Anda di halaman 1dari 17

A.

Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian
Cedera kepala merupakan trauma yang meliputi trauma kulit
kepala, tengkorak dan otak (Brunner and Suddart, 2002).
Trauma atau cedera kepala adalah gangguan fungsi normal otak
karena trauma, baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Defisit
neurologis terjadi karena robeknya substansia alba, iskemia, dan
pengaruh massa karena hemorogik, serta edema serebral di sekitar
jaringan otak (Batticaca, 2008).
Cedera kepala merupakan proses dimana terjadi trauma langsung
atau deselerasi terhadap kepala yang menyebabkan kerusakan tengkorak
dan otak (Grace & Borley, 2006).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa cedera kepala adalah trauma tumpul
atau trauma tajam yang terjadi secara langsung atau deselerasi, yang
meliputi kulit kepala, tengkorak dan otak, serta dapat menyebabkan
penurunan fungsi neurologis.
2. Anatomi Fisiologi
Otak dilindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang
membungkusnya.
Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeutrotika jaringan
fibrosa, padat, dapat digerakkan dengan bebas, yang membantu

menyerap kekuatan trauma eksternal.


Di antara kulit dan galea lapisan lemak dan lapisan membran

dalam yang mengandung pembuluh-pembuluh besar


Di bawah galea terdapat ruang subaponeurotik mengandung vena
emisaria dan diploika. Pembuluh-pembuluh ini dapat membawa
infeksi dari kulit kepala sampai jauh ke dalam tengkorak.

Sumber: en.wikipedia.org
a. Otak
Otak dibagi menjadi tiga bagian besar: serebrum, batang otak, dan
serebelum. Semua berada dalam satu bagian struktur tulang yang disebut
tengkorak. Empat tulang yang berhubungan membentuk tulang
tengkorak: tulang frontal, parietal, temporal, oksipital.
Pada fossa anterior berisi lobus frontal serebral bagian hemisfer; bagian
tengah fossa berisi lobus parietal, temporal dan oksipital, dan fossa
posterior berisi batang otak dan medulla.
Meningen
Meningen terdiri dari: durameter, arakhnoid, dan piameter
a. Durameter
Membran luar yang liat, semitranslusen dan tidak elastic
Fungsi:
- melindungi otak
- Menutupi sinus-sinus vena
- Membentuk periosteum tabula interna
b. Arakhnoid
Membran fibrosa halus dan elastis. Di antara arakhnoid dan
piameter terdapat ruang subarachnoid. Ruangan ini melebar dan
mendalam pada tempat tertentu, dan meningkatkan sirkulasi
CSF.
Pada sinus sagitalis superior dan transversal arakhnoid
membentuk tonjolan villus yang bertindak sebagai lintasan
untuk mengosongkan CSF ke dalam sistem vena.

c. Piameter
Membran halus yang mempunyai sangat banyak pembuluh
darah halus dan merupakan satu-satunya lapisan meningeal yang
masuk ke dalam semua sulkus dan membungkus semua girus.
Pada beberapa fisura dan sulkus di sisi medial hemisfer otak,
piameter membentuk sawar antara ventrikel otak dan sulkus atau
fisura. Sawar ini merupakan struktur penyokong dari pleksus

koroideus setiap ventrikel.


Serebrum
Terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus. Substansia grisea terdapat
pada bagian luar dinding serebrum dan substansia alba menutupi
dinding serebrum bagian dalam. Komposisi substansia grisea yang
terbentuk dari badan-badan sel saraf memenuhi korteks serebri,
nukleus dan basal ganglia. Substansia alba terdiri dari sel-sel saraf
yang menghubungkan bagian-bagian otak dengan bagian lain
sebagian besar hemisfer serebri (telensefalon) berisi jaringan SSP.
Keempat lobus serebrum:
- Frontal lobus terbesar: terletak pada fossa anterior. Area ini
mengontrol perilaku individu, membuat keputusan, keprobadian
-

dan menahan diri.


Parietal lobus sensori. Area ini menginterpretasikan sensasi,
kecuali bau. Lobus ini mengatur individu mampu mengetahui

posisi dan letak bagian tubuhnya.


