Anda di halaman 1dari 94

MAKALAH GAWAT DARURAT

PENUGASAN PORTOPOLIO

Disusun Oleh :
RINDA EKA HANGGARI
NIM. 121.0085
S1 4A

PRODI S1-KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN2015/2016

DAFTAR ISI
Daftar Isi .........................................................................................................ii
Bab 1

Konsep Kegawatdaruratan .................................................................1

1.1

Kegawatan .........................................................................................1

1.2

Unit Gawat Darurat ...........................................................................1

1.3

Kelompok Kasus Perlu Penanganan Segera Akibat Ancaman


Kecacatan ...........................................................................................1

1.4

Keperawatan Kegawatan ...................................................................2

1.5

Prioritas Utama Penyebab Kegawatan ..............................................3

1.6

Filosofi Dasar PPGD .........................................................................3

1.7

Triage .................................................................................................5

1.8

Peran Perawat Kegawadaruratan .......................................................6

1.9

Data Data Monitoring .....................................................................8

1.10 Keperawatan Gawat Darurat .............................................................8


1.11 Komponen Pencatatan Penting ..........................................................9
1.12 Dokumentasi Triage ...........................................................................9
Bab 2

Konsep Bantuan Hidup Dasar ...........................................................10

2.1

Definisi BLS ......................................................................................10

2.2

Tujuan ................................................................................................10

2.3

Tindakan ............................................................................................11

2.4

Indikasi Bantuan Hidup Dasar ...........................................................15

2.5

Basic Life Support & Monitoring Hemodinamik ..............................17

Bab 3

Konsep Intoksikasi ............................................................................25

3.1

Definisi Intoksikasi ............................................................................25

3.2

Etiologi ..............................................................................................25

3.3

Manifestasi Klinis ..............................................................................25

3.4

Diagnosis ...........................................................................................25

3.5

Pengobatan .........................................................................................25

Bab 4

Konsep Kegawatan Sirkulasi ............................................................33

4.1

Konsep Sirkulasi ................................................................................33

ii

4.2

Blood Gas Analisa .............................................................................38

4.3

Konsep Asam Basa ............................................................................39

4.4

Persamaan Henderson hasselbalch .................................................43

Bab 5

Konsep Farmakologi Kedaruratan ....................................................44

5.1

Konsep Farmakologi Serta Obat-Obatan Kedaruratan ......................44

Bab 6

Kegawatan Sistem Sensori Persepsi .................................................56

6.1

Kegawatdaruratan Sistem Penglihatan ..............................................56

6.2

Kegawatdaruratan Sistem Pendengaran ............................................59

6.3

Kegawatdaruratan Sistem Penciuman ...............................................66

6.4

Kegawatdaruratan Sistem Integument ...............................................69

Bab 7

Kegawatan Kemaritiman Dan Matra Kelautan ................................68

7.1

Pengenalan Penyelaman ....................................................................70

7.2

Hiperbarik ..........................................................................................71

7.3

Faktor Faktor Yang Memperberat Resiko Penyelaman ..................72

7.4

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Penyelaman .........................73

7.5

Prosedur Penyelaman ........................................................................78

7.6

Penyakit Akibat Kerja Karena Penyelaman .......................................79

Bab 8

Kegawatan Sistem Pernafasan ..........................................................85

8.1

Manajemen Airway ............................................................................87

8.2

Manajemen Breathing ........................................................................90

Kesan dan Pesan .............................................................................................94

iii

BAB 1
KONSEP KEGAWATDARURATAN
1.1 Kegawatan
Suatu keadaan yang menimpa seseorang yang dapat menyebabkan sesuatu
yang mengancam jiwanya dalam arti memerlukan pertolongan tepat, cermat
dan cepat bila tidak maka seseorang tersebut dapat mati atau menderita
cacat.
Mati dikelompokkan menjadi 2, yaitu :
Mati Batang Otak
1. Tidak ada respon cahaya
2. Tidak ada refleks kornea
3. Tidak ada pernapasan spontan
4. Tidak ada sikap tubuh abnomal
5. Tidak reflek muntah / reflek batuk
Mati Klasik
1. Henti napas
2. Henti sirkulasi
3. Terjadi kerusakan sel
4. Sifat ireversible
1.2 Unit Gawat Darurat
Unit pelayanan rumah sakit yang memberikan pelayanan pertama pada pasien
dengan ancaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan
berbagai multidisiplin (Depkes, 2005). Instalasi gawat darurat yang
merupakan pintu utama sebuah rumah sakit yang diharapkan mampu
memberikan pelayanan darurat dengan standar yang tinggi kepada masyarakat
(Rumah Sakit Saiful Anwar, 2012).
1.3 Kelompok Kasus Perlu Penanganan Segera Akibat Ancaman Kecacatan
Fraktur tulang disertai cedera pada Persyarafan
Crush injury
Sindroma kompartemen
Sindroma Kompartemen adalah masalah medis akut yang menyertai
cedera, pembedahan atau pada kebanyakan kasus penggunaan otot
yang berulang dan meluas, yang mana meningkatkan tekanan
(biasanya disebabkan oleh radang) dalam ruang yang tertutup
(kompartemen fascia) pada tubuh dengan suplai darah yang tidak
memadai. Tanpa terapi bedah yang tepat, hal ini mungkin
1

menyebabkan kerusakan saraf dan kematian otot. Kondisi ini paling


sering terlihat pada kompartemen anterior dan posterior pada kaki.
1.4 Keperawatan Kegawatdaruratan
Rangkaian kegiatan praktik keperawatan kegawatdaruratan yang diberikan
oleh perawat yang kompeten untuk memberikan asuhan keperawatan di ruang
gawat darurat.
Menurut Pasal 35 UU Kep No 38 thn 2014 :
(1) Dalam keadaan darurat untuk memberikan pertolongan pertama,
Perawat dapat melakukan tindakan medis dan pemberian obat
sesuai dengan kompetensinya.
(2) Pertolongan pertama sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
bertujuan untuk menyelamatkan nyawa Klien dan mencegah
kecacatan lebih lanjut.
(3) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
keadaan yang mengancam nyawa atau kecacatan Klien.
(4) Keadaan darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan
oleh

Perawat

sesuai

dengan

hasil

evaluasi

berdasarkan

keilmuannya.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai keadaan darurat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
Kemampuan minimal petugas UGD (pedoman depkes 1990)
1. Membuka & membebaskan jalan nafas (airway)
2. Memberikan ventilasi pulmoner & oksigenisasi (breathing)
3. Memberikan sirkulasi artificial dengan jalan massage jantung luar
(circulation)
4. Menghentikan perdarahan, balut bidai, transportasi, pengenalan &
penggunaan obat resusitasi, membuat & membaca rekaman EKG.
5. Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung paru
otak, kejang, koma, perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri
hebat daerah pinggul & kasus ortopedi.
6. Mampu melaksanakan pencatatan & pelaporan yan askep .
7. Mampu berkomunikasi : intern, ekstern
1.5 Prioritas Utama Penyebab Kegawatan
Semua keadaan yang mengakibatkan kegawatan yang menyangkut jalan
napas, fungsi napas, fungsi sirkulasi, fungsi otak dan kesadaran seperti pada
penyakit tertentu, obat-obatan narkotika atau reaksi anafilaktosis dan trauma.

1.6 Filosofi Dasar PPGD


Filosofi dasar PPGD dibagi menjadi 3, yaitu :
Universal
Penanganan oleh siapa saja
Penyelesaian berdasarkan masalah
Prinsip PPGD

Penanganan cepat dan tepat

Pertolongan segera diberikan oleh siapa saja yang menemukan pasien


tersebut

Meliputi tindakan :
1. A. Non medis : cara meminta pertolongan, transportasi,
menyiapkan alat-alat.
2. B. Medis : kemampuan medis berupa pengetahuan maupun
ketrampilan : bls, als

Lingkup PPGD

Melakukan primary survey


1. Yaitu deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi fungsi
organ vital yang terancam
2. Dalam waktu kurang dari 2- 5 menit (pediatri : 7 menit) dalam
mengatasi

kondisi

pasien

gawat

penolong

harus

mampu

menyimpulkan kondisi kegawatannya tanpa dukungan alat bantu


diagnostik.
3. Memeriksa kondisi kesadaran pada tahap primary survey disebut
AVPU.
4. Melakukan ABCDE
Airway : Jalan Napas, Look, listen and feel, jalan napas
pastikan adekuat, jika tidak bebaskan jalan napas dengan
jaw thrust, head tilt, chin lift.
Breathing : Pernapasan Resusitasi, berikan oksigen,
Circulation : Sirkulasi, cek perdarahan eksternal, internal,
kaji syok (perfusi dingin, nadi cepat, lemah, CRT<2 detik)
Disability : Kesadaran, Trauma kepala
Environment : Lingkungan, lepas semua baju ,segera
selimuti untuk mengurangi hipotermia

Secondary survey
1. Mencari perubahan fisik anatomis yang dapat berkembang menjadi
gawat dan mengancam jiwa jika tidak segera diatasi.
2. Dilakukan setelah primery survey tuntas
3. Dilakukan dengan alat
4. Pada kasus trauma setiap pemeriksaan selalu dimulai dengan
pertanyaan : DECAPBLS (Deformitas, Ekskoriasi,Confusi, Abrasi,
Penestrasi, Bullae/burn, Laserasi, Swelling) sedang pada dugaan
fraktur selalu dimulai dengan pertanyaan PIC (Pain, Instabilitas,
Crepitasi)
5. Perhatikan tanda vital

Resusitasi pada kasus dengan henti napas dan henti jantung

Catatan :
DIAKHIRI JIKA :
Diketahui kemudian bahwa sesudah dimulai resusitasi, pasien ternyata
berada dalam stadium suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi, atau
hampir dapat dipastikan bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi
serebalnya yaitu sesudah selama - 1 jam terbukti tidak adanya nadi pada
normotermia tanpa resusitasi jantung dan paru.
1.7 Triage
Tindakan Triage
Tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya

untuk memperoleh prioritas tindakan.


Pengelompokan korban yang berdasarkan atas berat ringannya

trauma/penyakit serta kecepatan penanganannya atau pemindahannya.


Prioritas adalah penentuan mana yg harus didahulukan mengenai
penanganan dan pemindahan.

Tanggung jawab Tim Triage

Mencegah kerusakan berlanjut/ bertambah parah

Memilah-milah korban

Melindungi korban

Klasifikasi Pasien

Pasien Gawat Darurat


Pasien Gawat Tidak Darurat
Pasien Darurat Tidak Gawat
Pasien Tidak Gawat Tidak Darurat

Sifat pasien gawat darurat :

Perlu pertolongan segera, cepat, tepat dan aman

Mempunyai masalah patologis, psikososial, lingkungan, keluarga

Tidak sabar menunggu informasi

Unik

1.8 Peran Perawat Kegawatdaruratan


Profil perawat gawat darurat
Orang terdekat dengan pasien
Paling mengetahui perkembangan pasien saat dirawat, tanda tanda

kegawatan
Mampu mengenal gejala dan pertolongan sebelum dokter datang
Bertanggung jawab atas perkembangan dan tindakan yang telah

dilakukan pencatatan
Berfikir dan berinisiatif melihat gejala pasien syok hipovolemik,
interpretasi data

syok , Produk urine, sirkulasi perifer, kehausan,

kesadaran, atur posisi pasien, berikan oksigen, hangatkan perifer


Peran perawat sesuai lokakarya nasional keperawatan th 1993 :

Sebagai tenaga pelaksana pelayanan keperawatan


Sebagai pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi

pendidikan keperawatan
Sebagai pendidik dalam ilmu keperawatan
Sebagai peneliti
Sebagai komunikator .
Sebagai tenaga pelaksana pelayanan keperawatan dimana meliputi :
pemberi asuhan keperawatan selama 24 jam terus menerus

berkesinambungan
turut serta dalam klb. (care giver)

pelindung pasien (advocate) , sebagai penasehat (counsellor),


sebagai koordinator
sebagai kolaborator
sebagai konsultan.

Menurut Pasal 29 UU Kep no 38 thn 2014 :


Dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat bertugas sebagai:
1. pemberi Asuhan Keperawatan;
2. penyuluh dan konselor bagi Klien;
3. pengelola Pelayanan Keperawatan;
4. peneliti Keperawatan;
5. pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang; dan/atau
6. pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu.
Fungsi Perawat Gawat Darurat
Fungsi independen : fungsi mandiri berkaitan dengan pemberian

asuhan (care)
Fungsi dependen : fungsi yang didelegasikan sepenuhnya atau

sebagian dari profesi lain


Fungsi kolaboratif : Kerjasama saling membantu dlm program kes.
(Perawat sebagai anggota Tim Kes.)

Faktor-faktor yang menjadi stressor bagi perawat dalam unit perawatan kritis

Konflik interpersonal dengan perawat

Memberi perawatan pada pasien sakit

Isu-isu mengenai administrator dan manajer keperawatan seperti : pola


komunikasi, pemantauan dan perencanaan staf, penghargaan termasuk
gaji, promosi dan kesempatan memperoleh pendidikan.

Isu etik yang berhubungan dengan pasien yang menjelang ajal

Konflik interpersonal dengan dokter

IGD dan Turnover (Beecroft, 2008)


Burnout dan turnover yang tinggi berdampak pada kekurangan staf perawat
yang akhirnya rasio perawat dan pasien meningkat
(Schriver, 2003; Spooner-Lane, 2004; Kart, 2009; Berezuik, 2010).
1. Lingkungan instalasi gawat darurat yang penuh dengan tekanan
beban kerja yang tinggi
2. Hubungan perawat dengan teman sejawat yang kurang harmonis

3. Tuntutan yang tinggi terhadap kemampuan perawat dalam


melakukan pelayanan
Tekanan Perawat ICCU

Dugaan-dugaan diri sendiri

Dugaan-dugaan supervise

Perlengkapan dan tehnik yang berbelit-belit

Tertutup, sarat dengan pekerjaan

Selalu kontak dengan pasie gawat dan orang mati

Selalu waspada pada setiap keadaan klien

Harus siaga untuk hal-hal yang emergensi

Menyandang tingkatan pekerjaan yang tinggi.

Tebatas langkah untuk melepas diri dari lingkunga strees tinggi

Terbatas berkomunikasi dengan pasien-pasien sehubungan dengan


intubasi atau ganguan tingkat kesadaran.

Terbatas kesmpatan berkomunikasi dengan keluarga pasien

Terisolasi dari perawat lain di rumah sakit

Konflik etik sehubungan dengan masalah resusitasi dan pengguanakan


alat untuk mempertahankan hidup.

Meningkatkan komunikasi antar perawat

Situasi

: Apa yang dihadapi adalah apa yang kita pikirkan

Tugas

: Apa yang seharusnya kita lakukan

Intent

: Apa alasan terhadap tindakan yang dilakukan

Concern : Selalu fokus dalam setiap situasi

Calibrate : Selalu bertanya jika tidak tahu atau tidak memahami


sesuatu.

1.9 Data-Data Monitoring


Cardiac monitor
Hemodynamic Pressure
Tekanan Intrakranial Monitor
EEG

1.10

Arrhythmias
Pulmonary Artey Pressure
Intracranial Pressure
Respiration
Thermometer tubuh

Keperawatan Gawat Darurat


Harus dilakukan dengan cepat, tepat dan akurat
Dimulai sejak penerimaan pasien (triage) sampai dengan pemindahan
pasien ke unit lain (pre hospital, primary survey, dan secondary

1.11

survey)
Sistem pendokumentasiannya sering berupa checklist yang memuat

keterangan pre hospital dan intra hospital


Bersifat multidisiplin

Komponen Pencatatan Penting


Keadaan pasien saat datang ke IGD
ABCDE Pada primary survey
Secondary Survey
Pemberian obat yang telah diberikan
Terapi cairan yang telah diberikan
Penyuluhan dan Discharge Planning

1.12 Dokumentasi Triage


Proses pendokumentasian pada tahap triage meliputi waktu dan datangnya alat
transportasi, Keluhan utama saat pasien datang, pengkodean warna prioritas
setelah ditriage dan Intervensi awal yang diberikan. (Iyer & Camp, 2005).

BAB 2
KONSEP BANTUAN HIDUP DASAR

2.1 Definisi BLS


Bantuan hidup dasar (Basuc life support) adalah usaha yang dilakukan
untuk menjaga jalan napas (airway) tetap terbuka, menunjang pernapasan dan
sirkulasi dan tanpa menggunakan alat-alat bantu (Soerianata, 1996).
Istilah basuc life support mengacu pada mempertahankan jalan nafas
dan sirkulasi. Basuc life support ini terdiri dari beberapa elemen:
penyelamatan pernapasan (juga dikenal dengan pernapasan dari mulut ke
mulut) dan kompresi dada eksternal. Jika semua digabungkan maka
digunakan istilah Resusitasi Jantung Paru (RJP) (Handley, 1997).
Bantuan hidup dasar adalah tindakan darurat untuk membebaskan
jalan napas, membantu pernapasan dan mempertahankan sirkulasi darah tanpa
menggunakan alat bantu (Alkatiri, 2007).
2.2 Tujuan
Tujuan utama dari bantuan hidup dasar adalah suatu tindakan
oksigenasi

darurat

untuk

mempertahankan

ventilasi

paru

dan

mendistribusikan darah-oksigenasi ke jaringan tubuh (Alkatiri, 2007).


Tujuan bantuan hidup dasar ialah untuk oksigenasi darurat secara
efektif pada organ vital seperti otak dan jantung melalui ventilasi buatan dan
sirkulasi buatan sampai paru dan jantung dapat menyediakan oksigen dengan
kekuatan sendiri secara normal (Latief, 2009).

