmeter Analog


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Untuk mengetahui berapa nilai tegangan yang terukur dapat pula menggunakan
rumus:

b. Mengukur Arus Listrik (Ampere)

Gambar 3.27 Hasil Pengukuran Arus Listrik Menggunakan AVOmeter Analog


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Mengukur nilai tahanan/resistasi resistor menggunakan AVO meter analog
dapat menggunakan rumus :

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

82

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

c. Mengukur Nilai Tahanan / Resistansi Resistor (Ohm)

Gambar 3.28 Hasil Pengukuran Nilai Tahanan Listrik Menggunakan AVOmeter Analog
Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya
Mengukur nilai tahanan/resistasi resistor menggunakan AVOmeter analog
dapat menggunakan rumus :

Jika dimisalkan

ketika mengukur, dihasilkan

nilai

yang ditunjukkan oleh skala

seperti di atas maka nilai tahanannya adalah :


Nilai yang di tunjuk jarum : 26
Skala pengali

: 10 k

Maka nilai resitansinya

: 26 x 10 k = 260 k = 260.000 Ohm.

3.2 Tujuan Pengujian


1. Praktikan dapat menggambar suatu rangkaian listrik baik secara seri, paralel maupun
campuran.
2. Praktikan dapat membuat suatu rangkaian listrik baik secara seri, paralel maupun
secara campuran.
3. Praktikan dapat mengukur tegangan dan arus listrik pada rangkaian seri, paralel
maupun campuran.
4. Praktikan dapat menghitung besaran hambatan listrik pada suatu rangkaian listrik

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

83

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


baik secara seri, paralel maupun campuran.
5. Praktikan dapat membuat rangkaian 3 fase untuk menggerakan motor listrik.
3.3 Spesifikasi Alat

Gambar 3.29 Rangkaian Electrical Circuit Apparatus


Sumber : Laboratorium Fenomena Dasar Mesin Universitas Brawijaya

Modul MCB 3 Fase + 1 Fase


Modul MC + Kontak Blok
Modul Termorelay
Modul Timer Analog
Modul Lampu Tanda
Modul Tombol Tekan NO/NC seporos
Kerangka Trainer
Kabel Penghubung
Papan Tulis, Transparan, OHP
Generator
Inventor Speed Driver
Smart Relay
Saklar Pengaman Motor
Saklar Emergency
Magnetik Kontraktor

3.4 Cara Pengambilan Data


Prosedur Pengambilan data:
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Gambarkanlah terlebih dahulu rangkaian kontrol dari rangkaian yang telah
ditentukan.
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

84

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


3. Laporkan pada asisten terlebih dahulu sebelum merangkai.
4. Hubungkan kabel pada Modul MCB 3 Fase + 1 Fase, Modul Lampu Tanda dan
Modul Tombol Tekan NO/NC seporos ini sesuai dengan rangkaian yang telah anda
gambar.
5. Laporkan kembali pada asisten sebelum menyalakan Modul MCB 3 Fase + 1 Fase.
6. Nyalakan Modul MCB 3 Fase + 1 Fase.
7. Tekan Modul Tombol Tekan NO/NC, Kemudian catat hasilnya pada tabel kebenaran
(Pada Percobaan 1). Ukur tegangan dan arus listrik pada rangkaian menggunakan
AVO meter (Pada Percobaan 2 4).
8. Matikan Modul MCB 3 Fase + 1 Fase.
9. Kembalikan Peralatan dan Bahan pada tempat semula.
3.5 Hasil Pengujian
3.5.1

Data Hasil Pengujian


1. Percobaan 1
Tabel 3.7 Data Hasil Pengujian
Saklar
Rangkaia
n
I
II
III
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
1
1
0
0
B,D
1
1
1
1
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
Sumber : Dokumentasi Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

Nyala
Lampu
0
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
1
1
1
1
1

85

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2. Percobaan 2
Tabel 3.8 Data Hasil Pengujian

Sumber : Dokumentasi Pribadi

3.5.2 Analisa dan Pembasan


1. Percobaan 1
Percobaan ini dilakukan untuk menguji fungsi and, fungsi or, dan juga
gabungan keduanya. Fungsi and adalah logika yang mempunyai jumlah input tidak
terbatas ,tetapi hanya memiliki suatu output. Semua input pada fungsi and harus
dalam kondisi 1 agar output bisa menyala, jadi kalau ada satu saja input yang tidak
dalam kondisi 1 maka output tidak akan menyala. Ini dikarenakan komponen yang
dalam kondisi 0 membuat arus listrik tidak mengalir ke input komponen lainnya.
Hampir sama seperti fungsi and, fungsi or adalah logika yang mempunyai jumlah
input tidak terbatas tetapi hanya memiliki suatu output, perbedaannya hanya pada
inputnya, pada fungsi or salah satu input saja dalam kondisi 1 outpot akan
menyala.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

86

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


a. Percobaan 1 Rangkaian B

Gambar 3.30 Percobaan 1 Rangkaian B


Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 3.9 Percobaan 1 Rangkaian B
Rangkaia
n

No.
1
2
3

I
Not-Pushed
(0)
Pushed (1)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)

Saklar
II
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Pushed (1)

Pushed (1)

Pushed (1)

Not-Pushed
(0)

Pushed (1)

Pushed (1)

8
Pushed (1)
Sumber : Dokumen Pribadi

Not-Pushed
(0)
Pushed (1)

III
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Pushed (1)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)

Nyala Lampu
Tidak Nyala
(0)
Nyala (1)
Nyala (1)
Nyala (1)
Nyala (1)

Pushed (1)

Nyala (1)

Pushed (1)

Nyala (1)

Pushed (1)

Nyala (1)

Dari percobaan 1 dengan rangkaian B didapatkan data sebagai berikut:

Pada langkah pertama, ketiga saklar tidak ditekan lampu tidak menyala.
Pada langkah kedua, hanya saklar I ditekan lampu menyala.
Pada langkah ketiga, hanya saklar III ditekan lampu menyala
Pada langkah keempat, hanya saklar II ditekan lampu menyala.
Pada langkah kelima, saklar I dan saklar II ditekan lampu menyala.
Pada langkah keenam, saklar II dan saklar III ditekan lampu menyala.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

87

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Pada langkah ketujuh, saklar I dan saklar III ditekan lampu menyala.
Pada langkah kedelapan, semua saklar ditekan lampu menyala.
Percobaan

pada

rangkaian

ini

membuktikan

bahwa

rangkaian

ini

menggunakan logika or, ini dibuktikan dengan hanya menggunakan satu input dalam
kondisi 1 lampu pasti menyala.
a. Percobaan 1 Rangkaian D

Gambar 3.31 Percobaan 1 Rangkaian D


Sumber : Dokume Pribadi
Tabel 3.10 Percobaan 1 Rangkaian D
Rangkaian

No
.
1
2
3

I
Not-Pushed
(0)
Pushed (1)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)

Saklar
II
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Pushed (1)

Pushed (1)

Pushed (1)

Not-Pushed
(0)

Pushed (1)

Pushed (1)

8
Pushed (1)
Sumber : Dokumen Pribadi

Not-Pushed
(0)
Pushed (1)

Nyala Lampu
III
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)
Not-Pushed
(0)

Tidak Nyala
(0)
Tidak Nyala
(0)
Tidak Nyala
(0)
Tidak Nyala
(0)
Tidak Nyala
(0)

Pushed (1)

Nyala (1)

Pushed (1)

Nyala (1)

Pushed (1)

Nyala (1)

Pushed (1)

Dari percobaan 1 dengan rangkaian D didapatkan data sebagai berikut:

Pada langkah pertama, ketiga saklar tidak ditekan lampu tidak menyala.
Pada langkah kedua, hanya saklar I ditekan lampu tidak menyala.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

88

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Pada langkah ketiga, hanya saklar III ditekan lampu tidak menyala
Pada langkah keempat, hanya saklar II ditekan lampu tidak menyala.
Pada langkah kelima, saklar I dan saklar II ditekan lampu tidak menyala.
Pada langkah keenam, saklar II dan saklar III ditekan lampu menyala.
Pada langkah ketujuh, saklar I dan saklar III ditekan lampu menyala.
Pada langkah kedelapan, semua saklar ditekan lampu menyala.
Percobaan pada rangkaian ini menggunakan logika and maupun logika or, ini

bisa dilihat dari 3 langkah terakhir dimana lampu menyala. Untuk saklar I dan saklar
II berlaku fungsi or dimana salah satu saja dari saklar tersebut ditekan bersamaan
dengan saklar III lampu akan menyala. Untuk saklar III menggunakan logika and
dimana tanpa saklar III lampu tidak akan menyala. Variasi untuk menyalakan
lampunya dengan menekan saklar I atau saklar II ataupun keduanya dengan saklar III
2. Percobaan 2
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui nilai voltase, arus maupun
hambatan yang melintas melalui rankaian yang ada. Sebelum mencari nilai dari
voltase, arus maupun hambatannya, kita harus mengetahui macam macam
rangkaian dan juga karakteristik dari rangkaian tersebut agar dapat membedakan
hasil aktual dengan teori yang ada.
Rangkaian seri adalah rangkaian listrik dimana input dari suatu komponen
berasal dari output komponen lainnya yang berada sederet dari komponen tersebut.
Rangkaian ini punya kelebihan dimana biaya untuk membuatnya relative murah
dengan sedikit menggunakan kabel penghubung, tetapi memiliki kelemahan yang
cukup fatal jika salah satu komponen rusak maka komponen itu memutus arus yang
mengalir.
Rangkaian paralel merupakan rangkaian listrik yang disusun dengan tidak
sebaris, dimana input untuk setiap komponen semuanya berasal dari sumber yang
sama. Kelebihan rangkaian paralel adalah apabila ada komponen yang rusak
komponen tersebut tidak menggangu komponen yang lainnya sehingga rangkainan
tersebut akan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Namun harganya yang relatif lebih mahal dibanding rangkaian seri menjadi
kekurangan rangkaian paralel.
a. Percobaan 2 rangkaian A

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

89

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 3.31 Percobaan 2 Rangkaian A


Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 3.11 Percobaan 2 Rangkaian A

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Rangkaian ini menggunakan rangkaian seri dimana didapatkan besar kuat
arus yang sama di setiap lampu dengan tegangan yang berbeda-beda. Ini
dikarenakan arus listrik hanya memiliki satu jalur untuk mengalir. Hal ini berarti
arus listrik yang mengalir pada setiap komponen listrik dalam rangkaian seri ini
memiliki nilai yang sama, ini sesuai dengan teori dimana pada rangkaian seri
Itotal = I1 = I2 = . = In.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

90

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


b. Percobaan 2 rangkaian B

Gambar 3.32 Percobaan 2 rangkaian B


Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 3.12 Percobaan 2 Rangkaian B

Sumber : Dokumen Pribadi

Rangkaian ini menggunakan rangkaian paralel dimana data yang


didapatkan menunjukan jika voltase di ketiga lampu sama. Ini dikarenakan tiaptiap lampu dihubungkan pada dua titik yang sama dalam rangkaian, sehingga
besar voltasenya sama. Data diatas juga sesuai dengan teori dimana pada
rangkaian paralel V1 = V2 = . = Vn

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

91

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


c. Percobaan 2 rangkaian C

Gambar 3.33 Percobaan 2 Rangkaian C


Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 3.13 Percobaan 2 Rangkaian C

Sumber : Dokumen Pribadi

Rangkaian ini menggunakan rangkaian campuran dimana ada rangkaian


seri dan rangkaian paralelnya. Pada rangkaian ini lampu 1 dan lampu 2 dirangkai
secara paralel sedangkan lampu 3 dirangkai seri terhadap lampu 1 dan lampu 2.
Pada rangkaian ini didapatkan jumlah arus yang mengalir pada lampu 1 dan
lampu 2 sama dengan arus yang melalui lampu 3, itu membuktikan jika kuat
arusnya pada rangkaian ini secara teori maupun aktual sama.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

92

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


d. Percobaan 2 rangkaian D

Gambar 3.34 Percobaan 2 rangkaian D


Sumber : Dokumen Pribadi
Tabel 3.12 percobaan 2 rangkaian D

Sumber : Dokumentasi Pribadi


Rangkaian ini menggunakan rangkaian campuran dimana ada rangkaian
seri dan rangkaian paralelnya. Pada rangkaian ini lampu 1 dan lampu 2 dirangkai
seri sedangkan lampu 3 dirangkai paralel terhadap lampu 1 dan lampu 2. Pada
rangkaian ini didapatkan arus yang mengalir pada lampu 1 dan lampu 2 sama dan
berbeda dangan arus yang melewati lampu 3 itu membuktikan jika kuat arusnya
pada rangkaian ini secara teori maupun aktual sama namun berbeda dengan
voltase yang seharusnya voltase lampu 1 + voltase lampu 2 sama dengan voltase
lampu 3 sama dengan voltase total. Nilai voltase yang berbeda dikarenakan
adanya hambatan dalam pada rangkaian ini.
Hambatan dalam sendiri berarti hambatan yang dimiliki komponen listrik
yang sebenarnya komponen tersebut bukan berfungsi sebagai hambatan. Berbeda
dengan lampu yang memang sejatinya berfungsi sebagai hambatan, terkadang
lampu juga sering disebut sebagai hambatan luar. Jadi hambatan dalam yang
dimiliki kabel yang membuat jumlah voltase 1 + 2 tidak sama dengan voltase 3.
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

