Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktik belajar lapangan pada blok ini merupakan kelanjutan dari
praktik belajar lapangan pada blok-blok sebelumnya. Praktik belajar
lapangan ini ditekankan pada kegiatan health survey sampai penyuluhan dan
mengintegrasikan keterampilan yang sudah didapatkan dikampus kepada
masyarakat secara langsung.
Penilaian praktik belajar lapangan ini didasarkan pada pencapaian
kompetensi sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Penilaian
mahasiswa selama praktik belajar lapangan ditinjau dari aspek profesional
dan perilaku, keterampilan klinik, dan pengetahuan yang terdapat dalam
Log Book serta presentasi laporan health survey.
Pada kegiatan health survey yang kelompok kami lakukan di puskesmas
Larangan, kami mendapatkan penyakit hipertensi yang cukup banyak
ditemui pada pasien-pasien terutama pasien dewasa dan lanjut usia yang
berkunjung ke puskesmas tersebut.
Dengan data tersebut dan ditunjang dari hasil kuesioner dan wawancara
yang kami lakukan pada pasien-pasien yang berkunjung ke puskesmas
Larangan kemudian kami melakukan penyuluhan Hipertensi di puskesmas
tersebut.

1.2 Tujuan Praktek Belajar Lapangan


Tujuan praktik belajar lapangan pada blok Research, Statistic and
Epidemiology dengan kegiatan Health Survey adalah:
1. Mahasiswa mampu membuat kuesioner
2. Mahasiswa mampu melakukan wawancara
3. Mahasiswa mampu melakukan penyuluhan

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Dasar pembuatan kuesioner


2.1.1 Hipertensi
3.1.1 Definisi Hipertensi
Tekanan darah berubah-ubah sepanjang hari sesuai dengan
situasi. Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas
atau sewaktu melakukan aktivitas fisik dan turun selama tidur. Setelah
itu berlalu, tekanan darah akan kembali menjadi normal. Apabila
tekanan darah tetap tinggi maka disebut sebagai hipertensi atau tekanan
darah tinggi (Hull, 1996).
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang
memberikan gejala yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti
stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah),
dan left ventricle hypertrophy (untuk otot jantung). Dengan target di
otak yang berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang
membawa kematian yang tinggi (Bustan, 2000).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan
diastolik yang menetap. Pada waktu anda membaca tekanan darah
bagian atas adalah tekanan darah sistolik, sedangkan bagian bawah
adalah tekanan diastolik. Tekanan sistolik (bagian atas) adalah tekanan
puncak

yang

tercapai

pada

waktu

jantung

berkontraksi

dan

memompakan darah melalui arteri. Sedangkan tekanan diastolik (angka


bawah) adalah tekanan pada waktu jatuh ke titik terendah dalam arteri.
Secara sederhana seseorang disebut hipertensi apabila tekanan darah
sistolik di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih besar dari 90
mmHg. Tekanan darah yang ideal adalah 120/80 mmHg (Sunardi,
2000).

3.1.2Klasifikasi Hipertensi
1. Klasifikasi Berdasarkan Etiologi
a) Hipertensi esensial/primer.
Tidak jelas penyebabnya dan merupakan sebagian
besar 90% dari seluruh kejadian hipertensi. Hipertensi
esensial adalah penyakit multifaktoral yang timbul terutama
karena

interaksi

antara

faktor-faktor

risiko

tertentu

(Yogiantoro, 2006). Hipertensi primer ini tidak dapat


disembuhkan tetapi dapat dikontrol (Ditjen Bina Kefarmasian
dan Alat Kesehatan, 2006). Menurut Gunawan (2004),
penyebab utama hipertensi yaitu gaya hidup modern, sebab
dalam gaya hidup modern situasi penuh tekanan dan stres.
Dalam kondisi tertekan, adrenalin dan kortisol dilepaskan ke
aliran darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan
darah. Gaya hidup yang penuh kesibukan juga membuat orang
kurang berolah raga dan berusaha mengatasi stresnya dengan
merokok, minum alkohol atau kopi sehingga risiko terkena
hipertensi. Kedua yaitu pola makan yang salah dan yang ketiga
adalah berat badan berlebih.

b) Hipertensi sekunder
Hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, sering
berhubungan dengan beberapa penyakit misalnya ginjal,
jantung koroner, diabetes, kelainan sistem syaraf pusat. Jumlah
kejadiannya mencapai 10% (Sunardi, 2000).

2. Klasifikasi Berdasarkan Derajat Hiptertensi


Berikut ini adalah klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa
berdasarkan JNC-VII (The Joint National Committee On
Prevention, Detection Evaluation, and Treatment Of High Blood
Pressure (JNC 7).

