Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MANAJEMEN ENERGI LISTRIK


PENCAHAYAAN

Dosen Pembimbing :
Dr. Ir. Supari, M.T
Disusun Oleh :
1. Rukslin, S.T

MTE.15.14.0127

2. Sigit Prakosa Adhi N, S.Pd

MTE.15.14.0128

3. Sunu Arsy Pratomo, S.T

MTE.15.15.0131

4. Yusuf Siswanto, S.T

MTE.15.15.0137

5. Nunik Lestari, S.Si

MTE.15.15.0135

6. Rully Prasetyo B, S.T

MTE.15.15.0134

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTI
MAGISTER TEKNIK ELEKTRO
2015

PENCAHAYAAN

Pendahuluan
Hanya akan membahas tentang pencahayaan/penerangan di bidang Manajemen
Energi Listrik.

1.1 Latar Belakang


Pada saat ini persaingan harga, ekonomi yang dipengaruhi oleh pasar, semua
orang mencari teknologi atau metode untuk mengurangi biaya energi dan mengurangi
adanya dampak lingkungan. Karena hampir semua gedung memiliki penerangan,
perbaikan penerangan merupakan kondisi yang umum. Listrik yang digunakan untuk
menghidupkan sistem penerangan menyumbang porsi yang cukup besar konsumsi
listrik yang ada di Amerika Serikat. Sistem penerangan menghabisakan kurang lebih
20% listrik yang dihasilkan di Amerika Serikat.
Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia meciptakan cahaya
hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber panas daripada cahaya. Di abad ke 21
ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan
cahaya melalui lampu pijar. Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk
penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Menurut UNEP di Asia
Tenggara perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20
- 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10%
untuk pemakaian energi total oleh plant industri. Penting untuk dimengerti bahwa
lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
Hal yang menarik dalam perbaikan penerangan adalah menawarkan
penghematan tagihan untuk kW maupun kWh. Hal tersebut, akan berpotensi
meningkatkan penghematan biaya. Banyak dari perbaikan penerangan juga
meningkatkan tampilan lingkungan dan produktifitas pekerja. Sebaliknya, jika
perbaikan penerangan mengurangi kualitas penerangan, produktivitas pekerja
mungkin akan jatuh dan penghematan energi bisa tertutupi oleh penurunan
2

keuntungan. Hal ini terjadi pada saat perbaikan penerangan pada 1970s, ketika para
pekerja dibiarkan "dalam kegelapan" dikarenakan inisiatif de-lamping. Namun
dikarenakan perkembangan teknologi yang pesat, saat ini perbaikan penerangan bisa
mengurangi biaya energi sekaligus meningkatkan kualitas penerangan dan
produktifitas pekerja, disinilah Manajemen Energi Listrik diperlukan.

1.2 Teori Dasar Mengenai Cahaya


Cahaya

hanya

merupakan

satu

bagian

berbagai

jenis

gelombang

elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan


frekuensi tertentu, yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam
spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
1. Pijar padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan
sampai suhu 1000K. Intensitas meningkat dan penampakan menjadi semakin
putih jika suhu naik.
2. Muatan Listrik: Jika arus listrik dilewatkan melalui gas maka atom dan
molekul memancarkan radiasi dimana spektrumnya merupakan karakteristik
dari elemen yang ada.
3. Electro luminescence: Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui
padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor.
4. Photoluminescence: Radiasi pada salah satu panjang gelombang diserap,
biasanya oleh suatu padatan, dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang
gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan
fenomena yang dapat terlihat maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau
phosphorescence.
Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik,
diberikandalam Gambar 1, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya
ultraviolet (UV) dan energi inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu
merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut
3

pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan
cahaya yang nampak.

Gambar 1. Radiasi yang Tampak (Biro Efisiensi Energi, 2005)


