Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Masalah kesehatan jiwa perlu menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan
sumber daya manusia, khususnya pada anak dan remaja yang merupakan generasi yang
harus dipersiapkan sebagai sumber kekuatan bangsa. Pravelensi gangguan kesehatan
jiwa pada anak dan remaja akan cenderung meningkat seiring dengan permasalahan
hidup di masyarakat yang semakin kompleks.1
Data Kebijakan Nasional Kesehatan Jiwa (National Health Policy) 2001-2005
menunjukkan bahwa ratio gangguan kesehatan jiwa atau emosional pada kelompok
anak berusia 4-15 tahun adalah 104 per 1000 anak. Dalam studi prevalensi problem
emosional dan perilaku pada anak usia sekolah dasar di dapatkan angka 27% di wilayah
Jakarta Pusat tahun 2003 dengan menggunakan instrumen Child behavior Checklist.
Prevalensi pada anak laki-laki lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan
(30,5% : 22,6%). Terdapat dua problem emosional dan perilaku pada anak usia sekolah
dasar. Problem internalisasi dan ekternalisasi. Problem internalisasi (cemas, depresi,
dan isolasi diri) lebih besar jika dibandingkan dengan problem ekternalisasi (30% :
10.2%). Jenis gangguan mental yang banyak ditemukan adalah gangguan mood,
gangguan cemas, gangguan pemusatan perhatian dan atau

hiperaktivitas (GPPH),

gangguan perilaku dan gangguan autisme. 1,2


Salah satu gangguan kesehatan jiwa pada anak yang akan dibahas adalah
autisme. Gangguan autisme adalah penyakit gangguan perkembangan yang mempunyai
karakteristik gangguan interaksi sosial, komunikasi dan perilaku yang terbatas dan
berulang.3,4
Autis termasuk ke dalam pervasive developmental disorder, jenis penyakit yang
lain diantaranya adalah Asperger disorder, childhood disintegrative disorder, dan Rett
disorder. Rasio prevalensi dari seluruh pervasive developmental disorder adalah 58,7
per 10.000 anak-anak. Termasuk penyakit Autis adalah 22 per 10.000 anak- anak,
Asperger Syndrome adalah 11 per 10.000 anak- anak, tidak specified adalah 24,8 per
10.000 anak- anak dan child disintegrative disorder adalah 0,9 per 10.000 anak- anak. 5
Penyandang autisme pada anak (autisme infantile) dalam kurun waktu 10
sampai 20 tahun terakhir semakin meningkat di dunia. Prevalensi anak autis di dunia
pada tahun 1987 diperkirakan 1 berbanding 5.000 kelahiran. Sepuluh tahun kemudian
1

yaitu tahun 1997, angka itu meningkat menjadi 1 berbanding 500 kelahiran. Sedangkan,
pada tahun 2000 prevalensi anak autisme meningkat menjadi 1 banding 150 kelahiran
dan tahun 2001 perbandingannya berubah menjadi 1 berbanding 100 kelahiran. Secara
global prevalensinya berkisar 4 per 10.000 penduduk, dan pengidap autisme laki-laki
lebih banyak dibandingkan wanita (lebih kurang 4 kalinya). Sedangkan penyandang
autis di Indonesia diperkirakan lebih dari 400.000 anak.6
Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 : 1, namun anak
perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.7
Autisme biasanya identifikasinya melalui pemeriksaan yang teliti di rumah
sakit, dokter atau sekolah khusus. Dewasa ini terdapat kecenderungan peningkatan
kasus-kasus autisme pada anak (autisme infantil). Umumnya keluhan utama yang
disampaikan oleh orang tua adalah keterlambatan bicara, perilaku aneh dan acuh tak
acuh, atau cemas apakah anaknya tuli.7
Mengingat bahwa kasus autisme merupakan salah satu masalah gangguan
kesehatan jiwa pada anak sehingga perlu diketahui oleh mahasiswa kedokteran, maka
pada referat ini difokuskan membahas masalah gangguan autisme.
1.2

