Anda di halaman 1dari 9

Asad Aly:

Ridwan dan Tomy adalah pilot yang direkrut oleh Herry, pilot Indonesia yang telah
bergabung ke Jamaah Islamiyah, dan berperang di wilaytah ISIS. Sejumlah informasi
menyebutkan Hery telah meninggal di wilayah perang di ISIS. Tapi, berdasarkan
informasi yang masuk ke Badan Intelijen Negara, Hery belum meninggal. Hery
memang mengalami luka tembak di kaki kanannya. Ia dalam perawatan ISIS, kata
seorang pejabat BIN.
Tomy dan Ridwan merupakan teman satu pengajian. Mereka tergabung dalam
pengajian pilot-pilot ini. Menurut informasi pejabat telik sandi negara itu, mereka
punya kelompok pengajian di daerah Bekasi. Mereka berguru kepada seorang ustad
yang juga telah diawasi oleh badan intelijen. Ustad ini, kata pejabat tadi, di luar
nama-nama yang sudah kadung terkenal selama ini di kalangan kelompok Islam
garis geras jihadis.
Guru agama yang mengajari mereka sehingga kepincut ISIS, kata pejabat intelijen
tadi, adalah jaringan dari Aman Abdurrahman dan Abu Bakar Baasyir. Dua orang ini
kini dipenjara di Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah dengan tuduhan melakukan
kejahatan terorisme. Ustad itu lulusan Ngruki, dan Murid Abu Bakar Baasyir, kata
pejabat intelijen.
Menurut pejabat tadi, tiga pilot itu semula orang yang pengetahuan agama dan
ibadahnya biasa-biasa saja. Setelah masuk kelompok pengajian, sikap dan
pandangan merek terhadap agama mengeras. Mereka tergiur dengan pandangan
keagamaan jihadi salafi, yang menjadi jaringan ISIS di Indonesia.
Menurut pejabat intelijen itu, ISIS perlu merekrut pilot bukan untuk melakukan teror
seperti ke serangan ke WTC dan Pentagon. Secara intelijen, bukan zamannnya lagi
terus dengan menabrakkan pesawat, katanya. Pilot berfungsi untuk menjadi kurir
pengiriman uang. Dalam jumlah tertentu, uang membawa uang tidak perlu
pengawasan ketat. Misalnya, sekali bawa 1.000 dollar Amerika Serikat.

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut membenarkan bahwa Tommy Hendratno,


seorang pilot yang diduga telah bergabung dengan ISIS, merupakan mantan
prajuritnya. Angkatan Laut mencatat Tommy sebagai alumni perwira penerbang
Diploma3 Curug tahun 1999. Tommy berpangkat Letnan Dua pada tangal 10
Oktober 2002, kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL Kolonel Zainuddin ketika
dihubungi Tempo, Kamis, 9 Juli 2015.
selanjutnya, Tommy terakhir kali berpangkat Kapten terhitung sejak April 2010 dan
memutuskan pensiun tujuh bulan berikutnya. Terakhir bertugas, Tommy tergabung
dalam Skuadron 200 di Pangkalan Udara TNI AL Juanda, Surabaya. Setelah
pensiun, Tommy bergabung dengan perusahaan penerbangan sipil Premiair, kata

Zainuddin. Zainuddin menegaskan bahwa Tommy sudah bukan bagian dari prajurit
TNI AL. Walhasil Tommy bukan lagi tangungjawab dari TNI AL. Kami tegaskan dia
bukan berada di naungan kami lagi, kata dia.

Tomi Hendratmo, pilot perusahaan penerbangan sewaan menyangkal dan


membantah jika dirinya sudah bergabung dengan kelompok teroris Islamic State of
Iraq and al-Sham (ISIS) seperti yang dituduhkan pihak Kepolisian Federal Australia
(AFP). "Saya aneh dan lucu aja kenapa orang dan negara kita lebih percaya dengan
negara lain, " kata Tomi yang tengah melakukan I'tikaf di Mesjid Raya Hasmi Ali bin
Abi Tholib, Jalan Purnama, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jum'at 10 Juni
2015 petang.
Dia mengatakan, selama dirinya menjadi pilot dan menerbangkan pesawat carteran
(sewaan) dia tidak pernah ke wilayah Timur Tengah, bahkan Turki, sehingga dirinya
tidak mengerti alasan dan dasar pihak Australia yang mengeluarkan informasi
inteljen tersebut, "Ya saya terbang ke Austarlia aja cuma beberapa kali dan terakhir
1 tahun lalu, menerbangkan pesawat ke sana," kata dia.

