Anda di halaman 1dari 11

A.

Hakikat Pembelajaran Multisensori


1. Pengertian Pembelajaran Multisensori
Pada era globalisasi ini pembelajaran

dituntut

mengikuti

perkembangan dan tuntutan zaman, pembelajaran harus bisa dilaksanakan


untuk menyiapkan peseta didik agar mampu diterima masyarakatnya.
Pembelajaran tidak lagi kuno dengan metode yang sama dan hanya
melibatkan satu panca indera, misalnya pendengaran, karena siswa
mempunyai hak untuk distimulus dari berbagai sumber.
Pembelajaran harus autentik, siswa berhak mendapat pembelajaran
sebagaimana yang terjadi dikehidupannya. Harus ada simulasi yang
kongkrit dengan bantuan banyak hal diantaranya menggunakan media dan
berbagai macam model pembelajaran. (Trilling and Fadel, 2009).
Pembelajaran multisensori adalah pembelajaran yang dilaksanakan
dengan melibatkan berbagai stimulasi indra meliputi pendengaran,
pengelihatan, sentuhan danterkadang juga penciuman dan pengecapan
(Abidin, 2014, hlm 227). Sebuah pembelajaran dikatakan pembelajaran
multisensori disaat pembelajaran tersebut dapat melibatkan 5 panca
indera..
Karakteristik pembelajaran multisensori menurut (Blackwood,
2008) yakni pembelajaran yang menggunakan drama, seni, musik,
makanan, minuman, video, media yang interaktif, penciuman dan elemenelemen menarik lain yang dapat menstimulus siswa.
Perbedaan pembelajaran konvensional

dan

pembelajaran

multisensori menurut (Blackwood, 2008, 14) adalah :

Conventional Teaching VS Multisensory Teaching


Conventional Teaching
Engage the : ear only
Multisensori Teaching
Engages the : ear + eye + hand

2. Prinsip Pembelajaran Multisensori


Glaser (1976) dalam (Abidin, 2014 hlm 227) menyatakan bahwa ada
beberapa prinsip pembelajaran yang dimiliki siswa, yakni :
Kita belajar 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar,
30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita dengar dan lihat, 70% dari
yang kita diskusikan dengan orang lain, 80% dari yang kita alami sendiri
dan 95% dari yang kita ajarkan kepada orang lain.
(Blackwood, 2008) mengemukakan beberapa hal tentang
a. Kekuatan Visual
Beberapa orang merasa bisa lebih mengerti pembelajaran dengan
menggunakan gaya belajar visual. Karena sebuah gambar bisa
menjabarkan berjuta makna,
b. Kekuatan Interaksi
Beberapa orang lebih menguasai pembelajaran ketika ia belajar dengan
berinteraksi dengan orang lain. Interaksi dilakukan dengan komunikasi
yang memadukan antara verbal dan visual. Pepatah China mengatakan,
Saya mendengar, dan saya lupa, saya melihat, dan saya ingat, saya
melakukan dan saya mengerti.
Misalnya, dalam suatu pembelajaran guru mengajarkan tentang pantai,
guru memberikan 3 cara pembelajaran
a. Cara pertama monosensori, yakni guru menceritakan tentang pantai
kepada siswa. (Hanya mendengarkan)
b. Cara kedua dual sensori, yakni guru menceritkan tentang pantai dan
menunjukkan gambar tentang pantai (Mendengarkan dan melihat
gambar)
c. Cara ketiga multisensori, yakni guru mengajak siswa ke pantai,
mengajak siswa merasakan pasir dengan kakinya, mengajak siswa
mencium bau khas pantai, lalu merasakan rasa air pantai dengan
berenang di pantai.(mendengar, melihat, mencium, dan menyentuh)
B. Tahapan Pembelajaran Multisensori
Tahapan Model Pembelajaran Multisensori Blackwood, 2009 dalam
(Y. Abidin 2013, hlm. 235-236)
1. Prapembelajaran

Tahapan ini merupakan kegiatan yang dilakukan guru sebelum


pembelajaran dimulai.