93

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

3.5.3

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
1. Fungsi and adalah logika yang mempunyai jumlah input tidak terbatas, tapi hanya
memiliki satu output. Semua input pada fungsi and harus dalam kondisi 1 agar
output bias menyala. Ini dikarenakan komponen yang dalam kondisi 0 membuat
arus listrik tidak mengalir ke komponen lainnya. Hamper sama seperti fungsi and,
fungsi or, adalah logika yang memppunyai jumlah input yang tidak terbatas tetapi
hanya memiliki satu output, perbedaannya hanya pada inputnya, pada fungsi or
jika salah satu input dalam kondisi 1 output akan menyala.
2. Rangkaian seri adalah rangkaian listrik dimana input dari suatu komponen berasal
dari output komponen lainnya yang berada sederet dari komponen tersebut.
Rangkaian ini punya kelebihan dimana biaya untuk membuatnya relative murah
dengan sedikit menggunakan kabel penghubung, tetapi memiliki kelemahan yang
cukup fatal jika salah satu komponen rusak maka komponen itu memutus arus
yang mengalir.
3. Rangkaian paralel merupakan rangkaian listrik yang disusun dengan tidak sebaris,
dimana input untuk setiap komponen semuanya berasal dari sumber yang sama.
Kelebihan rangkaian paralel adalah apabila ada komponen yang rusak komponen
tersebut tidak menggangu komponen yang lainnya sehingga rangkainan tersebut
akan tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Namun harganya yang relatif lebih
mahal dibanding rangkaian seri menjadi kekurangan rangkaian paralel.
4. Pada percobaan 1 rangkaian b lampu akan menyala jika salah satu dari ketiga
saklar ditekan. Ini menandakan kalau rangkaian ini menggunakan logika or. Lalu
pada percobaan 1 rangkaian d saklar I dan II disusun secara parallel sedangkan
saklar III secara seri sehingga rangkaian ini menggunakan logika or dan juga
logika and. Jadi lampu akan menyala jika salah satu dari saklar I atau saklar II
ditekan bersamaan dengan saklar III.
5. Pada percobaan 2 prinsipnya jika rangkaian tersebut adalah rangkaian seri arus
yang mengalir dalam rangkaian tersebut sama sedangkan jika dalan rangkaian
paralel voltase pada masing-masing komponen dalam rangkaian tersebut sama.
Pada percobaan 2 tepatnya rangkaian D kami mendapat kejanggalan data dimana
seharusnya voltase lampu 1 + lampu 2 sama dengan lampu 3 tetapi kenyataannya

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

94

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


tidak. Mungkin ini dikarenakan adanya hambatan dalam dari kabel (komponen
selain lampu) yang mempegaruhi nilai voltase pada rangkaian ini sehingga
menyebabkan voltase lampu 1 + voltase lampu 2 tidak sama dengan voltase lampu
3.
Saran
1. Saran untuk asisten saat membuat janjian asistensi bisa via sms jadi tidak harus
selalu ketemu langsung.
2. Untuk laboratorium sebaiknya alat alat yang rusak diperbaiki sehingga untuk
praktikum semester depan dapat digunakan dan menambah wawasan praktikan
mengenai macam macam alat fenomena dasar mesin.
3. Untuk laboratorium Fenomena Dasar Mesin yang notabene cukup luas, bisa lebih
memperhatikan kebersihan, kerapian alat-alat dan juga menambah kipas angin
atau setidaknya memperbanyak ventilasi agar didalam lab tidak panas

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

95

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

BAB IV
SIMPLE VIBRATION APPARATUS
4.1 Dasar Teori
4.1.1 Getaran
Getaran adalah

gerakan

bolak-balik

dari

suatu

sistem

pada

posisi

kesetimbangannya dalam suatu interval waktu. Kesetimbangan merupakan keadaan


dimana suatu benda berada pada posisi diam jika tidak ada gaya yang bekerja. Getaran
berhubungan dengan gerak osilasi benda dan gaya yang mempengaruhi gerak tersebut.
Osilasi merupakan variasi periodic terhadap waktu.
Getaran yang terjadi membutuhkan minimal dua elemen pengumpul energi.
Pertama adalah massa yang menyimpan energi kinetik dan yang kedua alat yang
memiliki elastisitas seperti pegas yang menyimpan energi potensial. Oleh karena itu,
semua benda yang mempunyai massa dan elastisitas mampu bergetar.
Macam Macam getaran terdiri dari :
1. Getaran Bebas
Getaran bebas terjadi jika suatu system mekanis mengalami osilas karena
adanya gaya yang bekerja di dalam sistem itu sendiri (inherent). Sistem yang bergetar
secara bebas akan bergerak pada frekuensi naturalnya. Semua system yang memiliki
massa dan elastisitas dapat mengalami getaran bebas tanpa rangsangan dari luar.
Contoh getaran bebas adalah bandul yang ditarik dari keadaan setimbang lalu
dilepaskan.
2. Getaran Paksa
Getara paksa terjadi jika suatu sistem mekanis mengalami osilasi akibat
adanya gaya rangsangan dari laur sistem yang menyebabkan sistem dipaksa
mengalami getaran sesuai frekuensi rangsangan.
4.1.2

Degree of Freedom
Degree of freedom (derajat kebebasan) adalah derajat independensi yang

diperlukan untuk menyatakan posisi suatu sostem pada setiap saat. Degree of freedom
berfungsi untuk mengetahui perpindahan, rotasi maupun gaya yang bekerja pada sistem
akibat adanya beban yang bekerja. Sistem getaran menurut jumlah derajat kebebasannya
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Single degree of freedom system (sistem satu derajat kebebasan)
Sistem satu derajat kebebasan disebabkan oleh gerakan atau simpangan yang
terjadi pada sistem hanya memiliki satu arah saja (contohnya hanya pada arah
horisontal maupun arah vertikal saja) sehingga hanya memiliki satu sistem kordinat

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

96

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


tertentu baik bertanda positif maupun negatif. Pada kondisi tersebut, simpangan suatu
massa pada saat t dapat dinyatakan dalam koordinat tunggal yaitu y(t).

Gambar 4.1 Model Sistem satu derajat kebebasan


Sumber : Kelly, 1993
2. Double degree of freedom system (system dua derajat kebebasan)
Sistem dua derajat kebebasan memiliki dua kordinat independen yang
bersamaan untuk menentukan konfigurasinya (kedudukan massanya).

Gambar 4.3 Model system dua derajat kebebasan


Sumber: Kelly, 1993
3. Multi degree of freedom system (sistem derajat kebebasan banyak)
Sistem derajat kebebasan banyak adalah sebuah sistem yang mempunyai
koordinat bebas untuk menetahui keddukan massa lebih dari dua buah. Pada
dasarnya, analisa sistem banyak derajat kebebasan adalah sama dengan system satu
atau dua derajat kebebasan. Tetap karena banyaknya langka yang harus dilewati
untuk mencari frekuensi pribadi melalui perhitungan metematis, maka system
digolongan menjadi derajat kebebasan banyak

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

97

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 4.5 Model system derajat kebebasan banyak


Sumber: Kelly, 1993
4.1.3 Sistem Getaran Bebas
Sistem getaran bebas terjadi dalam suatu system karena tidak adanya eksitasi
luar sebagai hasil dari energi kinetik atau energi potensial yang ada pada sistem. Sistem
getaran bebas berawal dari transfer energi kinetik ke potesial secara kontinu, begitu pula
sebaliknya. Sistem getaan bebas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Sistem getaran bebas tak teredam

Gambar 4.7 Model sistem getaran bebas tak teredam


Sumber: Anonymous 19, 2014
Sebuah massa m disangga oleh pegas dengan kekakuan k dengan inersia yang
diabaikan. Massa m lalu ditarik ke atas dari posisi setimbang, kemudian dilepas.
Pada selang waktu t, massa akan berbeda pada jarak x dari posisi setimbang dan gaya
pegas F=-kx yang bekerja pada benda akan cenderung menahannya pada posisi
setimbang.
Persamaan dari gerakan:
kx=m

d2 x
dt2

atau

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

98

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


d2 x
2
+ n=0
2
dt
2

n=

k
m

Gerakannya adalah gerakan harmonis sederhana dan periode T diberikan


dengan persamaan:

T=

T =2

s
g

mg
k

Dengan s = defleksi statis =


Frekuendi f

atau

k
m

diberikan dengan persamaan:

f=

1
2

k
m

atau

f=

1
2

g
s

Dimana:
k = Konstanta Pegas (N/m)
x = Jarak pergerakan pegas dari posisi normal (m)
f = Frekuensi (Hz)

n = Frekuensi Pribadi (Hz)


T = Periode (s)

2. Sistem getaran bebas teredam

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

99

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 4.8 Model sistem getaran bebas teredam


Sumber: Anonymous 1, 2014
Perhatikan massa benda m disangga oleh pegas dengan kekakuan k, inertia
diabaikan dan dihubungkan dengan sebuah dashpot oli yang mempunyai hambatan
yang dapat dianggap sebanding dengan kecepatan relatif. Massa m ditarik ke atas
dari posisi seimbang, kemudian dilepaskan.
Pada selang waktu t, massa akan berada pada jarak x dari posisi setimbang.
Gaya pegas kx yang bekerja pada benda akan cenderung menahannya pada keadaan
seimbang dan gaya peredaman yang cenderung untuk melawan gerakan adalah

dx
dt

Dimana c adalah konstanta peredaman.


Persamaan dari gerakan tesebut adalah
dx
d2 x
kxc =m 2
dt
dt
Bentuk standar dari sistem ini adalah
d2 x
dx
+2 n + 2n x=0
2
dt
dt

Maka untuk kasus ini

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

100

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2

n x=

k
m

dan

2 n =

c
m

Dimana:
k = Konstanta Pegas (N/m)
x = Jarak pergerakan pegas dari posisi normal (m)
f = Frekuensi (Hz)

n = Frekuensi Pribadi (Hz)


T = Periode (s)
= Damping ratio

Jenis-jenis peredaman pada sistem getaran bebas adalah sebagai berikut:

Underdamped
Sistem yang mengalami underdamped biasanya melakukan beberapa
getaran sebelum berhenti. Sistem masih melakukan beberapa getaran sebelu
berhenti karena redaman yang dialami tidak terlalu besar. Contoh benda yang

digantung dalam unjung pegas.


Critical Damping
Sistem yang mengalami critical damping biasanya langsung berhenti
bergetar (benda langsung kembali ke posisi setimbang). Sistem langsung berhenti
karena redaman yang dialami cukup besar. Contoh bola yang digantung pada

ujung pegas kemudian tercelup ke dalam air.


Over damping
Over damping mirip seperti critical damping. Bedanya pada critical
damping benda tiba lebih cepat di posisi setimbangnya, sedangkan pada over
damping benda lama sekali di posis setimbangnya. Hal ini disebabkan karena
redaman yang dialami oleh sistem sangat besar. Contoh sebuah benda yang
digantungkan pada ujung pegas kemudian bola masuk ke alam wadah yang berisi
minyak kental. Adanya minyak kendtal menyebabkan bola sulit kembali ke posisi
setimbang.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

101

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4.1.4

Hukum Hooke
Hukum hooke adalah hukum atau ketentuan mengenai gaya dalam bidang ilmu

fisika yang terjadi karena sifat elastisitas dari sebuah pir atau pegas besarnya gaya
hooke ini secara proporsional akan berbanding lurus dengan jarak pergerakan pegas dari
posisi normalnya, atau lewat rumus matematis dapat digambarkan sebagai berikut.
F=k.x
Keterangan:
F = Gaya (N)
k = Konstanta pegas (N/m)
x = jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya (m)
4.1.5 Frekuensi,Periode,Amplitudo dan Damping Ratio
a) Frekuensi
Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi pada suatu sistem pada satu
detik. Frekuensi dalam suat sistem dapat ditentukan dengan cara membandingkan
atara banyaknya getaran yang terjadi dengan waktu getaran yang terjadi (dalam
detik). Satuam untuk frekuensi adalah Hertz (Hz)
Frekuensi pada sistem satu derajat kebebasan tanpa peredaman:
f=

1
2

k
m

Keterangan:
f = Frekuensi (Hz)
k = Konstanta pegas (N/m)
m = massa (kg).
Frekuensi pada sistem satu derajat kebebasan dengan peredaman:
f =2 n 1 2
Keterangan:
f = Frekuendi (Hz)
n = Frekuensi natural (Hz)
= Damping ratio
b) Periode
Periode adalah waktu yang diperlukan untuk melakukan satu getaran
T=

1
f

Keterangan
T = Periode (s)
f = Frekuensi (Hz)
c) Amplitudo
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

