Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pencemaran Lingkungan


Semester Lima yang Diampu oleh Dra. Erry Wiryani, MS

Disusun oleh:
Nurul Mahmudah

24020113120010

Susy Ika Pertiwa

24020113120011

Muhammad Alam Dilazuardi

24020113120013

Anilda Yuniar

24020113120014

Siska Lesiana Adhi

24020113120015

Perwitasari Wahyuningtyas

24020113120017

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan makalah Pencemaran Lingkungan yang berjudul Pencemaran Udara.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas matakuliah Pencemaran
Lingkungan pada semester lima jurusan Biologi Universitas Diponegoro.
Dalam penyusunan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penyusun
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Semarang, 17 September 2015

Tim Penyusun

DAFTAR PUSTAKA
HALAMAN JUDUL...............................................................................

KATA PENGANTAR..............................................................................

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I

.......................................................................................

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................
1.2 Rumusan Masalah............................................................
1.3 Tujuan..............................................................................

BAB II

1
1
2

PEMBAHASAN
2.1 Pencemaran Udara...........................................................

2.2 Faktor Penyebab Pencemaran Udara...............................

2.3 Jenis Zat Penyebab Pencemaran Udara............................

2.4 Dampak Pencemaran Udara..............................................

2.5 Upaya Penanggulangan ....................................................

11

2.6 Studi Kasus.......................................................................

14

BAB III PENUTUP


Kesimpulan..............................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA .............................................................

16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Populasi manusia yang terus bertambah mengakibatkan kebutuhan
manusia semakin bertambah pula, terutama kebutuhan dasar manusia seperti
makanan, sandang dan perumahan.Seiring dengan semakin meningkatnya
populasi manusia dan bertambah banyaknya kebutuhan manusia tersebut
mengakibatkan semakin besar pula terjadinya masalah-masalah pencemaran
lingkungan. Pada dasarnya, secara alamiah, alam mampu mendaur ulang
berbagai jenis limbah yang dihasilkan oleh makhluk hidup, namun bila
konsentrasi limbah yang dihasilkan sudah tak sebanding lagi dengan laju proses
daur ulang maka akan terjadi pencemaran. Pencemaran lingkungan yang paling
mempengaruhi keadaan iklim dunia adalah pencemaran udara.Pencemaran
udara ini menimbulkan berbagai dampak negatif bagi kehidupan di muka bumi.
Udara merupakan faktor yang penting dalam hidup dan kehidupan.
Namun, pada era modern ini, sejalan dengan perkembangan pembangunan fisik
kota dan pusat-pusat industri, serta berkembangnya transportasi, maka kualitas
udara mengalami perubahan yang disebabkan oleh terjadinya pencemaran
udara, atau, sebagai berubahnya salah satu komposisi udara dari keadaan yang
normal yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas dan partikel
kecil/aerosol) ke dalam udara dalam jumlah tertentu untuk jangka waktu yang
cukup lama, sehingga dapat mengganggu kehidupan manusia, hewan, dan
tanaman (BPLH Jakarta, 2013 dalam Ismiyati, 2014).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1

Apa itu pencemaran udara?


1.2.2

Faktor apa yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara ?

1.2.3

Apa saja jenis-jenis zat yang menyebabkan pencemaran udara ?

1.2.4

Bagaimana dampak pencemaran udara bagi makhluk hidup ?

1.2.5

Bagaimana upaya yang dilakukan untuk menanggulangi terjadinya


pencemaran udara?

1.3 Tujuan
1.3.1

Mengetahui tentang pencemaran udara.

1.3.2

Mengetahui tentang faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran


udara.

1.3.3

Mengetahui jenis-jenis zat apa saja yang menyebabkan pencemaran udara.

1.3.4

Mengetahui tentang dampak pencemaran udara bagi makhluk hidup.

1.3.5

Mengetahui berbagai upaya yang dilakukan untuk menanggulangi


terjadinya pencemaran udara.

1.4 Manfaat
1.4.1

Mengetahui tentang pencemaran udara.

1.4.2

Mengetahui tentang faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya


pencemaran udara.

1.4.3

Mengetahui tentang jenis zat apa saja yang menyebabkan terjadinya


pencemaran udara.

1.4.4

Mengetahui tentang berbagai macam dampak yang diakibatkan dari


pencemaran udara bagi makhluk hidup.