Pada tahap ini guru mengondisikan kelas,

memotivasi siswa, melibatkan siswa dengan hal yang akan diteliti,


mengorganisasikan siswa, dan menjelaskan prosedur pembelajaran.
2. Fase 1 : Membuat Pertanyaan dan Mengujinya
Pada tahap ini siswa diperkenalkan dengan masalah yang akan diteliti.
Berdasarkan informasi tersebut, siswa membuat beberapa pertanyaan dan
kemudian menguji kelayakan dan kelogisan pertanyaan tersebut. Tugas
guru pada tahap ini adalah memotivasi siswa untuk mampu menemukan
masalah dan membuat serta memberikan pertimbangan kelayakan dan
kelogisan pertanyaan yang dibuat siswa.
3. Fase : 2 Merumuskan Hipotesis
Pada tahap ini siswa belajar merumuskan hipotesis atau jawaban
sementara atau rumusan masalah yang telah diajukannya pada tahap
sebelumnya dengan mengoptimalkan apa yang telah mereka ketahui.
Tugas guru pada tahap ini adalah membantu siswa membangkitkan
skematanya dan membimbing siswa untuk membuat hipotesis.
4. Fase : 3 Penelitian Berbasis Multisensori
Pada tahap ini siswa merencanakan dan melaksanakan kegiatan observasi
atau penelitian sederhana. Observasi atau penelitian yang dilakukan harus
dilandasi penggunaan multisensori sebagai alat stimulus belajar. Selama
melaksanakan observasi/ penelitian, siswa mencatat seluruh proses dan
hasilnya sebagai data penting yang akan diolah dan dianalisis. Tugas guru
pada tahap ini memfasilitasi, membantu, dan memberikan solusi kepada
siswa selama melaksanakan kegiatan penelitian/ observasi.
5. Fase 4 : Mengolah dan Menganalisis Data
Pada tahap ini siswa mengolah dan menganalisis berbagai data yang
diperoleh pada kegiatan penelitian/observasi. Tugas guru pada tahap ini
adalah membimbing siswa mengolah dan menganalisis data dan jika
diperlukan memberikan gambaran model pengolahan dan penganalisisan
data yang benar.
6. Fase 5 : Menguji Hipotesis
Pada tahap ini siswa menguji hipotesis yang telah diajukannya.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, siswa membuat pemaknaan proses

dan hasil penelitian atau observasi yang telah dilaksanakannya. Tugas guru
adalah mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir
kritis, evaluatif, dan kreatif.
7. Fase 6 : Membuat Simpulan Umum
Pada tahap ini siswa merumuskan simpulan umum atau akhir atas hasil
kegiatan penelitian/observasi yang telah dilaksanakannya. Simpulan ini
hendaknya

mampu

menjawab

rumusan

masalah

yang

diajukan

sebelumnya. Tugas guru adalah membantu siswa menyusun simpulan yang


ilmiah dan sistematis.
8. Fase 7 : Menyajikan Hasil
Pada tahap ini perwakilan siswa tiap kelompok memaparkan hasil
kerjanya. Pada tahap ini guru juga melakukan penilaian atas performa atau
produk yang dihasilkan oleh siswa.
9. Pascapembelajaran
Pada tahap ini guru membahas kembali masalah dan solusi alternatif yang
bisa digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam prosesnya
guru membandingkan antara solusi satu dengan solusi lain hasil pemikiran
siswa atau juga dibandingkan dengan solusi secara teoritis yang telah ada.
Berdasarkan langkah-langkah model pembelajaran yang telah
dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ini
merupakan pembelajaran yang dilengkapi dengan panca indra, serta model
pembelajaran ini mengeksplorasi alam semesta dengan petualangannya.
Edwin Hubble dalam (Blackwood, 2009). Hal ini terlihat dari adanya
tahapan merencanakan dan melaksanakan kegiatan observasi atau
penelitian sederhana. Observasi atau penelitian yang dilakukan

harus

dilandasi penggunaan multisensori sebagai alat stimulus belajar. Selama


melaksanakan observasi/ penelitian, siswa mencatat seluruh proses dan
hasilnya sebagai data penting yang akan diolah dan dianalisis. Tugas guru
pada tahap ini memfasilitasi, membantu, dan memberikan solusi kepada
siswa selama melaksanakan kegiatan penelitian/observasi.
Model pembelajaran ini memiliki kekuatan untuk menunjukkan
sesuatu yang berbeda, dan dapat mengubah perilaku siswa. Desain yang
dirancang

guru

dalam

menerapkan

pembelajaran

menggunakan

multisensori haruslah pembelajaran yang menyenangkan. (Baines, 2008).