Menurutnya, selama bertugas di perusahaan penerbangan pesawat sewaan dirinya


paling banyak dengan tujuan Amerika terutama Amerika selatan, "Kalo ke negaranegara yang ada di Amerika selatan hampir semuanya pernah, akan tetapi kan
meski saya pernah kesana termasuk Australia hanya menerbangkan pesawat dan
menjadi pilot saja," kata dia.
Menurut dia, meskipun dirinya sudah menjadi korban fitnah dan tudingan menjadi
pilot yang terlibat Isis akan tetapi Tomi tidak berniat untuk mengambil jalan hukum,
"Ya biarkan saja, yang penting tudingan dan fitnah yang ditujukan ke saya tidak
benar, saya dan istri pun ikhlas," kata pria yang tinggal di Perumahan Bogor
Nirwana Residence (BNR) Kota Bogor.
Akan tetapi, ungkap dia, jika informasi dan tudingan dirinya telah bergabung dan
menjadi pilot Isis seperti tuduhan AFP dan dilangsir media, membuat rencana
kontrak baru dirinya menjadi pilot di salah satu perusahaan penerbangan sewaan
membatalkannya maka dirinya pun tidak akan diam, "Jika fitnah ini menggangu
'Raidoh' (rejeki) saya dan keluarga saya, media juga andil disitu karena pemberitaan
tidak benar, makanya saya pun berharap media juga bertangungjawab untuk
memberihkan dan menginformasikan yang sebenarnya," kata dia.
Dia juga mengatakan bahwa, nama akun di media sosial Facebook memakai nama
Abu Alfatih Hendratno, jika nama Abu Alfatih yang tersebut memiliki arti 'Bapak
atau Ayah dari anaknya yang bernama Alfatih "Anak saya nanamnya Alfatih dan
saya ayahnya, maka Abu Alfatih itu bapak dari Alfatih, " kata dia.

Tomi Hendrianto alias Abu Alfatih Hendratno, pilot Indonesia di salah satu
perusahaan penerbangan swasta yang dituduh pihak Australia Federal Police (AFP)
telah bergabung dengan kelompok teroris Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS)
mengaku jika dirinya kenal dekat dengan Ridwan alias Ridwan Ahmad Al Indonesiy,
adalah mantan pilot AirAsia yang juga dituduh bergabung dan menjadi pilot ISIS.
"Saya kenal dekat dengan Mas Ridwan karena beliau saudara saya, karena dia
merupakan kakak kelas waktu belajar di STP (Sekolah Tinggi Penerbangan) Curug
Tangerang," kata Tomi, saat ditemui Tempo yang tengah melakukan I'tikaf di Mesjid
Raya Hasmi Ali bin Abi Tholib, Jalan Purnama, Kecamatan Tamansari, Kabupaten
Bogor, Jum'at 10 Juni 2015 petang.
Dia mengatakan jika dirinya merupakan taruna di STP Curug Tanggerang angkatan
55, sedangkan Ridwan merupakan senior karena kakak kelas satu tingkat diatas
dirinya, "Kalo Mas Ridwan itu senior saya saat di STP Curug satu tingkat diatas saya
dan beliau itu angkatan 54," kata dia. Tomi mengaku, terakhir dirinya melakukan
komunikasi dengan Ridwan yang merupakan Pilot di AirAsia tersebut dua tahun lalu,
"Terakhir komunikasi dua tahun lalu, dan baru-baru ini saya kehilangan kontak, "
kata dia.
Karena pada saat dirinya akan melakukan komunikasi melalui pesan di Facebook,
ternyata akun yang dia punya sudah tidak aktif, "bahkan kontak BBM milik beliau
pun di HP saya sudah tidak aktif, sempat saya kontak akan tetapi ceklis dan tidak
terkirim," kata dia.
Dia baru mengetahui jika Ridwan dipecat tidak hormat dari perusahaan
Penerbangan AirAsia, belum lama ini setelah pihak AirAsia memberikan pernyataan
reski karena Ridwan diduga bergabung dengan Isis, "Saya juga baru tahu informasi
itu, tapi kenapa saya dihubungkan dengan Ridwan, atau mingkin karena dekat atau
seperti apa," kata dia.
Dia mengaku, saat ini masih menunggu kontrak baru menjadi Pilot di perusahaan
penerbangan sewaan yang lain, "Saya tinggal tandatangan kontrak baru dengan
perusahaan yang lain akan tetapi saya meminta waktu untuk melaksanakan I'tikaf
di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini," kata dia. Tomi mengaku, jika dirinya
merupakan anggota TNI Angkatan Laut dan sempat menjalani pelatihan militer
yang ditugaskan oleh angkatanya itu ke Prancis, "Pelatihan itu memang ditugaskan
dari AL dan pelatihanya menyangkut penerbangan," kata dia.
Dirinya memutuskan untuk keluar dari TNI Angkatan laut dengan pangkat Kapten
pada saat mengambil pensiun dini, "Keputusan yang saya ambil tidak melanggar
hukum dan memang sudah ada aturanya," kata dia.

Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti mengatakan dua pilot yang terduga
bergabung dengan Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS) belum berbaiat. Kata dia,
keduanya hanya menjadi simpatisan atau mendukung kegiatan ISIS melalui akun
Facebook-nya. "Mereka juga tidak ada kaitan dengan jaringan ISIS yang ada di
Indonesia," kata Badrodin di Markas Besar Polri, Jumat malam, 10 Juli 2015.
Dua mantan pilot AirAsia, Ridwan Agustin alias Ridwan Ahmad Al Indonesiy dan
Tomi Hendratno alias Tommy Abu Al Fatih, dikabarkan bergabung dengan ISIS.
Ridwan bahkan dikabarkan sempat hijrah ke Kota Raqqa, Suriah. Namun, Badrodin
membantah kabar tersebut. Dia mengungkapkan posisi Ridwan terakhir berada di
Bandung dan Tomi berada di Bogor hingga Kamis malam. "Tapi, kami akan selidiki
lagi apa mereka pernah ke Suriah," ujarnya. Badrodin memperkuat pendapatnya
dengan bukti kebiasaan Tomi yang kerap mengenakan baju koko. "Biasanya ISIS
tidak suka pakai baju koko," tutur mantan Wakil Kapolri itu.

Adapun kabar dua pilot yang bergabung di ISIS itu dilansir situs asal Amerika
Serikat, The Intercept, Selasa malam, berdasarkan bocoran dokumen yang mereka
miliki soal laporan intelijen Kepolisian Federal Australia (AFP), setebal 10 halaman,
tertanggal 18 Maret 2015. Dokumen itu berjudul Operational Intelligence Report:
Identification of Indonesian pilots with possible extremist persuasions.

AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
Dua warga Indonesia dilaporkan bergabung dengan organisasi militan ISIS. Laporan
ini dilansir The Intercept yang memperoleh dokumen intelijen milik Australian
Federal Police (AFP). Seorang dari kedua WNI itu bernama Ridwan Agustin yang dulu
berprofesi sebagai pilot AirAsia. Ridwan adalah seorang pilot lulusan AirAsia
Academy yang pernah berlatih di markas Airbus di Toulouse, Prancis pada 2009 dan
lulus dari akademi pada Januari 2010. Selain beberapa rute domestik, ia
menerbangkan rute internasional dengan tujuan Hong Kong dan Singapura.
Sebelum September 2014 di akun Facebook yang ia miliki, foto dirinya bersama
pesawat merupakan pemandangan yang wajar. Sesekali istri dan anaknya serta kru
pesawat menemaninya dalam foto-foto tersebut. Namun setelah bulan tersebut
muncul sejumlah foto yang menunjukkan dukungannya terhadap ISIS.
Ia mulai berteman dan berinteraksi di dunia maya dengan akun-akun yang pro-ISIS
termasuk pejuang asal Indonesia yang mendokumentasikan pertempurannya di
Suriah dan Iraq. Ridwan pun mengubah nama profilnya dari Ridwan Agustin menjadi