Temporal mengintegrasikan sensasi kecap, bau, pendengaran.

Ingatan jangka pendek sangat berpengaruh dengan daerah ini.


Oksipital terletak pada lobus posterior hemisfer serebri.
Bagian ini bertanggung jawab menginterpretasikan penglihatan.

Sumber: http://www.google.co.id

Diensefalon
Fossa bagian tengah atau diensefalon berisi talamus, hipotalamus,
dan kelenjar hipofisis.
- Talamus sebagai pusat penyambung sensasi bau yang
diterima. Semua impuls memori, sensasi dan nyeri melalui
-

bagian ini. (grey matter terletak di kedua sisi ventrikel III)


Hipotalamus terletak pada anterior dan inferior thalamus.
Fungsi: mengontrol dan mengatur sistem saraf otonom.
Hipotalamus

bekerja

sama

dengan

hipofisis

untuk

mempertahankan keseimbangan cairan, pengaturan suhu tubuh


dan mempengaruhi sekresi hormonal. Selain itu juga sebagai
pusat lapar dan mengontrol berat badan, pengatur tidur, tekanan

darah, perilaku agresif dan seksual dan emosional.


Batang otak
Terletak pada fossa posterior, tersusun atas otak tengah, pons dan
medula oblongata. Otak tengah menghubungkan pons dan serebelum
dengan hemisfer serebrum, berisi jalur sensorik dan motorik dan
sebagai pusat reflex pendengaran dan penglihatan. Medula oblongata
meneruskan serabut-serabut motorik dari otak ke medula spinalis
dan serabut sensorik dari medula spinalis ke otak. Pons berisi pusatpusat terpenting dalam mengontrol jantung, pernafasan, tekanan

darah, dan sebagai asal-usul saraf otak kelima-kedelapan.


Serebelum

Terletak pada fossa posterior dan terpisah dari hemisfer serebral,


lipatan durameter, tentorium serebelum. Mempunyai dua aksi yaitu
merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang luas
terhadap koordinasi dan gerakan halus, serta mengontrol gerakan
yang benar, keseimbangan, posisi dan mengintegrasi input sensorik.
b. Sirkulasi CSF
Merupakan cairan jernih dan tidak berwarna yang bersirkulasi di
ruang subarakhnoid dan rongga-rongga dalam otak dan sumsum tulang
belakang (terdiri dari air, protein, garam mineral, glukosa, leukosit, urea,
kreatinin). Berfungsi sebagai pelindung mekanis dan kimiawi serta
sirkulasi nutrisi dan zat buangan dari dan ke darah.

Sumber: Color Atlas of Pathofisiology


CSF dibentuk dalam pleksus koroid dari lateral ventrikel melalui
foramen interventrikular (Monro) menuju ventrikel III melalui
aquaductus cerebral (Sylvii) menuju ventrikel IV mengalir melalui
Foramen Luschka dan Foramen Magendi bersirkulasi melalui ruang
subarachnoid direabsorsi di vili arakhnoid (granulasi) ke dalam
sinus vena pada duramater kembali ke aliran darah tempat asal
produksi cairan tersebut.

Sumber: www.google-image.com
c. Sistem Serebral
Sirkulasi serebral menerima kira-kira 20% dari curah jantung atau
750 mL per menit.
Arteri-arteri:
Darah arteri yang disuplai ke otak berasal dari dua arteri karotid
interna dan dua arteri vertebral dan meluas ke sistem
percabangan. Karotid interna dibentuk dari percabangan dua
karotid dan membentuk sirkulasi darah otak bagian anterior.
Arteri-arteri vertebral adalah cabang dari arteri subklausa,
mengalir ke belakang dan naik pada satu sisi tulang belakang
bagian vertikal dan masuk tengkorak melalui foramen magnum,
kemudian saling berhubungan menjadi arteri basilaris pada
batang otak. Arteri vertebrobasilaris paling banyak menyuplai
darah ke otak bagian posterior. Arteri basilaris membagi menjadi
dua cabang pada arteri serebralis bagian posterior.

