Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

PENGKAJIAN BAYI BARU LAHIR


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas stase Keperawatan Anak

Disusun oleh:
Risma Damayanti

220112150081

Mutiara

220112150046

Ima Lismawaty

220112150060

Sani Oktoriani M.

220112150101

Toni Rahmat Jaelani

220112150001

Hertika Apriani Br. S.

220112150048

Aditya Bayukusuma

220112140051

Safrina Darayani

220112150103

Siti Rahmiati Pratiwi

220112150032

Oky Octaviani

220112150067

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXX


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2015/2016

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah
pra-profesi Keperawatan Anak.
Makalah ini dikerjakan untuk memenuhi salah satu tugas pra-profesi
Keperawatan Anak di Fakultas Keperawatan, Universitas Padjadjaran. Penulis
menyadari bahwa makalah ini bukanlah tujuan akhir dari proses belajar karena
belajar adalah sesuatu yang tidak terbatas.
Akhir kata, semoga Allah SWT memberi balasan yang lebih baik dan
melimpahkan kasih sayang, rahmat, serta hidayah-Nya kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam menyusun makalah ini. Penulis berharap bahwa makalah
ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan dan tidak
lupa memohon maaf atas segala kekurangannya.

Bandung, November 2015

Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN

Neonatus (bayi baru lahir) adalah bayi yang baru lahir sampai usia 4
minggu lahir biasanya dengan usia gestasi 38-42 minggu (Wong, D,L, 2003). Bayi
baru lahir adalah bayi yang pada usia kehamilan 37-42 minggu dan berat badan
2.500-4.000 gram (Vivian, N. L. D, 2010). Asuhan segera bayi baru lahir adalah
asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran
sebagian besar bayi baru lahir akan menunjukkan usaha napas pernapasan spontan
dengan sedikit bantuan atau gangguan (prawiroharjo, S, 2002). Jadi asuhan
keperawatan pada bayi baru lahir adalah asuhan keperawatan yang diberikan pada
bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari
kehidupan intra uteri kekehidupan ekstra uteri hingga mencapai usia 37-42
minggu dan dengan berat 2.500-4.000 gram.
Kelahiran bayi baru lahir merupakan tantangan utama dalam perawatan
kesehatan perinatal. Sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi baru lahir
khususnya bayi prematur. Kelahiran prematur merupakan faktor risiko yang
penting bagi kerusakan neurologis dan terjadinya kecacatan. Pengkajian bayi baru
lahir sangat diperlukan untuk mengetahui nilai Apgar. Nilai Apgar merupakan
suatu instrumen yang dapat digunakan untuk mengevaluasi bayi baru lahir.
Instrumen ini membantu menentukan kebutuhan intervensi segera dan apabila
terjadi masalah maka nilai Apgar dapat dijadikan panduan untuk menentukan
tingkat keseriusan dari depressi bayi baru lahir serta langkah-langkah yang
segera harus diambil. Penilaian ini bukan ditujukan sebagai preidiksi terhadap
kesehatan bayi atau perilaku bayi, atau bahkan status intelegensia/kepandaian.
Beberapa bayi dapat mencapai angka 10, dan tidak jarang, bayi yang sehat
memiliki skor yang lebih rendah dari biasanya, terutama pada menit pertama saat
baru lahir.
Selain Apgar skor salah satu penilaian maturitas yang sering digunakan
adalah dengan menggunakan skor The New Ballard. Sistem penilaian ini

dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk menentukan usia gestasi bayi
baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan fisik. Skor Ballard merupakan
suatu versi sistem Dubowitz. Pada prosedur ini penggunaan kriteria neurologis
tidak tergantung pada keadaan bayi yang tenang dan beristirahat, sehingga lebih
dapat diandalkan selama beberapa jam pertama kehidupan. Penilaian menurut
Ballard adalah dengan menggabungkan hasil penilaian maturitas neuromuskuler
dan maturitas fisik. Kriteria pemeriksaan maturitas neuromuskuler diberi skor,
demikian pula kriteria pemeriksaan maturitas fisik. Jumlah skor pemeriksaan
maturitas neuromuskuler dan maturitas fisik digabungkan, kemudian dengan
menggunakan tabel nilai kematangan dicari masa gestasinya.7,8Penilaian
neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf
sign, dan heel to ear maneuver . Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo,
permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia.

