Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Semakin

pentingnya

Penelitian

Tindakan

Kelas

(PTK)

dalam

konteks

pembaharuan dan peningkatan mutu pendidikan karena didorong oleh kenyataan bahwa
banyak penelitian dalam bidang pendidikan masih kurang memberikan kontribusi
langsung terhadap perbaikan praksis pendidikan. Penelitian tindakan, secara histories
sudah dirintis oleh ilmuan Jhon Dewey seperti disajikan dalam bukunya How We Think,
1993 (Tomal, 2003 : 7).
Dewey yang terkenal dengan penggunaan metode ilmiah dalam memecahkan
masalah atau persoalan yang dihadapi umat manusia. Pemecahan persoalan didekati
dengan metode ilmiah seperti berikut tampak dalam alur piker atau langkah-langkah
kegiatan berikut :
1. Klarifikasi pertanyaan utama, persoalan apa yang mau diteliti
2. Menentukan hipotesis
3. Koleksi data dan analisis data
4. Menarik simpulan
5. Menerima atau menolak hipotesis.

Peneliti riset tindakan memandang Kurt Lewin sebagai bapak penelitian tindakan.
Kurt Lewin adalah seorang praktisi dan teoritisi, ia mendirikan pusat riset untuk dinamika
kelompok, yaitu The Research Center for Group Dynamich di Massachesetts Institute of
Technology (MIT), yang mengembangkan riset tindakan. Kurt Lewin adalah orang
pertama yang menggunakan istilah action research (riset tindakan) pada 1945 dalam
makalahnya Action research and minority problems.
Riset tindakan model Lewin ini secara umum menggunakan langkah spiral yang
terdiri dari perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi
(reflection), dan perencanaan lanjut.
Riset tindakan baru masuk ke dalam dunia pendidikan pada awal tahun 1970-an,
bertepatan dengan munculnya gerakan guru sebagai peneliti teacher-research di Inggris.
Lawrence Stenhouse (1975) di Inggris, mengembangkan guru sebagai peneliti. Ia
membantu guru untuk melakukan penelitian sambil mengajar di kelas. Guru diajak
berefleksi secara kritis dan sistematis tentang praktik mengajar sehingga dapat
membangun kurikulum sendiri. Pada awalnya riset tindakan lebih dilaksanakan di sekolah
1

menengah ke bawah, namun kini riset ini juga dikebangkan dalam proses pembelajaran di
perguruan tinggi.
Riset tindakan dipahami sebagai proses sistematis untuk mengetes ide atau
gagasan baru di kelas, ruang kuliah, dan sekolah lalu menganalisis akibatnya, dan
akhirnya mengambil keputusan untuk ide baru itu seterusnya. Zuber dan Skerritt (1992,
dalam Riding dkk, 1995) memberikan gambaran tentang riset tindakan sebagai pencarian
kolaboratif kritis oleh para praktisi yang reflektif terhadap yang mereka lakukan. Paulo
Freire (1970) mengembangkan riset tindakan yang parsifatif. Riset ini melibatkan setiap
bagian yang terkait untuk secara aktif mengamati bersama tindakan yang sedang berlaku
dengan tujuan mengubah atau mengembangkan.
Gramsce pada abad ke-20 memberikan latar belakang filsafat terhadap
perkembangan riset tindakan, yaitu dengan mengungkapkan bahwa setiap orang adalah
intelektual dan filsuf. Dengan landasan itulah, pada penelitian kritis, demi memajukkan
hidup mereka sendiri.
Kritik Jhon Elliot terhadap model Lewin dan Kemmis yang berbentuk spiral,
adalah :
1. Selama penelitian tindakan berlangsung gagasan umum dapat mengalami perubahan,

pertanyaan dan juga cara pengumpulan data dapat diubah dalam perjalanan bila
dianggap tidak sesuai dengan topik utama.
2. Dari awal penelitian dan selama proses penelitian, peneliti selalu bertanya dan

mengalisis secara kritis. Analisis kritis terus terjadi pada spiral kegiatan.
3. Impelentasi pada tindakan tidak selalu mudah, maka penelitian tidak boleh hanya pada

saat impelentasi pertama, tetapi menanti seluruh proses selesai.