10

2.3 Tindakan

2.3.1 Periksa Respon dan Layanan Kedaruratan Medis


Berteriak didekat kuping Pemeriksaan kesadaran dilakukan untuk
menentukan pasien sadar atau tidak dengan cara memanggil, menepuk
bahu atau wajah korban. Jika pasien sadar, biarkan pasien dengan posisi
yang membuatnya merasa nyaman, dan bila perlu lakukan kembali
penilaian kesadaran setelah beberapa menit. Jika pasien tidak sadar segera
meminta bantuan dengan cara berteriak TOLONG! atau dengan
menggunakan alat komunikasi dan beritahukan dimana posisi anda
(penolong) (ERC Guidelines, 2010).
2.3.2 Pembebasan Jalan Napas (Airway Support)
Gangguan airway dapat timbul secara mendadak dan total, perlahanlahan dan sebagian, dan progresif dan/atau berulang (ATLS, 2004).
Penyebab utama obstruksi jalan napas bagian atas adalah lidah yang jatuh
kebelakang dan menutup nasofaring. Selain itu bekuan darah, muntahan,
edema, atau trauma dapat juga menyebabkan obstruksi tersebut. Oleh
karena itu, pembebasan jalan napas dan menjaga agar jalan napas tetap
terbuka dan bersih merupakan hal yang sangat penting dalam BLS (Van
Way, 1990).
Bila penderita mengalami penurunan tingkat kesadaran, maka lidah
mungkin jatuh kebelakang dan menyumbat hipofaring. Bentuk sumbatan

11

seperti ini dapat segera diperbaiki dengan cara mengangkat dagu (chin-lift
maneuver) atau dengan mendorong rahang bawah ke arah depan (jawthrust maneuver). Tindakan-tindakan yang digunakan untuk membuka
airway dapat menyebabkan atau memperburuk cedera spinal. Oleh karena
itu,

selama

mengerjakan

prosedur-prosedur

ini

harus

dilakukan

immobilisasi segaris (in-line immobilization) dan pasien/korban harus


diletakkan di atas alas/permukaan yang rata dan keras (IKABI, 2004).
Teknik-teknik mempertahankan jalan napas (airway):
1. Tindakan kepala tengadah (head tilt)
Tindakan ini dilakukan jika tidak ada trauma pada leher. Satu
tangan penolong mendorong dahi kebawah supaya kepala tengadah
(Latief dkk, 2009).
2. Tindakan dagu diangkat (chin lift)
Jari-jemari satu tangan diletakkan dibawah rahang, yang kemudian
secara hati-hati diangkat keatas untuk membawa dagu ke arah
depan. Ibu jari dapat juga diletakkan di belakang gigi seri (incisor)
bawah dan secara bersamaan dagu dengan hati-hati diangkat.
Maneuver chin lift tidak boleh menyebabkan hiperekstensi leher
(IKABI, 2004)
3. Tindakan mendorong rahang bawah (jaw-thrust)
Pada pasien dengan trauma leher, rahang bawah diangkat didorong
kedepan pada sendinya tanpa menggerakkan kepala-leher. (Latief
dkk, 2009).
2.3.3 Bantuan Napas dan Ventilasi (Breathing Support)
Oksigen sangat penting bagi kehidupan. Pada keadaan normal,
oksigen diperoleh dengan bernafas dan diedarkan dalam aliran darah ke
seluruh tubuh (Smith, 2007).
Breathing support merupakan usaha ventilasi buatan dan oksigenasi
dengan inflasi tekanan positif secara intermitten dengan menggunakan
udara ekshalasi dari mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau dari mulut ke
alat (S-tube masker atau bag valve mask) (Alkatri, 2007).

12

Breathing support terdiri dari 2 tahap :


1. Penilaian Pernapasan
Menilai pernapasan dengan memantau atau observasi dinding dada
pasien dengan cara melihat (look) naik dan turunnya dinding dada,
mendengar (listen) udara yang keluar saat ekshalasi, dan
merasakan (feel) aliran udara yang menghembus dipipi penolong
(Mansjoer, 2009).
2. Memberikan bantuan napas
Bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut (mouth-tomouth), mulut ke hidung (mouth-to-nose), mulut ke stoma
trakeostomi atau mulut ke mulut via sungkup (Latief dkk, 2009).
a. Pada bantuan napas mulut-ke-mulut (mouth-to-mouth) jika
tanpa alat, maka penolong menarik napas dalam, kemudian
bibir penolong ditempelkan ke bibir pasien yang terbuka
dengan erat supaya tidak bocor dan udara ekspirasi
dihembuskan ke mulut pasien sambil menutup kedua lubang
hidung pasien dengan cara memencetnya.
b. Ada bantuan napas mulut-ke-hidung (mouth-to-nose), maka
udara ekpsirasi penolong dhembuskan kehidung pasien
sambil menutup mulut pasien. Tindakan ini dilakukan kalau
mulut pasien sulit dibuka (trismus) atau pada trauma
maksilo-fasial.
c. Pada bantuan napas mulut-ke-sungkup pada dasarnya sama
dengan

mulut-ke-mulut.

Bantuan

napas

dapat

pula

dilakukan dari mulut-ke-stoma atau lubang trakeostomi


pada pasien pasca bedah laringektomi.
d. Frekuensi dan besar hembusan sesuai dengan usia pasien
apakah korban bayi, anak atau dewasa. Pada pasien dewasa,
hembusan sebanyak 10-12 kali per menit dengan tenggang
waktu antaranya kira-kira 2 detik. Hembusan penolong

13

dapat menghasilkan volum tidal antara 800-1200 ml (Latief


dkk, 2009).
2.3.4 Sirkulasi (Circulation Support)
Merupakan

suatu

tindakan

resusitasi

jantung

dalam

usaha

mempertahankan sirkulasi darah dengan cara memijat jantung, sehingga


kemampuan hidup sel-sel saraf otak dalam batas minimal dapat
dipertahankan (Alkatri, 2007).
Dilakukan dengan menilai adanya pulsasi arteri karotis. Penilaian ini
maksimal dilakukan selama 5 detik. Bila tidak ditemukan nadi maka
dilakukan kompresi jantung yang efektif, yaitu kompresi dengan kecepatan
100 kali per menit, kedalaman 4-5 cm, memberikan kesempatan jantung
mengembang (pengisian ventrikel), waktu kompresi dan relaksasi sama,
minimalkan waktu terputusnya kompresi dada. Rasio kompresi dan
ventilasi 30:2 (Mansjoer, 2009).
Tempat kompresi jantung luar yang benar ialah bagian tengah separuh
bawah tulang dada. Pada pasien dewasa tekan tulang dada kebawah
menuju tulang punggung sedalam 3-5 cm sebanyak 60-100 kali per
menit.tindakan ini akan memeras jantung yang letaknya dijepit oleh dua
bangunan tulang yang keras yaitu tulang dada dan tulang punggung.
Pijatan yang baik akan menghasilkan denyut nadi pada karotis dan curah
jantung sekitar 10-15% dari normal (Latief dkk, 2009).
Periksa keberhasilan tindakan resusitasi jantung paru dengan
memeriksa denyut nadi arteri karotis dan pupil secara berkala. Bila pupil
dalam keadaan konstriksi dengan reflex cahaya positif, menandakan
oksigenasi aliran darah otak cukup. Bila sebaliknya yang terjadi,
merupakan tanda kerusakan otak berat dan resusitasi dianggap kurang
berhasil (Alkatiri, 2007).
Penghentian RJP
Hentikan usaha RJP jika terjadi hal-hal berikut:
1. Korban sadar kembali (dapat bernapas dan denyut nadi teraba
kembali).

14

2. Digantikan oleh penolong terlatih lain atau layanan kedaruratan


medis.
3. Penolong kehabisan tenaga untukmelanjutkan RJP.
4. Keadaan menjadi tidak aman.
(Asih, 1996).
2.3.4 Posisi Pemulihan (Recovery Position)
Recovery position dilakukan setelah pasien ROSC (Return of
Spontaneous Circulation). Urutan tindakan recovery position meliputi:
1. Tangan pasien yang berada pada sisi penolong diluruskan ke atas
2. Tangan lainnya disilangkan di leher pasien dengan telapak tangan
pada pipi pasien
3. Kaki pada sisi yang berlawanan dengan penolong ditekuk dan
ditarik ke arah penolong, sekaligus memiringkan tubuh korban ke
arah penolong
Dengan posisi ini jalan napas diharapkan dapat tetap bebas (secure
airway) dan mencegah aspirasi jika terjadi muntah. Selanjutnya, lakukan
pemeriksasn pernapasan secara berkala (Resuscitation Council UK, 2010).
2.4 Indikasi Bantuan Hidup Dasar
Tindakan RJP sangat penting terutama pada pasien dengan cardiac
arrest karena fibrilasi ventrikel yang terjadi di luar rumah sakit, pasien di
rumah sakit dengan fibrilasi ventrikel primer dan penyakit jantung iskemi,
pasien dengan hipotermi, overdosis, obstruksi jalan napas atau primary
respiratory arrest (Alkatiri dkk, 2007).
Pada beberapa keadaan, tindakan resusitasi tidak dianjurkan (tidak
efektif), antara lain: bila henti jantung (arrest) telah berlangsung lebih dari 5
menit (oleh karena biasanya kerusakan otak permanen telah terjadi pada saat
ini), pada keganasan stadium lanjut, payah jantung refrakter, edema paru-paru
refrakter, syok yang mendahului arrest, kelainan neurologic yang berat, serta
pada penyakit ginjal, hati dan paru yang lanjut (Alkatiri dkk, 2007).

15

2.4.1 Henti Napas (Respiratory Arrest)


Henti Napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak
hal, misalnya serangan stroke, keracunan obat, tenggelam, inhalasi
asap/uap/gas, obstruksi jalan napas oleh benda asing, tersengat listrik,
tersambar petir, serangan infark jantung, radang epiglottis, tercekik
(suffocation), trauma dan lain-lain (Latief dkk, 2009).
Tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus
terjadi kolaps yang tiba-tiba), pernapasan tidak tampak atau pasien
bernapas dengan terengah-engah secara intermitten, sianosis dari mukosa
buccal dan liang telinga, pucat secara umum, nadi karotis teraba (Muriel,
1995).
Pada awal henti nafas, jantung masih berdenyut, masih teraba nadi,
pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai
beberapa menit. Kalau henti napas mendapat pertolongan dengan segera
maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat
akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal (Latief dkk,
2009).
2.4.2 Henti Jantung (Cardiac Arrest)
Henti jantung adalah keadaan terhentinya alran darah dalam system
sirkulasi tubuh secara tiba-tiba akibat terganggunya efektifitas kontraksi
jantung saat sistolik (Mansjoer, 2009).
Berdasarkan etiologinya henti jantung disebabkan oleh penyakit
jantung (82,4%); penyebab internal nonjantung (8,6%) seperti akibat
penyakit paru, penyakit serebrovaskular, penyakit kanker, perdarahan
saluran cerna obstetrik/pediatrik, emboli paru, epilepsi, diabetes mellitus,
penyakit ginjal; dan penyebab eksternal nonjantung (9,0%) seperti akibat
trauma, asfiksisa, overdosis obat, upaya bunuh diri, sengatan listrik/petir
(Mansjoer, 2009).
Henti jantung biasanya terjadi beberapa menit setelah henti napas.
Umumnya walaupun kegagalan pernapasan telah terjadi, denyut jantung
dan pembuluh darah masih dapat berlangsung terus sampai kira-kira 30

16

menit. Pada henti jantung dilatasi pupil kadang-kadang tidak jelas. Dilatasi
pupil mulai terjadi 45 detik setelah aliran darah ke otak berhenti dan
dilatasi maksimal terjadi dalam waktu 1 menit 45 detik. Bila telah
terjadidilatasi pupil maksimal, hal ini menandakan sudah 50% kerusakan
otak irreversible (Alkatiri dkk, 2007).
Henti jantung ditandai oleh denyut nadi besar tak teraba (karotis,
femoralis, radialas), disertai kebiruan (sianosis) atau pucat sekali,
pernapasan berhenti atau satu-satu (gasping, apnu), dilatasi pupil tak
bereaksi dengan ranngsang cahaya dan pasien dalam keadaan tidak sadar
(Latief dkk, 2009).
2.5 Basic Life Support & Monitoring Hemodinamik
BLS (basic life support) yaitu jalan napas+napas buatan+pijat jantung (ABC)
ALS (advanced life support) yaitu drug fluid+EKG+defibrilasi
Cardio pulmonary resuscitation (CPR)
Cardio pulmonary cerebral resuscitation (CPCR/CPR/RJPO) yaitu BLS+ALS
Prinsip yaitu mudah diajarkan, dimengerti, dilakukan siapa saja, tanpa hrs
pikir panjang dan tdk melelahkan.
Kesadaran: penilaian kesadaran dengan

Penilaian Kualitatif melalui AVPU (Allert, verbal, Pain, Unresponsive)


Composmentis, apatis(acuh), delirium (kacau mental), somnolen
(mengantuk), sopor (dengan nyeri) dan koma.

Penilaian Kuantitatif melalui GCS

Kriteria
Buka Mata

Verbal

Gerakan
Spontan

Penilaian
4

Dengan perintah

Rangsang nyeri

Tidak ada respon


orientasi

1
5

Disorientasi

Kata-kata tidak teratur

Suara tidak jelas

Tidak ada suara

17

Motorik

Menuruti perintah
Menunjukkan

6
lokasi 5

nyeri

Gerakan menarik

Flexi

abnormal/Eksaserbasi

Ekstensi
abnormal/Deserbasi
Tidak ada gerakana
2.5.1 Circulation
Transport oksigen

CaO2 adalah arterial oxygen content artinya oksigen yang terikat


Hb ditambah oksigen terlarut plasma

CaO2 = (Hb x SaO2x 1,3) + (Po2x 0,003)

(15 x 100% x 1,3 ) + (100 x 0,003)


21 cc oksigen tiap 100 cc darah
Available oksigen : CaO2 x Cardiac Output Cardiac Output : 5000 cc
21 cc oksigen tiap 100 cc darah
Bila terdapat 5000 cc darah maka ....??
(5000 : 100) x 21 cc = 50 x 21 = 1050 cc
1050 cc : 250 cc / menit = 4,2 menit

Umumnya digunakan arteri radialis

Pada kegawatan arteri karotis namun tidak disarankan pada


awal krn akan mencetuskan reflek vagal bradikardia

Jika irama teratur hitung frekuensi selama 15 detik dan kalikan 4

Jika kecepatannya tidak teratur maka hitung 1 menit dan auskultasi


jantung

60 100 x/ Menit

Menilai kekuatan nadi

: Tidak ada

: Kurang

18

: Normal

: Pengisian kuat, penuh

Pijat jantung :
1. Langsung
2. Letakkan tangan
3. Ditengah tengah dada
4. Pijat jantung 30 x
5. Disusul dg napas 2 x
Pijat jantung : Posisi penolong, Tegak lurus diatas dada pasien, Dengan
siku lengan lurus, Menekan tengah2 dada, tekan, Sedalam 2 inchi.
Pijat jantung 30 x disusul dg nafas 2 x, Bila sudah di intubasi atau Sudah
dipasang LMA maka : Pijat jantung, kecepatan 100 x/menit, Nafas buatan
8 10 x/menit dan antara Pijat jantung dan nafas tidak usah sinkron.
HEMODINAMIK
MAP

Mean Arteri Pressure

(2Tekanan diastolik + tekanan sistolik) : 3

Harga Normal : 50 160 mmHg

MAP < 70 mmHg maka GFR akan turun

CVP

Tekanan vena sentral (Central Venous Pressure, CVP) adalah


tekanan didalam atrium kanan atau vena-vena besar dalam rongga
thorax (Nurachmah,F. & Sudarsono, RS, 2000)

Harga normal dari CVP adalah : 5 - 15 cm H2O, 3- 11 mmHg

JVP

Posisikan pasien 45 derajat, menoleh ke arah kiri

Perhatikan denyutan, teraba, tidak berubah karena pernapasan,


tekanan abdomen

Dari titik puncak denyutan vena ditarik garis horizontal lalu tarik
garis lurus melalui sudut manubriumsterni hingga berpotongan

Normal : 2 -3 cm

19

Cardiac arrest = carotis (-) check ECG !

VF / VT pulseless = ada gelombang khas


o shockable rhythm, harus segera DC-shock

Asystole = ECG flat, tak ada gelombang


o UN-shockable

PEA = EMD = ada gelombang mirip ECG normal


o UN-shockable

Fine Ventriculer Fibrilation (NO DC)

Asystole (NO DC)

Coase Ventriculer Fibrilation (DC)

Ventrikuler Takikardi

20

Karotis (+) diberikan amiodaron 300 mg bolus/Lidocain 1 mg/kg iv cepat


Karotis (-) a diberikan a single shock 360 Joule, CPR 30:2 selama 2 menit,
managemen VT/VF
DC SHOCK harus oles dulu paddles dg jelly ECG tipis rata, baru switch
ON pada posisi apex dan parasternal.
DALAM KEADAAN DARURAT, RESUSITASI DAPAT DIAKHIRI
BILA ADA SALAH SATU DARI BERIKUT INI :
1. ROSC
2. Upaya resusitasi telah diambil alih oleh orang lain yang
bertanggung jawab meneruskan resusitasi (bila tak ada dokter)
3. Penolong terlalu capek
4. Pasien dinyatakan mati
5. Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa
pasien dalam stadium terminal suatu penyakit yang tak dapat
disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral
tak akan pulih.
2.5.2 Hemodinamik
Adalah pengaturan keseimbangan cairan tubuh yang diperankan oleh
tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik pada vaskuler.

Tekanan hidrostatik (HP) adalah Daya kompresi cairan dan


Distribusi air diantara IVF dan ISF diatur HP darah kapiler yang
dihasilkan pemompaan jantung.

Tekanan osmotik adalah Daya penarik air yg dihasilkan partikel/zat


terlarut, Dipengaruhi oleh albumin, Hipotalamus, hipofisis dan
ginjal, Tekanan osmotik yang dipengaruhi albumin disebut tekanan
onkotik/ tekanan osmotik koloid, Sebesar 20-25 mmHg.