102

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Amplitudo merupakan simpangan terjauh jika dihitung dari kedudukan
setimbangnya. Pada grafik osilasi, amplitudo juga merupakan simpangan maksimum
dari suatu gelombang. Osilasi merupakan variasi periodik terhadap waktu yang
didapat dari hasil pengukuran
Y = A sin
Y = A sin t
dimana =2
Y = A sin 2 ft
1
Y = A sin 2 t
T

Dari persamaan di atas dapat diketahui hubungan antara frekuensi dengan


panjang gelombang dapat dilihat pada persamaan berikut:
t=2 ft
v =f .

v=
T
Nilai cepat rambat gelombang (v) dan waktu (t) dapat dicari dengan simple
vibration apparatus, sehingga panjang gelombang ( ) dapat diketahui.
d) Damping Ratio
Damping ratio adalah perbandingan antara peredaman sebenarnya terhadap
jumlah peredaman yang diperlukan untuk mencapai titik redaman kritis.
Keterangan:
= Damping ratio
c = Konstanta peredaman
k = Konstanta pegas
m = massa
Kondisi-Kondisi yang dipengaruhi oleh besarnya Damping ratio pada suatu
sistem adalah sebagai berikut:
1. Under damped
Pada kondisi peredaman under damper, damping ratio yang dimiliki oleh
sistem kurang dari satu ( < 1).
2. Critically damped
Pada kondisi peredaman critically damped, damping ratio yang dimiliki
oleh sistem sama dengan satu ( = 1).
3. Over damped

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

103

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Pada kondisi peredaman Over damped, damping ratio yang dimiliki oleh
sistem lebih dari satu ( > 1)

Gambar 4.9 Grafik perbandingan respon getaran pada tiap kondisi damping ratio
Sumber: Anonymous 2, 2009
4.2 Tujuan Pengujian
1. Untuk memahami hubungan antara massa benda, kekakuan dari pegas dan periode
atau frekuensi dari osilasi untuk sistem pegas massa sederhana yang mempunyai
satu derajat kebebasan
2. Untuk memahami hubungan antara gaya, viskositas dari oli dan kecepatan untuk
bermacam-macam keadaan dari dashpot yang dapat diatur.
3. Untuk mengamati efek dari bermacam kuantitas peredaman untuk suatu respon dari
orde kedua dari sistem mekanika untuk suatu input langkah

4.3 Spesifkasi Alat


Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah Sanderson simple vibration
apparatus.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

104

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 4.10 Sanderson Simple Vibration Apparatus


Sumber: Lab. Fenomena Dasar Mesin, 2014
Rangka dapat begerak secara vertical pada roller guides dengan membawa
central stud ke massa yang dapat di pasangkan.
Massa frame adalah 1,7 kg
Massa Tiap piringan 1,0 kg
Tiga buah pegas masing-masing
Pegas No.1

k = 3,30 kN/m

Pegas No.2

k = 1,22 kN/m

Pegas No.3

k = 0,47 kN/m

Sebuah pena terdapat pada vibrating frame dan kertas yang digerakkan motor
sinkron menghasilkan amplitude / time recording (kec.kertas = 0,02 m/s)
4.4 Cara Pengambilan Data
Step I
1. Aturlah paper strip pada roller sehingga siap digunakan
2. Pasanglah pena pada penjepit pena
3. Pasang pegas sesuai dengan konstanta yang akan dicobakan
4. Tekan pegas sampai pada dasar, sebelum dilepas pastikan motor dalam posisi on
sehingga roller berputar, kemudian lepaskan pegas
5. Catat hasil osilasi sesuai table
6. Tambahkan beban, kemudian ulangi percobaan seperti nomor 4

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

105

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Step II
1. Pasang peralatan damper
2. Aturlah putaran sesuai dengan bukaan yang dikehendaki
3. Ulangi percobaan seperti nomor 4 Step I
4. Tambahkan beban dan ulangi percobaan
5. Lakukan percobaan denga teliti dan benar
4.5 Hasil Pengujian
4.5.1 Data Hasil Pengujian
Massa Frame

: 1.7 kg

Massa Tiap Piringan

: 1.0 kg

Berikut hasil osilasi untuk hubungan antara massa dengan frekuensi pada
konstanta pegas (k) = 0.47 kN/m; 1.22 kN/m; 3.30 kN/m dan pada massa (m) = 2.7 kg;
3.7 kg; 4.7 kg:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

106

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Pada saat k = 0.47 kN/m

Gambar 4.11 Pengujian 1


Sumber: Data Pribadi
Pada saat k = 1.22 kN/m

Gambar 4.12 Pengujian 2


Sumber: Data Pribadi
Pada saat k = 3.30 kN/m

Gambar 4.13 Pengujian 3


Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

107

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Berikut hasil osilasi untuk hubungan putaran katup dengan konstanta peredaman
pada konstanta pegas 0,47 kN/m, putaran katup 5, 10, 15, 20, 25 dan pada massa 1 kg, 2
kg, dan 3 kg dengan variasi oli (peredaman) yaitu SAE 20:
Pada massa 1 kg

Gambar 4.14 Pengujian 4


Sumber: Data Pribadi
Pada massa 2 kg

Gambar 4.15 Pengujian 5


Sumber: Data Pribadi
Pada massa 3 kg

Gambar 4.16 Pengujian 6


Sumber: Data Pribadi
Tabel 4.1. Hubungan antara massa dan frekuensi pada konstanta pegas 0,47 kN/m
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

108

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


No
1
2
3
Sumber: Data Pribadi

m (kg)
2,7
3,7
4,7

0,01
0,011
0,012

f (Hz)
2,0000
1,8182
1,6667

f' (Hz)
2,0998
1,7938
1,5915

Tabel 4.2. Hubungan antara massa dan frekuensi pada konstanta pegas 1,22 kN/m
No
1
2
3
Sumber: Data Pribadi

m (kg)
2,7
3,7
4,7

0,0062
0,007
0,008

f (Hz)
3,2258
2,8571
2,5000

f' (Hz)
3,3831
2,8900
2,5642

Tabel 4.3. Hubungan antara massa dan frekuensi pada konstanta pegas 3,30 kN/m
No
1
2
3
Sumber: Data Pribadi

m (kg)
2,7
3,7
4,7

0,0038
0,004
0,0048

f (Hz)
5,2632
5,0000
4,1667

f' (Hz)
5,5641
4,7531
4,2172

Tabel 4.4. Hubungan putaran katup terhadap konstanta peredaman dengan massa 2,7 kg
pada k = 0,47 kN/m
n
Wn
(rev)
(rad/s)
1
5
13,1937
2
10
13,1937
3
15
13,1937
4
20
13,1937
5
25
13,1937
Sumber: Data Pribadi
No

x1
(m)
0,012
0,001
0,001
0,007
0

x2
(m)
0,009
-

0,045786
0,5
0,6
0,652174
1

C
(kg/s)
3,262073
35,62303
42,74763
46,46482
71,24605

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

under
(m)
0.03
0.025
0.023
-

critical
(m)
0.015
0.015
0.015
-

109

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 4.5. Hubungan putaran katup terhadap konstanta peredaman dengan massa 3,7 kg
pada k = 0,47 kN/m

n
(rev)
5

Wn
(rad/s)
11,2706

x1
(m)
0,014

10

11,2706

0,0135

15

11,2706

0,012

20

11,2706

0,0115

5
25
11,2706
Sumber: Data Pribadi

0,0008

No

x2
(m)
0,005
0,004
3
0,003
0,002
5
0

0,163869

C
(kg/s)
13,66711

under
(m)
-

critical
(m)
-

0,182085

15,18638

0,220636

18,40159

0,242879

20,25678

0,9

75,06237

0.02

0.018

Tabel 4.6. Hubungan putaran katup terhadap konstanta peredaman dengan massa 4,7 kg
pada k = 0,47 kN/m
N
o

n
(rev)

Wn
(rad/s
)
10

10

10

15

10

20

10

25

10

x1
(m)

x2
(m)

C
(kg/s)

under
(m)

critical
(m)

0,016
0,015
7
0,015
5
0,011
0,001
3

0,0047

0,194969

18,32708

0,0045

0,198877

18,69447

0,0033

0,2462

23,14276

0,002

0,271319

25,50399

0,952381

89,52381

0,021

0,02

Sumber: Data Pribadi


4.5.2 Contoh Perhitungan
a. Tanpa Peredaman

Frekuensi Teoritis
f '=
f '=

1
2

1
22
2
7

k
m

0.47 1000
2.7

f '=2,0998 Hz

Frekuensi Aktual
f=

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

110

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


f=

0.02
0.01

f =2 Hz
b. Dengan Peredaman

Frekuensi Natural
Wn=
Wn=

k
m
0.47 1000
2.7

Wn=13,1937 rad/s

Damping Ratio
=

X
1
ln 1
2 X2

1
1,2
ln
2(3.14) 0,09

=0,41225

Konstanta Peredaman
c=2 Wn m
c=2 x 11.2706 x 3.7 x 0,41225

c=29,37146 kg/s

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

111

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4.5.3 Grafik dan Pembahasan
4.5.3.1 Grafik Hubungan Frekuensi Terhadap Massa dengan Variasi Konstanta Pegas

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

112

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Grafik diatas menggambarkan hubungan Massa yang ditunjukkan dengan sumbu X


dengan satuan kg dan frekuensi yang ditunjukkan dengan sumbu Y dengan satuan Hz.
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa semakin besar massa pada maka frekuensinya
semakin kecil (berbanding terbalik). Hal itu dikarenakan bila massa semakin besar maka
panjang gelombang yang akan dibentuk semakin besar sehingga frekuensiya semakin
turun.
Dari grafik di atas juga dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai konstanta pegas,
maka akan semakin besar juga nilai frekuensinya. Hal ini dikarenakan dengan konstanta
pegas yang semakin besar maka pegas akan semakin kaku. Dengan kekakuan yang
besar ini maka frekuensi yang ditimbulkan akan semakin besar pula yang berarti makin
banyak getaran yang ditimbulkan tiap detiknya. Hal tersebut sesuai dengan persamaan
berikut:
f '=

1
2

k
m

Dimana:
f = frekuensi (Hz)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

113

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


k = konstanta pegas (kN/m)
m = massa(kg)
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa nilai frekuensi aktual cenderung berada di
bawah frekuensi teoritis. Hal itu bisa dikarenakan nilai konstanta pegas aktualnya lebih
kecil dari nilai konstanta pegas teoritis. Karena pada pengujian ini nilai konstanta pegas
aktual dan konstanta pegas teoritis dianggap sama. Padahal nilai konstanta pegas dari
suatu spring itu bisa mengalami penurunan bila dikenai beban secara terus menerus atau
berulang. Di praktikum ini, spring yang dipakai itu sudah lama sehingga ada
kemungkinan nilai konstanta pegasnya sudah tidak sama atau sudah mengalami
penurunan. Nilai konstanta pegas ini akan mempengaruhi besarnya panjang gelombang
aktual dari sistem getaran tersebut. Rumus untuk menghitung frekuensi aktual adalah
sebagai berikut:
f=

Dimana:
f = frekuensi aktual (Hz)
v = kecepatan kertas (m/s)
= panjang gelombang (m)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

114

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4.5.3.2 Grafik Hubungan Antara Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi Massa pada Konstanta Pegas dan
Viskositas Oli yang Sama

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

115

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik diatas menggambarkan hubungan putaran katup yang ditunjukkan dengan
sumbu X dan konstanta peredaman yang ditunjukkan dengan sumbu Y dengan satuan
Kg/s dengan nilai konstanta pegas yang sama yaitu 0,47 kN/m dan besar SAE yang
sama yaitu 20.
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa semakin besar putaran katup maka
konstanta peredaman semakin besar. Hal itu dikarenakan bila putaran katup semakin
besar maka akan semakin mendekat kedua lempeng peredaman yang akan membuat
konstanta peredaman semakin besar.
Secara teoritis, semakin besar massa maka konstanta peredaman semakin besar.
Hal itu sesuai dengan rumus berikut:
c=2 Wn m
Dimana:
c = konstanta peredaman(kg/s)
m = massa (kg)
k = konstanta peredaman (kN/m)
= damping ratio
Dari rumus dapat disimpulkan kalau massa berbanding lurus dengan konstanta
peredaman. Sehingga semakin besar massa maka konstanta peredaman semakin besar.
Secara teoritis, urutan percobaan yang menghasilkan nilai konstanta peredaman dari
terbesar ke rendah adalah pengujian dengan massa 4,7; pengujian dengan massa 3,7;
dan pengujian dengan massa 2,7. Namun kecenderungan grafik kami menyimpang dari
teoritisnya. Penyimpangan ini kemungkinan dikarenakan pada percobaan dengan massa
2,7 kg, pada putaran ke 10 20, sudah terjadi under damping sehingga nilai konstanta
peredaman semakin tinggi. Sementara pada pengujian dengan massa 3,7 kg dan 4,7 kg,
belum terjadi under damping sehingga konstanta peredamannya kecil.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

116

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4.5.3.3 Grafik Hubungan Antara Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi Viskositas Oli pada Massa 3,7 kg dan
Konstanta Pegas yang Sama