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Apgar Score
1.

Pengertian Nilai Apgar


Penilaian APGAR adalah metode penilaian yang digunakan
untuk mengkaji kesehatan neonatus dalam 1 sapai 5 menit setelah
lahir. Penilaian menit pertama adalah menentukan tindakan,
sedangkan menit kelima adalah menentukan prognosa.
Sesaat setelah bayi lahir, penolong persalinan biasanya langsung
melakukan penilaian terhadap bayi tersebut. Perangkat yang
digunakan untuk menilai dinamakan Skor APGAR.
Skor Apgar biasanya dinilai pada menit pertama kelahiran dan
biasanya diulang pada menit kelima. Dalam situasi tertentu, Skor
Apgar juga dinilai pada menit ke 10, 15 dan 20.

2.

Hal Yang Harus Dinilai


Tabel Penilaian APGAR

Tanda-tanda
A:Appreance

1
Tubuh Merah

2
Seluruh Tubuh

Biru
Tak ada detak

<100x/menit

Merah
>100x/menit

jantung

Lemah dan

Detak jantung

G:Gremace

Tidak ada

Lamban
Menyeringai atau

kuat
Menangis

(Reaksi thdp

respon

Kecut

rangsang)
A: Activity

Tidak ada

Ada sedikit

(Tonus otot)

gerakan

R: Respiratori

Tak ada

(warna kulit]
P: Pulse
(frekuensi jantung)

0
Pucat atau

Seluruh
ekstermitas

Pernapasan
perlahan, Bayi

bergerak aktif
Menangis Kuat

terdengar marah
Kelima hal diatas dinilai kemudian dijumlahkan.
3.

Klasifikasi Klinik
a.
Nilai 7-10 : bayi normal
b.
Nilai 4-6

: bayi dengan asfiksia ringan dan sedang

c.
Nilai 1-3

: bayi dengan asfiksia berat

Jika jumlah skor berkisar di 7 10 pada menit pertama, bayi


dianggap normal. Jika jumlah skor berkisar 4 6 pada menit pertama,
bayi memerlukan tindakan medis segera seperti penyedotan lendir
yang menyumbat jalan napas dengan suction, atau pemberian oksigen
untuk membantunya bernapas. Biasanya jika tindakan ini berhasil,
keadaan bayi akan membaik dan Skor Apgar pada menit kelima akan
naik.
Jika nilai skor Apgar antara 0 3, diperlukan tindakan medis
yang lebih intensif lagi.
Perlu diketahui, Skor Apgar hanyalah sebuah tes yang didisain
untuk menilai keadaan bayi secara menyeluruh, sehingga dapat
ditentukan secara cepat apakah seorang bayi memerlukan tindakan
medis segera. Skor Apgar bukanlah patokan untuk memperkirakan
kesehatan dan kecerdasan bayi dimasa yang akan datang.
B.

Ballard Score
1.
Pengertian Ballard Score
Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD
untuk menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian
neuromuskular dan fisik. Penilaian neuromuskular meliputi postur,
square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heel to ear
maneuver. Penilaian fisik yang diamati adalah kulit, lanugo,
permukaan plantar, payudara, mata/telinga, dan genitalia.

2.

Penilaian Maturitas Neuromuskular


a.
Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat
istirahat dan adanya tahanan saat otot diregangkan (Gambar II.3).
Ketika pematangan berlangsung, berangsur-angsur janin mengalami
peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah sentripetal, dimana
ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas. Pada awal
kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi
bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi,
kemudian diikuti dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi
prematur tonus pasif ekstensor tidak mendapat perlawanan, sedangkan
pada bayi yang mendekati matur menunjukkan perlawanan tonus
fleksi pasif yang progresif.