1.3

Tujuan
1. Mendeskripsikan tentang definisi gangguan autisme
2. Mendeskripsikan tentang etiologi gangguan autisme
3. Mendeskripsikan tentang manifestasi klinis gangguan autisme
4. Mendeskripsikan tentang patogenesis gangguan autisme
5. Mendeskripsikan tentang diagnosis gangguan autisme
6. Mendeskripsikan tentang diagnosis banding gangguan autisme
7. Mendeskripsikan tentang terapi gangguan autisme
8. Mendeskripsikan tentang prognosis gangguan autisme
Manfaat
1. Referat ini diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada mahasiswa
kedokteran tentang gangguan autisme.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Autisme
Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada
diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap
2

pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada
pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan seharihari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di alamnya
sendiri.8
Autisme merupakan salah satu kelompok gangguan pada anak yang ditandai
dengan munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi,
ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya.8
Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial, komunikasi,
perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan perkembangan terlambat atau
tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir atau saat masi bayi, biasanya sebelum
2.2

usia 3 tahun. 4
Etiologi
Etiologi pasti dari autis belum sepenuhnya jelas. Beberapa teori yang
menjelaskan tentang autisme infantil yaitu:
1. Teori psikoanalitik
Teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967) menyatakan bahwa
autisme terjadi karena penolakan orangtua terhadap anaknya. Anak menolak
orang tuanya dan mampu merasakan persaan negatif mereka. Anak tersebut
meyakini bahwa dia tidak memiliki dampak apapun pada dunia sehingga
menciptakan benteng kekosongan untuk melindungi dirinya dari penderitaan
dan kekecewaan. 6
2. Genetik
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali beresiko lebih
tinggi dari wanita. Sementara resiko autis jika memiliki saudara kandung yang
juga autis sekitar 3%. Kelainan dari gen pembentuk metalotianin juga
berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang
merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga dan seng. Fungsi
lainnya yaitu perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan
saluran cerna, dan penguat sistem imun. Disfungsi metalotianin akan
menyebabkan penurunan produksi asam lambung, ketidakmampuan tubuh untuk
membuang logam berat dan kelainan sistem imun yang sering ditemukan pada
orang autis. Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih berisikonya lakilaki dibanding perempuan. Hal ini disebabkan karena sintesis metalotianin
ditingkatkan oleh estrogen dan progesteron.7
Secara genetik terdapat 80% angka persesuaian untuk kembar monozigot
dan 20% angka persesuaian untuk kembar dizigot, yang sebenarnya diwariskan
tidak sepenuhnya jelas; abnormalitas kognitif dan kemampuan berbicara lebih
3

lazim pada sanak keluarga anak autistic daripada pada populasi umum. Kelainan
kromosom, terutama sindrom X yang mudah pecah (fragile), juga lebih lazim
pada keluarga dengan autism. Kelainan temuan-temuan neurokimia telah terkait
dengan autism. Meskipun fungsi dopamine diperkirakan normal pada autism,
baru-baru ini kelainan ditunjukkan dalam jumlah jalur katekolamin. Peningkatan
kadar serotonin juga ditemukan.5
3. Studi biokimia dan riset neurologis
Pemeriksaan post-mortem otak

dari

beberapa

penderita

autistik

menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang


berkembang yaitu amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung
jawab atas emosi, agresi, sensory input, dan belajar. Penelitian ini juga
menemukan adanya defisiensi sel Purkinye di serebelum. Dengan menggunakan
Magnetic Resonance Imaging (MRI), telah ditemukan dua daerah di serebelum,
lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih kecil dari
pada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang
bertanggung jawab atas perhatian. Dari segi biokimia jaringan otak, banyak
penderita-penderita autistik menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah
dan cairan serebrospinal dibandingkan dengan orang normal.7
Teori-teori tentang penyebab telah juga dipusatkan pada berbagai
kemungkinan lain, meliputi cedera otak, kerentanan utama, berkembang aphasia,
deficit

pada

system

pengaktif

reticulum,

keadaan

yang

saling

tidak

menguntungkan antara factor-faktor psikogenik dan perkembangan saraf,


perubahan struktur serebellum, dan lesi hipokampus otak depan.5
2.3

Manifestasi Klinis
Diantara gejala-gejala dan tanda-tanda yang paling penting adalah kemampuan
komunikasi verbal dan non-verbal yang tidak atau kurang berkembang, kalainan pada
pola berbicara, gangguan kemampuan mempertahankan percakapan, permainan sosial
yang abnormal, tidak adanya empati, dan ketidakmampuan untuk berteman. Sering juga
memperlihatkan gerakan tubuh stereotipik, kebutuhan kesamaan yang mencolok, minat
yang sangat sempit, dan keasyikan dengan bagian-bagian tubuh. Anak autisme menarik
diri dan sering menghabiskan waktunya untuk bermain sendiri. Muncul perilaku yang
berulang- ulang yang mencerminkan kebutuhan anak untuk memelihara lingkungan
yang tetap dan dapat diramalkan. Ledakan amarah dapat menyertai gangguan rutin.
Kontak mata minimal atau tidak ada. Pengamatan visual terhadap gerakan jari dan
4