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

117

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik diatas menggambarkan hubungan putaran katup yang ditunjukkan dengan
sumbu X dan konstanta peredaman yang ditunjukkan dengan sumbu Y dengan satuan
Kg/s dengan besar konstanta pegas yang sama yaitu sebesar 0,47 kN/m.
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa semakin besar putaran katup maka
konstanta peredaman semakin besar. Hal itu dikarenakan bila putaran katup semakin
besar maka akan semakin mendekat kedua lempeng peredaman yang akan membuat
konstanta peredaman semakin besar.
Secara teoritis, semakin besar viskositas fluida peredaman (oli) maka konstanta
peredaman semakin kecil. Karena dengan viskositas yang semakin kecil maka
amplitudo getaran yang dihasilkan semakin kecil sehingga damping ratio dan konstanta
peredaman semakin kecil. Hal itu sesuai dengan rumus berikut:
c=2 Wn m
Dimana:
c = konstanta peredaman(kg/s)
m = massa (kg)
k = konstanta peredaman (kN/m)
= damping ratio
Kecenderungan grafik kami sudah sesuai dengan teoritisnya yakni urutan
pengujian yang menghasilkan konstanta peredaman dari yang terbesar ke rendah yaitu
pengujian dengan SAE 20, SAE 40, SAE 60. Dari grafik kami juga dapat dilihat kalau
pada putaran ke 25, pengujian dengan SAE 40 konstanta peredamannya paling besar.
Hal itu dikarenakan pengujian dengan SAE 40 pada putaran katup 25 sudah mengalami
critical damping sehingga nilai konstanta peredamannya besar.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

118

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4.5.3.4 Grafik Hubungan Antara Konstanta Peredaman Terhadap Putaran Katup dengan Variasi Konstanta Pegas pada Massa 3,7 kg
dan Viskositas Oli yang Sama

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

119

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik diatas menggambarkan hubungan putaran katup yang ditunjukkan dengan
sumbu X dan konstanta peredaman yang ditunjukkan dengan sumbu Y dengan satuan
Kg/s dengan besar SAE oli sama yaitu sebesar 20.
Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa semakin besar putaran katup maka
konstanta peredaman semakin besar. Hal itu dikarenakan bila putaran katup semakin
besar maka akan semakin mendekat kedua lempeng peredaman yang akan membuat
konstanta peredaman semakin besar.
Secara teoritis, semakin besar konstanta pegas dengan viskositas yang sama, maka
konstanta peredaman semakin besar karena semakin besar, hal itu sesuai dengan rumus
berikut:
c=2 Wn m
c=2 k /m m
Dimana:
c = konstanta peredaman(kg/s)
m = massa (kg)
k = konstanta peredaman (kN/m)
= damping ratio
Kecenderungan grafik kami sudah sesuai dengan teoritisnya. Yakni urutan
pengujian yang menghasilakan konstanta peredaman dari yang terbesar ke terkecil yaitu
pengujian dengan konstanta pegas 3,3 kN/m, pengujian dengan konstanta pegas 1,22
kN/m, pengujian dengan konstanta pegas 0,47 kN/m.
4.5.4 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dalam pengujian ini dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain :
a. Semakin besar massa pada maka frekuensinya semakin kecil (berbanding terbalik).
Hal itu dikarenakan bila massa semakin besar maka panjang gelombang yang akan
dibentuk semakin besar sehingga frekuensiya semakin turun.
b. Semakin tinggi nilai konstanta pegas, maka akan semakin besar juga nilai
frekuensinya. Hal ini dikarenakan dengan konstanta pegas yang semakin besar
maka pegas akan semakin kaku. Dengan kekakuan yang besar ini maka frekuensi
yang ditimbulkan akan semakin besar pula yang berarti makin banyak getaran yang
ditimbulkan tiap detiknya.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

120

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


c. Semakin besar massa maka konstanta peredaman semakin besar. Hal itu sesuai
dengan rumus c=2 k m log e

x1
x2

d. Semakin besar viskositas fluida peredaman (oli) maka konstanta peredaman


semakin besar kecil. Karena dengan viskositas yang semakin besar maka amplitudo
getaran yang dihasilkan semakin kecil sehingga konstanta peredamannya juga
semakin kecil.
e. Semakin besar konstanta pegas dengan besar viskositas yang sama, maka konstanta
peredaman semakin besar karena semakin besar nilai konstanta pegas, maka spring
akan semakin kaku sehingga besar amplitudo yang dihasilkan juga semakin besar
dan akhirnya juga akan membuat nilai konstanta peredaman juga besar. Hal itu
sesua dengan rumus di atas.
f. Semakin besar putaran katup maka konstanta peredaman semakin besar. Hal itu
dikarenakan bila putaran katup semakin besar maka akan semakin mendekat kedua
lempeng peredaman yang akan membuat fluida peredaman (oli) untuk melewati
lubang bagian bawah sehingga amplitudo yang dihasilkan akan semakin besar.

Saran
a. Praktikan diharapkan lebih akurat dalam mengukur panjang gelombang. Agar
perhitungan tidak terjadi eror.
b. Asisten seharusnya memberi tahu apabila terjadi penyimpangan pada saat
pengujian dan menjelaskanya.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

121

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


BAB V
DEFLECTION OF CURVED BARS APPARATUS
5.1 Dasar Teori
5.1.1 Definisi Defleksi
Defleksi adalah perubahan bentuk pada balok atau batang yang ditinjau dari
satu dimensi akibat adanya pembebanan yang diberikan pada balok atau batang,
yang biasanya dialami oleh benda yang mempunyai panjang. Sumbu sebuah batang akan
terdeteksi dari kedudukannya semula bila benda dibawah pengaruh gaya terpakai.
Dengan kata lain suatu batang akan mengalami pembebanan transversal baik itu beban
terpusat maupun terbagi merata akan mengalami defleksi. Defleksi ada 2 yaitu:
1. Defleksi Vertikal (y)
Perubahan posisi batang atau balok arah vertikal karena adanya pembebanan
yang diberikan pada batang atau balok.
2. Defleksi Horisontal (x)
Perubahan posisi suatu batang atau balok arah horisontal karena adanya
pembebanan yangdiberikan pada batang atau balok.

Gambar 5.1 Defleksi


Sumber: Sudjito. (2000: 13)
Hal-hal yang mempengaruhi terjadinya defleksi yaitu :
1. Kekakuan batang

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

122

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Kekakuan adalah kemampuan suatu benda untuk mempertahankan bentuknya
supaya tidak berdeformasi atau mengalami defleksi saat di beri gaya. Semakin kaku
suatu batang maka lendutan batang yang akan terjadi pada batang akan semakin kecil.
2. Besarnya kecil gaya yang diberikan
Besar-kecilnya gaya yang diberikan pada batang berbanding lurus dengan
besarnya defleksiyang terjadi. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami
batang maka defleksi yang terjadi pun semakin kecil.
3. Jenis tumpuan yang diberikan
Jumlah reaksi dan arah pada tiap jenis tumpuan berbeda-beda. Jika karena itu
besarnya defleksipada penggunaan tumpuan yang berbeda-beda tidaklah sama.
Semakin banyak reaksi dari tumpuan yang melawan gaya dari beban maka defleksi
yang terjadi pada tumpuan rol lebih besar dari tumpuan pin (pasak) dan defleksiyang
terjadi pada tumpuan pin lebih besar dari tumpuan jepit.
4. Jenis beban yang terjadi pada batang
Beban terdistribusi merata dengan beban titik, keduanya memiliki kurva
defleksi yang berbeda-beda. Pada beban terdistribusi merata slope yang terjadi pada
bagian batang yang paling dekat lebih besar dari slope titik. Ini karena sepanjang
batang mengalami beban sedangkan pada beban titik hanya terjadi pada beban titik
tertentu saja.
Macam-macam tumpuan, antara lain :
a. Engsel
Engsel merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikaldan gaya
reaksi horizontal. Tumpuan yang berpasak ini mampu melawan gayayang bekerja
dalam setiap arah dari bidang.

Gambar 5.2 Tumpuan engsel


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)
b. Rol

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

123

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Rol merupakan tumpuan yang hanya dapat menerima gaya reaksi vertikal.
Jenis tumpuan ini mampu melawan gaya-gaya dalam suatu garis aksi yang spesifik.

Gambar 5.3 Tumpuan rol


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)
c.

Jepit
Jepit merupakan tumpuan yang dapat menerima gaya reaksi vertikal, gaya
reaksi horizontaldan momen akibat jepitan dua penampang. Tumpuan jepit ini mampu
melawan gaya dalam setiap arah dan juga mampu melawan suatu kopel atau momen.

Gambar 5.4 Tumpuan jepit


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)
Jenis-jenis pembebanan, Antara lain :
1.

Beban terpusat
Titik kerja pada batang dapat dianggap berupa titik karena luas kontaknya
kecil.

Gambar 5.5 Pembebanan terpusat


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

124

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


2.

Beban merata
Disebut beban merata karena terdistribusi merata di sepanjang batang dan
dinyatakan dalam qm (kg/m atau kN/m).

Gambar 5.6 Pembebanan terbagi merata


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)
3.

Beban bervariasi uniform


Disebut beban bervariasi uniform karena beban sepanjang batang besarnya
tidak merata.

Gambar 5.7 Pembebanan bervariasi uniform


Sumber: Beer et. Al. (2012: 566)
5.1.2 Perbedaan Defleksi dan Deformasi
Seperti disebutkan diatas defleksi terjadi karena adanya pembebanan vertikal dan
horizontal pada balok atau batang. Sedangkan deformasi tidak hanya terjadi karena
pembebanan saja, tetapi karena adanya berbagai macam perlakuan yang dialami balok
atau batang. Selain itu defleksi yang terjadi pada balok hanya merubah bentuk (lendutan)
pada balok tersebut, sedangkan deformasi dapat merubah bentuk dan ukuran serta volum
balok tersebut.
Selain itu perbedaan antara defleksi dan deformasi juga dapat dilihat berdasarkan
dimensi dari batang atau balok, jika defleksi maka batangnya hanya memiliki satu
dimensi (p / l ) sedangkan jika deformasi memiliki lebih dari satu dimensi (p, l, t).

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

125

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 5.8 Defleksi pada Beam


Sumber: Anonymous 1, (2010)

Gambar 5.9 Deformasi pada Sebuah Balok


Sumber: Anonymous 2, (2011)
5.1.3 Macam-macam Deformasi
Deformasi adalah perubahan bentuk atau ukuran objek diterapkan karena adanya
gaya. Gaya ini dapat berasal dari kekuatan tarik, kekuatan tekan, geser dan torsi.
Deformasi dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Deformasi Elastis
Deformasi elastis adalah perubahan yang terjadi bila ada gaya yang bekerja,
serta akan hilang bila beban ditiadakan. Dengan kata lain bila beban ditiadakan, maka
benda akan kembali ke bentuk dan ukuran semula.
2. Deformasi Plastis
Deformasi

plastis

adalah

deformasi

yang

terjadi

akibat

adanya

pembebanan yang jika beban tersebut ditiadakan maka ukuran dan bentuk
material tidak dapat kembali ke keadaan semula.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

126

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Gambar 5.10 Diagram Uji Tarik


Sumber: Anonymous 3, (2009)
Dari gambar di atas dapat kita lihat batas elastisitas ( E)dinyatakan dengan titik
A. Bila bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian bebannya dihilangkan
maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula yaitu regangan nol pada titik
O. Batas proporsional (p) adalah titik sampai dimana penerapan hukum hooke
masih

bisa

ditolerir. Tidak

ada standarisasi tentang nilai ini. Dalam praktek,

biasanya batas proporsional samadengan batas elastis. Deformasi plastis yaitu


perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula. Pada gambar yaitu
bila bahan ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerah
landing.Tegangan maksimum (uy) sebelum bahan memasuki fase daerah landing
peralihan deformasi elastis ke plastis.Tegangan Luluh Bawah (ly) adalahtegangan
rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi plastis. Bila
hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress) maka yang dimaksud adalah tegangan
ini.Regangan Luluh (y) adalah regangan permanen saat bahan akan memasuki fase
deformasi plastis.Regangan Elastis (e) Regangan yang diakibatkan perubahan elastic
bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini akan kembali ke posisi
semula.Regangan Plastis (p)regangan yang diakatkan perubahan plastis. Pada saat
beban dilepaskan regangan ini tetap tinggal sebagai peerubahan permanen
bahan.Regangan Total merupakan gabungan antara regangan plastis dan elastis, T =
e+p.

