Anda di halaman 1dari 12

UJI TOKSISITAS SUB-LETHAL

Dinur Piranto, Masitha Hafitri PH, Yohannes Roy Silalahi


Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21 Jatinangor, Jawa Barat 45363
Email : pirantodinur@outlook.co.id
ABSTRAK
Penggunaan pestisida di bidang pertanian yang dibuang ke perairan dapat
berpengaruh terhadap kualitas air dan organisme. Tujuan praktikum ini dilakukan untuk
memahami dan mampu melaksanakan persiapan, pemaparan, dan pengamatan uji toksisitas
sublethal, dan memahami dan mampu melaksanakan analisis data hasil pengamatan
dilaksanakan pada bulan November 2015 di Labolatorium FHA Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan unpad. Pada pelaksanaan uji toksisitas yang pertama dilakukan yakni persiapan uji
sublethal dan pelaksaan uji sublethalnya. Hasilnya Survival Rate dengan organofosfat
terendah tedapat pada ikan sedang yang memiliki konsentrasi 0,317 sedangkan survival
tertinggi pada konsentrasi 0,158. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi organofosfat
maka semakin rendah survival tarenya. Begitu pula dengan gerak operkulum yang semakin
tinggi konsentrasi organofosfat maka gerak operkulum semakin cepat. Faktor-faktor yang
mempengaruhi hal tersebut diantaranya perbedaan intensitas aerasi, kotornya akuarium, cara
pengambilan ikan oleh praktikan, dan pemberian pakan ikan yang tidak seragam waktunya.
Kata Kunci: Pestisida, Sub-Lethal, Survival rate, Organofosfat.
ABSTRACT
The use of pesticides in the agriculture sector disposed to the waters can influenced
the quality of water and an organism.The purpose of lab work this is done to understand and
capable of performing preparation, exposure, and observation test sublethal toxicity, and
understanding and capable of being conducted an analysis data observation in november
2015 in the integrated service on fha the faculty fisheries and of marine science unpad.On
the implementation of the test its toxicity its first one was done the preparation test sublethal.
The results survival benchmark rate and organophosphate lowest tedapat on fish while
having concentration 0,317 while survival on the highest concentration 0,158.This shows the
higher organophosphate the low survival tare. So it is with motion an operculum the higher
concentration organophosphate so motion operculum the sooner. Factors that affects this of
them distinction intensity aeration, gross aquarium, way the fish by one who performs lab
work, and the provision of feed on fish that is not uniform time.
Key Words: Pesticides, Sub-Lethal, Survival rate, Organophosphate.

PENDAHULUAN

Limbah yang masuk ke perairan,


salah satunya adalah limbah yang berasal
dari pertanian yakni pestisida. Berbagai
pestisida digunakan sebagai pengendali
hama untuk meningkatkan produksi
pertanian. Pestisida yang masuk dalam
jumlah yang besar dapat bersifat racun
bagi biota-biota yang hidup di perairan,
antara lain adalah ikan-ikan. Jika pestisida
tersebut termasuk dalam jenis pestisida
yang dapat larut dalam air, terbuang ke
perairan secara sengaja ataupun tidak,
dapat mencemari perairan dan dapat
mempengaruhi
antara
lain
proses
metabolisme, organ tubuh, tingkah laku,
siklus hidup, perkembangan embrio,
pertumbuhan sel atau jaringan dari
organisme yang hidup di perairan tersebut.
Penelitian toksisitas sangat penting untuk
mengetahui
batas
toksisitas
dan
konsentrasi aman, sehingga akan ada
kerugian minimum untuk biota air
kedepannya. Di antara beberapa penelitian
tentang
toksisitas,
bioassay
yang
merupakan salah satu metode yang paling
umum digunakan dalam studi lingkungan
akuatik dengan organisme yang sesuai.
Beberapa studi telah dilakukan
dalam menilai toksisitas pestisida terhadap
biota perairan terutama ikan. Penggunaan
ikan sebagai bioassay karena ikan dapat
beradaptasi terhadap kondisi laboratorium
serta ketersediaan mereka melimpah dan
tingkat bervariasi kepekaan terhadap zat
beracun. Pestisida dapat dibagi menjadi 4
golongan yaitu organoklorin, organofosfat,
karbamat serta pestisida lain yang
mengandung
substansi
organik.
Organofosfat sangat beracun bagi ikan dan
non-target organisme air dan racun saraf
yang kuat, karena mereka menghambat
aktivitas AchE. Pengaruh secara langsung
maupun secara tidak langsung akibat
adanya pencemaran pestisida akan
mengganggu kualitas air, sehingga
kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan
juga akan terganggu. Pengaruh secara
langsung disebabkan oleh akumulasi
pestisida dalam organ-organ tubuh akibat
tertelan bersama-sama makanan yang