Ridwan Ahmad Indonesiy dan menunjukkan ketertarikannya untuk terjun ke


pertempuran di Kobani, Suriah. Selain itu menurut laporan tersebut, Ridwan
mengontak pilot maskapai lain yang juga mulai mendukung ISIS.
Seorang pilot dari maskapai yang berinteraksi dengan Ridwan itu adalah Tommy
Hendratno. Juga berasal dari Indonesia, ia memakai nama lain Tomi Abu Alfatih.
Sedangkan profil Facebook terkini namanya tertulis sebagai Abu Alfatih Hendratno.
Berdasarkan laporan juga akun sosial media miliknya, Hendratno adalah bekas
anggota militer yang pernah berlatih di Paris dan bekerja di sekolah penerbangan
besar Indonesia. Belum lama, ia menerbangkan pesawat pribadi untuk perusahaan
penerbangan eksklusif komersial Premiair.
Pada Februari lalu Hendratno mengikuti latihan penerbangan di Flight Safety
International, sebuah sekolah penerbangan di St. Louis, Missouri. Latihan tersebut
terjadi beberapa kali selama 3 tahun terakhir. Beberapa foto terkait dukungannya
terhadap kegiatan ISIS seperti pemenggalan sandera, video propaganda,
menyelingi foto kegiatannya di sana yang ia unggah lewat Facebook.
Baik AirAsia, tempat Ridwan dulu bekerja, maupun Fligt Safety International, tempat
berlatih Hendratno, sampai saat ini menolak memberi keterangan apa pun terkait
kabar ini. The Intercept, yang pertama kali memperoleh laporan dua WNI yang
bergabung dengan ISIS ini, telah menghubungi kedua instansi tersebut.
"Perlu diketahui bahwan Ridwan Agustin dan Diah Suci Wulandari tidak lagi bekerja
untuk AirAsia Indonesia. Maka dari itu kami tidak bisa berkomentar lebih jauh
tentang mereka," ujar juru bicara AirAsia, Audrey Petriny. Diah Suci Wulandari
adalah istri dari Ridwan yang dulu bekerja sebagai pramugari di satu maskapai yang
sama. Sejurus dengan AirAsia, juru bicara Flight Safety International juga menolak
merespon pertanyaan dari The Intercept pada Senin lalu. "Saya benar-benar tidak
tahu mengenai ini jadi saya tidak bisa berkomentar," kata Steve Philips.
Sidney Jones, kepala Institute for Policy Analysis yang berbasis di Jakarta, menyebut
dua orang tersebut dapat menimbulkan ancaman besar. Menurutnya, pengetahuan
dan akses mereka terhadap dunia penerbangan sanggup melukai banyak orang
seperti yang terjadi dulu. "Sangat masuk akal jika pihak Australia terlihat resah atas
temuan ini," ujarnya.

Dua orang pilot Indonesia disinyalir telah bergabung dengan kelompok radikal
Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS). Kabar ini dilansir situs asal Amerika Serikat, The