Gambar II.1
b.
Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap
peregangan ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada
pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan jari-jari bayi dan
menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan
lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah

bayi dari preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut >


90 , 90 , 60 , 45 , 30 , dan 0

Gambar II.4
c.
Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot
biseps dengan mengukur sudut mundur singkat setelah sendi
siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil dilakukan dengan cara
evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik,
lalu rentangkan kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi
saat lengan dilepaskan. Skor 0: tangan tetap terentang/ gerakan
acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2: fleksi parsial 110140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke
fleksi penuh.

Gambar II.3
d.
Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi
lutut dengan menguji resistensi ekstremitas bawah terhadap
ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang, dan tanpa popok,
paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk
penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa
memegang kaki satu sisi dengan lembut dengan satu tangan
sementara mendukung sisi paha dengan tangan yang lain.
Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini
dapat mengganggu interpretasi.
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap
ekstensi. Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di
daerah popliteal. Perlu diingat bahwa pemeriksa harus
menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif
sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir
akan mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama
usia karena bayi mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan
intrauterine. Tes harus diulang setelah pemulihan telah terjadi.

Gambar II.4
e.
Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu.
Dengan bayi berbaring telentang, pemeriksa mengarahkan
kepala bayi ke garis tengah tubuh dan mendorong tangan bayi
melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari dari
tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku
mungkin perlu diangkat melewati badan, namun kedua bahu
harus tetap menempel di permukaan meja dan kepala tetap lurus
dan amati posisi siku pada dada bayi dan bandingkan dengan
angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat leher (-1);
garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1);
prosesus xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis
aksila ipsilateral (4).

Gambar II.5
f.
Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang
panggul dengan memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap
otot-otot posterior fleksor pinggul. Dengan posisi bayi
terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk,
tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa,
pertahankan panggul pada permukaan meja periksa dan amati
jarak antara kaki dan kepala serta tingkat ekstensi lutut
( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji
mencatat lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil
dicatat sebagai resistensi tumit ketika berada pada atau dekat:
telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting baris (2); daerah pusar
(3); dan lipatan femoralis (4)

Gambar II.6
3.

Penilaian Maturitas Fisik


a.
Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur
intrinsiknya bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan
pelindung, yaitu vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal,
mengering dan menjadi keriput dan / atau mengelupas dan dapat
timbul ruam selama pematangan janin. Fenomena ini bisa terjadi
dengan kecepatan berbeda-beda pada masing-masing janin tergantung
pada pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum
corneumnya, kulit agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada
usia perkembangan selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal dan
menghasilkan pelumas, yaitu vernix, yang menghilang menjelang
akhir kehamilan. pada keadaan matur dan pos matur, janin dapat
mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini dapat
mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas,
pecah-pecah, dehidrasi, seperti sebuah perkamen.
b.
Lanugo

Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus.


Pada extreme prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat
lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada usia gestasi 24 hingga 25
minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu dan
punggung atas ketika memasuki minggu ke 28.
Lanugo mulai menipis dimulai dari punggung bagian
bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas sejalan
dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di
daerah lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah
tidak ditutupi lanugo.
Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia
gestasi tergantung pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal,
metabolik, serta pengaruh gizi. Sebagai contoh bayi dari ibu
dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat banyak. Pada
melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah
yang mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas
dan bawah dari punggung bayi.

Gambar II.7
c.
Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian
anterior ini kemungkinan berkaitan dengan posisi bayi ketika di
dalam kandungan. Bayi dari ras selain kulit putih mempunyai
sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain pada
bayi kulit hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas
neuromuskular sehingga timbulnya garis pada telapak kaki tidak

mengalami penurunan. Namun demikian penialaian dengan


menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas ras atau etnis
tertentu.
Bayi very premature dan extremely immature tidak
mempunyai garis pada telapak kaki. Untuk membantu menilai
maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan permukaan plantar
maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit.
Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak
antara 40 hingga 50 mm diberikan skor -1. Hasil pemeriksaan
disesuaikan dengan skor di tabel.

