Anda di halaman 1dari 16

1.

PENDAHULUAN

Penyelidikan eksplorasi merupakan dasar dari setiap aktivitas penambangan.


Pekerjaan ini dilakukan dalam tiga tahap dan harus disertai dengan design
yang tepat.
Peningkatan dari tahap yang satu ke tahap yang berikutnya disertai dengan
adanya peningkatan ketelitian data yang sangat dibutuhkan dalam evaluasi
Teknis Ekonomis suatu endapan untuk penambangan dan pengolahan. Hal
ini penting oleh karena cadangan yang ada harus dapat membayar kembali
semua investasi kapital yang ditanam dan meraih keuntungan.
Tahap-tahap eksplorasi tersebut adalah sebagai berikut :
- Eksplorasi pendahuluan
- Eksplorasi detail
- Eksplorasi eksploitasi
Dalam eksplorasi pendahuluan skala peta yang dipakai adalah 1 : 5000
sampai 1 : 2000. Untuk eksplorasi detail skala peta adalah 1 : 2000 sampai
1 : 500 dan untuk tahap terakhir yakni eksplorasi eksploitasi skala peta yang
dibutuhkan adalah 1 : 500 sampai 1 : 100. Hal ini bergantung pada ukuran,
bentuk, posisi dan juga kualitas endapan.
Dalam penyelidikan ini, ketelitian pengambilan dan pengolahan conto
merupakan faktor yang sangat penting.

2. DESIGN EKSPLORASI
Teori Dasar Eksplorasi - 1

2.1. MACAM-MACAM POLA DASAR EKSPLORASI


Untuk melaksanakan pekerjaan eksplorasi di lapangan dibutuhkan suatu
design yang tepat. Di dalam hal ini kita mulai dengan pola-pola dasar
tertentu yang disesuaikan dengan kondisi genesa endapan dan keadaan
morfologi daerah setempat.
Bentuk-bentuk pola dasar tersebut adalah sebagai berikut :
1.

a
a

2.

bujur sangkar / square pattern

a
b

empat persegi panjang

3.
segitiga

4.
rhomboid

Teori Dasar Eksplorasi - 2

2.2. SYARAT-SYARAT PENGGUNAAN MASING-MASING POLA


Faktor-faktor yang penting di dalam pemilihan pola dasar eksplorasi adalah
sebagai berikut :
a. Keadaan permukaan (surface)
b. Keadaan bawah tanah (sub surface)
(1) Pola bujur sangkar
Pola ini dipakai untuk kondisi seperti berikut :
- Keadaan permukaan (topografi) datar
- Kondisi mineralisasi homogen (teratur)
(2) Pola empat persegi panjang
Pola ini digunakan bila keadaan topografi datar dan kondisi mineralisasi
homogen ke salah satu arah tertentu tetapi dalam arah yang tegak lurus
dengan arah yang pertama memiliki variabilitas yang tinggi.
(3) Pola dasar segitiga
Pola segitiga digunakan untuk topografi yang bergelombang dan keadaan
mineralisasi yang tidak homogen.
(4) Pola dasar rhomboid
Pola ini digunakan bila keadaan topografi dan mineralisasi berada di antara
pola bujur sangkar dan empat persegi panjang.

3. TEORI PENGAMBILAN CONTO

Di dalam eksplorasi, pengambilan conto (sampling) merupakan suatu


pekerjaan yang sangat penting.

Teori Dasar Eksplorasi - 3

Yang disebut sampling adalah suatu proses untuk (mendapatkan sebagian


kecil dari suatu massa yang besar (endapan) yang cukup representatif untuk
mewakili massa tersebut.
Persoalan yang dihadapi di dalam hal ini adalah bagaimana supaya dicapai
suatu hasil yang representatif dengan cara yang seekonomis mungkin.
Pengambilan conto penting untuk :
1. Mengetahui kadar dari bijih dan penyebarannya.
2. Menghitung besarnya cadangan.
3. Perencanaan dan operasi penambangan yang sesuai.
4. Menentukan metoda pengolahan yang cocok.
Metoda dan jumlah dari conto sangat bergantung pada tipe endapan dan
derajat ketelitian yang dikehendaki.
3.1. PROSEDUR PENGAMBILAN CONTO
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Penentuan metoda pengambilan conto.
2. Jumlah conto yang harus diambil. Hal ini bergantung pada :
a. Keteraturan (dari distribusi mineral).
b. Ukuran dari endapan (ore body).
c. Keadaan keuangan dan waktu yang tersedia.
d. Derajat ketelitian yang dibutuhkan.
3. Ukuran sample.
4. Penentuan lokasi yang tepat.
5. Conto diambil pada permukaan yang bersih dan segar.
6. Kantong-kantong conto harus bersih dan diberi nomor yang sesuai.
Sumber-sumber kesalahan di dalam sampling adalah :
1. Salting.

