Anda di halaman 1dari 26

METODE INSTRUMENTASI

DAN PENGUKURAN
Arif Surtono
Fisika FMIPA Unila
September 2014

Physics
Physics is an experimental science.
Physicists observe the phenomena of nature and try to
find patterns and principles that relate these
phenomena.
Experiments require measurements, and we generally
use numbers to describe the results of measurements.
Any number that is used to describe a physical
phenomenon quantitatively is called a physical
quantity.
For example, two physical quantities that describe you
are your weight and your height.

Karakteristik Instrumentasi
Instrumen : piranti yang mengubah bentuk
(transforms) suatu variabel fisik
(terukur/the measurand) ke suatu bentuk
yang cocok/sesuai untuk perekaman
(pengukuran/measurement)
Agar instrumen dpt digunakan secara luas
dan konsisten, umumnya digunakan
sistem standar satuan (units). Pengukuran
satu instrument dapat dibandingkan
dengan pengukuran instrumen lainnya.

Model Sederhana Instrumentasi

Contoh :
Measurand = massa objek diukur melalui proses weighning (pem-berat-an)
-- physical process.
Physical measurement variable = gaya ke bawah massa (gy gravitasi) yang
muncul di sekitar medan gravitasi Bumi
Sensor = pegas ,mengalami perenggangan (molor) ketika dibebani massa
Display = jarum penunjuk yang menempel pd pegas atau penanda lainnya,
menunjuk ke skala massa dengan satuan Kg

Physical measurement variable ke Signal variable


lainnya

Instrument dengan penguat, ADC dan output


komputer

Komputerisasi instrument, modernisasi instrument


Sinyal yang keluar dari sensor sangat lemah, perlu dikuatkan
menggunakan amplifier, biasa disebut rangkaian pengkondisi sinyal
( signal conditioning circuits) -- sinyal ini bersifat analog
Agar sinyal dapat dibaca oleh komputer maka sinyal analog diubah
menjadi sinyal digital, menggunakan ADC (analog to digital converter)
Hasil pengukuran ditampilkan pada komputer - fungsi display, dan
disimpan didalam memori komputer.

Sensor Aktif dan Pasif


(Kelas A, 8 Okt 2015)
Berdasarkan bagaimana sensor berinteraksi dengan
lingkungannya secara umum sensor dibedakan 2 jenis :
sensor aktif dan pasif
Sensor pasif : tidak membutuhkan energi selama proses
pengukuran, tp justru melepaskan energi
Contoh : termokopel, mengubah temperatur menjadi
tegangan listrik yg mrp sinyal variabel.
Sensor aktif : membutuhkan tambahan energi ke
lingkungan pengukuran sebagai bagian proses
pengukuran
Contoh : sistem radar/sonar, mengirim gelombang radio
(radar) atau sonik (sonar) utk dipantulkan oleh suatu
objek agar dpt diukur jarak ke suatu objek

Kalibrasi

Hubungan antara input physical measurement variable dan


signal variable (output) pada sensor disebut kalibrasi.
Sensor/sistem instrumen dikalibrasi dg cara memberi input
variabel fisik yang sudah diketahui pasti nilainya dan
mencatat/merekam keluaran sensor
Biasanya data diplot pada kurva kalibrasi , lihat contoh
kurva !

Respon sensor linier hingga nilai input fisik < Xo


Sensitivitas sensor = kemiringan kurva,hanya samp
batas tertentu keluaran sinyal, disebut nilai saturas
Jangkauan antara nilai minimum dan maksimum inp
fisik sensor dinamakan range dinamik sensor/instru

Akurasi dan Presisi

Akurasi suatu instrumen = ukuran seberapa dekat hasil


bacaan / pengukuran instrumen dengan nilai yang benar
/sesungguhnya (correct value)
Presisi = menggambarkan derajat kebebasan instrumen
dari kesalahan random. Jika ada banyak
pengukuran/bacaan (reading) terhadap kuantitas
pengukuran yang sama dengan presisi yang tinggi, maka
sebaran hasil pengukuran sangat kecil.