1.4.5

Mengetahui tentang berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk


menanggulangi terjadinya pencemaran udara.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah peristiwa masuknya, atau tercampurnya,
polutan (unsur-unsur berbahaya) ke dalam lapisan udara (atmosfer) yang dapat
mengakibatkan menurunnya kualitas udara (lingkungan). Udara merupakan
faktor yang penting dalam kehidupan, namun dengan meningkatnya
pembangunan fisik kota dan pusat-pusat industri, kualitas udara telah
mengalami perubahan. Udara yang dulunya segar, kini kering dan kotor, namun
sayangnya kita tidak dapat memilih udara yang kita hirup. Jika terjadi
pencemaran udara yaitu masuknya zat pencemar (berbentuk gas-gas dan partikel
kecil/aerosol) ke dalam udara maka sejak itulah manusia akan menerima
dampak yang ditimbulkan oleh pencemar udara tersebut (Gusnita, 2012).
Pencemaran dapat terjadi dimana-mana. Bila pencemaran tersebut terjadi
di dalam rumah, di ruang-ruang sekolah ataupun di ruang-ruang perkantoran
maka disebut sebagai pencemaran dalam ruang (indoor pollution).Sedangkan
bila pencemarannya terjadi di lingkungan rumah, perkotaan, bahkan regional
maka disebut sebagai pencemaran di luar ruang (outdoor pollution). Umumnya,
polutan yang mencemari udara berupa gas dan asap. Gas dan asap tersebut
berasal dari hasil proses pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna, yang
dihasilkan oleh mesin-mesin pabrik, pembangkit listrik dan kendaraan bermotor.
Selain itu, gas dan asap tersebut merupakan hasil oksidasi dari berbagai unsur
penyusun bahan bakar, yaitu: CO2 (karbondioksida), CO (karbonmonoksida),
SOx (belerang oksida) dan NOx (nitrogen oksida).

2.2 Faktor Penyebab Pencemaran Udara


Pencemaran udara disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Faktor alam (internal), yang bersumber dari aktivitas alam.
Contoh : abu yang dikeluarkan akibat letusan gunung berapi, gas-gas
vulkanik, debu yang beterbangan di udara akibat tiupan angin, bau yang tidak

enak akibat proses pembusukan sampah organik.


b. Faktor manusia (eksternal), yang bersumber dari hasil aktivitas manusia
Contoh : hasil pembakaran bahan-bahan fosil dari kendaraan bermotor, bahanbahan buangan dari kegiatan pabrik industri yang memakai zat kimia organik
dan anorganik, pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara,
pembakaran sampah rumah tangga, pembakaran hutan.
2.3 Jenis Zat Penyebab Pencemaran Udara
Beberapa polutan yang dapat menyebabkan pencemaran udara, antara
lain Karbon monoksida, Nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, Partikulat,
Hidrokarbon, CFC, Timbal dan Karbondioksida.
a. Karbon monoksida (CO)
Gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan bersifat racun. Dihasilkan dari
pembakaran tidak sempurna bahan bakar fosil, misalnya gas buangan
kendaraan bermotor.
b. Nitrogen dioksida (NO2)
Gas yang paling beracun. Dihasilkan dari pembakaran batu bara di pabrik,
pembangkit energi listrik dan knalpot kendaraan bermotor.
c. Sulfur dioksida (SO2)
Gas yang berbau tajam, tidak berwarna dan tidak bersifat korosi.Dihasilkan
dari pembakaran bahan bakar yang mengandung sulfur terutama
batubara.Batubara ini biasanya digunakan sebagai bahan bakar pabrik dan
pembangkit tenaga listrik.

d. Partikulat (asap atau jelaga)


Polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya. Dihasilkan
dari pabrik berupa asap hitam tebal.
Macam-macam partikel, yaitu :
1. Aerosol: partikel yang terhambur dan melayang di udara.
2. Fog (kabut): aerosol yang berupa butiran-butiran air dan berada di udara.
3. Smoke (asap): aerosol yang berupa campuran antara butir padat dan cair
dan melayang berhamburan di udara.
4. Dust (debu): aerosol yang berupa butiran padat dan melayang-layang di
udara.
e.

