Anda di halaman 1dari 37

Analisis Batubara

Pengertian Batubara
Batubara adalah sisa tumbuhan dari jaman prasejarah yang berubah bentuk yang awalnya
berakumulasi di rawa dan lahan gambut.
Batubara adalah hidrokarbon padat yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan dalam lingkungan
bebas oksigen dan terkena pengaruh panas serta tekanan yang berlangsung lebih lama.
Jenis-jenis Batubara
Batubara dengan mutu yang rendah, seperti batu bara muda dan sub-bitumen biasanya lebih lembut
dengan materi yang rapuh dan berwarna suram seperti tanah.
Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan
demikian kandungan energinya rendah.
Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan seringkali berwarna hitam
cemerlang seperti kaca.
Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat
kelembaban yang lebih rendah dan menghasilkan energi yang lebih banyak.
Antrasit adalah batu bara dengan mutu yang paling baik dan dengan demikian memiliki kandungan
karbon dan energi yang lebih tinggi serta tingkat kelembaban yang lebih rendah (lihat diagram 1).
{World Coal Institute;Sumber Daya Batu Bara: Tinjauan Lengkap

Pengolahan Batubara
Batu bara yang langsung diambil dari bawah tanah, disebut batu bara tertambang run-of-mine
(ROM), seringkali memiliki kandungan campuran yang tidak diinginkan seperti batu dan lumpur
dan berbentuk pecahan dengan berbagai ukuran. Namun demikian pengguna batu bara
membutuhkan batu bara dengan mutu yang konsisten. Pengolahan batu bara juga disebut
pencucian batu bara (coal benification atau coal washing) mengarah pada penanganan batu
bara tertambang (ROM Coal) untuk menjamin mutu yang konsisten dan kesesuaian dengan

kebutuhan pengguna akhir tertentu.


Pengolahan tersebut tergantung pada kandungan batu bara dan tujuan penggunaannya. Batu bara
tersebut mungkin hanya memerlukan pemecahan sederhana atau mungkin memerlukan proses
pengolahan yang kompleks untuk mengurangi kandungan campuran.
Untuk menghilangkan kandungan campuran, batu bara terambang mentah dipecahkan dan
kemudian dipisahkan ke dalam pecahan dalam berbagai ukuran.Pecahan-pecahan yang lebih
besar biasanya diolah dengan menggunakan metode pemisahan media padatan. Dalam proses
demikian, batu bara dipisahkan dari kandungan campuran lainnya dengan diapungkan dalam
suatu tangki berisi cairan dengan gravitasi tertentu, biasanya suatu bahan berbentuk mangnetit
tanah halus. Setelah batu bara menjadi ringan, batu bara tersebut akan mengapung dan dapat
dipisahkan, sementara batuan dan kandungan campuran lainnya yang lebih berat akan tenggelam
dan dibuang sebagai limbah.
Pecahan yang lebih kecil diolah dengan melakukan sejumlah cara, biasanya berdasarkan
perbedaan kepadatannya seperti dalam mesin sentrifugal. Mesin sentrifugal adalah mesin yang
memutar suatu wadah dengan sangat cepat, sehingga memisahkan benda padat dan benda cair
yang berada di dalam wadah tersebut.
Metode alternatif menggunakan kandungan permukaan yang berbeda dari batu bara dan limbah.
Dalam pengapungan berbuih, partikel-partikel batu bara dipisahkan dalam buih yang dihasilkan
oleh udara yang ditiupkan ke dalam rendaman air yang mengandung reagen kimia. Buih-buih
tersebut akan menarik batu bara tapi tidak menarik limbah dan kemudian buih-buih tersebut
dibuang untuk mendapatkan batu bara halus. Perkembangan teknolologi belakangan ini telah
membantu meningkatkan perolehan materi batu bara yang sangat baik.
Penggunaan Batubara
Penggunaan Batubara
Dalam pembuatan baja.
Bahan mentah bijih besi, kokas dan fluks (mineral-mineral seperti batu gamping yang
digunakan untuk menarik bahan-bahan campuran) dimasukkan pada bagian atas tanur tiup.
Udara dipanaskan sampai sekitar 1200C dan dihembuskan ke dalam tanur melalui pipa yang
berada di bagian bawah. Udara membuat kokas terbakar sehingga menghasilkan karbon
monoksida yang menimbulkan reaksi kimia. Bijih besi dikurangi untuk meleburkan besi dengan
mengeluarkan oksigen. Keran di bagian dasar tanur dibuka secara berkala dan besi lebur serta
terak logam dikeringkan.
Pada suatu basic oxygen furnace (BOF Tanur oksigen dasar) dimasukkan potongan baja dan
batu gamping yang lebih banyak dan oksigen murni 99% ditiupkan pada campuran tersebut.
Reaksi dengan oksigen menaikkan suhu sampai 1700C, mengoksidasikan bahan-bahan
campuran, dan meninggalkan baja cair yang hampir murni. Sekitar 0,63 ton kokas akan
menghasilkan 1 ton (1000 kg) baja.
Sebagai bahan mentah
Batu bara digunakan sebagai sumber energi dalam produksi semen. Energi yang dibutuhkan
untuk memproduksi semen sangat besar. Oven biasanya membakar batu bara dalam bentuk
bubuk dan membutuhkan batu bara sebanyak 450g untuk menghasilkan semen sebanyak 900g.

Batu bara mungkin akan tetap menjadi masukan penting untuk industri semen dunia di tahuntahun yang mendatang.
Coal combustion products (CCP produk-produk pembakaranb batu bara) juga memainkan
peran yang penting dalam produksi beton. CCP merupakan hasil sampingan dari pembakaran
batu bara pada pusat pembangkit listrik tenaga uap. Hasil-hasil sampingan tersebut termasuk abu
arang batu, abu dasar, kerak ketel dan gipsum desulfurisasi gas pembakaran. Abu arang batu
misalnya, dapat digunakan untuk mengganti atau menambah semen dalam pembuatan beton.
Dalam cara demikian, produk-produk pembakaran batu bara daur ulang menguntungkan bagi
lingkungan hidup, yang bertindak sebagai pengganti bahan mentah utama.
Fungsi Lain dari Batu Bara
Beberapa produk kimia dapat diproduksi dari hasil-hasil sampingan batubara. Batu bara yang
dimurnikan digunakan dalam pembuatan bahan kimia seperti minyak kreosot, naftalen, dan
fenol. Gas amoniak yang diambil dari tungku kokas digunakan untuk membuat garam amoniak,
asam nitrat dan pupuk tanaman. Ribuan produk yang berbeda memiliki komponen batu bara atau
hasil sampingan batu bara: sabun, aspirin, zat pelarut, pewarna, plastik dan fiber, seperti rayon
dan nylon.
Batu bara juga merupakan suatu bahan yang penting dalam pembuatan produk-produk tertentu:
>> Karbon teraktivasi digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencuci
darah.
>> Serat karbon bahan pengeras yang sangat kuat namun ringan yang digunakan pada
konstruksi,
{World Coal Institute;Sumber Daya Batu Bara: Tinjauan Lengkap Mengenai Batu Bara Hal. 2125}
Kualitas Batubara
Baik buruknya suatu kualitas batubara ditentukan oleh penggunaan batubara itu sendiri.
Batubara yang berkualitas baik untuk penggunaan tertentu, belum tentu baik pula untuk
penggunaan yang lainnya, begitu juga sebaliknya
Kualitas suatu batubara dapat ditentukan dengan cara analisa parameter tertentu baik secara fisik
maupun secara kimia.
Parameter yang ditentukan dari suatu analisa batubara tergantung tujuan untuk apa batubara
tersebut digunakan.
Parameter kualitas batubara.
Total Moisture
Proximate
Total Sulfur
Calorific Value
HGI
Ultimate Analysis
Ash Fusion Temperature
Ash Analysis

Total Moisture
Tinggi Rendahnya Total Moisture akan tergantung pada :
Peringkat Batubara
Size Distribusi
Kondisi Pada saat Sampling

Peringkat Batubara
Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara tersebut atau semakin
padat batubara tersebut.Dengan demikian akan semakin kecil juga moisture yang dapat diserap
atau ditampung dalam pori batubara tersebut. Hal ini menyebabkan semakin kecil kandungan
moisturenya khususnya inherent moisturenya.
Size Distribusi
Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka semakin besar luas permukaanya.Hal ini
menyebabkan akan semakin tinggi surface moisturenya. Pada nilai inherent moisture tetap, maka
TM-nya akan naik yang dikarenakan naiknya surface moisture.
Kondisi Pada saat Sampling
Total Moisture dapat dipengaruhi oleh kondisi pada saat batubara tersebut di Sampling.Yang
termasuk dalam kondisi sampling adalah :
Kondisi batubara pada saat disampling
Size distribusi sample batubara yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil.
Cuaca pada saat pengambilan sample.
Penetapan kadar Total Moisture
Timbang 10 gram sampel** (ISO) atau 1 gram sampel* (ASTM) dalam dish moisture >>
Pasang gas penyerap N2 untuk ISO & udara tekan untuk ASTM >> Masukan kedalam oven
dengan suhu 105o-107o selama 2.5 jam untuk ISO & 1.5 jam untuk ASTM >> Dinginkan dalam
desikator >> Timbang ulang
*Sample Batubara di preparasi, dan digerus sampai ukuran 0.212 mm
** Sample Batubara di preparasi, dan digerus sampai ukuran 0.300 mm
Diagram 2.
Air Dried Moisture (ADM)
Air dried moisture atau inherent moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara
setelah batubara tersebut dikering udarakan.
Sifat-sifat ADM :
Besar kecilnya nilai ADM dipengaruhi oleh peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat
batubara, semakin rendah kandungan ADM nya.
Nilainya tergantung pada humuditas dan temperature ruangan dimana moisture tersebut
dianalisa.