Sirkulus Willisi:
Pada dasar otak di sekitar kelenjar hipofisis, sebuah lingkaran
arteri terbentuk di antara rangkaian arteri karotid internal dan

vertebral. Dibentuk dari cabang-cabang arteri karotid internal,


anterior, dan arteri serebral bagian tengah, dan arteri
penghubung anterior dan posterior. Aliran darah dari sirkulus
willisi secara langsung mempengaruhi sirkulasi anterior dan
posterior serebral, arteri-arteri pada sirkulus willisi memberi rute
alternatif pada aliran darah jika salah satu peran arteri mayor
tersumbat.

Sumber: www.google.com/sirkulasi-wilisi

Vena:
Aliran vena untuk otak tidak menyertai sirkulasi arteri. Venavena pada otak menjangkau daerah otak dan bergabung menjadi
vena-vena

besar.

Penyilangan

pada

subarakhnoid

dan

pengosongan sinus dural yang luas, memengaruhi vascular yang


terbentang dalam duramater yang kuat. Jaringan kerja pada
sinus-sinus membawa vena ke luar dari otak dan pengosongan
vena jugularis interna menuju sistem sirkulasi pusat.
d. Sistem Saraf Kranial

3. Etiologi
Penyebab cedera atau trauma kepala yang dapat meneybabkan kerusakan
kepala dan jaringan otak sangat bervariasi dari tekanan yang paling
ringan sampai kecelakaan lalu lintas. Pada anak-anak cedera kepala
sering disebabkan oleh jatuh dari meja, kursi, tangga, tempat tidur dan
lain-lain. Sedangkan pada anak yang lebih besar sering disebabkan oleh
mengendarai sepeda atau karena kecelakaan lalu lintas (McLaurin RL
and Towbin R dalam Jupardi, 2002).
4. Patofisiologi
Kulit kepala, rambut, tulang tengkorak dan tulang muka melindungi
otak dari cedera. Bila cedera dengan tekanan sedang dapat terjadi fraktur
linear, tetapi bila dengan kekuatan yang tinggi dapat menyebabkan suatu
fraktur depresi. Otak dan tengkorak memberi respon yang berbeda
terhadap kekuatan akselerasi dan deselerasi yang disebabkan oleh

pukulan. Pergerakan otak pada permukaan tengkorak bagian dalam yang


ireguler dan tajam (seperti permukaan orbita, pada fossa frontalis,
sphenoid ridge, falx dantentorium) dapat menyebabkan terjadinya
leserasi dan kontusio pada otak, vena serebral yang berhubungan dengan
sinus venosus dapat robek sehingga darah akan masuk ke ruang subdural.
Fraktur juga dapat menyebabkan putusnya arteri meningeal dan sinus
venosus yang besar menyebabkan perdarahan pada ruang epidural.
Setelah cedera otak, cerebral blood flow dapat menurun oleh karena vaso
spasme, sedangkan pada daerah yang lain dapat terjadi dilatasi arteriol
akibat hilangnya mekanisme pengaturan yang otomatis. Akibat daripada
vasodilatasi pembuluh darah disertai dengan edem serebri dan adanya
hematoma dapat meninggikan tekanan intrakranial (Russel & Patterson
dalam Japardi, 2002).
Terjadi rusaknya kontinuitas tengkorak dengan atau tanpa terjadinya
kerusakan otak. Adanya fraktur tengkorak biasanya dapat menimbulkan
dampak tekanan yang kuat. Fraktur terngkorak diklasifikasikan menjadi
terbuka atau tertutup. Bila fraktur terbuka, maka durameter rusak, dan
pada fraktur tertutup, keadaan durameter tidak rusak. Fraktur kubah
cranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur. Fraktur dasar
tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang frontal atau
lokasi tengah telinga di tulang temporal, juga sering menimbulkan
hemorogi dari hidung, faring, atau telinga dan darah terlihat di bawah
konjungtiva.
Cedera minor dapat menyebabkan kerusakan otak bermakna. Otak
tidak dapat menyimpan oksigen dan glukosa sampat derajat tertentu yang
bermakna. Sel-sel serebral membutuhkan suplai darah terus-menerus.
Kerusakan otak dan kematian sel terjadi karena darah yang mengalir
berhenti dan kerusakan neuro tidak dapat mengalami regenerasi.
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang dapat muncul antara lain:
- gangguan kesadaran
- kontusio
- abnormalitas pupil

perubahan tanda vital


mual, muntah
hematoma
sakit kepala, pusing
defisit neurologis
gangguan penglihatan dan pendengaran