Hidrokarbon (HC)
Uap bensin yang tidak terbakar. Dihasilkan dari pembakaran bahan bakar
yang tidak sempurna.

f. Chlorofluorocarbon (CFC)
Gas yang dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon yang ada di
atmosfer bumi. Dihasilkan dari berbagai alat rumah tangga seperti kulkas,
AC, alat pemadam kebakaran, pelarut, pestisida, alat penyemprot (aerosol)
pada parfum dan hair spray.
g. Timbal (Pb)
Logam berat yang digunakan manusia untuk meningkatkan pembakaran
pada kendaraan bermotor. Hasil pembakaran tersebut menghasilkan timbal
oksida yang berbentuk debu atau partikulat yang dapat terhirup oleh
manusia.
h. Karbon dioksida (CO2)
5

Gas yang dihasilkan dari pembakaran sempurna bahan bakar kendaraan


bermotor dan pabrik serta gas hasil kebakaran hutan.

2.4 Dampak Pencemaran Udara


Dampak pencemaran udara bagi lingkungan dan makhluk hidup antara lain
terdiri dari:
2.4.1

Dampak Pencemaran Udara bagi Kesehatan Manusia


Dampak buruk polusi udara bagi kesehatan manusia tidak dapat
dibantah lagi, baik polusi udara yang terjadi di alam bebas (Outdoor air
polution) ataupun yang terjadi di dalam ruangan (Indoor air polution),
polusi yang terjadi di luar ruangan terjadi karena bahan pencemar yang
berasal dari industri, transportasi, sementara polusi yang terjadi di dalam
ruangan dapat berasal dari asap rokok, dan gangguan sirku- lasi udara.
Ada tiga cara masuknya bahan pencemar udara kedalam tubuh
manusia, yaitu melalui inhalasi, ingestasi, dan penetrasi kulit.Inhalasi
adalah masuknya bahan pencemar udara ke tubuh manusia melalui sistem
pernafasan. Bahan pencemar ini dapat mengakibatkan gangguan pada
paru-paru dan saluran pernafasan, selain itu bahan pencemar ini kemudian
masuk dalam peredaran darah dan menimbulkan akibat pada alat tubuh
lain.
Bahan pencemar udara yang berdiameter cukup besar tidak jarang
masuk ke saluran pencernaan (ignetasi), ketika makan atau minum, seperti
juga halnya di paru-paru, maka bahan pencemar yang masuk ke dalam
pencernaan dapat menimbulkan efek lokal dan dapat pula menyebar ke
seluruh tubuh melalui peredaran darah. Permukaan kulit dapat juga
menjadi pintu masuk bahan pencemar dari udara, sebagian besar
pencemar hanya menimbulkan akibat buruk pada bagian permukaan kulit
seperti dermatitis dan alergi saja, tetapi sebagian lain khususnya pencemar organik dapat melakukan penetrasi kulit dan menimbulkan efek
6

sistemik.
Berikut merupakan dampak pencemaran udara terhadap kesehatan
manusia dari beberapa pencemar udara, yaitu:
a. Dampak pencemar oleh gas karbonmonoksida (CO).
Gas CO yang tidak dapat dikenali baik secara fisika karena
tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna sehingga menyulitkan
kita untuk mengantisipasi bahaya keracunan yang ditimbulkan. Gas CO
o
dapat berupa cairan pada suhu - 192 C.Di udara terdapat gas CO yang
sangat sedikit, hanya sekitar 0,1 ppm. Di perkotaan yang padat
kendaraan bermotor konsentrasi gas CO sekitar 10- 15 ppm yang dapat
mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah
kematian bayi serta kerusakan otak. Selain itu gas CO dapat mengikat
hemoglobin darah mengganti posisi oksigen (COHb) bila terhisap
masuk ke paru-paru, mengakibatkan fungsi vital darah sebagai
pengangkut oksigen terganggu karena ikatan gas CO dengan
hemoglobin darah lebih kuat 140 kali dibandingkan dengan oksigen.
Keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih mudah menangkap gas
CO dan menyebabkan fungsi vital darah sebagai pengangkut oksigen
terganggu. Keracunan gas CO dapat ditandai dari keadaan yang ringan
berupa pusing, sakit kepala dan mual.Keadaan yang lebih berat dapat
menyebabkan menurunnya kemampuan gerak tubuh, gangguan pada
sistem kardiovaskuler, serangan jantung sampai pada kematian.Untuk
menolong penderita kategori ringan yaitu dengan memberi kesempatan
menghisap udara bersih (segar) agar CO dalam Hb darah dapat terganti
oleh oksigen (Sugiarti, 2009).
b. Dampak Pencemar Partikel.
Partikel-partikel