Pembelajaran yang menyenangkan dapat mengubah perilaku siswa karena
dengan hal yang menyenangkan dapat membuat siswa lebih semangat
dalam belajar dan mengembangkan potensi yang siswa miliki, sehingga
otomatis hal ini mengubah perilaku siswa.
Model pembelajaran multisensori memberikan kesempatan kepada
guru untuk berfikir lebih kreatif dan memperkenalkan berbagai proses
kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dan dapat menarik
perhatian siswa. Oleh sebab itu diperlukan kreativitas yang tinggi bagi
seorang guru dalam mendesain pembelajaran menggunakan model
multisensori agar siswa merasa tertarik dan tidak merasa bosan.
Selain itu dalam model pembelajaran multisensori siswa dalam
proses belajar tidak hanya lebih dari sekedar mendengar saja, tetapi
melibatkan penglihatan dan partisipatif. Hal ini dapat membuat
pembelajaran menjadi menyenangkan dan tak terlupakan.
C. Implementasi Desain Pembelajaran Multisensori
Pembelajaran multisensori memerlukan waktu 70-40 menit dalam
1-3 kali pertemuan. Dalam pembelajaran menggunakan model ini guru dan
siswa harus mampu berkomunikasi dengan baik dan kooperatif.
Pembelajaran harus mampu merangsang siswa menggunakan berbagai alat
indranya. (Abidin, 2013). Untuk memungkinkan keterlibatan berbagai alat
indra tersebut, guru harus mempersiapkan beberapa alat bantu (media)
seperti benda yang dapat dilihat, diraba, didengar, dibaui, dicap oleh lidah
dan dialami oleh bagian tubuh lainnya.
Pembelajaran multisensori ini telah diterapkan dalam berbagai
mata pelajaran diantaranya IPA, IPS dan Bahasa. Pembelajaran
multisensori ini diyakini cukup meningkatkan pemahaman siswa dalam
memahami konsep. Hal ini berdasarkan beberapa penelitian mengenai
penerapan pembelejaran multisensori yang mendapat hasil positif berupa
peningkatan pemahaman siswa.

1. Implementasi Multisensori pada Mata Pelajaran IPA


Pembelajaran multisensori telah digunakan dalam berbagai mata
pelajaran, salah satunya, salah satu penerapan model pembelajaran
multisensori pada mata pelajaran IPA. Dalam literasi IPA kompetensi
proses dalam literasi IPA dibagi menjadi tiga proses seperti yang
dikemukakan Hayat dan Yusuf

(Utami, 2015) yakni pertama

kemampuan untuk menggambarkan, menjelaskan dan meramalkan


gejala ilmiah. Kedua, kemampuan memahami penyelidikan ilmiah .
Ketiga,
penemuan

kemampuan untuk mengintrerpretasikan bukti atau


ilmiah.

Pembelajaran

multisensori

sesuai

dengan

karakteristik pembelajaran IPA karena salah satu komponen


pembelajarannya adalah pengamatan dengan menggunakan beberapa
panca indra untuk membangun pemahaman konsep siswa.
Salah satu penelitian mengenai pembelajaran multisensori adalah
penelitian mengenai perbandingan Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Pada Konsep Makanan Sehat Dan Bergizi Dengan Membandingkan
Model Pembelajaran Multisensori Dan Pembelajaran Biasa yang
dilakukan oleh Utami (2013) di kelas IV sekolah dasar. Penelitian ini
dilakukan dengan memberikan dua perlakuan berupa model
pembelajaran yang berbeda pada dua kelas berbeda yaitu model
pembelajaran