tangan, pengunyahan benda, dan menggosok permukaan dapat menunjukkan penguatan


kesadaran dan sensitivitas terhadap beberapa rangsangan, sedangkan hilangnya respon
terhadap nyeri dan kurangnya respon terkejut terhadap suara-suara keras yang
mendadak menunjukkan menurunnya sensitivitas pada rangsangan lain. Jika berbicara
memperlihatkan echolalia, pembalikan kata ganti (pronominal), berpuisi yang tak
berujung pangkal, dan bentuk bahasa-bahasa aneh lainnya dapat menonjol.5
Intelegensi dengan uji psikologi konvensional biasanya jatuh pada kisaran
retardasi secara fungsional; namun, defisit dalam kemampuan berbicara dan
besosialisasi membuatnya sulit memperoleh estimasi yang tepat dari potensi intelektual
anak autisme. Dalam tes nonverbal yang dilakukan beberapa anak autisme hasilnya
cukup memadai, dan mereka yang kemampuan bicaranya berkembang dapat
memperagakan kapasitas intelektual yang memadai. Adakalanya anak autisme mungkin
terisolasi, berbakat luar biasa, analog dengan bakat orang dewasa terpelajar yang idiot.5
Meskipun mula-mula digambarkan sebagai penyakit sosial, kebanyakan riset
telah memfokuskan pada deficit kognitif dan komunikatif pada autism, dan terutama
pada tipe-tipe defisit pemprosesan kognitif yang paling nampak pada situasi emosional.
Ciri khas anak autistik adalah deficit dalam keteraturan verbal abstraksi, memori rutin,
dan pertukaran verbal timbale balik. Anak autistik juga menunjukkan defisit dalam
pemahamannya mengenai apa yang mungkin dirasakan atau dipikirkan orang lain.5

2.4

Patogenesis Autisme
Penyebab terjadinya autisme sangat beraneka ragam dan tidak ada satupun yang
spesifik sebagai penyebab utama dari autisme. Ada indikasi bahwa faktor genetik
berperan dalam kejadian autisme. Dalam suatu studi yang melibatkan anak kembar
terlihat bahwa dua kembar monozygot (kembar identik) kemungkinan 90% akan samasama mengalami autisme; kemungkinan pada dua kembar dizygot (kembar fraternal)
hanya sekitar 5-10% saja.7
Sampai sejauh ini tidak ada gen spesifik autisme yang teridentifikasi meskipun
baru-baru ini telah dikemukakan terdapat keterkaitan antara gen serotonin-transporter.
Selain itu adanya teori opioid yang mengemukakan bahwa autisme timbul dari beban
yang berlebihan pada susunan saraf pusat oleh opioid pada saat usia dini. Opioid
kemungkinan besar adalah eksogen dan opioid merupakan perombakan yang tidak
lengkap dari gluten dan casein makanan. Meskipun kebenarannya diragukan, teori ini
menarik banyak perhatian. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan adanya barrier
5