Table 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7

Klasifikasi

TDS

TDD

Tekanan

(mmHg)

(mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prahipertens

120-139

80-89

140-159

90-99

160

100

Darah

i
Hipertensi
derajat 1
Hipertensi
derajat 2

Sumber : Yogiantoro, 2006


3.1.3 Diagnosis Hipertensi
Sebelum dibuat diagnosis hipertensi diperlukan pengukuran
berulang paling tidak pada tiga kesempatan yang berbeda selama
empat

sampai

enam

minggu.

Pengukuran

dirumah

dapat

menggunakan sfigmomanometer yang tepat sehingga menambah


jumlah pengukuran untuk analisis (Gray, 2005).
Sebuah komite yang dibentuk oleh Experimental Medical Care
Review Organisation (EMCRO) di Amerika menambahkan bahwa
untuk menentukan kriteria hipertensi yang menetap adalah apabila
tekanan darah tetap tinggi setelah diperiksa tiga kali berturut-turut
dengan interval tidak kurang dari satu minggu (Soelaeman, 1980).
Sedangkan menurut Depkes (2006), upaya deteksi faktor risiko
penyakit hipertensi dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai
berikut :
1.

Wawancara dengan menggunakan kuesioner yang meliputi identitas


diri, riwayat penyakit, riwayat anggota keluarga, perubahan aktifitas
atau kebiasaan (seperti merokok, konsumsi makanan, riwayat dan
faktor psikososial lingkungan keluarga, dan lain-lain)

2.

Pengukuran tekanan darah.

3.

Pengukuran indeks antropometri, seperti pengukuran berat badan dan


tinggi badan.

4.

Pemeriksaan penunjang. Menurut Mansjoer, dkk (2001) dalam


Sugihartono (2007), pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan
laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan
menentukan adanya kerusakan organ dan faktor risiko lain atau
mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah
perifer lengkap, kimia darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah
puasa, kolesterol total, kolesterol HDL). Sebagai tambahan dapat
dilakukan pemeriksaan lain, seperti klirens kreatinin, protein urin 24
jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH, dan ekokardiografi.

3.1.4 Gejala Klinis Hipertensi

Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita


hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal
hipertensi yaitu sakit kepala, pusing, gelisah, jantung berdebar,
perdarahan hidung, sukar tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga
berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam
hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai
meliputi gangguan; penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan
gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan perdarahan
pembuluh darah otak yang mengakibatkan kelumpuhan, ganguan
kesadaran hingga koma (Cahyono, 2008).

3.1.5 Patofisiologis Hipertensi


Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi karena adanya
gangguan dalam sistem peredaran darah. Gangguan tersebut dapat
berupa gangguan sirkulasi darah, gangguan keseimbangan cairan
dalam pembuluh darah atau komponen dalam darah yang tidak
normal. Gangguan tersebut menyebabkan darah tidak dapat disalurkan
ke seluruh tubuh dengan lancar. Untuk itu, diperlukan pemompaan
yang lebih keras dari jantung. Hal ini akan berdampak pada
meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah atau disebut hipertensi
(Price dan Wilson, 2002).
Tekanan darah adalah fungsi berulang-ulang dari cardiac
output karena adanya resistensi periferal (resistensi dalam pembuluh
darah untuk mengalirkan darah). Diameter pembuluh darah ini sangat
mempengaruhi aliran darah. Jika diameter menurun misalnya pada
aterosklerosis, resistensi dan tekanan darah meningkat. Jika diameter
meningkat misalnya dengan adanya terapi obat vasodilator, resistensi
dan tekanan darah menurun. Ada dua mekanisme yang mengontrol
homeostatik dari tekanan darah, yaitu:

1. Short term control (sistem saraf simpatik). Mekanisme ini sebagai


respon terhadap penurunan tekanan, system saraf simpatetik
mensekresikan

norepinephrine

yang

merupakan

suatu

vasoconstrictor yang akan bekerja pada arteri kecil dan arteriola


untuk meningkatkan resistensi peripheral sehingga tekanan darah
meningkat.
2. Long term control (ginjal). Ginjal mengatur tekanan darah dengan
cara mengontrol volume cairan ekstraseluler dan mensekresikan
renin yang akan mengaktivasi system renin dan angiotensin (Price
dan Wilson, 2002). Bagan dibawah ini adalah patologi dari
hipertensi, yakni:

Bagan 3.1 Patofisiologis Hipertensi

Berdasarkan bagan di atas, proses terjadinya hipertensi melalui


tiga mekanisme, yaitu: gangguan keseimbangan natrium, kelenturan
atau elastisitas pembuluh darah berkurang (menjadi kaku), dan
penyempitan pembuluh darah.
3.1.6 Komplikasi Hipertensi

Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak


endothel arteri dan mempercepat atherosklerosis. Bila penderita
memilik faktor-faktor risiko kardiovaskular
meningkatkan

mortalitas

dan

lain,

morbiditas

maka

akibat

akan

gangguan

kardiovaskularnya tersebut. Menurut Studi Farmingham, pasien


dengan hipertensi mempunyai peningkatan risiko yang bermakna
untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal
jantung (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006). Dalam
Gray (2005) dan Suhardjono (2006), hipertensi yang tidak diobati
akan mempengaruhi semua sistem organ dan akhirnya akan
memperpendek harapan hidup sebesar 10-20 tahun. Selain itu
penurunan tekanan darah dapat mencegah demensia dan penurunan
kognitif pada usia lanjut. Kemunduran kognitif ditandai dengan lupa
pada hal-hal yang baru, akan tetapi masih dapat melakukan aktifitas
sehari-hari. Kerusakan organ yang terjadi berkaitan dengan derajat
keparahan hipertensi. Perubahan-perubahan utama organ yang terjadi
akibat hipertensi dapat dilihat dibawah ini:
1. Jantung. Komplikasi berupa infark miokard, angina pectoris,
gagal jantung.
2. Ginjal. Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif
akibat tekanan tinggi pada kapiler-kapiler ginjal, glomerolus.
Dengan rusaknya glomerolus, darah akan mengalir ke unit-unit
fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut
menjadi hipoksik dan kematian. Dengan rusaknya membran
glomerous, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan
osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang
sering dijumpai pada hipertensi kronik
3. Otak. Komplikasinya berupa stroke dan serangan iskemik. Stroke
dapat timbul akibat pendarahan tekanan tinggi di otak, atau akibat
embulus yang terlepas dari pembuluh non-otak yang terpajan

tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila


arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahi
berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arterosklerosis
dapat

melemah

sehingga

meningkatkan

kemungkinan

terbentuknya anurisma.
4. Mata.

Komplikasi

berupa

perdarahan

retina,

gangguan

penglihatan sampai dengan kebutaan.


5. Pembuluh perifer
Penelitian meta-analisis yang melibatkan lebih dari 420.000
pasien elah menunjukkan hubungan yang kontinyu dan independen
antara tekanan darah dengan stroke dan penyakit jantung koroner.
Peningkatan tekanan diatolik >10 mmHg dalam jangka panjang akan
meningkatkan risiko stroke sebesar 56% dan penyakit jantung koroner
sebesar 37% (Gray, 2005).
3.1.7 Penatalaksanaan Hipertensi
Diketahui bahwa tingginya pendidikan dan pendapat pada
masyarakat memiliki kemampuan yang lebih dalam memanfaatkan
pelayanan kesehatan untuk melakukan pengobatan sedangkan dengan
pendapatan yang rendah kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan
yang ada,
mungkin oleh karena tidak mempunyai uang yang cukup untuk
membeli obat atau keperluan yang lain, hal itu dapat mengakibatkan
penyakit yang diderita bertambah parah (Baliwati, 2004).
Penatalaksanaan dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Penatalaksanaan Non Farmakologis
Penatalaksanaan Non Farmakologis atau Perubahan Gaya
Hidup Terapi nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua

pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan tekanan darah dan


mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit lain. Terapi
nonfarmakologis

meliputi

menghentikan

merokok,

menurunkan berat badan berlebih, menurunkan konsumsi


alkohol berlebih, latihan fisik serta menurunkan asupan garam
(Yogiantoro, 2006). Meningkatkan konsumsi asupan buah dan
sayur serta menurunkan asupan lemak. Menerapkan gaya hidup
sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah tekanan
darah tinggi dan merupakan bagian yang penting

dalam

penanganan hipertensi (Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat


Kesehatan, 2006).
2. Penatalaksanaan Farmakologis
Terapi farmakologis adalah dengan menggunakan obatobatan

antihipertensi.

memiliki

efektivitas

Masing-masing
dan

keamanan

obat
dalam

antihipertensi
pengobatan

hipertensi. Berdasarkan uji klinis, hampir seluruh pedoman


penanganan hipertensi menyatakan bahwa :
a) Keuntungan pengobatan antihipertensi adalah penurunan
tekanan darah.
b)

Pengelompokan
pertimbangan

pasien

berdasarkan

keperluan

khusus yaitu kelompok indikasi yang

memaksa dan keadaan khusus lain.


c) Terapi dimulai secara bertahap dan target tekanan darah
dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dengan
dosis rendah lalu perlahan ditingkatkan dosisnya.
d) Menggunakan obat antihipertensi dengan masa kerja
panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan
pemberian sekali sehari.

e) Pilihan memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi


atau dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal
dan ada tidaknya komplikasi (Yogiantoro, 2006).

2.2 PENGEMBANGAN KUESIONER

2.2.4 Isi kuesioner

HASIL KUESIONER

BAB III
ANALISIS MASALAH
3.1 Analisis Potensi dan Kebutuhan

3.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana tingkat pengetahuan pengunjung puskesmas larangan
mengenai hipertensi ?
2.
3.3 Prioritas Masalah
3.4 Pemecahan Masalah

BAB IV
PENYULUHAN

DASAR PENYULUHAN
LOKASI PENYULUHAN
MEDIA PENYULUHAN
PESERTA PENYULUHAN

BAB V REFLEKSI