Komponen hemodinamik

Sistem Pembuluh Darah

21

Jantung Sebagai Pompa

Darah Yang Dipompa

Gangguan sistem hemodinamik

Gangguan jantung (acut coronary syndrom)

Gangguan volume ( syok, overload cairan, defisit cairan)

Gangguan vaskuler

Faktor penentu kerja jantung yaitu beban awal, kontraktilitas, beban akhir
dan frekuensi jantung.
Loss of fluid
1. Kulit (demam, luka bakar)
2. Traktus Digestivus (Muntah, diare)
3. Tr. Urinarius ( DM, DI)
4. Paru (Hiperventilasi)
5. Pembuluh darah (bleeding)
Tanda dan gejala perdarahan
CLASS Lost
I

EBV
< 15%

Tensi
Bisa
hipotensi

II
III
IV

Nadi
normal, < 100
postural,

Tanda lain
Gelisah
RR 14- 20

15 30%

sistolik tetap
Diastolik naik, tensi >100

Agak gelisah

30 40%

, hipotensi postural
Sistolik turun

> 120

RR 20 -30
CRT >, oliguria, RR 30

> 140

-40
Anuria, kesadaran

> 40 %

Sistolik sangat turun

sianosis

EBV

Pria = 70 cc/KgBB

Wanita = 60 cc/Kg BB

Anak-anak = 80 cc/Kg BB

RESUSITASI CAIRAN

22

Hitung EBV
Tentukan derajat giesecke

Pria : 70 cc x 50 kg = 3500 cc
Derajat III kehilangan 30 40% perdarahan 30 % x
3500 cc = 1050 cc

2 4 kali perdarahan

1050 x 2 = 2100
1050 x 4 = 4200

Pemberian pertama 20 40
cc/Kg BB dlm 20 menit

Sisa diberikan tiap evaluasi

20 cc x 70 kg = 1400 dalam 20 menit


2100 1400 = 700 cc
4200 1400 = 2800 cc

Bila keadaan membaik, maka pemberian cairan dilanjutkan terutama bila


ada sisa dan ditambah dengan maintenance/
Maintenance : 40 cc x 50 kg = 2000 cc dalam 24 jam maka : 2000 : (3 x 24
jam ) = 27, 7
Pembulatan 28 tts / menit

RUMUS BAXTER 4 X BB X
LUAS BAKAR
PENGUKURAN HEMODINAMIK

STROKE VOLUME (sejumlah darah yg dipompa oleh masing2


ventrikel denyut jantung, sekali pompa 70-80 cc)
Kerja Jantung Memberat Dan Meningkatkan Kebutuhan Oksigen
Kompensasi Hipertropi Kardiomegali Dekompensasi
Jantung

CURAH JANTUNG/CARDIAC OUTPUT (sejumlah darah yg


dipompa jantung dalam 1 menit)

23

Normal 5 liter/menit, Pengaturan CO tergantung dari 2 variabel : isi


sekuncup dan denyut jantung.
CO = SV X HR

70 cc x 70 = 4,9 Liter / menit

Tekanan darah

MAP (mean arterial pressure)

CVP (Central venous pressure)

BAB 3
KONSEP INTOKSIKASI
3.1 Definisi Intoksikasi
Racun adalah zat yg ketika tertelan, terhisap, diabsorbsi menempel pd
kulit, atau dihasilkan didlm tbh dlm juml yg relatif kecil menyebabkan cedera
dr tbh krn reaksi kimia.
Keracunan mll inhalasi & menelan materi toksik, baik kecelakaan &
karena kesengajaan, merupakan kondisi bahaya untuk kesehatan.
3.2 Etiologi

Dapat akut/kronis

Dapat akibat bunuh diri, pembunuhan, kecelakaan

3.3 Manifestasi Klinis

Tergantung pada jenis bahan kimia penyebab racun.

3.4 Diagnosis
Penderita yang sehat mendadak koma, kejang, syok, sianosis, psikosis akut,
GGA, gagal hati akut, tanpa diketahui sebabnya.
3.5 Pengobatan
A. Pengobatan Umum
1. Resusitasi (ABC)
-

A (Airway = jalan nafas)

B (Breathing = pernafasan)

C (Circulation = peredaran darah)

2. Eliminasi
a. Tujuan menghambat penyerapan untuk menghilangkan
bahan racun/hasil metabolisme tubuh
b. Dapat dilakukan dg cara:
1) Rangsang muntah
a) Akan sgt bermanfaat bila dilakukan dlm 1 jam
pertama sesdh menelan bahan beracun, bila sudah
> 1 jam tdk perlu dilakukan rangsang muntah.
24

25

b) Rangsang

muntah

dapat

dilakukan

secara

mekanis dg merangsang palatum mole / dinding


belakang faring
2) Emesis
a) Menggunakan sirup ipecac
b) Mengeluarkan isi lambung jk diberikan dg segera
stlh keracunan
c) Sirup ipecac adl agen emetik lokal pd sal usus
d) Komponen : alkaloid cephaelin & emetine
mbrikan efek iritasi lokal pd sal usus & efek
sentral
e) Kontraindikasi : Pasien tidak sadar, kejang, pd
keracunan
korosif,

kerosin

hidrokarbon

konfulsan

kerja

lain,

cepat

racun

(tricyclin

antidepresan, sticnin, kamper)


f) Teknik : Berikan 30 ml sirup diikuti 8 gelas air
(800 cc), jk diperlukan ulangi setiap 20 menit
g) Diberi laksan cara pemberian : Magnesium
sulfat 10% 2-3 ml/kgBB Atau sorbitol 70% 1-2
ml/kgBB
3) Katarsis
a) Katarsis. Ada dua tipe katarsis sederhana yang
umum digunakan yaitu garam magnesium seperti
magnesium sitrat dan magnesium sulfat, serta
karbohidrat tak tercerna seperti sorbitol.
b) Efektivitasnya

masih

dipertanyakan.

Jangan

diberikan bila ada gagal ginjal, diare yang berat


( severe diarrhea ), ileus paralitik atau trauma
abdomen.
4) Kumbah Lambung

26

a) Efektif pada racun yang berbentuk cair/pil yang


kecil-kecil dan sangat efektif jika dilakukan <1
jam setelah keracunan.
b) Cara melakukan : pada pasien dengan penurunan
kesadaran

resiko

pnemonia

aspirasi

dapat

dikurangi dengan membaringkan pasien dengan


kepala dibawah, posisi lateral kiri dikubitus, dan
jika

diperlukan

endotracheal

dapat

untuk

dilakukan

melindungi

intubasi

jalan

nafas

masukkan selang yang sudah diberi anestesi lokal


melalui mulut atau hidung ke dalam lambung.
Lakukan aspirasi kemudian lakukan lavage
berulang dengan 50-100 cc cairan hingga cairan
yang kembali jernih (gunakan air hangat/salin).
c) Carbon Aktif
Dapat mengabsorbsi hampir semua obat, racun,
kecuali besi, litium, Na, K, Sianida, Mineral asam
& alkohol
Indikasi : Sbg pilihan utama pd keracunan lewat
lambung & usus
Kontraindikasi :
-

Pada pasien penurunan kesadaran atau kejang


kecuali jk diberikan mll NGT & jalan nafas
hrs dilindungi dg ETT

Pd pasien dg obstruksi ileus/intestinal

Cara pemberian : Berikan 60-100 mg oral &


NGT. Pengulangan dosis dpt dilakukan untuk
meningkatkan absorbsi racun.
d) Pemberian Norit (activated charcoal)
Jangan

diberikan

bersama

obat

muntah,

pemberian norit harus menunggu paling tidak 30


- 60 menit sesudah emesis.

27

e) Diuresis Paksa (Forced Diuresis = FD)


-

Pd dugaan racun berada dlm darah & dpt


dikeluarkan mll ginjal

Diberikan

pada

keracunan

salisilat

dan

phenobarbital (alkalinisasi urine ).


-

Tujuan adalah untuk mendapatkan produksi


urine 5,0 ml/kg/jam,hati-hati jangan sampai
terjadi overload cairan.

Harus dilakukan monitor dari elektrolit serum


pada pemberian diuresis paksa.

Kontraindikasi : edema otak dan gagal ginjal

Hanya dilakukan bila usaha-usaha lain sudah


tidak membawa hasil

f) Dialisis
HD/dialisis peritoneal pd keracunan bahan yg dpt
didialisis
5) Mandi dan Keramas
Pada Keracunan bahan kimia yg dpt melewati kulit
a) Cara melakukan : daerah yang terkontaminasi
dibersihkan dengan air hangat atau larutan salin,
untuk zat yang berminyak (pestisida) bersihkan
kulit setidaknya dengan sabun 2x, jika daerah
berambut gunakan shampo. Pada paparan racun
kimia seperti zat yang mengganggu sistem syaraf
beberapa ahli menyarankan penggunaan larutan
dilusi hipoklorid dengan perbandingan 1 : 10.
b) Dilusi hipoklorit adl salah satu bahan irigasi yg
efektif sbg debridemen, antimikroba & dpt
melarutkan jaringan lunak
c) Terapi Penyangga (Suportif)
-

Mempertahankan fungsi alat vital tubuh.

28

Memperhitungkan

keseimbangan

cairan,

elektrolit, asam-basa, kalori setiap hari.


3. Antidotum
Hanya

kurang

dari

10%

bahan

kimia

yang

mempunyai

antidotumnya.
a. Nallorphine untuk keracunan morphine
b. Atrophine sulfat untuk keracunan fosfat organik
1) Insektisida Fosfat Organic (IFO)
IFO merupakan insektisida poten yang paling banyak
digunakan dalam pertanian dengan toksisitas tinggi.
Pestisida adalah semua yang dipakai untuk membasmi
hama, antara lain terdiri dari :
-

Insektisida : Khusus untuk serangga

Rodentisida : Untuk membasmi tikus

Herbisida

Untuk

membasmi

tanaman

pengganggu.
Keracunan Insektisida Fosfat Organic
a) Etiologi :
IFO dibagi dua macam : IFO murni (Malathion,
Diazinon, Basudin, Paraoxon, Phosdrin, raid,
Systox, dll) dan Gol Carbamate (Baygon).
b) Patogenesis:
IFO bekerja dengan cara inaktivasi enzim asetil
kholin esterase tubuh (KhE). Dalam keadaan
normal, enzim KhE bekerja untuk menghidralisis
Akh dg jalan mengadakan ikatan Akh-KhE yg
bersifat inaktif. Akibatnya akan tjd penumpukan
Akh ditempt tertentu, shg timbul gx2 rangsangan
Akh >>, yg akan menimbulkan efek muskarinik,
nikotinik dan SSP.
Secara farmakologik efek Akh dapat dibagi
dalam 3 bagian, yaitu :

29

Muskarinik terutama pada otot polos saluran


pencernaan

makanan,

kelenjar

ludah

dan

keringat, pupil, bronkhus dan jantung.


-

Nikotinik, terutama pada otot-otot bergaris, bola


mata, lidah, kelopak mata dan otot pernapasan.

SSP,

menimbulkan

rasa

nyeri

kepala,

perubahan emosi, kejang-kejang sampai koma.


c) Manifestasi Klinis:
-

Yg

paling

menonjol

adl

kelainan

visus,

hiperaktivitas kelanjar ludah/keringat, saluran


makan & kesukaran bernafas.
-

Ringan : anoreksia, nyeri kepala, lemah, rasa


takut, tremor lidah & kelopak mata, miosis pupil

Sedang : nausea, muntah, kejang/kram perut,


hipersaliva,

hiperhidrosis,

fasikulasi

otot,

bradikardi.
-

Berat : diare, pupil pin-point, reaksi cahaya (-),


sesak, sianosis, edema paru, inkontinensia urin
& alvi, konvulsi, koma, blok jantung, akhirnya
meninggal.

d) Dagnosis
-

Ditegakkan atas dasar gambaran klinis yang


khas.

Laboratorium rutin tidak banyak menolong.

Pengukuran KhE sel darah merah dan plasma,


untuk memastikan diagnosis keracunan IFO
akut maupun kronis.

e) Pengobatan
-

Atrofin

Sulfat

(SA),

menghambat

efek

akumulasi AKh pada tempat penumpukan.


-

Dosis; mula-mula bolus iv 1-2,5 mg, dilanjutkan


0,5-1 mg setiap 5-10-15 menit, sampai timbul

30

gejala

atropinisasi.

Kemudian

interval

diperpanjang setiap 15-30-60 menit, selanjutnya


setiap 2- 4-6 dan 12 jam.
-

SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam.

Reaktivator KhE-bekerja memotong ikatan IFOKhE, hingga timbul reaksi enzim KhE. Hanya
bermanfaat pada keracunan IFO.

Dosis; 1 gram iv pelan (10-20 menit dalam


infus), dapat diulang setelah 30 mnt sebanyak 2
x 24 jam.

c. Na-thiosulfate untuk keracunan sianida


4. Keracunan Makanan
a. Keracunan jengkol
Nama latin adalah Phitecolobium lobatum. Dalam jengkol
terdapat

asam

jengkol

dianggap

sebagai

penyebab

keracunan.
1) Gejala
a) Sakit perut disertai muntah, sakit pinggang, nyeri
BAK, hematuri, oliguri
b) Sesudah air kemih keluar, benda putih dan tetesan
darah menyusul.
c) Mulut, nafas dan urin berbau jengkol.
d) Pemeriksaan laboratorium memerlukan urin segar
sebab kristal cepat hilang dalam urin yang jadi
alkalis.
2) Pengobatan
a) Jika ringan, dinasehati minum banyak, beri
natrium bikarbonat/soda.
b) Keracunan berat; penderita perlu dirawat.
c) Dikerjakan sistoskopi & kateterisasi ureter,
kateter setinggi mungkin u/ mengeluarkan kristal
yang menyumbat, dilanjutkan dengan ureter

31

dengan lar. Natrium bikarbonat untuk melarutkan


kristal.
b. Keracunan singkong
Akar

maupun

daun

singkong

mengandung

asam

hydrocyanate (HCN). Terjadi proses sbb; HCN mengikat


cytochrome oxydase hingga terbentuk cytochrome oxydase
HCN compleks, dengan akibat bahwa semua proses
oksidasi di jaringan tubuh dihambat.
1) Gejala
a) Timbul

beberapa

menit-jam setelah

makan

singkong.
b) Timbul mual dan muntah, kadang diare. Penderita
sesak dan sianosis, apatis, lambat laun koma,
syok.
c) Pernafasan cepat dg bau khas (bitter almond)
2) Pengobatan
a) Diusahakan penderita muntah & dilakukan KL.
b) Berikan suntikan Natrium thiosulfat 10 cc larutan
10 % iv.

BAB 4
KONSEP KEGAWATAN SIRKULASI
4.1

Konsep Sirkulasi
Sistem sirkulasi darah adalah suatu sistem tertutup yang mengatur dan
mengalirkan darah di dalam tubuh. Dikatakan tertutup karena pada keadaan
normal tidak ada darah yang berada di luar wadah aliran darah. Wadah itu
bisa berupa pembuluh nadi, pembuluh balik, kapiler atau rongga (= sinus) di
organ tertentu. Sistem ini perlu dibedakan dengan sistem aliran getah bening
yang merupakan aliran terbuka.

4.1.1 Cardiac Arrest


Henti jantung atau cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara
mendadak untuk mempertahankan sirkulasi normal darah untuk memberi
kebutuhan oksigen ke otak dan organ vital lainnya akibat kegagalan jantung
untuk berkontraksi secara efektif.
4.1.1.1 Tanda-Tanda Cardiac Arrest
c. Ketiadaan respon; pasien tidak berespon terhadap rangsangan suara,
tepukan di pundak ataupun cubitan.
d. Ketiadaan pernafasan normal; tidak terdapat pernafasan normal ketika
jalan pernafasan dibuka.
e. Tidak teraba denyut nadi di arteri besar (karotis, femoralis, radialis).
4.1.1.2 Proses Terjadinya
Kebanyakan korban henti jantung diakibatkan oleh timbulnya aritmia:
fibrilasi ventrikel (VF), takhikardi ventrikel (VT), aktifitas listrik tanpa
nadi (PEA), dan asistol.
a) Fibrilasi ventrikel
Merupakan kasus terbanyak yang sering menimbulkan kematian
mendadak, pada keadaan ini jantung tidak dapat melakukan fungsi
kontraksinya, jantung hanya mampu bergetar saja. Pada kasus ini
tindakan yang harus segera dilakukan adalah CPR dan DC shock atau
defibrilasi.
b) Takhikardi ventrikel
32

33

Mekanisme penyebab terjadinyan takhikardi ventrikel biasanya karena


adanya gangguan otomatisasi (pembentukan impuls) ataupaun akibat
adanya gangguan konduksi. Frekuensi nadi yang cepat akan
menyebabkan fase pengisian ventrikel kiri akan memendek, akibatnya
pengisian darah ke ventrikel juga berkurang sehingga curah jantung
akan menurun. VT dengan keadaan hemodinamik stabil, pemilihan
terapi dengan medika mentosa lebih diutamakan. Pada kasus VT
dengan gangguan hemodinamik sampai terjadi henti jantung (VT
tanpa nadi), pemberian terapi defibrilasi dengan menggunakan DC
shock dan CPR adalah pilihan utama.
c) Pulseless Electrical Activity (PEA)
Merupakan

keadaan

dimana

aktifitas

listrik

jantung

tidak

menghasilkan kontraktilitas atau menghasilkan kontraktilitas tetapi


tidak adekuat sehingga tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi
tidak teraba. Pada kasus ini CPR adalah tindakan yang harus segera
dilakukan.
d) Asistole
Keadaan ini ditandai dengan tidak terdapatnya aktifitas listrik pada
jantung, dan pada monitor irama yang terbentuk adalah seperti garis
lurus. Pada kondisi ini tindakan yang harus segera diambil adalah
CPR.
4.1.1.3 Resusitasi Jantung Paru / Cardio Pulmonary Resusitation
Pada penanganan korban cardiac arrest dikenal istilah rantai untuk
bertahan hidup (chin of survival); cara untuk menggambarkan
penanganan ideal yang harus diberikan ketika ada kejadian cardiac
arrest. Jika salah satu dari rangkaian ini terputus, maka kesempatan
korban untuk bertahan hidup menjadi berkurang, sebaliknya jika
rangkaian ini kuat maka korban mempunyai kesempatan besar untuk bisa
bertahan hidup.
Prosedur CPR menurut (Nettina,2006;Thygerson,2006), adalah terdiri
dari airway, breathing dan circulation:
a) Menentukan ketiadaan respon/Kebersihan Jalan Nafas (airway):

34

(1) Yakinkan lingkungan telah aman, periksa ketiadaan respon


dengan menepuk atau menggoyangkan pasien sambil bersuara
keras Apakah anda baik-baik saja?
Rasionalisasi: hal ini akan mencegah timbulnya injury pada
korban yang sebenarnya masih dalam keadaan sadar.
(2) Apabila pasien tidak berespon, minta seseorang yang saat itu
bersama kita untuk minta tolong (telp:118). Apabila kita
sendirian, korbannya dewasa dan di tempat itu tersedia telepon,
panggil 118. Apabila kita sendiri, dan korbannya bayi/anakanak,
lakukan CPR untuk 5 siklus (2 menit), kemudian panggil 118.
(3) Posisikan pasien supine pada alas yang datar dan keras, ambil
posisi sejajar dengan bahu pasien. Jika pasien mempunyai
trauma leher dan kepala, jangan gerakkan pasien, kecuali bila
sangat perlu saja.
Rasionalisasi: posisi ini memungkinkan pemberi bantuan dapat
memberikan bantuan nafas dan kompresi dada tanpa berubah
posisi.
(4) Buka jalan nafas
(a) Head-tilt/chin-lift maneuver: letakkan salah satu tangan
dikening pasien, tekan kening ke arah belakang dengan
menggunakan telapak tangan untuk mendongakkan kepala
pasien. Kemudian letakkan jari-jari dari tangan yang
lainnya di dagu korban pada bagian yang bertulang, dan
angkat rahang ke depan sampai gigi mengatub.
Rasionalisasi: tindakan ini akan membebaskan jalan nafas
dari sumbatan oleh lidah.
(b) Jaw-thrust maneuver: pegang sudut dari rahang bawah
pasien pada masing-masing sisinya dengan kedua tangan,
angkat mandibula ke atas sehingga kepala mendongak.
Rasionalisasi: teknik ini adalah metode yang paling aman
untuk membuka jalan nafas pada korban yang dicurigai
mengalami trauma leher.