Nilainya tergantung juga pada preparasi sample sebelum ADM dianalisa (Standar preparasi)
Penetepan kadar ADM.
Timbang 1 gram sampel* dalam dish moisture >> Pasang gas penyerap N2 untuk ISO & udara
tekan untuk ASTM >> Masukan kedalam oven dengan suhu 105o-107o selama 3 jam untuk ISO
& 1.5 jam untuk ASTM >> Dinginkan dalam desikator >> Timbang ulang
*Sample Batubara di preparasi, dan digerus sampai ukuran 0.212 mm
Pehitungan Kadar ADM
ADM digunakan dalam mengkonversi basis parameter analisa dari
air dried basis ke basis lainnya.
Ash Content
Batubara sebenarnya tidak mengandung abu, melainkan mengandung mineral matter. Namun
sebagian mineral matter dianalisa dan dinyatakan sebagai kadar Abu atau Ash Content.
Mineral Matter atau ash dalam batubara terdiri dari inherent dan extarneous.
Inherent Ash ada dalam batubara sejak pada masa pembentukan batubara dan keberadaan dalam
batubara terikat secara kimia dalam struktur molekul batubara
Sedangkan Extraneous Ash, berasal dari dilusi atau sumber abu lainnya yang berasal dari luar
batubara.
Sifat-sifat Ash Content
Kadar abu dalam batubara tergantung pada banyaknya dan jenis mineral matter yang dikandung
oleh batubara baik yang berasal dari inherent atau dari extraneous.
Kadar abu relatif lebih stabil pada batubara yang sama. Oleh karena itu Ash sering dijadikan
parameter penentu dalam beberapa kalibrasi alat preparasi maupun alat sampling.
Semakin tinggi kadar abu pada jenis batubara yang sama, semakin rendah nilai kalorinya.
Kadar abu juga sering mempengaruhi nilai HGI batubara.
Penetepan kadar Ash Content
Timbang 1 gram sampel* dalam dish ash >> Masukan kedalam tanur dengan suhu 815o selama 3
jam (di mulai dari suhu awal tanur kurang dari 200o C) >> Dinginkan dalam desikator >>
Timbang ulang
*Sample Batubara di preparasi, dan digerus sampai ukuran 0.212 mm
Perhitungan Kadar Ash Content
Volatile Matter

Volatile matter/ zat terbang, adalah bagian organik batubara yang menguap ketika dipanaskan
pada temperature tertentu.
Volatile matter biasanya berasal dari gugus hidrokarbon dengan rantai alifatik atau rantai lurus.
Yang mudah putus dengan pemanasan tanpa udara menjadi hidrokarbon yang lebih sederhana
seperti methana atau ethana.
Sifat-sifat Volatile Matter
Kadar Volatile Matter dalam batubara ditentukan oleh peringkat batubara.
Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar volatile matternya.
Kegunaan Volatile Matter
Volatile Matter digunakan sebagai parameter penentu dalam penentuan peringkat batubara.
Volatile matter dalam batubara dapat dijadikan sebagai indikasi reaktifitas batubara pada saat
dibakar.
Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar volatile matternya.
Penetapan Kadar Volatile Matter
Timbang 1 gram sampel* dalam dish Volatile Matter >> Masukan kedalam tanur dengan suhu
900o selama 7 menit >> Dinginkan dalam suhu ruang selama 7-8 menit >> Timbang ulang
*Sample Batubara di preparasi, dan digerus sampai ukuran 0.212 mm
Perhitungan Kadar Volatile Matter
Total Sulfur
Sifat-sifat Sulfur
Kandungan sulfur dalam batubara sangat bervariasi dan pada umumnya bersifat heterogen
sekalipun dalam satu seam batubara yang sama. Baik heterogen secara vertikal maupun secara
lateral.
Namun demikian ditemukan juga beberapa seam yang sama memiliki kandungan sulfur yang
relatif homogen.
Kegunaan Sulfur
Sulfur dalam batubara thermal maupun metalurgi tidak diinginkan, karena Sulfur dapat
mempengaruhi sifat-sifat pembakaran yang dapat menyebabkan slagging maupun mempengaruhi
kualitas product dari besi baja. Selain itu dapat berpengaruh terhadap lingkungan karena emisi
sulfur dapat menyebabkan hujan asam. Oleh karena itu dalam komersial, Sulfur dijadikan
batasan garansi kualitas, bahkan dijadikan sebagai rejection limit.

Namun demikian dalam beberapa utilisasi batubara, Sulfur tidak menyebabkan masalah bahkan
sulfur membantu performance dari utilisasi tersebut. Utilisasi tersebut misalnya pada proses
pengolahan Nikel seperti di PT. INCO.
Penetepan Kadar Sulfur
Siapkan larutan penyerap (H2O2 3 % suasana netral) >> Masukan ke tabung penyerap yang
terbuat dari kaca >> Timbang 1 gram sample berukuran 0.212 mm pada combustion boat yang
telah dilapisi alumina di bagian bawahnya >>Lapisi bagian atasnya dengan alumina >> Atur
Tabung penyerap pada tanur suhu 1350o C >> Masukan sampel ke dalam pipa tanur >> Nyalakan
gas O2 >> Atur Tekanan gas O2 >> Nyalakan vakum >> Dorong sebanyak 1 cm setiap 1 menit
dari posisi awal (hingga menit ke-8) >> Diamkan selama 4 menit >> Keluarkan sample dari pipa
>> Tuang larutan dari tabung penyerap ke dalam erlenmeyer >> Tambahkan indicator MM:MB
2-3 tetes >> Homogenkan >> Titar dengan Borat hingga berwarna hijau >> Catat
Reaksi Kimia pada saat Penetepan Kadar Sulfur
Perhitungan Penetapan Kadar Sulfur
Vc = Volume hasil penitaran sampel (ml)
Vb = Volume blanko (ml) biasanya 0.05 ml
Pembuatan Larutan penyerap H2O2 3 %
Tuang 30 ml Larutan H2O2 kedalam piala gelas >> Tambahkan Air Suling hingga bervolume
1000 ml >> Tambahkan indicator MM:MB 2-3 tetes >> Aduk >> Titar dengan larutan H2SO4
hingga tidak berwarna
Pembuatan Larutan Borat 0.025 M
Larutkan 19.0685 gram Na2B4O7.10H2O dalam labu ukur 2 liter
Standarisasi Larutam Borat
Dipipet 5 ml larutan Borat >> Tambahkan Indikator MM:MB 2-3 tetes >>. Titar dengan H2SO4
0.01 N hingga berwarna pink.

Calorific Value
Adalah nilai energi yang dapat dihasilkan dari pembakaran batubara.
Nilai kalori batubara dapat dinyatakan dalam satuan: MJ/Kg , Kcal/kg, BTU/lb
Nilai kalori tersebut dapat dinyatakan dalam Gross dan Net
Nilai Kalori dapat dinyatakan dalam satuan yang berbeda :
Calorific Value (CV)(Kcal/kg)
Specific Energy (SE) .(Mj/kg)
Higher Heating Value (HHV) = Gross CV
Lower Heating Value (LHV)= Net CV
British Thermal Unit = Btu/lb
Tabel Konversi Nilai Kalori
Sifat-Sifat Calorific Value

Nilai Kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat batubara,
semakin tinggi nilai kalorinya.
Pada batubara yang sama Nilai kalori dapat dipengaruhi oleh moisture dan juga Abu. Semakin
tinggi moisture atau abu, semakin kecil nilai kalorinya.

Penetapan Nilai Calorific Value


Timbang 1 gram sample berukuran 0.212 mm pada dish calorific value >> pasangkan pada bom
calorimeter >> tambahakn gas O2 murni kedalamnya >> Masukan & pasang ke alat Kalorimeter
>> Input nomor bom yang digunakan >> Input bobot sample >> Running analisis
Perhitungan
Net CV(Kcal/g) = {{Gross CV(Mj/kg)}{0.0942X% TS}} X 238.8461
(Kualitas Batubara presented by PT Geoservices LTD.)

