Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Seorang Laki-laki, Usia 39 Tahun, Datang Dengan Sesak


Nafas 1 Minggu SMRS

Disusun oleh
Syena Damara Riza Gustam S,Ked
04084821517083
Anna Adika Putri, S.Ked
04084821517079

Pembimbing
dr.Surya Darma, Sp.PD

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kepada ALLAH SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul Seorang laki-laki, usia 39
tahun, datang dengan sesak nafas 1 minggu SMRS . Di kesempatan ini penulis juga
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Surya Darma, Sp.PD
selaku pembimbing yang telah membantu penyelesaian laporan kasus ini.
Penulisan juga mengucapan terima kasih kepada kakak residen, teman-teman,
dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan kasus ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan kasus ini
masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan
kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan.
Demikianlah penulisan laporan ini, semoga bermanfaat, amin.

Palembang, September 2015

Penulis

Halaman Pengesahan
Laporan Kasus
Seorang Laki-laki, Usia 39 Tahun, Datang Dengan Sesak Nafas 1 Minggu SMRS
Oleh
Syena Damara Riza Gustam, S.Ked
04084821517083
Anna Adika Putri, S.Ked
04084821517079

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu
Penyakit Dalam RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang / Fakultas Kedokteran
Universitas Sriwijaya.

Palembang, September 2015


Pembimbing

dr. Surya Darma, Sp.PD

BAB I
PENDAHULUAN
Efusi pleura adalah penimbunan cairan didalam rongga pleura akibat transudasi
atau eksudasi yang berlebihan dari permukaan pleura. Efusi pleura bukan merupakan
suatu penyakit, akan tetapi merupakan tanda suatu penyakit. 1 Akibat adanya cairan
yang cukup banyak dalam rongga pleura, maka kapasitas paru akan berkurang dan di
samping itu juga menyebabkan pendorongan organ-organ mediastinum, termasuk
jantung. Hal ini mengakibatkan insufisiensi pernafasan dan juga dapat mengakibatkan
gangguan pada jantung dan sirkulasi darah.1
Di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung
kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di negara-negara
yang sedang berkembang, seperti Indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi
tuberkulosis. Efusi pleura keganasan merupakan salah satu komplikasi yang biasa
ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dan
kanker payudara. Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai
pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik. Sementara
5% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan
sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura.2
Diperlukan penatalaksanaan yang baik dalam menanggulangi efusi pleura ini,
yaitu pengeluaran cairan dengan segera serta pengobatan terhadap penyebabnya
sehingga hasilnya akan memuaskan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penulis berkeinginan menyajikan
informasi mengenai efusi pleura agar dapat menjadi bahan masukan kepada diri
penulis dan kita semua dapat mendiagnosis serta memberikan terapi yang tepat pada
penderita efusi pleura.

BAB II

LAPORAN KASUS
I.

IDENTIFIKASI

Nama

Tn.SY

Umur

39 Tahun

Jenis kelamin :

Laki-laki

Alamat

Jln. Dusun II Keluang, Banyuasin

Status

Menikah

Pekerjaan

Petani

Pendidikan

SLTA

Agama

Islam

MRS Tanggal :

5 September 2015 pukul 01.00

Rek. Med.

904341

Ruang

Yasmin A. Kamar 3 bed 1

II.

ANAMNESIS

(Auto dan Alloanamnesis) pada tanggal 23 September 2015 jam 09.00

Keluhan utama
Sesak nafas bertambah berat sejak 1 minggu SMRS
Keluhan Tambahan
Nyeri dada kanan 3 minggu SMRS
Riwayat Perjalan Penyakit
3 bulan SMRS OS mengeluh sering sakit kepala seperti ditusuk-tusuk, pandangan
berkunang (-), mual (+), muntah (-), batuk berdahak (-), pilek (-), demam (-), sesak(-),
nyeri dada (-), OS kemudian membeli obat penghilang nyeri namun nyeri tidak
hilang, OS berobat ke bidan dan diberi obat penghilang nyeri, tapi keluhan tidak
berkurang.

3 minggu SMRS OS mengeluh sesak nafas, sesak tidak dicetuskan oleh aktivitas,
sesak tidak dipengaruhi cuaca dan emosi, OS merasa sesak berkurang bila berbaring
ke arah kanan, batuk (+), dahak (+), batuk berdarah (+) berwarna merah segar,
banyaknya sdm tiap batuk, berkeringat pada malam hari (-), pilek (-), demam (-),
nyeri dada kanan (+)seperti ditusuk-tusuk dan tidak menjalar, sakit kepala (+), mual
(+) , muntah (-) , penurunan berat badan (+), OS lalu berobat ke RSMH dan di
katakan menderita tumor paru. OS mengaku dilakukan WSD dan di dapatkan cairan 8
botol, cairan berwarna kuning kemerahan. OS disarankan untuk kemoterapi, tetapi
pasien menolak.
1 minggu SMRS, OS mengeluh sesak bertambah berat, sesak berkurang jika
berbaring ke arah kanan, OS merasa sesak berkurang bila berbaring ke arah kanan,
batuk (+), dahak (+), batuk berdarah (+) berwarna merah segar, banyaknya sdm tiap
batuk, pilek (-), demam (-), nyeri dada kanan (+) seperti ditusuk-tusuk dan tidak
menjalar, berkeringat pada malam hari (-), sakit kepala (+), mual (+) , muntah (-),
suara serak (+), nyeri menelan (+), nyeri pada tulang (-), penurunan berat badan
(+),OS lalu datang ke RSMH untuk menjalani kemoterapi yang pertama.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat darah tinggi (-)
Riwayat kencing manis (-)
Riwayat merokok (+) sejak kelas 4 SD (39 tahun)
Riwayat asma (-)
Riwayat sakit yang sama disangkal
Riwayat Penyakit serupa dalam keluarga disangkal

III.

PEMERIKSAAN FISIK (23/09/2015 pukul 16.00 wib)

Keadaan Umum

Tampak sakit sedang

Kesadaran

Compos Mentis

Tekanan Darah

120/80 mmHg

Nadi

110x/m regular, isi dan tegangan cukup

Temperatur

36.5 C di axilla

RR

24 x/m, tipe thorakoabdominal

Berat Badan

50 kg

Tinggi Badan

160 cm

IMT

19,5 (kurang)

Keadaan Spesifik

Kulit
o Warna

: Sawo matang

o Efloresensi

: Tidak ada

o Pigmentasi

: tidak ada

o Jaringan parut

: tidak ada

o Turgor

: tidak ada

o Pertumbuhan rambut : dalam batas normal


o Lapisan lemak

: dalam batas normal

o Ikterus

: tidak ada

Kelenjar Getah Bening

Kepala

: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

o Bentuk

: normocephali

o Rambut

: hitam

o Deformitas

: tidak ada

o Perdarahan temporal : tidak ada

o Nyeri tekan

: tidak ada

o Eksopthalmus

: tidak ada

o Endopthalmus

: tidak ada

o Edema palpebra

: tidak ada

Mata

o Konjungtiva palpebra : tidak ada


o Sklera ikterik

: tidak ada

o pupil

: isokor

o refleks cahaya

: baik

o gerakan bola mata

: baik ke segala arah

o lapangan penglihatan : baik.