pencemar

udara

sangat

merugikan

manusia.Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat


menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atas atau
pneumokoniosis. Ukuran partikel yang masuk ke paru-paru akan
7

menentukan letak penempelan atau pengendapan tersebut, mulai dari


nukuran besar 5 mikron sampai ukuran terkecil yaitu lebih kecil 1
mikron akan masuk ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru
menempel pada alveoli dan masa inkubasinya dalam tubuh selama 2-4
tahun. Penyakit pneomokoniosis bermacam-macam tergantung dari
jenis partikel debu yang masuk ke dalam paru- paru, dan jenis yang
sering dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan
teknologi yatiu: silikosis yang disebabkan pencemara debu silika SiO2,
asbestosis merupakan pencemar debu atau serat asbes terurama dari
magnesium silikat, bisinosis penyakit yang disebabkan oleh debu kapas
di udara, dan antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang
disebabkan oleh debu batubara (Sugiarti, 2009).
c. Dampak pencemar Nitrogen Oksida (NOx)
Gas nitrogen oksida ada dua macam yaitu: gas nitrogen
monoksida (NO) dan gas nitrogen dioksida (NO 2). Keduanya
mempunyai sifat berbeda dan sangat berbahaya bagi kesehata. Gas NO
sulit diamati secara visual karena tidak berbau dan tidak berwarna.
Sifat racun gas ini pada konsentrasi tinggi menyebabkan gangguan
pada syaraf sehingga menimbulkan kejang-kejang, bila keracunan terus
berlanjut mengakibatkan kelumpuhan. Sedangkan untuk gas NO2
empat kalim lebih berbahaya dari pada gas NO. Organ tubuh yang
paling peka terhadap gas NO2 adalah paru-paru, paru-paru yang
terkontaminasi dengaqn NO2 akan membengkak sehingga penderita
sulit bernafas yang dapat mengakibatkan kematian. Pada konsentrasi
rendah gas NO2 juga menyebabkan iritasi pada mata yang meyebabkan
mata perih dan berair.
d. Dampak Pencemar Belerang Oksida (SOx)
Ada dua macam gas SOx yaitu gas SO 2 dan gas SO3.
Pembakaran menghasilkan gas SO2 lebih banyak dari pada gas SO3,
namun dengan udara SO2 lebih cepat membentuk SO3 sehingga gas ini
8

akan menjadi banyak juga di nudara. Gas SOx sangat berbahaya bagi
manusia terutama pada konsentrasi di atas 0,4 ppm. Akibat yang
ditimbulkkan jika mengganggu kesehatan manusia adalah;gangguan
sistem pernafasan, karena gas SOx yang mudah menjadi asam
menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan dan saluran
pernafasan yang lain sampai ke paru- paru. Pada konsentrasi 1-2 ppm,
bagi orang yang sensitif serangan gas SOx ini menyebabkan iritasi
pada bagian tubuh yang terkena langsung. Namun bagi orang yang
cukup kebal akan terasa teriritasi pada konsentrasi 6 ppm dengan
waktu pemaparan singkat. Pemaparan dengan SOx lebih lama dapat
meyebabkan peradangan yang hebat pada selaput lendir yang diikuti
oleh kelumpuhan sistem pernafasan, kerusakan dinding ephitelium dan
pada akhirnya diikuti oleh kematian.
e. Dampak Pencemar Hidrokarbon (HC)
Sebenarnya HC dalam jumlah sedikit tidak membahayakan
kesehatan manusia, walaupun bersifat toksik, kecuali dalam jumlah
banyak di udara dan tercampur dengan bahan pencemar lain maka sifat
toksiknya akan meningkat. HC berupa gas lebih toksik dibanding
dalam wujud cairan dan padatan. Bila HC padatan (partikel) dan cairan
bercampur dengan pencemar lain akan membentuk ikatan-ikatan kimia
baru yang sering disebut Polyciclic Atomatic Hydrocarbon (PAH).
PAH ini merangsang terbentuknya sel-sel kanker bila terhisap masuk
ke paru-paru, dan PAH yang bersifat karsinogenik ini banyak terdapat
di daerah industri dan daerah padat lalu lintasnya, yang bersumber
utama dari gas buangan hasil pembakaran bahan bakar fosil. Toksisitas
HC aromatik lebih tinggi dari pada HC alisiklik. Dalam keadaan gas
HC, dapat menyebabkan iritasi pada membran mukosa dan
menimbulkan infeksi paru- paru bila terhusap.
f. Dampak Gas Rumah Kaca (CH4, CO2 dan N2O)
Apabila lapisan ozon rusak, maka sifat ozon sebagai penyaring
sinar ultra violet tidak akan berfungsi lagi, sehingga sinar ultra violet
9