Miling atau Pulvilizaer

Parameter-parameter yang berpengaruh adalah sebagai berikut :

Moisture
Calorific Value
Ignition Temperature
Abrasive Index
Hardgrove Grindability Index (HGI)
High Density Dilution
Contamination

Moisture

Semakin tinggi moisture semakin tinggi temperature air inlet yang diperlukan untuk mencapai
mill outlet temperature yang sudah ditentukan. Semakin tinggi temperature air inlet semakin
tinggi resiko terjadinya mill fire.

Semakin tinggi moisture semakin tinggi coal load yang diperlukan untuk mencapai energy inlet
yang diperlukan untuk mencapai beban energy output yang diperlukan, dan semakin tinggi resiko
terjadinya mill trip karena overload

Calorific Value

Semakin rendah nilai kalori maka semakin tinggi feeding batubara yang diperlukan untuk
memenuhi beban output yang diperlukan. Semakin tinggi load yang diperlukan semakin tinggi
resiko terjadinya mill trip karena overload.

Semakin rendah nilai kalori semakin banyak mill yang harus digunakan untuk memenuhi coal
feeding yang diperlukan, dan semakin tinggi maintenance yang diperlukan

Abrasive Index

Semakin tinggi abrasive index, akan semakin tinggi mill wear ratenya, dan cost maintenancenya
semakin tinggi.

Semakin tinggi mill wear rate, semakin tinggi frekwensi penggantian spare part mill dan
mengakibatkan memperkecil availability mill

Handgrove Grindability Index (HGI)

Semakin rendah HGI, akan semakin tinggi mill power consumption, dan semakin tinggi
auxiliary power yang diperlukan, dan akibatnya akan mengurangi efisiensinya.

Semakin rendah HGI akan semakin tinggi coal mill recyclenya dan mempertinggi resiko
terjadinya mill trip karena overload
`
Semakin rendah HGI, akan semakin rendah jumlah ukuran fine particlenya, sehingga akan
berpengaruh terhadap burn out efisiensinya.

High Density Dilution

Semakin tinggi kandungan dilusi dengan density tinggi, akan semakin tinggi jumlah Mill Pyrite
Rejectnya, sehingga mempengaruhi mill capacity
Contamination

Kontaminasi non coal sangat tidak diinginkan karena akan merusak system millnya, dan
beresiko terjadinya mill trip.

Furnace

Parameter-parameter yang berpengaruh adalah sebagai berikut :

Calorific Value
Volatile Matter (Fuel ratio)
Ultimate Analysis
Ash Content
Ash Fusion Temperature
Ash Composition

Calorivic Value

Semakin rendah nilai Kalori, semakin tinggi jumlah konsumsi batubara untuk mencapai beban
output yang diperlukan, serta semakin tinggi jumlah udara yang diperlukan.

Semakin rendah nilai kalori, akan semakin tinggi tingkat emisi gas CO2 (GHG) yang dihasilkan
pada beban output yang sama
Volatile Matter (Fuel ratio)

Semakin tinggi nilai volatile matternya maka akan semakin reactive batubara tersebut. Sehingga
semakin tinggi burn out efisiensinya.

Semakin tinggi Fuel Rationya, maka semakin turun reaktifitasnya dan akan semakin kecil burn
out efiiensinya.
Ultimate Analysis (C,H,N,S,O)

Sulfur dan Nitrogen diunakan dalam menghitung atau memprediksi emisi gas SOx dan NOx
yang akan dihasilkan. Gas SOx dan NOx adalah gas polutan yang akan berdampak buruk bagi
lingkungan.
Kadar Sulfur dan Nitrogen yang tinggi sangat tidak diinginkan oleh para pengguna batubara
karena selain emisi yang dihasilkan akan tinggi juga karena sifat dari gas-gas tersebut yang
korosif.
Sulfur dalam batubara juga dapat menyebakan Slagging pada pipa-pipa boiler

Ash Content

Semakin tinggi ash content suatu batubara akan semakin tinggi juga yield abu batubara yang
akan dihasilkan. Dengan demikian akan semakin tinggi juga cost untuk waste handlingnya.
Ash Fusion Temperature

AFT digunakan dalam memprediksi secara empiris ash characteristic pada saat pembakaran

Secara umum, batubara yang memiliki AFT-IDT >1300 oC tidak berpotensi menyebabkan
slagging kecuali ada kondisi operasional yang mempengaruhinya.
Ash Composition

Ash composition atau Ash analysis, dalam utilisasi batubara di power plant sangat penting
dalam memprediksi characteristic abu batubara dalam tungku boiler, khususnya sifat Slagging
dan Fouling.

Slagging : Pengotoran pipa-pipa boiler oleh abu batubara di daerah Radiasi


Fouling : Pengotoran pipa-pipa boiler didaerah konveksi
(Coal Utilization for Power Plant presented by PT. Geoservices LTD.)

Swabakar Batubara di Stockpile


Melihat geografi Indonesia dengan iklim tropis yang mempunyai curah hujan dan kelembaban
yang tinggi serta temperatur sampai di atas 30 C, maka pencegahan bahaya kebakaran batubara
pada saat penimbunan di area stockpile dalam segi penanganannya patut mendapatkan perhatian
serius mengingat korban manusia dan harta yang dapat ditimbulkanya.
1.1. Swabakar pada Batubara
Pada tahun 1870 untuk pertama kali Richter menyelidiki dan menyatakan bahwa terjadinya swabakar
(Self Combustion) pada batubara karena aktivitas penyerapan oksigen. Terjadinya swabakar dalam
hubunganya dengan peringkat batubara adalah semakin rendah peringkatnya maka semakin tinggi
terjadinya resiko kebakaran. Reaksi swabakar dapat digambarkan sebagai berikut :
Reaksi sederhana kejadian swabakar batubara adalah:
C + O2 (>5%) -> CO2 (150F - 200 F)CO2 + C --> CO (212 F - 300 F)

1.

Oksigen diserap oleh C (karbon) yang ada dalam batubara yang kemudian menghasilkan CO2 dan panas
dengan persamaan reaksi: C + O2 > CO2 + panas
2. Reaksi selanjutnya menghasilkan CO dan suhu yang tinggi, dengan persamaan reaksi sebagai berikut :
CO2 + C > CO + panas
Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa swabakar pada timbunan batubara di area stockpile sebenarnya
merupakan peristiwa oksidasi batubara padat (solid) oleh pengaruh oksigen.
1.

Tahapan Terjadinya swabakar di stockpile batubara menurut Sukandar Rumidi adalah


Mula-mula batubara akan menyerap oksigen dari udara secara perlahan lahan dan kemudian temperatur
udara akan naik

2.

Akibat temperatur naik kecepatan batubara menyerap oksigen dan udara bertambah dan temperatur
kemudian akan mencapai 100 1400oC
3. Setelah mencapai temperatur 1400oC, uap dan CO2 akan terbentuk Sampai temperatur 2300oC, isolasi
CO2 akan berlanjut. Bila temperatur telah berada di atas 3500 oC, ini berarti batubara telah mencapai titik
sulutnya dan akan cepat terbakar.
1.2. Sebab-sebab Terjadinya Swabakar (Spontaneus Combustion)
Batubara merupakan bahan bakar organik, dan apabila bersinggungan langsung dengan udara dan dalam
keadaan temperatur tinggi akan terbakar sendiri. Keadaan ini akan dipercepat oleh :
1. Reaksi eksothermal, hal ini yang paling sering terjadi
2. Bakteria
3. Aksi katalis dari benda-benda anorganik
Sedangkan kemungkinan terjadinya swabakar terutama disebabkan antara lain:
1. Karbonisasi yang rendah (low carbonization).
2. Kadar belerangnya tinggi (>2%) dengan ambang batas kadar belerang 1,2 %.
1.3. Oksidasi Batubara
Batubara akan menjadi panas bila terdapat oksigen. Kecepatan hantaran panas dipengaruhi oleh massa
batubara, derajat kekompakanya, unsur kimia, umur geologi, rank, inherent oksigen dan air lembab.
Bagian unsur kimia yang terkadang dalam batubara mulai teroksidasi bila disingkapkan ke udara bebas
pada saat penambanganya. Seperti diketahui, batubara adalah campuran padat dari persenyawaan
hidrokarbon yang mengandung: Karbon, hidrogen, sulfur, nitrogen dan oksigen dalam struktur molekuler
organiknya. Disamping itu, terdapat pula kandungan mineral pembentuk abu seperti : serpih-serpih,
lempung, batu pasir dan pirit.
Menurut berita PPTM No. l 1 Tahun 9, bahwa, kadar organik batubara terdiri dari 50-90% karbon, 2-8%
hidrogen, 2 - 20 % oksigen, kurang dari 2 % nitrogen dan sulfur yang terdapat dialam bentuk organik dan
mineral sebesar 0,2 - 8%. Semua elemen organik dan elemen logam seperti besi, bereaksi dengan oksigen.
Beberapa unsur berkecepatan reaksi lebih tinggi dari yang lain, namun pada umumnya terjadi liberi energi
dalam bentuk panas.
Pada dasarnya tidak terdapat perbedaan proses kimiawi antara pembakaran dengan proses oksidasi
lambat, perbedaan hanya terdapat pada kecepatan oksidasi, sehingga temperatur terjadinya reaksi
berbeda. Proses oksidasi berlangsung berkesinambungan, walau kecepatanya dapat berubah, namun
reaksi tidak akan berhenti selama masih terdapat oksigen. Itulah sebabnya, terjadi fenomena yang dikenal
sebagai swabakar 1 stockpile . Alasan dalam hal ini ialah kecepatan pembebasan energi sebagai panas
melampaui kecepatan kemampuan membuang panas keluar tumpukan batubara, sehingga temperatur
terakumulasi dan naik sampai ke tingkat dimana pembakaran aktif terjadi.
Kecepatan penyerapan oksigen pada kondisi tempertur konstan yang berkurang dengan bertambahan
waktu, memberikan indikasi kegiatan oksidasi makin progesif pada bagian-bagian partikel yang
berhubugan dengan udara. Kecepatan oksidasi makin progesif pada bagian -bagian partikel yang
berhubungan dengan udara. Kecepatan oksidasi bervariasi menurut peringkat batubara yang dalam hal ini
dinyatakan sebagai persentasi zat terbang.
Sebagai contoh antrasit (rank tinggi) teroksidasi dengan kecepatan yang amat rendah, sedang batubara
bituminus dengan kandungan zat terbang tinggi dapat teroksidasi dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Makin berkurangnya rank batubara, kandungan oksigen makin meningkat dan rank batubara yang rendah
mengoksidasikan lebih cepat daripada rank diatasnya.
1.4 Parameter Kualitas Batubara
Parameter kualitas batubara ditentukan berdasarkan analisis batubara yang umumnya dilakukan dengan
metode, yaitu :
1. Analisa Proksimat
a. Kandungan air (Moisture content)
a.1. Total Moisture
Adalah banyaknya air yang terkandung dalam batubara sesuai kondisi di lapangan (Ar), baik terikat
secara kimiawi maupun akibat pengaruh kondisi diluar. Pada prinsipnya total moisture merupakan jumlah