Hidung
o Septum

: tidak ada kelainan

o Tulang-tulang

: dalam batas normal

o Selaput lendir

: dalam batas normal.

o penyumbatan

: tidak ada

o perdarahan

: tidak ada

o Pernapasan cuping hidung : tidak ada.

Telinga
o Tophi

: tidak ada

o liang telinga

: tidak ada kelainan

o nyeri tekan

: tidak ada

o selaput pendengaran : tidak ada kelainan


o pendengaran

: baik

Mulut
o Tonsil

: tidak ada pembesaran

o pucat pada lidah

: tidak ada

o atrofi papil

: tidak ada

o gusi berdarah

: tidak ada

o stomatitis

: tidak ada

o bau pernapasan

: tidak ada.

Leher
o

Kelenjar getah bening

: tidak ada pembesaran

Kelenjar tiroid

: tidak ada pembesaran

JVP

m. sternocleidomastoideus

: (5-2) cm H2O
: tidak ada hipertrofi

Dada
o Bentuk thoraks

: normal

o Barrel chest

: tidak ada

o Sela iga melebar

: tidak ada

o retraksi dinding dada : tidak ada

o ginekomastia

: tidak ada

o venektasi

: tidak ada

o spider nevi

: tidak ada

Paru-paru
Inspeksi
: Statis simetris kanan = kiri, dinamis
asimetris kanan tertinggal

o
o
o
o

Jantung

Palpasi

: Stem fremitus kanan menurun


Perkusi
: Redup di seluruh lapangan paru kanan
dimulai dari ICS II, sonor di paru kiri

Auskultasi

: Vesikuler (+) menurun, ronkhi (-), wheezing (-)

o Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

o Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi
:Batas atas jantung ICS II sinistra, batas
kanan sulit dinilai,batas kiri LMC sinistra ICS VI

o Auskultasi

: HR: 110x/m, BJ I dan II normal, murmur (-)gallop (-)

Abdomen
o Inspeksi
o

: datar
Palpasi
: lemas, nyeri tekan (-), hepar teraba 3jari
bawah arcus costae, tepi tumpul, permukaan rata,
konsistensi lunak, lien tidak teraba

o Perkusi

: Shifting Dullness (-)

o Auskultasi

: Bising Usus (+) Normal

Ekstremitas Atas
o Pucat

:tidak ada

o palmar eritema: tidak ada


o nyeri otot

: tidak ada

o gerakan

: baik ke segala arah

o kekuatan

: +5

o refleks fisiologis : normal


o refleks patologis : tidak ada
o jari tabuh

: tidak ada

o eutoni

: tidak ada

o eutropi

: tidak ada

o tremor

: tidak ada

o edema

: tidak ada.

Ekstremitas Bawah

o Pucat

:tidak ada

o palmar eritema: tidak ada


o nyeri otot

: tidak ada

o gerakan

: baik ke segala arah

o kekuatan

: +5

o refleks fisiologis : normal


o refleks patologis : tidak ada
o varises

: tidak ada

o Jaringan parut : tidak ada

o eutoni

: tidak ada

o turgor

: cukup

o eutropi

: tidak ada

o tremor

: tidak ada

o edema

: tidak ada.

Genitalia
o Tidak diperiksa.

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium
Hematologi (18 Sepember 2015)
Hb

10,7 g/dl (normal : 11 15 g/dl)

RBC

3,64 * 106 /mm3 (normal : 4,20 4,87 /mm3)

Leukosit

5700 / mm3 (normal : 4000-10000/mm3)

Trombosit

444.000/mm3 (normal : 150.000-500.000/mm3)

Kimia Klinik
Hati (6 sep 2015)

SGOT

: 25 U/L (normal : 0-38 U/L)

SGPT

: 14 U/L (normal : 0-41 U/L)

Albumin

: 2.9 (normal 3.5-5.0 g/dL)

LDH

: 618 (normal : 240 480 U/L)

Ginjal (8 sept 2015)


Ureum

20 mg/dL (normal : 16,6-48,5 mg/dL )

Klirens Kreatinin

Asam urat

4.40 mg/dL (normal : <8.4 mg/dL)

Kreatinin

0,59mg/dL (normal : 0,50-0,90 mg/dL )

Volume urin/ 24 jam ;

300 ml/24 jam

Klirens Kreatinin

150.4 mL/menit (normal : 75-125 mL/m)

Elektrolit (6 Sept 2015)


Kalsium (Ca)

: 8.4mg/dL (normal : 8.8-10.2 mg/dL)

Natrium

: 137 mEq/L (normal : 135-155mEq/L)

Kalium

: 3.6 (normal = 3.5 5.5 mEq/L)

EKG : (5 september 2015)


Kesan :
Irama

: sinus takikardi

HR

: 96x/m

Axis

: deviasi axsis kanan

p-r interval

: 0.16

QRS complex : 0.06


R/S di V1 <1 ; S di V1 + R di V6 < 35 ; Right bundle branch block
ST-T change : tidak ada
QT interval

: normal

Rontgen Thorax PA (22 September 2015)


1. Kondisi foto baik
2. Simetris kanan = kiri
3. Trakhea terdorong ke kiri
4. Sela iga kiri baik, sela iga kanan sulit dinilai
5. CTR tidak dapat dinilai
6. Sudut costophrenicus kiri tajam, kanan tidak dapat dinilai
7. Parenkim paru : pleura terdapat perselubungan homogen di paru kanan mulai
dari ICS I-II
Kesan : Efusi maligna di hemithorax kanan,

Pemeriksaan PA (14 Agustus 2015)


Makros : TTB
Mikros : Sediaan berasal dari sitologi TTB, kualitas sediaan baik, populasi seluler,
latar belakang RBC, Diantaranya dijumpai sel radang neutrofil, mesothel, dan klusterkluster sel dengan inti bulat-oval, hiperkromatik, letak eksentrik, sitoplasma basofilik
I : 54.9

M :8140/3

Kesan : Suatu karsinoma, tampaknya adenokarsinoma pada sitologi TTB

Cairan pleura
Makros :
Volume

: 10 mL

Warna

: kuning kemerahan

Kejernihan

: agak keruh

Bau

: tidak berbau

Berat Jenis

: 1.025

Bekuan

: positif

pH

: 7,0

Leukosit

: 1357.0 sel/uL

PMN sel

: 15 %

MN sel

: 85%

Kimia :
Rivalta

: negative

Protein

: 162.6 g/dL

LDH

: 3032 U/L

Glukosa

: 38.5 mg/dL

V.