35

b) Pernafasan (Breathing)
(1) Dekatkan telinga ke mulut dan hidung pasien, sementara
pandangan kita arahkan ke dada pasien, perhatikan apakah ada
pergerakan naik turun dada dan rasakan adanya udara yang
berhembus selama expirasi. (Lakukan 5-10 detik). Jika pasien
bernafas, posisikan korban ke posisi recovery(posisi tengkurap,
kepala menoleh ke samping).
Rasionalisasi: untuk memastikan ada atau tidaknya pernafasan
spontan.
(2) Jika ternyata tidak ada, berikan bantuan pernafasan mouth to
mouth atau dengan menggunakan amfubag. Selama memberikan
bantuan pernafasan pastikan jalan nafas pasien terbuka dan tidak
ada udara yang terbuang keluar. Berikan bantuan pernafasan
sebanyak dua kali (masing-masing selama (2-4 detik).
Rasionalisasi: pemberian bantuan pernafasan yang adekuat
diindikasikan

dengan

dada

terlihat

mengembang

dan

mengempis, terasa adanya udara yang keluar dari jalan nafas


dan terdengar adanya udara yang keluar saat expirasi.
c) Circulation
Pastikan

ada

atau

tidaknya

denyut

nadi,

sementara

tetap

mempertahankan terbukanya jalan nafas dengan head tilt-chin lift


yaitu satu tangan pada dahi pasien, tangan yang lain meraba denyut
nadi pada arteri carotis dan femoral selama 5 sampai 10 detik. Jika
denyut nadi tidak teraba, mulai dengan kompresi dada.
(1) Berlutut sedekat mungkin dengan dada pasien. Letakkan bagian
pangkal dari salah satu tangan pada daerah tengah bawah dari
sternum (2 jari ke arah cranial dari procecus xyphoideus). Jarijari bisa saling menjalin atau dikeataskan menjauhi dada.
Rasionalisasi: tumpuan tangan penolong harus berada di
sternum, sehingga tekanan yang diberikan akan terpusat dim
sternum, yang mana akan mengurangi resiko patah tulang rusuk.

36

(2) Jaga kedua lengan lurus dengan siku dan terkunci, posisi pundak
berada tegak lurus dengan kedua tangan, dengan cepat dan
bertenaga tekan bagian tengah bawah dari sternum pasien ke
bawah, 1 - 1,5 inch (3,8 - 5 cm)
(3) Lepaskan tekanan ke dada dan biarkan dada kembali ke posisi
normal. Lamanya pelepasan tekanan harus sama dengan
lamanya pemberian tekanan. Tangan jangan diangkat dari dada
pasien atau berubah posisi.
Rasionalisasi: pelepasan tekanan ke dada akan memberikan
kesempatan darah mengalir ke jantung.
(4) Lakukan CPR dengan dua kali nafas buatan dan 30 kali
kompresi dada. Ulangi siklus ini sebanyak 5 kali(2 menit).
Kemudian periksa nadi dan pernafasan pasien. Pemberian
kompresi

dada

dihentikan

jika:

a).telah

tersedia

AED

(Automated External Defibrillator). b). korban menunjukkan


tanda kehidupan. c). tugas diambil alih oleh tenaga terlatih. d).
penolong terlalu lelah untuk melanjutkan pemberian kompresi.
Rasionalisasi:

bantuan

nafas

harus

dikombinasi

dengan

kompresi dada. Periksa nadi di arteri carotis, jika belum teraba


lanjutkan pemberian bantuan nafas dan kompresi dada.
(5) Sementara melakukan resusitasi, secara simultan kita juga
menyiapkan perlengkapan khusus resusitasi untuk memberikan
perawatan definitive.
Rasionalisasi; perawatan definitive yaitu termasuk di dalamnya
pemberian

defibrilasi,

terapi

obat-obatan,

cairan

untuk

mengembalikan keseimbangan asam-basa, monitoring dan


perawatan oleh tenaga terlatih di ICU.
(6) Siapkan

defibrillator

atau

AED

(Automated

External

Defibrillator) segera.
CPR yang diberikan pada anak hanya menggunakan satu tangan,
sedangkan untuk bayi hanya menggunakan jari telunjuk dan tengah.

37

Ventrikel bayi dan anak terletak lebih tinggi dalam rongga dada, jadi
tekanan harus dilakukan di bagian tengah tulang dada.
4.2

Blood Gas Analisa

4.2.1 Gas Darah Arteri


Suatu tindakan punksi arteri untuk pengambilan contoh darah sebanyak
0,5 cc (tergantung alat) untuk pemeriksaan analisa gas darah.
4.2.1.1 Indikasi
Evaluasi oksigenasi, ventilasi, perfusi dan gangguan asam basa
4.1.2 Lokasi Pengambilan:

Arteri radialis 45 arah jantung

Arteri Dorsalis Pedis

Arteri Femoralis

Arteri Brachialis

4.1.3 Alat yang Digunakan


Spuilt 3cc atau spluit khusus BGA, Kapas alcohol, Penutup karet,
Heparin (Anti koagulan), Kassa, Plester
4.1.4 Derajat Keasaman Gas Darah
pH
7.80

7.40

6.80

GEJALA
MENINGGAL
KEJANG
ARITMIA
IRITABEL
NORMAL

7,20
7,30
7,35
7,46

NGANTUK

7,50 - 7,55

LETARGI
KOMA
MENINGGAL

pH
< 7,20
- 7,29
- 7,34
- 7,45
- 7,50

> 7,55

Derajat gangguan
ASIDEMI BERAT
ASIDEMI SEDANG
ASIDEMI RINGAN
NORMAL
ALKALEMI
RINGAN
ALKALEMI
SEDANG
ALKALEMI BERAT

4.1.5 Komponen Gas darah


1.

PaO2

: 80 100 mmHg

2.

PaCO2

: 35 45 mmHg

38

4.3

3.

pH

: 7,35 7,45

4.

BE

: -2 sampai dengan + 2

Konsep Asam Basa

4.3.1 Gangguan Keasaman


Keseimbangan asam basa adalah keseimbangan antara ion hidrogen pada
cairan tubuh yang terus menerus diproduksi sebagai hasil metabolisme.
Batas normal pH darah adalah 7,35 7,45.
Asidosis jika pH darah < 7,35 dan disebut juga asidemia
Alkalosis > 7,45 dan disebut juga alkemia, Jika pH darah mendekati 7,28
maka pasien akan meninggal.
3 Sistem Pengatur Hidrogen
1. Sistem Buffer
Sebagai pelindung terhadap perubahan yang terjadi secara tiba-tiba
dalam pH darah.
2. Pusat pernapasan
Jika pernafasan , CO2 darah dan darah lebih basa. Jika
pernafasanCO2 darah, Keasaman darah
3. Ginjal
Acid excess disekresi renal dalam bentuk amonia.
4.3.2 Empat Jenis Sistem Buffer Utama
1. Asam karbonat - bikarbonat buffer ekstraseluler utama
CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3- , merupakan dasar penilaian
status asam basa
2. Fosfat monosodium Disodium buffer di sistem perkemihan
dan cairan intrasel
HCl + Na2HPO4 NaH2PO4 + NaCl
NaOH + NaH2PO4 Na2HPO4 + H2O
Penyangga fosfat untuk mengubah asam kuat menjadi asam lemah
dan basa kuat menjadi basa lemah
3. Oksihemoglobin hemoglobin buffer di dalam eritrosit

39

untuk perubahan asam karbonat. Sistem Hemoglobin dalam sel


darah merah berfungsi sebagai penyangga pembentukan H+ saat
terjadi transpor CO2 di antara jaringan paru.
4. Buffer protein buffer di cairan ekstrasel dan intrasel.
Sistem penyangga terkuat dalam tubuh. Karena mengandung gugus
karboksil yang berfungsi sebagai asam dan gugus amino yang
berfungsi sebagai basa.
4.3.3 Asidosis Metabolik
Penurunan kadar bikarbonat karena peningkatan ekskresi ginjal.
Kadar ph < 7,35 dan kadar hidrogen < 22 meq/l. Menyebabkan masuknya
ion hidrogen kedalam sel sehingga memaksa ion kalium untuk keluar dari
sel disertai hiperkalemia.
4.3.3.1 Etiologi
Konsumsi metanol, etilen glikol, Overdosis aspirin, diabetes melitus,
syok stadium lanjut, asidosis tubulus renalis (ATR), diare, ileostomi atau
kolostomi.
4.3.3.2 Asuhan Keperawatan:

Pantau tanda tanda vital

Kaji tingkat kesadaran

Hindari cedera

Pantau frekuensi jantung/ irama jantung

Auskultasi bising usus

(Mengevaluasi distres GI akibat

hiperkalemia)

Kolaborasi pemeriksaan gas darah arteri

Kolaborasi dokter dalam pemberian obat-obatan yang sesuai seperti


Natrium Bikarbonat/Natrium laktat, Kalium klorida , Fosfat ,
Kalsium

Persiapkan pasien untuk hemodialisa

4.3.4 Asidosis Respiratorik

40

Penumpukan

CO2

dalam

darah

akibat

dari

fungsi

paru

yang

buruk/pernafasan yang lambat


Pean sekresi asam, reabsorbsi basa, dan waktu memulainya memerlukan
waktu 24 jam.
4.3.4.1 Etiologi
Gangguan neuromuskular, obstruksi jalan napas atas, asma, PPOM
(Emfisema, Bronkitis kronis), Pneumonia berat, Edema pulmoner,
Depresi SSP akibat narkotika dan obat tidur.
4.3.4.2 Asuhan keperawatan

Pantau tanda- tanda vital

Perhatikan warna, suhu dan kelembaban integumen

Ajarkan pasien untuk napas dalam

Berikan oksigenasi yang adekuat

Berikan posisi semifowler

Pantau grafik seri gas darah arteri

Berikan fisioterapi dada

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat-obatan :Narcan,


Nabic, KCl

Berikan cairan Ringer laktat atau larutan Na Laktat

4.3.5 Alkalosis Metabolik


Tingginya HCO3 akibat retensi ginjal
Kompensasi paru dengan hipoventilasi sebagai upaya untuk menahan CO2
dan me PCO2.
4.3.5.1 Etiologi
Muntah, drainage NGT, diuretik berlebih, pasca hiperkapnia (responsif
salin), azotemia pre renal
4.3.5.2 Terapi
Pemberian KCL dan normal salin
4.3.5.3 Asuhan keperawatan:

41

Pantau tanda tanda vital, tingkat kesadaran dan status


neuromuskular

Catat intake dan output

Hindari penghisapan Naso Gastric tube

Cegah pasien dari cedera

Kolaborasi pemberian masukan makanan dan cairan tinggi kalium

Tinjau ulang penggunaan diuretik dengan Spironolakton

Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi

Pantau gas darah arteri, elektrolit serum terutama kalium dan BUN

Kolaborasi dokter dalam pemberian obat-obatan : NaCl , KCl ,


NHCl , diamox

4.3.5 Alkalosis Respiratorik


Alkalosis respiratorik (peningkatan pH) karena pernafasan yang cepat dan
dalam (gangguan pernapasan), sehingga kadar karbondioksida dalam darah
menjadi rendah.). Dengan menurunkan sekresi ion hidrogen dan secara aktif
mensekresi ion bikarbonat dalam urin.
4.3.5.1 Etiologi
Pnemonia, edema paru, penyakit paru restriktif, Gangguan SSP, Nyeri,
ansietas, sepsis, gagal hepar, Kecemasan.
4.3.5.2 Asuhan keperawatan:

Pantau tanda- tanda vital

Kaji tingkat kesadaran dan catat status neuromuskular

Tenangkan pasien

Berikan keamanan dan kewaspadaan kejang

Pantau seri grafik gas darah

Kolaborasi pemberian sedasi

Kolaborasi dalam pemberian masker rebreathing sesuai indikasi

42

4.4

Persamaan Henderson Hasselbalch

Persamaan Henderson Hasselbalch (perbandingan bikarbonat dan asam karbonat


atau PCO2 menentukan pH dimana perbandingannya adalah harus 20 : 1 agar pH
tetap dalam batas normal).

BAB 5
KONSEP FARMAKOLOGI KEDARURATAN
5.1

Konsep Farmakologi
Farmakologi bersaral dari kata pharmacon (obat) dan logos (ilmu
pengetahuan). Farmakologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari
obat dan cara kerjanya pada system biologis.
Farmakologi Klinik adalah ilmu farmakologi yang mempelajari
pengaruh kondisi klinis pasien terhadap efikasi obat, misalkan kondisi hamil
dan menyusui, neonates dan anak, geriatric, inefisiensi ginjal dan hepar.
Farmakologi termasuk dalam kedaruratan, yaitu :

5.1.1 Anestesi Lokal


1. Lignokain 1%: infiltrasi luka lokal Lignokain 2%; blok saraf digital
atau volume kecil diinginkan.
2. Lignokain atau adrenalin bukan untuk ekstremitas ec kaki, hidung,
jari, penis, telinga.
5.1.2 Sedatif dan Agen Induksi
Untuk menekan keadaan sadar baik untuk sedasi atau anestesi umum.
1. Ketamine
a. Bukan untuk tekanan intrakranial dan penyakit jantung iskemik
b. Dosis 2 mg per kg
c. Onset kerja 60 s dan durasi 20 m
2. Midazolam
a. Benzodiazepine akting singkat
b. Onset aksi 1-2 m, durasi 60-90 m iv
c. Dosis pada orang dewasa; 2,5-15 mg, dititrasi untuk itu efek
d. Intramuskular% sampai 10 mg
e. Dosis pada anak-anak; 0,15 -0,3 mg per kg, naik 0,5mg
f. Dosis intranasal 0,2-0,4mg per kg max 5 mg, perlahan-lahan
turun ke hidung lebih dari 15 s
5.1.3 Antikolinergik
Blok efek asetilkolin pada reseptor muscarinic
43

44

1. Atropin; meningkatkan tonus vagus,


a. Untuk memblokir efek kolinergik, suxamethonium pada anakanak.
b. Untuk memesan beberapa efek merugikan dari antikolinergik,
seperti keracunan organofosfat
c. Dosis 0,6 mg bolus pada orang dewasa, diulang dalam 5 m jika
perlu.
d. Dosis pediatrik: 20 mikrogram per kg, max 0,5 mg
e. Onset aksi 5 m, durasi 2-4 jam
5.1.4 Opioid Analgesik
1. Morfin : biasanya untuk AMI dan edema paru.

a. Dosis pada orang dewasa: 2,5 mg iv diulang setiap beberapa


menit membutuhkan 15 mg.
b. Dosis pada anak-anak: 0,05 mg iv diulang setiap 5 m, max 0,2
mg per kg
c. Durasi kerja sekitar 3 jam
2. Petidin: terutama untuk analgesik

a. Obat sangat adiktif bahkan setelah beberapa dosis


b. Dosis 25-50 mg iv setiap 3-4 jam.
c. IM 25-100 mg. Max 150 mg alternatif
d. Durasi kerja 2-3 jam
3. Fentanyl: narkotika akting singkat untuk pasien tenang sebelum

prosedur menyakitkan ec intubasi


a. Dosis 1 mikro per kg
b. Durasi kerja 30 - 40 m
5.1.5 Anti Emetik
1. Metoclopramide: tidak untuk anak di bawah 16 y. Reaksi distonik
akut. Bukan untuk penghalang usus akut.
a. Biasa dosis 10 mg iv, im atau oral
b. Dosis laki-laki lebih dari 70 kg: 15-20 mg
c. Perempuan berat badan rendah atau lansia 5 mg awalnya
2. Ondansetron

45

a. Tiga 0,15 mg / kg dosis (sampai maksimum 16 mg per dosis).


b. Dosis pertama diinfuskan selama 15 menit dimulai 30 menit
sebelum dimulainya kemoterapi emetogenik.
c. Dosis berikutnya (0,15 mg / kg sampai maksimum 16 mg per
dosis) diberikan 4 dan 8 jam setelah dosis pertama.
d. 1 bulan sampai 12 tahun: 40 kg atau kurang: 0,1 mg / kg dosis
IV tunggal, diberikan selama 2 sampai 5 menit, segera sebelum
atau setelah induksi anestesi, atau pascaoperasi jika mual dan /
atau muntah hadir tak lama setelah operasi: 40 kg atau lebih: 4
mg dosis tunggal IV, diberikan selama 2 sampai 5 menit, segera
sebelum atau setelah induksi anestesi, atau pascaoperasi jika
mual dan / atau muntah hadir tak lama setelah operasi.
e. cepat atau berdebar detak jantung;
f. jaundice (menguningnya kulit atau mata);
g. penglihatan kabur atau kehilangan penglihatan sementara
(berlangsung dari hanya beberapa menit sampai beberapa jam);
atau
h. tingkat tinggi serotonin dalam tubuh - agitasi, halusinasi,
demam, denyut jantung cepat, refleks terlalu aktif, mual,
muntah, diare, kehilangan koordinasi, dan pingsan.
5.1.6 Kortokosteroid
Sangat berguna untuk asma, anafilaksis dan kondisi lainnya. Tertunda
selama beberapa jam. Diabetes dan ulkus peptikum, Mineralokortikoid /
aldosteron seperti; edema, hipokalemia, retensi natrium.
1. Deksametason; tidak ada efek mineralokortikoid 0.1mg / kg / 8 jam.
2. Prednisolon
a. Oral 1 mg / kg sehari, max dosis 80
b. Efek mineralokortikoid moderat
3. Methylprednisolone
a. Steroid.