6. Komplikasi
- Edema serebral
- Peningkatan TIK
- Kejang
- Kebocoran cairan serebrospinalis
- Infeksi
- Herniasi otak
7. Tes Diagnostik
- Rontgen Tengkorak untuk mendeteksi adanya fraktur dan mengkaji
-

adanya penetrasi objek


Analisa Gas Darah

untuk

mengkaji

level

oksigen

dan

karbondioksida. Oksigen yang adekuat penting menjaga metabolism


serebral; karbondioksida berpotensi sebagai vasodilator, dan
peningkatan levelnya dapat berkontribusi terhadap edema serebral
-

dan peningkatan TIK


Laboratorium: glukosa serum, elektrolit dan serum osmolaritas dikaji
untuk memonitor infeksi atau kondisi yang dapat memengaruhi

aliran darah serebral atau metabolism


CT Scan atau MRI untuk mendeteksi adanya kontusio dan lesi
Pemeriksaan lain: EEG atau lumbal punksi untuk mengkaji adanya
perdarahan

8. Penatalaksanaan Medis
- Individu dengan cedera kepala diasumsika mengalami cedera
medulla servikal. Dari tempat kecelakaan, pasien dipindahkan
dengan papan di mana kepala dan leher dipertahankan sejajar. Traksi
ringan harus dipertahankan pada kepala, dan kolar servikal dipasang
sampai sinar X medula servikal didapatkan dan diketahui tidak ada
-

cedera medula spinalis servikal.


Stabilisasi kardiovaskuler dan

fungsi

pernafasan

untuk

mempertahankan perfusi serebral adekuat. Hemorogi terkontrol,

hipovolemia diperbaiki dan nilai gas darah dipertahankan pada nilai


-

yang diinginkan.
Tindakan terhadap peningkatan TIK: pertahankan oksigenasi
adekuat, pemberian manitol 20%; hiperventilasi; penggunaan
steroid; peningkatan kepala tempat tidur; dan kemungkinan bedah
neuro. Pembedahan diperlukan untuk evakuasi bekuan darah dan
jahitan terhadap laserasi kulit kepala berat. Jika perlu pasien dirawat

di ruang intensif.
Tindakan pendukung lainnya: dukungan ventilasi, pencegahan

kejang, pemeliharaan cairan elektrolit, keseimbangan nutrisi.


Terapi antikonvulsan dapat diberikan.
Bila pasien sangat teragitasi, klorpomazin dapat diberikan untuk

menenangkan pasien tanapa menurunkan tingkat kesadaran.


Selang nasogastrik dapat dipasang, bila motilitas lambung menurun
dan peristaltik terbalik dikaitkan dengan cedera kepala, dengan
mebuat regurgitasi umum pada beberapa jam pertama.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
a. Kaji riwayat kesehatan: waktu terjadinya kejadian, penyebab, posisi
saat kejadian, status kesadaran saat kejadian (durasi kehilangan
kesadaran), ada atau tidaknya amnesia setelah kejadian, pertolongan
yang diberikan segera setelah kejadian.
b. Pemeriksaan fisik
- Fungsi vital
Tekanan darah yang meninggi disertai dengan bradikardi dan
pernapasan yang tidak teratur (trias Cushing) menandakan
adanya tekanan tinggi intrakranial. Nadi yang cepat disertai
hipotensi dan pernapasan yang ireguler mungkin disebabkan
-

gangguan fungsi batang otak misalnya pada fracture oksipital.


Mata
Perlu diperiksa besar danreaksi dari pupil. Perdarahan retina
sering terlihat pada perdarahan subarakhnoid atau perdarahan

subdural.
Kepala

Diperiksa apakah terdapat luka, hematoma, fraktur. Bila terdapat


-

nyeri atau kekakuan pada leher atau perdarahan subarachnoid.