RESUME

Keluhan utama
Sesak nafas bertambah berat sejak 1 minggu SMRS
Keluhan Tambahan
Nyeri dada kanan 3 minggu SMRS
Riwayat Perjalanan Penyakit
3 bulan SMRS OS mengeluh sering sakit kepala seperti ditusuk-tusuk, pandangan
OS berobat ke bidan dan diberi obat penghilang nyeri, tapi keluhan tidak berkurang.
3 minggu SMRS OS mengeluh sesak nafas, sesak berkurang bila berbaring ke arah
kanan, batuk (+), dahak (+), batuk berdarah (+) berwarna merah segar, banyaknya
sdm tiap batuk suara serak (+), nyeri menelan (+),penurunan berat badan (+), OS lalu
berobat ke RSMH dan di katakan menderita tumor paru. OS mengaku dilakukan

WSD dan di dapatkan cairan 8 botol, cairan berwarna merah. OS disarankan untuk
kemoterapi, tetapi pasien menolak.
1 minggu SMRS, OS mengeluh sesak bertambah berat, sesak berkurang jika
berbaring ke arah kanan, OS merasa sesak berkurang bila berbaring ke arah kanan,
batuk (+), dahak (+), batuk berdarah (+) berwarna merah segar, banyaknya sdm tiap
batuk, nyeri dada kanan (+) tidak menjalar, sakit kepala (+),suara serak (+), nyeri
menelan (+),penurunan berat badan (+),OS lalu datang ke RSMH untuk menjalani
kemoterapi yang pertama. OS kembali di sedot cairan melalui dada dan didapatkan
cairan berwarna merah. OS memiliki riwayat merokok 39 tahun.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi pernafasan meningkat, pada
pemeriksaan paru di dapatkan inspeksi dinamis paru kanan tertinggal, palpasi stem
fremitus kanan menurun, perkusi redup pada seluruh lapangan paru kanan, dan pada
auskultasi didapatkan suara nafas vesikular menurun yang berarti ada suatu cairan di
rongga pleura (efusi pleura). Pada pemeeriksaan laboratorium dan analisa cairan
pleura, tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi. Pada pemeriksaan rontgen thorax,
ditemukan adanya gambaran radiopaque homogen di seluruh hemithorax kanan yang
menunjukkan suatu efusi pleura. Pada pemeriksaan biopsi transtorakal dengan hasil
PA didapatkan kesan suatu karsinoma yang tampaknya adenokarsinoma. Jadi,
kemungkinan efusi pleura tersebut disebabkan oleh suatu proses keganasan yang
merupakan suatu efusi pleura maligna et causa adenocarcinoma paru.

VI.

DIAGNOSIS KERJA SEMENTARA


Efusi pleura dextra et causa adenokarsinoma paru

VII.

DIAGNOSIS BANDING
Efusi pleura et causa TB paru
Efusi pleura er causa pneumonia

VIII. PENATALAKSANAAN
Non Farmakologis
-

Istirahat

Diet NB

O2 3 L/menit

Edukasi

Farmakologis

IX.

IVFD RL gtt xx/m

Asam Folat 3x1mg

Neurodex 1x1 tab

Tramadol 2x100mg IV

Ambroxol syr 3x1C

Injeksi Ca glukonas 3x1 amp

RENCANA PEMERIKSAAN

X.

staging tumor

usg abdomen

ct scan kepala

ct scan thorax

bone survey

sputum BTA

PROGNOSIS

Quo ad vitam : dubia

Quo ad functionam : dubia ad malam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Efusi pleura adalah adanya penumpukan cairan dalam rongga (kavum) pleura
yang melebihi batas normal.Dalam keadaan normal terdapat 10-20 cc cairan. 1 Efusi
pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura atau Efusi pleura adalah suatu
keadaan dimana terdapatnya cairan pleura dalam jumlah yang berlebihan di dalam
rongga pleura, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pembentukan dan
pengeluaran cairan pleura.1
Dalam konteks ini perlu di ingat bahwa pada orang normal rongga pleura ini
juga selalu ada cairannya yang berfungsi untuk mencegah melekatnya pleura viseralis
dengan pleura parietalis, sehingga dengan demikian gerakan paru (mengembang dan
mengecil) dapat berjalan dengan mulus. Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam
rongga pleura sekitar 10-20 ml. Cairan pleura komposisinya sama dengan cairan
plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5
gr/dl. 1
Ada beberapa jenis cairan yang bisa berkumpul di dalam rongga pleura antara
lain darah, pus, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi1,2
a.

Hidrotoraks
Pada keadaan hipoalbuminemia berat, bisa timbul transudat. Dalam hal ini

penyakitnya disebut hidrotorak dan biasanya ditemukan bilateral. Sebab-sebab lain


yang mungkin adalah kegagalan jantung kanan, sirosis hati dengan asites, serta sebgai
salah satu tias dari syndroma meig (fibroma ovarii, asites dan hidrotorak).
b.

Hemotoraks
Hemotorak adalah adanya darah di dalam rongga pleura. Biasanya terjadi

karena trauma toraks. Trauma ini bisa karna ledakan dasyat di dekat penderita, atau
trauma tajam maupu trauma tumpul. Kadar Hb pada hemothoraks selalu lebih besar
25% kadar Hb dalam darah. Darah hemothorak yang baru diaspirasi tidak membeku
beberapa menit. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah terpakai sedangkan
fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Bila darah aspirasi segera membeku, maka

biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.Penyebab lainnya


hemotoraks adalah:
Pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke

dalam ronggapleura.
Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang

kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura.


Gangguan pembekuan darah, akibatnya darah di dalam rongga pleura tidak
membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan melelui
sebuah jarum atau selang.

c.

Empiema
Bila karena suatu infeksi primer maupun sekunder cairan pleura patologis

iniakan berubah menjadi pus, maka keadaan ini disebut piotoraks atau empiema. Pada
setiap kasus pneumonia perlu diingat kemungkinan terjadinya empiema sebagai salah
satu komplikasinya. Empiema bisa merupakan komplikasi dari:
Pneumonia
Infeksi pada cedera di dada
Pembedahan dada
d.

Chylotoraks
Kilotoraks adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan kil/getah bening

pada rongga pleura.Adapun sebab-sebab terjadinya kilotoraks antara lain :

Kongenital, sejak lahir tidak terbentuk (atresia) duktus torasikus, tapi terdapat

fistula antara duktus torasikus rongga pleura.


Trauma yang berasal dari luar seperti penetrasi pada leher dan dada, atau
pukulan pada dada (dengan/tanpa fratur).Yang berasal dari efek operasi daerah
torakolumbal, reseksi esophagus 1/3 tengah dan atas, operasi leher, operasi

kardiovaskular yang membutuhkan mobilisasi arkus aorta.