yang defisien di dalam mukosa usus, di darah-otak (blood-brain) atau oleh karena
adanya kegagalan peptida usus dan peptida yang beredar dalam darah untuk mengubah
opioid menjadi metabolit yang tidak bersifat racun dan menimbulkan penyakit.7
Barrier yang defektif ini mungkin diwarisi (inherited) atau sekunder karena
suatu kelainan. Berbagai uraian tentang abnormalitas neural pada autisme telah
menimbulkan banyak spekulasi mengenai penyakit ini. Namun, hingga saat ini tidak
ada satupun, baik teori anatomis yang sesuai maupun teori patofisiologi autisme atau
tes diagnostik biologik yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang sebab utama
autisme. Beberapa peneliti telah mengamati beberapa abnormalitas jaringan otak pada
individu yang mengalami autisme, tetapi sebab dari abnormalitas ini belum diketahui,
demikian juga pengaruhnya terhadap perilaku. 7
Kelainan yang dapat dilihat terbagi menjadi dua tipe, disfungsi dalam stuktur
neural dari jaringan otak dan abnormalitas biokimia jaringan otak. Dalam kaitannya
dengan struktur otak, pemeriksaan post-mortem otak dari beberapa penderita autistik
menunjukkan adanya dua daerah di dalam sistem limbik yang kurang berkembang yaitu
amygdala dan hippocampus. Kedua daerah ini bertanggung jawab atas emosi, agresi,
sensory input, dan belajar. Peneliti ini juga menemukan adanya defisiensi sel Purkinye
di serebelum. Dengan menggunakan magnetic resonance imaging, telah ditemukan dua
daerah di serebelum, lobulus VI dan VII, yang pada individu autistik secara nyata lebih
kecil dari pada orang normal. Satu dari kedua daerah ini dipahami sebagai pusat yang
bertanggung jawab atas perhatian. Didukung oleh studi empiris neurofarmakologis dan
neurokimia pada autisme, perhatian banyak dipusatkan pada neurotransmitter dan
neuromodulator, pertama sistem dopamine mesolimbik, kemudian sistem opioid
endogen dan oksitosin, selanjutnya pada serotonin, dan ditemukan adanya hubungan
antara autisme dengan kelainan-kelainan pada sistem tersebut.7
Sedangkan dari segi biokimia jaringan otak, banyak penderita-penderita autistik
menunjukkan kenaikan dari serotonin dalam darah dan cairan serebrospinal
dibandingkan dengan orang normal. Perlu disinggung bahwa abnormalitas serotonin ini
juga tampak pada penderita down syndrome, kelainan hiperaktivitas, dan depresi
unipoler. Juga terbukti bahwa pada individu autistik terdapat kenaikan dari betaendorphins, suatu substansi di dalam badan yang mirip opiat. Diperkirakan adanya
ketidakpekaan individu autistik terhadap rasa sakit disebabkan oleh karena peningkatan
2.5

kadar betaendorphins ini.7


Kriteria Diagnosis Gangguan Autisme
Menurut DSM IV kriteria diagnosis gangguan autisme adalah:
6

A. Sejumlah enam hal atau lebih dari 1, 2, dan 3, paling sedikit dua dari 1 dan satu
masing-masing dari 2 dan 3:
1. Secara kualitatif terdapat hendaya dalam interaksi social sebagai manifestasi
paling sedikit dua dari yang berikut:
a. Hendaya di dalam perilaku non verbal seperti pandangan mata ke mata,
ekspresi wajah, sikap tubuh, dan gerak terhadap rutinitas dalam interaksi
social.
b. Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai tingkat
perkembangannya.
c. Kurang kespontanan dalalm membagi kesenangan, daya pikat atau
pencapaian akan orang lain, seperti kurang memperlihatkan, mengatakan
atau menunjukkan objek yang menarik.
d. Kurang sosialisasi atau emosi yang labil.8

2. Secara fluktuatif terdapat hendaya dalam komunikasi sebagai menifestasi


paling sedikit satu dari yang berikut:
a. Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak
menyertai usaha mengimbangi cara komunikasialternatif seperti gerak
isyarat atau gerak meniru-niru)
b. Individu berbicara secara adekuat, hendaya dalam menilai atau
meneruskan oembicaraan orang lain.
c. Menggunakan kata berulang kali dan stereotip dan kata-kata aneh.
d. Kurang memvariasikan gerakan spontan yang seolah-olah atau pura-pura
bermain seuai tingkat perkembangan.8
3. Tingkah laku berulang dan terbatas, tertarik dan aktif sebagai manifestasi
paling sedikit satu dari yang berikut:
a. Keasyikan yang meliputi satu atau lebih stereotip atau kelainan dalam
intensitas maupun focus perhatian akan sesuatu yang terbatas.
b. Ketaatan terhadap hal-hal tertentu tampak kaku, rutinitas atau ritual pun
tidak fungsional.
7

c. Gerakan stereotip dan berulang misalnya memukul, memutar arah jari dan
tangannya serta meruwetkan gerakan seluruh tubuhnya.
d. Keasyikan terhadap bagian-bagian objek yang stereotip.8
B. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang berikut ini
dengan serangan sebelum sampai usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial
2. Bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial
3. Permainan simbol atau imaginatif.8
C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegrasi
masa anak.8