B. Karakteristik dan Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Masalah-masalah yang kerap muncul dalam pengelolaan pendidikan di Madrasah
memiliki dimensi amat luas dan bertali temali satu sama lain, diantaranya : unsur siswa,
unsur guru, unsur mata pelajaran, unsur peralatan / sarana prasarana, unsur hasil
pembelajaran, unsur lingkungan dan unsur pengelolaan.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Kajian dilakukan oleh para pelaku yang terlibat dalam praktek suatu kegiatan di kelas

(an inquiry on practice from within).


2. Berorientasi pada masalah situasional
3. Kolaboratif

4. Partisipatif
5. Berdaur.

Dalam penelitian tindakan ada 6 prinsip, yaitu :


1. Pekerjaan utama guru adalah mengajar, dan apapun metode yang digunakan dalam

penelitian tindakan seyogyanyalah tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar.


2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari

guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.


3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru

mengindentifikasi serta merumuskan hipotesisi secara meyakinkan.


4. Masalah

penelitian tindakan, guru sedapat mungkin masalah yang cukup

merisaukannya dan bertitik tolak dari tanggung jawab profesionalnya.


5. Dalam melaksanakan penelitian tindakan, guru harus selalu bersikap konsisten

menaruh kepedulian tinggi terhadap rosedur etika yang berkaitan dengan


pekerjaannya.
6. Pelaksanaan

penelitian sedapat mungkin menggunakan classroom exceeding

perspective dalam arti permasalahan tidak hanya dilihat dalam konteks kelas dan atau
pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.
Dari segi epistemologis, kajian tentang PTK dapat dilihat dari tata urutan
(prosedur) pelaksanaan PTK itu sendiri. Menurut Kemmis dan Taggart, tata urutan PTK
merupakan proses pengkajian berdaur yang terdiri atas 4 tahap yaitu : rencana (plan),
tindakan (action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection).
Secara aksiologis PTK memberikan berbagai kegunaan bagi para pelaku tindakan
(individu, kelompok) dan pihak lainnya seperti lembaga dan masyarakat.
PTK mempunyai 3 (tiga) karakter yang harus diperhatikan oleh guru sebelum
melakukan kegiatan tersebut, yaitu :
1. PTK dipicu oleh adanya permasalahan praktis yang dihayati dalam pelaksanaan tugas

sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas.


2. PTK dilaksanakan secara kolaborasi atau bersama-sama antara guru yang yang

kelasnya dijadikan kancah penelitian dengan dosen dan bahkan dengan guru lainnya
yang bertindak sebagai peneliti mitra.
3. Keterlibatan dosen dalam penelitian ini bukanlah sebagai ahli pendidikan yang tengah

mengembangkan fungsi sebagai Pembina guru atau sebagai pengembang pendidikan,


melainkan sebagai sejawat yang mempunyai tugas, peran dan fungsi yang sama
dengan guru.

Istilah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang digunakan dalam wacana adalah
Penelitian Tindakan Emansipatoris. Emansipasi pemahaman bahasa Indonesia sehari-hari
memiliki makna perbaikan nasib, peningkatan status, atau perjuangan kesetaraan (seperti
dalam kaitan dengan gerakan kaum perempuan). Penelitian tindakan kelas bersifat
emansipatoris dan membebaskan karena penelitian ini mendorong kebabasan berfikir dan
kereksperimen, meneliti dan menggunakan kearifan dalam pengambilan keputusan atau
judgment.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Tujuan dilaksanakannya kegiatan PTK adalah untuk memperbaiki atau
meningkatkan kinerja professional guru. Hal ini dikarenakan sebelum merencanakan dan
melaksanakan kegiatan PTK terlebih dahulu guru melakukan self evaluation terhadap
proses pembelajaran yang dilaksanakan selama ini. Dengan adanya kegiatan ini guru
dapat mengetahui ketepatgunaan prosedur pembelajaran yang telah dilaksanakannya,
kemudian ketika ditemukan adanya kekurangan-kekurangannya, maka guru tersebut akan
berupaya memperbaiki di mana kekurangan tersebut.
Tujuan khusus PTK dapat dirinci sebagai berikut :
1. Memperbaiki dan meningkatkan layanan professional guru dalam menangani proses

pembelajaran.
2. Mengembangkan keterampilan guru yang bertolak dari kebutuhan menanggulangi

masalah pembelajaran.
3. Membina tumbuhnya budaya meneliti oleh guru.
4. Membina pemberdayaan professional guru (empowered).