mencegah

pelepasan

zat

dalam

tubuh

yang

menyebabkan peradangan. Methylprednisolone digunakan untuk


mengobati berbagai kondisi peradangan yang berbeda seperti

46

arthritis, lupus, psoriasis, kolitis ulserativa, gangguan alergi,


kelenjar (endokrin) gangguan.
b. Dosis untuk asma akut
c. Oral atau IV: 1-2 mg / kg / hari dalam 2 dosis terbagi
(maksimum: 60 mg / hari) sampai arus puncak ekspirasi adalah
70% dari prediksi atau pribadi terbaik.
5.1.7 Anti Epileptik
1. Diazepam
a. Onset kerja 1-2 m iv
b. Dubur 5-10 m
c. Dosis 0,1 mg / kg diulang setelah 5 m
d. Dosis dubur biasa 0,5 mg / kg
2. Lorazepam
a. Status epileptikus
b. 4 mg / dosis IV lambat (2 mg / menit); mungkin mengulangi
dalam 10 sampai 15 menit dosis maksimum: 8 mg
3. Fenitoin
a. infus lambat
b. Diencerkan dalam NS 0,9%
c. Infus cepat: hipotensi
d. Dosis muatan 15 mg / kg iv
5.1.8 Anti Aritmia
1. Amiodaron
a. VT dan aritmia atrium
b. Tidak negatif inotrope, mentolerir gagal jantung
c. Dosis muatan 5 mg / kg iv
d. Dosis awal (IV): 1000 mg selama 24 jam pertama terapi,
disampaikan oleh infus regimen berikut: 150 mg selama 10
menit pertama (15 mg / menit),? diikuti oleh 360 mg selama 6
jam berikutnya (1 .? mg / menit) Pemeliharaan infus: 540 mg
selama sisa 18 jam (0,5 mg / menit).
2. Digoxin

47

a. Pengendalian laju ventrikel dan fibrilasi atrium


b. Efek administrasi maksimum tertunda 6-24 jam
c. Biasa awal dosis pemberian 10 mikrogram / kg iv selama 20-30
m
d. Berasal dari daun tanaman digitalis. Digoxin membantu
membuat jantung berdetak lebih kuat dan dengan ritme lebih
teratur.
e. Digoxin digunakan untuk mengobati gagal jantung.
f. Digoxin juga digunakan untuk mengobati fibrilasi atrium,
gangguan irama jantung dari atrium (bilik atas jantung yang
memungkinkan darah mengalir ke jantung).
3. Verapamil
a. calcium channel blocker : relaksasi otot-otot jantung dan darah
pembuluh. Verapamil digunakan untuk mengobati hipertensi
(tekanan darah tinggi), angina (nyeri dada), dan gangguan irama
jantung tertentu.
b. Angina:
Angina saat istirahat termasuk: vasospastic (varian Prinzmetal
ini) angina tidak stabil (crescendo, pra-infark) angina stabil
angina2.Chronic (klasik usaha terkait angina)
c. Aritmia:
Asosiasi
1) In dengan digitalis untuk kontrol tingkat ventrikel saat
istirahat dan selama stres pada pasien dengan atrial flutter
kronis dan / atau fibrilasi atrium (lihat PERINGATAN:
Aksesori Bypass Saluran).
2) Prophylaxis dari berulang takikardia supraventricular
paroksismal.
4. Adenosine
a. Agen akting yang sangat singkat untuk SVT
b. Dosis 6 mg awalnya, 12 mg. 18 mg
c. Cepat iv bolus 20cc NS 0,9% siram

48

d. Menginduksi bronkospasme berat


5. Anti Hipertensi
a. Hydrallazine;
1) Akting langsung dilator arteri
2) Bukan untuk penyakit jantung iskemik w beta blocker
3) Efek samping; sakit kepala, takikardia dan mual
4) Durasi kerja 4-8 jam
5) Biasa dosis 10 mg iv setiap 20 m, dosis max 50 mg
b. Nifedipine
1) Akting langsung vasodilator arteri
2) Sublingual rute, efek tak terduga & infark miokard atau
stroke dengan menurunkan tekanan darah yang berlebihan.
3) kelompok obat yang disebut calcium channel blockers. Ia
bekerja dengan relaksasi otot-otot jantung dan darah
pembuluh.
4) Nifedipine digunakan untuk mengobati hipertensi (tekanan
darah tinggi) dan angina (nyeri dada).
5) Nifedipine juga dapat digunakan untuk tujuan tidak
tercantum dalam panduan pengobatan
5.1.9 Agent Inotropic
Kardiogenik dan syok distributif melalui vena besar.
1. Adrenalin
a. Alpha dan beta adrenergik agonis
b. Meningkatkan denyut jantung, put jantung dan vasokonstriksi 170 mikrogram per menit dititrasi
c. Epinefrin adalah bahan kimia yang mempersempit pembuluh
darah dan membuka saluran udara di paru-paru. Efek ini dapat
membalikkan tekanan berat darah rendah, mengi, gatal pada
kulit, gatal-gatal, dan gejala lain dari reaksi alergi. Injeksi
epinefrin digunakan untuk mengobati reaksi alergi parah
(anafilaksis)

49

d. Dewasa : 0,3 sampai 0,5 mg (0,3 mL sampai 0,5 mL) dari


Adrenalin murni intramuskular atau subkutan dalam aspek
anterolateral paha, sampai maksimum 0,5 mg (0,5 ml) per
injeksi, diulang setiap 5 sampai 10 menit yang diperlukan.
Memonitor secara klinis untuk keparahan reaksi dan efek
jantung.
e. Anak-anak kurang dari 30 kg (66 lbs): 0,01 mg / kg (0,01 mL /
kg) dari Adrenalin murni intramuskular atau subkutan dalam
aspek anterolateral paha, sampai maksimum 0,3 mg (0,3 ml) per
injeksi, diulang setiap 5 sampai 10 menit yang diperlukan.
Memonitor secara klinis untuk keparahan reaksi dan efek
jantung.
2. Dopamine
Bentuk pengobatan zat yang terjadi secara alami dalam tubuh. Ia
bekerja dengan meningkatkan kekuatan memompa jantung dan
meningkatkan aliran darah ke ginjal. Dopamin injeksi (intropin)
digunakan untuk mengobati kondisi tertentu, seperti tekanan rendah.
3. Dobutamiine
a. Chronotropic positif dan efek inotropik
b. Mild Gelar vasodilatasi kebutuhan oksigen miokard sehingga
tidak meningkat
c. Inotrope pilihan di iskemia miokard
d. Biasa dosis kisaran 2-20 mikrogram per kg per menit
4. Norepineprine
a. Mirip

dengan

adrenalin.

Ia

bekerja

dengan

konstriksi

(penyempitan) pembuluh darah dan meningkatkan tekanan


darah dan glukosa darah (gula) tingkat. Norepinefrin digunakan
untuk mengobati tekanan yang mengancam jiwa darah rendah
(hipotensi) yang dapat terjadi dengan kondisi medis tertentu atau
bedah
b. Norepinefrin adalah vasokonstriktor perifer dan stimulator
inotropik. Ia bekerja dengan membuat pembuluh darah

50

menyempit, yang meningkatkan tekanan darah. Hal ini juga


membantu jantung bekerja lebih baik.
c. Dosis awal: 2 sampai 4 mcg / menit dosis Pemeliharaan:
Sesuaikan tingkat untuk tekanan darah normal rendah (biasanya
80 hingga 100 mm Hg sistolik). Rata-rata dosis pemeliharaan
berkisar 1-12 mcg / min.
5.1.10 Diuretik
1. Furosemide
a. Ampuh lingkaran diuretik yang digunakan dalam overloads
cairan
b. Onset kerja 5 menit
c. Durasi kerja 2 jam
d. Puncak aksi 30 menit
e. Gangguan ginjal, diuresis 40 mg signifikan
5.1.11 Relaxan Otot
1. Suxamethonium
a. Depolarisasi relaksan otot
b. Iv bolus, maksimal efek 6o s
c. Durasi kelumpuhan 5 m
d. Dosis umum 1-1,5 mg / kg
e. Anak-anak 2 mg / kg
2. Vecuronium
a. Digunakan untuk mengendurkan otot-otot. Ia bekerja dengan
menghalangi sinyal antara saraf dan otot Anda.
b. Vecuronium

diberikan

sebelum

anestesi

umum

dalam

mempersiapkan Anda untuk operasi.


c. Vecuronium membantu untuk menjaga tubuh Anda tetap selama
operasi. Hal ini juga melemaskan tenggorokan Anda
d. Non

depolarizing

iv bolus.
e. Onset 3 menit, lalu 20-30 m
f. Dosis umum 0,1 mg / kg

relaksan

otot

51

g. Dosis awal: 0,08-0,1 mg / kg. Dosis pemeliharaan selama


prosedur bedah berkepanjangan: 0,01-0,015 mg / kg 25 sampai
40 menit kemudian, maka sesering setiap 12 sampai 15 menit
infus berkelanjutan:.? Memulai dengan dosis intubasi dari 80
hingga 100 mcg / kg diikuti 20 sampai 40 menit kemudian
dengan 0,8 sampai 1,2 mcg / kg / menit.
5.1.12 Neuroleptik
1. Haloperidol
a. Paling

aman

digunakan

untuk

sedasi

neuroleptik

Im, iv
b. Dosis iv biasa pada orang dewasa 2,5 mg diulang setiap 5 m
c. Maksimum 10 mg
d. Mengobati

skizofrenia.

mengontrol

gejala

yang

Hal

ini

juga

berhubungan

digunakan
dengan

untuk

gangguan

Tourette.
e. Haloperidol adalah agen antipsikotik. Persis cara kerjanya tidak
diketahui, tetapi mungkin bekerja dengan memblokir bahan
kimia tertentu di otak.
f. Haloperidol laktat: IV, intermiten: 0,03-0,15 mg / kg IV (2-10
mg) setiap 30 menit sampai 6 jam IV, infus:.? 3-25 mg / jam
dengan infus IV kontinu, telah digunakan untuk pasien
ventilator dengan agitasi dan delirium.
2. Natrium Bikarbonat
a. Metabolik Asidosis
b. Diabetes Ketoasidosis
c. Alkalinisasi kemih
d. Pencernaan yg terganggu
e. Hiperkalemia
f. 0,2 x berat badan (kg) x basis defisit.? HCO3- (mEq) diperlukan
= 0,5 x berat badan (kg) x [24 - serum HCO3 (mEq / L)].

52

g. Moderat asidosis metabolik: 50 sampai 150 mEq natrium


bikarbonat diencerkan dalam 1 L dari D5W akan intravena infus
pada tingkat 1 sampai 1,5 L / jam selama jam pertama ??
h. Asidosis metabolik berat:. 90-180 mEq natrium bikarbonat
dilarutkan dalam 1 L dari D5W akan intravena infus pada
tingkat 1 sampai 1,5 L / jam selama jam pertama ??]
i. Jika statusnya asam-basa tidak tersedia, dosis harus dihitung
sebagai berikut:. 2-5 mEq / kg IV infus lebih dari 4 8 jam; dosis
berikutnya harus didasarkan pada status asam-basa pasien.
5.1.13 Anti Asthma
1. Salbutamol
a. Beta 2 adrenergik agonis salbutamol untuk asma sangat parah
b. Takikardia, kecemasan dan tremor
c. Hipotensi
d. Dosis umum 5 mg pada orang dewasa dan 2,5 mg pada anakanak berusia kurang dari 5 tahun
e. Iv salbutamol 5 mikrogram / kg lebih 1-2 m diulang 15 m.
2. Ipratropium
a. Asma dan PPOK
b. Efek sinergis w salbutamol
c. Biasa dosis 0,5 mg melalui nebulizer setiap 4-6 jam
d. Anak-anak di bawah 5 tahun 0,25 mg
e. adalah bronkodilator yang melemaskan otot-otot di saluran
udara dan meningkatkan aliran udara ke paru-paru. Inhalasi
ipratropium digunakan untuk mencegah bronkospasme, atau
penyempitan saluran udara di paru-paru, pada orang dengan
bronkitis, emfisema, atau PPOK (penyakit paru obstruktif
kronik). Ipratropium inhalasi.
f. Neonatus: Nebulasi solusi: 25 mcg / kg 3 kali sehari ?? Bayi dan
anak-anak.? Solusi nebulasi: 125-250 mcg 3 kali sehari ?? 3
sampai 12 tahun.? Inhalasi aerosol:: 1 sampai 2 penarikan (18 ke
36 mcg) 3 kali sehari, sampai 6 penarikan sehari CFC bebas

53

menghirup aerosol:.? 1 sampai 2 penarikan (17-34 mcg) 4 kali


sehari sampai 12 penarikan.
g. > 12 tahun:? Inhalasi aerosol: 2 inhalasi (36 mcg) 4 kali sehari
sampai 12 penarikan sehari CFC bebas menghirup aerosol:.?.? 2
inhalasi (34 mcg) 4 kali sehari sampai 12 penarikan sehari
nebulasi solusi: 500 mcg (1 unit dosis vial) 3 sampai 4 kali
3. Combivent
a. Inhaler meteran-dosis yang mengandung kombinasi albuterol
dan ipratropium. Albuterol dan ipratropium adalah bronkodilator
yang

mengendurkan

otot-otot

di

saluran

udara

dan

meningkatkan aliran udara ke paru-paru


b. Combivent digunakan sebagai obat inhalasi untuk mencegah
bronkospasme pada orang dengan obstruktif kronik
c. Ipratropium bromida 18ug, albuterol sulfat 103ug
4. Aminopilin
a. Xanthine derivatif
b. Bronkodilator lemah dan tidak memiliki manfaat tambahan lebih
salbutamol dosis optimal
c. sangat sempit
d. VT, kejang dan hipokalemia
e. Bronkodilator. Aminofilin bekerja dalam beberapa cara: itu
melemaskan

otot-otot

memungkinkan

lebih

di

paru-paru

banyak

udara

dan

dada

masuk,

untuk

mengurangi

sensitivitas paru-paru Anda terhadap alergen dan zat lain yang


menyebabkan

peradangan,

dan

meningkatkan

kontraksi

diafragma Anda untuk menarik lebih banyak udara


f. IV: Memuat dosis: 6 mg / kg dalam 100 sampai 200 ml cairan
IV intravena sekali selama 20 sampai 30 menit.
g. Pemeliharaan dosis (berikut memuat dosis) :? Jika tidak dewasa
merokok sehat:.? 0,7 mg / kg / infus intravena kontinu hr Muda
dewasa perokok.? 0,9 mg / kg / infus intravena kontinu hr Pasien

54

dengan cor pulmonale atau gagal jantung kongestif: 0,25 mg /


kg / hr infus intravena kontinu.
5. Tetanus Propilaksis
a. Tetanus toxoid
b. IM Sebanyak 3 dosis (0,5 ml masing-masing): 1 dosis sekarang,
diikuti dengan 1 dosis 4-8 minggu kemudian, dan kemudian 1
dosis 6-12 bulan setelah dosis kedua.

BAB 6
KEGAWATAN SISTEM SENSORI PERSEPSI
6.1

Kegawatdaruratan Sistem Penglihatan

6.1.1 Trauma Oftalmik


Trauma oftalmik adalah tindakan sengaja maupun tidak disengaja yang
menimbulkan perlukaan mata.

Bentuk trauma

Fisik atau Mekanik

6.1.2

Trauma Tumpul (Kontusio)

Trauma Tajam

Trauma Peluru

Khemis
-

Trauma Khemis basa

Cuka, bahan asam-asam dilaboratorium, gas airmata.

Fisis
-

Trauma termal

Trauma bahan radioaktif

Etiologi

Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai


tertinggalnya benda asing didalam mata. Benda asing yang
tertinggal dapat bersifat tidak beracun dan beracun.

Trauma tumpul dapat menimbulkan perlukaan ringan yaitu


penurunan penglihatan sementara sampai berat

Trauma Khemis asam umumnya memperlihatkan gejala lebih berat


daripada trauma khemis basa.

6.1.3

Trauma Mekanik
-

Gangguan molekuler.

Reaksi Pembuluh darah.

Reaksi Jaringan.

Tanda dan Gejala


55

56

1. Tajam penglihatan yang menurun


2. Tekanan bola mata rndah
3. Bilikmata dangkal
4. Bentuk dan letak pupil berubah
5. Terlihat adanya ruptur pada cornea atau sclera
6. Terdapat jaringan yang prolaps seperti cairan mata iris,lensa,badan
kaca atau retina
7. Kunjungtiva kemotis
6.1.4

6.1.5

Akibatnya

Hematoma palpebra

Ruptura kornea

Ruptura membran descement

Hifema (Primer dan sekunder )

Iridoparese-iridoplegia

Iridodialisis\

Irideremia

Subluksasio lentis- luksasio lentis

Hemoragia pada korpus vitreum

Glaukoma

Ruptura sklera

Ruptura retina

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan Computed Tomography (CT)

Pengukuran tekanan IOL dengan tonography

Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan kultur

Kalau perlu pemeriksaan tonometri Schiotz, perimetri, gonioskopi,


dan tonografi, maupun funduskopi

57

6.1.6

Penatalaksanaan

Cedera Mekanis
Apabila terjadi cedera mekanik, oleh karena benda tumpul, tajam,
ledakan atau benda asing, sebaiknya segera dibawa ke unit gawat
darurat (UGD) terdekat, dengan mata tertutup.
Bila terasa klilipan debu / pasir penanganan di rumah dapat
dirimbang (aliri / air mengalir). Bila Tidak membaik, segera bawa
ke UGD

Cedera Non mekanis


Bahan Kimia (Asam /Basa) Sebagai langkah awal bisa dilakukan
irigasi sendiri dengan air mengalir. Selanjutnya Bawa ke RS
dengan mata tertutup.
Cedera Termal Apabila terkena Panas Segera kompres dengan air
matang dingin dengan menggunakan kapas.
Cedera Sinar laser Segera Tutup mata dan bawa Ke UGD
Cedera Elektrik Jauhkan dari sumber, kompres dengan air dingin
dan segera bawa ke Rumah Sakit

6.1.7

Pencegahan
a. Trauma tumpul akibat kecelakaan tak dapat dicegah, kecuali akibat
perkelahian.
b. Diperlukan perlindungan pekerja untuk menghindarkan terjadinya
trauma.
c. Sebaiknya setiap pekerja mengerti bahan apa yang ada di
lingkungan
d. Pada Pekerja Las sebaiknya memakai kaca mata.
e. Berkendaraan sebaiknya memakai kaca mata / helm yang ada
kacanya.
f. Awasi anak anak terhadap mainan yang berbahaya terhadap mata.
g. Jauhkan benda tajam : Pisau, jarum, lidi, bahan kimia. (semua yang
berbahaya)
h. Apabila menggunakan obat tetes mata, perhatikan betul label,
tanggal kedaluwarsa dan perubahan Warna.