multisensori

di

kelas

eksperimen

dan

model

pembelajaran biasa di kelas kontrol. Berdasarkan penelitian yang


dilakukan Utami (2015) tahap-tahap yang dilakukan dengan
menggunakan model multisensori pada kelas eksperimen adalah
sebagai berikut:
a. Persiapan
Penetapan tujuan pembelajaran, penyusunan bahan, media,
evaluasi dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dimulai
dari melihat, mendengar, meraba dan bergerak.
b. Prapembelajaran

Pada tahap ini setelah menyiapkan siswa untuk belajar


khususnya alat indra mereka, guru melakukan apersepsi
dengan menceritakan pengalaman guru dan tanya jawab
dengan siswa mengenai makanan sehat dan bergizi.
c. Pembelajaran
Guru menyiapkan bahan berupa makanan sesuai tema dan alat
yang diperlukan (gelas, sendok, dll), lalu memberikan intruksi
apa yang harus dilakukan siswa dengan bahan dan alat tersebut
secara lisan dan tertulis dalam LKS (Lembar Kerja Siswa).
Dari bahan yang telah disiapkan siswa melakukan penelitian
dan

pengamatan

berbasis

multisensori

menggunakan

penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan dan pencarian


literatur baik bersumber dari buku maupun pengalaman orang
lain. Guru bisa mencoba melakukan beberapa hal untuk
menguatkan fungsi indra siswa seperti menggunakan penutup
mata ketika siswa meraba, mencium dan memakan dan
meminum beberapa makanan dan minuman kemudian siswa
menebak apa yang telah diraba, dibaui, dimakan dan
diminumnya. Setelah kegiatan penelitian dan pengamatan
siswa mengisi LKS dan mengkomunikasikan hasil kerjanya.
d. Pascapembelajaran
Pada kegiatan akhir guru melakukan tanya jawab dengan siswa
mengenai hal yang telah diamati siswa dan dikaitkan dengan
pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, kemudian
siswa

merangkum

apa

yang

telah

dipelajari

selama

pembelajaran dan menuliskannya ke dalam catatan siswa.


Sedangkan pada kelas biasa tahap-tahap yang dilakukan adalah :
a. Persiapan
Penetapan tujuan pembelajaran, penyusunan bahan, dan
langkah-langkah kegiatan pembelajaran dimulai dari menanya,
mengamati, mencoba dan mengkomunikasikan.
b. Prapembelajaran

Pada tahap ini setelah menyiapkan siswa untuk belajar,


menyiapkan buku siswa serta beberapa media pembelajaran,
memotivasi siswa dan melakukan apersepsi pembelajaran.
c. Pembelajaran
Siswa mengamati dan membaca buku siswa mengenai
pembelajaran, kemudian siswa bersama kelompoknya mengisi
data yang dibutuhkan dalam LKS pada buku siswa dengan
mengamati gambar. Siswa melakukan tanya jawab dengan
siswa lain. Kemudian siswa mengkomunikasikan hasil
belajarnya di depan kelas. Guru menjelaskan hal-hal yang telah
dipelajari siswa di dpan siswa di depan kelas dan membuka
tanya jawab.
d. Pascapembelajaran
Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pmbelajaran dan
mencatat hasil belajarnya. Guru menutup pembelajaran.
Pada penelitian tersebut instrumen yang digunakan berupa tes
dan non tes. Instrumen tes yang diberikan adalah pretest dan post
tes, sedangkan nontes berupa angket. Berdasarkan penelitian
tersebut terdapat perbedaan kemampuan pemahaman siswa,
dimana kelas eksperimen yakni yang menggunakan model
pembelajaran

multisensori

meningkat

lebih

baik.