Perhatikan beban dengan arah OABE. Pada titik B regangan yang ada

adalahregangan total. Ketika beban dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan
besar regangan yang tinggal (OE) adalah regangan plastis. Tegangan tarik maksimum
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

127

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


pada gambar ditunjukan dengan titik C merupakan besar tegangan maksimum
yang didapatkan dalam uji tarik. Kekuatan Patah pada gambar ditunjukan dengan titik
D, merupakan besar tegangan dimana beban yang diuji putus atau patah.
5.1.4 Teori Castigliano
Metode Castigliano adalah metode untuk menentukan perpindahan dari
sebuahsystem linear-elastis berdasarkan pada turunan parsial dari prinsip persamaan
energi. Konsep dasar teori

yaitu bahwa perubahan energi adalah gaya dikalikan

perpindahan yang dihasilkan, sehingga gaya dirumuskan dengan perubahan energi


dibagi dengan perpindahan yang dihasilkan. Ada dua teorema dalam teori Castigliano,
yaitu:
1. Teori Pertama Castigliano
Teori ini digunakan untuk menghitung gaya yang bereaksi dalam struktur
elastis, yang menyatakan:Jika energi regangan dari suatu struktur elastis dinyatakan
sebagai fungsi persamaan perpindahan qi , maka turunan parsial dari energi regangan
terhadap perpindahan memberikan persamaan gaya Qi.
Dirumuskan dengan,

Qi=

U
qi

Dimana, U = energi regangan


2. Teori Kedua Castigliano
Teori ini digunakan untuk menghitung perpindahan, yang menyatakan:Jika
energi regangandari suatu struktur elastis dinyatakan sebagai fungsi persamaan gaya
Qi

maka

turunanparsial

dari

energi

regangan

terhadap persamaan gaya

memberikan persamaan perpindahan qi , searah Qi.


Dirumuskan dengan,
qi=

U
Qi
Sebagai contoh, untuk beam kantilever lurus dan tipis dengan beban P di

ujung, dan perpindahan

pada ujungnya dapat ditemukan dengan teori kedua

Castigliano:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

128

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


=

U
P
L

ML2

PL 2
=
dL=
dL

P 0 2 EI
P 0 2 EI
Dimana, E adalah Modulus Young dan I adalah momen inersia penampang dan
M(L) = PL adalah pernyataan untuk momen pada titik berjarak L dari ujung, maka:
L

PL
PL
=
dL=
3 EI
0 2 EI
5.1.5 Momen
Momen adalah kecenderungan sebuah gaya untuk memutar sebuah benda
disekitar sumbu tertentu dari benda tersebut. Bila didefinisikan dari persamaannya
adalah hasil perkalian dari besar gaya (F) dengan jarak tegak lururs (d).
M = F.d
Keterangan:
M = Momen (Nm)
F = Gaya (N)
d = jarak tegak lurus (m)
Arah momen gaya tergantung dari perjanjian, misalnya searah jarum jam
(CW/ClockWise) atau berlawanan arah jarum jam (CCW/Counter ClockWise) begitu
pula dengan perjanjian tanda positif dan negative dari CW dan CCW. Macam-macam
momen:
1. Momen Gaya (Torsi)
Perubahan gaya translasi pada sebuah benda dapat terjadi jika resultan gaya
yang mempengaruhibenda tidak sama dengan nol. Jika resultan gaya adalah nol maka
benda mungkin akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan. Untuk mengubah
keceepatan dibutuhkan gaya. Hal ini sesuai dengan Hukum II Newton. Peristiwa yang
sama juga berlaku pada gerak rotasi jika benda tersebut diberi momen gaya.
Dengan adanya momen gaya maka benda akan mengalami perubahan kecepatan
sudut. Momen gaya merupakan besaran vektor dan secara matematis dituliskan:

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

129

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

= F. r
Keterangan :
= Momen Gaya (Nm)
F = Gaya (N)
r = jarak tegak lurus (m)
2. Momen Kopel
Momen kopel dinotasikan dg M, satuannya Nm. Kopel adalah pasangan dua
buah gaya yang sama besar berlawanan arah dan sejajar. Besarnya kopel dinyatakan
denganmomen kopel (M). Momen kopel merupakan besaran vektor dengan satuan
Nm. Pengaruh kopel terhadap benda yaitu dapat menyebabkan banda berotasi.
Formula: M = F x d
Keterangan:
M = momen kopel (Nm)
F = gaya (N)
d = jarak antara kedua gaya (m)

Gambar 5.11 Momen Kopel


Sumber: Anonymous 4, (2010)
3. Momen Inersia
Momen inersia merupakan ukuran kelebaman suatu benda untuk berotasi
terhadap porosnya. Besaran ini adalah analog rotasi daripada massa. Momen
inersia berperan dalam rotasi seperti massa dalam dinamika dasar, menentukan
hubungan antara momentum sudut dan kecepatan sudut, sertamomen gaya dan
percepatan sudut.
I = k. m. r2

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

130

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Keterangan:
I = Momen Inersia (Kgm2)
k = konstanta inersia
m = massa (kg)
r = jari-jari objek dari pusat massa (m)
Tabel 5.1 Momen Inersia Benda

Sumber : Modul Praktikum Fenomena Dasar Mesin 2014

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

131

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

132

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


4. Momen Bending
Momen bending adalah jumlah dari semua komponen momen gaya luar yang
bekerja pada segmen yang terisolasi, yaitu beban luar yang bekerja tegak lurus
sepanjang sumbu axis. Sebagai contoh momen bending adalah terjadi pada konstruksi
jembatan.
M
=
I
y
Keterangan:
M = Momen Bending (Nm)
I = Momen Inersia (kgm2)
y = jarak dari sumbu netral ke permukaan benda (m)
= tegangan bending (Pa)
5.2 Tujuan Pengujian
1. Untuk mengetahui defleksi vertikal dari bermacam macam batang lengkung ketika
mendapatkan sebuah pembebanan.
2. Untuk mengetehui defleksi horizontal dari bermacam macam batang lengkung ketika
mendapatkan sebuah pembebanan.
3. Untuk mengetahui pengaruh penambahan beban terhadap defleksi yang terjadi
5.3 Spesifikasi Alat
Spesimen:
Bahan : Baja 25,4 x 3,2 mm; E = 2 x 107 gr/mm

Gambar 5.12 Spesimen Uji


Sumber: Modul Praktikum FDM Teknik Mesin FTUB 2015
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

133

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Spesimen 1 : a = 75 mm;

R = 75mm;

b = 75 mm

Spesimen 2 : a = 0 mm;

R = 150 mm;

b = 0mm

Spesimen 3 : a = 0 mm;

R = 75mm;

b = 75 mm

Spesimen 4 : a = 150mm;

R = 0 mm;

b = 150mm

Beban tergantung = 0,16 kg


5.4 Cara Pengambilan Data

Gambar 5.13 Sketsa Curved Bars Apparatus


Sumber: Modul Praktikum FDM Teknik Mesin FTUB 2015
1. Spesimen (2) dipasang pada klem (1).
2. Blok (3) dikendorkan dan ditempatkan ulang jika perlu untuk menempatkan specimen.
Kunci pada posisi yang tersedia.
3. Beban (4) dipasang pada specimen. Dial indicator (5) dan (6) ditempatkan
berhubungan dengan beban (4)
4. Indikator di set terlebih dahulu sehingga menunjukkan angka nol. Pembebanan
dilakukan dengan memberikan beban pada beban tergantung (4).
5. Kemudian perubahan yang terjadi dicatat. Beban ditambahkan sambil mencatat
perubahan yang terjadi.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

134

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


5.5. Hasil Pengujian
5.5.1 Data Hasil Pengujian
Tabel 5.2 Data Hasil Pengujian Defleksi Horizontal Spesimen 2
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pembebanan
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

1
0,04
0,12
0,17
0,29
0,35
0,43
0,54
0,60
0,67
0,74

Spesimen : 2
X
2
0,02
0,10
0,20
0,29
0,39
0,46
0,54
0,61
0,70
0,76

X
0,015
0,11
0,185
0,29
0,37
0,445
0,54
0,605
0,685
0,75

Sumber: Data Pribadi


Tabel 5.3 Data Hasil Pengujian Defleksi Vertikal Spesimen 2
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pembebanan
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

1
0,02
0,12
0,20
0,33
0,44
0,58
0,68
0,80
0,90
0,99

Spesimen : 2
y
2
0,1
0,09
0,24
0,34
0,46
0,56
0,68
0,79
0,91
1,02

Y
0,06
0,105
0,22
0,335
0,45
0,57
0,68
0,795
0,905
1,005

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

135

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Tabel 5.4 Data Hasil Pengujian Defleksi Horizontal Spesimen 3
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pembebanan
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

1
0,04
0,06
0,1
0,12
0,18
0,23
0,28
0,33
0,37
0,38

Spesimen : 3
x
2
0,05
0,10
0,12
0,16
0.21
0,25
0,29
0,31
0,35
0,38

X
0,045
0,08
0,11
0,14
0,195
0,24
0,285
0,32
0,36
0,38

Sumber: Data Pribadi


Tabel 5.5 Data Hasil Pengujian Defleksi Vertikal Spesimen 3
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pembebanan
50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

1
0,04
0,07
0,10
0,13
0,17
0,22
0,26
0,30
0,34
0,36

Spesimen : 3
y
2
0,04
0,08
0,11
0,15
0,19
0,23
0,26
0,29
0,32
0,35

Y
0,04
0,075
0,105
0,14
0,18
0,225
0,26
0,295
0,33
0,355

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

136

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

Tabel 5.6 Data Hasil Pengujian Defleksi Horizontal berbagai Spesimen


Y
No.

spesimen
1

spesimen
2

spesimen
3

spesimen
4

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

0.600
1.230
1.850
2.470
3.090
3.710
4.330
4.950
5.570
6.180

0.608
1.216
1.824
2.433
3.041
3.649
4.257
4.865
5.474
6.082

0.304
0.608
0.912
1.216
1.520
1.824
2.128
2.432
2.737
3.041

0.600
1.210
1.820
2.430
3.040
3.640
4.250
4.860
5.470
6.080

Sumber: Data Pribadi


Tabel 5.7 Data Hasil Pengujian Defleksi Vertikal berbagai Spesimen
Y
No.

spesimen
1

spesimen
2

spesimen
3

spesimen
4

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

1.270
2.540
3.810
5.080
6.350
7.620
8.890
10.160
11.440
12.710

0.608
1.216
1.824
2.432
3.041
3.649
4.257
4.865
5.474
6.082

0.304
0.608
0.912
1.216
1.520
1.824
2.128
2.432
2.737
3.041

1.620
3.240
4.860
6.480
8.110
9.730
11.350
12.970
14.590
16.220

Sumber: Data Pribadi


5.5.2 Contoh Perhitungan
A. Spesimen 1
( a = 75 mm, R= 75 mm, b= 75 mm, misal untuk W=50 kg )

Defleksi Horizontal
P=

[( ) ] [

W R2

R W
a b2 b 2 R
a 1 + +
abR+b R2 +
+
EI
2
2 EI
2
2

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

]
137

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

50.10.752
EI

50.10
75.752 752.75
3,14 75
2
75

75
.
75
.
75

75
.
75

7
2
2
2 2.10 69,3589
2
=0,6

00 mm

Defleksi Vertikal
2

W a WR a R
W 2
2
W=
+
+
+2 aR + [ a b +2 ab+b R ]
3 EI EI 2
4
EI

50.10.75 2 67500 17662,5 2 17662,5 2

56,25

3EI
EI
2
2

50
5625 25 50,5625 0,218
EI
= 1,270 mm
B. Spesimen 2
( a = 0 mm, R= 150 mm, b= 0 mm, misal untuk W=50 kg )

Defleksi Horizontal
3

WR
2 EI
(50.10 ) (150)3

2 ( 2 107 ) (69.36)

P=

0.608 mm

Defleksi Vertikal

W R3
W=
4 EI

( 3.14 )( 50.10 )( 150)3


4 ( 210 7 ) (69.36)

0.608 mm
C. Spesimen 3
( a = 0 mm, R= 75 mm, b= 75 mm, misal untuk W=50 kg )

Defleksi Horizontal
P=

W R3 WbR
b
+
R+
2 EI
EI
2

( )

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

138

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

50.10.75 2
50.75.75 2
75

(75 )
7
7
2
2 2.10 69,3589 2.10 69,3589

= 0.3041 mm

Defleksi Vertikal

W=

W R3 Wb R 2
+
4 EI
EI

3,14.50.10.75 2
50.10.75.75 2

4. 2.10 7 69,3589 2.10 7 69,3589

= 0,304 mm
D. Spesimen 4

( a = 150 mm, R= 0 mm, b= 150 mm, misal untuk W=50 kg )

Defleksi Horizontal
2

P=

Wa b
2 EI

50.10.150.150 2
7
= 2 2.10 69,3589

0,0600 mm

Defleksi Vertikal
2

W=

Wa a
+b
EI 3

( )

150.150 2
50

2
2.10 7 69,3589

= 1,620 mm

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

139

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

1. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 1


(a = 75, R = 75 mm, b = 75 mm)
Tabel 5.8 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 1
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
2750

0.0055

0.06189
0.12378
0.18567
0.24756
0.30945
0.37134
0.43323
0.49511
0.55700
0.61889
3.40391

0.00725
0.0115
0.0155
0.019
0.023
0.0265
0.028
0.0325
0.0345

0.203

Sumber: Data Pribadi


2. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 1
(a = 75, R = 75 mm, b = 75 mm)

Tabel 5.9 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 1
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
2750