1.3 Devinisi dan Istilah yang Umum Digunakan
1. Armatur

rumah

lampu

yang

digunakan

untuk

mengendalikan

dan

mendistribusikan cahaya yang dipancarkan oleh lampu yang dipasang didalamnya,


dilengkapi dengan peralatan untuk melindungi lampu dan peralatan pengendali listrik.
2. Balas : alat yang dipasang pada lampu TL dan lampu pelepasan gas untuk
membatasi arus listrik dalam pengoperasian lampu-lampu tersebut.
3. Lumen: Satuan flux cahaya yang dipancarkan didalam satuan unit sudut padatan
oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux
adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah kesetaraan fotometrik dari
watt, yang memadukan respon mata pengamat standar. 1 watt = 683 lumens pada
panjang gelombang 555 nm.
4. Efficacy : Hampir sama dengan efektifitas, efficacy menggambarkan rasio
output/input, semakin besar outputnya (saat inputnya tetap), semakin besar efficacy.
Efficacy adalah jumlah dari lumens untuk tiap daya dari sumber daya tertentu.
Konsep umum yang salah dari terminology penerangan adalah lampu dengan daya
yang besar menghasilkan lebih banyak cahaya. Meskipun begitu, sumber cahaya
dengan efficacy yang tinggi bias menghasilkan lebih banyak cahaya dengan jumlah
4

tenaga (daya) yang sama, dibandingkan dengan sumber cahaya dengan efficacyrendah.
5. Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya ratarata yang dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah
ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi.
6. Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja.
7. Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan
oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas
pola pencahayaan.
8. Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga
dikenal dengan international candle.
Satu lumen setara dengan flux cahaya yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada
lingkaran dengan radius satu meter (1m), jika sumber cahayanya isotropik 1 candela
(yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran.
Dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari r adalah 4r2, maka lingkaran dengan
jari-jari 1m memiliki luas 4m2, dan oleh karena itu flux cahaya total yang
dipancarkan oleh sumber 1 cd adalah 41m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh
sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4 intensitas cahaya (cd)
9. Hukum Kuadrat Terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari
sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan
luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jarijari).
E=I/d2
Dimana E = Emisi cahaya, I = Intensitas cahaya dan d = jarak
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1 = E2 d2
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya
5

kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaannya
seperti es. Contoh: Jika seseorang mengukur 10 lm/m dari sebuah cahaya bola lampu
pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Penyelesaian: E1m = (d2 / d1) * E2
= (1,0 / 0,5) * 10
= 40 lm/m

1.4 Perhitungan Tingkat Pencahayaan.


Berdasarkan SNI 03-6575-2001 petunjuk teknis sistem pencahayaan buatan.
Dimaksudkan untuk digunakan sebagai pegangan bagi para perancang dan pelaksana
pembangunan gedung didalam merancang sistem pencahayaan buatan dan sebagai
pegangan bagi para pemilik/pengelola gedung didalam mengoperasikan dan
memelihara sistem pencahayaan buatan. Agar diperoleh sistem pencahayaan buatan
yang sesuai dengan syarat kesehatan, kenyamanan, keamanan dan memenuhi
ketentuan yang berlaku untuk bangunan gedung.

1. Tingkat Pencahayaaan Rata-rata (E rata-rata).


Tingkat pencahayaan pada suatu ruangan pada umumnya didefinisikan
sebagai tingkat pencahayaan rata-rata pada bidang kerja. Yang dimaksud dengan
bidang kerja ialah bidang horisontal imajiner yang terletak 0,75 meter di atas lantai
pada seluruh ruangan. Tingkat pencahayaan rata-rata Erata-rata (lux), dapat dihitung
dengan persamaan :

Dimana :
FTotal

E rata rata =

F Total x kp x kd
(lux) (1)
A

= Fluks luminus total dari semua lampu yang menerangi bidang kerja

(lumen).
A

= Luas bidang kerja (m).

kp

= koefisien penggunaan.
6

kd

= koefisien depresiasi (penyusutan).

2. Koefisien penggunaan (kp)


Sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh lampu diserap oleh armatur,
sebagian dipancarkan ke arah atas dan sebagian lagi dipancarkan ke arah bawah.
Faktor penggunaan didefinisikan sebagai perbandingan antara fluks luminus yang
sampai di

bidang kerja terhadap keluaran cahaya yang dipancarkan oleh semua

lampu.
Besarnya koefisien penggunaan dipengaruhi oleh faktor :
1) Distribusi intensitas cahaya dari armatur.
2) Perbandingan antara keluaran cahaya dari armatur dengan keluaran cahaya
dari lampu di dalam armatur.
3) Reflektansi cahaya dari langit-langit, dinding dan lantai.
4) Pemasangan armatur apakah menempel atau digantung pada langit-langit.
5) Dimensi ruangan.
Besarnya koefisien penggunaan untuk sebuah armatur diberikan dalam bentuk
tabel yang dikeluarkan oleh pabrik pembuat armatur yang berdasarkan hasil
pengujian dari instansi

terkait. Merupakan suatu keharusan dari pembuat

armatur untuk memberikan tabel kp, karena tanpa tabel ini perancangan pencahayaan
yang menggunakan armatur tersebut tidak

dapat dilakukan dengan baik.