ObstruksiKarena limfoma malignum, metastasis karsinima ke mediastinum,
granuloma mediastinum (tuberkulosis, histoplasmosis).
Penyakit-penyakit ini memberi efek obstruksi dan juga perforasi terhadap

duktus torasikus secara kombinasi.Disamping itu terdapat juga penyakit trombosis


vena subklavia dan nodul-nodul tiroid yang menekan duktus torasikus dan
menyebabkan kilotoraks.

2.2 Anatomi dan Fisiologi Pleura


Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceralis dan
parietalis.Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial, jaringaan
ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang sangat tipis.Membran
serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura viseralis, sedangkan membran
serosa yang melapisi dinding thorak, diafragma, dan mediastinum disebut pleura
parietalis.Rongga pleura terletak antara paru dan dinding thoraks.Rongga pleura
dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas antara kedua
pleura.Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus paru. Dalam hal ini, terdapat
perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya :1,2
1.

Pleura Visceralis
Permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesothelial yang tipis <

30mm.Diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit. Di bawah sel-sel mesothelial
ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit, di bawahnya terdapat lapisan
tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik. Lapisan terbawah terdapat
jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari
a. Pulmonalis dan a. Brakhialis serta pembuluh limfeMenempel kuat pada jaringan
paruFungsinya. untuk mengabsorbsi cairan pleura.
2.

Pleura parietalis
Jaringan lebih tebal terdiri dari sel-sel mesothelial dan jaringan ikat (kolagen

dan elastis). Dalam jaringan ikat tersebut banyak mengandung kapiler dari a.
Intercostalis dan a. Mamaria interna, pembuluh limfe, dan banyak reseptor saraf
sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Keseluruhan berasal
n. Intercostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Mudah
menempel dan lepas dari dinding dada di atasnyaFungsinya untuk memproduksi
cairan pleura

Gambar 1. Tampilan depan paru dan pleuranya


FISIOLOGI
Cairan pleura berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan pleura parietalis
dan pleura viseralis bergerak selama pernapasan dan untuk mencegah pemisahan
toraks dan paru yang dapat dianalogkan seperti dua buah kaca objek yang akan saling
melekat jika ada air. Kedua kaca objek tersebut dapat bergeseran satu dengan yang
lain tetapi keduanya sulit dipisahkan. 3,4
Cairan pleura dalam keadaan normal akan bergerak dari kapiler di dalam pleura
parietalis ke ruang pleura kemudian diserap kembali melalui pleura viseralis. Masingmasing dari kedua pleura merupakan membran serosa mesenkim yang berpori-pori,
dimana sejumlah kecil transudat cairan intersisial dapat terus menerus melaluinya
untuk masuk kedalam ruang pleura. 3,4
Selisih perbedaan absorpsi cairan pleura melalui pleura viseralis lebih besar
daripada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan
pleura viseralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga dalam keadaan normal
hanya ada beberapa mililiter cairan di dalam rongga pleura.

Gambar2 memperlihatkan dinamika pertukaran cairan dalam ruang


pleura.

Jumlah total cairan dalam setiap rongga pleura sangat sedikit, hanya beberapa
mililiter yaitu 1-5 ml. Dalam kepustakaan lain menyebutkan bahwa jumlah cairan
pleura sebanyak 12-15 ml. Kapanpun jumlah ini menjadi lebih dari cukup untuk
memisahkan kedua pleura, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar oleh
pembuluh limfatik (yang membuka secara langsung) dari rongga pleura kedalam
mediastinum, permukaan superior dari diafragma, dan permukaan lateral pleural
parietalis. Oleh karena itu, ruang pleura (ruang antara pleura parietalis dan pleura
visceralis) disebut ruang potensial, karena ruang ini normalnya begitu sempit
sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas. 3,4
3.3 Epidemiologi
Estimasi prevalensi efusi pleura adalah 320 kasus per 100.000 orang di
negara-negara industri, dengan distribusi etiologi terkait dengan prevalensi penyakit
yang mendasarinya.
Secara umum, kejadian efusi pleura adalah sama antara kedua jenis kelamin.
Namun, penyebab tertentu memiliki kecenderungan seks. Sekitar dua pertiga dari
efusi pleura ganas terjadi pada wanita. Efusi pleura ganas secara signifikan
berhubungan dengan keganasan payudara dan ginekologi. Efusi pleura yang terkait

dengan lupus eritematosus sistemik juga lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan pada pria. 1

2.4 Etiologi
Ruang pleura normal mengandung sekitar 1 mL cairan, hal ini memperlihatkan
adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik dalam
pembuluh darah pleura viseral dan parietal dan drainase limfatik luas. Efusi pleura
merupakan hasil dari ketidakseimbangan tekanan hidrostatik dan tekanan onkotik.2
Efusi pleura merupakan indikator dari suatu penyakit paru atau non pulmonary,
dapat bersifat akut atau kronis. Meskipun spektrum etiologi efusi pleura sangat luas,
efusi pleura sebagian disebabkan oleh gagal jantung kongestif,. pneumonia,
keganasan, atau emboli paru. Mekanisme sebagai berikut memainkan peran dalam
pembentukan efusi pleura:2
1. Perubahan permeabilitas membran pleura (misalnya, radang, keganasan,
emboli paru)
2. Pengurangan tekanan onkotik intravaskular (misalnya, hipoalbuminemia,
sirosis)
3. Peningkatan permeabilitas kapiler atau gangguan pembuluh darah (misalnya,
trauma, keganasan, peradangan, infeksi, infark paru, obat hipersensitivitas,
uremia, pankreatitis)
4. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler dalam sirkulasi sistemik dan / atau
paru-paru (misalnya, gagal jantung kongestif, sindrom vena kava superior)
5. Pengurangan tekanan dalam ruang pleura, mencegah ekspansi paru penuh
(misalnya, atelektasis yang luas, mesothelioma)
6. Penurunan drainase limfatik atau penyumbatan lengkap, termasuk obstruksi
duktus toraks atau pecah (misalnya, keganasan, trauma)
7. Peningkatan cairan peritoneal, dengan migrasi di diafragma melalui limfatik
atau cacat struktural (misalnya, sirosis, dialisis peritoneal)
8. Perpindahan cairan dari edema paru ke pleura viseral
9. Peningkatan tekanan onkotik di cairan pleura yang persisiten menyebabkan
adanaya akumulasi cairan di pleura
10. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberkulosis, pneumonia,
virus, bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga
pleura), karena tumor dan trauma.

3.5

Klasifikasi
Efusi pleura umumnya diklasifikasikan berdasarkan mekanisme pembentukan

cairan dan kimiawi cairan menjadi 2 yaitu atas transudat atau eksudat. Transudat hasil
dari ketidakseimbangan antara tekanan onkotik dengan tekanan hidrostatik,
sedangkan eksudat adalah hasil dari peradangan pleura atau drainase limfatik yang
menurun. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kombinasi antara karakteristk cairan
transudat dan eksudat.1,2,3
1.

