Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Sejak dulu, manusia begitu terkagum-kagum ketika memandang kerlap-kerlip bintang
dan pesona benda-benda langit yang begitu luar biasa. Fenomena langit sangatlah menarik
rasa ingin tahu manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya sejarah para ilmuan yang mencoba
untuk mengamati dan mempelajari fenomena alam tersebut.
Awalnya, manusia hanya menganggap fenomena langit sebagai sesuatu yang begitu
magis. Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan keteraturan bendabenda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan semua alat teknologi modern yang ada sekarang ini, sulit untuk
membayangkan bagaimana orang-orang zaman dulu melakukan pekerjaan fungsional yang
sederhana seperti menyebutkan waktu atau mengetahui dimana mereka berada di Bumi
sebelum diciptakannya jam, peta, atau satelit navigasi. Salah satunya alat yang ada pada saat
itu adalah apa yang diberikan oleh alam (astronomi). Kenyataan astronomi yakni jarak waktu
hari yang relatif teratur, ketetapan gerakan bintang-bintang dan asumsi teori-teori tertentu
seperti Bumi yang bundar, memungkinkan orang untuk mengatur kehidupnnya. Dengan
menghitung tinggi matahari atau bintang-bintang tertentu, orang-orang dahulu mulai
memahami bentuk dan ukuran bumi.
Berbeda dengan zaman yang ada pada saat sekarang ini, perkembangan astronomi
pada zaman sekarang begitu pesat seiring dengan temuan temuan terbaru seperti penemuan
akan adanya sebuah kehidupan di planet mars karena didalamnya terdapat air, penemuan
planet-planet baru dan pengobservasian fenomena-fenomena alam dengan alat-alat canggih.
Mengkaji ilmu astronomi adalah hal yang sangat menarik, sehingga menjadikan
perkembangan ilmu astronomi tetap berjalan dan selalu berkembang. Oleh karena itu saya
mencoba mengkaji bagaimana perjalanan atau sejarah perkembangan ilmu astronomi di
zaman modern dan Indonesia dan siapa saja tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu
astronomi tersebut.

2. Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

pengertian dan cabang-cabang ilmu astronomi;


sejarah Perkembangan ilmu astronomi modern;
kegunaan astronomi
tokoh-tokoh muslim yang berperan dalam perkembangan ilmu astronomi;
perkembangan ilmu astronomi pada zaman modern;
perkembangan ilmu astronomi di Indonesia.

3. Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. Pembatasan masalah dalam makalah ini
adalah Kemuktahiran dan Perkembangan llmu Astronomi Modern.
4. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian ilmu astronomi?
2. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu astronomi modern?
3. Apa manfaat ilmu astronomi
4. Siapa saja tokoh-tokoh Muslim yang berperan dalam perkembangan ilmu astronomi?
5. Bagaimana perkembangan ilmu astronomi pada zaman modern?
6. Bagaimana perkembangan ilmu astronomi di Indonesia?
5. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini sebagai berikut:
1. mengetahui pengertian, cabang-cabang ilmu astronomi dan tokoh-tokoh dalam ilmu
astronomi;
2. memahami sejarah dan perkembangan ilmu astronomi pada zaman modern dan di
Indonesia.

6. Manfaat Makalah
Adapun manfaat dari makalah ini yaitu:
1. untuk mengetahui pengertian, cabang-cabang ilmu astronomi dan tokoh-tokoh dalam ilmu
astronomi;
2. untuk memahami sejarah dan perkembangan ilmu astronomi pada zaman modern dan di
Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Dasar Astronomi
Astronomi, yang secara etimologi berarti "ilmu bintang" (dari Yunani: , +
), adalah ilmu yang melibatkan pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di
luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi
benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan
mereka.
Selama sebagian abad ke-20, astronomi dianggap terpilah menjadi astrometri,
mekanika langit, dan astrofisika. Secara umum baik "astronomi" maupun "astrofisika" boleh
digunakan untuk menyebut ilmu yang sama. Penelitian-penelitian astronomi modern
kebanyakan berurusan dengan topik-topik yang berkenaan dengan fisika, sehingga bisa
saja kita mengatakan bahwa astronomi modern adalah astrofisika.
Astronomi adalah salah satu di antara sedikit ilmu pengetahuan di mana amatir masih
memainkan peran aktif, khususnya dalam hal penemuan dan pengamatan fenomena
sementara. Astronomi jangan dikelirukan dengan astrologi, ilmu semu yang mengasumsikan
bahwa takdir manusia dapat dikaitkan dengan letak benda-benda astronomis di langit.
Meskipun memiliki asal-muasal yang sama, kedua bidang ini sangat berbeda; astronom
menggunakan metode ilmiah, sedangkan astrologi tidak.
Jadi Astronomi ialah cabang ilmu alam yang melibatkan pengamatan benda benda
langit (seperti halnya bintang planet,komet, nebula,gugus bintang atau galaksi)
serta fenomena fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi (misalnya latar belakang
kosmik (radiasi CMB)). Ilmu ini secara pokok mempelajari pelbagai sisi dari benda-benda
langit seperti asal-usul, sifat fisika/kimia, meteorologi, dan gerak dan bagaimana
pengetahuan akan benda-benda tersebut menjelaskanpembentukan dan perkembangan
alam semesta.
Astronomi sebagai ilmu adalah salah satu yang tertua, sebagaimana diketahui dari artifakartifak astronomis yang berasal dari era prasejarah; misalnya monumen-monumen
dari Mesir dan Nubia, atau Stonehenge yang berasal dari Britania. Orang-orang dari
peradaban-peradaban awal semacam Babilonia, Yunani, Cina, India, dan Maya juga
didapati telah melakukan pengamatan yang metodologis atas langit malam. Akan tetapi
meskipun memiliki sejarah yang panjang, astronomi baru dapat berkembang menjadi
cabang ilmu pengetahuan modern melalui penemuan teleskop.