Autisme infantil berdasarkan pedoman diagnostik PPDGJ III, antara lain:


a. Biasanya tidak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika
dijumpai, abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun. 4
b. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. Ini berbentuk tidak
adanya apresiasi adekuat terhadap isyarat sosio emosional yang tampak bagai
kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi
terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam menggunakan isyarat social
dan lemah dalam integrasi perilaku sosial, emosional dan komunikatif; dan
khususnya, kurangnya respon timbal balik sosial emosional.4
c. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan sosial dari kemampuan bahasa yang ada; hendaya dalam
permainan imaginatif dan imitasi sosial; buruknya keserasian dan kurangnya
interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya fleksibilitas dalam bahasa
ekspresif dan relatif kurang dalam kreativitas dan fantasi dalam proses pikir;
kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang
lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama atau tekanan modulasi

komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau mengartikan


komunikasi lisan.4
d. Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
pengulangan dan stereotipik. Ini berbentuk kecendrungan untuk bersikap kaku
dan rutin dalam aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan
baru atau kebiasaan sehari-hari yang rutin dan pola bermain. Terutama sekali
dalam masa kanak, terdapat kelekatan yang aneh terhadap benda yang tak
lembut. Anak dapat memaksa suatu kegiatan rutin seperti upacara dari kegiatan
yang sebetulnya tidak perlu; dapat menjadi preokupasi yang stereotipik dengan
perhatian pada tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipik motorik;
sering menunjukkan perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda
(seperti bau dan rasa); dan terdapat penolakan terhadap perubahan dari rutinitas
atau dalam tata ruang dari lingkungan pribadi (seperti perpindahan dari hiasan
dalam rumah).4
e. Anak autisme sering menunjukkan beberapa masalah yang tak khas seperti
ketakutan/fobia, gangguan tidur dan makan, mengadat (terpertantrum) dan
agresivitas. Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan) sering kali terjadi,
khususnya jika terkait dengan retardasi mental. Kebanyakan individu dengan
autis kurang dalam spontanitas, inisiatif dan kreativitas dalam mengatur waktu
luang dan mempunyai kesulitan dalam melaksanakan konsep untuk menuliskan
sesuatu dalam pekerjaan (meskipun tugas mereka tetap dilaksanakan baik).4
Abnormalitas perkembangan harus tampak dalam usia 3 tahun untuk dapat
menegakkan diagnosis, tetapi sindrom ini dapat didiagnosis pada semua usia.4
2.6

Diagnosis Banding
Beberapa diagnosis banding autisme infantil, antara lain:
a.

Gangguan perkembangan pervasif yang lainnya


Beberapa kelainan yang dimasukkan dalam kelompok ini adalah anak-anak

yang mempunyai ciri-ciri autisme, yaitu gangguan perkembangan sosial, bahasa,


dan perilaku, namun cirri lainnya berbeda dengan autism infantil. Gangguan ini
adalah sebagai berikut:
1) Sindroma Rett
Sindroma Rett adalah penyakit otak yang progresif tapi khusus
mengenai anak perempuan. Perkembangan anak sampai usia 5 bulan normal,