yang tidak tersaring oleh lapisan ozon akan terus ke bumi dan merusak
kulit manusia seperti iritasi dan kanker kulit. Gas rumah kaca disertai
rusaknya lapisan ozon di stratosfir menaikkan suhu bumi yang
disebabkan oleh meningkatnya jumlah karbondioksida CO2, CH4 dan
N2O di udara yang biasa disebut efek rumah kaca.Kadar CO2 pada 100
tahun yang lalu hanya sebesar 290 ppm. Setiap 40 tahun akan terjadi
perubahan iklim di muka bumi antara lain ditandai dengan naiknya
o
suhu bumi sebesar 0,5 C setiap 40 tahunnya. Apabila kenaikan kadar
CO2 tidak dicegah maka bencana karena kenaikan suhu bumi dapat
cepat terjadi yaitu mencairnya es yang ada di kutub sehingga
permukaan air laut naik, garis pantai akan bergeser naik sehingga
tempat-tempat yang terletak di tepi pantai akan tenggelam (Sugiarti,
2009).
Beberapa fsikholog mengemukakan bahwa dampak dari pada
efek rumah kaca ini adalah terjadinya peningkatan emosional dan
tempramental bagi manusia, seperti kurang sabar atau cepat marah,
pikiran pendek dan cepat bertindak anarkhis sehingga mengganggu
ketenangan orang lain yang pada akhirnya menyebabkan depresi,
tekanan darah meningkat dan stroke. Gejala ini secara umum penderita
tidak menyadari berikut akibatnya terhadap kesehatan (Sugiarti, 2009).
g. Dampak Gas CFC dan Lapisan Ozon
Ozon merupakan lapisan dari atmosfer yang menghalangi
radiasi ultraviolet B (UV-B) dari matahari.Sekitar 70-90% radiasi
ultraviolet B (UV-B) ini disaring oleh lapisan ozon.Radiasi langsung
ultraviolet UV-B adalah radiasi yang berbahaya dan mematikan
tanaman, hewan, termasuk manusia (Sutanta, 2007).
Para peneliti lingkungan hidup menemukan bahwa lapisan ozon
telah berlubang sebesar benua Amerika.Lubang ozon ini terbentuk
karena terlalu banyak gas CFC (Chloro-fluoro-carbon) di udara. Gas
CFC atau yang biasanya disebut Freon berkumpul di bagian atas
10

atmosfer, lalu akan berinteraksi dengan pantulan cahaya matahari


sehingga merusak lapisan ozon (Sutanta, 2007).
Dengan adanya lubang ozon, radiasi ultraviolet UV-B pun dapat
sampai ke bumi. Radiasi tersebut akan mengurangi kekebalan tubuh
manusia terhadap penyakit, terutama penyakit kulit. Misalnya, campak,
herpes, malaria, leishamaniasis, TBC, dan kusta (Sutanta, 2007).
2.4.2

Dampak Pencemaran Udara Terhadap Kesehatan Flora (Tumbuhan)


Tumbuh-tumbuhan memiliki reaksi yang besar dalam menerima
pengaruh perubahan atau gangguan akibat polusi udara dan perubahan
lingkungan.Hal ini terjadi karena banyak faktor yang berpengaruh,
diantaranya spesies tanaman, umur, keseimbangan nutrisi, kondisi
tanaman,

temperatur,

kelembaban

dan

penyinaran.Penambahan

konsentrasi pencemar ke udara dapat secara langsung mempengaruhi


pertumbuhannya. Menurut pernyataan Chandra (2007), tumbuh-tumbuhan
sangat sensitive terhadap gas sulfur dioksida, florin, ozon, hidrokarbon,
dan CO. Apabila terjadi pencemaran udara, konsentrasi gas tersebut akan
meningkat dan dapat menyebabkan daun tumbuhan berlubang dan layu.
Beberapa dampak pencemaran udara bagi tumbuh-tumbuhan antara lain:
a. Hujan Asam
Hujan