Telinga dan hidung
Diperiksa apakah terdapat perdarahan atau keluar cairan
serebrospinal dari hidung/telinga. Perdarahan telinga disertai
akimosis di daerah mastoid (Battles sign) mungkin akibat

fracture basis kranil.


Abdomen
Abdomen juga harus diperiksa terhadap kemungkinan adanya
perdarahan intra abdominal.
Kaji tingkat kesadaran GCS dan responsivitas
Fungsi saraf kranial trauma yang mengenai/meluas ke batang
otak akan melibatkan penurunan fungsi saraf cranial
Refleks patologis
Fungsi sensori motorik ada atau tidaknya kelumpuhan, rasa
baal, nyeri, gangguan diskriminasi suhu, riwayat kejang.
Kemampuan bergerak: kerusakan area motorik

hemiparese/hemiplegi, adanya gerak inudunter, ROM, kekuatan


-

otot.
Kemampuan komunikasi: kerusakan pada hemisfer dominan
disfasia atau afasia akibat kerusakan saraf hipoglosus dan saraf
fasialis.

2. Diagnosa Keperawatan
- Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema
-

cerebral; peningkatan TIK.


Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan;

tindakan operatif; peningkatan TIK.


Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai

oksigen dan kebutuhan.


Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan mual dan

muntah.
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan adanya port de entry
mikroorganisme.

3. Perencanaan Keperawatan

Diagnosa
Keperawatan
Gangguan perfusi
jaringan serebral
berhubungan
dengan edema
cerebral;
peningkatan TIK.

Tujuan
Setelah
dilakukan
asuhan
keperawatan
dalam waktu
3 x 24 jam
perfusi
jaringan
serebral
adekuat yang
ditandai
dengan tidak
ada pusing
hebat,
kesadaran
tidak
menurun,
tidak terdapat
tanda-tanda
peningkatan
TIK
dibuktikan 15 (gangguan
ekstrem,
berat, sedang,
ringan, dan
tidak
mengalami
gangguan)

Intervensi

Rasional

1. Pantau dan catat 1. Perubahan tingkat


status neurologis
kesadaran, adanya
sesering mungkin
deficit neurologis
atau setiap shift.
dapat
menindikasikan
keadaan hipoksia
serebral.
2. Peningkatan TD,
nadi dan respirasi
2. Monitor TTV
mengindikasikan
terutama tekanan
sebagai respon saraf
darah, nadi,
simpatis untuk
respirasi.
kompensasi keadaan
hipoksia jaringan.
3. Peningkatan TIK
merupakan salah satu
insikasi perfusi
3. Monitor adanya
jaringan serebral
peningkatan
inadekuat.
tekanan
4. Menurunkan tekanan
intracranial.
arteri dengan
meninggikan
drainase dan
4. Berikan posisi
menaikkan sirkulasi
kepala Head Up
serebral.
30 derajat dan
5. Tangisan dapat
kaji respon klien.
meningkatkan
tekanan intracranial,
sentuhan therapeutic
dapat membantu
5. Hindari tangisan
menjalin trust
anak, ciptakan
dengan anak.
lingkungan yang 6. Oksigen akan
tenang, gunakan
membantu
sentuhan
menurunkan keadaan
therapeutic.
hipoksia yang dapat
menyebabkn
vasodilatasi serebral.
6. Kolaborasi untuk

pemberian
oksigen.
Nyeri berhubungan Setelah
dilakukan
dengan
asuhan
terputusnya
keperawatan
kontinuitas
dalam waktu
jaringan; tindakan 2 x 24 jam
nyeri dapat
operatif;
berkurang
peningkatan TIK.
ditandai
dengan TTV
stabil, klien
mengatakan
nyeri
berkurang
dan
manajemen
nyeri dapat
dilakukan.