terkontaminasi, atau akibat rusaknya


organ-organ pernafasan sehingga dapat
mematikan ikan budidaya dalam jangka
waktu tertentu, sedangkan secara tidak
langsung adalah menurunnya kekebalan
tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya
pertumbuhan.
Beberapa penelitian menyelidiki
toksisitas organofosfat pada diazinon bagi
ikan diantaranya : Setiap tingkat biota
memiliki perbedaan dalam laju konsumsi
oksigen, karena pengambilan oksigen
tergantung pada intensitas metabolisme
yang dipengaruhi oleh berat tubuh;
Pengaruh lanjut dari bioakumulasi
pestisida
secara
signifikan
dapat
menurunkan laju pertumbuhan ikan.
Kelainan pada perilaku ikan dalam
paparan organofosfat dapat mengakibatkan
kegagalan menyimpan energi untuk proses
metabolisme, yang dapat menyebabkan
stress berat, dan menyebabkan kematian
ikan.
METODE PRAKTIKUM
Praktikum pengujian toksisitas akut
terhadap logam berat timbal ini dilakukan
pada hari Rabu tanggal 11 November 2015
pukul 14.30-16.00 WIB. Bertempat di
Laboratorium FHA Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Kampus Jatinangor.
Metode yang dilakukan adalah
metode uji toksisitas akut dengan
menggunakan alat dan bahan berupa bak
fiber, akuarium, selang dan batu aerator,
pompa aerasi, saringan ikan, timbangan,
selang siphon, PH meter dan DO meter,
Hand counter, kertas label, tissue
laboratorium, sarung tangan, Ikan uji
(berbagai ukuran), pestisida (Organofosfat,
karbamat, pyretroid sintetik), pakan ikan.
Prosedur yang dilakukan pada
praktikum ini yaitu, persiapan uji sublethal
diantaranya, pertama ikan uji di aklimitasi
di dalam bak fiber,membilas akuarium,
mengisi dengan air 15L, dan memasang
alat aerasi. Adapun Pelaksanaan uji
sublethal yaitu, membuat konsentrasi
bahan uji (organofosfat, karbamat,
piretroid), memasukkan 10 ekor ikan

berukuran sedang, menimbang bobot awal,


memasukkan bahan toksik ke dalam
akuarium sebesar 25%, 50%, 75% dan
mengaduk perlahan hingga tercampur serta
mengamati.
HASIL DAN DISKUSI