2. 2. Cabang-Cabang Ilmu Astronomi


Pada abad ke-20, astronomi profesional terbagi menjadi dua cabang: astronomi
observasional dan astronomi teoretis. Yang pertama melibatkan pengumpulan data dari
pengamatan atas benda-benda langit, yang kemudian akan dianalisis menggunakan prinsipprinsip dasar fisika. Yang kedua terpusat pada upaya pengembangan model-model
komputer/analitis guna menjelaskan sifat-sifat benda-benda langit serta fenomenafenomena alam lainnya. Adapun kedua cabang ini bersifat komplementer astronomi
teoretis berusaha untuk menerangkan hasil-hasil pengamatan astronomi observasional, dan
astronomi observasional kemudian akan mencoba untuk membuktikan kesimpulan yang
dibuat oleh astronomi teoretis.
Berdasarkan pada subyek atau masalah, ada beberapa pengklarifikasian dalam ilmu
astronomi sebagai berikut:

Astrometri: cabang ilmu Astronomi yang mempelajari hubungan geometris benda-benda


angkasa.

Kosmologi: penelitian alam semesta sebagai seluruh dan evolusinya.

Fisika galaksi: penelitian struktur dan bagian galaksi kita dan galaksi lain.

Astronomi ekstragalaksi: penelitian benda (sebagian besar galaksi) di luar galaksi kita.

Pembentukan galaksi dan evolusi: penelitian pembentukan galaksi, dan evolusi mereka.

Ilmu planet: penelitian planet dan tata surya.

Fisika bintang: penelitian struktur bintang.

Evolusi bintang: penelitian evolusi bintang dari pembentukan mereka sampai akhir
mereka sebagai bintang sisa.

Pembentukan bintang: penelitian kondisi dan proses yang menyebabkan pembentukan


bintang

di

dalam

awan

gas,

dan

proses

pembentukan

itu sendiri.

2.3. Kegunaan Astronomi


Dengan semua alat teknologi modern yang ada sekarang ini sulit uuk
membanyangkan bagaimana orang orang di zaman dulu melakukan pekerjaan fungsional
yang sederhana seperti menyebutkan waktu atau mengetahui dimana mereka berada
dibumi sebelum diciptakan nya jam,peta,atau satelit navigasi.Satu satunya alat yang pada
waktu itu adalah alat yang diberikan oleh alam. Kenyataan yakni jarak waktu hari yang relatif
teratur,ketetapan gerakan bintang bintang tetap,dan asumsi teori teori tertenu seperti bumi
yang bundar,memungki orang untuk mengatur kehidupan nya.Dengan menghitung tinggi
matahari atau bintang bintang tertentu orang orang yunani kuno mulai memahami bentuk
4

dan ukuran bumi. Dengan cara itu mereka dapat menentukan posisi nya pada garis
lintang.Dengan menggambar kordinat terhadap bola dunia,mereka dapat menentukan
posisinya dipermukaan bumi. Dan dengan mengatur penanda ukuran atau genemon,
mereka dapat mulai menghitur waktu hari.

2.4. Sejarah Perkembangan Astronomi Modern


Awal perkembangan ilmu astronomi modern dimulai oleh Purbach (1423-1461) di
universitas Wina serta lebih khusus lagi oleh muridnya Yohanes muller (1436-1476).Johanes
Muller pergi ke Italia khusus untuk belajar karya asli Ptolemeus tentang astronomi bersama
temannya Walther (1430-1504).
Muller bersama Walther membuat penanggalan berdasarkan benda-benda langit
yang

banyak

dipakai oleh para pelaut

Spanyol

dan Portugis. Muller

meninggal

sebelum ia dapat melaksanakan niatnya. Pengamatan muller dilanjutkan oleh temannya,


Walther dan Albrecht Durer. Maka, ketika Nicolas Copernicus (1473-1543) memulai
karyanya, telah terdapat cukup banyak karya hasil pengamatan astronomi.
Sistem Copernicus yang baru tentang alam semesta menempatkan matahari
sebagai pusat alam semesta, serta terdapat tiga jenis gerakan bumi. Tiga jenis gerakan
bumi itu adalah gerak rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya), gerak revolusi (gerak
bumi mengelilingi matahari) dan suatu girasi perputaran sumbu bumi yang mempertahankan
waktu siang dan malam sama panjangnya.
Dalam sistem copernicus, bumi dan semua planet bergerak mengitari matahari
dengan arah yang sama dan laju yang berkurang semakin jauh dari matahari. Sementara
itu, matahari yang berada di pusat dan bintang-bintang yang berada di luar tata surya
berada pada tempatnya yang tetap. Dengan sistem Copernicus, perhitungan astronomi
dibuat

menjadi

lebih

mudah,

karena

melibatkan

jumlah

lingkaran

yang

lebih

sedikit. Selanjutnya terdapat keberatan-keberatan terhadap sistem Copernicus. Keberatan


pertama adalah

kenyataan

bahwa

pusat

tata

surya

tidak

tepat

berada

pada

matahari. Keberatan kedua, yang lebih serius, menyatakan bahwa bila bumi berputar, maka
udara cenderung tertinggal di belakang, hal ini akan menimbulkan angin yang arahnya ke
timur. Keberatan lebih jauh terhadap sistem copernicus adalah bila bumi berputar, maka
bumi akan hancur berkeping-keping oleh gaya sentrifugal.
Copernicus berpendapat bahwa spin dan gerakan dalam suatu lingkaran adalah
gerakan-gerakan yang spontan, merupakan sifat alami dari suatu bentuk bola dimana bumi
dan benda-benda langit ada. Maka bersama copernicus muncul suatu sistem cosmos yang
betul-betul baru. Penggerak alam semesta tidak lagi penting. Matahari sebagai pusat
tatasurya menjadi pengatur alam semesta. Sistem Copernicus tetap mempertahankan nilai5

nilai lama dalam sistem cosmos yaitu bumi sebagai pusat alam semesta. Itulah mungkin
sebabnya copernicus mengajukan suatu sistem baru, heliosentris.
Pengamatan paling penting dalam bidang astronomi modern adalah yang dilakukan
oleh Ticho Brahe. Ia menganut pendangan geosentris. Kepler adalah anak seorang tentara
wurtemburg. Ia mempelajari sistem copernicus di Tubingen. Karya pertama Kepler dalam
bidang astronomi berjudul The Mysteri of the Universe yang diterbitkan pada tahun
1596. Pada tahun 1609, Kepler menemukan ternyata elips sangat cocok dengan hasil
pengamatan Ticho Brahe. Kepler tidak lagi menggunakan lingkaran sebagai lintasan bendabenda langit melainkan elips.

2.5.Kontribusi Ilmuwan Muslim Dalam Bidang Astronomi


Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8 - 15 M). Salah
satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah
bintang yang menggunakan bahasa Arab. Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill,
membagi sejarah astronomi Islam ke dalam empat periode. Periode pertama (700-825 M)
adalah masa asimilasi dan penyatuan awal dari astronomi Yunani, India dan Sassanid.
Periode kedua (825-1025) adalah masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta
modifikasi sistem Ptolomeus. Periode ketiga (1025-1450 M), masa kemajuan sistem
astronomi Islam. Periode keempat (1450-1900 M), masa stagnasi, hanya sedikit kontribusi
yang dihasilkan.
Sejumlah, ahli astronomi Islam pun bermunculan : Nasiruddin at-Tusi yang berhasil
memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk
menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Selain itu, ahli matematika dan astronomi
Al-Khawarizmi, banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya
bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana. Ahli
astronomi lainnya, seperti Al-Batanni yang banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus
mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu.