Intercept, berdasarkan bocoran dokumen yang mereka miliki soal laporan intelijen
Kepolisian Federal Australia (AFP).
Dalam laporan setebal 10 halaman itu disebutkan Tomi Hendratno alias Abu Alfatih
Hendratno dan satu pilot lain asal Indonesia, Ridwan Agustin, diduga sudah berada
di Suriah atau Irak karena terpengaruh propaganda pro-ISIS. Dugaan ini muncul
karena laman media sosial mereka yang sering menyerukan kaum muslim untuk
berjihad.
Dalam laman Facebook Tomi Hendratno alias Abu Alfatih Hendratno Tempo
menemukan gambar-gambar yang memang menunjukkan dukungan ke NIIS. Dalam
gambar yang diunggah Tomi pada Februari lalu, tertulis Negaramu merampok
rakyatnya; Negara Islam melayani rakyatnya, disertai kutipan zakat-jizyah dan
pajak. Salah satu posting-an Tomi pada 19 Maret lalu adalah gambar seorang pria
memegang bendera berlambang khas ISIS dan seruan berjihad.
Sebelumnya, ia juga mengunggah gambar layar kerusakan sistem komputer,
namun tulisannya berbunyi Demokrasi sudah rusak! Instal kekhalifahan?. Ada
juga yang secara gamblang mencantumkan nama NIIS alias ISIS seperti sebuah
gambar hitam putih berbunyi: Jangan komentar tentang ISIS jika tidak tahu apa itu
ISIS! Diam itu lebih selamat daripada bicara tentang sesuatu yang tak diketahui!
Tak hanya itu, Tomi juga aktif mencemooh siaran berita luar yang mengkritik NIIS.
Secara vokal ia menuding berita-berita ini munafik. Tak hanya itu, ia juga secara
tegas mengatakan kebenciannya terhadap ideologi demokrasi.
Akun Facebook Ridwan Agustin, menurut AFP, sudah tak aktif sejak 16-17 Maret
lalu. Dalam laporan tertulis namanya sudah berganti menjadi Hobi Panahan. Mantan
pilot AirAsia Indonesia ini kerap memuat postingan yang menyatakan dukungan
terhadap NIIS. Ia juga telah mengganti kota tempat tinggalnya menjadi Raqqa
basis NIIS di Suriah.
Dalam laporan AFP, sejak akunnya berganti menjadi Hobi Panahan, Ridwan tampak
berpakaian lebih konservatif. Ia juga memanjangkan janggut seperti tokoh-tokoh
Islam fanatik. Postingan di laman Facebook-nya juga berubah menjadi lebih
persuasif meradikalisasi. Istri Ridwan, Diah Suci Wulandari, juga sering
menyebarkan konten sejenis. Keduanya Hobi Panahan dan Diah sudah
menghapus akun Facebook mereka.
AFP menyorot akun keduanya karena dianggap dapat menjadi ancaman besar.
Orang-orang seperti pilot, yang memiliki akses terhadap dunia penerbangan,
berpotensi membocorkan rahasia keamanan dan keselamatan selama
penerbangan. Apalagi, majalah Al Qaeda edisi terbaru juga seara aktif menyuarakan
serangan dalam penerbangan.

SUNUDYANTORO, INDRA WIJAYA, M SIDIK PERMANA, THE INTERCEPT , DEWI SUCI


RAHAYU

Berdasarkan laporan intelijen Australia, ada seorang warga Indonesia lainnya yang
disinyalir bergabung dengan ISIS. Sebelumnya dalam laporan yang sama ada dua
orang WNI yang diduga sudah bersama pasukan ISIS di Suriah. Seorang itu adalah
Heri Kustyanto alias Abu Azzam Qaswarah Al Indonesy. Heri merupakan salah satu
orang yang berinteraksi dengan Ridwan Agustin -mantan pilot AirAsia- di jejaring
Facebook terkait konten yang mendukung kegiatan-kegiatan ISIS.
Berbeda dengan kedua pilot itu, Heri sudah lebih dulu bergabung dengan ISIS. Hal
ini bisa diketahui dari kumpulan foto yang ia unggah di laman Facebook-nya
berjudul Come Back to Kobani. Album tersebut berisi foto-foto saat bertempur di
Kobani selama 3 hari serta beberapa di zona konflik lain. Pengamatan laman oleh
intelijen Australia (AFP) juga memperlihatkan Heri lebih dulu terjun bersama ISIS
dibanding Ridwan maupun Hendratno -seorang pilot lain yang dulu bekerja untuk
maskapai Premiair.
Jaringan pertemanannya berkaitan erat dengan nama-nama kelompok ekstremis
seperti ISIS maupun kelompok teroris Indonesia lainnya dengan anggota yang
tersebar dari Australia, Malaysia, Indonesia, Singapura, Inggris Raya, Suriah,
Pakistan, dan Afganistan. Belum lagi diperkuat dengan banyaknya foto Heri
memegang beberapa jenis senapan tempur.