0.2

0.12712
0.25423
0.38135
0.50846
0.63558
0.76269
0.88981
1.01692
1.14404
1.27116
6.99136

0.22
0.38
0.64
0.77
0.91
1.1
1.28
1.35
1.55

8.400

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

140

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


3. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 2
(a = 0 mm, R = 150, b = 0 mm)
Tabel 5.10 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 2
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

0.150
1.100
1.850
2.900
3.700
4.450
5.400
6.050
6.850
7.500

2750

39.950

0.60825
1.21650
1.82475
2.43300
3.04125
3.64950
4.25774
4.86599
5.47424
6.08249
33.4537
1

Sumber: Data Pribadi


4. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 2
(a = 0 mm, R = 150, b = 0 mm)
Tabel 5.11 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 2
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

0.150
1.050
2.200
3.350
4.500
5.700
6.800
7.950
9.050
10.050

2750

50.800

0.60824
1.21648
1.82472
2.43296
3.04120
3.64944
4.25768
4.86592
5.47416
6.08240
33.4531
8

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

141

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

5. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 3


(a = 0, R= 75 mm, b = 75 mm)
Tabel 5.12 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 3
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

0.450
0.800
1.100
1.400
1.950
2.400
2.850
3.200
3.600
3.800

2750

21.550

0.30412
0.60824
0.91236
1.21648
1.52060
1.82472
2.12884
2.43296
2.73708
3.04120
16.7265
9

Sumber: Data Pribadi


6. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 3
(a = 0, R = 75 mm, b = 75 mm)
Tabel 5.13 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (w) Spesimen 3
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500

0.400
0.750
1.050
1.400
1.800
2.250
2.600
2.950
3.300
3.550

2750

20.050

0.30412
0.60824
0.91236
1.21648
1.52060
1.82472
2.12884
2.43296
2.73708
3.04120
16.7265
9

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

142

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS

7. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 4


(a = 150 mm, R = 0, b = 150 mm)
Tabel 5.14 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Horizontal (p) Spesimen 4
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
2750

0.00275
0.006
0.0105
0.0145
0.0185
0.0205
0.023
0.026
0.029
0.032

0.183

Y'
0.06082
0.12165
0.18247
0.2433
0.30412
0.36495
0.42577
0.4866
0.54742
0.6082
3.3453

Sumber: Data Pribadi


8. Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (p) Spesimen 4
(a = 150 mm, R = 0, b = 150 mm)
Tabel 5.15 Hubungan antara Beban dengan Defleksi Vertikal (p) Spesimen 4
No.

Y'

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

50
100
150
200
250
300
350
400
450
500
2750

0.2

0.1622
0.3244
0.4866
0.6488
0.811
0.9732
1.135
1.297
1.459
1.622
8.92100

0.22
0.38
0.64
0.77
0.91
1.1
1.28
1.35
1.55

8.400

Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

143

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


5.5.3. Grafik dan Pembahasan
5.5.3.1 Grafik Hubungan Antara Beban dan Defleksi Horizontal dan Vertikal Pada Spesimen 2

Gambar 5.14 Grafik hubungan antara beban dan defleksi horizontal dan vertikal pada spesimen 2
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

144

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik di atas adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara beban dengan
defleksi yang terjadi pada spesimen 2 (a=0mm ; R=150mm; b=0mm) dan variasi yang
digunakan adalah defleksi horizontal (aktual), defleksi horizontal (teoritis), defleksi
vertical (aktual), dan defeksi vertical (teoritis).
Grafik di atas terjadi karena berbanding lurusnya beban dengan defleksi yang
terjadi dan berbanding terbaliknya beban dengan modulus elastisitas (E), dan momen inersia
(I) pada spesimen tersebut.. Dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang

maka defleksi yang terjadi pun semakin besar.


Rumus yang menjelaskan beban akan sebanding dengan regangan. yaitu apabila
beban ditambah maka defleksi yang terjadi akan bertambah, sehingga saat terjadi
penambahan beban, defleksi juga akan bertambah.Hasil di atas sesuai juga dengan teori
,dengan rumus:

Defleksi Horizontal
P=

W R3
2 EI

Defleksi Vertikal

W=

W R
4 EI

Semakin besar beban (W) maka semakin besar defleksi (W dan P) yang terjadi
tetapi karena adanya jari-jari kelengkungan (R=150mm) maka defleksi yang terjadi akan
lebih besar

dan lebih sebanding antara defleksi horizontal dan defleksi vertikal.

Berpengaruh pula modulus elastisitas (E) dan momen inersia (I) pada teori tersebut, yang
semakin besar keduanya maka akan menyebabkan semakin kecil defleksi yang terjadi
karena keduanya berbanding terbalik dengan beban yang terjadi.
Dari grafik diatas

menunjukan bahwa nilai defleksi vertikal aktual dan

horizontal aktual lebih besar daripada defleksi vertikal dan horizontal teoritis. Hal ini
dikarenakan pada defleksi

vertikal dan horizontal teoritis modulus young sama atau

homogen ,namun pada saat aktualnya modulus young yang tidak merata.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

145

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


5.5.3.2. Grafik Hubungan Antara Beban dan Defleksi Horizontal dan Vertikal pada Spesimen 3

Gambar 5.15 Grafik hubungan antara beban dan defleksi horizontal dan vertikal pada spesimen 3

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

146

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik di atas adalah grafik yang menunjukkan hubungan antara beban dengan
defleksi yang terjadi pada specimen 3, dan variasi yang digunakan adalah defleksi
horizontal (aktual), defleksi horizontal (teoritis), defleksi vertical (aktual), dan defeksi
vertikal (teoritis). Dari grafik di atas dapat diketahui semakin besar beban yang
digunakan maka semakin tinggi defleksi yang terjadi pada setiap variasinya.
Grafik di atas terjadi karena berbanding lurusnya beban dengan defleksi yang terjadi
dan berbanding terbaliknya beban dengan modulus elastisitas (E), dan momen inersia (I) pada
spesimen tersebut, dengan kata lain semakin besar beban yang dialami batang maka

defleksi yang terjadi pun semakin besar.


Sesuai dengan rumus yang menjelaskan beban akan sebanding dengan regangan.
Yaitu apabila beban ditambah maka defleksi yang terjadi akan bertambah, sehingga saat
terjadi penambahan beban, defleksi juga akan bertambah.Hasil di atas sesuai juga dengan
teori ,dengan rumus:
Wa b2
W a2 a
P=
W =
+b
2 EI
EI 3

( )

Semakin besar beban (W) maka semakin besar defleksi (W dan P) yang terjadi.
Berpengaruh pula modulus elastisitas (E) dan momen inersia (I) pada teori tersebut, yang
semakin besar keduanya maka akan menyebabkan semakin kecil defleksi yang kerja
dikarenakan keduanya berbanding terbalik dengan beban yang terjadi.
Grafik di atas menunjukan bahwa defleksi arah vertikal lebih besar dari
pada defleksi arah horizontal, hal ini karena pada spesimen 3 mempunyai jari jari 0 (a=0
mm ; R= 75mm ; b=75mm. Sehingga defleksi arah vertikal akan lebih kecil daripada arah
horizontal.
Dari grafik diatas menunjukan bahwa nilai defleksi vertikal aktual dan horizontal
aktual lebih besar daripada defleksi vertikal dan horizontal teoritis. Hal ini dikarenakan
pada defleksi vertikal dan horizontal teoritis modulus young sama atau homogen ,namun
pada saat aktualnya modulus young yang tidak merata

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

147

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


5.5.3.3. Grafik Hubungan Defleksi Horizontal Teoritis Terhadap variasi Pembebanan pada Berbagai Spesimen

Gambar 5.16 Grafik Hubungan Defleksi Horizontal Teoritis Terhadap variasi Pembebanan pada Berbagai Spesimen

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

148

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


Grafik di atas adalah grafik yang menjelaskan hubungan antara beban dan defleksi
horizontal teoritis pada spesimen 1, spesimen 2, spesimen 3, dan spesimen 4. Di mana
sumbu x adalah penambahan beban setiap 50 gram dan sumbu y adalah defleksi
horizontal teoritis yang terjadi. Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin besar beban
yang diberikan maka defleksi yang terjadisemakin besar.
Dari grafik terlihat bahwa urutan defleksi dari yang tertinggi sampai dengan yang
terendah adalah spesimen 1, kemudian spesimen 2, spesimen 4, dan yang paling rendah
spesimen 3. Pada spesimen 1, nilai defleksinya paling besar secara teoritis karena
memiliki nilai a=75, b=75, dan R=75, sehingga memiliki daerah lengan penampang
horizontal yang paling panjang. Akibatnya pada spesimen 1 beban yang diberikan lebih
terdistribusi kedaerah lengan jari-jarinya. Defleksi yang terjadi pada spesimen 2 dan
spesimen 4 lebih rendah dari spesimen 1, karena disebabkan pada spesimen 2 dan
spesimen 4 daerah lengan horizontal yang menerima beban lebih pendek dibanding
spesimen 1 dan pada spesimen 4 defleksi yang terjadi akan cenderung vertikal. Kemudian
defleksi horizontal yang paling rendah adalah spesimen 3 karena memiliki panjang
lengan sama dengan nol, sehingga jarak antara lengan pembebanan menjadi lebih kecil
sehingga defleksinya pun mengecil.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

149

FLUID CIRCUIT FRICTION EXPERIMENTAL APPARATUS


5.5.3.4. Grafik Hubungan Defleksi Vertikal Teoritis Terhadap varasi pembebanan pada Berbagai Spesimen

18.000
16.000
14.000

s pes imen 1

12.000

Polynomial (s pes imen 1)

s pes imen 2

Polynomial (s pes imen 2)

Polynomial (s pes imen 3)

s pes imen 4

Polynomial (s pes imen 4)

10.000

Defleksi (mm)

8.000
6.000

s pes imen 3

4.000
2.000
0.000
0

100

200

300

400

Beban (gram)
Gambar 5.17 Grafik Hubungan Defleksi Vertikal Teoritis Terhadap varasi pembebanan pada Berbagai Spesimen

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

150

500

600

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


Grafik di atas adalah grafik hubungan antara pembebanan dengan defleksi
toritis vertical pada spesimen 1, spesimen 2, spesimen 3, spesimen 4.Di mana sumbu x
adalah penambahan beban setiap 50 gram dan sumbu y adalah defleksi vertikal teoritis
yang terjadi.Grafik di atas menunjukkan bahwa semakin besar beban yang diberikan
maka defleksi yang terjadi semakin besar.
Pada grafik tersebut, defleksi vertical spesimen 4 lebih besar dari pada specimen
1, spesimen 2, spesimen 3. Hal ini disebabkan karena pada spesimen 4 memiliki
kelengkungan jari-jari (R) sama dengan nol dan lengan a dan b sama dengan 150 mm,
sehingga beban hanya terdistribusi pada lengan a tanpa adanya penahanan pada daerah
kelengkungan (R) seperti pada specimen lainya. Akibatnya defleksi yang ditimbulkan
cenderung searah dengan pembebanan yang diberikan, yaituvertikal. Kemudian diikuti
olehspesimen 1, spesimen 2 dan spesimen 3 yang memiliki nilai defleksi vertikal yang
semakin rendah. Padas pesimen 1 dan specimen 2 memiliki kelengkungan (R) sehingga
beban yang diterima juga didistribusikan pada daerah ini yang menyebabkan defleksi
vertikalnya masih lebih rendah dari spesimen 4. Sedangkan pada spesiman 3 tidak
memiliki lengan a dan memiliki kelengkungan (R) sehingga defleksi vertikal yang
terjadi lebih rendah, karena jarak pembebanan pada lengan lebih pendek.

5.5.4 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Semakin besar pembebanan yang diberikan pada spesimen, maka defleksi
horizontal maupun vertikalnya juga akan semakin besar karena defleksi berbanding
lurus dengan beban yang diberikan (W).
Defleksi horizontal yang terjadi pada spesimen 1 adalah yang paling besar
karena memiliki jarak antara lengan pembebanan yang paling panjang. defleksi
horizontal pada spesimen 2 adalah yang paling kecil karena memiliki panjang lengan
sama dengan nol, sehingga jarak antara lengan pembebanan menjadi lebih kecil
sehingga defleksinya pun mengecil.
Defleksi vertikal yang terjadi pada spesimen 4 adalah yang paling besar
karena beban hanya terdistribusi pada lengan a tanpa adanya penahanan pada daerah
kelengkungan (R) seperti pada spesimen lainnya. Akibatnya defleksi yang

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

151

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


ditimbulkan cenderung searah dengan pembebanan yang diberikan, yaitu vertikal.
Kemudian diikuti spesimen 1, 3, dan 2 yang mengalami defleksi yang paling kecil.
Pada grafik defleksi teoritis lebih besar dari pada aktual. Hal ini disebabkan
karena dalam perhitungan teoritis digunakan asumsi :
a. Besarnya modulus elastisitas (E) dan momen inersia (I) konstan sepanjang batang
yang ditinjau
b. Struktur bahan sepanjang batang dianggap homogen sehingga deformasi yang
terjadi akibat beban selalu kontinyu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya defleksi:
1.

