Anda di halaman 1dari 5

Afkur Mahesa N

04011381320067

Analisis Masalah
1. Bagaimana penyebab dan mekanisme dari :
- Mual muntah
Rangsangan nyeri pada saraf simpatis di mata kanan peristaltik proton
pump terbuka ion H teraktivasi ion H berikatan dengan ion Cl pada lambung
HCl HCl mengiritasi lambung mual
Jika pH semakin asam dikompensasi oleh lambung dengan mengeluarkan isi
lambung, melalui saraf aferen n. Vagus, dan saraf simpatis impuls dibawa ke
pusat muntah di medula oblongata kemudian dibawa oleh saraf eferen
n.V,VII,IX,X,XI ke traktus gastrointestinal bagian atas, saraf vagus dan saraf
simpatis ke traktus GI yang lebih bawah dan melalui saraf spinalis ke diafragma
dan otot abdomen kontraksi dan peningkatan tekanan di dalam lambung
muntah yang projektil.
Adanya rangsangan nyeri pada mata karena Tekanan Intra Okuler yang
meningkat yang berpengaruh pada saraf simpatis n. Vagus karena n. Vagus adalah
saraf yang paling luas distribusinya dari semua saraf kranialis, nyeri pada mata
kanan menyebabkan tekanan peristaltik meningkat lalu membuka pompa proton
yang akan mengaktifkan ion H, ion H kemudian berikatan dengan Ion Cl pada
gaster yang menghasilkan senyawa HCl, didalam gaster HCl meningkat sehingga
mengiritasi gaster, respon ini menyebabkan nausea. Jika pH gaster semakin asam,
oleh gaster akan dikompensasi dengan mengeluarkan isi gaster melalui nervus
aferen dan nervus vagus dan impuls syaraf simpatis dibawa ke pusat vomitus di
medulla oblongata. Kemudian dibawa oleh saraf eferen nervus V, VII, XI, X, XI
ke traktus gastrointestinal bagian atas, nervus vagus dan saraf simpatis ke traktus
gastrointestinal yang lebih bawah dan melalui saraf spinalis menuju diafragma dan
otot abdomen sehingga terjadi kontraksi dan peningkatan tekanan di gaster, maka
akan terjadi vomitus yang proyektil.
-

Nyeri

Nyeri disebabkan trauma mekanik penekanan benda tumpul sehingga terjadi


peningkatan tekanan intraokuler.
2. Apa saja pemeriksaan tambahan yang diperlukan pada kasus?
a. Pemeriksaan ketajaman penglihatan : menggunakan kartu mata Snellen. Visus
dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.
b. Lapangan pandang : penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler okuler
c. Pengukuran tonografi : untuk mengetahui tekanan intra okuler.
d. Slit Lamp Biomicroskopy : untuk menentukan kedalam COA dan iridocomeal
contract, aqueous flare, dan synechia posterior
e. Pemeriksaan oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler. Untuk menilai

kerusakan saraf optic Adanya depresi n.opticus di belakang mata akibat


penekanan tekanaan intraokular. Terjadi pelebaran n.opticus yang disebut dengan
cuppin. Hal ini berarti kondisi sudah dalam tahap lanjut.
f. Tes provokatif : digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIO normal
atau meningkat ringan.
3. Bagaimana upaya preventif pada kasus?

Learning Issue
FISIOLOGI MATA
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang
memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan
objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak, yaitu rongga
orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk mempertahankan

bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan
suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan
informasi visual ke otak (Junqueira, 2007).
Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka cahaya karena
adanya iris, suatu otot polos tipis berpigmen yang membentuk struktur seperti cincin di dalam
aqueous humour. Lubang bundar di bagian tengah iris tempat masuknya cahaya ke bagian
dalam mata adalah pupil. Iris mengandung dua kelompok jaringan otot polos, satu sirkuler
dan yang lain radial. Karena serat-serat otot memendek jika berkontraksi, pupil mengecil
apabila otot sirkuler berkontraksi yang terjadi pada cahaya terang untuk mengurangi jumlah
cahaya yang masuk ke mata. Apabila otot radialis memendek, ukuran pupil meningkat yang
terjadi pada cahaya temaram untuk meningkatkan jumlah cahaya yang masuk (Sherwood,
2001).
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus dipergunakan
lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa
sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina dikenal sebagai
akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot
siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior.
Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi
otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat
untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk
penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk
penglihatan dekat (Sherwood, 2001).
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan
menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil dapat
dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang konstriksi
maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu
papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator yang terdiri dari
sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai
myoepithelial cells (Saladin, 2006).
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan pupil
sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada
kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita
ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki

mata, pembentukan bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata
(Saladin, 2006).
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour (n=1.33), dan
lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya
berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang
dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina,
tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi potensial
yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini terjadi pada retina (Saladin,
2006).
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory retina.
Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin yang bersamasama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam yang mempertajam
penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi fotoreseptorfotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga lapis neuron yaitu lapisan
fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari setiap neuron ini dipisahkan oleh
plexiform layer dimana neuron dari berbagai lapisan bersatu. Lapisan pleksiform luar berada
diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak
diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic (Seeley, 2006).
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang terbentuk akan
diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract, lateral geniculate dari thalamus,
superior colliculi, dan korteks serebri (Seeley, 2006).
Tajam penglihatan merupakan padanan dari bahasa inggris "Visual Acuity" yang
didefinisikan sebagai buruk atau jelasnya penglihatan yang bergantung pada tingkat kejelasan
upaya pemfokusan di retina. Ketajaman penglihatan merupakan kemampuan sistem
penglihatan untuk membedakan berbagai bentuk (Anderson, 2007). Penglihatan yang optimal
hanya dapat dicapai bila terdapat suatu jalur saraf visual yang utuh, stuktur mata yang sehat
serta kemampuan fokus mata yang tepat (Riordan-Eva, 2009).
Tajam penglihatan dapat dibagi lagi menjadi recognition acuity dan resolution acuity.
Recognition acuity adalah tajam penglihatan yang berhubungan dengan detail dari huruf
terkecil, angka ataupun bentuk lainnya yang dapat dikenali. Resolution acuity adalah
kemampuan mata untuk mengenali dua titik ataupun benda yang mempunyai jarak sebagai
dua objek yang terpisah (Leat, 2009).

Daftar Pustaka
Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.
Junqueira, LC., 2007. Hystolgi Dasar: Teks dan Atlas. Edisi 10. Jakarta: EGC
Sherwood lauralee., 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC
Saladin, K.S., 2006. Anatomy & Physiology: The Unity of Form and Function. 3rd ed. New
York: McGraw-Hill
Seeley, R.R., 2006. Anatomy and Physiology. 7th ed. New York: McGraw-Hill
Anderson, D.M., 2007. Dorlands Illustrated Medical Dictinonary. 31st ed. Philadephia:
Saunders
Riordan-Eva, P., 2009. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury. Ed. 17. Jakarta: EGC
Leat, S.J., 2009. Development of Visual Aculty and Contrast Sensitivity in Children. J Optom
2