Sidney Jones, kepala Institute for Policy of Conflict (IPAC) yang bermarkas di Jakarta
menyebut Heri hanya seorang dari tiga orang Indonesia yang dilatih sebagai
pasukan elit ISIS. Salah satu rekan Heri dalam pasukan elit itu adalah Maskur, yang
muncul sebagai eksekutor dalam video pemenggalan warga Amerika Serikat Peter
Kassig. Menurut IPAC, eksekusi yang dilakukan Maskur tersebut terjadi di bulan Mei.
"ISIS menjadi memberi dampak besar bagi usaha melawan terorisme. Kemunculan
sebuah video pada Juli ini yang berisi ajakan bergabung kepada warga Indonesia
membuat pemerintah, masyarakat, dan kelompok agama melawan ancaman ISIS,"
tertulis dalam laporan tersebut.

Meski demikian informasi bergabungnya Ridwan dan Hendratno baru-baru ini


seakan memperlihatkan usaha tersebut masih belum ampuh mencegah ideologi
berbahaya masuk ke tanah air. Pemerintah menyatakan ada 300 warga Indonesia
pergi ke Timur Tengah bergabung dengan aktivitas terorisme sejak 2012.

Komunitas Intelijen Daerah (Kominda) Kota Bekasi mencatat sedikitnya delapan


masjid di wilayah itu dijadikan tempat kegiatan menyebarkan ideologi kelompok
Islamic State of Iraq and Syam (ISIS). (Baca: Endus ISIS, Intelijen Daerah Lintas
Sektor Disebar)

"Kalau ikrar dukungan baru di Masjid Al Muhajirin, Jalan Pulo Sirih, Pekayon," kata
Ketua Kominda Kota Bekasi Maryono pada Tempo, Rabu, 6 Agustus 2014. Adapun, di
tujuh masjid lainnya baru mencoba melakukan penguasaan, seperti yang dilakukan
di Masjid Muhammad Ramadhan, Jalan Pulo Ribung, Pekayon. (Baca: Banser Tolak
Pembaiatan Pengikut ISIS di Sidoarjo)

Ia menyebutkan sejumlah tempat ibadah itu, di antaranya Masjid Muhammad


Ramadhan di Jalan Polu Ribung, Pekayon Jaya; Masjid Jannatul Firdaus di Jalan
Taman Soka, Taman Galaxi Indah; Masjid Al-Jiqro, Jalan Lotus Raya, Jaka Setia; dan
Masjid Al Muhajirin, Perumahan Centuri, Pekayon Jaya. (Baca: Jemaah Torikoh:
Ansharul Khilafah Jaringan ISIS)

Selain itu, juga Masjid Al Hikmah di Irigasi Prima Raya, Bekasi Jaya, dan Masjid Imam
Bukhori. "Kami juga mendapatkan informasi bahwa di Isalamic Center Kota Bekasi,
dijadikan tempat bagi mereka melebarkan sayapnya," kata Maryono. (Baca: Enam
Wilayah Indonesia Waspada Penyebaran ISIS)

Kominda mengidentifikasi mereka dari kelompok Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) Kota
Bekasi pimpinan Syamsuddin Uba. Anggotanya tercatat sekitar 50 orang. "Kami
yakin bisa lebih," kata dia. "Yang teridentifikasi orang-orangnya baru 30 orang,"
kata Maryono. (Baca: Deklarasi ISIS di Malang, Bupati:Tidak Kecolongan)

Pimpinan Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) Kota Bekasi, Syamsuddin Uba, menolak
disebut sebagai penggerak jamaah ISIS. "Itu tidak benar," kata Syamsuddin. (Baca:
Pemerintah Blokir 27 Video ISIS di Internet)

Secara pribadi ia mengaku mendukung ISIS, sebab memiliki kesamaan visi dan misi.
Dia mengatakan ISIS memiliki kiblat, nabi, serta ajaran yang sama. Sehingga sudah
seharusnya didukung. (Baca: Isu ISIS Bom Jakarta, Polda: Itu Hoax)

ADI WARSONO