Klasifikasi berasarkan mekanisme pembentukan cairan:


a. Transudat
Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah
transudat. Transudat terjadi apabila terjadi ketidakseimbangan antara tekanan
kapiler hidrostatik dan koloid osmotic, sehingga terbentuknya cairan pada satu
sisi pleura melebihi reabsorpsinya oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terjadi
pada:
1.
2.
3.
4.

Meningkatnya tekanan kapiler sistemik


Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner
Menurunnya tekanan koloid osmotic dalam pleura
Menurunnya tekanan intra pleura
Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah:

a. Gagal jantung kiri (terbanyak)


b. Sindrom nefrotik
c. Obstruksi vena cava superior
d. Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk
melalui saluran getah bening)

b. Exusadat
Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membrane kapiler yang
permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan
protein transudat. Bila terjadi proses peradangan makapermeabilitas kapiler

pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi


bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura.
Penyebab

pleuritis

eksudativa

yang

paling

sering

adalah

karena

mikobakterium tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa


tuberkulosa.Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari
saluran getah bening. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya
pada pleuritis tuberkulosis) akan menyebabkan peningkatan konsentasi protein
cairan pleura, sehingga menimbulkan eksudat.
Penyakit yang menyertai eksudat, antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

3.6

Infeksi (tuberkulosis, pneumonia)


Tumor pada pleura
Infark paru,
Karsinoma bronkogenik
Radiasi,
Penyakit dan jaringan ikat/ kolagen/ SLE (Sistemic Lupus Eritematosis).

Patofisiologi
Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura

melalui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi oleh saluran
limfe, sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi. Kemampuan
untuk reabsorpsinya dapatmeningkat sampai 20 kali. Apabila antara produk dan
reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya meningkat atau reabsorpsinya menurun)
maka akan timbul efusi pleura. 1,2,3,4
Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara
cairan dan protein dalam rongga pleura.Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk
secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler.Filtrasi yang terjadi
karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstitial submesotelial
kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura.Selain itu cairan
pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.Pergerakan cairan dari pleura
parietalis ke pleura visceralis dapat terjadi karena adanya perbedaantekanan
hidrostatik dan tekanan koloid osmotik. Cairan kebanyakan diabsorpsi oleh sistem
limfatik dan hanya sebagian kecil yang diabsorpsi oleh sistem kapiler pulmonal. Hal

yang memudahkan penyerapan cairan pada pleura visceralis adalah terdapatnya


banyak mikrovili di sekitar sel-sel mesothelial.1,2,3,4
Bila penumpukan cairan dalam rongga pleura disebabkan oleh peradangan. Bila
proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadi
empiema/piotoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat
menyebabkan hemotoraks. 1,2,3,4
Penumpukan cairan pleura dapat terjadi bila:
1. Meningkatnya
pembentukan

tekanan
cairan

intravaskuler

pleura

melalui

dari

pleura

pengaruh

meningkatkan

terhadap

hukum

Starling.Keadaan ni dapat terjadi pada gagal jantung kanan, gagal jantung kiri
dan sindroma vena kava superior.
2. Tekanan intra pleura yang sangat rendah seperti terdapat pada atelektasis,
baik karena obstruksi bronkus atau penebalan pleura visceralis.
3. Meningkatnya kadar proteindalam cairan pleura dapat menarik lebih banyak
cairan masuk ke dalam rongga pleura
4. Hipoproteinemia seperti pada penyakit hati dan ginjal bisa menyebabkan
transudasi cairan dari kapiler pleura ke arah rongga pleura
5. Obstruksi dari saluran limfe pada pleum parietalis. Saluran limfe bermuara
pada vena untuk sistemik. Peningkatan dari tekanan vena sistemik akan
menghambat pengosongan cairan limfe, gangguan kontraksi saluran limfe,
infiltrasi pada kelenjar getah bening.

Efusi

pleura

akan

menghambat

fungsi

paru

dengan

membatasi

pengembangannya. Derajat gangguan fungsi dan kelemahan bergantung pada ukuran


dan cepatnya perkembangan penyakit. Bila cairan tertimbun secara perlahan-lahan
maka jumlah cairan yang cukup besar mungkin akan terkumpul dengan sedikit
gangguan fisik yang nyata.
Kondisi efusi pleura yang tidak ditangani, pada akhirnya akan menyebabkan
gagal nafas. Gagal nafas didefinisikan sebagai kegagalan pernafasan bila tekanan
partial Oksigen (Pa O2) 60 mmHg atau tekanan partial Karbondioksida arteri (Pa
Co2) 50 mmHg melalui pemeriksaan analisa gas darah.

3.7 Manifestasi Klinis


Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan oleh penyakit dasar.
Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis,
sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dispnea dan batuk. Ukuran efusi akan
menentukan keparahan gejala. Pada kebanyakan penderita umumnya asimptomatis
atau memberikan gejala demam, ringan ,dan berat badan yang menurun seperti pada
efusi yang lain. 1-5
Dari anamnesa didapatkan :
a. Sesak nafas bila lokasi efusi luas. Sesak napas terjadi pada saat
permulaan pleuritis disebabkan karena nyeri dadanya dan apabila
jumlah cairan efusinya meningkat, terutama kalau cairannya penuh
b. Rasa berat pada dada
c. Batuk pada umumnya non produktif dan ringan, terutama apabila
disertai dengan proses tuberkulosis di parunya, Batuk berdarah pada
karsinoma bronchus atau metastasis
d. Demam subfebris pada TBC, dernarn menggigil pada empiema

Dari pemeriksaan fisik didapatkan (pada sisi yang sakit) :


a.
b.
c.
d.

Dinding dada lebih cembung dan gerakan tertinggal


Vokal fremitus menurun
Bunyi pernafasan menurun sampai menghilang
Pendorongan mediastinum ke sisi yang sehat dapat dilihat atau diraba
pada treakhea

Nyeri dada pada pleuritis :


Simptom yang dominan adalah sakit yang tiba-tiba seperti ditikam dan
diperberat oleh bernafas dalam atau batuk. Pleura visceralis tidak sensitif, nyeri
dihasilkan dari pleura parietalis yang inflamasi dan mendapat persarafan dari
nervus intercostal. Nyeri biasanya dirasakan pada tempat-tempat terjadinya pleuritis,
tapi bisa menjalar ke daerah lain :

1. Iritasi dari diafragma pleura posterior dan perifer yang dipersarafi oleh
G. Nervuis intercostal terbawah bisa menyebabkan nyeri pada dada
dan abdomen.
2. Iritasi bagian central diafragma pleura yang dipersarafi nervus
phrenicus menyebabkan nyeri menjalar ke daerah leher dan bahu.
3.8