asam

dapat

merusak

kehidupan

ekosistem

perairan,

menghancurkan jaringan tumbuhan (karena memindahkan zat hara di


daun dan menghalangi pengambilan Nitrogen) dan mengganggu
pertumbuhan tanaman, selain itu pula, hujan asam dapat melarutkan
kalsium, potasium dan nutrient lain yang berada dalam tanah sehingga
tanah akan berkurang kesuburannya dan akibatnya pohon akan mati.
b. Penipisan Lapisan Ozon
Penipisan lapisan ozon dapat merusak tanaman, mengurangi hasil
panen (produksi bahan makanan, seperti beras, jagung dan kedelai),
penurunan jumlah fitoplankton yang merupakan produsen bagi rantai
11

makanan di laut.
c. Pemanasan Global
Pemanasan global dapat menyebabkan penurunan hasil panen pertanian
dan perubahan keanekaragaman hayati.Keanekaragaman hayati dapat
berubah karena kemampuan setiap jenis tumbuhan untuk bertahan
hidup berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
d. Gas CFC
Gas CFC mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil, ganggang di laut
punah, terjadi mutasi genetik (perubahan sifat organisme).
2.4.3

Dampak Pencemaran Udara terhadap Kesehatan Fauna


Dampak negatif zat-zat pencemar udara terhadap fauna (hewan)
tidak berbeda jauh dengan dampak-dampak lain seperti terhadap manusia
dan tumbuhan.Dampak terhadap hewan dapat terjadi secara langsung dan
tidak langsung, secara langsung terjadi bila ada interaksi melalui sistem
pernafasan sebagaimana terjadi pada manusia.dampak tidak langsung
terjadi melalui suatu perantara, baik tumbuhan atau perairan yang
berfungsi sebagai bahan makanan hewan. Terjadinya emisi zat- zat
pencemar ke atmosfer (udara) seperti partikulat, NOx, SO2, HF dan IainIain yang kemudian berinteraksi dengan tumbuhan dan perairan baik
melalui proses pengendapan atau pun penempelan, akan berpengaruh
langsung terhadap vegetasi dan biota perairan hingga dapat menjalar pada
hewan- hewan melalui rantai makanan yang telah terkontaminasi zat
pencemar tersebut. Pengaruh Oksida Nitrogen (NOx) pada dosis tinggi
terhadap hewan berupa terjadinya gejala paralisis sistem syaraf dan
konvulusi, dari hasil pcnelitian ditunjukkan bahwa pemapa- ran NO
dengan dosis 2500 ppm terhadap tikus akan berpengaruh kehilangan
kesadaran 6 - 7 menit, bila pemaparan ini terjadi selama 12 menit, maka
tikus tersebut akan mati. Begitu pula pengaruh NO2 terhadap hewan, N0 2
yang bersifat racun, pada konsentrasi lebih dari 100 ppm akan bersifat
letal terhadap kebanyakan hewan dan 90 % kematian tersebut disebabkan
12

oleh gejala edema pulmonari. N02 pada konsentrasi 800 ppm akan
berakibat kematian 100 % . Konsentrasi SO2 400 - 800 ppm akan
berpengaruh langsung dan sangat berbahaya, meskipun hanya terjadi
kontak secara singkat.
2.4.4

Dampak Pencemaran Udara terhadap Ekosistem


Industri yang mempergunakan batubara sebagai sumber energinya
akan melepaskan zat oksida sulfat ke dalam udara sebagai sisa
pembakaran batubara. Zat tersebut akan bereaksi dengan air hujan
membentuk asam sulfat sehingga air hujan menjadi asam (acid rain).
Apabila keadaan ini berlangsung cukup lama, akan terjadi perubahan pada
ekosistem perairan danau. Akibatnya, pH air danau akan menjadi asam,
produksi ikan menurun, dan secara tidak langsung pendapatan rakyat
setempa pun menurun (Chandra, 2007).

2.5 Upaya Penganggulangan Pencemaran Udara


Untuk menanggulangi pencemaran udara yang terjadi di permukaan
bumi ini, perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan dan pengendaliannya.
Menurut Chandra (2007), beberapa batasan prosedur pencegahan dan
pengendalian pencemaran udara yang di ajukan dalam Research into
Environmental Pollution WHO tahun 1968, antara lain containment,
replacement, dilution, legislation, dan international action.
a. Containment
Containment merupakan suatu upaya penanggulangan untuk mencegah
masuknya gas-gas toksik secara langsung ke dalam udara bebas. Upaya ini
dilakukan dengan cara memasang saringan atau filter pada alat pembuangan
agar konsentrasi gas yang keluar masih berada dalam batas baku mutu emisis
yang diperbolehkan dan tidak mengganggu kesehatan.
b. Replacement
Tujuan dari replacement adalah mengganti perlengkapan dan suber energy
yang banyak mengakibatkan pencemaran dengan perlengkapan dan sumber
13

energy yang kurang mengakibatkan pencemaran.Contoh, penggantian bahan


bakar batubara dengan tenaga listrik.