Manfaat PTK dilihat dari komponen pendidikan dan pembelajaran adalah sebagai
berikut :
a. Memberikan berbagai inovasi dalam proses pembelajaran yang dapat meningkatkan
kualitas belajar siswa dan kualitas mengajar guru.
b. Sebagai upaya pengembangan kurikulum, baik dalam aspek pengembangan materi,
motode, media dan alat evaluasi pembelajaran ditingkat kelas dan sekolah.
c. Meningkatkan profesionalisme guru, karena selain bertugas sebagai pendidik, guru
juga dituntut untuk dapat melakukan dan memanfaatkan hasil-hasil penelitian
pendidikan.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Dalam literature berbahasa Inggris, PTK disebut denagn Classroom Action


Research. Saat ini PTK sedang berkembang dengan pesatnya di negara-negara maju
seperti Inggris, Amerika, Australia, Kanada. Mengapa demikian ? karena jenis penelitian
ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan
profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat berbagai
indikator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. Bahkan
McNiff memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang alat dilakukan oleh guru
sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk mengembangkan kurikulum,
pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar dan sebagainya.
Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat meneliti sendiri terhadap praktek
pembelajaran yang ia lakukan di kelas, penelitian terhadap siswa dari segi interaksinya
dalam proses pembelajaran, penelitian terhadap proses dan atau produk pembelajaran
secara reflektif di kelas. Pendekatan dengan melakukan penelitian tindakan kelas, guru
dapat memperbaiki praktek-praktek pembelajaran menjadai lebih efektif.
Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan
praktek pendidikan. Jika sekiranya ada teori yang tidak cocok dengan kondisi kelasnya,
melalui PTK guru dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan proses dan atau
produk pembelajaran yang lebih efektif, optiomal dan fungsional.
Dalam penelitian tindakan kelas, guru dapat melihat, merasakan, mengetahui
apakah praktek-praktek pembelajaran selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang
tinggi. Kalau tidak maka guru dapat merumuskan tindakan tertentu untuk memperbaiki
keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK.
Menurut PGSM (1991), PTK merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat
reflektif oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakantindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan yang
dilakukan serta meperbaiki kondisi utama praktik pembelajaran. Menurut Tyler (1996),
PTK merupakan penelitian grounded yang mengkonsentrasikan pada komunitas
sekolah/kelas dengan pelibatan guru, kepsek dan akademisi pada semua tahapan penelitian
guna memperbaiki praktik kurikulum dan kebijakan. Sedangkan menurut Suhadi (1997),
5

PTK adalah suatu penelitian ilmiah yang ditujukan untuk memecahkan masalah dengan
menggunakan keterampilan baru yang diaplikasikan langsung ke dalam situasi kelas
(Suhadi, 1997).
Menurut Stenhouse (1984), penelitian tindakan kelas sangat berguna sebagai
perangkat pengujian gagasan-gagasan kurikulum, karena itu guru peneliti berperan
sebagai pembuat keputusan dan penelitian kelas sebagai wahana reformasi kurikulum dan
pengembangannya.
B. Mengapa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Diperlukan Bagi Guru

Di samping membahas mengapa guru harus meneliti, kegiatan belajar ini juga
mengelaborasi makna penelitian tindakan kelas bagi mereka yang akan meningkatkan
kualitas professional judgement, mampu menanamkan rasa percaya diri dan kemandirian
pada guru.
PTK akan mengubah citra professional guru, karena akan membabaskan guru dari
posisi pengolah di dalam pabrik menjadi otonom di dalam kelas, dan guru dalam
peranannya sebagai peneliti akan bersifat membebaskan atau liberating, atau
emancipating, yang berarti meningkatkan kepada kesetaraan (dengan kepala sekolah,
pengawas, orang tua peserta didik, kurikulum, buku teks dan lain-lain) serta
mengembalikan rasa percaya diri dan selanjutnya harga diri.
Dalam era otonomi daerah, penelitian tindakan kelas yang bersifat lokal dan
kondisional akan berfungsi sebagai penyeimbang antara biroltratisasi pendidikan yang
cenderung berpusat kepada kepentingan-kepentingan yang berbasis ruang kelas, yang
berarti juga kepentingan lokal.
Contoh-contoh penelitian tindakan yang telah dilakukan oleh guru akan
memberikan kesan bagaimana hasil PTK itu dilakukan dan apa hasilnya bagi guru dan
siswa.
Bahwa Penelitian Tindakan Kelas dapat mengembalikan rasa percaya diri atau self
confidence guru, dan dengan demikian mengembalikan harga diri atau self esteem, atau
self respect guru, berikut ini adalah bentuk-bentuk pemahaman atau social support yang
disajikan dalam formulasi atau proposisi hipotetik terhadap menurunnya citra dan
kemampuan guru di kelas sebagai bahan refleksi diri. Semakin menurun identitas pribadi
guru sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peranan profesionalnya di kelas, semakin
besar kemampuannya untuk mentolerir rasa kehilangan harga diri yang cenderung
bersamaan dengan memonitor diri.