melainkan suhu juga mempengaruhi laju


respirasi ikan dan kadar oksigen dalam air.
Selain faktor- faktor tersbeut, kemampuan
praktikan yang berbeda-beda dalam
merawat kebersihan akuarium, sehingga
perlakuannya tidak sama dan sulit untuk
dilakukan perbandingan. Kemampuan cara
Gerak Operkulum Dengan Pemaparan Organofosfat pengambilan
ikan
yang
dilakukan
praktikan juga berbeda-beda, tidak sedikit
130
praktikan yang sampai mengaduk-aduk
128
126
akuarium sehingga ikan menjadi stress dan
124
dapat mengganggu atau menambah nilai
122
kesalahan dalam menghitung gerakan
Jumlah Gerak Operkulum Per Menit 120
operculum ikan atau menilai aktivitas
118
gerak ikan yang merupakan indikator
116
masuknya kandungan toksik kedalam ikan
114
112
uji.
Faktor-faktor
inilah
yang
110
menyebabkan nilai Survival Rate yang
sangat beragam dan sulit untuk diambil
Dalam praktikum ini, banyak sekali faktorkesimpulan bahwa zat manakah yang lebih
faktor yang dapat mempengaruhi atau
berbahaya untuk ikan dalam suatu
memperbesar kesalahan dalam hasil
perairan. Hal ini dipertegas dengan table
praktikum, seperti intensitas aerasi,
yang disajikan pada Tabel 1.
kotornya akuarium, cara pengambilan ikan
Tabel 1. Grafik Gerak Operkulum
oleh praktikan, pemberian pakan ikan yang
tidak seragam waktunya, kesalahan hitung
Gerak Operkulum
gerakkan operculum, ataupun metode
140
pengamatan aktivitas gerak atau gejala
135
klinis yang sangat objektif. Pada intensitas
130
aerasi dan tingkat kebersihan akuarium
dapat mempengaruhi DO atau oksigen
125
Jumlah Gerak operkulum per menit
terlarut yang terkandung di akuarium
120
tersebut. Gerakan operkulum merupakan
115
indikator laju respirasi dan kadar oksigen
110
terlarut dalam air. Rendahnya jumlah
105
oksigen dalam air menyebabkan ikan harus
memompa sejumlah besar air ke
Pada grafik diatas menunjukkan
permukaan alat respirasinya untuk
bahwa rata-rata gerak operkulum semakin
mengambil oksigen, selain volume besar
meningkat dari hari ke 1 sampai hari ke 7.
yang dibutuhkan energi pemompaan yang
Peningkatan gerak operkulum itu di
besar juga dibutuhkan. Akan tetapi, rendah
sebabkan karena adanya organofosfat yang
atau tinggi kadar oksigen akan memiliki
mulai mengkontaminasi medium dan
pengaruh yang kecil jika fisiologis ikan
adanya amonia yang terakumulasi di
terganggu. Suhu air dalam akuarium tidak
aquarium. Sedangkan gerak operkulum
hanya mempengaruhi kelarutan oksigen
akan di pengaruhi oleh tingkat konsentrasi
tetapi
juga
mempengaruhi
laju
organofosfat itu dapat terlihat di tabel 2.
metabolisme respirasi ikan. Kadar pH dan
Tabel 2. Grafik Gerak Operkulum Dengan
suhu dapat mempengaruhi kelangsungan
Pemaparan Organofosfat
hidup ikan uji, sehingga kematian ikan uji
Pada Tabel diatas menunjukkan
tidak hanya dikarenakan zat toksik
nilai gerak operkulum yang meningkat

kecuali pada kontrol dan konsentrasi


organofosfat 0,283. Namun seharusnya
semakin tinggi konsentrasi bahan toksis
maka gerak operkulum juga semakin
sering. Adapun Survival rate ikan mas
ukuran sedang yang bertahan pada
konsentrasi 0,158 dibanding kontrol.
Dapat di lihat pada tabel 3.
Tabel 3. Grafik Survival Rate Dengan
Pemaparan Organofosfat