c. Dilution
Dilution

merupakan

suatu

upaya

untuk

mengencerkan

bahan

pencemar.Upaya ini dapat berlangsung secara alami dengan membangun


daerah-daerah hijau green belt.Daerah hijau tersebut merupakan suatu
kawasan yang ditanami dengan tumbuhan yang rindang dan ditempatkan
diantara lokasi permukiman dan kawasan industri.
d. Legislation
Upaya Legislation diwujudkan dengan adanya peraturan dan perundangan
yang dikeluarkan untuk melindungi tenaga kerja, masyarakat umum, dan
untuk melestarikan lingkungan hidup.
e. International Action
WHO telah membentuk suatu jaringan internasional berupa laboratoriumlaboratorium yang bertugas memantau dan mempelajari kasus-kasus
pencemaran udara.Jaringan internasional tersebut berpusat di London dan
Washington.
Untuk menanggulangi pencemaran udara di Indonesia dilakukan dengan
tindakan pencegahan (preventif) yang dilakukan sebelum terjadinya pencemaran
dan tindakan kuratif yang dilakukan sesudah terjadinya pencemaran.
a. Usaha Preventif (sebelum pencemaran)
1. mengembangkan energi alternatif dan teknologi yang ramah lingkungan.
2. mensosialisasikan pelajaran lingkungan hidup (PLH) di sekolah dan
masyarakat.
3. mewajibkan dilakukannya AMDAL (Analisis Mengenai Dampak
14

Lingkungan) bagi industri atau usaha yang menghasilkan limbah.


4. tidak membakar sampah di pekarangan rumah.
5. tidak menggunakan kulkas yang memakai CFC (freon) dan membatasi
penggunaan AC.
6. dalam kehidupan sehari-hari.
7. tidak merokok di dalam ruangan.
8. menanam tanaman hias di pekarangan atau di pot-pot.
9. ikut berpartisipasi dalam kegiatan penghijauan.
10. ikut memelihara dan tidak mengganggu taman kota dan pohon pelindung.
11. tidak melakukan penebangan hutan, pohon dan tumbuhan liar secara
sembarangan.
12. mengurangi

atau

menghentikan

penggunaan

zat

aerosol

dalam

penyemprotan ruang.
13. menghentikan penggunaan busa plastik yang mengandung CFC.
14. mendaur ulang freon dari mobil yang ber-AC.
15. mengurangi atau menghentikan semua penggunaan CFC dan CCl4.
b. Usaha kuratif (sesudah pencemaran)
Bila telah terjadi dampak dari pencemaran udara, maka perlu dilakukan
beberapa usaha untuk memperbaiki keadaan lingkungan, dengan cara:

menggalang dana untuk mengobati dan merawat korban pencemaran


lingkungan.

kerja bakti rutin di tingkat RT/RW atau instansi- instansi untuk


15

membersihkan lingkungan dari polutan.

melokalisasi

tempat

pembuangan

sampah

akhir

(TPA)

sebagai

tempat/pabrik daur ulang.

menggunakan penyaring pada cerobong- cerobong di kilang minyak atau


pabrik yang menghasilkan asap atau jelaga penyebab pencemaran udara.

mengidentifikasi dan menganalisa serta menemukan alat atau teknologi


tepat guna yang berwawasan lingkungan setelah adanya musibah/kejadian
akibat pencemaran udara, misalnya menemukan bahan bakar dengan
kandungan timbal yang rendah (BBG).
Selain usaha preventif dan kuratif, Pemerintah juga perlu mencanangkan

program-program yang bertujuan untuk mengendalikan pencemaran, khususnya


pencemaran udara, yaitu:
1. PROGRAM LANGIT BIRU yang dicanangkan sejak Agustus 1996.
Bertujuan untuk meningkatkan kembali kualitas udara yang telah tercemar,
misalnya dengan melakukan uji emisi kendaraan bermotor.
2. Keharusan membuat cerobong asapbagi industri/ pabrik.
3. Imbauan mengurangi bahan bakar fosil (minyak, batu bara) dan
menggantinya dengan energi alternatif lainnya.
4. Membatasi beroperasinya mobil dan mesin pembakar yang sudah tua dan
tidak layak pakai.
5. Larangan menggunakan gas CFC.
6. Larangan beredarnya insektisida berbahaya seperti DDT (dikhloro difenil
trikhloro etana).
7. Melarang penggunaan CFC pada produksi kosmetika.
8. Menetapkan undang-undang dan hukum tentang pelaksanaan perlindungan
lapisan ozon (secara nasional dan internasional).

