Anda di halaman 1dari 8

ZIKIR HARUS SESUAI ATURAN

Buya Risman Muchtar Jakarta

Bahwa Syariat telah menjelaskan beberapa


kaidah pokok tentang ibadah, antara lain:
Ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan
diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati
segala perintahNya, menjauhi segala
laranganNya dan mengamalkan segala yang
diizinkan Allah. Ibadah itu ada yang umum
dan ada yang khusus. Ibadah umum ialah
segala amal yang diizinkan Allah,
sedangkan ibadah khusus ialah apa yang
telah ditetapkan Allah akan perincianperinciannya, tingkah dan cara-caranya
yang
tertentu.
Dalam hal ibadah khusus, ada tiga kaidah
yang
berlaku:
a. Al-Ashlu filibadah Al amru (hukum
pokok dalam ibadah adalah diperintah).
b. Al-Ashlu filibadah Attauqif wal-ittiba
(hukum pokok dari ibadah adalah diam
(menunggu perintah) dan mengikuti (contoh
sunnah
Rasulullah).
c. Al-Ashlu filibadah attahrim wal- bathlu
illa ma jaaa bihi ad-dalil ala awaamirihi
(hukum pokok dalam ibadah adalah haram
dan bathal kecuali ada dalil yang
memerintahkannya).
Dengan kaidah tersebut, maka Zikir Jamaah
ala zikir Arifin Ilham telah memenuhi
ketentuan sebagai ibadah mahdhah, karena di
dalamnya terdapat haiah (keadaan-keadaan)
dan
juziyyat
(bagian-bagian)
yang
makhshushah (tertentu) berupa urut-urutan
yang telah dirancang sedemikian rupa atau
dapat disebut sebagai salah satu bentuk
thariqat zikir, sebagaimana yang ditulis
dalam bukunya dengan sub judul Zikir Arifin
Ilham,
seperti
melakukannya
secara
berjamaah dalam keadaan berwudhu,
berpakaian putih-putih, di majelis yang

dihadiri oleh laki-laki dan perempuan dengan


dipimpin oleh seorang pemimpin zikir dan
dilantunkan dengan suara jahar (keras) serta
dengan bacaan-bacaan zikir (versi) tertentu
dan jumlah (porsi) tertentu pula dalam
keadaan duduk bershaf-shaf seperti shaf
shalat serta menghadap kiblat dan terakhir
ditutup
dengan
sujud
taubah.
Kita harus korektif dalamberibadah. Jangan
latah mengikuti tren yang sedang
berkembang. Beribadah dan berzikir boleh
sebanyak-banyaknya, tapi harus sesuai
aturan Allah. mai, mag Indeks Majalah
Tabligh
Online
DILARANG
BERZIKIR
DENGAN
MENGERASKAN
SUARA
Adab Zikir Yang Shahih Menurut Putusan
Tarjih
PP
Muhammadiyah
1. Berzikir dalam hati (dengan suara
perlahan)
dan
merendahkan
diri,
sebagaimana dijelaskan dalam firman
Allah:




Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam
hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara,
di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai (AlAraf
205).
2. Larangan dengan suara keras karena Allah
Maha Mendengar lagi Maha Dekat,
sebagaimana dijelaskan dalam hadits
Rasulullah
SAW:
Diriwayatkan dari Abu Musa RA, ia
berkata: Tatkala Rasulullah SAW menuju
Khaibar, prajurit Rasul mengamati dari atas
lembah lalu mereka mengeraskan suara
dengan takbir Allahu Akbar Allahu Akbar!

Maka
Rasulullah
SAW
bersabda:
Rendahkanlah suaramu karena kamu tidak
menyeru Tuhan yang tuli dan yang gaib,
tetapi kamu menyeru kepada Tuhan Yang
Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia
bersamamu. Sedangkan aku berada di
belakang kendaraan Rasulullah SAW.
Lalu beliau mendengarkan aku mengucapkan
La haula wa la quwwata illa billah. Maka
beliau bersabda kepadaku, Wahai Abdullah
bin Qais! Aku menjawab, Hamba ya
Rasulullah. Rasulullah bersabda, Maukah
aku tunjukkan sepatah kata yang merupakan
harta terpendam dari harta-harta di surga?
Aku menjawab, Mau ya Rasulullah. Bapak
dan ibuku menjadi taruhannya. Rasulullah
SAW bersabda: La haula wa la quwwata illa
billah. (HR. Bukhari, Abu Daud dan
Ahmad). mai, mag Indeks Majalah Tabligh
Online
ZIKIR BERJAMAAH JELAS BIDAH!
Dalam berbagai hal, termasuk dalam masalah
agama, mayoritas kaum Muslimin terutama
yang awam menilai benar tidaknya suatu
amalan berdasarkan tokoh dan banyaknya
orang
yang
melakukannya.
Kata mereka, mana mungkin sang tokoh
salah? Mereka itu kan kiai, mereka itu kan
tokoh agama, mereka itu kan tokoh MUI,
mereka kan orang pimpinan pusat, dan
seterusnya. Padahal standar kebenaran
agama adalah Al-Quran dan As-Sunnah.
Demikian pula dalam menyikapi Zikir
Jamaah Arifin Ilham. Apakah Zikir Jamaah
Arifin Ilham itu amalan sunnah ataukah
bidah, harus dikritisi berdasarkan nas-nas
Al-Quran
dan
Hadits
Nabi.
Allah SWT menjadikan Islam sebagai agama
yang sempurna dan lengkap syariatnya.
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan
kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agamamu (Al-Maidah 3).
Rasulullah SAW menegaskan: Sungguh,

aku tinggalkan kalian di atas yang putih


bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak
akan
menyimpang
daripadanya
sepeninggalku kecuali orang yang celaka
(HR. Ibny Majah, Ahmad, Hakim dan
Thabrani).
Karena Islam sudah sempurna dan lengkap,
maka dalam beribadah kepada Allah harus
mengikuti
teladan
Nabi.


Barangsiapa yang mentaati Rasul itu,
sesungguhnya ia telah mentaati Allah (AnNisa
80)



Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka
terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat
keras
hukuman-Nya
(Al-Hasyr
7).
Dengan demikian, maka dalam beribadah
harus ada teladannya dari Rasulullah SAW.
Setiap peribadatan yang diada-adakan dan
tidak ada contohnya dari Rasulullah adalah
bidah yang pasti tertolak dan diancam
dengan
neraka.
Kamu harus berpegang teguh pada
sunnahku setelah (Al-Qur`an) dan sunnah
Khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk
Allah sesudahku. Berpeganglah kepada
sunnah itu dan gigitlah dengan gigi
gerahammu sekuat-kuatnya, serta jauhilah
perbuatan baru (dalam agama), karena setiap
perbuatan baru itu adalah bidah, dan setiap
bidah
itu
sesat
(HR.
Muslim).
Dilihat dari asal dalilnya, bidah ada dua
macam, yaitu bidah haqiqiyah dan bidah
idhafiyah. Bidah haqiqiyah adalah bidah
yang tidak ada dalilnya sama sekali baik
dalam Al-Quran, Sunnah maupun ijma.
Sedangkan bidah idhafiyah, di satu sisi
mempunyai dalil sebagai dasar pijakan suatu
amalan, tapi praktiknya tidak berdasarkan

dalil dan teladan Rasulullah. Contohnya,


shalat sunnah berjamaah. Shalat sunnah
memang ada perintahnya, tapi melakukan
dengan berjamaah kecuali shalat tarawih di
bulan Ramadhan sama sekali tidak ada
contohnya.
Jadi, tidak semua yang asalnya disyariatkan,
berlaku pula dalam segala hal. Dengan kata
lain, tidak semua amalan yang asalnya
disyariatkan, bisa dikatakan masyru (sesuai
dengan syariat). Misalnya: Membaca AlQuran, adalah ibadah yang disyariatkan.
Tapi jika dilakukan pada waktu sujud dan
rukuk, maka ini dilarang (tidak syari).
Termasuk dalam bidah idhafiyah adalah
Zikir
Jamaah
Arifin
Ilham.
Zikir kepada Allah (zikrullah) adalah amalan
ibadah yang disyariatkan, bahkan termasuk
amalan yang utama untuk mendekatkan diri
kepada
Allah.


ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat
(pula) kepadamu (Al-Baqarah 152).



Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari
ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (AlAnkabut
45).


Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya
kamu
beruntung
(Al-Jumuah
10).
Dua kalimat yang ringan diucapkan, berat
dalam timbangan, sangat dicintai oleh Allah
Yang Maha Pengasih, yaitu: Subhanallah
wabihamdihi Subhanallahil-Adhim (HR.
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Jadi, zikir adalah amalan yang besar
keutamaan
dan
derajatnya.
Tetapi, zikir menjadi bidah bila divermak

menjadi zikir model baru dengan aturanaturan tertentu, seperti Zikir Arifin Ilham. Di
mana ia memberi nama khusus Adzkar
Amaliah At-Taubah, dilakukan dengan
berjamaah (bersama-sama) berbaju putihputih, dengan suara keras, disertai tangisan,
dll, sama sekali tidak pernah dicontohkan
oleh
Nabi
dan
para
sahabat.
Menetapkan tata cara baru dalam ibadah
zikir adalah perbuatan baru yang diadaadakan tanpa ada contohnya dari Nabi. Maka
di
sini
berlaku
hadits
Nabi:
Jauhilah perkara-perkara yang baru
(muhdas), karena setiap perkara yang baru
adalah bidah, dan setiap bidah adalah
kesesatan (dhalalah), dan setiap kesesatan
akan
masuk
neraka.
Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu
yang baru dalam urusan agama kami ini yang
tidak kami perintahkan, maka ia tertolak
(HR.
Bukhari).
Abdullah
bin
Umar
berkata:
Setiap bidah adalah kesesatan, walaupun
dianggap baik oleh manusia (diriwayatkan
oleh Al-LalikaI dalam Syarah Ushul Itiqad
Ahlissunnah, I/126). mai, mag Indeks
Majalah
Tabligh
Online
DZIKIR
SESUDAH
SHALAT
Shalat merupakan sarana komunikasi antara
manusia (makhluk) dengan Allah (Khaliq).
Minimal lima kali dalam sehari semalam kita
melakukan komunikasi dengan Allah melalui
shalat Fardhu. Selain itu, kita juga bisa
menambah frekwensi komunikasi melalui
shalat-shalat
sunnah.
Namun, kuantitas komunikasi tersebut
kurang bermakna jika tidak dibarengi dengan
kualitas. Sebab, dalam praktiknya tidak
jarang hati kita lalai dari mengingat Allah
(dzikrullah) ketika kita melakukan shalat.
Padahal dzikrullah tersebut merupakan
tujuan utama shalat. Sebagaimana firman

Allah:


Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak
ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka
sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk
mengingatKu
(Qs.
Thaha
14).
Meskipun tidak sampai membatalkan shalat,
hal tersebut dapat mengurangi nilai shalat
kita. Shalat kita hanya dapat menggugurkan
kewajiban karena shalat kita hanya terdiri
dari gerakan dan ucapan yang hampa
lantaran tidak disertai dengan dzikrullah.
Keutamaan
Dzikir
setelah
Shalat
Dzikir yang dibaca setelah shalat itu
memiliki beberapa keutamaan (fadhilah). Di
antaranya dapat menghapuskan dosa-dosa.
Rasulullah SAW menegaskan: Dari Abu
Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW
bersabda, Barang siapa yang bertasbih
kepada Allah (membaca Subhaanallah
{Maha Suci Allah}) pada setiap kali selesai
shalat sebanyak 33 kali, bertahmid
(membaca Alhamdulillaah {segala puji bagi
Allah}) 33 kali, bertakbir (membaca Allahu
Akbar {Allah Maha Besar}) 33 kali sehingga
berjumlah
99.
Kemudian
ia
menggenapkannya menjadi 100 dengan
membaca laa ilaaha illallaah wahdahuu laa
syariikalah, lahul mulku wa lahulhamdu
wahuwa alaa kulli syayin qadiir, maka
dosa-dosanya akan diampuni meskipun
sebanyak buih di lautan (HR Imam Ahmad,
Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Demikian tingginya nilai bacaan dzikir
tersebut di sisi Allah sehingga para sahabat
begitu antusias untuk mengamalkannya. Hal
ini dapat kita lihat pada hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Muslim dari Sumai dari Abu Shalih dari Abu
Hurairah, Bahwasanya kaum fuqara dari
kalangan Muhajirin datang menemui Nabi
saw seraya berkata, Telah pergi orang-orang
kaya dengan derajat yang tinggi dan nimat
yang berlimpah. Nabi bertanya, Ada apa

gerangan ? Kaum Muhajirin menjawab,


Mereka shalat sebagaimana kami shalat;
mereka
berpuasa
sebagaimana
kami
berpuasa;
mereka
dapat
bersedekah
sedangkan kami tidak; mereka dapat
memerdekakan budak sedangkan kami
tidak. Maka, Rasulullah saw bersabda,
Bukankah sudah aku ajarkan kepadamu
suatu dzikir yang dapat menyamai orangorang mendahului kamu dan dapat
mendahului orang-orang sesudahmu. Tidak
ada seseorang-pun yang lebih utama dari
padamu
kecuali
orang-orang
yang
memperbuat seperti yang kamu perbuat?
Mereka menjawab, Ya wahai Rasulullah.
Beliau bersabda, Kamu bertasbih kepada
Allah, bertakbir dan bertahmid pada setiap
kali selesai mengerjakan shalat sebanyak 33
kali.Kaum Muhajirin tersebut kembali
menemui Rasulullah saw seraya berkata,
Saudara-saudara kami, orang-orang kaya,
mengetahui apa-apa yang telah kami perbuat
sehingga mereka-pun memperbuat hal yang
sama. Maka, Rasulullah saw bersabda,
Demikianlah Allah memberikan keutamaan
kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Lafaz
Dzikir
Dzikir setelah shalat dilakukan dengan suara
yang pelan (sirr). Sebab, Allah yang kita
ingat dalam dzikir kita adalah Maha
Mendengar.
Di
samping
itu,
kita
melakukannya dengan penuh kehusyuan dan
tawadhu. Usahakan agar dzikir tersebut
dilakukan dengan penuh penghayatan
sehingga tercapai keselarasan antara ucapan
di mulut dan gerak hati kita. Hal ini telah
ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam
hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara,
di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai. (alAraf
205)
Lafazh dzikir setelah shalat yang diajarkan