namun setelah itu mundur. Umumnya kemunduran yang terjadi sangat parah
meliputi perkembangan bahasa, interaksi social maupun motoriknya.7
2) Sindroma Asperger
Pada sindroma Asperger mempunyai ketiga ciri autism namun masih
memiliki intelegensia yang baik dan kemampuan bahasanya juga hanya
terganggu dalam derajat ringan. Oleh karena itu, sindroma Asperger sering
disebut sebagai high functioning autism.7
Gangguan Asperger berbeda berbeda dengan autism infantil. Onset usia
autisme infantile terjadi lebih awal dan tingkat keparahannya lebih parah
dibandingkan gangguan Asperger. Pasien autisme infantil menunjukkan
penundaan dan penyimpangan dalam kemahiran berbahasa serta adanya
gangguan kognitif. Oral vocabulary test menunjukkan keadaan yang lebih
baik pada gangguan Asperger. Defisit sosial dan komunikasi lebih berat pada
autisme. Selain itu ditemukan adanya manerisme motorik sedangkan pada
gangguan Asperger yang menonjol adalah perhatian terbatas dan motorik
yang canggung, serta gagal mengerti isyarat nonverbal. Lebih sulit
membedakan gangguan Asperger dengan autisme infantil tanpa retardasi
mental. Gangguan Asperger biasanya memperlihatkan gambaran IQ yang
lebih baik daripada autisme infantil, kecuali autisme infantil high functioning.
Batas antara gangguan Asperger dan high functioning autism untuk gangguan
berbahasa dan gangguan belajar sangat kabur. Gangguan Asperger
mempunyai verbal intelligence yang normal sedangkan autisme infantil
mempunyai verbal intelligence yang kurang. Gangguan Asperger mempunyai
empati yang lebih baik dibandingkan dengan autisme infantil, sekalipun
keduanya mengalami kesulitan berempati.7
3) Sindroma Disintegratif
Sindroma ini ditandai dengan kemunduran dari apa yang telah dicapai
setelah umur 2 tahun, paling sering sekitar umur 3-4 tahun. Gangguan ini
sangat jarang terjadi dan paling sering mengenai anak laki-laki dibanding
perempuan.7
b.

Gangguan perkembangan bahasa (disfasia)


Disfasia terjadi karena gangguan perkembangan otak hemisfer kiri,
sebagai daerah pusat berbahasa. Ada beberapa subtipe gangguan ini yang
10

menyerupai dengan autism infantil khususnya ditinjau dari perkembangan


bahasa wicaranya. Bedanya pada disfasia tidak terdapat perilaku repetitive
maupun obsesif.7
c. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia disertai
dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan retardasi mental
yang lebih rendah dan dengan IQ yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak
autistik.7
d. Retardasi Mental (RM)
Hal yang tidak mudah untuk membedakan autisme infantil dengan
retardasi mental, sebab autisme juga sering disertai retardasi mental. Kira-kira
40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau sangat berat, dan anak
yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku yang termasuk ciri autistik.
Pada retardasi mental tidak terdapat 3 ciri pokok autism secara lengkap.
Retardasi mental adalah gangguan intelegensi, biasanya diketahui setelah anak
sekolah karena ketidaksanggupan anak mengikuti

pelajaran formal.

Pembagian retardasi mental mental dilihat dari kemampuan Intelligent


Quetient (IQ), retardasi mental ringan IQ 55-70, RM sedang IQ 40-55, RM
berat 25-40, RM sangat berat IQ < 25.7
Ciri utama yang membedakan antara gangguan autistik dan retardasi mental
adalah:
1) Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau anakanak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2) Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3) Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan fungsi
e. Afasia didapat dengan kejang
Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang kadang sulit
dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif masa anak-anak.
Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa tahun sebelum kehilangan
bahasa reseptif dan ekspresifnya selama periode beberapa minggu atau beberapa
bulan. Sebagian akan mengalami kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat
onset, tetapi tanda tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas
dalam pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara
11

yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi dengan
gangguan bahasa residual yang cukup besar.7
f. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah
Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak tersebut
sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara selektif terhadap
bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi autistik mungkin jarang
berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki riwayat celoteh yang relatif normal
dan selanjutnya secara bertahap menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan-1
tahun.7
Anak yang tuli berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak
autistik mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau potensial
cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada anak yang tuli.
Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya dekat dengan orang
tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai bayi senang digendong.7
g. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti pemisahan
dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit, dan gagal tumbuh)
dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri, dan terasing. Keterampilan
bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-anak dengan tanda tersebut hamper
selalu membaik dengan cepat jika ditempatkan dalam lingkungan psikososial
yang menyenangkan dan diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.7
2.7