3. Koefisien Depresiasi (penyusutan) (kd).


Koefisien depresiasi atau sering disebut juga koefisien rugi-rugi cahaya atau
koefisien

pemeliharaan,

didefinisikan

sebagai

perbandingan

antara

tingkat

pencahayaan setelah jangka waktu tertentu dari instalasi pencahayaan digunakan


terhadap tingkat

pencahayaan pada waktu instalasi baru.

Besarnya koefisien depresiasi dipengaruhi oleh :


1) Kebersihan dari lampu dan armatur.
2) Kebersihan dari permukaan-permukaan ruangan.
3) Penurunan keluaran cahaya lampu selama waktu penggunaan.
7

4) Penurunan keluaran cahaya lampu karena penurunan tegangan listrik.


Besarnya koefisien depresiasi biasanya ditentukan berdasarkan estimasi.
Untuk ruangan dan armatur dengan pemeliharaan yang baik pada umumnya koefisien
depresiasi diambil sebesar 0,8.
4. Jumlah armatur yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan
tertentu.
Untuk menghitung jumlah armatur, terlebih dahulu dihitung fluks luminus
total yang diperlukan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang direncanakan,
dengan

menggunakan persamaan :
FTotal =

E x A
(lumen) (2)
kp x kd

Kemudian jumlah armatur dihitung dengan persamaan :


NTotal =

Dimana :

FTotal
(3)
F1 x n

F1

= fluks luminus satu buah lampu.

= jumlah lampu dalam satu armatur

5. Tingkat pencahayaan oleh komponen cahaya langsung.


Tingkat pencahayaan oleh komponen cahaya langsung pada suatu titik pada
bidang kerja dari sebuah sumber cahaya yang dapat dianggap sebagai sumber cahaya
titik, dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut :
? ? =
Dimana :
I?
h

?? . ?? ??
(?? ? ) (4)
?

= intensitas cahaya pada sudut ? (kandela).

= tinggi armatur diatas bidang kerja (meter).

Gambar 1.3 Titik P menerima komponen langsung dari sumber cahaya titik.
Jika terdapat beberapa armatur, maka tingkat pencahayaan tersebut
merupakan penjumlahan dari tingkat pencahayaan yang diakibatkan oleh masingmasing armatur dan dinyatakan sebagai berikut :
Etotal = Ep1 + Ep2 + Ep3 + ...... (lux) (5)
6. Kebutuhan Daya
Daya listrik yang dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan ratarata tertentu pada bidang kerja dapat dihitung mulai dengan persamaan (1) yang
digunakan untuk menghitung armatur. Setelah itu dihitung jumlah lampu yang
dibutuhkan dengan persamaan:
NLampu = NArmatur x n (6)
Daya yang dibutuhkan semua Armatur dapat dihitung :
WTotal = NLampu x W1 (7)
W1

= Daya serap lampu termasuk Balas

Dengan membagi daya total dengan luas bidang kerja, didapatkan kepadatan
daya (Watt/m2) yang dibutuhkan untuk sistem pencahayaan tersebut. Kepadatan daya
ini kemudian dapat dibandingkan dengan kepadatan daya maksimum yang
direkomendasikan dalam usaha konservasi energi, misalnya untuk ruangan kantor 15
Watt/m2 (lihat Apendiks A).

7. Tingkat Pencahayaan Minimum yang Direkomendasikan.


Tabel 1.1 Tingkat pencahayaan minimum dan renderasi warna yang
direkomendasikan.
Tingkat Pencahayaan
(lux)

Kelompok renderasi
warna

60
120~250
120~250
120~250
120~250
250
250
60

1 atau 2
1 atau 2
1 atau 2
1
1 atau 2
1 atau 2
1 atau 2
3 atau 4

350
350
350
300

1 atau 2
1 atau 2
1 atau 2
1 atau 2

Ruang gambar

750

1 atau 2

Gudang arsip
Ruang arsip aktif.
Lembaga Pendidikan
:Ruang kelas
Perpustakaan
Laboratorium
Ruang gambar

150
300

3 atau 4
1 atau 2

250
300
500

1 atau 2
1 atau 2
1

750

1 atau 2

Fungsi ruangan
Rumah Tinggal :
Teras
Ruang tamu
Ruang makan
Ruang kerja
Kamar tidur
Kamar mandi
Dapur
Garasi
Perkantoran :
Ruang Direktur
Ruang kerja
Ruang komputer
Ruang rapat

Kantin
200
Hotel dan Restauran :

Lobby, koridor

100

Keterangan

Gunakan pencahayaan
setempat pada meja
gambar.