air yang terkandung dalam batubara baik air bebas (FM = Free Moisture) maupun air terikat (IM =
Inherent Moisture)
a.2. Free Moisture
Adalah air yang diserap oleh permukaan batubara akibat pengaruh dari luar.
a.3. Inherent Moisture (Air bawaan)
Adalah kandungan air bawaan pada saat terbentuk batubara.
b. Kandungan Abu (Ash Content)
Merupakan sisa-sisa zat organic yang terkandung dalam batubara setelah dibakar. Kandungan abu dapat
dihasilkan dari pengotoran bawaan dalam proses pembentukan batubara maupun perkotoran yang berasal
dari proses penambangan. Abu batubara merupakan bagian yang tidak hilang pada waktu pembakaran
batubara tersebut. Komposisi utama abu batubara adalah : Si, A1, Fe, Ti, Mn, Na, K, Silikat, Sulfida,
Sulfat dan Fosfat.
c. Zat terbang (Volatile Matter)
Merupakan zat aktif yang menghasilkan energilpanas apabila batubara tersebut dibakar dan terdiri dari
gas-gas yang mudah terbakar seperti hydrogen, karbonmonoksida (CO) dan metan. Zat terbang ini sangat
erat kaitannya dengan rank dari batubara., makin tinggi kandungan airterbang (VM) makin rendah
kualitasnya. Dalam pembakaran karbon padatnya, sebaliknya zat terbang rendah akan mempersulit proses
pembakaran.
d. Karbon Tertambat (fixed carbon)
Merupakan angka diperoleh dari hasil pengurangan 100% terdapat jumlah kandungan airlembab,
kandungan abu dan zat terbang. Dengan adanya pengeluaran zat terbang dalam kandungan air, maka
tertambat secara otomatis akan naik sehingga makin tinggi kandungan karbonnya, kelas batubara semakin
naik.
e. Nilai Kalori (Calorific Value)
Harga nilai kalor merupakan penjumlahan dari harga-harga panas pembakaran unsur-unsur pembakaran
batubara. Nilai kalor terdiri atas Gross Calorie Value yaitu nilai kalor yang biasa dipakai sebagai laporan
analisis dan Net Caloric Value yaitu nilai kalor yang benar-benar dimanfaatkan dalam proses pembakaran
batubara.

2. Analisis Ultimate
a. Penentuan Karbon (C) dan Hidrogen (H)
Kedua sistem ini ditentukan dengan cara yang sama dalam operasi yang bersamaan. Nilai karbon
mencakup kandungan karbon dari karbon - karbon mineral.
b. Penentuan Nilai Kalori
Pengukuran unit panas yang dibebaskan bila satu unit massa bahan bakar padat dibakar dalam sebuah
bom dibawah kondisi standar. Hasil-hasil analisa itu sendiri harus beracuan pada basis-basis analisa
(reference basis). Basis yang biasanya digunakan adalah sebagai berikut :
b.1 As received basis (Ar)
Basis analisa dimana contoh batubaranya diambil dari suatu tempat (lapangan) dan langsung dianalisa.
Pada keadaan ini total kandungan air + zat terbang + kadar karbon + kandungan abu = 100%.
b.2. Air dry basis (Adb)
Basis analisa dimana contoh batubaaranya dikeringkan pada udara terbuka untuk menghilangkan free
moisture dan sisanya inherent moisture, sehingga inherent moisture + zat terbang + kadar karbon + kadar
abu = 100%.
b.3. Dry Basis (Db)
Basis analisa dimana contoh batubaranya telah dikeringkan pada temperature tertentu sampai inherent
moisturenya hilang, sehingga zat terbang + kadar karbon + kandungan abu = 100%.

1.

2.
3.

4.

5.

6.
a.

b.

7.

8.

b.4. Dry ash free (Daf)


adalah kondisi batubara yang telah diproses dilaboratorium sehingga bebas dari air dan bebas dari
kandungan abu.
b.5. Dry mineral matter free (Dmmf)
adalah kondisi batubara yang bebas dari total moisture dan bahan anorganik dalam batubara tersebut.
2.5. Area Stokpile
Untuk area stockpile faktor-faktor yang mempengaruhi swabakar yaitu:
Pengaruh Volatile matter volatile matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Kandungan
zat terbang ini erat kaitannya dengan rank batubara. Semakin tinggi kandungan zat terbangnya semakin
tinggi volatile matter dalam batubara maka semakin banyak panas yang ditimbulkan dan akan
mempercapat terjadinya swabakar.
Pengaruh Sulfur Semakin tinggi kadar sulfur dalam batubara, makin cepat terjadinya swabakar dalam
batubara begitu sebaliknya.
Pengaruh Moisture Content (Kandungan air) Kandungan air dapat dibedakan atas kandungan air bebas
(free moisture) kandungan air bawaan (inherent moisture), kandungan airtotal (total moisture). Semakin
banyak kandungan air dalam batubara maka semakin banyak panas yang diperlukan untuk mengubah air
menjadi uap. Namun demikian jika kadar kelembaban batubara kecil, maka terjadinya kenaikan suhu
dalam timbunan akan semakin cepat.
Pengaruh Kualitas (rank) Rank batubara sangat erat hubungannya dengan kandungan volatile metter,
dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa batubara yang kandungan volatile matternya rendah mempunyai
derajat yang tinggi demikian sebaliknya. Pada pembakaran spontan untuk timbunan batubara tidak hanya
dinilai dari derajatnya saja, tapi harus diketahui kandungan volatile matternya, semakin tinggi kandungan
volatile matter pada rank batubara semakin besar kemungkinan terjadinya pembakaran spontan dan
sebaliknya.
Pengaruh fixed carbon (karbon tertambat) Seperti diuraikan sebelumnya bahwa kandungan volatile
matter berhubungan erat dengan kandungan karbon padat. Semakin tinggi volatile matter maka akan
mempercepat pembakaran karbon padatnya. Apabila suhu semakin naik dengan kandungan volatile
matter yang tinggi akan menyebabkan kandungan karbon mengecil sehingga pembakaran spontan
semakin cepat terjadi.
Pengaruh kandungan abu Pengaruh abu terhadap timbunan batubara dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu :
Pengaruh abu yang dikandung oleh batubara.
Untuk itu perlu diketahui unsur-unsur yang terdapat dalam abu tersebut, hal yang dapat menunjang yaitu :
kandungan sulfur yang terdapat dalam abu yang berasal dari mineral-mineral yang mengandung belerang
seperti FeS, semakin banyak abu yang mengandung belerang maka semakin cepat terjadinya pembakaran
spontan.
Pengaruh debu dan partikel dari luar
Bila abu dari luar mengandung sulfur, hal ini tidak menimbulkan reaksi terhadap timbunan batubara.
Keadaan ini akan memperlambat terjadinya pembakaran spontan karena abu tersebut merupakan partikel
halus yang dapat menyelimuti timbulnya tersebut. Dengan banyaknya abu yang menutupi permukaan
timbunan batubara akan mengisi lubang-lubang pada permukaan batubara, maka akan mempersulit
masuknya udara luar terhadap timbunan batubara tersebut. Dengan kata lain semakin banyak abu dari luar
semakin banyak abu dari luar semakin lambat terjadinya pembakaran spontan.
Pengaruh ukuran butir batubara Bila batubara dibentuk menjadi suatu timbunan yang terdapat dari butiran
halus dan kasar, maka dapat dijelaskan bahwa suatu timbunan yang berbutir halus, maka porositas atau
rongga butir yang satu dengan yang lain adalah lebih besar dibandingkan dengan butir kasar. .Iumlah
udara yang tersedia dalam timbunan batubara halus lebih mampu membuang panas yang ditimbulkannya
jika dibandingkan dengan ukuran batubara kasar atau semakin halus butirannya pembakaran spontannya
semakin lambat.
Pengaruh ketinggian timbunan Untuk menentukan terjadinya pembakaran spontan, harus dapat diketahui
hal-hal sebagai berikut : suatu timbunan batubara yang terjadi dari butiran halus dan kasar, akan terjadi