Kemampuan guru untuk meneliti akan meningkatkan kinerja dalam profesinya


sebagai pendidik. Namun sejaumana guru berbuat untuk kemajuan dirinya berarti
menyumbang kepada tugas-tugasnya.
C. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Prosedur penelitian tindakan kelas dapat digambarkan dalam bentuk 4 (empat) fase
yang bersifat siklik. Keempat fase siklus meliputi perencanaan (planning), tindakan
(action), pengamanatan (observation) dan tindak lanjut refleksi (reflection).
Menurut Raka Joni (1998), ada lima tahapan pelaksanaan penelitian tindakan,
namun dalam kenyataannya tahapan ini merupakan siklus kegiatan. Adapun tahapantahapan tersebut meliputi :
1. Pengembangan fokus masalah penelitian
2. Subyek yang diteliti
3. Pelaksanaan tindakan dan observasi
4. Analisis dan refleksi
5. Perencanan tindakan lanjutan
6. Teknik pengolahan dan analisis data
7. Tahap validasi
8. Proses keseluruhan PTK dapat dilihat melalui langkah umum penelitian tindakan kelas

meliputi :
a. Identifikasi persoalan atau topik permasalahan
b. Menempatkan topik atau persoalan itu dalam konteks teori
c. Pengumpunan data
d. Analisis data
e. Membuat kesimpulan dan rekomendasi
f. Membuat rencana aksi
g. Melaksanakan tindak lanjut
h. Evaluasi
i. Menyimpan proposal riset tindakan.

BAB III
LANGKAH-LANGKAH PTK DAN FORMAT PENULISAN PROPOSAL PTK

A. Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Langkah awal melakukan PTK adalah menentukan topik persoalan yang diteliti.
PTK dilakukan oleh pendidik sendiri demi kemajuannya dalam mengembangkan
pendidikan, jadi bukan riset yang dilakukan di luar wilayahnya. Itu sebabnya, di dalamnya
ada unsur refleksi terhadap praktek pendidikan yang telah kita gunakan. Penentuan topik
atau persoalan yang ingin dijadikan objek riset tindakan dapat dimulai dengan
mengadakan pengamatan sejenak tentang praktik pembelajaran, lalu mencoba
mempertanyakan praktik tersebut.
Langkah berikutnya adalah mengaitkan topik persoalan riset dengan apa yang
telah dibuat oleh orang lain, dengan teori yang ada dan dengan dunia ilmiah yang ada.
Langkah ini sering juga disebut landasan teori, studi literature atau memasukkan riset
dalam konteks teori yang ada. Banyak ahli peneliti tindakan yang mengungkapkan bahwa
sebenarnya untuk riset tindakan tidak mutlak diperlukan landasan teori karena riset
tindakan mendasarkan pada praktik lapangan serta bertujuan mengevaluasikan praktik
lapangan tersebut.
Pengumpulan data merupakan langkah penting dalam PTK. Data yang ingin
dikumpulkan adalah semua bentuk informasi, observasi dan fakta yang akan menunjang
tujuan riset. Teknik pengumpulan data dalam PTK dapat dilakukan melalui :
a. Observasi langsung
b. Waawncara / interview
c. Survey / angket
d. Dokumen, Protofolio
e. Testing
Dalam analisis Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti dapat menggunakan
analisis kualititaf ataupun analisis kuantitatif sederhana, sesuai dengan instrument
penelitian yang digunakan dan topik persoalan yang ingin didalami. Dengan pendekatan
kualitatif biasanya dari data-data yang ada, dikelompokkan berdasarkan kategori yang
dibuat lewat pendekatan koding dapat dilihat pada (patten) yang menonjol dan dapat
dipakai untuk mengambil kesimpulan. Adapun dengan pendekatan kuantitatif, peneliti
dapat menggunakan deksripsi data melalui frekuensi, persentase, mean, standar deviasi,
8