Gunakan pencahayaan
setempat pada meja
gambar.

10

Pencahayaan pada
bidang vertikal sangat
penting untuk
menciptakan
suasana/kesan ruang
yang baik.

Ballroom/ruang sidang.

200

Ruang makan.
Cafetaria.

250
250

1
1

Kamar tidur.

150

1 atau 2

Dapur.
Rumah Sakit/Balai
pengobatan:
Ruang rawat inap.

300

250

1 atau 2

300

500

1 atau 2

250

Ruang operasi, ruang


bersalin.
Laboratorium
Ruang rekreasi dan
rehabilitasi.
Pertokoan/Ruang
pamer:

Ruang pamer dengan


obyek berukuran besar
(misalnya mobil).

500

Toko kue dan


makanan.
Toko
buku dan alat
tulis/gambar.
Toko perhiasan, arloji.
Toko Barang kulit dan
sepatu.
Toko pakaian.

250
300
500
500
500

1
1
1
1
1

11

Sistem pencahayaan
harus di rancang untuk
menciptakan suasana
yang sesuai. Sistem
pengendalian
switching dan
dimming dapat
digunakan untuk
memperoleh berbagai
efek pencahayaan.

Diperlukan lampu
tambahan pada bagian
kepala tempat tidur dan
cermin.

Gunakan pencahayaan
setempat pada tempat
yang diperlukan.

Tingkat pencahayaan
ini harus di-penuhi
pada lantai. Untuk
beberapa produk
tingkat pencahayaan
pada bidang vertikal
juga penting.

Pasar Swalayan.

500

1 atau 2

Toko alat listrik (TV,


Radio/tape, mesin cuci,
dan lain-lain).

250

1 atau 2

Industri (Umum):
Ruang Parkir
Gudang
Pekerjaan kasar.
Pekerjaan sedang
Pekerjaan halus
Pekerjaan amat halus
Pemeriksaan warna.
Rumah ibadah:

50
100
100~200
200~500
500~1000
1000~2000
750

3
3
2 atau 3
1 atau 2
1
1
1

Pencahayaan pada
bidang vertical pada
rak barang.

Mesjid

200

1 atau 2

Untuk tempat-tempat
yang mem butuhkan
tingkat pencahayaan
yang lebih tinggi dapat
digunakan
pencahayaan setempat.

Gereja
Vihara

200
200

1 atau 2
1 atau 2

Idem
idem

Apendiks A
Tabel 1.2 Daya listrik maksimum untuk pencahayaan yang diijinkan
Daya pencahayaan maksimum
W/m2
(termasuk rugi-rugi balast)
15
25
20

Jenis ruangan bangunan


Ruang kantor
Auditorium
Pasar Swalayan
Hotel :
Kamar tamu
Daerah umum
Rumah Sakit :
Ruang Pasien.
Gudang
Kafetaria
Garasi
Restoran

17
20
15
5
10
2
25
12

Lobby
Tangga
Ruang parker
Ruang perkumpulan
Industri

10
10
5
20
20

Tabel 1.3 Pengelompokan renderasi warna.


Kelompok

Rentang Indeks Renderasi

Renderasi Warna

Warna (Ra).

Ra > 85

70 < Ra < 85

3
4

40 < Ra < 70
Ra < 40

Tampak Warna
dingin
sedang
hangat
dingin
sedang
hangat

Tabel 1.4 Contoh harga Ra dan temperatur warna untuk beberapa jenis lampu.
Lampu
Temperatur warna (K)
Fluoresen standar
White
4200
Cool daylight
6200
Fluoresen super.
Warm white
3500
Cool white.
4000
Cool daylight.
6500
Merkuri tekanan tinggi.
4100
Natrium tekanan tinggi
1950
Halida Metal
4300