Sisw

menunjukkan sikap positif terhadap konsep makanan sehat dan


bergizi, model multisensori dan terhadap soal yang diberikan.
2. Implementasi Multisensori pada Mata Pelajaran Bahasa
Selain pada mata pelajaran IPA model pembelajaran
multisensori pun bisa diterapkan di pembelajaran bahasa, salah
satunya adalah pembelajaran bahasa sunda. Cara yang digunakan
dalam meningkatkan kemampuan bahasa anak sangatlah berbeda
dengan cara yang dilakukan pada orang dewasa. Cara tersebut
harus sesuai dengan karakteristik perkembangan anak (Annisa,
2015).Berdasarkan enam prinsip dasar pengembangan bahasa pada
anak yang dikemukakan Bonchner dan Jones (dalam Annisa, 2015)
dapat disimpulkan bahwa cara yang digunakan harus bisa

menstimulus anak untuk dapat berinteraksi melalui pengalaman


anak secara intensif dan salah satu model pembelajaran yang tepat
adalah multisensori.
Berdasarkan penelitian Annisa (2015) mengenai Meningkatkan
Kosakata Bahasa Sunda Dengan Model Pembelajaran Multisensori
Melalui Permainan Tradisional pada anak usia dini, model
pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kemampuan kosakata
bahasa sunda anak. Dalam penelitian tersebut media yang
digunakan adalah permainan tradisional berupa sondah, tetemute
dan anjang-anjangan.
Adapun penerapan model tersebut disusun dalam tahapantahapan sebagai berikut:
a. Prapermainan
Tahap ini dilakukan dengan bercakap-cakap dan tanya jawab
mengenai permainan tradisional sondah.
b. Permainan
Pada permainan sondah indra yang digunakan diantaranya
indra pengelihatan, pendengaran dan perabaan. Guru
menerangkan terlebih dahulu peraturan dan istilah-istilah
dari permainan yang akan dimainkan.
c. Pascapermainan
Guru menyiapkan tugas yang akan dikerjakan siswa setelah
bermain, kemudian melakukan tanya jawab dengan siswa.
Pada penelitian tersebut setiap jenis permainan dimodifikasi
cara dan aturan permainannya untuk meningkatkan kosakata
bahasa sunda anak. Aktivitas anak yang diukur dengan
indikator anak dapat memahami aturan permainan dan anak
dapat menyebutkan kosakata bahasa sunda mengalami
peningkatan setiap siklusnya.
Berdasarkan dua penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran multisensori dapat dilakukan pada berbagai mata pelajaran
dengan berbagai jenjang kelas.
D. Kelebihan dan Kekurangan Desain Pembelajaran Multisensori

Adapun

kelebihan

dari

desain

pembelajaran

multisensori (Blackwood, 2008):


1. Perhatian siswa akan lebih cepat terpusat.
2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas.
3. Hasil pembelajaran akan lebih tertanam dalam long
term memory.
4. Meningkatkan pengaplikasian pembelajaran yang telah
dipelajari.
5. Proses pembelajaran menjadi menyenangkan.
Selain

itu

pembelajaran
(Utami,

2015)

adapula

multisensori
yakni,

kekurangan
menurut

dalam

proses

dari

Oktaviani

desain
dalam

pelaksanaannya

dibutuhkan waktu yang cukup lama karena melewati


beberapa tahap yang panjang. Dan jika pembelajaran yang
didesain tidak bervariasi maka ada kemungkinan siswa
akan merasa bosan dan proses pembelajaran menjadi tidak
efektif.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yunus. (2012). Pembelajaran bahasa berbasis pendidikan karakter.
Bandung: Refika Aditama
Annisa, R. (2015). MENINGKATKAN KOSAKATA BAHASA SUNDA DENGAN
MODEL

PEMBELAJARAN

MULTISENSORI

MELALUI

PERMAINAN TRADISIONAL. (Skripsi). Jurusan Pendidikan Guru


Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia,
Bandung.
Blackwood, Rick. (2008). The Power of Multisensory Preaching and Teaching.
Michigan: Zondervan
Utami, A. (2015). PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN SISWA PADA
KONSEP MAKANAN SEHAT DN BERGIZI MELALUI MODEL
MULTISENSORI DAN MODEL PEMBELAJARAN BIASA. (Skripsi).
Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung.