Anda di halaman 1dari 19

Sistem

rujukan
MI-6

TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Pembelajaran Umum
-Peserta mampu menjelaskan proses rujukan
Tujuan Pembelajaran Khusus
-Peserta mampu menjelaskan sistem rujukan.
-Peserta mampu mengidentifikasikan fasilitas
kesehatan dan fasilitas sosial rujukan layanan
narkotika .
-Peserta mampu mengisi formulir rujukan.

Sistem Rujukan Kesehatan


Adalah :

suatu tatanan kesehatan yang


memungkinkan terjadinya penyerahan
tanggung jawab secara timbal balik atas
timbulnya masalah dari suatu kasus
atau masalah kesehatan masyarakat,
baik secara vertikal maupun horizontal,
kepada yang berwenang dan dilakukan
secara rasional.

Menurut tata
hubungannya, sistem
rujukan
terdiri: dari
,antar
rujukan internal
horizontal
unit
rujukan eksternal: horizontal dan
vertikal
pkm- RS - lembaga
rehab
sosial

Institusi yang ditunjuk oleh


Kementrian Kesehatan dan
Sosial
RSU, RSJ , RSKO dan atau lembaga rehabilitasi
medis dan rehabilitasi sosial

dua level puskesmas yang menjadi tempat wajib


lapor. (1) lewat program terapi rumatan metadon
(PTRM), dan (2) yang hanya menjadi tempat
konseling saja.
Memberikan
Pelayanan
untuk
gangguan
ketergantungan Narkotika dengan kondisi klinis
tertentu sesuai sarana, prasarana yang tersedia.

Penugasan
Identifikasi institusi rujukan (rehab medis,
sosial, vokasional, bantuan hukum) di
propinsi masing-masing

Kapan klien dirujuk?


apabila terdapat kondisi klinis yang
sulit diatasi baik secara fisik maupun
psikiatris.
Contoh kasus

Sistem Rujukan

untuk pengguna narkotika lebih kepada fasilitas


yang tersedia di suatu layanan untuk kasus
narkotika bukan karena klien memerlukan
tindakan atau intervensi yang lebih canggih.

timbal balik- kondisi klinis klien sudah stabil


maka RS yang menjadi rujukan dapat mengirim
kembali ke rumah sakit awal/puskesmas yang
mengirim agar pengobatan bisa berlanjut.

Berbagai jenis terapi gangguan penggunaan


Napza sesuai dengan diagnosis dan dilakukan
di rawat jalan yaitu
Terapi simtomatik
Konseling adiksi/ konseling individu
( termasuk pengurangan resiko )
Motivational interviewing ( motivational
enhancement therapi )
Pencegahan kekambuhan
Rujukan pelayanan spesialistik bilamana perlu
( psikiatri, penyakit dalam,neurologi,dll )
Melihat pada standar pelayanan
komorbiditas.

Pilihan lainnya:
Cognitive behaviour therapy
Konseling keluarga
Konseling pasangan/marital
Konseling vocasional
Family support group

Proses rujukan mengikuti mekanisme


sebagai berikut:
Institusi
penerima
wajib
melakukan kontak komunikasi

lapor

membuat surat rujukan


Institusi
rehabilitasi
medis
atau
rehabilitasi sosial yang dituju memberi
konfirmasi

Kriteria petugas :
Memiliki kompetensi sesuai jenis
layanan yang diberikan

Kriteria Klien berdasarkan tempat


rujukan

Tanggung jawab koordinasi


kementrian kesehatan /kementrian sosial/ BNN
pada
kelompok
kerjanya
yang
sebaiknya
melibatkan dinas kesehatan provinsi , rumah sakit
umum, RSJ ,puskesmas ,klien sendiri, organisasi
berbasis keagamaan dan LSM setempat.

Kemudahan akses sarana


rujukan
Tempat dan lokasi rehabilitasi medis
dan sosial serta mempunyai sarana
pelayanan yang memadai, mudah
dijangkau oleh masyarakat dan dapat
memanfaatkan
tehnologi
dan
informatika adalah yang diharapkan
dari tempat tempat rujukan wajib lapor.

Ketersediaan layanan rehabilitasi dalam jajaran /dukungan


kemenkes:

Rehabilitasi
rawat
detoksifikasi:

jalan,

rawat

inap

dan

-RSKO dan 32 RSJ di 26 provinsi ( kecuali NTT,


papua barat, maluku utara, Gorontalo, sulawesi
barat, Banten,kepulauan Riau)
Program therapi rumatan metadon ( 54 klinik di 12
provinsi):
-Tersedia di DKI,Jabar, Banten, DIY, Jatim ,
Bali,Sulsel, Kalbar, Sumut, Sumsel, kep Riau
-RSKO, 4 RSJ,12 RSU, 29 Puskesmas, 8 lapas /rutan