Pengamatan secara visual selama


pengamatan terlihat bahwa ikan uji
mengalami perubahan tingkah laku yang
disebabkan karena adanya pengaruh dari
organofosfat, ikan yang terkena racun
dapat diketahui dengan gerakan hiperaktif,
menggelepar, lumpuh dan kemudian mati.
Secara klinis hewan yang terkontaminasi
racun memperlihatkan gejala stress bila
dibandingkan dengan kontrol, ditandai
dengan menurunnya nafsu makan, gerakan
Survival Rate Dengan Pemaparan Organofosfat kurang stabil, dan cenderung berada di
dasar. Hal ini diduga sebagai suatu cara
100%
untuk memperkecil proses biokimia dalam
80%
tubuh yang teracuni, sehingga efek lethal
yang terjadi lebih lambat.
60%
Survival Rate (% )
Konsentrasi
0,283
memiliki
40%
konsentrasi survival rate 20% karena
20%
konsentrasi ini cukup tinggi. Hasil selang
konsentrasi menunjukkan bahwa ikan mas
0%
(Cyprinus carpio Linn) mempunyai batas
toleransi terhadap perbedaan konsentrasi
Pada grafik diatas survival rate tertinggi
pestisida yang diberikan. Semua ikan uji
pada konsentrasi 0,158 dan terendah pada
masih mampu bertahan hidup pada
konsentrasi 0,317 dan kontrol hal tersebut
konsentrasi 0,158 mg/L dan 2,576 mg/L
di sebabkan karena ikan yang lemah dan
selama selang 7 hari. Pada konsentrasi
stress sehingga pada kontrol juga susah
0,283 mg/L, beberapa ekor ikan sudah
banyak yang mati. Sedangkan survival rate
tidak
mampu
bertahan
terhadap
pada konsentrasi 0,283 hanya 20%, dapat
konsentrasi pestisida yang diberikan pada
dilihat pada tabel 4.
selang 3 hari, namun sebagian ikan mas
Tabel 4. Grafik Survival Rate Konsentrasi
masih mampu bertahan hidup hingga 7
0,283
hari. Ikan mas sudah tidak mampu lagi
bertahan hidup pada konsentrasi 0,317
Survival Rate
mg/L, semua ikan mati dalam waktu
kurang dari 2 hari pemberian pestisida.
100%
Sehingga dapat diketahui bahwa pestisida
90%
organofosfat mempunyai nilai ambang atas
80%
0,317, sedangkan konsentrasi ambang
bawahnya adalah 0, 158 mg/L ikan uji
70%
masih hidup dalam waktu 7 hari.
60%
Seperti pada yang dijelaskan
sebelumnya, perlakuan praktikan masih
50%
Survival Rate (% )
menjadi faktor utama yang mempengaruhi
40%
Survival Rate pada ikan. Selain gerak
30%
operculum dan aktivitas gerak yang
diamati, gejala klinis berupa adanya lendir
20%
pada tubuh ikan juga diamati. Gejala klinis
10%
berupa adanya lendir ini merupakan respon
eskresi ikan akibat paparan pestisida.
0%
Secara umum, ikan mas melakukan respon

berupa peluruhan lendir menjadi encer


sehingga tampak terjadi peningkatan
jumlah lendir pada tubuhnya. Pada
praktikum ini gelaja klinis berupa lendir
ini masuk ke dalam taraf cukup berlendir.
Hal ini menunjukkan bahwa ikan tersebut
mengalami stress akibat organofosfat yang
berada di lingkungan hidupnya. Lendir
yang encer ini membuat insang ikan
menjadi rusak, sehingga ikan akan
melakukan gerakan operkulum lebih cepat
akibat susah mengikat oksigen. Gejala
klinis ini merupakan gejala abnormal yang
terjadi pada ikan mas akibat paparan
organofosfat. Akan tetapi, penilaian
adanya lendir banyak atau tidak, kembali
lagi kepada praktikan yang melakukan
praktikum.
Pada praktikum ini, praktikan juga
mengukur parameter lingkungan seperti
suhu, pH, dan DO. Suhu mempengaruhi
aktifitas
ikan,
seperti
pernapasan,
pertumbuhan dan reproduksi. Toksisitas
suatu senyawa kimia dipengaruhi oleh
derajat keasaman suatu media. Nilai pH
penting untuk menentukan nilai guna suatu
perairan. Batas toleransi organisme air
terhadap pH adalah bervariasi tergantung
suhu, kadar oksigen terlarut, adanya ion
dan kation, serta siklus hidup organisme
tersebut. Sedang titik batas kematian
organisme air tehadap pH adalah pH 4 dan
pH 11. Kandungan DO di kolam
tergantung pada suhu,banyaknya bahan
organik, dan banyaknya vegetasi akuatik.
Secara keseluruhan, nilai suhu baik
pada media ikan mas mengalami
penurunan. Hal ini bisa terjadi dari proses
aerasi media uji yang terus-menerus
dilakukan sehingga kadar oksigen yang
terlarut melimpah. Meskipun kadar
oksigen melimpah, tetapi ikan mengalami
kesulitan dalam mengikat oksigen. Hal ini
dapat terjadi akibat adanya lendir encer
yang menyelimuti tubuh ikan sehingga
ikan harus mengeluarkan tenaga yang
lebih besar untuk dapat mengikat oksigen
dari lingkungannya. Berbeda dengan nilai
suhu, kadar pH secara keseluruhan
mengalami peningkatan sama halnya