oleh Rasulullah saw cukup banyak dan


beragam. Lafazh mana saja boleh kita
amalkan asalkan sesuai dengan tuntunan
Rasulullah tersebut. Berikut ini akan
dikemukakan sebagian saja dari lafazh dzikir
tersebut.
Dzikir setelah shalat dimulai dengan
membaca istighfar (astaghfirullaah {Saya
mohon ampun kepada Allah}) sebanyak tiga
kali. Setelah itu dilanjutkan dengan bacaan:
Allaahumma antassalaam, wa minkassalaam,
tabaarakta yaa dzal jalaali walikraam (Ya
Allah,
Engkaulah
keselamatan;
dari
Engkaulah keselamatan itu berasal; Maha
berkah Engkau Dzat yang memiliki
keagungan dan kemuliaan). Hal ini
berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
Jamaah ahli hadits selain Bukhari dari
Tsauban r.a. berkata, Adalah Rasulullah saw
apabila selesai dari shalatnya membaca
astaghfirullaah sebanyak tiga kali kemudian
dilanjutkan
dengan
Allaahumma
antassalaam, wa minkassalaam, tabaarakta
yaa
dzal
jalaali
wal-ikraam.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca Laa
ilaaha illallaah wahdahuu laa syariikalah,
lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa alaa
kulli syayin qadiir, Allaahumma laa maania
limaa athayta walaa muthiya limaa manata
walaa yanfau dzal-jaddi minkal-jadd (Tiada
tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tidak
mempunyai sekutu; Dialah pemilik segala
kerajaan dan pemilik segala puji sedangkan
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu; Tidak
ada satu makhluk-pun yang dapat menolak
atas apa-apa yang telah Engkau berikan;
Tidak ada satu makhluk-pun yang dapat
memberi atas apa-apa yang telah Engkau
cegah; Dan tidak ada satu makhluk-pun yang
dapat memberi manfaat; Dialah pemilik
kebesaran dan daripada-Nyalah kebesaran itu
berasal). Hal ini berdasarkan hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari,
dan Muslim dari al-Mughirah bin Syubah

Bahwasanya Rasulullah SAW membaca


pada setiap selesai shalat fardhu: Laa ilaaha
illallaah wahdahuu laa syariikalah, lahulmulku walahul-hamdu wahuwa alaa kulli
syayin qadiir, Allaahumma laa maania
limaa athayta walaa muthiya limaa manata
walaa yanfau dzal-jaddi minkal-jadd.
Setelah itu, dilanjutkan dengan membaca
Allaahumma ainnaa alaa dzikrika
wasyukrika wahusni ibaadatik (Ya Allah
tolonglah kami dalam berdzikir mengingatMu,
mensyukuri
nikmat-Mu,
dan
membaguskan ibadahku kepada-Mu). Hal ini
berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dari Abu Hurairairah dari Nabi
SAW bersabda, Apakah kamu suka
bersungguh-sungguh
dalam
berdoa?
Katakan, Allaahumma ainnaa alaa
dzikrika wasyukrika wahusni ibaadatik.
Kemudian dilanjutkan dengan membaca
tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 33
kali sehingga berjumlah 99. Untuk
menggenapkannya
menjadi 100 kita
membaca laa ilaaha illallaah wahdahuu laa
syariikalah, lahul mulku wa lahulhamdu
wahuwa alaa kulli syayin qadiir.
Setelah selesai bacaan dzikir tersebut
kemudian kita sudahi dengan berdoa kepada
Allah. Doa yang kita baca sedapat mungkin
adalah doa-doa bil-matsur yang telah
diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya melalui
kitab suci-Nya Al-Quran dan hadits Nabi
SAW.Indeks Majalah Tabligh Online
Zikir
Berjamaah,
Apakah
Sunnah?
Pertanyaan:
Satu halaman penuh di Harian Republika
dipublikasikan sebuah paket kegiatan
bernuansa ibadah yang disebut dengan
Indonesia
Berzikir.
Iklan
tersebut
mengajak umat Islam ibukota untuk ikut
bergabung dan dianjurkan memakai pakaian
putih-putih.
Pertanyaan
saya
adalah
bagaimanakah pandangan Majalah Tabligh
terhadap kegiatan ibadah dalam bentuk zikir