Teori Dasar Eksplorasi - 4

2. Jumlah conto yang tidak mencukupi.


3. Pemberian lokasi yang salah pada sample yang diambil.
4. Kesalahan pada analisa-analisa kimia.
5. Cara weighting yang salah.
3.2. GRID DENSITY
S
So =
n

SO = grid density
S

= luas dari endapan bijih

= jumlah lubang bor/sumur uji yang memotong endapan

Grid density perlu dirubah untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya


dari keadaan mineralisasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan grid density adalah antara lain :
- Bentuk endapan bijih yang tidak teratur.
- Struktur geologi yang kompleks.
Untuk pola dasar bujur sangkar andaikan keadaannya adalah sebagai
berikut :

a
a

a
A

Teori Dasar Eksplorasi - 5

Keterangan :

= penyelidikan tahap I

= penyelidikan tahap II
= penyelidikan tahap III
SO = aO2
a1 =

ao

a2 =

ao

2
; S1 = a o
4
; S2 =

ao
16

= SO : S1 = S1 : S2 = 4

Gambar A memperlihatkan kondisi awal sebelum grid density dirubah.


Gambar B memperlihatkan kondisi sesudah grid density dirubah.
Dari contoh ini dapat dilihat bahwa grid density berubah tetapi bentuk pola
dasar eksplorasi tetap (bujur sangkar).
Bisa saja terjadi bahwa dengan adanya perubahan grid density, bentuk pola
dasar eksplorasi ikut berubah. Hal ini bergantung pada genesa endapan dan
struktur geologi daerah penelitian.
Perubahan grid density yang disertai dengan perubahan bentuk pola dasar
eksplorasi adalah sebagai berikut :

Teori Dasar Eksplorasi - 6

1/2 a

Di dalam contoh ini, bentuk pola dasar bujur sangkar sebagai bentuk awal
berubah menjadi empat persegi panjang.
Contoh yang lain adalah sebagai berikut :

Keterangan :

= penyelidikan tahap I

= penyelidikan tahap II
Perubahan pola rhomboid menjadi pola empat persegi panjang.
Berdasarkan apa yang telah dijelaskan dapat disimpulkan bahwa, design
eksplorasi yang tepat bergantung sepenuhnya pada keadaan yang ada di
lapangan.

4. METODA-METODA PENGAMBILAN CONTO


Teori Dasar Eksplorasi - 7

4.1. CHIP SAMPLING


Metoda ini dipakai untuk mengambil conto dari suatu singkapan. Alat-alat
yang dipakai adalah palu dan pahat. Conto diambil pada permukaan yang
segar dan bersih. Cara ini dipakai hanya dalam suatu penyelidikan
preliminer. Hasilnya tidak representatif untuk mewakili keadaan mineralisasi
yang sebenarnya.
Chip sampling di dalam tambang bawah tanah :

titik pengambilan
conto

a)

b)

Conto diambil pada titik-titik yang didesign sesuai dengan pola eksplorasi
tertentu. Lihat gambar a) dan b).
Pada a) pola yang dipakai - bujur sangkar
b) pola yang dipakai - rhomboid
4.2. GRAB SAMPLING
Metoda ini dapat digunakan pada suatu stope sesudah peledakan dilakukan
atau pada suatu mine car dalam transportasi bijih. Pekerjaan ini lebih cepat
dibandingkan dengan chip sampling. Sample diambil secara random. Cara
ini pun tidak memberikan gambaran yang teliti yang dapat mewakili endapan
bijih yang ada.
Teori Dasar Eksplorasi - 8

4.3. BULK SAMPLING


Dalam bulk sampling, conto diambil dalam jumlah yang besar. Conto bisa
berupa inti bor yang berukuran besar, atau sejumlah material tertentu yang
diambil dari suatu trench dengan mempergunakan buldoser.
4.4. CHANNEL SAMPLING
Metoda ini dapat digunakan pada endapan yang terdapat di permukaan dan
juga di dalam suatu tambang bawah tanah. Untuk endapan yang dangkal,
metoda ini dipakai dalam suatu sumur uji. Alur (channel) dibuat pada sisi
sumur uji. Pada suatu endapan hidrotermal yang ditambang dengan sistem
tambang bawah tanah, channel dibuat dari hanging wall ke foot wall.
Aplikasi dari metoda-metoda yang ada harus disertai pula dengan suatu
design yang tepat. Beberapa contoh mengenai chip sampling dan channel
sampling dalam penerapan di lapangan adalah sebagai berikut :

4.4.1. Channel sampling dalam sumur uji


Dipakai untuk endapan permukaan.

Teori Dasar Eksplorasi - 9

permukaan
overburden

ore

body

bed rock

channel

ore body

bed rock
sumur uji

dasar sumur uji


b)

a)

Pada Gambar a) Sumur uji dibuat menembus ore body yang mempunyai
posisi yang horisontal.
Gambar b) Posisi channel yang vertikal pada dinding sumur uji.
Untuk suatu endapan permukaan yang tidak homogen, maka channel dibagi
menjadi beberapa sub channels sesuai kondisi mineralisasi.

channel

t1

t2

t3

t4

zone
mineralisasi

bed rock
Keterangan : t = tebal lapisan
K = kadar bijih

4.4.2. Channel sampling dalam tambang bawah tanah


Channel sampling pada drift.