Penatalaksanaan Autisme
Berbagai pendekatan terapeutik telah dianjurkan untuk menangani dan
menatalaksana anak-anak autistic, namun keberhasilannya terbatas. Terapi perilaku
dengan pemanfaatan keadaan yang sedang berlaku dilaporkan meningkatkan
kemahiran berbicara. Perilaku destruktif dan agresi sering dapat diubah dengan
menejemen perilaku mencelakakan diri sendiri, yang kelihatannya mengarah kepada
perilaku agresi, stereotipik, dan penarikan diri dari pergaulan social. Model
penanganan harian dengan menggunakan permainan, terapi kemampuan berbicara dan
latihan antarperorangan terstruktur juga menampakkan harapan.5
Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling
penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah
12

metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis
(ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan
menjadi enam kemampuan dasar, yaitu:9
1. Kemampuan memperhatikan
Program ini terdapat dua prosedur. Pertama melatih anak untuk bisa memfokuskan
pandangan mata pada orang yang ada di depannya atau disebut dengan kontak
mata. Yang kedua melatih anak untuk memperhatikan keadaan atau objek yang
ada disekelilingnya.9
2. Kemampuan menirukan
Pada kemampuan imitasi anak diajarkan untuk meniru gerakan motorik kasar dan
halus. Selanjutnya, urutan gerakan, meniru gambar sederhana atau meniru
tindakan yang disertai bunyi-bunyian.9
3. Bahasa reseptif
Melatih anak agar mempunyai kemampuan mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan
nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata.9
4. Bahasa ekspresif
Melatih kemampuan anak untuk mengutarakan pikirannya, dimulai dari
komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan
ekspresi wajah, gerakan tubuh dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau
berkomunikasi verbal.9
5. Kemampuan praakademis
Melatih anak untuk dapat bermain dengan benar, memberikan permainan yang
mengajarkan anak tentang emosi, hubungan ketidakteraturan, dan stimulusstimulus di lingkungannya seperti bunyi-bunyian serta melatih anak untuk
mengembangkan imajinasinya lewat media seni seperti menggambar benda-benda
yang ada di sekitarnya.9
6. Kemampuan mengurus diri sendiri
Program ini bertujuan untuk melatih anak agar bisa memenuhi kebutuhan dirinya
sendiri. Pertama anak dilatih untuk bisa makan sendiri. Yang kedua, anak dilatih
untuk bisa buang air kecil atau yang disebut toilet traning. Kemudian tahap
selanjutnya melatih mengenakan pakaian, menyisir rambut, dan menggosok gigi.9
Pada sekelompk anak autis dengan gejala-gejala agresivitas, melukai diri
sendiri, hiperaktivitas dan

stereotipi, pemberian obat-obatan yang sesuai dapat

merupakan salah satu bagian dari program terapi yang komprehensif. Juga sering
13

dipakai untuk mengobati kondisi yang terkait seperti depresi, cemas, perilaku
obsesif kompulsif, membantu mencegah self injury dan perilaku lain yang
menimbulkan masalah.10
Pemeriksaan yang lengkap dari kondisi fisik dan laboratorium harus dilakukan
sebelum memulai pemberian obat-obatan. Periode istirahat dari obat, setiap 6 bulan,
dianjurkan untuk menilai lagi apakah obat masih diperlukan dalam terapi.10

Obat-obatan yang digunakan antara lain sebagau berikut:


-

Antipsikotik memblok reseptor dopamin

SSRI merupakan selective serotonin reuptake inhibitor

Methylphenidate menurunkan hiperaktivitas, inatensi

Naltrexone antagonis opioida

Clomipramine antidepresan

Clonidine menurunkan aktivitas noradrenergik.10

Antipsikotik
1. Risperidone efektif untuk terapi anak autis yang disertai dangan agresivitas dan
perilaku yang membahayakan diri sendiri, iritabel. Stereotipik, hiperaktif dan
gangguan komunikasi.
Beberapa antipsikotik atipikal lainnya juga mempunyai efek positif namun
masih diperlukan penelitian lebih lanjut.10
2. Olanzapine (Zyprexa): penelitian pada anak autis 6-16 tahun dengan
menggunakan

olanzapine

menunjukkan

perbaikan

dalam

iritabilitas,

hiperaktivitas, bicara yang berlebihan dan komunikasi. Efek samping yang


sering muncul penambahan berat badan dan mengantuk.10
3. Aripiprazole (Abilify): mempunyai efek terapi yang hampir sama, dengan efek
samping penambahan BB yang lebih minimal dibanding obat dari kelompok
yang sama.10
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
14

SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) termasuk fluoxetine (prozac)


sertralin (zoloft), fluvoxamina (luvox), sangat efektif untuk depresi, cemas dan
obsesif, perilaku stereotipik, juga meningkatkan perilaku secara umum menjadi
lebih terkendali, interest yang terbatas, inatensi, hiperaktif, labilitas mood, proses
belajar, bahasa dan sosialisasi.10
Methylphenidate
Hiperaktivitas dan inatensi merupakan gejala yang sering ditemukan pada anak
dengan gangguan autistik / ASD. Dari penelitian yang dilakukan di dapatkan hasil
sekitar 50% anak dengan ASD yang disertai hiperaktivitas memberi respons
terhadap methylphenidate.10
2.8 Prognosis
Prognosis anak autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
2. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat
dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
3. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
4. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup,
sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang
berbeda-beda.
5. Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan intensif
dan terpadu. Seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan
anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang
berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter
anak, terapis bicara dan pendidik.7
Prognosis untuk penderita autisme tidak selalu buruk. Pada gangguan autisme,
anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu menggunakan komunikasi bahasa
mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan pada otak, autisme tidak
dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat diubah ke arah
positif dengan berbagai terapi.7
Beberapa anak, terutama mereka yang mengalami gangguan bicara, dapat
tumbuh pada kehidupan yang marginal, dapat berdiri sendiri, sekalipun terisolasi
hidup dalam masyarakat, namun untuk beberapa anak, penempatan lama pada
institusi merupakan hasil akhir. Hubungan antara autism dan skizofrenia tidak jelas.
Kasus dimana anak autistic kemudian berkembang menjadi skizofrenia telah
15

dilaporkan, namun jarang. Prognosis yang lebih baik adalah berkaitan dengan
intelegensia yang lebih tinggi, kemampuan berbicara fungsional, dan kurangnya
gejala-gejala dan perilaku aneh. Gejala-gejala sering berubah karena anak-anak
tumbuh semakin tua. Kejang-kejang dan mencelakakan diri sendiri semakin lazim
dengan perkembangan usia.7
BAB III
KESIMPULAN
Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada
diri sendiri. Autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau
dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri
daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu
penderita autisme sering disebut orang yang hidup di alamnya sendiri.
Autisme adalah adanya gangguan dalam bidang Interaksi sosial, komunikasi,
perilaku, emosi, dan pola bermain, gangguan sensoris dan perkembangan terlambat
atau tidak normal. Autisme mulai tampak sejak lahir atau saat masi bayi, biasanya
sebelum usia 3 tahun.
Dalam tatalaksana gangguan autisme, terapi perilaku merupakan yang paling
penting. Metode yang digunakan adalah metode Lovaas. Metode Lovaas adalah
metode modifikasi tingkah laku yang disebut dengan Applied Behavior Analysis
(ABA). Berbagai kemampuan yang diajarkan melalui program ABA dapat dibedakan
menjadi enam kemampuan dasar, yaitu kemampuan memperhatikan, kemampuan
menirukan, bahasa reseptif, bahasa ekspresif, kemampuan praakademis dan
kemampuan mengurus diri sendiri.
Pada sekelompk anak autis dengan gejala-gejala agresivitas, melukai diri
sendiri, hiperaktivitas dan

stereotipi, pemberian obat-obatan yang sesuai dapat

merupakan salah satu bagian dari program terapi yang komprehensif.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Hamid A.Y (2008). Ilmu Kesehatan Jiwa . Jakarta : EGC
2. Jayadi, Muhammad. 2010. Deteksi Dini Gangguan Jiwa pada Anak. Departemen
Psikiatrik FK-UI. Jurnal Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
3. King, A. Laura. 2009 . The Science of Psychology. Edisi 1. University of Missouri at
Columbia
4. Maslim, rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosa Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari
PPDGJ III. Jakarta : Nuh Jaya
5. Behrman, Richard E, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol I. Jakarta: EGC
6. Lubis, Misbah. 2009. Penyesuaian Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Autis.
Diambil dari: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14528/1/09E01232.pdf.
7. Kasran, Suharko. 2003. Autisme: Konsep yang Sedang Berkembang. Bagian Ilmu
Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jurnal Kedokteran Trisakti,
Vol. 22 No. 1; 24-30.
8. Sadock, B. J dan Alcot, V. 2007. Kaplan and Sadocks Synopsis of Psychiatry
Behavioural Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition. University School of
Medicine New York; Chapter 42.
9. Sartika, Dinda. 2011. Karakteristik Anak Autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri
(YAKARI) Medan. Skripsi: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
10. Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto. 2014. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan
Penerbit FK UI

17