dan korelasi sederhana. Sebelum mengulas tentang analisis data secara lebih rinci, ada
beberapa hal yang perlu diketahui oleh peneliti agar analisisnya sungguh valid, kredibel
dan reliable.
Salah satu perbedaan penelitian tindakan kelas dengan riset lain adalah adanya
rencana tindakan, rencana aksi atau action plan. Berdasarkan hasil penelitian praktik di
lapangan yang diamati, peneliti memikirkan tindakan yang kiranya dapat dilakukan untuk
memperbaiki keadaan. Untuk dapat menentukan aksi, sebelumnya harus diidentifikasi
penyebab persoalan yang diteliti, maka tindak lanjutnya akan mengalami kesulitan.
Rencana tindakan yang sudah dibuat, akhirnya harus dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh. Disinilah PTK memiliki dampak, yaitu melakukan sesuatu untuk
memperbaiki situasi dan praktik pendidikan. Inilah kekhasan PTK, yaitu membuat
tindakan nyata untuk memecahkan persoalan yang diamati.
B. Format Penulisan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Prinsip utama diterapkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dimaksudkan untuk


mengatasi dan memecahkan permasalahan yang terdapat di dalam kelas. Karena itu pada
tahap awal peneliti perlu menjajagi keadaan dan kemampuan siswa melalui observasi.
Ada beberapa macam model desan PTK yang anda harus kuasai dalam melakukan
PTK ini. Hal ini dimaksudkan agar guru kelas di SD wawasannya menjadi lebih luas,
karena dengan diketahui beberapa desan model PTK, maka desain yang akan
dikembangkan oleh peneliti akan menjadi lebih jelas dan terarah. Sebenarnya model PTK
sendiri secara orisinil belum pernah ditulis, karena model-model itu untuk penelitian
tindakan. Namun demikian untuk PTK model tersebut dapat dipilih sebagai kerangka
acuan. Apalagi PTK permasalahannya bersifat individual, setiap guru ada kemungkinan
menghadapi permasalahn yang berbeda, maka model PTK pun tidak mesti terikat
mengikuti satu model tertentu.
Terdapat beberapa desain-desain model Penelitian Tindakan Kelas yang akan
dikembangkan oleh guru kelas. Desain-desain tersebut diantaranya :
1. Model Kurt Lewin
2. Model Kemmis dan Mc Taggart
3. Model Jhon Elliot
4. Model Hopkins.

Mdoel Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau menjadi kerangka dasar dari adanya
berbagai model model peneiltian tindakan kelas yang lain, khususnya PTK. Dikatakan

10

demikian karena dialah sebagai pencetus awal memperkenalkan satu-satunya orang yang
berani menampilkan gagasannya tentang action research atau penelitian tindakan. Kurt
Lewin memperkenalkan konsep pokok peneiltian tindakan yang meliputi empat
komponen penting, yaitu
1. Perencanaan (planning)
2. Tindakan (acting)
3. Pengamatan (observing)
4. Refleksi (reflecting)

Model Kemmis dan McTaggart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang
diperkenalkan oleh Kurt Lewin seperti dijelaskan di atas. Model ini hampir sama dengan
model Kurt Lewin hanya saja komponen acting (tindakan) dengan observing
(pengamatan) dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut
disebabkan adanya kenyataan yang tidak dapat dipungkiri ketika antara implementasi
acting dan observing sebenarnya dua kegiatan tapi tidak dapat dipisahkan secara tegas.
Seperti halnya desain model PTK nya Kemmis dan McTaggart, desain PTK model
John Elliot juga dikembangkan berdasarkan konsep dasar Kurt Lewin. Model ini diawali
dari mengidentifikasi masalah, yang ada hakikatnya bagaimana pertanyaan yang
menghubungkan antara gagasan atau ide dengan pengambilan tindakan. Coba anda
perhatikan contoh identifikasi masalah sebagai berikut :
1. Para siswa merasa tidak puas dengan metode penelitian yang digunakan guru

kelasnya. Bagaimana kalau guru berkolaborasi untuk meningkatkan pengukuran


terhadap kemampuan siswa ?
2. Para siswa hanya membuang-buang waktu percuma di kelas. Bagaimana cara guru