Teori Dasar Eksplorasi - 10

.......... .......... .....


.....
.......... ............... ...............
......
.....
A ..... B .....
..... ...
C

a
..... .
.........
......
........
.........
...........
...........vein ......
...........

...
...
......../ /
....
.... / /
........ / / / / // / / / // /

Channel dibagi oleh karena bentuk

b
c

geometri yang kompleks dari drift top.


Keadaan mineralisasi homogen.

........ / / / // / / / /
....
.... / /
lw ........ / / / / / / / / // / / /
a
ing .... / / / / / / /
al
ot w
hang....A.... / / / / / // / / /
o
f
/ B
C
a

b
c

Channel dibagi oleh karena keadaan


mineralisasi

yang

berbeda-beda

antara A, B, C.

4.5. PEMBORAN
Metoda-metoda pemboran yang dapat dipakai di dalam proses pengambilan
conto bergantung pada bermacam-macam faktor, antara lain :
- genesa endapan
- kedalaman
- tipe batuan
Untuk endapan alluvial, pengambilan conto dapat dilakukan dengan bor
Bangka (timah alluvial di Bangka, Billiton, dan Singkep). Pemboran
dilakukan secara manual dan sample diambil dengan mempergunakan
bailer.
Untuk suatu endapan primer yang terletak jauh di bawah permukaan,
sampling dilakukan dengan memakai pemboran inti (diamond drilling). Conto
yang diperoleh berupa inti (core) dan sludge. Inti sebagai conto yang tidak

Teori Dasar Eksplorasi - 11

terganggu terdapat dalam core barrel ; sludge ditampung di permukaan di


dalam sludge tank.

5. PREPARASI CONTO DAN PENGOLAHAN DATA

Conto yang dibawa dari lapangan dalam jumlah yang besar perlu diolah
dalam rangka analisa kimia untuk penentuan kadar.
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah crushing, grinding, sieving, coning, dan
quartering.

Coning dan quartering


Bagian 1 dan 4 diambil untuk analisis kimia, sedangkan bagian 2 dan 3
disimpan sebagai arsip.

Teori Dasar Eksplorasi - 12

Data hasil analisa kimia kemudian diplot pada suatu grafik (sample
histogram). Sample histogram ini sangat bermanfaat untuk menginterpretasi
keadaan mineralisasi di lapangan.

7,0
6,0
5,0

Kadar (%)

4,0
3,0
2,0
1,0

Jarak

Jarak

Grafik penyebaran kadar

SOAL-SOAL

Teori Dasar Eksplorasi - 13

1. Berikan penjelasan Saudara mengenai penggunaan pola bujur sangkar


sebagai pola dasar di dalam eksplorasi.

2. Pada kondisi yang bagaimanakah pola rhomboid digunakan ? Jelaskan.

3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan grid density ?

4. Bila grid density diperbesar apa pengaruhnya terhadap bentuk pola


dasar ?

5. Diketahui suatu endapan pasir besi (beach placer). Jelaskan bagaimana


penyelidikan eksplorasi dilakukan pada endapan ini, mulai dari
perencanaan pola dasar sampai dengan metoda pengambilan contonya.

6. Andaikan

pengambilan

conto dilakukan

dengan mempergunakan

pemboran inti, faktor-faktor apa saja yang harus dipertimbangkan ?

7. Dari suatu endapan bijih diketahui bahwa mineralisasi dimulai dari


permukaan. Penyelidikan eksplorasi dilakukan dengan mempergunakan
sumur uji dan pengambilan conto dilakukan dengan channel sampling.
Jelaskan cara bekerja Saudara dengan ketentuan bahwa mineralisasi
terdiri dari beberapa zone yang berbeda-beda.

Teori Dasar Eksplorasi - 14

8. Diketahui suatu endapan bijih Cu yang terbentuk secara hidrotermal.


Sistem penambangan-bawah tanah (underground). Andaikan channel
dibuat pada dasar drift dari dinding ke dinding untuk mengambil conto,
bagaimanakah tanggapan Saudara mengenai hal ini ?

DAFTAR PUSTAKA

1. Jean, Bernard Chaussier and Jean Morer, Mineral Prospecting Manual,


1987.
2. Kenneth F. Lane, The Economic Definition of Ore Cut Off Grades in
Theory and Practice, 1991

Teori Dasar Eksplorasi - 15

3. Popoff, Constantine C., Computing Reserves of Mineral Deposits :


Principles and Conventional Methods, United States Department
of the Interior, Bureau of Mines, 1986.
4. Reedman J.H., Techniques in Mineral Exploration, 1979.
5. Spero Carras, Sampling Evaluation and Basic Principles of Ore Reserve
Estimation.
6. William C. Peters, Exploration and Mining Geology, 1978.

Teori Dasar Eksplorasi - 16