bersama
tersebut?
Jawaban:
Di dalam Himpunan Putusan Tarjih
Muhammadiyah Kitab Masalah Lima
halaman 276 di jelaskan beberapa masalah
tentang agama, antara lain sebagai berikut:
1. Definisi (tarif) agama (addien) :
a. Agama yakni agama Islam yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW. ialah apa yang
diturunkan oleh Allah di dalam Quran dan
yang tersebut dalam Sunnah yang shahih,
berupa perintah-perintah, dan laranganlarangan serta petunjuk untuk kebaikan
manusia di dunia dan di akhirat.
b. Agama adalah apa yang disyariatkan
Allah dengan perantaraan Nabi-nabiNya,
berupa perintah-perintah dan laranganlarangan serta petunjuk-petunjuk untuk
kebaikan manusia di dunia dan di akhirat.
2.
Definisi
(tarif)
dunia
:
Yang dimaksud dengan urusan dunia
dalam sabda Rasulullah SAW.: Kamu lebih
mengerti dengan urusan dunia ialah segala
perkara yang tidak menjadi tugas diutusnya
para
nabi
(yaitu
perkara/pekerjaanpekerjaan/urusan-urusanyang
disaerahkan
sepenuhnya kepada kebijaksanaan manusia).
3.
Definisi
(tarif)
ibadah
:
Ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan
diri) kepada Allah, dengan jalan mentaati
segala perintahNya, menjauhi segala
laranganNya dan mengamalkan segala yang
diizinkan
Allah.
Ibadah itu ada yang umum dan ada yang
khusus
:
a. Ibadah umum ialah segala amal yang
diizinkan
Allah
SWT.
b. Ibadah khusus ialah apa yang telah
ditetapkan
Allah
akan
perincianperinciannya, tingkah dan cara-caranya yang
tertentu.
Dalam hal ibadah khusus, qaidah yang

berlaku
Hukum pokok
diperintah.

adalah
dalam

:
ibadah

adalah

Hukum pokok dari ibadah adalah diam


(menunggu perintah) dan mengikuti (contoh
sunnah
Rasulullah).
Hukum pokok dalam ibadah adalah haram
dan bathal kecuali ada dalil yang
memerintahkannya.
Adapun ibadah zikir yang dilakukan secara
berjamaah dalam majlis yang dihadiri oleh
laki-laki dan perempuan dengan dipimpin
oleh seorang pemimpin zikir dan dilantunkan
dengan suara jahar (keras) serta dengan
bacaan-bacaan zikir (versi) tertentu dan
jumlah (porsi) tertentu pula dalam keadaan
duduk bershaf-shaf seperti shaf shalat serta
menghadap kiblat, sesungguhnya telah
masuk ke dalam kategori ibadah khusus.
Zikir seperti itu tidak ditemukan dalildalilnya dan tidak pernah dicontohkan oleh
Rasulullah
SAW.
Oleh karena itu, setiap amalan yang tidak
dicontohkanoleh Rasulullah, maka amalan
itu batal, sebagaimana sabda Rasulullah
SAW:
Barang siapa yang melakukan suatu amal
yang tidak ada contohnya didalam agama
kami, maka amal itu tertolak (HR.
Muslim).
Pendapat yang membolehkan karena tidak
ada larangan dari Rasulullah SAW adalah
tidak tepat, karena ibadah khusus
sebagaimana qaidah yang berlaku adalah
berdasarkan perintah dan ittiba kepada
sunnah Rasulullah. Berbeda dengan urusan
ibadah umum seperti urusan muamalah,
hukum pokoknya adalah mubah (boleh)

sepanjang
tidak
mengharamkannya.

ada

dalil

yang

berikut:

Zikir sebagai amaliyah yaumiyah yang


dilakukan secara fardiyah dan suara peran
(sirran) atau dengan tidak mengeraskan suara
(dunaljahri
minalqaul),

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam


hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara,
di waktu pagi dan petang, dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang lalai.

banyak sekali dijelaskan oleh hadist-hadist


shahih sebagai penjelasan firman Allah SWT
dalam surat Al-Araf ayat 205 sebagai

Wallahu
alamu
bish-shawab.
Risman Muchtar www.Majlis Tabligh dan
Dakwah Khusus