Anda di halaman 1dari 19

BAB I

DASAR TEORI
Tindakan resusitasi merupakan tindakan yang harus dilakukan dengan
segera sebagai upaya untuk menyelamatkan hidup (hudak dan gallo,1997).
Tindakan resusitasi ini dimulai dengan penilaian secara tepat kradaan dan
kesadaran penderita kemudian di lanjutkan dengan pemberian bantuan hidup dasar
(Basic life support) yang bertujuan untuk oksigenasi darurat (AHA, 2003).
Tujuan utama resusitasi kardiopulmonar yaitu melindungi otak secara
manual dari kekurangan oksigen, lebih baik terjadi sirkulasi walaupun dengan
darah hitam daripada tidak sama sekali. Sirkulasi untuk menjamin oksigenasi
yang adekuat sangat diperlukan dengan segera karena sel sel otak menjadi
lumpuh apabila oksigen ke otak terhenti selama 8 20 detik dan akan mati apabila
oksigen terhenti selama 3- 5 menit (Tjokronegoro, 1998). Kerusakan berupa
kecacatan atau bahkan kematian.
Keadaan gawat daurat bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Kondisi ini
menuntut kesiapan petugas kesehatan untuk mengantisispasi kejadian itu. Bila kita
cermati, kematian-kematian karena henti jantung dan henti nafas selama ini cukup
banyak khususnya pada area pre hospital. Manajemen pertolongan keadaan gawat
darurat pada area tersebut sampai saat harus diperbaiki. Banyak kematiankematian di masyarakat yang mestinya bisa dicegah bila kita punya kepedulian
dan keterampilan terhadap masalah tersebut.
1.1 PERTOLONGAN PERTAMA (PPGD)
Pertolongan Pertama Pada Gawat Darurat (PPGD) adalah serangkaian
usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat darurat dalam rangka
menyelamatkan pasien dari kematian pada kondisi gawat darurat (cidera atau sakit
mendadak). Prinsip utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian
pada kondisi gawat darurat. Filosofi PPGD adalah Time Saving is Living
Saving yang berarti bahwa seluruh tindakan pada kondisi ini pasien dapat

kehilangan nyawa dalam hitungan menit (henti nafas lama 2 3 menit dapat
mengakibatkan kematian).
BLS merupakan tindakan pertolongan pertama yang harus dilakukan pada
pasien yang mengalami keadaan yang mengancam nyawa ( henti jantung-paru/
cardiac arrest). Seorang dokter gigi harus mempunyai ketrampilan dan
kemampuan dalam melakukan BLS. Kep. Menkes No. 39 tahun 2007,
menjelaskan bahwa salah satu ruang lingkup kerja dokter gigi adalah memberikan
pelayanan darurat ( basic emergency care ), yang terdiri dari BLS. Kemampuan
menanggulangi kegawat daruratan dengan BLS sangat diperlukan baik di arean
pre hospital dan itra hospital.
Pertolongan pertama tidak melakukan penanganan medis yang sesuai,
tetapi hanya memberi bantuan sementara sampai didapatkan (bila diperlukan)
perawatan medis, atau sampai dipastikan kemungkinan pulih tanpa perawatan
medis. Pada kebanyakan kasus cidera dan penyakit membutuhkan hanya
perawatan pertolongan pertama.
Dari semua tindakan yang dilakukan selama pemeriksaan awal, penolong
harus berhati-hati dan tidak memindahkan korban bila tidak penting untuk
menyelamatkan jiwa. Semua gerakan yang tidak penting atau penangannya yang
kasar harus dihindari karena dapat memperburuk cidera tulang belakang atau
fraktur yang tidak terdeteksi. Dalam rangka untuk memberikan pertolongan
pertama yang baik,penolong harus mampu mengidentifikasi cidera korban atau
sakit mendadak dan menentukan keparahannya.
Untuk mengetahui keparahannya, penolong harus mengikuti pendekatan
sistematis atau yang dikenal sebagai pengkajian korban. Pengkajian korban
bertujuan untuk (1) mendapatkan persetujuan/konsen dari korban (oral konsen,
implied consent, konsen dari polisi, atau pada keadaan darurat dapat dilakukan
tanpa ijin), (2) Mendapatkan kepercayaan dari korban, (3) Mengidentifikasi
masalah korban dan menentukan kebutuhan PPGD, dan (4) Mendapat informasi
tentang korban yang mungkin dapat sangat berguna untuk pemberian layanan
kedaruratan medis (LKM).