Ra
60
70
85
85
85
50
25
65

1.5 Peluang Efisiensi Energi


Bagian ini memberikan berbagai alat dan cara dimana energi dapat dihemat
dengan penerapan praktek pencahayaan yang baik.
1. Penggunaan Pencahayaan Alami Siang Hari
Manfaat dari pemakaian cahaya alami pada siang hari sudah dikenal dari
pada cahaya listrik, namun cenderung terjadi peningkatan pengabaian terutama pada
13

ruang kantor modern yang berpenyejuk dan perusahaan komersial seperti hotel, plaza
pebelanjaan dll. Di industri pada umumnya menggunakan cahaya siang untuk
beberapa model, namun perancangan sistim pencahayaan siang hari yang tidak benar
dapat mengakibatkan koplain dari personil atau penggunaan cahaya listrik tambahan
pada siang hari. Pertimbangkan ruangan yang memerlukan tingkat pencahayaan 500
lux. Untuk menghitung pengurangan pantulan dan penyebaran pada titik atap kaca,
asumsikan bahwa 40% cahaya matahari melalui atap kaca ke ruangan. Jadi, pada hari
yang terang benderang, sekitar 2% dibutuhkan atap yang tembus pandang. Untuk
menanggulangi sudut matahari yang rendah, kondisi berkabut, atap kaca kotor, dll.,
lipatkan dari nilai tersebut sekitar 4%. Untuk menghitung kondisi berawan rata-rata,
naikan nilai ini ke 10% atau 15%.
2. De-lamping untuk mengurangi pencahayaan yang berlebihan
De-lamping adalah pengurangan jumlah penerangan yang tidak diperlukan.
De-lamping merupakan metode yang effektif untuk mengurangi pemakaian energi
cahaya. Di beberapa industri, penurunan tinggi bantalan lampu memberikan luminers
yang baik. De-lamping pada ruang kosong dimana tidak ditampilkan pekerjaan aktif
juga merupakan konsep yang sangat berguna.
3. Pencahayaan Tugas Khusus
Pencahayaan tugas khusus menunjukkan dibutuhkannya pencahayaan yang
baik hanya pada areal yang kecil dimana aktifitas tersebut dilaksanakan, sementara
penerangan umum pada lantai bengkel atau kantor dijaga pada tingkat yang lebih
rendah; misal lampu yang tergantung pada mesin atau lampu meja. Penghematan
energi terjadi disebabkan pencahayaan tugas khusus dapat dicapai dengan lampu
yang memiliki watt rendah.
4. Pengaturan Pencahayaan dalam Ruangan Berdasarkan SNI 03-6575-2001.
Pemilihan jenis-jenis lampu yang umum disesuaikan dengan kebutuhan ruang
yang digunakan. Dari tabel 1.1 dan 1.2, memungkinkan untuk mengidentifikasi
potensi penghematan energi untuk lampu-lampu dengan menyesuaikannya dengan
tingkat kebutuhan pada ruangan yang digunakan.
14

1.6 Kesimpulan
Opsi-opsi efisiensi energi pencahayaan :
1. Kurangi tingkat pencahayaan yang berlebih ke tingkat standar dengan
menggunakan

saklar, pengurangan lampu, dll. (Ketahui terlebih dahulu

pengaruh listrik sebelum melakukan pengurangan lampu)


2. Rajin mengontrol cahaya dengan jam waktu, pelambat waktu, photocells,
dan/atau sensor

penempatan.

3. Pasang alternatif-alternatif yang efisien terhadap lampu pijar, lampu uap


merkuri, dll.

Efisiensi (lumens/watt) berbagai kisaran teknologi mulai dari

yang terbaik hingga yang terburuk kira-kira sebagai berikut: sodium tekanan
rendah, sodium tekanan tinggi, logam

halida, neon, uap merkuri, pijar.

4. Pilih balas dan lampu secara hati-hati dengan faktor daya tinggi dan efisiensi
jangka

panjang dari sistim neon yang sudah usang ke neon kompak dan balas

elektronik.
5. Pertimbangkan untuk merendahkan peralatan agar mampu menggunakannya
lebih

sedikit.

6. Pertimbangkan cahaya siang hari, kaca atap, dll.


7. Pertimbangkan pengecatan dinding dengan warna yang lebih terang dan
menggunakan

sedikit peralatan pencahayaan atau menurunkan watt.

8. Gunakan lampu tugas dan kurangi pencahayaan latar belakang.


9. Pengaturan pencahayaan dalam ruangan berdasarkan SNI 03-6575-2001.

15

Daftar Pustaka
Energy management handbook / by Wayne C. Turner & Steve Doty 2007 by The
Fairmont Press, Inc. All rights reserved.
Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia www.energyefficiencyasia.org
@UNEP
SNI 03-6575-2001 Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan.
1. National Electric Code
2. Iluminating Engineering Society (IES)
3. International Electrotechnical Commission (IEC)
4. Australian Standard

16

Anda mungkin juga menyukai