6
7
8
9

6
7
8
9

6
7
8
9

6 7 8 9 10 9 8 7 6

6 7 8 9 10 9 8 7 6

6 7 8 9 10 9 8 7 6

9
8
7
6

9
8
7
6

9
8
7
6

Unreliable

Reliable

Valid

Mode Operasi Instrumen


Ada 2 mode operasi :
1. Mode nol ( Null Mode)
2. Mode Simpangan ( Deflection Mode)

Mode Nol

Contoh : Neraca analitik, rangkaian jembatan,


Neraca ohauss, timbangan beras

Mode Simpangan

Contoh : multimeter analog, timbangan cabe,


timbangan badan analog

Standar Pengukuran
(Measurement Standars)
Ada 4 kategori standar pengukuran :
1. Standar Internasional : ditentukan melalui kesepakatan
internasional. Dipelihara di International Bureau of Weight and
Measures , Paris
2. Standar Primer (Primary Standards), dipelihara di lab. Standar
nasional tiap-tiap negara.
3. Standar Kedua (Secondary Standards), standar acuan dasar yang
digunakan oleh laboratorium pengukuran dan kalibrasi di industri .
@ lab. Industri bertanggung jawab thd standar ini. Secara periodik
dikirim ke standar nasional utk dikalibrasi. Setelah kalibrasi
dikembalikan ke industri dengan sertifikat akurasi pengukuran
4. Standar Kerja (Work Standards), principal tool of measurements
laboratory. Dipakai utk men-cek dan kalibrasi instrumen yg
digunakan di lab. Atau utk membandingkan pengukuran pada
pemakaian di industri.

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran

Pengukuran (measurement) adalah proses


membandingkan kuantitas yang tidak diketahui dengan
suatu kuantitas standar yang sudah disepakati /
diterima(accepted)
Hasil pengukuran : ukuran kuantitatif, disebut nilai
sesungguhnya (true-value)
Tetapi sulit memperoleh true-value secara akurat, mk
hasil pengukuran digunakan istilah nilai terharap
(expected value)
Setiap pengukuran dipengaruhi oleh banyak variabel :
hasil pengukuran sulit menggambarkan nilai terharap.
Contoh : instrumen pengukuran dihubungkan ke objek
rangkaian selalu mengganggu rangkaian, menyebabkan
hasil pengukuran berbeda dengan nilai terharap

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran
Faktor lainnya : instrument yg
digunakan, orang yang memakai,
lingkungan pengukuran dll
Derajat dimana pengukuran sesuai
dengan nilai terharap dinyatakan
dengan error (kesalahan)
Error : absolut error dan percent error

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran

e = |Yn Xn|
e = absolute error
Yn = expected value
Xn = measured value

Percent error = |e/Yn| * 100%


Bila dinyatakan dalam akurasi relatif A,
A = 1-|e/Yn|
Percent akurasi a:
a= 100% - percent error = A * 100

Contoh Soal :
Example 1-1, 1-2 dan 1-3 hal 5-8
(Jones and Chin, 1995)

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran
Gross Error (kesalahan kasar):
error karena kesalahan manusia
pengguna instrumen ; pembacaan
tidak tepat, pencatatan data tidak
tepat, atau penggunaan instrumen
yg tidak tepat

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran
Systematic Error :
Kesalahan karena permasalahan
instrumen, pengaruh lingkungan,atau
kesalahan observasi.
Kesalahan ini terulang jika beberapa
pengukuran dibuat dari kuantitas yg sama
dibawah kondisi yang sama
Jadi systematic error terdiri dari instrument
error, environment error dan observational
error

Kesalahan-kesalahan dalam
Pengukuran
Random Error
Error ini masih ada meskipun usaha
memperkecil gross error dan
systematic error telah dilakukan
Merupakan error akumulasi dari
sejumlah besar efek-efek kecil,
diperhitungkan hanya pd pengukuran
yang membutuhkan akurasi tinggi
Error ini dapat dianalisis secara
statisitk

Analisis Statistik Kesalahan


dalam Pengukuran

Referensi :

R John Hansman, Jr, 1999, Characteristic of Instrumentation, Book


chapter of Measurement, Instrumentation and Sensors Handbook,
John G.Webster, CRC Press LLC
Larry D. Jones and A. Foster Chin, 1995, Electronic Instruments
and Measurement, 2nd Edition, Prentice Hall Inc.