Kekakuan batang. Semakin kaku batang maka defleksi akan semakin kecil.

2. Besar kecilnya gaya yang diberikan.


3. Bentuk spesimen yang diuji.

Saran
1. Lakukan pengujian sesuai dengan prosedur yang disarankan
2. Dalam pengambilan dan pengolahan data praktikum harus dilakukan dengan
cermat agar data yang dihasilkan lebih akurat
3. Saat praktikum sebaiknya pergunakan spesimen yang masih baru dan belum
pernah

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

152

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

BAB VI
UNIVERSAL STRUT APPARATUS
6.1 UNIVERSAL STRUT APPARATUS
6.1.1 Teori Kolom
Suatu kolom dapat didefinisikan sebagai batang prismatik lurus dan panjang,
dan menerima beban kompresi aksial. Pada waktu pembebanan, selama batang masih
dalam keadaan lurus, maka dalam analisa kekuatan bahan dapat menggunakan analisa
tegangan yang terjadi akibat beban kompresi yang bekerja. Tetapi apabila beban aksial
yang bekerja menyebabkan lenturan kearah lateral, maka lenturan ini dapat
menyebabkan kerusakan serius pada bahan sebelum tegangan yang terjadi melampaui
batas kekuatan bahannya. Keadaan ini disebut lenturan tekuk (buckling), dimana arah
lenturannya melintang terhadap arah beban yang bekerja
6.1.2 Lenturan Tekuk
Lenturan tekuk (buckling) adalah keadaan dimana batang mengalami lenturan
yang arahnya melintang terhadap arah beban yang bekerja. Sesudah mulai terjadi
lenturan tekuk, biasanya besarnya lenturan bertambah dengan cepat sekali walaupun
penambahan bebannya kecil. Hal ini dapat ditujukkan apabila kita menekan sebatang
lidi yang ditancapkan tegak lurus kedalam tanah. Ujung atas lidi kemudian ditekan
dengan gaya tekan ditambah sedikit demi sedikit. Pada suatu gaya tekan tertentu, kita
akan dapat merasakan adanya lenturan melintang. Kemudian apabila gaya ditambah
sedikit saja, maka sapu lidi akan secara tiba-tiba tertekuk dengan kecepatan yang besar
dan lidi akan patah. Fenomena ini adalah fenomena lenturan tekuk, dan dapat terjadi
pada semua bahan yang elastis. Beban gaya dimana mulai terjadi lenturan tekuk disebut
beban tekuk kritis (critical buckling load), yang besarnya tergantung kepada kekakuan
bahan, kekuatan tarik, panjang dan penampang melintang batang, dan kesempurnaan
arah pembebanannya.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

153

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Gambar 6.1 Kolom yang Mengalami Buckling


Sumber: Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015
6.1.3 Stabilitas Struktur
Stabilitas struktur adalah kemampuan struktur untuk menahan beban yang
diberikan tanpa mengalami perubahan drastis pada konfigurasinya. Kerusakan bahan
yang terjadi pada lenturan tekuk tidak disebabkan oleh tegangan yang terjadi melebihi
yang diijinkan, tetapi oleh perubahan keseimbangan sistem dari keadaan stabil menjadi
tidak stabil. Pada waktu batang menerima beban kompresi dari nol dan kemudian
bertambah besar, pada permulaannya sistem masih dalam keadaan stabil. Kemudian
apabila beban terus ditambah sampai mencapai kondisi kritis, keseimbangan system
kemudian menjadi tidak stabil dan menyebabkan batang mulai mengalami lenturan
latera atau lenturan tekuk. Lenturan tekuk juga menyebabkan tegangan setempat
melewati kondisi elastis, sehingga kalau beban dilepaskan batang tidak kembali kepada
keadaan semula. Untuk batang yang panjang seperti pada umumnya kolom, tegangan
yang terjadi akibat beban tekuk kritis dapat berada jauh dibawah tegangan yang
diijinkan.
6.1.4 Formulasi Euler
Analisa lenturan tekuk pada kolom, pertama kali ditemukan oleh seorang
matematikawan Swiss bernama Euler pada tahun 1757. Walaupun teori Euler hanya
berlaku pada kolom lurus yang panjang, tetapi dasar pemikirannya membantu dalam

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

154

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


pemecahan masalah lenturan tekuk secara umum. Tujuan analisa Euler adalah untuk
menentukan besarnya beban kompresi aksial minimum, yang menyebabkan terjadinya
lenturan arah melintang. Dimisalkan kolom dengan kekakuan konstan EI memiliki
panjang L dengan tumpuan engsel pada kedua ujungnya diberikan beban aksial sentris.
Dengan asumsi kolom telah mengalami lenturan tekuk, dapat dituliskan momen bending
pada titik Q sama dengan Py.

Gambar 6.2 Formulasi Euler


Sumber: Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015
Dengan menyelesaikan persamaan diferensial di atas, dengan menggunakan
kondisi batas untuk kolom dengan tumpuan engsel pada kedua ujungnya dapat
dirumuskan beban minimum P dimana lenturan tekuk terjadi. Beban ini, disebut beban
kritis (critical load) disimbolkan Pcr dirumuskan sebagai formulasi Euler :

Keterangan :
Pcr = gaya kritis /elastic buckling load
= 3,14
L = panjang colomb

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

155

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


Bila beban tersebut atau yang lebih besar diberikan pada kolom, maka
kesetimbangan kolom menjadi tidak stabil dan lenturan tekuk akan terjadi. Tegangan
kritis dapat dirumuskan:

Keterangan :
cr = tegangan kritis
L = panjang sistim
Untuk kolom dengan tumpuan yang berbeda-beda, perhitungan beban kritis
menggunakan panjang kolom efektif (effective length) yaitu panjang kolom yang
ekuivalen dengan kolom dengan tumpuan engsel pada kedua ujungnya. Nilai panjang
efektif untuk kondisi kolom yang berbeda-beda ditunjukkan pada gambar 6.3

Keterangan :
Pcr = gaya kritis
Le = panjang tekuk
= 3,14
EI = modulus elastisitas x inersia

Gambar 6.3 Nilai Effective Length untuk Berbagai Kondisi Kolom


Sumber: Modul Laboratorium Fenomena Dasar Mesin 2015

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

156

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


6.1.5 Beam Of Deflection Apparatus
Dalam perencanaan suatu bagian mesin atau struktur selain perhitungan
tegangan (stress) yang terjadi akibat beban yang bekerja, besarnya lenturan seringkali
harus diperhitungkan. Hal ini disebabkan walaupun tegangan yang terjadi masih lebih
kecil daripada tegangan yang diijinkan oleh kekuatan bahan, bisa terjadi besar lenturan
akibat beban yang bekerja melebihi batas yang diijinkan.

Gambar 6.4 Beam deflection apparatus


Sumber : Anonymous 13, 2015
Besarnya lenturan yang terjadi pada suatu bagian mesin terutama tergantung
kepada beberapa faktor sbb.
a. Sifat kekakuan bahan (modulus elastisitas)
b. Posisi batang terhadap beban dan dimensi batang, yang biasanya ditunjukkan dalam
besaran momen inersia batang.
c. Besarnya beban yang diterima
Lenturan pada suatu batang dapat terjadi akibat adanya beban gaya geser atau
momen lentur. Lenturan akibat beban gaser umumnya sangat kecil dibandingkan dengan
lenturan akibat beban momen. Lenturan akibat beban geser biasanya hanya
diperhitungkan untuk batang yang sangat pendek, sehingga proporsi terhadap lenturan
yang terjadi karena beban momen menjadi cukup berarti. Dalam bahasan buku ini hanya
lenturan karena beban momen saja yang diperhitungkan, karena struktur yang dibahas
memakai batang relatif panjang. Besarnya lenturan akibat beban momen dapat dihitung
dengan memakai salah satu dari empat metode berikut:
a. Metode analitis (cara integrasi)
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

157

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


b. Metode luas bidang momen
c. Metode penjumlahan (superposisi)
d. Metode energi strain atau metode Castigliano.
Metode integrasi dilakukan dengan cara mencari persamaan diferensial momen
yang terjadi sepanjang batang. Dari persamaan momen kemudian diselesaikan dengan
cara integrasi dua kali, untuk mendapatkan persamaan lenturan. Dua konstanta yang
timbul akibat proses integrasi dapat dihitung dari kondisi batas (boundary conditions),
yang ada pada struktur yang bersangkutan. Hasilnya adalah sebuah persamaan fungsi
besar lenturan yang terjadi terhadap panjang batang, dari titik koordinat awal yang
ditentukan.
Metode luas bidang momen adalah metode semigrafis, dengan memanfaatkan
sifat-sifat dari persamaan matematis lenturan. Luas bidang momen tidak dicari dengan
menurunkan persamaannya, tetapi dengan cara menghitung luasan yang terjadi secara
geometri. Metode ini lebih sederhana dan lebih cepat dibandingkan dengan metode
integrasi terutama untuk struktur yang menerima banyak beban sepanjang batangnya.

Keterangan :
d = Elemen sudut teta
M = moment
EI = modulus Elastisitas x Inersia
Metode penjumlahan (superposisi) dilakukan dengan memanfaatkan besar lenturan
yang telah dihitung sebelumnya (biasanya ditabelkan), pada struktur yang sederhana.
Suatu struktur yang kompleks dibagi menjadi beberapa bagian berupa struktur yang
lebih sederhana, yang besar lenturannya masing-masing telah diketahui. Besar lenturan
pada struktur keseluruhan adalah jumlah dari semua lenturan yang terjadi pada masingmasing bagian struktur tersebut.
Metode energi strain biasa disebut dengan nama penemunya yaitu seorang
insinyur Italia bernama Alberto Castigliano, pada tahun 1873. Teori Castigliano
menyatakan bahwa lenturan yang terjadi pada suatu titik pada suatu batang adalah
merupakan turunan parsial dari persamaan energi yang tersimpan didalam batang akibat
beban yang bekerja, terhadap gaya yang bekerja pada titik tersebut. Apabila pada titik
LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

158

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


yang dicari lenturannya tidak ada gaya yang bekerja, maka biasanya diberikan gaya nol
(dummy load) pada titik tersebut.
Untuk dapat menurunkan persamaan matematis lenturan yang terjadi pada suatu
batang struktur, diambil beberapa persyaratan dan asumsi sbb.
a. Bahan dari batang masih dalam kondisi elastis selama pembebanan
b. Besarnya lenturan akibat gaya geser kecil sekali dibanding dengan lenturan
yang terjadi akibat beban momen (hanya untuk batang yang relatif panjang).
c. Besarnya modulus elastisitas (E) dan momen inersia (I) konstan sepanjang
batang yang ditinjau. Apabila besaran E atau I tidak konstan, fungsi matematis
kedua besaran tersebut terhadap panjang batang harus diketahui.
d. Struktur bahan sepanjang batang dianggap homogin, sehingga deformasi yang
terjadi akibat beban selalu kontinyu. Dengan demikian bentuk lenturan yang
terjadi berupa suatu curva yang kontinyu dan terdapat bidang netral ditengahtengah batang pada waktu terjadi lenturan.
e. Besarnya lenturan yang terjadi kecil sekali dibanding panjang batang, sehingga
kwadrat dari besaran sudut lenturannya dapat di abaikan.
6.2 Tujuan Pengujian
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan lendutan batang yang
mengalami beban. Pengamatan dilakukan pada 3 macam jenis tumpuan yaitu :
1. Tumpuan Sendi - Sendi
2. Tumpuan Sendi Jepit
3. Tumpuan Jepit Jepit
6.3 Spesifikasi Alat
Alat yang digunakan adalah Sanderson Universal Strur Apparatus ( alat tumpu
universal ). Alat ini dikembangkan untuk studi dalam pengujian tertentu dari beban
kritis pada tumpuan dengan variasi perbandingan ketebalan dan tumpuanpada ujung
ujung. Alat ini dirancang dengan panjang balik dapat disesuaikan 400 800 mm. Pada
tumpuan dengan penampang segiempat, yang telah ditentukan bahwa lendutan terjadi
pada titik yang telah ditentukan sebelumnya.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

159

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Gambar 6.5 Sanderson Universal Strut Bar Apparatus


Sumber : Anonymous 26, 2014
Reaksi beban dapat dipertahankan agar tumpuan dapat diuji seperti kondisi:
1. Kedua ujung merupakan tumpuan sendi
2. Kedua ujung merupakan tumpuan jepit
3. Satu ujung tumpuan sendi dan satu ujung tumpuan jepit
6.4 Cara Pengambilan Data
1. Atur ketinggian level penjepit bagian atas sesuai dengan panjang benda kerja
2. Atur blok pembebanan untuk pengujian sesuai dengan ketentuan
3. Atur bagian kepala lintang atas atau upper cross head dengan menggunakan pin /
pasak yang tersedia pada posisi yang tepat sesuai dengan panjang benda kerja
4. Letakkan benda kerja pada penjepit bagian bawah dengan penjepit tetap. Jika akan
melakukan pengujian dengan ujung tumpu, letakkan dengan benda kerja di tengah
tengah pada tempat tersedia.
5. Beri beban ringan vetikal dengan tangan untuk menemoatkan ujung benda kerja
bagian atas agar menyentuh blok.
6. Atur pembebanan dengan memutar hand wheel sebelah kiriuntuk mengangkat blok
bawah terlebih dahulu
7. Gunakan hand wheel untuk menaikkan pegas pengimbang (spring balance)
sampai terjadi kontak dengan bendakrja yang dibebani.
8. Letakkan dial indicator sehingga menyentuh tepat di tengah batang dalam posisi
horizontal
9. Atur beban pulley disebelah kanan tiang penyangga sehingga batang dalam posisi
horizontal
10. Naikkan oembebanan pada batang sedikit demi sedikit dengan memutar hand-wheel
sebelah kanan sehingga terjadi defleksi pada batang
11. Catat setiap perubahan pada spring balance dan dial indicator.