membawa siswa lebih banyak lagi menggunakan waktu mereka untuk menyelesaikan
tugas-tugas mereka ?
3. Orang tua siswa bersedia membantu sekolah dengan melakukan supervise pekerjaan

rumah. Bagaimana caranya agar bantuan orang tua siswa bekerja lebih produktif ?
Berpatokan pada desain-desain model PTK para ahli pendahulunya, selanjutnya
Hopkins (1993). Menyusun desain yang dikenal Model Ebbutt (Hopkins, 1993). Model ini
menunjukkan bentuk alur kegiatan penelitian dimulai dari pemikiran awal penelitian yang
selanjutnya dikenal dengan reconnaissance. Bagian ini, Ebbutt berpendapat yang berbeda
dengan penafsiran Elliott mengenai reconnaissancenya Kemmis, yang seakan-akan hanya
berkaitan dengan penemuan fakta saja. Padahal menurutnya reconnaissance mencakup

11

kegiatan-kegiatan diskusi, negoisasi, menyelidiki kesempatan, mengakses kemungkinan


dan kendala atau dengan singkat mencakup keseluruhan analisis.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tidak lagi diragukan manfaatnya bagi guru
sebagai salah satu upaya meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas.
Dengan melaksanakan tahapan-tahapan pengembangan PTK, guru dapat menemukan
solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, dengan menerapkan berbagai teori
dan teknik pembelajaran yang relevan dan kreatif. PTK merupakan penelitian terapan,
guru dapat melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas tanpa harus meninggalkan
siswanya di kelas. PTK juga dapat mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi
guru di lapangan.
Sasaran penelitian Tindakan Kelas adalah hal-hal yan gberkenaan dengan kegiatan
pembelajaran di dalam kelas, baik yang langsung maupun tidak langsung.
Dalam perencanaan model PTK mengacu pada model Kemmis dan McTaggart
yang dikenal dengan menggunakan sistem spiral refleksi dan perencanaan kembali yang
merupakan dasar untuk satu ancang-ancang perencanaan permasalahan.
Yang perlu mendapatkan perhatian dalam kaitannya dengan diterapkannya suatu
model PTK ialah bahwa terdapat langkah-langkah yang seharusnya diikuti oleh peneliti
atau guru, yaitu :
1. Ide awal
2. Prasurvei/temuan awal
3. Diagnosis
4. Perencanaan
5. Implementasi tindakan
6. Observasi
7. Refleksi
8. Laporan

Ide awal seseorang yang berkehendak melakukan suatu penelitian, baik berupa
penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif termasuk PTK pasti diawali dengan
gagasan atau ide-ide dan gagasan itu dimungkinkan yang dapat dikerjakan atau
dilaksanakan.
Prasurvei dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang terdapat
disuatu kelas yang akan diteliti. Bagi pengajar yang bermaksud melakukan penelitian di
kelas sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya tidak perlu
melaksanakan prasurvei karena berdasarkan pengalamannya selama dia di depan kelas

12

sudah secara otomatis pasti memahami berbagai permasalahan yang sering dihadapinya,
baik yang berkaitan dengan kemajuan iswa belajar, sarana pengajaran maupun sikap dan
prilaku siswanya.
Diagnosis dilakukan oleh peneliti yang tidak terbiasa melakukan proses
pembelajaran di suatu kelas yang dijadikan sasaran penelitian. Peneliti dari luar
lingkungan kelas di sekolah perlu melakukan diagnosis atau dugaan-dugaan sementara
mengenai timbulnya suatu permasalahan yang muncul di dalam kelas.
Bagian awal dari rancangan penelitian tindakan berisi rencana tindakan yang akan
dilaksanakan untuk memecahkan masalah yang akan ditetapkan.
Implementasi tindakan pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan
yang sudah direncanakan sebelumnya. Menyangkut strategi apa yang digunakan, materi
apa yang diajarkan atau dibahas dan media apa yang digunakan, materi apa yang diajarkan
atau dibahas dan media apa yang digunakan dan sebagainya. Pada tahap ini peneliti
melakukan tindakan-tindakan yang berupa intervensi terhadap pelaksanaan kegiatan yang
menjadi tugas mereka sehari-hari.
Pengamatan atau observasi dilakukan pada semua kegiatan yang ditunjukkan
untuk mengenali, merekam dan mendokumentasikan setiap indicator dari proses dan hasil
yang dicapai baik yang ditimbulkan oleh tindakan terencana maupun akibat sampingan.
Kegiatan pengamatan, observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh peneliti atau
kolaborator, yang memang diberi tugas untuk hal itu. Pada saat yang terjadi di kelas yang
dilakukan PTK. Misalnya masalah kompetensi guru, situasi kelas, sikap dan perilaku
siswa, penyajian atau pembahasan materi, daya serap siswa terhadap materi yang
diajarkan dan sebagainya.
Pada prinsipnya yang dimaksud dengan istilah refleksi adalah upaya evaluasi yang
dilakukan oleh para kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK yang
dilakukan.
Laporan penelitian PTK seperti hal nya jenis penelitian yang lai, yaitu disusun
sesudah kerja penelitian di lapangan berakhir dengan sistematika sama halnya dengan
penelitian konvensional lainnya.