Gambar II.8
d.
Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang
tumbuh akibat stimulasi esterogen ibu dan jaringan lemak yang
tergantung dari nutrisi yang diterima janin. Pemeriksa menilai
ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik akibat
pertumbuhan papila Montgomery (Gambar II.11). Kemudian
dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan ibu
jari dan telunjuk untuk mengukur diameternya dalam milimeter.

Gambar II.9
e.
Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago
seiring perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang
dilakukan terdiri atas palpasi ketebalan kartilago kemudian
pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah kemudian
lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun
telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya.

Gambar II.10
Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap
terlipat ketika dilepaskan. Pemeriksaan mata pada intinya
menilai kematangan berdasarkan perkembangan palpebra.
Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra
superior dan inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu

jari. Pada bayi extremely premature palpebara akan menempel


erat satu sama lain.
Dengan bertambahnya maturitas palpebra kemudian bisa
dipisahkan walaupun hanya satu sisi dan meningggalkan sisi
lainnya tetap pada posisinya. Hasil pemeriksaan pemeriksa
kemudian disesuaikan dengan skor dalam tabel. Perlu diingat
bahwa banyak terdapat variasi kematangan palpebra pada
individu dengan usia gestasi yang sama. Hal ini dikarenakan
terdapat faktor seperti stres intrauterin dan faktor humoral yang
mempengaruhi perkembangan kematangan palpebra.

Gambar II.11
f.
Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke
dalam scrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis
kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke
32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis
inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34
kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih
tebal dan membentuk rugae.
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat
di dalam zona berugae. Pada nenonatus extremely premature
scrotum datar, lembut, dan kadang belum bisa dibedakan jenis
kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga

posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat


menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena
kosong, hipoplastik, dengan rugae yang lebih sedikit jika
dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan
yang sama.

Gambar II.12
g.
Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka
neonatus harus diposisikan telentang dengan pinggul abduksi
kurang lebih 45o dari garis horisontal. Abduksi yang berlebihan
dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih
menonjol sedangkan aduksi menyebabkan keduanya tertutupi
oleh labia majora.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris
sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan
berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu
menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati
usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan
cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar.
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya
bergantung pada nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan
dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal
gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia

majora cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur


atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih
menonjol.

Gambar II.13
4.

Interpretasi Hasil
Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular
maupun fisik disesuaikan dengan skor di dalam tabel dan dijumlahkan

C.

hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat pada tabel skor.


Down Score

Pemeriksaan down score merupakan pemeriksaan yang dilakukan pada


bayi baru lahir, pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah bayi
mengalami gawat nafas atau tidak.

Frekuens
i Napas

0
<
60/menit

Down Score
1
60 80/menit

2
> 80/menit

Sianosis

Tidak
sianosis

Sianosis hilang
dengan O2

Sianosis menetap walaupun


diberi O2

Retraksi

Tidak
ada
retraksi
Udara
masuk
bilateral
baik

Retraksi ringan

Retraksi berat

Penurunan ringan
udara masuk

Tidak ada udara masuk

Air Entry

Merintih

Tidak
merintih

Dapat didengar
dengan stetoskop

Dapat didengar tanpa alat bantu

Keterangan:
0-4
: Distress Napas Ringan; membutuhkan O2 nasal atau headbox
4-7
: Distsres Napas Sedang; membutuhkan Nasal CPAP
>7
: Distres Napas Berat; Ancaman Gagal Napas; membutuhkan Intubasi
(perlu diperiksa Analisa Gas Darah/AGD)
D.

Asuhan Keperawatan Pemeriksaan Bayi Baru Lahir


Dasar Teori Pemeriksaan fisik merupakan salah satu hal yang harus

dikerjakan dalam rangkaian pengumpulan data dasar (pengkajian data) pada bayi
baru lahir sebagai dasar dalam menentukan asuhan kebidanan pada bayi baru
lahir. Dalam melakukan pemeriksaan ini sebaiknya bayi dalam keadaan telanjang
di bawah lampu terang, sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas. Tujuan
pemeriksaan fisik secara umum pada bayi adalah menilai keadaan umum bayi,
menentukan status adaptasi atau penyesuaian kehidupan intrauteri ke dalam
kehidupan ekstrauteri, dan mencari adanya kelainan/ ketidaknormalan pada bayi.
a.
Petunjuk dan keselamatan kerja
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk pemeriksaan

fisik
Perhatikan petunjuk pelaksanaan tindakan
Lakukan tindakan secara lembut, hati-hati dan teliti
Perhatikan keadaan bayi sebelum bekerja agar tindakan dapat

dilaksanakan dengan baik


Letakkan bayi dan alat-alat pada tempat yang aman.