58

6.2

Kegawatdaruratan Sistem Pendengaran

6.2.1 Barotrauma Telinga


Barotrauma telinga merupakan barotrauma yang paling terjadi dalam
kegiatan penyelaman. Dikenal dua bentuk barotrauma telinga, yaitu:
6.2.1.1 Barotrauma Telinga Descent
Barotrauma telinga descent dibagi menurut anatomi telinga yang dikenal
sebagai:
1. Barotrauma telinga luar (barotrauma auris eksterna)
2. Barotrauma telinga tengah (barotrauma auris media)
3. Barotrauma telinga dalam (barotrauma auris interna)
Bisa timbul sendiri-sendiri atau dalam bentuk kombinasi.
1. Barotrauma Auris Eksterna
Karena auris eksterna berhubungan dengan dunia luar, maka pada
waktu turun air dapat masuk ke dalam meatus acusticus externus.
Bila meatus acusticus externus tertutup, air tak dapat masuk dan
terdapat udara ynag terperangkap dalam canalis acusticus externus.
Pada waktu tekanan bertambah, udara yang terperangkap di
dalam tidak mungkin menyamakan tekanan dengan tekanan
sekeliling sehingga membuat kolaps canalis acusticus externus. Hal
ini berakibat terjadinya kongesti, perdarahan dalam canalis
acusticus externus serta tertariknya membran timpani ke lateral.
Peristiwa ini mulai terjadi bila terdapat perbedaan tekanan air
dan tekanan udara dalam rongga canalis acusticus externus sebesar
150 mmHg atau lebih (kedalaman 1,5 2 meter).
Tertutupnya auris eksterna bisa disebabkan oleh:
a. Serumen atau corpus alienum
b. Ear plug
c. Tight fitting hood (pakaian selam)
Klinis biasanya timbul rasa nyeri yang tak terlalu hebat dan
mungkin tampak ada perdarahan dari telinga yang terkena
barotrauma. Pada pemeriksaan bisa didapatkan:
a. Perdarahan berupa ptekie
b. Perdarahan subkutan berupa blistars
c. Kongesti pembuluh darah pada membran timpani bila
perdarahan subkutan besar.

59

Pengobatan harus mengusahakan agar canalis acusticus externus


tetap kering. Canalis acusticus externus boleh dibersihkan dengan
larutan H2O2. Selanjutnya penderita dilarang menyelam sampai epitel
permukaan canalis acusticus externus pulih.
Pencegahan barotrauma ini dapat dilakukan dengan cara:
a. Menjaga kebersihan canalis acusticus externus
b. Jangan memakai penutup telinga (ear plug) atau penutup
kepala yang tidak ada lubangnya di daerah telinga waktu
menyelam.
2. Barotrauma Auris Media
Barotrauma auris media waktu turun adalah yang paling sering
dialami oleh penyelam, terutama para pemula. Barotrauma ini
biasanya dialami pada kedalaman 10 meter pertama, sesuai dengan
Hukum Boyle di daerah tersebut terjadi perubahan tekanan udara
yang terbesar.
Cavum timpani dipisahkan dari auris eksterna oleh membran
timpani. Cavum timpani mempunyai hubungan dengan dunia luar
(nasofaring) lewat tuba eustachii. Dalam keadaan normal tuba
eustachii merupakan satu-satunya saluran untuk equalisasi tekanan
udara dalam cavum timpani dengan tekanan di sekelilingnya.
Secara fisiologis memompakan udara dari nasofaring lewat tuba
ke dalam cavum timpani lebih sulit daripada mengeluarkan udara
dari cavum timpani ke nasofaring. Dengan demikian equalisasi auris
media pada waktu turun lebih sulit daripada waktu naik. Ini
disebabkan adanya valve action dari muara tuba eustachii di daerah
nasofaring yang normalnya menutup.
Tekanan yang positif dalam cavum timpani akan dengan mudah
membuka tuba dan melewatkan udara ke nasofaring. Sebaliknya,
tekanan yang relatif negatif dalam cavum timpani akan mempersulit
pembukaan tuba. Dikatakan perbedaan tekanan 90 mmHg atau
lebih tidak memungkinkan lagi pembukaan tuba secara aktif.
Usaha memompakan udara ke dalam cavum timpani
(autoinflation) dapat dilakukan dengan menelan atau menggerakgerakkan

mandibular.

Tindakan-tindakan

semacam

itu

akan

menggerakkan otot-otot sekeliling tuba eustachii. Muskulus tensor

60

palatini dan stilofaringeus akan memperbesar diameter tuba eustachii


dan membuka pula muara tuba di daerah nasofaring sehingga terjadi
equalisasi.
Cara lain untuk memompakan udara ke dalam cavum timpani
adalah dengan melakukan manuver valsava (menjepit hidung dan
memaksakan udara masuk lewat tuba eustachii dalam keadaan
nasofaring tertutup). Metode ini diperbolehkan selama tenaga yang
digunakan tidak terlalu besar. Bilamana metode ini gagal biasanya
ada kecenderungan penyelam untuk memperkuat manuvernya. Ini
berbahaya karena dapat menimbulkan barotrauma telinga dalam.
Cara yang lebih baik dan dianjurkan untuk penyelam adalah
melakukan manuver valsava dikombinasikan dengan menelan. Cara
ini akan membuka tuba eustachii jauh lebih mudah dibandingkan
dengan manuver valsava saja. Penguasaan cara ini membutuhkan
latihan praktek sebelumnya.
Penyebab sumbatan pada tuba eustachii antara lain:
a. Kongesti mukosa akibat infeksi saluran nafas atas
b. Otitis media
c. Obstruksi mekanis, missal polip mukosa
d. Variasi individual dari tuba eustachii
Kerusakan jaringan akibat tekanan relatif negatif dalam cavum
timpani bervariasi, dari kongesti atau oedema mukosa sampai
perdarahan dalam cavum timpani. Biasanya rasa nyeri mulai timbul
pada perbedaan tekanan sebesar 60 mmHg. Selain itu membran
timpani akan tertarik ke dalam cavum timpani akibat tekanan negatif
di dalam cavum timpani. Elastisitas membran timpani sampai batas
tertentu masih bisa mengkompensani tekanan negatif dalam cavum
timpani.
Apabila diteruskan descent bisa terjadi ruptur membran timpani.
Ruptur membran timpani dapat terjadi pada perbedaan tekanan
antara 100 700 mmHg (equivalen kedalaman 1,5 9 meter). Rasa
nyeri akan berkurang bilamana sudah terjadi ruptur membran
timpani. Namun terjadi resiko air masuk ke dalam cavum timpani
dan menimbulkan rangsang kalori yang dapat memberikan sensasi

61

vertigo pada penyelam. Bila sudah terjadi barotrauma auris media


waktu menyelam, bisa dijumpai gejala-gejala klinis berikut:
a. Nyeri yang bervariasi intensitasnya pada telinga yang terkena
barotrauma
b. Darah di sekitar hidung atau mulut akibat perdarahan dari
cavum timpani yang terdorong keluar waktu naik
c. Perasaan buntu/tuli. Biasanya berupa tuli konduksi ringan
sementara akibat gangguan pada tulang-tulang pendengaran
dalam cavum timpani dan diharapkan sembuh dalam waktu 1
minggu.
Berdasarkan kelainan membran timpani pada pemeriksaan otoskopi,
barotrauma auris media waktu turun dibagi:
a. Derajat 0: hanya keluhan tanpa gejala pada membran timpani
b. Derajat 1: injeksi dan perdarahan sedikit dalam membran
timpani
c. Derajat 2: perdarahan sedang dalam membran timpani
d. Derajat 3: perdarahan yang luas dalam membran timpani
e. Derajat 4: membran timpani bombans, tampak biru gelap karena
adanya darah dalam cavum timpani
f. Derajat 5: perforasi membran timpani dan perdarahan bebas
dalam cavum timpani
Pada otoskopi yang tampak adalah kelainan pada membran
timpani. Namun hendaknya tetap diingat bahwa kerusakan jaringan
yang terjadi akibat barotrauma auris media waktu turun tidak terbatas
pada membran timpani saja melainkan mengenai seluruh auris
media.
Pengobatan yang dianjurkan adalah:
a. Istirahat, dilarang menyelam atau melakukan manuver valsava
b. Penggunaan dekongestan atau antihistamin per oral atau lewat
hidung
c. Pemberian antibiotika pada kasus-kasus terjadi perdarahan atau
perforasi membran timpani
Penyelam boleh menyelam lagi bila telinganya sudah benarbenar sembuh. Untuk derajat 0 sampai dengan IV kesembuhan bisa
bervariasi antara 2 7 hari. Untuk derajat V bila tidak ada penyulit
bisa sembuh antara 1 3 bulan.

62

Pencegahan barotrauma telinga tengah dapat diusahakan


dengan pemeriksaan otoskopi pada membran timpani sebelum
melakukan penyelaman. Otoskopi dilakukan sambil penyelam
melakukan manuver valsava. Dari gerakan membran timpani yang
tampak dibandingkan dengan kekuatan yang diperlukan untuk
melakukan manuver valsava, dapat diperkirakan baik tidaknya
fungsi tuba (tube patency). Apabila hasilnya meragukan, dapat
diberikan dekongestan berupa tetes hidung atau nasal sprayuntuk
memperbaiki fungsi tuba eustachii. Squeeze pada telinga tengah
juga

dapat

dicegah

dengan

tidak

melakukan

penyelaman

biladijumpai kongesti hidung atau gangguan fungsi hidung lain.


Selama menyelam, barotrauma telinga ini dapat dicegah dengan
berhenti dan mengurangi kedalaman bila merasa nyeri pada telinga
waktu turun. Bila equalisasi tetap gagal, penyelaman harus
dihentikan.
3. Barotrauma Auris Interna
Barotrauma ini biasanya adalah komplikasi dari barotrauma
auris media waktu turun, karena melakukan manuver valsava yang
terlalu dipaksakan.
Tekanan akan meningkat ketika descent sehingga membrane
timpani terdorong ke arah cavum timpani. Hal ini menyebabkan
footplate dari stapes terdorong ke dalam, selanjutnya menekan
perilymph

dan

mengakibatkan

membran

foramen

rotundum

terdorong keluar. Bila pada saat itu penyelam melakukan manuver


valsava dengan keras, maka tekanan di dalam cavum timpani
meningkat dengan cepat sehingga membran timpani akan kembali ke
posisi normal dengan cepat, stapes akan tertarik keluar dan membran
foramen rotundum terdorong ke dalam. Aliran balik (reversed flow)
dari perilymph tidak secepat aliran akibat tekanan yang terjadi. Hal
ini mengakibatkan ruptur dari membran foramen rotundum yan
berakibat bocornya cairan perilymph.
Gejala-gejalanya antara lain:
a. Perasaan buntu (blockage)

63

b. Ketulian tipe sensoris. Ketulian bisa total atau hanya pada


frekuensi tinggi (4000 8000 Hz) dan dapat terjadi seketika
atau perlahan-lahan
c. Tinitus
d. Gejala-gejala gangguan vestibuler seperti vertigo, ataksia dan
disorientasi
Jika ditemukan gejala-gejala di atas pada waktu turun, maka
harus dianggap telah terjadi barotrauma auris interna dan tidak boleh
diterapi dengan rekompresi. Mikrotrauma berulang-ulang yang
terjadi

pada

auris

interna

dapat

mengakibatkan

gangguan

pendengaran dan keseimbangan yang permanen, kasus-kasus


semacam ini lebih sering terjadi pada penyelam-penyelam yang
mengalami gangguan equalisasi telinga tengah yang biasanya
unilateral.
Pengobatan:
a. Operasi rekonstruksi mikroskopis membran foramen rotundum
yang ruptur
b. Dilarang menyelam termasuk melakukan menuver valsava
c. Simtomatik
Pencegahan:
a. Dilarang menyelam bila manuver valsava di permukaan sudah
menimbulkan vertigo
b. Bila merasakan vertigo sewaktu turun, jangan dipaksakan turun
ke dasar
6.2.1.2 Barotrauma Telinga Ascent
Sesuai Hukum Boyle, terjadi pengembangan volume udara dalam
rongga-rongga

tubuh

waktu

penyelam

naik.

Secara

fisiologis,

pengembangan udara dalam cavum timpani dapat disalurkan ke


nasofaring lewat tuba eustachii. Tekanan positif dalam cavum timpani
akan membuka tuba eustachii tanpa kesulitan. Bila pada waktu naik tuba
eustachii tidak mau membuka, udara yang mengembang dalam cavum
timpani akan terperangkap dan meningkatkan tekanan dalam cavum
timpani. Tuba eustachii dapat mengalami obstruksi, missal oleh polip dan
sebagainya.
Gejala klinik yang timbul antara lain:

64

1. Perasaan adanya suatu penekanan atau sakit telinga waktu ascent.


2. Tensien vertigo disebabkan stimulasi yang tidak seimbang antara
organ vestibuler kanan dan kiri akibat kenaikan tekanan dalam
cavum timpani (alternobaric vertigo)
3. Gangguan pendengaran
4. Tinitus
5. Pada pemeriksaan otoskopi bisa didapatkan injeksi membrana
timpani perdarahan sampai ruptura
Terapi yang dianjurkan:
1. Dilarang menyelam lagi sampai pendengaran atau fungsi vestibuler
normal kembali
2. Dekongestan
3. Antibiotika bila diperlukan

Pencegahan:
Bila timbul gejala- gejala seperti diatas pada waktu ascent, penyelam
harus berhenti dulu dan turun lagi dan turun lagi sedikit sampai gejalagejala tersebut menghilang.
6.3

Kegawatdaruratan Sistem Penciuman

6.3.1 Barotrauma Sinus Paranasalis


Dalam tulang tengkorak terdapat rongga- rongga fisiologis, yaitu sinus
paranasalis, yang pada dasarnya merupakan rongga tulang yang dilapisi
mukosa dan berhubungan dengan cavum nasi lewat ostium atau saluran.
Sinus- sinus tersebut adalah:
1. Sinus frontalis
2. Sinus maksilaris
3. Sinus ethmoidalis
4. Sinus sphenoidalis
Barotrauma sinus paranasalis timbul bila ada sumbatan pada saluran
atau ostium sinus. Sumbatan bisa oleh karena:

65

1. Sinusitis dengan hipertrofi mukosa


2. Rhinitis
3. Polip nasi
4. Infeksi virus pada saluran napas atas disertai merokok dan lainlain.
Insiden barotrauma sinus paranasalis waktu descent kira- kira 2 kali
lebih banyak daripada waktu ascent. Gejala yang paling menonjol adalah
timbulnya rasa nyeri. Penelitian oleh Fagan, Mc Kenzie dan Edmonds
(1975) mengatakan bahwa 92% kasus barotrauma sinus disertai nyeri.
Letak nyeri paling banyak di daerah frontal.
Gejala umum yang ke dua adalah epistaksis. Pada beberapa kasus
barotrauma sinus waktu ascent tidak dijumpai nyeri, tapi hanya dijumpai
epistaksis sebagai satu- satunya gejala. Umumnya epistaksis tidak pernah
berat.
Diduga gangguan saluran napas sebelumnya sangat berperan
menimbulkan barotrauma ini. Penelitan Fagan dkk mengatakan 32% dari
kasus sebelumnya pernah mengalami gangguan saluran napas bagian
atas.
6.3.1.1 Barotrauma Sinus Descent
Bila ada sumbatan pada ostium atau saluran sinus waktu descent, akan
terjadi kegagalan equalisasi. Kenaikan tekanan dari luar akan dihantarkan
lewat dinding sinus dan pada waktu yang sama timbul tekanan relatif
negatif dalam sinus karena kontraksi udara dalam sinus. Bila batas
elastisitas mukosa terlewati, dapat terjadi perdarahan, baik dalam mukosa
atau ruang submukosa dan masuk ke dalam lumen sinus.
Diperkirakan perubahan- perubahan pada mukosa seperti diatas yang
menimbulkan gejala nyeri. Perbedaan tekanan sebesar 100-150 mmHg
menimbulkan odema mukosa dan keluarnya cairan serosa kedalam sinus.
Gejala klinis:
1. Nyeri daerah sinus dan sekitarnya waktu penyelaman.
Menurut penelitian Fagan dkk (Royal Australian Navy, 1975), nyeri
ini selalu ada pada seluruh kasus barotrauma sinus waktu turun.

66

Nyeri bisa berkurang waktu naik ke permukaan namun bisa juga


masih terasa selama beberapa jam setelahnya.
2. Epistaksis
Waktu naik ke permukaan mungkin tampak darah pada masker
penyelam yang berasal dari lubang hidung pada sisi yang sama
dengan sinus yang sakit. Waktu ascent volume udara yang
mengembang dalam sinus akan mendorong darah dan mukus dari
sinus lewat ostium ke cavum nasi.
Pemeriksaan radiologis cranium (penderita tegak, diambil gambar
PA, lateral dan submento vertikal) bisa memberi gambaran yang
bervariasi:
a. Penebalan mukosa (paling sering)
b. Penebalan mukosa disertai kesuraman dalam sinus
c. Air fluid level
Menurut penelitian Fagan dkk, 79% dari seluruh kasus barotrauma
sinus waktu turun dan naik menunjukkan adanya anomali sinus.
Pengobatan yang dianjurkan adalah:
1. Pengobatan faktor predisposisi
2. Dekongestan nasal untuk mengurangi odema mukosa didaerah
ostium sinus
3. Antibiotika bila diperlukan
4. Kadang- kadang diperlukan tindakan drainage
Rata- rata gejala- gejala barotrauma sinus akan hilang dalam 5-10 hari.
Pencegahan:
1. Dilarang menyelam bila dijumpai infeksi saluran napas atas,
sinusitis, rhinitis, kelainan anatomi rongga hidung
2. Jangan descent terlampau cepat
3. Bila memiliki riwayat gangguan hidung atau sinus harus diperiksa
lebih diteliti sebelum melaksanakan aktivitas selam
6.3.1.2 Barotrauma Sinus Ascent

67

Barotrauma sinus juga bisa terjadi pada waktu naik (ascent).