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk memperkuatdiagnosa efusi pleura

antara lain :5-10


1. Rontgen dada
Roentgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan
untuk mendiagnosis efusi pleura yang hasilnya menunjukkan adanya
cairan.Foto dada juga dapat menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura
yakni bila terdapat jantung yang membesar, adanya masa tumor, adanya lesi
tulang yang destruktif pada keganasan, dan adanya densitas parenkim yang
lebih keras pada pneumonia atau abses paru.
2. USG Dada
USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan.
Jumlahnya sedikit dalam rongga pleusa. Pemeriksaan ini sangat membantu
sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan dalam rongga pleura.
Demikian juga dengan pemeriksaan CT Scan dada.
3. CT Scan Dada
CT scan dada dapat menunjukkan adanya perbedaan densitas cairan
dengan jaringan sekitarnya sehingga sangat memudahkan dalam menentukan
adanya efusi pleura. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya pneumonia,
abses paru atau tumor. Hanya saja pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan
karena biayanya masih mahal.
4. Torakosentesis
Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan
melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui
torakosentesis.

Torakosentesis adalah pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang


dimasukkan diantara sel iga ke dalam rongga dada di bawah pengaruh
pembiasan lokal dalam dan berguna sebagai sarana untuk diuagnostik
maupun terapeutik.
Pelaksanaan torakosentesis sebaiknya dilakukan pada penderita
dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan toraks, pada bagian bawah paru di
sela iga v garis aksilaris mediadengan memakai jarum Abbocath nomor 14
atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000 1500 cc
pada setiap kali aspirasi. Adalah lebih baik mengerjakan aspirasi berulangulang daripada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleural
shock (hipotensi) atau edema paru.
Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlalu cepat.
Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tapi diperkirakan karena
adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan
aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal.
5. Biopsi Pleura
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya maka
dilakukan biopsi dimana contoh lapisan pleura sebelah luar untuk dianalisa.
Pemeriksaan histologi satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat
menunjukkan 50 -75%

diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkulosa dan

tumor pleura. Bila ternaya hasil biopsi pertama tidak memuaskan, dapat
dilakukan beberapa biopsi ulangan. Pada sekitar 20% penderita, meskipun
telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap
tidak dapat ditentukan. Komplikasi biopsi antara lain pneumotoraks,
hemotoraks, penyebaran infeksi atau tumor pada dinding dada.
6. Analisa cairan pleura
Untuk diagnostic cairan pleura, dilakukan pemeriksaan :5-10
a. Warna Cairan
Biasanya cairan pleura berwama agak kekuning-kuningan (serousxantho-ctrorne.Bila agak kemerah-merahan, ini dapat terjadi pada
trauma, infark paru, keganasan.adanya kebocoran aneurisma aorta. Bila

kuning kehijauan dan agak purulen, ini menunjukkan adanya empiema.


Bila merah tengguli, ini menunjukkan adanya abses karena ameba
b. Biokimia
Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat
yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Perbedaan

Transudat

Eksudat

- Kadar protein dalam efusi (g/dl)

< 3.

> 3.

< 0,5

> 0,5

< 200

> 200

< 0,6

> 0,6

< 1,016

> 1,016

Negatif

positif

- Kadar protein dalam efusi


Kadar protein dalam serum
-Kadar LDH dalam efusi (I.U)
-Kadar LDH dalam efusi
Kadar LDH dalam Serum
-Berat jenis cairan efusi
- Rivalta

Di samping pemeriksaan tersebut di atas. secara biokimia


diperiksakan juga pada cairan pleura :
-

kadar pH dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit


infeksi, artitis reumatoid dan neoplasma

kadar amilase. Biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis


adenokarsinoma.

c. Sitologi
Pemeriksaan sitologi terhadap cairan pleura amat penting untuk
diagnostik penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel patologis
atau dominasi sel-sel tertentu.
-

Sel neutrofil : Menunjukkan adanya infeksi akut.

Sel limfosit : Menunjukkan adanya infeksi kronik sepertipleuritis


tuberkulosa atau limfomamalignum

Sel mesotel : Bila jumlahnya meningkat, ini menunjukkan adanya


infark paru. Biasanya juga ditemukan banyak sel eritrosit.

Sel mesotel maligna : Pada mesotelioma

Sel-sel besar dengan banyak inti : Pada arthritis rheumatoid

Sel L.E : Pada lupus eritematosus sistemik

d. Bakteriologi
Biasanya

cairan

pleura

mengandung mikroorganisme,

steril,
apalagi

tapi

kadang-kadang

bila

dapat

cairannya purulen,

(menunjukkan empiema). Efusi yang purulen dapat mengandung kumankuman yang aerob ataupun anaerob. Jenis kuman yang sering ditemukan
dalam cairan pleura adalah : Pneumokok, E. coli, Kleibsiella,
Pseudomonas, Entero-bacter.
Pada pleuritis tuberkulosa, kultur cairan terhadap kuman tahan
asam hanya dapat menunjukkan yang positif sampai 20%.

e. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan
sumber cairan yang terkumpul. Bronkoskopi biasanya digunakan pada
kasus-kasus neoplasma, korpus alineum dalam paru, abses paru dan
lain-lain

f. Scanning Isotop
Scanning isotop biasanya digunakan pada kasus-kasus dengan
emboli paru.
g. Torakoskopi (Fiber-optic pleuroscopy)

Torakoskopi biasnya digunakan pada kasus dengan neoplasma atau


tuberculosis pleura.Caranya yaitu dengan dilakukan insisi pada dinding
dada (dengan resiko kecil terjadinya pneumotoraks). Cairan dikeluarkan
dengan memakai penghisap dan udara dimasukkan supaya bias melihat
kedua pleura. Dengan

memakai bronkoskop yang lentur dilakukan

beberapa biopsy.