Pengkajian korban secara medis dibagi menjadi dua langkah yaitu: (1)
Pemeriksaan primer meliputi A-B-C-(D-H) yaitu A (Airway), B (Breathing), C
(Circulation), D (Disability), H (Hemorhagie). Dan (2) Pemeriksaan sekunder.
Pemeriksaan sekunder meliputi (a) wawancara yang terdiri dari: SAMPLE
PAIN yaitu S = Symtom (gejala keluhan utama), A = Alergi, M = Medicine
(obat-obatan), P = Pain (Penyakit terdahulu), L = Last Eat (Makan terakhir), E =
Excidance (Peristiwa yang terjadi sebelum kedaruratan), P = Periode Nyeri
(berapa lama), A = Area (di mana), I = Intensitas, N = Nulitas (apa yang
menghentikannya); (2) Pemeriksaan tanda-tanda vital; dan (3) Pemeriksaan tubuh
secara keseluruhan dari kepala hingga kaki dan Tag (peringatan medis dipakai
seperti kalung atau gelang yang menarik perhatian disaat terjadi keadaan darurat).
Tag ini sebaiknya tidak dilepaskan dari orang yang mengalami cidera atau sakit.
Bila diperlukan, hubungi Sistem Layanan Kedaruratan Medis (LKM)
untuk memberikan bantuan seperti regu penolong (pemadam kebakaran), polisi,
layanan ambulan (1-1-8), atau dokter pribadi. Beritahukan pa yang terjadi dengan
menyebut: (a) Jumlah korban, (b) Kesadaran korban, (c) Perkiraan usia korban,
(d) Lokasi kejadian secara lengkap, (e) Nama dan nomor telepon anda/pelapor.
Panduan Basic Life Support ( Guidelines 2010)
1) Ada pasien tidak sadar, pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi
2)
3)
4)
5)

pasien dan penolong.


Periksa kesadaran pasien ( bisa dengan metode AV-PU )
Bebaskan Jalan napas pasien (airway)
Segera meminta bantuan
Periksa jalan napas ( pasien bernapas atau tidak, bisa dengan metode look,

liste,feel )
6) Bila pasien tidak sadar atau tidak bernapas, lakukan pijat jantung ( RJP )
30 kali serta 2 kali napas buatan.

Persyaratan dasar PPGD:


1) Ada pasien tidak sadar,
3

2) Pastikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong,


3) Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong,
4) Cek kesadaran pasien (Lakukan metode AV-PU)
Cara melakukan cek kesadaran pada pasien dengan metode AV-PU:
A (alert)

: Korban sadar, jika tidak sadar lanjut ke poin V.

V (Verbal)

: Cobalah memanggil-manggil korban dengan cara berbicara


keras ditelinga korban (pada tahap ini jangan sertakan dengan
menggoyang atau menyentuh pasien), jika tidak merespon
lanjut ke poin P.

P (Pain)

: Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang paling mudah


adalah menekan bagian putih dari kuku tangan (dipangkal
kuku), selain itu dapat juga dengan menekan bagian tengah
tulang dada (sternum) dan juga areal di atas mata (supra
orbital).

U (Unresponsive) : Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien tidak bereaksi, maka
pasien berada dalam keadaan unresponsive (tidak sadar).

1.2 RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)


Resusitasi

Jantung

Paru

(RJP)

adalah

tindakan

penggabungan

penyelematan pernafasan (dari mulut ke mulut) dengan kompresi dada eksternal.


Tujuan Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang penting ialah mengusahakan sekuat
tenaga agar ventilasi paru dapat pulih kembali seperti sediakala. RJP bermanfaat
untuk menyelamatkan korban serangan jantung, kasus tenggelam, kekurangan
nafas, tersengat listrik, dan kelebihan obat.
RJP dilakukan pada saat jantung dan pernafasan korban telah berhenti
bekerja. Penyelamatan pernafasan digunakan pada saat nadi masih berdenyut
tetapi tidak ada pernafasan. Seorang dokter gigi seharusnya mampu (1) Mengenali
tanda-tanda serangan jantung, (2) Memberikan RJP, dan (3) Menghubungi
Layanan Kedaruratan Medis (LKM).