Berikut adalah beberapa ahli astronomi Islam yang telah memberi kontribusi bagi
perkembangan astronomi:
1. Al-Battani (858-929) : Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah
satu karyanya yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Ia berhasil menentukan perkiraan
awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus
mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Battani juga mengembangkan metode
untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet.
2. Al-Sufi (903-986 M) : Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi
terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan
planet

dan juga pergerakan

matahari,

dan ia juga menetapkan ciri-ciri bintang,

memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya, serta Ia menulis mengenai


astrolabe.
3. Al-Biruni (973-1050 M) : Merupakan ahli astronomi pada zaman Renaissance. Ia telah
menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya dan jua memperkirakan ukuran bumi dan
membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia.
4. Ibnu Yunus (1009 M) : Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003
M untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang
besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan
mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.
5. Al-Farghani : Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori
matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah
Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi.
6. Al-Zarqali (1029-1087 M) :. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga
merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.
7. Jabir Ibn Aflah (1145 M) : Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan
pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan
menerangkan mengenai pergerakan objek langit

D.
7

2.6. Perkembangan Ilmu Astronomi Pada Zaman Modern


Pada abad ke-19, dengan ilmu spektroskopi dasar - yaitu ilmu yang
mempelajari garis spektra (daerah yang mendapatkan lebih sedikit ketika
menguraikan cahaya matahari) - para ilmuwan membuktikan bahwa unsur kimia di
Matahari, terutama hidrogen dan helium, ditemukan juga di Bumi.
Pada abad ini pula, para ilmuwan menemukan bentuk-bentuk cahaya yang
tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga dibentuklah ilmu astronomi
inframerah, astronomi radio, astronomi sinar X, dan astronomi sinar gamma. Dengan
ilmu spektroskopi, diketahui bahwa bintang-bintang lain serupa dengan Matahari,
namun dengan berbagai massa, suhu, dan ukurang yang berbeda. Dengan
diketahuinya eksitensi galaksi Bima Sakti dan beberapa galaksi lainnya, wawasan
astronomi mulai terbuka luas atas kesadaran ilmuwan bahwa terdapat banyak
galaksi yang belum semuanya diketahui manusia.
Spektroskopi dipelajari lebih lanjut pada abad ke-20. Observasi tersebut perlu
dimengerti, terlebih lagi karena diciptakannya fisika kuantum. Abad tersebut juga
merupakan masa ketika kebanyakan pengetahuan yang sekarang digunakan dalam
astronomi ditemukan. Dengan bantuan fotografi, benda-benda langit yang tadinya
tak terlihat jelas dapat diobservasi. Pada abad ini, diketahui bahwa Matahari
merupakan satu dari lebih dari 10 miliar bintang yang terdapat pada suatu galaksi.
Eksistensi galaksi-galaksi lain ditetapkan oleh Edwin Hubble, yang memastikan
bahwa Andromeda merupakan galaksi lain, dan masih banyak galaksi lain yang jauh
dari galaksi kita.