Terjadinya barotrauma ini adalah karena obstruksi yang mempunyai
mekanisme katub 1 arah. Udara masuk sinus waktu descent lancar, tetapi
udara keluar dari sinus waktu ascent terganggu, sehingga terjadi
peningkatan tekanan dalam sinus. Obstruksi pada mekanisme katub 1
arah ini disebabkan oleh mukosa yang meradang dekat ostium, kista atau
polip sinus yang menganggu keluarnya udara dari sinus.
Gejala- gejala klinik:
1. Perasaan penuh atau nyeri di daerah sinus pada waktu naik ke
permukaan. Nyeri tidak selalu ada, lebih sering pada barotrauma
sinus pada waktu turun menyelam.
2. Epistaksis. Kadang- kadang merupakan satu- satunya gejala pada
barotrauma sinus waktu naik ke permukaan, terutama bila terlalu
cepat.
3. Bisa terjadi robekan ostium atau mukosa dan keluar lewat cavum
nasi.
Pengobatan:
Umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus.
Pencegahan:
Naik ke permukaan tidak boleh terlalu cepat. Barotrauma ini dapat terjadi
pada latihan:
1. Free ascent
2. Submarine escape
3. Emergency ascent
6.4

Kegawatdaruratan Sistem Integumen

6.4.1 Barotrauma Kulit


Barotrauma ini terjadi akibat memaka dry suit atau wet suit yang tidak
cocok sehingga terjadi rongga udara antara kulit dan pakaian. Pada saat
turun (descent), tekanan udara dalam rongga tersebut relatif negatif
terhadap tekanan disekelilingnya. Akibat kulit terhisap ke arah rongga
udara tersebut dan menimbulkan garis- garis hiperemis sesuai lipatan

68

pakaian yang membentuk rongga udara. Barotrauma ini bisa sembuh


dalam beberapa hari.

BAB 7
KEGAWATAN PADA KEMARITIMAN DAN MATRA KELAUTAN
7.1 Pengenalan Penyelaman
Menyelam adalah kegiatan yang dilakukan dibawah permukaan
air,dengaan atau tanpa meenggunakan peralatan,untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Lingkungan penyelaman memiliki berbagai potensial bahaya baik
fisik maupun biologi. Secara anatomi tubuh manusia terdiri dari 3 unsur
yaitu padat, cair dan berongga. Jaringan tubuh yang padat seperti tulang, otot,
jantung, hati relatif tidak meneruskan tekanan, sedangkan yang berupa cairan
dapat meneruskan tekanan, dan yang berongga

seperti telinga, sinus,

lambung, usus, paru juga saluran nafas sangat dipengaruhi perubahan


tekanan. (Ricard larn dan Whisler Rex,1993)
Kondisi di lingkungan penyelaman akan mempengaruhi perubahan
fisiologi pada tubuh manusia sesuai dengan hukum fisika yang berlaku, yang
berisiko menimbulkan penyakit yang berakhir pada kecacatan hingga
kematian apabila penyelaman dilakukan tidak sesuai dengan prosedur yang
benar.
Untuk ketepatan dalam mendiagnosis penyakit akibat penyelaman,
perawat perlu mengetahui prosedur penyelaman yang benar disamping
pengetahuan tentang riwayat penyelaman, bahaya dalam penyelaman dan
gejala/ tanda klinisnya, karena cepat dan tepatnya diagnosis menentukan
nasib dari penderita tersebut.
Sebagaimana hukum fisika, aktifitas penyelaman akan menyebabkan
(Edmons Carl, Lowry Christopher, Pennefather B, Walker Robyn, M.B., B.S,
Dip ) :

Tekanan lingkungan akan meningkat


Kerapatan gas media nafas meningkat
Tekanan parsial media gas meningkat
Kelarutan gas akan meningkat.
Berlakunya hukum fisika penyelaman mempengaruhi perubahan

fisiologis tubuh peselam, sehingga perawat perlu mengetahui fungsi dan


69

70

proses vital yang terjadi pada tubuh peselam dalam lingkungan bawah air
untuk menghindari akibat yang tidak dikehendaki dari pengaruh lingkungan
tersebut. Meningkatnya tekanan bawah air 1 atmosfer mengakibatkan
terjadinya perubahan fisiologis tubuh peselam.
7.1.1 Peran Perawat dalam Kesehatan Penyelaman

Penyuluhan kesehatan penyelam

Pengawasan dan atau pemeriksaan kesehatan penyelam sebelum yang


bersangkutan menyelam

Pelayanan gawat darurat penyelam beserta rujukan medic.

Pengawasan atau pemeriksaan berkala terhadap instruktur (dive


master).

7.2 Hiperbarik
Hiperbarik adalah sebuah terapi oksigen yang dilakukan dalam sebuah
chamber atau ruangan bertekanan udara tinggi yaitu lebih dari 1 atmosfer.
Pasien berada di dalam chamber selama beberapa jam untuk menghirup
oksigen murni. Pasien diberikan 3x30 menit untuk menghirup oksigen.
Awalnya terapi hiperbarik ini hanya dilakukan oleh penyelam dan
digunakan oleh angkatan laut. Saat ini terapi hiperbarik sudah dilakukan
untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit lain, seperti luka bakar,
kanker, diabetes, tetanus, stroke, dan lain-lain. Terapi hiperbarik juga
digunakan untuk kebugaran, kecantikan dan keperkasaan.
1. Kesehatan hiperbarik adalah ilmu yang mempelajari tentang masalahmasalah kesehatan yang timbul akibat pemberian tekanan lebih dari 1
atmosfer terhadap tubuh dan aplikasinya.
2. Terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen tekanan tinggi
untuk pengobatan yang dilaksanakan dalam RUBT.
3. Tekanan 1 atmosfer adalah tekanan udara yang dialami oleh semua
benda, termasuk manusia di atas permukaan laut bersifat tetap dari
semua jurusan dan berada dalam keseimbangan.
7.2.1 Perubahan fisiologis organ pada peselam antara lain:
Paru-paru akan terjadi hipoventilasi dan penurunan respons terhadap
peningkatan CO2

71

Jantung akan terjadi bradikardi dan aritmia, turunnya cardiac output,


tekanan arteri menurun, sistemik vaskular resistance, menurunnya

kapasitas kerja jantung.


Otak: terjadi penurunan intelektual, psikomotor dan psiko sensorial
secara bertahap. Perubahan elektro fisiologik dan perubahan neuro

transmission.
Mata : akibat dari pancaran sinar akan terjadi indeks refraksi 1,3 kali
dari pada di udara sehingga benda terlihat 25% lebih besar dan lebih

dekat (Hiperopia 40 dioptri).


Telinga : nilai ambang pendengaran naik 40 sd 75 db. Konduksi tulang

merupakan hantaran utama pada pendengaran.


7.2.2 Potensial Bahaya Biologi
Lingkungan bawah laut memiliki potensial hazard biologi antara lain
binatang laut yang berbahaya karena sengatan atau gigitannya. Untuk
mengantisipasi keparahan penyakit akibat sengatan atau gigitan maka
dokter perlu mengetahui penatalaksanaan penyakitnya.
7.3 Faktor-Faktor Yang Memperberat Risiko Penyelaman
7.3.1 Faktor Peselam (SDM)
Kondisi Fisik
Kondisi Mental
7.3.2 Faktor Peralatan
Tanpa peralatan selam (penyelaman tahan nafas): Googling dan

snorkling
Peralatan selam minimal: Masker, snorkel, sirip apung, rompi apung

sabuk pemberat
Peralatan selam lengkap: Masker, snorkel, sirip apung, rompi apung
sabuk pemberat, pakaian selam, pengukur kedalaman, jam selam,

pisau selam, tas kemas


7.3.3 Faktor Lingkungan
Tekanan tinggi
Binatang laut berbahaya
Suhu rendah
7.4 Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Penyelaman
7.4.1 Tindakan Medis Umum
7.4.1.1 Resusitasi
Adalah semua tindakan untuk mengembalikan fungsi vital tubuh guna
menyelamatkan jiwa korban. Ada dua macam resusitasi :

72

1. Resusitasi paru (pulmonary resuscitation) atau memberikan


pernapasan buatan untuk mengembalikan fungsi pernapasan
2. Resusitasi jantung dan paru-paru (pulmoner resuscitation = CPR).
Korban kecelakaan penyelaman sering ditemukan dalam keadaan tidak
sadar, disertai dengan berhentinya pernapasan dan denyut jantung,
untuk itu diperlukan pernapasan buatan bersama-sama pemijatan
jantung. Untuk memudahkan resusitasi paru sering digunakan alat
resusitasi (misal AMBU Type Resuscitation) yang dapat digerakkan
secara mekanis (dengan pompa karet) atau dihubungkan dengan tangki
oksigen.
1. Resusitasi Paru
a. Teknik pemberian nafas buatan mulut ke mulut didarat
Cara pemberian pernafasan buatan adalah sebagai berikut :
1) Miringkan kepala korban, ambil (bersihkan) bendabenda asing dari mulut/hidung.
2) Tengadahkan kepala untuk membuka saluran nafas
dengan

Tangan kiri mengangkat leher.Tangan kanan mendorong


kening ke arah bahu.
3) Dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanan, pijatlah
hidung korban, sambil mempertahankan posisi kepala
(tetap tengadah).
4) Buka mulut Anda, hisaplah nafas sedalam-dalamnya,
tempelkan mulut Anda ke mulut korban (mouth to
mouth), tiupkan udara ke paru-paru korban.
5) Setelah selesai meniup, lihat dada korban adakah
gerakan dada naik turun terdengarkah suara korban
menghembuskan nafas.
6) Jika tak ada gerakan naik, mungkin kesalahan teknis,
misal

Hidung lupa/tidak ditutup. Masih ada benda asing,


keluarkan.
7) Ulangi dengan teknik yang benar.\
8) Jika udara tetap belum bisa masuk ke paru, miringkan
tubuh penderita, tepuk kuat-kuat di antara kedua tulang
belikat agar sumbatan jalan nafas dapat terbuka.
b. Teknik pernafasan buatan dipermukaan air

73

Pada prinsipnya cara pemberian nafas buatan di permukaan air


adalah

sama

dengan

di

darat,

untuk

memudahkan

kembangkanlah pelampung korban dan pelampung Anda. Bila


jarak dengan daratan/kapal cukup dekat, pernafasan buatan
dapat diberikan sambil berenang ke darat/kapal. Jika jaraknya
cukup jauh tetaplah di tempat anda, berikan nafas buatan sambil
menunggu pertolongan.
1) Teknik memberikan nafas buatan mulut ke mulut di air
(di tempat).
a) Tiup pelampung korban dan pelampung penolong.
b) Buka masker korban dan penolong masukkan ke
lengan penolong.
c) Buka sabuk pemberat dan lain-lain yang dianggap
tidak perlu.
d) Segera lakukan nafas buatan, jika ada reaksi (korban
masih hidup) kirimkan isyarat minta tolong dengan
gerakan tangan, meniup peluit, menyalakan lampu
pelampung dan lain-lain.
e) Pertimbangkan kemampuan penolong bila merasa
tidak mampu menunggu pertolongan atau berenang
membawa korban ke kapal/ke pantai sambil
memberikan nafas buatan lepas dan buang scuba
korban dan atau scuba penolong.
f) Terus lakukan pernafasan buatan sambil menunggu
pertolongan, atau sambil berenang ke pantai.
Teknik memberikan nafas buatan mulut ke

mulut sambil berenang ke kapal atau ke pantai.


Setelah pelampung dikembangkan dan peralatan
yang harus dilepas, masukkan lengan kanan
penolong

ke

ketiak

kiri

korban,

pegang

pelampung korban dibagian belakang leher


sambil menahan kepala agar mulut dan hidung
korban selalu di atas permukaan air (punggung
telapak tangan terletak di antara tengkuk dan
pelampung korban).

74

Tangan kiri memijit hidung korban berikan


nafas buatan secara cepat dua kali, lepas tangan

kiri.
Kemudian berenang dengan kayuhan kaki
(flutter kick) sambil membawa korban ke
kapal/pantai terdekat sambil menghitung dalam
hati 1000, 2000, 3000, 4000 kemudian berhenti
sejenak sambil memberikan nafas buatan lagi

2. Pemijatan

dan seterusnya.
Jantung Bersama Pernafasan

paru

paru

(resusitasi jantung dan paruparu)


a. Resusitasi jantung dan paru paru terdiri dari 3 tahap
yaitu :
1) Membuka

jalan

Tindakan :
a) Bersihkan

nafas

mulut

(Air
dan

Way

hidung

Open

korban

A)

untuk

mengeluarkan benda asing dari saluran nafas korban.


b) Tengadahkan kepala korban agar saluran nafas
terbuka (lurus).
2) Lakukan pernafasan buatan (Breathing Restored = B)
Pernafasan buatan dilakukan 12 kali per menit untuk
orang dewasa, 20-30 kali untuk anakanak.
3) Pemijatan jantung (Circulation Restored) pemijatan paru
dan nafas buatan tergantung jumlah penolong, dimana
pada :
a) Seorang

penolong

penekanan/pemijatan

dilakukan

jantung

diseling

15
2

kali
kali

pernafasan buatan.
b) Dua orang penolong : dilakukan 5 kali pemijatan
jantung diselingi sekali pernafasan buatan.
b. Gangguan peredaran darah ( Shock)
Merupakan reaksi tubuh ditandai oleh melambatnya atau
terhentinya peredaran darah, yang mengakibatkan penurunan
persediaan darah pada organ organ vital / penting.
1) Tanda-tanda shock :
a) Muka pucat.
b) Kulit basah dan dingin (kening, telapak, tangan).

75

c) Denyut nadi lemah dan cepat, lebih dari 100 kali per
menit.
d) Korban gelisah, merasa haus dan mual.
e) Tekanan darah sangat rendah.
2) Jika berat didapatkan :
a) Sangat pucat.
b) Mata terlihat cekung, tampak hampa dan tidak
bercahaya.
c) Pernafasan cepat dan dangkal, kadang-kadang tidak
teratur.
d) Nadi susah teraba dan apabila teraba sangat cepat
150 kali per menit.
e) Kesadaran penderita menurun.
3) Pada syok berat, kematian dapat mengancam dalam
beberapa menit.
a) Tindakan :
Bawa korban ke tempat teduh dan aman.
Tidurkan penderita terlentang dengan kepala
lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Jika ada
patah tulang kepala dan atau pendarahan di

kepala.
Kendorkan

pakaian

penderita.

Bila

perlu

pakaian korban dilepaskan dan ditutup dengan

selimut.
Tenangkan korban dan usahakan agar badannya

tetap hangat.
Korban jangan diberi minum apabila tidak

sadar.
Bila ada luka dengan perdarahan pasang
pembalut cepat dan bila ada patah tulang pasang

bidai.
c. Menghentikan perdarahan
Korban kecelakaan yang tidak sadar disertai berhentinya
pernafasan dan denyut jantung, bila disertai perdarahan massive
(berlebihan) sering menimbulkan persoalan serius atau berakhir
dengan kematian. Pada kasus demikian resusitasi harus
dilakukan

bersama-sama

tindakan

untuk

menghentikan

76

perdarahan. Perdarahan dapat berasal dari pecahnya pembuluh


darah arteri ataupun permbuluh vena (balik).
Dimana pecah atau terputusnya pembuluh darah arteri akan
mengakibatkan perdarahan yang lebih hebat dari pada putusnya
pembuluh darah vena.
Cara menghentikan perdarahan :
1) Lakukan tourniquet (penekanan, mengikat) pembuluh
darah yang terletak di sebelah atas (proksimal) dari luka
sehingga perdarahan berhenti atau berkurang.
2) Bersihkan dan cuci luka dengan perhidrol atau cairan
garam fisiologi.
3) Tempat luka ditutup kain korban/kasa tebal, lalu di balut.
4) Torniquet sering dikendorkan agar ada aliran darah ke
bagian bawah (distal) luka.
Hal ini penting untuk mencegah nekrose (kematian) jaringan disebelah
distal luka.
7.4.1.2 Prosedur Pasien Datang
1. Pasien datang atas permintaan sendiri atau rujukan.
2. Pasien diperiksa oleh dokter.
3. Pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan THT, dan rontgen thorax.
4. Timbang berat badan.
5. Anjurkan pasien makan terlebih dahulu.
6. Anjurkan pasien buang air kecil.
7. Anjurkan membawa permen atau air minum.
8. Pakai pakaian yang longgar dan menyerap keringat.
9. Dilarang membawa kalkulator, Hp, korek api, alat elektronik yang
bergerak, jam tangan kecuali jam selam.
10.Lanjutkan untuk terapi hiperbarik, disesuaikan dengan keadaan
pasien.
7.5 Prosedur Penyelaman
Penyelaman adalah kegiatan yang dilakukan pada keadaan lebih dari 1
atmosfir, baik di dalam air (penyelaman basah), maupun di dalam RUBT
(ruang udara bertekanan tinggi / penyelaman kering). Setiap penambahan
kedalaman 10 m tekanan naik 1 atmosfir. Dengan penambahan 1 atmosfir
akan berlaku hukum fisika sehingga gas yang dihisap oleh peselam semakin
bertambah dan mempengaruhi kondisi fisik peselam. Untuk meminimalkan

77

dampak penyakit pada penyelaman, dokter harus mengetahui prosedur


penyelaman yang benar, yaitu sebagai berikut:
1.
Kondisi fisik harus prima
2.
Naik ke permukaan harus perlahan mengikuti gelembung gas
pernafasan
Jangan menahan nafas waktu naik kepermukaan
Jangan panic
Rencanakan kegiatan penyelaman dengan baik. Rencanakan lokasi

3.
4.
5.

penyelaman, lakukan review prakiraan cuaca, rencanakan kedalaman


dan lama menyelam.
Makan-makanan berprotein tinggi 24 jam dan karbohidrat sedang

6.

sebelum menyelam, makanan karbohidrat tinggi dan protein sedang 2


7.

jam sebelum menyelam.


Lakukan nitrogen wash out dengan TOHB (Terapi Oksigen

8.

Hiperbarik) setidaknya 2-7 hari sebelum penyelaman berikutnya


Lakukan pemanasan dan peregangan dipermukaan selama 10 menit
Selalu ditemani oleh minimal satu orang. Pada penyelam profesional
pun beresiko terjadi vertigo saat penyelaman (sd 36%). Vertigo yang
terjadi bawah laut adalah hal yang sangat membahayakan.