Tanda-tanda serangan jantung mencakup:


1) Nyeri dada atau rasa tak enak di bagian tengah dada (terutama sebelah
kiri), bisa menyebar ke bahu kiri, lengan kiri atas, leher kiri, rahang, dada
dengan tengah dan perut kiri bagian atas; diikuti perasaan tertekan,
berat atau remuk yang berlangsung selama tak lebih dari beberapa
menit atau berlalu hilang kembali.
2) Sulit bernafas atau sesak nafas.
3) Demam (merasa dingin pada suhu panas).
4) Berkeringat atau keringat dingin.
5) Rasa kembung, salah cerna, atau perasaan tersedak (mungkin terasa seperti
rasa panas dalam lambung).
6) Mual atau muntah.
7) Detak jantung yang cepat atau tak teratur (palpitasi).
8) Pusing dan pingsan.
RJP dapat digolongkan dalam 3 (tiga) macam cara yaitu :
1.2.1 Nafas Bantuan
Nafas bantuan adalah nafas yang diberikan kepada pasien untuk
menormalkan frekuensi nafas pasien yang di bawah normal (frekuensi nafas orang
dewasa muda adalah 12-20 kali per menit). Jika frekuensi nafas : 6 kali per menit,
maka harus diberi nafas bantuan di sela setiap nafas spontan sehingga total nafas
permenitnya menjadi normal (12 kali).
1.2.2 Nafas Buatan
Nafas buatan adalah cara melakukan nafas buatan yang sama dengan nafas
bantuan, tetapi nafas buatan diberikan pada pasien yang mengalami henti nafas.
Diberikan dua kali secara efektif agar dada dapat mengembang.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan tindakan RJP
yaitu:
1) Periksa kesadaran orang yang akan diberi bantuan pernafasan,

2) Harus ada tenaga lain yang dapat menolong


3) Posisi penderita
Letakkan penderita dengan muka menghadap ke atas ( posisi terlentang)
pada dasar yang kokoh.Kontrol kepala dan leher ketika akan membalik
penderita, terutama bila terdapat tanda- tanda trauma, fraktur, atau lukaluka di dalam tubuh yang terdapat memperburuk perawatan selanjutnya.
Apabila penderita mengalami trauma medulla spinalis, pertahankan kepala
penderita pada posisi netral dan gerakkan bersama badan sebagai satu
bagian.
4) Membuat jalan nafas dan menjaga agar tetap terbuka
5) Upayakan agar tidak ada yang menghalangi jalan pernafasan seperti lidah,
cairan lendir, muntah yang mungkin dapat menghalangi gerakan udara
melalui faring, demikian pula ikat pinggang, BH, danan stagan harus di
longgarkan.Bagi penderita yang tenggelam, air yang masuk ke dalam
lambung dan paru harus dikeluarkan.
Tindakan resusitasi perlu diperhatikan bilamana tindakan RJP bilamana (1)
denyut nadi arteri mulai teraba, (2) mulai timbul pernafasan spontan, dan (3)
secara bertahap kesadaran penderita pulih kembali.
Tindakan resusitasi perlu dihentikan bilamana tindakan RJP efektif telah
berlangsung 30 menit tetapi kriteria- kriteria berikut masih dijumpai yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)

Ketidaksadaran menetap
Tidak timbul pernafasan spontan
Denyut nadi tidak teraba
Pupil berdilatasi dan menetap
Atau denyut nadi karotis telah teraba.
Penghentian resusitasi dilakukan mengingat pernafasan yang telah terhenti

selama 30 menit biasanya menunjukkan kematian serebral, atau pasien sudah


menunjukkan tanda- tanda kematian (kaku mayat) sehingga resusitasi selanjutnya
dipandang tidak berguna lagi.faktor lain yang mungkin dapat merupakan
keputusan untuk menghentikan RJP adalah kondisi penolong yang telah lelah dan
sudah tidak kuat lagi ;bantuan sudah datang, atau perjanjian tertulis dengan pasien
dan keluarganya untuk tidak melakukan resusitas.
1.2.3 Pijat Jantung
6