dengan
kadar
oksigen.
Hal
ini
menunjukkan adanya logam berat pada air
membuat perairan menjadi basa sehingga
akan meningkatan produktivitas mukus
atau lendir pada tubuh ikan. Produksi
mukus pada ikan akan menyelimuti
tubuhnya termasuk insang, sehingga ikan
akan mengalami kesulitan dalam mengikat
oksigen yang ditandai dengan gejala batuk
pada ikan. Meski demikian, kesalahan
pada praktikan menjadi faktor utama yang
mempengaruhi
pada
pengamatan
praktikum ini.
SIMPULAN
Survival Rate dengan organofosfat
terendah tedapat pada ikan sedang yang
memiliki konsentrasi 0,317 sedangkan
survival tertinggi pada konsentrasi 0,158.
Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi
organofosfat maka semakin rendah
survival tarenya. Begitu pula dengan gerak
operkulum
yang
semakin
tinggi
konsentrasi organofosfat maka gerak
operkulum semakin cepat. Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
hal
tersebut
diantaranya perbedaan intensitas aerasi,
kotornya akuarium, cara pengambilan ikan
oleh praktikan, dan pemberian pakan ikan
yang tidak seragam waktunya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada Tuhan YME,
kedua orang tua, dosen Mata Kuliah
Ekotoksikologi
Perairan,
asisten
laboratorium serta rekan-rekan sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan
jurnal Uji Toksisitas Sub-Lethal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Maretha Mega Damayanty dan Nurlita
Abdulgani.
2013.
Pengaruh
Paparan Sub Lethal Insektisida
Diazinon 600 EC terhadap Laju
Konsumsi Oksigen dan Laju
Pertumbuhan
Ikan
Mujair
(Oreochromis mossambicus). Jurnal
sains dan seni pomits Vol. 2, No.2,
(2013)
2337-3520
(2301-928X
Print).
Rudiyanti, Siti. 2009. PERTUMBUHAN
DAN SURVIVAL RATE IKAN MAS
(Cyprinus Carpio Linn) PADA

BERBAGAI KONSENTRASI
PESTISIDA REGENT 0,3 G. Jurnal
Saintek Perikanan Vol. 5, No. 1, 2009,
49 54. Jurusan Perikanan, Fakultas
LAMPIRAN

Perikanan dan Ilmu Kelautan,


Universitas Diponegoro.
Fujaya, Yushinta. 2004. Fisisologi Ikan.
Jakarta: P.T Rineka Cipta.