b.
Alat dan bahan :
Manikin bayi
Selimut bayi
Pakaian bayi
Timbangan bayi
Alas dan baki
Bengkok
Bak instrumen
Stetoskop
Handschoon 1 pasang

Midline
Kom tutup berisi kapas DTT
Termometer
Jam tangan / Stopwatch
Tiga buah gelas berisi air chlorin, air sabun, air bersih
Baskom berisi klorin 0,5%
Lampu sorot

c.
Langkah-langkah
1. Melakukan inform consent:
memberi tahu dan menjelaskan pada ibu atau keluarga tentang tujuan
dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
2. Melakukan anamnesis riwayat dari ibu meliputi:
faktor genetik, faktor lingkungan sosial, faktor ibu dan perinatal, faktor
neonatal
3. Menyiapkan alat dan bahan secara ergonomis (memastikan kelengkapan
alat)
4. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir, keringkan dengan
handuk bersih, lalu menggunakan sarung tangan bersih
5. Menjaga suhu bayi dan lingkungan dalam keadaan sehat
- Gunakan lampu sorot untuk menghangatkan bayi (jarak lampu sorot
dengan bayi + 60 cm
- AC dan kipas angin tidak boleh dihidupkan
6. Meletakan bayi pada tempat yang rata/tempat tidur (upayakan tempat
untuk pemeriksaan aman, menghindari bayi terjatuh), dan atur posisi
bayi dalam keadaan telentang.
7. Mengkaji keadaan umum bayi secara keseluruhan
- Bayi cukup bulan biasanya ditutupi oleh vernik kaseosa
- Bibir dan kulit bayi apakah berwarna merah muda / biru
- Apakah Ekstremitas bayi dapat bergerak bebas / fleksi
- Bayi bernafas / menangis tanpa dengkuran atau tarikan dada
Pengukuran Antropometri
8. Melakukan penimbangan (berat badan):
- Letakan kain atau kertas pelindung dan atur skala timbangan ke titik
nol sebelum penimbangan
- Hasil timbangan dikurangi dengan berat alas dan pembungkus bayi
- Normal: 2500-4000 gram.
9. Melakukan pengukuran panjang badan:

- Letakan bayi di tempat yang datar


- Ukur panjang bayi menggunakan alat pengikur panjang badan dari
kepala sampai tumit dengan kaki/badan bayi diluruskan
- Normal: 49-50 cm.
10. Mengukur lingkar kepala
- Cara: mengukur kepala pada diameter terbesar yaitu frontalioksipitalis
- Jika terdapat caput suksedanium, dapat dilakukan hari ke-2 atau ke-3
- Normal: 33-35 cm.
11. Mengukur lingkar dada
- Pengukuran dilakukan dari daerah dada ke punggung kembali ke dada
(pengukuran dilakukan melalui kedua putting susu)
- Normal: 30-38 cm.
Pemeriksaan TTV
12. Pemeriksaan suhu bayi
- Dilakukan di aksila, 5-10 menit
- Suhu normal bayi 36,5-37,20 C
13. Pemantauan denyut jantung bayi
- Memperhatikan keteraturan denyut jantung bayi, hitung frekuensinya
selama 1 menit penuh
14. Pemantauan pernafasan bayi
- Menghitung pernafasan bayi selama 1 menit penuh
- Memantau adanya apnu dan dengarkan suara nafas
- Memperhatikan tarikan dada bayi
- Pernafasan normal = 40-60 x/mnt
Pemeriksaan Head To Toe
15. Melakukan pemeriksaan kepala
- Raba sepanjang garis sutura dan fontanel, apakah ukuran dan
tampilannya normal
- Fontanel anterior harus diraba, fontanel yang besar dapat terjadi akibat
prematuritas atau hidrosefalus, sedangkan yang terlalu kecil terjadi pada
mikrosefali
- Periksa adanya tauma kelahiran misalnya; caput suksedaneum, cephal
hematoma, perdarahan subaponeurotik/fraktur tulang tengkorak
- Perhatikan adanya kelainan kongenital seperti: anensefali, mikrosefali
16. Melakukan pemeriksaan mata
- Periksa jumlah, posisi atau letak mata
- Periksa adanya strabismus yaitu koordinasi mata yang belum sempurna
- Periksa adanya glaukoma kongenital, mulanya akan tampak sebagai

pembesaran kemudian sebagai kekeruhan pada kornea


- Periksa adanya trauma seperti palpebra, perdarahan konjungtiva atau
retina
- Periksa adanya sekret pada mata, konjungtivitis oleh kuman gonokokus
dapat menjadi panoftalmia dan menyebabkan kebutaan
- Periksa keadaan sclera, apakah nampak gejala icterus atau tidak
- Kaji eyeblink reflex: refleks gerakan seperti menutup dan mengejapkan
mata, jika bayi terkena sinar atau hembusan angin, matanya akan
menutupatau dia akan mengerjapkan matanya.
17. Memeriksa telinga
- Periksa dan pastikan jumlah, bentuk dan posisinya (simetris atau tidak)
- Pada bayi cukup bulan, tulang rawan sudah matang
- Daun telinga harus berbentuk sempurna dengan lengkungan yang jelas
di bagian atas - Perhatikan letak daun telinga, daun telinga yang letaknya
rendah (low set ears) terdapat pada bayi yangmengalami sindrom
tertentu (Pierrerobin).
18. Periksa hidung
- Kaji bentuk dan lebar hidung, pada bayi cukup bulan lebarnya harus
lebih dari 2,5 cm
- Bayi harus bernapas dengan hidung, jika melalui mulut harus
diperhatikan kemungkinan ada obstruksi jalan napas akarena atresia
koana bilateral, fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke
nasofaring
- Periksa adanya sekret mukopurulen yang terkadang berdarah , hal ini
kemungkinan adanya sifilis congenital
- Periksa adanya pernapasa cuping hidung, jika cuping hidung
mengembang menunjukkan adanya gangguan pernapasan.
19. Melakukan pemeriksaan bibir dan mulut
- Kaji bentuk bibir apakah simetris atau tidak
- Perhatikan daerah langit-langit mulut dan bibir jika ada bibir sumbing
- Perhatikan jika ada bercak putih pada gusi maupun palatum
- Kaji reflex rooting (mencari putting susu), reflex sucking/menghisap
dan reflex swallowing /menelan.
20. Melakukan pemeriksaan leher
- Leher bayi biasanya pendek dan harus diperiksa kesimetrisannya
- Pergerakannya harus baik, jika terdapat keterbatasan pergerakan
kemungkinan ada kelainan tulang leher
- Periksa adanya trauma leher yang dapat menyebabkan kerusakan pada
fleksus brakhialis
Lakukan
perabaan
untuk
mengidentifikasi
adanya
pembengkakan/pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis.
21. Melakukan periksa dada

- Periksa kesimetrisan gerakan dada saat bernapas, pernapasan yang


normal dinding dada dan abdomen bergerak secara bersamaan, tarikan
sternum atau interkostal pada saat bernapas perlu diperhatikan
- Pada bayi cukup bulan, puting susu sudah terbentuk dengan baik dan
tampak simetris, cek pengeluarannya
- Payudara dapat tampak membesar tetapi ini normal.
22. Memeriksa bahu, lengan, tangan
- Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan
kedua lengan ke bawah
- Periksa jumlah jari, perhatikan adanyapolidaktili atau sidaktili
- Telapak tangan harus dapat terbuka, garis tangan yang hanya satu buah
berkaitan dengan abnormaltas kromosom, seperti trisomi 21
- Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut
sehingga menimbulkan luka dan perdarahan
- Kaji refleks moro dan kemungkinan adanya fraktur: bayi akan
mengembangkan tanganya ke samping dan melebarkan jari-jarinya
kemudian menarik tangannya kembali dengan cepat seperti ingin
memeluk seseorang
- Kaji refleks palmar grasping/menggenggam: timbul bila kita
mengoreskan jari melalui bagian dalam atau meletakkan jari kita pada
telapak tangan bayi, jari-jari bayi akan melingkar ke dalam seolah
memegangi suatu benda dengan kuat
23. Memeriksa abdomen
- Amati tali pusat: pada tali pusat, terdapat 2 arteri dan 1 vena
- Observasi pergerakan abdomen, abdomen tampak bulat dan bergerak
serentak dengan pergerakan dada sat bernafas
- Raba abdomen untuk memeriksa adanya massa
- Melihat dan meraba bentuk abdomen: raba apakah ada massa
abnormal, bentuk perut sangat cekung kemungkinan terdapat hernia
diafragmatika, bentuk abdomen yang membuncit kemungkinan karena
hepato-splenomegali atau tumor lainnya # Tonus otot yang baik : semua
ekstrimitas fleksi
24. Memeriksa genetalia Bayi laki-laki:
- Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm
- Periksa posisi lubang uretra (normal berada pada ujung penis),
prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis
- Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis ada dua (bayi
cukup bulan testis sudah turun di skrotum) Bayi perempuan:
- Pada bayi cukup bulan labia mayora telah menutupi labia minora
- Pastikan lubang uretra terpisah dengan lubang vagina
- Terkadang tampak adanya sekret berwarna putih atau berdarah dari
vagina, hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon ibu (withdrawl

bedding)
25. Memeriksa tungkai dan kaki
- Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki
- Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan keduanya dan
bandingkan, juga hitung jumlah jari-jari kaki
- Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas, kuraknya gerakan berkaitan
dengan adanya trauma, misalnya fraktur, kerusakan neurologis
- Mengkaji refleks Babinski: dengan mengusap / menekan bagian
menonjol dari dasar jari di telapak kaki bayi keatas dan jari-jari
membuka
26. Periksa spinal/punggung
- Periksa spina dengan cara menelungkupkan bayi, cari adanya tandatanda abnormalitas seperti spina bifida, pembengkakan, lesung atau
bercak kecil berambut yang dapat menunjukkan adanya abdormalitas
medula spinalis atau kolumna vertebra
27. Periksa anus dan rectum
- Periksa adanya kelainan atresia ani, kaji posisinya
- Mekonium secara umum keluar pada 24 jam pertama, jika sampai 48
jam belumkeluar kemungkinan adanya mekonium plug syndrom,
megakolon atau obstruksi saluran pencernaan
28. Memeriksa kulit
- Perhatikan kondisi kulit bayi: warna, ruam, pembengkakan, tandatanda infeksi
- Periksa adanya bercak atau tanda lahir
- Perhatikan adanya vernik kaseosa
- Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi
kurang bulan
29. Menjelaskan pada orang tua hasil pemeriksaan dan memberinya
konseling
30. Merapihkan bayi dan memberikan pada keluarganya kembali
31. Membereskan alat dan bahan yang telah digunakan
32. Melepas sarung tangan, lalu mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih
33. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan

DAFTAR PUSTAKA

Bobak. Keperawatan Maternitas. Penerbit Buku Kedukteran EGC. Jakarta.


2005. hal 384-403
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi.
Pedoman Untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien. Jakarta:
EGC
Henderson, Christine. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2006. hal 385-390
Hidayat, Aziz Alimutl. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1.
Jakarta: Salemba Medika
Johnson, Ruth. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta. 2005.
Maryunani, Anik. 2008. Buku Saku Asuhan Bayi Baru Lahir Normal.
Jakarta: Trans Info Media
Saifuddin, Abdul Bari.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal.
Virginia

M.D.

The

Newborn

(Apgar)

Scoring

System:

Reflection and Advice. New York: The National Foundation


<http://130.14.81.99/ps/access/CPBBJY.pdf>
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. 2002.