Pijat jantung adalah usaha untuk memaksajantung untuk memompa


darah ke seluruh tubuh.Pijat jantung dilakukan pada korban dengan nadi karotis
tidak teraba.Pijat jantung umumnya dikombinasi dengan nafas buatan.
1.2.4 Prosedur Standar RJP
1) Bebaskan/ longgarkan pakaian korban di daerah dada (buka kancing
baju bagian atas agar dada terlihat),
2) Posisikan diri disebelah korban, usahakan posisi kaki yag mendekati
kepala sejajar dengan bahu pasien,
3) Cek apakah ada tanda- tanda berikut :
a) Luka- luka dari bagian bahu ke atas (supra clavicula)
b) Pasien mengalami tumbukan di berbagai tempat (terjatuh dari
sepeda motor),
c) Berdasarkan saksi pasien mengalami cidera di tulang belakang
bagian leher, tanda- tanda tersebut adalah tanda- tanda
kemungkinan terjadinya cidera pada tulang belakang bagian
leher/cervical.Cidera pada bagian ini sangat berbahaya karena di
sini terdapat syaraf- syaraf yang mengatur fungsi vital manusia
( nafas dan denyut jantung),
d) Jika tidak ada tanda- tanda tersebut maka lakukanlah pernafasan
dari mulut ke mulut,
e) Jika tanda- tanda tersebut, maka beralih ke bagian atas, jepit
kepala pasien dengan paha, usahakan agar kepalanya tidak
bergerak lagi (imobilitas) dan lakukanlah Jaw Thrust.Gerakan ini
dilakukan untuk menghindari adanya cidera lebih lanjut pada
tulang belakang bagian leher pasien.
4) Sambil melakukan (1) dan (2) di atas, kemudian dilakukan
pemeriksaan kondisi Airway (jalan napas) dan Breathing (pernafasan)
pasien.Metode pengecekan nafas menggunakan metode Look, Listen,
dan Feet;
a) Look :
Lihat apakah ada gerakan dada (gerakan bernafas), apakah
gerakan tersebut simetris/tidak.
b) Listen:

Dengarkan apakah ada suara nafas normal, dan apakah ada suara
nafas tambahan yang abnormal (bisa timbul karena ada hambatan
sebagian).
Jenis- jenis suara nafas tambahan karena hambatan sebagian jalan nafas :
a) Snoring : suara seperti ngorok, kondisi ini menandakan adanya kebuntuan
jalan nafas bagian atas oleh benda padat, jika terdengar suara ini maka
lakukan pengecekan langsung dengan cara cross-finger untuk membuka
mulut ( menggunakan 2 jari, yaitu ibu jari dan jari telunjuk tangan yang
digunakan untuk chin lift, ibu jari mendorong rahang atas ke atas, telunjuk
menekan rahang bawah ke bawah.Lihatlah apakah ada benda yang
menyangkut di tenggorokan korban ( misal : gigi palsu dll ).Pindahkan
benda tersebut.
b) Gargling : suara seperti berkumur, kondisi ini terjadi karena ada
kebuntuan disebabkan oleh cairan (misal : darah), maka lakukanlah crossfinger, lalu lakukan finger- sweep (sesuai namanya, menggunakan 2 2 jari
yang sudah dibalut dengan kain untuk menyapu rongga mulut dari
cairan- cairan).
c) Crowing : suara dengan nada tinggi, biasanya disebabkan karena
pembengkakan (edema) pada trakea, untuk pertolongan pertama tetap
lakukan manuver head tilt and chin lift atau jaw thrust saja.Jika suara
nafas tidak terdengar karena ada hambatan total pada jalan nafas, maka
dapat dilakukan :
1) Black Blow, sebanyak 5 kali, yaitu dengan memukul menggunakan
telapak tangan daerah diantara tulang scapula di punggung.Catatan:
Black-blow tidak dilakukan untuk dewasa karena dikawatirkan
menjadi sumbatan lengkap/penuh.
2) Heilmich Manuver, dengan cara memposisikan diri seperti gambar,
lalu menarik tangan ke arah belakang atas,
3) Chest Trust, dilakukan pada ibu hamil, bayi atau obesitas dengan cara
memposisikan diri seperti posisi memeluk dari belakang dengan orang
coba berdiri kemudian mendorong tangan ke arah dalam atas.
c) Feel:

Rasakan dengan pipi pemeriksa apakah ada hawa panas dari


korban
5) Jika ternyata pasien masih bernafas, maka hitunglah berapa frekuensi
pernafasan pasien itu dalam 1 menit (pernafasan normal adalah 12-20
kali per menit)
6) Jika frekuensi nafas normal, pantau terus kondisi pasien dengan tetap
melakukan Look,Listen, dan Feel
7) Jika frekuensi nafas < 12 kali per menit, berikan nafas bantuan
8) Jika pasien mengalami henti nafas, berikan nafas buatan
9) Setelah diberikan nafas buatan maka lakukanlah pengecekan nadi a.
Karotis yang terletak di leher ( cek dengan 2 jari di tonjolan di tengah
tenggorokan, lalu gerakkan jari ke samping, jangan sampai terhambat
oleh otot leher (sterno-cleido-mastoideus), rasakan denyut nadi karotis
selama 10 detik
10) Jika tidak ada denyut nadi maka lakukanlah pijat jantung, di ikuti
dengan nafas buatan, ulangi sampai 6 kali siklus pijat jantung nafas
buatan, yang diakhiri dengan pijat jantung.
11) Cek lagi nadi karotis (dengan metode di atas) selama 10 detik, jika
teraba lakukan Look,Listen,Feel lagi. Jika tidak teraba ulangi poinn
nomor 10; atau dihentikan (lihat syarat RJP dihentikan)
12) Setelah berhasil mengamankan kondisi di atas periksalah tanda-tanda
shock pada pasien .
a. Denyut nadi > 100 kali per menit
b. Telapak tangan basah, dingin dan pucat
c. Capillary Refill Time (CRT) > 2 detik (CRT dapat diperiksa
dengan cara menekan ujung kuku pasien dengan kuku
pemeriksaan selama 5 detik, lalu lepaskan, cek berapa lama waktu
yang dibutuhkan agar warna ujung kuku merah lagi
13) Jika pasien Shock lakukan Shock Position pada pasien,, yaitu dengan
mengangkat kaki pasien setinggi 45 derajat dengan harapan sirkulasi
darah akan lebih banyak ke jantung. Pertahankan posisi Shock sampai
bantuan datang atau tanda tanda Shock berkurang
14) Jika ada perdarahan pasien, hentikan perdarahan dengan cara menekan
atau membebat luka ( Membebat jangan terlalu erat karena dapat
mengakibatkan jaringan yang dibebat mati )
9

15) Setelah kondisi pasien stabil, tetap monitor selalu kondisi pasien
dengan Look,Listen dan Feel Karena pasien sewaktu-waktu dapat
memburuk secara tiba-tiba.
1.3 Perlindungan Diri Bagi Penolong
1. Pastikan tempat memberi pertolongan tidak akan membahayakan
penolong dan pasien
2. Minimalisasi kontak langsung dengan pasien untuk mencegah penularan
penyakit
3. Selalu memperhatikan kesehatan diri penolong, sebab pemberian
pertolongan pertama adalah tindakan yang sangat memakan energi. Jika
dengan kondisi tidak fit, justru akan membahayakan penolong sendiri
BAB II
PERTANYAAN
PERTANYAAN DAN JAWABAN
1

Jelaskan mengapa mahasiswa fakultas kedokteran gigi memerlukan


pengetahuan tentang RJP?
Karena dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.39 tahun 2007, dijelaskan
bahwa salah satu lingkup kerja dokter gigi adalah memberikan pelayanan
darurat (Basic Emergency Care) yang terdiri dari BLS. Selain itu, BLS ini
sangat diperlukan di area pre-hospital maupun intra hospital. Sehingga,
menjadi seorang dokter gigi harus mempunyai keterampilan dan
melakukan BLS untuk memberikan pelayanan darurat dan mampu
menanggulangi kegawatan daruratan dengan BLS.

Apa yang anda lakukan pada saat anda menjumpai seseorang mengalami
pingsan setelah kecelakaan lalu lintas? Jelaskan !
Sebagai orang medis, kita harus melakukan pengecekan kesadaran pasien
dengan metode AV-PU:
A (alert)

: Korban sadar, jika tidak sadar lanjut ke poin V.

V (Verbal)

: Cobalah memanggil-manggil korban dengan cara


berbicara keras ditelinga korban (pada tahap ini

10

jangan

sertakan

dengan

menggoyang

atau

menyentuh pasien), jika tidak merespon lanjut ke


poin P.
P (Pain)

: Cobalah beri rangsang nyeri pada pasien, yang


paling mudah adalah menekan bagian putih dari
kuku tangan (dipangkal kuku), selain itu dapat juga
dengan menekan bagian tengah tulang dada
(sternum) dan juga areal di atas mata (supra orbital).

U (Unresponsive)

: Setelah diberi rangsang nyeri tapi pasien tidak


bereaksi, maka pasien berada dalam keadaan
unresponsive (tidak sadar).

Kemudian melakukan BLS:


1

Pembebasan jalan napas


Jalan napas pasien harus segera dibersihkan dari benda asing, lendir
atau darah. Membuka jalan napas dapat dilakukan dengan mengangkat
dagu kedepan dengan metode head lilt-chin lift/ jaw thrust ( lebih

2
3

aman ), apabila terjadi muntah, posisi pasien dimiringkan.


Call for help
Hal ini adalah mencari pertolongan yang sesungguhnya
Memeriksa pernapasan pasien dengan metode look, listen dan feel :
- Lihat apakah ada aktivitas pernapasan pada pasien ( look )
- Dengar apakah ada suara pernapasan pada pasien ( listen )
- Rasakan napas pasien dengan mengunakan 2 jari ditempelkan
dihidung
Apabila terjadi henti napas maka harus diberikan pijat jantung
sebanyak 30 kali dengan sela 2 kali napas buatan.