Lampiran 1. Prosedur Pelaksanaan Uji Toksisitas Sub-Lethal


1. Persiapan Uji Sub-lethal
Ikan uji diaklimatisasi selama 3 hari

Akuarium dibersihkan dan dibilas dengan air bersih

Akuarium diisi air sebanyak 15 liter

Alat aerasi beserta perlengkapannya disetting pada posisi yang sesuai dan volume
aerasi diatur sesuai kebutuhan

2. Pelaksanaan Uji Sub-lethal

Dibuat konsentrasi stock dari bahan uji masing-masing sebesar 1000 mg/L

DImasukkan 5 ikan uji sesuai dengan kelas ukuran

Ditunggu beberapa saat hingga ikan uji terlihat sudah beradaptasi

Diambil secara acak 3 ikan uji

Ditimbang bobotnya

Bahan uji ditambahkan ke dalam akuarium

3. Pengamatan Uji Sub-lethal


Ikan uji diamati 1 jam pertama

Pengamatan harian selama satu minggu (bukaan operculum, aktivitas renang, lendir)

Pemberian pakan sesuai perhitungan bobot dan biomassa ikan

Disifon namun sedikit saja agar tidak mengurangi konsentrasi

Dibuat grafik gerak operculum serta grafik Survival Rate (SR)

Lampiran 2. Hasil Uji Sub-Lethal


Tabel 2. ORGANOFOSFAT Kelautan

Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Ulangan
1

konsentrasi

Gejala Fisiologis
GO Rata-Rata

AG Rata-Rata

62
126.3
103
104.3
132.3
125.25
127.1
116.875
129.4
122
139
71
107.6
131.485
114.6
102.3
127.3
137.93
127.5
69

++
++
++
++
++
++
+++
+
++
+++
+++
++
++
++
+
+
++
++
++
++

0.317
0.283
5.51
D
Kontrol
A
B
0.158
2.756
Kontrol
0.11
8.3
5.5
0.238
Kontrol
0.317
8.3
5.5
2.756
Kontrol

Gejala Klinis

SR
(%)

pH

DO

++
++
++
++
+++
++
+++
++
++
+
+
++
++
++
+
+
+++
++
++
++

0
0
0
20
0
0
20
100
80
0
0
0
0
0
40
0
0
0
0
60

27
26
25
27
25 , 26
26
27
25
25;26
27
27
26
25/25
26
24,5;21
26
25.5
27
25
26

8.62
7.74
7
8.65
7.6
7.75
7.83
8.66
7.84
7.72
7
8.64
7
7.75
7.8
8.65
7.97
7.77
7.93
8.95

2
1.4
1.5
2
1.3
1.6
1.7
1.7
1.2
1.4
1.7
18
1.3
1.4
1.3
1.5
1.2
1.4
1.4
2.1

Tabel 3. PYRETROID SINTETIK


Kelompok

Ulangan

konsentrasi

Gejala Fisiologis

Gejala Klinis

SR
(%)

GO Rata-Rata

AG Rata-Rata

0,20 ppm
B

84
60

++
+

+
+

0
0

26
25

0,10 ppm

60

++

++

25

4
5

0,05 ppm
Kontrol

89
96

++
++

+
++

60
100

26
24,5 ; 26

0,20 ppm
0,15 ppm

75
278

++
+

++
++

0
0

26
27

0,10 ppm
0,05 ppm

61
95

+
++

+
+

0
60

28
25.5

Kontrol
0,2 ppm

144
78

++
++

++
++

0
0

27
26

0,15 ppm
0,10 ppm

51
67

++
++

++
++

0
0

26
25

1
2

6
7

8
9
10
11
12
13

pH

D
O
2.5

7,
83
7.8
2
7.9
9
7.8
7.7
7

2.5
-

2.5
7.7
1
7.8
6
7.6

2.5
-

14
15

0,05 ppm
Kontrol

43
127

++
++

++
+

0
80

27
25.26

0,2 ppm
0.15
0,10 ppm

79
158
83

++
+
++

++
+++
++

0
0
0

26
25
26

19

0,05 ppm

90

++

20

26

20

Kontrol

103

++

++

100

26

16
17
18

9
7.5
7.8
8

0
2.5

7.9
2
7.9
6
2.5

Tabel 4. KARBAMAT
Kelompok
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Ulangan
1