7.6 Penyakit Akibat Kerja Karena Penyelaman


Lingkungan penyelaman memiliki banyak faktor risiko yang
berpengaruh pada kondisi fisik peselam sehingga dapat menyebabkan
gangguan kesehatan dan kecacatan sampai dengan kematian.
7.6.1 Penyakit dan kecelakaan akibat kerja penyelaman :
7.6.1.1 Penyakit Dekompresi
1. Pengertian
Penyakit penyelaman akibat naik ke permukaan dengan cepat sesuai
dengan hukum Henry. Hukum Henry menyatakan bahwa banyaknya
gas yang larut dalam cairan adalah sebanding dengan tekanan gas
tersebut di atas air. Semakin dalam kita menyelam, kelarutan gas
dalam cairan tubuh semakin tinggi, sehingga bila peselam naik ke
permukaan terlalu cepat, gas yang larut dalam cairan tubuh akan
mengembang dengan cepat membentuk gelembung gas nitrogen yang
akan menyebabkan penyumbatan (pembuluh darah, otot, otak, tulang,
dll).
2. Faktor risiko :
Usia di atas 40 tahun

78

Jenis kelamin
Menggigil selama/ sesudah menyelam

Obesitas

Dehidrasi

Latihan berat selama / sesudah menyelam

Kebugaran : tidak fit, lelah, kurang tidur

Pekerja setelah mengkonsumsi alkohol mempercepat

terjadinya gelembung nitrogen.

Udara yang dihirup banyak yang mengandung CO2

Riwayat penyakit Dekompresi

Peselam naik pesawat kurang dari 24 jam setelah menyelam

Trauma/injury

Menyelam tidak mengikuti prosedur

Penyelaman berulang

3. Tanda dan gejala umum :


Penyakit dekompressi dibagi menjadi 2 (dua) tipe menurut gejala

klinisnya, yaitu:
a) Tipe 1 (Pain Only Bends)
Gejala Utama: Nyeri di daerah persendian dan otot-otot
sekitarnya.
Gejala lainnya: Kelelahan berlebihan setelah menyelam,
mengantuk / pusing ringan, gatal-gatal pada kulit (skin bends)
b) Tipe 2
Penyakit dekompresi serius yang menyerang sistem saraf pusat
Gejala neurologis : Penglihatan kabur sampai menurun,
Hemiplegia/hemiparese, Apasia motorik/ sensorik, penurunan
sampai kehilangan kesadaran, terjadi gangguan keseimbangan,
gangguan bicara, tremor, vertigo dan tinitus.
4. Pengobatan :
Pertolongan pertama dilakukan dengan 3 (tiga) tindakan:
Oksigenisasi
Jika pasien dalam kondisi tidak sadar berikan oksigen
Rekompresi
Jika pasien masih sadar lakukan penyelaman kembali ke
kedalaman semula didampingi oleh penolongnya atau dirujuk
pada fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang memiliki
chamber (golden period < 6 jam). Jika melebihi 6 jam
kemungkinan timbul kecacatan lebih besar.
7.6.1.2 Penyakit Barotrauma

79

1. Pengertian :
Barotrauma adalah kerusakan jaringan dan sequelenya akibat ketidak
seimbangan antara tekanan udara rongga fisiologis dalam tubuh
dengan tekanan udara di lingkungan sekitarnya. Hukum fisika yang
berlaku adalah Hukum Boyle: Bila temperatur dipertahankan
konstan, volume gas berbanding terbalik dengan tekanan.
2. Faktor risiko
Pemakaian alat yang tidak sesuai.
Menyelam yang tidak sesuai dengan prosedur penyelaman
Baik pada saat menyelam (barotrauma turun) maupun pada saat

naik ke permukaan air dengan cepat (blow up/ barotrauma naik)


Penyakit yang bisa menimbulkan obstruksi pada saluran napas

(sinusitis, influenza, asma, dll)


Panik
3. Tanda dan gejala umum :
Barotrauma telinga
Nyeri yang bervariasi intensitasnya pada telinga yang terkena
barotrauma, perdarahan dari telinga, kadang-kadang dijumpai
perdarahan di sekitar hidung dan mulut, gangguan pendengaran,
tinnitus.
Terapi :
a. Dilarang menyelam
b. Dekongestan
c. Anti Biotik
d. Barotrauma sinus
e. Barotrauma gigi
Nyeri pada gigi yang ditambal dengan tidak sempurna sehingga

masih ada rongga pada tambalan tersebut.


Barotrauma wajah
Nyeri pada wajah, pembengkakan pada jaringan facial
khususnya di bawah mata, haemorhagi conjungtiva dan prostusi
mata.
Terapi:
Kompres es pada bagian yang udema atau yang mengalami
perdarahan

7.6.1.3 Penyakit Osteonekrosis Disbarik


1. Pengertian :

80

Penyakit dekompresi tipe lambat yang mengenai tulang panjang


(ekstremitas).
2. Faktor risiko :
Usia dan jenis kelamin
Temperatur
Obesitas
Dehidrasi
Kebugaran : tidak fit, lelah, kurang tidur
Pekerja setelah mengkonsumsi alkohol mempercepat terjadinya

gelembung nitrogen.
Pekerja peselam naik pesawat kurang dari 24 jam setelah

menyelam.
Trauma/injury
Menyelam tidak mengikuti prosedur
3. Tanda dan gejala umum :
Nekrosis pada tulang, ada dua tempat lesi utama yaitu;
a) Lesi dekat permukaan sendi
Gejala: nyeri dan kekakuan sendi hingga limitasi gerakan sendi
b) Lesi di daerah kaput
Gejala: terjadi perubahan jaringan tulang baru dan terjadi fraktur
patologis
4. Penatalaksanaan :
Konservatif: tirah baring, mengurangi beban semaksimal mungkin
Operatif
7.6.1.4 Penyakit Akibat Keracunan Oksigen
1. Pengertian :
Tekanan partial oksigen yang normal di udara adalah 0,2 ATA atau
sekitar 160 mmHg. Sifat oksigen adalah merupakan gasyang tidak
berbau, berasa dan membantu proses pembakaran. Keracunan oksigen
disebabkan karena kenaikan tekanan partial oksigen dalam darah.
2. Faktor Risiko:
Tergantung pada lama menghisap oksigen dan banyaknya
oksigen yang dihisap
Obat-obatan yang dikonsumsi
Demam
3. Tanda dan gejala umum :
Iritasi ringan pada trachea
Batuk
Hiperemi membran mukosa hidung
Demam

81

4. Penatalaksanaan :
Pada terapi HBO: Buka masker oksigen
Pada penyelam close circuit: naik kepermukaan perlahan
Kemampuan pengikatan hemoglobin (hb) terhadap CO 200 kali lebih
besar daripada oksigen sehingga mengakibatkan eliminasi CO yang
sangat lambat dan mengakibatkan hb tidak dapat mengangkut oksigen.
7.6.1.5 Penyakit Akibat Keracunan Karbonmonoksida (CO)
1. Pengertian :
Kemampuan pengikatan hemoglobin (hb) terhadap CO 200 kali lebih
besar daripada oksigen sehingga mengakibatkan eliminasi CO yang
sangat lambat dan mengakibatkan hb tidak dapat mengangkut oksigen.
2. Tanda dan gejala umum :
Sakit kepala, sesak nafas, mual, delirium sampai dengan kehilangan
kesadaran dan mati.
3. Penatalaksanaan :
Hiperbarik oksigen, anti konvulsi (bila kejang)
kortikosteroid
4. Pencegahan
Penggunaan alat kompresor yang aman.
7.6.1.6 Penyakit Akibat Keracunan Karbondioksida ( CO2 )
1. Pengertian :
CO2 merupakan sisa metabolism normal yang diproduksi oleh tubuh,
jumlahnya hampir sama dengan oksigen yang dikonsumsi. Kelarutan
CO2 20 kali lebih besar dibanding O2 dalam darah.
2. Tanda dan gejala umum :
Sakit kepala, sesak nafas, mual, delirium sampai dengan kehilangan
kesadaran dan mati.
3. Penatalaksanaan :
Hiperbarik oksigen, anti konvulsi (bila kejang)
Kortikosteroid
7.6.1.7 Penyakit Akibat Keracunan Nitrogen
1. Pengertian :
Narkosis disebabkan oleh kenaikan tekanan parsial dari gas yang
inaktif dalam metabolisme yakni nitrogen. Narkosis terjadi beberapa

82

menit setelah mencapai kedalaman tertentu. Dikatakan lebih cepat


terjadi dengan kompressi yang cepat. Berlaku hukum Henry.
2. Gejala umum :
Gangguan ringan pelaksanaan tugas, euforia, mengantuk, halusinasi,
konsentrasi menurun hingga hilang ingatan
7.6.1.8 Penyakit Akibat Gigitan Binatang Laut
1. Pengertian :
Binatang laut yang berbahaya karena gigitannya: hiu, bara kuda, eel,
groper.
2. Tanda dan gejala umum :
Secara lokal perdarahan hebat
Secara umum pre shock sampai shock
7.6.1.9 Penyakit Akibat Sengatan Binatang Laut
1. Pengertian :
Binatang yang berbahaya karena racunnya: ikan pari, ular laut,
kalajengking, ikan sembilang, ubur-ubur, kerang lonjong, bulu babi.
2. Faktor Risiko :Pakaian selam tidak standar.
3. Tanda dan gejala umum : Nyeri sampai paralisis, preshock sampai
shock
7.6.1.10 Hipotherma
1. Pengertian :
Kehilangan panas tubuh lebih besar dari panas yang dihasilkan.
2. Faktor Risiko :Peralatan selam tidak standar.
3. Tanda dan gejala umum :
Gejala Lokal:
Diawali ujung-ujung jari tangan dan kaki dingin.
Kemantapan kekuatan lengan menggenggam menurun
Timbul rasa sakit dan baal mulai dari tangan dan kaki
Gejala Sistemik:
Vaso konstriksi pembuluh darah
Tekanan darah meningkat
Curah jantung meningkat
Berlanjut metabolic rate menurun, kardiak output menurun
akhirnya kesadaran menurun.

83

BAB 8
KEGAWATAN SISTEM PERNAFASAN
8.1 Manajemen Airway
8.1.1 Bila Airway obstruksi total

1.5 menit kemudian, Nafas berhenti.

4-5 menit otak mulai mengalami kerusakan karena hipoksia dan


kerusakan otak irreversible .

Jika pasien mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) sebelumnya,


batas waktu menjadi lebih pendek

8.1.2 AIRWAY TERSUMBAT CADANGAN OKSIGEN

Functional residual Capacity = 2500 cc

Kadar oksigen = 15 % x 2500 cc = 375 cc

Kebutuhan oksigen permenit = 250 cc

Bila ada sumbatan total oksigen dalam paru akan habis dalam 375
cc : 250 cc = 1,5 menit

8.1.3 Penilaian

Airway
1. Lihat : sesak , gelisah, retraksi otot napas, sianosis
2. Dengar : suara napas tambahan
3. Feel : Raba tracheal , krepitasi

Breathing
1. Lihat : sesak, RR, ritme
2. Dengar : wheezing , suara napas
3. Gunakan pulse oksimetri

8.1.4 Penyebab sumbatan airway

Penyebab
1. Pangkal lidah jatuh ke belakang
2. Pembesaran tonsil
3. Spasme laring
84

85

4. Benda asing
5. Sekret
6. Trauma daerah muka

Derajat sumbatan
1. Normal
2. Partial ringan
3. Partial berat
4. total

8.1.5 Sumbatan napas parsial

Abdominal thrust

Chest thrust

Back blow

Heimlich manuver

8.1.6 Pembebasan Jalan Napas

Tanpa Alat
1. Head tilt
2. Chin lift
3. Jaw trust
a. Prosedur menyakitkan
b. Pada pasein tidak sadar
c. Pasien kecurigaan trauma servikal

Dengan Alat
1. Orofaringeal
a. Nama dagang Mayo
b. OPA
c. Indikasi : pasien tidak sadar
d. Kontraindikasi : pasien sadar , reflek muntah postitf
e. Pengukuran : sudut mulut ke tragus, tengah bibir ke angulus
mandibula
2. Nasofaringeal
a. Indikasi : pasien sadar membutuhkan alat lebih lanjut

86

b. Kontraindikasi : FBC
c. Pengukuran : seukuran jari kelingking tangan kanan pasien
d. Cara pemasangan : irisan mengarah pada septum
3. Laringo mask airway
4. Krikotirotomy
a. Ditusukkan lewat membrana kriko-tiroidea
b. Sambung dengan oksigen, 1 detik tertutup, 4 detik terbuka.
c. Waktu ekstra 30-45 menit
5. Trakeostomy
Tindakan trakeostomi menurunkan jumlah udara residu anatomis
paru hingga 50 persennya. Pasien hanya memerlukan sedikit
tenaga yang dibutuhkan untuk bernafas dan meningkatkan
ventilasi alveolar.
6. Intubasi Endotracheal
a. Ukuran : pria (7 , 8) wanita (6,5-7,5)
b. Anak anak : (usia (thn) / 4) + 4
7. Endotracheal tube
a. Indikasi

Obstruksi napas bagian atas

Pasien dgn ventilator

Pemberian anestesi

Sputum banyak dan pasien tidak batuk

b. Tujuan

Pembebasan airway

Pemberian napas buatan

Penghisapan sekret adekuat

Mencegah aspirasi lambung

Mencegah distensi lambung

Pemberian oksigen dosis tinggi

c. Jenis
Nasal

Padan pasien sadar

87

Tidak akan tergigit

Pipa ETT kecil

Kerusakan & perdarahan (+)

Infeksi sinusitis

Oral

Lebih mudah

Lebih cepat

Trauma jalan napas (-)

Tergigit

Sulit oral hygiene

Tidak nyaman

d. Penyulit

Leher pendek

Fraktur servikal

Rahang bawah kecil

Trismus

Massa di faring dan laring

osteoarteritis

e. Obat-obatan

Sedasi
Penthotal 25 mg
Dormicum 0,6 mg/ kgbb
Diprivan 1-2 mg/kg bb

Muscle relaxan
Succinyl cholin 1-2 mg / bb
Pavulon 0,15 mg/bb
Trachium 0,5 0,6 mg/bb
Norcuron 0,1 mg/bb

8.2 Manajemen Breathing


8.2.1 Konsep Breathing

Frekuensi pernapasan , irama, dalamnya pernapasan, upaya bernapas

88

Hitung jumlahnya selama 1 menit

Normal 16- 24 x /menit

12-20 x / menit

14-20 x/ menit

8.2.2 Gawat Napas

Keluhan sesak

Gelisah

Napas cepat dangkal

Gerak cuping hidung

Cekungan sela iga inspirasi

Sianosis

Takikardi, aritmia, tensi naik, keringat dingin tangan dahi

8.2.3 Pemantauan Oksigenasi

Invasi Analisa gas darah

Non Invasi pulse oxymetry


Nilai Oksimetri Denyut

Nilai
Oksimetri
Denyut

Arti klinis

Pilihan alat
oksigen

95 100 %

Dalam batas
normal

4 lpm

90 95 %

Hipoksia ringan
sedang

Sungkup muka
sederhana

85 90 %

Hipoksia sedang
berat

Masker reservoir

< 85 %

Hipoksia
mengancam jiwa

Ventilasi dibantu

8.2.4 Napas Buatan

MOUTH TO MOUTH
Sumbatan dibersihkan dahulu, Jalan nafas korban dibuka, Tutup
hidung korban, Tarik nafas panjang dan letakkan bibir anda menutupi

89

mulut korban, jangan sampai kebocoran. Hembuskan nafas anda


kedalam mulut korban sampai dadanya tampak terangkat

MOUTH TO NOSE
Mulut korban ditutup, tutup hidung korban dengan mulut anda,
kemudian tiupkan nafas anda.

8.2.5 Alat Bantu

Nasal Kanul
1. Konsentrasi oksigen sekitar 24 32 % (Maks 40 %)
2. Aliran low (2 4 lpm)
3. Kenyamanan pasien
4. Dianjurkan pada pasien ACS.

Simple Masker
1. Konsentrasi oksigen 40 60 %
2. Aliran 6 8 lpm
3. Bila aliran kurang dari 6 maka terjadi penumpukan CO2.
4. High flow

Venturi
1. FIO2 = 24 50 %
2. Aliran 4 10 lpm
3. Terdiri dari sungkup muka dan mixing jet
4. Paling baik pada pasien PPOK yang diketahui harus hipoksemia
untuk pacu respirasi

Non-Rebreating Mask
1. Considered high or Low flow device.
2. Katup pertama antara kantong penampung dan masker, katup kedua
pada pintu keluar di kedua sisi masker
3. Typical minimum set flow rates 10-15 Lpm.
4. Bag should not collapse on inspiration.
5. Delivered FIO2 60 100%
6. Up to 100% with two port valves attached.

90

7. Saat inspirasi, katup di kedua sisi masker tertutup sedang katup


antara kantong penampung dengan masker terbuka, sehingga
oksigen 100% bisa masuk ke masker dan selanjutnya terhirup.
8. Saat ekspirasi, katup pada kedua sisi masker terbuka sedang katup
antara kantong penampung dengan masker tertutup, sehingga udara
napas yang dihembuskan akan keluar melalui lubang kanan kiri
masker dan tidak bisa masuk ke kantong penampung.

Partial Rebreathing Mask


1. Basically a simple mask with reservoir bag attached.
2. Low flow device.
3. Set flow between 8-15 Lpm to assure reservoir bag is at least half
full during inspiration.
4. The first 1/3 of expired gas enters the reservoir bag.
5. No one way valves between bag and mask.
6. Delivered FIO2 range between 40%- 70%.
7. Inspirasi udara dari masker, kantong udara, dan dari lubang-lubang
disisi masker
8. ekspirasi, sepertiga awal udara yang dihembuskan akan mengalir
kembali ke dalam kantong penampung.
9. Sebagian udara yang dihembuskan berasal dari ruang rugi anatomi
karena itu udara tersebut masih kaya dengan oksigen, masih
lembab, masih hangat dan mengandung sedikit CO2.

KESAN DAN PESAN


KESAN
Mata kuliah gawat darurat ini sangat menarik, saya mengambil hikmah dari setiap
pembahasan perkuliahan yang disampaikan. Tetapi saya masih perlu mendalami
mata kuliah ini untuk perkembangan ilmu yang saya dapatkan. Serta tugas yang
diberikan oleh dosen selama satu semester ini menurut saya cukup variatif. Dari
yang mudah untuk dimengerti sampai yang sulit saya mengerti tetapi pada
akhirnya saya dapat memahami tugas yang dimaksud.
PESAN
1. Untuk

hukuman

yang

diberlakukan

karena

keterlambatan

agar

dipertahankan, mengingat kadar tepat waktu mahasiswa tidak begitu baik.


2. Studentsite yang sering kali bermasalah agar bisa dikurangi kadar
masalahnya, mengingat banyak tugas yang dimasukkan disini.
3. Selebihnya terimakasih kepada dosen mata kuliah ini, Bu Merina karena
telah berbagi ilmu dan dapat sharing berbagai hal kepada kami.

91