16

2.6 Studi Kasus


Pembakaran biomassa merupakan puncak pencemaran udara di Asia
Tenggara, terutama pada musim kemarau setiap tahun. Sumatera dan
Kalimantan dikenal sebagai daerah yang dikaitkan dengan pembakaran
biomassa yang umumnya disebabkan oleh aktifitas pertanian. Di pulau
Sumatra, daerah Rau adalah kota yang memiliki jumlah titik panas paling
tinggi selama polusi asap terjadi. Menurut penghitungan parameter
pencemaran udara yang meliputi PM10, SO2, NO2, CO, dan O3. Hasil secara
keseluruhan kepekatan bahan pencemar udara yang telah dijumlah meningkat
dengan peningkatan jumlah titik panas. Hanya PM10 yang menunjukkan hasil
signifikan dimana berbanding dengan saat tidak ada pencemara udara. Pada
bulan Agustus 2006, saat jumlah titik panas berada pada jumlah tertinggi,
didapatkan hanya kepekatan PM10 meningkat sebanyak 20% berbanding
dengan kepekatan yang ada (Anwar, 2010).

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
3.1.1 Pencemaran udara adalah peristiwa masuknya, atau tercampurnya, polutan
(unsur-unsur berbahaya) ke dalam lapisan udara (atmosfer) yang dapat
mengakibatkan menurunnya kualitas udara (lingkungan).
3.1.2 Faktor yang menyebabkan pencemaran udara yaitu faktor alam (internal)
17

yang bersumber dari aktivitas alam dan faktor manusia (eksternal) yang
bersumber dari hasil aktivitas manusia.
3.1.3

Jenis zat yang menyebabkan pencemaran udara antara lain Karbon


monoksida, Nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, Partikulat, Hidrokarbon,
CFC, Timbal dan Karbondioksida.

3.1.4

Dampak pencemaran udara bagi makhluk hidup antara lain bagi kesehatan
manusia, yaitu oleh gas karbonmonoksida (CO), pencemar partikel,
Nitrogen Oksida (NOx), Belerang Oksida (SOx), Hidrokarbon (HC), gas
Rumah Kaca (CH4, CO2 dan N2O), dan Gas CFC dan Lapisan Ozon.
Pencemaran udara terhadap kesehatan flora (tumbuhan) yaitu hujan asam,
penipisan lapisan ozon, pemanasan global, dan gas CFC. Dampak
pencemaran udara terhadap kesehatan fauna terjadi pada keseimbangan
ekosistem.

3.1.5

Upaya yang dilakukan dalam pencegahan dan pengendalian pencemaran


udara antara lain containment, replacement, dilution, legislation, dan
international action.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Adelin dkk. 2010. Korelasi antara Titik Panas dengan Kualitas Udara di
Pekanbaru, Riau, Indonesia pada 2006 2007. Malaysia: Universitas
Kebangsaan Malaysia
Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC.
Gusnita, Dessy. 2012. Pencemaran Logam Berat Timbal (Pb) di Udara dan Upaya
Penghapusan

Bansin

Bertimbal.
18

Peneliti

Bidang

Komposisi

Atmosfer, Lapan: Berita Dirgantara Vol. 13 No. 3, Hal: 95-101.


Ismiyati, Devi Marlita, Deslida Saida. 2014. Pencemaran Udara Akibat Emisi Gas
Buang Kendaraan Bermotor.Jurnal Manajemen Transportasi &
Logistik (JMTransLog).ISSN 2355-4721. Vol. 01 No. 03, Hal: 241247.
Sugiarti. 2009. Gas Pencemar Udara dan Pengaruhnya Bagi Kesehatan Manusia.
Jurusan Kimia FMIPAUNM, Makassar. Jurnal Chemica Vol. 10 No.
1, Hal: 50-58.
Sutanta, Gatut dan Hari Sutjahjo. 2007. Akankah Indonesia Tenggelam Akibat
Pemanasan Global. Bogor: Penebar Plus.

19