konsentrasi

Gejala Fisiologis
GO Rata-Rata

AG Rata-Rata

Gejala
Klinis

SR
(%)

pH

DO

115

++

+++

40%

27 ; 26

B
C
D
Kontrol
A
B
C
D
Kontrol
A
B
C
D
Kontrol

254.3
69.57
153
104
132
130
75
104
131,125
124
230
82
79.9
114

+++
++
++
++
++
++
++
+
+
+++
++
++
++
+++

+++
+
++
++
+++
++
+++
++
+
+++
++
+++
++
+

0%
40%
40%
100%
0%
0%
0%
0%
60%
0%
0%
60%
0%
60%

25
18:27
27;26
20
25
26
26
19
25
25
26
19;21
25
19; 24

9,49 ;
4,62
6.5
7,86:
8.17
7.59
9.2
8.2
12.36
7.69
0:28
9.2
10.5
7,81;
7.4
8,01;

4,2 ;
2.7
5.2
4,3;
6.3
16:48
6.8
4.4
7.1
1:40
2.7
4.4
7,3;
8.16
7,3;

A
B
C
D
Kontrol

69
111
97
104
137

++
++
++
++
+++

++
++
+
+
++

0%
60%
60%
40%
100%

27
18;28
27
18;24
25;21

6.9
7.68
9.4
7.71
9.6

4.4
7.8
4.8
7.5
4.47

Tabel 5. ORGANOFOSFAT PERIKANAN A


Kelompok
1
2
3

Ulangan
1

konsentrasi

Gejala Fisiologis

Gejala Klinis

SR
(%)

pH

DO

7.8
7
7.8
7.8

3.2

GO Rata-Rata

AG Rata-Rata

0.317

95

++

++

0%

25

0.238
0.158

127
104

++
+

++
+

20%
0%

26.2
24

8.2
7.7

0.079

79

++

++

20%

25

Kontrol

100

++

++

60%

24

0.317
0.238

164
136.63

+
+

+
+++

0%
20%

25.5
27

0.158

83

+++

++

40%

0.079

131

+++

+++

40%

26,
28
25

10

Kontrol

138

++

++

20%

26

0.317

128

33%

26

12
13

0.238
0.158

106
93.95

++
++

++
+++

80%
0%

26
25

14
15

0.079
Kontrol

136.66
131

++
+++

+++
+++

0%
100%

25.2
24

0.317

92

++

++

100%

27

17

0.238

89

0%

24

18
19

0.158
0.079

108
78.33

++
+++

+++
+++

0%
0%

27
24

20

Kontrol

122

++

++

20%

25

6
7

11

16

8
7.8
5
7.9
6
6.9
7.6
9
7.8
6
7.8
3
7.7
3
7.7
2
7.8
7.7
4
7.6
7.9
3
7.7
8
7.8
5
7.6
7.9
1
7.7
8

Table 6. Gerak Operculum Kelompok


Waktu
Dedah

Gejala Fisiologis
Gerak Operculum
Aktivitas Gerak

Gejala
Klinis

Mortalitas

Survival
Rate

1 Jam

104

++

100%

1 Hari

129

++

100%

2 Hari

129

100%

3 Hari

139

+++

20%

4 Hari

0%

5 Hari

6 Hari

7 Hari

Rata-rata

125.5

++

++

0%

2
0.3
0
7.4
6.9
2.1
1.7
7.2
7.4
1.5
1.9
7
6.9
2.5
2.2
6.5
1.7
7

Lampiran 3. Hasil Dokumentasi


Gambar

Keterangan

Ikan mas ukuran besar

Menimbang pakan

Pemberian pakan pada ikan

Mengukur volume bahan toksik

Pemberian bahan toksik

Pengukuran DO pada air akuarium