Resiko tinggi
infeksi b.d port de
entry
mikroorganisme

Setelah
dilakukan
asuhan
keperawatan
dalam waktu
3 x 24 jam
diharapkan
tifak terjadi
infeksi yang
ditandai
dengan
temperature
tubuh dalam
batas normal

1. Pantau keluhan
1. Keefektifan terapi
nyeri (lokasi,
dapat dilihat dari
karakteristik,
berkurangnya
durasi, frekuensi,
keluhan nyeri klien.
kualitas).
2. Monitor tanda2. Peningkatan TD,
tanda vital
Nadi,
terutama TD,
mengindikasikan
nadi.
rasa nyeri klien.
3. Ajarkan teknik
3. Teknik relaksasi
pengurangan rasa
meningkatkan
nyeri
asupan oksigen dan
nonfaramakologi
teknik distraksi
s
merangsang opiate
endogen.
4. Mempertahankan
4. Tingkatkan
asupan oksigen dan
istirahat dan
relaksasi.
bantu untuk
posisi nyaman.
5. Antibiotik bekerja
5. Kolaborasi untuk
untuk menghambat
pemberian terapi
respon nyeri.
analgetik.
1 Awasi
dan 1 Pengawasan ketat
laporkan indikasi
dibutuhkan karena
infeksi
yaitu:
infeksi tampak tidak
tanda-tanda vital,
hanya peningkatan
temperature
suhu tubuh dan sel
tubuh,
bising
darah putih, tetapi
usus, suara nafas,
penggunaan
adanya
abses
medikasi
dalam luka.
immunosupresi dan
kondisi kronik dapat
terjadi infeksi.
2 Kultur dan tes
sensitivitas menjadi
tidak adekuat apabila
2 Sediakan kultur
setelah pemberian
untuk
testing

sensitivitas sesuai
indikasi, lakukan 3
sebelum
pemberian
antibiotic.

dan
menunjukkan
tidak
ada
tanda-tanda
infeksi.
3

Gunakan
prosedur teknik
septic dan aseptic
selama tindakann.
4

Intoleransi aktivitas

Kolaborasi
dengan
dokter
dalam pemberian
antibiotic.

antibiotic.
Pasien dengan ileus
obstruktif postoperasi memerlukan
tindakan secara
steril, untuk
mencegah terjadinya
perpindahan
mikroorganisme dan
meminimalisisr
resiko infeksi.
Antibiotic akan
membentu mencegah
terjadinya
perkembangan
mikroorganisme.

1. Bantu klien
1. Klien akan mengenal
Setelah
mengidentifikasi
sejauh mana dirinya
berhubungan
dilakukan
aktivitas ynag
ketergantungan
dengan
asuhan
dapat ditoleransi.
untuk memenuhi
2.
Monitor
TTV
keperawatan
ketidakseimbangan
ADLnya
terutama
TD,
2.
Respon klien terhdap
3
x
24
jam
suplai oksigen dan
nadi, respirasi.
aktivitas dapat
secara
kebutuhan
3. Bantu klien untuk
mengindikasikan
perlahan
memenuhi
penurunan oksigen.
mulai
kebutuhannya.
3. Libatkan
toleransi
4.
Jelaskan
pola
orangtua/keluarga
terhadap
peningkatan
untuk memenuhi
aktivitas,
aktivitas.
kebutuhan klien.
menunjukkan
4.
Aktivitas yang
self
care
bertahap akan
terhadap
meberikan control
ADL.
jantung,
meningkatkan
regangan dan
mencegah aktivitas
berlebih.

4. Evaluasi
- Perfusi jaringan serebral dapat adekuat.
- Nyeri berkurang secara signifikan.
- Anak dapat kembali toleransi terhadap aktivitas.
- Infeksi tidak terjadi.
- Kebutuhan cairan dapat dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA
Batticaca, F. B. 2008. Asuhan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Brunner and Suddart. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:
EGC
Grace dan Borley. 2006. At a Glance: Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga
Japardi,

Iskandar.

2002.

Cedera

Kepala

Pada

Anak

(Online)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1968/1/bedahiskandar
%20japardi6.pdf pukul 22:15 WIB
Silbernagl, Stefan dan William F Genogng. 2007. Patofisiologi Penyakit:
Pengantar Menuju Kedokteran Klinis. Jakarta: EGC
Suriadi dan Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta: CV
Sagung Seto