Apa yang anda lakukan saat anda menjumpai seseorang mengalami


peristiwa tertelannya gigi tiruan jembatan? Jelaskan.
Apabila ada gigi tiruan yang tertelan pasien harus dilakukan Cross finger
untuk membuka mulut (menggunakan 2 jari, ibu jari mendorong rahang
keatas, telunjuk menekan rahang ke bawah) kemudian ambil gigi palsu
yang tertelan. Dan melakukan back-blow ataupun hiemlich maneuver jika
gigi tiruan sudah tertelan mencapai abdomen.

11

Apa gunaya metode back blow di bidang kedokteran gigi?


Metode Back blow manuever dilakukan jika tiba-tiba mendapati seorang
pasien yang mengalami hambatan napas total pada jalan nafas, dengan
memukul menggunakan telapak tangan daerah diantara tulang scapula
dipunggung sebanyak 5 kali.

Selain itu, dilakukan apabila terjadi kasus

tersedak benda padat pada pasien, seperti gigi tiruan atau benda lain serta
ketika terjadi henti napas pada pasien bayi atau anak-anak.
5

Apa gunanya metode Heimleich Manuever di bidang kedokteran gigi ?


Hiemlich maneuver dilakukan jika back-blow maneuver tidak berhasil
mengeluarkan benda yang tertelan. dengan kata lain fungsinya sama.
Metode Hiemlich maneuver dilakukan jika suara nafas tidak terdengar
karena ada hambatan total pada jalam nafas dengan cara memposisikan
diri dibelakang pasien, kemudian melingkarkan tangan pada sterno pasien
lalu menekan sterno pasien dengan menarik tangan kita kebelakang

Apa gunanya metode Chest Thrust di bidang kedokteran gigi ?


Sama seperti back-blow dan hiemlich maneuver, chest thrust maneuver
juga dilakukan dan biasanya dipadukan dengan back-blow untuk
mengeluarkan benda asing tersebut. Metode Chest Thrust dilakukan jika
suara nafas pada ibu hamil, bayi atau obesitas karena ada hambatan total
pada jalan nafas dengan cara mendorong tangan kearah dalam atas.

12

BAB III
PEMBAHASAN
Mahasiswa kedokteran gigi penting sekali memiliki pengetahuan tentang
PPGD dan RJP karena nanti jika sudah lulus dari pendidikan dokter gigi (klinik)
ataupun telah menjadi dokter gigi, maka ketika menghadapi pasien yang tiba-tiba
tidak sadarkan diri ataupun dalam kondisi gawat darurat, kita dapat langsung
memberikan pertolongan pertama untuk menyelamatkan jiwa pasien sebelum
akhirnya diberikan perawatan yang sesuai dengan keadaan korban. Selain itu,
sebagai orang yang paham tentang medis daripada masyarakat awam lainnya,
ketika menemui korban yang dalam kondisi gawat darurat tiba-tiba dijalan, kita
dapat langsung memberi pertolongan pertama.
Pertolongan black blow maneuver dilakukan apabila terjadi kasus tersedak
benda padat pada pasien. Apabila ada pasien yang tertelan gigi tiruannya, yang
harus kita lakukan sebagai dokter gigi adalah adalah memberikan PPDG yang
selanjutnya dilakukan pemeriksaan apakah gigi tiruan masih dapat diambil atau
tidak. Ketika masih bisa diambil dilakukan dengan metode jaw thrust dan sengan
cara cross finger untuk mmbuka mulut (menggunakan 2 jari yaitu ibu jari dan jari
telunjuk yang digunakan untuk chin lift, ibu jari mendorong rahang atas ke atas,
telunjuk menekan rahang bawah ke bawah) dan pindahkan gigi tiruan tersebut.
Namun, jika sudah tertlan dilakukan dengan metode black blow maneuver atau
heimlich maneuver saat gigi tiruan sudah tertelan mencapai abdomen pasien.
Pertolongan black blow maneuver selain berguna saat terjadinya kasus
tersedak benda padat, pertolongan ini juga digunakan untuk membebaskan jalan
napas saat terjadi henti napas pada pasien bayi atau anak-anak.
Sedangkan pertolongan heimlich maneuver dilakukan apabila perawatan
dengan metode black blow maneuver tidak berhasil. Metode black blow maneuver
dan metode heimlich maneuver sebenarnya memiliki fungsi yang sama, hanya
saja pada metode heimlich maneuver dilakukan penekanan pada ulu hati dan
dilakukan apabila benda padat sudah tertelan sudah sampai pada abdomen serta

13

berfungsi untuk untuk membebaskan jalan napas saat terjadi henti napas pada
pasien bayi, anak-anak, dan orang dewasa untuk korban sadar dan tidak sadar.
Metode chest thrust sebenarnya sama saja dengan metode heimlich
maneuver, hanya saja pada metode chest thrust yang ditekan adalah dada atau
tulang rusuk.
Jika menjumpai pasien dianastesi kemudian tidak sadarkan diri, kita bisa
memberikan PPDG dengan langkah awal pengkajian korban yang meliputi
pernafasan dan peredaran darahnya. Jika pasien pingsan, yang diperiksa adalah
pernafasannya melalui terangkatnya dada dengan metode Look, Listen and Feel.
Hal lain yang perlu diperiksa yaitu pupil mata dan denyut nadi pada artericarotis.
Apabila korban tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, maka segera
dilakukan nafas buatan dan meminta orang lain untuk menghubungi Layanan
Kedaruratan Medis (LKM).
Revisi Metode RJP oleh American Heart Association pada tahun 2010
(terbaru):
American Heart Association (AHA) pada tahun 2010 telah mempublikasikan
pedoman RJP dan perawatan darurat kardiovaskular. Evaluasi dan revisi
senantiasa dilakukan setiap 5 tahun sekali oleh American Red Cross,Australia Red
Cross serta perwakilan Red Cross dan Red Crescent lainnya, AHA, Europe
Resuscitation

Council,

Resuscitation

Council

of

Asia

(Jepang,Korea,Singapore,Taiwan), Australian and New Zealand Committee on


Resuscitation (ANZCOR), Resuscitation Council of Southern Africa (RCSA),
Heart and Stroke Foundation of Canada (HSFC),Inter American Heart Foundation
(IAHF),yang masuk dalam International Liaison Committee on Resuscitation
(ILCOR) yang bertugas untuk mengevaluasi RJP setiap 5 tahun sekali.
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh mencakup urutan dan prioritas langkahlangkah CPR dan disesuaikan dengan kemajuan ilmiah saat ini untuk
mengidentifikasi faktor yang mempunyai dampak terbesar pada kelangsungan
hidup. Mereka merekomendasikan untuk mendukung suatu intervensi yang
hasilnya menunjukkan yang paling memungkinkan untuk dilakukan.

14

Perubahan pedoman ini menurut AHA adalah dengan melakukan terlebih dahulu
kompresi dada dari pada membuka jalan napas dan memberikan napas buatan
untuk korban henti jantung.
Pertimbangannya

adalah

kompresi

dada

lebih

penting

untuk

segera

mensirkulasikan oksigen keseluruh jaringan tubuh terutama ke otak, paru dan


jantung.
Rekomendasi dari AHA untuk tahun 2010 berupa suatu pedoman yang lebih aman
dan lebih efektif dari banyaknya pendekatan yang ada dan memperkenalkan suatu
bentuk perawatan terbaru dengan berbasis pada evaluasi yang terbukti lebih
intensif dan atas dasar konsensus dari para ahli. Rekomendasi yangi baru ini
bukan berarti bahwa pedoman yang sebelumnya tidak aman atau tidak efektif.
Setelah mengevaluasi dari berbagai penelitian selama lima tahun terakhir, AHA
mengeluarkan suatu 'Panduan Resusitasi Jantung Paru (RJP) 2010'. Hal utama
pada RJP 2010 ini adalah pada kualitas kompresi dada. Perbedaan antara 'Panduan
RJP 2005 dengan Panduan RJP 2010' adalah sebagai berikut :
1. ABC berubah menjadi CAB
Pada pedoman sebelumnya (tahun 2005) yang dipergunakan adalah
ABC : Airway, Breathing dan Chest Compressions,yaitu Membuka jalan
napas,Memberi bantuan pernapasan dan Kompresi dada. Pada pedoman
yang terbaru (tahun 2010),Kompresi Dada didahulukan dari yang
lainnya,baru kemudian Membuka jalan napas dan Memberi bantuan
pernapasan.
Dengan memulai kompresi dada terlebih dahulu diharapkan akan
memompa darah yang masih mengandung oksigen ke otak dan jantung
sesegera mungkin,karena beberapa menit setelah terjadinya henti jantung
masih terdapat kandungan oksigen di dalam paru-paru dan sirkulasi darah.

15

Kompresi dada dilakukan pada tahap awal selama 30 detik


sebelum melakukan pembukaan jalan napas dan melakukan pemberian
napas buatan.
Untuk pada bayi yang baru lahir tetap memakai pedoman ABC,jadi
pada bayi yang baru lahir tidak terjadi perubahan. Pedoman CAB hanya
berlaku pada bayi,anak dan dewasa.
2. Tidak ada lagi Look,Listen dan Feel
Dalam menyelamatkan seseorang yang mengalami henti jantung
adalah dengan bertindak dengan segera dan cepat,sehingga tidak perlu
dilakukannya lagi suatu penilaian. Segera hubungi ambulan ketika melihat
ada korban yang tidak sadarkan diri dan terlihat adanya gangguan
pernapasan.
Jika dilakukan suatu penilaian bahwa korban masih bernafas atau
tidak,itu boleh saja akan tetapi perlu dipikirkan bahwa dengan melakukan
tindakan Look,Listen dan Feel,ini akan menghabiskan waktu yang ada.
3. Melakukan Kompresi Dada lebih dalam
Jika pada pedoman sebelumnya (tahun 2005) dalam menekan dada
adalah 1,5 sampai 2 inchi, maka pada pedoman yang baru (tahun 2010)
AHA merekomendasikan untuk menekan dada sedalam 2 inchi.
4. Melakukan Kompresi Dada lebih cepat
AHA merekomendasikan

agar

melakukan

tekanan

dengan

menekan dada minimal sebesar 100 kompresi dalam waktu 1 menit atau
dengan kata lain 30 kompresi dalam waktu 18 detik. Perbandingan
kompresi berubah dari 15 : 2 menjadi 30 :2.

16

5. Hands only CPR


AHA tetap merekomendasikan melakukan RJP seperti ini pada
2008 karena AHA berharap agar penolong yang tidak terlatih untuk
melakukan Hands only CPR pada korban dewasa yang sedang
dihadapinya dimana korban dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Bagaimana jika korbannya bukan orang dewasa sedangkan yang
menjadi penolong bukan orang yang terlatih?Saran dari AHA : tetap
lakukan hands only CPR,karena lebih baik berbuat sesuatu daripada tidak
melakukannya sama sekali.
6. Henti jantung mendadak
RJP adalah satu-satunya tata laksana untuk henti jantung mendadak
dan AHA meminta kita waspada dan melakukan RJP saat itu terjadi.
7. Jangan berhenti menekan
Jika menghentikan tekanan pada dada dalam jangka waktu yang
lama maka hal ini akan menyebabkan kematian jaringan pada otak karena
terhentinya aliran darah ke otak. Dengan tetap melakukan tekanan pada
dada maka aliran darah ke otak akan tetap berjalan. Selain itu jika
melakukan tekanan pada dada mulai dari awal lagi akan dibutuhkan
beberapa kali kompresi lagi agar aliran darah dapt mengalir kembali.
AHA menyarankan agar secara terus menerus melakukan tekanan
pada dada sampai tenaga medis datang untuk menilai keadaan jantung.Jika
sudah waktunya dilakukan memberikan bantuan pernapasan 'mouth to
mouth', segera dilakukan dan sesegera pula lakukan tekanan pada dada.

17

BAB IV
KESIMPULAN
Mahasiswa kedokteran gigi penting sekali memiliki pengetahuan tentang
PPGD dan RJP karena suatu saat ketika menghadapi pasien yang tiba-tiba tidak
sadarkan diri ataupun dalam kondisi gawat darurat dan membutuhkan pertolongan
pertama,

kita

dapat

langsung

memberikan

pertolongan

pertama

untuk

menyelamatkan jiwa pasien sebelum akhirnya diberikan perawatan yang sesuai


dengan keadaan korban. resusitasi kardiopulmonal adalah tindakan yang
dilakukan pada orang yang mengalami gangguan transport oksigenasi, baik yang
diakibatkan karena pernapasan berhenti maupun gangguan sistem sirkulasi.
RJP diberikan pada kondisi tertentu seperti henti jantung dan henti nafas,
henti nafas tanpa henti jantung atau henti jantung tanpa ditandai dengan henti
nafas. Gangguan transport oksigen karena berhentinya pernapasan diatasi dengan
melakukan

manouver-manouver antara lain : membebaskan jalan napas,

memeriksa pernapasan, memberikan pijat jantung dan napas buatan dan


pemeriksaan nadi karotis.

18

DAFTAR PUSTAKA

C. Guyton. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 7, bagian 1 & 2. Jakarta:
EGC.
Kartono, Mohammad. 1975. Pertolongan Pertama. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Tim Fisiologi. 2001. Petunjuk Praktikum Psikologi Faal. Yogyakarta:
Laboratorium Psikologi Faal Fakultas Psikologi UGM.

19