2.7. Perkembangan Ilmu Astronomi Di Indonesia


Sejarah telah mencatat, geliat penerapan astronomi di kepulauan Nusantara telah
ada sejak beberapa abad silam. Penanggalan kalender jawa, penentuan musim hujan,
kemarau, panen, dan ritual kepercayaan lain yang menggunakan peredaran gerak benda
langit sebagai acuan. Bahkan, mengutip sebuah lagu nenek moyangku seorang pelaut,
mereka pun mahir menggunakan rasi-rasi bintang sebagai penunjuk arah.
Zaman beranjak ke masa kerajaan Hindu-Budha, dimana candi-candi dibangun berdasarkan
letak astronomis. Candi-candi di daerah Jawa Tengah dibangun dengan menghadap ke arah
terbitnya Matahari, timur. Sedangkan bangunan candi di Jawa Timur, menghadap ke barat,
dimana Matahari terbenam. Meski begitu, ada sedikit perbedaan dengan candi kebesaran
rakyat Indonesia, Candi Borobudur, yang dibangun menghadap ke arah utara-selatan tepat
pada sumbu rotasi Bumi. Gunadharma, yang membangun Candi Borobudur memakai
patokan bintang polaris yang pada masa dinasti Syailendra masih terlihat dari Pulau Jawa.
Minat masyarakat terhadap ilmu yang menjadi anak tiri di Indonesia ini telah
meningkat selama beberapa tahun terakhir. Secara Internasional, astronomi di Indonesia
pun sudah cukup dipandang. Terbukti dengan dipercayanya Indonesia menjadi tuan rumah
APRIM, ajang berkumpulnya para astronom dunia, pada tahun 2005 silam, juga sebagai
tuan rumah olimpiade Astronomi Internasional tahun 2008 mendatang. Belum lagi
banyaknya siswa yang membawa pulang medali ke tanah air, hasil dari pertarungan mereka
dalam Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade Astronomi Asia Pasific.
Indonesia, yang terbentang dari Sabang sampai Merauke hanya memiliki sedikit sekali
fasilitas astronomi. Hampir semua kegiatan astronomi terpusat di Observatorium Bosscha
dan Planetarium Jakarta. Ide pembuatan observatorium di daerah-daerah terpencil sudah
ada sejak dulu. Yang sudah mulai berjalan seperti Planetarium di Palembang dan
Tenggarong, Kalimantan. Juga adanya rencana menjadikan Pulau Biak sebagai tempat
peluncuran satelit. Para pecinta Astronomi dan masyarakat Indonesia pada umumnya,
memiliki mimpi agar dapat dibangun lagi observatorium-observatroium di daerah-daerah
ataupun pulau-pulau terpencil lainnya. Selain belum banyak terjamah manusia, hingga
tingkat polusinya kecil dan memungkinkan untuk melihat langit sangat cerah, pembangunan
fasilitas astronomi itu juga menjadi sebuah ajang penyebaran pendidikan sains yang
tentunya dapat mengurangi tingkat kebodohan masyarakat Indonesia.
Pemerintah Indonesia dan para pecinta Astronomi dapat bekerja sama dalam menyebarkan
ilmu astronomi. Dengan tersedianya fasilitas media yang cukup banyak, keinginan adanya
majalah atau tabloid astronomi tentunya mimpi yang harus diwujudkan. Kesediaan
pemerintah untuk menyokong dana riset ataupun kegiatan keilmuan ini juga sangatlah
diharapkan.

BAB III
9

PENUTUP
1. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat saya tarik sebuah kesimpulan bahwa :
1. Ilmu astronomi adalah ilmu pengetahuan yang sangat menarik perhatian manusia yang
didasari atas rasa ingin tahu akan fenomena alam.
2. Dalam sejarah perkembangan astronomi modern, pendapat dan teori yang berkembang di
Eropa sangat dipengaruhi oleh adanya pendapat yang telah dikemukakan dan penemuanpenemuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan muslim. Buah pikir dan hasil
kerja keras para sarjana Islam di era tamadun diadopsi serta dikagumi para saintis Barat
seperti Copernicus sebagai penemu ilmu astronomi modern dan tokoh-tokoh astronomi
Eropa lainnya seperti Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses
tanpa jasa Al-Batani ( salah satu Ilmuwan Astronomi Islam );
3. Dengan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi manusia mampu menciptakan alatalat teknologi canggih yang dipakai untuk mengobservasi fenomena alam sehingga ilmu
astronomi semakin berkembang dengan temuantemuan terbarunya dari zaman ke zaman.
2. Saran
Adapun saran yang saya tulis dari makalah ini adalah :
1. Bagaimana ilmu tentang astronomi berkembang sesuai dengan zaman agar kita selalu
senantiasa bisa mengetahui bagaiman perkembangan bumu dan alam semesta baik dari
masa lampau dan masa ya g akan datang
2. Seharusnya buku-buku tentang astronomi dalam bahasa Indonesia harus diterbitkan dalam
jumlah yang cukup karena buku astronomi lebih banyak dalam bahasa inggris.
Ataupun terjemahan dari buku astronomi tersebut di perbanyak karena buku astronomi
tersebut sangat menarik untuk dipelajari

10

Daftar Pustaka
Akbar, Najwa. 15 nopember 2012. (Internet) (Terdapat
di :http://teknologiidanperkembangan.blogspot.com/2012/11/makalahperkembangan-astronomi-modern.html). Diakses pada 07 Mei 2013.
Nayoan,
di

Anggis. 04

Januari

2013. (Internet).

(Terdapat

: http://anggisnayoan.blogspot.com/2013/01/perkembangan-astronomi-

modern.html). Diakses pada 07 Mei 2013.


Nurma Atusolikah. (Internet). (Terdapat
di : http://nurmaatus.blogdetik.com/2009/09/21/sejarah-panjang-ilmu-astronomimodern/). 07 Mei 2013.
Anonim. Sejarah: Tugas-5 Perkembangan Ilmu Astronomi. (Internet). (Terdapat
di :http://labsky2012.blogspot.com/2012/09/tugas-5-perkembangan-ilmuastronomi.html). Diakses pada 08 Mei 2013.
:jendela iptek astronmi.

11