13

BAB IV
PENUTUP
Segala upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam kerangka peningkatan kualitas
pendidikan merupakan salah satu fokus di dalam pembangunan pendidikan berkualitas.
Pendidikan berkualitas merupakan titian kearah melahirkan insan cerdas dan kompetitif. Insan
cerdas dan kompetitif hanya akan dapat dicapai, jika kompetensi dan professional. Walaupun
kita harus disadari bahwa masih terdapat sejumlah kendala yang kadangkala menjadi masalah
bagi para guru dalam mewujudkan hal tersebut.
Pemecahan masalah itu seyogyanya berlandaskan kepada suatu pendekatan yang
bersifat ilmiah yaitu melalui penelitian atau riset pendidikan yang dilakukan oleh para guru
yang secara langsung berhadapan dengan masalah-masalah pembealjaran di Madrasah. Sifat
penelitian semacam ini harus berdasarkan kepada kondisi nyata masing-masing satuan
pendidikan (sekolah/madrasah) ditempat guru menjalankan tugasnya. Dengan cara ini
hasilnya segera dapat digunakan oleh guru yang bersangkutan dalam memecahkan persoalan
rill di tempat dimana guru bertugas.riset semacam ini dikenal dengan riset tindakan kelas atau
penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian tindakan kelas akan diperoleh kemanfaatan
berupa perbaikan praksis, yang meliputi penanggulangan berbagai permasalahan belajar yang
dialami siswa baik yang diajar oleh guru sebagai pelaku PTK maupun siswa lain pada
umumnya, seperti kesalahan-kesalahan konsep dalam mata pelajaran, kesulitan-kesulitan
mengajar yang dialami para guru termasuk para guru baru dan sebagainya. Terlebih-lebih lagi
jika perbaikan praksis tersebut dapat terjadi secara berkesinambungan karena cenderung
terprakarsai dari dalam sendiri atau -an inquiry of practice from within bukan karena
diinstruksikan dari luar.
Sebagai tenaga professional, guru tidak hanya dituntut mampu menguasai berbagai
teori dan aplikasinya dalam pembelajaran di kelas, akan tetapi guru juga harus mampu
melakukan berbagai tindakan inovasi dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas
pembelajarannya yang dikerjakan oleh guru itu sendiri. Karena hakekat perbaikan mutu
pembelajaran pada tingkat kelas dimana guru menjalankan tuagsnya harus menjadi tugas
keprofesionalan yang melekat dengan guru, sehingga dengan demikian dampak pada
peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sebab salah satu kompetensi keguruan
yang dikehendaki dari guru adalah kemampuan melaksanakan sekaligus memanfaatkan hasilhasil penelitian pendidikan.
13

14

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, di pandang perlu memberikan