segresi ukuran dalam timbunan, dimana butir batubara yang kasar mengumpul dibagian bawah (lantai)
dan butiran yang halus mengumpul di puncak dan bagian dalam timbunan. Dengan kata lain timbunan
yang tinggi, jarak atau panjang aliran udara lebih panjang bila dibandingkan dengan timbunan rendah
dengan sirkulasi udara yang pendek, panas yang ada pada timbunan batubara yang tinggi dengan sirkulasi
udara yang panjang akan memperlambat pembuangan panas yang ada dalam timbunan sehingga
mempercepat terjadinya pembakaran spontan.
Referensi
1. Anonim, (2007), Swabakar Batubara http://www.tekmira.esdm.go.id
2. Anonim, (2006), Penyusunan Neraca Batubara dan Gambut http://www.dim.esdm.go.id
3. Anonim, (2008), Tahapan Penambangan Batubara http://methdimy.blogspot.com
(Self Combustion Fact Writted by anonim,2011)

DASAR-DASAR ANALISIS
1.DASAR KERJA LABORATORIUM
PERISTILAHAN/GLOSARIUM
APD : Peralatan (seperti kaca mata, sarung tangan, dan helm) yang dikenakan untuk
melindungi diri dari kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat kerja
Buret : Alat ukur volume berdasarkan volume yang dikeluarkan dan digunakan untuk keperluan
titrasi
Corong

: Alat bantu untuk untuk mengalirkan cairan memasuki mulut wadah berukuran.

Identifikasi

: Penentuan identitas

Instrumentasi : Susunan atau rangkaian peralatan


Iritatif : Bersifat iritatif/mengganggu
Kompetensi : Ketrampilan, pengetahuan dan perilaku untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau
profesi secara baik, benar dan cepat
Konsep mol : Konsep perhitungan dalam ilmu kimia berdasarkan jumlah N (N=Bilangan
Avogadro=6,02x1023)
Label : Sepotong kertas, kain, kayu atau logam yang bertuliskan petunjuk singkat

Laboratorium :
Tempat atau ruang tetentu yang berisikan peralatan untuk melaksanakan
penelitian atau pekerjaan yang bersifat penelitian dan penetapan
Labu ukur
: Yaitu peralatan gelas berbentuk buah labu yang berfungsi untuk menakar volume
tertentu cairan
Mol : Gram suatu zat dibagi berat molekul(BM) atau

Berat atom

Molaritas : Konsentrasi dari suatu larutan yang dinyatakan dalam mol terlarut dalam 1 liter
larutan
Neraca Analitik
: Neraca dengan tingkat ketelitian tinggi pada penimbangan jumlah zat
yang rendah dengan resolusi lebih kecil dari 1 mg
Pereaksi : Bahan kimia yang digunakan untuk mengubah analit ke bentuk terukur secara selektif
Pipet tetes : Alat gelas kecil yang dilengkapi bola karet kecil digunakan untuk meneteskan cairan
Prosedur
: Kumpulan instruksi kerja
Solute : Zat yang terlarut dalam larutan
Solven : Pelarut
Solution/larutan

: Pencampuran secara homogen solut dengan solven

Unit Kompetensi : Satuan aktifitas lengkap terkecil yang masih bisa diukur yang berisikan
ketrampilan, pengetahuan dan sikap
Analit : Zat yang dianalisis
Digest : dipanaskan dalam larutan = warmed in the solution).
Faktor gravimetri : jumlah gram analit di dalam 1 gram endapan
Gravimetri : analisis kimia melalui penentuan berat
Gravimetri pengendapan : gravimetri dimana komponen yang diinginkan diubah menjadi bentuk
yang sukar larut
Gravimetri penguapan: gravimetri dimana komponen yang tidak diinginkan diubah menjadi uap
Ion kompleks : ion yang merupakan gabungan antara atom pusat dan ligan
Ion senama

: ion yang sejenis dengan ion-ion yang ada dalam sistem kesetimbangan kelarutan

Kelarutan molar
tertentu

: jumlah mol zat yang melarut dalam satu liter larutan jenuh pada suhu

Kelarutan zat : jumlah zat yang melarut dalam satu liter larutan jenuh pada suhu tertentu yang
dinyatakan dalam mol atau gram.
Kesetimbangan kelarutan : sistem kesetimbangan dari elektrolit yang sukar larut
Kontaminasi endapan : pengotoran suatu endapan yang diakibatkan terserapnya zat lain
Kontaminasi kopresipitasi: pengotoran suatu endapan oleh zat lain yang larut dalam pelarut
Kontaminasi oklusi

: pengotoran suatu endapan saat terjadinya pertumbuhan kristal

kontaminasi postpresifitasi:pengotoran suatu endapan karena timbulnya pengendapan berikutnya


Peptisasi : pengendapan halus pada waktu pencucian
pH : Logaritma negatif ion hidrogen dalam larutan (- log [H+])
Sampel
: sebagian kecil dari bahan yang dipilih sehingga mewakili keseluruhan bahan
tersebut.
disebut juga cuplikan atau contoh
Sampling : proses pengambilan sampel dari keseluruhan bahan
Tetapan hasilkali kelarutan: tetapan kesetimbangan dari elektrolit yang sukar larut diberi simbol
Ksp
atau solubility product constant
Secara ringkas penanganan laboratorium digambarkan sebagai berikut :
Membersihkan tumpahan menggunakan zat pembersih dan peralatan pelindung yang benar.
Penanganan yang sangat tepat adalah dengan mengikuti data/ petunjuk penanganan bahan dalam
Material Safety Data Sheet (MSDS)
Prosedur penanganan tumpahan secara umum adalah :
Kenali tumpahan/identifikasi bahan yang tumpah dan mengetahui teknik
aman penanganannya.
Pastikan penggunaan alat pengaman diri
Cegah tumpahan meluas dan hentikan sumber tumpahan jika hal tersebut
aman dilakukan.

Tangani (di tempat) dengan cara yang tepat.


Secara umum

proses yang dilakukan adalah netralisasi. Bahan yang paling umum

digunakan untuk keadaan darurat apabila terjadi tumpahan adalah pasir, tanah, natrium karbonat
dan kapur. Tetapi untuk penanganan yang lebih tepat dapat dilihat di dalam Material Safety
Data Sheet (MSDS).Bekas tumpahan bahan kimia di area kerja dapat dibersihkan dengan air,
sabun/detergen, atau pembersih lain yang sesuai dengan bahan pengotornya.
Simpan semua limbah pada tempatnya yang sesuai kemudian tutup untuk
penanganan lebih lanjut
Bersihkan pastikan kembali area tersebut telah bersih dan aman.
Membuang limbah sesuai dengan prosedur yang relevan
Limbah yang dihasilkan di area kerja dan/atau selama bekerja
perlu ditangani sehingga tidak berbahaya bahkan mencemari lingkungan. Oleh
karena itu, pengetahuan tentang jenis-jenis limbah, penyimpanan secara
terpisah, penanganan untuk mereduksi atau mengurangi tingkat bahayanya
dan penyimpanannya perlu untuk diketahui jenis dan cara penanganan
limbah

antara

lain

Peralatan gelas yang pecah disimpan dalam tempat tertentu dan diberi label.
Kertas tisu (paper towel) dan limbah yang tidak berbahaya sejenis lainnya dapat
digolongkan ke dalam limbah umum setelah yakin bahwa tidak terdapat
kontaminasi mikroorganisme.
Cairan/larutan mudah larut dalam air dan tidak berbahaya dapat dibuang
langsung ke wastafel dengan dibilas menggunakan banyak air. Untuk larutan
asam/ basa perlu dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang.
Bahan organik limbah yang mudah terbakar harus disimpan pada tempat
tertentu dan diberi label.
Bahan-bahan anorganik yang mengandung logam berat disimpan pada tempat
khusus.

Bahan-bahan yang mencemari lingkungan harus dipisahkan dan perlu


penanganan pendahuluan .
Petrifilm & media agar yang telah digunakan harus disterilisasi terlebih
dahulu, dibakar/disimpan di tempat tertentu.
Limbah-limbah tersebut perlu diolah/ditangani lebih lanjut. Hal ini
dapat dilakukan oleh pihak lain, limbah yang telah diolah harus memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan.Berdasarkan cara penyimpanannya, limbah
dapat dibagi dalam 8 klas :
Limbah yang mengandung Halogen-bebas pelarut organik.
Limbah yang mengandung halogen dengan pelarut organik dan larutan yang
mengandung bahanbahan organik (jangan disimpan pada bahan yang terbuat
dari aluminium).
Limbah residu bahan organik padat disimpan dalam kantong plastic (plastic
bags) atau pada kemasan aslinya.
Limbah larutan garam ; pH dalam tempat penyimpanan harus selalu
disesuaikan (antara 6-8).
Limbah beracun bahan anorganik termasuk juga garam-garam dari logamlogam berat dan larutannya. Disimpan pada tempat yang tertutup rapat dan
label yang jelas.
Limbah beracun dan senyawa mudah terbakar.
Tempat penyimpanan yang tertutup dan tidak mudah pecah. Label yang jelas.
Limbah raksa dan garam garam anorganik raksa.
Limbah dapat diolah kembali (regenerable) dari residugram-residugram logam.
Masing-masing garam logam disimpan terpisah.
Limbah anorganik padat

PROSES

PEMBERSIHAN

DAN

PENANGANAN

PERALATAN

GELAS.

Cara kerja yang baik untuk membersihkan alat gelas adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

5.

Pemilahan peralatan yang akan dibersihkan bertujuan untuk mempermudah pencucian dan
pemilihan bahan pencuci.
Alat gelas yang pecah dan/atau retak ditempatkan pada tempat penyimpanan khusus dan diberi
label alat gelas pecah untuk penanganan lebih lanjut.
Kontaminasi kotoran dapat dihilangkan secara mekanik dari alat gelas. Contohnya dengan cara
disikat dan dikocok dengan air (jika perlu ditambahkan serpihan kertas saring).
Minyak atau lemak dihilangkan dengan pelarut yang sesuai. Alat sebaiknya diisi dengan air
sabun/detergen dan dikocok. Kemudian dibilas beberapa kali dengan air hingga bersih. Bila alat
masih baru cukup dicuci dengan asam encer, air, methanol/etanol/aseton dan dikeringkan dengan
aliran udara (jangan dipanaskan).
Tetapi jika setelah menggunakan pembersih ini alat masih berlemak, dengan adanya tetesantetesan air melekat (bergantungan) pada bagian dalam kaca, perlu digunakan larutan pembersih
dikromat. Ini dilakukan dengan membasahi permukaan bagian dalam alat itu dengan larutan
dikromat asam atau merendamnya dalam larutan ini. Jika cara ini tidak berhasil, artinya alat
masih kotor, selanjutnya alat dicuci dengan larutan kalium permanganat. Penggunaan larutan ini
biasanya menimbulkan noda berwarna coklat oleh MnO2 pada kaca. Untuk menghilangkan noda
ini digunakan HCl pekat, kemudian dibasahi dengan banyak air.

Alat-alat laboratorium
1. Gelas Piala (beaker glass)

Pada umumnya gelas piala berbibir sumbing, yaitu :


agar mudah menuangkan isinya.
sebagai tempat menonjolnya pengaduk dibawah kaca arloji.
sebagai lubang keluar gas, bila piala ditutupi kaca arloji.
Gelas piala yang banyak dipakai berukuran 400 ml, sering juga dipakai piala yang berukuran 250
ml, 600 ml atau 800 ml. pengisian gelas piala harus diatur sedemikian rupa, sehingga
perbandingan antara isi cairan dan besar piala yang akan dipakai kira-kira 1 : 2.
2). Kaca Arloji (Watch glass)
Kaca arloji yang baik terbuat dari kaca pyrex, sedangkan ukuran penampang lintangnya
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan. Alat ini digunakan untuk menutup piala yang berisi
larutan (waktu Pemasangan). Dapat pula digunakan sebagai alat penimbang contoh padatan (bila
tidak tersedia sekoci timbang) atau untuk menguapkan cairan.
3). Labu semprot (washed bottle)

Labu semprot dipakai untuk menyimpan air suling yang akan dipergunakan sebagai
pelarut contoh atau pencuci endapan, untuk membersihkan dinding bejana dari sisa-sisa endapan,
atau membilas kaca arloji/lempeng kaca yang telah dipakai sebagai penutup piala.
4)

Pengaduk ( rod stirrer)

Batang kaca masif (3,5 mm) yang tumpul kedua ujungnya dan digunakan untuk
mengaduk larutan. Dapat pula digunakan untuk membersihkan endapan pada dinding bejana
untuk keperluan yang akhir ini ujungnya diselubungi karet (rubber policeman).
5. Corong
Corong yang baik berbentuk kerucut bersudut 60o digunakan untuk mentuskan atau
menyaring. Biasanya berdiameter 57,9 cm, sedangkan tangkainya berpenampang lintang + 4 mm
tidak boleh lebih panjang dari 15 cm (sedikit lebih panjang dari pada tinggi kerucut).
6.Gelas Ukur
Gelas ukur biasanya digunakan untuk mengukur cairan tanpa terlalu teliti, dan yang
sering digunakan berukuran 25 ml sampai 250 ml. Waktu digunakan, gelas ukur dipegang
dengan tangan kiri dan ibu jari menunjukkan garis batas volume yang dikehendaki. Kemudian
gelas ukur diangkat sehingga garis batas volume sama tinggi dengan mata pengukur. Akhirnya
tangan kanan menuangkan cairan yang akan diukur kedalam gelas ukur tersebut. Hingga
miniskus sejajar dengan garis batas tersebut.
7. Eksikator (desikator)
Pada umumnya eksikator digunakan untuk menyimpan cawan agar tetap kering,
demikian pula isi cawan. Agar eksikator betul-betul rapat udara antara tutup dan mulutnya harus
diolesi pelumas khusus atau campuran vaselin dan lilin tawon. Sdangkan untuk menjaga agar
udara didalamnya kering, diperlukan bahan pengering seperti :
CaO, CaCl2 anhidrida Al2O3, Mg (ClO4)2 anhidrida P2O5, silicagel atau H2SO4 pekat.
Perhatian :
Jangan memasukan benda yang terlalu panas kedalam eksikator sebab udara didalamnya akan
berkembang dan mengangkat tutup eksikator, sehingga terbuka/jatuh.
Disamping itu suhu benda didalam eksikator akan lambat turunnya, sehingga tidak dapat cepatcepat ditimbang.

8. Cawan Porselin (Crucible) :

Biasanya cawan perselin digunakan sebagai tempat mengabukan kertas saring dan
memijarkan endapan sehingga terbentuk senyawaan yang mantap.
Untuk beberapa pengerjaan seperti peleburan (fusion) dengan Na2CO3, cawan
perselin tidak, dapat digunakan. Untuk pemijaran khusus (pada suhu tinggi) dapat digunakan
cawan-cawan : kwarsa, platina, emas, perak, besi atau alumunium (corundum).
9. Lumpang (Mortar) :
Lumpang biasanya digunakan untuk menggerus/menghaluskan contoh untuk analisis.
Ada beberapa macam lumpang yang digunakan dilaboratorium kimia antara lain :
a. Lumpang porselin
Tidak boleh digunakan untuk menggerus contoh analisis yang keras-keras (terutama serba
macam garam) agar contoh tidak tercampur debu porselin.
b. Lumpang akik (agate)
Digunakan untuk menghaluskan contoh analisis. Oleh karena itu akik berpori cairan tidak boleh
terlalu lama dibiarkan dalam lumpang akik, sebab akan diabsorbsi. Juga akik tidak boleh
dipanaskan agar tidak pecah.
c. Lumpang Alumina
Lumpang Alumina (kekerasan = 9) dapat menggantikan l

umpang akik.

10. Gegep/Tang Cawan (Crucible Tang)


Tang cawan yang baik terbuat dari Nikel atau Baja tahan karet (stainless steel) dan
digunakan untuk mengambil cawan panas. Untuk mengambil cawan platina sebaiknya digunakan
tang yang ujungnya di lapisi platina.
10. Pemanas Listrik (Hot Plate)
Pemanas listrik (100 200oC) digunakan untuk memanaskan/mendidihkan cairan yang
mudah terbakar.
11. Penangas Air (Water Bath)
Penganas air digunakan untuk memanaskan endapan, menguapkan cairan dsb. Pada suhu
dibawah 100oC. alat ini terbuat dari tembaga, diisi air setengah penuh dan dipanaskan dengan
pembakar Bunsen. Piala gelas berisi air mendidih merupakan penangas air paling sederhana,
penangas air terbuat dari baja tahan karat, dipanaskan dengan tenaga listrik dilengkapi termostat.
12. Peti Pengering (Oven)
Peti pengering ada yang dipanaskan dengan gas listrik (250 -300 oC) atau uap air (90
95oC). alat ini digunakan untuk mengeringkan contoh atau menetapkan kadar air dalam contoh.
Pada umumnya sekarang dipakai tenaga listrik, oven dilengkapi termostat (pengatur suhu) dan
timer (pengatur waktu).

13. Tanur :
Tanur dibuat dari bata tahan api, dipanaskan dengna listrik dan dapat mencapai suhu
sehingga 1200oC. Biasanya dilengkapi dengan thermo couple dan pyro meter, agar suhu dapat
diatur sewaktu pemijaran (endapan, dll).

1) Menyaring endapan dengan kertas saring


Untuk menyaring diperlukan corong dengana kerucut bersudut 60o. Endapan yang kemudian
akn dipijarkan harus dituskn dengan kertas saring takberabu.Macam kertas saring tak berabu
yang biasa dipergunakan dilaboratorium antara lain seperti dalam daftar (menurut Whatman)
dibawah ini :
Tabel 2.nama kertas saring
Nomor

Nomor

Whatma

Sifat endapan

Kecepata

Nomor

Whatman

Schleiche

n tak

tak

penyaring

r dan

berabu

berabu

Schuell

diperkera
41

s
541

Kasar
yang

dan Cepat
seperti

589
pita hitam

43
40

540

selai
Hablur
Hablur

44

542

Hablur

Perlahan

pita putih
589

Halus

Lahan

pita biru

42

Sedang
Sedang

589

(kertas

barit)
Garis tengah kertas saring bundar tak berabu yang biasa diperdagangkan berukuran
antara 5, 7, 9 dan 11 cm. namun yang banyak digunakan berukuran 9 dan 11 cm.
Ukuran garis tengahkertas saring dipilih harus disesuaikan dengan banyaknya endapn
(bukan dengan volume cairan yang akan disaring) demikian rupa, sehingga pada akhir pentusan
seluruh endapan hanya mengisi sepertiga kapasitas kertas saring.
Setelah diperoleh kertas saring cocok (nomor dan besarnya) pilihlah corong yang cocok
pula bagi kertas saring tersebut sehingga bila ini dipasang didalamnya, pinggirannya berada10
20 mm, dibawah pinggir corong.
1

Gambar Tahapan melipat (folding) kertas saring hingga memasang pada corong
Sekarang kertas saring bundar ini dilipat satu kali tepat ditengah-tengah, lalu dilipat
sekali lagi, demikian rupa sehingga salah satu ujung sebelah dalam dirobek sedikit lalu kerucut
kertas saring ini dibuka dan dipasangkan dengan hati-hati kedalam corong.
Dengan menggunakan botol semprot kertas saring dibasahi dengan air suling sedikit, lalu
kertas saring ditekan-tekan dengan jempol kanan (yang bersih) untuk menghilangkan gelombang
udara yang berada antar kertas saring dan dinding dalam corong.
Untuk menjaga agar kertas saring berfungsi baik, kertas saring harus diisi dengan air
suling sampai hampir penuh. Bila sudah baik air akan turun dari corong sebagai aliran halus dan
segera akan memenuhi tangkai corong.
Jika turunnya air perlahan-lahan, tetes demi tetes, kertas saring tersebut harus diganti
dengan yang baik. Kertas saring yang tidak tepat, akan menghambat penyaringan.
Untuk memulai penyaringan corong yang berisi kertas saring yang tepat, ditaruh dalam
rak/alat pemegang corong; dibawahnya ditaruh piala bersih dan diatur agar ujung tangkai corong
menempel pada dinding piala, sehingga tidak terjadi cipratan-cipratan.

Takaran kuantitas yang layak dari bahan reaksi untuk menyiapkan solusi dan mencatat
data.
Persen berat/volume (% b/v) :
Jumlah gram dari zat terlarut dalam 100 ml larutan
Persen berat/berat (% b/b) :
Jumlah gram dari zat terlarut dalam 100 gram larutan.
Persen volume/volume (% v/v) :
Jumlah mililiter dari zat terlarut dalam 100 ml larutan.
Kemolaran atau Molaritas :
Jumlah mole dari zat terlarut dalam 1 liter larutan.
M

n/V atau n = M x V

M
n
V

=
=
=

Molaritas (konsentrasi molar) larutan


Jumlah mole zat terlarut
Volume larutan dalam liter.

Kenormalan atau Normalitas :


Jumlah gram ekivalen (grek) zat terlarut dalam 1 liter larutan
N
= e/V
atau e = N x V
N
= Normalitas (konsentrasi normal) larutan
e
= jumlah gram ekivalen (grek) zat terlarut
V
= volume larutan dalam liter
Bagian per sejuta (ppm) :
Jumlah miligram zat terlarut dalam 1 liter larutan.

Contoh perhitungan konsentrasi larutan


b/v %
Untuk membuat larutan KCI 2% b/v sebanyakd dalam 500 ml diperlukan KCI :
= 500 X 2 gr = 10 gr
100
b/b %
Untuk membuat larutan NaOH 4% b/b sebanyak 100 gr diperlukan NaOH sebanyak :

4,0 gram X 100 g = 4,0 gr NaOH


100 gr
v/v %
10 x 200 ml = 20 ml
100

M
Untuk membuat larutan AgNO3 0,1 M sebanyak 200 ml diperlukan AgNO3 sebanyak :
0,1 x 200 x 169,9 = 3,398 gr
1000
169,9 adalah berat molekul AgNO3

N
Untuk membuat larutan NaOH 0,1N sebanyak 100 ml diperlukan NaOH sebanyak :
0,1 X 100 ml x 40,0 gr = 0,4 gr
1000 ml

ppm
Untuk membuat larutan 2 ppm K2Cr2O7 sebanyak 1000 ml larutan, K2Cr2O7 sebanyak :
2 mg x 1000 ml = 2 mgr
1000 ml
Catatan :
Zat aktif dalam asam-asam adalah hidrogen
Asam klorida mempunyai rumus kimia HC1 yang mengandung hanya satu
hidrogen. Bila 0,1 mole HC1 dilarutkan dalam 1 liter larutan maka :
Molaritas larutan = 0,1 M
Normalitas larutan = 0,1 N
Asam sulfat mempunyai rumus kimia H2SO4 yang mengadung dua
hidrogen. Bila 0,1 mole H2SO4 dilarutkan dalam 1 liter larutan maka :
Molaritas larutan = 0,1 M
Normalitas larutan = 0,2 N
Membuat label dan rincian catatan larutan dalam catatan laboratoium

Pada umumnya, suatu buku harian laboratorium adalah buku gabungan yang digunakan untuk
mencatat hal-hal penting yang didapat dari pelaksanaan suatu prosedur. Buku harian juga
mencatat hal-hal tentang kebutuhan termasuk tanggal, nama/judul dan rinciannya.
Selain hal-hal yang perlu seperti diatas, dalam buku harian atau buku laboratorium digunakan
juga untuk mencatat bahan-bahan yang penting seperti :
1. Kapan contoh itu datang ke laboratorium
2. Larutan standar yangakan diperlukan
3. Kalibrasi bahan yang diperlukan

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Setiap wadah harus diberi etiket dengan benar sehingga dapat diketahui isinya dengan
benar. Etiket harus berisi informasi seperti berikut :
Nama atau rumus zat kimia
Kepekatan
Tanggal pembuatan dan tanggal kadaluarsa
Inisial (singkatan nama) pembuatan larutan
Nomor stok/nomor kode
Stiker peringatan bahaya
Masing-masing tempat kerja memiliki sistem penyimpanan yang berbeda. Dan harus
dikelompokkan sesuai dengan derajat bahaya, kemudian disusun secara alfabetis.

Memindahkan larutan ke dalam wadah berlabel dengan benar


Bila kita memindahkan larutan ke dalam suatu wadah baru maka larutan tersebut mungkin :
1. Tercurah/tercecer,
2. Menetes,
3. Hilang / berkurang selama proses pemindahan.
4.
Untuk menghindari hal tersebut diatas perlu dilakukan :
1. Batang pengaduk
2. Corong.
Mencek larutan stok yang ada
Hal-hal penting yang perlu dilakukan dalam mencek larutan stok yang ada :
1. Memantau daya tahan larutan kerja
2. Mengganti larutan
3. Melakukan analisis titrimetri secara rutin/berkala

Pembahasan Umum Tentang Titrasi


Titrasi adalah suatu jenis volumetri. Dalam titrasi, analit direaksikan dengan suatu bahan
lain yang diketahui/dapat diketahui jumlah mol-nya dengan tepat. Bila bahan tersebut berupa
larutan, maka konsentrasi harus diketahui dengan teliti; larutan demikian dinamakan larutan
baku. Dalam titrasi, konsentrasi larutan baku harus diketahui sampai empat desimal.
Reaksi dijalankan dengan titrasi, yaitu suatu larutan ditambahkan dari buret sedikit demi
sedikit sampai jumlah zat-zat yang direaksikan tepat menjadi ekivalen satu sama lain. Pada saat
titran yang ditambahkan telah ekivalen, maka penambahan titran harus dihentikan; pada saat
demikian dinamakan titik akhir titrasi. Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran
sedangkan larutan yang ditambah titran disebut titrat.
Syarat-Syarat Titrasi

1.
2.
3.

a.
b.
4.

Tidak semua reaksi dapat dipergunakan sebagai reaksi titrasi. Untuk itu harus dipenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
Reaksi harus berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang jelas.
Reaksi harus cepat dan reversibel. Bila tidak cepat, titarsi akan memakan waktu terlalu banyak
apalagi menjelang titik akhir reaksi. Bila reaksi tidak reversibel, penentuan akhir titrasi tidak
tegas.
Harus ada penunjuk akhir reaksi (indikator). Penunjuk itu dapat :
Timbul dari reaksi titrasi itu sendiri, misalnya titrasi campuran asam oksalat + asam sulfat oleh
KmnO4.
Berasal dari luar. Dapat berupa suatu zat atau suatu alat yang dimasukkan kedalam titrat. Zat itu
disebut indikator dan menunjukan akhir titrasi, karena
menyebabkan perubahan warna titrat atau
menimbulkan perubahan kekeruhan dalam titrat (larutan jernih menjadi keruh atau sebaliknya)
Larutan baku yang direaksikan dengan analit harus mudah dibuat dan sederhana penanganannya
serta harus stabil sehingga konsentrasinya tidak mudah berubah.
Penggolongan Titrasi

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan beberapa masalah dalam titrasi yaitu:
1. Cara menentukan titik akhhir yang harus tepat.
2. Cara menghitung jumlah analit harus benar.
3. Cara menentukan konsentrasi larutan baku harus teliti.
Ketiga hal ini penting sekali dan sebelum membahas lebih jauh akan dibahas terlebih dahulu
tentang penggolongan titrasi.

A. Titrasi berdasarkan reaksi-reaksi metatetik, yaitu reaksi pertukaran ion, disini tidak ada unsur
yang berubah tingkat valensinya. Contohnya adalah titrasi asam kuat oleh basa kuat atau
sebaliknya, misalnya:
HCl + NaOH
NaCl + H2O
Reaksi ini dikatakan pertukaran ion karena Cl- yang semula terikat dengan H+ bertukar tempat
dengan OH- yang sebelumnya terikat pada Na+. Semua unsur setelah reaksi masih sama tingkat
valensinya.
Macam titrasi ini dibedakan menjadi:
1. Titrasi asidimetri-alkalimetri yaitu titrasi yang menyangkut asam dan atau basa. Dalam titrasi ini
perubahan terpenting yang mendasari penentuan titik akhir dan cara perhitungan adalah pH titrat.
Reaksi-reaksi yang terjadi dalam titrasi ini adalah:

asam dengan basa (reaksi penetralan); agar kuatitatif, maka asam dan atau basa yang
bersangkutan harus kuat.

asam dengan garam (reaksi pembentukan asam lemah) agar kuatitatif asam harus kuat dan
garam itu harus terbentuk dari asam lemah.
Contoh:
HCl + Na2CO3
NaHCO3 + NaCl
2HCl + Na2CO3
H2O + CO2 + 2NaCl
HCl + NH4BO2
HBO2 + NH4Cl
basa dengan garam agar kuantitatif basa harus kuat dan garam harus terbentuk dari basa lemah,
jadi berdasarkan pembentukan basa lemah tersebut.
2. Titrasi presipitimetri yaitu titrasi dimana terbentuk endapan. Semakin kecil kelarutan endapan,
semakin sempurna reaksinya.
B. Titrasi berdasarkan reaksi redoks yaitu terjadinya perpindahan elektron, disini terdapat unsurunsur yang mengalami perubahan tingkat valensi.
Titik Akhir
Tentang penentuan titik akhir sudah disebutkan beberapa kemungkinannya. Secara spesifik
macam indikator yang dipergunakan dibahas dalam pembicaraan tiap macam titrasi. Bila tidak
dipergunakan alat sebagai indikator, maka titik akhir dilihat bila ada perubahan:
1.

Warna yaitu larutan tidak berwarna menjadi berwarna tertentu atau larutan berwarna lenyap
warnanya atau larutan berwarna satu berubah menjadi warna lain.
2. Kekeruhan yaitu larutan yang jernih menjadi keruh atau sebaliknya.
Bila tidak ditambahkan indikator, maka perubahan warna terjadi karena titran atau titrat
mempunyai warna,
Pembuatan Larutan Baku Dan Standardisasi
Karena titrasi merupakan jalan yang paling sederhana untuk standardisasi, maka penting
untuk mengetahui sifat-sifat atau syarat-syarat yang diperlukan untuk bahan baku primer yaitu:

1. Sangat murni, atau mudah dimurnikan, mudah diperoleh dan dikeringkan


2. Mudah diperiksa kemurniannya (mengetahui macam dan jumlah pengotornya)
3. Stabil dalam keadaan biasa, setidak-tidaknya selama ditimbang
4. Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen yang tinggi untuk mengurangi kesalahan
penimbangan
5. Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi.

Indikator pH Atau Indikator Asam-Basa


Indikator asam-basa adalah suatu zat yang dapat berubah warnanya apabila pH
lingkungannya berubah.
Tabel : Beberapa indikator asam-basa yang penting
No
Nama
Trayek pH
Warna
.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Kuning Metil
Metil jingga
Hijau Bromkresol
Merah Metil
Brom timol biru
Merah Fenol
Purper Kresol
Fenolftalein
Timolftalein
Kuning Alizarin

2.9 4.0
3.1 4.4
3.8 5.4
4.2 6.3
6.0 7.6
6.4 8.0
7.4 9.6
8.0 9.6
9.3 10.5
10.1 12.0

Asam
Merah
Merah
Kuning
Merah
Kuning
Kuning
Kuning
-

Warna
Basa
Kuning
Kuning
Biru
Kuning
Biru
Merah
Purpur
Merah
Biru
Violet

Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukan titik akhir titrasi, maka :
1.

Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran ekivalen dengan titrat yaitu agar tidak
terjadi kesalahan titrasi (selisih antara titik akhir dan titik ekivalen)
2. Perubahan warna itu harus terjadi secara mendadak agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan
titrasi harus dihentikan. Bila perubahan warna mendadak sekali yaitu tetes terkahir menyebabkan
warna sama sekali lain, maka dikatakan bahwa titik akhirnya tegas (sharp)
DAFTAR PUSTAKA
Widarsih, Wiwi.,Nur Aeni, Iceu, 2007 ; Dasar Kerja Laboratorium, BOGOR : Sekolah
Menengah Analis Kimia Bogor.

KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA


PENGERTIAN DAN FUNGSI LEMBAR DATA KESELAMATAN BAHAN
Lembar Data Keselamatan Bahan atau dalam istilah asing disebut sebagai Material Safety
Data Sheet (MSDS) adalah sekumpulan informasi singkat dan padat mengenai data fisik / kimia
suatu material (bahan kimia) termasuk berbagai tindakan keselamatan yang perlu dilakukan serta
penanganannya.
LABEL
Pemasok komersial biasanya memberi label tindakan pencegahan pada wadah bahan
kimianya. Label biasanya menunjukkan bahaya utama yang terkait dengan isinya. Perhatikan
bahwa label tindakan pencegahan tidak menggantikan MSDS, LCSS, dan ICSC sebagai sumber
informasi utama untuk penilaian risiko. Tetapi, label bertindak sebagai pengingat berharga
tentang bahaya utama yang terkait dengan zat tersebut. Sama dengan MSDS, kualitas label dapat
berubah-ubah. Jika wadah diterima tanpa label komersial, tanda bahaya yang sesuai harus
dipasang pada wadah sebelum bahan kimia dapat digunakan di laboratorium.
SISTEM HARMONISASI GLOBAL UNTUK KOMUNIKASI BAHAYA
Sistem Harmonisasi Global untuk Klasifi kasi dan Pelabelan Bahan Kimia (Globally
Harmonized System, GHS) adalah sistem yang diakui secara internasional untuk klasifi kasi dan
komunikasi bahaya. GHS mengelompokkan zat menurut bahaya fisik, kesehatan, dan lingkungan
yang dimilikinya dan memberikan label berbasis piktogram standar untuk menunjukkan bahaya

tersebut. Label wadah harus menyertakan penanda produk dengan informasi bahan penyusun
berbahaya, informasi pemasok, piktogram bahaya (Gambar B.1), kata isyarat, pernyataan
bahaya, informasi pertolongan pertama, dan informasi tambahan. Tiga dari elemen ini
piktogram, kata isyarat, dan pernyataan bahayadibakukan menurut GHS. Kata isyarat
Bahaya atau Peringatan mencerminkan keparahan bahaya yang ditimbulkan. Pernyataan
bahaya adalah frasa standar yang menjelaskan sifat bahaya
yang ditimbulkan oleh bahan (msl., pemanasan dapat menyebabkan ledakan).