6.5 Hasil Pengujian

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

160

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


6.5.1 Data Hasil Pengujian
Tabel 6.1 Hubungan antara defleksi aktual dan teoritis pada tumpuan sendi-sendi
No
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Beban
(kg)
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1

Defleksi Maksimum
Aktual
Teoritis
0.09
0.12
0.18
0.19
0.23
0.25
0.3
0.32
0.36
0.38
0.43
0.45
0.49
0.51
0.55
0.57
0.62
0.64

Sumber: Data Pribadi


Tabel 6.2 Hubungan antara defleksi aktual terhadap variasi titik pengukuran pada beban
1000 g
Panjang
Defleksi
No.
(m)
maksimum
1
0
0
2
0.1
0.315
3
0.2
0.545
4
0.3
0.655
5
0.35
0.625
6
0.4
0.65
7
0.5
0.535
8
0.6
0.295
9
0.7
0
Sumber: Data Pribadi

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

161

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


Tabel 6.3 Hubungan antara beban kritis actual dan teoritis terhadap panjang
specimen pada tumpuan sendi-jepit
Beban Kritis (kg)
No
Panjang Spesimen (mm)
Aktual
Teoritis
1
15.00
16.28
400
2
12.60
12.88
450
3
9.60
10.43
500
4
8.10
8.62
550
Sumber: Data Pribadi
6.5.2 Contoh Perhitungan
Tabel 6.4 Hubungan antara beban kritis actual dan teoritis terhadap panjang
specimen pada tumpuan sendi-sendi
No
1
2
3
4
Sumber: Data Pribadi

Beban Kritis (kg)


Aktual
(Teoritis)
8.40
8.15
6.00
6.44
4.90
5.22
3.50
4.31

Panjang Spesimen (mm)


400
450
500
550

Tabel 6.5 Hubungan antara beban kritis actual dan teoritis terhadap panjang
specimen pada tumpuan jepit-jepit
No
1
2
3
4
Sumber: Data Pribadi

Beban Kritis
Aktual
Teoritis
30.00
32.59
24.00
25.75
21.00
20.86
16.00
17.24

Panjang Spesimen (mm)


400
450
500
550

a. Beban kritis teoritis pada tumpuan sendi jepit (specimen 4)


Diketahui :E ( Modulus Elastisitas )

= 2.1011 N/m2

I ( Momen Inersia )

= 6.48 . 10-12 m4

L ( Panjang Kolom Efektif )

= 0.55 m

b ( Panjang Penampang Alas )

= 19 mm = 0.019 m

h ( Lebar Penampang Alas )

= 1.6 mm = 0.0016 m

Ditanya = Pcr (Beban Kritis) ?

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

162

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


3

Jawab : I =

b h3 ( o . o19 m ) (0.0016 m)
=
=6.48 .1012 m 4
12
12

2 2 EI
L2
2
11
12
2 x (3.14) x 2 x 10 x 6.48 x 10

0.552
= 84.4826 N
= 8.62 kg
b. Defleksi maksimum teoritis pada tumpuan sendi-sendi (specimen 4)
Pcr =

Diketahui :

E ( Modulus Elastisitas )

= 2x1011 N/m2

L ( Panjang Kolom Efektif )

= 0,7 m

b ( Panjang Penampang Alas )

= 25,4 mm = 0,0254 m

h ( Lebar Penampang Alas )

= 6,4 mm = 0.0064 m

W (berat beban)

= 1000 g

ditanyakan: Inersia pada batang...?


defleksi maksimun ....?
I=

b h3
12

I=

0,0254(0,0064)
12

I = 5,54871 x 1010

10 x 1000 x 2 x 0.7 2
W L2
x
=
x =
48 EI
48 x 2 x 1011 x 3.33 x 1012
x =0.64 mm

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

163

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

6.5.3 Grafik dan Pembahasan


6.5.3.1 Grafik hubungan antara beban kritis,aktual dan teoritis terhadap panjang spesimen dengan variasi tumpuan berbeda.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

164

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Grafik 6.1 Hubungan antara beban kritis,aktual dan teoritis terhadap panjang spesimen dengan variasi tumpuan berbeda.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

165

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Grafik diatas dapat diketahui hubungan antara panjang spesimen (kolom) dan
beban kritis dengan variasi jenis tumpuan, diketahui bahwa semakin panjang
spesimen (kolom) pada variasi jenis tumpuan, maka beban kritis teoritis maupun
beban kritis aktual semakin kecil. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara
panjang spesimen dan beban kritis dengan variasi jenis tumpuan berbanding terbalik
sehingga kurva pada grafik cenderung membentuk garis menurun. Grafik ini terjadi
sesuai dengan formulasi Leonard Euler yang disebut dengan Euler Buckling Load
atau lebih dikenal dengan sebutan beban kritis (Pcr). Persamaan tersebut dinyatakan
dengan:

Pcr =

2 E I
L2

Grafik diatas juga menjelaskan mengenai hubungan antara macam variasi


jenis tumpuan berbeda-beda, seperti dijelaskan pada persamaan di bawah ini :
Persamaan beban kritis yang berlaku pada jenis tumpuan sendi-sendi (Le = L), yaitu:
2

Pcr =

EI
2
L

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

166

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Pesamaan beban kritis yang berlaku pada jenis tumpuan sendi-jepit (Le = 0.7L),
yaitu:

Pcr =

2 E I
2

Pcr =

EI
(0.7 L)2
2

2 E I
Pcr =
2
L
Pesamaan beban kritis yang berlaku pada jenis tumpuan jepit-jepit (Le = 0.5L), yaitu:

Pcr =

2 E I
2

Pcr =

EI
2
(0.5 L)

Pcr =

4 EI
2
L

Persamaan-persamaan tersebut sesuai dengan grafik, di mana beban kritis


tumpuan jepit-jepit memiliki nilai yang paling besar di antara jenis tumpuan yang
lainnya karena pada tumpuan jepit-jepit, panjang kolom efektifnya (Le) sama dengan
0.5L. Hal ini sesuai dengan hubungan antara panjang spesimen dengan beban
kritisnya (Pcr) semakin kecil. Sedangkan pada tumpuan sendi-sendi memiliki nilai

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

167

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

yang paling kecil di antara jenis tumpuan yang lainnya, karena pada tumpuan sendisendi panjang kolom efektifnya (Le) sama dengan L.

Dari grafik di atas diketahui bahwa nilai beban kritis (Pcr) dari hasil
percobaan (aktual) dengan nilai beban kritis (Pcr) hasil perhitungan ( teoritis)
berbeda, di mana nilai beban kritis (Pcr) hasil teoritis lebih besar dibandingkan
dengan nilai beban kritis (Pcr) aktual. Hal ini disebabkan oleh modulus elastisitas (E)
dan momen inersia (I) actual dari specimen sudah menurun karena sudah sering
digunakan untuk percobaan.

Suatu material pasti akan mengalami penurunan

elastisitas karena sering menerima beban.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

168

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


6.5.3.2 Grafik hubungan defleksi aktual dan teoritis terhadap beban tangensial pada tumpuan Sendi-sendi dengan spesimen
berbeda.
8

spesimen 1 aktual
spesimen 1 teoritis

Defleksi maksimum

spesimen 2 aktual

spesimen 2 teoritis
spesimen 3 aktual

spesimen 3 teoritis
spesimen 4 aktual

spesimen 4 teoritis

0
0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

Beban (kg)

Grafik 6.2 Hubungan defleksi aktual dan teoritis terhadap beban tangensial pada tumpuan Sendi-sendi dengan spesimen berbeda.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

169

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


Grafik hubungan beban tangensial terhadap defleksi seperti grafik diatas
menjelaskan bahwa semakin besar beban tangensial yang diterima suatu batang maka
mengakibatkan semakin meningkatnya pula defleksi yang terjadi pada batang
tersebut hal ini ditunjukan pada garis/kurva yang cenderung menanjak atau
melengkung keatas seperti yang tertera pada grafik saat percobaan pembebanan
tangensial pada batang menggunakan variasi tumpuan sendi-sendi.
Dari grafik diatas juga menjelaskan bagaimana hubungan antara defleksi
aktual dan teoritis suatu spesimen ketika mengalami pembebanan yang mana kondisi
defleksi besar dari defleksi aktual. Hal itu dikarenakan besar inersia teoritis
diasumsikan telah sesuai pada center of grafity sehingga hasil perhitungan teoritis
menjadi lebih besar daripada aktual. Hal ini dibuktikan dengan rumus :

Dimana W= m.g
Gaya berat = (W)
m= massa beban
g= gaya gravitasi bumi
Pada pengujian, inersia pada pada tiap spesimen divariasikan. Dimana urutan
inersia spesimen dari yang terkecil sampai terbesar adalah 1, 2, 3, dan 4. Sehingga
pada hasil pengujian didapatkan urutan defleksi dari yang terbesar sampai terkecil
adalah spesimen 1, spesimen 2, spesimen 3, dan spesimen 4.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

170

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


6.5.3. 3 Grafik hubungan antara defleksi aktual terhadap Variasi titik pengukuran pada beban 1000 gram.

6.3 Grafik hubungan antara defleksi aktual terhadap variasi titik pengukuran pada beban 1000 gram

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

171

UNIVERSAL STRUT APPARATUS


Dari grafik diatas menjelaskan bahwa semakin besar panjang spersimen (batang)
pada variasi jenis tumpuan sendi-sendi, maka defleksi yang terjadi bervariasi pula
(teoritis maupun aktual). Hal tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara titik
pengukuran dan beban yang diberikan berbanding lurus dimana defleksi yang paling
besar terjadi pada daerah yang menjadi pusat pembebanan. Semakin besar beban yang
diberikan maka akan menghasilkan defleksi yang semakin besar begitu pula sebaliknya.
Dan juga menjelaskan tentang perbedaan letak pembebanan titik pengukuran
pada spesimen. Defleksi maksimum terjadi ketika titik pengukuran berada tepat pada
pusat pembebanan dan sebaliknya ketika pengukuran semakin mendekati titik tumpuan,
defleksi yang dihasilkan semakin minimum. Besarnya lenturan yang terjadi pada suatu
batang tergantung pada beberapa faktor yaitu :
1. Kemampuan suatu batang menerima pembebanan
2. Besar kecilnya gaya/beban yang pada suatu batang
3. Jenis tumpuan yang digunakan
4. Posisi batang terhadap beban dan dimensi batang.
6.5.4 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
1. Kolom merupakan batang lurus, panjang dan prismatik yang mengalami beban
secara aksial, dimana lentura yang arahnya melintang akibat pembebanan aksial
disebut buckling.
2. Beban kritis (Pcr) yang merupakan beban gaya dimana mulai terjadinya lenturan
tekuk (buckling) dipengaruhi oleh kekakuan dan kekuatan tarik material, panjang,
penampang melintang batang, dan panjangn kolom efektif (Le).
3. Hubungan antara panjang specimen dan beban kritis yaitu berbanding terbalik ,
dimana semakin besar panjang kolom pada variasi jenis tumpuan, maka beban
kritis (teoritis maupun aktual) semakin kecil.
4. Beban kritis (Pcr) hasil percobaan (aktual) umumnya lebih kecil dibandingkan
beban kritis (Pcr) hasil perhitungan (teoritis).
5. Pada beam, defleksi paling besar terjadi pada pusat pembebanannya.
6. Inersia berbanding terbalik dengan defleksi, semakin kecil inersia maka semakin
besar defleksi pada spesimen dan sebaliknya.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

172

UNIVERSAL STRUT APPARATUS

Saran
1. Sebaiknya praktikan melakukan praktikum dengan lebih cermat dan teliti
2. Sebaiknya alat-alat pengujian yang ada di laboratorium FDM dirawat dengan
baik agar tidak banyak kerusakan
3. Sebaiknya asisten laboratorium FDM memberitahukan kesalahan laporan
langsung semua tidak dicicil.
4. Asisten seharusnya dapat menbantu praktikan dengan memberi pemahaman
ketika ada suatu hal yang kurang dipahami bukan malah membalikkan
pertanyaan kepada praktikan.

LABORATORIUM FENOMENA DASAR MESIN 2014/2015

173