kesempatan kepada para guru untuk merancang dan melaksanakan penelitian tindakan.
Sasaran penelitian dapat diambil dari berbagai permasalahan dalam pembelajaran yang
menjadi fokus dan dirasakan guru dan atau madrasah, yang dapat digunakan seabai pintu
masuk (entry point) guna memprakarsai Penelitian Tindakan Kelas. Dengan demikian
diharapkan guru dapat memperbaiki atau meningkatkan sejawat (para guru lain), sehingga
dapat mendatangkan keuntungan langsung bagi para guru dan memberikan keuntungan tidak
langsung baik kepada para siswa maupun kepada calon guru. Melalui pendekatan penelitian
semacam ini, permasalahan-permasalahan yang dirasakan dan ditemukan guru dan siswa
langsung dicarikan terapi atau solusinya. Jadi tidak seperti penelitian-penelitian konvensional
yang selama ini dilakukan dimana hasil-hasil penelitian sangat langsa sekali diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari di kelas, bahkan tidak jarang hasil penelitian tersebut tidak
dikomunikasikan kepada pihak sekolah, tetapi setelah selesai kemudian dipajang di
perpustakaan.
Penelitian Tindakan Kelas(PTK) sangat strategis dilakukan oleh guru sebagai karya
tulis ilmiah yang fungsinya amat berguna dan aplikatif. Masalahnya berkaitan dengan tugas
keseharian guru di sekolah, bahkan dianggap tearpi untuk mengatasi kegiatan ini guru dapat
memperoleh teori yang dibangunnya sendiri bukan yang diberikan oleh pihak lain, guru
menjadi the theorizing practitioner.
Modul 1 ini merupakan bahan belajar mandiri yang berfungsi sebagai pengantar bagi
para guru atau calon guru madrasah agar betul-betul menghayati hakekat dan prinsip
penelitian tindakan kelas, danberkemampuan untuk membantu peserta didik mencapai tujuantujuan pembelajaran.
Dengan mempelajari modul ini, diharapkan Anda memiliki kemampuan sebagai
berikut :
1. Menjelaskan penelitian tindakan kelas
2. Menjelaskan pengertian penelitian tindakan kelas
3. Menjelaskan dasar ontologism, epistemologis dan metodologis penelitian tindakan kelas.
4. Membedakan penelitian kuantitatif, kualitatif dan tindakan
5. Menjelaskan latar belakang pentingnya penelitian tindakan kelas
6. Menjelaskan ruang lingkup penelitian tindakan kelas
7. Menjelaskan karakteristis penelitian tindakan kelas
8. Menjelaskan prinsip penelitian tindakan kelas.

15

Untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan tentang tujuan dan


manfaat penelitian tindakan kelas, Anda dianjurkan untuk membaca berbagai literatur yang
ada dalam daftar pustaka.
Agar Anda dapat mempelajari modul ini dan berhasil dengan baik, maka di bawah ini
ada beberapa petunjuk sebagai berikut :
1. Baca bagian pendahuluan ini dengan cermat sehingga Anda memahami apa yang dibahas

dalam modul ini.


2. Baca dengan teliti bagian-bagian modul ini, pelajari dengan seksama kata kunci atau

istilah baku yang dikemukakan atau kata-kata yang dianggap baru pada bagian glossary
atau pada kamus. Kemudian diskusikan dengan teman Anda.
3. Tangkaplah pengertian-pengertian pokok dari setiap bagian modul ini melalui pemahaman

Anda sendiri dan diskusikan.


4. Kerjakan soal-soal latihan dengan cermat, perhatikan rambu-rambu jawaban yang

diberikan sehingga Anda memperoleh gambaran cara dan arah memberikan jawaban yang
benar.
5. Menetapkan dan memantapkan pemahaman Anda melalui diskusi.

16

TUGAS MATA KULIAH


RESUME PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH :
NAMA

KELAS

NIM

FAKULTAS
UNIVERSITAS KEGURUAN
TAHUN

17

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
kenikmatan pada kita sekalian. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan pada
Nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan kaum muslimin semuanya sampai akhir
zaman.
Dengan ucapan Alhamdulillah berkat Rahmat dan Karuni-Nya penulis dapat
menyelesaikan sebuah resume dengan judul : RESUME PENELITIAN TINDAKAN
KELAS.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan resume ini masih terdapat kekurangan,
untuk itu kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca, untuk
bisa penulis pelajari dan kembangkan.
Akhirnya penulis sampaikan doa kehadirat Allah SWT, semoga amal baik kita semua
dibalas yang setimpal dengan amal dan semoga resume ini berguna dan bermanfaat
khususnya bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

.,

Penulis

18

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I

.. i

. ii

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


B. Karakteristik dan Prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
BAB II

.. 1
.. 2

. 4

KAJIAN TEORI

A. Sejarah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

... 5

B. Mengapa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Diperlukan Bagi Guru


C. Prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

. 6

.. 7

BAB III LANGKAH-LANGKAH PTK DAN FORMAT PENULISAN PROPOSAL PTK


A. Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

. 8

B. Format Penulisan Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

. 9

BAB IV PENUTUP .. 13

ii