3.9 Diagnosa
Anamnesis dan gejala klinis
Keluhan utama penderita adalah nyeri dada sehingga penderita membatasi
pergerakan rongga dada dengan bernapas pendek atau tidur miring ke sisi yang sakit.
Selain itu sesak napas terutama bila berbaring ke sisi yang sehat disertai batuk batuk
dengan atau tanpa dahak. Berat ringannya sesak napas ini ditentukan oleh jumlah
cairan efusi. Keluhan yang lain adalah sesuai dengan penyakit yang mendasarinya. 2-7
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik toraks didapatkan dada yang terkena cembung selain
melebar dan kurang bergerak pada pernapasan. Fremitus vokal melemah, redup
sampai pekak pada perkusi, dan suara napas lemah atau menghilang. Jantung dan
mediastinum terdorong ke sisi yang sehat. Bila tidak ada pendorongan, sangat
mungkin disebabkan oleh keganasan. 2-7
Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologis mempunyai nilai yang tinggi dalam mendiagnosis efusi
pleura, tetapi tidak mempunyai nilai apapun dalam menentukan penyebabnya. Secara
radiologis jumlah cairan yang kurang dari 100 ml tidak akan tampak dan baru jelas
bila jumlah cairan di atras 300 ml. 2-7
Foto toraks dengan posisi Posterioe Anterior akan memperjelas kemungkinan
adanya efusi pleura masif. Pada sisi yang sakit tampak perselubungan masif dengan
pendorongan jantung dan mediastinum ke sisi yang sehat. 2-7
Torakosentensi
Tujuan torakosentesis (punksi pleura) di samping sebagai diagnostik juga
sebagai terapeutik. 2-7
3.10 Penatalaksanaan

Efusi pleura harus segera mendapatkan tindakan pengobatan karena cairan


pleura akan menekan organ-organ vital dalam rongga dada. Beberapa macam
pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura masif adalah
sebagai berikut :6-7
1. Obati penyakit yang mendasarinya
a. Hemotoraks
Jika darah memasuki rongga pleurahempotoraks biasanya
dikeluarkan melalui sebuah selang.Melalui selang tersebut bisa juga
dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah
(misalnya streptokinase dan streptodornase).Jika perdarahan terus
berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka
perlu dilakukan tindakan pembedahan
b. Kilotoraks
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki
kerusakan saluran getah bening.Bisa dilakukan pembedahan atau
pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah
bening.
c. Empiema
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran
nanah.Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam
bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan
sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang
selang yang lebih besar.Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk
memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi).
d. Pleuritis TB.
Pengobatan dengan obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin, INH,
Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6-12 bulan.
Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis
paru. Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap
kembalai, tapi untuk menghilangkan eksudat ini dengan cepat dapat
dilakukan

torakosentesis.Umumnya

cairan

diresolusi

dengan

sempurna, tapi kadang-kdang dapat diberikan kortikosteroid secara


sistematik (Prednison 1 mg/kgBB selama 2 minggu, kemudian dosis
diturunkan).
2. Torakosentesis
keluarkan cairan seperlunya hingga sesak - berkurang (lega); jangan
lebih 1-1,5 liter pada setiap kali aspirasi. Zangelbaum dan Pare menganjurkan
jangan lebih 1.500 ml dengan waktu antara 20-30 menit. Torakosentesis ulang
dapat dilakukan pada hari berikutnya. Torakosentesis untuk tujuan diagnosis
setiap waktu dapat dikerjakan, sedangkan untuk tujuan terapeutik pada efusi
pleura tuberkulosis dilakukan atas beberapa indikasi.
a. Adanya keluhan subjektif yang berat misalnya nyeri dada, perasaan
tertekan pada dada.
b. Cairan sudah mencapai sela iga ke-2 atau lebih, sehingga akan
mendorong dan menekan jantung dan alat mediastinum lainnya, yang
dapat menyebabkan kematian secara tiba-tiba.
c. Suhu badan dan keluhan subjektif masih ada, walaupun sudah
melewati masa 3 minggu. Dalam hal seperti ini biasanya cairan sudah
berubah menjadi pyotoraks.
d. Penyerapan cairan yang terlambat dan waktu sudah mendekati 6
minggu, namun cairan masih tetap banyak.
3. Chest tube
Jika efusi yang akan dikeluarkan jumlahnya banyak, lebih baik dipasang
selang dada (chest tube), sehingga cairan dapat dialirkan dengan lambat tapi
sempurna. Tidaklah bijaksana mengeluarkan lebih dari 500 ml cairan
sekaligus. Selang dapat diklem selama beberapa jam sebelum 500 ml lainnya
dikeluarkan. Drainase yang terlalu cepat akan menyebabkan distres pada
pasien dan di samping itu dapat timbul edema paru.
4. Pleurodesis
Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura sehingga akan
mencegah penumpukan cairan pluera kembali. Hal ini dipertimbangkan untuk
efusi pleura yang rekuren seperti pada efusi karena keganasan Sebelum
dilakukan pleurodeSis cairan dikeluarkan terlebih dahulu melalui selang dada
dan paru dalam keadaan mengembang.
Pleurodesis dilakukan dengan

memakai

bahan

sklerosis

yang

dimasukkan ke dalam rongga pleura. Efektifitas dari bahan ini tergantung pada

kemampuan untuk menimbulkan fibrosis dan obliterasi kapiler pleura. Bahanbahan yang dapat dipergunakan untuk keperluan pleurodesis ini yaitu :
Bleomisin, Adriamisin, Siklofosfamid, ustard, Thiotepa, 5 Fluro urasil, perak
nitrat, talk, Corynebacterium parvum dan tetrasiklin Tetrasiklin merupakan
salah satu obat yang juga digunakan pada pleurodesis, harga murah dan mudah
didapat dimana-mana. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar masukkanlah
tetrasiklin sebanyak 500 mg yang sudah dilarutkan dalam 20-30 ml larutan
garam fisiologis ke dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti segera dengan 10
ml larutan garam fisiologis untuk pencucian selang dada dan 10 ml lidokain
2% untuk mengurangi rasa sakit atau dengan memberikan golongan narkotik
1,5-1 jam sebelum dilakukan pleurodesis. Kemudian kateter diklem selama 6
jam, ada juga yang melakukan selama 30 menit dan selama itu posisi penderita
diubah-ubah agar tetrasiklin terdistribusi di seluruh rongga pleura. Bila dalam
24-48 jam cairan tidak keluar lagi selang dada dicabut.
5. Pengobatan pembedahan mungkin diperukan untuk :
a.
Hematoraks terutama setelah trauma
b.
Empiema
c.
Pleurektomi yaitu mengangkat pleura parietalis; tindakan ini jarang
dilakukan kecuali pada efusi pleura yang telah mengalami kegagalan
setelah mendapat tindakan WSD, pleurodesis kimiawi, radiasi dan
kemoterapi sistemik, penderita dengan prognosis yang buruk atau pada
d.

empiema atau hemotoraks yang tak diobati


Ligasi duktus torasikus, atau pleuropritoneal

shunting

yaitu

menghubungkan rongga pleura dengan rongga peritoneum sehingga cairan


pleura mengalir ke rongga peritoneum. Hal ini dilakukan terutama bila
tindakan torakosentesis maupun pleurodesis tidak memberikan hasil yang
memuaskan; misalnya tumor atau trauma pada kelenjar getah bening.
3.11Komplikasi
1.

Infeksi.
Pengumpulan cairan dalam ruang pleura dapat mengakibatkan

infeksi (empiema primer), dan efusi pleura dapat menjadi terinfeksi setelah
tindakan torasentesis {empiema sekunader).Empiema primer dan sekunder
harus didrainase dan diterapi dengan antibiotika untuk mencegah reaksi

fibrotik. Antibiotika awal dipilih gambaran klinik. Pilihan antibiotika dapat


diubah setelah hasil biakan diketahui.9
2.

Fibrosis
Fibrosis pada sebagian paru-paru

dapat mengurangi ventilasi

denganmembatasi pengembangan paru. Pleura yang fibrotik juga dapat


menjadi sumber infeksi kronis, menyebabkan sedikit demam. Dekortikasireseksipleura lewat pembedahan-mungkin diperlukan untuk membasmi
infeksidan mengembalikan fungsi paru-paru. Dekortikasi paling baik
dilakukandalam 6 minggu setelah diagnosis empiema ditegakkan, karena
selamajangka waktu ini lapisan pleura masih belum terorganisasi dengan
baik(fibrotik) sehingga pengangkatannya lebih mudah.9

3.12 Prognosis
Prognosis pada efusi pleura bervariasi sesuai dengan etiologi yang mendasari
kondisi itu.Namun pasien yang memperoleh diagnosis dan pengobantan lebih dini
akan lebih jauh terhindar dari komplikasi daripada pasien yang tidak memedapatkan
pengobatan dini.
Efusi ganas menyampaikan prognosis yang sangat buruk, dengan kelangsungan
hidup rata-rata 4 bulan dan berarti kelangsungan hidup kurang dari 1 tahun.Efusi dari
kanker yang lebih responsif terhadap kemoterapi, seperti limfoma atau kanker
payudara, lebih mungkin untuk dihubungkan dengan berkepanjangan kelangsungan
hidup, dibandingkan dengan mereka dari kanker paru-paru atau mesothelioma.1,2
Efusi parapneumonic, ketika diakui dan diobati segera, biasanya dapat di
sembuhkan tanpa gejala sisa yang signifikan. Namun, efusi parapneumonikyang
tidakterobati atau tidak tepat dalam pengobatannya dapat menyebabkan fibrosis
konstriktif.1,2

BAB IV
ANALISIS KASUS

Efusi pleura ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan


pemeriksaan penunjang. Pada pasien ini, ditemukan gejala sesak nafas yang
bertambah berat 1 minggu SMRS dan nyeri dada saaat bernafas. Pada pemeriksaan
fisik,ditemukan frekuensi pernafasan meningkat, pada pemeriksaan paru di dapatkan
inspeksi dinamis paru kanan tertinggal, palpasi stem fremitus kanan menurun, perkusi
redup pada seluruh lapangan paru kanan, dan pada auskultasi didapatkan suara nafas
vesikular menurun yang berarti ada suatu cairan di rongga pleura (efusi pleura). Pada
pemeeriksaan laboratorium dan analisa cairan pleura, tidak ditemukan adanya tandatanda infeksi. Pada pemeriksaan rontgen thorax, ditemukan adanya gambaran
radiopaque homogen di seluruh hemithorax kanan yang menunjukkan suatu efusi
pleura. Pada pemeriksaan biopsi transtorakal dengan hasil PA didapatkan kesan suatu
karsinoma yang tampaknya adenokarsinoma. Jadi, kemungkinan efusi pleura tersebut

disebabkan oleh suatu proses keganasan yang merupakan suatu efusi pleura maligna
et causa adenocarcinoma paru.
Seiring dengan yang ditemukan pada pasien ini, menurut Perhimpunan Dokter
Paru Indoneia (2003), efusi pleura ganas ini memberikan gejala seperti sesak nafas,
nafas pendek, batuk, nyeri dada, dan isi dada terasa penuh. Gejala ini sangat
bergantung pada jumlah cairan dalam rongga pleura. Pada pemeriksaan fisik,
ditemukan gerakan diafragma berkurang dan deviasi trakea dan/atau jantung ke arah
kontralateral, fremitus melemah, perkusi redup dan suara nafas vesikular melemah
pada sisi thorax yang sakit
Pasien ini didiagnosis bandingkan dengan efusi pleura et causa TB paru,
dikarenakan pada anamnesis ditemukan gejala seperti batuk >3 minggu, batuk darah,
sesak, penurunan berat badan, namun tidak ditemukan gejala sering berkeringat di
malam hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda efusi pleura. Pada
pemeriksaan rontgen thorax ditemukan adanya infiltrat ataupun kavitas. Pada analisa
cairan peura tidak ditemukan adanya tanda-tanda infeksi. Namun untuk lebih
memastikannya, dibutuhkan peemriksaan sputum BTA.
Jadi kemungkinan efusi pleura akibat TB dapat disingkirkan dan kemungkinan efusi
pleura akibat keganasan belum dapat disingkirkan.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Kanker Paru


Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta. 2003.

2.

Syahruddin E, Hudoyo A, Arief N. Efusi Pleura Ganas


Pada Kanker Paru. Jakarta. 2003

3.

Landis SH, Miiray T, Bolden S, Wingo PA. Cancer


1998. Ca Cancer J Clin 1998; 48:6-29

4.

Stover DE. Women, smoking and lung cancer. Chest


1998; 113:1-2

5.

Pass HI, Mitehell JB, Johnson DH, Andrew TT. Lung


Cancer. Principles and Practice. Nyew York, Lippincott-raven,1996.

6.

American Thoracic Society. Management of Malignant


Pleural Effusin. Am J Respir Crit Care Med 2000; 162: 1987-2001

7.

Jablons D. Management of the Pleural Effusions. In :


Perry MC editor. American Society of clinical oncology educational book.
Alexandria : ASCO; 2004.p.481-7

8.

Antunes G, Neville E, Duffy J, Ali N. BTS guidelines


for management of malignant pleural effusions. Thorax 2003; 58 (Suppl II):ii29ii38

9.

Light RW. Pleural Effusion. N Engl J Med 2002;


345:1971-7

10.

Sahn SA. Malignant pleural effusions. Semin Respir


Crit Care Med 2001; 22: 607-15

Laporan Kasus
Seorang laki-laki berusia 39 tahun datang dengan keluhan sesak nafas yang
bertambah berat sejak 1 minggu SMRS

Oleh:
Anna Adika Putri, S.Ked
NIM : 04084821517079
Syena Damara Riza Gustam, S.Ked
NIM : 04084821517083

Pembimbing:
Dr. Surya Darma, SpPD

DEPARTEMEN PENYAKIT DALAM


RSUP DR MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Kasus

Judul
Seorang laki-laki usia 39 tahun datang dengan keluhan sesak nafas yang
bertambah berat sejak 1 minggu SMRS
Oleh:
Anna Adika Putri, S.Ked
NIM : 04084821517079
Syena Damara Riza Gustam, S.Ked
NIM : 04084821517083
Pembimbing:
Dr. Surya Darma, SpPD
Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan
Klinik Senior di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univesitas
Sriwijaya Rumah Sakit Moh. Hoesin periode 24 Agustus 2015 30 Oktober 2015.

Palembang, September 2015

dr. Surya Darma, Sp.PD